Satu Lagi

Mau curhat.

Emang selama ini enggak?

Pokoknya dengerin dulu.

Oke.

Banyakan bahasa Inggris-nya.

Sok atuh.

Go ahead dong ah.

Brisik.

Yeee.

Buruan.

Akhir-akhir ini sering muncul pertanyaan di kepala gue, whether I am relevant or not.

Maksudnya?

Hmmm … Gimana ya. Kurang lebih seperti ini. You know how the world has been lately, kan? How the world has been acting up crazy, to say the least. How we move towards conservatism and even extremism very fast.

Iya. Lalu?

Lalu ya, you know me. I am passionate about things that people hardly talk about these days. I love talking and writing about films in my own style. I love listening to music from the bygone era. I crave on articles about contemporary art. I love photography. I love books, fiction especially.
But whenever I look around, people seem to forget and steer themselves away from all of these. Suddenly people become political experts overnight. Sharing sensation, churning out opinion.

Dan gue baca lho.

twinkle-lights-for-new-years-eve

Ha? Dibaca semua?

Ya gak semua, tapi sebagian besar.

Yang bener?

Iya.

Gak elo unshare?

Enggak. Gue pengen tahu aja cara berpikir mereka, cara mereka menyampaikan pendapat. ‘Kan bisa keliatan dari cara mereka menulis, lalu membagi tulisan yang mereka ambil. Because we are all different from one another. Kalau gue cuma mau lihat yang sesuai sama minat gue, ntar dibilangnya living in a bubble lagi.

Tapi elo gak stress sendiri?

Ya emang sih, I risk my sanity kadang-kadang bacain status-status yang ‘kenceng’ di socmed gue. Hahaha.
Dan gak cuma sanity gue, tapi melihat orang-orang berlomba-lomba menyuarakan opini mereka soal agama dan politik yang panjang-panjang, membuat gue jadi mempertanyakan diri sendiri. Apa gue yang bodoh ya karena tidak paham dengan apa yang mereka tulis? And then you start second guessing yourself. If I could not participate in such conversation, am I starting to become irrelevant? Since I don’t know what or how to form an opinion about politics and religion and other so-called important matters deemed necessary untuk keberlangsungan hajat hidup masyarakat, whatever that is, do I matter?

482083nhixftp3b1

Whoa! Nyante, mas bro. Chill, dude. Dari kecil suka dangdut. Barusan nanya apa elo barusan?

Errr … Do I matter?

Of course, lah! I matter, you matter, we all matter. Gila kali elo. We matter because we come from our mother.

Timpuk ya!

Nyeahahaha. Ya masak elo ikut ngomong agama dan politik segala? Emang semua orang gak punya kapasitas masing-masing untuk hidup, apa? Dan buat hidup sendiri, emang semua orang harus ngelakuin sesuatu yang sama, apa? Kalo pake logika kayak gitu, ya semua orang jadi robot dong. Cara berpikirnya dibikin sama. Cara ngomongnya kudu sama. Sampe cara makan dan jenis kerjaannya pun sama. I don’t want to live in that world.

Tapi elo tahu kan kalo we are shifting towards that possibility?

Eittsss … Not we. But some. Kalo kita sih, justru harus avoid the possibility.

rt-12-31-12

How?

By keep on living as you are. Keep reading books. If you like to dance, keep on dancing. Keep listening to good music. Keep writing. Keep watching good films. Keep appreciating arts and photography. Form an appreciative write up everytime you encounter these. Nobody has the right to tell you how to live your life. Nobody. Ih ternyata gue lancar juga ya ngomong bahasa Inggris. Bisa sepik-sepik abis ini.

Amit-amit.

Tapi bener kan apa yang gue bilang?

That sounds dreamy. Idyllic. Utopian. Far away.

Nah, makanya itu tugas kita supaya gak bikin hal-hal itu jadi dreamy, idyllic, dan sebagainya.

Like, how?

Jadiin kebiasaan. You keep doing what you do. You keep sharing what you’ve shared. You keep performing good deeds until it becomes good habit. It’s hard, but do not let the anger in social media ruins you. Read it, look at it, and remember to take a deep breath after you read such before you act. Sumpah asli ngomong terus-terusan nanggepin elo bikin gue jadi motivator karbitan abis ini.

Hihihi. Banyak tuh orang-orang yang lagi perlu dimotivasi. Elo jadi terkenal ntar.

Ogah. Cukup dikenal aja, gak sampe terkenal.

img_8547_2

Whatever.

Jadi udah curhatannya?

Kesimpulannya gimana?

Yeee … Dari tadi gak nyimak.

Susah konsen. I keep thinking of how crazy the past year is. Was.

Tapi elo dan gue akhirnya survive kan?

We do. Hmmm. Yeah. F***, we do survive this year!

Cheers to 2017, bro? Sis? Manggil elo gimana, sih?

Cheers to 2017, best friend!

Advertisements

Akhirnya, 10 Film Paling Memorable Yang Ditonton Di Bioskop di Tahun 2016

Sudah Kamis ke-4 di bulan Desember. Meskipun masih ada 10 hari lagi sampai di penghujung tahun, yang berarti masih ada film-film baru yang akan dirilis dalam beberapa hari ke depan, tetapi daftar tahunan ini memang lebih baik dirilis sekarang. Kalaupun ada perubahan, nanti kita akan melihat sendiri perubahannya saat Anda menerima notifikasi bahwa tulisan ini telah diperbarui.

Yang jelas, postingan ini meneruskan tradisi saya merekap “top 10 the most enjoyable cinema going experience” dalam satu tahun. Biasanya saya menulis di blog pribadi, tetapi setelah bergabung dengan Linimasa, maka saya akan meneruskan kebiasaan itu di sini.

Aturannya sederhana saja: filmnya saya tonton di bioskop. Baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Dari minggu terakhir Desember di tahun sebelumnya sampai seminggu sebelum minggu terakhir Desember tahun ini.

Dari ratusan film yang saya tonton dalam satu tahun, terus terang saya bingung kalau ditanya filmnya bagus apa enggak. Kalau ditanya apakah saya menikmati atau tidak, maka jawabannya akan jauh lebih mudah.

Dan 10 film (plus) di sini adalah rangkuman dari sensasi itu. Ketika berada di dalam bioskop, pandangan saya hanya tertuju apa yang ada di layar. Ikut berpikir, tertawa, takut, senyum, sedih atas apa yang sedang ditonton. Ketika selesai menonton, masih memikirkan filmnya. Kadang masih berdecak kagum.

Every filmgoing experience is a very personal, subjective experience. Saya masih sangat percaya akan hal ini.
Artinya sederhana saja. Apa yang kita suka, belum tentu orang lain suka. Yang kita nikmati, belum tentu bisa dinikmati orang lain, bahkan orang yang paling dekat dengan kita.

Jadi, selamat membaca daftar di bawah.

Oh, satu lagi catatan khusus tentang tahun ini.

Ada jarak waktu yang cukup lama, selama lebih dari 6 bulan, di saat saya tidak menemukan pengalaman nonton yang menyenangkan di bioskop. Waktu itu, terakhir merasa puas menonton film di bioskop bulan Februari. Lalu kepuasan itu baru muncul lagi di bulan Agustus. Dalam jeda waktu 6 bulan antara Februari sampai Agustus itu rasanya seperti sleepwalking keluar masuk bioskop.

