Ngegas Ergo Sum: Aku Ngegas, Maka Aku Ada


ENGGAK peduli yang disampaikannya benar atau salah, tepat atau tidak, pokoknya ngegas dulu. Supaya “ada”, atau lebih tepatnya supaya dianggap dan merasa “ada”.

Diawali dengan satu pertanyaan: “Kenapa mesti ngegas, sih, anjjj…” (lah, kok ngegas juga?)

Ini barangkali bukan sekadar soal eksistensi. Bukan semata-mata tentang keberadaan seseorang, terutama menurut dirinya sendiri. Ego memang menjadi landasan utama, tetapi ada berbagai alasan dan latar belakang lain yang mendorong seseorang untuk bersikap demikian.

Emosional

Ada orang yang awalnya sabar, mampu menjaga sikap, dan mengendalikan diri. Namun, lama-lama mulai kehilangan kesabaran, gemas, geregetan, jengkel, sampai kesal ketika berinteraksi sosial. Nada bicara yang mulanya terdengar biasa-biasa saja, mulai meninggi, bahkan sampai membentak. Di titik yang paling parah bahkan bisa berupa teriakan. Bukan lagi berbicara atau diskusi seperti biasa, melainkan amukan amarah atau debat pakai urat.

Seseorang menjadi emosional lantaran banyak hal. Bisa karena pembawaan yang temperamental; tidak menyenangi lawan bicaranya; merasa terganggu dengan lawan bicaranya; si lawan bicara yang terkesan bebal atau susah dinasihati; bisa juga karena pembawaan yang memang tidak sabaran, atau judes dan suka ketus.

Kalau sudah begini, mesti dihadapi dengan luwes. Ngegas jangan dibalas dengan ngegas balik. Biarkan saja dia ngegas kenceng sampai saatnya harus tarik napas, lalu mulai kembali pembicaraan dengan landai dan santai. Kembali ke tujuan utama berlangsungnya pembicaraan tersebut; komunikasi, ada yang perlu disampaikan. Bukan adu-aduan mana yang lebih baik, lebih benar, dan seterusnya. Tidak menutup kemungkinan dia ngegas karena kita juga.

Butuh Perhatian

Semua orang butuh diperhatikan, dipedulikan, didengar, diiyakan, dianggap ada sebagai seseorang/sesuatu yang signifikan. Untuk tujuan ini, ngegas yang dilakukan sebatas konteks atau bungkusnya saja. “Notice me, Senpai!” Setelah diperhatikan dan mendapat tanggapan, gembira hatinya.

Ada banyak cara untuk ngegas demi mendapatkan perhatian. Bukan hanya meninggikan suara, atau berbicara lebih nyaring dan keras—awalnya dipikir dapat meredam suara lain, membuat suaranya saja yang didengar, padahal jadi tambah berisik—apalagi pakai gebrak meja. Ngegas bisa ditunjukkan secara virtual lewat media sosial. Cukup sambar twit seseorang, hujani dengan kritik, argumentasi perlawanan, bantahan dengan gaya yang diinginkan. Bisa juga ditambah gaya khas netizen yang berasanya ramah padahal sejatinya penuh penghakiman: “Sekadar mengingatkan 🙏🏼”

Enaknya kalau ngegas di media sosial, jika terbukti keliru atau salah cukup ditinggal ngilang

Aku Benar, Kamu Salah

Faktor ini juga bersinggungan dengan emosi, hanya saja seringkali dibarengi kebanggaan diri dan superioritas. Dengan merasa sebagai seseorang yang benar, dan sedang berhadapan dengan seseorang yang salah, timbul semangat untuk muncul dan mengemukakan diri sebagai pihak yang benar. Terkadang malah hanya gara-gara sok tahu.

Sayangnya, semangat kebanggaan diri ini rentan bikin kepleset. Harga diri dan gengsi sebagai seseorang yang benar tadi seolah-olah menjadi perisai kritik, tinggi hati, dan membuat seseorang tersebut susah menerima kenyataan bahwa dia salah. Ngeles terus sebisa mungkin, atau justru melemparkan kesalahan kepada pihak lain. Banyak banget contohnya.

Seringkali yang ngegasnya lebih kencang justru orang yang jelas-jelas salah. Itu mereka lakukan demi menutupi kesalahan tersebut, atau mengalihkan perhatian supaya tidak terlampau malu.

Selain urusan benar atau salah, seseorang bisa ngegas karena banyak aspek lainnya. Superioritas tersebut mencakup status sosial dan ekonomi; “Aku lebih tinggi daripada kamu,” senioritas; “Aku lebih duluan daripada kamu,” dan ilusi moral; “Aku lebih baik daripada kamu.” Seakan-akan semua kondisi tersebut membuat mereka berhak untuk ngegas.

