“Cowok itu, enggak mesti ganteng…”

“COWOK itu, enggak mesti ganteng. Enggak peduli umurnya sudah 30 tahun, kek, 40 tahun, kek, pasti tetap gampang kalau mau kawin (menikah). Yang penting mapan, duitnya ada, cukup buat ngapa-ngapain.”

Sepupu, wanita, ngomong begitu, kalau tidak salah ingat, sembari mematah buku-buku kaki kepiting masak saus Padang berukuran sedang untuk kemudian diisap daging yang ada di dalam rongga kakinya. Beberapa tahun lalu. Jauh sebelum saya pindah kota.

Ini tipikal pembicaraan yang mengumandang di atas meja makan setelah sesi makan malam bersama kerabat dan famili tanpa merayakan, atau memperingati sesuatu secara spesifik. Yang dibincangkan pun tidak jauh-jauh dari urusan manusia. Termasuk pekerjaan, hubungan berpacaran, pernikahan, suasana rumah tangga, hubungan orang tua dan anak, masa depan anak, kekayaan dan capaian-capaian sosial … orang lain, intrik-intrik internal, serta masih banyak lagi lainnya.

Saya berasumsi, barangkali sebagian orang di ruang makan waktu itu setuju dengan pernyataan tersebut. Tidak ada respons atau tanggapan khusus yang dilontarkan. Tidak ada sanggahan, tidak pula penolakan. Hanya kelihatan dua tante yang, entah, agak manggut-manggut sambil mengupas dan makan buah, mungkin relevan bagi mereka. Sementara saya sendiri, berdiri di salah satu sisi sambil memegang gelas berisi soda, terlampau kenyang untuk terlalu peduli dan menggubris percakapan lebih jauh. Hanya berceletuk sekenanya.

Bertahun-tahun sudah lewat, dan seringkali tercetus pertanyaan internal tentang (1) apakah para wanita memang serentan (vulnerable) itu? Terus-menerus diidentikkan dengan keterbatasan sosial, keterbatasan fisiologis, dan keterbatasan emosional.

Tentang keterbatasan sosial, meliputi;

– Apakah hanya wanita yang dituntut untuk selalu concerned atau “bersiaga” dengan penampilannya, tampilan fisiknya, atau riasannya di hampir sepanjang waktu, terlepas dari preferensinya? Sebelum menikah, setelah menikah, setelah punya anak, atau pun setelah menjadi ibu rumah tangga.

Berkebalikan dengan itu, apakah satu-satunya hal yang harus diprioritaskan para pria ialah cari uang, cari uang, cari uang, dan jadi kaya, supaya–setidaknya–bisa menikahi tanpa kesulitan, serta menjamin kehidupan yang stabil di masa depan?

– Apakah hanya wanita yang bisa “dinikahi”, mengambil posisi pasif sebagai pemberi jawaban? Tak bisakah wanita yang “menikahi”, menjadi yang mengajukan keinginan?

– Bagaimana seharusnya sikap dan posisi para wanita terhadap “kepatuhan”, “ketaatan”, dan “pelayanan” terutama dalam hubungan, atau pernikahan?

– Bagaimana seharusnya sikap dan posisi para wanita terhadap tuntutan sosial agar menikah dalam kondisi-kondisi tertentu (seperti menikah sebelum dianggap tua; menikah dengan seseorang yang socially acceptable; kemudian bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik tanpa menghabiskan waktu di luar rumah jauh dari anak; berkeinginan dan mampu memiliki anak; memberikan asi; dan seterusnya).

Tentang keterbatasan fisiologis, misalnya;

– Terlepas dari kondisi alamiah yang memang demikian adanya, mengapa para wanita harus terus terpapar dengan narasi “masa kedaluwarsa”? Apakah dalam pernikahan, semua wanita harus hamil dan memiliki anak? Intinya, kalau sudah “kedaluwarsa”, so what?

– Lagi, terlepas dari preferensinya, bagaimana seharusnya seorang wanita memandang dan memperlakukan tubuhnya, katakanlah setelah melahirkan? Dalam hal ini, tubuhnya tidak sekadar tampilan fisik, melainkan juga situasi hormonal, dan hal-hal terkait.

Tentang keterbatasan emosional, seperti halnya perkara-perkara berikut;

– Adakah atau bagaimanakah batas wajar bagi seorang wanita mengekspresikan perasaannya; menyimpan dan mengelola perasaannya, katakanlah, demi standar kepatutan? Lebih jauh lagi, apakah batas wajar tersebut diperlukan?

– Kemudian, apabila batas wajar tersebut tidak diperlukan, bagaimana seharusnya para wanita menyikapi tindakan dan luapan emosi yang meledak-ledak? Meluap begitu saja, dan menuntut untuk diiyakan.

– Apakah tepat bila wanita selalu diidentikkan dengan “makan hati”, “sabar menerima”, dan “menjalani tanpa menuntut apa-apa”?

– Bagaimana dengan dikotomi pria lebih kuat dari wanita, maupun sebaliknya? Lebih kuat menahan perasaan, contohnya.

(2) Apakah semestinya para wanita harus dipersepsikan bergantung kepada pria? Dalam banyak hal, mulai dari “ditembak” sebagai pacar; dilamar sebagai calon istri; semata-mata menjadi pengikut suami, bukan rekan bicara apalagi berdiskusi.

Mengapa persepsi ini dilestarikan? Diajarkan dan ditanamkan sejak usia dini, tidak hanya kepada bocah-bocah wanita, tetapi juga pria. Yang akhirnya terbawa sampai dewasa, menghasilkan wanita-wanita submissive dan pria-pria arogan atas kepriaannya.

Saking lestarinya pula, sampai menghasilkan wanita-wanita yang desperate ingin segera dinikahi seiring bertambahnya usia, dan pria-pria yang menganggap wajar jika istri memiliki kedudukan lebih rendah daripada suami. Sebab, toh, yang mereka butuhkan (untuk menikah) hanyalah punya uang dan kebugaran seksual.

Menjadi semacam rumus sederhana, wanita yang ngebet menikah + pria dengan toxic masculinity yang kadangkala ditambah dengan kedunguan = terjadilah pernikahan yang begitulah. Pada akhirnya cuma menghasilkan situasi “ditinggalkan”, dan/atau “tak berani meninggalkan.”

(3) Apakah menjadi sebuah pandangan yang bias, atau justru merupakan pendapat yang sexist ketika pernyataan di atas justru dilontarkan oleh sesama wanita?

Demi menghindarkan saya agar tak tergelincir melakukan mansplaining, hampir semua pertanyaan di atas hanya berhak dijawab oleh para wanita, dan/atau oleh sejumlah pria yang dinilai layak berbicara mengenai ini, serta dipersilakan untuk menjawabnya.

Oke, pertanyaan terakhir. Kalau kamu seorang wanita, apakah kamu setuju dengan pernyataan pertama di atas tadi?

Be my guest…

[]

Advertisements

Selamat Ulang Tahun ke-10, Film-Film dari 2009!

Kalau harus menyebut “tahun terbaik” untuk menilai kualitas film-film yang dirilis di tahun tertentu, sebagian besar penggemar film pasti menyebut tahun 1939 dan 1999. Di tahun yang disebut pertama, jajaran film klasik tumplek blek dirilis di tahun itu, mulai dari Gone with the Wind, The Wizard of Oz, Stagecoach, sampai Mr. Smith Goes to Washington. Sementara di tahun yang disebut kedua, film dengan visual efek yang mencengangkan macam The Matrix dirilis berbarengan dengan horor laris The Sixth Sense, lalu ada juga komedi nakal American Pie yang juga dirilis di tahun yang sama dengan komedi romantis Notting Hill atau drama serius American Beauty.

Lalu bagaimana dengan tahun-tahun lain yang juga berakhiran angka 9, seperti tahun 2009 yang baru saja lewat 10 tahun yang lalu?

Saya sendiri setuju kalau ada yang bilang bahwa tahun 2009 bukanlah one of the great years in movies. Tapi bukan berarti tidak ada film-film yang berkesan. Apalagi menonton film urusannya sangat personal, bukan?

Tahun 2009 sendiri adalah tahun di mana saya banyak mengalami titik balik, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam urusan pekerjaan. Mau tidak mau, hal-hal seperti ini mempengaruhi pilihan tontonan, dan pengalaman menontonnya.

Looking back, cukup banyak juga film yang saya tonton di tahun 2009 ini. Dan setelah mengingat-ingat lagi, apa saja film-film dari tahun 2009 yang berkesan buat saya, inilah dia:

• Film-film yang juga saya suka: The Boat that Rocked, An Education, Moon, The White Ribbon, The Secret in Their Eyes, A Single Man

[sepuluh] Bangkok Traffic (Love) Story

 

Pertama kali menonton film ini di bioskop (yang dulu bernama) blitz di Grand Indonesia, pemutaran terhenti di tengah-tengah karena … mati lampu! Terpaksa pemutaran dihentikan sama sekali, padahal film sudah berjalan hampir separuh durasi. Petugas memberikan kupon voucher gratis untuk menonton film yang sama di hari lain. Saya pun menonton lagi di hari lain tersebut, mengulang dari awal, dan tetap tersenyum dari awal sampai akhir melihat cerita dari karakter Mei Li yang mengharap perhatian dari Long, pria yang ditaksirnya, sampai-sampai merubah pekerjaan supaya bisa pas waktunya.

[sembilan] I Am Love

 

Film yang membuat saya menganga, takjub akan penampilan Tilda Swinton dengan kemampuan berbahasa Rusia yang luar biasa. Ada salah satu adegan sangat kecil yang mencuri perhatian. Saat di pesta di rumahnya, karakter yang dimainkan Tilda, yang tidak bisa berbahasa Inggris, duduk dan menunduk sambil mengaduk cangkir tehnya. Dia hanya mendengarkan orang-orang di sekelilingnya berbahasa Inggris. Saat dia dipanggil, dia mengangkat mukanya sedikit, dan matanya menyorotkan ekspresi ketidaktahuan atas apa yang mereka bicarakan, karena bahasanya terdengar asing. A very small moment, tapi sungguh brilian dieksekusi oleh Tilda Swinton, yang memberikan gambaran lengkap tentang karakter yang dia mainkan hanya dengan gerak tubuh yang minimal.

