Kenapa Sabtu Pagi Terakhir Bulan Ramadan Begitu Indah

Tagihan telah dibayarkan. Janji sudah ditunaikan. Mencoba resep baru. Menata rumah dan tak jadi digunakan karena tersadar permasalahan bukan soal tata ruang melainkan luas bangunan. Menyeka keringat. Menyapu lantai. Memanaskan kendaraan. Kenakan sandal jepit. Kaos tipis dan sarungan. Memandikan hewan peliharaan.

Menyiapkan peralatan mudik. Menata pakaian. Mencari koper yang pas. Mengecek tiket pulang. Menghitung uang. Mengumpulkan harapan. Semangat pertemanan. Bertekad bahwa saudara lebih penting dari uang. Rejeki tak dibawa mati dan ada untuk dibagi.

Memilih pakaian pergi. Memastikan semuanya tercatat dan tak ketinggalan. Bingung memilih apakah ke salon atau bengkel. Menghubungi tukang jahit langganan.

Perjalanan menuju pulang. Udara cerah dan wajah-wajah sumringah. Hangat pelukan dan senyum merekah.

Libur panjang usai malam panjang. Usai subuhan bisa bangun siang. Sebentar lagi lebaran. Bangun di kamar kesayangan. Terjaga dan sudah di kampung halaman.

Komorebi. Lantunan lagu perlahan. Tatapan orang tua. Hati yang hangat. Rencana jalan-jalan. Bertemu anak kesayangan.

Menjemput di terminal. Menunggu di peron. Pertemuan di ruang tunggu.

Ruang tamu yang kembali riuh. Rumah yang dicat ulang. Memasak rendang. Memesan kue hantaran.

Ke pasar tanpa mandi. Berburu penganan. Memesan janur kuning. Membeli daun pisang. Tawar ayam kampung hidup dan menghampiri tempat sembelihan.

Lihat album kenangan. Membuka lemari pakaian. Hubungi teman sepermainan. Naik kendaraan usang. Membeli jajan di warung masa lalu. Menyentuh hangat masa silam. Membayangkan mantan di kota itu. Bertemu sepupu. Memanjakan rindu. Bertukar senyum dan harapan.


Menghitung angpau. Mencoba baju baru. Membelikan ponakan rupa-rupa. Kantung penuh uang pecahan. Percaya diri penuh tanpa mengingat urusan kerjaan. Pamer gawai canggih. Bicarakan kota metropolitan dibarter dengan suasana pedesaan.

Dia. Engkau. Mereka dan harapan-harapan yang diucapkan. Aku dan hidup. Kamu dan masa lalu. Kita dan masa depan.

Posted in: ringan

Tagged as: ,

2 thoughts on “Kenapa Sabtu Pagi Terakhir Bulan Ramadan Begitu Indah Leave a comment

Leave a Reply