Mencegah Hampa

What is left after the party ends?

Beberapa tahun lalu, saat usai mengerjakan sebuah event internasional yang menguras banyak tenaga, salah satu anggota pengurus festival ini datang untuk memberikan ucapan selamat kepada saya. Setelah mengucapkan terima kasih dan memberikan gambaran singkat tentang hasil acara, beliau berkata kepada saya, “Now you need to make sure how to fill the void afterwards.

Waktu itu saya hanya tersenyum, sambil setengah bingung dengan apa yang beliau maksud. Baru beberapa tahun kemudian, pelan-pelan saya mulai paham.

Belasan tahun saya berkecimpung di profesi yang mengharuskan saya dan tim bekerja keras selama berbulan-bulan untuk membuat acara dalam hitungan hari dan minggu, terus terang ada perasaan “kosong” saat acara berakhir. Mendadak ada gap atau kekosongan dalam diri yang menyeruak dan memaksa kita untuk deal with it immediately. Sebuah perasaan yang terus terang tidak enak dijalani, terlebih karena selama berminggu-minggu sebelumnya selalu berinteraksi dengan banyak orang secara intense. Ada yang bilang, namanya post-event blues. Sekarang mendadak harus sendirian lagi, kembali ke rutinitas lama lagi.

Perasaan ini dirasakan juga bagi mereka yang mempersiapkan pernikahan, acara kumpul keluarga besar, reuni akbar, atau jenis acara lain yang memerlukan persiapan dalam waktu lama bersama banyak orang. Setelah acara usai, semacam ada kehampaan, sekaligus rindu yang mendadak akan rutinitas dalam kebersamaan.

Kalau sudah begitu, apa yang harus dilakukan? Well, ini adalah versi saya selama ini.

Tidur. That’s the first thing to do right after the big event ends. Berhubung saya tidak terlalu suka suasana pesta, kalau memang terpaksa harus datang ke post-event party, maka datang seperlunya saja, yaitu meluangkan waktu sebentar untuk “setor muka”.

Setelah itu, kembali lagi ke tujuan utama, yaitu tidur. Apabila perlu, check-in ke hotel dekat tempat acara. Jangan di tempat acara, karena pasti tidak tahan untuk mengurus hal-hal kecil terkait acara kita di sana.

Lalu batasi komunikasi dalam 24 jam ke depan. Pasti gampang sekali tergoda untuk berbagi candaan, foto-foto di grup WhatsApp atau aplikasi obrolan lainnya bersama teman-teman kerja. Sebaiknya cukup chat seperlunya saja, seperti “Thank you all!“, atau “See you pas pembubaran panitia, ya!” Berhubung kita tidak mungkin mematikan ponsel (karena kita perlu pesan makanan dan bayar lewat aplikasi, bukan?!), maka gunakan ponsel secukupnya saja.

Ini termasuk tidak membuka email kerjaan untuk sementara waktu. Silakan atur waktunya sendiri, bisa 12 jam setelah kita bangun tidur, atau mau 24 jam setelahnya juga tidak apa-apa, selama kita bisa mengatur ritme kerja kita. Work can wait, proper rest cannot.

Yang belum saya bisa lakukan adalah log out sementara dari media sosial. Seharusnya ini pun bisa dilakukan, karena godaan untuk selalu update masih ada di lain waktu.

Yang bisa saya lakukan untuk mengistirahatkan pikiran setelah tidur cukup adalah membaca buku yang tidak terkait pekerjaan saya, menonton serial yang tertunda, mendengarkan musik dan menghabiskan waktu untuk benar-benar tidak memikirkan urusan lain yang belum beres.

Dan 24 jam kemudian, baru kita mulai membereskan dan merapikan lagi apa yang tersisa, sambil pelan-pelan back to reality dan bekerja lagi.

We all need rest in order to work.

Selamat bekerja!

Advertisements

Mengapresiasi dan Berterima Kasih

LANGSUNG saja. Terpujilah pergelaran-pergelaran gratisan, terberkatilah orang-orang yang memungkinkan semua itu terjadi, serta sepatutnyalah bersyukur mereka yang berkesempatan hadir dan menikmatinya. Beruntung, semua itu kian sering ditemui di banyak kota–yang besar maupun yang sedang–di Indonesia.

Termasuk yang telah, dan tengah saya alami saat ini, di Jakarta.

Melewatkan kesempatan menghadiri seremoni pembukaan Europe on Screen (EoS) 2019–festival film-film Eropa terkurasi yang digawangi oleh Mas Nauval–Kamis pekan lalu (18/4), baru semalam saya kembali menikmati pengalaman mengantre tiket gratisan; memilih tempat duduk secara bebas; melihat official bumper video/opening title video dari EoS 2019; dan menonton film yang sudah dijadwalkan.

Sebuah kebetulan banget, judul yang diputar tadi malam adalah “Terra Willy”, film animasi komersial yang akan beredar di bioskop mulai bulan depan. Menonton dan menikmati festival, mengambil sejenak jeda dari hiruk pikuk kehidupan keseharian yang penuh dengan aksi kejar-kejaran, untuk dibuat merasa gembira setelahnya.

Film yang menyenangkan!

Dari sampul bukletnya, EoS tahun ini tetap hadir di banyak kota selain Jakarta. Dimulai dari yang paling dekat; Tangerang, dan Bekasi, disusul Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, serta Medan. Berlangsung hingga penutupan festival di 30 April mendatang. Masih sampai seminggu lagi.

Cek dan simak katalog filmnya di situs EoS. Silakan pilih judul-judul dari total seratusan karya yang tersedia, tanggal dan waktu, serta lokasi menontonnya. Tak ada perbedaan metode dan mekanisme dibanding EoS tahun-tahun sebelumnya, kecuali ada kartu penanda keanggotaan di penyelenggaraan tahun ini.

Terima kasih, Mas Nauval dan tim yang kembali menghadirkan EoS tahun ini.


Mencerap. Dicerap. Tercerap.

Begitu pun beberapa pekan sebelumnya. Sekali lagi, sangatlah beruntung warga kota ini, dilimpahi sedemikian banyak wadah ekspresi seni beraneka kaliber secara rutin. Tinggal pilih untuk dikunjungi, dinikmati, dan diapresiasi.

Adalah pameran objek-objek instalasi dan spasial “The Monster: Chapter II Momentum” dari Pramuhendra, yang sepenuhnya disajikan bugil tanpa curatorial note atau catatan karya. Berlangsung di gedung utama Galeri Nasional Indonesia, gelap, dan sepenuhnya bernuansa Katolikisme.

Salah satu karya yang paling menarik perhatian saya adalah–entah, apa judulnya–kolam ketenangan. Gelap, hening, sunyi, tertutup, hampir tanpa intervensi luar. Hanya ada sesorot cahaya, penerangan yang diarahkan ke tengah-tengah kolam dangkal persegi panjang beralas kain warna hitam, tempat sebuah replika bebas burung merpati (perlambang kedamaian) ditempatkan. Kecil, nyaris tak dikenali dari posisi pengunjung, tetapi mencuat mengemuka. Lagi-lagi beruntung, datang kala sepi, sehingga memiliki kesempatan lebih lama untuk jongkok sendiri tercerap dalam suasana yang coba dihadirkan sang perupa.

Ingin duduk, bersila di bibir anjungan kolam buatan, layaknya posisi lazim meditasi, lantaran–meditatif–tampaknya itulah yang ide dasar yang disuguhkan sang seniman.

Mencoba bertafakur.

Sampai akhirnya diingatkan seorang penjaga yang berkostum jubah biarawan Katolik asketis, berwarna cokelat, bertudung dengan ujung lancip menghadap ke atas, dan menutup hampir keseluruhan wajah, berikat tampar di pinggang.

Kendati nyaring, suaranya terdengar berjarak. Sejauh kesadaran realitas dengan pusaran kesan yang muncul di situ.