Film-film apa itu?

Silakan.

10. The Shallows

The Shallows

The Shallows

Inilah film yang memecah kebuntuan absennya pengalaman menonton yang menyenangkan buat saya di bioskop tahun ini. Jaraknya lebih dari 6 bulan dari film nomer satu. Indeed, it’s a pure pleasure. Sensasinya sama persis waktu menonton film Buried, yang dibintangi suami Blake Lively sendiri, yaitu Ryan Reynolds. Formula “one-person-alone-against-the-inexplicable-horror” masih bekerja dengan baik di film ini. An unexpected victory.

 

9. Room

Room

Room

By any accounts, it is a harrowing film. Namun pendekatan cerita yang tidak sensasional menjadikan film ini tidak membuat kita merasa claustrophobic. It has a very grounded storytelling, ditambah dengan penampilan gemilang ibu dan anak (Brie Larson dan Jacob Tremblay) yang membuat kita susah melupakan film ini begitu keluar dari bioskop, dan merasa lega.

 

8. The Beatles: Eight Days a Week – The Touring Years

The Beatles: Eight Days a Week - The Touring Years

The Beatles: Eight Days a Week – The Touring Years

Tidak banyak yang perlu saya jelaskan tentang film ini, yang tidak hanya sebuah dokumenter, tapi sebuah surat cinta terhadap The Beatles. Sudah cukup jelas penjelasan singkat di tulisan sebelumnya tentang momen musik di film sepanjang tahun ini. Lagi pula, if you can relive singing along The Beatles and watching them on big screen, then it’s already a winning experience.

 

7. Train to Busan

Train to Busan

Train to Busan

Saya jatuh cinta dengan premise film ini yang bisa dijabarkan dengan sangat mudah: kejar-kejaran zombie di dalam kereta. Sudah cukup untuk membuat penasaran. Dan hasilnya pun membuat saya seru sendirian di dalam bioskop. When put in good use, Korean dramatic storytelling clearly shows its strength. This film proves it.

 

6. Kubo and the Two Strings

Kubo and The Two Strings

Kubo and The Two Strings

Sampai pertengahan tahun ini, film animasi cantik ini masih menjadi favorit saya. Di saat langkanya cerita asli di film animasi, film ini hadir dengan cerita yang penuh percaya diri tentang anak kecil yang berjuang menyelamatkan ibunya. Sebuah petualangan seru yang ketika ditonton, it immediately puts a smile on a kid in us.

 

5. The Wailing

The Wailing

The Wailing

Pengalaman yang kontras dengan “Train to Busan”. Durasi panjang film ini (lebih dari 2,5 jam) alih-alih membosankan. Saya tegang ketakutan sepanjang film. Padahal cerita klenik dengan intrusi makhluk supernatural yang mengganggu ketenangan satu kampung adalah cerita yang sering kita dengar sehari-hari. Namun di tangan sutradara mumpuni macam Na Hong-Jin, teror ini terlihat nyata. Salah satu film terbaik tahun 2016.

 

4. Neerja

Neerja

Neerja

Meskipun cukup banyak menonton film Hindi sepanjang tahun, namun hanya ada satu tempat di daftar saya kali ini. Dan pilihannya lagi-lagu jatuh ke film yang dengan mudah kita jelaskan secara singkat: kisah nyata pramugari Pan Am asal Mumbai yang tewas saat menyelamatkan seluruh penumpang dari pembajakan pesawat. Kekhawatiran akan kemungkinan treatment cerita menjadi lebay khas Bollywood pupus saat menonton film ini. Adegan pembajakan digarap selayaknya a proper thriller. Penampilan Sonam Kapoor sebagai Neerja membuatnya naik kelas sebagai aktris. Tapi yang mencuri perhatian adalah Shabana Azmi sebagai ibu Neerja yang harus menghadapi kesedihan. Dua penampilan berkesan tahun ini yang sangat, sangat membekas di hati.

 

3. A Monster Calls

A Monster Calls

A Monster Calls

Betapa susahnya mendeskripsikan kehilangan kepada anak laki-laki yang memasuki masa pubertas. In fact, betapa susahnya mendeskripsikan emosi kepada semua anak di masa usia tanggung. Kita semua mengalami hal ini. Maka dari itu, menonton film ini tanpa terasa akan menguras air mata. Entah itu lega atau sedih, yang jelas cerita fantasi ini bisa menjadi tontonan yang mewakili saat kata-kata tidak mampu mendeskripsikan perasaan kita terhadap kehilangan. And of course, the feeling of letting go. Film yang layak, sangat layak, untuk ditonton berulang-ulang, to understand our own emotions.

 

2. Your Name

Your Name

Your Name

Jujur, pada awalnya saya skeptis dengan film ini. Apa lagi yang mau ditawarkan oleh anime Jepang dengan tema percintaan remaja? Apalagi ditambah dengan cerita tentang time traveling.
Namun keraguan saya buyar bahkan di menit-menit pertama. Saya tidak ingat lagi kapan terakhir menonton film yang membuat saya tersenyum sepanjang film. Tanpa adegan yang dibuat mengharukan, the film actually brings hope and joy. It will make you believe in falling in love all over again.

 

1. Spotlight

Spotlight

Spotlight

Begitu selesai menonton, saya perlu “melipir” untuk menenangkan diri. Sempat ada rasa marah dan muak. Apalagi ini kisah nyata. Akhirnya mau tidak mau memang kita harus menerima kenyataan bahwa “organized religion can commit organized crime”. Apapun agamanya, apapun kejahatannya. Saya menonton film ini di awal tahun 2016. Ternyata isi ceritanya relevan sepanjang tahun, bahkan mungkin sepanjang masa. Membuat miris memang. Toh film ini memang mengandalkan kekuatan cerita yang sangat, bahkan mungkin terlalu powerful. Makanya, saya lompat kegirangan di depan televisi saat film ini diganjar Oscar sebagai Film Terbaik. In a rarity, the best film is indeed an important film to tell.

Sebagai bonus, ada 5 film yang saya tonton di bioskop tahun ini yang juga berkesan, yaitu: A Copy of My Mind, Don’t Breathe, Hacksaw Ridge, Pink, dan Sully.

Lalu 5 film kontemporer lain yang tidak saya tonton di bioskop, namun tidak kalah berkesan: Born to be Blue, Creed, Grandma, Hell or High Water, dan Sing Street.

(All posters, except Your Name and Neerja, are taken from IMP Awards. Neerja poster comes from filmywave. Your Name poster comes from Quora.)

Tukar Jadual dan Penjara yang Terbawa Kemanapun Kita Pergi

Ketika ada satu dan lain hal yang menjadikan kita berhalangan untuk hadir, maka kita membutuhkan orang lain.

Misalnya saja Lei yang tak kuat lagi menahan derita untuk meluangkan waktunya menulis di hari jumat, maka ia bertukar jadual dengan saya. Maka hari ini dan setiap jumat kedepan saya akan mengisi pagi Anda. Salam jumpa. 😉

Ketika teman atau rekan sejawat menikah dan melangsungkan resepsi, dan karena kita bukan amoeba yang bisa membelah diri, maka teknologi bernama “titip amplop” adalah bentuk solusi paling ringkas.

