Pretend You’re Happy When You’re Blue …

… it isn’t very hard to do
And you’ll find happiness without an end
Whenever you pretend …

Judul di atas, berikut kalimat-kalimat pembuka tulisan ini, adalah cukilan lagu “Pretend” yang populer dibawakan oleh penyanyi legendaris Nat “King” Cole.
Perhatikan syairnya. Mengajak kita berpura-pura bahagia. Padahal lagi sedih, dirundung kemalangan, atau dalam keadaan lain yang membuat kita
feeling blue.

Seperti yang berulang kali saya kutip di Linimasa ini, bahwa ada celetukan terkenal yang menyatakan “dying is easy, comedy is hard”. Konteks kutipan ini dulunya dibuat untuk menjelaskan tentang akting di film dan teater. Bahwa bermain menjadi orang yang sedih itu jauh lebih gampang daripada membuat orang tertawa. Karena dari tampilan visual, sedih itu lebih universal daripada banyolan yang belum tentu disambut lucu oleh penontonnya. Belum lagi kalau penyampaian candaannya tidak pas.

Demikian pula dalam hidup.

Sudah sekitar 10 hari dari kejadian ponsel saya dirampas secara tiba-tiba. Sampai sekarang, kondisi fisik masih belum pulih 100%. Rencana untuk mulai bekerja dan menghadiri rangkaian meetings minggu ini, yang kebetulan padat, sempat terhambat, karena mendadak ada serangan rasa nyeri di bagian persendian kaki. Semakin berumur nampaknya pemulihan fisik perlu waktu yang makin lama.

Itu baru fisik. Belum urusan mental. Meskipun sudah berusaha menyibukkan diri dengan menonton film di luar urusan pekerjaan, membaca buku yang tidak ada kaitannya dengan pekerjaan juga, mau tak mau pikiran saya masih tertambat pada kejadian naas tersebut. Kalau sudah terpikir, tak jarang saya geram sendiri. Menggerutu pada diri sendiri. Marah kepada diri sendiri. Dan kalau sudah marah, maka beraneka ragam pemikiran muncul, mulai dari yang menyalahkan diri sendiri, sampai memikirkan hal-hal destruktif yang bisa merusak diri.

do-you-think-you-re-happy-jgdbfiey-9bb0198eeccd0a3c3c13aed064e2e2b3

Di situ saya sadar, betapa mudahnya kita terseret jatuh ke dalam rabbit hole lubang kesedihan saat kita sedang ditimpa musibah. Baik itu saat kita sedang sakit, sedang recovering dari kerampokan, baru putus, batal menikah, dan sebagainya, kita sedang dalam keadaan fisik dan mental yang rapuh, yang gampang sekali tersapu ke dalam jurang kesedihan yang menjadi-jadi. Semakin lama ditinggal sendiri melamun, semakin gampang berpikir macam-macam.

Akhirnya, saya baru tahu kenapa it takes a great deal untuk bisa sekedar tersenyum. Akhirnya, saya harus memberikan hormat dan salut kepada mereka yang tetap tersenyum, bahkan tertawa, saat sedang dirundung kemalangan. Ini tidak mudah dilakukan. Betapa susahnya menaklukkan diri sendiri, betapa sulitnya menahan diri untuk tidak terseret arus kesedihan, betapa beratnya untuk bisa menunjukkan kepada dunia bahwa kita baik-baik saja, meskipun kenyataannya tidak demikian.

Mudah sekali untuk menunjukkan muka sedih, tapi tidak pernah mudah untuk menunjukkan muka bahagia apa adanya.

Ini proses yang memerlukan waktu yang tidak bisa disama ratakan buat setiap orang. Ada yang perlu lama, ada yang bisa sebentar. Saya pun mulai pelan-pelan, saat bertemu dengan orang lain untuk urusan kerjaan yang lantas menanyakan mengapa saya jalan memakai tongkat jalan, saya jelaskan secukupnya. Baru saat bertemu dengan teman dekat atau rekan kerja yang lebih dekat, saya bisa jelaskan dengan lebih detil dengan emosi yang menambah gregetnya cerita.

And there is no one to judge … but ourselves.

Sementara kita belum bisa menguasai keadaan diri kita sepenuhnya, well, we can always pretend to be happy when it’s blue.

At least we start trying to be happy, no matter how small the start is.

Advertisements
Hands playing mahjong

Shio di 2019 (2)

SUDAH tiga shio pertama (tikus, kerbau/sapi, dan macan) pekan lalu, kini giliran shio-shio berikutnya. Tetap dipecah-pecah, selain supaya tidak kepanjangan dan scroll layar tak berkesudahan, biar gampang dan enak aja.

Cuma, kayaknya masih banyak yang belum ngeuh soal urutan shio-shio, jadi seakan-akan menanti yang belum pasti. Berikut daftarnya.

Tikus
Kerbau/sapi
Macan
Kelinci
Naga
Ular
Kuda
Kambing
Monyet
Ayam
Anjing
Babi

Sebelum mulai membahas kecenderungan-kecenderungan yang bisa saja dialami oleh para pemilik shio-shio di atas, saya sebenarnya masih #penasaran dengan konsep pengurutan. Mengapa diawali shio tikus dan ditutup dengan shio babi? Mengapa naga yang merupakan binatang legenda sebagai perlambang keberuntungan dan kebaikan ditempatkan di urutan lima? Itu pun berdempetan dengan shio ular, yang sama-sama bertubuh panjang.

Sejauh ini, baru pernah mendapatkan penjelasan tentang asumsi atas simbol-simbol hewan tersebut. Selebihnya, hanya ada cerita mitos tentang perlombaan dari Kaisar Langit—atau Buddha dalam versi lainnya—untuk menentukan posisi penghormatan bagi ke-12 hewan tersebut. Secara tersirat, kisah mitos tersebut barangkali berkaitan dengan perhitungan astronomi, yang justru baru dibuat belakangan. Yakni setelah pengurutan ke-12 shio ditentukan.

Tidak menutup kemungkinan, penentuan 12 shio justru didasarkan pada anggapan-anggapan mengenai pembagian waktu dalam sehari semalam. Jika kita mengenal sehari terdiri atas 24 jam, astronomi kuno Tionghoa membagi sehari semalam menjadi 12 rentang waktu. Satu rentang waktu kurang lebih sama dengan dua jam. Rentang pertama (子) dimulai pukul 11 malam hingga semenit sebelum pukul 1 dini hari.

Baiklah. Langsung lanjut ke shio, ya.

Kelinci

Naik turunnya peruntungan di 2019 tidak akan terlampau drastis. Di tahun babi tanah ini, bisnis atau usaha akan mengalir stabil, tetapi tetap fokus dan jangan terlampau hanyut dalam aktivitas spekulasi atau investasi skala menengah ke besar. Istilahnya, terlalu gorengan dan hanya menghasilkan uang panas. Sebab semua yang dilakukan terlampau agresif, pasti akan memberi dampak yang besar pula.

Di sisi lain, 2019 jadi tahun yang baik bagi para pemilik shio kelinci yang berkiprah di bidang kreativitas dan budaya. Karena akan ada banyak momen untuk menampilkan kemampuan, bakat, dan menunjukkan karakteristik. Peluang untuk mencuat. Jadi, sekalian manfaatkan kesempatan ini untuk berinspirasi, berkreasi tanpa batas, dan siap-siap mendapatkan apresiasi dari banyak orang. Di luar dari itu semua, apabila punya ambisi, tentu harus belajar berlari. Jangan setengah-setengah. Tetap jangan lupakan bangun fondasinya. Bisa berupa motivasi, kemampuan, aspirasi, dan sebagainya.

Soal asmara, kelinci cowok lebih beruntung di tahun babi tanah. Kenapa? Karena tanpa kencan yang ribet atau berpanjang-panjang episode, para cowok bisa ketemu calon pacar yang ideal atau sesuai kriteria. Tidak hanya urusan asmara yang berbunga-bunga, si pasangan tadi juga bisa memperluas jaringan dan relasi. Bisa membantu bisnis atau usaha, maupun aspek-aspek lainnya. Bagaimana dengan yang cewek? Ya, pelan-pelan sajalah.

Cenderung tidak akan terserang penyakit-penyakit besar. Kondisi mental juga bagus, termasuk suasana hati atau mood, dan perasaan dalam aktivitas keseharian. Hanya saja, perhatikan tenggorokan dan saluran pernapasan agar terhindar dari radang.

Naga

Kalau tahun babi tanah nanti, bisa dibilang banyak teman, banyak peluang rezeki. Karena akan ada banyak momen ketika kehadiran teman-teman bisa membantu dalam pekerjaan atau usaha. Bukan bantuan secara material, tetapi lebih kepada masukan-masukan, informasi internal, dan pandangan yang bisa bermanfaat untuk memaksimalkan kesempatan secara positif. Karena itu pula, potensi kerja sama dan kerja sama aktif akan bertambah. Meskipun begitu, jangan terlalu bernafsu bermain spekulasi apalagi judi, bisa merugikan dan menghilangkan harta. Tetap berhati-hati.

Keberuntungan karier dan capaian dalam bisnis ada di tahun ini. Asal tidak terburu-buru dan cermat memperhitungan segalanya, agar tidak mendapatkan gula tetapi malah kehilangan pabriknya. Sedangkan bagi para pekerja akan berpeluang naik jabatan, mendapat promosi, atau mendapatkan apresiasi dari atasan. Namun, waspadai masalah komunikasi dengan atasan dan bawahan untuk menghindari masalah-masalah remeh yang sebenarnya tidak perlu ada. Bisa karena asumsi, perbedaan latar belakang, tantangan-tantangan pekerjaan yang dihadapi, serta lain sebagainya. Termasuk mereka yang menganggap kamu arogan setelah naik jabatan.

Sayangnya, urusan asmara agak tersendat. Masalah utamanya bukan soal calon gebetan yang disabet teman atau kenalan sendiri, melainkan dari orang-orang lain di luar lingkar pertemanan. Ya, mungkin cuma perkara waktu saja; cepat, lambat, dan seterusnya. Namun, yang paling penting kan bukan berpacaran atau berpasangannya saja, tetapi kecocokan. Daripada buru-buru jadian lalu bermasalah dan menyesal, mending jalani apa yang ada. Sebagai alternatif, barangkali bisa dibantu dikenalkan oleh orang lain, siapa tahu cocok. Terutama kalau dikenalkan oleh kerabat yang lebih tua. Bukan dijodohkan, sih, ya. Lebih kepada menjajaki kesempatan. Kalau sudah ada sosoknya, ya bergaul dan berteman pelan-pelan, untuk menumbuhkan perasaan cocok. Bagi yang sudah punya pasangan, tetap cermati hubungan. Jangan sampai mood turun, dan ada kesan tidak saling dihiraukan.

