Disfruto

Sepertinya sederhana dan mudah, tapi nyatanya begitu sulit. Teorinya gampang, tapi prakteknya astagpilulo. Memperlakukan orang lain dengan baik, tanpa kecuali. Saya sendiri masih jauh dari harapan dalam soal ini.

Kita bisa jatuh cinta dengan cara orang lain bersikap terhadap kita. Seolah-olah kita hanya satu-satunya manusia yang tersisa di muka bumi.

Sekarang mari kita ingat-ingat kembali, kapan terakhir kita merasa diperlakukan istimewa? Saat naik uber dan disapa sopir dengan sumringah? Saat dilayani membeli kopi di St. Ali? Saat pramugari tersenyum seraya menyodorkan permen fox aneka rasa? Saat atasan memuji? Saat anak memeluk kita sebelum tidur? Atau saat pasangan kita berada dipelukan sembari goyang?

Lalu apa balasan kita?

Sebatas ucapan terima kasih atau lebih? Apakah saat menutup pintu kita sudah ucapkan terima kasih kepada pak sopir? Apakah kita sudi memberi tips yang diletakkan di toples depan kasir atau barista? Apakah kita anggukkan kepala sembari tersenyum kepada pramugari jelita nan baik hati? Membalas pujian atasan dengan bekerja lebih semangat dan hasil nyata? Mendongeng kisah si kancil hingga anak terlelap? Memijat pasangan ketika badan pegal padahal kita sendiri merasa tulang kita terlepas dari engselnya satu sama lain?

Ini agak mudah jika sepenggal skenario hidup memberikan kita rasa manis. Membalasnya, tak perlu mikir seharusnya.

Bagaimana jika ternyata saat naik taksi blue bird malah mas sopir ndak tau jalan dan ketiaknya bau maling? bagaimana jika pesanan picolo namun yang diberikan malah kapucino? Bagaimana jika tiba-tiba ada tas kresek berisi makanan jatuh dari atas kabin saat ditata pramugari? Bagaimana jika kita disentil atasan di hadapan kolega saat rapat resmi? Bagaimana jika anak kita protes karena kita tak menghadiahkan perhatian yang cukup padanya? Bagaimana sikapa kita saat butuh memeluk ternyata pasangan kita sibuk dengan gawai dan teman-teman whatsapp grup-nya?

Ketika positif ditanggapi positif mudah, apakah kita juga perlu mengalah ketika hal negatif menimpa kita? Wajar jika kita marah. Itu hak kita. Menyuarakan apa yang ada di hati. Apa yang terlintas di pikiran. Bukankah unek-unek seharusnya dikeluarkan daripada berubah wujud menjadi batu empedu?

Tapi apa iya kita seperti itu terus menerus? Saya terkadang menyesal telah memarahi tukang parkir karena mereka lebih mirip ninja. Datang tiba-tiba saat kita telah susah payah maju mundur maju mundur tanpa bantuannya dan akan meninggalkan arena. Saya sering bertanya-tanya mengapa saya tega mengatakan pada mas taksi agar sebaiknya jadi penjual pulsa saja daripada banyak bertanya mau lewat mana. Saya juga seringkali menyesal ketika anak-anak minta jalan-jalan ke taman dekat rumah tapi saya delegasikan kepada mbak-mbak yang memang bertugas mengasuh dan menyuapi mereka saat jam makan tiba.

Pernahkah kita jatuh cinta pada sebuah sikap? Ketika saat mereka ditekan dan kita marahi atau setidaknya tidak diperlakukan dengan baik namun tetap tersenyum? Mereka berani mengorbankan perasaan tercabik-cabik dan tetap memberikan tatapan mata melayani dan sabar. Bisa jadi karena memang tugasnya. Tapi lebih pasti, mereka menampilkan usaha keras bahwa “Bapak berharga di mata kami. Atas kekesalan Bapak, saya tetap akan melayani Bapak”.

Saya ndak tau bagaimana kehidupan pribadi mereka. Apakah CS yang selalu menerima keluhan pelanggan kehidupannya normal dengan banyak tawa? Apakah pelayan restoran selalu mudah membayar kontrakan rumah? Apakah pramugari tersebut ndak pusing saat kontrak kerja tak boleh menikah dihadapkan dengan desakan calon mertua untuk meresmikan hubungan dengan anak mereka?

Wajah adalah kaca display. Senyuman adalah etalase. Binar mata adalah tampilan eksterior. Bisa jadi apa yang ditampilkan berbeda dengan isi. Tapi setidaknya menghargai tampilan luar adalah cara mudah menjalani hari-hari ketika kesulitan menimpa.

Ndak adil rasanya jika kita meluapkan emosi semata-mata hanya karena kita kecewa. Alasannya dua. Pertama, bisa jadi mereka ndak sengaja. Kedua, jika pun sengaja, ada kesempatan kita untuk berbuat mulia: menahan emosi dan menjaga perasaan mereka.

Menjadi bangsawan bukan karena darah biru kita. Bangsawan di era digital adalah soal sikap kita. Bangsawan bukan karena garis keturunan namun menjaga martabat dengan berlaku sopan tanpa kecuali.

Ada yang bilang bahwa yang paling berpotensi menyakiti kita adalah orang yang kita sayangi. Mengapa?

Karena kita menaruh harapan lebih di pundak mereka. Berharap mereka membalas perhatian kita. Berharap mereka melakukan apa yang kita inginkan. Berharap membalas mencintai. Berharap selalu ada saat kita mau. Karena kita telah melakukan semua itu. Seolah-olah kita melakukan sesuatu yang harus mendapatkan hasilnya. Sesuatu yang transaksional. Bertukar aksi.

Bagaimana dengan pilihan untuk tanpa pamrih saja? Susah. Begitu susah! Berbuat sesuatu karena memang kita menyukai melakukan itu.

Dalam banyak hal kita menyerah dengan kondisi kita adalah manusia biasa. Bukankah manusiawi. Berlindung di balik kemanusiawian kita sejatinya kita bisa lebih mulia. Bukankah muka berjerawat adalah hal manusiawi, tapi mengapa kita berusaha memiliki wajah mulus?

Sabtu pagi baru dijelang. Banyak waktu luang untuk melakukan segala hal. Semuanya adalah pilihan. Kita dianggap baik atau kita berpikir kita baik. Ndak perlu bertanya pada orang lain apakah kita baik.

Perlakukan saja orang lain, seperti kita ingin diperlakukan. Memang klasik. Tapi ternyata sulit.

Salam anget,

Roy
+bonus: suara merdu sahabat saya, Gandrasta.

Advertisements

Bagaimana Wujud Manusia Indonesia Masa Depan?

Saya sudah lama tidak membeli buku, baik buku fiksi maupun non fiksi. Alasan utamanya adalah waktu baca saya sempit sekali. Terbukti dari puluhan buku yang belum terjamah bahkan dibuka bungkusnya. Apa iya sempit?

Setelah dipikir-pikir, soal waktu baca sejatinya adalah soal prioritas. Zaman kuliah, banyak hal dikalahkan oleh waktu baca. Saya bisa berhari-hari ndak ngampus dan malah asyik menandaskan buku yang dipinjam dari teman di kamar kos. Kepala dan hati menjadi hangat. Semacam mendapat wahyu jika membaca buku yang asyik. Kamar kos menjelma menjadi gua hira.

Dahulu, saat membaca buku sulit rasanya untuk langsung pamer atas pengetahuan baru yang saya dapat. Pencerahan yang terang-benderang harus diselesaikan hingga halaman terakhir. Waktu antara mendapatkan kalimat, ide dan “wahyu” ini mau ndak mau terendap saat membuka lembar demi lembar buku. Ketika halaman akhir ditutup, keinginan pamer seringkali berkurang, malah hilang.

Hal ini sulit terulang manakala zaman telah menghadirkan layanan instan yang tersedia pada layar gawai kita. Bahkan belum selesai kalimat terbaca, jika ingin, dapat langsung sematkan pada akun media sosial kita. Kita menjadi pewarta tanpa sempat mengunyahnya. Kita menjadi nabi tanpa kitab suci. Kita menjadi juru selamat tanpa ada korban yang sempat meminta pertolongan.

Membaca buku adalah sebuah ritual penting dalam hidup manusia modern. Sama halnya dengan menonton filem di bioskop atau DVD, pangkas rambut di salon, membeli kopi di St. Ali, atau main video game dari konsol yang baru dirilis. Seberapa penting?

Karena sebagian dari kita benar-benar tak lepas dari layar gawai. Inilah salah satu alasan mengapa linimasa hadir dalam kanal internet. Tantangan yang sungguh berat. Karena layaknya toserba, lorong bacaan letaknya di pojok ruangan. Depan kasir terjejer rapi tawaran menggiurkan berisi konten porno. Di lorong paling depan ada media sosial yang menjadikan kita cenderung untuk lebih banyak berkomentar daripada mendengar. Lalu ada lorong mainan segala umur semacam kanal hiburan berisi konten multimedia baik filem, klip musik, berbagi gambar, dan permainan daring yang ‘matre pulsa dan bandwidht“.

Hidup kita lalu menjadi terbagi dalam maya dan realita. Termasuk saya. Nama maya dan nama realita yang berbeda. Dan ternyata saya menikmatinya.

Apakah benar nantinya kita akan lebih banyak menghabiskan waktu dengan layar gawai, komputer maupun konsol video game yang juga dapat dijadikan pintu gerbang dunia maya?

Pertemanan saja bisa digantikan dengan saling sapa lewat aplikasi yang sedemikian beragam. Bahkan perjodohan bisa dilakukan juga. Ketika kita duduk di kedai kopi bersama teman, sepertiga waktu kita dihabiskan dengan bertanya kata kunci wifi, letak colokan listrik, membuka gawai dan tag lokasi dimana kita berada. Lalu sibuk mengambil gambar yang layak unggah. Jepret sana sini.

Pandangan kita tentang idola bergeser bukan hanya mereka yang menjadi pemeran dalam filem atau penyanyi dalam sebuah band, namun juga disematkan kepada para pemilik akun dengan pengikut yang berjibun.

Cara kita memesan kendaraan tidak lagi melalui lambaian tangan di pinggir jalan atau telpon melalui operator, melainkan cukup dengan membuka aplikasi.

Cara kita mengucapkan selamat ulang tahun, bela sungkawa, suka cita, bahkan pengumuman dan undangan perkawinan sudah berbeda dengan apa yang dilakukan 5-10 tahun lalu.

Anak muda yang berkenalan, lalu pendekatan, jadian, sayang-sayangan, marah-marah, hingga putus hubungan tanpa pernah bersentuhan kecuali lewat layar gawai menjadi hal yang lazim dan tak aneh lagi.

Musyawarah mufakat, laporan kegiatan, merencanakan liburan bersama, reuni, atau diskusi dimana kita dikubur nanti, dilakukan tanpa harus dengan tatap muka.

Hanya kegiatan fisik seperti berolah raga yang belum bisa dilakukan dengan menggantinya melalui teknologi maya. Tapi lihat saja, baru lari separuh lintasan kita sudah dapat menunjukkannya ke siapapun juga.

Teknologi kini adalah teknologi yang masih dianggap sebuah kemewahan dan alat distraksi nomor satu.

Akan tiba saatnya kita akan berpikir aneh jika masih menggunakan uang receh untuk kerokan. Akan terheran-heran dengan membeli koran di kios pinggir jalan.

Teknologi akan berangsur-angsur menjadi sebuah sandaran hidup karena masal, murah dan memang dibutuhkan.

Bukan berarti pembantu rumah tangga tergantikan robot, namun dengan teknologi segala macam guna, kehadiran manusia yang bebersih dapur, lantai dan pengasuh bayi menjadi berkurang. Tak perlu membuka pagar rumah untuk membeli makanan. Tak perlu pergi ke bank hanya untuk mengambil uang. Tak perlu lagi buku ketika semua ada dalam mayantara.

Teknologi mengubah perilaku. Lalu gilirannya mengubah budaya. Mengubah cara pandang, pikir dan bisa jadi genetika. Kita seperti burung finch galapagos yang terpencar dalam banyak jenis paruh karena perbedaan selera. Biji-bijian atau serangga, misalnya.

Atau malah kita menjadi makhluk yang bermutasi bukan karena sel genetika, tapi berawal dari cara kita menjalani hari demi hari.

Manusia dengan jempol sebagai alat bicara. Dan mata sebagai indera pendengaran.

Salam anget,

Roy.