Sindrom Sang Penyelamat

Ini berhubungan dengan prioritas, atau hal yang dianggap penting oleh seseorang tetapi dianggap biasa-biasa saja bagi orang lain. Berkaitan juga dengan seberapa tenang seseorang saat menghadapi sesuatu. Ada yang bisa woles, ada juga yang panik, padahal ujung-ujungnya tidak serumit yang dibayangkan.

Maka, orang-orang dengan Sindrom Sang Penyelamat ini akan berusaha sekeras mungkin agar bisa didengar, diiyakan, dan dituruti oleh orang lain.

Berbeda dengan dorongan sebelumnya, orang-orang yang ngegas demi tujuan ini sebenarnya tidak memiliki niatan buruk. Mereka hanya terfokus pada hal-hal yang dianggap penting, bukan selebihnya. Lagi-lagi, yang membuat ngegas itu terjadi adalah perbedaan sikap dan pandangan terhadap sesuatu. Oleh sebab itu, dorongan ini bebas dari baper. Setelah sesuatu selesai, langsung move on.

Memang Dasar Mulutnya Jelek, Aja!

[]

Advertisements

Mengelak dari Kesusahan Kini atau Nanti? Kita Memang Makhluk yang Sangat Pamrih

TENTU saja! Mustahil bagi kita untuk benar-benar tanpa pamrih, tanpa berhitung, atau tanpa mempertimbangkan sejumlah hal sesedikit apa pun dalam menjalani hidup. Hal ini lazim, selazimnya kita menikmati hal-hal yang menyenangkan, dan menolak hal-hal yang tidak menyenangkan.

Sederhananya, disadari atau tidak, kita pasti melakukan sesuatu demi sesuatu yang lain. Begitu pula sebaliknya, kita pasti tidak melakukan sesuatu demi menghindari sesuatu yang lain. Dalam bentuknya serendah atau sekasar apa pun (bertahan hidup, pahala dan bisa masuk surga, mendapatkan uang dan harta, makanan, belas kasihan, kesempatan bersetubuh atau disetubuhi, reputasi dan popularitas, kedudukan, hadiah, dan sebagainya), sampai yang seluhur atau sehalus apa pun (merasa memiliki tujuan hidup, rasa batin yang terpenuhi, rasa syukur, kepuasan batin, rasa senang dan syukur karena telah berkontribusi bagi kesejahteraan orang lain, merasa telah menjadi seseorang yang baik dengan moral terpuji, merasa berlatih ikhlas dan sukarela, rasa ingin menjadi orang yang lebih baik, rasa bakti, dan sebagainya) kita pasti mengharapkan sesuatu. Bahkan orang-orang dengan kegemaran menyakiti perasaan dan diri sendiri pun, cenderung terus melakukan hal-hal tidak menyenangkan demi tujuan dan kepuasan tertentu.

Image result for fruit of self control
Foto: Pinterest

Di luar kesadarannya, seorang anak mengalami tantrum. Ia menangis meraung-raung, melelahkan, terkadang sampai tersedak dan hampir muntah, serta tidak memberikan perasaan gembira, supaya diperhatikan dan kemauannya dituruti. Sebelum mendapatkan yang ia inginkan, tantrum akan terus berlangsung.

Kecenderungan perilaku tersebut bertahan seiring usia, tetapi berubah sesuai keadaan baik dari dalam maupun luar. Dengan pengkondisian yang tepat, ada nilai sekaligus hal baru yang ditanamkan dari lingkungan di sekitarnya. Berproses bersama kepribadian dan tabiat yang bersangkutan, membentuk kebiasaan.

Mulai mengenali gadget dan tablet sebagai benda-benda yang menarik perhatian, atau permen, atau diajak jalan dan dibawa ke suatu tempat baru, atau donat, atau cokelat, atau kukis, atau uang, atau mainan, dan atau-atau yang lainnya, si anak tadi bersedia melakukan sesuatu demi mendapatkan yang diinginkan. “Nanti dikasih permen, ya.” Bila tidak begitu, si anak akan menggerutu ketika diminta ibunya melakukan ini dan itu saat tengah asyik bermain.

Sekali lagi, disadari atau tidak, kecenderungan itu bertahan sampai dewasa dan seterusnya. Dengan tujuan yang positif maupun negatif, kita terus berhitung kendati tidak berupa angka.