Saya yakin, terdapat berbagai pergelaran atau pun pameran seni lainnya yang sedang berlangsung saat ini selain kedua kegiatan di atas. Punya waktu dan minat, cobalah hadiri. Sendirian atau bersama teman, sama saja. Sama asyiknya.

Cukup datang, masuk, mencoba memahami sebisa mungkin, atau langsung saja berusaha menikmati yang ada, mengamati kesan dan persepsi yang ditimbulkan, untuk kemudian menjadi seseorang dengan pengalaman yang telah diperkaya. Walaupun sedikit. Setidaknya, memunculkan dorongan supaya mengapresiasi, dan berterima kasih.

Pengin rasanya kapan-kapan bisa hadir dan menyaksikan gelaran lain di kota-kota lainnya. Apalagi kalau ada di … Samarinda.

[]

Cinta Jangan Terlalu Cinta, Benci Jangan Terlalu Benci

HARI ini kita memilih. Semuanya digabung jadi satu. Mulai memilih anggota DPRD di kota dan ibu kota kabupaten masing-masing sampai calon presiden, yang untungnya—atau malangnya—hanya terdiri dari dua pasangan. Keduanya pun sama-sama wajah lama, beda kiprah dan ranah saja. Yang satu petahana, yang satu lagi gigih unjuk diri untuk sekian lama.

Wajar jika ada yang suka maupun tidak suka terhadap masing-masing pasangan calon. Bukannya muncul begitu saja, preferensi atau pendapat itu muncul dengan segala alasan, pertimbangan, dan narasinya. Bedanya, ada yang tumbuh dari kesadaran dan pemahaman atas pemikiran sendiri; lalu sebaliknya, ada juga yang didasarkan pada rasa percaya terhadap orang lain, dipengaruhi pendapat orang lain, atau boleh disebut indoktrinasi.

Baik kelompok yang mendukung maupun menolak pun sama-sama terbagi dalam beberapa spektrum. Dari yang paling garis keras, hingga ke paling lembut hampir datar. Namun, barisan paling fanatik, berisik, mendengar dan melihatnya saja bisa bikin terasa melelahkan yang paling mengemuka, paling sering tampil, paling sering memenuhi media lewat segala perangainya. Seringkali sampai membuat kita terusik.

Kedua kubu memiliki semuanya, tetapi proporsi atau jumlahnya yang tampaknya berbeda.

Asumsinya, makin banyak pendukung yang fanatik menunjukkan bahwa ketokohan yang tertanam sangat kuat, tidak lupa, sekaligus potensi kehilangan kemampuan melihat secara objektif, terbuka, dan kritis. Hanya seorang pemimpin megalomania beserta para kaki tangannya yang picik, yang nyaman dengan situasi ini.

Sebagai sesama manusia pun, kita sama-sama tidak punya kemampuan menebak isi hati dan pikiran seseorang.

Foto: Jon Tyson

Sementara itu, selain kelompok pendukung maupun penolak, ada pula kelompok yang tidak keduanya—atau bahkan tidak peduli terhadap keduanya.

Ada yang bersikap tidak peduli lantaran sudah apatis dan patah harapan (patah harapan kepada sistem, kepada figur, kepada keadaan, dan sebagainya); ada yang bersikap tidak peduli lantaran malas mencoba lagi; ada yang bersikap tidak peduli sebagai bentuk protes dan mogok berpartisipasi; ada yang bersikap tidak peduli karena mengambek segala sesuatunya dirasa tidak sesuai keinginan dia; ada pula yang bersikap tidak peduli karena … ya, tak peduli saja, malas gerak.

Terlepas dari pengotakan di atas, pada dasarnya semua orang sama dan setara. Tidak ada segolongan pun yang lebih tinggi atau lebih rendah dibanding yang lain dalam hal kedudukan sosial. Riak dan gesekan yang ditimbulkan memang kerap bikin gemas, jengkel, dan geregetan. Hanya saja—menurut saya—itu tak ubahnya pergaulan kita sehari-hari. Ada yang bebal, ada yang sabar, ada yang pintar, ada yang licik, ada yang tak acuh, ada yang tulus, ada yang berjiwa besar, ada yang kecut hati, ada yang menyenangkan, ada yang mengesalkan, ada yang bikin males, ada yang bikin rindu … dan tentu saja mustahil berharap semua orang bisa bersikap sesuai yang kita inginkan. Lagipula, belum tentu semua yang kita pikiran, rencanakan, dan inginkan bakal membawa dampak positif serta rentetan hal-hal baik sesuai bayangan sebelumnya.

Cobalah untuk selalu menyisakan ruang hening dan tenang dalam hati, supaya tidak terlampau sesak. Kemudian, mari saling melanjutkan hidup dengan sebaik-baiknya. Ini berlaku bagi semua. Mau “cinta”, “benci”, atau pun “tak peduli”, toh semuanya berakhir hari ini.

Ya … seperti hari ini. Sebesar apa pun sebuah pesta (juga anti pestanya), pasti akan usai pula. Mau tidak mau, bersiaplah untuk besok. Sebab kehidupan itu mestinya terus moving on, bukan mandek.

Selamat memilih, bagi yang memilih.
Bagi yang sengaja melewatkan kesempatan memilih, selamat libur panjang. 😊

[]

For 40

People say, “age is nothing but a number”. I say, that’s a bull.

Hari ini, umur saya genap mencapai 40. Jujur, perasaan yang berkecamuk di diri saya menjelang tibanya hari ini adalah I am scared.

Apalagi saya ingat betul, apa dan bagaimana ayah saya saat beliau berusia 40 tahun. Selain dia sudah punya anak lebih dari satu saat itu, lalu sudah menikah dengan ibu saya, yang mana kedua hal ini memang menjadi pilihan hidup yang tidak akan saya tempuh, tapi ada hal-hal lain yang rasanya belum bisa saya capai, sementara beliau (seperti) sudah mencapainya.

Kedewasaan, kematangan, ketenangan dan kesejahteraan saat umur sudah mencapai titik tertentu, rasanya masih jauh dari genggaman.

Of course we cannot stop comparing and looking up to our parents, can we?

Di sisi lain, saya sadar, kami hidup di dekade yang berbeda. Apa yang saya telah jalani selama ini, belum tentu beliau jalani. Dan itu mempengaruhi jenis pencapaian yang saya rasa sudah, belum, akan dan tidak akan saya capai. Yang juga terpengaruh adalah cara pikir dan cara memandang hidup.

Dan dari sudut pandang kedua hal itulah, maka saya mau berbagi 40 hal yang saya percayai, jalani, kadang-kadang saya hindari, sesekali saya curi dari sumber lain, dan beberapa yang saya tunggu, buat Anda:

 

1. It’s not about how much we make. It’s always about how much we save.

2. Write down your thoughts. They may be silly, they may be simple, but your memory and brain will thank you for doing that.

3. Physical exercise saves our life. This is coming from a guy who hates sports for 25 years of his life.

4. Listen to all kinds of music in formative years. You will reminisce each one of them later on with fond memory.

5. Try your hand at doing service jobs. Being a shop attendant, being a waiter or waitress, being a customer service, do it when you can. You will appreciate other people better.

6. Religion is a very personal and private matter. Don’t shout, yell, or show off your private conversation with your god.

7. Education, education, education. You can tell a lot about a person’s education from the way they write email and converse with you, or how they behave.

 

IMG_3606

 

8. Own a house before vehicle.

9. Start a day with water, end a day with water.

10. Spare time to read a well-written novel. Our brain always needs stimulation to fantasize.

11. Everybody loves movies. That’s why there’s always endless possibilities with, “What’s your favourite movie?”

12. Everybody has many favourite movies. Never judge them. Find out why they are appealing to them.

13. You may flaunt, but leave a lot to imagination. It will make people wonder more.

14. Forgiveness, asking for or accepting, is hard. One day at a time.

15. Lust does not last. Love does.

 

IMG_0785

 

16. When you fall in love hard, you will fall out love equally hard. You may not be prepared for the latter, but always realize this.

