Yang Pergi Dan Akan Tetap Abadi

Tahun 2016 masih tersisa 3 bulan lebih 8 hari lagi.
Tapi bisa dibilang, ini tahun yang mencengangkan untuk kepergian para pesohor, seniman, artis dan figur publik populer.
Dari awal tahun, kita banyak mendengar kabar orang-orang ternama berpulang. Volume berita ini cukup sering terdengar. Apalagi di paruh pertama tahun ini.

Ketika saya melempar pendapat ini di grup chatting kami, Gandrasta berkomentar, “Bukankah itu wajar ya, memang setiap tahun banyak orang tenar meninggal?” Memang benar, dan saya setuju. Hanya saja, menurut saya, tahun ini terasa lebih mengharukan rasanya, karena yang berpulang adalah para seniman atau artis yang sangat kaliber di bidangnya. Kaliber pula popularitasnya. After all, this is the year that The Greatest himself has left the building.

Tapi rasa mengharukan itu bisa jadi karena kita yang meratapi kepergian sebenarnya merasa dekat dengan karya mereka. Kita mungkin tidak mengenal mereka secara pribadi. Yang kita kenal dari mereka adalah sebagai ahli di bidang yang mereka tekuni selama bertahun-tahun, berdekade-dekade, sehingga membuat kepergian mereka terasa menyesakkan.

Namun rasa sesak itu biasanya tak lama menghinggap di dada. Ia akan terganti dengan senyuman lega, saat kita sadar bahwa mereka yang telah pergi telah meninggalkan banyak karya yang bisa kita terus dengar, putar, mainkan dan lihat setiap saat kita merindukan mereka. They’re not really gone. Imaji kita terhadap mereka akan terus ada, dalam bentuk terbaik yang pernah kita rasakan.

Selama dua bulan terakhir, ada tiga tokoh yang kepergiannya sempat membuat saya tercenung.

Selayaknya orang-orang lain yang menghabiskan masa pra-remaja di awal 1990-an, saya akrab dengan lagu-lagu dari album soundtrack film Pretty Woman. Meskipun saat itu belum boleh menonton filmnya karena batasan umur, tapi lagu-lagu seperti “It Must Have Been Love” atau “Fallen” sangat akrab di telinga. Sampai akhirnya beberapa tahun kemudian bisa menonton filmnya secara sah, age-wise, barulah saya merasakan the magic of the film.

Pretty Woman
Pretty Woman

Lalu saya tahu nama sutradara itu. Garry Marshall. Saat VCD mulai marak di pasaran, saya mencari film-film karya beliau. Frankie and Johnny. Beaches. Overboard. Semuanya film-film mainstream yang menyenangkan untuk ditonton. Tak segan-segan membuat kita tersenyum atau menangis, atau keduanya. Demikian pula dengan Runaway Bride, The Princess Diaries, atau film-film “hari liburan” yang menjadi trademark beliau di akhir karirnya, seperti Valentine’s Day, New Year’s Eve, dan Mother’s Day.

Valentine's Day
Valentine’s Day

Film-film arthouse? Bukan. Film-film berkualitas mumpuni? Tidak juga. Film-film yang akan ditonton berulang kali? Sangat mungkin. Film-film yang sudah menjadi “comfort food”, sehingga kadang kita tidak hiraukan lagi siapa pembuatnya. Namun saat kita tersadar akan karya-karya yang dihasilkan, barulah kita terkesiap.

Garry Marshall berpulang pada akhir bulan Juli lalu.
Tak lama berselang, seorang aktor komedi mengikuti jejaknya.

Namanya Gene Wilder.

Saya mengenalnya pertama kali di akhir tahun 1980-an, ketika di suatu hari Minggu, saya pergi diajak menonton film di bioskop. Saat itu, saya belum terlalu tahu banyak tentang film. Jadi saya menurut saja saat diajak menonton film berjudul See No Evil, Hear No Evil. Film yang sangat kocak, tentang dua orang, satu tuli dan satu lag buta, yang harus lari dari kejaran penjahat.
Saking lucunya film ini, saya terus ingat dengan karakter penjaga kios koran yang tuna rungu. Itulah pertama kalinya saya mengenal Gene Wilder.

