Bahagia itu (Masih) Sederhana, Katanya…

SUDAH enam tahun sejak tulisan pertama tentang ini ada di Linimasa, waktu saya masih di Samarinda; si anak daerah. Kemudian, hadir kembali dua tahun selepasnya, sebagai warga pendatang di Jakarta. Kota dengan kehidupan yang sempat bikin kaget, bahkan sampai sekarang. Ya … lantaran orang-orangnya, keseharian yang dihadapi, serta mengamati cara diri ini menanggapinya.

Kini, rasanya kepingin melanjutkannya lagi.

Setidaknya ada satu hal yang saya sadari. Buah-buah kebahagiaan setiap orang terus berubah; seiring berjalannya waktu; seiring bergulirnya kehidupan; seiring tubuh yang mengusang; seiring berkembangnya kebijaksanaan dan kedewasaan.

Namun, apa pun perubahannya, bagi banyak orang kebahagiaan tetap identik dengan terpenuhinya keinginan-keinginan. Rasa bahagianya terkesan tetap sama, bentuk-bentuk keinginannya yang berbeda.

Premisnya masih serupa, bahwa setiap orang punya daftar kebahagiaannya masing-masing. Objek kebahagiaan seseorang, belum tentu memberikan kebahagiaan yang sama bagi orang lain. Perlukah kita berpayah-payah memperjuangkan agar orang lain sadar bahwa mereka sesungguhnya mengalami kondisi-kondisi ketidakbahagiaan selama ini (menurut sudut pandang kita)? Debatnya akan menjadi luar biasa panjang. Bisa bikin orang lupa masak, makan, istirahat, bekerja, kencing dan buang air-air lainnya … menjalani kehidupan yang ada di depan mata.

Dan tetap saja, serendah-rendahnya rasa “bahagia” ialah yang didapatkan dari ketidakbahagiaan atau penderitaan pihak lain. Buruk memang, tetapi alamiah, dan oleh sebabnya, tetap akan terjadi. Terkadang, malah pada/oleh diri kita sendiri.

Kebahagiaan tercapai karena mendapatkan/memperoleh/meraih. Masalahnya, makin sederhana sebuah kebahagiaan, terasa makin sukar dicapainya. Apa yang dahulu terkesan sepele–dan karenanya kerap diabaikan–kini terasa begitu jauh, begitu dirindukan.

Banyak yang beranggapan bahwa ini hanyalah persoalan beda masa hidup dan angka usia. Apa yang telah dialami dan dirasakan oleh yang “tua” maupun tua, jauh lebih hakiki dibandingkan yang dialami dan dirasakan oleh yang masih muda. Berangkat dari sini, banyak yang keliru dengan terlampau menyederhanakannya menjadi “yang muda harus belajar menjadi bijaksana lewat pengalaman dan perjalanan hidup yang tua-tua.” Padahal, belum tentu, dan itu pun terkesan dipaksakan.

Mau bagaimanapun juga, semua orang memiliki kehidupan yang berbeda. Apa yang mereka hadapi, cara mereka menghadapi, pengalaman dan pelajaran yang mereka dapatkan. Perbedaan-perbedaan tersebut merupakan keniscayaan. Tak bisa dipaksakan sekalipun.

Kebahagiaan tak bisa dipaksakan.

Kalaupun seseorang mengabaikan sesuatu yang semestinya bakal jadi kebahagiaan signifikan bagi dirinya sendiri, serta memilih sesuatu yang lain dan lebih dangkal, ya … biarkan saja. Itulah proses belajar yang ia jalani sendiri. Sebab penyadaran dan dorongan motivasi paling kuat yang bisa menggerakkan seseorang ialah yang muncul dari dalam dirinya.

Manakala seseorang sama sekali tak ingin melakukan sesuatu, walaupun dipaksa sedemikian rupa tetap tidak akan ia kerjakan sepenuh hati. Sebaliknya, begitu sebuah keinginan tumbuh dan mengakar kuat di dalam hati, ia akan mengusahakannya sekuat tenaga, bisa berubah menjadi tekad, bahkan ambisi maupun obsesi. Tak peduli halangan dan rintangan yang bisa muncul, ia akan terus menerjang. Baru berhenti setelah kepayahan.

Sudah terbayang ujungnya. Tatkala berhasil mendapatkan yang diinginkan (dan diupayakan lewat berbagai cara), ia pun merasa bahagia, beserta perasaan-perasaan ikutan lainnya (kepuasan, kelegaan, ketenangan).

Iya. Demikianlah. Bahagia itu memang sederhana. Sesederhana mendapatkan yang diinginkan. Kendati untuk bisa mendapatkan yang diinginkan, pastinya tak sesederhana yang sekadar dibayangkan.

Semoga kita semua selalu mampu merasa tenteram.

[]

Advertisements

Satu Persen

Beberapa belas tahun yang lalu, saat mengambil mata kuliah manajemen seni pertunjukan, dosen saya berkata, “Kalian tentu tahu Andrew Lloyd Webber, komposer, penulis drama dan musikal dari Inggris yang terkenal itu. Kalau saya menyebut nama Andrew Lloyd Webber, kalian pasti langsung mengasosiasikan namanya dengan “Evita”, “Cats”, “The Phantom of the Opera”. Tapi kalau saya sebut “Jeeves”, atau “The Likes of Us”, kalian pasti tidak tahu kalau dua karya yang saya sebut barusan adalah karya Andrew Lloyd Webber. Seseorang sekaliber Andrew Lloyd Webber pun pernah membuat karya yang tidak sukses. Tidak ditonton orang, tidak menghasilkan keuntungan. Namun dia terus membuat karya-karya baru, sampai pada akhirnya orang hanya akan mengasosiasikan namanya pada karya-karyanya yang sukses dan laris. But these works, they are just the tip of the iceberg. Karya yang sukses lahir dari serangkaian karya sebelumnya yang gagal. Don’t give up.”

Kalimat-kalimat tersebut memang diucapkan beliau di sesi terakhir perkuliahan kami, sekitar seminggu sebelum minggu tenang menjelang final exam. Maka tidak heran kalau banyak petuah yang dia sampaikan, karena kebetulan juga saat itu adalah semester terakhir kami sebagai mahasiswa. Hanya saja, entah kenapa, dari sekian banyak hal yang beliau sampaikan ke kami, cuma bagian itu saja yang masih saya ingat sampai sekarang.

Mungkin karena di lingkungan saya bekerja, saya sering melihat banyak kasus seperti di atas. Mereka yang akhirnya melahirkan karya yang dinikmati banyak orang, setelah bertahun-tahun membuat karya yang tidak mendapat apresiasi yang layak. Mereka yang akhirnya dikenal banyak orang, setelah bertahun-tahun berkarya belum dianggap juga. Mereka yang terus berkarya tanpa henti, meski sudah merasakan sukses dan mendapat apresiasi.

Toh praktek “mengerjakan secara konsisten dan gagal terus sampai berhasil” ini tidak terbatas pada pembuatan karya besar. Ibu saya pernah cerita, meskipun punya buku resep kue turun-temurun dari keluarga, dia perlu praktek berulang kali sampai dia bisa membuat kue dan mengajak kami untuk membuat bersama-sama. Itu pun kadang-kadang tak luput juga dari human error, sehingga beberapa kali kue yang kami buat jadinya gosong.

Seorang fotografer yang saya kenal pernah cerita, dia menghabiskan jutaan rupiah untuk mencetak foto-foto di awal karyanya, hanya untuk ditolak berbagai penerbitan,sampai akhirnya dia menggunakan foto-foto yang gagal tersebut sebagai bahan belajar ulang.

Dan tentu saja kita tahu cerita bahwa Vincent Van Gogh tidak pernah berhasil menjual satu lukisannya sampai dia meninggal, ‘kan?

1_ruhxDa-2gBGN-ysfsBYSYw
(source: medium.com)

 

Tapi ada satu kejadian serupa yang ternyata cukup “menohok” buat saya. Seorang teman sering mengingatkan saya untuk berolahraga, terutama mengangkat beban. Jenis physical exercise yang harus saya akui, paling malas mengerjakannya. Teman saya ini pernah berkata, “Jangan males! Elo tahu gak, tiap kali elo latihan abdomen 10 set, tiap set 10 kali, paling yang jadi otot di elo cuma 1.”

“Ha? Dari 100 yang jadi cuma 1? Satu persen doang? Sisanya?”

“Ya sisanya buat membiasakan badan elo bergerak. Nanti pas lama-lama elo udah biasa, yang jadi otot juga makin nambah. Dengan catatan, elo harus rutin ya. Makanya jangan males!”