“Ya, sudah, tidak apa-apa lah, hitung-hitung beramal.”
“Kamu boleh senang-senang sekarang, lihat
aja nanti.”
“Biar lembur sekarang, supaya Jumat bisa pulang cepat.”
“Aku rela begini, supaya dia
enggak ninggalin aku.”
“Tak apa lah repot-repot sedikit, supaya hatimu bisa luluh nanti.”
“Ambil
aja kembaliannya, Pak (ribet pegang uang receh).”
“Cari muka, buang malu
dulu, biar nanti jadi orang kepercayaannya.”
“Sekarang susah-susah dahulu, biar nanti uangnya terkumpul buat bayar kuliah.”

“Ingat, tuhan tidak tidur.”
“Tidak apa-apa kita susah begini, mudah-mudahan kesabaran kita diganjar surga.”

Silakan amati perubahannya. Dari seorang bocah yang tidak sadar, tidak peduli, dan tidak mau tahu, bagaimanapun caranya harus mendapatkan yang diinginkan saat ini juga, menjadi seseorang yang akrab dengan ungkapan “bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian,” dan melakoninya sendiri.

Delayed gratification atau menunda kenikmatan, demikian hal tersebut dikenal sebagai sebuah sikap hidup yang kita ciptakan sendiri. Menunda desakan ego, mengatasi godaan.

Kita mengenal, mempelajari, dan mempraktikannya melalui banyak nama. Ketekunan, kesabaran, kegigihan, keuletan, keterampilan, ketabahan, pengendalian diri (dari ganjaran yang tersedia saat ini demi mendapatkan sesuatu yang lebih nanti), kecermatan dan ketepatan, keuntungan maksimal, pilihan yang lebih baik, kebahagiaan, dan kebahagiaan yang sejati ialah beberapa di antaranya.

Semua adalah soal pilihan yang diambil lewat beragam alasan dan latar belakang. Sempat disinggung sebelumnya, beragam alasan dan latar belakang dipengaruhi oleh pengkondisian serta nilai-nilai yang diperoleh dari lingkungan.

Delayed gratification yang dilakukan oleh anak orang kaya dan bukan anak orang kaya; orang religius dan orang sekuler; orang konservatif dan moderat; orang paguyuban dan orang patembayan; tentu berbeda. Namun, yang berbeda hanyalah objek-objek pilihannya. Sementara prinsip dan cara kerjanya sama: Menunda dari mendapatkan kesenangan saat ini, demi merasakan kesenangan yang lebih intensif di masa yang akan datang. Termasuk setelah datangnya kematian.

Iya, ini berlaku dalam beragama.

Terima saja, kita memang makhluk yang sangat pamrih … atau mungkin tuhan memang menciptakan kita sebagai makhluk yang sangat pamrih, dan dalam situasi kehidupan yang memang mesti dijalani pakai pamrih.

Jadi, cobalah santai sedikit saja.

[]

Ringkasan Hidup Kita

Awal bulan Februari lalu, saya beradda di Berlin selama 2 minggu. Keberadaan saya di sana untuk urusan pekerjaan. Untungnya, kota ini terasa cukup familiar, karena ini bukan kunjungan pertama dalam waktu yang singkat. Proses adaptasi, jet lag, dan sejenisnya cukup mudah dilakukan. Apalagi begitu sampai, cuma punya waktu sebentar untuk beres-beres di kamar hotel, sebelum pergi ke tempat kerja.

Toh a sense of familiarity yang saya temui ternyata masih menyimpan elemen kejutan yang menyenangkan.

Jadi saya bertanya ke rekan kerja saya yang sudah lebih dulu sampai tentang aktivitas yang dia lakukan sebelum saya datang.

“Gue ketemuan dan makan malam sama ABC. Dia ‘kan udah kawin dan menetap di sini. Gue juga bilang ke dia kalau elo akan dateng. Jadi kita akan dinner lagi ama dia.”

“Oke. Eh bentar. Ini ABC yang mana sih?”

“ABC DEF.”

“Haaah? ABC DEF?!”

“Iya!”

“Astaga! Gue pikir ABC yang mana. Dia masih ada?”

“Hahahaha, ya masih lah!”

No, I mean … Oh My God, elo tau gak sih kalau there was a period in my life, a significant period and a significant amount of time, si ABC DEF ini tinggal ama gue, terus kita sering jalan bareng dan practically dia yang menyuruh gue to live the way I live now?”

“Makanya, dia juga kaget pas gue menyebutkan nama elo juga. “Nauval? Nauval Yazid? Ya ampun!” Gitu katanya!”

“Ah gila, gue udah lama banget gak mendengar nama ABC DEF ini. How long has it been … 14 … 15 years? Ya Tuhan, selama itu!”

Lalu kami pun sepakat untuk mengosongkan jadwal malam hari di Valentine’s Day dari semua pekerjaan. Kami akan makan malam bersama.