[delapan] King

 

Beberapa kali di tulisan di Linimasa ini saya pernah menyatakan kalau film-film bertema ayah dan anak adalah salah satu Kryptonite pribadi. Hampir selalu ‘lemah’ kalau disodori film-film semacam ini. Tak terkecuali film ini. Film yang bercerita tentang cita-cita seorang anak desa yang ingin menjadi pemain bulu tangkis, yang mendapat tentangan dari ayahnya. Penampilan komedian almarhum Mamiek Prakosa sebagai sang ayah masih sangat membekas di ingatan, karena gambaran karakter yang dimainkan benar-benar mencerminkan sosok seorang ayah pada umumnya: keras karena tempaan hidup, namun penuh kasih sayang yang kadang sulit dicerna. Film ini mungkin akan jadi film yang selamanya underrated.

[tujuh] Inglourious Basterds

 

Mulai dari adegan apple pie di restoran, sampai ke penembakan di bioskop yang sangat bombastis, film karya Quentin Tarantino ini bisa dibilang sebagai salah satu yang paling enjoyable di antara semua filmnya. Dan mungkin film ini juga menginspirasi banyak akun media sosial yang membuat sejarah jadi menyenangkan lewat parodi fakta dan kejadian yang sesungguhnya. Nevertheless, film ini, for the lack of better word, memang sangat menyenangkan untuk ditonton berulang kali, sampai sekarang.

[enam] Up

 

Mari kita akui bahwa yang membuat film Up ini sangat berkesan adalah montage selama 7 menit yang menggambarkan kehidupan perkawinan karakter Carl dan istrinya, sampai akhir hayat sang istri. Adegan tanpa kata tersebut sangat indah, bahkan bisa dibilang saking indahnya, hampir keseluruhan film bertumpu pada adegan tersebut. Guliran adegan petualangan yang terjadi setelahnya, meskipun digarap dengan sangat baik, meninggalkan impresi yang tak terlalu mendalam apabila dibandingkan dengan montage di awal film. Jadi apakah mungkin adegan selama 7 menit di awal film bisa uplift the whole film? In this case, yes.

[lima] Mother

 

Sebelum film Parasite dirilis, saya selalu bilang bahwa karya terbaik Bong Joon-ho adalah film ini. Siapa sangka film tentang kegigihan seorang ibu membela putranya ini bisa menjadi film yang tegas, tangguh, sekaligus lembut? Kalau tak percaya, lihat saja adegan terakhirnya, yang pernah saya bahas sebagai salah satu adegan penutup dalam film yang meninggalkan kesan yang sangat mendalam seusai kita menontonnya.

[empat] A Prophet

 

Filmnya memang ‘keras’, karena bertutur tentang kehidupan seorang narapidana dan penjara yang dihuninya. Dan memang sutradara Jacques Audiard memilih untuk memperlihatkan betapa kompleksnya kehidupan di penjara yang bisa mengubah karakter seorang yang tadinya lugu menjadi keji. Kita tidak bisa berpaling sedikit pun dari setiap adegan di film ini, yang sangat menuntut perhatian sekaligus empati kita. Film yang membuat a star is born moment untuk aktor Tahar Rahim, dan sejak dari film ini, setiap film yang dibintangi Tahar Rahim selalu membuat saya menyempatkan diri untuk menontonnya.

[tiga] 3 Idiots

 

Tiba-tiba banyak teman dan kenalan saya yang tadinya tidak mau atau jarang menonton film Hindi atau film India in general, mendadak menonton film ini. Film ini sempat bertahan lama di bioskop, karena word of mouth yang disebarkan sangat positif. Tentu saja rekomendasi film ini karena isu pendidikan yang jadi fokus utama ceritanya. Sampai sekarang pun, film ini dijadikan rujukan untuk memotivasi pendidikan alternatif yang bisa diterapkan untuk menggali potensi non-akademis setiap anak di usia pendidikan dasar. Film yang membuat Aamir Khan menjadi spokesperson untuk urusan pendidikan dan kemanusiaan.

[dua] Up in the Air

 

Pertama kali saya menonton film ini di bioskop tengah malam. Namun setiap dialog di film membuat saya tidak mengantuk. Bahkan semakin tertohok. Meskipun frekuensi terbang saya jauh di bawah karakter Ryan Bingham yang diperankan George Clooney, namun siapapun pasti akan relate dengan perasaan akan perlunya someone to come home to, something to look forward to dalam hidup. Film yang sepertinya akan terasa timeless, dan terbukti paling tidak di sepuluh tahun pertama.

[satu] 500 Days of Summer

 

“Summer, kamu jahat!” Demikian reaksi saya selama bertahun-tahun. Setiap kali ada pertanyaan, “Siapa tokoh paling jahat di film?”, tanpa tedeng aling-aling saya menjawab, “Summer!” Perlu waktu bertahun-tahun, dan ratusan kali menonton ulang, sampai akhirnya saya sadar, dan disadarkan oleh pernyataan Joseph Gordon-Levitt, bahwa Summer hanya melakukan apa yang layaknya dilakukan orang kebanyakan, yaitu mengeksplorasi perasaan sebelum melabuhkan pilihan. The other party saja yang baper kebablasan. Demikian pula dengan saya, yang sialnya selalu ada di posisi Tom, dan tidak pernah di posisi Summer.

Toh saya tetap membiarkan idiom “Summer jahat!” berkecamuk di pikiran saya, karena isn’t it awesome that such a cute character can be villainous unintentionally?

Dan apa film-film favorit anda dari tahun 2009?

“Berisik!”

NUN, empat biksu sedang berlatih bersama. Mereka berikhtiar menjalani meditasi dalam bisu atau tanpa bicara selama dua minggu.

Malam hari pertama tiba. Mereka melanjutkan meditasi, berusaha berkonsentrasi dan mawas diri dalam posisi bersila dengan diterangi cahaya lilin.

Semilir angin malam berembus. Tidak terlalu kencang, tetapi cukup kuat untuk membuat api padam. Hingga beberapa waktu kemudian, api lilin mati dan ruangan pun menjadi gelap gulita.

Related image
Foto: Buddha Eye Temple

Salah satu biksu sontak berucap: Yah… lilinnya mati.
Ditanggapi biksu kedua: Bukankah kita tak boleh berbicara, ya?
Biksu ketiga kemudian bergumam: Kalian berisik!
Terakhir, biksu keempat berbicara dengan nada bangga: Aha! Hanya saya yang tidak berbicara.


Bisakah kita melihat diri kita sendiri dalam salah satu kisah Koan* di atas? Apakah kita menjadi biksu pertama, kedua, ketiga, atau yang keempat dalam kehidupan sehari-hari?

Biksu pertama adalah orang-orang yang sekadar mengekspresikan perasaan terhadap sesuatu. Seringkali memberikan respons secara spontan, refleks, reaktif, bahkan eksplosif tanpa sempat dipertimbangkan matang-matang.

Biksu kedua adalah orang-orang yang terpancing memberikan respons terhadap tindakan biksu pertama, atau orang lain. Mengingatkan saya dengan tren gerakan “Sekadar Mengingatkan 🙏🏽” yang marak di media sosial akhir-akhir ini. Dengan mampu mengingatkan orang lain, mereka cenderung merasa sudah benar. Baik secara konten, yakni tentang hal yang mereka ingatkan, juga secara konteks, mengenai tindakan mereka yang mengingatkan orang lain.

Biksu ketiga adalah orang-orang yang merasa terganggu dengan kebisingan tersebut. Mereka tengah berupaya mencapai sesuatu, tetapi dalam prosesnya malah terpapar dan turut terusik dengan pertentangan yang berlangsung. Mereka pun cenderung merasa benar, lantaran melihat dua pihak yang lain telah berlaku salah. Tanpa sadar, mereka turut melakukan kesalahan.

Sementara biksu keempat adalah orang-orang yang merasa lebih unggul, merasa memiliki posisi argumentatif yang lebih baik dibanding kelompok-kelompok lainnya dengan berbagai alasan. Beberapa di antaranya seperti merasa lebih pandai, lebih bijaksana, lebih cerdas, lebih berilmu; lebih tangguh dan lebih tahan banting; lebih berkelas dan lebih sophisticated; termasuk juga merasa lebih religius dan saleh; lebih alim dan lebih rajin beribadah; lebih paham tentang peraturan-peraturan tata cara keagamaan, serta sebagainya.

Ilusi ego.

Bagi kita yang terbiasa melihat segalanya secara biner, hanya mengenal benar dan salah secara absolut, keempat biksu tadi gagal dalam ikhtiarnya. Mereka melakukan kesalahan, melanggar ketentuan yang telah digariskan atau disepakati akibat dorongan emosional dan ketidaktahuan mereka sendiri.

Biksu pertama melakukan kesalahan karena hanyut dalam gelombang perasaan. Sensasinya serupa dengan keceplosan, berceletuk, menyumpah, dan sejenisnya. Ada banyak orang yang masih bisa memakluminya sebagai ketidaksengajaan, tetapi ada juga banyak orang lain yang langsung terpancing atau tersulut menanggapinya (biksu kedua, biksu ketiga, dan biksu keempat).

Entah benar atau salah, demikianlah yang kerap terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Semua orang–termasuk diri kita sendiri–ikut berkoar-koar senyaring mungkin terhadap banyak hal, seakan-akan koar yang kita teriakkan ialah pembeda keadaan, sekaligus penyelamat orang lain. Sekali lagi tanpa menyadari bahwa justru akan menjadi sama saja dengan yang lainnya.


Kisah Koan di atas biasanya hanya diakhiri dengan celetukan biksu keempat, tanpa ada kelanjutannya. Mereka berempat sedang berlatih meditasi, dan sudah gagal di malam pertama atas kesalahan yang amat dangkal, amat sepele.

Padahal, mereka masih memiliki 13 malam berikutnya untuk terus belajar mengawasi batin dan diri sendiri, agar mampu hening, dan bertindak tanpa gejolak.

Begitulah. Pengertian tumbuh seiring berjalannya waktu dan sebanyak-banyaknya pengalaman.

https://scontent-atl3-1.cdninstagram.com/vp/7b855938b51b72d9d31e4369e8a585de/5D83CDF9/t51.2885-15/e35/59796849_298219671087879_3317711070926421868_n.jpg?_nc_ht=scontent-atl3-1.cdninstagram.com
Foto: Deskgram

[]

*Koan: Kisah ilustratif dan anekdotal untuk pemahaman praktik Zen, sebagiannya tercatat berupa peristiwa yang terjadi/dialami oleh para guru dan sesepuh, dan sebagiannya lagi bersifat teka-teki absurd.

Jejak Yang Kita Tinggal

Paruh kedua tahun ini dibuka dengan beberapa berita duka yang mengena buat saya. Ada beberapa orang yang pergi meninggalkan dunia dengan cepat, terasa tiba-tiba tanpa ada pertanda sebelumnya. Hampir semuanya meninggalkan impresi yang mendalam, yang juga berarti meninggalkan rasa sedih karena kehilangan.

