Ramah Lingkungan tak Selamanya Ramah Bisnis

Tema “sustainability” atau berkesinambungan dan ramah lingkungan belakangan balik ngehits lagi. Membawa banyak kenangan akan harumnya Body Shop yang saat itu dimiliki oleh Anita Roddick. Harum sabun yang mengundang siapa pun untuk memasuki tokonya saat itu rupanya kembali semerbak sekarang.

Seminar, fashion week, bazaar, konser musik, banyak yang mengangkat tema ini. Semua pihak angkat suara menunjukkan kepeduliannya untuk kemudian sering menjadi selimut dagangannya. Ujung-ujungnya jualan. Yang paling ngehits tentunya sedotan, selain pakaian, keperluan rumah tangga, perawatan tubuh, kosmetik dan jutaan lainnya. Semuanya menggunakan isu lingkungan sebagai pancingannya.

Pastinya ini semua harus disambut baik karena bumi tempat kita tinggal memerlukan kepedulian dari penghuninya. Dan kalau kepedulian ini meningkat, bumi akan semakin berseri. Selama semua kepedulian itu tak hanya menjadi gimmick marketing saja. Yang ujung-ujungnya hanya menguntungkan pedagang sementara bumi tetap buntung.

Sebagai produsen dan pedagang, penulis memahami setulusnya betapa sulitnya untuk menghasilkan produk yang ramah lingkungan. Proses pembuatan yang lebih panjang, kualitas yang sering tidak stabil, harga yang melambung adalah sebagian tantangan yang harus dihadapi. Belum lagi jejak karbon yang harus diperhitungkan ketika pengiriman barang. Limbah produksi yang seringnya kita tak tahu jelas dibuang ke mana. Karenanya salut untuk semua produsen yang dengan tulus dan jelas peduli dan menghasilkan barang yang 100% ramah lingkungan.

Apakah semua bisnis berlabel kebaikan ini akan berujung baik? Tak selalu. Ada banyak contoh kasus gagal yang kemudian berdampak tidak ramah finansial. Penyebabnya bisa banyak, tapi sepertinya mengandalkan kepedulian pembeli semata tidak cukup. Pembeli harus suka dan merasa perlu akan produknya dulu. Alasan sosial di belakangnya adalah penambah kepuasan pembeli.

Sebuah brand besar yang mengangkat tema kepedulian baru diluncurkan. Hasilnya sangat menggembirakan. Seperti layaknya produk yang baru diluncurkan hampir bisa dipastikan akan melambung. Post launch test pun dilakukan, hasilnya 98,7 persen alasan membeli bukan karena “social cause”nya, bahkan cenderung tak peduli. Tapi karena produknya memang digemari. Karena rasanya cocok selera.

Tak selamanya kesinisan harus ditanggapi, tapi sinis akan serigala berbulu domba adalah tindakan yang bijak. Baik sebagaai produsen atau pun konsumen. Produsen sekiranya harus memikirkan betul apakah produknya benar ramah lingkungan dari hulu ke hilir. Cek ricek apakah setiap proses produksinya tidak berpengaruh buruk pada alam sekitar. Benarkah bahan baku yang dibeli dari sumber yang terpercaya kelestariannya. Karena tanpa ini semua, produsen bisa dibilang menggunakan isu untuk berdagang semata.

Bukan berarti menghasilkan produk yang tidak ramah lingkungan maka tidak bisa berbisnis, tidak bisa berdagang. Semua bisnis yang dijalankan dengan baik, akan menghasilkan kebaikan untuk semua. Sementara bisnis ramah lingkungan yang tidak dijalankan dengan baik, akan menghasilkan petaka untuk semua.

Sebagai pembeli, kita harus cerdas memilih. Jangan mudah terperdaya dengan embel-embel ramah lingkungan. Filter pertama tentunya apakah barang tersebut benar diperlukan? Karena dengan mengurangi sifat konsumtif pun sudah ikut membantu memelihara bumi. Dengan terus menggunakan barang yang sudah ada di rumah saja, itu juga bagian dari merawat bumi. Konsumtif berbelanja barang berlabel ramah lingkungan selain tak ramah dompet juga tak ramah siapa pun.

Advertisements

Album Terbaik Lokal 2019

Seperti biasa di penghujung taun ini saya mencoba menyortir deretan album terbaik di taun 2019. Album terbaik ini dibagi dua tahap. Lokal dan internasional. Urutan album acak tidak album nomer satu ato bontot. Berikut daftarnya.

The Adams – Agterplaas.

Seperti judul albumnya. Mereka memang cocok didengarkan di halaman belakang rumah. Atau teras. Penyuka Weezer, apalagi album Make Believe, pasti cepet akrab dengan Agterplaas.

Elephant Kind – Greatest Ever

Vira Talisa – Primavera

Danilla – Fingers

Māna; Perbandingan yang Menjebak

COMPARISON is the death of joy,” kata Mark Twain. Dan benar saja, kita memang selalu melihat segala sesuatu dengan nilai, menjadikan nilai sebagai ukuran yang pasti berujung pada tiga kemungkinan: Lebih, sama, kurang.

Ketika itu terjadi, seperti kata Mark Twain di atas tadi, alih-alih menikmati apa yang telah kita dapatkan dan siap untuk dinikmati, kita malah sibuk “berhitung” kembali dan membanding-bandingkan. Secara sengaja, meski tanpa disadari, kita mendorong diri sendiri menjauhi potensi kegembiraan yang walau sedangkal apa pun juga tetap menyenangkan.

Image result for ego trap
Foto: spiritualityhealth.com

Setiap kali membicarakan tentang “kutukan perbandingan” ini, kita diingatkan agar selalu meningkatkan rasa syukur terhadap apa yang telah kita miliki, maupun yang baru saja diperoleh. Sebab, tak akan habis bintang dihitung, tak akan tuntas langit diukur; selalu ada yang bisa melebihi kita dalam segala hal. Namun, sebenarnya bukan itu saja. Masih ada satu aspek lainnya.

Perbandingan bisa dilakukan ke atas dan ke bawah. Dengan membandingkan ke atas, kita akan selalu merasa kurang, melihat ada yang lebih baik/banyak/bagus/besar daripada yang kita dapatkan. Bahkan dalam tingkat yang ekstrem, perbandingan ke atas membuat kita kecewa dan berkecil hati.

Sebaliknya, perbandingan ke bawah tak hanya berdampak pada diri dan mindset kita, tetapi juga perlakuan kita kepada orang lain. Bukannya merasa bersyukur, kita malah terdorong untuk merasa lebih unggul, dan pada akhirnya mengarah pada sikap sombong. Ada kejemawaan di situ, yang kerap kita sangkal saking halusnya.

Jika diamati lebih dalam, urusan membanding-bandingkan ini tak lain hanyalah upaya meninggikan diri. Derajatnya saja yang berbeda. Dari kesombongan yang terang-terangan, hingga yang paling samar dibalut berbagai narasi positif seolah-olah ditujukan kepada orang lain; seolah-olah ada manfaat yang bisa dipetik oleh orang lain.

