There is No Magic Pill

images

Bukannya sombong, bukannya congkak, tetapi sepertinya pola makan dan kebiasaan olahraga saya lebih sehat dari kebanyakan orang ya. Hal ini juga cukup sering menjadi bahan pembicaraan dan pertanyaan, untuk yang seolah tertarik untuk mengadopsi gaya hidup yang lebih baik demi masa depan yang sehat dan (Insya Cosmos) bebas dari sakit berat.

Tetapi setiap kali saya berusaha menjawab dan menceritakan bagaimana memulai dan apa kebiasaan, walaupun saya sudah meyakinkan dan bertanya ulang apakah orang tersebut sungguh ingin mendengarkan hal yang menurut saya cukup membosankan dan tidak terlalu menarik untuk orang kebanyakan, dalam beberapa menit wajah yang terlihat mendengarkan secara saksama akan berubah menjadi mata yang menerawang dan pikiran yang terbang entah ke mana.

“Foto dong, apa yang kamu makan setiap hari!” sebagian besar begitu melihat makanan yang isinya hanya sayur mayur dan sedikit saja daging, langsung tidak pernah tanya lagi.

“Apa sih rahasianya supaya rajin bangun pagi untuk olahraga?” Ketika saya cerita awalnya berat banget, kemudian cukup memaksakan diri untuk berangkat tanpa berpikir panjang, ditambah dengan energi yang harus disalurkan setelah tubuh diberi asupan yang benar, banyak yang kehilangan minat untuk menyelidiki lebih lanjut.

Jika melihat tren pesan-pesan yang diteruskan sampai ribuan kali di Whatsapp grup, sepertinya semua orang merindukan satu superfood atau pil ajaib, yang ketika kita konsumsi akan menyelesaikan masalah kesehatan. Makan pisang, dan Anda pasti akan terbangun jam 5 pagi dan ingin berolahraga setiap hari! Minum suplemen jinten hitam, dijamin apa pun yang Anda makan tidak akan jadi lemak! Makan paria setiap hari, pasti akan terbebas dari penyakit kardiovaskuler! Sekali usap saja, salep ini akan menghilangkan selulit selamanya! Minum protein powder ini dan olahraga apa pun akan dijalani dengan mudah!

Kenyataannya, walaupun berat mengakui, sebenarnya kita semua sudah tau, enggak ada itu satu hal ajaib yang bisa mengubah semuanya jadi lebih baik. Bahkan jika olahraga saja tetapi makan tetap banyak processed food risiko mati muda penyakit tetap akan tinggi. Begitu juga jika kita makan sehat tanpa berolahraga, tidak menjadikan kita otomatis fit dan memiliki otot keren (walau kemungkinan jadi lebih tinggi kita akan jadi jauh lebih sehat). Jangan percaya dengan satu hal yang disebutkan di pesan terusan di group chat dan diklaim bisa mencegah penyakit ini itu.

Banyak makanan sehat dan sebisa mungkin kita harus makan semua itu dalam jumah secukupnya untuk kesehatan optimal. Begitu juga dengan olahraga. Jika ingin semua fungsi tubuh lengkap bisa dilakukan sampai tua, ternyata kurang kalau kita hanya memilih satu olahraga saja. Penginnya kan bisa dengan mudah jongkok, lompat, jalan jauh, lari, sampai berdansa sampai tua ya! Saya kira latihan beban dan HIIT saja cukup, ternyata otot saya jadi kaku seperti meja belajar. Karena itu mulai melengkapi dengan kardio juga, lalu latihan peregangan dan fleksibilitas seperti yoga dan pilates.

Sehat itu ribet ya? Iya! Tetapi kalau kita memperlakukan tubuh dengan penuh cinta, dia akan mencintaimu 1000 kali. Bentuknya seperti apa? Musim flu Anda tak terkena, jalan seharian tak masalah, dansa sampai pagi enggak boyok, bahkan saya pernah lo, terkena virus DB (tertular dari seisi rumah yang sakit) tetapi tidak termanifestasi gejalanya. Baru ketahuan ketika beberapa tahun kemudian saya tumbang betulan, ternyata sebelumnya saya sudah pernah terinfeksi virus, tetapi belum terkena panyakitnya.

download

Advertisements

Kado

Semalam, saya mampir ke toko buku dalam perjalanan pulang. Tidak ada rencana sebelumnya untuk mengunjungi toko ini, meskipun sudah lama saya tidak pergi ke sana. Tidak ada niat pula untuk membeli buku baru, karena masih ada beberapa buku yang belum sempat dibaca.

Makanya saya melangkahkan kaki ke bagian perlengkapan alat tulis, alat-alat elektronik dan pernak-pernik lainnya. Melihat rangkaian barang yang dipajang, mulai dari pulpen sampai jam tangan, mulai dari buku catatan sampai tas sekolah, sontak saya tersenyum sendiri.

Tiba-tiba saja pikiran saya teringat kembali saat masih di bangku sekolah, mengenakan seragam putih abu-abu. Seorang sahabat saya waktu itu selalu mengajak saya untuk mencari kado buat pacarnya. Mereka memang sudah pacaran beberapa bulan saat kami baru masuk sekolah itu. Sampai kami lulus pun, mereka masih pacaran. Jadi bisa dibayangkan, setidaknya ada tiga kali ulang tahun di mana saya harus menemani sahabat saya mencari kado yang “sempurna” untuk pacarnya. Belum lagi anniversary, atau momen-momen lain di mana secara mendadak teman saya memutuskan untuk memberikan sesuatu barang buat pacarnya.

Sampai-sampai saya sendiri yang kadang harus mengingatkan untuk mencari kado.

“Sudah bulan November, nih!” (Ini berarti ulang tahun pacarnya.)

“Sudah mau bulan Agustus ini!” (Ini berarti ulang tahun pacaran mereka.)

Berhubung saat itu saya tinggal di kota yang tidak sebesar tempat tinggal sekarang, maka pilihan pencarian kado kami cukup terbatas. Tak jarang kami menghabiskan waktu hampir seharian, mulai dari jam 10 pagi saat toko-toko baru buka, sampai jam 7 malam, saat kami kelaparan karena skip makan siang. Tak jarang pula pada akhirnya kami malah kembali ke toko yang pertama kali kami tuju, karena setelah pergi ke toko-toko lain, tidak ada barang yang sesuai. Harap diingat juga, isi kantong pelajar tidak bisa memberikan kami banyak pilihan juga.

Kadang-kadang, meskipun bercanda, saya sempat kesal juga, dan berkata ke teman saya, “Tiap tahun kita selalu kayak gini, ya? Gak capek apa? Lagian dia pasti terima apapun kado dari kamu. ‘Kan dari pacarnya. Kamu kasih sendal jepit beli di warung terus kamu ukir nama dia pakai silet, juga pasti diterima!”

crop380w_istock_000016975754xsmall

 

Teman saya tertawa, dan saya pun tertawa. Meskipun kami tidak pernah melakukan hal itu, kami sadar bahwa sebenarnya yang menyenangkan adalah proses mencari barang tersebut. Itu satu hal. Looking back, ternyata proses mencari kado ini semacam road trip murah buat dua pelajar dengan kantong pas-pasan saat itu.

Hal lain yang menyenangkan, tentu saja melihat reaksi orang yang menerima kado pemberian dari orang yang disayang.

Tentu saja saya tidak pernah tahu reaksi pacar teman saya saat menerima kado-kado tersebut. Ya masak saya ikut? Tentu saja saya juga tidak hapal, barang-barang apa saja yang pernah kami cari selama tiga tahun di bangku sekolah tersebut. Saya pun tidak hapal, barang-barang apa saja yang pernah saya berikan kepada dan terima dari mantan-mantan pacar.

Yang akhirnya saya ingat cuma rasa. Rasa senang saat berusaha mencari tahu, barang apa yang kira-kira pas untuk orang lain. Rasa kesal saat terus mencari tanpa henti. Rasa senang saat akhirnya kita tahu apa yang kita mau, dan bisa mendapatkan barang tersebut. Rasa deg-degan saat membungkus kado, dengan banyak harapan dan rasa deg-degan membayangkan reaksi apa kira-kira yang didapatkan nantinya. Rasa lega saat reaksi tersebut sesuai dengan yang kita bayangkan.