Juga ketika rekan kerja pergi keluar kota karena cuti, bukan berbagi kata kunci komputer pangku, melainkan sebelum pamit ia memberikan beberapa berkas salinan lunaknya kepada kita dengan harapan jika saja bos meminta perkembangan pekerjaan maka kita dapat menggantikan perannya dalam penyelesaian tugas.

Contoh lainnya jika kita tak sempat mengambil buku laporan pendidikan anak kita, maka istri dapat menggantikannya, walau idealnya bersama-sama. Juga soal lain seperti titip absen saat kita bolos kuliah. Titip absen saat sidang dewan perwakilan rakyat. Titip doa saat kita malas ke masjid dan gereja. Walau kalimat terakhir agak janggal karena soal doa adalah soal yang sangat intim dan privat dan sebetulnya tak perlu diwakili siapapun. 🙂

Soal mewakili adalah soal amanah dan kepercayaan. Sebuah mata uang paling penting saat ini. Menjaga kepercayaan dan menunaikan tugas. Hal ini, menurut hemat saya, lebih penting dari menunaikan ibadah haji.

Banyak cerita sukses seseorang bukan karena ia bangsawan dan lahir dari orangtua kaya raya, tetapi karena ia pandai menjaga amanah. Karena ia disenangi orang berduit. Karena ia menjadi favorit atasan. Karena ia didukung rekan sejawat. Karena ia baik di mata semua orang. Dapat dipercaya. Menjadi idola tua muda kaya miskin dan orang-orang terdekatnya.

Dari kisah demokrasi, kita dapat berkesimpulan bahwa demokrasi adalah permainan politik dengan cara mengumpulkan amanah sebanyak-banyaknya. Secara logika seharusnya ini menjadi sebuah aturan main yang jelas dan tegas. Karena setiap nyawa memiliki hak untuk mengemukakan pendapat. Apapun latar belakang dan kondisinya.

Dalam alam demokrasi kita tidak sedang mencari orang yang pandai, ganteng, seagama, sesuku, apalagi sedarah. Kita sedang bermain amanah. Siapa yang layak paling dipercaya. Karena tuhan sudah memberikan sebuah mekanisme kepemimpinan di dunia dengan aturan manusia yang waras dan sehat akalnya.

Ndak mesti orang beriman itu pandai menjaga amanah. Ndak mesti. Tapi orang yang menjaga amanah sudah pasti adalah sosok yang meyakini pendiriannya untuk terus berkomitmen untuk dapat dipercaya orang banyak. Bukankah ini lebih luhur dari sekadar beriman?

Tapi ada satu hal dari memberikan amanah yang perlu didahulukan yaitu menjaga kesabaran atas kepercayaan yang telah kita berikan. Percuma saja jika amanah hanya sesaat dan kita sudah tak percaya lagi kepada orang yang sebelumnya kita percayai. Perlu ada mekanisme untuk menarik kepercayaan itu. Toh amanah diberikan bukan kepada sembarang orang, karena kita meyakini bahwa saat amanah diemban, maka sang penjaga amanah harus terus memperbaiki diri dan menambah kapasitasnya baik secara kompetensi maupun integritas.

Balik lagi soal tukar jadual. Juga soal titip amplop. Mereka ada karena kita memang memiliki kepentingan dan prioritas masing-masing. Jika Lei meminta hari Sabtu karena baginya akan ada cukup waktu luang untuk menulis di hari ia tak bekerja. Bagi saya, hari apapun sama saja. Kenapa saya sering titip amplop kepada teman yang akan menghadiri resepsi karena saya beranggapan ada resepsi lainnya yang jadualnya bersamaan dan lebih perlu dihadiri langsung. Bagi teman saya yang dititipi, dia akan hadir dimanapun ia diundang dan kebetulan tak ada jadual resepsi yang “bentrok”.

Dalam konteks yang lain, ini semacam memandang Ahok dari beberapa sisi. Ahok dipandang oleh orang jawa, ia etnis cina yang jadi gubernur dan was-was apakah akan mementingkan semua hak warganya tanpa kecuali. Jika dipandang orang islam, ia adalah orang kristen yang jadi gubernur dan bertanya-tanya apakah akan memberikan toleransi beragama secara wajar. Jika dilihat dari para pengusaha, ia adalah gubernur yang akan memastikan keberlangsungan usaha secara sehat atau tidak. Jika dilihat dari kacamata politikus, apakah Ahok dapat menjadi kuda hitam dan ancaman bagi perolehan suara kandidat lainnya. Bagi seorang ulama, apakah Ahok dapat mencederai keyakinannya.

Oleh karena itu, makna dari saling titip, tukar jadual dan saling percaya untuk memberikan amanah adalah bahwasanya setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda dan sangat subjektif. Adalah baik ketika perbedaan pemaknaan setiap peristiwa disikapi secara wajar. Bukan salah benar tapi saling pengertian. Bukan boleh atau tidak melainkan permakluman.

Sebuah hubungan yang sehat bagi dua pihak bukanlah hubungan yang saling memenjarakan. Apalagi jika penjara itu dibawa kemanapun kita berada. Penjara tak terlihat yang menjadikan kita membatasi diri dalam berinteraksi. Penjara yang membuat kita sulit bertemu dengan orang lain, memberikan sapaan, senyuman dan saling membuka pembicaraan.

Percaya saja. Jauh lebih baik kita saling bergantung dengan orang lain daripada kita berusaha mati-matian hidup mandiri dan mengasingkan diri. Pertama yang perlu kita coba adalah saling bergantung rasa percaya dan menitipkan rasa riang gembira pada hati orang lain di sekitar kita.

Salam hangat di hari jumat.

Roy

 

 

 

 

 

Ada 11 Hal Yang Bisa Membuat Bahagia

Beberapa hari yang lalu, saya menulis sebuah post singkat di akun salah satu media sosial pribadi. Kurang lebih maksud tulisan saya itu begini:

“Ternyata semakin berumur, level kebahagiaan gue gampang diraih. Atau justru makin rendah? It does not take much to make me happy. Barusan gak ngantri pas beli pecel di tempat yang biasanya ngantrinya lama aja, bisa tiba-tiba seneng banget.”

It seems trivial. Tapi namanya rasa bahagia, ternyata tidak ada bisa yang tahu datangnya kapan. Dan entah ada angin dari mana, tau-tau ada perasaan senang.

Lalu saya mengingat lagi hal-hal kecil yang terjadi selama sepekan terakhir. Dari tulisan minggu lalu, sampai ke tulisan minggu ini. Ternyata banyak hal-hal kecil yang membuat saya senang saat semuanya terjadi.

(Courtesy of frequencyriser.com)

(Courtesy of frequencyriser.com)

Mungkin bukan sesuatu seperti ‘you walk to stop and smell the roses‘, karena bagaimanapun juga, susah juga jalan di Jakarta dan membaui bunga mawar di pinggir jalan, yang hampir tidak pernah ada. Tetapi mengambil perumpamaan yang sama, ada cukup banyak kejadian sederhana yang, paling tidak, menghadirkan senyum sejenak:

  1. Tidak perlu antri makanan sama sekali, padahal biasanya bisa antri 20 menit-an.
  2. Dapat supir Uber atau Grab yang tahu jalan, sehingga saya bisa sempat tidur sejenak di perjalanan.