Dengan membandingkan ke atas, kita ingin tahu “seberapa atas, sih, yang di atas itu?” Dan setelah mengetahui bahwa yang “di atas” itu begitu-begitu saja, kita justru bisa menyepelekan atau menggampangkannya. Kita menganggapnya mudah saja untuk dicapai, tidak terlampau berat, dan “kalaupun berat, toh saya pasti bisa berhasil mencapainya juga.” Akan tetapi manakala yang “di atas” tadi ternyata lebih sulit untuk dicapai, di situlah kita bisa berkecil hati dan merasa kecewa. Berkecil hati lantaran belum/tidak mendapat yang sama seperti itu, kecewa karena merasa belum/tidak punya pencapaian yang layak dibanggakan (atau disombongkan).

Begitu pula dengan membandingkan ke bawah. Kita dihadapkan dengan banyaknya situasi dan keadaan yang kurang (dibandingkan kita), serta bisa membuat kita merasa lebih baik. Dalam hal material atau kepemilikan, nilai yang diperbandingkan bisa dihitung. Masalahnya ialah ketika yang diperbandingkan merupakan sesuatu yang bersifat abstrak, katakanlah seperti merasa lebih alim, lebih budiman, lebih patut, dan sebagainya. Kita bisa dengan mudahnya berkomentar: “Oh, dia ternyata juga lebih bejat daripada aku,” yang kemudian dilanjutkan lewat ucapan, tindakan, dan perlakuan.

Membandingkan ke bawah menghasilkan kesombongan moral.

Padahal, apakah dengan merasa lebih baik dari orang lain, diri kita memang sudah benar-benar baik? Siapa yang bisa menilai itu, dan apakah penilaian tersebut sudah benar apa adanya?

Sementara itu, dalam bentuknya yang paling halus, kesombongan moral seringkali tidak berwujud kesombongan; sesuatu yang diunjukkan atau dipamerkan kepada orang lain. Ucapan-ucapan berkesan positif semacam “sekadar mengingatkan”, “semoga bisa menginspirasi”, “Kamu juga bisa seperti saya”, dan sebagainya. Posisinya jelas, bahwa saya sudah berada dalam kondisi tertentu, kamu belum, maka selamat berjuang untuk bisa seperti saya juga. Semoga berhasil.

Demikianlah kesombongan, yang dalam bahasa Sanskerta dan Pali (bahasa kasta-kasta rendah dan non-kasta) disebut māna.

There can be conceit when we think ourselves better, equal or less than someone else.

[]

Diperdaya Pikiran Sendiri

PERNAH mendengar ungkapan: “Makin dikejar, makin menjauh; makin dicari, makin sukar ditemukan; makin diinginkan, makin sulit didapatkan“?

woman wearing black tank top fading photo effect
Foto: @thuwbeoo

Tanpa kita sadari, itulah yang terjadi antara kita dengan pikiran kita sendiri. Yang kemudian lantaran keterbatasan pengalaman menyadari dan mengamati sesuatu, serta terbiasa menanggapi segala hal secara reaktif, kita pun melemparkan kesalahan kepada … nyaris apa saja. Keadaan, lingkungan, orang-orang yang terhubung dengan kita, bahkan kehidupan ini beserta seluruh aspeknya. Kita pun makin jauh dari akar utamanya: Pikiran sendiri.

Segala hal yang dilakukan selanjutnya menjadi sekadar pengalihan, distraksi, penjejal jeda. Sementara pikiran kita, si poin utama, tetap terkondisi untuk melakukan “muslihat-muslihatnya”. Beraneka meditasi, latihan olah pikiran, dan metode-metode lainnya juga tak lepas dari kecerdikan pikiran memanipulasi kesan indra dan perasaan.

Sebagai ilustrasi, berikut saya bagikan secuplik narasi.

Kalau Anda senang suara lembut…
Anda mendengar suara keras…
Anda menjadi tidak senang…
“Tidak sopan itu… disturbing… mengganggu…”
Timbul kebencian, timbul penolakan…
Karena Anda senang suara lembut.

Nanti kalau Anda bermeditasi,
ada suara yang keras-keras… Anda marah…
“Tidak tahu ini lagi meditasi… suaranya kayak betet…”
Jadi waktu Anda bermeditasi, kebencian yang muncul.
“Kan sudah diberi tulisan, ‘Harap tenang, ada meditasi’… Orang ini tidak bisa membaca… tidak punya aturan …”
Timbul kebencian dalam pikiran.

Karena itu beliau mengatakan, jangan menilai…
Suara ya suara…
Omongan ya suara…
Keras atau lembut ya suara…

Kalau Anda tidak biasa menilai…
Anda tidak terpancing oleh kemarahan, kebencian, kelekatan, kesukaan…

Batuk ya batuk…
Kalau Anda mendengar saya batuk, jangan kasih nilai apa-apa…
“Batuk tuh… mengganggu… bicara bagus-bagus, serius-serius, pakai batuk-batuk…”
Tidak senang…
Kalau Anda menilai, timbul kemarahan, kebencian, penolakan…
Anda tidak tenang, Anda tidak bahagia.

Batuk ya suara…
Suara keras ya suara…
Suara lembut ya suara…
Biasa saja…
Itu right view

Karena penilaian itu berdasarkan suka tidak-suka…
Kebiasaan yang Anda punyai…
Dan itu sumber penderitaan.

Jadi kalau Anda duduk bermeditasi,
Anda tidak usah mengharapkan:
“Sedang meditasi… Papa-Mama sedang bermeditasi…
Anak-anak harus tahu… harus tenang… tidak boleh teriak-
teriak… jalan harus pelan-pelan… menelan air harus tidak berbunyi…”
Karena kalau itu semua muncul…
Anda marah…
Karena Anda ingin tenang, ingin tenteram.

Apakah Anda bermeditasi ingin cari tenang atau tenteram?
Kalau Anda bermeditasi ingin cari tenang tenteram hening tenang tenteram hening…
Itu keinginan juga…
Kalau nanti Anda terganggu, Anda marah…

Ada anak menangis… ada benda jatuh… “krompyang“…
“O ya, suara…”
Jangan diberi nilai…
Jangan diberi label…
Supaya tidak memancing keserakahan
atau kebencian…
Dan Anda akan terbebas.

Kalau selama ini Anda tidak pernah berpikir begitu…
Tapi hanya cari tenang…
Cari tenteram …
Ya nanti akan timbul kemarahan lebih besar…
Anda terganggu sedikit, Anda marah…
Meditasi bukan tambah sabar…
Tambah tenang…
Tambah siap menerima keadaan…
Tapi mudah marah… mudah tersinggung…
Karena ketenangan ketenteraman yang
diinginkan terganggu…

Kami pernah ke Buddha Gaya*…
Banyak orang… lalu lalang…
Di antara bhante kami ada yang bermeditasi…
Ada umat yang bermeditasi…
Waktu makan pagi, ada yang mengatakan,
“Pagi ini mengapa saya tidak bisa tenang ya…
Padahal di Buddha Gaya, tempat Buddha Gotama mencapai pencerahan…
Ribut… orang-orang jalan, “srag-sreg-srag-sreg“…
Tidak mengerti kita-kita ini bermeditasi?…
Lha, apa yang timbul?…
Kemarahan, kejengkelan…
Bahkan kebencian…
“Apa mereka itu bukan umat Buddha?… Apa mereka itu tidak tahu, kita-kita lagi duduk bermeditasi? Apalagi dia pakai sandal… diseret…”
Lha, pikirannya berputar-putar…
penuh dengan kemarahan, ketidaksenangan, kebencian…
Saya bertanya, apa Anda di Buddha Gaya bermeditasi mencari ketenangan?
Kalau Anda mencari ketenangan di Buddha Gaya, ya tidak dapat tenang…
Wong di Buddha Gaya ribut melulu…
Kayak pasar…

Meditasi bukan menguber, mengejar ketenangan…
Sebab kalau ketenangan Anda terganggu, Anda marah nanti…
Sadar saja…
Ada tenang, ada tenteram, suara keras, suara lemah…
Ada orang teriak… ada anak menangis…
Sadari saja… sadar… sadar…
Jangan dinilai…
Itu pengertian benar.