Combo

Combo adalah kependekan dari combination. Semacam Jokowi untuk Joko Widodo. Jika tahu asal katanya maka kita pun akan paham artinya.

Combo awalnya diciptakan oleh Nuritaka Funamizu, saat tanpa sengaja mendesain permainan video game arcade (dingdong) Street Fighter II tahun 1989. Padahal tahun 1986, Renegade juga menggunakan fitur kemampuan pukulan dan tendangan beruntun. Juga di tahun 1987 kemampuan ini muncul dalam permainan Double Dragon. Hanya saja belum secara khusus oleh pembuat permainan disebut sebagai combo. Nuritaka-lah yang menyebut fitur combo bagi jagoan yang dapat melakukan pukulan dan tendangan beruntun saat pemain memasuki babak bonus menghancurkan mobil.

Combo juga kita kenal pada saat akan memesan menu makanan cepat saji. Pada papan besar yang menawarkan menu sajian terdapat paket kombo. Tentu saja artinya sama. Kata yang berasal dari Combination. Dengan adanya paket kombinasi ini diharapkan para pembeli akan tertarik membeli lebih banyak variasi menu dengan imbalan potongan harga. Strategi pemasaran ini sekarang sudah menjadi sesuatu yang lazim dan dilakukan oleh semua penjual makanan. Harga makanan borongan yang lebih murah jika dibandingkan dibeli secara terpisah adalah strategi jitu bagi konsumen untuk membeli lebih banyak.

Lantas apa makna combo bagi kehidupan sehari-hari?

Combo juga muncul dalam ibadah. Ketika sholat dilakukan sendirian nilai ibadahnya jauh lebih kecil dibandingkan jika dilakukan bersama-sama. Combo juga muncul saat mendaftarkan anak les musik. Dengan mendaftarkan les piano, bernyanyi, dan biola sekaligus ternyata harganya jauh lebih murah dibandingkan ambil kursus salah satu saja.

Demikian dengan combo sosial saat kita mendekati calon pasangan. Ada baiknya juga mengambil hati bukan saja si dia, melainkan juga adeknya, kakaknya, ibunya, bapaknya dan keluarga besarnya. Ongkosnya memang besar dan melelahkan. Tapi lakukanlah di saat mereka kumpul semua. Semacam pertemuan keluarga. Dengan bersikap santun dan apa adanya, bukan saja seluruh anggota keluarga menyukai kita, tapi juga si dia makin kepincut dengan pribadi kita.

Combo beruntun dalam versi video game pun bisa dilakukan untuk kepentingan lain. Datang ke kantor paling pagi. Melakukan tugas paling cepat. Senyum paling menawan. Kembali dari makan siang paling awal. Mentraktir rekan kerja. Saat akan pulang tidak lupa pamit pada atasan dan rekan. Hasilnya?

Tapi ternyata ndak selamanya paket combo ini manjur menjaring kebaikan dan manfaat lebih. Sistem bundling ini diduga juga salah satu cara dalam menjual suatu keburukan yang diselipkan dalam beberapa kemasan kebaikan. Barang kualitas rendah dan hampir kadaluwarsa, bahkan sudah, yang seharusnya dibuang ke tong sampah, justru dikemas kembali dalam satu paket parsel.

Maka, perlu kiranya kita ndak perlu tergumun-gumun pada suatu tawaran menarik yang murah, menggemaskan dan menawarkan nilai manfaat.

Bisa jadi membeli sesuatu cukup satu malah adalah sebuah tindakan yang lebih dari cukup. Terkadang melakukan sesuatu sendirian adalah sesuatu yang jauh lebih intim dan membekas. Bahkan jika perlu jangan pernah berpikir untung rugi dalam membeli sesuatu. Atau asal diskon. Juga berlaku dalam hal berbuat sesuatu.

Hanya pilih salah satu, jika memang perlu, bahkan harus, ya lakukan saja. Tak perlu menunggu dan ragu. Banyak atau sedikit, untung atau rugi, adalah persoalan yang manusiawi. Makhluk ekonomi akan selalu berpikiran soal itu semua.

“Jika boleh lebih, mengapa tidak?”

“Jika boleh empat, mengapa hanya satu?”

Tapi percaya sajalah. Hidup ternyata bukan melulu sekumpulan problematika matematis yang perlu dipertimbangkan soal angka dan jumlah. Hidup bukan melulu soal beruntun dan kombinasi. Hidup juga ternyata tidak harus bahagia. Apalagi menderita.


 

Jangan-jangan hidup adalah soal karena masih punya nyawa saja. Dan kita wajib untuk mempertahankannya. ūüėÄ

 

Selamat bermalam minggu.

Salam anget,

Roy

Dengar

Tidak secara jelas data statistika jumlah persentase buta huruf di negeri ini. Apakah seluruh warga telah melek baca tulis?

Ketika warga lebih menyukai tradisi lisan, maka yang terjadi adalah sulitnya menjaga kelestarian pencapaian yang telah diperoleh oleh orang-orang sebelum kita hidup. Kebijaksanaan yang hanya terbatas disampaikan melalui teladan langsung dan wejangan. Mudah lekang.

Seberapa pentingkah sebuah kemampuan baca tulis bagi perkembangan zaman? Terlebih lagi penguasaan bahasa di luar bahasa ibu?

Menurut hemat saya, mentalitas seseorang yang hidup di alam kekinian akan jauh lebih beradab jika ia pandai baca tulis dan berkomunikasi dengan bahasa lain.

Komunikasi tak lagi gunakan kepulan asap sebagai penanda. Atau kibaran bendera semapur. Penggunaan huruf sandi. Atau patahan ranting di tepi jalan setapak. Komunikasi telah melesat jauh dengan wahana dan bahasa yang beragam, dengan cara yang tak pernah terpikirkan sebelumnya.

Namun masih ada yang tersisa. Pengaruh genetik purba kita masih ada. Ketika tak paham harus berbuat apa, bayi menangis. Ketika lapar juga menangis. Ketika perlak dan popok telah basah, maka terus-menerus bayi akan menangis. Satu cara untuk berkomunikasi: menangis.

Beranjak dewasa, kita diperkenalkan dengan cara lain. Tidak hanya menangis, ada juga rupanya yang disebut genit. Genitnya manaaa? Lalu si bocah akan tersenyum, mata dikedip-kedipkan. Baru selesai jika lawan bicara si bocah tertawa, memeluk atau menciumnya. Sebuah bahasa kasih sayang.

Semakin berumur kita diperkenalkan dengan beragam cara menunjukkan apa, siapa dan hendak apa kita. Bahasa sebagai sebuah pesan. Caranya makin beragam. Mengirim sms, ping, miskol yang disengaja, menulis sajak atau sekadar menyapa.

Ini adalah cara jantan. Komunikasi langsung dengan lawan bicara (dan lawan baca).

Banyak juga yang menggunakan perantara. Salam ya untuk dia. Eh mau kemana, titip oleh-oleh ya. Nanti kalau ketemu si itu, bilangin kapan mau bayar utangnya?

Komunikasi sudah selayaknya tak perlu dihambat. Apalagi disumbat dan dilarang. Banyak kanal yang dapat ditempuh. Semakin mudah berkomunikasi maka semakin jarang kita untuk baper. Dengan bicara secara dewasa, dengan menulis secara bertanggung jawab, maka kecenderungan yang timbul adalah peradaban yang memuliakan pri kehidupan.

Marah yang tersumbat, emosi yang disimpan rapi, unek-unek yang dipendam adalah cikal bakal dari sebuah energi yang tak terkendali. Bagai bendungan jebol.

Maka pada akhirnya bahasa kekerasan menjadi jalan. Dengan banyak alasan hal tersebut menjadi pembenaran. Sebabnya pun boleh apapun. Perbedaan pendapat, perbedaan iman, perbedaan pandangan, perbedaan sesembahan, dan yang paling jelas: perbedaan kepentingan.

Lantas apa yang dapat kita lakukan?


Mari kita kembali untuk saling bicara apa adanya. Berbeda itu bukan dosa. Saling memahami bahwa semua makhluk tuhan boleh bicara, boleh bergaya, boleh melakukan apa saja selama hal tersebut secara etika dan aturan diperkenankan.

Tidak melulu semua soal ekonomi. Tidak melulu semua soal agama dan keyakinan.

Sebagian besar dari kita memang hanya ingin didengar.


Salam anget,

Roy

Yang-Tak-Berhingga

Meramal masa depan itu dilarang oleh agama. Iya. Agama saya. Tapi dianjurkan jika menggunakan awalan “ber-“. Beramal. 

Jadi lebih baik meramal masa depan atau beramal untuk masa depan?

Mungkin akan lebih baik jika penggunaan kata yang dipilih adalah mempersiapkan masa depan. Apa yang akan terjadi di lain waktu sudah kita antisipasi sebaik mungkin. 

Kemarin saya membaca salah satu tulisan di blog konpasiana soal prinsip ilmu nabi Yusuf yang terkenal bukan saja ganteng namun ahli dalam perbekalan. Dirinya dianggap berhasil mengubah mimpi buruk kemungkinan bencana kekeringan dan kelaparan negeri Mesir menjadi sebuah kehidupan yang gemah ripah loh jinawi. 

Setidaknya ada empat prinsip pokok tentang ketahanan pangan yang digagas dan diterapkan oleh Nabi Yusuf AS yang sampai dengan saat ini bahkan pada masa-masa yang akan datangpun masih tetap relevan untuk diterapkan. 

Pertama, prinsip Optimalisasi Lahan, yaitu 

mengoptimalkan seluruh potensi lahan untuk melakukan usaha pertanian yang dapat menghasilkan produk berupa bahan pangan pokok. 

Kedua, prinsip Manajemen Logistik Pangan, dimana masalah pangan sepenuhnya dikendalikan langsung oleh pemerintah yaitu dengan memperbanyak cadangan pangan pada saat produksi berlimpah dan mendistribusikannya secara selektif pada saat ketersediaan pangan masyarakat mulai berkurang. 

Ketiga, prinsip Mitigasi Bencana Kerawanan Pangan, yaitu melakukan antisipasi terhadap kemungkinan terjadinya bencana kelaparan atau kondisi rawan pangan yang disebabkan oleh perubahan drastis kondisi alam dan lingkungan. 
Keempat, prinsip Deteksi Dini dan Prediksi Anomali Iklim dan Cuaca, yaitu melakukan analisis terhadap kemungkinan terjadinya perubahan iklim dan cuaca ekstrim dengan mempelajari fenomena alam seperti tingkat curah hujan, kelembaban udara, arah dan kecepatan angin, evaporasi atau penguapan air permukaan serta intesitas sinar matahari yang diterima oleh bumi. Prediksi atau prakiraan dini terhadap kemungkinan terjadinya anomali iklim dan cuaca yang dilakukan oleh Nabi Yusuf AS belakangan terbukti secara ilmiah bahwa hal itu bukan sekedar dugaan atau rekayasa belaka. Pengamatan dan Analisis yang dilakukan oleh otoritas klimatologi di hampir semua negara, termasuk Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) membuktikan bahwa anomali atau perilaku menyimpang dari iklim dan cuaca bisa terjadi pada kurun waktu 5 sampai 10 tahun sekali.

http://m.kompasiana.com/masfathan66/konsep-ketahanan-pangan-nabi-yusuf-a-s_54f9214fa33311ac048b46ac

Demikianlah. 

Ajaran agama terutama soal sejarah (Tarikh) seharusnya disikapi secara ilmiah. Namun hal ini jarang dikupas dan menjadi fokus ibu-ibu pengajian dan khotbah jumat. 

“Agama yang kita kenal itu melulu agama yang heboh tuhannya marah-marah”, kata Gandrasta.

Iya, soal agama dan ilmu seolah-olah terdapat garis pemisah. Belajar agama berbeda dengan belajar ilmu. Padahal?

Kemarin topik ini sempat kami bahas di WA Group Penulis Linimasa. 

Gandrasta menambahkan bahwa sebetulnya dalam belajar agama terutama kisah hidup Rasul terdapat ilmu bermacam-macam. Lintas disiplin. 

Ada soal bangun pagi, oksigen, teori fusi, gravitasi, ovulasi, dan cara PDKT Nabi Muhammad SAW ke calon istrinya, cara keluarga Nabi Muhammad SAW keluar dari krisis keuangan (jaman kain impor ibu Khadijah telat kirim karena kapalnya dibajak orang).
Pertanyaannya: mengapa hal ini jarang disinggung?