17. Keep a hobby that makes your mind occupied, and beams your face with smile.

18. Cashless may be convenient, but always keep spare cash at home. Piggy bank with coins always comes to rescue you at many unexpected times.

19. Eat to live, not the other way around.

20. Friends do come and go. Memories of all kinds with them will stay.

21. Renovate your house every 5 years. It will do wonder to your life.

22. Never make a life-changing decision when you are angry or happy.

 

IMG_3092 copy

 

23. Poker face is the go-to expression in any circumstances.

24. Treasure each moment when you lose your sleep over someone, when you cannot stop thinking of someone. Those moments never come back.

25. Send someone a hand written letter. You will make them smile.

26. Your friends, parents, loved ones will forget your birthdays, anniversaries, skip your big moments. Never make a big deal about it.

27. Virtual followers will come and go. Don’t hold on to them too dearly.

28. To write is to preserve our mind and memory. Keep doing it regularly.

 

IMG_0363 1

 

29. Hate is a very strong word. Use it when we already run out of other words.

30. Listen to music. It says words we cannot say.

31. You may not be wealthy. But you know how and where to earn money.

32. We don’t need much to live.

33. If you cannot find happiness, try sleeping at night for 8 hours. Do it at least for 3 days.

34. People share their stories to us not to seek any solutions. They just want to be heard. We just want to be heard. So we listen.

IMG_3097

 

35. Allergies, never-before-contacted diseases, they start knocking on our door in our 30s. Welcome them. Embrace them.

36. Once we do a good deed, immediately forget about it.

37. These following words matter the most: “Thank you”, “I’m sorry”.

38. There is a thin line between being kind and being firm. You don’t have to explain to others every time.

39. Our parents have only one chance to raise and love us the best ways they know how.

40. We do not know anything at all. We never will. We can only keep figuring out. That’s why we live.

IMG_1301

 

Selamat menjalani hari.

 

Terlampau Indah

RASA sakit dan wajah-wajah yang mengerang, air mata dan tangis, tubuh-tubuh telanjang yang lemah, kubangan darah, daging merah segar, organ-organ tubuh manusia, gunting pemotong yang tajam, napas yang terengah-engah, basah dan becek di mana-mana, serta senyuman-senyuman bahagia yang ditujukan kepada tubuh-tubuh lemah terkulai tak berdaya.

Di antara sekian banyak hal indah di dunia, gentle birth ialah salah satunya, menurut saya. Tak hanya indah, tetapi sekaligus mencekam dan menakutkan.

Setidaknya ada dua nyawa yang dipertaruhkan dan diperjuangkan agar tetap hidup. Ada berjiwa-jiwa lainnya yang berdoa, menanti dalam kecemasan. Ada pula dorongan rasa cinta yang sedemikian kuatnya. Begitu kuat terasa, cukup hanya dengan melihatnya dari kejauhan.

Tidak pernah sekalipun tidak merinding, bergidik ngeri, dan terharu secara bersamaan ketika melihat foto-foto—apalagi video—dari gentle birth. Termasuk milik Vanessa Decosta pada 11 Maret lalu, dan diabadikan oleh Vanessa Mendez (semua langsung terhubung ke album Facebook; NSFW) berikut ini.

Vanessa Decosta, sang ibu, meringkuk, mengejan.
Fotografer: Vanessa Mendez

Her pain.
Ibunya.
That very moment!

What a strong mother!
Tali pusar tidak buru-buru dipotong, plasenta tetap dibiarkan bertahan dalam rahim selama beberapa waktu.
You did a good job, girl!
Sustenance for both.
Hai!

Indigo June. It’s her name.

Album lengkap: The Birth of Indigo June

Melihat foto-foto dari peristiwa menakjubkan tersebut, kita–saya–kembali diingatkan betapa kuatnya seorang wanita, terutama sebagai seorang ibu. Kelahiran dan proses persalinan memang bukan titik akhir, tetapi cukup dari titik ini saja, kita dapat menyadari sepenuhnya bahwa woman is the very symbol of humanity.

Jangan bawa-bawa kodrat, di sini bukan tempatnya. Kelahiran dan proses persalinan memang sedemikian agung, luhur, dan sepatutnya dihujani takzim oleh siapa saja. Bukan sekadar urusan konsekuensi alamiah dari persetubuhan (yang banyak orang tak siap menghadapinya), bukan pula sekadar ambisi punya anak dan meneruskan keturunan (entah demi apa saja, sih?). Wanita bukanlah alat untuk beranak! Wanita berhak memilih dengan sepenuh-penuhnya kesadaran. Bukan lantaran tanggung jawab moral kepada suami dan orang tua dari kedua belah pihak; bukan lantaran tanggung jawab sosial kepada orang lain; bukan pula lantaran diiming-imingi, terlebih diperdaya.

Begitu pula sebaliknya.

Alasannya sudah jelas. Wanitalah yang…

  • Dihamili
  • Hamil selama sembilan bulan
  • Menanggung risiko dan sakitnya proses persalinan
  • Berkemampuan untuk menyediakan nutrisi dan sumber makanan pertama bagi sang bayi
  • Menjadi ibu

Bukan orang lain, para wanita berhak memutuskan ingin/tidak ingin memiliki anak (minimal) berdasarkan poin-poin di atas. Silakan tuding saya melakukan mansplaining, yang jelas foto-foto Vanessa Decosta di atas membuat saya berkata demikian.

Ini menyangkut kesejahteraan batin si ibu dan si anak. Kesampingkanlah dahulu kepentingan suami, orang tua, mertua, apalagi tetangga. Sesayang apa pun mereka, tampaknya, kepada sang bayi.

Kembali ke foto-foto proses persalinan Vanessa Decosta di atas sebagai contoh. Sang ibu memilih untuk menjalani gentle birth dengan sepenuh hati meskipun harus bersusah payah, dan agak berantakan. Sang suami mendampingi di sepanjang proses, lengkap dengan skin-to-skin contact. Ibunya sang ibu pun hadir memberikan dorongan semangat, senyum, dan dukungan kepada putrinya (atau menantunya). Dari situ saja, bisa dirasakan adanya curahan kasih sayang yang besar, kesediaan dan kehadiran, komitmen dan kekuatan kebersamaan. Maka, tak aneh bila kemudian kita–saya–berasumsi bahwa si kecil akan dirawat dan tumbuh dibesarkan dalam lingkungan terbaik. Paling tidak tergambarkan lewat cara penanganan yang dipilih dalam proses persalinan.

Gentle birth di tangan yang tepat, menjadi proses persalinan yang minim trauma bagi sang bayi, walaupun terlihat lebih merepotkan. Tidak buru-buru memisahkan sang bayi dari tembuninya, yang lagi-lagi berarti meminimalkan risiko dan memaksimalkan penyerapan zat nutrisi internal selama dalam kandungan.

Besar kemungkinan, segalanya dipikirkan matang-batang, dipilih dan dijalani sedalam-dalamnya kesadaran.

Dari contoh Vanessa Decosta tadi, semua orang, dan semua yang berkelindan di dalamnya…

Indah.
Sekali lagi, terlampau indah.

[]

Pas Kita Dirampas, Jangan Sampai Kehilangan Napas

Berhubung sudah lewat lebih dari sebulan, maka sebaiknya saya cerita saja di sini.

Pada bulan Februari lalu, saat work trip ke Berlin, saya dicopet.

Kejadian ini berlangsung di suatu sore hari yang cerah, meskipun cuaca sedang cukup dingin. Saya memutuskan untuk mengambil waktu rehat sejenak dari serangkaian meetings dan screenings. Saya pergi ke seberang tempat pemutaran film untuk mendatangi beberapa toko. Siapa tahu ada barang yang menarik untuk dibeli.

Lalu saya memutuskan pergi ke toko buku. Di depan toko buku, dua pria dengan fitur muka khas orang Timur Tengah mendekati saya.

“China? Japan? Thailand? Vietnam? Malaysia?”

Saya menggeleng sambil tersenyum dan mengatakan, “Indonesia”.