~ Bhante Paññavaro Mahathera
Image may contain: 8 people, people smiling, people sitting
Bhante Paññavaro Mahathera (kiri)

Kita, oleh pikiran kita sendiri, dibuat terbiasa untuk memberikan nilai, melabeli segala sesuatu, melekati semuanya dengan kesan rasa: “Ini menyenangkan, itu tidak menyenangkan; ini yang aku mau, itu yang aku tidak mau…

Dari penilaian tersebut, lagi-lagi lewat muslihat pikiran kita sendiri, kita bisa dikendalikan sepenuhnya tanpa sadar. Dikendalikan untuk merasa senang, dikendalikan untuk merasa tidak senang, dan seterusnya. Kita tak bisa melihat dengan apa adanya. Kita merasa perasaan bahagia dan menderita yang kita alami, semuanya tergantung pada apa-apa saja yang ada di luar diri.

Padahal, segalanya bermuara dari pikiran. Pikiran kita sendiri.

[]

* Buddha Gaya, Bihar, India: Tempat Petapa Gotama bermeditasi dan mencapai kebuddhaan.

Relax, I’ve Got This!

 

Saking lamanya hidup sendiri, dan menyendiri kata teman-teman saya, saya sampai lupa dengan the magic of judul tulisan ini di atas.

“Relax, honey, I’ve got this!”

Rasanya menyenangkan ya, ketika ada orang lain yang membantu kita secara suka rela di saat kita overwhelm dengan berbagai macam hal. Mau itu barang belanjaan, pekerjaan dari kantor, atau hal-hal lain yang kita bawa pulang, unintentionally.

Mendadak saya sempat kangen dengan sensasi rasa dari kalimat tersebut beberapa minggu terakhir. Apalagi dalam perjalanan pulang naik ojek sambil menembus jalanan yang macet. Berhubung tidak berani mengeluarkan ponsel, mau tidak mau saya bermain-main dengan pikiran sendiri. (Ya masak pikiran abang ojeknya?)

Saya baru sadar beberapa bulan terakhir, bahwa kalau pulang ke rumah, saya tidak bisa langsung leyeh-leyeh saat membuka pintu. Inilah rutinitas saya saat pulang:

• buka pintu

• lepas sandal atau sepatu, lalu meletakkan di rak sepatu

• menyalakan lampu

• mengeluarkan isi tas, terutama kalau selesai belanja

• memilah mana yang harus masuk bagian buah dan sayur, mana yang masuk freezer

ganti baju

• meletakkan baju kotor, biasanya baju olahraga, di tempat cucian

• meletakkan tas di tempat yang mudah dijangkau saat pergi lagi keesokan hari

• menyiapkan makan malam

• mencuci peralatan masak

Dan biasanya saya baru duduk di depan televisi atau iPad untuk makan sekitar 15-20 menit setelah membuka pintu dan masuk ke dalam rumah. Lebih lama lagi kalau saya harus memasak makanannya dari awal. Tentu saja, semakin lama lagi mulai makan kalau masih harus memilih tontonan apa yang menemani saya.

1_tsU4FTsXqyP9XISpJp9vYg

 

Kegiatan ini saya jalankan secara rutin tanpa berpikir. Sudah menjadi kebiasaan, sudah menjadi bagian dari hidup seperti bernapas. Hanya saja, kok tiba-tiba beberapa minggu belakangan ini muncul lagi perasaan yang ingin sebagian rutinitas di atas dikerjakan dengan bantuan orang lain. Ingin rasanya benar-benar pulang ke rumah tinggal lepas sepatu, lalu duduk di sofa, sampai nyaris ketiduran, sebelum ditepuk pundaknya dan diingatkan untuk ganti baju sebelum makan malam.

Bahkan sampai nyaris lupa rasanya, saya sendiri yang harus mencoba mengucapkan kalimat yang saya tulis di awal tadi. “Relax, honey, I’ve got this”. “Relax, dear, I’ve got this.”

Mungkin karena sebagai lajang yang harus mengurus diri sendiri, mulai dari tempat tinggal sampai kesejahteraan diri sendiri, kita terbiasa mengerjakan segala sesuatunya secara sendiri, untuk diri sendiri. Kalau sedang diterpa rasa lelah yang luar biasa, sementara masih ada setumpuk urusan lain di depan mata yang harus dikerjakan dan diselesaikan, maka kita bisa memejamkan mata sejenak, mengambil nafas panjang, dan berkata ke diri sendiri, “Relax, I’ve got this.”

Because we can do what we need to do to. We have to.

Selamat menyambut akhir pekan!

Bucin, Realitas Elusif, dan Derita Sukarela

SEBUAH derita bukanlah penderitaan jika belum disadari dan diterima sebagai demikian. Derita–segala sesuatu yang memberatkan dan menyusahkan hati–biasanya baru disadari sebagai sebuah penderitaan setelah dampaknya mulai terasa. Padahal derita, seperti segala hal terkondisi lainnya, selalu memiliki penyebab dan tanda-tanda. Termasuk hal yang satu ini.

Itu kata Chu Pat Kai (豬八戒), tokoh fiktif dalam kisah “Perjalanan ke Barat” (西遊記) yang harus mengalami seribu kali patah hati dalam setiap reinkarnasinya, bentuk hukuman karena berupaya merudapaksa dewi penghuni bulan. Sayangnya, dalam hal ini Wu Cheng-en, sang pengarang, merancukan antara cinta dan berahi, dua hal yang sejatinya tidak koheren mutlak.

Pertanyaannya, apakah derita cinta hanya mewujud setelah terjadinya patah hati, hilangnya cinta, padamnya kasih, khianat, atau dua orang yang tak lagi bersama? Adakah derita cinta yang justru diterima sebagai sebaliknya? Sebuah rasa keterpenuhan, misalnya, hal yang dirasa patut dilakukan, dan justru memberikan rasa puas; kepuasan setelah kita berhasil menunaikannya.

Menjadi budak cinta, atau bucin, ialah mereka yang sebenarnya dibuat/merasa menderita secara sukarela karena cinta dengan seperangkat latar belakangnya. Termasuk “at the end, it’s all worth it. It’s all worth fighting for.” Tetap ada perasaan susah dan hati yang berat ketika hal itu terjadi, tetapi luput disadari sampai akhirnya terasa kian menyakitkan.

Servitude.

Kapankah “at the end” tersebut?

Hanya ada dua hal di dunia ini, yakni bahagia dan derita. Sejauh ini, dunia pun telah membentuk anggapan bahwa bahagia dicapai dengan meniadakan derita. Dari situ, kita cenderung lebih fokus pada hal-hal yang menyenangkan, yang kita dambakan, yang mati-matian ingin kita capai. Di sisi lain, kita abai atau bahkan sengaja menjauhkan diri dari mengamati hal-hal yang menderitakan, penyebab derita.