Saya nyengir. Ternyata semua hal yang kita lakukan memang sama prinsipnya seperti kita berolahraga: 99% effort and perspiration makes 1% result. If we are lucky.

Semoga kita selalu beruntung.

Bergaul dengan yang Patut

DI SUNDAY service (kebaktian mingguan) Hillsong Melbourne Minggu kemarin, isi khotbahnya boleh dibilang membahas tentang … uang. Bukan seperti yang dibahas para kapitalis kikir, atau pun para oportunis tamak, David “Dave” Ramsey–pengkhotbah–menyampaikan tentang uang sebagai sumber daya. Makanya, perlu dikelola. Baik pengelolaan terhadap uang itu sendiri, serta pengelolaan terhadap sikap dan mindset si pemilik/penggunanya.

Lantaran berupa khotbah di gereja, Dave mengawalinya dengan disclaimer bahwa uang tidak akan/belum tentu memberikan kebahagiaan; uang pun tidak akan/belum tentu menyembuhkan permasalahan-permasalahan hidup. Melainkan tuhan. Tentu saja. Selebihnya, isi khotbah bisa disusun dalam lima poin berikut (narasi penjelasan setiap poin merupakan interpretasi pribadi, bukan bagian dari khotbah tersebut. Untuk rekaman utuhnya, nyoooh…).

  1. Anggarkan keuangan

Berdasarkan apa yang diperoleh, rencanakan pengeluaran secermat mungkin. Akan lebih tenang rasanya, saat kita tahu benar ke mana uang kita dibelanjakan. Sehingga tidak mendadak panik, ketika uang kita mendadak (seolah-olah) menghilang entah ke mana.

  1. Hindari berutang

Dalam konteks ini, lebih kepada utang yang konsumtif, pengeluaran yang tidak akan kembali, dan habis begitu saja setelah dikonsumsi. Sebab, mau dinamakan dengan apa pun juga, berutang pada hakikatnya berarti kita tidak punya uang. Padahal sejak kecil kita sudah diajari bahwa “kalau mau beli, harus punya uang dulu.

Namun, bagaimana apabila ada pengeluaran besar yang mendesak? Kembali ke poin nomor 1, sebisa mungkin merencanakan yang bisa direncanakan, seleluasa yang mampu dilakukan. Toh, namanya juga kebutuhan yang mendesak, semestinya punya kadar penting yang lebih tinggi dibanding belanja biasa.

  1. Cermat bergaul

Lingkungan pergaulan memengaruhi gaya hidup. Setiap orang pun memiliki standar batas belanja yang berbeda-beda; tergantung tingkat penghasilan, latar belakang, serta beberapa aspek lainnya. Poin ini bukan dalam konteks memilih untuk lebih dekat dan/atau menjauhi sekelompok orang, melainkan bersikap lebih cermat. Kembali lagi ke poin pertama, penganggaran yang tepat memampukan kita untuk punya ruang finansial lebih luang sampai ambang tertentu.

Meminjam istilah lain, pansos sesuai kemampuan.

  1. Simpan dan kembangkan

Badai bisa saja datang sewaktu-waktu. Bikin kacau dan menambah beban. Dengan berusaha menyimpan sedikit demi sedikit secara berkala, akan ada sumber daya tambahan yang bisa dipergunakan. Syukur-syukur jika uang yang disimpan juga dapat dikembangkan, baik dalam bentuk investasi maupun usaha yang menghasilkan. Sumber daya yang terlipatgandakan.

Lagi-lagi, penganggaran adalah kunci dasarnya.

  1. Murah hati

Hmm… sebagai seseorang yang tidak religius-religius amat, agak susah untuk tidak mengaitkan poin ini dengan konsep memberi sebagai sebuah perbuatan baik. Sebut saja sedekah, derma, donasi, pokoknya sesuatu yang diberikan kepada orang lain untuk membantunya, meringankan bebannya, menjadi orang baik, atau sekadar menjalankan perintah agama. Berhubung disampaikan di gereja, konteksnya bisa juga mengacu pada perpuluhan dan persembahan kasih; dapat dianggarkan sedari awal.

Di sisi lain, praktik memberi bisa juga menjadi semacam tindakan atau sikap yang menunjukkan bahwa kita memiliki keleluasaan, atau lebih beruntung dibanding orang lain (yang dalam buku “The God Delusion”, Richard Dawkins sebut juga sebagai tanda superioritas), maupun ekspresi rasa syukur atas apa yang dimiliki. Dalam istilah lain … merasa lebih kaya.

Kendati terdengar dan terkesan sangat sederhana, kelima poin di atas (disebut) termaktub dalam Alkitab. Menjadi semacam kiat-kiat dasar pengelolaan keuangan, yang mungkin saja telah bertahan dan terus diturunkan jauh sebelum Alkitab disusun (langsung teringat sebuah buku berjudul: “The Richest Man in Babylon”).

Seperti yang telah disinggung beberapa kali di atas, kelima poin pengelolaan keuangan tadi terpusat pada penganggaran. Namun, nilai pengeluaran cenderung bersifat tetap, sedangkan penghasilan bisa fluktuatif. Dalam celetukan pasarnya: “Apa yang mau dianggarkan, kalau duitnya enggak ada?” Oleh karena itu, makin banyak penghasilan yang diperoleh, makin leluasa seseorang mengatur keuangannya. Serendah-rendahnya pengeluaran bagi seseorang, adalah pengeluaran untuk kebutuhan pangan, sandang, dan papan.

Namun, bukan bagian itu yang ingin saya obrolkan kali ini. Setelah menyimak khotbah Dave yang lebih berupa gospel kemakmuran, saya langsung teringat Dighajanu Sutta, yang pada intinya adalah wejangan Buddha tentang upaya memperoleh dan mempertahankan kesejahteraan–kekayaan, kemakmuran–bagi perumah tangga.

Anyway, mengapa hanya berupa wejangan, ya, karena Buddha sendiri adalah seorang petapa; bisa mencapai kebuddhaan dengan menjalani hidup terlepas dari keduniawian. Termasuk melepaskan diri dari harta benda serta kepemilikan. (Makanya, agak aneh, menurut saya, kalau ada pasangan suami istri baru atau lama, datang kepada bhikkhu atau biksu meminta nasihat kelanggengan pernikahan. Lah wong dia selibat, kok.)

Oke, balik lagi ke Dighajanu Sutta (khotbah kepada Dighajanu). Ringkasnya begini, Buddha menyampaikan ada empat hal yang dapat membawa kekayaan dan kebahagiaan bagi para perumah tangga, yakni:

  1. Memiliki ketekunan (versi terjemahan lain: Kesempurnaan Inisiatif),
  2. Memiliki keseksamaan (versi terjemahan lain: Kesempurnaan Perlindungan/Penjagaan),
  3. Pertemanan yang baik, dan
  4. Kehidupan yang seimbang.

Berikut kutipan langsung penjelasan Buddha atas masing-masing poin dalam sutta tersebut.

(1) Apakah yang dimaksud dengan memiliki ketekunan (utthana-sampada)?

“Dalam hal ini, Vyagghapajja (alias Dighajanu), apa pun yang dilakukan oleh gharavasa (perumah tangga) untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, baik sebagai petani, pedagang, peternak, pemanah, pejabat pemerintahan atau dengan keahlian lainnya, dia harus ahli dan tidak malas. Dia memiliki keterampilan tentang cara yang benar; dia mampu melakukan dan memberikan tugas. Inilah yang dimaksud dengan memiliki ketekunan.”

(2) Apakah yang dimaksudkan dengan memiliki keseksamaan (arakkha-sampada)?

“Dalam hal ini, Vyagghapajja, kekayaan apa pun yang dimiliki gharavasa, yang dimiliki berkat kerja keras, dengan jerih payah sendiri, dengan cucuran keringat, yang diperoleh dengan cara yang sesuai Dhamma, ia berhemat dengan melindungi dan menjaga kekayaannya sehingga raja tidak menyitanya, pencuri tidak mencurinya , tidak terbakar dan tidak hanyut oleh air atau tidak juga diambil oleh pewaris-pewaris yang bersikap tidak baik. Inilah yang dimaksudkan dengan memiliki keseksamaan.”

(3) Apakah yang dimaksud dengan pertemanan yang baik (kalyana-mittata)?

“Dalam hal ini, Vyagghapajja, di desa atau di kota mana pun gharavasa tinggal dia bergaul, berbicara, berbincang-bincang dengan gharavasa atau anak dari gharavasa, baik yang muda dan sangat terpelajar maupun yang tua dan sangat terpelajar; memiliki keyakinan (saddha), kesusilaan (sila), kedermawanan (caga) dan kebijaksanaan (pañña).

