Karena Semua Ada Asal-Muasalnya

Kemarin siang, di Pengadilan Negeri Surabaya, salah satu pengacara lokal, Sudiman Sidabukke, bertanya apakah ada bedanya antara “perbuatan melawan hukum” dengan “perbuatan melanggar hukum“.

Ahli, yang saya lupa namanya, menjawab pertanyaan itu dengan sigap.

“Sepanjang yang Bapak maksud adalah Onrechtmatige daad, maka keduanya sama.” Kemudian ia menjelaskan lebih lanjut,

“Bedanya kalau Bapak baca terjemahan Wiryono  (Wiryono Prodjodikoro) maka akan menggunakan istilah “melanggar”, sedangkan Subekti akan dimaknai sebagai “melawan hukum”.

Jawaban yang sederhana. Ahli yang mengembalikan perbedaan tafsir kepada kata asal. Soal hukum Indonesia adalah soal warisan Belanda. Maka ketika ada beda makna, ia mengembalikannya pada sang muasal: Bahasa Belanda. It’s so simple.

Jika saja kita membiasakan diri kepada yang asal, maka percabangan makna – bahkan awam menganggapnya sebuah pertentangan- dapat dihindari.

Sama halnya dengan feeling, perasaan senang. Kita menyebutnya bahagia. Apakah bahagia juga sejatinya adalah hal sederhana jika kita mengetahui asal-muasal darimana bahagia dalam diri itu muncul.

Ada yang bilang bahagia itu setelah kita banyak duit. Mau beli apa-apa mudah. Hidup mudah, ndak susah. Ada yang bilang materi ndak penting, tapi soal menyusukuri nikmat. Ada yang beranggapan selama sehat, fisik prima, rohani dan mental baja, maka hidup akan baik-baik saja dan gemah ripah loh jinawi.

Ketika itu ditanyakan dalam Quora, seseorang menjawab dengan mengembalikan asal muasalnya.

I am rich, fit, and I have mastered almost everything I wanted to master. Why am I still not happy and still not satisfied?

Seorang pengguna Quora, Karim Elsheikh, menjawab demikian:

Human happiness (as we know it) is caused by 4 basic chemicals:

  • Dopamine
  • Endorphins
  • Serotonin
  • Oxytocin

On your journey to become fit, your body released endorphins to cope with the pain of physical exercise.

You probably began to enjoy exercise as you got more into it, and the endorphins made you happy – temporarily.

On your journey to become rich, you probably completed many tasks and goals.

You probably bought all the things you’ve ever wanted. Nice cars, beautiful clothes, and a perfect home.

This released dopamine in your brain when you achieved your goals and bought these things, which once again contributed to your happiness – temporarily.

So what about the other two chemicals?

It turns out that human happiness is incomplete without all 4 chemicals constantly being released in the brain.

So now you need to work on releasing serotonin and oxytocin.

How do I do that, Karim?”

Serotonin is released when we act in a way that benefits others. When we give to causes beyond ourselves and our own benefit. When we connect with people on a deep, human level.

Writing this Quora answer is releasing serotonin in my brain right now because I’m using my precious time on the weekend to give back to others for free.

Hopefully I’m providing useful information that can help other people, like yourself.

That’s why you often see billionaires turning to charity when they have already bought everything they wanted to, and experienced everything they wanted to in life.

They’ve had enough dopamine from material pleasures, now they need the serotonin.

Oxytocin, on the other hand, is released when we become close to another human being.

When we hug a friend, make love to our partner, or shake someone’s hand, oxytocin is released in varying amounts.

Oxytocin is easy to release. It’s all about becoming more social!

Share your wealth with your friends and family to create amazing experiences.

Laugh, love, cooperate, and play with others.

That’s it my friend!

I think it all comes down to the likelihood that you are missing two things: contribution and social connection.

Itulah bahagia secara ilmiah. Mengembalikan asal muasal kesenangan secara kimiawi dari dalam tubuh kita. Hal yang patut diperhatikan adalah jawaban Karim dengan mengulang satu kata: “Temporarily“.

Dari penjelasan dia, saya menyadari bahwa “perasaan anget” dalam dada, bukanlah soal “hati”, tapi reaksi kimiawi otak yang mengakibatkan reaksi tubuh menghangat sekitar dada. Perubahan detak jantung, keluarnya zat tertentu dalam otak, laju darah yang berubah, menimbulkan sebuah efek yang “menyenangkan”.

Karena memang rasa senang, atau orang menyebutnya bahagia, tidak akan langgeng. Dan jika kita menyadarinya mengapa, maka kita akan memakluminya.

Jadi,.. jika ada yang bertanya apa bedanya senang dan bahagia dan mengapa bisa mengalami perasaan itu, maka jawabannya adalah soal “reaksi dalam otak”. Ahahaha.

salam anget,

Roy

(Capres RI 2024-2029)

 

Advertisements

Katanya “I Travel Because I Have to, I Come Back Because I Love You”

Judul tulisan di atas adalah judul film dari Brazil produksi tahun 2009 karya Marcelo Gomes dan Karim Ainouz. Menurut saya, ini salah satu judul paling romantis yang pernah dibuat untuk sebuah produksi film.

Apakah filmnya romantis? Well, kalau Anda tidak terbiasa menonton film-film arthouse yang serius, pasti penasaran ingin menekan tombol fast forward di sebagian besar adegan.
Namun paling tidak, judul filmnya sendiri sudah mengundang rasa penasaran kita.
Terutama bagi mereka yang sering bepergian.

Anda pernah nonton film Up In the Air?
Film ini menceritakan pengalaman George Clooney sebagai seorang eksekutif profesional yang bertugas menyampaikan langsung penghentian kerja kepada karyawan yang terkena PHK tersebut. Pekerjaannya membuat tokoh ini harus bepergian lebih dari 300 hari dalam setahun. Hampir tidak pernah ada di rumah, bahkan mulai mengaburkan konsep rumah sebagai tempat tinggal.

Toh dia lebih sering menghabiskan waktu di pesawat dan di hotel. Di beberapa adegan kita melihat apartemennya nyaris kosong, hanya ada beberapa perabotan seadanya. Makanya tokoh ini tidak pernah betah saat dia lagi “off days”. Ada rasa kecanduan tertentu yang dia dapatkan saat bepergian.

tumblr_nuc4frLsPx1ubc3b0o4_500

Saya yakin Anda kenal atau punya beberapa teman atau saudara dengan aktivitas bepergian seperti ini. Atau mungkin Anda sendiri yang menjalaninya?

Kebetulan beberapa teman dekat saya menjalani kehidupan seperti ini. Demi urusan pekerjaan, bukan sekedar update akun media sosial, mereka sering bepergian, baik ke luar kota, luar pulau, atau luar negara.

Ada yang lajang, ada yang sudah berpasangan, ada yang menikah. Tentu saja perspektif mereka tentang “pulang” berbeda satu sama lain.

Teman saya yang lajang bilang, “Kayak semacam ada hollow gap yang gak bisa gue jelaskan tiap kali gue pulang bepergian. Mungkin karena gue pulang ke apartemen gue yang kosong karena tinggal sendiri. Udahlah tinggal sendiri, pulang pasti apartemen jadi pengap karena berhari-hari ketutup dan listrik dimatiin ‘kan. Jadi kayak makin males untuk pulang.”

Sementara teman-teman yang berpasangan atau menikah kurang lebih memiliki pandangan yang sama.

“Pulang, karena ada yang nungguin. Ada yang nanyain kapan pulang.”

“Ada yang ngangenin.”

“Bener. Ada yang gak bisa tidur, sampe harus naruh kaos gue di bawah bantal.”

“Persis kayak anak gue. Tiap hari harus nonton video gue ama dia supaya dia bisa tidur.”

“Ya kayak gitu yang akhirnya bikin kita harus pulang. Rutinitas kecil yang gak bisa gue tinggal.”

“Bisa sih elo tinggal, tapi apa elo mau? Itu kan masalahnya?”

“He eh. I mean, it’s nice to have a break, traveling to other places, dikelilingi suasana baru, pengalaman baru …”

” … Selingan baru, bro?”

“Heh! Hahahaha. Well, anyway …”

” … Hahaha …”

“Pada akhirnya ada semacam kekuatan yang menarik diri elo untuk gak berlama-lama pergi. Call it attachment or whatever ya, saat elo sudah memutuskan untuk commit to a life with the one or the ones you love, tanpa ada paksaan elo akan kembali. Pada akhirnya, elo kangen rutinitas hidup elo yang elo biasa jalani, yang elo tahu, yang elo hapal di luar kepala.”

Teman saya yang lain mengangguk.

IMG_20180710_104418_1

Rutinitas. Ternyata ini juga yang diamini teman saya yang lajang. Tentu saja rutinitas yang berbeda.