Seperti sabda Epikuros bahwa kebahagiaan tak akan terpengaruh rasa sakit fisik, dan bentuk-bentuk kesakitan lainnya. Termasuk rasa takut.

Banyak yang tidak menyadari bahwa (sesuatu yang dikira) bahagia dan derita dalam cinta hanya setipis rambut perbedaannya. Realitasnya menjadi samar. Ketiadaan derita menimbulkan bahagia, dan usainya momen-momen bahagia pun kembali menimbulkan situasi derita. Hanya saja, lagi-lagi karena keberserahan dan kesukarelaan, sebuah derita tidak disadari dan diterima sebagai demikian.

Kebebasan

Seseorang yang merdeka menjaga dan berusaha mempertahankan kebebasannya sebagai individu. Dengan cinta, seseorang merelakan kebebasan tersebut, mengurangi atau bahkan menyerahkannya secara sukarela. Derita tak lagi dianggap sebagai derita, lantaran tidak memberatkan dan menyusahkan hati. Derita justru muncul jika terjadi yang sebaliknya; ketika kita gagal, tidak mampu, merasa dihalangi, terkendala, dan pada akhirnya tak bisa melakukan yang kita inginkan–servitude.

Perjumpaan

Karena cinta, sebuah perjumpaan bisa sedemikian membahagiakan. Kemudian berakhirnya perjumpaan–perpisahan dan rasa rindu pun bisa menyakitkan. Bahagia berubah jadi derita. Kendati jumpa-tidak jumpa ialah kondisi alamiah yang tak terhindarkan. Sedetik sebelumnya bahagia dengan hati berbunga-bunga, sedetik berikutnya malah terasa merana.

Pemberian

Pada hakikatnya masih senada dengan dua poin di atas, pemberian atas nama cinta dianggap bisa menimbulkan bahagia. Bahagia karena telah mampu memberikan yang dia inginkan, walau tidak diminta secara langsung. Bahagia karena telah mampu membuat dia bahagia.

Pemberian dalam cinta bisa berbentuk hampir apa saja, tangible dan intangible, mulai dari barang hingga perhatian, mulai dari minta dibawa jalan-jalan hingga keperawanan (btw, memangnya ada yang minta keperjakaan?) Saat sanggup diberikan, rasanya menyenangkan. Begitu pula sebaliknya. Hati didera kekhawatiran sendiri, menjadi bulan-bulanan kecemasan sendiri.

Apakah salah? Entah.
Apakah tidak salah? Entah.
Bagaimana yang benar? Entah.
Bagaimana supaya tidak salah? Entah.

Kamu sendirilah penentu bahagia dan derita. Derita belumlah menjadi sebuah derita sebelum kamu anggap dan terima sebagai sebuah derita. Begitu juga bahagia. Hanya kamu yang bisa mengizinkan dirimu sendiri untuk merasa bahagia.

Dan cinta adalah sebenar-benarnya daya kuasa yang bisa membolak-balikkan antara derita dan bahagia. Cinta adalah daya kuasa yang membuat seseorang bersedia berserah sepenuhnya.

[]

Rewind

 

Akhir pekan lalu, mendadak saya harus rewind ke masa kecil saya. Literally.

Malam Minggu yang lalu, saya harus mengerjakan presentasi untuk materi mengajar di kelas pendidikan informal di hari berikutnya. Niatnya, saya mau mengerjakan presentasi itu setelah makan malam. Setelah menimbang berbagai pilihan makanan yang ada, saya memutuskan makan ikan bakar. Tidak ada yang istimewa mengenai pilihan ini. Simpel saja, karena lokasi tempat makan ikan bakar ini berseberangan dengan kedai kopi tempat saya mau bekerja.

Di tengah-tengah makan ikan bakar ini, tiba-tiba tenggorokan saya terasa tercekat. Sontak saya berpikir, “Uh oh, not that one. Please, not that one.”

Saya makan lagi. Ternyata perasaan tercekat itu masih ada. Saya berusaha menelan ludah, dan rasanya sakit. Saya lemas. Buru-buru saya selesaikan makanan saya sekadarnya, lalu saya bayar. Saya ke kedai kopi, berharap minuman hangat bisa melegakan tenggorokan saya. Sementara itu, pikiran saya masih tertuju pada presentasi yang harus saya selesaikan.

Ternyata saya tidak bisa berkonsentrasi sama sekali. Hanya separuh presentasi bisa saya buat. Saya memutuskan untuk pulang.

Sampai rumah, setelah berganti pakaian, saya putuskan untuk ke unit gawat darurat rumah sakit terdekat. Setelah dirujuk ke dokter spesialis telinga, hidung dan tenggorokan (THT), dan menunggu lama karena banyak pasien datang sehingga saya bisa melanjutkan membuat presentasi, akhirnya kekhawatiran saya terbukti.

Ada tulang makanan yang menyangkut di tenggorokan saya.

Kejadian yang persis sama pernah terjadi hampir 30 tahun yang lalu, waktu saya kelas 3 SD. Dan kejadian ini meninggalkan trauma yang panjang, karena saya tidak bisa makan ikan lagi, sampai kelas 3 SMA akhirnya baru mencoba dan bisa makan ikan lagi. Kenapa trauma? Karena waktu itu posisi tulang benar-benar menyangkut di tenggorokan, tidak mau turun meskipun sudah dicoba dengan makan pisang, kepalan nasi, ketan, lontong, dan sejenis makanan lain. Mau tidak mau, harus diambil secara paksa dari luar mulut dengan alat yang masuk ke dalam tenggorokan. Setelah 3 hari, baru berhasil dilakukan.

Childhood-Trauma-1

Mau tidak mau, kejadian tersebut terbayang lagi di ingatan, terlebih saat dokter di hari Sabtu lalu menunjukkan posisi tulang yang memang menancap di tenggorokan lewat kamera yang diarahkan ke dalam mulut saya. Sempat lemas melihat feed kamera tersebut. Namun rasa lemas itu tidak terbawa ke lidah saya, yang terus menerus secara refleks menolak saat alat pencabut tulang itu mulai masuk ke tenggorokan. Posisi tulang memang di ujung bawah lidah, sehingga mencabutnya pun perlu “perjuangan”.

Setelah berkali-kali mencoba, dan selalu gagal, akhirnya dokter menyerah. Saya dianjurkan pulang dan beristirahat, supaya syaraf bisa rileks. Siapa tahu setelah syaraf rileks, tulang tersebut bisa luruh bersama asupan makanan lainnya. Dokter memberi obat untuk mencegah infeksi yang mungkin timbul. Meskipun tidur tidak tenang, apalagi setelah berkali-kali mencoba melawan dengan carbo loading malam-malam, mau tidak mau saya harus tidur.

Keesokan harinya, saya berusaha tidak terlalu memusingkan si tulang yang mungkin masih “nangkring” di tenggorokan. Dengan suara serak karena sakit, saya berusaha mempresentasikan last-minute slides dengan baik. Acap kali saya raba tenggorokan, sepertinya si tulang pelan-pelan mulai hancur, karena dari rabaan tangan, besaran tulang tidak sebesar semalam.

Lalu keesokan paginya, tenggorokan saya semakin sakit. Saat saya batuk dan muntah, ternyata sisa tulang keluar dengan sendirinya. Meskipun harus menanggung suara yang mendadak menjadi sangat “macho”, akhirnya tidak ada lagi tulang yang tersangkut di tenggorokan. So far.