Untuk kesehatan, perhatikan area perut. Coba kurangi deh makan atau minum yang dingin-dingin. Serta waspada terhadap cedera, terutama jika banyak beraktivitas di luar ruangan, apalagi kegiatan-kegiatan ekstrem.

Ular

Maaf-maaf, nih, ya. Peruntungan ular kurang bagus secara global di tahun babi tanah. Namun, jangan terlalu dipikirkan, ya. Tetap berusaha semaksimal mungkin, dan bersiap dengan semua kondisi yang bisa terjadi. Dimulai dengan adanya potensi pengeluaran besar-besaran, dan gangguan pada sumber penghasilan. Makanya, investasi besar dan bisnis baru sangat tidak disarankan, karena lebih mungkin keliru dan gagalnya.

Promosi dan kenaikan gaji tetap mungkin terjadi, tetapi berbarengan pula dengan bertambahnya beban serta tekanan pekerjaan. Karena itu, kalau ada kesempatan berganti pekerjaan, bisa dipikirkan matang-matang untuk pindah dengan segala konsekuensinya, atau tetap bertahan di tempat yang lama, juga tetap dengan semua kondisi yang terjadi.

Begitu juga soal asmara dan perasaan, ada yang bisa berubah menjadi negatif. Dengan masalah komunikasi, menumbuhkan pertikaian, atau malah memperbesar permusuhan. Sedangkan bagi yang sedang mencoba menjajaki hubungan, masalahnya bukan soal perasaan, tetapi gangguan di tengah-tengah proses. Termasuk sampai harus berhadapan dengan keluarga dan teman-temannya. Sudah cukuplah cedera hanya bisa terjadi di pinggang, tangan, kaki, dan sendiri. Jangan sampai cedera hati gara-gara ini.

Semoga semua hal-hal positif menjadi kenyataan.

[]

Shio di 2019 (1): Tikus, Kerbau/Sapi, Macan.

Tubir Netizen Sabtu

Hari baru, tubir baru. Untuk warga Twitter tentu sudah paham ini. Saya buka aplikasi ini di pagi hari dan menemukan bahan baru yang diributkan, yaitu cuitan di atas. Sebagai perempuan dan seseorang yang antusias soal transportasi publik, tentu saya paham sekali maksud Tahlia. Dia tampaknya ingin menekankan betapa ironisnya, di antara para laki laki, tetapi justru yang melakukan hal yang dianggap oleh masyarakat umum “laki laki” justru seorang waria; yaitu menawarkan tempat duduk ke dirinya, seorang perempuan.

Lalu muncullah tanggapan-tanggapan, dari mulai menyentil feminisme selektif, apa itu definisi “gentleman“, sampai yang memang tampaknya benar tersinggung oleh cuitan ini.

Sepertinya memang penggunaan kata gentleman itu suka mengundang polemik. Seperti juga istilah lain berbahasa asing, gentleman sering digunakan untuk konteks yang kurang tepat. Jika saya masukkan ke Google Translate, hasilnya adalah: bangsawan, ningrat, orang kaya, orang yang berbudi bahasa halus, atau definisinya dalam bahasa Inggris pula: a chivalrous, courteous, or honourable man. Hampir semua menyangkut tata krama dan budi pekerti juga keturunan. Sementara tidak jarang saya baca digunakan seperti ini: “Kalau berani jangan keroyokan, tapi satu lawan satu dong, jadi laki harus gentleman“. Nah loh.

Jadi apakah moral dari ketubiran netizen hari ini? Tidak ada sih, karena besok pun akan diributkan lagi, hal yang sama atau hal lain. Tapi mumpung sedang dalam pembahasan, ada baiknya saya membuat saran:

  1. Tidak perlu menggunakan kata gentleman untuk menggambarkan tindakan yang sopan, empati dan apa pun itu dari laki laki. Langsung saja gunakan kata yang menggambarkan tindakannya. Manis, berani, sopan, baik hati, welas asih, ksatria, atau apa lah masih banyak lagi di bahasa Indonesia. Apalagi ketika gentleman dipotong jadi hanya “gentle”. Artinya sudah beda ya. Tolong.
  2. Berhenti menggunakan kata banci untuk konotasi negatif. Mungkin belum ada yang protes, karena itu saya mulai dengan mengatakan, SAYA PROTES! Juga tersinggung. Teman saya banyak yang homoseksual dan mereka pintar, berani, menyenangkan, baik hati, malah saya bisa bilang lebih dari teman saya laki laki yang hetero. Jadi kalau ada teman yang baik hati, manis dan pendengar yang baik akan saya puji, “kamu banci sekali, aku sayang kamu!”

1et21b

 

 

 

 

 

Are We Safe?

Pada hari Minggu, 6 Januari 2019, sekitar jam 13:00, iPhone saya dijambret. Saya sedang berdiri menunggu ojek, persis di depan kompleks apartemen. Saya mengeluarkan ponsel dari tas saya sejenak, untuk mengetahui posisi ojek yang saya pesan. Tiba-tiba dari arah kiri saya, dua orang di atas motor menyambar ponsel yang sedang saya pegang dalam posisi cukup dekat dengan muka. Saya kaget. Buru-buru saya lari mengejar motor tersebut. Saya sempat memegang jaket orang yang duduk di belakang motor. Dia berusaha melepaskan tangan saya dari jaketnya. Dia berhasil menepis, lalu menendang saya sampai saya terpelanting jatuh di atas aspal jalan raya yang panas. Hari itu terik matahari cukup menyengat. Motor sudah pergi jauh meninggalkan saya, sampai beberapa orang mengerubungi dan menolong saya berdiri, lalu kembali ke apartemen. Ponsel saya, yang baru di genggaman kurang dari sebulan, sudah saya anggap pergi untuk selamanya saat itu juga.

Hal ini sudah saya bagikan di Twitter, Facebook dan Instagram (story) hari itu juga, dengan urutan yang sama. Terutama karena saya tidak punya ponsel dengan nomer aktif lain, maka saya perlu melakukan blokir nomer lewat laptop, dan membagikan informasi ini ke orang-orang tertentu lewat jalur komunikasi yang bisa dilakukan lewat laptop. Berhubung saya tinggal seorang diri, maka beberapa menit setelah kejadian itu, saya tidak punya waktu banyak untuk duduk meratapi apa yang telah terjadi. Tidak hanya duduk meratapi, tapi juga sekedar merenungi apa yang terjadi. Otak saya berpacu untuk terus berpikir, apa yang harus dilakukan selanjutnya.

Sampai di unit, buru-buru saya bersihkan luka dan memar di tangan dan kaki dengan obat antiseptik. Sambil mengering, saya aktifkan “lost mode” di fitur “Find my iPhone”. Saya mengirim email ke keluarga dan teman-teman dekat. Mencari tahu blokir nomer lewat Twitter dan Google. Mengerjakan proses blokir. Membagi informasi lewat media sosial. Setelah sekitar satu jam berlalu, mulai terpekur di depan laptop, bingung harus berbuat apa, terlebih rasa nyeri mulai menyerang di tubuh.

Dari situ saya sudah memprediksi bahwa beberapa hari ke depan, mobilitas saya akan berkurang drastis karena mendadak harus istirahat. Maka, mau tidak mau, harus menyelesaikan apa yang harus dikerjakan. Dengan rasa sakit luar biasa, saya paksakan diri mengurus blokir kartu dan mendapatkan sim card baru ke kantor operator terdekat. Lalu saya ke klinik untuk memeriksakan diri. Berbelanja makanan untuk 2-3 hari ke depan. Membeli obat.
Dan saat kembali ke rumah, saatnya untuk tidur di malam hari, barulah saya sadar bahwa saya jatuh terpelanting ke jalan raya. Saya baru benar-benar sadar apa yang terjadi, saat tubuh saya terasa sakit dari atas sampai bawah. Tidur pun susah.
Di sinilah saya berempati kepada perempuan yang sedang mengandung. Selama 3 hari terakhir, saya sulit tidur karena punggung dan kaki masih nyeri. Tak terbayang rasa sakit yang harus dijalani para perempuan yang sedang hamil selama berbulan-bulan.

Tadinya, saya ragu saya bisa menulis untuk Linimasa hari ini. Bukan karena rasa sakit, tapi karena rasa marah yang masih ada dalam diri saya saat ini.

Ini bukan kali pertama ponsel saya dijambret. Menjelang akhir 2013, ponsel saya pernah dijambret, saat saya sedang duduk di dalam bajaj seorang diri. Sejak saat itu, saya selalu ekstra hati-hati, dan cenderung untuk tidak menggunakan ponsel saat menggunakan transportasi umum. Padahal saya selalu menggunakan transportasi umum. Padahal saya sering terjebak macet saat menggunakan transportasi umum. Bayangkan betapa banyak waktu yang terbuang untuk tidak melakukan aktivitas dengan ponsel yang produktif, seperti menulis dan membalas email, atau membaca artikel.

Yang saya benci dari setiap kejadian ini adalah rasa takut, untuk tidak menyebutnya paranoid, terhadap hal-hal yang seharusnya kita lakukan dengan wajar tanpa ada rasa khawatir sama sekali. Apa ini berarti saya tidak bisa sama sekali berkomunikasi dengan pengemudi ojek untuk memastikan posisi dan kedatangannya di pinggir jalan tempat saya memesan? Lalu tidak bisa membaca Google Map saat berada di atas ojek, untuk memastikan agar tidak tersesat? Lalu tidak boleh mempunyai smartphone (baik mahal ataupun murah, karena yang murah pun bisa terlihat mahal sekarang), karena dianggap mengundang perhatian pencuri?

Tulisan ini memang saya buat untuk mencurahkan kekesalan saya. Maaf kalau banyak hal yang terkesan tidak rasional dan logis, karena memang menulis dalam keadaan marah tidak akan pernah bisa membuat tulisan menjadi rasional dan logis.

Saat ini saya sedang membenci ujaran seperti “jaga barang hati-hati, jangan sampai berpindah tangan”. Atau seperti “jangan memakai barang yang mengundang perhatian pencuri”. Atau yang lebih membingungkan, saya pernah menemui spanduk bertuliskan “hati-hati berjalan di kawasan ini, karena sering terjadi pencurian. Waspadalah.”
Tulisan-tulisan seperti ini tidak hanya saya temukan di Jakarta, tapi juga di kota-kota lain di Indonesia, dan beberapa negara lain yang pernah saya kunjungi.

Yang membuat saya bingung, kenapa selalu (calon) korban yang dituntut untuk berhati-hati?
Oke, mungkin memang ada orang-orang tertentu yang ingin pamer barang yang mereka miliki tidak pada tempatnya. Tapi saya yakin, persentase orang-orang seperti ini tidak banyak, malah jauh lebih kecil, dibanding dengan orang-orang yang berpakaian selayaknya ke tempat kerja atau usaha mereka. Dan porsi besar orang-orang ini pun saya yakin akan berperilaku seadanya dan selayaknya juga di tempat umum. Menggunakan ponsel seperlunya, berbicara dengan volume seperlunya. Tidak berlebihan.