  3. Menonton bioskop dalam keadaan tenang, karena di sekeliling tidak ada penonton yang berisik dan menyalakan gadget sepanjang film.

  4. Punya waktu untuk berolahraga yang cukup.

  5. Karena sudah berolahraga, tidur bisa kembali normal ke 7-8 jam di malam hari.

  6. Karena tidur cukup, maka sudah beberapa minggu ini tidak sakit, di saat cuaca tidak menentu.

  7. Menyelesaikan membaca buku.

  8. Bertemu langsung dengan kawan, dan tertawa bersama.

  9. Berhasil membuat playlist lagu-lagu yang menemani tidur.

  10. Tagihan telpon berkurang sampai 65%.

  11. Menemukan tontonan-tontonan televisi/streaming baru yang menyenangkan.

Tentu saja, ada saatnya nanti semua hal di atas ini berbalik 180 derajat, sehingga yang ada saya menyumpah serapahi hari-hari saya.
Jangan khawatir. Semuanya pernah terjadi. Tapi yang jelas, tulisan ini bisa saya baca lagi nantinya, sebagai pengingat bahwa saya pernah mendapati hal-hal kecil yang, tanpa bisa dijelaskan lebih panjang lagi, bisa membuat saya bahagia.

Sometimes it doesn’t take much to make us feel inexplicably happy.

But if you have to list those down, what’s yours?

(Courtesy of fractalpanda.com)

(Courtesy of fractalpanda.com)

Mari Marathon! (Nonton TV)

Baru saja kemarin rasanya saya seperti ditampar. Ditampar sama tulisan sih, bukan sama orang. Tulisannya bisa dibaca di sini: 11 Ways to be Healthier When Watching Too Much TV. Dari judulnya sudah cukup jelas ‘kan tentang apa?

Lalu kenapa bisa merasa tertampar?

Kalau teman-teman sering membaca tulisan-tulisan saya di sini, maka teman-teman pasti tahu betapa saya lagi tergila-gila menonton banyak serial televisi. Tentu saja kalau sudah berbicara soal serial televisi, kita bicara tontonan dalam durasi lama, lebih lama dari menonton satu film di bioskop.

Jadi, kalau sudah terpikat sama satu serial, maka bisa dipastikan saya akan menghabiskan waktu cukup lama untuk menonton serial tersebut. Bisa berjam-jam di depan layar televisi. Apalagi sekarang bisa streaming atau mengunduh serial dalam satu musim penayangan.

Kalau sudah begitu, tidak ada kerjaan lain selain duduk, duduk dan duduk. Sebuah aktivitas pasif yang sangat bertentangan dengan usaha untuk menjaga kesehatan tubuh.

(Courtesy of wired.com)

(Courtesy of wired.com)

Sesuai apa yang ditulis di artikel di atas, kalau sudah duduk lama sambil menonton televisi, pasti akan makan makanan ringan. Pasti akan ngemil.

Dan mana mungkin ngemilnya makanan sehat? Kemungkinan besar pasti makanan tidak sehat: terlalu banyak karbohidrat (nasi, roti, mie), lalu dilanjutkan dengan snack ber-MSG. Benar-benar “total” menjadi seorang couch potato.

Dari pengalaman menjadi couch potato bertahun-tahun selama ini, lalu sambil membandingkan dengan tulisan di atas, maka sepertinya ada beberapa hal yang bisa kita “siapkan” kalau mau nonton serial televisi, atau istilahnya, binge-watching:

  • Lakukan di pagi hari.
  • Ternyata saya baru sadar kalau baru sekali saya melakukan binge-watching, menonton satu musim penayangan, atau satu season, serial televisi, dari episode awal sampai episode terakhir. Serial itu adalah Stranger Things. Saya menontonnya dari jam 7:30 pagi, lalu berakhir di jam 4 sore. Waktu itu menontonnya di hari Minggu.
    Dari situ saya baru sadar, aktivitas binge-watching ini perlu tenaga ekstra, ya? Dan akan nge-blok waktu kita, bisa sampai setengah hari penuh. Maka memang sebaiknya dilakukan hanya di waktu luang, dan dimulai di pagi hari.

  • Kalau cuma bisa menonton di malam hari …
  • … maka batasi 2 episode saja sebelum tidur. Percayalah, ini akan susah sekali dilakukan. Apalagi serial macam House of Cards yang sungguh-sungguh sangat adiktif. Seringnya kita akan ngomong ke diri sendiri “satu episode lagi deh, abis itu tidur.” Tapi kenyataannya, kita akan sering bablas, sampai ketiduran di depan televisi atau gadget. Apabila nekat bablas nonton sampai pagi, yang ada besok paginya kita ngantuk, dan kekurangan energi karena kurang tidur.

(Courtesy of lifehacker.com)

(Courtesy of lifehacker.com)

  • Selalu sedia air putih.
  • Ternyata ini cukup manjur untuk membuat kita bergerak. Dulu waktu saya sering menonton 2-3 DVD berturut-turut, selalu ada 2 botol air minum ukuran 1 liter masing-masing yang ada di sebelah saya. Sekarang, cukup minum 1 gelas selesai satu episode Unbreakable Kimmy Schmidt, atau di tengah-tengah satu episode Masters of Sex. Rutin minum segelas air putih membuat kita sering bergerak, karena harus pipis di kamar mandi. Setelah usai buang air kecil, minum air putih. Begitu terus siklusnya.

  • Batasi jarak pandang.
  • Ini salah satu poin dari artikel Vulture di atas yang saya setuju. Sebisa mungkin kita menonton di televisi. Ukuran layar besar dari televisi akan otomatis membuat kita duduk dengan jarak yang cukup jauh. Ini sangat membantu untuk menutup mata saat ada adegan menyeramkan di Game of Thrones. Kalaupun harus menonton via tablet atau ponsel, jangan terlalu dekat dengan mata. Apalagi sampai ngantuk dan muka kita kejatuhan tablet atau ponsel itu.

(Courtesy of geekandsundry.com)

(Courtesy of geekandsundry.com)

  • You are what you eat!
  • Nah, ini yang saya belum bisa lakukan dengan baik. Jujur saja, saya masih suka “bablas” saat ngemil sambil nonton serial televisi. Favorit saya? Semua klethikan atau cemilan yang kalau dimakan bunyi krak-krak-krak saat digigit di dalam mulut, dan ber-MSG. Mulai dari kripik singkong sampai kacang. Sehat? Tentu tidak. Cukup sebungkus? Tentu tidak.
    Artikel di atas menyarankan buah anggur yang sudah dibekukan sebagai pengganti makanan ringan saat menonton. Setuju. Beberapa kali mengganti cemilan dengan buah seperti apel, jeruk dan anggur. Sudah cukup kenyang, apalagi yang ditonton serial ringan macam Madam Secretary. Cuma ya itu. Godaan aneka kripik dan kerupuk kok ya susah sekali ditepis.