“Gue kan cenderung jadi light traveler minimalis borderline pemalas ya kalo bepergian. Hahahaha. Jadi ya gak gue bawa lah segala macem sepatu lari dan peralatan olahraga lainnya. Makanya gue selalu look forward to doing my usual activities lagi kalo pulang dari bepergian. Lari pagi keliling kompleks dua hari sekali. Kelas-kelas di gym every other day juga. Yoga pas weekend sebelum ketemu ponakan-ponakan gue. I always miss those routines. Ternyata kita orangnya gak bisa lepas dari rutinitas ya? I mean, no matter how far and free we go, we miss that orderly life. Oh, satu lagi ding. Makanan Indonesia, maaan! Segala macem ghoulash atau steak paling enak, gak ada yang ngalahin nasi Padang bungkusan! Beneran. I love it! I can marry nasi Padang so I can always come back to the one I love. Hahahaha!”

Saya ikut tertawa.
Sambil diam-diam berpikir, apa yang sudah kita cintai sampai membuat kita selalu ingin kembali?

IMG_20180707_103029

Photo by Felix Russell-Saw on Unsplash

Menghakimi dan Menghukum Orang Lain Itu Memang Nikmat

MANUSIA memang makhluk yang istimewa. Baik pandangan agama maupun sains sama-sama menyepakatinya.

Menggunakan akal, manusia menjadi satu-satunya spesies di muka bumi ini yang mampu berpikir dan menimbang, menghasilkan kehendak untuk bertindak.

Manusia juga bisa mengenali dan merasakan sensasi yang dihasilkan dari tindakannya tersebut, tahu mana yang menyenangkan dan tidak menyenangkan. Yang kemudian memunculkan keinginan untuk dapat merasakannya lagi, atau justru berusaha menghindarinya lain kali.

Termasuk tindakan yang satu ini; nikmatnya menghakimi dan menghukum orang lain.

Ya, hanya manusia yang bisa melakukan ini terhadap sesamanya. Terlebih kepada orang asing, orang-orang yang tidak memiliki kedekatan subjektif. Makin mudah saat melakukannya, tanpa beban. Maka jangan heran jika internet dan media sosial akan selalu ramai dengan urusan yang satu ini. Lantaran siapa saja dapat bebas berbicara, menyampaikan alasan, pemikiran, serangan, dan penghakiman.

The more the merrier. Tambah “meriah” ketika timbul tanggapan yang bertentangan. Kedua kubu mendapatkan gelombang dukungan. Begitu aja terus, sampai akhirnya reda, terlupakan, dan beralih ke drama berikutnya.

Photo by Kristopher Roller on Unsplash

Photo by Kristopher Roller on Unsplash

Manusia mempunyai kecenderungan untuk ingin melibatkan diri dalam urusan manusia lain, bahkan dengan kadar terendah sekalipun (dengar sekilas, dan ditanggapi: “Oh, begitu…”). Ini mungkin ada kaitannya dengan sifat instingtif manusia yang penasaran dan selalu ingin tahu sejak awal, alias kepo.

Penghakiman sosial identik dengan komentar pedas dan menjatuhkan, atau nyinyiran di media sosial. Berawal dari sebuah pernyataan atau celetukan seseorang, diikuti pernyataan setuju yang tak kalah nyelekitnya.

Tanpa bermaksud merendahkan kaum ibu rumah tangga, di ranah analog, penghakiman sosial seperti ini terjadi di “majelis” gerobak tukang sayur keliling. Ada yang berbicara, ada yang menyimak, ada yang menimpali. Sedangkan yang tidak setuju akan merasa kurang nyaman, dan mempercepat aktivitas berbelanjanya.

Di Facebook atau Twitter, seseorang menuliskan sesuatu. Sedang tren dibikin thread atau rangkaian twit, bisa juga berupa posting-an panjang di Facebook. Ada yang me-Retweet, ada yang memberikan komentar, ada yang membagikannya ke laman sendiri dengan atau tanpa pernyataan tambahan. Terkadang malah lebih heboh dan berapi-api, memanas-manasi. Tak terlalu berbeda dengan “majelis” ibu-ibu kompleks tadi, kan? Hanya saja, informasi yang disampaikan di media sosial bisa dibaca publik, termasuk oleh yang tidak setuju. Umumnya, tulisan berbalas tulisan, nomention berbalas nomention, ujung-ujungnya pun jadi tweet war.

Third-Party Punishment

Berbeda dengan binatang, manusia menggunakan manusia lain guna penyelesaian konflik. Bukan pertarungan langsung. Di antara dua individu yang bermasalah, selalu ada pihak lain yang berada di tengah-tengah. Dalam bentuk yang formal, sebagai lembaga, ada perangkat peradilan. Terdapat seseorang atau sekumpulan orang yang berwenang memberikan ganjaran.

Nah, masalahnya ada pada sekumpulan orang yang tidak berkedudukan sebagai hakim, tetapi menikmati bertingkah laku selayaknya hakim.

Mengapa tindakan menghakimi dan menghukum orang lain terasa nikmat?

Sebab dengan menghakimi orang lain, kita merasa telah menjadi individu yang lebih baik dibanding si “terdakwa”; tiada bercela, berpijak di pihak yang benar, menjunjung tinggi kepatutan sosial, memiliki kualitas moral yang terpuji. Pokoknya mengedepankan hal-hal yang menggembirakan ego kita, membuat keberadaan kita seolah amat berharga dibanding orang lain, yang kebetulan tengah melakukan kesalahan. Tak peduli sekecil apa pun kesalahan tersebut, tak peduli sudah semenyesal apa pun yang bersangkutan meminta maaf, dan sebagainya.

Aku lebih baik daripada kamu. Titik.

Dilanjutkan dengan memberikan hukuman. Bukan sanksi formal, melainkan hukuman sosial, yang maraknya ya berupa cemoohan tertulis dan cuplikan twit, status, atau pesan pribadi (DM). Bertujuan awal agar yang bersangkutan menyadari kesalahan dan mengubah perilakunya (tetap dengan pendekatan “Kamu salah. Lihat aku dong, aku kan benar.”) atau ya … ingin mempermalukan orang lain saja.

Tambah asoi lagi jika dilakukan rame-rame, keroyokan. Pasalnya, selain merasa mendapat dukungan, semua orang ingin tampil dan bersuara, dan karakteristik media sosial yang terbuka seakan kian menyemangati banyak orang untuk unjuk diri. Sehingga respons yang muncul seringkali terlihat berlebihan, ya jumlahnya, ya isi pesannya. Melenceng dari niat awal.

Ini bersifat alamiah. Kajian “The Neural Basis of Altruistic Punishment” yang dirilis 2004 lalu bahkan menunjukkan bahwa kegiatan menghukum orang lain berdampak pada bagian tertentu di otak manusia, khususnya yang berhubungan hadiah atau ganjaran (reward). Indikasi sederhananya, sedari kecil kita terkondisi untuk merasa senang saat menerima hadiah, dan seperti itulah yang kita rasakan setelah berhasil menghukum orang lain.

Jangan lupa, kenikmatan yang digandrungi secara berlebihan, apalagi sampai bikin kecanduan, bisa berujung pada kerugian. Seseorang yang terlalu suka menghakimi, menghukum, dan mempermalukan orang lain secara terbuka, tetap berpotensi melakukan kesalahan. Dia—seseorang yang awalnya dianggap benar, suci, tak ternoda—pun tetap bisa menjadi sasaran penghakiman massa selanjutnya.

Celaan balik yang dilancarkan khalayak bakal tanpa tedeng aling-aling. Mirip air bah. Terang-terangan dan banyak. Sampai berlebihan. Oleh sebab itu wajib punya mental yang kuat untuk sanggup menghadapinya.

Dulunya menghantam, eh kini gilirannya kena hantaman serupa. Sakit hati gara-gara rasa malunya lebih gede. Harga diri dan gengsi ikut kebanting.

Benar banget sih, memang paling enak ngomongin orang lain. Cuma, alangkah baiknya ditinjau dan ditanyakan ke diri sendiri terlebih dahulu sebelum melakukannya: “Apa sih tujuanku (dengan ngomongin orang lain itu)?” Kalau hanya pengin mempermalukan orang lain di depan umum, ya apa bedanya dengan iseng ikut-ikutan mukulin maling. Merasakan kegembiraan dari perbuatan jahat.

Masih banyak hal yang lebih penting untuk dilakukan, dan kamu bukan juru selamat peradaban, kok.