Apakah karena cendekia muslim begitu lekas mati tanpa kaderisasi? Sehingga efeknya umat muslim menjadi tertinggal soal iptek akhir-akhir ini. 

Erick Chaney menulis dalam jurnal di Harvard Desember 2015 kemarin. Judulnya Religion and The Rise and Fall of Islamic Science. https://rawlacquer.files.wordpress.com/2015/12/science_12_10_2015-2.pdf

Salah satu sebab dunia Islam tak lagi menguasai iptek adalah soal keberpihakan pemimpinnya yang membiayai dan mendukung penuh lembaga maupun aktivitas ilmiah. Salah satu alasan adalah politis. Ketika muncul orang pandai, pemimpin akan kuatir dengan pengaruh “orang pandai” lain yang tumbuh dari madrasah-madrasah yang dibiayai. Juga pemimpin lebih baik memiliki banyak pendukung dengan beranak pinak sebanyak-banyaknya tanpa memikirkan lebih jauh apakah keilmuan generasi penerus akan cukup bertahan bahkan melampaui generasi sebelumnya. 

Hal ini dimungkinkan mengingat kekhasan dunia islam bahwa pemimpin adalah wakil tuhan. Maka apa kata pemimpin adalah titah tuhan.

Lalu bagaimana soal meramal dan beramal ini.

Tentu saja untuk meramal (forecasting) perlu ilmu. Apalagi beramal. Selain ilmu, untuk beramal jariyah perlu juga harta benda. Maka, bagi saya meramal atau beramal, sama-sama baik. Bukan meramal nasib pribadi apa yang akan terjadi esok hari. Namun meramal apa yang perlu kita siapkan dalam menyongsong hari esok agar lebih baik, lebih tenang, lebih kaya, dan lebih bermanfaat.

Sembari itu, kita beramal. Apapun yang dapat dan boleh kita berikan. 

Islam itu hebat, karena tak ada batas penghalang dalam kita bermasyarakat. Kecuali yang dilarang. Lantas mengapa kita sibuk membatasi diri, ketakutan berlebihan terhadap yang boleh dan tak boleh?

Islam yang ramah. Memberikan apapun yang terbaik bagi seluruh semesta raya. Menyumbangkan dan berperan aktif untuk Sesama manusia, alam, masa lalu dan masa depan agar lebih baik.

Kita tak perlu najis untuk membaca segala. Bacalah. Bukan berarti apa yang kita baca akan mengubah diri kita persis dengan apa yang ada dalam kata-kata bacaan itu. Membaca segala, menambah cakrawala, hingga tak berhingga. 

Karena pada akhirnya kita semua ingin menuju Yang-Tak-Berhingga.

Selamat menjalankan tahun kabisat.

Salam hangat dari saya.

Roy

Makanan dan Akal Sehat

Beberapa hari yang lalu saya makan di tengah-tengah restoran. Benar-benar di tengah. Karena posisi ini saya bisa melihat dengan jelas seluruh aktivitas restoran. Keluarga yang sibuk mencari tempat duduk yang dianggap paling nyaman, anak kecil yang berlarian kesana-kemari. Seorang nenek yang ternganga dengan daftar harga,  sekumpulan anak muda yang selfie, dan wajah-wajah cemas pelayan restoran.

Persis di meja saya masih tergeletak sepiring nasi dengan beberapa gumpalan tisu diatasnya. Juga tulang-belulang ayam. Sobekan saos kemasan. Di sebelahnya sepotong kue yang hampir masih utuh dan secangkir air.


Beberapa saat sebelumnya saya menyaksikan pelayan restoran yang terpaksa mengambil beberapa nampan piring kotor dengan banyak sisa makanan. Saya perhatikan, sisa makanan tersebut dibuang dalam tong khusus, dan kemudian piringnya diletakkan dalam rak  yang nantinya akan dibawa oleh petugas lain untuk dibersihkan.

Dalam laporan National Geographic pada edisi bulan apa (saya lupa), yang jelas tahun lalu, rumah tangga di Amerika rata-rata hanya memakan 60% makanan yang disajikan. Sisanya terbuang tak sempat termakan. Sajian steak rata-rata bersisa 20%. Penganan dari buah labu bahkan hanya dikonsumsi 30%. Acar, selada, dan makanan bermuatan sayur bersisa 40%. Dan berdasarkan perhitungan NG, sisa makanan rumah tangga Amerika sanggup memberi makan  beberapa juta keluarga negara dunia ketiga.

Di sisi lain, Jonathan Safran Foer dalam salah satu bukunya, Eating Animals, menulis bahwa pemanasan global jauh lebih disebabkan oleh industri makanan. Terutama peternakan. Dalam salah satu sub bab buku tersebut, Safran menceritakan satu-satunya peternak kalkun yang secara alami masih ada di Amerika. Kalkun yang masih bisa terbang dan hinggap di atas genting. Yang saat salju menumpuk di ladang masih dapat berlarian. Berlari kesana-kemari. Kalkun satu-satunya yang benar-benar diterbakkan di alam bebas. Tanpa kandang dan suntik hormon.

Menurut peternak itu, kalkun yang disantap di rumah tangga keluarga Amerika adalah kalkun yang bahkan berjalan pun tak kuasa. Setiap hari diberi makan dalam kandang dan disuntik dengan berbagai macam ramuan. Daging yang gemuk namun bukan daging yang berasal dari otot-otot kalkun yang kuat.

Begitupun dengan industri ayam pedaging. Bagaimana diceritakan, demi kebutuhan daging, ayam-ayam dipelihara tidak lebih dari 3 bulan. Ayam yang tidak pernah keluar kandang. Makan, makan dan makan. Lalu dipotong. Tentu saja gemuk dengan rangsangan hormon tertentu. Ayam pedaging tentu saja berbeda dengan ayam petelur. Dimana ayam petelur tak lagi membutuhkan ayam pejantan. Ayam betina yang dipaksa bertelur setiap hari. Dengan porsi makan yang dipaksakan. Sama-sama ayam, namun berbeda dosis suntikan. Ayam pedaging dan petelur.

Ada sesuatu yang jomplang disini. Di satu sisi, demi kebutuhan konsumen, industri peternakan menghalalkan segala cara demi quota kebutuhan daging.  Namun di sisi lain para anggota keluarga dengan seenaknya banyak menyisakan makan malam mereka.

Lihat saja di KFC, berapa banyak daging yang masih menempel dan berapa banyak sisa saos yang dihamburkan. Lihat saja di IKEA, berapa banyak butir bakso terbuang. Lihat saja kedai penjual burjo. Lihat di banyak warung mie ayam. Jangan lupa, coba ingat-ingat makan siang kita tadi barusan. Apakah semuanya tandas dihabiskan?

Pangan adalah salah satu kebutuhan primer. Menjadi sekunder ketika pangan menjadi sajian. Menjadi tersier ketika sajian itu sudah dianggap kemewahan. Makanan sebagai gaya hidup.

Sekarang, kenyang saja tidak cukup. Bahkan tidak perlu. Lidah pun dibuat bingung. Lebih manja dari anak bungsu. Makanan menjadi sebuah pencapaian. Wajar? Silakan Anda sendiri yang menilai.

Makanan dan sajian masakan adalah bagian dari olah budaya. Sebuah cara kita bertahan hidup. Lalu entah sejak kapan menjadi sebuah cara menampilkan citra diri.

Pernahkan Anda masak sendiri lalu menyantapnya sendiri? Bagaimana jika makanan itu tumbuh di pekarangan sendiri. Dipelihara sendiri. Terlalu berlebihan?

Baiklah.

Ada kalanya kita perlu kembali bertanya. Apakah sajian yang ada di hadapan kita tiba-tiba muncul dari langit. Apa saja yang dikorbankan dari sebuah sajian masakan.

Berapa tangan dan berapa ratus jam yang dibutuhkan oleh tangan terampil pemijat khusus sapi ketika seekor sapi wagyu yang disembelih, sehektar sawit yang dibakar untuk minyak goreng terbaik, puluhan pon rumput dan seratusan liter air untuk segelas susu murni.

Itu pun jika organik. Bagaimana dengan makanan hasil mutasi? Jika pun Anda tahu bagaimana prosesnya, bisa jadi apa yang akan kita makan langsung melenyapkan selera kita.

Sepertinya setiap agama mengajarkan hal yang sama. Secukupnya. Perut yang diisi secara adil antara air, udara dan makanan. Kita hanya perlu makanan yang memang diperlukan dan menyehatkan. Namun tidak perlu berlebihan.

Karena bagaimanapun juga, perut kita bukan keranjang sampah. Apalagi keranjang nafsu.

 

Selamat berakhir pekan,

Roy

PIL Suami Anda

051021_ken_barbie_vlrg_10a.grid-6x2

Binan (gay – bahasa binan) itu gak bisa melahirkan aja semakin hari semakin banyak, gimana kalau bisa melahirkan?

Kalimat di atas terdengar di sebuah salon di¬†suatu kesempatan. Awalnya membuat tertawa saja tapi pelan-pelan mulai terasa kebenarannya. Di suatu malam acara kumpul-kumpul sesudah lari, dua orang teman perempuan, satu istri dan satu lagi lesbian menatap para pria yang lalu lalang di depan mereka. Yang istri tiba-tiba berkata “dari tadi gue perhatiin yang lewat kok binan semua ya‚Ķ makin banyak aja!”

Mungkin karena belakangan ini para binan semakin berani menampilkan dirinya. Mungkin dimulai sejak demam boyband yang mengijinkan pria berdandan dan berwajah ayu. Mungkin di era digital ini mempersatukan para binan sehingga lebih percaya diri. Mungkin karena semakin banyak binan yang muncul di layar televisi. Dan tentunya, para pria lemah lembut yang dituduh binan, menikah dengan wanita tulen.

Binan yang menikah di negara ini sepertinya bukan hal ganjil apalagi tabu. Tekanan sosial, agama, keluarga, pekerjaan, memaksa untuk menekan atau menyembunyikan hasrat untuk menyukai sesama pria. Banyak wanita yang bingung, kok bisa sih binan menikahi wanita? Gimana ngeseksnya? Para wanita ini suka lupa, namanya pria bisa tegang cukup dengan sentuhan. Dan kalau ingin penetrasi, ada banyak pil bantuan. Memiliki anak pun bukan jadi hal luar biasa. Mau vagina atau anus, sama-sama lubang saat lampu dimatikan.

Menjadi kewajaran kalau belakangan ini banyak perceraian terjadi disebabkan karena para suami ternyata adalah pencinta sesama jenis. Buat para heterosexual tentu mencengangkan. Tapi buat para homosexual? “Yaeyalah neeeik‚Ķ laksanya ngondek gitu. Buta tuh bini, keleus‚Ķ” (Yaiyalah, lakinya kemayu gitu. Buta istrinya barangkali). Bukan tidak mungkin pria yang baru menyadari bahwa dia menyukai sesama pria setelah menikah. Walaupun ya‚Ķtentunya diiringi pertanyaan “masa siiiih?” Atau bisa juga, suami binan itu baru berani¬†menyatakan dirinya saat “penghambat moral” tiada. Misal, setelah ibu atau ayahnya meninggal dunia. Toh sudah tuntas tugasnya untuk menikah dan memberi cucu saat orang tua mereka masih hidup.

Jangan salah, banyak pula wanita yang entah bagaimana selalu suka dan jatuh cinta pada para binan. Mereka sebenarnya tahu  tapi pura-pura tidak tahu? Atau sekedar tuntutan menikah sama pria siapa saja yang penting tidak jadi perawan tua? Atau benar-benar tidak tau saking polosnya? Tapi masasih? Karena banyak wanita yang menikah dengan binan, ternyata datang dari kalangan berada dan terpelajar.

Kalau pembaca yang budiman mulai berkunang-kunang saat membaca ini, tunggu dulu. Karena tulisan ini hendak mengangkat alasan suami straight berhubungan dengan binan. Suami straight beneran. Heterosexual. Berhubungan seks dengan sesama pria. Ok, silakan pingsan sekarang.

*kasih minyak angin*

Berikut adalah alasan para suami berhubungan seks (dan tak jarang menjalin hubungan cinta) dengan para binan. Bukan mengada-ada, tapi hasil dari interview dengan mereka.