Kalau hal-hal kecil seperti kebutuhan untuk menggunakan ponsel saja dirampas untuk memberikan rasa takut terhadap orang lain, maka apakah kita sebagai rakyat kebanyakan dilarang untuk beraktivitas dengan normal? Apakah itu tujuan para perampok ini? Bukankah kalau kita diam saja, mereka juga akan kehilangan mata pencaharian?

Saya lebih setuju untuk membuat takut para pencuri ini. Mulai dengan pencoleng atau pickpocket. Perlu banyak notifikasi atau pengumuman di tempat umum, resiko yang akan mereka hadapi saat mereka ketahuan melakukan perbuatan mereka. Mulai dari denda, resiko penjara, kalau perlu contoh visual saat mereka dihadang para commuters lain, misalnya. Atau bisa juga notifikasi bahwa kendaraan umum dilengkapi dengan kamera pengintai. Ini pun akan memberikan rasa assurance dan keamanan terhadap pengguna jasa transportasi umum.

Itu baru transportasi umum. Masih banyak lagi jenis keamanan yang perlu kita perhatikan. Saya sedih dengan anggapan umum bahwa kita tidak bisa berjalan kaki di malam hari sendiri. Dan memang itulah yang terjadi, karena tidak ada jaminan keamanan. Padahal jalan kaki itu adalah hak semua orang, tanpa terkecuali.
Kita sudah terlalu lama dan terlalu sering menerima hak-hak dasar kita dirampas, dan membiarkannya sebagai hal yang yang wajar. Masak untuk sekedar mendapatkan rasa aman yang nyaman, kita harus pergi ke luar negeri? Berapa banyak orang yang bisa pergi ke luar negeri?

Dan apa kita harus mulai bawa senjata tajam untuk sekedar pergi ke tempat kerja, pergi ke mal, saat menggunakan transportasi publik, untuk sekedar berjaga-jaga? I will be lying if I said to you I never consider that now.

Tidak atau jarangnya ada rasa aman di keseharian kita membuat kita selalu curiga, waspada, dan ujung-ujungnya pasrah kalau kejadian naas menimpa kita. Sementara untuk menjadi berani dan kuat juga perlu waktu, terlebih untuk menerjang rasa takut dan traumatis yang melanda diri.

Sekali lagi, tulisan ini murni curahan kekesalan saya. Dan memang, saya sedang berusaha sebisa mungkin untuk bisa menjadi orang yang lebih berani dan kuat, sebisa mungkin tanpa rasa takut sama sekali. Ini tidak mudah, and to be honest, I don’t know if I’ll ever get there.

But I am trying as I am recovering.

1_1OxCOj6WR9otDmY-QybPcw

Hands playing mahjong

Shio di 2019 (1)

HEHEHEHEHE, iya deh, nanti. 😁”

Itulah jawaban saya sepekan lalu, waktu diminta seorang teman untuk “membacakan” peruntungan shionya di tahun Imlek yang akan datang.

Permintaan itu tak kunjung saya lakukan hingga sekarang. Selain karena belum sempat, tentu saja lantaran saya bukan seorang suhu, atau peramal dengan kemampuan metafisika untuk itu. Lagipula, meski telah terpapar konsep shio sejak kecil, saya lebih sreg melihatnya sebagai statistika kecenderungan yang sudah tercatat sedemikian lama. Jadi, bukan ramalan, bukan pula gambaran nasib yang bakal terjadi di masa depan.

Seperti dalam tulisan Linimasa beberapa tahun lalu, yang melatarbelakangi narasi shio adalah prinsip hukum lima elemen. Dari skema tersebut, dihasilkan tiga kondisi dasar: baik, netral atau biasa saja, dan buruk. Pengkondisian itulah yang kemudian dikembangkan—secara imajinatif, barangkali—ke dalam berbagai aspek kehidupan masing-masing shio berupa generalisasi. Sehingga, mustahil bisa terjadi seluruhnya.

Apabila mustahil terjadi, atau bahkan belum tentu benar, mengapa tetap banyak orang yang antusias ingin tahu?

Entahlah. Mungkin ada yang menganggapnya sekadar lucu-lucuan, atau hiburan iseng, tetapi ada juga yang sedemikian penasaran dengan masa depan, khawatir dengan yang akan mereka hadapi nanti, dan berusaha sebisa mungkin mendapatkan spoilers kehidupan. Apa pun itu, tetaplah sadar akan saat ini. Hadapi, dan tak usahlah terlampau dibuat mengawang-awang. Segala yang telah terjadi, tak akan bisa diapa-apakan lagi.

Untuk itu, dari hari ini sampai Rabu terakhir sebelum Tahun Baru Imlek, ngomongin 12 shio dan kecenderungannya, ya. Bahas yang receh-receh saja. Sumbernya: almanak 卜易居 untuk tahun babi tanah. Kepanjangan buat dihabiskan sekaligus.

Tikus

Secara umum, tahun babi tanah merupakan tahun yang biasa-biasa saja bagi shio tikus. Namun, tetap dengan kecenderungan peningkatan. Misalnya, akan relatif baik untuk mencoba membuka usaha baru setelah melalui perhitungan matang, atau memperluas ragam usaha yang telah dijalani selama ini. Kondisi demikian terjadi karena menyambung tren positif di tahun lalu, ketika produktivitas berhasil dipertahankan, dan memiliki sumber daya lebih untuk mencoba berkembang. Lebih menenangkannya lagi, akan ada orang-orang baik yang siap menolong saat dibutuhkan. Siapakah mereka? Tidak ada yang bisa menduga. Bisa dari keluarga atau orang-orang yang sudah dikenal dekat selama ini, maupun figur-figur baru.

Bagi karyawan atau pekerja, akan ada potensi mendapatkan peningkatan karier. Wewenang bertambah, otomatis pekerjaan dan tanggung jawab pun mengikuti di belakangnya. Hanya saja, jangan kaget bila peningkatan-peningkatan tersebut tidak semuanya diimbangi dengan kenaikan gaji yang signifikan. Sebab segala bentuk peningkatan dan kerja keras yang mengikutinya akan membuahkan hasil ke depannya, walaupun bukan berupa materi. Di sisi lain, bisa juga peningkatan karier tanpa peningkatan gaji ini terjadi akibat berganti atasan atau pekerjaan. Yang artinya adalah adaptasi lagi, dan kesempatan untuk memperkuat reputasi serta kepercayaan dari dasar. Jangan lupa, semua ini bisa berdampak pada kelelahan baru, dan waktu pribadi untuk keluarga yang berkurang sebagai konsekuensi awal.

Kabar gembira bagi pemilik shio tikus yang baru menikah. Ada peluang memiliki anak di tahun ini. Sebaliknya, bagi yang masih belum berpasangan, tampaknya harus berusaha memperluas pergaulan dan dikenalkan oleh orang lain.

Pastinya, jangan sampai semua ini menjadi beban berlebih. Pasalnya kesehatan pemilik shio tikus di tahun ini kurang begitu baik. Bukan penyakit berat yang muncul, melainkan gangguan-gangguan kesehatan ringan, tetapi sering, dan mengganggu. Kemungkinan terbesarnya lantaran tekanan pekerjaan. Tetap jaga makan, waspadai perubahan cuaca saat bepergian, demi kesehatan dan menghindari pengeluaran pengobatan.

Kerbau/Sapi

Bagi para pemilik shio sapi, harap menghindari bekerja sama bisnis yang benar-benar baru, apalagi berinvestasi besar-besaran, atau dalam pinjam meminjam. Baik sebagai yang dipinjami, maupun yang menjamin peminjaman. Sama-sama membahayakan uang dan reputasi individual yang telah ada selama ini.

Selebihnya, tetap saja fokus pada usaha-usaha yang tengah dijalani saat ini. Sebab besar kemungkinan hasil pekerjaan kamu akan terpapar pada lebih banyak orang, calon klien, termasuk yang berasal dari luar (daerah, negeri). Semuanya diharapkan tetap berjalan lancar, bahkan tak menutup kemungkinan bisa membeli hunian baru di tahun ini.

Dalam dunia pekerjaan, kesalahan diri sendiri bisa merembet menyebabkan masalah eksternal. Hati-hati dan selalu sadar diri saat bertindak. Potensi masalah pasti akan selalu ada. Terlepas dari itu, kamu akan mendapatkan apresiasi dari atasan, juga bantuan rekan-rekan kerja, membuat segalanya terasa lebih mudah dan membalik kesialan menjadi kemujuran. Ada kesempatan pindah kerja ke luar negeri? Ambil!

Sayangnya, urusan asmara tidak sebagus bisnis. Ada teman yang bisa dekat banget sekalipun, tetapi belum berpeluang bersama sebagai pasangan. Bagi yang telah punya pacar atau pasangan, rasanya seperti sendirian. Jangan dibiarkan, ya. Penyelesaiannya, tergantung masalah yang dihadapi masing-masing. Apakah kebosanan, masalah komunikasi, atau sebagainya.

Jangan sampai kendala asmara juga bikin badan sakit. Sebab, para pemilik shio kerbau/sapi cenderung kerap mengalami cedera ringan, seperti terjatuh, terpeleset hingga terkilir, dan sebagainya. Untungnya semua tidak berdampak serius.

Macan

Peruntungan pemilik shio macan di tahun babi tanah terbilang baik. Dimulai dengan adanya potensi promosi di kantor, dan kenaikan gaji yang diharapkan signifikan. Bagi para pemilik usaha, bisnisnya pun berpeluang mengalami peningkatan yang berkesan. Entah sebagai sebab atau akibat, para pemilik shio macan akan merasakan antusiasme baru dalam karier dan usahanya. Energi positif yang juga mendorong munculnya ide-ide dan konsep baru nan cemerlang. Berbarengan dengan itu, menjadi kesempatan untuk menunjukkan kemampuan secara maksimal. Semua menjadi efek domino yang diinginkan. Saking positifnya, bahkan bukan merupakan kesalahan untuk mencoba berganti pekerjaan, mendapatkan yang ideal.

Soal asmara, wanita pemilik shio macan jauh lebih beruntung. Sebab berpeluang bertemu calon pasangan sesuai gambaran ideal, meskipun usahanya dibantu oleh rekan-rekan pria lainnya. Kalau sudah begini, harus pandai-pandai mengambil “kesempatan”. Sementara pria pemilik shio macan cenderung menghadapi kebuntuan asmara. Mereka yang belum berpasangan akan tetap berhati gelisah. Bisa karena tidak bertemu wanita ideal, tidak berani mengungkapkan perasaan, takut ditolak, terlalu banyak pertimbangan, dan sebagainya. Bagi yang sudah berpasangan pun, hati-hati akan mengalami asmara yang hambar.