[]

Persamaan Virgil dan Dia

Di sebuah masa 30-40 tahun yang lalu, para orang tua berbelanja barang fesyen berkualitas untuk keluarganya. Berkualitas saat itu dimaknai sebagai tahan lama. Awet. Inget sepatu Kickers atau sepatu sendal Birkenstock misalnya. Atau celana jeans Levi’s 501, yang menjanjikan bisa dipakai ratusan tahun. Ah, saya sudah lupa label yang lain. Yang pasti, nasehat orang tua untuk rela mengeluarkan uang sedikit asal tahan lama, menempel dan kemudian menjadi panutan.

Maju ke depan ke tahun 2000-an, hadirlah label-label macam Zara yang menawarkan desain. Zara tidak pernah menjanjikan kualitas tahan lama. Tapi desain yang mengikuti zaman, atau lebih tepatnya desain pakaian yang sedang dikenakan peragawati untuk dikeluarkan di musim berikutnya, Zara pun akan menawarkan desain serupa. Perlahan, awet dilupakan. Kalau kebetulan awet ya alhamdulillah, enggak juga gapapa.

Pemikirannya sederhana, buat apa beli barang fesyen yang tahan lama. Sebentar lagi juga akan ketinggalan zaman. Ganti tren, tinggal beli baru lagi. Begitu seterusnya sampai menumpuk di lemari pakaian. Kemudian Marie Kando, ratu bebenah asal Jepang, mengajarkan untuk bebenah dan meniadakan barang-barang tak terpakai di rumah. Beramai-ramailah masyarakat kekinian melepas barang-barang fesyennya yang tak lagi bisa dipakai. Tentunya, memberikan ruang kosong di lemari pakaian untuk diisi dengan benda fesyen baru lagi. Gitu aja terus lah sampai Indonesia menang Piala Dunia.

2012, Virgil Abloh mengeluarkan label OFF.WHITE yang berkembang di kalangan pencinta street-wear dan dikenakan oleh para selebriti dunia macam Rihanna, Beyonce, Justin Bieber, Kendall & Kylie Jenner dan lain-lain. Virgil dan Kanye West pernah sama-sama magang di rumah fesyen FENDI. Mereka terus berteman dan sekarang masing-masing punya label pakaian yang ngehits. Kanye dengan sepatu Yeezy dan Virgil dengan OFF.WHITE.

Kehadiran Off.White ditanggapi dengan sinis oleh tak hanya oleh para pencinta fesyen tapi dunia desain pada umumnya. Mereka sama-sama merasa tak ada nilai desain yang pantas untuk dihargai mahal. Dan semuanya adalah hasil kerja keras marketing, bukan karena nilai desain.

Terserah setuju atau tidak setuju, yang pasti sekarang bisa disebut sebagai era desain. Desain menentukan apakah sebuah produk bisa laku atau tidak. Strategi marketing tentu membantu, tapi akan berhenti di suatu titik saat desainnya tidak bisa diterima. Ada banyak contoh kerja keras marketing yang gagal mengangkat sebuah karya desain yang tak diterima. Mau teriak sampai jontor kalo jelek ya jelek aja.

Sejak memulai jualan tote mangkok ayam 4 tahun yang lalu karena iseng-iseng, belakangan saya banyak belajar soal desain yang bisa diterima oleh pembeli. Tak semua produk langsung laris. Ada yang pergerakannya lamban. Dari situ saya belajar desain seperti apa yang digemari orang. Karenanya, mengapa produk-produk saya jual di toko off-line seperti Aksara, JKT Creative, dan terakhir Museum Macan karena saya percaya dari sanalah saya bisa belajar sesungguhnya.

Di toko, barang produksi saya tak berjualan sendirian seperti di akun Instagram, tapi berdampingan dengan banyak produk karya lain. Di toko pula, orang lalu-lalang dan kemudian berhenti untuk melihat, memegang, merasakan sebelum memutuskan untuk membeli. Dan di toko pula, kata sold-out menjadi terukur. Kalau dagang di Instagram bilang sold-out tak ada yang pernah tau berapa stock yang disediakan. Jangan-jangan cuma setengah lusin. Tapi di toko, ada catatan berapa barang masuk dan berapa barang keluar.

Berjualan di toko, juga membungkam prasangka kalau pembelinya hanya teman-teman penjualnya. Yang lalu lalang di toko kan bisa dibilang “masyarakat umum” yang kemungkinan besar tidak tahu siapa kreatornya kecuali artis yang biasanya malah sengaja mencantumkan namanya sebagai daya jual.

Kemudian saya iseng memposting desain tas ini di IG Story dengan polling YAY or NAY. Bisa diduga 80% bilang Nay. Tak sedikit yang langsung DM dan dengan keras melarang untuk memproduksinya. Secara garis besar alasannya sama, desain yang gak ok. Ikut-ikutan. Gak asik. Keluar dari pakem Mangkok Ayam selama ini. Sampai ada yang mengancam kalau diproduksi akan memboikot HAHAHAHAHAHA. Tentunya semua pendapat tadi menarik. Karena sekarang semua bicara soal desain. Dan hanya desain. Bukan fungsi. Bukan kualitas.

Kan tidak ada yang bertanya tas itu terbuat dari bahan apa? Ukurannya berapa? Ada warna lain gak? Harganya berapa? Semua membicarakan desain. Buat saya, tentu ini menjadi menarik. Saya harus berterima kasih kepada semua yang selama ini sudah menghadirkan beragam kejadian yang membuat masyarakat semakin mencintai desain.

Ini menjadi penting dan berguna di era keragaman seperti sekarang. Kok jauh amat? Ya karena semakin dekat dengan desain, maka kita akan semakin paham kalau desain itu sangat obyektif. Dan karena obyektif maka tidak ada yang benar dan salah. Sama seperti pemahaman soal agama, cinta, dan Tuhan. Bayakan, kembang hasil desain Tuhan saja, bisa ada yang suka dan ada yang tidak. Apalagi desain seorang Virgil Abloh. Mungkin lewat desain bunga, Tuhan mengajarkan makna toleransi.

 

Kesempatan Kedua

Ketika hal yang kita idamkan ternyata tidak didapat ketika pertama kali mencoba, apakah akan selalu ada kesempatan kedua?

Terkadang ada kekurangannya jadi ibu dari satu anak, jadi sungguh lugu dalam membuat game plan soal seleksi masuk sekolah. Karena ketidaktahuan (eufimisme dari kebodohan, dan tidak tahu bagaimana mengajukan pertanyaan yang benar), nyaris anak tak masuk sekolah negeri, hanya karena peraturan yang tidak familier.

Setelah tiga pilihan sekolah tidak masuk, saya mengira kesempatan sudah lewat, dan harus menunggu tahap berikutnya seperti mahasiswa. Ternyata masih ada kesempatan untuk merevisi pilihan sekolah, dan kami pun diberi kesempatan kedua.

Saya percaya kalau kesempatan kedua akan selalu datang, hanya saja kita mungkin perlu menunggu dan tidak selalu segera datang. Ketika datang kesempatan itu, apakah kita mau mengambilnya, atau jangan jangan kita sudah sibuk mengejar yang lain lagi?

Jika di kesempatan kedua we still messed up, do we deserve a third chance? Saya masih menunggunya.

Tapi jika kesempatan kedua datang di waktu yang tepat, dan kita ambil dengan niat untuk melakukan yang terbaik, walau jiwa sudah tidak selengkap kesempatan pertama, that’s the best thing that could happen to someone.

Congratulations, Roy Sayur.

Jika Pablo Cikaso Bermain Musik

 

Scrap-Paper-Dinosaur-Collage-Art.png

Ketika sifat Jamaliyah menetes dalam nurani kita, maka turunannya yang timbul adalah seni. Batu cadas yang dipahat bisa menjadi “sebuah bentuk”. Deretan tinta menjadi kaligrafi. Potongan kertas yang ditempel bisa menjadi “sesuatu”.

Juga sisi kelembutan bunyi. Secarik suara, sepenggal denting, alunan yang disusun dengan selera, bisa membuat mimpi basah yang berawal dari gendang telinga.

Suara di tangan Pablo Cikaso, sebut saja begitu, menjadi sebuah scrapbook berisi remah-remah warna yang disusun secara abstrak, namun ternyata fraktal. Bagai secarik kertas ditempeli potongan berita koran, juga ditempel wajah SBY, lalu di sebelahnya ada potongan obituari, dan di atasnya sebuah tanda rambu lalu lintas tertera.

Pernahkah kamu bayangkan sebuah poster grup musik Tame Impala, ditimpa wajah Raam Punjabi, dan cuplikan foto trailer sinetron Tuyul dan Mbak Yul? Pernah? Sanggup? Oleh Pablo Cikaso bayangan yang baru saja saya sebutkan ini diwujudkan dalam bentuk sebingkis lagu. Pablo menyebutnya “If Kevin was Punjabi”.

 

Bagaimana? Keren bukan?