Begitu sampai di hari yang tentukan, dan setelah mengikuti Google Map sampai tersesat, akhirnya kami sampai di tempat makan. Saya dan ABC DEF spontan berpelukan cukup lama. Kami tidak kaget melihat perubahan fisik masing-masing. Malah sepertinya kami begitu cepat saling mengenali, karena ada sense of familiarity yang tak bisa dipungkiri.

Pasangan teman lama saya ini pun cukup tahu diri, karena dia bolak-balik taking a smoke break meskipun bukan perokok berat, untuk memberikan waktu dan teman saya saling catch up.

Dan di sinilah kejutan terjadi.

Setelah duduk dan memesan minum, kami memulai percakapan.

“Ya ampun, elo ABC! Gila, gue sampe takjub sendiri akhirnya mendengar nama elo lagi. Gue sama sekali gak mendengar nama elo lho bertahun-tahun ini.”

Dia tertawa. “I take it as a compliment, lho.”

How are you?

I’m fine. Super fine. How are you?

I’m good. Gue masih gak percaya lho ini ketemu elo lagi.”

“Hahahaha. Nah sekarang udah percaya kan? So now tell me, what happened to you, the last 14-15 years?

games-to-play-around-the-dinner-table-1260-853

Lalu saya mulai bercerita dari periode terakhir bertemu dia. Tentang semua jenis pekerjaan yang saya lakoni selama ini. Tentang beberapa tempat tinggal yang saya jadikan rumah selama ini. Tentang heartbreakers and getting the heart broken repeatedly over the years.
Dan semua ini saya ceritakan dalam 10 menit.

Di akhir cerita saya terdiam sejenak. Lalu saya berkata ke teman saya:

Wow. Did I just tell you the story of my life in the past 15 years in only 10 minutes?

Teman saya tertawa sambil mengangguk. Saya ikut tertawa sambil menggelengkan kepala:

Wow. If only I knew back then that my life story in one and half decade can be summarized in only 10 minutes. I mean … Bok, segala macam drama gak penting itu, ternyata kalau dilihat lagi, gak berarti apa-apa ya? Cuma 10 menit ini gue cerita ke elo, sementara dulu pas putus nangis dan marahnya berhari-hari. Eh sekarang pas dilihat lagi, ternyata gak ada apa-apanya!”

Kami tertawa. Demikian pula dengan teman saya yang juga memberikan ringkasan singkat kisah hidupnya selama bertahun-tahun terakhir.

Sepanjang makan malam itu saya tak habis pikir, ternyata tak semua kejadian dalam hidup kita akan terus kita bawa. Jangankan selamanya, bahkan lebih dari satu dekade pun belum tentu. Hanya momen-momen tertentu yang akan selalu terpatri dalam ingatan. Dan jenis momen yang akan lekat dalam ingatan pun, kita tidak akan pernah menduga apa yang akan kita ingat.

Saya pikir semua luapan dan tindak-tanduk emosional yang pernah saya keluarkan akan terus saya ingat. Ternyata tidak.
Saya pikir semua hal-hal baik yang saya lakukan karena saya ingin mendekati seseorang akan terus saya ingat. Ternyata tidak.

Turns out, we can never tell what sort of memories will stay with us forever.

Tapi yang kita percayai adalah bahwa memori tidak pernah tercipta karena kita berdiam diri. Memori tercipta karena kita melakukan sesuatu, berulang kali, dan beribu kali. Let our brain and mind choose the best summary of our life.

For now, we just live.

eece9185246a088c42c8bd98d4d5a25a

“Kriminalisasi” Terhadap Orang-orang Gemuk

HIDUP dalam dan menjadi bagian dari masyarakat yang sangat terobsesi pada ukuran serta tampilan fisik, tanpa sadar membuat kita sudah bersikap diskriminatif selama ini. Termasuk terhadap orang-orang yang bertubuh gemuk.

Bukan berbentuk perundungan atau bullying, diskriminasi yang kerap kita lakukan justru sangat halus, tidak kasar, tidak menyakiti, apalagi blak-blakan menyerang. Saking halusnya nyaris tak membuat si penerima merasa terganggu, tak sampai memunculkan penolakan dan kebencian. Lantaran kebanyakan berupa saran dan masukan.