Banyak masalah, jangan ditambah urusan kesehatan. Selalu jaga makan, rawat lambung, dan kondisi kulit.

Semoga semua hal-hal positif menjadi kenyataan.

[]

Shio di 2019 (2): Kelinci, Naga, Ular.

Sometimes, Fear is Good

Salah satu alasan kenapa saya berhenti melakukan salah satu pekerjaan saya beberapa tahun lalu adalah karena saya merasa tidak takut lagi.
Saat itu, saya sudah melakukan pekerjaan tersebut selama beberapa tahun. Setiap tahun ada beberapa projects yang harus kami handled. Kenapa pakai kata “kami”, karena memang saya bekerja dalam sebuah tim.

Selama beberapa saat terakhir sebelum saya berhenti, memang ada keresahan yang melanda dalam diri. Mungkin memang sudah saatnya mengakhiri pekerjaan tersebut. Tetapi setelah dirunut lagi, saya sempat kaget terhadap cara berpikir saya.

Kekagetan ini saya sadari saat menghadapi klien atau calon klien. Setiap mendengar pitch project yang akan di-propose, alih-alih mendengarkan dengan baik, tapi otak saya langsung berputar dan keburu berasumsi seperti, “Oh, dengan budget segini, kita bisa nih, pakai cara seperti ini.” Atau, “Oh, maunya dikerjakan 6 bulan. Paling bisa seperti ini.”

Lama-lama saya merasa pekerjaan yang saya lakukan adalah copy-and-paste template dari apa yang sudah dilakukan. Tinggal mengganti label atau nama yang dicantumkan di proyek tersebut.

Saat itu saya merasa ada kegentingan. Terlebih karena pekerjaan saya menuntut kreatifitas tinggi yang membuat satu project berbeda dengan yang lain. Saat kita merasa template yang kita lakukan sudah pernah sukses, dan yang kita ingin lakukan adalah mengulangnya, maka sebaiknya kita take a pause terlebih dulu.

Lambat laun saya mengingat-ingat lagi, apa yang sempat menjadi pendorong saya melakukan pekerjaan saya. Di masa-masa awal melakukan pekerjaan ini, sempat ada rasa ketakutan tidak dapat melakukan pekerjaan dengan baik, sehingga mati-matian belajar, mencari semua informasi, mencari bala bantuan untuk bisa menyelesaikan project dengan hampir sempurna. Selalu ada anxiety atau rasa deg-degan saat project diluncurkan. Seperti ada butterfly in my stomach melalui proses pengerjaannya.

Saya sempat merindukan sensasi seperti itu, sebelum akhirnya saya sadar bahwa rasa itulah yang saya perlukan untuk terus termotivasi bekerja. Bahwa saya belum tahu banyak, meskipun sudah melakukan banyak. Bahwa masih ada rasa takut yang bisa mendorong saya untuk menutupi ketakutan itu dengan melakukan apa yang harus dilakukan dengan sebaik mungkin.

600_461238573

Akhirnya saya memutuskan berhenti dari pekerjaan itu. Lalu saya kembali ke profesi lama yang pernah saya tekuni, namun karena sudah saya tinggalkan beberapa tahun, landscape atau suasana pekerjaannya berubah. Infrastruktur berubah, orang-orangnya berubah, dan banyak sekali ketertinggalan yang harus saya kejar. Mau tidak mau, saya harus belajar lagi. Bersamaan dengan masa pembelajaran ini, tak dinyana anxiety itu datang lagi, bersamaan dengan excitement menghadapi suasana baru.

Dalam beberapa situasi, ketakutan yang kita hadapi karena kita tidak tahu apa yang harus kita lakukan, ternyata bisa mendorong kita untuk jadi belajar dan bekerja ekstra keras (dan ekstra cermat). Sometimes, fear is good to drive us forward. Karena kita hanya bisa menaklukkan ketakutan kita saat kita dengan mencari tahu lebih banyak, apa yang sebenarnya membuat kita takut.

Selalu cari tantangan baru di pekerjaan yang kita lakukan. Lebih mudah memang di pekerjaan baru, tapi di pekerjaan lama pun, selalu cari hal baru yang membuat kita excited melakukannya. Not knowing what you’re about to do can be the most exciting thing you’ll ever do.

Selamat tahun baru.

the body of water surrounded by trees near cliff

Harapan 2019

TAK perlulah berpanjang-panjang, kala berdoa dan memanjatkan pinta. Sesungguhnya ia, apa pun sebutannya, hadir melampaui jumlah kata dan keterbatasan makna. Begitu pula untuk saat ini, di tahun yang baru dengan segudang pengharapan.

Berbekal pengalaman di tahun sebelumnya, serta semangat menjalani yang akan datang, semua orang sejatinya bebas meminta apa saja; segala hal yang dianggapnya bakal memberikan kegembiraan dan memberikan kebahagiaan. Ada yang dangkal, maupun yang mendasar.

Ketenangan

Ada kekuatan dalam ketenangan. Kuat menghadapi segala hal yang muncul atau terjadi, kuat menahan gejolak emosi sendiri yang timbul agar tidak mengganggu akal sehat ketika melakukan pertimbangan, kuat menjalani kehidupan dengan segala ketidakpastiannya.

Semoga kita selalu memiliki ketenangan, dan mampu menghadirkan ketenangan.

Ketenteraman

Merupakan rasa nyaman dan damai yang diperoleh melalui ketenangan, baik ketenangan dalam diri sendiri, maupun ketenangan yang dihasilkan dari lingkungan sekeliling kita. Termasuk kesehatan jasmani maupun batin.

Dalam ketenteraman, kita berbahagia. Bahkan tanpa perlu risau bisa kehilangan perasaan berbahagia, maupun sumber dari perasaan berbahagia tersebut. Sebab kita sudah cukup tenteram, tidak lagi merasa ingin meminta lebih.

Semoga kita selalu berbahagia dan tenteram, dalam situasi apa pun.

Penerimaan Diri

Ada yang jauh lebih penting dari penerimaan oleh orang lain dan lingkungan sekitar kita, yakni penerimaan oleh diri sendiri. Penerimaan oleh pihak lain memang membuat kita bisa merasakan banyak kemudahan dan kelancaran, tetapi tanpa sudi menerima diri sendiri–apa pun kondisinya–semua akan tetap terasa kurang, penuh kerisauan, dan membebani.

Saat kita sudah bisa menerima diri sendiri, penerimaan orang lain akan terasa mengikuti. Kalaupun tidak, kita menyadari bahwa hal tersebut tak sebegitu penting lagi.

Menerima diri sendiri bukanlah sesuatu yang mudah dan dapat langsung dilakukan begitu saja, dibutuhkan perjuangan (terhadap diri sendiri); ratusan diskusi bahkan perdebatan (kepada diri sendiri); dan penegasan batin (untuk diri sendiri).

Semoga kita selalu mampu berdamai dengan diri sendiri, dengan menerima apa pun adanya.

Kejernihan

Ketenangan dan ketenteraman memungkinkan kita untuk selalu berpikir serta melihat segalanya dengan jernih. Di sisi lain, kejernihan berpikir dan melihat atas segala hal mendorong kita agar selalu bisa tenang, serta merasakan ketenteraman.

Kejernihan pula yang mampu membuat kita memilih dengan tepat, karena kita terarah untuk berpikir lebih jauh dan menyeluruh. Menjadikan pilihan yang kita ambil benar-benar tanpa pertimbangan bias, dan patut.

Semoga kita selalu mampu berpikir dan bertindak jernih, menyadari semua sebagai apa adanya.

Keleluasaan

Apabila kemakmuran diibaratkan sebagai kunci, maka keleluasaan adalah pintunya, yang kemudian tetap mengarah pada ketenteraman. Sebab keleluasaan membebaskan kita dari kekhawatiran dan kerisauan berlebihan. Adanya keleluasaan menunjukkan bahwa kita akan selalu memiliki pilihan, alternatif, dan jalan keluar dalam segala hal.

Keleluasaan juga merupakan wajah lain dari kemudahan, dan kelancaran yang manusiawi. Karena kita bertanggung jawab penuh atas keputusan dari pilihan-pilihan tersebut.

Semoga kita selalu memiliki keleluasaan untuk segala hal.

Mampu Mempertahankan

Sesukar-sukarnya memperoleh hal-hal positif, tetap lebih susah mempertahankannya dengan baik. Namun, bisa dipastikan, sekali kita mampu berada dalam ketenangan dan selalu melihat dengan jernih, semua hal-hal positif tersebut justru akan melekat dengan sendirinya.

Semoga kita selalu mampu mempertahankan apa yang telah diperoleh dan dimiliki, bahkan mampu mengembangkannya.

Mampu Melepas

Mampu melepas ialah kondisi menuju perasaan terbebas. Lepaskanlah yang sepatutnya dilepas. Kekuatan untuk mengupayakan ketenteraman bagi diri sendiri, dan agar lebih berfokus pada hal-hal yang lebih penting dibandingkan sesuatu dari masa lalu.

Semoga kita selalu mampu bijaksana.

Semoga semuanya ada pada Anda, tahun ini hingga seterusnya.

[]

Berkunjung ke Loteng

Sekitar awal 2017, saya pernah menyebarkan sebuah film dokumenter Minimalism, A Documentary About Important Things yang sekarang bisa ditonton di Netflix. Joshua dan Ryan sepasang teman yang di puncak karirnya merasa kekosongan dalam hidup. Memiliki semua tapi tak memiliki semua. Dan akhirnya menemukan betapa sering mereka membeli barang hanya sekedar membeli hanya karena mampu. Namun berujung pada penumpukan barang-barang tanpa makna.

Pastinya film ini membekas lumayan dalam sehingga saya mencoba mulai mempraktekannya. Walau tak sedrastis mereka, namun sejak saat itu semua barang-barang yang sekiranya masih bernilai saya coba jual ke teman atau di online. Dan barang-barang yang tak bernilai jual, saya bagi-bagikan bagi yang menginginkannya. Pernah di liburan Lebaran, saya membagi-bagikan buku dan dasi yang memang selama ini hanya teronggok tanpa makna. Nyimpen debu istilahnya.

Terompet, alat musik yang selama ini sudah lama tak dimainkan berhasil saya jual. Sepeda yang baru dipakai sebentar berhasil saya berikan kepada teman yang lebih membutuhkannya. Dan yang terakhir menyambut hari Natal, hiasan dekor Natal saya lepas dengan sukacita. Ada beberapa saja yang saya simpan karena pemberian. Untuk kenang-kenangan dan menghias hunian sekedarnya saja. Belum lagi setiap menyambut Imlek, banyak pakaian, tas, sepatu yang sudah lama tak terpakai saya berikan kepada siapa saja di sekitar yang saya rasa akan lebih bahagia memilikinya.