Dan itu sudah cukup menjadi kado buat diri kita sendiri.

c7d021_c428781b9407436c986c4ad9ed24debf_mv2

Keberuntungan Itu Bernama “Rasa Cukup”

KEBERUNTUNGAN. Keberhasilan. Umur panjang. Orang Tionghoa pada umumnya mengenal tiga serangkai ini sebagai “fu, lu, shou” (福祿壽); keadaan yang selalu didambakan–dan dikejar–dalam hidup.

Simbol “fu”, “lu”, “shou”.
Gambar: ucxinwen.com
Image result for fu lu shou
Foto: Wikimedia

Simbol dan ornamennya tersebar di mana-mana. Mulai tulisan/aksara Tionghoa dengan berbagai gaya, hingga lukisan maupun patung tiga sosok dewa yang dianggap identik dengan ketiganya. Termasuk yang jadi logo Amer Cap Orang Tua, dan yang juga ada di kotak bungkus misoa, makanan khas di setiap perayaan ulang tahun ala Tionghoa.

Related image
Gambar: stickpng.blogspot.com

“Fu” selalu disebut di urutan pertama, lantaran dianggap paling penting dibanding dua yang lainnya. Itu ibarat kata, jika seseorang harus memilih hanya satu dari ketiganya.

Mengapa? Sebab keberuntungan akan selalu memberikan kebahagiaan yang paling signifikan. Terjadi di saat yang tepat, dengan dampak yang tepat, serta tidak menyisakan potensi masalah baru kemudian. Karena itu pula, keberuntungan menjadi hal yang paling sulit ditemukan, diraih, dan dipertahankan. Keberuntungan itu misterius, muncul dan hilang tanpa bisa ditahan atau dikendalikan.

Berikut perbandingannya lebih lanjut.

“Lu” diartikan sebagai keberhasilan dalam konteks pencapaian sosial dan ekonomi. Berhasil mencapai sesuatu, seperti status; kedudukan bisnis; jenjang karier yang terus meningkat; termasuk kenaikan gaji serta keuntungan finansial yang mengiringinya. Demi mencapai “lu”, seseorang mesti berusaha keras, dan cerdas. Akan lebih baik lagi apabila didukung dengan adanya bakat serta keahlian. Namun, semua itu baru akan menjadi kombinasi yang pas dan meluncur tanpa halangan dalam situasi atau momen yang tepat. Di situlah muncul “fu”, keberuntungan.

Sesuai artinya, “shou” menunjukkan kehidupan yang lestari. Seseorang bisa hidup lebih lama, dan dijauhkan dari kematian yang menakutkan. Namun, usia yang panjang justru bisa menjadi siksaan apabila dipenuhi kekurangan dan kemalangan.

Berusia panjang, tetapi selalu sakit-sakitan, misalnya. Kehidupan pun menjadi terganggu, dan merasa merepotkan atau membebani orang lain. Membuat berpikir bahwa kematian mungkin bisa menjadi solusi terbaik atas keadaan ini.

Berusia panjang, tetapi selalu kekurangan. Selalu merasakan hidup yang sengsara, jarang bahagia.

Termasuk yang satu ini, berusia panjang, tetapi ditinggalkan dan kesepian. Hidup dengan penuh siksaan batin.

Lagi-lagi dengan keberuntungan, usia panjang menjadi berkah yang membahagiakan. Bisa menjalani sisa usia dengan kesehatan dan kebugaran; berada dalam kondisi berkecukupan; maupun merasa terkasihi atau dicintai banyak orang. Sampai pada akhirnya bisa berpisah dengan kehidupan secara baik-baik; mengalami kematian yang tidak menyakitkan atau pun merepotkan.

Demikianlah keberuntungan.

Lalu, bagaimanakah caranya mengejar keberuntungan?

Ada yang berpandangan bahwa keberuntungan bisa dikondisikan lewat kemakmuran. Selama masih memiliki harta, maka masih berkesempatan untuk mengupayakan hal-hal baik yang mendukung keberhasilan maupun umur panjang.

Terhadap “lu”, harta dapat digunakan untuk melanggengkan keberhasilan; mempertahankan dan makin meningkatkan pencapaian. Harta juga bisa digunakan untuk menjaga kedudukan dan status sosial ekonomi di mata masyarakat. Jaminan supaya tetap menjadi orang terpandang.

Mengenai “shou”, harta dapat dimanfaatkan untuk menjaga dan menyembuhkan dari gangguan kesehatan. Kendati masih berupa upaya; entah berhasil atau tidak.

Harta juga dapat menghidupkan suasana, membuat situasi yang sepi menjadi ramai, menghimpun banyak orang. Entah apakah mereka benar-benar peduli dengan si pemilik harta, atau sekadar aji mumpung menjadi benalu.

Pandangan tentang kemakmuran tadi mendorong banyak orang bersusah payah, pontang-panting mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Beberapa di antaranya malah tidak lagi peduli dengan sekitar dan menghalalkan segala cara. Pada akhirnya, apa yang mereka anggap mampu membuat bahagia, justru menyeret mereka ke realitas sebaliknya. Sisa hidup pun dipenuhi kekhawatiran dan ketakutan berlebihan, ketidakwarasan, penyakit, serta ketidakberdayaan menghadapi kenyataan.

Dari sudut pandang “fu”, tidak ada yang salah dengan dorongan untuk mencari dan mengumpulkan harta. Hanya saja, titik akhirnya tidak terletak pada keberlimpahan, melainkan ketercukupan. Prinsip ini pun menjalar ke pertanyaan berikutnya, “Seberapa cukup?

Semua orang tentu punya jawabannya masing-masing, dan secara pribadi, saya yakin bahwa (1) rasa cukup bisa membahagiakan, dan (2) kebahagiaan itu bisa mencukupi.

Sungguhlah beruntung bila mampu merasa sungguh-sungguh cukup.

Saya ingin tutup tulisan hari ini dengan satu pertanyaan perbandingan. Mana yang lebih memberikan rasa bahagia; meminum segelas air putih saat sedang haus-hausnya di siang hari yang panas, atau meminum segelas air putih untuk membantu menelan makanan?

[]

Aku Fobia Padamu, Mz…

Kepala saya akhir akhir ini sering gatal kalau melihat perdebatan di media sosial, kemudian kata ‘Islamofobia’ dilemparkan dengan mudahnya. Bukan karena kepala saya sedang dijangkiti jamur, tetapi kata Islamofobia itu sendiri. Sebenarnya bagaimana sih kalau seseorang itu menderita fobia terhadap sesuatu? Ini saya salin dan tempel dari Google:

Fobia (gangguan anxietas fobik) adalah rasa ketakutan yang berlebihan pada sesuatu hal atau fenomena. Fobia bisa dikatakan dapat menghambat kehidupan orang yang mengidapnya. Bagi sebagian orang, perasaan takut seorang pengidap fobia sulit dimengerti.

Tahu bahwa fobia itu gangguan yang seperti apa saja sudah membuat saya kesal dengan istilah Islamofobia. Apakah orang orang yang dituduhkan dengan kata ini memiliki ketakutan yang tidak rasional dengan yang menyangkut Islam? Apakah melihat masjid mereka akan tunggang langgang ketakutan? Apakah ketika melihat seseorang menggunakan pernak pernik “Islami” lalu mereka lebih baik mengurungkan niat menaiki kendaraan yang sama atau lebih baik putar balik ke arah sebaliknya agar tidak sejalan dengan dia? Kalau memang tetap keras kepala menggunakan kata Islamofobia, seharusnya ini yang terjadi.

Tetapi kan, kenyataannya tidak.

Kalau kita lihat istilah-istilah yang menggambarkan diskriminasi dari ras atau golongan tertentu, tidak ada yang menyebut agama selain Islamofobia. Ada ‘anti-semit’ tetapi tidak ada ‘judaismofobia’.

Kenapa istilah Islamofobia bisa menimbulkan masalah? Karena dia tidak memisahkan mana yang menunjukkan diskriminasi dan kebencian terhadap orang yang memeluk agama Islam atau muslim, mana yang kritik valid tentang Islam sebagai ideologi. Kritisi terhadap ideologi bisa mengajak masyarakat berpikir lebih kritis, sementara kebencian dan diskriminasi dapat memecah belah. Bigotry adalah intoleransi dengan seseorang yang memiliki pendapat atau kepercayaan berbeda, jadi ke orangnya, bukan ke kepercayaan atau pendapatnya.