  • You can always multitask.
  • Keasyikan menonton televisi di rumah adalah kita tidak perlu berbagi ruang dengan orang lain. Dengan begitu, kita bebas melakukan apa saja sambil menonton serial televisi kesukaan kita. Biasanya, setelah 2-3 episode, kita sudah familiar dengan tokoh-tokoh dan jalinan cerita yang berjalan, sehingga kita masih bisa mengikuti, meskipun mata tidak sedang tertuju ke layar televisi. Jadi kadang saya mendengarkan saja dialog dari Empire sambil mencuci piring. Atau sambil menanggapi obrolan di WhatsApp grup.

  • You choose what you watch (not others)
  • Artinya, pilih apa yang mau Anda tonton. Kalau tidak suka, tinggal saja. Masih banyak serial lain yang bisa ditonton. Cukup satu episode dari serial MacGyver edisi baru untuk membuat saya memutuskan serial ini tidak perlu ditonton lagi, karena membosankan. Sebaliknya, saya tidak keberatan menghabiskan waktu menonton ulang Friends atau Will & Grace. Dua-duanya memang belum ada yang menandingi lagi sampai sekarang.

After all, not every hype or the latest trend is suitable for us.

(Courtesy of theodysseyonline.com)

(Courtesy of theodysseyonline.com)

Selamat menonton!

Tantang(an) Lajang!

Kalau ada satu makanan yang sangat saya suka, namun tidak bisa sering dibeli, adalah martabak manis. Ya, martabak manis. Sebagian dari kita menyebut makanan ini dengan nama “terang bulan”.

(Sumber: ngegas.com)

(Sumber: ngegas.com)

Apakah ada alasan kesehatan tertentu, sehingga saya tidak bisa sering mengkonsumsi makanan ini? Alhamdulillah, sejauh ini tidak ada. Meskipun begitu, jujur saya akui, sering kali saya bergidik melihat takaran gula pasir dan mentega yang dituangkan dalam satu adonan martabak. Hiii, serem! Lebih baik memang tidak melihat proses membuatnya secara langsung.

Lalu, apa yang membuat martabak manis ini jarang dibeli?
Tak lain dan tak bukan adalah karena ukurannya.
Sungguh sangat tidak manusiawi untuk para lajang yang tinggal sendiri.

(Sumber: sarihusada.co.id)

(Sumber: sarihusada.co.id)

Beneran, lho!

Ukuran normal martabak manis paling kecil itu sudah cukup besar buat saya. Malah terlalu besar. Meskipun sudah dipotong kecil-kecil supaya bisa muat di dalam kotak bungkusan makanan, tetap saja jumlah potongannya banyak sekali. Sementara buat saya, cukup 2-3 potongan martabak manis sudah membuat cukup eneg.

Memang bisa saya masukkan ke kulkas, lalu dimakan keesokan harinya. Ada kesenangan tersendiri menghangatkan martabak dingin di atas wajan panas. Bunyi “kretek-kretek” dari bunga es yang ada di atas martabak itu, menyenangkan untuk didengar dan dilihat.
Tapi tetap saja, cuma 2 potong yang saya sanggup makan sambil menemani kopi di pagi hari. Sisanya? Terpaksa bertemu tong sampah. Selalu sayang rasanya membuang makanan.

(Sumber: bogasari.com)

(Sumber: bogasari.com)

Intinya, martabak manis adalah salah satu makanan yang sangat tidak single-and-living-alone friendly.

Selain makan martabak manis, ada satu kegiatan lain yang susah dilakukan oleh para lajang yang tinggal sendirian.
Kegiatan yang cukup vital untuk kesehatan, yaitu menggaruk punggung sendiri.

Susah ‘kan?
Memang sih, saya jarang mendapati rasa gatal di punggung. Cuma kadang-kadang keinginan untuk menggaruk punggung itu pasti ada. Kalau sudah begitu, kesusahan sendiri setengah mati. Paling banter cuma menggosokkan punggung di sofa.

Dan sampai sekarang, belum ada keinginan untuk membeli alat penggaruk punggung yang biasanya terbuat dari kayu itu. Soalnya kemunculan rasa gatal ini lebih jarang dari rasa lapar menahan beli martabak manis malam-malam.

Kalau sudah begitu, saya cuma bisa tersenyum kecut. Untungnya, kejadian-kejadian ini sudah terbiasa terjadi. Dan memang masih terjadi.
Apalagi di tengah begitu banyak tawaran-tawaran materi untuk yang berpasangan.

“Mau beli tiket satu lagi? Untuk film ini, buy 1 get 1 free, mas.” / “Oh nggak usah, mbak. Satu aja.”
“Ini sudah satu paket dagingnya, mas. Kalau mau beli satuan, lebih mahal, lho.” / “Gak papa, pak. Masaknya buat satu orang aja.”
“Meja untuk berapa orang, pak?” / “Satu saja, mbak.” / “Di bar atau dekat dapur atau dekat tong sampah, boleh?” / “Terserah!” (Lho kok galak?)

Memilih untuk hidup dan menjadi lajang memang harus kuat. Kuat secara ekonomi karena membayar konsumsi barang untuk diri sendiri. Kuat secara fisik, karena jatah makan banyak orang pun dimakan sendiri. Kuat secara mental, karena it’s not easy to go through your loneliness alone.
Kalau lagi nggak kuat, just smile. In any circumstances.

Termasuk senyum sendiri saat saya menonton film The Happy Ending (1969) beberapa minggu yang lalu, dan menemukan salah satu karakternya berbicara seperti ini:

Flo: Daddy, what’s marriage?

Sam: Business. BIG business. The U.S. economy depends on marriage.

Mary Wilson: Not U.S. Steel?

Sam: Marriage. Once, people saved up to get married. Now, there’s credit. Credit means buying. That means stores, shipping, buildings, factories. Marriage means sex. Beauty. Luxury. Diamonds. Furs. Perfumes. Cars. Gifts for her. Gifts for him. Gifts for them. Marriage means a home. That means painters, plumbers, carpenters, furniture, rugs, curtains, linens, silver, dishes, electric washers, driers, mixers, fixers, stoves, clocks, radios, T.V.’s – thirty billion dollars every year, just to get married… If marriage is made in heaven, a broken marriage is financial blasphemy. Bachelors, divorcees, widows are unprofitable… and that makes them Un-American.

Ah, senyumin aja.
Malah kita masih perlu banyak bantuan orang lain, justru karena kita sendiri, bukan?

😉

Daaagh, nek!

Daaagh, nek!

Baru Tahu Rasanya Sekarang …

Akhir pekan lalu, seorang teman lama mengajak saya pergi keluar untuk curhat. Kebetulan sudah lama kami tak berjumpa. Setelah disepakati waktu dan tempatnya, kami bertemu di sebuah kedai kopi di sore hari.

Meskipun cuma berdua, pembicaraan kami riuh rendah. Banyak hal yang membuat kami tertawa saat catching up dengan update seputar kehidupan pribadi masing-masing. Sampai saatnya kami mengobrol seputar kehidupan percintaan masing-masing.

“Elo lagi seeing anyone?”

“Gak ada.”

“Yang bener?”

“Iya. Udah lama nggak ada.”

“Kenapa?”

“Ya nggak kenapa-kenapa. Emang gak ada.”

Okay.”

“Elo sendiri?”

“Baru kelar.”

“Oh. Baru putus?”

Well, if you say so.”

Sorry to hear that.”

“Gak usah. Gak ada yang perlu dibikin sorry. Malah justru gue lega.”