Fear-and-Anxiety-An-Age-by-Age-Guide-to-Fears-Why-and-What-to-Do

Kejadian akhir pekan lalu mau tidak mau membuat saya berhenti sejenak menjalani aktifitas rutin yang sudah direncanakan. Dan itulah yang kita dapatkan saat kita sakit mendadak. Mau tidak mau, kita seperti dipaksa untuk istirahat. Seringnya kita harus melihat kembali, atau rewind, apa saja yang membuat kita jatuh sakit, sambil akhirnya berintrospeksi dan berjanji untuk lebih berhati-hati. Meskipun biasanya janji itu ditepati dalam waktu yang sebentar saja.

Dalam kasus saya, mau tidak mau saya harus melihat jauh ke belakang, ke satu bagian masa kecil yang terus terang sempat membuat saya takut. Sekarang pun sebenarnya masih takut. Cuma kalau kita menuruti rasa takut kita terus menerus, we’re gonna lose a lot.

Salam!

Ruang Publik: Ketika Aku dan Kamu Tak Harus Sepakat Terhadap Sesuatu tetapi Malah Diarahkan oleh Struktur

DI SUATU sore, tiga orang sedang berjalan-jalan di sebuah taman. Tidak terlalu luas, dan terdapat satu tiang bendera di tengah-tengahnya. Sesaat, bendera terlihat berkibar tertiup angin, dan memicu sebuah perbincangan di antara mereka.

A: “Lihat, benderanya bergerak.
B: “Bukan bendera yang bergerak. Angin yang bergerak.
C: “Bukan bendera atau angin. Yang bergerak adalah pikiran.

Aku berpikir, dan aku berpendapat.
Aku berpikir dengan kemampuan nalarku sendiri, dan aku utarakan sebagai pendapat.

Kamu berpikir, dan kamu berpendapat.
Kamu berpikir dengan seluruh pertimbanganmu, dan kamu utarakan sebagai pendapat.

Begitu pula dia, berpikir dan berpendapat.
Dia juga memikirkan hal-hal yang dipahaminya, dan dia utarakan sebagai pendapat.

people standing inside building
Foto: @teapowered

Demikianlah Ruang Publik, yang memang semestinya dipenuhi oleh opini-opini publik dalam makna sebenarnya. Opini publik tidak harus bersifat kolektif. Opini publik pun tidak harus berupa konsensus atau kesepakatan bersama. Suara dan pendapat individual pun termasuk sebagai opini publik berkedudukan sama dengan milik orang-orang lainnya.

Di Ruang Publik, opini-opini publik tersebut bebas untuk didiskusikan secara kritis, dan sekali lagi, terbuka bagi semua orang dalam kesetaraannya. Pertemuan opini-opini publik tersebut akan menjadi diskusi yang menghasilkan nalar publik, yang dengan kekuatan dan sifat dasarnya menjadi pengimbang dan pengawas kekuatan struktur yang sedang berjalan/dijalankan.

Nalar publik yang merupakan sintesis dari opini-opini publik yang saling dipertemukan, dibahas, dan dibenturkan di Ruang Publik, menjadi ekspresi langsung dari kebutuhan maupun kepentingan individu-individu yang terlibat di dalamnya; aku, kamu, dia. Sayangnya, tanpa disadari saat ini kita diajak dan dikondisikan agar lebih menyenangi serta menenggelamkan diri dalam isu-isu yang bersifat privat, atau diarahkan ke sudut pandang yang lebih privat, alih-alih dilihat dalam konteks kepentingan publik. Ketika sebuah perkara yang sejatinya menyangkut kepentingan publik digulirkan, tanpa sadar kita diarahkan agar semata-mata meninjaunya terbatas pada apa dampaknya ke diri sendiri, bukan partisipatif.

Mengapa bisa begitu? “Berterimakasihlah” pada media komersial dan penyuara massa–dalam segala bentuknya–yang terus-terusan menyuap benak-benak publik dengan informasi kemasan siap telan. Informasi tak lagi dibahas, melainkan dikonsumsi begitu saja. Perdebatan rasional dan konsensus atas opini-opini publik pun berganti menjadi sikap pasif. Diskusi-diskusi menjadi diatur sedemikian rupa, terancang atau terskenario sebagaimana yang diinginkan sesuai talking points alias butir-butir pendapat.

Media komersial dan penyuara massa tadi sudah berubah fungsi, dari menjadi bagian Ruang Publik yang memfasilitasi wacana dan perdebatan rasional, malah menjadi pembentuk, penyusun, pengkonstruksi, pembangun, sekaligus pembatas wacana publik. Tak ada lagi hubungan antara partisipasi individual dalam ranah publik dengan Ruang Publik itu sendiri. Eksistensi publik bagi individual dipupuskan oleh struktur-struktur yang mengatur media. Kepentingan bersama–dalam arti luas–pun digeser dengan kepentingan-kepentingan kelompok atau privat. Opini publik tak lagi menjadi milik individual, digantikan dengan pendominasi. Yang seolah-olah disuarakan demi publik, padahal menyangkut kepentingan privat.

Banyak contohnya. Mulai dari penumbangan Orde Lama, ke dikotomi politik Cebong-Kampret baru-baru ini, sampai ragam diskursus mengenai dukungan dan penolakan atas sederetan UU dan RUU teranyar republik ini. Segenap informasi dan opini disajikan dan disuapkan kepada individu-individu, membuat mereka ngap-ngapan hingga mau tidak mau terserap arus opini yang disepahamkan. Sesederhana berupa “mendukung” versus “menolak”. Tak ada kesetaraan dalam dikotomi “benar” versus “salah”, kendati mesti berhati-hati melihat bahwa tak ada yang benar-benar benar, dan salah sesalah-salahnya.

Coba saja amati:

  • Apa yang kamu ketahui?
  • Sejauh apa kamu berusaha mengetahui?
  • Apa yang kamu dengar dari orang-orang yang terkesan mengetahui?
  • Apa sikap yang kamu ambil terhadap narasi dari orang-orang tersebut?
  • Di mana akhirnya kamu berdiri terhadap narasi tersebut?
  • Apa saja perangkat opini yang akhirnya kamu miliki dari narasi tersebut?
  • Apakah kita telah benar-benar kuat dalam argumentasi, atau terarahkan untuk mengikuti narasi (mereka)?

Tindakan partisipatif direduksi menjadi sekadar penghimpunan dan perwujudan konsensus partikelir. Panggung tarung politik kontemporer. Tentu saja, negara punya andil dalam pengkondisiannya. Saat ini terjadi, situasi bicara ideal otomatis pupus. Lantaran tak semua orang terbekali dengan kapasitas wacana yang cukup; tak adanya persamaan sosial dasar; terjadi distorsi.

Tak ada lagi kesepahaman, apalagi kesalingpahaman. Kesepahaman dicapai dari diskusi dan perdebatan publik, sementara kesalingpahaman ialah kemampuan menerima dan menyadari perbedaan masing-masing. Sikap tahu sama tahu dalam tingkat yang setara. Tak ada lagi strukturisasi pembicaraan yang bebas dari tekanan dan ketidaksetaraan argumentatif.

Itulah public sphere, yang entah bagaimana bisa kembali diupayakan eksistensinya kini. Merebutnya kembali dari para agen manipulator, mencegah terus terjadinya pengarusutamaan kepentingan privat.

Bisa jadi, salah satu perangkat tindakannya adalah: Bangun landasan wacana, dan berlaku Peduli-Tidak Peduli.