Itulah asiknya Raka Suryakusumah, nama asli Pablo Cikaso. Olah tempel suara yang dihasilkan sedikit mencengangkan. Sedikit nakal tapi banyak binal. Suara TOA yang biasanya diperdengarkan dari atas masjid dan membahana, tak luput dari keisengannya.

Terkadang Raka memilih jalur karir Barista sekaligus Bartender. Meramu tequila dengan dua gelas kecil espresso. Kok bisa? Kenapa ndak. Lagu Sepohon Kayu yang bernuansa relijius dikocok olehnya dengan semangat Daft Punk. Maka jadilah lagu “If Daft Punk think about the purpose of life”.

“Kenapa Pablo Cikaso?” Suatu ketika saya bertanya padanya.

“Pablo? Saya menyukai pelukis abstrak itu. Terkadang dia ekspresionis, juga surealis namun kita lebih mengenalnya dengan aliran kubisme. Cikaso? Karena saya dulu ngekos disana. Hahaha.”

Beberapa lagu Indonesia lawas juga ia garap. Dengan sentuhan Lo-Fi. Semacam trend bermusik dimana frekuensi lagu sedemikian rendah seolah-olah pita kaset sedang diperdendangkan. Bahkan terkesan mendem, yang pada gilirannya membuat hati tentram, jiwa tenang. Cocok dengan saya, anggota barisan Om-Om Tenang. Lagu “Andaikan kau datang kembali midnight talks remix”, misalnya.

 

“Oh, iya. Pertanyaan penting nih. Kamu anak twitter atau anak IG, Blo?”

“Wah pertanyaan yang susah dijawab. Saya dulu anak basket. Tapi sejak SMP sudah main twitter. Lagu saya juga diunggah ke youtube. Jika banyak kanal bisa disambangi, kenapa harus membatasi diri?” (catatan: akun twitter Raka adalah @_raksur dan channel youtube Pablo Cikaso )

“Oh ya? Sejak SMP?”

“Iya, jaman saya masih seneng nonton Crayon Sinchan.” 

“Oh filem kartun yang mengocok perut itu kan?”

Nope!”, dia menggeleng. “Filem Sinchan itu semacam musik Isao Tomita.”

“Maksudnya?”, tanya saya penasaran.

“Bagi saya, Crayon Sinchan film yang begitu tenang dan menenangkan”

Gimana-gimana?“, saya makin penasaran kenapa filem kartun yang terkadang kurang ajar itu malah tenang.

Biar ndak bingung, mas cekidot aja lagu saya ini. Nanti juga paham.”, ujarnya sembari menyalakan sebatang kemenyan rokok.

 

salam anget,

Roy

+ bonus lagu Crayon Sinchan versi mp3 ala Raka Suryakusumah. (supaya bisa didengar lewat hape walau aplikasi lain dibuka)

Tiga Penutup Yang Membuat Pikiran Kita Tak Tertutup

Kita punya kecenderungan untuk mengingat hal-hal yang paling terakhir kita lihat. Termasuk, tentu saja, dalam urusan menonton film.

Salah satu pertanyaan paling lumrah yang sering kita terima saat kita bercerita kalau kita selesai menonton film adalah, “terakhirnya gimana?” Atau “ending-nya gimana?” Saya pribadi cenderung menjawab pertanyaan seperti ini dengan “nonton sendiri aja”, karena ingin si penanya juga merasakan sensasi yang sama seperti yang saya rasakan. Atau cukup dengan “ya gitu deh” untuk mengindikasikan bahwa film tersebut tidak saya rekomendasikan.

Namun ada kalanya akhir sebuah film membuat saya terkesima. Tertegun sampai terdiam. Lalu ada delayed reaction yang membuat saya, sering kali, tepuk tangan saking terpesonanya.
Ending atau adegan akhir seperti ini tidak sering muncul di film. Kalaupun ada, kemunculannya belum tentu setahun sekali. Saking jarangnya, bisa dibilang ending istimewa seperti ini adalah jenis movie magic yang langka.

Setelah menonton ratusan film produksi abad ke-21 sejauh ini, ada tiga film dengan adegan terakhir yang sangat berkesan buat saya. Kebetulan tiga-tiganya film dari benua Asia. Namun kesamaan ketiga film ini hanya berakhir sampai di situ.

Apakah bisa dibilang ketiganya mempunyai akhir yang bahagia, atau happy ending? Jawabannya ya dan tidak.
Apakah ketiga film ini mempunyai akhir yang tidak bahagia, atau sad ending?
Jawabannya ya dan tidak.
Apakah ketiga film ini diakhiri dengan adegan yang membuat kita berpikir, lalu tersenyum karena pada akhirnya happy ending atau sad ending itu tergantung pada bagaimana kita menginterpretasikan adegan-adegan tersebut?
Jawabannya sudah pasti “ya”.

Ketiga endings ini sangat saya sukai, karena mereka tidak menawarkan jawaban pasti. Oke, ada satu yang mengarah kepada sebuah kepastian, meskipun tidak definite. Namun semuanya membuat kita tersenyum bahagia, karena kita baru saja meyaksikan sebuah masterpiece yang layak ditonton.

Inilah ketiga film tersebut:

Mother (2009)
Sutradara: Bong Joon-ho

Di kalangan penggemar film dengan tingkat kegemaran yang serius, atau biasa disebut cinephile, nama sutradara asal Korea ini sudah tidak asing lagi. Namun entah kenapa, film ini jarang disebut sebagai “top 3 of his works”. Semuanya pasti ramai menyebut Oldboy atau Sympathy for a Vengeance. Padahal film Mother ini tidak kalah “keras” dengan kedua film tersebut. Malah cenderung sangat bad ass, karena kita tidak menyangka bahwa cinta seorang ibu yang melindungi anaknya bisa membuat kita sebagai penonton terhenyak dan terbelalak. Selama 129 menit kita disuguhi adegan dan gambar yang membuat kita tidak percaya bahwa seorang ibu bisa melakukan hal-hal yang rasanya tidak mungkin dilakukan oleh ibu rumah tangga biasa.
Makanya, melihat adegan terakhir di mana sang ibu menggerakkan badannya mengikuti alunan melodi musik di saat matahari baru mulai terbenam bisa membuat penonton jatuh hati, bernafas lega, meskipun tak perlu tahu nasib apa yang menanti sang ibu di kemudian hari.

Piku (2015)
Sutradara: Shoojit Sircar

Film ini sudah beberapa kali saya bahas di Linimasa maupun blog pribadi. Ya, film yang terkesan “bawel dan cerewet” ini mempunyai kebesaran hati yang luar biasa dalam menampilkan karakter-karakter utamanya yang terkesan sangat hidup. Deepika Padukone tak perlu mengubah penampilan fisiknya demi menjadi seorang perempuan pekerja kantoran kelas menengah yang hidup hanya untuk melayani ayahnya. Demikian pula dengan Irrfan Khan dan Amitabh Bachchan yang bermain “all out”.
Agak susah menerangkan kenapa adegan paling akhir dari film ini bisa sangat memorable tanpa tidak memberikan spoiler. Anda harus menonton film ini dari awal, karena adegan paling akhir, saat Deepika Padukone dan Irrfan Khan bermain badminton di halaman rumah, lalu pembantu rumah meminta ijin untuk masuk, menjadi pembungkus keseluruhan film yang, mau tidak mau, membuat kita tersenyum lebar dan lega. Salah satu a genuinely sweet ending yang sangat langka ada di film Hindi atau film-film berbahasa lain dari India.

Sang Penari (2011)
Sutradara: Ifa Isfansyah

Tanpa tedeng aling-aling, menurut saya inilah salah satu film Indonesia terbaik yang pernah diproduksi di negeri ini. Adegan demi adegan mengalir lancar. Kualitas produksi patut diacungi jempol. Penampilan hampir semua pemainnya, mulai dari para pemain utama sampai figuran, hadir dengan efektif. Lalu ditambah dengan adegan penutup yang sangat menggugah hati. Betapa tidak. Kelamnya masa-masa pasca 1965 yang membuat banyak orang tak bersalah menjadi tersiksa dan terlantar, malah dibuat menjadi hopeful saat Srintil menari di tengah sawah. Saat sempur selendang Srintil berwarna merah menghiasi layar kita, dengan senyuman khas seorang ronggeng yang tetap optimis meski termakan usia, kita pun ikut tersenyum dalam haru. You could not ask for a more perfect ending than this.

Ada ending film yang paling Anda sukai?

Photo by Jeremy Yap on Unsplash

“Kalau Bisa Dibikin Mudah, Kenapa Cari yang Susah?”