“Eh, gimana, gimana? Was it a bad relationship?”

It was hardly a relationship, bok. He loves me, but I realize I don’t love him.”

“Oalah …”

“Tapi itu yang bikin gue kaget sama diri sendiri. Remember my big break-up the last time?”

“Yaolo, masih mau dibahas nih? Masih belum move on?”

“Yeee … Kagak. Bukan gitu. Inget kan, how messy it was, the big break-up, dan gue terus mempertanyakan, kenapa, why he dumped me all of a sudden. Lalu gue sadar, he was unsure of his feeling. Maybe he never loved me in the first place, but he felt he is stuck with me. He did not know what to do, then suddenly it was an outburst, at never the right time, that he wanted to get out of it. It being whatever happened between me and him. He just needed to get out of it, because that’s what he needed the most. Gue tahu rasanya, kenapa? Karena sekarang gue ada di posisi dia. Or, not now, but the last one. I was him, for a while. And once I realize, I had to get out. Now I know how it feels.

(Courtesy of parents.com)

(Courtesy of parents.com)

Saya mengangguk sambil terdiam. Cangkir kopi yang sudah mulai dingin tetap saya hirup perlahan-lahan.

Saya pernah membaca, lupa dari mana sumbernya, bahwa tantangan terbesar waktu kita beranjak dewasa adalah jujur pada diri sendiri. Jujur dengan apa yang kita mau, dan apa yang kita tidak mau. Berat untuk jujur ini biasanya kita ganti dengan bentuk lain.

Tapi bukan ini yang ingin saya bicarakan kali ini.

Saya bertanya ke teman saya.

So, how do you feel now?

“Biasa aja. Ya kalau dibilang lega, ya lega, tapi gak sampe lega macem pose orang lari-lari di taman terus tangannya membentang kayak sayap burung gitu, ya enggak lah.”

“Hahaha …”

“Tapi ya jadi gak ada beban. I don’t need to force myself saying “I love you, too”, while I don’t.

That’s good to know.

But isn’t it funny, that it takes another relationship, or “relationship”, to finally realize and understand your previous relationship? Inget nggak, dulu elo terus bilang ke gue kalo “give it time …””

“… time to heal, iya gue inget.”

“Ya ternyata, the time is now. Or so I think. Lucu aja sih. It’s funny how time works. It’s funny how it takes a new connection to realize what’s wrong with your previous one. Or ones.

Saya tersenyum. Kopi sudah mulai habis. Senja sudah turun, malam mulai datang. Kedai kopi semakin ramai. Kami masih belum beranjak.
Kami masih duduk. Berbicara apa saja yang bisa dibicarakan. Tanpa ada agenda, tanpa ada rencana.

Seperti kami tidak pernah bisa berencana, pada siapa kami akan jatuh cinta.

We cannot choose who we fall in love with.
But we can always choose how to deal with it.

(Courtesy of twobruteyogis.wordpress.com)

(Courtesy of twobruteyogis.wordpress.com)

Magic Is When Magic Happens

Hari ini, saya “cuma” mau berbagi video ini, yang baru saya temukan kemarin:

Movie Night

Sudah ditonton?
Kalau belum, coba tonton dulu.
Langsung klik saja tautan video Youtube di atas.

Sekarang, sudah ditonton ‘kan?
Lalu apa komentar Anda? Komentar yang terlintas di benak Anda begitu selesai menonton video pendek itu untuk pertama kalinya?

Mungkin ada yang berpikir, “Sialan! Gue pikir apaan. Gue pikir film pendek beneran.”
Mungkin ada juga yang berpikir, “Yaelah. Gini doang.”
Atau mungkin ada yang berpikir, “Kayaknya gak mungkin deh terjadi di dunia nyata.”

Saya sendiri langsung tersenyum lebar selesai menonton video itu.
Belum terpikir apa-apa. Cuma tersenyum.
Tersenyum sebelum sadar bahwa ini adalah video iklan, ini alat promosi, ini manipulatif, dan lain-lain.
Tapi saya memilih untuk tidak memikirkan hal-hal tersebut, dan masih tersenyum, lama setelah video selesai dimainkan.

Bukan sekedar kebetulan juga kalau tema video itu dekat dengan saya. Terutama kesukaan karakter utamanya terhadap film. Dan menularkan kesukaannya terhadap film kepada orang-orang lain, sambil berharap ada satu orang saja yang mengerti apa yang dia sukai.

Bukan sekedar kebetulan juga kalau isi video itu memang pernah terjadi pada saya. Kejadian di masa lalu yang jauh sekali, saking jauhnya sampai saya perlu mengingat-ingat dengan keras detil sebenarnya yang pernah terjadi. Saat mulai susah mengingat karena jarak waktu yang jauh, saat itu kita sadar bahwa kejadian serupa mungkin tak akan pernah terulang lagi.
Because often in life, magic does not come twice.

Video pendek di atas menjadi pengingat saja, bahwa kita selalu ingin berbagi, dan ingin diperhatikan. Saat kita memperhatikan orang lain, dan sifatnya, sikapnya, serta kesukaannya, kita berharap bahwa kita juga diperhatikan dengan perhatian yang sama. Syukur kalau bisa berbagi kesamaan. Walaupun kalau tidak bisa berbagi, paling tidak kita lega bahwa kita pernah mengalami rasa suka.

And when such magic happens, you just know.

(Courtesy of projectdrivein.tumblr.com)

(Courtesy of projectdrivein.tumblr.com)

Kenapa Sabtu Pagi Terakhir Bulan Ramadan Begitu Indah

Tagihan telah dibayarkan. Janji sudah ditunaikan. Mencoba resep baru. Menata rumah dan tak jadi digunakan karena tersadar permasalahan bukan soal tata ruang melainkan luas bangunan. Menyeka keringat. Menyapu lantai. Memanaskan kendaraan. Kenakan sandal jepit. Kaos tipis dan sarungan. Memandikan hewan peliharaan.

Menyiapkan peralatan mudik. Menata pakaian. Mencari koper yang pas. Mengecek tiket pulang. Menghitung uang. Mengumpulkan harapan. Semangat pertemanan. Bertekad bahwa saudara lebih penting dari uang. Rejeki tak dibawa mati dan ada untuk dibagi.

Memilih pakaian pergi. Memastikan semuanya tercatat dan tak ketinggalan. Bingung memilih apakah ke salon atau bengkel. Menghubungi tukang jahit langganan.

Perjalanan menuju pulang. Udara cerah dan wajah-wajah sumringah. Hangat pelukan dan senyum merekah.

Libur panjang usai malam panjang. Usai subuhan bisa bangun siang. Sebentar lagi lebaran. Bangun di kamar kesayangan. Terjaga dan sudah di kampung halaman.

Komorebi. Lantunan lagu perlahan. Tatapan orang tua. Hati yang hangat. Rencana jalan-jalan. Bertemu anak kesayangan.

Menjemput di terminal. Menunggu di peron. Pertemuan di ruang tunggu.

Ruang tamu yang kembali riuh. Rumah yang dicat ulang. Memasak rendang. Memesan kue hantaran.

Ke pasar tanpa mandi. Berburu penganan. Memesan janur kuning. Membeli daun pisang. Tawar ayam kampung hidup dan menghampiri tempat sembelihan.