Semakin sedih saat ada seorang teman yang mengatakan bahwa di paruh pertama tahun ini, ada beberapa teman atau kenalan in common kami yang juga telah berpulang. Setiap berita duka datang menghampiri, kadang tanpa sadar kita menghitung atau mengingat-ingat lagi, siapa saja orang-orang terdekat kita yang sudah tiada dan masih ada.

Yang juga kita sering lakukan tanpa kita sadari adalah memikirkan bagaimana orang memandang kita setelah kita tiada.

Beberapa hari lalu, tepat sehari setelah kepergian seorang rekan kami, saya bertemu untuk meeting proyek pekerjaan. Di sela-sela meeting, kami berbagi kenangan terhadap almarhum. Mulai dari kenangan mengerjakan proyek bersama, makan bersama, sampai “kongkalikong” dalam menyusun aturan.

Kami juga sama-sama membaca ucapan berita duka di media sosial, di mana cukup banyak teman-teman kami yang lain berbagi kenangan bersama almarhum yang sudah dibangun selama bertahun-tahun. Kami tertawa, lalu sama-sama mengucap “aaawww …”, lalu tersenyum, berusaha menutup kesedihan yang melanda.

Rekan kami memang dikenal sebagai sosok yang bisa merangkul banyak orang, dan dekat dengan banyak orang dari berbagai kalangan. Tak heran kalau kenangan yang muncul pun yang baik-baik.

 

Footprints1

Namun tak urung seorang rekan bertanya di meeting kami, “Kalau misalnya ada orang jahat yang meninggal, yang semasa hidupnya banyak berbuat salah sama orang lain, I wonder apakah orang tersebut akan sama diomongin seperti kita sekarang ngomongin mas X dengan segala kebaikannya ya?”

Kami terdiam. Seorang teman lain menjawab, “Mungkin. Tapi kayaknya gak langsung diomongin di saat hari wafatnya dia. Energi buat berduka sudah cukup berat, nggak sempet mikirin yang lain-lain.”

Teman lain menimpali, “Dan bisa jadi orang itu gak berbuat baik ke orang lain, tapi he’s an angel to some others. Entah ke keluarganya, ke beberapa temannya, we’ll never know.”

Kami menggangguk dan terdiam lagi. Lalu ada yang bertanya, “Penasaran aja. Have you been wondering, what legacy will we leave behind when we depart?”

Kembali kami terdiam. Setelah lama, saya berkata, “If you ask me, jawabannya nggak tahu, dan terus terang, nggak mau tahu. Karena ya by then, gue udah mati, gue gak bisa lihat ama denger apa yang orang katakan tentang gue. Cuma yang gue tahu, pas masih hidup gini, sebisa mungkin gue gak bikin sakit hati orang. Itu aja, sih. Gak mungkin nyenengin semua orang, emang, but at least, gak bikin orang sepet sama gue. I guess that’s all?

Saya melihat teman-teman saya mengangguk. Teman saya lantas berkata, “Ya living the life lah. We honour orang-orang yang udah ninggalin kita ya dengan hidup. We work, we live, we love, we do what we are best at doing. Life goes on.

Dan dengan pernyataan itu, kami melanjutkan sisa aktivitas masing-masing, karena matahari baru saja terbenam. Sambil masing-masing mungkin berpikir, bahwa legacy kita dimulai dari saat kita menyadari bahwa kita punya kehidupan yang harus kita jalani.

Nasi Campur Babi

SAMA nama, beda rupa. Itulah yang terjadi pada Nasi Campur, hidangan yang cukup akrab terdengar di telinga orang Indonesia. Tergantung kotanya.

Lahir dan tumbuh besar di Samarinda, Nasi Campur awalnya saya kenali berupa sepiring nasi, dengan mi goreng, lauk utama ayam atau ikan goreng, Orek Tempe atau teri kacang, tempe atau tahu, kuah lodeh dan potongan nangka maupun sayur, serta sambal. Kurang lebih seperti itulah tampilan Nasi Campur Bu Sum di Jalan Kinibalu tak jauh dari kantor gubernur, yang ramainya ampun-ampunnya setiap pagi hingga lepas waktunya makan siang.

Nasi Campur Bu Sum. Foto: Foursquare

Nasi Campur dengan model seperti itu lebih mudah ditemui di Surabaya, juga di kota-kota Jawa Timur lainnya. Nyaris tidak ada di Jakarta, lantaran lebih sering disebut Nasi Rames.

Semenjak menetap di Jakarta, Nasi Campur justru lebih dikenal sebagai sajian berbabi. Tetap terdiri atas sepiring nasi, hanya saja dengan komponen lauk didominasi daging babi, pakai sedikit sayur. Sedangkan di Samarinda, hidangan seperti itu disebut Nasi Babi, atau malah Nasi Campur Babi sekalian. Itu pun dibawa dan dipopulerkan oleh warga pendatang asal Pontianak dan Singkawang. Kalau tidak salah ingat, saya pertama kalinya menyantap Nasi Campur Babi waktu masih SMA. Baru tahu ada menu seperti itu, lebih tepatnya. Yaitu Nasi Campur Babi ala Singkawang di Jalan Pulau Flores, bersebelahan dinding dengan tempat karaoke murahan yang terlalu sering memutar lagu dangdut, mirip Asmoro, bagi yang tahu.

Baru di Jakarta pula, saya mengetahui perbedaan mendasar antara Nasi Campur (Babi) ala Singkawang, ala Pontianak, dan ala Jakarta sendiri, yang sepintas terlihat seperti Nasi Campur ala Cantonese ditambah sate.

Nasi Campur ala Singkawang

Nasi Campur Babi ala Singkawang di Samarinda.

Dimulai dari Nasi Campur ala Singkawang yang saya santap di Samarinda beberapa tahun lalu, lauknya terdiri atas:

  • Daging panggang/charsiu, biasanya agak kering,
  • Sosis babi/lapchiong,
  • Babi kecap atau tulangan babi dimasak kecap, plus siraman kuahnya,
  • Pork belly/siobak,
  • Telur Pitan dipotong separuh,
  • Irisan mentimun,
  • Dihidangkan bersama semangkuk kuah kaldu encer.

Meskipun tidak ada komponen yang mendominasi (selain nasi), pastinya saya selalu menyisihkan siobak untuk disantap terakhir. Iya, ini karena lapisan kulitnya yang renyah.

Nasi Campur ala Pontianak

Nasi Campur Akwang. Foto: Webstagram

Berpatokan pada Nasi Campur Yung Yung 99 dan Nasi Campur Akwang, dua nama yang relatif sering saya makan karena promo online, lauknya terdiri atas:

  • Daging panggang/charsiu, lebih juicy,
  • Sosis babi/lapchiong,
  • Pork belly/siobak,
  • Telur Pitan dipotong separuh atau seperempat,
  • Irisan mentimun,
  • Ayam goreng,
  • Irisan sawi asin,
  • Potongan bawang putih goreng, lumayan banyak,
  • Dihidangkan bersama semangkuk kuah kaldu kental,
  • Khusus Yung Yung 99, juga ditambah semangkuk kuah phaikut sayur asin,
  • Khusus Akwang, tersedia dua jenis sambal; merah dan hijau. Lebih enak yang merah.

Konon katanya banyak banget di Krendang. Cuma, saya belum pernah keliling di sekitar sana. Nantilah, kapan-kapan. Yang jelas, baru pertama kali saya menemukan Nasi Campur (Babi) pakai ayam, rebus atau goreng basah.

Nasi Campur ala Jakarta (?)

Nasi Campur Kenanga. Foto: Nibble.id @franzeskayuli

Apakah benar ala Jakarta? Tidak tahu pasti, kecuali bertanya langsung kepada si pemilik restoran. Saya berkesimpulan demikian, setelah menemukan satu gerai Nasi Campur Babi di pujasera Mal Artha Gading yang membedakan menu Nasi Campur Pontianak, dan Nasi Campur saja.

… dan yang termasuk kategori ini ialah Kaca Mata, Nasi Campur Kenanga, beserta merek-merek sempalan maupun KW-annya.

Lauknya terdiri atas:

  • Daging panggang/charsiu, kadang lebih juicy, kadang malah disiram kuah atau saus agak kemerahan. Sejujurnya, ini kurang cocok di saya,
  • Sosis babi/lapchiong,
  • Pork belly/siobak,
  • Telur Pitan dipotong separuh atau seperempat,
  • Irisan mentimun,
  • Satu tangkai sate babi,
  • Dihidangkan bersama semangkuk kuah phaikut sayur asin,
  • Khusus Nasi Campur Kenanga, juga ditambah potongan khekian dan siomai babi rebus.

Dalam hal ini, tidak perlulah berbicara tentang mana yang autentik di antara ketiganya. Sebab dalam sejumlah versi lain, Nasi Campur Babi turut menghidangkan bagian-bagian jeroan. Kemudian, Nasi Campur Babi disajikan di atas nasi putih biasa, bukan nasi ayam atau Nasi Hainan. Beda lagi, misalnya, dengan Nasi Campur Bali.

Toh, bagi saya, semuanya enak, kok. Apabila punya rekomendasi, tolong dibagi, ya.

[]

Universe Bernama Jakarta

“Ngomong-ngomong, gue gak pernah papasan lho sama mantan gue yang dulu, yang putus lebih dari lima tahun lalu,” ujar saya out of the blue di suatu sore di kedai kopi saat mudik Lebaran beberapa hari lalu.

Lontaran ini saya sampaikan ke beberapa teman yang kebetulan mudik ke kota yang sama, dan kami memang sengaja bertemu, berhubung sudah “mati gaya”.

“Sumpah lo?”

“Beneran.”

“Samsek (sama sekali)?”

Well, abis putus pernah sih, papasan sesekali. Apalagi waktu itu circle pertemanan masih sama. Tapi itu kayak dua atau tiga bulan doang. Abis itu gak pernah lagi.”

“Kok bisa sih? Gak di mall mana gitu …”

“Kalau dia masih tinggal di tempat yang lama, dia lebih sering beredar di GanCit (Gandaria City) daripada gue yang lebih sering ke GI (Grand Indonesia).”

“… ya atau di halte busway …”

“Dia? Naik TransJakarta? Dulu sih enggak ya.”

“… atau di MRT sekarang …”

“Nggak pernah tuh.”

“Di airport!”

Please. It only happens in films ato novel.”

“Di gym?”