Mereka berkata, “Ah, Indonesia.”

Lalu mereka menanyakan apakah saya turis di sini, dan beberapa pertanyaan lain yang terus terang agak malas buat saya untuk menanggapinya.
Mereka mendekati saya untuk berbicara lebih dekat. Nothing to lose, pikir saya. Toh saya tidak ada rencana lain.

Setelah ngobrol sebentar, mereka beranjak pergi. Saya masuk ke dalam toko buku. Belum ada semenit saya mendorong pintu masuk, tangan saya menepuk kedua saku celana di depan, memastikan ada kunci di kantong kiri, dan ponsel di kantong kanan. Ini kebiasaan yang saya lakukan setelah turun dari kendaraan, baru beranjak dari tempat duduk, atau masuk ke tempat baru.

Lalu saya menepuk kantong belakang, tempat dompet saya. Kantongnya kempes. Tak pikir panjang, saya keluar dari toko buku, berjalan dengan cepat. Saya lihat dua orang tadi masih berada di depan toko buku, memegang dompet saya dan membukanya.

Secara refleks tanpa memikirkan apa pun sama sekali, saya menghampiri mereka. Saya bilang dengan suara yang tinggi, tapi tidak teriak, “Hey, you’ve got my wallet there!
Saya dekati, saya ambil dompet itu, lalu saya masuk lagi ke toko buku.

Semuanya terjadi secara cepat, hanya dalam hitungan detik. Saking cepatnya, setelah masuk ke toko buku, saya berdiri, terdiam, mengambil nafas panjang sambil membatin, “What the hell just happened there? What did I just do?

Sembari menenangkan diri, saya melihat-lihat deretan buku tanpa tahu pasti apa yang sebenarnya sedang saya lihat. Suasana toko buku tidak terlalu ramai, tapi ada cukup banyak orang, sehingga saya sempat berpikir, kalau dua orang pencopet tadi masuk, tinggal make a scene di toko buku ini.

Saya membuka dompet. Tidak ada kartu ATM atau identitas diri yang diambil. Sepertinya ada lembaran uang yang diambil, tapi saya tidak terlalu memerdulikan ini. Akhirnya saya memutuskan untuk membeli beberapa buku, hitung-hitung sebagai buang sial.

And guess what? I just smiled and even laughed after the robbery.

talent-thieves

Mungkin lega karena dompet bisa diambil dalam keadaan (nyaris) utuh. Atau saya sedang menertawakan nasib, karena tragedi ini terjadi sekitar sebulan setelah ponsel saya dijambret di depan apartemen, yang menyebabkan saya terjatuh saat mengejar penjambret di bulan Januari. Atau saya sedang ingin tertawa saja.

Entahlah. Yang pasti saya pun kaget, karena tiba-tiba saja saya jadi berani untuk mengambil apa yang memang jadi hak milik saya, yang terampas begitu saja di depan mata.

I guess it’s true what people say, that you don’t know your real power, or bravery, until you are put in an unlikely situation.

Teman saya berkomentar, “Elo ternyata punya kecenderungan untuk mengkonfrontasi langsung ya.”

Saya tertawa, sebelum menjawab, “Nggak tahu juga ya. I only need to do what I have to do, to take what’s rightfully mine.

Intuition never fails, baby.

Tentang mereka yang bisa ke atas dengan mudahnya

KITA awali saja dengan serangkaian peristiwa yang diperingati hari ini.

1. Nabi Muhammad SAW

Ilustrasi peristiwa mikraj dalam kitab Siyer-i-Nebi dari masa Utsmaniyah abad ke-15. Gambar: publicdomainreview.org

Ialah Isra dan Mikraj. Yaitu diberangkatkan dalam sebuah perjalanan, lalu dibawa naik atau dinaikkan.

Perjalanan (Isra) berlangsung dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem dalam semalam. Tetap dengan menunggangi burak, Rasulullah dibawa naik untuk kemudian melintasi berlapis-lapis langit serta bertemu pada nabi pendahulu. Berturut-turut dimulai dari Nabi Adam, Nabi Isa (Yesus) dan Nabi Yahya (Yohanes), Nabi Yusuf, Nabi Idris, Nabi Harun, Nabi Musa, Nabi Ibrahim (Abraham). Di langit tingkat tertinggi barulah Rasulullah menerima perintah beribadah wajib. Dijadikan lima kali dalam sehari, sejak subuh sampai isya.

Gambar terkait
Ilustrasi burak yang populer selama ini, dan kerap menghiasi dinding ruang tamu sebagai ornamen utama. Gambar: publicdomainreview.org

2. Yesus Kristus

Setelah penyaliban (Jumat Agung), kebangkitan dalam kubur batu terjadi di hari ketiga (Minggu Paskah). Lalu, tubuh itu pun terangkat dari Bukit Zaitun ke surga lepas 40 hari sesudahnya, ketika Yesus kembali berhimpun dan berkumpul dengan sejumlah murid.

“… et eritis mihi testes in Jerusalem, et in omni Judæa, et Samaria, et usque ad ultimum terræ.

“… kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.

Kisah Para Rasul 1:8

Kini, mereka, golongan orang-orang yang percaya, tengah menanti janji nubuat kedatangan Yesus Kristus untuk kedua kalinya. Salah satu penanda akhir zaman.

Gambar terkait
“Christi Himmelfahrt” atau “Naiknya Kristus” karya Gebhard Fugel tahun 1893. Gambar: Wikipedia

3. Yudistira

Perang kolosal Mahabharata telah lama usai. Dimenangkan oleh kubu Pandawa, Yudistira kembali memimpin kerajaan Hastinapura selama 36 tahun, sebelum akhirnya menarik diri bersama istri dan para saudaranya. Mereka bertujuh: Pandawa Lima (Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa), istri mereka Drupadi, dan seekor anjing melakukan perjalanan spiritual menuju surgaloka di Himalaya.

Satu demi satu anggota rombongan meninggal di sepanjang perjalanan akibat buah karma mereka. Dimulai dari Drupadi, Sadewa, Nakula, Arjuna, dan Bima. Tersisa Yudistira dan anjingnya yang terus berjalan hingga mencapai kaki Gunung Meru menuju kayangan.

Di tengah-tengah perjalanan yang sepi itu, muncul Dewa Indra dengan keretanya. Dewa Indra menawarkan tumpangan kepada Yudistira ke surga, tetapi ditolak. Yudistira tidak mau ke surga tanpa istri dan saudara-saudaranya. Dewa Indra terus membujuk, menyebut Drupadi dan adik-adiknya telah mencapai surga setelah kematian mereka. Menurut Dewa Indra, Yudistira bisa naik ke surga dalam tubuh manusianya—tanpa melalui kematian—karena moralitasnya yang tanpa cela.

Belum selesai di situ, Yudistira kembali urung bergabung dengan Dewa Indra lantaran dilarang membawa anjingnya serta. Yudistira telah menganggap anjing tersebut sebagai teman seperjalanan, dan merasa sangat berdosa apabila meninggalkannya demi kebahagiaan sendiri.

Di tengah proses bujuk rayu Dewa Indra kepada Yudistira, anjing itu menunjukkan bentuk aslinya: Dewa Yama. Ia memuji kesetiakawanan Yudistira, dan membuatnya pantas memasuki surga dalam raga duniawinya.

Gambar terkait
Ketika Dewa Indra membujuk Yudistira menaiki keretanya ke kayangan tanpa membawa anjingnya. Gambar: Wikipedia

4. Buddha Gotama

Ratu Maya meninggal saat tujuh hari setelah melahirkan Pangeran Siddhattha.

Sebagai seorang piatu, sang pangeran tumbuh besar di bawah asuhan Pajapati, tantenya, dan tentu tidak berkesempatan untuk berbagi kebahagiaan atau pun berbakti kepada ibu kandungnya. Ketika ia berhasil memenangkan sayembara dan menikahi Yasodhara; ketika putranya lahir, Rahula; ketika ia kembali mengunjungi kerajaan kampung halamannya sebagai seorang Buddha.