See No Evil, Hear No Evil
See No Evil, Hear No Evil

Pertemuan berikutnya pun berlangsung cukup sering. Saat saya punya akses untuk meminjam film-film lama, maka di sela-sela menonton film serius, saya memilih untuk tertawa bersama Gene Wilder di film-film lamanya: The Producers. The Woman in Red. Stir Crazy.

Tapi tawaan paling kencang yang saya rasakan adalah saat menonton dua film yang dibintangi Gene Wilder dan disutradarai Mel Brooks, yaitu Blazing Saddles dan Young Frankenstein.

Young Frankenstein
Young Frankenstein

Mungkin dua film “gila” ini bisa dibilang dua dari sedikit sekali film paling lucu sepanjang masa, yang masih lucu ditonton sampai sekarang. Terlebih lagi di film Young Frankenstein, di mana Gene berperan sebagai Dr. Frankenstein, ekspresi serius dan nakalnya membuat cerita yang dia tulis sendiri ini semakin lucu. Sebuah film yang menyenangkan untuk ditonton berulang kali, karena membuat tertawa. Dan ternyata, saya masih tertawa kencang sekarang, saat menonton filmnya lagi ketika mendengar kabar beliau berpulang bulan lalu, sama seperti tertawa kencang belasan tahun lalu ketika menemukan film ini pertama kali.

Yang belum sempat saya lakukan untuk menonton film-filmnya lagi adalah film-film karya Curtis Hanson. Dia adalah sutradara dan penulis skenario ternama di Hollywood, yang baru saja meninggal dunia minggu ini, beberapa hari lalu.

Berbeda dengan sutradara lain, Curtis Hanson membuat saya tertarik untuk tahu lebih banyak tentang film. Tentu saja pemicunya adalah karya terbaik beliau, salah satu film terbaik sepanjang masa bernama L.A. Confidential.

L.A. Confidential
L.A. Confidential

Menonton film ini pertama kali membuat saya terhenyak. Begitu rapi, begitu cermat, dan begitu menarik untuk diikuti. Pertama-tama sedikit bingung untuk diikuti. Namun saat cerita mulai bergulir dan satu per satu motif setiap karakter terbuka, saya bengong. Bagaimana mungkin ada film sedetil ini? Saat itulah saya tertarik untuk tahu lebih banyak tentang film-film serupa, yaitu genre film noir. Dan bisa dibilang, L.A. Confidential lah salah satu film yang memulai lifetime obsession saya terhadap diskursi film.

L.A. Confidential
L.A. Confidential

Melihat ke belakang, saya semakin kaget saat tahu bahwa Curtis Hanson juga menyutradarai film-film yang saya tonton dan sangat enjoy saat menontonnya: The Hand that Rocks the Cradle. The River Wild. Bagaimana mungkin dua film thriller ini bisa hadir dari tangan yang sama?
Jawabannya mungkin ada dari kepercayaan beliau terhadap film yang dikerjakan. Curtis Hanson seems to fully put his faith on each of his project.

Dari tangan yang sama, hadir film 8 Mile, film hip-hop yang kualitasnya tidak pernah bisa ditandingi sejauh ini dari pemusik lain yang ingin membuat film serupa. Lalu film In Her Shoes masih menjadi salah satu film bertema sisterhood yang paling baik. Dan salah satu film favorit saya, Wonder Boys, adalah film tentang coming-of-age dari seorang pria paruh baya yang membuat hati hangat saat menontonnya.

Semoga kehangatan ini masih terasa saat menonton lagi puluhan karya yang mereka tinggalkan.

Thank you for a lifetime of entertainment, gentlemen.

So long.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s