Dia berbuat sesuai dengan keyakinan orang yang memiliki keyakinan, sesuai dengan kesusilaan orang yang memiliki kesusilaan, sesuai dengan kedermawanan orang yang memiliki kedermawanan, sesuai dengan kebijaksanaan orang yang memiliki kebijaksanaan. Inilah yang dimaksudkan dengan memiliki pertemanan yang baik.”

(4) Apakah yang dimaksud dengan kehidupan yang seimbang (samma-jivikata)?

“Dalam hal ini, Vyagghapajja, seorang gharavasa yang mengetahui penghasilan dan pengeluarannya akan mengatur hidupnya seimbang, tidak boros maupun tidak pelit. Dengan pengetahuan itu, ia akan membuat pemasukannya menjadi lebih besar dari pengeluarannya, bukannya pengeluarannya lebih besar dari pemasukkannya.

Seumpama pedagang emas atau muridnya mengetahui cara mempergunakan timbangan emas, dengan naiknya lengan timbangan sekian akan turun lengan lainnya sekian. Demikianlah gharavasa yang mengetahui pemasukan dan pengeluarannya akan hidup seimbang, tidak boros dan juga tidak pelit. Dengan pengetahuannya itu, ia akan membuat penghasilannya menjadi lebih banyak dari pengeluarannya, bukan pengeluarannya lebih banyak dari penghasilannya.”

Setelah bagian ini, Buddha melanjutkan dengan gambaran kondisi seseorang yang berpenghasilan kecil tetapi boros, dan sebaliknya, seseorang yang berpenghasilan besar tetapi menjalani hidup susah sekali (karena pelit). Kemudian menyampaikan empat hal yang bisa melenyapkan penghasilan yang telah dikumpulkan.

  1. Pesta pora yang berlebihan,
  2. Mabuk-mabukan,
  3. Perjudian, dan
  4. Persahabatan atau pergaulan dengan orang yang jahat.

(Isi Dighajanu Sutta masih berlanjut dari sini. Berikut teks lengkapnya dalam bahasa Inggris dari versi terjemahan Bhikkhu Thanissaro)

Silakan dicermati. Menariknya, dari ketiga bagian besar di atas, ada satu benang merah yang ditegaskan secara universal, bukan bertemanlah dengan orang kaya, melainkan:

JANGAN SAMPAI MISKIN GARA-GARA PERGAULAN.

[]

N.b.: Saking universalnya, bahkan mungkin tidak perlu menjadi seorang Kristen atau Buddhis, untuk sepakat bahwa menjaga pergaulan menjaga kekayaan. Ya, enggak?

Oscar Yang Sangat Cepat

Judul di atas diambil dari kenyataan, bahwa penyelenggaraan Academy Awards tahun ini memang lebih cepat dari tahun-tahun sebelumnya. Biasanya ajang penghargaan ini diselenggarakan di awal Maret, atau di akhir Februari. Lalu tiba-tiba di pertengahan tahun 2019, pihak penyelenggara, yaitu AMPAS (Academy of Motion Picture Arts and Sciences) mengumumkan bahwa penyelenggaraan Academy Awards ke-92 maju beberapa minggu sampai minggu pertama Februari 2020.

Alhasil, acara-acara penghargaan lain yang diberikan sebelum Academy Awards dimulai lebih cepat. Kampanye semua film yang digadang-gadang untuk awards season juga dimulai jauh lebih awal. Bulan September sudah ramai masa kampanye film untuk musim penghargaan ini. Biasanya bulan Oktober baru mulai ramai.

honeyland_source_balkaninsight
Honeyland (source: balkaninsight.com)

 

Sebagai pemerhati jarak jauh, terus terang saya kaget sekaligus excited sebenarnya melihat perubahan ini. Mau tidak mau, intensitas kampanye menjadi berlipat-lipat kali lebih menguras tenaga. Ajang penghargaan lain, baik yang diberikan kelompok jurnalis, kritikus, maupun asosiasi pekerja film, berlangsung setiap minggu nyaris tanpa henti. Ini membuat orang-orang, baik sutradara, aktor, pekerja film yang namanya masuk beberapa nominasi dan meraih penghargaan, harus pintar-pintar membagi waktu dan energi selama beberapa bulan terakhir.

Lihat saja Renee Zellweger yang nyaris sapu bersih semua penghargaan kategori aktris pemeran utama terbaik di berbagai penghargaan. Dandanan rambutnya hampir terlihat selalu simpel di semua acara penghargaan beberapa minggu terakhir, mungkin karena dia harus rushed dari satu acara ke acara lain.

 

hair-love-source-slashfilm
Hair Love (source: slashfilm.com)

 

Yang mendapat applause personal dari saya tentu saja Bong Joon-ho, sutradara dari Korea Selatan yang menjadi pusat perhatian dunia berkat Parasite. Saya tidak habis pikir, sudah berapa bulan dia berada di Amerika Serikat, untuk berkampanye tentang filmnya, menghadiri berbagai acara penghargaan, diskusi, seminar, wawancara, dan selalu terlihat sumringah. Membayangkannya saja sudah melelahkan. Apalagi menjalaninya. Maka kalau boleh saya sematkan gelar “Most Valuable Player” (MVP) di awards season kali ini, gelar itu paling layak diberikan ke Bong Joon-ho. Energi yang dia berikan di setiap acara selalu terlihat sama, konstan, dan menginspirasi. Salut untuk tim Bong Joon-ho.

Dan tentu saja, salut untuk film Parasite. Dari sekian ajang Academy Awards yang saya ikuti dari remaja, rasanya baru kali ini saya sangat bersemangat mengikuti setiap perjalanannya. Tentu saja dengan harapan bahwa film Parasite bisa mendapat banyak penghargaan. Film yang mungkin tidak akan hadir setiap satu, lima atau mungkin sepuluh tahun sekali, karena diperlukan kemampuan luar biasa dalam mengolah cerita dan mengeksekusinya dengan mulus, nyaris tanpa cela. Dan membawa interpretasi baru setiap kali kita menonton ulang.

 

Learning-to-Skateboard-in-a-Warzone-if-youre-a-girl_source_heyuguys
Learning to Skateboard in a War Zone (If You’re a Girl) (source: heyuguys.com)

 

Saya memang #TimParasite untuk Oscar tahun ini. Dan inilah semua pilihan saya, harapan saya, akan apa dan siapa saja yang layak membawa pulang Oscar tahun ini:

Best Picture of the Year: Parasite

Best Director: Sam Mendes (1917)

Best Actor: Joaquin Phoenix (Joker)

Best Actress: Renee Zellweger (Judy)

Best Supporting Actor: Brad Pitt (Once Upon a Time in Hollywood)

Best Supporting Actress: Laura Dern (Marriage Story)

Parasite-PasteMagazine
Parasite (source: Paste Magazine)

 

Best Adapted Screenplay: Jojo Rabbit

Best Original Screenplay: Parasite

Best Animated Feature: Klaus

Best Animated Short: Hair Love

Best Documentary Feature: Honeyland

Best Documentary Short: Learning to Skateboard in a Warzone (If You’re a Girl)

Marriage-Story-3-SparkChronicles
Marriage Story (source: Spark Chronicles)

 

Best International Film: Parasite

Best Live Action Short: Nefta Football Club

Best Cinematography: 1917

Best Costume Design: Little Women

Best Film Editing: Ford v Ferrari

Best Makeup and Hair Styling: Bombshell

Joker-LineToday
Joker (source: Line Today)

 

Best Production Design: 1917

Best Visual Effects: Avengers: Endgame

Best Original Score: Joker

Best Original Song: “(I’m Gonna) Love Me Again,” Rocketman

Best Sound Mixing: Ad Astra

Best Sound Editing: Ford v Ferrari

 

Kalau teman-teman sendiri, pilih apa?

Menghayati Makanan

PAṬI’SANGKHA yoniso bhojanang paṭi’sewami,

Newa dawaya na madaya na maṇḍanaya na wibhusanaya,

Yawadewa imassa kayassa ṭhitiya yapanaya wihingsuparatiya brahma-cariyanuggahaya,

Iti puraṇanca wedanang paṭihangkhami nawanca wedanang na uppadessami,

Yatra ca me bhawissati a’nawajjata ca phasu-wiharo cati.

Yang baru saja kamu baca tadi, populer dianggap sebagai “doa sebelum makan” dalam tradisi Buddhisme–khususnya mazhab Theravada–dengan sedikit penyesuaian penulisan agar lebih gampang dibaca.