Pada tahun ketujuh kebuddhaannya, Buddha Gotama melihat dan mempelajari kebiasaan para Buddha di masa lalu. Salah satunya ialah pergi dan mengajarkan Abhidhamma kepada murid dan makhluk-makhluk lain yang mampu memahaminya kala itu–kendati pada akhirnya tercatat dan berhasil dibukukan beberapa abad setelah wafatnya. Abhidhamma sendiri merupakan kumpulan ajaran mendalam yang disepakati berasal dari Sang Buddha langsung secara historis, dan kemudian jadi bagian dari Tipitaka hingga sekarang.

Mendiang Ratu Maya melanjutkan siklus kehidupannya terlahir di surga tingkat empat, Tusita, yaitu seorang dewa bernama Santusita. Maka pada saat Buddha Gotama mengunjungi surga tingkat dua, Tavatimsa untuk membabarkan Abhidhamma kepada ribuan dewa penghuninya, Santusita turut diundang hadir.

Pengajian Abhidhamma di Tavatimsa berlangsung selama tiga bulan (ukuran waktu bumi). Selama itu pula, para umat awam menunggu kepulangan Sang Buddha sambil berkemah dan mendengarkan ajaran dari beberapa murid utama. Titik konsentrasi umat ada di Samkassa (kota kuno yang saat ini bekas-bekasnya dipercaya berada di antara kota Farrukhabad dan Mainpuri, Provinsi Uttar Pradesh) sehingga Sang Buddha memutuskan “turun” di sana.

Mengetahui rencana kepulangan Sang Buddha ke bumi, Dewa Sakka—pemimpin surga Tavatimsa—menciptakan tiga jalur “tangga” dari “puncak Gunung Sineru” dan berujung ke pintu kota Samkassa. Jalur-jalur tangga tersebut terbagi menjadi tangga perak di kiri bagi para Mahabrahma, dan tangga emas di kanan bagi para dewa mengapit tangga permata untuk Sang Buddha.

Gambar terkait
Sang Buddha turun dari Tavatimsa didampingi para dewa hingga Mahabrahma dengan tangga permata. Gambar: journal.phong.com

Kisah-kisah di atas berasal dari hampir semua agama resmi yang diakui negara ini. Hanya saja, saya belum pernah membaca/tidak pernah menemukan catatan peristiwa serupa dalam ajaran Konghucu. Sementara ajaran Tao yang memiliki segudang cerita sejenis (Delapan Dewa, Lv Shang alias Jiang Ziya, atau bahkan sosok Laozi sendiri) masih dianggap bagian dari kepercayaan tradisional Tionghoa, yang rancunya, terkadang dilekatkan pada Buddhisme Mahayana. Maka dapat dikesampingkan untuk sementara waktu.

Dari keempat kisah di atas, saya hanya berhak mengomentari cerita tentang Sang Buddha “turun” dari Surga Tavatimsa.

Sebagai seorang Buddhis, saya tidak berkewajiban membuta untuk mempercayai kisah tersebut bulat-bulat. Toh, saya tidak ada di sana dan menyaksikannya waktu itu. Apalagi tidak tertutup kemungkinan, terbatasnya wawasan dan ilmu pengetahuan manusia di era tersebut dapat menyebabkan kekeliruan serta mispersepsi. Misalnya mengenai ruang: “naik”, “ke atas”, “turun”, “tangga”, dan sebagainya. Membuat kisah pembabaran Abhidhamma di surga itu terdengar mirip dongeng.

Apakah benar Sang Buddha naik untuk ke Surga Tavatimsa?
Apakah benar Sang Buddha turun ke bumi menggunakan tangga ciptaan Dewa Sakka?

Namun, satu hal yang nyata, kumpulan kitab Abhidhamma memang ada dan sebagiannya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Bukan untuk sekadar dianggap sakral atau keramat, tetapi agar mudah dibaca, dipahami, dipraktikkan, dan dialami sendiri. Sebab hakikatnya, menjalankan dhamma—ajaran—jauh lebih penting dibanding urusan “tangga-tangga gaib” yang ribuan kilometer panjangnya.

Demikianlah sebagian cerita tentang mereka yang bisa ke atas dengan mudahnya.

… dan, barangkali, bukan itu intinya.

[]

Sepandai-pandainya Kita Berencana, Kalau Ada Bencana, Semua Jadi Wacana

Saya mau tanya ke kalian, pernahkah berada di situasi seperti ini:

“Merasa sudah familiar dengan pekerjaan yang dihadapi, apalagi ini bukan kali pertama mengerjakannya, X sudah mempersiapkan diri dan merencanakan segala sesuatunya dengan baik. Sampai ke rencana untuk mengantisipasi seandainya ada error atau kesalahan dalam pelaksanaan pekerjaannya. Lalu saat mulai melaksanakan pekerjaannya, tiba-tiba ada jenis kesalahan atau kecelakaan yang belum pernah diantisipasi sebelumnya. Padahal X sudah merasa telah mengantisipasi semuanya, going through every possible worst case scenario berdasarkan pengalaman yang sudah dihadapi bertahun-tahun, bukan sekadar teori atau pengamatan saja.”

Pernah? Tidak harus persis sama sih kejadian yang dialami, tapi pernah mengalami kejadian seperti di atas?

Kalau belum pernah, bersyukurlah, karena hidup anda aman, mungkin sejahtera dan sentosa.
Kalau pernah, welcome to the club. Soalnya saya sedang berada dalam posisi itu.

Proyek yang saya lakukan sekarang bukanlah jenis proyek yang asing. Sepanjang saya bekerja, jenis work project seperti ini yang paling sering saya kerjakan.
Namun ternyata, segala macam bentuk antisipasi yang sudah saya siapkan, mendadak terasa basi saat berbagai kejadian kurang enak terjadi. Dan bukan hanya satu, namun datang bertubi-tubi, hampir setiap hari tanpa henti.

Terus terang, saya sempat merasa kewalahan dan keteteran. (Eh, ini sama saja, bukan?)

It seems that when a thing goes wrong, everything eventually goes wrong.

Ditambah lagi, saat kita sedang dilanda masalah dan tidak tahu cara penyelesaiannya, kita cenderung mudah panik, dan pikiran menjadi kalut. Kita tidak bisa berpikir jernih. Karena pikiran tidak jernih, maka emosi kita mudah naik dalam melihat hal-hal lain, yang sebenarnya tidak terkait dengan masalah yang kita hadapi.

What to do then? Ask for help.

employee-suffering-work-related-stress

Bukan perkara mudah buat saya untuk meminta bantuan, karena saya lebih terbiasa bekerja sendiri. Namun saat hati dan pikiran sudah “mentok”, maka mau tidak mau, kita meminta bantuan. Terlebih lagi kalau pekerjaan yang dilakukan adalah proyek yang melibatkan orang lain, maka kita memang sudah sepatutnya meminta bantuan orang lain di proyek tersebut. Apalagi kalau proyek tersebut punya tujuan menghasilkan sesuatu yang memang akhirnya akan dinikmati bersama.

You cannot put up a building by yourself. It takes a village, an army of people to do so. Let each one of them do their part, jangan kemaruk diborong semua.

Dulu, waktu saya kecil, saya sering menemani ayah saya pergi ke dokter. Kalau dokter cerita bahwa dia kesulitan mendiagnosa pasien, karena jenis penyakitnya tidak dia ketahui atau tidak bisa dia temukan di diktat panduan, ayah saya suka tertawa sambil berkata ke dokter tersebut, “Itung-itung biar tambah pinter lagi, dok. Kan jadi belajar hal baru. Ya naik kelas, lah.”
Dokter biasanya ikut tertawa.

Dan memang setiap kesulitan yang kita hadapi, memang sebaiknya dihadapi dengan senyum atau bahkan tawa saat kita bisa menyelesaikannya. Consider ourselves upgraded.

Kopar Kapir Horam Harom… Haruskah Ku Peduli?