Lihat album kenangan. Membuka lemari pakaian. Hubungi teman sepermainan. Naik kendaraan usang. Membeli jajan di warung masa lalu. Menyentuh hangat masa silam. Membayangkan mantan di kota itu. Bertemu sepupu. Memanjakan rindu. Bertukar senyum dan harapan.


Menghitung angpau. Mencoba baju baru. Membelikan ponakan rupa-rupa. Kantung penuh uang pecahan. Percaya diri penuh tanpa mengingat urusan kerjaan. Pamer gawai canggih. Bicarakan kota metropolitan dibarter dengan suasana pedesaan.

Dia. Engkau. Mereka dan harapan-harapan yang diucapkan. Aku dan hidup. Kamu dan masa lalu. Kita dan masa depan.

Muhammad (St.) Ali


Karena bukan tinjunya yang saya kenal dan kenang. Petinju yang muslim. Juara dunia lagi. Kurang apa? Bagi sebagian besar kita, muslim bisa jadi alasan utama dan satu-satunya untuk menyukai seseorang atau tidak sama sekali. 

Bahkan satu pertandingan utuh pun saya tak pernah menontonnya. Tapi muslim. Cukup.

Michael Jackson masuk Islam. Lady Gaga juga. Bisa jadi Donald Trump mau ikut menjafi mualaf. Karena menjadi muslim berarti Saudara. Maka menyukai yang muslim itu ndak dosa. Sah. Boleh. Oke-oke aja. Iya. Itu harapan dan rumor orang-orang islam yang saya kenal. Teman dekat, jauh maupun jauh dekat. 


Lantas kalau ada orang hebat tapi bukan muslim bagaimana? Ya kagum biasa. “Zidane itu hebat. Apalagi muslim. Cinta! Makanya Real Madrid bisa juara eropa jelang bulan puasa. Pasti karena pelatihnya Bang Zidane ini.”

Muhammad Ali mungkin kalau sezaman dengan Mike Tyson akan kalah pamor. Apalagi jika di atas ring kalah juga. Tapi kan Ali muslim? “Lho Mike Tyson juga kok.  Wah imbang nih!  Tapi jangan mau Mas kalau Ali vs Tyson, mosok sesama muslim diadu. Ini pasti Yahudi. Wah wah wah pasti Don King itu Yahudi!”


Kalau Muhammad Ali masih hidup selama ini kemana Mas, kok tiba tiba kabarnya meninggal dunia? Pasti sibuk ngaji sana-sini dan nyetel tipi ngikutin acara Mamah Dedeh abis subuhan kan? Jarang nongol di tipi.  

Parkinson. Penyakit dimana dopamine dalam otak berkurang sehingga mengalami gangguang fungsi motorik. Ali, yang pernah gagah perkasa, lemah oleh gejala ini. 

“Apa waktu mau boksen ndak baca bismilah dulu?”

Bisa jadi.

Tinjuan Ali tepat di saat televisi dalam masa kejayaannya. Orang baru mengenal kotak ajaib berlapis kaca. “Jaman Ali ninju, jalanan sepi, Dek. Saya biasanya dapet roko Sriwedari sakslop. Padahal cuma tebak ronde keberapa lawannya Ali jatuh tersungkur.”

Kalau Ali hidup sebagai petunju gagah perwira saat ini, mestinya sepatu Ali mengalahkan Air Jordan. Bisa jadi malah dikontrak Under Armour. Ali mengalahkan ketenaran Stephen Curry. Terus, pacarnya bintang Holywood. Cantik. Kenes. Muontok. “Ya ndak mungkin Mas! Ali itu Muslim. Jadi ya ndak pacaran. Taaruf terus Kawin.” 

Muhammad Ali, atlit tinju yang hingar bingarnya melampaui zamannya. Sejak mendapat medali emas di Olimpiafe Roma 1960, hingga tiba-tiba menyalakan api obor Olimpiade Atlanta 1996.

Ngomong-ngomong Ali itu pernah naik haji? “Pernah Mas tahun ’73!”

Ah, naik haji apa ziarah?

“Lah, Masnya ke St.Ali beli kopi apa poto-poto doang? 

Caper Baper Kuper 

Sudah banyak barista yang pandai menyeduh kopi. Tapi jauh lebih banyak baperista, yang sering menyedih. 

Ada yang bilang jika anak kelahiran 70-80’an jago soal caper dan anak kelahiran 90’an lebih jago soal baper. 

Ketika informasi sedemikian mudah didapat maka ada baiknya yang kita lakukan adalah memilah dan memilih. Oleh karena itulah linimasa cukup memberikan satu tulisan baru setiap hari. Tidak perlu dua. 

Hingar bingar informasi membuat kita terlalu sibuk untuk banyak mengunyah sesuatu tanpa sempat memastikan apakah kita memang perlu. Datang silih berganti di layar televisi, radio, dan saat ini, gawai kita sendiri. 

Sebelum huruf X’ terucap atas respon informasi X, mata dan telinga kita sudah dijejali informasi A sampai Z. Lalu kita terlanjur bangga atas banyaknya info yang diterima. 

Padahal informasi sama seperti udara. Ada yang kualitasnya baik, dan nyaman dihirup, namun jauh lebih banyak yang mengandung polusi bahkan bersifat racun. Bahkan ketika kita pilih informasi sesuai minat saja pun variannya banyak. Padahal kita semua tahu, yang berlebihan itu cenderung ndak baik. 

Perlukah kita “puasa informasi”?

Puasa itu semacam detokfikasi. Meluruhkan racun tubuh. Menguras residu yang tak perlu. Ndak cuma makan dan minum. Puasa informasi di zaman sekarang itu semakin perlu. Cukup disantap saat pagi. Lalu saat akan istirahat malam. 

Mengapa? 

Karena saat ini menjernihkan pikiran, merawat akal budi, dan menjaga mood adalah cara penting dan sekaligus cara paling mudah untuk terus menghadapi ujian setiap hari.  Dengan cara apa? Salah satunya adalah lebih banyak waktu untuk bicara dengan diri sendiri. Bercakap-cakap untuk mengevaluasi apa-apa saja yang telah, sedang dan akan kita perbuat. Jika sudah cukup, barulah berdiskusi dengan pasangan atau sahabat kita. 

Siapa bilang jika mood itu mudah dirawat. Siapa bilang ego kita tak perlu digunakan. Siapa bilang emosi itu tak terpuji. Semua wajar dan manusiawi. Tapi kunci utamanya adalah pengendalian diri.

Kita seperti sedang bermain gim konsol. Ada remot di genggaman kita. Semua terserah kita hendak menekan tombol yang mana. 


Soal menjaga perasaan orang lain dan menghormati pilihan dan jalan pikir lawan bicara dapat lebih leluasa jika kita telah paham dan menguasai kemauan diri sendiri. Terlebih menguasai ego dan emosi diri.

Mempersiapkan diri menjadi pribadi tangguh. Sebelum melebur dengan kehidupan sosial, yang sehat dan saling menjaga privasi. 

Mau caper atau baper, setidaknya informasi yang kita kunyah setiap hari mencegah kita dari kuper. 