“Beda gym. Apalagi sekarang gue mainnya di studio kecil. Ya intinya, kadang gue ngerasa amazed aja, satu kota, tapi nggak pernah papasan sekali pun. What does it say actually?”

“Ya bagus, ‘kan?”

“Iya, sih. Cuma heran aja.”

Well, for a start, we’re talking about Jakarta, dude. Kota yang guede banget. Elo bisa aja kerja di Thamrin, abis itu ketemuan dan makan di Sabang, ewes bentar di Karet …”

“Woi! Kenapa harus ada ewes sih?”

“Bodo! As I was saying, ewes bentar di Karet atau Rasuna, abis itu pulang ke rumah masing-masing. Elo di Rawamangun, dia ke Kelapa Gading. Searah, tapi beda tujuan. Ketemunya ya orang-orang berbeda di tiap neighbourhood, sekalian just to make sure orang-orang rumah gak ngenalin. Ya gimana gak pernah papasan?”

Kami semua bengong sejenak, lalu spontan tertawa terbahak-bahak. Untung saja suasana kedai kopi saat itu tidak terlalu ramai.

“Kalau menurut elo?” Saya bertanya ke teman yang lain.

“Kalau menurut gue, itu berarti bukti bahwa Tuhan itu ada dan nyata.”

“Heee? Ade ape? Elo lagi persiapan hijrah?”

“Iya, sekalian, abis ketemu keluarga besar kemarin, jadi puas gue dicekokin secara langsung, teori-teori konspirasi agama yang selama ini disebarin di WhatsApp. Ya gak, gila! Maksud gue, God works in mysterious ways. Lima tahun, alias lebih dari 1.700 hari, elo gak pernah ketemu orang yang once upon a time mattered most to you. Yang elo pernah hidup bareng sehari-hari. Yang ada elo ketemu orang-orang baru, atau orang-orang lama yang ternyata emang elo perlu temui. I don’t know, tapi itu sih udah kayak miracle ya.”

Kami terdiam sejenak. Salah satu teman saya memicingkan mata.

“Hmmm. Nah, I don’t buy it.

“Ya dengan kata lain, the universe is working its mysterious ways to pull you into the direction you need. Yang tentunya beda direction ama mantan elo.”

“Nah, kalo kayak gitu, gue beli omongan elo.”

Kami kembali tertawa keras-keras. Di luar matahari masih menyengat, meskipun hembusan angin membuat suhu kota masih di bawah 20 derajat celcius.

This universe called Jakarta is nothing but amazing ya.”

Indeed!” / “Hear, hear!” / “Bener banget.” / “Setuju.”

I mean, saking banyaknya jenis orang, elo bisa ganti atau tambah circle pertemanan dengan mudahnya, provided you are willing juga ya. Elo bisa ganti tipe orang yang kencani atau pacari … “

“Hmmm …” / “Hmmm …” / “Hmmm …” / “Hmmm …”

“Hahahaha. Oke, elo punya kesempatan buat ganti, walaupun ujung-ujungnya yang elo demenin juga yang setipe. Tapi tiap elo deket ama orang, elo bisa milih buat ketemuan di tempat yang beda-beda satu sama lain.”

“Ya karena tempat yang elo dulu pernah datengin, belum tentu ada by the time you visit again dengan yang baru, yang biasanya terjadi setiap berapa bulan sekali, sodara-sodara?”

Kami tertawa lagi.

“Atau ya paling obvious kayak yang dibilang tadi, mau selingkuh gampang banget.”

“Pengalaman nih?”

“Jangan ngeles. Hayo, masak elo semua gak pernah tempted sih? Meleng dikit pas lagi nunggu ojek, eh ada yang cakep lagi nunggu juga.”

“Sumpah gue gak abis pikir ama contoh elo.”

“Ya maksud gue, kalo elo kerja di Selatan, ngekos di Setiabudi yang notabene perbatasan Pusat ama Selatan, kalo mau selingkuh, selingkuh aja sama yang di Central Park ato Grogol sekalian. Beres ‘kan?”

“Hahahaha, ini kenapa ngomongin selingkuhan ya?”

“Kalau mau niat selingkuh sih, mau di kota kecil juga bisa. Gak usah repot-repo pindah provinsi. Bilang aja, nanti sebelum nonton di PS (Plaza Senayan), aku makan dulu di Senci (Senayan City) ya sama temen-temen aku. Kita ketemu langsung di bioskop. Boro-boro ke Senci. Elo ngumpet aja ama gebetan elo di TWG di PS!”

“Eeeh, hahahaha, sepertinya pengalaman pribadi bener!”

“Ember!”

“Dan walaupun elo udah digituin ya, tetep aja elo gampang move on. Menurut gue, lho ya. Oke, gak gampang, tapi relatif gampang. Tinggal ganti aktivitas after office hours atau weekend elo. Tinggal ganti tempat tongkrongan. Apalagi sekarang ada MRT ama LRT. Jalan sejam aja, isi dating app baru semua.”

“Soalnya selama di sini elo liatnya itu-itu aja di app.

“Iya banget! Hahahahaha!”

“Berapa kali coba gue udah bilang mau pindah dari Jakarta. Sumpek. Apalagi sekarang polusi makin gila. Cuma ya tetep, gue gak bisa dapet kesenengan berupa ketemu orang-orang ajaib ini di kota-kota lain. Meskipun kota-kota ini lebih bersih, lebih teratur, lebih livable, tapi emang kitanya juga yang demen cari resiko cepet mati, jadinya ya terus aja hidup dengan kemacetan, bising, tapi, I hate to say this, menyenangkan.”

“Makanya kan, kita kerja mati-matian, supaya bisa pergi sebentar dari Jakarta, supaya bisa kangen ama Jakarta, dan akhirnya mau balik lagi ke Jakarta.”

Speaking of kangen, elo gak nyadar dari tadi hape elo bergetar terus, ada yang ngajak video call?”

“Astaga!”

Kami tertawa.

Happy belated birthday, Jakarta!

Jenama Agama dan Strategi MarComm-nya

MERUPAKAN salah satu topik yang paling sensitif sepanjang masa, setiap orang memiliki kadar kenyamanan berbeda-beda saat membicarakan tentang agama. Ada yang saking santainya, bisa mengutarakan sesuatu tentang agama seringan obrolan sambil ngopi dan ngudap pisang goreng. Sambil tertawa-tawa.

Namun, tampaknya ada lebih banyak orang yang menganut prinsip Agama jangan dibecandain…” meski ada yang pakai embel-embel tambahan Terutama agamaku. Kalau agama yang lain… terserah, deh. Itu sebabnya, kaitkan saja sesuatu–nyaris apa saja–dengan agama, pasti bisa menarik dan mendapatkan perhatian dalam kelipatan eksponensial, bahkan berbuah tindakan.

Jadikan ini saja, deh, sebagai, contoh, biar lebih “aman”.

Bayangkan bila figur Buddha diganti dengan tokoh spiritual dunia lainnya, atau, dari agamamu.
  • Seseorang berpindah agama. Apalagi dia figur publik, entah apa pun alasan dan latar belakangnya. Heboh.
  • Pernikahan berbeda agama, kelahiran anak, dan urusan masa depannya. Heboh.
  • Perkara kehidupan sosial bermasyarakat, dan kebisingan. Heboh. 
  • Situasi ekonomi, termasuk orang-orang yang berkenaan dengannya. Heboh.
  • Terkait politik, mulai dari persaingan kubu, manuver biar rame, sampai Pilpres. Heboh.
  • Hingga teori konspirasi, yang meskipun asal comot, tetapi tetap diiyakan banyak orang setelah disangkutpautkan dengan agama. Hal-hal yang sejatinya remeh dan bisa dikesampingkan begitu saja, malah ikut jadi sorotan. Heboh.
Foto: SMCP.com

Ialah prinsip dasar komunikasi; pesan disampaikan demi mencapai sebuah tujuan. Dalam konteks soal topik agama tadi, baik penyampai maupun penerima mungkin mempunyai tujuannya masing-masing. Beberapa di antaranya, barangkali seperti ini.

Tujuan PenyampaiTujuan Penerima
– Ingin para pendengarnya mengetahui, dan memahami sesuatu
– Ingin agar para pendengarnya menjadi lebih dekat dengan agama, dan lebih banyak melakukan hal-hal baik. 
– Ingin dipercayai, agar lebih mudah dalam menyampaikan pesan berikutnya; dan agar para pendengar menuruti/melakukan yang dia utarakan. 
– Sekadar ingin melakukan kebaikan, atau yang menurutnya adalah sebuah kebaikan.
– Ingin tahu, ingin belajar, dan ingin memahami
– Ingin menjadi/termasuk/terkesan sebagai orang-orang religius (baca: saleh). 

Mengapa agama bisa menjadi “bungkus” komunikasi gagasan yang efektif? 

Exposure, alias keterpaparan. Macam dalam standar marketing communication. Dalam penyampaiannya, banyak orang yang terpapar secara terus-menerus tanpa merasa terpaksa atau terganggu. Tanpa sadar, ide, gagasan, dan siapa pun yang terkait isu tersebut akan melekat dalam benak pirsawannya. Termasuk orang tua, keluarga, tetangga, rekan kerja, dan masyarakat di sekitar keseharian kita. 

Konsepnya serupa brand exposure demi popularitas. Makin sering sebuah isu dikemukakan, makin tertanam dalam benak khalayak, makin menggoda untuk ditanggapi. Baik berupa tanggapan internal (ikut merasa dongkol, kesal, sebal, marah, lucu, sedih, bersemangat, dan sebagainya), maupun tanggapan eksternal (ikut dibicarakan atau disuarakan kepada orang lain, mencari dan berhimpun dengan orang-orang yang sepemikiran, membenci dan gusar dengan orang-orang yang berbeda pandangan, termasuk berbalas komentar di media sosial, dan sebagainya). 

Efek bola salju. Makin heboh sebuah isu, makin banyak orang yang penasaran dan ingin mencari. Ini pun menjadi peluang bagi para penyedia konten digital untuk berlomba-lomba berburu klik–upaya monetization, menghasilkan uang lewat dunia maya. 

Isu agama tak ubahnya jadi jenama. Ada nilainya, diukur dengan satuan rupiah lewat prinsip media brand value. Karena itu, makin sering sebuah topik mencuat, makin tinggi nominalnya. Popularitas setara angka uang yang mesti dibayarkan dalam keadaan normal (netral, tidak populer). 