[]

Joker: Potret Masyarakat Urban Hari Ini

Joker mungkin adalah film yang paling ditunggu tahun ini oleh sebagian penikmat film superhero atau film pada umumnya. Kenapa? Karena tidak sembarang aktor bisa memerankan peran seperti ini. Terakhir kita sempat punya Heath Ledger yang bermain sangat apik di film The Dark Knight (2008) sehingga diganjar Oscar di kategori Aktor Pendukung Terbaik. Dia tidak sempat menikmati Oscar karena dia meninggal akibat overdosis. Dan tentu saja kematiannya selalu dikaitkan dengan perannya sebagai Joker di The Dark Knight. Sebelumnya, Jack Nicholson, Joker di film Batman (1989) kabarnya dibayar sangat mahal di ukurannya pada saat itu. Film tersebut sukses secara komersial dan Jack Nicholson pun berhasil memerankan Joker versi film Tim Burton. Ada banyak keraguan ketika Heath Ledger akan memerankan Joker di The Dark Knight. Keraguan itu terjawab bahwa Joker versi Heath Ledger itu adalah Joker versi terbaik.

Satu dekade lebih berlalu, Joker difilmkan kembali, setelah sebelumnya Suicide Squad yang juga Joker berada di dalamnya, dianggap film yang gagal. Jared Leto sebagai Joker hanya bermain sebentar dan yang bersinar di film itu malah Margot Robbie yang memerankan Harley Quinn. Kali ini yang memerankan Joker adalah Joaquin Phoenix. Semua berharap cemas. Bisakah Joaquin Phoenix mengimbangi akting Heath Ledger? Ini pertanyaan utamanya. Apakah filmnya akan bagus? Semua bergantung kepada Todd Phillips yang bertindak sebagai sutradara dan juga penulis di film ini.

if I’m going to have a past, I prefer it to be multiple choice

Di sini Joaquin berperan sebagai Arthur Fleck, di film ini Todd Phillips berusaha membedah asal muasal kenapa Joker menjadi Joker yang seperti ini. Tidak pernah ada penjelasan di film-film yang sudah saya sebut kenapa Joker bertindak begitu gila. Komik The Killing Joke menjelaskan bahwa Arthur Fleck adalah seorang stand up komik yang gagal. Todd Phillips dan Scott Silver sebagai penulis skenario film ini berusaha mengambil beberapa referensi film dari era 70an dan 80an. Ada dua film yang sangat mempengaruhi jalan cerita film ini. Yang pertama adalah Taxi Driver (1976), dan The King of Comedy (1982). Kedua film ini disutradarai oleh Martin Scorsese dan dibintangi oleh Robert De Niro. Bukan kebetulan Robert De Niro pun di sini bermain sebagai host dari acara semacam Late Night Show yang dipandu oleh David Letterman, Stephen Colbert, atau Johnny Carson lebih tepatnya di era tersebut. Martin Scorsese pun dikabarkan sempat menjadi produser pelaksana film ini tapi di beberapa saat terakhir dia harus lepas untuk lebih fokus menggarap The Irishman, yang sebentar lagi tayang di Netflix.

Jika sudah melihat kedua film di atas maka akan sangat terasa pengaruh kedua film tersebut terhadap film Joker. Robert De Niro di dua film itu menjadi seorang yang mentalnya terganggu. Jika di The King of Comedy dia berperan sebagai Rupert Pupkin, seorang stand up komedi yang antusias tapi delusional, dan sangat terobsesi untuk menjadi stand up komedi seperti idolanya, Jerry Langford, yang dibintangi oleh Jerry Lewis. Maka di Taxi Driver, dia menjadi Travis Bickle, seorang veteran perang Vietnam yang mengidap PTSD dan beralih menjadi supir taksi dan melihat New York sebagai kota bermasalah dan perlu dia bereskan dengan caranya sendiri dengan menjadi vigilante, di kota New York. Gotham City di komik Batman adalah representasi dari kota New York.

Karena setting film ini tahun 1981, Todd Phillips berhasil meracik dua film tersebut dengan beberapa film di era 70an dan 80an. Ini adalah sebuah penghargaan dari Todd Phillips terhadap Martin Scorsese dan dua filmnya. Tapi di sini Todd berhasil menciptakan seorang Arthur Fleck, yang hidup bersama ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan. Dia hidup ketika Gotham City sedang dalam kondisi yang kumuh dan banyak masalah dan tingkat kriminalitas tinggi. Sementara orang kaya bertambah kaya dan yang miskin bertambah miskin. Arthur Fleck yang bercita-cita menjadi stand up komik masih mencari karirnya dan malah menjadi badut di pinggir jalan. Atau kadang menjadi badut penghibur di rumah sakit anak-anak.

“The worst part of having a mental illness is people expect you to behave as if you don’t.”

Arthur Fleck adalah seorang anak yang datang dari keluarga yang tidak beruntung. Dia tidak tahu bapaknya siapa. Ibunya, Penny Fleck, sudah tua dan sakit-sakitan. Dia harus datang ke psikiater yang dibiayai oleh pemerintah setempat secara berkala dan harus mengkonsumsi tujuh obat yang berbeda agar penyakitnya tidak kambuh. Pekerjaannya sebagai badut pun tidak berjalan lancar. Arthur Fleck adalah produk orang yang termarjinalkan. Dia hanya ingin berbuat baik. Menjalani kehidupan seperti layaknya masyarakat lain. Tapi dia selalu menjadi bahan olok-olok. Dikeroyok oleh sekelompok pemuda. Kehilangan pekerjaan. Dipukuli di stasiun kereta. Semua siksaan itu rupanya menjadi terakumulasi dan puncaknya sisi jahat dari Arthur pun keluar dan berontak. Dia tidak mau begitu tetapi lingkungan keluarga yang membuatnya seperti itu.

Is it just me or is it getting crazier out there?

Potret Arthur adalah sebetulnya sudah terjadi di banyak belahan dunia, termasuk Indonesia. Kita sedang ada di era di mana per-bully-an (sebetulnya sudah ada perundungan di KBBI) adalah hal yang terjadi sehari-hari di media sosial. Entah itu di Twitter, Instagram, Facebook atau media sosial lainnya. Dengan mudahnya kita menyakiti orang di dunia maya. Entah itu melalui sindiran, makian, doxxing, saling menelanjangi aib masing-masing, ataupun teror. Ada kalanya kita adalah Arthur. Ada kalanya kita juga mengeroyok seorang Arthur. Orang bisa terlihat bahagia di permukaan. Tetapi kita tidak tahu apa sebetulnya yang terjadi di balik senyuman.

Kita semua pernah menjadi Arthur. Kita pernah mengerjakan pekerjaan yang tidak kita sukai. Kita pernah kuliah dan masuk jurusan yang tidak kita minati. Malah ada yang tidak bisa sekolah karena alasan finansial. Kita pernah terpaksa masuk ke lingkungan yang kita merasa asing. Kita pernah ada di keramaian tapi tetap merasa sepi. Kita punya tujuan yang berbeda-beda. Cuma kadar saja yang membedakan. Menjadi waras adalah pekerjaan utama kita. Tapi apapun itu, ingatlah selalu pesan Frank Sinatra seperti yang dinyanyikan Arthur ketika sedang berkonsultasi dengan psikiaternya;

that’s life that’s what people say you’re riding high in April shot down in May but I know I’m gonna change that tune when

I’m back on top, back on top in June .