CAPEK, lho, beneran. Mendengar/melihat orang lain berbicara dan saling berbantahan hampir setiap hari di mana saja. Namun, sayangnya keberisikan ini tak bisa dihindari. Disodorkan di depan muka kita tanpa kesempatan untuk mengelak. Ibarat dipaksa menjadi pemirsa, menyaksikan apa yang terjadi di panggung begitu saja, tapi serba ndak jelas ranahnya.

Memang cuma “orang dalam” yang berhak tampil dan bersuara soal masalah tersebut. Mereka yang punya kepentingan. Mereka adalah para penganut. Mereka yang harus mengurusi, sebab menyangkut hidup mereka, bagaimana mereka menjalaninya, dan bagaimana mereka berupaya bertanggung jawab secara sosial dan moral kepada sesama.

Makanya, tak perlu kaget kalau ada tulisan di Mojok yang berjudul: “KALAU PUBG HARAM, APAKAH MUI PERLU MENGHARAMKAN KITAB SUCI SEKALIAN?”

Yang dikritik adalah organisasi pemuka agama Islam, yang mengkritik pun seorang muslim. “Aman”, lantaran tidak melibatkan pemeluk agama lainnya secara aktif. Ya… paling-paling hanya menjadi pembaca dan pemberi komentar.

Sembarang œ wis… Itu urusan mereka.

Mari kita resapi sejenak, “Surefire”-John Legend.

Pada dasarnya, perkara label-label semacam “kafir”, “haram”, serta berbagai pengistilahan lainnya berasal dan hanya berlaku secara terbatas. Yakni di dalam komunitas muslim, atau kelompok masyarakat yang para anggotanya telah mengikrarkan diri untuk tunduk dan patuh terhadap aturan-aturan agama Islam. Otomatis, pemaknaan dan ragam penggunaan istilah-istilah tersebut pun tidak berlaku menyeluruh. Bagi saya, misalnya.

Sesuai koridor dan proporsinya, para kenalan maupun kawan yang muslim sangat boleh menyebut saya sebagai seorang kafir. Pasalnya, saya menyembah galon akwa. Berarti saya tidak beragama Islam, bukan seorang muslim. Kenyataan ini menjadi prasyarat utama untuk mengkategorikan saya sebagai seorang kafir.

Lalu, apakah saya harus merasa terganggu ketika dipanggil “Kafir, kamu!“?

Lha wong tuhannya beda, kok. Justru menjadi aneh bila saya terganggu dengan panggilan itu–kecuali jika ucapan tersebut dilontarkan tepat di depan hidung kita oleh seseorang yang lupa sikat gigi.

Lebih terganggu baunya, sih, bukan ucapannya.

Di sisi lain, jangan lupa bahwa pengistilahan adalah salah satu aktivitas linguistik. Apa pun tujuannya, perumusan dan penggunaan suatu istilah dimaksudkan untuk mempermudah komunikasi. Efek samping yang ditimbulkan bisa berupa pemaknaan konotatif dan pengarahan persepsi, dramatisasi, dan penggunaan yang keliru atau salah kaprah.

Contohnya, (1) alih-alih digunakan dalam percakapan antarsesama muslim, sebutan “kafir” malah lebih populer dijadikan bahan perundungan. Termasuk kepada orang yang tak dikenal sekalipun.

"Dasar kafir!"

Kemudian (2) alih-alih digunakan dalam percakapan antarsesama muslim untuk sekadar menyebut penganut agama lain, sebutan “kafir” seakan-akan digunakan untuk mengesahkan perbedaan kedudukan. Yaitu bahwa para muslim memiliki derajat lebih tinggi daripada para penganut agama lain. Juga melanggengkan stereotip.

Unpopular opinion: Sebenarnya sah-sah saja apabila para muslim berpandangan seperti itu. Namanya juga kepercayaan agama, dianggap kebenaran tunggal tak ada duanya. Akan tetapi, banyak yang tidak menyadari bahwa pandangan ini bisa mengakar sedemikian kuat, hingga memengaruhi tindakan atau perbuatan kesehariannya.

Secara logis, seseorang tak akan mampu melakukan sesuatu secara nyaman jika bertentangan dengan pikiran atau kehendaknya sendiri.

Kemungkinannya besar, seseorang yang bisa melakukan diskriminasi agama betul-betul percaya bahwa para penganut agama lain memang memiliki kedudukan lebih rendah dibanding mereka.

"Kalau kafir ya pantesnya digituin."

Berikutnya, (3) alih-alih digunakan dalam percakapan antarsesama muslim, sebutan “kafir” dilancarkan untuk mengintimidasi. Seolah-olah menjadi bagian dari upaya penyadaran dan pertobatan. Asumsinya, dengan sering disampaikan, ditambah intonasi yang tepat, si pendengar akan terdorong atau tergerak untuk menyadari kesalahannya (baca: menganut agama lain).

Padahal, pahala dan dosa, kepantasan masuk ke surga dan ganjaran jatuh ke neraka, hak tuhan sepenuhnya selaku pemilik. Siapa kita? Kok percaya diri banget menjatuhkan vonis akhirat kepada seseorang?

Situ malaikat?
Malaikat pun tetap menunggu perintah majikan, bukan berinisiatif.
Konon.

Terakhir, (4) alih-alih digunakan dalam percakapan antarsesama muslim, tanpa disadari hardikan “kafir” jadi candu ego. Hampir setiap orang ingin menjadi sosok yang penting. Ucapannya sakti, wajib ditaati. Mendapatkan bantahan, jiwanya bergejolak. Meronta ingin memenangkan perselisihan. Sebuah istilah dalam bahasa Arab itu pun mendorong banyak orang menjadi agresif. Beringas.

"Dasar kafir kamu!"
   "Iya. Memangnya kenapa?"
"Kurang ajar! Sudah kafir malah nyolot! Masuk neraka jahanam, kamu!"
   "Tahu dari mana?"
(Akhirnya dikeroyok. Mati.)

Sementara itu, bagaimana dengan “haram”?

Ya… kembali lagi, selain hal-hal terlarang secara universal (seperti: membunuh, mencuri dan mempergunakan uang ilegal, persetubuhan tidak patut, berbohong dan menipu, serta lain sebagainya), “keharaman” berlaku secara terbatas. Hanya oleh penganutnya.

Haram bagimu, belum tentu bagiku.
Jangan asal dipaksa. Memangnya kamu mau kalau dipaksa-paksa juga?

Haruskah ku peduli?
Coba saja dimengerti dan dipahami, supaya tidak melakukan hal serupa kepada yang lainnya.

[]

Selingkuh, Salah Siapa?

Gak harus ganteng, sick pack, tajir dan penuh pesona untuk memulai sebuah perselingkuhan. Kamu kere, tampang pas-pasan, gendut pun bisa melakukannya. Hanya butuh nyali dan ketegaan saja untuk mengkhianati pasangan.

Emang sih kalau lelaki udah mulai sukses, biasanya mulai banyak tingkah. Lirik kanan kiri, tambah genit, macam puber kedua gitu. Apalagi kalau tiap di rumah lihat istrinya pakai daster, tubuhnya bau minyak kampak, keningnya ditempeli koyok, gak mau dandan pula. Sebenarnya bukan gak mau dandan sih, lha uang belanja dikit kok minta istri harus slalu menarik.

Pensil alis aja 100rb, lipstik 350rb, bedak 600rb, krim siang, krim malam, facial dll butuh modal gede mas.

Pernikahan yang bahagia pun tak luput dari perselingkuhan. Punya istri cakep, seksi, pinter, pokoknya sempurna lah, gak jaminan juga untuk setia. Mungkin karna lelaki itu mudah bosan ya.

Sebuah survey mengatakan, setelah tiga tahun menikah mulai muncul dorongan untuk selingkuh. Tak jarang perempuan yang memulai bermain api terlebih dulu. Urusan bermain hati, laki perempuan sama aja.