Kamu kayaknya perlu olahraga, deh. Perutmu sudah gendutan, tuh. Sudah waktunya jaga kesehatan. Misalnya.

person measuring someone waist line
Photo by rawpixel on Unsplash

Sekilas tidak ada yang salah dari ucapan itu. Terkesan akrab, memiliki kedekatan personal, dan menunjukkan adanya perhatian dari si pengucap kepada lawan bicaranya. Namun, ada asumsi yang mengaitkan ukuran lingkar perut seseorang dengan kondisi kesehatan dan kemampuannya merawat diri. Padahal kondisi gemuk/kurusnya seseorang dipengaruhi berbagai faktor. Baik yang bisa diubah (gaya hidup, pola makan, pola aktivitas, kecepatan metabolisme tubuh, pikiran, tingkat stres sehari-hari, dan banyak lagi), maupun bawaan genetik yang mustahil bisa dimodifikasi. Itu sebabnya tak semua orang bisa ditangani dengan cara dan pendekatan yang sama. Seperti yang pernah ditulis Ko Glenn dan Mbak Leila beberapa tahun lalu, sebuah metode diet yang berhasil pada seseorang belum tentu memberikan dampak positif serupa bagi seseorang lainnya.

Ini bukan perkara preferensi pribadi, melainkan anggapan-anggapan yang muncul, tumbuh, berkembang, dan bertahan dalam masyarakat, hingga menjadi kesepakatan umum mengenai orang-orang bertubuh gemuk. Tatarannya pun berbeda. Dimulai dari yang hanya patut disimpan dalam hati, sampai yang bisa terang-terangan dirayakan.

Iya, dirayakan. Kompetisi berhadiah.

Beberapa anggapan sosial tentang orang bertubuh gemuk, di antaranya…

  • Orang gemuk tidak mampu mengendalikan diri/nafsu makannya.
  • Orang gemuk hobi makan, bahkan rakus.
  • Orang gemuk hanya memikirkan soal makanan.
  • Orang gemuk tidak gesit saat bergerak atau bekerja.
  • Orang gemuk tidak suka berolahraga.
  • Orang gemuk tidak bisa menjaga dietnya.
  • Orang gemuk pemalas (lantaran susah bergerak).
  • Orang gemuk lamban.
  • Orang gemuk berwajah cakep: “Sayang, badannya kegedean.
  • Orang gemuk berwajah kurang cakep: “Sudah gemuk, jelek pula.” Apalagi jika ditambah parameter-parameter negatif lain.
  • Orang gemuk gampang terserang penyakit degeneratif.
  • Orang gemuk sulit mendapatkan pasangan.
  • Orang gemuk gampang berkeringat.
  • Orang gemuk bikin gerah.
  • Orang gemuk menyusahkan sekelilingnya, bikin sempit.

… dan masih banyak lainnya.

Terdengar kejam dan merendahkan, kalimat-kalimat di atas memang tak sepatutnya diutarakan secara terbuka. Berbeda jika dalam konteks teman akrab, celetukan di atas bisa dianggap biasa-biasa saja. Jangan lupa, body shaming masih dianggap topik kelakar yang biasa-biasa saja.

Di tingkat berikutnya, kita menempatkan keadaan “gemuk” sebagai sebuah tantangan, kemudian mengaitkannya dengan kualitas perorangan. Sebut saja kegigihan dan konsistensi, motivasi dan semangat.

Awalnya mereka menjadi (baca: dibuat) merasa tidak nyaman, dan memunculkan keinginan agar bisa kurus. Entah disengaja atau tidak, ada beragam alasannya. Mulai dari masalah tampang dan penampilan, hingga paranoia tentang kesehatan. Kemudian, upaya-upaya penurunan berat badan digambarkan layaknya serangkaian perjuangan berat.

Jika tidak diejek gorila, bisa jadi jalan ceritanya berbeda. Setelah berhasil menurunkan berat badan, sebutan “jejaka tampan” mulai muncul dan dilekatkan.

Namanya juga perjuangan, tentu saja tidak mudah. Sehingga tujuan yang ingin dicapai pun lekat dengan kesan positif; sesuatu yang harus berhasil karena telah dijalani dengan susah payah. Bisa ditebak, keberhasilan itu pun dirayakan, disambut pujian dan apresiasi. Kadangkala bisa memabukkan.

Di satu sisi, itu adalah pencapaian, memang sepantasnya diperlakukan begitu, akan tetapi juga melanggengkan pandangan bahwa …

GEMUK = TIDAK BAIK

Ada ucapan bijak: “Mau gemuk atau kurus, terserah. Yang penting sehat.” Pasalnya, gemuk belum tentu sehat, kurus pun belum tentu bebas dari potensi penyakit. Cukup sampai di situ saja.

Sayangnya apabila rumus gemuk = tidak baik tertancap kuat dalam benak banyak orang, gelombang kekhawatiran berlebih dan insecurity pun bisa meluas. Dampak buruknya…

  • Cara instan menurunkan berat badan makin laku meskipun berbahaya,
  • Kehidupan sosial terganggu karena banyak yang sensitif dan gampang tersinggung,
  • Selalu terfokus pada diri sendiri (self-conscious), dan
  • Potensi gangguan psikologis termasuk kecenderungan anoreksia,
  • Pada akhirnya menghasilkan kepribadian yang rapuh.