1. Tidak Ingin Mengkhianati Istri

Kalau selingkuh dengan perempuan, para suami itu merasa mengkhianati janji suci pernikahan. Berhubungan badan dengan “perempuan” lain. Untuk mengurangi rasa bersalahnya, mereka pun berselingkuh dengan pria.¬†Kan para istri sering bilang “awas aja kalo ada perempuan lain dalam hidup kamu!” Maka para suami ini pun bisa berkelit, “ini pria lain kok‚Ķ”

Tak jarang pula para istri yang lebih ridho kalo suaminya berselingkuh dengan pria. Setidaknya dia merasa tetap sebagai perempuan satu-satunya dalam hidup suaminya.

2. Penasaran

Bagi para pecinta bokep (film porno) pasti bisa menebak plot adegan seks yang biasa ditampilkan. Ciuman, oral, penetrasi vagina, penetrasi anal, ejakulasi. Kalau mendapatkan istri yang ingin mencoba melakukan semuanya, tentu bukan masalah. Tapi bagaimana kalau istrinya bahkan emoh mengoral? Padahal para suami sangat ingin mencicipi sensasinya.

3. Liar

Setelah memasuki usia pernikahan tertentu, banyak yang menjadikan hubungan seks menjadi rutinitas. Bukan lagi aktivitas yang penuh sensasi. Para suami sering mengeluh tentang kelakuan para istri yang kegemarannya berdandan tak berbanding lurus dengan keliarannya saat bercinta.

Rambut yang habis ditata di salon, tak boleh berantakan saat bercinta. Gak bisa jambak-jambakan mesra. Kulit halus bagai sutra, tidak boleh lecet sedikitpun. Digenggam terlalu keras sedikit, langsung mengaduh kesakitan. Tidak bisa pula posisi yang sama lama sedikit, pegel. Maklum, abis ikutan senam di gym sore harinya.

Sementara, keliaran ini yang ditawarkan oleh para binan. Semua boleh dan bahkan harus dicoba. Apa fantasimu, mari kita wujudkan bersama. Lupakan segalanya sejenak. Peluh yang membawa keluar semua cerita dan derita hidup kita, sesaat menyatu. Bersama kita terhempas ke dasar bumi sebelum melambung di langit terdekat dengan Surga.

“Apa sih bedanya masukin di vagina dan anal?”

“Yang satu enak yang satu enak banget” jawab salah seorang suami itu.

4. Lip service

Selain para binan tentu lebih mahir memberikan layanan oral, banyak yang juga pandai untuk berbincang. Mulai dari sepak bola, politik, hukum, sampai gosip terkini. Tertarik dengan banyak hal seperti film, musik, drama, seni dan banyak lagi yang mungkin tidak bisa didapatkan oleh para suami ini dari istri mereka. Para istri yang mungkin disita waktunya untuk mengurus anak, rumah tangga dan bekerja, tak lagi memiliki waktu luang untuk tertarik dengan hal-hal lain.

Banyak para suami yang memiliki “simpanan” pria, bukan semata untuk berhubungan seks. Tapi untuk teman ngobrol. Teman curhat yang mengijinkan mereka mengeluarkan sisi lemah dan femininnya. Mereka kadang lelah harus tampil kokoh setiap saat sebagai kepala rumah tangga, tegar saat badai pekerjaan menerpa, kuat saat olahraga bersama teman-teman prianya, perkasa saat di locker gym.

Ya sambil elus-elus tangan sedikit, tak jarang bibit cinta pun mulai tumbuh. Bukankah setiap manusia memiliki kecenderungan untuk menyukai sesama jenisnya?

5. Emang aja doyan sih!

 

 

Kenapa Profil @RadityaDika Tidak Ada di IDWriters.com ?

Aku paling suka tiba di sebuah kota pada pagi hari. Pagi selalu menahan perasaan, memperlambat sesuatu. (Aruna  & Lidahnya- Laksmi Pamuntjak 2015 )

Sekitar tahun 2004, ketika facebook belum merangsek, twitter belum ada, path apalagi, mayantara kita lebih banyak bergerilya di bawah permukaan.  Iya. Saat itu masih zamannya friendster, blogspot,  geocities dan milis (mailing-list). Dan saat itu milis dari yahoogroups menjadi kesayangan para penggiat internet pada masanya. Saya memilih untuk aktif sekaligus pasif. Aktif mengikuti banyak milis, namun pasif untuk ikut nimbrung dalam obrolan.

Ada dua kutub dalam dunia maya nusantara atau kita sebut saja mayantara. Bukan utara atau selatan melainkan kiri dan kanan. Walaupun pada akhirnya saya sadar terlalu dini untuk menyimpulkan kiri dan kanan ini.

Pertama, saya menyimak benar milis Sastra Pembebasan, yang dihuni oleh Heri Latief dan Sobron Aidit. Keduanya para penulis yang setiap hari memproduksi tulisan melalui milis dimaksud. Heri tinggal di Amsterdam dan Sobron tinggal di Paris. Sobron, adik DN. Menarik jika dua penulis ini juga membolehkan Ikranegara ikut dalam milis dimaksud. Ikra, tinggal di Amerika. Jika Heri dan Sobron agak “kiri” banget, maka Ikra agak kanan. Iya betul, Ikranegara yang menjadi Pak Harfan dalam filem ¬†Laskar Pelangi, juga Kyai Abubakar dalam Sang Pencerah.

Milis ini setiap hari mendiskusikan, memperdebatkan dan saling ejek dengan bungkus “pergerakan.” Bicara kebijakan Megawati dan kepemimpinan baru militeris dari seorang SBY. Juga bicara dunia lama. Keadilan di muka bumi berawal dari kerja dan memperjuangkan kebenaran. Bicara tentang penindasan. Bicara kebijakan luar negeri Indonensia. Bicara tentang orang-orang kelayapan yang tak pernah bisa pulang di zaman Soeharto. Lewat sastra, manusia dibebaskan. Kira-kira begitu.

Kedua, saya menyimak betul milis JalanSutra, yang diasuh Wasis Gunarto dan  Bondan Winarno, dengan penggiat  antara lain Alm. Gatot Poerwoko, Lidya Tanod, Irvan Kartawiria, dan penyuka wine Yohan Handoyo. Jalansutra berarti cara untuk pelesir. Iya, karena milisnya bicara dunia jalan-jalan dan makan-makan. Bikin hidup lebih hidup. Bicara senang-senang. Orang dengan banyak uang. Makan, tidur enak, jalan-jalan dan nikmati kekinian. Jalansutra bukan versi lain SilkRoad. Sutra disini sama artinya dengan sutra dalam Kamasutra. Sutra adalah cara.

Saat itu Bondan masih aktif mengasuh kolomnya di kompas online: “jalansutra” dan rutin menulis di harian sore Suara Pembaruan. Bondan belum menjadi bintang televisi dan belum¬†tertarik¬†menjadi caleg saat itu.¬†Bondan adalah veteran penulis cerpen dan karyanya jauh lebih keren dibanding penulis stensilan semacam Arman Dhani.

Dua milis ini lumayan produktif. Sering mengadakan kopdar. Yang menarik adalah keduanya memiliki hubungan yang akrab dengan koperasi. Sastra Pembebasan dengan sebagian penggiatnya bekerja dan berkumpul di  Koperasi Restoran Indonesia kota Paris sedangkan JalanSutra membentuk Koperasi  JS untuk memudahkan para anggotanya melakukan transaksi dan membeli sesuatu secara kloteran.

Kesamaan lainnya adalan, tulisan dalam milis begitu memesona. Ringkas tapi padat. Berbagi pengalaman dalam tulisan ringan dengan begitu sastrawi.

——

Dunia tulis menulis adalah dunia yang sederhana. Dunia dengan bermacam format. Menulis dengan penuh khidmat saya golongkan menjadi sastra. Pergumulannya selalu sama: Apakah semua tulisan disebut karya sastra. Ini semacam apakah infotainment dapat dianggap sebagai karya jurnalistik?

Mundur lagi ke belakang, ketika tahun 1993, muncul esai di kolom Kompas “Ketika Jurnalisme dibungkam dan Sastra Bicara”, ¬†Seno Gumira Ajidarma ¬†menyampaikan sejarah kita adalah sejarah dengan kecenderungan sejarah penguasa. Fakta yang direka untuk membuat raja bangga. Kabar¬†kerajaan adalah kabar¬† panggung kekuasaan yang elitis, militeris dan hedonis tanpa pernah menghidupkan dan menggali fakta masyarakat bawah. Keagungan raja-raja. Selalu saja seperti itu.

Negarakertagama, yang ditulis prapanca tidak dikenal pada zamannya. Gaya reportase yang tidak disukai penguasa. Bicara lembu yang sebesar kambing. Mengkritik penguasa, bahwa di luar tembok istana, semuanya pucat dan kurus kering. Prapanca pun diduga bukan nama sebenarnya. Maka kita sepakat sebut saja Prapanca.

Jika lewat berita dan kerja jurnalisme sekiranya akan dibungkan dan dibredel, maka kemaslah menjadi karya sastra. Itu kira-kira pesan yang ingin disampaikan SGA.

Sutra ini juga dilakukan oleh Emha Ainun Najib ketika masih sering diminta menjadi pembicara dalam acara-acara di zaman Soeharto berkuasa. Ada Ainun mesti harus ada intel polisi dan babinsa. Suara Ainun selalu bikin merah telinga penguasa. Suatu saat, ketika sedang asyik  memberikan buah pikir ke khalayak, polisi melarang Ainun melanjutkan. Isi pidatonya tidak mencerminkan nilai-nilai pancasila dan UUD 45 yang murni dan konsekwen. Acara harus segera bubar. Ainun tidak hilang akal. Dia meminta polisi untuk memberikan izin padanya memimpin doa sebelum acara dibubarkan. Polisi menganggukkan kepala.

Maka, dengan gayanya, mulailah ia memimpin doa. Pada akhirnya menjadi salah satu doa terpanjang sepanjang masa, karena sebetulnya dia hanya memindahkan isi pidato dengan dikemas sebagi doa. Semua kalimat tinggal ditambahkan “Ya Tuhan”, “Ya Rabb”, “Oh Aduhai Baginda”, dan banyak kata lainnya yang erat disebut sapaan doa. ¬†Kepala menunduk, tangan ditengadahkan. namun kontennya adalah konten pidato.

————

Sastra itu sederhana.

Konstruksi sastra kita sejatinya tidak berwujud sepeti pondasi batu kali dan adonan semen. Sastra ada dalam pikiran kita. Ketika UGM mengubah Fakultas Sastra menjadi Fakultas Ilmu Budaya di awal tahun 2000, sejatinya menurut hemat saya, dalam jalan pikiran akademisi-pun sastra tidak lagi terlalu penting. Umum mengalahkan khusus. Sastra menjadi budaya adalah semacam mengubah zaman perundagian kembali menjadi masa perburuan zaman batu. Sastra adalah budaya yang telah dimuliakan. Sofistikasi budaya. Kecanggihan buah karya manusia.

Namun apa boleh bikin. Budaya itu lebih luas sekaligus ringan. Mudah diterima masyarakat. Budayawan lebih enak dan ramah diterima pikiran daripada kesan yang diperoleh saat mendengar kata sastrawan.

Coba bayangkan pada zaman itu ketika kalimat ini meluncur “Anak sastra mau kerja apa?” atau ¬†“Anak Jeng itu anak sastra kan? Kalau lulus nantinya kerja dimana sih Jeng”.

Sastra yang dikalahkan budaya.

Sastra harusnya memang banyak mengalah. Sastra juga perlu popularitas agar karyanya menyebar dan dinikmati banyak orang. Toh sastra adalah semacam buah karya yang menghormati soal “kebenaran”, tanpa perlu menggurui secara kasat mata. Nilainya muncul karena tak menggurui. Moral yang dikemas plastik kapsul agar mudah ditelan dan efeknya diam-diam bekerja tanpa peru merasa pahit seperti puyer.

Maka sebisa mungkin kata sastra dikemas dengan menjadi cukup: tulisan. Terlalu berat beban yang dipikul sastrawan dibanding penulis.

Atau jangan-jangan kata penulis adalah semacam istilah fakultas budaya UGM tadi untuk mengganti kata Fakultas Sastra. Bukti menyerah kepada pasar dengan alasan lebih mudah diterima. Bukankah seharusnya sastra pun agak jual mahal. Ada syarat kondisi tertentu untuk menjadikan karya disebut sastra.¬†Lebih suka disebut Sastrawan atau penulis? Orang kita adalah orang yang membumi. “Penulis aja deh”.¬†Agar hidupnya lebih tenang. Tidak banyak dituntut mempertahankan kualitas karya. Pilihan yang mudah. Namun bukan pilihan yang indah.