Trus kalau ada yang selingkuh, siapa yang mesti disalahkan. Lakinya, istrinya atau pelakornya? Si laki pasti berusaha mencari pembenaran dengan seribu satu alasan. Yang katanya khilaf lah, ujian dari Tuhan, tak kuat menahan godaan wanita atau karna terbujuk rayuan setan. Dia yang enak-enakan sama perempuan lain, setan yang disalahin. Dasar lelaki tak bertangggung jawab.

Pelakornya juga membela diri. Katanya bukan dia yang ngedeketin duluan, ngaku gak tahu kalau dia adalah suami orang, ngomong salah sendiri istrinya gak bisa menjaga dengan baik. Istrinya juga bakalan marah. Kurang apa lagi, sudah dicintai sepenuh hati, dilayani setulus jiwa, masih saja menelikung.

Tak perlu mencaci dan menghakimi siapa yang salah, karna kita bukan polisi moral. Biar masing-masing ngaca, instropeksi diri. Yang jelas selingkuh itu dosa besar, enaknya cuma sebentar. Rugi dah.

Gak ada ceritanya perselingkuhan yang gak ketahuan. Pasti kebongkar. Paling lambat lima belas bulan setelah memulai, pasangan bakal mengendus perbuatan bejat ini. Pak RT dan hansip kampung juga suka nangkep pasangan gak resmi yang lagi indehoi. Trus kalau udah ketahuan, minta dihalalin. Enak aja.

Makanya wajib hukumnya buat kita untuk menjadi lelaki setia. Karna ini adalah hadiah terbaik buat anak-anak kita. Mencintai ibu mereka, tidak menduakannya.

Teguhkan hati. Jangan mudah tergoda dan tak perlu mencari kesempurnaan pada diri orang lain.

Selain itu juga harus saling percaya dan berbagi kebaikan pada pasangan, agar benih cinta makin bermekaran meski usia makin menua.

Jangan lupa juga untuk selalu bersyukur. Maksudnya syukur banget dah ada yang mau sama kita. Bagaimana pun model dan bentuk pasangan kita, mungkin kita kurang puas atau gimana, tapi itulah yang terbaik untuk kita. Percayalah.

Tuhan telah memberi hal-hal baik dalam hidup ini. Pekerjaan yang bonafid, pasangan ideal, anak-anak yang cerdas dan sehat serta kualitas hidup yang layak. So, gak usahlah macem-macem pengen nyobain ini itu. Nanti malah bisa kehilangan banyak hal.

Oke janji setia ya. Jangan pernah jadi pelakor atau pebinor, apalagi gaji cuma mentok UMR.

Semoga keluarga kita selalu rukun, penuh cinta, dinaungi keberkahan dan dijauhkan dari badai perselingkuhan. Amin dong.

****

a real man would never cheat on the one he truly love

GHOSTING : SEBUAH CARA UNTUK MENGAKHIRI HUBUNGAN TANPA KATA

“Kita ‘tuh sudah deket banget. Sudah kenal keluarga masing-masing, bahkan kucing aku aja udah nurut sama dia. Tapi tiba-tiba dia menghilang, enggak ada kabar. Aku coba hubungin tapi tetep enggak bisa. Eh tahu-tahu, kemarin dia hubungi aku lagi cuma mau kasih kabar kalau dia mau menikah. Kok tega ya? Muncul, terus tiba-tiba hilang eh muncul lagi. Kayak hantu.” kata seorang perempuan di sebuah metromini.

Sebenarnya sih yang mengalami kejadian ghosting atau menghantu atau seperti hantu ini bukan perempuan aja, laki-laki juga banyak yang alamin kok. Datang terus-terusan mengatakan kita adalah segalanya dan tujuan kita dengan mereka adalah akhir yang bahagia tanpa menjelaskan hubungan yang jelas, lalu menghilang tanpa ada kabar, diajak ketemuan males-malesan, dichat tidak pernah dibalas, lalu muncul kembali, ajak ketemuan lagi, memberikan harapan-harapan indah lagi, eh hilang lagi, terus muncul lagi sambil kasih kabar mau menikah.

Kayak hantu. Kayak jelangkung. Datang tak dijemput pulang tak diantar. Nyeremin, tapi lebih serem dari hantu.

Kenapa ‘sih mereka suka ngelakuin itu? Dari beberapa artikel di beberapa portal online, ghosting dilakukan oleh seseorang ketika ingin memutuskan atau menghindari seseorang yang sudah tidak menarik bagi mereka. Jika mengatakan, “Kamu terlalu baik untuk aku, kita temenan aja” adalah kata-kata yang kasar, mereka lebih baik pergi tanpa kasih penjelasan apa-apa. Padahal, itu adalah hal yang paling menyakitkan.

Apa susahnya ‘sih ngomong, “Kita temenan aja ya,” daripada harus pergi tidak bilang-bilang. Mending bikin sakit hati daripada gantung hati. Iya, digantungin.

Saya rasa, hampir 80% orang Indonesia pernah mengalami hal ini. entah karena memang kita-kita adalah orang yang mudah terlena dengan janji manis seseorang, atau memang percaya dengan kata-kata cinta itu menyenangkan. Lalu bagaimana cara menghindari ghosting ini?

Carilah orang yang betul-betul tegas dan yakin akan hubungan kalian berdua. Kalau sayang ya sayang, kalau ingin melamar yang memang benar-benar melamar dengan datang ke orangtua dan nikahi kamu. Jangan cari yang cuma bisa berkata manis, karena yang manis hanya teh manis. Dan yang paling penting, jangan terlalu berharap dan percaya sama manusia. Manusia pusatnya kekurangan dan kesalahan. Paling aman memang berharap dan percaya sama Tuhan aja.

Jangan Jadi PNS

Selama masih suka ngeluh, terjebak pada besarnya nominal serta membandingkan diri dengan yang lain; maka kebahagiaan tak akan pernah singgah dalam relung jiwa kita. Meskipun sebenarnya pekerjaan yang kita raih sekarang cukuplah bonafit dan diidamkan orang lain. Kita tak akan pernah puas dengan yang kita miliki. Manusiawi.

Ditambah dengan omongan masyarakat yang bikin kuping jadi panas, membuat sebagian orang makin bimbang dengan profesi yang telah digelutinya.

Pas lagi rame-ramenya rekrutmen PNS, di sebuah angkringan ada yang ngomong begini, “Ngapain jadi PNS, gaji kecil, gak bisa kaya. Masih aja banyak yang daftar”

Ya Allah, itu mulut apa balsem. Pedes banget.

E tapi kata siapa PNS gak bisa kaya. Lihat aja kalau PNS ngajukan kredit di bank “Gaji emang 2 juta mbak. Tapi belum termasuk honor, perjalanan dinas dll. Kalau ditotal bisa XX juta” <<< *sok kaya beud

Giliran tetangga mau minjem duit, “Aduh gimana ya. Pengen bantuin, tapi gaji PNS kan kecil. Kudoain aja yang terbaik ya”

Yang gak kalah sadis lagi…

“Parah nih PNS. Kerjanya lemot, suka keluyuran saat jam kerja, mempersulit urusan, banyak KKN-nya pula”

Astaghfirullah…

Saya sih gak kaget, karena faktanya memang masih ada yang begitu. Wajar bila sebagian besar masyarakat memberi stigma buruk pada aparat pemerintah. Mereka mengalami sendiri ketika ngurus KTP, bikin sertifikat, buat ijin usaha, berobat ke Rumah Sakit dll.

Tapi percayalah, gak semua seperti itu. Masih ada PNS yang berintegritas, berdedikasi tinggi serta mencintai negeri ini.

Pemerintah gak berdiam diri kok. Ada upaya sungguh-sungguh melakukan reformasi birokrasi untuk meningkatkan kinerja para ASN. Kita sedang berproses ke arah yang baik.

Ketika mendapat pelayanan yang tidak memuaskan dari aparat serta mengetahui ada indikasi fraud, kita bisa mengadukannya. Laporkan ke aparat pengawas dan Ombudsman Republik Indonesia. Bisa juga dengan mengirim surat pembaca di koran nasional.