Tenang aja… kamu enggak otomatis convert menjadi seorang Buddhis setelah membacanya, kok. Sebab, meskipun tercantum dalam salah satu bagian kitab suci Tipitaka (MN 39), makna syair demi syairnya tidak eksklusif menggambarkan atau mengacu pada ajaran Buddha saja.

Itu juga alasannya mengapa saya sebut “doa sebelum makan”; pakai tanda petik. Karena alih-alih berisi pujian atau ucapan terima kasih, “doa sebelum makan” ala Buddhisme ini lebih berupa perenungan, dan tidak ada peraturan yang mengharuskannya dibaca setiap kali sebelum menyantap makanan.

Supaya makin jelas, kurang lebih berikut artinya.

Secara cermat dan berhati-hati, saya menggunakan makanan ini,

Bukan untuk kesenangan; bukan untuk merasakan mabuk; bukan untuk menggemukkan badan; bukan pula untuk keindahan,

Tetapi hanya untuk mempertahankan kelangsungan (kerja) tubuh ini, menghentikan rasa tidak nyaman (akibat lapar), dan mendukung kehidupan luhur (yang tengah dijalani),

Demikianlah saya akan menghilangkan perasaan yang lama (lapar), dan tidak menimbulkan perasaan yang baru (dari makan yang berlebihan),

Dengan ini saya akan mempertahankan diri ini, menjauhi kesalahan-kesalahan, dan berdiam (hidup) dalam ketenteraman.

Poin-poin inilah yang–seyogianya–dihayati setiap kali ada hidangan tersaji di hadapan kami–umat Buddhis. Melihat makanan secara hakiki dan apa adanya; berupaya melepaskan diri dari kemelekatan terhadap rupa, aroma, dan rasa; serta tetap mampu berterima kasih atas bahan penunjang kehidupan yang diberikan/dibuatkan/dibeli, sehingga bisa dikonsumsi sebaik-baiknya dan tidak menyebabkan kemubaziran.

Pada dasarnya, perenungan ini dilakoni oleh para bhikkhu maupun samanera (calon bhikkhu) dalam keseharian. Alasannya, sebagai petapa selibat mereka telah melepaskan diri dari kehidupan duniawi, termasuk keleluasaan memilih/memasak/membeli makanan sendiri. Mereka hanya makan sekali atau dua kali setiap hari (konsepnya mirip intermittent fasting) dan merupakan donasi dari umat penyokong. Diberi, bukan meminta. Seperti yang kerap terlihat di negara-negara Indocina, ketika setiap pagi sebarisan bhikkhu membawa mangkuk masing-masing, menerima persembahan makanan dari umat.

Begitu pun bagi umat biasa, perenungan ini juga bertujuan untuk menyadarkan diri akan hakikat makanan. Selama makanan tersebut layak, dibuat secara baik, serta tetap mengandung nutrisi, makanan itu tetap bisa berfungsi sebagai pemberi asupan bagi tubuh dan menunjang proses berpikir. Tak ada sedikit pun ruang batin yang pantas diberikan untuk sifat kemaruk, rakus, tamak, banyak mau, susah dilayani, tidak perhitungan, dikendalikan oleh emosi yang mudah berantakan hanya gara-gara hal sepele, angkuh, dan sebagainya.

Saat kepingin makan sesuatu, mood tidak uring-uringan begitu mendapati restorannya tahu-tahu tutup. Tidak melekat; hanya mau makan makanan mahal dan mewah. Tidak gegabah; mengambil atau menumpuk makanan kesukaan sebanyak-banyaknya untuk kemudian tidak dihabiskan, atau malah menjadi begah.

Di sisi lain, sebagai umat biasa kita memang relatif sukar menghindari niatan makan untuk mendapatkan keindahan fisik. Bagi yang ingin bulking dan membangun massa otot, makan dalam jumlah banyak dan lebih sering dari biasanya. Sementara yang ingin langsing mengurangi porsi dan intensitas makan, menolak bahan-bahan makanan tertentu, atau justru disulitkan/menyulitkan oleh orang lain perihal makanan.

Image result for food for bulking"
Foto: YouTube

Keadaan-keadaan itu mustahil dihilangkan sepenuhnya, tetapi tetap bisa dibarengi dengan perenungan tentang makanan. Sekali lagi, setidaknya kita bisa berusaha agar tidak melekat. Melatih diri menghindari sikap yang bisa membuat kita marah-marah kepada orang lain hanya karena makanan, atau membuat hidup kita sepanjang hari terasa kacau berantakan hanya karena makanan.

Demikianlah. Dibawa santai saja.

Menghayati makanan sebagaimana adanya.

[]

Perenungan terhadap makanan di atas tertulis sesuai pelafalan penutur bahasa Indonesia. Dalam bentuk transliterasi latin aslinya, tertulis seperti berikut:
Paṭisaṅkhā yoniso bhojanaṃ paṭisevāmi,
Neva davāya na madāya na maṇḍanāya na vibhūsanāya,
Yāvadeva imassa kāyassa ṭhitiyā yāpanāya vihiṃsuparatiyā brahma-cariyānuggahāya,
Iti purāṇañca vedanaṃ paṭihaṅkhāmi navañca vedanaṃ na uppādessāmi,
Yātrā ca me bhavissati anavajjatā ca phāsu-vihāro cāti.

Small Drops

Baru beberapa hari yang lalu saya menyelesaikan serial “Grace and Frankieseason terbaru. Ada yang juga mengikuti serial ini?

Salah satu momen paling berkesan untuk saya di season terbaru ini justru ada di adegan kecil di episode-episode terakhir. Di episode ini (maaf saya lupa episode nomer berapa), diceritakan Robert Hanson (Martin Sheen) memberikan pidato singkat di pemakaman teman lamanya saat mengikuti pendidikan militer. Di tengah-tengah pidato, saat beberapa orang mengomentari pidato, partner Robert, Sol (Sam Waterston), sadar bahwa orang-orang mengira yang sedang berpidato adalah Robert Hansen, bukan Robert Hanson.

Sol memberitahukan hal ini kepada Robert. Robert pun bingung. Lalu istri mendiang almarhum menghampiri mereka. Dia mengklarifikasi kalau memang ada Robert Hansen, tapi Robert yang satu ini, meskipun lebih sering menghabiskan waktu bersama almarhum, justru lebih merepotkan. Sementara sang istri memang berniat mengundang Robert Hanson, yang sedang berdiri di depannya.

Robert bingung, kenapa dia yang diundang. Sementara dia sudah lama tidak pernah berjumpa lagi dengan almarhum.

Istri mendiang tersenyum. Dia menjelaskan, kalau pernah pada suatu masa, saat mereka menjalani pendidikan militer, almarhum nyaris tidak mendapatkan libur di suatu akhir pekan. Dia bisa mendapatkan libur akhir pekan kalau dia bisa melapor ke atasan dengan sepatu yang bersih. Sementara dia baru saja menjalani pelatihan.

Namun ternyata ada seseorang yang sudah mengetahui tradisi seperti ini. Dia pun buru-buru membersihkan sepatu rekannya, sehingga dia bisa mengambil libur di akhir pekan tersebut. Orang yang membersihkan sepatu itu adalah Robert Hanson. Robert menyadari dan mengingat lagi hal ini, setelah lupa sekian puluh tahun.

Robert masih bingung, kenapa hal itu menjadi penting. Istri almarhum mengatakan, bahwa di akhir pekan itu adalah saat pertama kali almarhum bertemu dengan sang istri, dan mereka telah menikah selama 50 tahun lamanya. Istrinya menambahkan, bahwa dia selalu menceritakan hal ini ke semua orang, karena dia percaya bahwa tanpa bantuan dari Robert, mereka tidak akan bertemu.

Terus terang adegan ini membuat saya mendadak terharu. Padahal serial ini jarang sekali menghadirkan momen mengharukan. Yang membuat saya terharu adalah, tentu saja, kenyataan bahwa kita tidak pernah tahu, sekecil apapun hal yang kita lakukan kepada orang lain, akan membawa dampak atau pengaruh yang akan melekat seumur hidup.

kindness-ggsc

 

Ayah saya pernah berkata dalam nasihatnya ke saya, agar kita tidak pernah mengingat hal-hal baik yang kita lakukan ke orang lain, dan selalu ingat kesalahan yang pernah kita lakukan ke orang lain, meskipun kita sudah maaf. Tentu saja agar kita tidak mengulangi lagi kesalahan tersebut.

Namun ternyata hal ini berat sekali dilakukan. Apalagi kalau kita sedang marah, kita cenderung mengungkit hal-hal yang membuat kita seolah-olah berada di atas angin. Seolah-olah derajat kita lebih tinggi, lebih mulia dari orang yang sedang kita hadapi.