KEMUDAHAN itu menyenangkan, bikin nyaman, dan tidak merepotkan. Sedangkan hal-hal yang susah itu menyulitkan, terasa membebani, dan bikin ruwet. Membuatnya cenderung ditolak dan dihindari. Makanya, sangat wajar bila kita menginginkan semua kemudahan dalam hidup. Tergambarkan lewat ungkapan populer sebagai judul di atas.

Sejak awal, manusia terus berusaha keras untuk membuat, menciptakan, dan mewujudkan kemudahan. Bermacam-macam bentuknya. Dari yang berupa benda, sampai yang mempergunakan sesama manusia menjadi objeknya.

Para penemu dan ilmuwan berhasil menciptakan terobosan, inovasi, dan teknologi untuk memudahkan kehidupan manusia. Sejak manusia pertama berhasil memahat batu dan menjadikannya senjata untuk memudahkan perburuan; penemuan cara membuat api dan mempertahankannya agar tetap menyala di malam hari agar mudah mendapatkan kehangatan, perlindungan dari cuaca dingin dan hewan buas; menemukan roda untuk mempermudah pergerakan; menemukan tulisan dan kertas; serta kemajuan-kemajuan aspek fisik masa kini.

Begitu pula di bidang sosial. Dimulai dengan bahasa, tuntunan adat dan norma budaya, sistem hukum lainnya dan agama, konsep kerajaan, negara, dan penguasa, termasuk perbudakan. Ketika seorang manusia, atau sekumpulan manusia, merasa berhak membeli manusia-manusia lainnya, untuk kemudian dianggap sebagai benda hidup pelaksana perintah.

Ironisnya, banyak capaian kebudayaan dunia dari masa lalu yang justru bisa terjadi “berkat” perbudakan. Piramida Mesir dibuat oleh budak, Tembok Besar Cina juga dibuat oleh budak, bahkan sendi-sendi filsafat modern di Yunani kuno juga hanya bisa terjadi karena mereka—para filsuf maupun sofis—memiliki budak di kediaman masing-masing. Bisa memiliki waktu luang yang cukup melimpah, mereka leluasa untuk berpikir, merenung, berdiskusi, berdebat, menulis, hingga akhirnya melontarkan kearifan berpikir manusia yang didengungkan sampai sekarang.

Semua itu memberikan kemudahan hidup bagi para pelakunya. Merekalah yang menikmati kemudahan-kemudahan tersebut. Tujuannya cuma satu, yaitu mendapatkan yang diinginkan dengan upaya seminimal mungkin. Tidak terlalu banyak keluar tenaga, pemikiran, uang, dan waktu. Pokoknya harus dapat, dan kalau bisa dapat lebih, ya … dikejar sampai mentok.

Berikut ini, mungkin, salah satu contohnya.

Lanjut lagi soal kemudahan dalam hidup yang harus melibatkan orang lain. Secara resmi, perbudakan memang sudah tidak ada lagi saat ini. Kecuali perbudakan terselubung maupun pemaksaan dan labelisasi, yang bisa dilakukan atau terjadi pada siapa saja. Semuanya dianggap mudah, semudah tinggal bilang:

“Udaaah… Nanti tinggal bayar aja,”

Seperti contoh berikut ini, sesuatu yang sejatinya adalah isu lama tetapi tengah menghangat kembali.

Cuplikan di atas sedang ramai-ramainya beredar dan dibahas para warganet sepekan terakhir. Beberapa tahun sebelumnya, perbincangan serupa juga terjadi untuk restoran siap saji. Fokus pembicaraannya tetap mengenai uang dan pembayaran, sebagai imbalan sesuai pekerjaan.

Dalam kasus di atas, membereskan dan membuang sampah milik sendiri adalah hal yang menyusahkan bagi sebagian orang. Dorongan utamanya adalah rasa malas, yang kemudian ditambahkan dengan alasan-alasan lainnya. Termasuk profesi dan pekerjaan para petugas kebersihan, gaji yang mereka terima, sampai penekanan tentang: “Aku kan sudah bayar, kok disuruh bersih-bersih lagi?” Seolah-olah mereka disuruh untuk membersihkan sampah seisi ruangan bioskop, padahal hanya untuk sisa mereka sendiri.

Apakah mereka memang sejorok dan seberantakan itu, sampai-sampai merasa enggan membersihkan bekas makanan mereka sendiri?
Apakah mereka memang sejorok dan seberantakan itu juga saat di rumah atau kamar sendiri?
Apakah mereka bersikap seperti itu, karena terbiasa memiliki pembantu atau baru merasakan punya pembantu?

Kemudahan itu memang terasa menyenangkan. Namun, mudah menurut siapa saja? Apakah ada orang lain yang malah jadi susah karena itu? Kita bisa dengan gampangnya menuntut kemudahan-kemudahan dalam hidup kita, tetapi jangan lupa bahwa tetap ada upaya dan andil orang lain agar keadaan tersebut bisa terlaksana.

Saat kesusahan atau kerepotan yang dialami orang lain berhasil memudahkan urusan kita, itu merupakan bantuan. Apa pun namanya, diikuti dengan bayaran atau tidak, tetaplah patut untuk mengucapkan terima kasih. Kalau tidak berhasil pun, ucapan terima kasih seringkali tetap patut disampaikan. Lantaran bagaimanapun juga, orang lain sudah menyusahkan diri demi kita.

Coba kalau dibalik, bersediakah kita untuk direpotkan hal yang sama? Jika kita tidak bersedia, enggak fair, dong. Jadi manusia kok mau enaknya doang, maunya merepotkan tetapi menolak setengah mati waktu dimintai bantuan. Jangan nanggung, andaikan tidak bersedia membantu orang lain (yang memang perlu dibantu), maka berusahalah mandiri semaksimal mungkin. Jauh dari utang budi. Jadi, sama-sama tak ada beban.

Lalu, mending ganti mindset soal “mudah” dan “susah” dari sekarang. Semudah-mudahnya sesuatu, bisa semudah apa sih? Apakah semudah cukup dipikir, lalu muncul atau terjadi dengan sendirinya. Macam pesulap yang tinggal mengelipkan mata, dan tanpa melibatkan atau perlu dibantu orang lain?

Sesusah-susahnya sesuatu, akan jadi seberat apa? Apakah bisa menyebabkan cacat permanen, atau kematian? Kalau hanya perkara jalan kaki sekitar 50-100 meter, atau berdiri selama dalam perjalanan dengan moda transportasi umum, ya coba dilakukan. Tak perlulah mengeluh seperti disuruh menyeberangi laut dengan sampan kecil, atau melompati jurang dengan mata tertutup.

[]

Bomb Joke

28 Mei 2018. Beberapa penumpang Lion Air JT 687 di Bandara Internasional Supadio Pontianak berhamburan keluar pintu darurat karena ada yang teriak BOM di dalam. Singkat cerita, seperti semua insiden serupa; pelaku ditangkap, ndak ada bom meledak, beberapa terluka, pesawat kembali terbang meski tertunda.

Pesawat Lion Air JT 687 di Bandara Internasional Supadio Pontianak yang mengalami delay karena Bomb Joke. Sumber: tribunpontianak.co.id

Dalam satu dekade terakhir saja, tercatat 211 insiden. 80%-nya disebabkan oleh guyon. Secara Internasional dikenal dengan sebutan “Bomb Joke.” Artinya, ada 169 orang yang punya selera humor lethal yang ndak lucu. Tapi, karena macam-macam alasan, mereka harus memainkan candaan tersebut. Ada motif psikologis di balik tiap tindakan. Sampai saat ini belum didapati alasan finansialnya. Misal, ada yang memberi imbalan pada pelaku. Meski bisa saja terjadi mengingat persaingan bisnis yang keras.

Industri aviasi sudah mengantisipasi ini. Beragam prosedur reaktif disiapkan. Pelatihan penanganan “Bomb Joke” diterapkan. Seluruh maskapai mematuhinya. Yang terjadi di Pontianak: Pramugari dengan sigap dan tenang mengeluarkan penumpang berurutan melalui pintu keluar teraman. Hanya sekitar 7 orang yang panik, lalu merangsek ke luar dari pintu darurat. Mereka inilah yang mengalami luka sebab melompat dari sayap pesawat.

Panik. Ini yang diharapkan pelaku. Kepanikan biasanya diikuti oleh kekacauan, dan tentu saja ada korban dari tiap kekacauan. Minimal, kerugian material yang harus diidap penumpang lain dan maskapai karena keterlambatan atau pembatalan terbang. Kalau betul motif pelaku adalah menimbulkan kepanikan, apalagi menginginkan jatuhnya korban. Walaupun ndak betul-betul ada bom yang ia rakit, ia sudah melakukan teror. 7 orang yang melompat dari sayap pesawat tadi merasa terancam. Mereka adalah korban langsung dari teror “Bomb Joke.” Atau dalam hal ini, sudah berubah menjadi “Bomb Threat.”