Begini ilustrasinya. Deddy Corbuzier berpindah agama. Tak hanya berprofesi sebagai bintang layar televisi, sosoknya sendiri sudah cukup kontroversial dan menjadi pembicaraan nasional. Banyak portal berita online yang memberitakannya, terbagi dalam tiga fase: 

  1. Sebelum berpindah agama
  2. Prosesi berpindah agama
  3. Setelah berpindah agama

Katakanlah, Detik adalah salah satu portal berita yang aktif memberitakannya. Readership atau tingkat keterbacaannya cukup tinggi–anggap saja seratus pembaca setiap menit. Selanjutnya, total ada 25 artikel terkait perpindahan agama tersebut, menampilkan tulisan “Deddy Corbuzier” di judul serta paragraf pertamanya. 

Mari kita berhitung. Dengan readership mencapai seratus pembaca setiap menit, Detik memasang banderol Rp100 juta per tulisan (semacam patokan tarif, dikenakan kepada merek-merek yang ingin memuat artikelnya di sana). Dengan demikian, media brand value khusus untuk “Deddy Corbuzier berpindah agama” di sana sudah senilai Rp2,5 miliar! Belum lagi dari media-media lain. Nilai ini bisa saja lebih tinggi dibanding topik-topik Deddy Corbuzier lainnya, semisal “Deddy Corbuzier tantang Kapten Vincent”, “Deddy Corbuzier alami cedera punggung”, atau “Cara Deddy Corbuzier merawat kulit kepala”, dan seterusnya.

Tak tertutup kemungkinan readership-nya bisa lebih tinggi lagi, dan jumlah artikelnya pun terus bertambah, lantaran topik yang diberitakan adalah seorang artis berpindah agama. Bisa bercabang ke mana-mana. Itu pun belum ditambah topik-topik lapis kedua maupun ketiga, yang bagi banyak orang tak kalah menariknya (baca: memicu rasa kepo lebih lanjut). Contohnya: “Siapa guru mengaji Deddy Corbuzier?”, “Apakah anak Deddy Corbuzier juga akan berpindah agama?”, “Apakah Deddy Corbuzier sudah bersunat?”, atau bahkan “Inilah gaya Deddy Corbuzier mengenakan baju koko.”

Sampai ada tagar khususnya, lho: #Deddy Corbuzier Mualaf.

Coba saja kalau seluruh warganet Indonesia cuek bebek dengan urusan kepindahan agama si Deddy Corbuzier, tidak ada kehebohan khusus, media massa online pun cenderung sepi dari pemberitaan tersebut. Suasanya jadi berbeda.

Ya, begitulah. Semua berbau agama, dan tak kurang-kurang contoh lainnya.

Minat seseorang, atau sebagian orang Indonesia, terhadap topik-topik menyangkut agama memiliki spektrum yang luas. Mulai dari rasa terganggu hingga mudah tersinggung; mulai percaya buta tanpa kemampuan berpikir kritis hingga sikap reaktif. Salah satunya seperti:  

  • Langsung memberi komentar berapi-api terhadap sesuatu yang dilihat di media sosial, walaupun baru hanya membaca judul tanpa memahami keseluruhan konteksnya. 
  • Langsung forward atau meneruskan sebuah pesan panjang di grup WhatsApp hanya karena memuat ayat-ayat agama, tanpa sepenuhnya menyimak isi serta konteks yang disampaikan.

Kenapa bisa begitu? Karena berhubungan dengan agama. Apalagi kalau sesuai dengan pandangan yang bersangkutan. Jadinya “auto berisik”.

Entah disadari atau tidak, mereka pun bertindak tidak adil. Mereka menyebarkan sebuah narasi, tetapi setelah narasi itu terbukti bohong, mereka justru senyap dan tidak menyebarkan klarifikasinya. 

Kenapa bisa begitu? Karena sang penyampai pesan sebelumnya, telah berhasil membuat mereka percaya; membentuk perilaku dan respons batin mereka; atau bahkan melakukan brainwashing kepada mereka, menjadikan mereka tidak mau/tidak mampu/merasa tidak perlu untuk berpandangan kritis terhadap apa pun yang disampaikan. Juga tak tahu malu!

Foto: Twitter @incitu

Anehnya orang-orang Indonesia belakangan ini, ketika kita bersikap biasa saja, atau justru cenderung kritis terhadap narasi-narasi agama, kita bisa dianggap tidak saleh, berpotensi menjadi pembangkang religius, atau bakal jadi ateis sekalian. 😅 

Melihat ini, tuhan geleng-geleng kepala di “sana”. Ikut malu, barangkali. 

[] 

Menutup dan Mengakhiri

Bukan, hari ini saya belum memutuskan untuk menutup dan mengakhiri rangkaian tulisan saya di Linimasa selama hampir 5 tahun ini. (Nggak tau ya, kalau minggu depan tiba-tiba … Pokoknya, tunggu saja waktunya.)

Yang saya ingin bagi hari ini adalah beberapa cerita soal pengakhiran (aneh ya bahasanya?), atau closure (nah, ini lebih pas!) dari sebuah hubungan romantika. Berikut beberapa contoh kejadiannya, yang sekaligus menjelaskan, apa sih closure itu, kak?

Silakan:

(Subyek 1)

“Jadi dulu gimana elo bisa sampai bener-bener ada closure sama mantan?”

“Mantan yang mana?”

“Yang terakhir deh.”

“Ya abis putus, gak ketemuan lama, trus pas ketemuan lagi beberapa bulan kemudian, ngobrol deh. Kenapa dulu kita putus, trus sekarang gimana. Standar.”

“Emang sengaja ketemuan?”

“Pertama sih gak sengaja. Terus janjian ketemuan lagi. Baru di situ ngobrol.”

“Pake nangis atau gebrak meja atau banting kursi?”

“Elo kira lawak di tipi? Ya gak lah. Udah lewat beberapa bulan juga, udah kelar sedihnya, jadi ya ngobrol aja, like two adults.”

“Jadi kuncinya emang waktu, ya?”

“Ya abis, apa lagi?”

(Subyek 2)

“Gimana elo dulu bisa sampe ada closure ama mantan elo?”

“Mantan yang …”

“… yang paling drama putusnya.”

“Hahaha. Berat tuh. Lama. Makanya dia yang terakhir nongol pas gue mau kawin! Elo tau kan, cobaan orang mau kawin, tiba-tiba semua mantan pacar, mantan gebetan, mantan flirt, mantan fling, sampe mantan ONS semua pada nongol?”

“Busyet. Berapa macem sih jenis mantan?”

“Hahahaha. Ya pokoknya dari semua jenis mantan itu, semuanya udah beres, kecuali satu. Eh bener, dia nongol beberapa hari sebelum akad nikah, coba!”

“Terus?”

“Ya akhirnya ketemu. Ngobrol semaleman di coffee shop. Tumpahin semua unek-unek selama jadian dan selama bertahun-tahun setelah putus. Both sides lho ya yang curhat. Terus jalan, di mobil curhat, nangis, gitu terus. Tapi gak ada ciuman, gak ada grepe-grepean. Cuma pelukan. Sambil nangis. Hahaha. Tapi ya udah. Lewat jam 1 pagi dikit, pulang ke rumah masing-masing. Paginya gue bangun ngerasa lega. Plong. Banget.”

(Subyek 3)

“Elo ada closure sama mantan, gimana?”

“Ya ambil jatah mantan for the last time lah. Ewes.”

“Huahahahaha. Okay, next!”

(Subyek 4)

“Eh, ada cerita apa dari trip elo kemarin?”

“Hihihi. Guess what? Akhirnya ada closure ama mantan!”

“Ha? Ketemu di sana? Dia ikut rombongan?”

“Kagak. Boro-boro ikut rombongan. Kalo ada dia, ya ngapain gue ikut rombongan itu? Jadi, elo tau kan kalo ini tuh holy trip gitu. Buat ibadah. Jadi ya niat dan mindset gue dari pas pergi pun pokoknya ya udah, ibadah aja lah. Mumpung ada waktu. Di sana ya gue nothing but praying lah. Dan berdoa tuh minta ya yang standar lah, kesehatan, rejeki, kerjaan, pokoknya yang seperti itu. Kagak kepikiran sama sekali mau minta “Ya Tuhan, aku pengen move on ini kok susah banget yaaa, plis!”

“Hahaha. Terus?”

“Ya pas sore-sore gitu, gue lagi duduk-duduk, mumpung tempatnya lagi adem. Sekalian nunggu jam giliran ibadah, gue baca-baca aja kitab suci. Sekeliling gue juga. Baca aja, gak mikir apa-apa. Pas lagi konsen baca, tiba-tiba … Ah ini kedengerannya cemen, unbelievable, tapi beneran terjadi. Tiba-tiba, kayak ada suara, lirih banget, yang bilang ke gue, “It’s time. You can let your ex go now.” Gue kaget! Gue bengong. Lihat kanan kiri. Nggak ada orang yang duduk deket gue. Paling deket tuh jaraknya kayak dari meja kita ke toilet depan itu. Nggak mungkin bisa bisikin gue. Gue diem, lemes, dan inget persis kata-kata yang kedengeran barusan. Kitab suci gue tutup, tiba-tiba gue nangis aja gitu. Of all the prayers I asked ya, yang gak gue minta di situ, yang gue juga udah agak lupa juga, ternyata dikabulin dengan cara yang gak gue duga. Sama sekali.”

“Wow. Bener-bener divine intervention ya”

“Bener banget. Dan pulang dari trip itu, gue udah gak ada apa-apa lagi kalau ngeliat update atau feed dia di socmed. Asli. I feel nothing.”

That’s good!

(Kembali ke subyek 3)

“Eh tapi jadinya enak, gak?”

“Ya enak, lah! Lha wong gak pake benang. Eh tali.”

“Maksudnya?”

No string attached.”

“Huahahahahaha!”

(Subyek 5)

“Pertanyaan elo ribet amat sih, soal closure.”

“Ya kali elo punya cerita unik soal tutup buku ama mantan ini.”

“Hmmm. Paling gue pernah sih, gak sengaja walk down memory lane atau napak tilas perjalanan bersama mantan. Hahahaha.”

“Eh, maksudnya? Jalan bareng lagi setelah putus?”

“Enggak. Jadi pernah gue harus ke luar kota gitu, lalu pas cari hotel, keluar tuh di daftar pencarian hotel yang dulu pernah stayed bareng mantan di situ. Gue langsung skip lah, cari hotel yang lain. Tapi kok harga pada mahal-mahal semua. Sementara kualitasnya gue tahu gak sebagus hotel yang tadi. Dan jatuhnya hotel yang tadi itu lebih murah. Jadilah akhirnya gue booked hotel itu. Hehehe.”

“Wah. Dan dapet kamar yang sama kayak dulu?”