But will it do any good? There is no good in doing that, after all.

Saya tidak tahu apakah saya akan mengalami hal yang sama dengan yang Robert Hanson alami, meskipun dia karakter fiktif, lima puluh tahun lagi. Saya juga tidak tahu apakah saya pernah dan sudah melakukan hal baik ke orang lain selama ini. Yang bisa saya sadari untuk lakukan adalah berusaha sebisa mungkin, pelan-pelan, tidak menyakiti orang lain dengan sengaja. Dan memaafkan orang lain truthfully, wholeheartedly.

They are small steps, one day at a time.

There is No Magic Pill

images

Bukannya sombong, bukannya congkak, tetapi sepertinya pola makan dan kebiasaan olahraga saya lebih sehat dari kebanyakan orang ya. Hal ini juga cukup sering menjadi bahan pembicaraan dan pertanyaan, untuk yang seolah tertarik untuk mengadopsi gaya hidup yang lebih baik demi masa depan yang sehat dan (Insya Cosmos) bebas dari sakit berat.

Tetapi setiap kali saya berusaha menjawab dan menceritakan bagaimana memulai dan apa kebiasaan, walaupun saya sudah meyakinkan dan bertanya ulang apakah orang tersebut sungguh ingin mendengarkan hal yang menurut saya cukup membosankan dan tidak terlalu menarik untuk orang kebanyakan, dalam beberapa menit wajah yang terlihat mendengarkan secara saksama akan berubah menjadi mata yang menerawang dan pikiran yang terbang entah ke mana.

“Foto dong, apa yang kamu makan setiap hari!” sebagian besar begitu melihat makanan yang isinya hanya sayur mayur dan sedikit saja daging, langsung tidak pernah tanya lagi.

“Apa sih rahasianya supaya rajin bangun pagi untuk olahraga?” Ketika saya cerita awalnya berat banget, kemudian cukup memaksakan diri untuk berangkat tanpa berpikir panjang, ditambah dengan energi yang harus disalurkan setelah tubuh diberi asupan yang benar, banyak yang kehilangan minat untuk menyelidiki lebih lanjut.

Jika melihat tren pesan-pesan yang diteruskan sampai ribuan kali di Whatsapp grup, sepertinya semua orang merindukan satu superfood atau pil ajaib, yang ketika kita konsumsi akan menyelesaikan masalah kesehatan. Makan pisang, dan Anda pasti akan terbangun jam 5 pagi dan ingin berolahraga setiap hari! Minum suplemen jinten hitam, dijamin apa pun yang Anda makan tidak akan jadi lemak! Makan paria setiap hari, pasti akan terbebas dari penyakit kardiovaskuler! Sekali usap saja, salep ini akan menghilangkan selulit selamanya! Minum protein powder ini dan olahraga apa pun akan dijalani dengan mudah!

Kenyataannya, walaupun berat mengakui, sebenarnya kita semua sudah tau, enggak ada itu satu hal ajaib yang bisa mengubah semuanya jadi lebih baik. Bahkan jika olahraga saja tetapi makan tetap banyak processed food risiko mati muda penyakit tetap akan tinggi. Begitu juga jika kita makan sehat tanpa berolahraga, tidak menjadikan kita otomatis fit dan memiliki otot keren (walau kemungkinan jadi lebih tinggi kita akan jadi jauh lebih sehat). Jangan percaya dengan satu hal yang disebutkan di pesan terusan di group chat dan diklaim bisa mencegah penyakit ini itu.

Banyak makanan sehat dan sebisa mungkin kita harus makan semua itu dalam jumah secukupnya untuk kesehatan optimal. Begitu juga dengan olahraga. Jika ingin semua fungsi tubuh lengkap bisa dilakukan sampai tua, ternyata kurang kalau kita hanya memilih satu olahraga saja. Penginnya kan bisa dengan mudah jongkok, lompat, jalan jauh, lari, sampai berdansa sampai tua ya! Saya kira latihan beban dan HIIT saja cukup, ternyata otot saya jadi kaku seperti meja belajar. Karena itu mulai melengkapi dengan kardio juga, lalu latihan peregangan dan fleksibilitas seperti yoga dan pilates.

Sehat itu ribet ya? Iya! Tetapi kalau kita memperlakukan tubuh dengan penuh cinta, dia akan mencintaimu 1000 kali. Bentuknya seperti apa? Musim flu Anda tak terkena, jalan seharian tak masalah, dansa sampai pagi enggak boyok, bahkan saya pernah lo, terkena virus DB (tertular dari seisi rumah yang sakit) tetapi tidak termanifestasi gejalanya. Baru ketahuan ketika beberapa tahun kemudian saya tumbang betulan, ternyata sebelumnya saya sudah pernah terinfeksi virus, tetapi belum terkena panyakitnya.

download

Kado

Semalam, saya mampir ke toko buku dalam perjalanan pulang. Tidak ada rencana sebelumnya untuk mengunjungi toko ini, meskipun sudah lama saya tidak pergi ke sana. Tidak ada niat pula untuk membeli buku baru, karena masih ada beberapa buku yang belum sempat dibaca.

Makanya saya melangkahkan kaki ke bagian perlengkapan alat tulis, alat-alat elektronik dan pernak-pernik lainnya. Melihat rangkaian barang yang dipajang, mulai dari pulpen sampai jam tangan, mulai dari buku catatan sampai tas sekolah, sontak saya tersenyum sendiri.

Tiba-tiba saja pikiran saya teringat kembali saat masih di bangku sekolah, mengenakan seragam putih abu-abu. Seorang sahabat saya waktu itu selalu mengajak saya untuk mencari kado buat pacarnya. Mereka memang sudah pacaran beberapa bulan saat kami baru masuk sekolah itu. Sampai kami lulus pun, mereka masih pacaran. Jadi bisa dibayangkan, setidaknya ada tiga kali ulang tahun di mana saya harus menemani sahabat saya mencari kado yang “sempurna” untuk pacarnya. Belum lagi anniversary, atau momen-momen lain di mana secara mendadak teman saya memutuskan untuk memberikan sesuatu barang buat pacarnya.

Sampai-sampai saya sendiri yang kadang harus mengingatkan untuk mencari kado.

“Sudah bulan November, nih!” (Ini berarti ulang tahun pacarnya.)

“Sudah mau bulan Agustus ini!” (Ini berarti ulang tahun pacaran mereka.)

Berhubung saat itu saya tinggal di kota yang tidak sebesar tempat tinggal sekarang, maka pilihan pencarian kado kami cukup terbatas. Tak jarang kami menghabiskan waktu hampir seharian, mulai dari jam 10 pagi saat toko-toko baru buka, sampai jam 7 malam, saat kami kelaparan karena skip makan siang. Tak jarang pula pada akhirnya kami malah kembali ke toko yang pertama kali kami tuju, karena setelah pergi ke toko-toko lain, tidak ada barang yang sesuai. Harap diingat juga, isi kantong pelajar tidak bisa memberikan kami banyak pilihan juga.

Kadang-kadang, meskipun bercanda, saya sempat kesal juga, dan berkata ke teman saya, “Tiap tahun kita selalu kayak gini, ya? Gak capek apa? Lagian dia pasti terima apapun kado dari kamu. ‘Kan dari pacarnya. Kamu kasih sendal jepit beli di warung terus kamu ukir nama dia pakai silet, juga pasti diterima!”

crop380w_istock_000016975754xsmall

 

Teman saya tertawa, dan saya pun tertawa. Meskipun kami tidak pernah melakukan hal itu, kami sadar bahwa sebenarnya yang menyenangkan adalah proses mencari barang tersebut. Itu satu hal. Looking back, ternyata proses mencari kado ini semacam road trip murah buat dua pelajar dengan kantong pas-pasan saat itu.

Hal lain yang menyenangkan, tentu saja melihat reaksi orang yang menerima kado pemberian dari orang yang disayang.

Tentu saja saya tidak pernah tahu reaksi pacar teman saya saat menerima kado-kado tersebut. Ya masak saya ikut? Tentu saja saya juga tidak hapal, barang-barang apa saja yang pernah kami cari selama tiga tahun di bangku sekolah tersebut. Saya pun tidak hapal, barang-barang apa saja yang pernah saya berikan kepada dan terima dari mantan-mantan pacar.

Yang akhirnya saya ingat cuma rasa. Rasa senang saat berusaha mencari tahu, barang apa yang kira-kira pas untuk orang lain. Rasa kesal saat terus mencari tanpa henti. Rasa senang saat akhirnya kita tahu apa yang kita mau, dan bisa mendapatkan barang tersebut. Rasa deg-degan saat membungkus kado, dengan banyak harapan dan rasa deg-degan membayangkan reaksi apa kira-kira yang didapatkan nantinya. Rasa lega saat reaksi tersebut sesuai dengan yang kita bayangkan.