Memang saya tidak melakukan seperti teori yang diajarkan seperti 6 bulan tak terpakai dan perkiraan 6 bulan ke depan tak terpakai. Atau teori dari buku best-seller Marie Kondo. Saya bikin aturan sendiri: dimulai dari gudang. Tempat menyimpan barang yang tak dipakai sehari-hari, atau menduga akan dipakai di kemudian hari. Barang berukuran besar tak terpakai diutamakan untuk dilepas. Menyusul barang-barang kecil sampai printilan.

Saat membongkar gudang, berulang kali saya terkejut karena menemukan banyak barang-barang yang terlupakan keberadaannya dan saya sudah membeli yang baru. Kado-kado yang masih dibungkus rapi belum sempat dibuka. Barang baru yang belum pernah dipakai sama sekali. Semua teronggok rapi tanpa arti. Perasaan bersalah langsung menyerang tanpa ampun. Betapa borosnya saya. Betapa sering saya buang-buang uang. Untungnya perasaan itu segera berganti dengan tekad untuk mengubah gaya hidup berlebihan ini.

Setelah setahun lebih mempraktekannya pelan-pelan, boleh percaya atau tidak, perasaan lega dan lapang datang. Teman-teman yang datang pun bilang kalau hunian saya sekarang “lebih bercahaya”. Kadang ada saatnya menyesal saat memerlukan barang yang ternyata sudah keburu dilepas. Tapi itu tak seberapa dibanding kelegaan yang lebih dahulu menghampiri. Bikin jadi ingin terus mempraktekkan ini.

Yang juga kemudian berujung pada kemawasan saat hendak membeli barang baru. Apakah benar saya menginginkannya? Apa sudah butuh sekarang? *Maaf saya bukan orang yang percaya manusia bisa membedakan kebutuhan dan keinginan. Dan sebelum membeli barang saya yakinkan berkali-kali kalau barang baru itu benar akan saya pakai dan membuat hidup saya kemudian lebih bahagia.

Baju. Bener nih kalau pake baju baru cocok dengan tubuh dan gaya hidup saya? Atau sekedar beli hanya karena lagi diskon? Sepatu. Bukannya sepatu udah banyak? Mau ke mana aja emang? Kalau sekedar untuk bergerak hunian, tempat kerja, olah raga, sepertinya sudah cukup. Buku. Yakin akan dibaca? Ada versi onlinenya aja gak? Daaan berbagai pertimbangan lainnya. Lumayan saya jadi bisa lebih menahan pengeluaran dan kalau pun belanja jadi bisa membeli kualitas ketimbang kuantitas.


Koleksi MangkokAyamID terbaru saya beri nama LOTENG. Banyak yang bertanya kenapa motif cross-stitch ini diberi nama Loteng. Jawabannya ada dua, pertama karena di sebuah film yang saya lupa judulnya apa, ada adegan di mana sebuah lukisan cross-stitch yang indah ditemukan di sebuah loteng dan yang menemukannya langsung bernostalgia. Sesuai dengan desain-desain MangkokAyamID.

Tapi jawaban “ngawang-ngawang”nya, saya merasa sudah waktunya untuk mulai membenahi loteng di dalam hati. Tempat segala perasaan lama dipendam. Terutamanya kemarahan, kekecewaan, kesedihan, dan kenangan-kenangan yang sebenarnya tak perlu dibawa untuk esok. Untuk seketika membuangnya, sepertinya mustahil. Tapi bisa dibenahi.

Perihal yang sebaiknya tak perlu dipikirkan. Belajar untuk memaafkan diri sendiri, kalau memang belum bisa memaafkan orang lain. “Orang lain juga kemungkinan besar udah lupa kali” kata saya berulang ketika mengingat hal-hal yang memalukan saya. Intinya, berbenah. Saya memberanikan diri untuk bertandang ke loteng, ruang gelap berdebu yang keberadaannya selama ini saya paksa lupakan.

Dari situ pula saya belajar tentang diri sendiri. Saya memang ternyata tak suka untuk dingat-ingatkan. Paling malas rasanya baca notifikasi postingan sendiri di masa lalu. Makanya IG Story menjadi tempat yang paling pas. 24 jam hilang. Kecuali ada yang screen cap :p

“Tapi kan akan selalu ada jejak digital” kata teman. Betul juga. Sepertinya untuk benar-benar menghilangkan diri di digital sudah mustahil. Seperti tulisan ini akan selamanya ada di dunia maya. Itu lah penyebab utama mengapa belakangan saya mengurangi keceriwisan di Twitter, lebih selektif saat posting di Instagram Feed. Dan mengapa tulisan di blog pribadi dan linimasa.com berkurang drastis. Currated Post, postingan yang dikurasi. Atau disaring dengan pemikiran yang matang agar tak menyesal di kemudian hari.

2019 sebentar lagi datang. Saya akan melanjutkan perjalanan bebenah ini. Satu-satu masalah akan saya selesaikan pada waktu dan kecepatan yang saya tentukan sendiri.

Terima Kasih, Sandra Bullock!

Tadinya saya ingin mengakhiri rangkaian tulisan di Linimasa tahun ini dengan tulisan tentang film-film pilihan 2018 yang sudah terbit beberapa hari lalu. Terus terang, mindset saya kalau sudah bulan Desember ini, inginnya menulis seputar daftar buku/musik/film/apapun yang menarik sepanjang 365 hari terakhir. Selain itu, memang tidak ada ide lain.

Sampai Sandra Bullock menyelamatkan saya.

Memang Sandra Bullock sedang di Jakarta?

Tentu tidak. Mungkin dia sedang berada di rumahnya, bersama anak-anaknya. Kalau pun dia sedang di Jakarta, tentu dia tidak mau tinggal di rumah saya. Kenal saja tidak.

Hubungan kami tentu saja adalah one-sided relationship, yang berarti saya penggemarnya, sementara dia sadar kalau dia punya penggemar milyaran orang di dunia ini, tanpa perlu tahu satu per satu siapa mereka. Sebagai penggemar, meskipun bukan kelas berat, saya memutuskan untuk memulai pagi tadi dengan menelusuri beberapa video wawancaranya akhir-akhir ini di Youtube, terkait dengan promosi film terbarunya di Netflix yang berjudul Bird Box.

Sebagian besar wawancara membuat saya tersenyum. Sampai saya melihat video wawancaranya dengan Stephen Colbert di bawah ini:

Dari judulnya saja cukup jelas, bahwa Sandra Bullock, sebagai mantan waitress atau pramusaji, merasa bahwa anak-anak muda, atau orang-orang secara umum, perlu merasakan pengalaman menjadi pramusaji sebelum memasuki lapangan kerja yang mereka inginkan. Stephen Colbert pun menambahkan, bahwa kita perlu punya pengalaman kerja blue collar, terutama dalam bidang pelayanan jasa, untuk bisa merasakan dan berempati terhadap mereka yang bekerja di bidang tersebut. Pekerjaan penyedia jasa ini sangat, sangat berat. Long hours, small payment, and nothing but hard work all around the clock. Sebagai mantan waiter sendiri, saya mengangguk setuju.

Lalu seperti saat menonton kebanyakan video di Youtube lainnya, saya melihat beberapa komentar. Di bagian ini, saya tertohok. Beberapa komentar menyuarakan kesetujuan mereka terhadap video tersebut. Beberapa komentar itu, sepertinya, ditulis oleh waiters dan waitresses, di mana mereka kompak mengatakan, bahwa intinya jangan sekali-kali berbuat kasar terhadap pramusaji atau staf di tempat makan. If you are rude, you will get bad treatment.
Sebagai mantan waiter, saya menghela nafas.

1445357291311

Helaan nafas ini karena ada sedikit rasa bersalah.
Beberapa hari lalu, di sebuah mal yang sedang ramai, saya pesan makan di sebuah restoran. Makanan datang dalam waktu yang tidak terlalu lama, tapi juga tidak terlalu cepat. Justru minuman saya yang tidak kunjung datang sampai makanan habis. Berkali-kali saya meminta perhatian, tidak digubris. Saat akhirnya ada staf yang datang, lalu saya bilang untuk membatalkan pesanan kalau minuman tidak datang juga, akhirnya barulah minuman itu datang beberapa menit kemudian.

Dalam suasana ramai, baik di restoran atau di mal, terus terang pengalaman makan tersebut jadi tidak terasa menyenangkan. Ditambah dengan pelayanan yang kurang memuaskan, saya jadi tidak terlalu apresiatif saat para staf meminta maaf atas kejadian tersebut dan berterima kasih atas kunjungan saya. Saat itu mood saya sudah terlanjur tidak karuan, jadi saya buru-buru menyelesaikan transaksi.

I was fine, until I saw the video. Now I am not.

Saya jadi bertanya-tanya sendiri, where did it go? Where the understanding has gone? Apa karena sudah terlalu lama tidak menjadi waiter lagi, jadinya sekarang kurang apresiatif terhadap mereka?

Saya akui, bahwa sampai beberapa tahun setelah tidak lagi menjadi waiter, saya (sempat) menjadi ekstra attentive pada servis staf tempat makan yang saya kunjungi. Tanpa terkecuali.
Lalu seiring berjalannya waktu, dan pindah tempat tinggal, perhatian yang diberikan cenderung semakin biasa-biasa saja. Kalau servis yang diberikan baik, saya akan memuji. Kalau servis yang diberikan kurang baik, saya akan menegur. Apa berarti semakin bertambah umur, kita juga semakin gampang hilang kesabaran terhadap hal-hal kecil?

6a00e54ee3905b883301a511f5263f970

Beberapa waktu lalu, di Linimasa ini, pernah ada yang menanyakan, kenapa orang-orang yang dulu pernah menempuh pendidikan tinggi, ternyata sekarang melakukan atau mendukung hal-hal yang tidak mencerminkan kualitas pendidikannya. Saya jawab singkat, bahwa life happens. Seiring dengan berjalannya waktu, prioritas hidup berubah. Perubahan prioritas hidup membawa perubahan dalam pandangan hidup. Perubahan pandangan hidup membawa perubahan pada bagaimana kita memperlakukan orang lain, mau tidak mau.

Jadi saya ingin mengakhiri tahun 2018 ini dengan sedikit berjanji ke diri sendiri, supaya bisa tap into the inner self lagi. Kalau dulu bisa menghargai orang lain dengan lebih baik, mungkin sekarang bisa dicoba lagi. Meskipun kita sedang dalam suasana yang tidak nyaman, but hey, that shouldn’t stop us from being nice.
Karena dengan tersenyum dan bilang ‘terima kasih’, kita bisa membuat hari kita dan orang lain sedikit lebih baik.

Sandra Bullock, terima kasih sudah memberikan saya resolusi tahun 2019 nanti.

