Bagaimana Wujud Manusia Indonesia Masa Depan?

Saya sudah lama tidak membeli buku, baik buku fiksi maupun non fiksi. Alasan utamanya adalah waktu baca saya sempit sekali. Terbukti dari puluhan buku yang belum terjamah bahkan dibuka bungkusnya. Apa iya sempit?

Setelah dipikir-pikir, soal waktu baca sejatinya adalah soal prioritas. Zaman kuliah, banyak hal dikalahkan oleh waktu baca. Saya bisa berhari-hari ndak ngampus dan malah asyik menandaskan buku yang dipinjam dari teman di kamar kos. Kepala dan hati menjadi hangat. Semacam mendapat wahyu jika membaca buku yang asyik. Kamar kos menjelma menjadi gua hira.

Dahulu, saat membaca buku sulit rasanya untuk langsung pamer atas pengetahuan baru yang saya dapat. Pencerahan yang terang-benderang harus diselesaikan hingga halaman terakhir. Waktu antara mendapatkan kalimat, ide dan “wahyu” ini mau ndak mau terendap saat membuka lembar demi lembar buku. Ketika halaman akhir ditutup, keinginan pamer seringkali berkurang, malah hilang.

Hal ini sulit terulang manakala zaman telah menghadirkan layanan instan yang tersedia pada layar gawai kita. Bahkan belum selesai kalimat terbaca, jika ingin, dapat langsung sematkan pada akun media sosial kita. Kita menjadi pewarta tanpa sempat mengunyahnya. Kita menjadi nabi tanpa kitab suci. Kita menjadi juru selamat tanpa ada korban yang sempat meminta pertolongan.

Membaca buku adalah sebuah ritual penting dalam hidup manusia modern. Sama halnya dengan menonton filem di bioskop atau DVD, pangkas rambut di salon, membeli kopi di St. Ali, atau main video game dari konsol yang baru dirilis. Seberapa penting?

Karena sebagian dari kita benar-benar tak lepas dari layar gawai. Inilah salah satu alasan mengapa linimasa hadir dalam kanal internet. Tantangan yang sungguh berat. Karena layaknya toserba, lorong bacaan letaknya di pojok ruangan. Depan kasir terjejer rapi tawaran menggiurkan berisi konten porno. Di lorong paling depan ada media sosial yang menjadikan kita cenderung untuk lebih banyak berkomentar daripada mendengar. Lalu ada lorong mainan segala umur semacam kanal hiburan berisi konten multimedia baik filem, klip musik, berbagi gambar, dan permainan daring yang ‘matre pulsa dan bandwidht“.

Hidup kita lalu menjadi terbagi dalam maya dan realita. Termasuk saya. Nama maya dan nama realita yang berbeda. Dan ternyata saya menikmatinya.

Apakah benar nantinya kita akan lebih banyak menghabiskan waktu dengan layar gawai, komputer maupun konsol video game yang juga dapat dijadikan pintu gerbang dunia maya?

Pertemanan saja bisa digantikan dengan saling sapa lewat aplikasi yang sedemikian beragam. Bahkan perjodohan bisa dilakukan juga. Ketika kita duduk di kedai kopi bersama teman, sepertiga waktu kita dihabiskan dengan bertanya kata kunci wifi, letak colokan listrik, membuka gawai dan tag lokasi dimana kita berada. Lalu sibuk mengambil gambar yang layak unggah. Jepret sana sini.

Pandangan kita tentang idola bergeser bukan hanya mereka yang menjadi pemeran dalam filem atau penyanyi dalam sebuah band, namun juga disematkan kepada para pemilik akun dengan pengikut yang berjibun.

Cara kita memesan kendaraan tidak lagi melalui lambaian tangan di pinggir jalan atau telpon melalui operator, melainkan cukup dengan membuka aplikasi.

Cara kita mengucapkan selamat ulang tahun, bela sungkawa, suka cita, bahkan pengumuman dan undangan perkawinan sudah berbeda dengan apa yang dilakukan 5-10 tahun lalu.

Anak muda yang berkenalan, lalu pendekatan, jadian, sayang-sayangan, marah-marah, hingga putus hubungan tanpa pernah bersentuhan kecuali lewat layar gawai menjadi hal yang lazim dan tak aneh lagi.

Musyawarah mufakat, laporan kegiatan, merencanakan liburan bersama, reuni, atau diskusi dimana kita dikubur nanti, dilakukan tanpa harus dengan tatap muka.

Hanya kegiatan fisik seperti berolah raga yang belum bisa dilakukan dengan menggantinya melalui teknologi maya. Tapi lihat saja, baru lari separuh lintasan kita sudah dapat menunjukkannya ke siapapun juga.

Teknologi kini adalah teknologi yang masih dianggap sebuah kemewahan dan alat distraksi nomor satu.

Akan tiba saatnya kita akan berpikir aneh jika masih menggunakan uang receh untuk kerokan. Akan terheran-heran dengan membeli koran di kios pinggir jalan.

Teknologi akan berangsur-angsur menjadi sebuah sandaran hidup karena masal, murah dan memang dibutuhkan.

Bukan berarti pembantu rumah tangga tergantikan robot, namun dengan teknologi segala macam guna, kehadiran manusia yang bebersih dapur, lantai dan pengasuh bayi menjadi berkurang. Tak perlu membuka pagar rumah untuk membeli makanan. Tak perlu pergi ke bank hanya untuk mengambil uang. Tak perlu lagi buku ketika semua ada dalam mayantara.

Teknologi mengubah perilaku. Lalu gilirannya mengubah budaya. Mengubah cara pandang, pikir dan bisa jadi genetika. Kita seperti burung finch galapagos yang terpencar dalam banyak jenis paruh karena perbedaan selera. Biji-bijian atau serangga, misalnya.

Atau malah kita menjadi makhluk yang bermutasi bukan karena sel genetika, tapi berawal dari cara kita menjalani hari demi hari.

Manusia dengan jempol sebagai alat bicara. Dan mata sebagai indera pendengaran.

Salam anget,

Roy.

Posted in: ringan

6 thoughts on “Bagaimana Wujud Manusia Indonesia Masa Depan? Leave a comment

Tinggalkan Balasan