Bagi siapapun yang bercanda soal bom di lingkungan bandara dan pesawat dapat dikenakan sanksi penjara paling lama satu tahun. Peraturan ini tertuang dalam Undang-Undang No. 1 Tahun 2009 tentang penerbangan yang bunyinya: “Setiap orang yang menyampaikan informasi palsu yang membahayakan keselamatan penerbangan sebagaimana dimaksud Pasal 344 huruf e dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun.”

Kenyataannya, setelah 10 tahun peraturan di atas berlaku, ndak berhasil menghentikan lawakan ndak lucu itu di dunia penerbangan. Sama seperti rambu dilarang STOP di jalanan Indonesia. Lengkap dengan aturan dan sanksi. Ia ada di situ. Berdiri tegak 24 jam sehari. Sebagai tiang penyangga warung Pecel Lele 89 yang sambelnya lebih galak dari peraturan yang ia langgar.

Sebagai evaluasi saja, pelaku bom biasanya ndak memberikan informasi apapun dalam menjalankan aksinya. Apalagi berteriak BOM! Jadi, orang yang berteriak BOM pastilah bukan perakit bom. Toh pada akhirnya ndak ditemukan bom yang dicurigai mengancam nyawa banyak orang. Seperti namanya, “Bomb Joke” akan tetap jadi joke. Tapi SOP adalah SOP, ia harus dijalankan, bahkan jika pengalaman satu dekade bilang percuma.

Belajar dari pengalaman, ada baiknya isi Undang-Undang penerbangan di atas dilengkapi sedikit menjadi: “menyampaikan informasi palsu dan tindakkan yang membahayakan keselamatan penerbangan.” Hal ini memperluas teriakkan BOM, mencakup teriakkan ALLAHU AKBAR dan doa-doa perang Badar.

Catatan: tulisan ini terbit atas tekanan ndak berperasaan pemilik Linimasa, Roysayur, melalui Instagram yang bilang “mungkin linimasa lebih banyak ngumpulnya daripada nulisnya.” Bayangin…

Masih Adakah Orang (Yang Katanya) Romantis Di Jakarta?

“Eh, sebagai orang paling romantis yang pernah gue kenal, apakah elo …”

Saya tersedak, literally, sambil menahan ketawa.

“Maksud lo?”
“Dengerin dulu. Sebagai orang paling romantis yang pernah gue kenal, yang selalu come up dengan quotable quotes, tulisan blog galau dan segala macem lovey dopey notes, gue mau tanya, did you ever score anyone with those? Lebih spesifik lagi. Did you ever score anyone in town with those?

Saya menyerah, dan meletakkan minuman saya sambil tertawa keras-keras. Demikian pula dengan dua teman saya. Kebetulan kami bisa bertemu di sebuah kedai kopi di kota tempat kami semua mudik. Padahal kami tinggal di satu kota, cuma kesibukan masing-masing membuat kami jarang ketemu. Sometimes it does take an out-of-town trip to meet your friends of the same town.

“Ayo ngaku! Ketawa mlulu.”
“Iya nih. Ada yang berhasil nggak?”

Saya menyeka bekas isapan kopi di bibir. Tentu saja sambil memberi diri waktu untuk berpikir.

“Ya gue nulis kan gak nyari perhatian kayak gitu juga. I write to express, not to impress.”
“Sambit pake cobek elo ya, masih aja pake kata-kata quotable gituan.”

Kami semua tertawa.

“Jadi ada yang nyangkut nggak, nih?”
“Gak. Tuh udah gue jawab. Singkat, jelas.”
“Nah, berarti bener kan dugaan dan pendapat gue selama ini.”
“Dugaan dan pendapat apaan?”
“Menurut gue, udah gak ada lagi orang romantis di Jakarta.”
“Eh, gimana?”
“Maksud lo apa nih?”

Sekarang giliran teman kami yang dengan sengaja minum kopinya pelan-pelan.

“Woi, mikrolet kelamaan ngetem, woi!”
“Sabar, bencong. Ya menurut gue, orang-orang yang so-called romantic ini, yang jago merangkai kata-kata indah, mengungkapkan lewat tulisan-tulisan yang mem-ba-ha-na dan meng-ge-lo-ra ya, pada akhirnya ya mentok aja gitu di tulisan dan kata-kata yang tadi dia bilang to express and not to impress. Sementara hidup di Jakarta kan keras. Mau nafas di KRL aja susah. Mau jalan kaki di trotoar aja pake diteriakin ojek gila. Mau ngantri busway aja sibuk megangin kantong dan tas biar gak kecopetan hp dan dompet. Boro-boro dikasih kata-kata romantis, udah gak kepikir kalo di jalan. Kalau dulu pas kita masih di sini kita suka mikir hujan itu romantis, hujan itu bikin kangen, sekarang ngeliat mendung dikit dari jendela kantor gue di Gatsu? Gue langsung mikir, anjir! Susah nih dapet ojek.”

Kami spontan tertawa kencang, tidak memedulikan lagi keberadaan pengunjung lain.

“Jadi menurut elo nih, Mr. Cynical …”
“Eits, bukan sinis. Tapi realistis.”
“Oke. Jadi menurut Bapak Realistis, orang Jakarta nggak perlu orang yang romantis, tapi perlu orang yang, seperti nama elo, realistis …”
“… dan pragmatis …”
“… drama-free alias praktis …”
“… tidak mistis …”
“… bolehlah manis …”
“Tahu petis?”
“Tahu petis. Oh itu pesenan saya ya, mbak? Makasih.”

Kami terkekeh. Lalu mencocol tahu goreng yang masih panas ke saus petis yang hitam mengkilap. Cocok menemani udara sore hari yang basah karena hujan, di saat Jakarta sedang panas terik berdasarkan keluhan cukup banyak orang di Twitter.

“Kalau memang tidak perlu ada orang romantis di Jakarta karena orang Jakarta tidak perlu buaian kata-kata, terus apa dong yang masih … No, I mean, yang bisa laku?”
“Laku, lho, pilihan katanya! Orientasinya jelas ya.”
“Kayak yang tadi kita bahas. Pragmatis dan praktis. Be practical. If you like someone, just tell. Show the affection, give attention. Kalau gak lanjut, next.
“Ngomong gampang, oncom.”
“Emang. And that’s the truth. Don’t waste time, honey. Cukuplah waktu elo habis di jalan kena aturan ganjil-genap plus konstruksi MRT, jangan dihabisin lagi buat ngarep ke orang yang belum tentu suka ama elo, dan ngeladenin orang yang gak jelas juga.”

Kali ini kami semua terdiam, larut dalam pikiran masing-masing. Mungkin sama-sama berpikir, is Jakarta that tough?
Seperti menebak isi pikiran saya, teman saya berkata:

“Jakarta emang sih keras. Tapi kerasnya Jakarta somehow bikin kita, well, at least gue, kuat. Kalaupun dibayar dengan tidak adanya keromantisan yang elo bilang tadi, ya itu juga karena gue emang gak romantis juga pada dasarnya.”
“Ya elo kan paling lempeng dari dulu.”
“Lempeng. Lemes tapi ganteng.”
“Apaan sih?”
“Ya maksud gue, akhirnya balik lagi ke orangnya kayak gimana juga. It doesn’t hurt juga kalo elo being the lovey dopey romantic. Akhirnya kan itu ngebentuk karakter elo. It defines who you are. Dan elo bisa jadi orang yang berbeda dari orang kebanyakan. Kalo semua orang harus jadi orang yang praktis dan pragmatis, where’s the fun? Jakarta jadi tempat yang ngebosenin kalo orangnya sama semua. Sementara yang bikin kita betah di Jakarta, no matter how crazy the city is, kan orang-orangnya. So just be who you are deh.”

Kami mengangguk-angguk mendengar penjelasan teman kami tadi. Sambil menatap jendela di luar kedai yang masih basah dengan tetesan air hujan, kami hanya mengetukkan jari kami mengikuti irama musik yang sedang diputar di ruangan ini.

Teman saya melanjutkan teorinya.

“Kata-kata yang elo tulis paling nggak memberikan warna di tengah monotonnya rutinitas hidup.”
“Setuju.”
Thank you, guys.
“Ada kan paling nggak yang pernah bilang gitu selain gue?”

Saya mengangguk, dan menambahkan.

But words are words. You can always fabricate them anyway. You can fabricate romance. But sincerity? Gak bisa. And that’s what the city is lacking. Ya nggak?”

Kedua teman saya mengangguk.

“Tapi meskipun begitu ya, you’re doing them, people who read your words, a great service, anyway. Lagian juga, jangan didengerin bapak realistis yang sinis dan gak manis ini …”
“Eh, mulut comberan!”
” … dia juga suka sepik-sepik di DM kok.”
It’s supposed to be rahasia, bencong laknat!”