“Huehehehe. Kok ya kebetulan … iya.”

“Wuih! Terus gimana rasanya?”

“Ya gue senyum-senyum sendiri pas masuk kamar itu. Inget aja dulu pernah ngapain, kayak gimana. Hihihi. Dan akhirnya ended up pergi ke tempat-tempat yang dulu pernah gue ama dia datengi, di sela-sela kerjaan. Soalnya kan gue pergi yang terakhir ini karena work trip.”

“Lalu, pas elo revisited those places, what did you feel?

In general, nothing. At all. Inget sih, pasti. Pas masuk coffee shop, inget dulu gue pesen apa, dia pesen apa, duduk di mana. Pas masuk restoran, juga sama, inget makanan yang pernah kita pesen. Inget pernah foto selfie di mana aja di sudut kota itu. Cuma ya gue gak gila aja posting di socmed pake #10yearschallenge walaupun belum 10 tahun. Hahahaha.”

“Hehehe. Tapi beneran elo gak ada rasa apa-apa lihat tempat-tempat itu lagi?”

Nothing. Beneran. Mungkin karena waktu ya. Oke, mungkin kalau ada sedikit perasaan, bisa jadi gue lega. Lega karena setelah melihat kembali tempat-tempat itu, gue bisa cukup acknowledge past memory, tanpa harus drowning in sorrow inget-inget lagi yang dulu-dulu. Kayak yang, “oh pernah ke sini, pernah nyobain ini”, dan udah. Waktu sadar gue bisa melakukan itu, gue berpikir, “oh, berarti udah gak ada perasaan apa-apa lagi sama dia. That’s it.” Jadinya gue percaya bahwa waktu membiasakan kita. Time may not heal, but we are used to our scars as time passes.”

(Kembali ke subyek 3)

“Terus closure-nya kalo pake ambil jatah mantan gitu, gimana? Kan kalo enak jadi ketagihan?”

“Hus! Ya nggak boleh terus-terusan lah. Jatah mantan itu cuma sekali aja. Kalo terus-terusan, ya mending balik aja. Balik jadi pacar atau jadi apa lah. Lha kalo udah putus, ngapain balik lagi? Pokoknya udah, one last time, that’s it. Kalo diterusin biasanya malah gak enak nanti.”

“Jadi beneran diambil saat kira-kira masih enak ya?”

Exactly!

“Mantap!”

“Mantap. Mantan tetap. Hahahaha!”

Menjual Agama Lewat Rasa Takut dan Keinginan-keinginan

TERDAPAT sebuah model pemasaran yang memanfaatkan sisi lemah dan rapuh psikologi manusia: Emosi atau perasaan. Model ini dinamakan BJ FOGG Behavioral Model atau cukup populer dengan sebutan B=MAT, yang kurang lebih demikian.

BJ Fogg Behavior Model

Secara sederhana, model ini menggambarkan bahwa setiap orang berpotensi menjadi konsumen, asal terpapar dengan pendekatan yang sesuai. Penjual pun tak sekadar menjadi pemenuh permintaan di pasar, tetapi justru menciptakan permintaan di pasar walaupun produk tersebut belum tentu benar-benar diperlukan (terlepas dari kualitas produk itu sendiri).

Motivation: Hal-hal yang mendorong
Ability: Fitur-fitur yang memperkuat dorongan
Trigger: Momen-momen yang memperkuat urgensi

Apa yang terjadi ketika model ini dipadukan dengan upaya penyebaran agama? Jualan. Agama jadi objek jualan.

Seharusnya. Foto: daaji.org

Tanpa disadari, banyak orang yang menjual agama dengan metode serupa. Bukan sebagai objek konsumtif melainkan komoditas nominatif, agama disodorkan lewat impian yang diidam-idamkan, maupun ketakutan. Dari situlah permintaan dibuat, dari sesuatu yang awalnya tidak ada atau tidak terpikirkan, menjadi sesuatu yang digandrungi dan dikejar-kejar. Macam seorang downline MLM yang berupaya sekuat tenaga agar bisa tutup target point.

Apa tujuannya berjualan agama? Mendapatkan tambahan sumber daya manusia. Dari situ, semuanya bisa dihasilkan. Cadangan tenaga kerja dan massa; cadangan dana. Makanya, semua pemuka agama ingin agar jumlah umat terus bertambah, bukan malah berkurang.

Sila intip: “Kenapa Anak-anak Harus Beragama yang Sama dengan Orang Tuanya?”

Barangkali nyambung

Bagaimana alurnya? Mencari pengguna baru (acquisition), dan mempertahankan pengguna lama (retention).

Bagaimana caranya? Papar-pukau-pikat. Sampaikan hal-hal yang belum pernah diketahui sebelumnya; yang mengejutkan; yang menggentarkan; yang menakutkan. Kebetulan agama selalu bersifat absolut, hanya ada benar dan salah secara mutlak. Tidak ada ruang abu-abu, sehingga semua orang yang masih berpikiran abu-abu merupakan sasaran. Baik sebagai calon kawan untuk disadarkan, atau sepenuhnya lawan.

Motivation

Dalam konteks B=MAT, motivasi lebih berupa tujuan atau kebutuhan spesifik yang mendorong keinginan seseorang. Termasuk di dalamnya, kesenangan dan ketidaksenangan; untuk memperoleh hal-hal yang menyenangkan, atau menghindari hal-hal yang tidak menyenangkan. Harapan dan ketakutan.

Merasa menjadi seseorang yang alim dan lebih baik, memberikan perasaan menyenangkan. Merasa menjadi seseorang yang sangat berdosa (perasaan tidak menyenangkan), dan ingin tobat agar merasa bersih kembali (perasaan menyenangkan).

Ingin bisa masuk surga dan segala keuntungan tambahannya, atau takut masuk neraka setelah meninggal.

Komik siksa neraka yang legendaris. Saya pun punya. Foto: YouTube

Ability

Cepat, mudah dan gampang, tidak merepotkan. Tak perlu ada proses konsultasi yang berhari-hari, maupun serangkaian jadwal kelas pengajaran dasar-dasar agama demi memastikan niatan seseorang menjadi religius, dan seterusnya.

Pada saat seseorang melakukan kesalahan, cukup bertobat dan memperbanyak perbuatan baik. Niscaya ada pengampunan atau keringanan hukuman, sebab dia sudah religius.

Bagaimanapun juga, yang terpenting adalah kecepatan dan kemudahan. Kalau bisa, sesuatu yang memberikan efek instan. Berikut ilustrasinya.

Bagi seseorang yang sedang mengalami rentetan kesusahan; kebingungan tanpa pegangan dan resah, agama dipasarkan sebagai sesuatu yang mereka butuhkan. Sesuatu yang bisa menenangkan jiwa, mengangkat perasaan tidak menyenangkan yang berasal dari masalah-masalah hidup.

Trigger

Banyak hal yang bisa dikondisikan untuk memacu seseorang. Dalam konteks agama, kemukakan dan sangkut pautkan semua hal yang berkaitan dengan masa depan, apa pun itu namanya. Nubuat wahyu, ramalan, janji, kiamat, dan sebagainya.

Beberapa contoh yang telanjur populer sejak beberapa abad lalu: kiamat sudah dekat, dajal segera muncul di bumi, setan dan pasukan Antikristus. Semua itu menarik perhatian dan berkesan di hati, kendati narasi-narasi tadi selalu tanpa bukti faktual nan konkret. Kebanyakan hanya berupa teori konspirasi dan pencocok-cocokan secara serampangan, lalu sukses menghimpun kepercayaan banyak orang. Segalanya seolah-olah terkait, dengan keterkaitan yang disutradarai oleh iblis itu sendiri. Berbeda dengan dampak sampah plastik dan perubahan iklim (Climate Change), misalnya, yang bisa dilihat oleh mata kepala sendiri.

Selebihnya, tulisan-tulisan seperti ini pun bisa digunakan untuk memperbesar urgensi. Membuat isu tersebut terkesan semakin darurat, lantaran setan dan seluruh pasukannya terus melakukan cara mengelabui manusia. Membuat manusia ragu-ragu, hingga kehilangan kepercayaannya terhadap agama.

Di mana-mana, selalu ada saja.

Setan adalah musuhnya agama, jadi, sesuatu yang tidak sejalan dengan agama, atau bahkan mempertanyakannya sedikit saja, adalah hasil kerjaan setan.

Agama menurut siapa? Agama menurut sang tokoh yang menyampaikannya, yang berjualan.

Dengan demikian, tak usah heran bila agama makin menjadi komersial. Bukan lagi ajaran atau jalan hidup, melainkan sumber penghasilan yang mengatasnamakan tuhan.

Yaudasik

[]

Bacot

monsters_inc

Aku mau jadi orang kaya dengan cara elegan“, Boo berkata kepada Sully, suatu ketika. “Aku ingin masuk PTN terbaik negeri ini, lulus selekasnya, lalu kerja sebentar, dan melamar beasiswa LPDP, atau Chevening dan terbang ke Inggris.

Sully sudah lama mengenal Boo. Jika dihitung dengan jari maka ini adalah minggu ketiganya mengenal Boo. Dunia sudah begitu terhubung. Pertemuan di dunia medsos seharusnya menjalar jadi perjumpaan. Sully di hari kedua, setelah percakapan panjang 24 jam melalui DM instagram, yakin bahwa dirinya kenal baik karakter Boo. Anak SMA yang menyukai Chandra Darusman, Jason Ranti, Feast, sekaligus Padi dan ndak kekoreaan. Klop! Apalagi Boo adalah perempuan pintar. Dia mau diajak diskusi soal dimana londri sneakers yang bagus dan murah di daerah Haji Nawi, kopi yang enak dekat stasiun Cikini, juga beli dandanan murah di shopee buat anak skena. Atau kenapa Bahasa Prancis yang menjadi bahasa resmi PBB. Mereka jadikan sajian cemilan DM dari pagi hingga pagi.

Terus aku akan kerja di BCG, atau McKinsey, lalu uangnya aku tabung. Aku mau irit, dan mau punya rumah di Menteng“.

Sully dengan sabar mendengar apa yang Boo katakan. Kopi-O disajikan oleh pelayan. Kopi ketiga sore ini. Di sebelah mereka, dua anak perempuan dengan rambut cepol sedang asyik memilah hasil jepretan kamera. Keduanya sering sekali cekikikan.

Ciri anak Java Jazz itu kameranya sekarang analog, nggak lagi ngalungin DSLR, jeans digulung, kaos putih, dan totebag indie.

Mangkok ayam?”, tanya Sully.