Karena, sebaik-baiknya informasi adalah yang dapat membuat kita makin mudah dalam beradaptasi tanpa meninggalkan jati diri.
Salam anget di tanggal muda,
Roy

Mengenal Bebegig, Dunia Lain dan Uka-Uka Konsumtif Penuh Keriaan Syalalala

Kerana setan duit bermunculan saat dompet menebal. “Inget ndak, Say? Kamu kan dari kemaren dah ngincer sepatu ini. Ya mumpung lah. Ndak tau kan bulan depan uda disabet orang.”
Setan Duit ada dimana-mana. Mereka biasanya ngumpul di mal. Tapi sekarang mereka lebih demen nemplok di layar laptop, hape, dan pertemuan arisan.

Setan duit bisa muncul juga dalam bentuk setan kredit. Ho’oh. Mereka ada di kartu plastik bernama kertu kredit. Setan jenis ini gatel melulu bawaannya dan minta digesek selalu.

Kaki kita dua saja. Sepasang. Berapa banyak sepatu yang tertata di rak? Di kolong meja kubikel? Belum yang ketinggalan di rumah pacar. Juga di bagasi mobil dan di bawah setir.

Tanggal muda bagi pekerja pemula itu bagaikan surga ketigabelas. Darah deras mengalir. Ndak bisa diem lihat tas baru, gawai terkini, atau bunyi perut minta dimanjakan untuk diisi dengan sajian restoran yang menggiurkan dan tampilannya resik.

Setan perut namanya. Kerjaan utama, meneteskan air liur saat instagram dan path kawan kita menghadirkan tempat ngopi, ngumpul-ngumpul atau sajian istimewa lainnya.

Setan ini adalah setan jenis baru, varian terkini yang dilahirkan dari dunia konsumtif. Kan apa salahnya wong kita mampu. Kenapa ndak? Lagian teman-teman kita pun melakukan hal yang sama. Mencari keriaan dan tertawa bersama.

Ada satu lagi namanya Setan Lancong. Setan yang hinggap di promo tiket, voucher hotel dan ngadem di tepi pantai berpasir mutiara, di pucuk cemara pegunungan, dan di bagian pengurusan visa.

Setan-setan di atas didukung penuh dengan asisten setan yang bersembunyi bagai bug dan virus dalam berbagai aplikasi. Mereka mendekam diam-diam pada aplikasi go-food, bukalapak, traveloka, olx, lazada, m-tix, priceline, airbnb, dan amazon.

Lalu hati kecil kita lama-lama bicara. Sepertinya bukan kerjaan setan deh. Ini kan emang kemauan gue sendiri. Hidup kan kudu dinikmati. Kapan lagi? Duit-duit sendiri, ngapain pelit? Buat sendiri lagi. Hidup mah sekali aja. Makanya kudu dibuat seneng dan jangan nyesel.

Maka dari itu, sepertinya setan sendiri kalah jauh dari pola pikir dan cara bujuk anak zaman sekarang. Sering dapat kultwit, sharing akademi berbagi, apalagi kita orang kuliah sampe S3. Belanja mah belanja aja. Toh kita juga gampang dapetin duit lagi.

Kalau perlu kita malah yang bujuk setan biar kerjaannya ndak cuma menggoda kita. Tapi belajar untuk belanja, pesen tiket pesawat ke raja ampat. Biar cakrawala berpikir mereka agak maju, cukup wawasan, dan bisa pamer di media sosial.

Bukankah kita adalah generasi terkini, yang selalu diketahui oleh khalayak mengenai keberadaan kita berdasarkan apa yang sanggup kita beli. Siapa kita adalah apa yang kita konsumsi.

Aku pakai iphone, kamu hape cina. Ndak level. Kamu pakai avanza, aku pakai mini duonk. Sepakat ndak level? Kamu nongkrong di starbucks, aku mah St.Ali. Lebih kekinian lah! Jelas!

Lihat? Kita berbeda atas apa yang kita konsumsi. Jurang yang dipisahkan gaya hidup.

Bagaimana jika penggagas iphone, desainer mini cooper, pemilik waralaba St. Ali malah hidupnya penuh dengan kalkulasi. Berangkat kerja naik kendaraan umum, dengan bekal yang dibawa dari rumah, membawa termos berisi teh hangat. Makan siang bersama kolega di kantin terdekat, dan mengenakan kemeja katun biasa.

Duit mereka diperlakukan istimewa. Disimpan rapi dan digemukkan agar beranak pinak. Lewat usaha lain. Diberikan kepada para manajer agar rela memberikan lebih banyak uang lagi untuk mereka.

Zaman sekarang adalah zaman kermasan bagi setan konsumtif. Karena setan konsumsi yang terdiri dari setan duit, setan lancong, setan kredit, sekarang sedang menikmati pasive income. Mereka sudah pada kuadran terakhir: menuai hasil tanpa mengeluarkan keringat.

Itu pun jika memang setan ada. Jika ternyata ndak, darimana dorongan konsumtif ini berasal?

Ada yang tau?

Pesan Liem Sioe Liong Tentang Path-casila

Sila Peltama:

Jangan pernah sklinkep.   

Apalagi yang lu gituin adalah akun-akun yang haus lope-lope, sok cali sensasi pembobol lahasia negala, atau genelasi jadul. Lu kagak pelu nyebal-nyebalin HOAX. Dalipada nyebalin hoax, mending jadi temen ahox.

 

Sila Kedua:

Jangan pelnah pamel tanpa sadal.

 

Sila Ketiga:

Jangan pernah ngiklanin kantor lama

Walaupun maksudnya baik. Celita bagus-bagusnya kantol atau tempat kelja lama,  Lu olang ntal dikila muna. Ngapain ngiklanin lowongan kelja kantol lama, padahal lu olang sendili malah pelgi.

Duit gajian kantol lama lu olang udah jadi makanan dan sekalang malah uda jadi tai. Jangan dong ah pamelin tai sendili dan bilang masih enak. Bukan dikila lu blom muv-on. Bukan! Tapi lu bakalan dikila so’ baeq.

 

Sila Keempat:

Jangan  ngomongin kantor sekarang mulu.

Ngomongin kantol soal jelek-jeleknya tuh ndak baeq. Banyak godaan untuk ngomongin ginian. Ndak mesti soal kebijakan tempat kelja, tapi juga ngomongin bos, temen sendili, bawahan, keluh kesah soal kondisi kelja. Lu kan lagi cali mamam disono, telus tempat mamam situ diludahin, telus dimamam lagi gitu.

Ya kali.

 

Sila Kelima:

Jangan pelnah belteman dengan bukan teman

Path itu kudunya buat hopeng lu aja. Kagak pellu lu temenan sama banyak olang. We kasih tau lagi: Boosss, path bukan kayak twittel Bos sampe pabanyak-banyak followel. Tapi path buat hubungan intim aje. Bahkan kalo ada temen lama tapi keljaannya ngutukin, cela, sok paling benel, undfliend ajalah. Atau yang suka gengges. Lu olang kagak usah lagu-lagu, apalagi malu. Dalipada nyusahin idup lu. Kan hidup benelan uda susah, masa dunia maya bikin susah lagi. Itu namanya lu olang “ogeb.”

Udah ah. Menurut we sih, lu olang lajin kelja aja kayak ponakan we, Ahok. Demen banget we liatnya.

Salam cuan.

Liem