Reset

Sejatinya memang saya berniat absen sementara dari menulis rutin di Linimasa ini. Saya pikir, sebulan cukup. Maka selama bulan September 2019 lalu, saya took a pause dari menulis rutin. Alasan lain yang saya buat untuk diri sendiri di awal bulan lalu adalah, masa awal project biasanya akan occupied dengan berbagai penyesuaian baru. Memang penyesuaian itu terjadi, namun ternyata datangnya bukan dari dalam pekerjaan yang dilakoni.

Penyesuaian kali ini datangnya justru dari luar. Berbagai riuh suara demonstrasi yang menuntut perbaikan kualitas hidup, mulai dari kebakaran hutan yang mematikan sampai rancangan berbagai undang-undang yang malah membelenggu hak asasi kita, mau tidak mau membuat kita ikut merasakan dampaknya. Meskipun kita tidak bersama mahasiswa secara fisik, meskipun kita tidak di tengah hutan yang terbakar in person. Nyatanya energi negatif yang dihembuskan pembakar hutan, anggota-anggota parlemen yang tidak kompeten, dan insensible political buzzers membuat kita lemah tidak berdaya menghadapi hari.

Saya tidak bisa mendeskripsikan apa yang saya alami. Saya merasa marah, tapi tidak tahu kenapa sampai begitu marah membaca apa yang sedang terjadi. Saya merasa takut, karena I feel fucked membaca calon aturan-aturan yang malah membuat banyak orang lebih memilih mati daripada hidup. Begitu besarnya perubahan yang seolah-olah mendadak terjadi, padahal sudah dirancang jauh-jauh hari tanpa kita ketahui, sampai-sampai kita berpikir, am I alone feeling this low?

Sampai saya melihat twit teman saya, Siska Yuanita, di bawah ini:

IMG_3608

IMG_3609

 

 

Sontak saya merasa lega sesaat. Ternyata kebingungan dalam amarah dan ketakutan yang saya rasakan, juga dirasakan orang lain. Ternyata kita tidak sendiri. Ada collective common feeling yang juga dialami beberapa orang. Paling tidak, the thought that we are never alone sudah cukup membuat kita bisa bangkit dan bergerak lagi.

Sembari kita bangkit, mungkin ini saat yang tepat buat kita menggali lagi rasa empati. Mau mendengar dan melihat perbedaan, karena dari pendengaran dan penglihatan, kita bisa mulai menerima. It’s time to reset while we fight, while we resist.

Semoga saya bisa terus menulis lagi, sambil menerima dan menjalani perubahan yang terjadi.

Love you all!

Kita, dan Kesukaran untuk Berpikir (Kritis)

woman with head resting on hand
Foto: H A M A N N

SETIAP orang memiliki akal sehat, atau setidaknya kesempatan asasi untuk diposisikan dan diperlakukan demikian, itu adalah sebuah fakta. Namun, bagaimana cara setiap orang berpikir dan mempergunakan akal sehatnya, itu adalah sebuah tanya.

Kita seringkali dibuat terheran-heran, mengapa seseorang atau sekelompok orang bisa setuju serta sepakat pada sesuatu yang terang-terangan keliru, salah, atau bahkan ngaco dan membahayakan? Kita pun jadi mempertanyakan: “Mereka enggak bisa mikir atau gimana, sih? Sudah jelas-jelas ngawur begitu, kok malah diiyakan?” Dari yang kurang lebihnya begitu, sampai yang riuh akhir-akhir ini, macam UU KPK, RUU KUHP, RUU PKS, dan beraneka keberisikan terkait hajat hidup orang banyak lainnya.

Dengan terlontarnya pertanyaan bernada protes di atas, perasaan atau kesan superior memang tak terhindarkan. Kita, dengan segala pemikiran dan seperangkat argumentasi yang kita miliki, seolah-olah lebih baik daripada mereka. Dan mungkin begitu pula sebaliknya. Akan tetapi, apakah sekadar perbedaan pemikiran yang menjadi masalah utamanya, ataukah ada persoalan yang jauh lebih mendasar dan lebih penting di balik polemik itu? Seberapa perlu, atau sejauh dan sedalam apa kita perlu melihat dari sudut pandang orang lain (yang pendapatnya berbeda) tersebut? Untuk berusaha mengetahui dan memahami beberapa hal:

  • Apa yang mereka anggap benar, dan kenapa?
  • Apa yang mereka taati serta patuhi, dan kenapa?
  • Apa yang mereka dengar, percayai, dan kenapa?
  • Apa yang menyebabkan dan mendorong mereka bersikap demikian?
  • Apa yang mereka lihat, dan bagaimana mereka melihat sesuatu?

Tak hanya bersikap dan berpikiran kritis terhadap orang lain, bagaimanakah kita bersikap dan berpikiran kritis terhadap diri kita sendiri? Bisa jadi salah satunya karena ini…

Orthodoxy means not thinking–not needing to think. Orthodoxy is unconsciousness.

Apakah berpikir, apalagi berpikir kritis dan cermat memang sesusah, atau semenyusahkan itu? Saking susahnya, sampai-sampai dihindari, bikin malas untuk dilakukan, dan menjadikan banyak orang–barangkali termasuk kita–untuk bersikap iya-iya saja, dan mengikuti yang ramai di depan mata?

Kutipan di atas saya temukan dari novel “1984”, salah satu karya George Orwell keluaran 70 tahun lalu. Dan entah mengapa, kutipan itu tampaknya bakal sering saya celetukkan, utamanya ketika mempertanyakan sikap diri terhadap sesuatu. Di dalam novel itu pun disajikan sebuah plot, yakni manakala masyarakat–orang banyak–dicegah agar tak mampu berpikir kritis lewat pembatasan bahasa dan kosakata.

Berpikirlah kritis, sebelum berpikir kritis itu dilarang.

Dalam hal ini, kepatuhan; keputusan untuk patuh terhadap sesuatu pasti ada penyebabnya. Kita meyakini pula, penyebab(-penyebab)nya juga pasti tersusun lewat proses pemikiran dan seperangkat argumentasi. Lalu, sudah sepaham apakah kita, untuk bisa menunjukkan serta menyatakan bahwa dasar-dasar argumentasi tersebut nyata salahnya dan perlu dihadapkan dengan koreksi?

Membaca dan membayangkannya saja cukup bikin spaning kepala, tetapi berpikir kritis sejatinya sebuah kemampuan berbasis kebiasaan. Makin sering dilakukan, makin mulus prosesnya, serta justru makin membuat kita haus akan referensi dan terus mencari sudut pandang berbeda, meskipun tentu saja menyita tenaga, waktu, perhatian, dan stamina.

Dan lagi-lagi, mungkin itu sebabnya berpikir serta berpikir kritis dirasa terlampau merepotkan bagi banyak orang.

Orthodoxy means not thinking–not needing to think. Orthodoxy is unconsciousness.” Berpikir kritis, demi terhindar dari pandangan keliru dan bias, fanatisme, serta apatisme dan ketidaktahuan.

[]

Terlalu Banyak Dipikir, Masalah Malah Jadi Kenyataan

“AKU berpikir, maka aku ada.” Ini kata René yang Descartes, bukan yang Suhardono.

Sementara, tanpa disadari, inilah yang terjadi dalam kehidupan kita hampir tiap hari: “Aku memikirkannya, maka itu ada, dan terjadilah.”