Sastra bernaung di pikiran, bukan di bangunan bernama fakultas atau kerja budaya bernama idwriters.com

Ketika sosok Pram dan GM mulai ditinggalkan generasi kini, maka muncul wajah baru, Penyuka jazz parfum dan insiden. Namanya SGA. Sebelah Gunung Agung.
Dalam pembukaan situs idwriters.com pun SGA sebagai sosok baru yang digadang-gadang menjadi sorotan. Mantan Pemred Jakarta-jakarta  ini dielu-elukan oleh para penulis muda. Generasi Muda yang mencintai negeri senja. Para penulis muda yang elukan kehadiran sosok Alina, dengan larik cahaya keemasan di jendela.

Di satu sisi, apakah bermunculan banyak penulis muda? Yang saya ketahui anak ideologis Mansour Fakih dan segala turunannya yang dulu aktif dalam LKiS  insist Jogja terus membangun karya. Terbitlah Ratih Kumala, Puthut EA, Eka Kurniawan, Astrid Reza, dan kawan-kawan dengan Komunitas Sumbu-nya. Juga teman di Makassar seperti Aan Mansyur dan teman-teman Kata Kerja. Saya yakin di daerah lain pun bermunculan para sastrawan muda. Iya sastrawan, bukan penulis. Alasan saya satu: menaruh hormat bagi para penulis yang takzim mengolah pikiran dengan hati, menjadi karya yang enak dibaca.

Kiri Kanan Kulihat Saja Banyak pohon Cemara..aa.aa. Ya, dan cemara itu bernama sastra.

Selamat menikmati Sabtu pagi,

Roy (yang sedang ngidam punya sepeda lipat)

 

 

 

*) Seperti biasa, saya  dituduh semena-mena membuat judul yang sama sekali ndak nyambung dengan isi tulisan. Saya ndak perlu minta maaf, karena itu bukan kesalahan. Termasuk kenapa foto orang ini ada di paling bawah tulisan. Ini soal iseng saja.

 

raditya_dika

 

 

 

 

Jelang Akhir Pekan

Besok sudah akhir pekan. Saatnya kita (terutama Anda, Anda, dan Anda) memiliki waktu lebih luang untuk mengurusi diri sendiri; melakukan kegiatan yang diinginkan, atau lebih leluasa hanyut dalam pikiran. Entah, pikiran yang imajinatif atau sekadar lamunan sambil lalu alias daydreaming. Sah-sah saja, ndak ada yang berhak melarang. Sehat kok, asal jangan keterusan.

Bisa jadi, sudah ada segudang ide melayang-layang dalam kepala Anda sekarang, membayangkan besok bakal ngapain aja (kecuali untuk Farah, yang naga-naganya masih sibuk bergelut dengan dunia pertukangan sampai beberapa hari ke depan). Sepertinya bakal menyenangkan, apalagi kalau bersama dia yang tersayang (asal orangnya bukan terserahan dan enggak dramaan), atau setidaknya dengan teman-teman. Ya, sebagai makhluk sosial, manusia memang saling membutuhkan satu sama lain. Tak sekadar sebagai lawan berinteraksi lewat kontak dan komunikasi, melainkan juga sebagai kawan yang sama-sama merasa punya ikatan. Saking kuatnya, sampai bisa menciptakan geng. Ke mana-mana selalu bareng, ngapa-ngapain selalu bareng, curhat bareng-bareng, nge-date bareng, juga hamil dan melahirkan bareng biar nanti anak-anaknya bisa sebaya lalu kembali mengulang model pertemanan seperti mama-mamanya.

Dalam pergaulan geng tersebut, ikatan yang kuat meruntuhkan sejumlah batasan. Sesama anggota geng selalu terbuka, tentu dengan asumsi saling percaya dan rasa nyaman untuk berbicara apa adanya. Sayangnya, kenyamanan ini seringkali ikut berubah seiring berjalannya waktu, memungkiri janji yang pernah diucapkan sebelumnya, semisal: ‚ÄúBFF!‚ÄĚ Ketika sesama anggota geng saling berseteru, memisahkan diri, atau hanya gara-gara beda lingkungan. Silakan dihitung, ada berapa geng yang pernah Anda alami sejak masa SD, SMP, SMA, kuliah, di kantor, atau bahkan geng ibu-ibu/ayah-ayah di sekolah, geng arisan, geng motor yang serius‚Äďbukan cabe-cabean, geng golfer sesama eksekutif muda, dan sejenisnya. Kemudian, dari timeline selama itu, ada berapa orang anggota geng yang masih berteman baik sampai sekarang? Bila merunut tulisan Mas Nauval kemarin, beliau termasuk beruntung lantaran teman-teman gengnya meninggalkan banyak hal positif yang terus dikenang.

Di sisi lain, saat mencoba mengingat masa lalu itu, barangkali Anda teringat kenangan buruk, pengkhianatan, penelikungan, ejekan berlebihan, kebohongan dan sebagainya yang bikin sakit hati. Lebih sakit dari biasanya, karena hal-hal tidak menyenangkan itu dilakukan oleh teman sendiri. Sakitnya ganda. Namun bagaimanapun juga, semua itu sudah berlalu. Dengan pengalaman tidak menyenangkan yang dialami selama ini, telah mengantarkan Anda menjadi seperti saat ini. Baik atau buruknya kekinian Anda, dibentuk banyak hal. Termasuk sakit hati tadi. Misalkan saja, saat ini Anda merupakan orang yang cenderung pendiam, sukar untuk didekati, minim bicara, atau introvert, bisa saja dulunya adalah orang ceriwis, supel, aktif, dan sejenisnya. Hanya saja bedanya adalah, Anda yang saat ini lebih berhati-hati, memiliki wibawa dan karisma, serta disegani. Meskipun efek sampingnya adalah terkesan dingin dan menakutkan. Berbeda dengan sebelumnya, Anda memang merupakan sosok yang menyenangkan, bisa berbaur di mana saja, meramaikan suasana, tapi sering disepelekan dan tak cocok untuk memimpin sesuatu karena enggak digubris. Biarkan waktu yang menjawab, mana yang terbaik menurut Anda. Kendati tak mustahil ada orang yang mampu menjalankan kedua peran tersebut secara terpisah, di kantor atau di rumah, bersama kolega atau bersama pacar. Dan seterusnya.

Terlepas dari itu, gara-gara sikap peduli dan kepo beda tipis dalam kehidupan sosial kita saat ini, tak sedikit juga yang memilih untuk menghabiskan me time-nya sendiri. Menyepi di pojokan, seolah menciptakan tameng bertuliskan ‚Äújangan diganggu!‚ÄĚ Kecenderungannya makin marak dalam beberapa waktu terakhir. Apakah tindakan itu salah? Oh, tentu tidak. Justru menjadi pengalaman baru yang meluaskan pandangan, bila kita yang biasanya selalu rame-rame, sesekali menghabiskan waktu sendiri. Silakan coba berkeliaran di mal seorang diri, sebagai permulaan. Tapi jangan luntang-lantung tak jelas tujuan, bisa berasa bego. Itu sebabnya bila jalan bareng teman lebih gampang keleleran, saking terlalu banyaknya pembicaraan.

Green Tea Latte

Tentukan mau lakukan apa; nonton, cari Wi-Fi atau baca di kafe (sambil pesan menu tentunya), ke toko buku, atau sekalian belanja bulanan. Pasti akan asing pada awalnya, namun lama-lama bisa terasa berbeda. Seolah benar-benar punya kendali atas diri sendiri, di saat ini. Terutama bagi Anda di kota-kota besar Indonesia, tongkrongannya banyak dan beraneka. Bisa-bisa di akhir pekan berikutnya, Anda malah ketagihan dan solo-visiting ke museum, art house. Atau malah bisa memunculkan semangat untuk solo-traveling.

Toh tidak ada salahnya memanfaatkan akhir pekan untuk hal-hal baru.

Selamat (menjelang) akhir pekan.

[]

SEKS

‚ÄúTergantung. Mau dilihat dari mana? Sebagai prokreasi atau rekreasi?‚ÄĚ

Minggu sore kemarin, dalam pertemuan tak sengaja di sebuah kafe yang baru buka. Pembicaraan menghasilkan satu kesimpulan: ‚Äúkawin bukan melulu soal seks, seks tidak cuma penetrasi dan ejakulasi, penetrasi dan ejakulasi pun belum tentu hanya untuk membuahi.‚ÄĚ Jelas, kesimpulan ini bukan suatu pemikiran yang baru atau revolusioner. Apalagi setiap orang memiliki persepsi masing-masing terhadap urusan yang satu ini.

Sama seperti makhluk hidup lainnya, manusia melakukan hubungan seksual untuk berkembang biak, meneruskan jejak karbon di muka bumi ini. Namun kita patut bersyukur, menjadi makhluk dengan pikiran dan perasaan. Sehingga dianugerahi kemampuan untuk bikin hubungan seksual bukan sekadar persetubuhan. Lengkap pula dengan bentuk genitalia sedemikian rupa, yang mengharuskan terjadinya kontak fisik secara langsung. Membuat manusia mengenal kata ‚Äúintim‚ÄĚ dan ‚Äúmesra‚ÄĚ. Berbeda dengan ikan, misalnya. Ketika sang betina harus men-squirt sel telurnya ke lokasi tertentu, untuk kemudian dibuahi pejantan secara terpisah. Ibarat punya anak dari hasil masturbasi.

Dengan pikiran dan perasaan, hubungan seksual bisa menjadi lebih nikmat dan menyenangkan, bahkan mampu membuat para subjeknya mengalami ekstase dalam arti sebenarnya. Dengan pikiran dan perasaan pula, aktivitas yang sama dapat terasa begitu menyakitkan, melukai, dan meninggalkan trauma. Hanya saja, karakteristik kedua kutub ini begitu versatile, sangat rapuh, terlampau luwes. Dalam banyak kasus, banyak orang tak sadar bahwa kenikmatan seksual yang ia rasakan mengarah pada adiksi, membuatnya terikat pada delusi. Kehilangan common sense. Saking parahnya, juga melibatkan pemaksaan. Menjadikan hubungan seksual tak lebih dari sekadar aksi untuk bisa muncrat doang. Membuat coli pantas disebut kemandirian seksual. Toh, senikmat-nikmatnya hubungan seksual, apa mesti berujung pada ketergantungan?

Pikiran dipengaruhi banyak faktor, termasuk nilai-nilai etika, standar moral, kaidah kepatutan, pertimbangan pribadi, dan alasan-alasan lainnya. Contoh umumnya, keperawanan dan ikatan pernikahan. Tanpa bermaksud sexist atau mengkultuskan selaput dara, diasumsikan bahwa perempuan akan lebih rela bersanggama dengan pasangan resminya, ketimbang separuh hati menyerahkan diri kepada pacarnya dengan embel-embel ‚Äúpembuktian cinta.‚ÄĚ Selain itu, konon, hubungan seksual yang dilakukan tanpa perasaan bersalah, dan dijalani dengan optimal oleh kedua belah pihak, akan terasa lebih menyenangkan. Berkemungkinan besar pula bisa menghasilkan pembuahan yang lebih baik, memang sangat dinantikan.

Sebagai sumber kreativitas, pikiran mewujudkan hal-hal baru dalam urusan seksual. Bisa berupa inovasi, fantasi, atau sekadar variasi. Selama tidak menghilangkan kenyamanan (dengan batas nyaman yang berbeda-beda), pikiran akan bersifat permisif dan mudah mendapat persetujuan. Sesuatu yang awalnya dianggap aneh/salah, bisa diterima siapa saja menjadi sesuatu yang wajar/benar. Misalnya, hingga era 70-an, hubungan seksual hanya lazim dilakukan di atas ranjang. Seiring berjalannya waktu, sah-sah saja bila pasangan suami istri ingin saling melancarkan serangan di dapur, ruang tamu, atau bahkan balkon loteng. Maupun perubahan gaya, dari posisi pemula (man-on-top alias posisi Missionary) jadi gaya berdiri, dan sebagainya. Beragam perubahan ini menjanjikan sensasi atau pengalaman seksual berbeda. Disebarluaskan secara terbuka pula.