Happy New Year, everyone!

gettyimages-81386861

Book shelf

Rabu Terakhir 2018: Tempat Tinggal

SUDAH umum, anggapan bahwa menjadi dewasa berarti termasuk siap bertempat tinggal, atau memiliki tempat tinggal sendiri. Kedewasaan pun diidentikkan dengan kemapanan, kesuksesan finansial, serta kemampuan mengambil dan menjalani keputusan-keputusan besar dalam hidup.

Banyak orang tua yang merasa/dinilai berhasil mendidik dan membesarkan anak-anaknya, ketika mereka telah bisa membeli rumah. Sebab menunjukkan kemandirian, selain tiga aspek kedewasaan di atas. Pandangan ini pun langgeng, terus diturunkan lintas generasi.

Upaya memiliki hunian pribadi tentu bukan perkara mudah–terkecuali bagi sebagian kecil orang. Ada yang melihatnya sebagai tantangan dan target pencapaian dalam hidup; ada yang melihatnya sebagai bagian penting dari rencana masa depan; ada pula yang melihatnya sebagai beban, sesuatu yang sangat memberatkan. Padahal, masalahnya tidak berhenti sampai di situ saja.

Setelah mulai menempati rumah sendiri, apa pun bentuk dan konsepnya, kita akan berhadapan dengan pertanyaan “Mau diisi apa?“, dan “Bagaimana menatanya?” Dalam hal ini, setiap orang memiliki pandangan dan pertimbangannya masing-masing. Ada yang menginginkan kesan mewah dan lengkap untuk kenyamanan maksimal, ada yang menginginkan efisiensi dan efektivitas segala hal di dalam rumah tersebut, ada yang lebih berat kepada desain cantik dan indah untuk dipamerkan di media sosial, serta lain sebagainya. Pada akhirnya, semua kembali ke preferensi, selera, gaya hidup, dan ketersediaan dana.

Ada orang yang gampang bosan, ada yang tidak terlalu acuh, ada yang sangat rapi dan tertata, ada yang sederhana dan mudah merasa puas, ada yang kreatif, ada yang ambisius, ada yang mengedepankan kenyamanan privat, ada pula yang lebih suka keramaian dan kumpul-kumpul bersama teman atau keluarga. Semua kondisi tersebut memengaruhi hunian mereka, dan bisa kita rasakan saat berkunjung dan berkegiatan di sana.

Bagi saya, yang baru setahun terakhir merasakan tinggal dan bertanggung jawab atas hunian sendiri, gaya minimalis ternyata lebih cocok diterapkan. Simpel, mudah diurus, dan sesuai bujet. Lebih intens dibanding saat masih indekos dahulu, karena kesan bahwa senyaman-nyamannya, tempat tersebut tetaplah milik orang lain. Sementara.

…dan berikut barangkali adalah beberapa hal yang menggambarkannya.

  • Kalau kebetulan berjodoh dengan apartemen, pilih lantai tertinggi. Apalagi kalau lingkungan sekelilingnya tidak banyak gedung menjulang, dan berjendela menghadap selatan atau utara. Supaya tanpa dipasangi gorden pun, unit tidak akan panas ditembak sinar matahari. Privasi pun tetap terjaga, termasuk dari balkon unit sebelah. Apabila jendela berada di kamar tidur utama, bonus pemandangan langit.
  • Rangka tempat tidur memang memberikan kesan tinggi dan nyaman. Namun, akan ada kolong yang mesti disapu dan dipel berkala. Kita berada di Indonesia, debu halus berterbangan di mana-mana. Kasur dapat diletakkan langsung di atas lantai, memang mirip kamar kos, tetapi sama-sama nyaman dan mudah dibersihkan. Cukup dialasi. Bisa dengan karpet (asal harus sedia penyedot debu), atau karpet bilah kayu serupa parket.
Sumber: FLjasmy
  • Masih tentang tempat tidur, sangat menarik, hemat tempat, dan cakep pula jika menggunakan dipan lipat. Bermanfaat untuk ruang yang kecil atau sempit.
  • Begitu pula terhadap sofa. Pilih dengan bahan, bobot, dan desain yang sedemikian rupa agar mudah saat ingin membersihkan bagian bawahnya. Tidak ada salahnya juga bila membeli bean bag, terutama jika hunian akan lebih sering dikunjungi teman dekat. Sehingga bisa bersantai tanpa sungkan, macam ketika menerima tamu formal.
  • Sudah punya kulkas? Maka, apakah masih memerlukan mesin dispenser panas dan dingin? Perlu air dingin, silakan ambil dari kulkas. Perlu air panas, bisa masak air. Suhu didihannya pun bisa relatif berbeda dibanding di mesin dispenser. Hanya saja, dispenser akan menyediakan air dingin dan panas saat itu juga, dengan catatan selama mesinnya beroperasi.
  • Masih menonton lewat televisi? Tempelkan di dinding, agar meja di bawahnya bisa digunakan untuk barang-barang lainnya. Padahal makin banyak orang yang menghabiskan sebagain besar waktunya di luar. Sesampainya di rumah hanya tersisa sedikit waktu dan tenaga untuk mengerjakan yang perlu, lalu beristirahat.
  • Ada berapa orang di rumah? Sendirian atau berdua? Bisakah bila meja makan dijadikan meja bekerja, atau tetap harus dengan meja dan ruang berbeda? Apabila bisa, gunakan meja berbahan kayu solid agak panjang. Gunakan satu sisi untuk makan, agar masih ada sisi lainnya untuk buka laptop dan melakukan beragam aktivitas lain.
  • Belilah barang yang benar-benar dibutuhkan, bukan sekadar diinginkan. Apabila fungsinya masih bisa digantikan dengan barang yang lain, maksimalkan yang telah ada. Pemanas air untuk mandi? Seberapa sering mandi dini hari atau subuh? Sedingin apakah air yang mengalir?
  • Perlukah menggunakan cooker hood atau kipas penyedot yang kencang? Jika tinggal di apartemen model loft atau berkonsep studio, akan seberapa sering memasak? Terutama masakan yang heboh, tumisan, gorengan, panggangan. Sebab aroma dan partikel minyak akan berterbangan, dan menempel bahkan sampai di tempat tidur (tidak terhalang dinding). Di sisi lain, apartemen tipe studio mengingatkan kita dengan kamar-kamar hotel yang lumayan cukup.

Selain hal-hal tersebut, bisa jadi masih terdapat banyak “inspirasi” hidup minimalis yang layak, bukan ngenes. Oleh sebab itu, beruntunglah mereka yang sudah pernah merasakan jadi penghuni indekos semasa muda, dan kemudian berkemampuan memiliki tempat tinggal pribadi pada waktunya. Mereka setidaknya bisa menakar kadar ugahari saat mengisi dan menata hunian. Agar tidak malah menjadi beban tambahan yang sebenarnya bisa dihindarkan. Terlebih bagi mereka yang berkuliah arsitektur atau desain interior. Pasti bisa jadi kece. Kalau teknik sipil, bisa membangun rumah secara efisien.

Teriring doa dan harapan di Rabu terakhir 2018 ini, semoga kita semua dilancarkan/bisa memiliki tempat tinggal sendiri yang ideal, mudah diisi, mudah ditata, dan nyaman dihuni.

Selamat Natal, dengan berkat dan kasih yang menenteramkan.
Selamat tahun baru, dengan masa depan yang menyejahterakan.

[]

Delapan Belas Film Yang Memukau di Tahun 2018

Memilih 18 film dari (sedikit lagi) hampir 1.000 jam durasi film yang saya tonton di tahun 2018 ternyata bukan perkara yang mudah dilakukan. Terlebih lagi, kita selalu berpatokan pada hal yang absolut, bahwa satu film berbeda dengan yang lain, yang nyaris mustahil untuk dibandingkan secara kuantitatif.

Akhirnya daftar ini saya buat dengan prinsip yang sangat mendasar, yaitu pada saat menonton film-film ini, I have a memorable time. Bukan sekedar had a good time, tapi film itu masih membekas di ingatan dan hati saya usai film itu berakhir, dan saya sudah beranjak pergi dari bioskop, atau mematikan layar televisi, layar komputer atau sekedar berpaling dari layar ponsel.

Pilihan jenis layar tontonan tersebut saya pilih karena tuntutan pekerjaan yang memang mengharuskan saya untuk hampir selalu menonton film. Saat makan siang sendirian di food court, saat sedang berlari di atas treadmill, atau bahkan saat menunggu pintu bioskop masuk, selalu ada tontonan dalam genggaman.

Lagi pula, as much as I believe the following statement to be a bit passé, ternyata 2018 adalah a good year in cinema. Variasi cerita yang kaya mendorong film-film yang dirilis sepanjang 2018 beragam. Bahkan penonton pun tak segan untuk berpaling dari film-film yang mengandalkan gimmick semata (kecuali ada pemborong tiket).

Tentu saja, tak semua eksperimen berhasil. At least tidak berhasil membuat saya mengagumi film yang telah ditonton. Dari sekian banyak film dengan high concept of ideas, ada 5 Film Yang Mengecewakan di Tahun 2018, yaitu:

Suspiria
Thugs of Hindostan
Peterloo
Vox Lux
The Little Stranger

Obat untuk mengatasi kekecewaan setelah menonton film yang gagal membuat kita senang? Tentu saja dengan menonton film lain! Itulah yang selalu saya lakukan dari dulu, termasuk di tahun 2018, sampai akhirnya saya menemukan 18 Film Favorit di Tahun 2018. Ini dia:

[eighteen] The Death of Stalin

death_of_stalin(IMP)

The Death of Stalin (Source: IMP)

[seventeen] First Man

first_man-IMP

First Man (Source: IMP)

[sixteen] The Man Who Surprised Everyone

the-man-who-surpised-everyone-IMDB

The Man Who Surprised Everyone (Source: IMDB)

[fifteen] Tel Aviv on Fire

Tel-Aviv-On-Fire-poster_Bristol_Palestine-FilmFest

Tel Aviv on Fire (Source: Bristol Palestine Film Fest.)

[fourteen] Kucumbu Tubuh Indahku (Memories of My Body)

memories-of-my-body-IMDB

Memories of My Body (Source: IMDB)

[thirteen] A Star is Born

star_is_born-IMP

A Star is Born (Source: IMP)

[twelve] Whitney

whitney-IMP

Whitney (Source: IMP)

[eleven] Spider-Man: Into the Spider-Verse

spiderman_into_the_spiderverse_ver2-IMP

Spider-Man: Into the Spider-Verse (IMP)

And now, the top 10 of the year:

[ten] Cold War

cold-war-_RogerEbert

Cold War (Source: RogerEbert.com)

Satu kata yang terlontar usai menonton film ini adalah “gorgeous!” Terutama buat penggemar jazz, perhatikan bahwa film ini dibuat dengan pacing melodi musik jazz yang megah, yang dimulai dengan kekosongan, diisi dengan riots and chaotic notes, dan diakhiri dengan a beautiful and lingering devastation. Film ini juga sarat dengan imaji indah dalam sinematografi hitam putih dengan komposisi yang tak biasa, yang membuat kita tak berpaling dari layar. Durasi film boleh singkat, namun impresi yang ditinggalkan masih berbekas sampai sekarang.