Sungguh membuat malas ya, kalau kita berusaha menyuarakan kritik terhadap suatu ideologi yang cukup valid dan evidence-based, dengan harapan membuka dialog, lalu dimatikan begitu saja dengan cap seperti, “ISLAMOFOBIA!” A real conversation killer. Kalau memang suatu ideologi tidak boleh dikritik sama sekali, berarti tidak boleh juga dong, mengkritik komunisme, sosialisme dan isme-isme lain yang kini dianggap musuh dalam selimut yang sangat berbahahahahaya (really?). Double standard, much?

Izinkan saya mengutip Ali Rizvi, idola saya di komunitas eks muslim:

dan satu lagi:

Jadi, rekomendasinya, kalau memang ada orang yang melemparkan kebencian terhadap seorang muslim karena kemuslimannya, bahkan sampai membedakan perlakukan dengan orang non-muslim, dan nyata sekali, lalu ingin ada cap terhadap orang ini, sebut saja lah dia anti-muslim. Sebut aksinya anti-muslim bigotry.

Rekomendasi lainnya; kalau ada komik yang bercerita soal diskriminatifnya Islam sehingga membabi buta membenci atau anti terhadap satu golongan yang berbeda dengan kepercayaan Islam sampai banyak pernyataan seolah menyakiti golongan tersebut “halal”, tak perlu lagi menyebut Islamofobia, karena mempertanyakan sebuah ideologi masih legal, kok. Tak perlu marah dan mencap ini itu, let’s just agree to disagree, dan tetap saling menghormati.

Apa kamu bilang? Islam itu bukan ideologi dan murni buatan Tuhan? Hahahaha, bercanda kamu…

EMlrZldU8AAkl5C
Kalau kayak gini fobia apa, dong? (kredit: @nynecomics)

 

 

Bersiap dan Menyesuaikan Diri

SAAT menulis ini, saya sebenarnya masih lumayan ketar-ketir. Beberapa kali menengok ke luar jendela, berharap agar langit mendung di atas sana tidak mendadak tumpah, menjadi hujan deras. Soalnya, banyak orang masih bertahan di pengungsian, dan beberapa yang lain baru mulai bersih-bersih setelah banjir berangsur surut menyisakan lumpur serta perabotan basah. Selain itu, ya … tentu saja karena saya bakal kesulitan lagi. Sulit bepergian, sulit mencari makan, sulit ini, sulit itu. 

Tempat tinggal saya sendiri saat ini, syukurnya, tidak tergenang–meskipun terkepung–banjir. Ketika harus susah payah berjalan kaki sejauh 6 km dan menerobos banjir setinggi hampir 1 meter untuk pulang pada 2 Januari malam lalu, saya setidaknya tetap bisa dalam situasi kering, mendapatkan penerangan, bisa mendapatkan air bersih, dan peralatan elektronik tidak sampai rusak.

Privilese? Tentu saja. Namun, bukan itu yang mau diobrolin hari ini. Saya malah kepingin meneruskan obrolan Mas Nauval dalam tulisannya pekan lalu; selalu berharap yang terbaik, dan selalu bersiap untuk kemungkinan paling buruk sekalipun. 

Tanpa menafikan tentang krisis iklim yang turut diteriakkan gara-gara banjir di awal 2020 ini, setiap hal selalu terdiri atas tiga fase: sebelum, saat, dan sesudah.

Perkara kesadaran atas krisis iklim; pembuatan sumur resapan; kedisiplinan membuang sampah dengan baik atau bahkan penerapan gaya hidup minim sampah plastik; hingga upaya mengamankan langkah-langkah politik agar tidak menghambat hal-hal yang telah disebut sebelumnya, merupakan perkara sebelum dan sesudah peristiwa. Simpan sajalah dahulu sampai semuanya menuju pulih, saat rasa lelah dan letih yang tersisa masih relevan untuk bicara pencegahan. 

Begitu peristiwa mulai terjadi, seperti yang dikatakan Mas Nauval di atas: Hope for the best, prepare for the worst. Kenapa prepare for the worst-nya tidak dipikirkan sedari awal, di fase “sebelum”? Karena kondisi worst dalam konteks antisipasi atau pencegahan selalu tidak gawat darurat. Belum terasa pentingnya sebelum mulai terjadi. Saat peristiwa terjadi, situasi worst barulah berdampak pada survival, urusan selamat dan tidak selamat, serta paling mungkin bikin orang panik, mendadak sukar berpikir cermat.

Dari berharap yang terbaik dan bersiap untuk yang terburuk, ingin saya lanjutkan dengan kesiapan menghadapi krisis dan fleksibilitas menyesuaikan diri terhadap keadaan. Bersiap untuk yang terburuk, termasuk mempersiapkan segala hal yang bisa dijangkau dalam menghadapi krisis. Beruntungnya, banyak ringkasan dan petunjuk singkat terkait ini.

https://i1.wp.com/www.pantau.com/uploads/news/content/1577926723-29816268.png?w=1540&ssl=1
Infografik: Pantau.com

Bagi yang berpengalaman, atau pernah mengalami, kemungkinan besar sudah tahu harus mempersiapkan apa dan bagaimana caranya bersiaga. Sementara bagi yang baru pertama kali mengalaminya–mudah-mudahan musibah banjir sudah tuntas sepenuhnya hari ini–setidaknya bisa belajar dari pengalaman di awal tahun. Dari yang tidak tahu, menjadi tahu. Dari yang abai, menjadi lebih peduli.

Sedikit cerita mengenai ini, saya cukup bersyukur lahir dan besar di Samarinda. Sedari kecil, sudah relatif terbiasa dengan curah hujan yang tinggi dan konstan sepanjang tahun, berenang dan akrab dengan arus Sungai Mahakam. Kemudian, terpapar dengan bahaya maut saat banjir untuk pertama kalinya saat duduk di bangku SMP (terjatuh dalam lubang gorong-gorong yang dalam dan berarus deras). 

Berlanjut ketika bekerja sebagai jurnalis sekaligus pewarta foto di surat kabar lokal Samarinda. Musim hujan dan banjir parah setidaknya berlangsung sekali dalam setahun. Entah sambil berjalan kaki atau menumpang perahu karet lembaga-lembaga penyalur bantuan, pemerintah maupun organisasi sosial, blusukan ke kawasan pemukiman yang rendah dengan ketinggian banjir sampai lebih dari 130 cm. Banjir yang terjadi agak dimaklumi kala itu, sebab Samarinda dikepung lokasi-lokasi tambang batu bara berbagai skala. Belum lagi Bendungan Benanga di Samarinda Utara yang tak mampu menahan debit air dari utara kota.

“Sambil menunggu banjir surut.”
Salah satu foto banjir Samarinda, Mei 2008.

Peristiwa banjir Jakarta yang akhirnya turut saya alami pada tanggal 2 dan 3 Januari kemarin pun, ya … kurang lebih semodel dengan yang pernah saya alami beberapa tahun sebelumnya di Samarinda. Berbekal pengalaman tersebut, saya berusaha berhati-hati. Misalnya: 

  • Memilih jalur arah pulang yang sudah diakrabi, agar bila berjalan dalam banjir dan gelap sekalipun, tetap bisa terhindar dari lubang tergenang dan potensi bahaya lainnya. 
  • Sebisa mungkin tidak melepas alas kaki saat menerjang banjir. Biarlah sneakers saya rusak karena dipakai berjalan dalam banjir, daripada telapak kaki saya robek kena pecahan kaca. Kendati di beberapa titik, ada saja orang yang bilang kepada saya untuk melepas sepatu supaya bisa berjalan lebih cepat. 
  • Apabila tidak mau/tidak memungkinkan untuk pulang, bersiap untuk menumpang/menginap/mengungsi. Jangan rempong. Situasi darurat, bukan staycation. Kecuali banyak duit dan buka kamar di hotel. Terserah you.

Hal-hal di atas ada kaitannya pula dengan fleksibilitas menyesuaikan diri terhadap keadaan. Banjir melanda semua orang; semua orang menjadi korban. Kita penting, orang lain pun penting. Jika kondisi memaksa untuk berjalan kaki menuju akses kering, ya, berjalanlah. Santai saja. Keluhan dan gerutu tidak akan bikin banjirnya surut. Kecuali kalau kamu punya kemampuan seperti Nabi Musa; membelah air.