Kami tertawa.

“Jadi kalo elo suka ngegombalin orang lewat DM …”
“Yaolo …”
“… berarti elo jago ngegombal dong?”
“Gombalnya dia mah, paling juga “kamu suka pizza juga ya? Cobain deh pizza ABCDEF. Mau aku kirim pake ojek? Alamat kamu dong.” Ngaku!”
“Hahahaha. Amit-amit!”
“Katanya praktis dan realistis to the point.”
“Bodo! Kagak temenan lagi ama kalian, dah! Dari Cengkareng ntar gak usah nebeng gue!”

Kami semakin tertawa kencang.

Happy belated birthday, Jakarta.

(source: ardaruspianof.blogspot.com)

Ambillah Makanan Secukupnya, dan Habiskan

MAKANNYA kok enggak habis? Nanti nasinya nangis, lho…”

Ini yang biasanya kita dengar waktu masih kecil, ketika sedang malas-malasan atau susah makan.

Ada juga cara lain–yang barangkali terlalu keras untuk diterapkan saat ini–supaya kita segera menghabiskan makanan. Mulai dari diimingi hadiah atau akan diajak jalan-jalan, diomeli dan dimarahi, ditakut-takuti, bahkan sampai dicubit serta tindakan pemaksaan lainnya. Termasuk menggunakan argumentasi yang tak logis, mengandung logical fallacy. Jangankan dipahami anak-anak, orang dewasa pun banyak yang keliru dalam memahaminya. Juga emotional blackmail.

Kenapa enggak dimakan sih? Di Afrika sana banyak anak-anak seperti kamu yang mau makan tetapi kesusahan.

Kenapa enggak dimakan sih? Kamu enggak kasihan sama mama, sudah capek-capek bikinin makanan buat kamu begini.

Padahal ada banyak alasan dan cara lain yang dapat disampaikan kepada anak-anak, agar mau menghabiskan makanannya. Bisa dengan menjelaskan konsep mubazir, membagi makanan dalam porsi yang lebih kecil dengan frekuensi lebih sering, berkreasi dengan hidangan yang digemari, dan masih banyak lagi cara lainnya.

Tujuan mereka melakukan itu semua adalah agar si kecil melahap habis sajian yang ada, sehingga mendapatkan asupan nutrisi yang cukup. Itu sebabnya, selalu ada pujian dan apresiasi khusus bagi anak-anak dengan nafsu makan yang tinggi, dan sanggup menuntaskan santapannya.

Bagaimana sekarang, setelah kita dewasa?

Selalu muncul perasaan sebal saat melihat orang-orang yang tidak menghabiskan makanannya, apalagi jika yang disisakan masih setengah porsi atau lebih. Mereka memesan atau mengambil makanan seolah tanpa mampu menakar kemampuan sendiri, seperti baru pertama kali. Karena merasa kebanyakan, lalu dibiarkan dan ditinggalkan begitu saja.

Bukan cuma saya, beberapa teman juga merasakan kekesalan yang sama. Terutama di restoran yang menyediakan sajian all you can eat, atau salad bar. Berikut contohnya, salad Pizza Hut.

Pizza Hut salad

Ini kiasu, atau supaya tidak mubazir? Untung tidak seekstrem salad stacking seperti di Tiongkok. Lokasi: Samarinda.

Alih-alih memesan salad untuk setiap orang pada waktu makan bareng, si teman tadi akan datang membawa ini. Cukup untuk digado sampai empat orang sekaligus di luar menu utama. Tak berselang lama ada dua cewek yang masing-masing memesan salad. Sekembalinya dari salad bar, mangkuk mereka tidak terlihat penuh. Sepulangnya mereka, isi mangkuk salad masih tersisa seperempatnya. Si teman tadi pun geregetan, dan agak bersungut-sungut.

Paling males kalau lihat makanan dibuang-buang begitu,” kata dia, yang kemudian dilanjutkan dengan pengalamannya sebagai pramusaji di Belanda selama dua tahun.

Rasa sebal itu tentu cuma bisa saya telan sendiri. Makanan tersebut adalah hak mereka sepenuhnya; entah dihabiskan, dibuang, dibeli hanya untuk difoto-foto, atau diberikan kepada orang lain. Bukan kewajiban saya pula untuk bersikap bak orang tua ala Indonesia; menasihati mereka tentang apa yang patut dan tidak, atau pun menegur. Saya baru berhak mengekspresikan kemarahan atau luapan emosi yang terjadi, apabila sisa makanan itu dilemparkan ke muka saya.

Di sisi lain, siapa tahu ada alasan khusus yang tidak saya ketahui. Mendadak sakit perut atau tidak enak badan misalnya, makanannya tidak cocok dengan selera, maupun ada panggilan darurat yang membuat mereka tidak sempat meminta pelayan membungkus sisa makanan. Jadi, pada akhirnya, ya sudahlah. Biarkan saja. Kemubaziran yang terjadi tak bisa dibatalkan lagi.

Sekilas, hal ini terkesan remeh dan sepele. Cenderung diabaikan lantaran bukan masalah penting yang perlu diperhatikan secara khusus, macam khilafah, utang negara, LGBTIQ, Asian Games 2018, Pemilu 2019, aplikasi goblok dan tetew-tetew-nya, atau fanatisme terhadap apa saja (dari agama, klub sepak bola, sampai veganisme dan faux-mindfulness movement, serta lain sebagainya). Hanya saja, hal yang remeh dan sepele ini “berhasil” menjadikan warga Indonesia sebagai orang-orang tak tahu diuntung kedua setelah … Arab Saudi.

Source: foodsustainability.eiu.com/food-loss-and-waste/

Setiap orang di Indonesia rata-rata membuang atau memubazirkan 300 kg makanan setiap tahun. Bisa jadi termasuk mbak-mbak di Pizza Hut tadi.

Dari data di atas, namanya juga rata-rata. Total makanan terbuang dibagi jumlah penduduk. Kendati dari jumlah penduduk tersebut pasti ada yang berkecukupan, ada juga yang rentan kelaparan. Ada yang banyak makan, dan ada yang “lambungnya kecil”. Makannya sedikit-sedikit. Total makanan terbuang pun pasti terdiri dari konsumsi rumah tangga, komersial, massal, dan kegiatan atau pesta.

Sebagai individu, apa yang bisa kita lakukan?

Mulailah dengan ambil secukupnya, dan habiskan.

Kalau kurang, toh bisa tambah lagi selama masih ada. Setidaknya mengurangi potensi makanan yang tidak habis dan terbuang.

Apabila sudah mampu dan memiliki sumber dayanya, barulah lakukan cara lain. Misalnya begini.

Bukan sok pas-pasan atau ogah rugi, melainkan bersikap cermat.

[]

Kulari ke Pantai di Mall

“Anak kampung” dan “anak kota” selamanya akan jadi pembahasan menarik di mana pun. Anak kampung, selain identik kedekatannya dengan alam, juga terampil saat menolong dirinya sendiri. Sementara anak kota, identik dengan teknologi. Dengan pengetahuan dan tren terkini. Misalnya memasak, anak kampung bisa memasak menggunakan tungku kayu bakar. Sementara anak kota, menyalakan kompor sendiri pun belum tentu bisa. Anak kampung, berbadan atletis karena lebih banyak bergerak di alam bebas dengan kulit hitam rambut pirang karena terbakar matahari. Anak kota, badannya berotot hasil latihan di gym dengan rambut hitam dan kulit putih karena sinar matahari adalah musuh.

Internet, kemudian datang. Saling memperkenalkan keduanya. Anak kampung tau soal kelebihan dan kekurangan anak kota, demikian pula sebaliknya. Tak ada masalah, sampai kemudian dibanding-bandingkan. Yang satu dianggap dan merasa lebih tinggi dibanding yang lain. Kenapa masalah? Karena sesungguhnya keduanya punya kelebihan yang bisa terus diasah untuk kemudian mengisi dunia menjadi lebih baik untuk semua.

Peleburan kemudian terjadi. Anak kampung ingin menjadi anak kota, sepertinya bukan soal baru. Si Doel anak Betawi, Si Kabayan Saba Kota, atau lagu Si Bimbi adalah soal anak kampung yang berusaha untuk menjadi anak kota. Menjadi anak kota, dianggap lebih tinggi harkat dan martabatnya. Sama seperti ketika anak kampung pulang kampung saat Lebaran, jadi kesempatan untuk memamerkan keberhasilannya di kota. Seragam, yang mungkin buat anak kota adalah simbol penjara dan “orba banget” menjadi simbol kebanggaan untuk anak kampung. Sudah bisa memakai seragam baby sitter, polisi, dokter, pilot dan berbagai profesi lainnya. Apalagi kalau sudah bisa jadi pejabat negeri, wah bisa jadi buku kisah sukses yang laris.