[nine] A Twelve-Year Night

a-twelve-year-night_Unifrance

A Twelve-Year Night (Source: Unifrance)

Kalau ada film di daftar ini yang membuat saya berkata “I urge you all to watch the film”, maka inilah filmnya. Sepintas mirip The Shawshank Redemption, ada pula yang menyebut filmnya mirip 12 Years a Slave. Kesamaan dengan kedua film hanya sebatas pada dasar ceritanya saja: ini film kisah nyata tentang José Mujica yang ditahan bersama tawanan politik lainnya selama 12 tahun, sebelum akhirnya dia menjadi presiden Uruguay. Film ini menggambarkan keadaan mereka di penjara, dan mengikuti kisah hidup mereka di penjara sepanjang film, saya tidak bisa berkata-kata lebih banyak lagi. They are harrowing, they can be gruesome, but they can be hopeful. Visualisasi tentang usaha mereka bertahan hidup di penjara sangat fantastis. The quietness, you have to see it yourself to feel it. Film ini hadir di Netflix mulai 28 Desember 2018.

[eight] Girl

Girl-ThePlaylist

Girl (Source: The Playlist)

Elegan dan halus. Itulah catatan saya selesai menonton film ini. Performa luar biasa Victor Polster sebagai Lara yang bertekad keras menjadi perempuan seutuhnya membuat film ini berhasil memukau kita. Tak hanya sekedar mengubah fisik, tapi karakter Lara di film ini ditampilkan lengkap dengan perjalanan emosi yang membuat kita tertegun sepanjang film. Pilihan Lara untuk bertahan hidup membuat saya mau tidak mau menorehkan kata berikut untuk film Girl ini: “powerful!

[seven] Andhadhun

andhadhun-TheWire

Andhadhun (Source: The Wire)

Saya sudah penasaran dengan film ini dari trailernya yang sangat unik. Terlebih untuk sebuah film Hindi komersil. Dan rasa penasaran itu sangat, sangat terpuaskan oleh filmnya sendiri. Apalagi di paruh pertama film, dengan puncak keseruan film saat karakter utama mengalami kejadian yang membawa cerita bergulir dengan sangat nyaman untuk diikuti. Silakan baca sendiri semi-spoiler moment di tulisan saya minggu lalu. Yang jelas, film ini adalah film Hindi paling menyenangkan untuk ditonton tahun ini. Dan film ini sudah ada di Netflix!

[six] One Cut of the Dead

one-cut-of-the-dead-Variety

One Cut of the Dead (source: Variety)

Kalau sensasi film ini harus ditulis besar-besar dalam huruf kapital: FUN! Rasanya tidak ada film lain sepanjang tahun 2018 yang membuat saya tertawa terbahak-bahak, bahkan sampai ada penonton lain yang berdiri dari kursi dan terus tertawa sambil bertepuk tangan di beberapa bagian film. Sebuah film dengan konsep yang kalau diceritakan secara lisan atau kita baca cuma bisa membuat kita bingung, namun saat akhirnya kita saksikan sendiri, kita hanya bisa terperanjat dan kagum. Film yang sangat brilian. Sekaligus film ini adalah film yang membuat kita sadar, kenapa kita sangat mencintai film secara umum. Semakin sedikit Anda tahu sebelum menonton film, the more fun you will have. The funniest film in a long time.

[five] Tully

tully-charlizetheron_SlashFilm

Tully (Source: SlashFilm)

Twist film ini membuat saya berpikir berhari-hari. Semacam mengetuk kesadaran dalam diri. Tenang saja, ini bukan spoiler sama sekali. Film ini berhasil membuat saya tertegun, dan akhirnya mengakui bahwa kalau bukan kita sendiri, siapa yang akan menyelamatkan kita? Semakin saya memikirkan film ini, semakin saya paham bahwa tidak hanya penampilan Charlize Theron yang luar biasa bagusnya yang membuat film ini menjadi salah satu film favorit saya tahun ini, tapi cerita film ini yang sangat humanis yang membuat film ini layak untuk ditonton. Jason Reitman dan Diablo Cody adalah tim sutradara dan penulis yang sangat paham tentang human beings and their desire to be human.

[four] Shoplifters

shoplifters_RogerEbert

Shoplifters (Source: RogerEbert.com)

Film ini menantang pemikiran kita tentang konsep keluarga dengan cara yang sangat subtle, yang tanpa kita sadari merasuki perasaan kita, yang membuat kita sampai meneteskan air mata di akhir cerita. Selain itu, Hirokazu Kore-eda juga mempertanyakan kembali, apakah konsep villain dan protagonis yang sebenarnya dalam hidup sehari-hari. Bagian ini yang membuat saya terus berpikir sepanjang film, dan terus mencari jawaban pertanyaan tersebut sampai film berakhir. Disajikan dengan cara bertutur yang pelan namun pasti, film ini berhasil memanusiakan manusia dalam konteks yang mudah kita pahami, sekaligus meninggalkan kesan yang mendalam.

[three] Amanda

amanda_-_mikhael_hers__Variety

Amanda (Source: Variety)

Waktu saya menonton film ini, saya hanya berniat untuk menonton paling tidak separuh durasi, karena ada jadwal diskusi yang harus saya hadiri. Namun niat itu tidak saya penuhi, karena hanya dalam guliran menit-menit pertama, film in berhasil membuat saya tidak beranjak dari kursi, dan menontonnya sampai selesai. Dengan mata berkaca-kaca, saya bertanya ke rekan saya, “What was that we just watched?” Film ini sangat sederhana: seorang pria harus membesarkan keponakannya setelah kakaknya, yang notabene adalah ibu keponakan ini, tewas akibat serangan terorisme. Pergulatan batin dua orang ini menjadi perjalanan utama cerita film yang tertutur dengan rapi, tanpa menghakimi sama sekali, tanpa berpihak sama sekali. How is it possible? Sutradara Mikhael Hers membuat film ini dengan tampilan bak film keluarga di televisi tahun 1970-an, yang menjadi efektif, karena kita bisa menikmatinya dengan tenang, despite all the big questions and anxiety about life in the film. Tidak perlu menjadi melodramatis dan sentimentil untuk membuat film yang menentramkan hati. Film ini membuktikannya.

[two] The Guilty

theguilty-Fotogramas

The Guilty (Source: Fotogramas)

Ada kalanya kita menonton film dan terpukau dengan sense of filmmaking film tersebut. Film ini salah satunya. Mirip dengan film-film seperti Buried atau Locke dan Gravity, di mana keseluruhan cerita dalam satu film dibuat dalam satu kurun waktu, in real time, dan hanya ada satu karakter sepanjang film. Film-film seperti membutuhkan kedisiplinan yang tinggi dalam membuatnya. Skenario harus dibuat serapi mungkin agar dramatic moments pas munculnya, serta tentunya, aktor yang memainkan karakter utama harus tampil meyakinkan sepanjang film, karena dialah satu-satunya yang selalu muncul sepanjang film. Ryan Reynolds, Tom Hardy dan Sandra Bullock sudah membuktikannya, dan sekarang, Jakob Cedergren juga membuktikan lewat film The Guilty ini. Duduk dalam satu ruangan tertutup menerima panggilan telpon darurat, ketegangan demi ketegangan film tersaji lewat raut muka, gerak tubuh dan intonasi suara Cedergren yang selalu berubah seiring dengan perkembangan kejadian. Sutradara Gustav Möller menorehkan debut film panjang yang sangat istimewa, perhaps among the best debut films of all time. Tentu saja, film ini pun adalah film thriller terbaik tahun ini.

[one] Roma

roma-Empire

Film seperti Roma belum tentu hadir setahun sekali. Bahkan mungkin belum tentu sepuluh tahun sekali. Film ini memang personal untuk Alfonso Cuaron, pembuatnya. Namun rasa itu berhasil diterjemahkan menjadi sebuah karya seni yang dibuat dengan sepenuh hati, dan akhirnya bisa kita nikmati juga dengan sepenuh hati. Sebagai orang yang lebih menyukai film dengan penuturan cerita yang naratif, saya surprised sendiri bisa menikmati film ini. Mungkin Cuaron tidak akan pernah lupa, bahwa frame dan adegan indah pun perlu kekuatan cerita dan karakter yang membuat momen-momen tersebut tak lepas dari ingatan. Adegan di hutan, adegan di pantai, pemberontakan di jalan, menyaksikan ini semua seperti membuat kita menyaksikan adegan hidup dalam tatanan gambar dan suara yang menakjubkan. This is a work of art worth seeing. This is a beautiful rarity.

Apa film favorit Anda tahun 2018 ini?

Ulang Tahun Istimewa

Alkisah, ada seorang mahasiswi yang lugu dan baru pacaran, belum pernah hari ulang tahunnya dirayakan begitu spesial oleh orang selain keluarganya. Mendekati hari istimewa itu, dia semakin berdebar dadanya; kira-kira apa ya, yang direncanakan oleh pacar baru (dan pertama) untuk merayakannya? Apakah dia akan diberi kejutan romantis seperti yang dilakukan di film-film? Atau pacarnya akan mengundang teman-teman dekatnya untuk merayakan bersama? Entahlah, yang jelas dia sudah sering melamun sambil senyum senyum sendiri.

Pagi pagi sekali di hari ulang tahunnya, pacarnya sudah muncul di tempat dia kos. Tentu yang diucapkan pertama kali adalah selamat ulang tahun, tetapi dia melihat bahwa mata pacarnya merah, dan bajunya lusuh tidak seperti baru keluar dari rumah pagi.

“I have bad news”
“OMG what”

Dengan tidak percaya dia mendengar pacarnya cerita. Kalau malam sebelumnya dia menyetir ke luar rumah jam 8 malam untuk membeli kado untuknya. Ketika dia menyetir dengan kecepatan sedang, ada anak yang mendadak menyeberang jalan dan dia tidak sempat mengerem, sehingga tersenggol mobilnya. Kemudian dia tadi malam membawa anak tersebut ke rumah sakit terdekat dan mengurus pemeriksaan anak tersebut semalaman.

“Maaf aku enggak sempat siapin apa-apa untuk ulang tahun kamu.”
“Enggak apa-apa, yang penting kamu aman. Anaknya gimana?”
“Masih observasi khawatir gegar otak. Selain itu enggak ada luka parah, hanya pusing katanya. Nanti kalau kamu selesai kuliah aku ajak ke rumah sakit ya.”

Dia mengiyakan, walau dalam hati dia 80 persen yakin ini hanya cerita yang dikarang pacarnya untuk membuat kejutan di hari ulang tahunnya.