Dewasa ini, pemikiran timpang mengenai struktur sosial gender juga mengemuka. Bagi oknum sebagian pria, terlebih yang merasa ganteng, merasa punya bentuk bodi idaman, merasa keren atau tajir melintir, juga merasa punya titit dan kelihaian seksual yang patut didambakan, kemampuan menaklukkan hati‚Äďdan kelamin‚Äďperempuan dianggap pembuktian sebuah keniscayaan. Atau versi ironisnya, cuma doyan ‚Äúnyicip‚ÄĚ. Apabila berhasil, bangga dan diumbar ke teman-teman satu geng laiknya sebuah pencapaian. Ndak tau kalau di semesta gay, apakah dengan latar belakang sama (pembuktian kalau masih laku, doyan ‚Äúnyicip‚ÄĚ) atau ada alasan berbeda.

Dari pikiran juga, seseorang bisa mengendalikan diri. Ibarat kata walaupun titit ngaceng maksimal, tapi tetap enggak asal sodok sana tusuk sini. Para cewek pun bisa tegas mengatakan tidak. Dengan berpikir, masih sempat mempertimbangkan konsekuensi yang bisa dihasilkan. Sila dibayangkan dan dibandingkan. [Cowok] Setelah sempat berhubungan seksual dengan pacar, apakah sanggup merasakan dan melawan dramanya? Apakah merasa terikat? Bak simalakama, apabila kamu terikat, maka kamu akan terpaksa merasakan ketidaknyamanan. Tapi apabila kamu tidak terikat, kamu dianggap cowok bajingan. Cuma mau ngewe doang. [Cewek] Setelah sempat berhubungan seksual dengan pacar, dan ternyata dia suka selingkuh tapi enggak mau mengaku salah, siap untuk putus? Di satu sisi, pasti pengin putus. Di sisi lain, pasti berasa enggak rela. Serba salah, kan?

Selain itu, pikiran juga bisa membuat seseorang begitu anti dan tabu terhadap hal-hal seksual. Pemikiran tertentu membuat seseorang lebih suka bersetubuh dalam kegelapan, melakukannya dengan cepat dan terburu-buru, enggan berkomunikasi dengan pasangan meskipun kenyataannya selama ini selalu dibuat tak nyaman dan ‚Äúditinggal dalam kondisi kentang‚ÄĚ, menghindari berfantasi dan variasi, memutuskan untuk frigid, atau sekalian menjadi seorang aseksual maupun selibat setelah mendapat panggilan spiritual.

Sedangkan perasaan cenderung dipengaruhi dua hal: rangsangan indra dan perasaan itu sendiri. Dan kinerja perasaan tak akan bisa lepas dari pikiran. Keduanya saling sinergi, bisa menguatkan, atau malah melemahkan. Sederhananya, apabila tubuh mendapatkan sentuhan lembut di titik yang tepat, pasti ada yang tegang, bisa sange. Tanpa memandang siapa yang memegang, dan apa orientasi seksual orang yang dipegang. Kecuali kalau pikiran mengintervensi dengan kerisauan, dan penyebab ketakutan. Yang ngaceng akan layu seketika, gelisahnya batal. Ya pada intinya, Anda paham maksud saya.

Lalu, bagaimana sebaiknya memandang seks?

‚ÄúTergantung. Mau dilihat dari mana? Sebagai prokreasi atau rekreasi?‚ÄĚ Mau dilihat sebagai aktivitas berkembang biak, atau sebagai kegiatan yang memberi kenikmatan. Sebab pada dasarnya, seks tak bisa dilepaskan dari tujuan awal pelaksanaannya. Apakah ingin menghasilkan keturunan? Apakah ingin merasakan keintiman bersama pasangan? Atau keduanya? Terserah Anda sih. Jika bingung, ikuti saja panduan agama masing-masing. Bila agnostik, pakemnya cuma satu: “jangan buat jahat,” termasuk kejahatan seksual.

Alamiahnya segala sesuatu yang duniawi, seks bisa dipandang dari dua sisi. Baik dan buruk. Selain sebagai hubungan suami istri demi mendapatkan keturunan, agama-agama perenial purba menganggap bahwa seks adalah salah satu jalan menuju kontak ketuhanan, sesuatu yang transendental.

Di timur Indonesia, ada istilah ‚ÄúMati Kecil‚ÄĚ selaras dengan yang ingin dicapai dari praktik Kama Sutra. Maupun lelaku Maithuna, hingga jauh ke Eropa sana dengan Hieros Gamos-nya. Tapi ya itu tadi, lantaran transenden (baca: sulit dipahami) dan versatile, kearifan-kearifan ini malah disejajarkan dengan tindakan zina belaka: seks karena nafsu. Seks pun dianggap sangat berbahaya, selain sebagai satu-satunya cara untuk mendapatkan keturunan. Sayangnya, demi menjauhkan diri dari ‚Äúbahaya‚ÄĚ tersebut, manusia dibuat membencinya dengan cara-cara yang misoginis. Seks dibuat sedemikian menjijikan, manusia dibuat sedemikian malu dengan tubuh serta ketelanjangannya sendiri (coba tonton ‚ÄúCarrie‚ÄĚ keluaran 1976), dan kenikmatan seksual dibuat tak terjangkau bahkan menyakitkan. Sebut saja praktik menjahit labia pada anak-anak di Afrika, atau mutilasi berupa pemotongan klitoris, salah satu organ seksual penting perempuan. Merampas kemerdekaan seseorang atas tubuhnya sendiri.

Kendatipun demikian, bersikap imbang akan jauh lebih baik. Seks tak lebih dari aktivitas alami untuk memenuhi salah satu kebutuhan dasar manusia. Posisinya berada di bagian paling bawah Piramida Maslow, bersama makan, minum, dan tidur. Akan tetapi, bukan berarti pula seks dilakukan segampang mengambil gelas, menuang air, lalu minum, sebab bakal terasa biasa. Kehilangan kesakralannya, sekadar jadi ajang pelepas gairah semata. Apalagi kalau terlampau sering, bae-bae jenuh.

Itu sebabnya, kawin bukan melulu soal seks. Karena kalau demikian, berarti ikatan suci pernikahan tak lain hanya legitimasi untuk ngeseks. ‚ÄúBayarannya‚ÄĚ adalah maskawin dan kehidupan bersama sampai akhir hayat/hubungan. Selanjutnya, seks tidak cuma penetrasi dan ejakulasi. Karena hubungan seks bukan sekadar gerakan berulang-ulang yang melelahkan, melainkan aktivitas yang mengejawantahkan kasih sayang dan kenikmatan jasmani serta rohani. Terakhir, penetrasi dan ejakulasi pun belum tentu hanya untuk membuahi. Karena orgasme adalah hak asasi setiap orang, bukan hanya untuk cowok yang ejakulasi, melainkan juga kesempatan bagi cewek untuk kejet-kejet atas persetujuannya sendiri.

[]

Berdasarkan Kisah Nyata (Trilogi Oscar Jilid Dua)

Film biografi atau biasa disebut biopic yang merupakan kependekan dari biographical motion picture adalah film yang dibuat berdasarkan kisah nyata. Biasanya diambil dari kisah seleb atau tokoh yang terkenal. Atau bisa juga dari orang yang biasa saja tapi mempunyai cerita yang menakjubkan. Di tahun 2014-2015 ini atau setidaknya pada award season ini disengaja atau tidak ternyata banyak sekali biopik yang dibuat, dan semuanya berkualitas bagus. Berikut film-filmnya tidak menurut abjad:

Chris Kyle

The most lethal sniper in U.S. military history. Ini adalah julukan dari Chris Kyle. Konon dia sudah menembak kurang lebih 160 orang (tidak ada data yang akurat). Clint Eastwood sebagai sutradara film ini dengan judul American Sniper dengan Bradley Cooper berperan sebagai Chris Kyle. Film yang mengundang kontroversi di Amerika karena dianggap sebagai film yang pro-perang dan menuai polemik apakah Chris Kyle itu pahlawan atau penjahat perang. Tapi yang jelas film ini adalah film perang terlaris sepanjang sejarah Hollywood. Enam nominasi Oscar sudah didapat. Bradley Cooper meraih nominasi Oscar ketiganya di tiga ajang Oscar terakhir. Sebelumnya di film American Hustle dan Silver Lining Playbook dia pun mendapat nominasi. Tapi tetap dia tidak akan naik ke podium dan meraih Oscar tahun ini. Saingannya berat.

James Brown

Film Get On Up yang diproduseri oleh Mick Jagger dari The Rolling Stones ini sebetulnya bagus. Setidaknya akting Chadwick Boseman sebagai James Brown layak mendapatkan nominasi di kategori Aktor Terbaik. Mengingatkan pada Jamie Foxx yang berperan sebagai Ray Charles di film Ray. Mungkin kurang di promosi dan marketing sehingga film ini tidak mendapatkan lirikan dari berbagai ajang penghargaan.

Alan Turing

Satu dari dua lulusan Cambridge yang difilmkan tahun ini. Ilmuwan serba bisa dari Inggris ini pengaruhnya sangat terasa sampai hari ini. Beliau adalah dianggap sebagai pionir dalam menciptakan konsep pemrograman komputer di era Perang Dunia II. Mesin Turing adalah cikal bakal komputer yang kita pakai hari ini. Benedict Cumberbatch sebagai Alan Turing pun bermain apik sehingga dia mendapatkan nominasi pertamanya di ajang Oscar ini di kategori Aktor Terbaik. The Imitation Game sudah tayang di bioskop di Indonesia. Ayo kalo mau liat akting komputer segede alaihim gambreng dan meweknya Benadryl Camouflage inilah saatnya nonton ke bioskop.

Martin Luther King, Jr.

Silakan klik di Trilogi Oscar Jilid Pertama

Stephen Hawking

Eddie Redmayne is the man. Satu-satunya pengganjal Michael Keaton mendapatkan Oscar di kategori Aktor Terbaik tahun ini adalah dia. Eddie memainkan peran sebagai Stephen Hawking yang juga sekolah di Cambridge ini dengan baik sekali. Kalo sudah menonton film My Left Foot yang dibintangi Daniel Day-Lewis atau Russell Crowe yang bermain sebagai John Nash di film A Beautiful Mind, Eddie sudah berada di level mereka. Filmnya pun layak tonton. James Marsh sebagai sutradara film dari The Theory of Everything ini selain menceritakan bagaimana Stephen Hawking muda yang jenius sebagai cosmologist tetapi juga sengaja banyak menyisipkan kisah cinta dari Stephen Hawking yang janggal. Half science, half love stories.

Margaret Keane

Film Tim Burton yang kesekian tanpa kehadiran Johnny Depp dan Helena Bonham Carter. Big Eyes menceritakan awal kehidupan seorang pelukis wanita bernama Margaret Keane yang diperankan oleh Amy Adams hingga dia bertemu dengan suaminya Walter Keane yang diperankan oleh Christoph Waltz. Film yang bergenre comedy drama ini sudah menghasilkan Amy Adams satu Golden Globe, dan beberapa nominasi lainnya di ajang penghargaan film. Tapi tidak di Oscar. Tim Burton tidak butuh Oscar.

du Pont

John Eleuthère du Pont merupakan keturunan dari keluarga kaya raya Dinasti du Pont. Keturunan Perancis yang bermigrasi ke Amerika Serikat. John pun pengusaha yang bergerak di berbagai bidang. Dia adalah penggemar olah raga. Terutama gulat. Saking antusiasnya dia membuat sasana gulat untuk mereka yang membutuhkan. Sasana tersebut bernama Foxcatcher, sama dengan nama judul film ini. Steve Carrell, sebagai John du Pont di film ini mendapatkan dua adik kakak pegulat profesional bernama Mark Scultz (Channing Tatum) dan Dave Schultz (Mark Rufallo), juara gulat di Olimpiade 1984 untuk dilatih menuju turnamen gulat kelas dunia berikutnya. Film ini menghasilkan nominasi Oscar untuk Mark Rufallo sebagai Aktor Pendukung Terbaik dan Steve Carrell di Aktor Terbaik, dan Sutradara Terbaik untuk Bennett Miller. Oya film ini juga akan tayang di bioskop akhir bulan ini.

Selamat menonton.

 

nb: teaser jilid tiga: boyhood as a nightcrawler in budapest and a birdman in a whiplash. 

USTADZ WADUD Bagian-5

Cinta

Kami ingat betul peristiwa ini. Kami berada berkumpul membentuk lingkaran luas dengan pusat dua orang yang berdiri tegang. Wadud dan Warti. Kalau ada yang hendak diajak damai, itu adalah diri mereka masing-masing. Kami memaku pandangan tak lepas dari mereka berdua. Bukan bagaimana akhirnya, tapi seperti apa prosesnya. Jangankan suara, desah nafaspun kami pendam sedalam mungkin. Telinga adalah indra tertajam yang ada saat itu. 