Ga lah, Sejauh mata memandang, sekalian syal-nya, lihat deh sebelah, nanti mereka akan keluarkan sedotan stainless. Cintai planet kita, bro“.

Kamu banget dong?”

Bacot!”, Boo menyanggah.

Bacot. Ini adalah kata yang sering didengar Sully. Begitu juga kata ini yang menarik baginya ketika melihat komentar Boo di sebuah feed selebgram yang cantik dan sering posting ala-ala OOTD. Bubuhan caption yang nyastra dan sok peduli lingkungan sangat digemari dan menuai banyak likes dari pengikut. Tapi Boo beda. Dia tidak pencet likes. Dia hanya tuliskan komentar: “Bacot!”. Sully sontak langsung kirim DM ke akun dengan gambar anak kecil tokoh di Monster Inc. ini dengan penuh rasa penasaran. Rupanya dia lembut, tidak sekasar komentarnya. Dua jam berbalas DM dan Sully menemukan sisi lainnya:  getas, broken home, senang diperhatikan, pintar dan engas. Bacot, adalah pembuka segalanya.

Eh kamu suka Reza Artamevia? Enak ya lagunya.”, Boo mengganti topik. Sully masih sibuk mengingat-ingat percakapan digital mereka.

Aku kalau lagi cuddling sama pacarku aku sukanya pakai lagu Reza, kalau kamu?“. Sully menarik rokoknya dengan terus memperhatikan apa yang dikatakan Boo. Dia tidak tertarik menjawab.

Mereka sedang berada di sebuah kedai kopi. Meja antar pengunjung begitu sempit. Sully kurang begitu nyaman ngobrol banyak. Namanya juga Jalan Sabang. Semua tokonya berderet berpelukan. “Jalan Sabang itu melihat Jakarta tahun 2004“, kata Boo lagi.

===

Aku ragu antara mau membuka branya atau dia akan membukanya sendiri. Bibirnya dipagut ke bagian bawah leherku. Aku terlentang jatuh. Dia menyerang. Tanganku bebas. Pikiran ini datang tiba-tiba.

Musik mengalun syahdu, aku makin tanpa daya.

Lima menit lalu kami hanya dua insan yang sedang jalan-jalan mengekplor Jakarta dengan panduan akun dari Halte ke Halte yang mereka temukan di twitter. Kita ngopi, kita juga ambil gambar diam-diam engkoh yang tidur kecapekan.  Makan gajeboh, rendang dan paru kering di Natrabu. Bahkan kami minum di tiga tempat bergantian. Atjeh Connection, Saudagar dan Kopi Oey. Sepanjang perjalanan kita bergandengan. Lalu kami kecapekan. Letih tapi segar karena kopi. Butuh rebahan. Maka kami disini, sebuah losmen murah jalan kaki sedikit saja dari Sabang menuju Jaksa.

Aku buka yah?”

Ah, BACOT!

Maka kubuka pengait branya. Giliran aku yang menyerang. Tanpa ampun.

===

Enggak tahu deh, kenapa aku suka berpikir lagu itu memang diciptakan untuk aku. Coba saja kamu dengarkan lagu Keabadian, terus Biar Menjadi Kenangan  atau Satu Yang Tak Bisa Lepas, uh, aku suka banget!

Okay.”, respon Sully.

Aku nggak suka lagu di filem Milea. Pidi Baiq menurutku terlalu egois pasang semua lagu ciptaannya. Dia mau bikin novel oke, lalu difilemkan, aku masih oke, tapi apa mesti lagu-lagunya dia juga.” Boo masih lanjut, “Lagian Dilan bodoh banget, masa sayang cuma pelukan doang. Lebih banyak ngomong aneh ke Milea. Aku sih aneh dapet cowo yang ngomongnya aneh gitu. Gak real tau nggak?”, Boo berhenti sejenak. Dia menarik kuat-kuat Iceburstnya. Lalu dihembuskan dan kembali bicara.

Kalau aku jadi Dilan, seharian naik motor keliling Bandung, ga bakalan pulang. Kalau perlu jalan sampai pagi. Rangga lebih keren. Dia mau ajak Cinta nggak tidur semalaman. Gitu itu namanya laki. Mau culik perempuannya.”

Bacot!“, tiba-tiba Sully menukas. Sully bangga bisa membalas kata khas milik Boo.

HAHAHA, bangke! Kamu balas aku. Hahahaha.”

The Fact is (I Need You).“, Sully berkata kepada Boo.

Hah?”

Iya, kamu kan tadi tanya lagu yang enak buat cuddling apa. Nah, itu lagu kesukaanku. The Fact is (I Need You)-nya Jill Scott“.

Hmmm…“, Boo berpikir sebentar. Ia mendekatkan bibirnya di telinga Sully lalu berbisik,

Ya udah yuk, kita pindah tempat sekarang, biar bisa dengerin dari hape kamu“.

 

14

(cerita sebelumnya bisa dibaca di sini dan juga di sini)

Why not?

Kami berdua berdiri, beranjak dari rumput di pinggir kolam hotel. Sesekali kami mencuri pandang ke arah satu sama lain, lalu tersenyum dan tertawa kecil.

Satpam petugas jaga hotel membuka pintu menuju ke arah lift sambil mengucapkan selamat malam dan tersenyum ke kami. Kami mengangguk, membalas salam dan saya buru-buru menahan pintu lift sambil menunggu teman saya merogoh tasnya, mencari kunci kamar.

Argh. Clumsy me. Adam always takes care of this stuff, never me with my messy bag!”

Satpam menghampiri kami.

“Permisi. Lantai berapa?”

Sebelum saya menjawab, teman saya buru-buru berkata, “Lantai dua puluh lima.”

Satpam mengeluarkan kartu yang dia sentuhkan ke layar di lift, lalu menekan tombol angka 25 di layar. Dia mempersilakan kami masuk, dan lagi-lagi sebelum saya sempat berkata, teman saya berterima kasih kepada satpam tersebut.

All these years, and you never told me you can actually speak Indonesian?!”

Dengan aksen yang semakin dibuat-buat, dia berkata, “Satu, dua, tiga, apa kabar, belok kiri, terima kasih … Dude, I travel in this region a lot. I have to pick up a few words to get by. You have no idea that I was this close to saying “Sawadee kap” to the security guard just now. Then I realized where we are!”

Spontan saya tertawa keras, dan mau tidak mau dia ikut terkekeh.

Ding!

 

images

 

Pintu lift terbuka. Saya mempersilakan dia keluar lebih dulu.

Turn right, and … here we are. 2511. Dua puluh lima sebelas.”

Saya bertepuk tangan kecil. “Impressive!”

“Thank you!”

Saya berdehem. “Listen, I had fun tonight. And here I am, walking you to the door.

Ah, being a true gentleman, I see. And what made you think I’d invite you to my room?”

“Wait. I thought …”

“What, you thought …”

“I mean …”

“Aren’t you tempted?”

“You cheeky bloody bastard!”

Kami pun tertawa, sebelum kami sadar sedang di lorong lantai kamarnya, dan buru-buru mengecilkan suara.

I was teasing you! Oh God, you’re still so easy to be fooled!”

“Hey, hey. Watch out.”

“But seriously, thank you. It’s good to see you again after all these years.”

“And thank you for listening. Thank you for your story, too. It gives me hope that, well, maybe, and just maybe, romantic kind of love still exists after all.”

“Maybe? Love does exist. It does. Romantic kind of love, it’s present. If you haven’t been able to find one, get one or be in one, it’s not your time yet. This kind of thing, you can’t rush it.”

Saya mengangguk kecil sambil menghela nafas panjang. Saya tersenyum.

If it helps, well I don’t know if it does, but back then, I had a crush on you.”

Saya tertawa. “Really?”

 

83-837648_two-people-talking-icon-png-png-download-people

 

“Well, you’re the only foreigner in our batch. Not just a foreign exchange student, but a full-time foreign student. It’s not my fault or your fault that you have that extra quality by default.”

Saya masih tertawa. “Ahahaha … Pity crush, I see.

Dia masih tersenyum. “At first I thought so. But then, it was not.”

Saya terdiam sejenak. “Wait. Really? Oh wow.”

Dia menggangguk sambil tersenyum lebar.

Oh wow. I don’t know what to say. Thank you, for telling that to me almost twenty years later.”

“And I believe it was not mutual?”

“Well, being a rebel you were, you definitely caught my attention. Otherwise we wouldn’t end up being in the same group again and again all through our college years, would we?”

“Ha! Yeah, you’re right. And thank God the crush didn’t last that long!”

“I guess I’m sorry? But hey, it’d be weird if we ended up together!”

Kami tertawa.

But this kind of thing, I wouldn’t know if you didn’t tell me. You would think that I work and live surrounded by people who can express themselves freely, sometimes often being in-the-nose a little too much, I’ll get the same bug. Yet, when it comes to matters of heart, I am always tongue tied.”

“What makes it hard to say what you want to say?”

“I don’t know. I guess looking back, I am being selfish by protecting myself. I’m scared of getting hurt or being rejected, thus I stay silent. I’m terrified to make moves, thus I torture myself by overthinking. It’s funny. You do that when you have a crush on someone, yet you don’t do any service to the other person, the object of your affection. You don’t do anything to them. You’re busy meeting false need of yourself.”

Dia mengangguk. Pelan-pelan dia duduk di depan pintu. Mau tak mau, saya mengikutinya. Sekarang kami berdua duduk selonjoran di depan pintu kamarnya.

Remember earlier in the restaurant, you told me that the big, or one of the main reasons you came back was that you don’t want to be looking back in regret later when you turn 70, of not doing what you wanted to do?”

Saya mengangguk.

Now, do you want to look back in regret later when you turn 70, of not saying what you wanted to say to whoever the person or the people that you set your heart to?”

Saya tersenyum.

You really have a way with twisting words, don’t you?”

“As I said earlier, life experience happened. For sure I never regret telling Adam how much I love him, and how much I hate him the next day after I said I love him, only to tell him that I still love him.”

“Do you ever regret being with him?”

“If you ask me right now, the answer is no. If you ask me when I am down in misery, because he falls sick, or because I am sick, the answer is still no.”

“How come?”

“Because I know I will regret more if I keep wondering what would happen if I didn’t say yes to his proposal then.”

Saya menatap muka teman saya yang bersemu merah. Kami sama-sama tersenyum.

You know, I just realized, regardless if you’re 40 or 14, when it comes to getting your heart broken, the pain still lingers, if not feels longer.”

“That’s true.”

“And yet, you always crave for the feeling, of falling in, then falling out …”

“That’s also true.”

“Because we just want to be wanted. Be desired, be needed by the other person. We crave for the connection. I crave for that.”