Bagaimana dengan anak kota? Anak kota pun mulai masuk kampung. Walaupun masih lebih sering ditanggapi dengan sinis, semakin sering kita menemukan anak kota mulai belajar soal kekayaan kampungnya untuk kemudian dibawa ke kota. Contohnya, di tengah kota kita bisa menemukan rumah makan dengan nuansa pedesaan. Cireng, makanan “kampung” Sunda, bisa jadi hits di kalangan anak kota. Cafe-cafe kekinian yang mengangkat biji kopi kampung dengan cita rasa kopi kampung menjamur di seluruh penjuru kota. Glamping, camping di alam bebas yang glamor karena semua fasilitas sudah disiapkan, juga menjadi tren belakangan ini.

Saat peleburan ini, bentrokan-bentrokan pasti mengiringi. Anak kota dianggap hanya melihat kulitnya saja. Hanya mau foto-foto untuk konten di Instagram. Yang lebih sadisnya lagi, cara pandang anak kota melihat kampung, dianggap sama dengan turis. Berjarak. Demikian pula sebaliknya. Anak kampung dinilai norak, kampungan, dan yang berhasil secara finansial sering disebut OKB (Orang Kaya Baru). You can take the girl out of a village, but you can not take the village out of a girl, kata tulisan di sebuah meme dengan foto salah seorang artis yang dinilai kampungan. Padahal, kampung tak sama dengan kampungan.

Anak-anak kota yang sekarang mendapat pendidikan dua bahasa, Inggris dan Indonesia, mulai lebih nyaman menggunakan bahasa Inggris. Internet membuat mereka lebih dekat dengan keragaman internasional seperti Kendal Jenner, Kanye West dengan sepatu Yeezynya, label internasional pun semakin akrab karena sering dikenakan Syahrini di akun Instagramnya. Anak kampung melihat ini sebagai hal-hal superfisial yang tak bermanfaat dan buang-buang waktu saja. Daripada nontonin IG Story, lebih baik belajar mendaki gunung dan memasak karena lebih berguna untuk kehidupan. Bahasa Inggris penting tapi Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan bangsa.

Untuk orang dewasa, benturan seperti ini sudah bisa diterima untuk kemudian diolah dan disaring, ambil mana yang penting untuk kehidupan masing-masing. Sudah paham tak ada yang lebih baik atau lebih buruk, keduanya sama-sama bisa bermanfaat. Tapi tentunya untuk anak-anak, tanpa bimbingan yang benar, bisa jadi membingungkan. Anak kampung akan merasa terasing dari kemajuan dunia. Anak kota akan merasa tercabut dan melayang dari akarnya.

Apakah anak kota yang bercita-cita ingin menjadi Youtuber lebih rendah nilainya ketimbang anak kampung yang bercita-cita ingin menjadi pemilik Guest House? Apakah menjadi Celebgram adalah soal tampang semata sementara menjadi Pesinden adalah murni mengasah kemampuan? Keduanya, punya tantangan sendiri-sendiri dan punya masa depannya sendiri-sendiri.

Dalam sebuah diskusi dengan klien, terungkap sebuah fakta bahwa semua kampung perlahan menjadi kota. Pangkal Pinang 30 tahun lalu dinilai sebagai kampung dengan satu bioskop bangunan tua, sekarang sudah seperti Jakarta kecil lengkap dengan XXI-nya. 10 tahun yang lalu, kalau berangkat ke Jogja kita bisa menemukan orang Jogja bawa Jco. Sekarang? Jco pun sudah dianggap ketinggalan zaman di Jogja. Uniqlo dan H&M tak lagi eksklusif milik anak kota. Belum lagi kalau kita membahas soal belanja online. Anak kampung sekarang juga bisa beli sepatu Yeezy di Instagram. Belum mampu? Tak perlu khawatir, palsunya ada di pasar malam terdekat.

Di masa peralihan inilah, film Kulari Ke Pantai hadir. Dari judulnya saja jelas merupakan ajakan untuk ke pantai. Ajakan ke kampung. Mengenal kekayaan alam dan budaya kampung. Dalam film ini pantai-pantai indah di pulau Jawa. Kehadiran makhluk-makhluk “kota” di film ini, lebih sering menjadi bahan tertawaan. Sindiran-sindiran akan kelakuan anak kota, bertebaran di film ini.

Sementara anak kampung di film ini ditampilkan sebagai ceria penuh gairah kehidupan dan penuh kebenaran. Hanya di ujung cerita baru ada yang bisa dipelajarinya dari anak kota. Soal makna pertemanan dan estetika.

Film menghibur berdurasi 2 jam ini, bisa ditonton mulai 28 Juni 2018. Kalau anak kota yang nonton bisa jadi akan menertawakan kelakuan dirinya sendiri, sementara kalau anak kampung yang nonton akan menertawakan kelakuan anak kota. Bagaimana kalau anak hibrida yang menonton? Anak kampung yang berpikiran dan memiliki aspirasi menjadi anak kota dan sebaliknya. Pasti lebih menarik untuk didengar pendapatnya.

Lagi Lagi Plastik

Setelah masa mengumandangkan perang ke plastik kresek untuk wadah belanja berlalu, kini saatnya fokus berpindah ke sedotan plastik. Sungguh positif, karena banyak teman di sekitar saya yang jadi secara sadar menolak menggunakannya lagi, dan mulai membeli sedotan yang bisa digunakan ulang, baik terbuat dari bambu atau baja tahan karat. Mudah-mudahan tidak musiman seperti kebijakan tas kresek tidak gratis di supermarket ya. Tapi apakah itu saja sudah cukup? Ternyata belum, loh!

sliver-gold-rose-gold-colour-stainless-steel.png_220x220

Karena seluruh bagian dari frapuccino, atau iced coffee, atau es kopi mantunya tetangga pak Polisi itu ternyata bisa jadi membunuh lingkungan kita perlahan. Jadi, maksudnya kita enggak boleh tanda tangan  petisi online anti reklamasi sambil menyeruput Tuku, gitu?

WhatsApp Image 2018-06-22 at 4.22.30 PM

Ini dari Guardian.com

Tentu tak ada yang melarang. Tapi mungkin ada baiknya kita tau faktanya. Memang gambar dari the Guardian ini ada beberapa yang tidak relevan untuk Indonesia, tetapi banyak yang ya. Seperti jumlah cangkir kopi sekali buang yang memenuhi laut, mungkin kita belum sebanyak Amerika Serikat atau Inggris, tetapi mungkin bisa jadi tidak jauh, dengan sedang trennya es kopi susu dengan gula aren yang memang biasa dibeli oleh layanan ojol dan dikemas dalam gelas plastik. Menyedotnya dengan apa? Tentu sedotan plastik.

Gulanya mungkin tidak setinggi jika kita menyesap minuman dari Starbucks yang bisa diberikan karamel, lalu ditambah sirup lagi, tetapi jika dikonsumsi hampir setiap hari dan tidak diimbangi pola makan sehat tentu tidak akan membuat risiko diabetes, dan teman-temannya (seperti penyakit jantung dan ganggunan ginjal) menurun.

Susu dan produknya juga di Amerika bermasalah citranya karena diidentikkan dengan praktik pertanian yang tidak etis terhadap hewan (kurang paham dengan di sini ya, ingin deh riset sendiri), juga penemuan-penemuan terakhir yang menyebutkan bahwa susu sebenarnya tidak sehat seperti yang diklaim produsennya selama ini. Sementara untuk yang berlomba-lomba pindah ke susu almon juga semoga sadar kalau almon itu tidak tumbuh di Indonesia, dan menanamnya membutuhkan sumber daya air yang berlebihan, tidak jarang membuat lahan jadi kekeringan. Kedelai yang jadi bahan susu kedelai juga tidak bebas dosa, karena banyak penebangan liar terjadi demi penanamannya dan isu Monsanto, tentunya.

LALU KITA MINUM APA DONG?

Air sih, sebaiknya. Tapi tentu sebagai manusia normal kita perlu kafein di dalam darah ya. Karena itu coba biasakan bawa wadah sendiri lengkap dengan sedotannya, agar bebas rasa bersalah. Lebih baik juga kalau kita buat sendiri kopi, dan membeli kopinya dari orang yang kita paham membeli biji kopi dari petani lokal dengan harga adil.

stojo

Cangkir lipat dari stojo.co ini sungguh mudah dibawa, sekarang ada yang lengkap dengan sedotan pun! #bukaniklan

Maaf ya, kalau mengurangi kenikmatan menyeruput kopi dingin Anda, tetapi sebelum saya dituduh SJW, harap ingat kalau ini hanya saran.