Sekarang akal sudah surut, sepenuhnya dikuasai nurani. Air mata adalah untaian kata-kata tanpa susunan frasa yang jelas. Seperti air mata, kata itupun mengalir dari relung-relung kelenjar bernama jiwa. Hati menjelma jadi mulut yang bisa berbicara lantang. Baik Wadud atau Warti akan menjelaskan. Sebuah penjelasan monolog yang berbicara pada diri sendiri. Juga warga Jatinom.

Kang! Aku ngaku salah kang, aku pembunuh!! Aku ini lebih rendah dari binatang ampuuuuun
Jangan diam saja kang Wadud, ampuni Warti. Sumpah demi Allah Warti siap dipenjara. Matipun Warti sudi asal kang Wadud mau kasih ampun

Ustadz Wadud tidak menunjukkan gerakkan, baik badan maupun mulutnya terkunci rapat. Warti membujur lagi di depan sang ustadz. Kali ini dengan darah yang mengalir dari telapak kakinya. Warti lupa kalau ia adalah manusia, ia merasa dirinya sebagai binatang jalang yang siap dihukum karena menyakiti majikannya. Warti meraung mengampun-ampun. Kemudian warti melepaskan pandang ke sekelilingnya. Memandangi mata kami satu persatu, seakan meyakinkan kami untuk menjadi saksinya. Saksi sebuah tragedi.

Bapak-bapak Ibu-ibu warga Jatinom. Saya mohon untuk mengingat ini baik-baik. Saya Warti membunuh Yu Darmi. Membakarnya hidup-hidup sampai gosong. Saya Warti, anjing betina yang gila!
Ampuuun!
Maafkan saya…

Warti berdiri, melempar kain sarung burung Hong dan membuka bajunya. Kutang yang basah karena keringat lelah itu menyembul dari balik baju yang ia tanggalkan di lantai aspal. Ia menjadi betul-betul gila, atau kami yang gila, karena tidak bereaksi apa-apa.

Ini saya Warti bapak-bapak ibu-ibu. Bunuh saya! Saya salah, saya bersalah, Dosaaaa!

Sekarang giliran kami yang mengelurakan air mata. Kami menundukkan kepala pertanda maaf sudah berada di ujung lidah, hanya tak mampu mengucapkannya. Kami merasa, pastilah ada alasan yang bisa dipertanggungjawabkan oleh Warti sehingga Yu Darmi menemui ajalnya kemarin malam. Sekali lagi, diam adalah jawaban dari kami semua. Tapi bukan sang Ustadz. Setelah ia memungut kain sarung burung Hong di samping jalan yang dilemparkan Warti, ia menjerit:

Wartiii!! Bukan salahmu!

Kami terkejut dibuatnya. Teriakkan Ustadz Wadud seperti gemuruh halilintar di tengah senyapnya suasana malam itu. Tidak biasanya beliau menggunakan volume suara setinggi itu. Dibebani dengan kaget luar biasa, mulut kami bak batu yang tidak bisa dibelah oleh apapun. Warti menoleh ke arah suaminya berdiri. Ia beranggapan kalau masalah ini menemui ujungnya. Harapan yang jauh dari kenyataan.

Bukan salahmu Warti, dosa itu dosaku. Darmi, kamu, aku dan kerusakkan yang ada di sini semua salahku!…

Kang-kang, ngomong apa? Jangan kasihan sama aku kang Wadud. Aku hanya minta dimaafkan, itu saja. Bukan kakang yang salah, tapi aku kang, aku yang membakar Darmi kemarin

Sambil menunjuk ke arah Danang sang ustdaz berkata:

Warti istriku, kamu lihat sepupumu itu disana? Kamu lihat seorang pria muda yang duduk diatas sepeda motornya itu?

Ketahuilah, dia itu Jiwaku! Danang adalah kekasihku
Aku mencintainya

Ya Allah aku mencintainya

Baik kami, Warti, Danang, atau mungkin Wadud sendiri tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Antara Ustadz yang meracau atau jeritan hati yang tak lagi bisa dibisukan. Pembuluh darah siapa saja di tempat itu pasti dialiri darah dengan debit tinggi. Semua menegang mendirikan kuda-kuda waspada yang tidak begitu berguna. Terlalu jauh dari yang kami bayangkan.

Sekarang Warti mengerti posisinya. Ia adalah pecundang, sedari awal ia adalah pecundang. Semua keragu-raguannya mendadak dijawab oleh Ustadz Wadud. Warti sudah kehilangan semuanya. Kebebasannya, sinar wanita, dan yang terpenting cintanya. Berjuang untuk kehampaan. Apa yang ia pertahankan selama ini adalah sekumpulan kebodohan tanpa bayangan. Pria yang ia pikir mencintainya ternyata menjalin kasih dengan sepupunya sendiri, Danang. Warti bahkan lebih rela kalau Yu Darmi yang memenangakn hati sang Ustadz, ketimbang Danang.

Ya Allah aku mencintainya…

Warti Astini bisu. Teriakkan yang memilukan dari benak kalbu perempuan ini mati terduduk bersama hilangnya kepercayaan. Kepercayaan yang terlalu naif bernama cinta. Yang Warti mengerti sejak awal perjumpaan dirinya dengan Ustad Wadud adalah ketertarikan seorang perempuan terhadap laki-laki yang mengiming-imingi dirinya dengan pesona. Sedangkan cinta barulah Warti pahami detik ini.

Warti istriku, inilah suamimu, ustadz sok suci yang kau agung-agungkan selama ini ulama gadungan yang tak mampu menaklukkan dirinya sendiri

Tindakan hakim-menghakimi sekarang berubah arah. Wadud harus menjatuhkan putusan berat terhadap dirinya sendiri. Vonis kafir melekat pada diri sang Ustdaz. Dosa kafir tak termaafkan. Ia menjadi kafir karena jatuh cinta. Kemudian ia menjadi dosa karena tak mampu membunuh cintanya.

Suatu hari, istriku. Seorang laki-laki muda kau ajak ke Mesjid. Ia menjabat tanganku, ia berkata asalamualaikum dengan nada yang datar sederhana, seakan runtuh leluri Al-Quran yang berdengung sepanjang hayatku. Tiba-tiba saja aku sadar. Aku jatuh cinta…

Kau tahu, aku bersamanya hampir setiap detik, bahkan dalam Sholatku, dalam melagukan Al-Quran, atau memejam saat berwudlu. Warti Istriku, bahkan kau adalah wanita pilihan Danang untuk pendamping hidupku
Aku jatuh mencintai sepupumu itu sarung ini buktinya
Warti aku tidak bisa mengibaratkannya, maaf, cinta macam apa yang aku idap ini? Yang aku tahu, Danang mencintaiku bukan karena aku Ustadz Wadud, atau tampang bodoh ini begitu menggiurkan birahi, atau aku paham agama. Tapi karena ia adalah seorang Danang Lesmono… Dan aku mencintainya karena aku adalah seorang Gojali dari rantau

Cinta sendiri membenci manusia, mereka sepakat menghinggapi anak manusia, bercokol menyedot sari-patinya, dan meninggalkannya dalam luka kronis bernama patah hati. Apabila luka ini sembuh, bekasnya tak lekang, ia bersisa bak amputasi. Apabila luka tak kunjung pulih, tentulah mati akibatnya. Tugas Cinta atas Warti sudah selesai, saatnya untuk pindah ke lain korban. Warti ditinggalkan dalam luka besar menganga. Luka jiwa yang membanjirkan tangisan dan luka tubuh yang menghabiskan darah. Warti menusukkan tubuhnya pada pancang bambu di pinggir jalan. Ia terluka di dua tempat, pinggang dan hati sekaligus tanpa ampunan.

Kenapa kang Wadud lakukan ini?

Pertanyaan terakhir Warti sebelum penghujung nyawanya berhembus pelan. Wadud kali ini betul-betul membisu. Akibat yang ia bawa serta jauh melampaui nalar manusia. Korbannya mencakup nyawa, jiwa, dan cinta. Dalam pada itu, manusia juga bisa balik membunuh cinta. Yu Darmi contohnya, ia memasung cintanya terhadap sang Ustadz hingga kering tanpa sisa. Ia tak hendak mencuri atau bersikap ngawur ditengah-tengah dua cinta lain yang ada. Ya, Darmi adalah wanita penuh perhitungan, sehingga ia berlaku jitu, Warti bisa saja ditaklukkan dengan mudah, tapi Danang? Ustadz Wadud sudah bertukar nyawa dengan pemuda ini. Kematian Wadud adalah kehancuran Danang, dan begitu sebaliknya. Dan sekali lagi, bukan kehancuran yang Darmi inginkan.

Tiba-tiba. Sebongkah batu cukup besar mendarat di kepala Ustadz Wadud yang sedang khusyu memeluki Istrinya berusaha menyumbat luka tusukan dengan kain sarung burung Hong yang ia pegang. Ia tak segera bergerak. Batu kedua mendarat di pelipis kirinya, kali ini mengakibatkan robekan yang mengeluarkan darah. Ganti bu Sinom melempar sang Ustadz dengan batu sambil berteriak Kafir!!. Teriakkan itu seperti menyemangati kerumunan warga yang semakin banyak mengitari. Mereka yang terpaku, mendadak tercabut dan memunguti apa saja yang ada di sekitarnya untuk dilemparkan. Bertubi-tubi. Ustadz Wadud sudah berubah menjadi sasaran lempar seperti tiang pualam muzdalifah. Beliau bermandikan darahnya sendiri. Kanan-kiri, atas-bawah, darah sang Ustadz tak lagi bisa bibendung tangan. Kami merajamnya.

Kami tak mendengar teriakkan dari pihak yang menderita di bawah tangan-tangan kami yang semakin cepat melontarkan jahanam yang rajam. Sebaliknya, pekikan tinggi disertai auman suara mesin justru datang dari arah belakang kerumunan. Danang menerobos kerumunan dengan motor bebeknya, beberapa dari kami terpelanting jatuh ke parit, sebagian sempat sadar dan menghindar. Mungkin karena terkejut, kami memperlambat laju lemparan batu atas sang Ustadz.

Danang meninggalkan tunggangan motornya seperti gerakan membuang. Ia menyeruak ke tengah dan memeluk Ustadz Wadud. Lebih tepat disebut sebagai menamengi. Kini lelaki belia itu bak badan kedua bagi Ustadz Wadud. Batu-batu terpaksa mendarat di sekujur tubuh Danang, karena ia melindungi kekasihnya. Menurut Danang, tidak ada kata terlambat, ia tahu setiap desah nafas sang Ustadz, walaupun pada batas hembusan terakhir. Ia yakin Ustadz Wadud masih bernyawa.

Intuisi bercampur naluri, tak dinyana, juga muncul dari seseorang yang mengemban cinta. Sekotor apapun kondisi orang tersebut, sebuah indra tambahan berkecamuk diantara degup jantung dan aliran nadi-nadi pikirannya. Seperti Danang ini. Bagi sebagian orang, sang Ustadz telah gugur bersama istrinya, tapi untuk Danang, sang Ustadz berusaha menggapai dirinya bersama cikal nyawa yang hampir sampai pangkalnya. Yang mengatakan demikian tentu bukan kami, itu adalah bisikan nurani yang entah bagaimana bisa sampai pada nalar Danang. Sebuah kesadaran yang berada di bawah sadar yang lagi-lagi berkata benar.

Kamu jangan menyusulku

Dari balik cecair plasma kental berwarna merah, kalimat tersebut menelisip keluar. Ustadz Wadud masih bernafas. Baik Danang atau Ustadz Wadud sudah sama-sama mengeluarkan darah. Darah mereka bercampur dan saling tukar, susul-menyusul kemudian jatuh mewarnai tanah pijakkan mereka berdua. Kalau ada yang menyadarinya, mereka saling tatap, pandangan yang tak memerlukan lisan. Mereka betul-betul berbicara.

Setidaknya sebuah kehormatan untukku, mati demi Ustadz yang aku cintai, ujar Danang terburu-buru.
Bodoh, kamu harus hidup!
Hidup untukku hanya jika ada seorang bernama Gojali yang goblok mau jatuh cinta sama anak SMA bernama Danang

Kami terhenyak-gemetar, ketika mendengar suara tawa dari sasaran lempar kami itu. Kami berhenti melontar batu.

