Muhammad (St.) Ali


Karena bukan tinjunya yang saya kenal dan kenang. Petinju yang muslim. Juara dunia lagi. Kurang apa? Bagi sebagian besar kita, muslim bisa jadi alasan utama dan satu-satunya untuk menyukai seseorang atau tidak sama sekali. 

Bahkan satu pertandingan utuh pun saya tak pernah menontonnya. Tapi muslim. Cukup.

Michael Jackson masuk Islam. Lady Gaga juga. Bisa jadi Donald Trump mau ikut menjafi mualaf. Karena menjadi muslim berarti Saudara. Maka menyukai yang muslim itu ndak dosa. Sah. Boleh. Oke-oke aja. Iya. Itu harapan dan rumor orang-orang islam yang saya kenal. Teman dekat, jauh maupun jauh dekat. 


Lantas kalau ada orang hebat tapi bukan muslim bagaimana? Ya kagum biasa. “Zidane itu hebat. Apalagi muslim. Cinta! Makanya Real Madrid bisa juara eropa jelang bulan puasa. Pasti karena pelatihnya Bang Zidane ini.”

Muhammad Ali mungkin kalau sezaman dengan Mike Tyson akan kalah pamor. Apalagi jika di atas ring kalah juga. Tapi kan Ali muslim? “Lho Mike Tyson juga kok.  Wah imbang nih!  Tapi jangan mau Mas kalau Ali vs Tyson, mosok sesama muslim diadu. Ini pasti Yahudi. Wah wah wah pasti Don King itu Yahudi!”


Kalau Muhammad Ali masih hidup selama ini kemana Mas, kok tiba tiba kabarnya meninggal dunia? Pasti sibuk ngaji sana-sini dan nyetel tipi ngikutin acara Mamah Dedeh abis subuhan kan? Jarang nongol di tipi.  

Parkinson. Penyakit dimana dopamine dalam otak berkurang sehingga mengalami gangguang fungsi motorik. Ali, yang pernah gagah perkasa, lemah oleh gejala ini. 

“Apa waktu mau boksen ndak baca bismilah dulu?”

Bisa jadi.

Tinjuan Ali tepat di saat televisi dalam masa kejayaannya. Orang baru mengenal kotak ajaib berlapis kaca. “Jaman Ali ninju, jalanan sepi, Dek. Saya biasanya dapet roko Sriwedari sakslop. Padahal cuma tebak ronde keberapa lawannya Ali jatuh tersungkur.”

Kalau Ali hidup sebagai petunju gagah perwira saat ini, mestinya sepatu Ali mengalahkan Air Jordan. Bisa jadi malah dikontrak Under Armour. Ali mengalahkan ketenaran Stephen Curry. Terus, pacarnya bintang Holywood. Cantik. Kenes. Muontok. “Ya ndak mungkin Mas! Ali itu Muslim. Jadi ya ndak pacaran. Taaruf terus Kawin.” 

Muhammad Ali, atlit tinju yang hingar bingarnya melampaui zamannya. Sejak mendapat medali emas di Olimpiafe Roma 1960, hingga tiba-tiba menyalakan api obor Olimpiade Atlanta 1996.

Ngomong-ngomong Ali itu pernah naik haji? “Pernah Mas tahun ’73!”

Ah, naik haji apa ziarah?

“Lah, Masnya ke St.Ali beli kopi apa poto-poto doang? 

Advertisements

5 thoughts on “Muhammad (St.) Ali

  1. Pingback: Yang Pergi Dan Akan Tetap Abadi – LINIMASA

Leave a Reply