Dan itu sudah cukup menjadi kado buat diri kita sendiri.

c7d021_c428781b9407436c986c4ad9ed24debf_mv2

Keberuntungan Itu Bernama “Rasa Cukup”

KEBERUNTUNGAN. Keberhasilan. Umur panjang. Orang Tionghoa pada umumnya mengenal tiga serangkai ini sebagai “fu, lu, shou” (福祿壽); keadaan yang selalu didambakan–dan dikejar–dalam hidup.

Simbol “fu”, “lu”, “shou”.
Gambar: ucxinwen.com
Image result for fu lu shou
Foto: Wikimedia

Simbol dan ornamennya tersebar di mana-mana. Mulai tulisan/aksara Tionghoa dengan berbagai gaya, hingga lukisan maupun patung tiga sosok dewa yang dianggap identik dengan ketiganya. Termasuk yang jadi logo Amer Cap Orang Tua, dan yang juga ada di kotak bungkus misoa, makanan khas di setiap perayaan ulang tahun ala Tionghoa.

Related image
Gambar: stickpng.blogspot.com

“Fu” selalu disebut di urutan pertama, lantaran dianggap paling penting dibanding dua yang lainnya. Itu ibarat kata, jika seseorang harus memilih hanya satu dari ketiganya.

Mengapa? Sebab keberuntungan akan selalu memberikan kebahagiaan yang paling signifikan. Terjadi di saat yang tepat, dengan dampak yang tepat, serta tidak menyisakan potensi masalah baru kemudian. Karena itu pula, keberuntungan menjadi hal yang paling sulit ditemukan, diraih, dan dipertahankan. Keberuntungan itu misterius, muncul dan hilang tanpa bisa ditahan atau dikendalikan.

Berikut perbandingannya lebih lanjut.

“Lu” diartikan sebagai keberhasilan dalam konteks pencapaian sosial dan ekonomi. Berhasil mencapai sesuatu, seperti status; kedudukan bisnis; jenjang karier yang terus meningkat; termasuk kenaikan gaji serta keuntungan finansial yang mengiringinya. Demi mencapai “lu”, seseorang mesti berusaha keras, dan cerdas. Akan lebih baik lagi apabila didukung dengan adanya bakat serta keahlian. Namun, semua itu baru akan menjadi kombinasi yang pas dan meluncur tanpa halangan dalam situasi atau momen yang tepat. Di situlah muncul “fu”, keberuntungan.

Sesuai artinya, “shou” menunjukkan kehidupan yang lestari. Seseorang bisa hidup lebih lama, dan dijauhkan dari kematian yang menakutkan. Namun, usia yang panjang justru bisa menjadi siksaan apabila dipenuhi kekurangan dan kemalangan.

Berusia panjang, tetapi selalu sakit-sakitan, misalnya. Kehidupan pun menjadi terganggu, dan merasa merepotkan atau membebani orang lain. Membuat berpikir bahwa kematian mungkin bisa menjadi solusi terbaik atas keadaan ini.

Berusia panjang, tetapi selalu kekurangan. Selalu merasakan hidup yang sengsara, jarang bahagia.

Termasuk yang satu ini, berusia panjang, tetapi ditinggalkan dan kesepian. Hidup dengan penuh siksaan batin.

Lagi-lagi dengan keberuntungan, usia panjang menjadi berkah yang membahagiakan. Bisa menjalani sisa usia dengan kesehatan dan kebugaran; berada dalam kondisi berkecukupan; maupun merasa terkasihi atau dicintai banyak orang. Sampai pada akhirnya bisa berpisah dengan kehidupan secara baik-baik; mengalami kematian yang tidak menyakitkan atau pun merepotkan.

Demikianlah keberuntungan.

Lalu, bagaimanakah caranya mengejar keberuntungan?

Ada yang berpandangan bahwa keberuntungan bisa dikondisikan lewat kemakmuran. Selama masih memiliki harta, maka masih berkesempatan untuk mengupayakan hal-hal baik yang mendukung keberhasilan maupun umur panjang.

Terhadap “lu”, harta dapat digunakan untuk melanggengkan keberhasilan; mempertahankan dan makin meningkatkan pencapaian. Harta juga bisa digunakan untuk menjaga kedudukan dan status sosial ekonomi di mata masyarakat. Jaminan supaya tetap menjadi orang terpandang.

Mengenai “shou”, harta dapat dimanfaatkan untuk menjaga dan menyembuhkan dari gangguan kesehatan. Kendati masih berupa upaya; entah berhasil atau tidak.

Harta juga dapat menghidupkan suasana, membuat situasi yang sepi menjadi ramai, menghimpun banyak orang. Entah apakah mereka benar-benar peduli dengan si pemilik harta, atau sekadar aji mumpung menjadi benalu.

Pandangan tentang kemakmuran tadi mendorong banyak orang bersusah payah, pontang-panting mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Beberapa di antaranya malah tidak lagi peduli dengan sekitar dan menghalalkan segala cara. Pada akhirnya, apa yang mereka anggap mampu membuat bahagia, justru menyeret mereka ke realitas sebaliknya. Sisa hidup pun dipenuhi kekhawatiran dan ketakutan berlebihan, ketidakwarasan, penyakit, serta ketidakberdayaan menghadapi kenyataan.

Dari sudut pandang “fu”, tidak ada yang salah dengan dorongan untuk mencari dan mengumpulkan harta. Hanya saja, titik akhirnya tidak terletak pada keberlimpahan, melainkan ketercukupan. Prinsip ini pun menjalar ke pertanyaan berikutnya, “Seberapa cukup?

Semua orang tentu punya jawabannya masing-masing, dan secara pribadi, saya yakin bahwa (1) rasa cukup bisa membahagiakan, dan (2) kebahagiaan itu bisa mencukupi.

Sungguhlah beruntung bila mampu merasa sungguh-sungguh cukup.

Saya ingin tutup tulisan hari ini dengan satu pertanyaan perbandingan. Mana yang lebih memberikan rasa bahagia; meminum segelas air putih saat sedang haus-hausnya di siang hari yang panas, atau meminum segelas air putih untuk membantu menelan makanan?

[]

Aku Fobia Padamu, Mz…

Kepala saya akhir akhir ini sering gatal kalau melihat perdebatan di media sosial, kemudian kata ‘Islamofobia’ dilemparkan dengan mudahnya. Bukan karena kepala saya sedang dijangkiti jamur, tetapi kata Islamofobia itu sendiri. Sebenarnya bagaimana sih kalau seseorang itu menderita fobia terhadap sesuatu? Ini saya salin dan tempel dari Google:

Fobia (gangguan anxietas fobik) adalah rasa ketakutan yang berlebihan pada sesuatu hal atau fenomena. Fobia bisa dikatakan dapat menghambat kehidupan orang yang mengidapnya. Bagi sebagian orang, perasaan takut seorang pengidap fobia sulit dimengerti.

Tahu bahwa fobia itu gangguan yang seperti apa saja sudah membuat saya kesal dengan istilah Islamofobia. Apakah orang orang yang dituduhkan dengan kata ini memiliki ketakutan yang tidak rasional dengan yang menyangkut Islam? Apakah melihat masjid mereka akan tunggang langgang ketakutan? Apakah ketika melihat seseorang menggunakan pernak pernik “Islami” lalu mereka lebih baik mengurungkan niat menaiki kendaraan yang sama atau lebih baik putar balik ke arah sebaliknya agar tidak sejalan dengan dia? Kalau memang tetap keras kepala menggunakan kata Islamofobia, seharusnya ini yang terjadi.

Tetapi kan, kenyataannya tidak.

Kalau kita lihat istilah-istilah yang menggambarkan diskriminasi dari ras atau golongan tertentu, tidak ada yang menyebut agama selain Islamofobia. Ada ‘anti-semit’ tetapi tidak ada ‘judaismofobia’.

Kenapa istilah Islamofobia bisa menimbulkan masalah? Karena dia tidak memisahkan mana yang menunjukkan diskriminasi dan kebencian terhadap orang yang memeluk agama Islam atau muslim, mana yang kritik valid tentang Islam sebagai ideologi. Kritisi terhadap ideologi bisa mengajak masyarakat berpikir lebih kritis, sementara kebencian dan diskriminasi dapat memecah belah. Bigotry adalah intoleransi dengan seseorang yang memiliki pendapat atau kepercayaan berbeda, jadi ke orangnya, bukan ke kepercayaan atau pendapatnya.