Setelah selesai kuliah, pacarnya menjemputnya dan membawa ke rumah sakit. Dalam hati: OMG dia betulan mengajak aku ke rumah sakit. Masa dia niat banget atur ini sama pihak rumah sakit? Mereka jalan di koridor rumah sakit tua itu. Masuk ke sebuah kamar opname yang isinya lima ranjang. Salah satu ranjang itu ada seorang anak perempuan usia delapan tahun – kurang lebih – dan beberapa orang duduk di sekitarnya. Pacarnya pun memperkenalkan dia dengan orangtua si anak. Dia hanya bisa berpikir, bahwa sepertinya tidak bisa dipungkiri lagi memang terjadi kecelakaan, dan pacarnya tidak ada rencana buat memberikan dia kejutan sambil membuat skenario yang njelimet. Setelah itu semua terasa unreal.

Ketika sudah selesai urusan di rumah sakit, dia pun berkata ke pacarnya kalau dia ingin kembali ke kos. Pacarnya mengiyakan dan mengantarnya. Begitu sampai dia pun tak bisa menahan tangisnya. Air matanya pun mengucur. Dia meminta maaf sekaligus marah ke pacarnya. Maaf karena dia merasa egois, ada orang tertimpa kemalangan, tetapi dia malah merasa malang juga karena tidak bisa merayakan ulang tahun bersama pacarnya. Dia juga meminta maaf karena dia tetap menyalahkan pacarnya yang tidak berhati-hati menyetir mobilnya. Tetapi dia marah juga, karena PACARNYA BARU MENCARI KADO BUATNYA JAM 8 MALAM DI HARI SEBELUMNYA.

5b486fc220e3a823008b464a-750-562Memang kenyataan tidak pernah sebaik ekspektasi ya.

3 Keterampilan Dasar & Krusial untuk Ngetwit Saat Ini

BUKAN hanya Twitter-an, sebenarnya, keterampilan-keterampilan berikut dibutuhkan hampir setiap saat dalam berkomunikasi. Termasuk berbicara, menulis, mendengar, dan membaca. Sementara Twitter merupakan platform media sosial dengan ruang isi yang relatif sempit. Hanya 280 karakter tulisan.

Mengapa sedemikian penting? Karena kita—sebagian besar—terlalu gampang gusar, kesal, sebal, merasa terganggu, dan membenci manakala tidak mengerti sesuatu, maupun saat tidak dimengerti oleh orang lain. Kita ciptakan sendiri sebuah ketidaknyamanan; kita terisap dalam pusaran ketidaknyamanan itu; lalu kita meratap seolah-olah paling teraniaya dan sengsara akibat ketidaknyamanan itu. Padahal, semampu kita menciptakan perkara, semestinya semampu itu pula kita menghadapi dan menjalaninya.

1. Memahami pesan sejelas-jelasnya, semaksimal mungkin

Boleh dibilang hampir semua masalah berawal dari kesalahpahaman atau kekeliruan terhadap sesuatu. Bentuknya semakin nyata bila kesalahpahaman atau kekeliruan tersebut disikapi, dilanjutkan dengan tindakan. Dari situ, masalah tercipta hingga merembet ke mana-mana. Makanya, kemampuan memahami sejelas-jelasnya merupakan landasan terpenting. Langkah pencegahan paling dini, pereda potensi konflik. Intinya, tanpa kesalahpahaman atau kekeliruan, tidak akan muncul masalah. Kecuali jika memang itu yang dicari, sengaja dibuat dan diadakan.

Komunikasi adalah proses penyampaian pesan dari pemberi kepada penerima. Ada kesan bahwa sang pemberi pesan adalah pihak aktif (yang melakukan), sedangkan sang penerima adalah pihak yang pasif (sekadar mendapatkan).

Kemampuan memahami sejatinya bersifat aktif, atau justru proaktif. Bukan sekadar membaca atau mendengar informasi dari pihak lain secara pasif, tetapi sang penerima pesan juga melakukan aktivitas berpikir, mempertimbangkan hal-hal yang diterimanya, dan mempergunakan logika dalam mengolah pesan yang diterima, sebelum akhirnya memberikan tanggapan. Ia menghindari bersikap gegabah, atau terburu-buru, atau menelan mentah-mentah informasi yang didapatkannya.

Caranya bisa relatif sederhana. Berawal dari sebuah pertanyaan singkat: “Benarkah begitu?” atau “Masa, sih, begitu?

Pertanyaan di atas mampu mengusik kita untuk mencari tahu dan memahami lebih jauh. Sebab saat ini, rendahnya kemampuan memahami pesan memicu banyak pertikaian. Termasuk di media sosial.

Gara-garanya~

● Ada yang terlalu percaya diri dengan kemampuannya memahami, kendati keliru dan salah kaprah. Saking tingginya rasa percaya diri itu, dia malah bisa mengelak, menyangkal, dan melemparkan kesalahan kepada orang lain, atau menyalahkan situasi bila dia terbukti salah.

● Ada yang terkesan bodoamat. Benar atau tidak benar, yang penting ia memberikan tanggapannya dahulu. Bisa karena merasa dirinya–dan pernyataannya–sangat penting, sehingga harus disampaikan sesegera mungkin; bisa juga lantaran telanjur benci dengan objek dan subjek pembicaraan. Jadi, menyerang dahulu selagi ada kesempatan. Sebanyak apa pun, sekeras apa pun.

● Ada yang sekadar ikut-ikutan, dan ini berdampak paling mematikan. Secara harfiah. Pasalnya, ketika hanya ada satu orang yang keliru, orang-orang di sekitarnya masih mampu mengingatkan dan mencegahnya bertindak lebih lanjut. Namun, ketika satu orang yang keliru dikelilingi orang-orang dengan kekeliruan yang sama, mereka malah berhimpun dan saling memperkuat, mendorong untuk bertindak lebih lanjut. Nyawa bisa jadi taruhannya. Parahnya lagi, mereka tidak sadar bahwa tindakan tersebut salah. Setelah peristiwa terjadi, hanya ada wajah-wajah menyedihkan yang seakan-akan meneriakkan pembelaan: “Aku, kan, tidak tahu.

Ya~ kalau tahu, tidak bakal bertindak begitu, kan?

2. Menyampaikan pesan dengan ringkas, cermat, dan mudah dipahami

Setelah mampu memahami pesan dengan jelas dan baik, tantangan berikutnya adalah bagaimana menyampaikannya dengan jelas dan baik pula. Sehingga informasi yang diteruskan tidak berpotensi keliru serta menimbulkan kesalahpahaman.

Keterampilan ini beranjak dari kesadaran bahwa setiap orang memiliki kemampuan berpikir dan memahami yang berbeda-beda. Sangat tidak bijaksana apabila kita menggantungkan “nasib” sebuah perkara pada penangkapan dan pemahaman orang lain semata. Jangan lupa, pada saat sebuah masalah muncul akibat kekeliruan dan kesalahpahaman komunikasi, pemberi maupun penerima pesan sama-sama punya andil.

Dengan keterbatasan ruang penyampaian pesan, Twitter adalah salah satu media sosial yang pas untuk melatihnya. Pengguna berusaha menyampaikan informasi sejelas-jelasnya, selengkap-lengkapnya, secermat-cermatnya, tetapi juga seringkas-ringkasnya supaya lebih mudah dibaca, tidak terlewatkan dari perhatian, serta tak membingungkan.

Yang patut diwaspadai adalah perbedaan sudut pandang. Kita seringkali beranggapan bahwa pesan yang kita susun sudah sedemikian jelas, benar, ringkas, dan mudah dipahami. Sayangnya, realitas berkata lain. Para pembaca pesan sama sekali tidak paham, atau justru salah paham. Ujung-ujungnya berkembang menjadi masalah baru.

Itu sebabnya, sama seperti pada keterampilan pertama, proses menyusun dan menyampaikan pesan tetap memerlukan proses berpikir yang intensif, mempertimbangkan banyak faktor, serta pertukaran perspektif. “Kalau aku yang jadi dia, apa yang akan aku dengar/baca/pahami dari pesan ini?” atau berusaha memastikan dengan pertanyaan “Apakah pesan ini sudah benar-benar jelas?

Serumit atau sesulit apa pun sebuah pesan dirumuskan, seseorang dengan keterampilan ini tetap tidak ingin gegabah atau terburu-buru menyampaikannya. Apalagi sampai dibuat jadi utas berpanjang-panjang.

Tak semua orang betah membaca, atau suka diajak berbicara lama-lama.

3. Selalu bersikap tenang (atau cuek)

Keterampilan ini memiliki beberapa aspek, yang salah satunya justru lebih tepat ditempatkan paling pertama; dijadikan landasan sebelum berpayah-payah memahami pesan dengan benar dan sejelas-jelasnya.

A) Tenang ketika terpapar sebuah pesan, untuk kemudian dapat memutuskan apakah pesan tersebut cukup penting untuk diperhatikan, dipahami, dan ditanggapi, atau cukup dibiarkan berlalu begitu saja. Tidak semua hal perlu, patut, atau pantas.

B) Tetap tenang ketika kita, dan pesan yang kita sampaikan, disalahpahami. Lumrahnya, seseorang akan berusaha keras mengerahkan semua kemampuan untuk mengkoreksi kesalahpahaman yang terjadi. Sebab, perasaan sebagai yang salah itu tidak menyenangkan, dan tidak ada seorang pun yang mau mengalaminya. Dengan tetap bersikap tenang, kita berkesempatan untuk mengetahui “apa kesalahpahaman yang muncul“, dan “mengapa kesalahpahaman itu muncul” dengan sejelas-jelasnya. Agar upaya koreksi dan perbaikan yang akan kita lakukan tepat sasaran, efektif, dan efisien.

C) Tetap tenang ketika kita, dan pesan yang kita sampaikan, ditanggapi negatif. Terutama tanpa dasar argumentasi yang solid. Misalnya berupa penolakan, penghinaan dan makian, serta cemoohan. Merujuk kembali kepada poin A), semua tanggapan negatif tersebut bisa kita anggap sebagai paparan pesan yang tidak penting untuk diperhatikan. Tidak usah ditanggapi lagi. Biarlah mereka bermasturbasi dengan ego sendiri. Merasa menang bertarung melawan angin.

D) Tetap tenang ketika kita, dan pesan yang kita sampaikan, ternyata salah. Dalam ketenangan, kita bisa menerima kesalahan dengan pandangan lebih jernih, lebih bertanggung jawab, dan lebih apa adanya. Menyesal, tentu saja harus. Menandakan bahwa kita sadar atas perbuatan tersebut. Namun, rasa gusar hanya akan membuat segalanya makin terasa tidak enak, tanpa faedah apa pun terhadap kebijaksanaan dan pemahaman. Dalam ketenangan pula, kita terkondisi untuk dapat menerima ganjaran dan menjalani hukuman dengan penuh integritas. Secuil kemuliaan manusia.

[]