Masih bisa bekerja, ya, bekerjalah. Namanya juga musibah, bos di kantor pun bisa memaklumi. Kalau tidak bisa memaklumi, coba saja dilihat sejauh apa dampaknya. Unpaid leave? Harus memotong uang makan, atau mengurangi jatah cuti? First things first. Akan tetapi, yang satu ini lagi-lagi ada urusannya dengan privilese. Fokus sajalah pada hal yang lebih penting dan gawat darurat. 

Jikalau status sosial dan ekonomi belum memampukan kita untuk sefleksibel itu, setidaknya mindset kita sudah mengarah ke situ. Biar enggak nambah-nambahin otak sumpek. Setelah semua reda, baru deh berjuang menyuarakan kesadaran akan lingkungan dan krisis iklim. 

Enggak gampang, memang, tetapi, namanya juga berharap yang terbaik, bersiap untuk yang terburuk, siap menghadapi krisis, dan fleksibel menyesuaikan diri terhadap keadaan. Toh, lebih mudah dibaca (dan dipahami) saat tidak sedang kebanjiran, kan? Padahal, sikap ini pun bisa diterapkan pada hampir segala hal. Musibah dan bencana alam, maupun musibah dan bencana hati serta pikiran.

[]

Btw, tetap siaga dan berjaga-jaga. Cuaca ekstrem berupa hujan deras dan kroni-kroninya berpotensi terjadi antara tanggal 11 sampai 15 Januari mendatang.

Hope for the Best, Prepare for the Worst

Kata-kata yang menjadi judul di atas saya temukan pertama kali di sebuah buku tulis yang saya beli waktu duduk di bangku sekolah. Saya terkesan sekali dengan kata-kata tersebut, sampai sering sekali saya gunakan di berbagai kesempatan.

Waktu “digojlok” menjadi siswa baru, saya selalu menulis kata-kata tersebut di tulisan yang harus kami buat setiap harinya untuk diserahkan ke kakak-kakak kelas yang “menggojlok” kami. Waktu dicurhati teman, entah berapa kali saya menggunakan kata-kata ini sebagai salah satu tanggapan saat ditanya, “What do you think I should do?”

Demikian pula di kehidupan nyata. Acap kali saya sering menemui kejadian, di mana saya sudah berharap akan mendapat sesuatu, ternyata yang terjadi malah sebaliknya. Waktu sedang menulis tulisan yang sedang anda baca ini, misalnya. Saya memilih kedai kopi ini dengan harapan bisa mendapat tempat duduk yang dekat colokan listrik, eh ternyata tempat itu sedang ramai dengan keluarga yang sedang berlibur. Alhasil, saya duduk di tempat lain, sambil berharap rombongan keluarga ini segera menyelesaikan kegiatan mereka di meja tersebut.

Tentu saja saat saya sedang menulis ini, pikiran saya melayang ke ibu kota Indonesia yang sedang dirundung kemalangan. Musibah banjir ini bisa dibilang yang terberat yang pernah dialami, karena hanya dalam hitungan jam, hujan deras mampu meluluh lantakkan pergerakan seluruh kota, dan mengakibatkan beberapa korban jiwa.

Saat ini saya berada di luar Jakarta. Tapi pikiran saya tidak lepas ke teman-teman, lingkungan sekitar dan rekan-rekan lain yang sedang bertahan hidup. Termasuk pula beberapa orang yang baru saja kembali dari liburan akhir tahun. Siapa yang menyangka, saat pulang dari liburan, harus menghadapi kenyataan yang mengenaskan? Siapa yang menyangka juga, liburan harus berakhir dengan genangan?

Tidak ada yang menyangka kapan musibah datang menimpa kita, meskipun kita sudah menyiapkan diri sebaik mungkin. Dan atas pemikiran inilah, saya meyakini bahwa saat kita hope for the best, sebenarnya secara otomatis kita sedang prepare for the worst. Dalam diam kita, kita berdoa dan berharap, sambil otak terus berpikir untuk mempersiapkan diri. We hope by preparing. Mempersiapkan mental, mempersiapkan perasaan, mempersiapkan fisik, mempersiapkan materi, dan segala jenis persiapan lain.

Lewat tulisan ini, saya ingin menyampaikan duka cita buat semua korban peristiwa banjir awal tahun 2020 ini. Untuk mereka yang harus berpisah dengan orang-orang tercinta, saya ikut berdoa, semoga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan. Untuk mereka yang terpaksa merelakan harta yang telah dimiliki dengan jerih payah sekian lama, saya ikut berdoa, semoga akan ada pengganti yang lebih baik. Untuk yang masih bertahan, semoga kita semua bisa terus bertahan, membantu sama, dan mempersiapkan diri untuk kemungkinan apa pun.

We never know what the future brings. We can only hope for the best, and prepare for the worst.

Memulai dengan Mendengar

SELAMAT menjalani tahun baru, dengan cara kita masing-masing.

Seperti lazimnya. Ada yang memasuki tahun baru dengan segudang proyeksi dan rencana yang siap dijalankan. Aspirasi atau resolusi hidup yang baru, cita-cita atau tujuan yang baru, karier atau lingkungan pekerjaan yang baru, sekolah atau kampus yang baru, rumah dan lingkungan tempat tinggal yang baru, kehadiran seseorang di dalam hidup, maupun niat atau tekad penting yang baru dalam hidup.

Ada juga yang mulai memasuki tahun baru laksana tangkai-tangkai biji bunga Randa Tapak; luwes melayang mengikuti arah angin, hingga akhirnya bertahan di satu tempat, dan apabila ideal, akan mulai bertumbuh dan berkembang seiring berjalannya waktu. Ringan, tanpa perkiraan yang berlebihan, apalagi keinginan-keinginan.

Image result for dandelion animated gif
Randa Tapak

Ada yang memasuki tahun baru dengan “penambahan”, ada pula yang “kehilangan”. Saya sendiri, hari ini masih dalam suasana berduka setelah ditinggal tante yang berpulang tepat tanggal 25 Desember kemarin. Sementara bagi para sepupu dan keponakan‒anak dan cucu mendiang, mereka akan mulai menjalani tahun baru dengan pergi ke perairan Situbondo untuk melarung abu jenazah. Besok.

Kita semua punya cerita masing-masing dalam memasuki tahun yang baru ini. Namun, pada dasarnya, apa yang akan kita hadapi bersama nanti sepenuhnya merupakan misteri. Tak seorang pun yang benar-benar tahu apa yang akan diperoleh, dialami, dirasakan, atau dilepaskan. Segala yang telah terjadi di tahun kemarin, bahkan sampai di detik terakhir 31 Desember 2019, sudah berlalu. Sekeras apa pun rasanya; semenyangkan atau setidakmenyenangkan apa pun rasanya; sebesar atau sekecil apa pun rasanya; berhasil tercapai atau tidak, semua hal itu sudah berlalu. Hanya menyisakan ingatan, dan pengalaman.

Mau kamu apakan pengalaman-pengalaman tersebut, itu menjadi hak prerogatifmu seutuhnya. Akan tetapi, entah mau kamu bagaimanakan ingatan-ingatan tersebut, semua itu akan tetap menjadi kenangan. Ingatan yang di setiap kemunculannya akan selalu memberikan sensasi rasa, dan hanya itu saja. Tak lebih.

Satu hal lainnya, kita semua sama-sama memasuki tahun baru ini sebagai individu yang telah berbeda, berubah dari sebelumnya. Entah seperti apa perubahan itu; menjadi lebih baik atau tidak (menurut standar sosial yang diterima umum, atau mungkin menurut penilaian kita sendiri). Harapan, kekhawatiran, kerisauan dan kegelisahan, semangat, ketakutan, keragu-raguan, kegembiraan, kekecewaan, apatisme, serta beraneka perasaan manusiawi lainnya mustahil lenyap. Pasti akan ada, dan oleh karenanya, coba diamati saja. Kita belum tentu sekuat hati itu, atau sebijaksana itu untuk bisa menepis perasaan-perasaan tersebut.

Setidaknya, yang bisa kita lakukan, barangkali adalah memulai dengan mendengar. Mendengar diri kita sendiri; mendengar isi hati kita sendiri.

Apakah yang sebenarnya aku inginkan?
Ini kah yang sebenarnya aku inginkan?