Jadi, pilih mana? Gemuk dan bahagia, bisa menerima diri apa adanya; atau tidak gemuk tetapi enggak bisa santai?

Pokoknya, jangan berlebihan. Jangan serbasalah, dan pastikan dapat masukan yang profesional dari dokter. Cuma mereka yang punya kapasitas profesional untuk didengarkan untuk urusan berat badan dan kesehatan.

Idealnya, sih, begitu, dan mesti didukung oleh lingkungan. Jika tidak, diskriminasi itu bakal mustahil dihindari.

[]

Apa Yang Membuat Jatuh Cinta?

Ketika hati terasa kering kerontang demikian lama. Mencoba membukanya dengan harapan akan disirami, kenyatanya hanya lembap sedikit, lalu kering lagi. Bagus enggak tumbuh jamur.

Apa yang kira-kira bisa membuat jatuh cinta? Apakah itu tatapan mata ketika bicara, yang seolah hanya untuk aku? Apakah senyum dan tawa alami ketika bercerita? Atau ajakan tanpa paksa, atau meminta untuk mengantarkan pulang, hanya dengan kata sederhana; aku sengaja bawa dua helm, siapa tau kamu mau.

Mungkin bisa juga tatapannya yang selalu seperti air dingin di hati yang panas? Tanpa bibirnya harus berkata, tampak selalu senang melihatku. Atau tangannya yang memegang erat tanganku ketika aku memeluk pinggangnya di motor. Bisakah sebuah ciuman di bibir yang lembut lalu menggebu yang membuatnya terbayang sampai keesokan harinya?

Tetapi kenapa ketika dia mengatakan sayang, aku tidak bisa membalasnya? Kenapa kenapa dia sebut kata “pacar” aku hanya bisa membalas “hehehe”. Waktu dia mulai mengatakan, I love you kepadaku, hanya sanggup kubalas, awww thank you!

Padahal aku sudah janji kalau tidak lagi mencari kesamaan minat yang gimana banget. Aku juga sudah tidak menganggap terlalu penting kalau tidak lagi bertemu seseorang yang bisa mengobrol sampai berjam-jam mengenai hal yang kita sama sama suka. They are all nice to have, but not principal. Walaupun senang juga kalau bisa chat sampai larut malam karena seolah ribuan subyek yang ingin dibicarakan, tapi kurang waktu bersama.

Tapi jika semua itu memang tidak penting, kenapa belum juga aku jatuh cinta? Mungkin ini hanya perkara masa.

original

Jika Tempat Laundry Kamu Menolak Mencuci Baju Karena Berbeda Agama

Dua hari yang lalu saya mendapati salah satu postingan akun twitter yang isinya menyajikan suatu gambar hasil dari print screen tentang penolakan salah satu sanggar make up artist kepada konsumen yang beragama kristen.

Maaf, sampai saat ini kami hanya melayani umat islam“.

Karena kecewa, calon pengantin yang tidak jadi dirias ini mungkin memposting entah di media apa, namun akhirnya “tertangkap akun twitter”, dan viral.

Pertanyaannya sekarang adalah apakah sikap dari sanggar tersebut dapat dikategorikan sebagai sebuah perbuatan yang menyinggung SARA?

Baiklah. Dengan anasir yang sama coba kita bayangkan jika yang menolak itu adalah dokter? Tentu saja dapat dibayangkan bahwa dokter tersebut telah melanggar kode etik dengan menolak pasien berlainan agama dengan dirinya.

Pasal 7a
Seorang dokter harus, dalam setiap praktik medisnya, memberikan pelayanan medis yang kompeten dengan kebebasan teknis dan moral sepenuhnya, disertai rasa kasih sayang (compassion) dan penghormatan atas martabat manusia.

kemudian:

Pasal 7d
Setiap dokter harus senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi hidup makhluk insani.

Dua butir yang menjadi bagian dari kode etik dokter ini menjamin tiadanya penolakan bagi sang dokter kepada pasiennya. Sepenuhnya dalam berpraktek dokter menggunakan azas-azas universal demi manusia, bukan demi umat islam, demi umat kristiani, atau demi orang dayak, atau demi keturunan arab.

Bagaimana dengan rias pengantin? Tentu saja karena profesi ini bukan dianggap profesi khusus yang memerlukan kode etik maka tidak terdapat ketentuan khusus yang mengharuskan setiap pelaku profesi ini menerima setiap orderan.

Menjadi masalah adalah ketika penolakan itu bukan dikarenakan jadual si makeup artist ini penuh sehingga sulit melayani pengguna jasa. Atau batal dikarenakan ketidaksesuaian harga. Penolakan ini dilontarkan secara jelas dikarenakan jadual rias dilakukan dua kali, saat pemberkatan dan saat resepsi.