Sungguh membuat malas ya, kalau kita berusaha menyuarakan kritik terhadap suatu ideologi yang cukup valid dan evidence-based, dengan harapan membuka dialog, lalu dimatikan begitu saja dengan cap seperti, “ISLAMOFOBIA!” A real conversation killer. Kalau memang suatu ideologi tidak boleh dikritik sama sekali, berarti tidak boleh juga dong, mengkritik komunisme, sosialisme dan isme-isme lain yang kini dianggap musuh dalam selimut yang sangat berbahahahahaya (really?). Double standard, much?

Izinkan saya mengutip Ali Rizvi, idola saya di komunitas eks muslim:

dan satu lagi:

Jadi, rekomendasinya, kalau memang ada orang yang melemparkan kebencian terhadap seorang muslim karena kemuslimannya, bahkan sampai membedakan perlakukan dengan orang non-muslim, dan nyata sekali, lalu ingin ada cap terhadap orang ini, sebut saja lah dia anti-muslim. Sebut aksinya anti-muslim bigotry.

Rekomendasi lainnya; kalau ada komik yang bercerita soal diskriminatifnya Islam sehingga membabi buta membenci atau anti terhadap satu golongan yang berbeda dengan kepercayaan Islam sampai banyak pernyataan seolah menyakiti golongan tersebut “halal”, tak perlu lagi menyebut Islamofobia, karena mempertanyakan sebuah ideologi masih legal, kok. Tak perlu marah dan mencap ini itu, let’s just agree to disagree, dan tetap saling menghormati.

Apa kamu bilang? Islam itu bukan ideologi dan murni buatan Tuhan? Hahahaha, bercanda kamu…

EMlrZldU8AAkl5C
Kalau kayak gini fobia apa, dong? (kredit: @nynecomics)

 

 

Bersiap dan Menyesuaikan Diri

SAAT menulis ini, saya sebenarnya masih lumayan ketar-ketir. Beberapa kali menengok ke luar jendela, berharap agar langit mendung di atas sana tidak mendadak tumpah, menjadi hujan deras. Soalnya, banyak orang masih bertahan di pengungsian, dan beberapa yang lain baru mulai bersih-bersih setelah banjir berangsur surut menyisakan lumpur serta perabotan basah. Selain itu, ya … tentu saja karena saya bakal kesulitan lagi. Sulit bepergian, sulit mencari makan, sulit ini, sulit itu. 

Tempat tinggal saya sendiri saat ini, syukurnya, tidak tergenang–meskipun terkepung–banjir. Ketika harus susah payah berjalan kaki sejauh 6 km dan menerobos banjir setinggi hampir 1 meter untuk pulang pada 2 Januari malam lalu, saya setidaknya tetap bisa dalam situasi kering, mendapatkan penerangan, bisa mendapatkan air bersih, dan peralatan elektronik tidak sampai rusak.

Privilese? Tentu saja. Namun, bukan itu yang mau diobrolin hari ini. Saya malah kepingin meneruskan obrolan Mas Nauval dalam tulisannya pekan lalu; selalu berharap yang terbaik, dan selalu bersiap untuk kemungkinan paling buruk sekalipun. 

Tanpa menafikan tentang krisis iklim yang turut diteriakkan gara-gara banjir di awal 2020 ini, setiap hal selalu terdiri atas tiga fase: sebelum, saat, dan sesudah.

Perkara kesadaran atas krisis iklim; pembuatan sumur resapan; kedisiplinan membuang sampah dengan baik atau bahkan penerapan gaya hidup minim sampah plastik; hingga upaya mengamankan langkah-langkah politik agar tidak menghambat hal-hal yang telah disebut sebelumnya, merupakan perkara sebelum dan sesudah peristiwa. Simpan sajalah dahulu sampai semuanya menuju pulih, saat rasa lelah dan letih yang tersisa masih relevan untuk bicara pencegahan. 

Begitu peristiwa mulai terjadi, seperti yang dikatakan Mas Nauval di atas: Hope for the best, prepare for the worst. Kenapa prepare for the worst-nya tidak dipikirkan sedari awal, di fase “sebelum”? Karena kondisi worst dalam konteks antisipasi atau pencegahan selalu tidak gawat darurat. Belum terasa pentingnya sebelum mulai terjadi. Saat peristiwa terjadi, situasi worst barulah berdampak pada survival, urusan selamat dan tidak selamat, serta paling mungkin bikin orang panik, mendadak sukar berpikir cermat.

Dari berharap yang terbaik dan bersiap untuk yang terburuk, ingin saya lanjutkan dengan kesiapan menghadapi krisis dan fleksibilitas menyesuaikan diri terhadap keadaan. Bersiap untuk yang terburuk, termasuk mempersiapkan segala hal yang bisa dijangkau dalam menghadapi krisis. Beruntungnya, banyak ringkasan dan petunjuk singkat terkait ini.

https://i1.wp.com/www.pantau.com/uploads/news/content/1577926723-29816268.png?w=1540&ssl=1
Infografik: Pantau.com

Bagi yang berpengalaman, atau pernah mengalami, kemungkinan besar sudah tahu harus mempersiapkan apa dan bagaimana caranya bersiaga. Sementara bagi yang baru pertama kali mengalaminya–mudah-mudahan musibah banjir sudah tuntas sepenuhnya hari ini–setidaknya bisa belajar dari pengalaman di awal tahun. Dari yang tidak tahu, menjadi tahu. Dari yang abai, menjadi lebih peduli.

Sedikit cerita mengenai ini, saya cukup bersyukur lahir dan besar di Samarinda. Sedari kecil, sudah relatif terbiasa dengan curah hujan yang tinggi dan konstan sepanjang tahun, berenang dan akrab dengan arus Sungai Mahakam. Kemudian, terpapar dengan bahaya maut saat banjir untuk pertama kalinya saat duduk di bangku SMP (terjatuh dalam lubang gorong-gorong yang dalam dan berarus deras). 

Berlanjut ketika bekerja sebagai jurnalis sekaligus pewarta foto di surat kabar lokal Samarinda. Musim hujan dan banjir parah setidaknya berlangsung sekali dalam setahun. Entah sambil berjalan kaki atau menumpang perahu karet lembaga-lembaga penyalur bantuan, pemerintah maupun organisasi sosial, blusukan ke kawasan pemukiman yang rendah dengan ketinggian banjir sampai lebih dari 130 cm. Banjir yang terjadi agak dimaklumi kala itu, sebab Samarinda dikepung lokasi-lokasi tambang batu bara berbagai skala. Belum lagi Bendungan Benanga di Samarinda Utara yang tak mampu menahan debit air dari utara kota.

“Sambil menunggu banjir surut.”
Salah satu foto banjir Samarinda, Mei 2008.

Peristiwa banjir Jakarta yang akhirnya turut saya alami pada tanggal 2 dan 3 Januari kemarin pun, ya … kurang lebih semodel dengan yang pernah saya alami beberapa tahun sebelumnya di Samarinda. Berbekal pengalaman tersebut, saya berusaha berhati-hati. Misalnya: 

  • Memilih jalur arah pulang yang sudah diakrabi, agar bila berjalan dalam banjir dan gelap sekalipun, tetap bisa terhindar dari lubang tergenang dan potensi bahaya lainnya. 
  • Sebisa mungkin tidak melepas alas kaki saat menerjang banjir. Biarlah sneakers saya rusak karena dipakai berjalan dalam banjir, daripada telapak kaki saya robek kena pecahan kaca. Kendati di beberapa titik, ada saja orang yang bilang kepada saya untuk melepas sepatu supaya bisa berjalan lebih cepat. 
  • Apabila tidak mau/tidak memungkinkan untuk pulang, bersiap untuk menumpang/menginap/mengungsi. Jangan rempong. Situasi darurat, bukan staycation. Kecuali banyak duit dan buka kamar di hotel. Terserah you.

Hal-hal di atas ada kaitannya pula dengan fleksibilitas menyesuaikan diri terhadap keadaan. Banjir melanda semua orang; semua orang menjadi korban. Kita penting, orang lain pun penting. Jika kondisi memaksa untuk berjalan kaki menuju akses kering, ya, berjalanlah. Santai saja. Keluhan dan gerutu tidak akan bikin banjirnya surut. Kecuali kalau kamu punya kemampuan seperti Nabi Musa; membelah air.

Masih bisa bekerja, ya, bekerjalah. Namanya juga musibah, bos di kantor pun bisa memaklumi. Kalau tidak bisa memaklumi, coba saja dilihat sejauh apa dampaknya. Unpaid leave? Harus memotong uang makan, atau mengurangi jatah cuti? First things first. Akan tetapi, yang satu ini lagi-lagi ada urusannya dengan privilese. Fokus sajalah pada hal yang lebih penting dan gawat darurat. 