Apa yang kurasakan?

Tahun lalu kita mungkin terlalu sering mengabaikan diri sendiri, tidak mengacuhkan pemikiran, pertimbangan, dan suara hati. Tahun ini, dengan cara ini, kita mungkin bisa memulai berdamai dengan diri sendiri. Berhenti bertikai dengan diri sendiri.


Ya sudah… tak usah terlampau serius bacanya. Semalam kan habis begadang bersama teman-teman. Recovery tenaga dulu saja, toh, besok kan sudah kembali masuk kantor dan bekerja.

Selamat menjalani tahun baru. Selamat di permulaan, selamat di pertengahan, dan selamat di penutupan.

[]

Melihat (Kembali)

Setelah riuh rendah Natal berlalu, biasanya kita langsung terpaku. Tak perlu lama-lama, biasanya juga persis sehari sesudah Natal, kita mulai terpaku, termenung atau melamun. Memikirkan apa-apa saja yang sudah terjadi dan berlalu sepanjang tahun. Mumpung malam perayaan tahun baru masih kurang dari seminggu.

Banyak orang bernafas lega bisa survive di tahun 2019. Tahun politik yang gaduh, sangat gaduh sehingga memecah belah persatuan, persaudaraan dan persahabatan banyak orang. Nyatanya, yang dibela mati-matian tetap saja melenggang. Memberikan dampak kecil bagi kehidupan kita.

Banyak juga yang mengaku menyerah, habis-habisan di tahun 2019 ini. Sudah banyak yang dikorbankan untuk urusan bisnis, keluarga, pekerjaan, pasangan hidup, maupun lain-lain yang ternyata tidak membuahkan timbal balik yang sudah dibayangkan atau direncanakan.

Saya memasuki umur baru yang cukup signifikan di tahun 2019 ini. Terus terang, sempat “jiper”. Ketakutan saya tertutupi oleh kesibukan yang kebetulan bertepatan dengan hari umur baru saya dimulai. Maklum, di usia baru, yang sering diimbuhi dengan kata-kata di awal “life begins at …”, membuat saya banyak berpikir, mulai dari “Am I really here?”, sampai “What have I done up to this age that made me proud?”

Jawaban pertanyaan kedua ternyata masih dicari. Dari sekian pemikiran, belum ada yang “ajeg”. Mungkin malah tidak ada pernah ada jawaban yang pas, karena pasti ukuran kepuasan itu selalu berubah-ubah, atau berevolusi mengikuti perkembangan waktu.

Namun perubahan lain yang cukup signifikan yang saya rasakan tahun ini adalah hidup berkecukupan. Tidak, saya tidak mendapatkan kenaikan penghasilan yang melonjak tajam. Untungnya, tidak sampai turun tajam pula. Tapi saya merasa mulai hidup berkecukupan.

Alias, living enough.

Pada akhirnya, mulai tahun ini saya bisa merasa cukup dengan apa yang saya miliki. Terutama dari segi materi. Tidak merasa kurang kalau belum memiliki barang baru, karena yang sudah dipunya masih bisa berfungsi baik. Tidak merasa kurang kalau belum menyiapkan cadangan ekstra, terutama makanan, karena toh tinggal sendiri, sehingga cukup menyediakan makan untuk seorang diri. Tidak perlu buru-buru beli buku yang lagi diskon di Kindle, karena masih banyak buku yang belum sempat dibaca. Tidak perlu buru-buru subscribe streaming platform yang lain, karena pada akhirnya waktu juga yang menghalangi kita untuk menonton banyak film dan serial.

Dan tidak keberatan hidup sendiri, serta pelan-pelan menerima dan mengatasi kesendirian seorang diri.

Sounds simple? Trust me, it is far from simple. It is hard at times, and it is still hard at times.

Saya pun masih berjalan pelan, sangat pelan malah, untuk mulai merasa cukup ini. Kadang-kadang masih muncul keinginan-keinginan untuk memiliki yang sebenarnya we just want to have, not we need the most. Biasanya saya sengaja ambil waktu lama untuk mengambil keputusan, sambil berpikir, “Is it necessary?”

Saya pernah membaca, dan saya lupa pula sumbernya di mana, tentang seorang pengulas gawai terbaru, yang ditanya, “What is the best product you can recommend to anyone right now, honestly?” Lalu dia jawab, “Honestly? The best product you need to have right now is the one you are already using it. If you use what you have on daily basis, you use it well to run your lfe, and it is still working well, then it is enough.

It is enough. This is enough. Itu sudah cukup membuat saya melihat kembali setahun belakangan ini sebagai momen untuk merasa cukup.

Selamat libur akhir tahun.

Sepuluh (dan Sembilan) Film Favorit Tahun 2019

Jujur saya akui, sekitar 20% atau hanya seperlima dari total film yang saya lihat di tabun 2019 ini saya tonton di bioskop komersial di Indonesia, di penayangan reguler. Unexpectedly, frekuensi menonton film untuk urusan pekerjaan melonjak cukup tajam tahun ini.

Oleh karena itu, sebelumnya saya mohon maaf kalau ada judul-judul yang belum familiar. Saya sangat berharap dengan menempatkan judul-judul yang saya tonton baik di festival film internasional maupun dari private screening links yang diberikan untuk kepentingan profesi, teman-teman bisa mencari atau mulai menandai film-film tersebut. Kalau ada yang kebetulan sedang diputar, usahakan untuk datang menonton. Kalau sudah tersedia di jalur tontonan legal, baik itu streaming platform atau toko semacam iTunes Store, go and find them.

Yang pasti film-film ini dekat dengan saya. Mereka memberikan perasaan yang membuncah seusai menontonnya, yang tak lekas hilang saat selesai menontonnya.

Dan inilah dia.

Sembilan film yang juga meninggalkan kesan yang mendalam, dalam urutan acak:

Rocketman

The Farewell

Gully Boy

Between Two Ferns

Uncle

Towards the Battle

Flesh Out

For Sama

Late Night

 

Dan sepuluh film favorit saya di tahun 2019 ini adalah:

10. Homeward

homeward-imdb
Homeward (source: IMDB)

Cerita tentang perjalanan ayah dan anak melintasi kawasan yang berbahaya sudah banyak diangkat ke layar lebar. Namun yang terasa istimewa dari debut penyutradaraan Nariman Aliev ini adalah perjalanan emosi dua karakter ayah dan anak sepanjang film yang membuat kita enggan berpaling sedetik pun. Selayaknya film bertema road trip, perjalanan yang dilakukan ayah dan anak ini mengubah cara mereka melihat satu sama lain, dan pada akhirnya mengubah hidup mereka. But not in the way we expect it to change. Film dari Ukraina ini terasa menusuk hati sampai pelan-pelan saat end credits mulai terbaca. It is powerful.

 

9. Stars by the Pound

stars-by-the-pound_unifrance
Stars by the Pound (source: Unifrance)

Tahun ini saya melihat cukup banyak coming of age films. Namun entah mengapa film Stars by the Pound yang terus membekas di ingatan saya. Film dari Perancis ini bercerita tentang Lois, seorang anak obesitas yang bercita-cita ingin menjadi astronot. Segala cara dia tempuh untuk menampilkan karya ilmiahnya sebagai jalan pintas untuk mengikuti program menjadi astronot, termasuk berkomplot dengan gadis-gadis remaja yang dianggap sebagai outcasts untuk memuluskan jalannya. Film low profile ini nyaris lewat dari radar saya, sampai saya menontonnya dan menitikkan air mata sembari tersenyum lebar di akhir film. Sensasi ajaib yang jarang saya rasakan di antara film-film lain selama bertahun-tahun.

 

8. Dolemite is My Name

dolemite-npr
Dolemite is My Name (source: NPR)

Ada ungkapan kalau sebuah karya dibuat dari hati, maka kita yang menikmati karya tersebut juga bisa merasakan isi hati para pembuatnya. I’m not among those who believe that, actually. Tapi kalau anggapan itu benar, maka film Dolemite is My Name bisa jadi contoh nyata. I don’t know about having a good heart, tetapi melihat film ini somehow kita bisa merasakan bahwa semua pemain dan pembuat filmnya benar-benar having fun saat membuat filmnya. Eddie Murphy tidak pernah terlihat se-relaxed dan sepercaya diri ini di film. Dia tahu betul apa yang harus dia tampilkan untuk menghormati legenda karakter Dolemite ini. Dan totalitas Eddie Murphy di sini membuat kita langsung menyelami dunia hiburan “blackploitation” tahun 1970-an tanpa kita perlu merasa familiar dengan dunia tersebut. Itu karena semua pembuat film yang terlibat di sini, they look like having a blast making this film. And it shows.