Pemberkatan diartikan si makeup artist sebagai ritual agama nasrani. Si calon pengguna meluruskan, iya saya kristen. Lalu muncul kalimat dari si makeup artist: Maaf, kami tidak melayani selain umat islam atau kurang lebihnya demikian.

Penolakan itu dilakukan karena perbedaan agama.

Hal itu tentu saja tidak lazim.

Bagaimana rasanya jika kita membawa cucian kotor ke jasa laundry, lalu saat di depan penjaganya kita ditanya apa agamanya. Islam. Wah maaf, kami hanya menerima pakaian dari umat Hindu.

Pantaskah kita marah dan memaksakan kehendak untuk mendapat perlakuan yang sama dengan umat hindu yang biasanya mereka layani?

Apa yang seharusnya dilakukan oleh pelanggan atas penerimaan tidak pantas itu?

Terlalu berlebihan jika si calon pengguna jasa melaporkan penolakan ini menjadi delik perbuatan tidak menyenangkan dengan melaporkannya ke polisi, misalnya merujuk kepada Pasal 335 ayat (1) ke-1 KUHP

“Barang siapa secara melawan hukum memaksa orang lain supaya melakukan, tidak melakukan atau membiarkan sesuatu, dengan memakai kekerasan, atau dengan memakai ancaman kekerasan, baik terhadap orang itu sendiri maupun orang lain.”

Menjadi berlebihan karena tidak ada kekerasan yang dilakukan oleh sanggar tersebut. Fakta yang terjadi adalah penolakan secara halus, namun menyakitkan.

Bagaimana jika posisi makeup artist dan calon pengguna dilihat dari kacamata keperdataan. Hubungan hukum antara dua individu/ subyek hukum yang ingin mencapai kata sepakat. Lewat kacamata ini, akan lebih soft ditilik.

Si pemberi jasa ternyata selain mensyaratkan pembayaran atas jasanya, mereka mensyaratkan si pengguna jasa beragama yang sama. Mungkin alasannya karena profesinya adalah bagian dari ibadah. Bahwa dengan membantu pernikahan beda agama dianggap bukan bagian ibadah. Ini soal yang begitu subyektif. Ini semua dalam tataran “mungkin”.

Seharusnya sejak awal si makeup artist ini sudah memberikan keterangan dimanapun: “khusus melayani rias pengantin islam”. Jika ditanya alasannya, lebih baik menjawab karena hanya ahli merias wajah berkerudung.

Atau ketika mengetahui bahwa yang akan dirias bukan beragama islam, dia bisa saja berpura-pura menanyakan kembali jadualnya, dan bilang:

“Oh, maaf, saya keliru lihat tanggal di agenda saya, ternyata tanggal segitu sudah full, maaf.”

Ini sama halnya dengan tukang pijat yang pernah dibayar murah oleh pengguna jasa, maka ketika orderan datang kembali, ia akan menolaknya secara halus dengan mengatakan bahwa jadualnya penuh.

Patut juga disampaikan bahwa pemberi jasa makeup artist ini belum bersikap profesional dan memiliki bibit diskriminatif.

Si pemberi jasa juga punya hak menolak, hanya saja patut disayangkan penolakan yang dilakukan adalah secara jelas berdasarkan perbedaan agama. Ini adalah sikap SARA. Ada baiknya, seorang muslim sejati senantiasa menjaga perasaan orang lain.

Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda,

إِذَا كُنْتُمْ ثَلَاثَةً فَلَا يَتَنَاجَى رَجُلَانِ دُونَ الْآخَرِ حَتَّى تَخْتَلِطُوا بِالنَّاسِ أَجْلَ أَنْ يُحْزِنَهُ

“Jika kalian bertiga maka janganlah dua orang berbicara/berbisik bisik berduaan sementara yang ketiga tidak diajak, sampai kalian bercampur dengan manusia. Karena hal ini bisa membuat orang yang ketiga tadi bersedih” (HR. Bukhari no. 6290 dan Muslim no. 2184).Islam menuntunkan kepada umatnya agar menjaga perasaan orang lain.

Ini pendapat saya. Bagaimana dengan pendapat kamu?

Oscar Yang Terlalu Ribut

Tadinya, saya mau menulis sedikit tentang beberapa hal unik yang terjadi waktu saya ke Berlin selama dua minggu terakhir. Tetapi saat membuka Twitter, tiba-tiba teringat bahwa hari Senin pagi waktu Indonesia ada perayaan Academy Awards ke-91. Lantas saya memutuskan untuk menulis tentang prediksi peraih Oscar tahun ini. Cerita tentang Berlin bisa diendapkan dulu. Mungkin memang harus disimpan beberapa saat dulu, supaya bisa menulisnya dengan lebih jernih dan obyektif. Well, we’ll see.