Jikalau status sosial dan ekonomi belum memampukan kita untuk sefleksibel itu, setidaknya mindset kita sudah mengarah ke situ. Biar enggak nambah-nambahin otak sumpek. Setelah semua reda, baru deh berjuang menyuarakan kesadaran akan lingkungan dan krisis iklim. 

Enggak gampang, memang, tetapi, namanya juga berharap yang terbaik, bersiap untuk yang terburuk, siap menghadapi krisis, dan fleksibel menyesuaikan diri terhadap keadaan. Toh, lebih mudah dibaca (dan dipahami) saat tidak sedang kebanjiran, kan? Padahal, sikap ini pun bisa diterapkan pada hampir segala hal. Musibah dan bencana alam, maupun musibah dan bencana hati serta pikiran.

[]

Btw, tetap siaga dan berjaga-jaga. Cuaca ekstrem berupa hujan deras dan kroni-kroninya berpotensi terjadi antara tanggal 11 sampai 15 Januari mendatang.

Hope for the Best, Prepare for the Worst

Kata-kata yang menjadi judul di atas saya temukan pertama kali di sebuah buku tulis yang saya beli waktu duduk di bangku sekolah. Saya terkesan sekali dengan kata-kata tersebut, sampai sering sekali saya gunakan di berbagai kesempatan.

Waktu “digojlok” menjadi siswa baru, saya selalu menulis kata-kata tersebut di tulisan yang harus kami buat setiap harinya untuk diserahkan ke kakak-kakak kelas yang “menggojlok” kami. Waktu dicurhati teman, entah berapa kali saya menggunakan kata-kata ini sebagai salah satu tanggapan saat ditanya, “What do you think I should do?”

Demikian pula di kehidupan nyata. Acap kali saya sering menemui kejadian, di mana saya sudah berharap akan mendapat sesuatu, ternyata yang terjadi malah sebaliknya. Waktu sedang menulis tulisan yang sedang anda baca ini, misalnya. Saya memilih kedai kopi ini dengan harapan bisa mendapat tempat duduk yang dekat colokan listrik, eh ternyata tempat itu sedang ramai dengan keluarga yang sedang berlibur. Alhasil, saya duduk di tempat lain, sambil berharap rombongan keluarga ini segera menyelesaikan kegiatan mereka di meja tersebut.

Tentu saja saat saya sedang menulis ini, pikiran saya melayang ke ibu kota Indonesia yang sedang dirundung kemalangan. Musibah banjir ini bisa dibilang yang terberat yang pernah dialami, karena hanya dalam hitungan jam, hujan deras mampu meluluh lantakkan pergerakan seluruh kota, dan mengakibatkan beberapa korban jiwa.

Saat ini saya berada di luar Jakarta. Tapi pikiran saya tidak lepas ke teman-teman, lingkungan sekitar dan rekan-rekan lain yang sedang bertahan hidup. Termasuk pula beberapa orang yang baru saja kembali dari liburan akhir tahun. Siapa yang menyangka, saat pulang dari liburan, harus menghadapi kenyataan yang mengenaskan? Siapa yang menyangka juga, liburan harus berakhir dengan genangan?

Tidak ada yang menyangka kapan musibah datang menimpa kita, meskipun kita sudah menyiapkan diri sebaik mungkin. Dan atas pemikiran inilah, saya meyakini bahwa saat kita hope for the best, sebenarnya secara otomatis kita sedang prepare for the worst. Dalam diam kita, kita berdoa dan berharap, sambil otak terus berpikir untuk mempersiapkan diri. We hope by preparing. Mempersiapkan mental, mempersiapkan perasaan, mempersiapkan fisik, mempersiapkan materi, dan segala jenis persiapan lain.

Lewat tulisan ini, saya ingin menyampaikan duka cita buat semua korban peristiwa banjir awal tahun 2020 ini. Untuk mereka yang harus berpisah dengan orang-orang tercinta, saya ikut berdoa, semoga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan. Untuk mereka yang terpaksa merelakan harta yang telah dimiliki dengan jerih payah sekian lama, saya ikut berdoa, semoga akan ada pengganti yang lebih baik. Untuk yang masih bertahan, semoga kita semua bisa terus bertahan, membantu sama, dan mempersiapkan diri untuk kemungkinan apa pun.

We never know what the future brings. We can only hope for the best, and prepare for the worst.

Memulai dengan Mendengar

SELAMAT menjalani tahun baru, dengan cara kita masing-masing.

Seperti lazimnya. Ada yang memasuki tahun baru dengan segudang proyeksi dan rencana yang siap dijalankan. Aspirasi atau resolusi hidup yang baru, cita-cita atau tujuan yang baru, karier atau lingkungan pekerjaan yang baru, sekolah atau kampus yang baru, rumah dan lingkungan tempat tinggal yang baru, kehadiran seseorang di dalam hidup, maupun niat atau tekad penting yang baru dalam hidup.

Ada juga yang mulai memasuki tahun baru laksana tangkai-tangkai biji bunga Randa Tapak; luwes melayang mengikuti arah angin, hingga akhirnya bertahan di satu tempat, dan apabila ideal, akan mulai bertumbuh dan berkembang seiring berjalannya waktu. Ringan, tanpa perkiraan yang berlebihan, apalagi keinginan-keinginan.

Image result for dandelion animated gif
Randa Tapak

Ada yang memasuki tahun baru dengan “penambahan”, ada pula yang “kehilangan”. Saya sendiri, hari ini masih dalam suasana berduka setelah ditinggal tante yang berpulang tepat tanggal 25 Desember kemarin. Sementara bagi para sepupu dan keponakan‒anak dan cucu mendiang, mereka akan mulai menjalani tahun baru dengan pergi ke perairan Situbondo untuk melarung abu jenazah. Besok.

Kita semua punya cerita masing-masing dalam memasuki tahun yang baru ini. Namun, pada dasarnya, apa yang akan kita hadapi bersama nanti sepenuhnya merupakan misteri. Tak seorang pun yang benar-benar tahu apa yang akan diperoleh, dialami, dirasakan, atau dilepaskan. Segala yang telah terjadi di tahun kemarin, bahkan sampai di detik terakhir 31 Desember 2019, sudah berlalu. Sekeras apa pun rasanya; semenyangkan atau setidakmenyenangkan apa pun rasanya; sebesar atau sekecil apa pun rasanya; berhasil tercapai atau tidak, semua hal itu sudah berlalu. Hanya menyisakan ingatan, dan pengalaman.

Mau kamu apakan pengalaman-pengalaman tersebut, itu menjadi hak prerogatifmu seutuhnya. Akan tetapi, entah mau kamu bagaimanakan ingatan-ingatan tersebut, semua itu akan tetap menjadi kenangan. Ingatan yang di setiap kemunculannya akan selalu memberikan sensasi rasa, dan hanya itu saja. Tak lebih.

Satu hal lainnya, kita semua sama-sama memasuki tahun baru ini sebagai individu yang telah berbeda, berubah dari sebelumnya. Entah seperti apa perubahan itu; menjadi lebih baik atau tidak (menurut standar sosial yang diterima umum, atau mungkin menurut penilaian kita sendiri). Harapan, kekhawatiran, kerisauan dan kegelisahan, semangat, ketakutan, keragu-raguan, kegembiraan, kekecewaan, apatisme, serta beraneka perasaan manusiawi lainnya mustahil lenyap. Pasti akan ada, dan oleh karenanya, coba diamati saja. Kita belum tentu sekuat hati itu, atau sebijaksana itu untuk bisa menepis perasaan-perasaan tersebut.

Setidaknya, yang bisa kita lakukan, barangkali adalah memulai dengan mendengar. Mendengar diri kita sendiri; mendengar isi hati kita sendiri.

Apakah yang sebenarnya aku inginkan?
Ini kah yang sebenarnya aku inginkan?

Apa yang kurasakan?

Tahun lalu kita mungkin terlalu sering mengabaikan diri sendiri, tidak mengacuhkan pemikiran, pertimbangan, dan suara hati. Tahun ini, dengan cara ini, kita mungkin bisa memulai berdamai dengan diri sendiri. Berhenti bertikai dengan diri sendiri.


Ya sudah… tak usah terlampau serius bacanya. Semalam kan habis begadang bersama teman-teman. Recovery tenaga dulu saja, toh, besok kan sudah kembali masuk kantor dan bekerja.

Selamat menjalani tahun baru. Selamat di permulaan, selamat di pertengahan, dan selamat di penutupan.

[]