 

7. Extra Ordinary

extra-ordinary-Collider
Extra Ordinary (source: Collider)

Another film that came out of nowhere, and then … Boom! Film ini luar biasa jahilnya. Seorang guru sekolah mengemudi, Rose, mempunyai bakat bisa melihat dan berkomunikasi dengan orang-orang yang sudah meninggal, dan kemampuannya ini acapkali mengganggu hidupnya. Sampai akhirnya ada dua orang yang membuat Rose mau tidak mau menggunakan seluruh kemampuannya lagi: muridnya di sekolah mengemudi, dan seorang rockstar yang mencari darah perawan untuk bisa membuat album baru. Sebuah cerita yang bisa membuat kita mengernyitkan kening. Namun saat saya menontonnya, saya benar-benar tertawa terbahak-bahak sepanjang film. Dan in a very rare chance, justru Will Forte, komedian alumnus Saturday Night Live, yang ‘disalip’ comic timing-nya oleh aktor-aktor Irlandia yang semuanya bermain cemerlang. Kalau ada penghargaan film tergokil tahun ini, inilah pemenangnya. It’s bloody hilarious!

 

6. Marianne and Leonard: Words of Love

leonard-marianne-TheTimesUK
Marianne and Leonard: Words of Love (source: The Times)

Leonard Cohen memang mempunyai kharisma luar biasa. Persona yang ditampilkan lewat musik dan gaya panggungnya bisa membuat jutaan orang “klepek-klepek”. Film dokumenter ini mengesahkan imaji tersebut, dan mengeruknya lebih dalam lagi lewat kisah Leonard Cohen dengan Marianne Ihlen, yang menginspirasi banyak karya populer Leonard selama bertahun-tahun, sampai akhir hayat mereka. It’s common to portray love in feature film, but how do you capture that in documentary that also makes us feel the love? Kisah cinta yang nyata tidak mudah diterjemahkan dalam genre dokumenter yang sangat tergantung pada fakta. Namun film dokumenter ini berhasil menerobos kesulitan tersebut. Just like when we can only feel the depth of Leonard Cohen’s songs. Rasa yang ditimbulkan film ini persis seperti itu.

Dan inilah lima film favorit saya tahun ini.

5. American Factory

american-factory-Bloomberf
American Factory (source: Bloomberg)

Tidak mudah membuat cerita yang ‘netral’ dalam dokumenter. Kala ada dua sisi cerita yang berlawanan dan harus saling ditampilkan, pasti ada satu sisi yang menjadi titik berat penyampai cerita atau pembuat film. Ada satu yang lebih ditonjolkan. Namun hal ini tidak kita lihat dalam film dokumenter American Factory, yang dengan cermat menampilkan masing-masing sisi baik dan buruk dari kultur bekerja di pabrik di Amerika Serikat dan Tiongkok. Membuat cerita yang berimbang tidaklah mudah, malah nyaris mustahil. Namun saat itu terjadi, kita akan dibuat takjub sepanjang ceritanya.

 

4. Marriage Story

Marriage-Story-3-SparkChronicles
Marriage Story (source: Spark Chronicles)

Another film about a married couple going through bitter divorce process? Yes.

Two likeable actors playing the leads? Yes.

Dialogue bantering with lines that sting? Yes.

A child in between? Yes.

Emotional? Yes.

Make us chuckle at times? Yes.

Make us want to repeat watching the film? Yes.

I rest my case.

 

3. Joker

Joker-LineToday
Joker (source: Line Today)

Di saat ramai terjadi kasus kekerasan bersenjata pada saat pemutaran film, nyatanya tidak ada kasus serupa saat pemutaran film Joker ini. Bisa jadi karena film ini begitu nyata menampilkan secara visual pergulatan batin atas kekerasan fisik dan psikis yang terjadi di sekitar kita, yang tidak hanya bisa mempengaruhi tapi bisa mengubah jalan hidup kita. Terkesan bombastis? Maybe. Tapi itulah yang saya perhatikan dan rasakan dari film ini. How does one inhabit violent acts and thoughts? Because of the world one lives in. Menampilkannya dalam bahasa visual yang menggugah banyak orang, that’s the crowning achievement of the film.

 

2. God Exists, Her Name is Petrunya

Petrunya-IndependentMagazine
God Exists, Her Name is Petrunya (source: Independent Magazine)

Begitu keluar dari gedung bioskop yang memutar film ini di Berlinale bulan Februari lalu, saya buru-buru mencari tempat untuk menyendiri dan menghela nafas panjang. “What was that I just watched?” Hanya dalam 100 menit, film dari Macedonia ini berhasil membuat kita tercengang dan sepanjang film cuma bisa berpikir, “This is us! This could happen here! This is what the world is right now!” Film ini bercerita tentang seorang gadis remaja yang putus asa mencari pekerjaan, namun secara tak sengaja dia malah ikut sebuah kompetisi ritual religius yang sebenarnya hanya diperuntukkan untuk kaum pria, dan menang. Lalu bergulir cerita tentang patriaki, sosial ekonomi, dan the world order yang sangat relevan untuk diikuti. And at times, this film can be funny, too. Saya sangat menyarankan apabila ada penayangan film ini, tontonlah. Prepare to be mesmerized. One of the most unforgettable films in decades.

 

1. Parasite

Parasite-PasteMagazine
Parasite (source: Paste Magazine)

Saya sengaja melewatkan penayangan Parasite di Cannes, karena berpikir, toh filmnya akan diputar di sini. Namun ada yang aneh. Setelah beberapa kali penayangan film tersebut di sana, setiap saya meeting, semua orang memuji film tersebut. Saya tidak mendengar satu pun yang berkomentar negatif tentang film ini. Ini jarang terjadi, karena hampir semua film kompetisi di Cannes pasti mengundang reaksi yang bertentangan. But impossibly, everybody loves Parasite in unison. Setelah menonton di bioskop, baru sadar kenapa film ini begitu istimewa. Kemampuan film ini membelokkan genre sambil masih menjaga logika bercerita, that’s what only an excellent master like Bong Joon-ho can do. Cerita tentang class division and social gap yang selalu relevan, ditampilkan dengan gamblang apa adanya, sambil tetap menjaga estetika produksi yang membuat kita betah menontonnya. Now here’s the thing about Parasite: it is a very mainstream movie. Tonton lagi, dan amati sudut pandang pengambilan gambarnya. Komposisi gambarnya. Penampilan tokoh-tokohnya. We’ve seen all before, and it looks familiar to us. Pendekatan populis yang diambil film ini berhasil membuat kita masuk ke universe yang diciptakan Bong Joon-ho, membuat film ini kuat dalam penceritaan, dan saya yakin, banyak teman-teman yang juga memilih film ini sebagai film favorit atau bahkan film terbaik tahun ini.

Tapi selain film Parasite dan film-film lain di atas, apa film favorit teman-teman tahun 2019 ini?

Kebencian

PERNAH suatu ketika selepas sesi ceramah diskusi di satu vihara di utara Jakarta, saya dihampiri salah seorang umat peserta. Siswi SMP, atau barangkali masih awal-awal SMA, yang rupanya punya beberapa pertanyaan, tetapi terlampau malu untuk menyampaikannya saat sesi berlangsung.

Ko, kalau ada seseorang yang jahat banget sama kita, padahal kita sudah berusaha ngomong baik-baik, tetapi tindakannya semakin tidak menyenangkan, sampai-sampai kita yang tadinya berdoa supaya dia berbahagia biar tidak lagi menyusahkan kehidupan orang lain, doanya berganti menjadi semoga orang tersebut cepat-cepat ‘pergi’, itu kira-kira apakah saya sudah berbuat jahat?

Foto: Abhisek

Mendapatkan pertanyaan yang demikian, jelaslah bahwa kehidupan manusia itu kompleks, rumit, tidak segampang teori-teori yang pernah kita baca. Agak susah untuk tidak menjawabnya secara normatif, atau yang setidaknya masih bisa diterima dari sudut pandang moralitas sosial, yang pada akhirnya hanya kembali berujung pada dualitas kaku benar versus salah.