Hahahaha, jadi sekarang aku goblok dan kamu bodoh?
Iya! Lebih gila lagi kita sekarang tertawa
Danang, si goblok ini masih hidup
Dan tidak akan pernah mati, sekali lagi sarung ini saksinya

Dengan susah payah Danang berdiri dan membopong Ustadznya. Seandainya batu-batu itu masih beterbangan, pasti tidak akan dia hiraukan. Dalam pikiran pemuda ini hanya ada satu perintah: selamatkan kekasihmu! Demikian sehingga sekarang mereka berdua, satu membopong dan lainnya dalam bopongan, berjalan menjauhi kerumunan.

Jangan tidur!
Tidak tidur
Jangan tidur
Tidak tidur
J a n g a n  t i d u r
Tidak… tidur
Jangan…..

Wadz dzaariyaati dzarwaa (Adz Dzaariyaat (51):1). Wan najmi idzaa hawaa (An Najm (53):1). Wal aadiyaati dhabhaa. Fal muuriyaati qad-haa. Fal mughiiraati shubhaa. Fa atsarna bihii naqa a (Al Aadiyaat (100):1, 2, 3, 4). Wal ashr (Al Ashr (103):1). Yaa ayaatuhan nafsul muthma-innah. Irjiii ilaa rabbiki raadhiyatam mardhiyyah (Al Fajr (89):27, 28).

Demi angin yang menerbangkan dengan sekencang-kencangnya. Demi bintang apabila terbenam. Demi yang berlari kencang terengah-engah, lalu memercikkan api, lalu menyerbu di waktu subuh, maka ia menerbangkan debu. Demi masa. Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai.

Entah karena kehabisan tenaga atau dengan kesadaran penuh. Tepat di jembatan kecil yang melintang dari sisi satu ke sisi lain beralaskan kali juren, Danang jatuh ke kanan. Mereka bertiga, Danang, Ustadz Wadud, dan kain sarung burung Hong masuk ke dalam kali. Mengalir bersama derasnya kali Juren yang kecoklatan. Seperti batu yang tenggelam, kami tidak dapat melihat mereka lagi. Hanya kain sarung yang bisa kami selamatkan, ia tersangkut pada batang bambu yang menjorok ke tepian kali. Dan seterusnya, baik bersama nyawa maupun menjadi sepasang bangkai, mereka hilang dalam liuk aliran air sungai.  

image
Sumber: Google

Kali Juren

Kali Juren kecoklatan tetap seperti dulu, hanya saja langgar yang bersebelahan dengannya hampir rubuh dimakan cuaca. Langgar mungil yang tak lagi bisa hidup karena ditinggalkan umatnya. Di dalam langgar tak bisa ditemukan perlengkapan ibadah sebagaimana mestinya, semuanya hancur atau diselamatkan ke Mesjid Agung. Hanya ada mimbar lapuk dan seonggok kain sarung kusam bercorak burung Hong di bagian dalam ceruk setengah lingkaran tempat imam memimpin jemaatnya.

Di sisi kali ini juga tidak lagi ada bangku-bangku pancing, bahkan jembatan bambu yang dulu menghubungkan kedua sisinya hilang atas alasan yang beragam-ragam. Kami lebih memilih menyebrang di dekat perbatasan desa daripada mendirikan lagi jembatan bambu baru seperti dulu. Desas-desus mengatakan ada dua nafas gaib di kali Juren. Kadang nafasnya menenangkan kadang memilukan.

Sekarang genap dua tahun lewat beberapa jam dari kejadian itu. Masih banyak diantara kami yang menjadi saksi, menjadi pelaku, dan menjadi hakim dari peristiwa itu. Pengadilan tanpa jaksa dan pembela. Pastilah masih membekas sebegitu dalamnya dalam benak kami masing-masing. Seorang janda, seorang istri, seorang Ustadz, dan seorang pria muda meninggal dunia. Hanya ada dua keranda dan dua penguburan yang kami laksanakan bersamaan. Dua lainnya, kali Juren sudah mewakilinya untuk kami. Sejuknya air kali menjadi salam penghormatan kami sedalam-dalamnya kepada mereka yang saling mencinta. Ya, mereka sungguh berkorban demi cinta. Kalau ditanya mengenai sisa-sisa dan saksi yang lebih berbicara daripada kami, mungkin kami akan menunjuk ke arah langgar Juren. Kain sarung yang bersemayam di dalamnya adalah bukti pengorbanan cinta yang penuh luka, dua tahun lalu di Jatinom. Bukan benci alasan kami untuk enggan menuturkan kisah ini kembali. Kami merasa malu; kemudian menjadi tabu. 

Kami terpaksa, mungkin Tuhan kami yang memerintahkan demikian. Kamipun mendegar bisikan-bisikan. Bisikan yang kami dengar sejak kecil, sejak apa yang disebut siraman rohani menyuburkan hati kami. Sejak kalimat-kalimat itu menjadi kemutlakan sekaligus perintah yang turun langsung berdengung-dengung dari kisi-kisi bambu di bilik-bilik petani, di relung-relung mimbar langgar, di keheningan malam yang dua pertiga, di kejauhan lewat corong-corong jumat, dan di hadapan kami sendiri lewat lembaran-lembaran berabjad arab. Mungkin Ia mengharuskan. Mungkin. Atau mungkin

Wa la qad yassarnal qur-aana lidz dzikri fa hal mim muddakir (Al Qamar (54): 17-22-32-40). Dan sungguh telah kami mudahkan Al Quran ini untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?

TAMAT

USTADZ WADUD Bagian-4

Prasangka

Kematian Darmi membawa jutaan praduga. Seperti biasa, warga Jatinom menghubung-hubungkannya dengan klenik dan takhayul yang dipercaya sejak dahulu. Bu Sinom bahkan mengatakan kalau orang semacam Darmi ini membawa malapetaka. Buktinya, Darmi mati dalam keadaan hangus terbakar. Bu Sinom yang berbadan gemuk itu dengan berapi-api mengajak warga Jatinom untuk melaksanakan upacara ruwatan agar terhindar dari bala yang akan datang menimpa mereka.

Sama sekali bukan perasaan menang yang dirasakan Warti. Ia diam tak mampu berucap. Mungkin sesal mungkin juga lega. Kematian Yu Darmi adalah kesalahan sekaligus harapan bagi Warti yang menantikan kehangatan suaminya. Warti Astini adalah pemenang bungkam dalam pertarungan dua pendekar perempuan asal Jatinom. Dalam hal ini, piala yang diperebutkan adalah cinta Ustadz Wadud. Nyatanya, Darmi belum betul-betul menjadi pecundang dalam kematiannya kemarin, ia justru terlepas dari derita cinta yang tidak akan Wadud serahkan padanya maupun Warti. Dan Warti menangis, baik untuk kekhilafannya atas apa yang dialami Yu Darmi pun untuk kenyataan lain yang akan segera ia hadapi.

Adalah Ustadz Wadud, Sukini, dan Niniek yang merasakan adanya hawa kejanggalan pada kematian Yu Darmi yang sekaligus menghanguskan rumah beserta isinya. Ustadz Wadud sadar kalau Yu Darmi adalah musuh bebuyutan istrinya; sedang Sukini dan Niniek juga tahu kalau Wartilah yang paling membenci Yu Darmi selama ini. Ada angin busuk di Jatinom selama pencarian sisa-sisa Yu Darmi di rumahnya oleh pihak kepolisian.

Malam harinya, ditengah evakuasi jenazah Yu Darmi, Niniek meyakinkan Sukini untuk segera menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada Warti. Perasaannya mengatakan kalau Warti turut andil dalam peristiwa ini. Sepakat mereka menemui Warti yang terduduk diam di ruang tengah rumahnya. Adzan Isya baru berkumandang saat Niniek masuk menemui Warti, Sukini membuntutinya di belakang. Warti mengakui semuanya, dengan mudah. Ia tidak mencoba untuk mempertahankan posisinya. Ia tidak berusaha berada di pihak yang benar. Ia telah membunuh Yu Darmi. Dengan mudah Warti membeberkan rinci demi rinci kejadian malam itu. Warti menangis sejadi-jadinya bersama kedua mantan teliksandinya, Sukini dan Niniek. Sekarang bingung dan gamang berlipat tiga. Mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan. Untuk Warti, pilihannya sangat sedikit. Penjara atau pergi menghilang entah kemana. Merekapun tidak sadar kalau telinga di depan pintu mendengarkan semua percakapan dan tangisan sesal di ruang tengah.

image
Sumber: Google

Ustadz Wadud yang sedari awal menyimpan syak wasangka atas istrinya mendapatkan kepastian secara tidak langsung. Baginya, inilah kali pertama nguping pembicaraan orang lain. Tapi semua itu ia lakukan demi kebaikan, demi jawaban kematian Yu Darmi. Wadud melangkah pelan membuka pintu dan melihat keadaan di dalam. Terkejutlah tiga perempuan yang belum siap atas kehadiran sang ustadz di hadapan mereka. Tangisan Sukini semakin keras, sedangkan Niniek buru-buru pergi kebelakang. Warti, perempuan gagah ini berdiri berjingkat dan menyeka air matanya. Ia memandangi Wadud yang tak berkata apa-apa. Sinar mata sang Ustadz menggambarkan kekecewaan mendalam. Rasa sesal yang sulit terbayar. Warti paham keadaan ini. Ia harus melakukan sesuatu.

Tidak menunggu ular keluar dari sarangnya, Warti segera melompati meja di depannya, kemudian ambruk membujur di kaki Ustadz Wadud. Ia sujud pada suami tercintanya. Bersama air mata yang tak kunjung reda, Warti meraung-raung, mencengkeram erat kaki suaminya yang mematung di depan pintu. Sejenak ia mengumpulkan sisa-sisa kesadaran yang ia miliki, kemudian digabungkan menjadi permohonan ampun. Warti mengiba pengampunan dari Ustadz Wadud.

Ustadz Wadud menitikkan air mata. Ia tak bisa menerima apa yang didengarnya. Istri yang ia percaya melakukan pembunuhan. Apa lagi yang lebih buruk dari kejadian ini, pikirnya. Walau berilmu agama tinggi, meski berhati bijak, namun Wadud tetaplah seorang anak manusia yang punya rasa. Bagi Ustadz Wadud, inilah saatnya untuk pergi. Kemudian sang ustadz menunduk, memungut badan Warti dari lantai dan menegakkanya di kursi. Wadud memandangi Warti cukup lama. Komunikasi mata jauh lebih bermakna dibanding lisan. Mereka mungkin saja saling bertukar kecewa atau bisa jadi, saling kecam. Yang jelas, pintu depan terbuka lebar untuk Wadud. Ia berdiri dan pergi.

Seperti biasa, Danang melarikan Ustadz Wadud dengan motor ke Mesjid Agung Jatinom. Entah apa yang dipikirkan Danang saat itu, saat sang Ustadz keluar dari rumah dengan mata berair. Yang jelas ia tahu barusan ada peristiwa buruk di dalam rumah, karena Warti mengejar laju motornya dengan telanjang kaki. Ia tidak menekan gas kencang-kencang karena bimbang, sang ustadz meminta agar diungsikan ke mesjid sedangkan Warti, sepupunya, terseok-seok mencoba menyusul lari motor bebek Danang di belakang. Yang lebih mengherankan untuk Danang bukan kegilaan Warti mengejar motor, tapi sarung yang ada dalam genggaman Warti sepanjang larinya itu.

Wadud tahu ia dikejar Warti di belakang. Ia juga tahu kalau istrinya itu sangat pantang menyerah. Teriakkan Warti bisa membangunkan warga sekampung. Atau lebih buruk, mereka berdua bisa dianggap maling. Ustadz Wadud menepuk pundak Danang yang berarti tanda untuk berhenti. Ia memutuskan untuk berbicara dengan Warti. Wadud siap atas apa yang akan terjadi. Wadud juga siap apa yang akan ia lakukan. Ia tidak ingin kegelapan ini terus mengendap. Ia turun dari motor dan mencegat Warti yang masih berlari.

Terlambat bagi mereka bertiga, warga sudah keluar dari rumahnya masing-masing. Mereka berkumpul di lokasi dimana Danang menghentikkan motornya dan Wadud berdiri tegak di jalan aspal sempit yang diapit rumah-rumah berteraskan parit. Kira-kira tiga ratus meter dari rumah sang ustadz…

(bersambung: Cinta–TAMAT)