Teman saya mengangguk. “I’m sure you’re familiar with the saying “everyone has their own battle”?”

 

27911

 

Giliran saya yang mengangguk. “And that’s how I see it sometimes. Some people find it hard to conceive a child. Some people struggle to make ends meet. Some people have disabilities of any kind. And I guess for me, the battle is to find a life partner.”

“And yet, you know what everyone has in common? They live. The live through the battle, fight until the fight becomes a habitual thing to do, every day.”

“And that means I have to keep swiping right?”

Dia tertawa. “Whatever the means, I don’t want you to give up. Cliche, but have faith. Someone is out there. You just need more time than others to find. But eventually you will.”

Saya menghela nafas.

There is something I haven’t told you yet.”

“Oh, boy. Here we go.”

 

Menertawakan (Hidup)

SAMA seperti menguap‒ketika kita tak kuasa menahan dorongan untuk membuka mulut lebar-lebar, menghirup udara sebanyak-banyaknya‒tertawa itu menular, secara besar-besaran pula. Apalagi kalau suara tawanya begitu renyah, bebas, lepas, atau terdengar lucu dan menggemaskan, selucu dan semenggemaskan balita yang melakukannya, yang tanpa sadar membuat hati kecil kita agak iri: “Aku mau dong bisa segembira itu juga…

Begitu kita mendengar dan terpapar nuansa tawa tersebut, kita setidaknya bakal ikut tersenyum. Spontan dan alamiah, seakan-akan turut menikmati berkah keceriaan yang sejatinya ditumpahkan kepada orang lain. Saking spontannya, kita seringkali ikut tertawa kecil tanpa (perlu) tahu apa penyebabnya. Yang terasa hanyalah suatu hal yang menggelikan bergejolak dalam dada, yang susah kita tahan berlama-lama.

Untungnya, selain kemampuan merasa geli dan tertawa, kita juga telah dianugerahi dengan kemampuan berpikir. Itu sebabnya kita bisa mengenali tawa seperti apa yang berasal dari kegembiraan, dan yang justru merupakan tanda kekejaman serta kekejian seseorang. Untuk urusan yang satu ini, manusia sudah mahir semahir-mahirnya dengan kemampuan yang tumbuh dan terus berkembang seiring pertambahan usia.

Menertawakan dan ditertawakan.

Terakhir, dan sekaligus yang terpenting, tertawa sanggup meringankan atau bahkan mengangkat beban batin maupun pikiran yang sedang mendera kita. Hanya saja tidak mudah. Tertawa itu sejatinya gampang dan sederhana. Namun, makin berat masalah yang kita hadapi, kita makin sukar untuk berpikir sederhana. Ngarahnya ke yang njelimetnjelimeeet melulu… Jangankan tertawa, menyadari bahwa kehidupannya terus bergulir saja mungkin agak susah. Tahu-tahu waktu sudah jauh berlalu, dan membuat makin bingung, makin tertekan, makin tak tahu harus melakukan apa.

Bisa jadi benar kiranya, orang-orang yang mudah dibuat tertawa sungguhan, bukan tertawa palsu demi adab sosial, adalah mereka yang mudah pula dibuat merasa bahagia. Perasaan bahagia di tingkat paling dasar. Ibarat bayi yang terpingkal-pingkal saat melihat dan mendengar kertas dirobek.

Greseeek…

Ehehehehehehehehehe…

~~~ Tak usahlah menirukan suaranya di dalam hati; cukup dibayangkan saja suaranya. Pejamkan mata, bila perlu. Pasti pernah dengar suara bayi tertawa, kan? Tertawa yang saking kencangnya, sampai-sampai bikin mereka tertawa sambil menghela napas. Kelelahan. Sesuatu yang melelahkan, tetapi terasa menyenangkan.

Play to brighten your day.

Ngomong-ngomong, kapan terakhir kalinya kamu‒yang sudah dewasa‒tertawa terpingkal-pingkal seperti balita yang kamu bayangkan tadi? Apa waktu hari raya atau libur panjang kemarin? Asal tertawa yang benar-benar lepas, lho, ya, bukan tertawa yang nyaring doang bareng teman satu geng setelah ngomongin orang. Tertawa yang cuma berisik, tetapi di hati malah berasa kosong dan palsu kemudian.

Ya… whatever. Itu tadi tentang orang-orang yang mudah dibuat tertawa, yang konon katanya paling sulit untuk direkrut menjadi pelaku terorisme. Lagipula, buat apa menjadi pelaku terorisme, kalau dalam kehidupan kesehariannya sudah dipenuhi kegembiraan yang bikin raut wajahnya selalu kencang, dan memancarkan aura kegembiraan. Aura yang biasanya bertahan hingga seseorang tua, lanjut usia, parasnya meneduhkan. Cuma, kebetulan saja kalau ybs sudah tua, giginya sudah ompong juga. Menjadikan wajah senyumnya makin lucu… dan lagi-lagi, kita pun bisa ikut-ikutan tersenyum hanya dengan membayangkannya.

Kendati sebaliknya, seseorang yang mudah membuat orang lain tertawa malah belum tentu berbahagia. Tahu, kan, perbedaannya. Dibuat dan membuat; yang melakukan atau yang memunculkan penyebabnya, dan yang mengalami dampaknya.

Demikianlah.

Seandainya memang begini adanya, puji syukur ke hadirat tuhan yang mahalucu, humoris, dan mahabesar hati sampai-sampai sudi menciptakan manusia dengan kemampuan tertawa sedemikian rupa, serta mahabaik untuk bisa bersama-sama menertawakan semesta beserta seisinya. Termasuk dirinya sendiri.

Maka, tertawalah.

Jikalau tidak bisa, cobalah untuk mulai tertawa kembali.

Asal jangan sampai lupa caranya.

Kita, tampaknya, tidak butuh nyimeng untuk bisa geli cekikikan sendiri saat melihat yang ada di sekeliling kita.

[]

Semesta, Hindari Aku dari Kekeminteran

Pernah, enggak sih, baca tulisan sendiri beberapa tahun yang lalu, kemudian mengerenyit malu? Kok keminter sekali diriku dulu? Saya lumayan sering mengalaminya, terutama ketika masih baru mulai baca dan praktik soal olahraga dan makan sehat. Luar biasa sering menghakimi dan sotoy, walaupun untungnya jarang memaksakan pendapat dan kehendak ke orang lain.

Semakin lama menjalani hidup dengan lebih melek mengenai nutrisi dan mengamati reaksi badan, semakin paham kalau badan kita ini kurang kena dengan ilmu 2+2=4. Kita makan karbohidrat rendah bukan otomatis berat badan turun drastis. Olahraga tidak otomatis menjadikan usia kita lebih panjang dari orang lain. Jika pola makan satu baik untuk dia bukan berarti ketika dipraktikkan oleh kita akan sama suksesnya. Terutama setelah membaca cukup banyak panduan dan buku referensi nutrisi dan diet yang ditulis dan dibuat oleh pria, kini saya paham betul kalau badan laki laki dan perempuan itu berbeda, jadi tidak bisa tidak bisa diterapkan persis, hanya bisa jadi panduan umum.

Begitu gemarnya dengan functional medicine, ternyata di website Institute of Functional Medicine, mendapatkan dokter yang mempraktikkan hal ini di Indonesia, tapi sayangnya bukan di Jakarta, tetapi di Yogyakarta. Tetapi itu tidak menghentikan niat saya untuk menjadi pasien dr. Qorry, kami melakukan konsultasi dengan jarak jauh melalui aplikasi pesan atau video call. Prosesnya cukup panjang, saya harus mengisi banyak sekali formulir, mencatat data, pola makan, aktivitas dan masih banyak lagi. Kemudian cek darah dengan banyak poin yang diperiksa, sehingga darah yang harus diambil bisa satu tas jinjing. Alasan saya ingin memeriksakan diri, karena menstruasi saya tidak teratur, dan saya curiga kalau ini disebabkan karena saya dua kali mencoba diet rendah karbohidrat.

Ternyata cukup salah, tetapi ada benarnya.

Bukan rahasia lagi kalau dengan bertambahnya usia, metabolisme kita bertambah “malas”. Tetapi bertambah tua tidak harus bertambah penyakit, bertambah tua tidak harus tambah lemah. Asal memerhatikan hal mendasar ini, kita bisa maju untuk melakukan perbaikan kualitas hidup kita. Jangan jadikan goal kita tidak sakit ya, tetapi kualitas hidup yang baik sampai mati tua.

Terutama untuk perempuan, hormon penting.

Mudah sekali mengacaukan hormon (terutama perempuan), pola makan yang kurang baik, stres, kurang tidur, olahraga terlalu berat (in my case), tetapi sulit sekali mengembalikannya menjadi normal. Kita harus identifikasi masalah, dan membuat hipotesa penyebab masalah, melakukan perubahan, sambil mengamati hasil. Mana saya paham sebelumnya, kalau usaha saya jadi fit dengan CrossFit dan Bootcamp 2-3 kali seminggu ternyata tidak baik untuk hormon saya? Ketika dr. Qorry menganjurkan mengurangi porsi olahraga intensitas tinggi saya jadi seminggu sekali saja, menstruasi saya kembali menjadi normal.

Pelapis perut kita menentukan banyak penyakit.

Termasuk penyakit seperti alergi dan auto-imun. Saya mendengar beberapa orang meninggal usia muda karena masalah pencernaan. Tetapi hal ini jarang dibahas oleh otoritas kesehatan maupun media. Sesungguhnya di perut yang sehat itu ada lapisan seperti jelly yang akan melindungi dari kerusakan di dinding lambung/ usus. Bagaimana agar lapisan itu terjadi dan sehat? Cukup banyak PR-nya, dan memang melibatkan perubahan gaya hidup.

Mikrobioma adalah koentji.

Salah satu langkah pertama demi hidup yang berkualitas baik dan selaras adalah menjaga agar mikrobioma dalam tubuh kita kaya berbagai macam yang baik dan tidak dibom oleh berbagai obat kimia (saya pernah bahas sedikit di sini). Jika kita dulu sering dengar soal prebiotik dan probiotik di sini lah makanan jenis ini berperan. Coba riset mengenainya, karena Anda akan terkejut kalau ternyata prebiotik tidak hanya Yakult.

Jadi itu langkah pertama yang sedang saya usahakan. Mudah-mudahan dengan tercatat saya bisa merevisinya jika ada kesalahan dan memperbarui jika ada update.

Semoga kita selalu sehat dan bahagia!

pexels-photo-935869
Photo by rawpixel.com on Pexels.com