Kebiasaannya selama ini, tanpa berupaya benar-benar memahami yang terjadi dan menyelidiki lebih jauh, kita langsung mendaratkan tudingan “Kamu salah. Tidak boleh!” Kalaupun bahasanya ingin sedikit diperhalus, paling-paling akan menjadi “Kamu sebaiknya tidak boleh begitu.” Pada intinya, langsung memberikan penilaian akhir. Apalagi bila yang ditanya adalah seseorang yang merasa memiliki reputasi, patut dijadikan tempat bertanya dan meminta solusi.

“Untungnya” saja, pertanyaan tadi ia sampaikan dalam konteks pemahaman Buddhisme, sehingga pandangan dan tanggapan yang saya coba tawarkan relatif lebih mengerucut. Lah wong, saya sendiri masih gampang merasakan kebencian terhadap sesuatu atau seseorang, kok.

Ko, apakah saya sudah melakukan kamma buruk?

Lalu, apa pandanganmu terhadap pertanyaan tersebut?

Bolehkah membenci seseorang yang telah berlaku jahat kepada kita?

Titik pusatnya ada pada emosi atau perasaan. Anugerah sekaligus kutukan bagi manusia, barangkali bisa disebut begitu. Anugerah, lantaran itulah yang mampu memanusiakan manusia; memampukan manusia menjadi manusia; memberikan rasa.

Kutukan, lantaran perasaan pulalah yang seakan-akan menguasai kita. Terutama untuk segala hal yang tidak menyenangkan, memberatkan hati, menyedihkan, mengecewakan, bahkan yang menderitakan. Termasuk kebencian kita terhadap sesuatu atau seseorang, baik karena perlakuannya, karakteristiknya, maupun hal-hal lain.

Dalam hal ini, perasaan dapat membuat hati kita berkembang sedemikian besar, menjadi gembira atau senang setelahnya. Sebaliknya, perasaan juga bisa memberikan siksaan, yang salah satu bentuknya ialah kebencian. Saking bencinya, membuat kita menginginkan‒berharap‒agar objek kebencian kita tersebut lenyap secepatnya.

Sampai pada poin ini, bolehkah kita membenci?

Kita mustahil agaknya untuk bisa mengenyahkan perasaan sepenuhnya. Sekuat-kuatnya kita, paling kuat hanya mampu membendung rasa terhadap perasaan yang muncul. Namun, kita tak akan bisa menjadi makhluk yang tidak punya perasaan, atau kemampuan merasa, sama sekali. Oleh sebab itu, perasaan benci akan tetap bisa muncul dalam kehidupan kita, menjadi sebuah fenomena mental yang alamiah dan wajar.

Akan tetapi, jauh lebih penting bagi kita untuk mengenali dan mengelolanya. Tak hanya perasaan, manusia memiliki akal budi. Tak hanya merasakan kebencian dan dibuat terombang-ambing olehnya, kita juga memiliki kemampuan mengenali dan menyikapi segala hal terkait kebencian tersebut.

  • Mengapa kebencian itu muncul?
  • Apa penyebab munculnya kebencian itu?
  • Apakah penyebab kebencian tersebut benar-benar sesuatu yang negatif dan merugikan kita, ataukah ada penilaian lain?
  • Apakah kebencian yang kita rasakan beralasan, ataukah hanya karena kita tidak suka terhadap keadaan?
  • Adakah cara untuk mengatasi atau menyelesaikan masalah yang menjadi akar penyebab kebencian ini?
  • Apakah langkah yang aku lakukan untuk menghilangkan kebencian tersebut turut merugikan orang lain?
  • Apakah perasaan benci tersebut cukup penting untuk dipedulikan?

Jika ingin membenci, bencilah secukupnya. Setelah itu tinggalkan, dan mulailah urus hal lainnya, yang bisa jadi jauh lebih penting dari rasa benci itu sendiri.

[]

*** Lalu muncul pertanyaan: Seperti apakah “secukupnya” itu?

Sembilan Serial Televisi Favorit 2019

One simply cannot watch everything. Tidak mungkin kita akan pernah bisa menonton semua serial televisi dan jenis tontonan lain yang ada di saluran televisi, dan terlebih lagi, streaming platforms. Tentu saja dengan semakin menjamurnya streaming platforms yang tersedia, semakin banyak film dan serial yang sepertinya kita harus luangkan waktu untuk menontonnya.

Or do we have to?

Meluangkan waktu untuk menonton adalah pilihan. Waktu yang kita punya sama, yaitu 24 jam dalam sehari. Tidak kurang, tidak lebih. Dalam sehari, saya biasanya membuat keputusan, berapa waktu yang akan saya luangkan untuk menonton di luar pekerjaan, menonton untuk urusan pekerjaan, lalu berolahraga, pergi ke tempat olahraga, dan beristirahat. 

Selain itu, tentu saja resensi atau review dari tontonan yang akan dipilih menjadi penting. Buat saya, paling tidak saya perlu membaca sekitar 7-10 tulisan resensi yang berbeda sebelum saya memutuskan apakah serial tersebut tepat untuk saya. Pilihan belum tentu selalu benar. Paling tidak saya sudah berusaha untuk mencari tahu apa yang akan saya pilih.

Tentu saja, jumlah film yang bejibun yang harus saya tonton untuk urusan pekerjaan, acap kali harus mengorbankan waktu untuk menonton serial lain. Jadi, sambil “mengaku dosa”, saya belum menonton sama sekali The Marvelous Mrs. Maisel (Season 3), Watchmen, The Mandalorian, Money Heist, dan masih banyak lagi.

Namun dari beberapa yang saya tonton, yang meninggalkan kesan mendalam buat saya saat dan setelah menontonnya adalah:

 

  1. SEX EDUCATION (SEASON 1)

sexeducation-tpcurrent(dot)com

 

Serial ini jujur dan apa adanya. Tidak mudah menampilkan kejujuran ini ketika berbicara mengenai masa puber dan seks. Apalagi di era sekarang. Tetapi serial ini berhasil membungkus kegelisahan remaja mengenai seks lewat komedi yang cerdas, dan yang penting, benar-benar lucu. It does not make us, the audience, feeling awkward. It makes us having a good time.

 

  1. FOSSE/VERDON

fosse_verdon_ver2_xlg-impawards
Fosse/Verdon (source: IMP Awards)

 

Mengapa film atau seri biopic tentang pekerja seni terus dibuat? Karena sangat menarik untuk mengetahui proses di balik layar penciptaan karya-karya legendaris yang mereka buat. Saya hanya mengetahui Bob Fosse sebatas sebagai sutradara film-film mahakarya seperti Cabaret atau All that Jazz atau pencipta musikal “Chicago”. Saya tidak terlalu tahu Gwen Verdon, pasangan hidupnya, yang ternyata adalah aktris panggung ternama yang menjadi inspirasi hampir semua karya Fosse. Namun penampilan cemerlang Sam Rockwell sebagai Fosse, dan terutama Michelle Williams yang menakjubkan sebagai Verdon, membuat mini seri 8 episode ini menarik untuk terus ditonton.

 

  1. STRANGER THINGS – SEASON 3

Stranger-Things-3-irishfilmcritic
Stranger Things 3 (source: irishfilmcritic.com)

 

Mempertahankan excitement itu tidak mudah, terutama untuk urusan sekuel atau kelanjutan serial di musim-musim penayangan berikutnya. Let’s admit that Stranger Things season 2 is not as fun as the first. Maka bisa dibayangkan betapa lega dan senangnya kita saat Stranger Things season 3 ini kembali menjadi sangat menyenangkan, dengan aroma pop culture pertengahan era 1980-an yang kental di saat mereka beranjak remaja. Ditambah dengan momen spesial lagu “Neverending Story” yang menjadi salah satu momen serial televisi yang paling berkesan tahun ini, jadilah Stranger Things season 3 ini menjadi tontonan yang totally fun.

 

  1. POSE

pose-netflix
Pose (source: Netflix)

 

Menonton serial Pose membuat kita sering terhenyak. Kadang tertawa, sering kali terharu. Beberapa episode membuat saya tersenyum dalam sedih, karena setelah beberapa dekade, kehidupan orang-orang transgender masih belum membaik. Dalam beberapa hal dan tempat, malah memburuk. Saya suka “menuduh” serial-serial karya Ryan Murphy as too glossy, too over the top, too much. Tapi dalam konteks serial Pose, everything feels right and falls right into place.