Gak perlu memaki, merendahkan profesi mereka. Trus ngomporin orang lain agar tak jadi PNS, agar tak jadi orang gajian seumur hidup. Menganjurkan anak-anak muda agar jadi enterpreneur aja.

Lha kalau semua jadi wirausaha, lebih memilih masuk perusahaan, gak ada yang mau jadi PNS; siapa yang bakal mengurus negri ini Maliih?

Justru negri ini butuh lebih banyak orang baik, orang-orang cerdas dan kreatif untuk menjadi PNS. Agar birokrasi menjadi lebih lincah, bersih dan gak bertele-tele. Supaya mereka tak kalah ketika menghadapi para mafia, politikus busuk dan pengusaha nakal.

Di Perancis dan Singapura, pegawai negeri adalah profesi elite. Selalu jadi rebutan lulusan terbaik. Alangkah sedihnya ketika PNS dijadikan pilihan karena kepepet. Karena punya canel orang dalam dan jatah jabatan.

Intinya, semua profesi itu sama. Mau jadi petani, nelayan, pedagang, pengusaha, dokter, tukang parkir, atau buruh pabrik. Tak ada yang lebih mulia, ataupun lebih hina. Tergantung bagaimana menjalani dengan penuh kesungguhan, jujur dan bertanggung jawab.

Dan gak perlu ngiri sama profesi orang lain. Kalau gak terima dengan kondisi saat ini, merasa penghasilan ala kadarnya, stuck; ya udah alih profesi aja.

Yang perlu disadari adalah, ada hal-hal lain yang tak bisa dinilai dengan materi. Mungkin gaji tak seberapa, tapi entah mengapa selalu cukup untuk kebutuhan keluarga, bisa bantu saudara, jiwa pun tenang karenanya. Lingkungan kerja yang nyaman, kesempatan belajar terbuka lebar, serta mampu mengoptimalkan diri; adalah beberapa alasan kenapa seseorang memilih sebuah pekerjaan.

Yang penting, cintai pekerjaanmu. Jangan pedulikan label yang orang lain berikan pada dirimu. Gak usah merasa paling berjasa, paling penting, atau paling apalah dibanding yang lain.

Kita berbeda jalan, beda profesi untuk saling melengkapi.

Berhenti Sok Tahu Mengejar “Kebahagiaan”

SAAT teman baikmu ada masalah dengan pacarnya‒yang lagi-lagi ketahuan selingkuh, kamu gemar, bahkan jago memberikan nasihat kepada dia.

Dengan kebijaksanaan laksana seorang begawan, kamu tunjukkan dan jabarkan hal-hal yang selama ini diluputkannya. Kamu berikan dia pandangan tentang bagaimana menyikapi masalah tersebut. Kamu juga mendorongnya menjadi wanita pemberani. Berani melihat kenyataan, berani mengambil keputusan, berani meninggalkan seseorang yang memang tak pantas didampingi.

Tanpa terlalu mencampuri kehidupannya seperti seseorang yang tak tahu batasan, kamu peluk dan kuatkan dia. Kamu dampingi dia dalam setiap langkah yang perlu diambil untuk menyudahi dan bangkit dari keterpurukan itu. Kamu berhasil mendorong dan menyemangati agar dia kembali menjadi dirinya sendiri. Menjadi seorang wanita yang berharga, yang semestinya diperlakukan dengan sebaik mungkin, yang pantas mendapatkan laki-laki terbaik di sisinya.

Usahamu berbuah manis. Temanmu kembali menjadi figur yang ceria, manis, dan bebas berekspresi. Kamu berhasil membantunya melewati momen-momen tidak menyenangkan yang kritis. Kamu menunaikan tugas sebagai seorang teman yang membantu di saat paling dibutuhkan, sekaligus sekali lagi membuktikan kemampuan sebagai penasihat yang baik. Pemberi panduan bagi mereka yang hilang arah, dan tak tahu harus berbuat apa. Kamu memang hebat.

Nasib orang siapa yang tahu.

Menjadi seseorang yang cantik, pintar, baik, lucu, menggemaskan, dan pandai menampilkan diri bukan jaminan bisa terhindar atau terlepas sepenuhnya dari orang-orang yang tak tahu diuntung.

Kamu diselingkuhi oleh pacarmu sendiri. Seseorang yang sudah diajak menjalani hubungan dua tahunan lamanya.

Kamu terpukul hebat, tentu saja. Untuk beberapa waktu lamanya, giliran kamu yang kehilangan arah. Kamu sadar penuh bahwa kamu adalah korbannya, dan dia, seseorang yang pernah (atau masih) kamu anggap sebagai rumah tempat kelelahan dan hati berlabuh, ternyata tidak lebih dari sekadar bocah. Tak peduli berapa usianya, apa pekerjaannya, berapa yang dia hasilkan, dan pencapaian-pencapaiannya yang lain, dia hanya anak-anak yang dengan mudahnya beralih perhatian dari satu mainan ke mainan lain. Kadang ia pegang di kedua tangannya, bersamaan, tanpa mau melepaskannya. Dibawa saat tidur, dibawa saat mandi, dibawa saat makan, dibawa saat berak. Dia cuma seperti anak-anak, yang manakala dijauhkan dari mainan-mainannya sebentar saja, akan menangis meraung mengamuk tantrum tanpa peduli di mana dia berada, di hadapan siapa dia melakukannya.

Dia tak ubahnya anak-anak. Bukan laki-laki dewasa, seseorang yang seharusnya tahu betul apa arti dari komitmen, tanggung jawab, kejujuran, dan kepatutan. Soal pernikahan dan menjadi pasangan seumur hidup dalam ikatan cinta? Oh, belum tingkatannya. Masih jauh. Banget. Terlepas dari apa pun hal-hal indah yang pernah kalian jalani sebelumnya. Termasuk janji, serta ucapan-ucapan menyenangkan dan menyamankan yang pernah dia sampaikan. Baik lewat teks, dengan berbicara langsung, maupun yang dibisikkannya secara lembut lirih perlahan langsung di depan liang telingamu.

Bila masalah ini dilihat oleh dirimu yang dahulu; yang menasihati, membantu menyadarkan, dan menguatkan teman baikmu kala menghadapi perkara serupa, kamu pasti langsung tahu harus ngapain dan berbuat apa. Baik untuk dirimu sendiri, maupun kepada seseorang yang belum becus menjadi laki-laki dewasa sepenuhnya.

Namun, mendadak kok jadi tidak “segampang” itu? Tak lancar seperti sebelumnya? Kamu justru butuh mendapatkan masukan dari orang lain. Perlu dinasihati dan dibantu menuju solusi.

Itulah kita, yang jago memberikan nasihat bagi orang lain tetapi malah jadi pengambil keputusan yang payah bagi diri sendiri. Meskipun seringkali untuk masalah yang sama. Kan lucu.

Diistilahkan sebagai Solomon’s Paradox, hal ini dikenal sebagai salah satu “keunikan” lazim pada manusia. Yakni ketika seseorang bisa melihat masalah orang lain dengan begitu jelas, sehingga dapat langsung mengidentifikasi inti/fokus utamanya. Dibanding saat menghadapinya sendiri.

Di sisi lain, perbedaannya adalah sudut pandang dan apa yang dialami. Bagi orang lain, masalah tersebut dapat dilihat dari satu atau dua dimensi. Sedangkan bagi yang mengalami sendiri, terdapat banyak faktor dan pertimbangan tambahan. Belum lagi soal perasaan yang hanya diketahui oleh mereka‒dan bikin bias‒secara eksklusif.

Dengan demikian, kita akan selalu rentan untuk menjadi sok tahu tentang masalah orang lain. Belum lagi jika kita menyuapkan (baca: memaksakan) saran-saran yang terdengar positif, tetapi sejatinya beracun.

Sebab segala masalah yang mereka alami, kerap tidak sesederhana yang kita pahami. Hingga akhirnya terjadi pada diri kita sendiri.

[]