Sebuah masalah baru akan benar-benar menjadi masalah ketika terjadi. Namun, dengan mempersilakan masalah itu mewujud dalam bentuk pikiran-pikiran negatif, kegelisahan dan kekhawatiran yang berlebihan, serta memasrahkan diri untuk terus-menerus dilumat rasa takut, kita seolah-olah membantunya agar lebih cepat terjadi. Di tengah-tengah deraan masalah tersebut, barulah kita mencari-cari dispensasi dari mana saja. Melemparkan kesalahan kepada orang lain, kepada situasi dan keadaan, juga kepada diri sendiri secara keliru (menyalahkan diri sendiri untuk alasan yang salah).

Kita kerap tidak bisa santai barang sedikit saja terhadap diri sendiri. Didorong oleh banyak aspek dalam kehidupan–misalnya lingkungan sosial budaya dan tempat tinggal, kecenderungan sifat atau pembawaan dari lahir, maupun lewat nilai-nilai yang ditanamkan orang tua dan keluarga–kita diajari agar selalu curiga terhadap kehidupan. Bukan waspada, melainkan berprasangka.

Perbedaan antara waspada dan curiga adalah apa yang dipikirkan, dan apa yang akan dilakukan dalam menyikapi sesuatu.

Waspada lebih kepada bersiap-siap, berjaga-jaga, atau mempersiapkan diri terhadap sesuatu yang barangkali bisa terjadi. Tentunya ada sejumlah pertimbangan, perhitungan, dan antisipasi rasional yang dibangun. Kemampuan melihat dan berpikir secara jernih pun mutlak diperlukan, supaya tahu benar apa yang bakal dihadapi dan bagaimana menghadapinya. Apabila perubahan diperlukan, seseorang dengan kewaspadaan bisa menyesuaikan diri dan gesit bertindak. Tidak terlampau lama membuang-buang waktu dan tenaga untuk hal-hal tak perlu.

Berkebalikan dengan sikap waspada, curiga lebih berupa pikiran dan perasaan negatif yang tidak berujung ke mana-mana melainkan ke objek kecurigaan itu sendiri. Terdiri atas sekumpulan ketakutan, kekhawatiran, kegelisahan, keragu-raguan, kebingungan, penolakan membuta, yang pada akhirnya hanya bisa dikenali dan dirasakan sebagai sebuah ketidaksukaan besar, atau bahkan kebencian yang sukar dijelaskan alasan mendasarnya.

Saking kuatnya rasa tidak suka itu, sampai bisa memengaruhi dan menyetir tindakan kita. Cukup membuat kacau, membuat banyak hal terbengkalai, hingga justru menjadikan objek kecurigaan tadi menjadi kenyataan. Sebuah kondisi yang semestinya bisa diantisipasi atau dielakkan, malah kita fasilitasi biar terjadi… dan kembali lagi, tatkala peristiwa itu terjadi, ujung-ujungnya yang bisa kita lakukan hanyalah buang bodi, melempar kesalahan.

Kewaspadaan dapat ditumbuhkan dan terus diasah, sedangkan kecurigaan seharusnya dikenali dan diatasi. Manakala kita bisa menyadari sedang memupuk sebuah kecurigaan, angkat dia, siangi dan bersihkan menggunakan akal sehat, lalu coba amati secara cermat. Perhatikan, apakah ada poin-poin dari kecurigaan tersebut yang sekiranya mesti diwaspadai pakai akal sehat?

Kecurigaan yang telah disiangi dan dibersihkan menggunakan akal sehat, akan menyisakan inti masalah yang bisa dilihat dengan apa adanya. Tanpa dibungkus ketakutan, kegelisahan, dan kekhawatiran yang berlebihan. Hanya saja, jika kita telah berusaha keras tetapi tetap tidak mampu melihatnya, jangan pernah ragu untuk meminta bantuan dari orang-orang yang sesuai.

  • Takut berpotensi mengidap penyakit tertentu, cobalah konsultasikan ke dokter dan periksakan sebagaimana mestinya.
  • Takut berpotensi mengalami gangguan psikis, cobalah konsultasikan ke psikolog. Daripada membangun anxiety dan dibiarkan begitu saja.
  • Takut berpotensi tidak berguna secara karier, cobalah bicarakan ke atasan, atau bagian sumber daya manusia.
  • Takut berpotensi gagal dalam hubungan, cobalah dimulai dengan berbicara kepada pasangan demi mendapatkan kejelasan atas gejolak yang dirasakan. Dari situ, biasanya, akan ada progres. Setidaknya menjadi tahu agar tidak perlu resah berkepanjangan. Lalu, bisa juga menghasilkan keputusan.
  • Takut berpeluang mengalami kegagalan, cobalah berdiskusi dan bertukar pikiran dengan yang sudah pernah mengalami kegagalan sejenis.
  • Takut mati, ehm, mungkin cobalah dengan berbicara kepada diri sendiri, sang entitas yang nantinya bakal mati; atau cobalah berbicara kepada tuhan, sang entitas yang dianggap menciptakan dwi kondisi hidup dan mati tersebut. Bisa jadi akan ada jawaban yang menjernihkan pandangan.

[]

In Defense of Ladies Parking

background-bags-black-346751

Sudah lama saya memerhatikan nada banyak orang ketika berbicara soal Ladies Parking selalu agak miring. Ladies parking dianggap sebagai menegasi seruan kesetaraan gender. Sebenarnya apa ya, memangnya, maksud ladies parking itu? Ketika perempuan ingin setara haknya dalam segala hal, lalu kenapa harus ada ladies parking? Apakah sudah ketinggalan zaman dan sebaiknya ditiadakan saja?

Dalam menjawab pertanyaan itu saya agak netral, but hear me this; sebagai perempuan dan ibu saya cukup sering memanfaatkan ladies parking dan merasakan keuntungannya. Bukan karena saya perempuan yang kurang bertenaga dan tidak kuat jalan jauh, inginnya jalan dekat saja dari pintu ke mobil, ya. Terutama ketika saya masih punya anak balita, dan saya sering sekali di posisi di mana saya harus pergi belanja mingguan atau bulanan sendiri. Anak masih terlalu kecil untuk membantu, dan masih harus digendong, sementara belanjaan lumayan bobotnya, suami entah ke mana (atau ketika itu sudah pisah), ketika saya mendapatkan spot parkir di ladies parking, sungguh membantu rasanya. Walaupun saya cukup setrong, tetapi ketika membawa barang-barang, atau bahkan mendorong, ditambah harus menggendong anak, tidak mudah jika harus menempuh jarak jauh.

Ketika anak saya sudah cukup besar untuk membantu, sesungguhnya saya tidak lagi mengincar posisi ladies parking, karena parkir di mana saja tidak masalah. Saya juga sudah lebih bisa memilih untuk berbelanja di tempat-tempat yang parkirnya bisa lebih dekat ke pintu keluar, dibandingkan berbelanja di mall yang jarak dari pintu ke mobil biasanya lebih menantang.

Anyway, mungkin ladies parking bisa diganti menjadi , yang bukan disediakan untuk perempuan karena biasanya mengenakan heels sehingga lelah untuk jalan jauh, tetapi untuk manula, ibu atau ayah yang bepergian sendiri dengan membawa anak yang masih kecil, dan pengendara atau penumpang difabel? Why not?