 

  1. BARRY – SEASON 2

barry_s2-amazon
Barry – season 2 (source: Amazon)

 

Consistently funny. Itulah satu hal yang terlintas di benak saya saat menonton season 2 serial karya Bill Hader ini. Tentu saja the almost wordless episode of episode 5 menambah keseruan serial yang terbilang langka ini. Langka, karena menggabungkan action dan komedi sangat susah. This one pulls it off nicely.

 

  1. FLEABAG – SEASON 2

fleabag-amazon
Fleabag (source: Amazon Prime Video)

 

Phoebe Waller-Bridge memang layak banyak diburu para produser belakangan ini. Kemampuan menulis ceritanya di atas rata-rata. Silakan tonton Fleabag untuk menyaksikan kehebatan Phoebe menjalin cerita yang membuat kita bengong. “Lho kok jadi gini?” “Eh kok bisa sih?” Karakter pendeta yang dimainkan Andrew Scott tentu saja adalah buah hasil fantasi liar Phoebe, yang menjadi sangat believable di layar berkat penokohan yang cerdas. Yes, this is one smart comedy we cannot miss.

 

  1. CHERNOBYL

chernobyl-youtube
Chernobyl (source: Youtube)

 

Buat saya, inilah miniseri yang lebih mencekam dari semua serial horor. Pengetahuan tentang bahaya Chernobyl hanya saya peroleh dari buku pelajaran waktu masih di bangku sekolah. Itu pun hanya samar-samar. Namun saat melihat miniseri ini, mau tidak mau hati kita mencelos. It’s hard to portray the real horror of a real life situation. Tetapi yang ditawarkan miniseri Chernobyl ini berhasil membuat kita tertegun dan terpaku. It was real. The horror was real. Dan saya menulis ini sambil masih bergidik membayangkan adegan demi adegan yang terasa nyata saat ditonton.

 

  1. MADE IN HEAVEN

madeinheaven-amazonprime

 

Saat menyusun daftar ini sambil menelaah lagi list serial yang saya tonton sepanjang tahun 2019 ini, terus terang saya kaget. Kaget karena serial ini salah satu yang terus terpatri di ingatan. Serial tentang jatuh bangun kehidupan dua anak muda yang merintis usaha wedding organizer di New Delhi, India ini, memang terasa tidak dekat dengan kita. Namun hanya dari dua episode pertama, saya langsung hooked on to the series. Karakter, latar belakang cerita, dan backstory dua karakter utama, ternyata sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari di sini. We can see the characters living here, dan mereka akan mengalami masalah yang sama. Serial ini ada di Amazon Prime Video. Salah satu serial layak tonton yang perlu dipertimbangkan kalau anda ingin berlangganan streaming platform tersebut.

 

Dan serial favorit saya di tahun 2019 ini adalah:

 

  1. AFTER LIFE

afterlife-netflix
After Life (source: Netflix)

 

How does one portray a life-like grief? Dan juga yang penting, how do you portray someone dealing with grief that you can immediately feel the aching? Saya benar-benar tidak menyangka Ricky Gervais bisa membuat karya yang sangat, sangat humanis. Dalam satu episode, saya bisa menitikkan air mata di satu adegan, sebelum dibawa tertawa terbahak-bahak di adegan berikutnya. Dan Ricky tidak pernah kehilangan beat dalam bercerita. Saat karakter yang dia perankan, seorang duda yang berusaha bangkit dari kesedihan setelah istrinya meninggal dunia karena kanker, harus menyewa pekerja seks komersial untuk membersihkan rumahnya, karena dia tidak tahu di mana harus menyewa asisten rumah tangga, kita pun merasa trenyuh. Kita berempati dengan karakter ini. Kita mungkin tidak pernah mengalami yang dia alami, tapi setiap keputusan karakter yang dia mainkan sungguh sangat terasa masuk akal, dan membuat kita menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

And that is simply brilliant.

 

Apa serial favorit anda tahun ini?

“Listen to Your Heart”

KALIMAT di atas sejatinya bukan sekadar judul tulisan Linimasa hari ini, melainkan salah satu judul lagu dari duo Roxette yang saya akrabi lewat siaran radio waktu masih SMA.

Kemarin, Mas Nauval ngabarin kalau Marie Fredriksson–vokalisnya–meninggal dunia. Maka, tak banyak cerita untuk hari ini; saya ingin mendedikasikan halaman ini untuk mengenang Roxette, lewat beberapa judul lagunya yang telah menempel di ingatan setelah selama ini. Yang minimal selalu terngiang nada dan syair reff-nya.

Dimulai dengan … “Listen to Your Heart”

“Spending My Time”

“Wish I Could Fly”

“Milk and Toast and Honey”

Dan … “It Must’ve Been Love”

Abadi dalam karya, selamat jalan…

[]

Lima Buku dan Lima Kutipannya

Tahun ini, rata-rata dalam sebulan saya baca 3-4 buku. Jumlah yang jauh lebih sedikit dibanding waktu kuliah dan waktu masih agak muda dulu (ehem!), tapi jumlah yang sedikit meningkat dibanding tahun lalu. Faktor yang sangat berpengaruh dalam membaca rupanya adalah keputusan saya untuk lebih banyak menggunakan transportasi publik tahun ini. Susah ‘kan, baca buku waktu naik ojek?

Tentu saja karena saya semakin menjadi penganut reading while commuting, akhirnya 95% buku yang saya baca adalah yang bisa saya baca di gawai. Sejauh ini pilihan saya masih di Kindle. Kalau tidak membawa perangkat Kindle, maka saya membaca lewat aplikasinya. Toh progress membaca masih bisa di-sync. Sementara untuk membeli buku di PlayStore, sudah cukup beberapa kali di beberapa tahun lalu. Layout buku yang dijual di PlayStore kurang ramah buat mata dan preferensi penglihatan saya.

Masih seperti ‘tradisi’, atau mungkin lebih tepat disebut kebiasaan ya, saya membaca tidak melihat tahun terbit buku itu. Malah lebih banyak buku-buku yang saya baca terbitan dari beberapa tahun yang lalu, atau beberapa dekade yang lampau. Kalau saya baca sinopsisnya dan saya tertarik untuk membacanya, maka saya pasti akan beli.

Dan inilah beberapa buku yang berkesan buat saya, tanpa perlu saya ulas, karena kutipan dari buku-buku inilah yang paling membekas:

1. “The Rainbow Comes and Goes” – Anderson Cooper

Kutipan:

– “The rainbow comes and goes. Enjoy it while it lasts. Don’t be surprised by its departure, and rejoice when it returns. There is so much to be joyful about, so many different kinds of rainbows in one’s life: making love is an incredible rainbow, as is falling in love; knowing friendship; being able to really talk with someone who has a problem and say something that will help; waking up in the morning, looking out, and seeing a tree that has suddenly blossomed, like the one I have outside my window—what joy that brings. It may seem a small thing, but rainbows come in all sizes. I think about Dorothy in The Wizard of Oz singing, about where “bluebirds fly,” and Jan Peerce singing about “a bluebird of happiness.” Well, they may never find it, they may never reach it, and that’s okay. The searching, that’s what I think life is really all about. Don’t you?

– “Death is the price you paid for being born.

2. Middlesex – Jeffrey Eugenides

Kutipan:

– “Biology gives you a brain. Life turns it into a mind.”

– “Everyone struggles against despair, but it always wins in the end. It has to. It’s the thing that lets us say goodbye.”

3. Lie With Me – Philippe Besson

Kutipan:

– “Desire does not go out like a match, it extinguishes slowly as it burns into ash.

– “In the end, love was only possible because he saw me not as who I was, but as the person I would become.”

4. Pachinko – Min Jin Lee

Kutipan:

– “Living everyday in the presence of those who refuse to acknowledge your humanity takes great courage.

– “No one is clean. Living makes you dirty.

5. The Female Persuasion – Meg Wolitzer

Kutipan:

– “Relationships were a luxury designed for people whose lives were not in crisis.”

– “Power and love didn’t often live side by side. If one came in, the other might go.

 

Apa buku bacaan favorit teman-teman tahun ini?