Kok bisa, “tiba-tiba teringat” tentang Oscar? Padahal biasanya sangat tuned in terhadap film-film dan orang-orang pekerja film yang dinominasikan?

Jujur saja, saya mulai merasa lelah mengikuti pemberitaan seputar Oscar dengan aneka politik yang cenderung negatif.

Kekhawatiran saya mulai timbul saat film Roma mencuat. Memang, saya beruntung bisa menyaksikan di layar lebar, dan memang film itu indah sekali ditonton dengan intensitas tinggi di layar lebar. Namun itu tidak mengurangi kekaguman saya, bahwa film dengan intensitas tinggi seperti ini, bisa kita tonton berulang kali, bisa kita pause di momen-momen tertentu agar kita bisa mencerna luapan emosi yang kita rasakan, atau bisa kita hentikan untuk mengamati dengan lebih detil lagi adegan-adegan yang dibuat dan dikerjakan Alfonso Cuaron dengan kecermatan luar biasa.

Saya tidak anti Netflix, atau anti OTT platform atau video streaming app apapun, yang memungkinkan pembuat film membuat karya yang tidak mungkin didanai produser konvensional manapun. Sebagai penonton, saya gembira menyambut tontonan berkualitas di ruang tamu atau tempat tidur saya, yang tidak bisa didapat di bioskop. Toh saya masih pergi ke bioskop untuk menonton dengan tujuan bersosialisasi, baik itu sekedar menonton sendiri, atau bersama pasangan (yang belum ada juga sampai tulisan ini dibuat).

Memang kehadiran video streaming platform yang demikian agresif sempat menyulitkan pekerjaan saya. Toh film tidak hanya satu. Masih ada film-film lain yang perlu ajang untuk ditayangkan.

Berbicara mengenai ajang atau wadah, Oscar memang selalu menjadi sasaran empuk untuk melancarkan aksi kampanye yang penuh muatan politis. Apa tidak bisa mengkritik Green Book dari sisi lain? Apa iya Black Panther sebagus itu? Apa tidak capek menggonggongi Bohemian Rhapsody melulu?

Yang jelas, kalau ada yang masih menganggap Academy Awards adalah penghargaan untuk film-film dan para pembuat film “terbaik”, oh boy. Seperti yang selalu saya katakan berulang-ulang, paling tidak setahun sekali, Oscar recipients are those who campaign the hardest, the loudest, and the most consistent ones. Karya boleh “biasa-biasa saja”, tapi selama kampanye berjalan efektif (dan mahal), para Oscar voters pun pasti akan menengok.

Berhubung saya bukan anggota Academy, jadi pilihan saya kali ini pun bukan alat prediksi yang mumpuni. Saya memilih berdasarkan apa yang saya mau lihat maju ke podium untuk menerima Oscar. Bahkan saya rasa pilihan kali ini akan banyak melesetnya.

Tapi kalau sampai bagian ini Anda masih membaca dan penasaran apa yang menurut saya layak mendapat Oscar tahun ini, here we go:

rbg-movie
RBG (source: Salon.com)

Best Picture: Roma

Best Director: Alfonso Cuaron – Roma

Best Lead Actor: Rami Malek – Bohemian Rhapsody

Best Lead Actress: Olivia Colman – The Favourite

Best Supporting Actor: Sam Elliott – A Star is Born

Best Supporting Actress: Regina King – If Beale Street Could Talk

Best Original Screenplay: The Favourite (Deborah Davis, Tony McNamara)

Best Adapted Screenplay: BlacKkKlansman (Charlie Wachtel, David Rabinowitz, Kevin Willmott, Spike Lee)

Best Animated Feature Film: Spider-Man: Into the Spider-Verse

Best Foreign Language Film: Roma

Best Documentary Feature: RBG

Best Documentary Short Subject: End Game

Best Live Action Short Film: Marguerite

Best Animated Short Film: Bao

Best Original Score: Black Panther (Ludwig Göransson)

Best Original Song: “Shallow” – A Star is Born

Best Sound Editing: First Man

Best Sound Mixing: Bohemian Rhapsody

Best Production Design: The Favourite

Best Cinematography: Roma

Best Makeup and Hairstyling: Border

Best Costume Design: The Favourite

Best Editing: Vice

Best Visual Effects: Ready Player One

Selamat menonton!

Pelecehan Seksual & Ketidakberdayaan: Sebuah Upaya

SEKALI lagi, topik ini rawan bias gender. Salah-salah, jatuhnya bisa jadi mansplaining–ketika laki-laki yang sok tahu dan arogan merasa paham tentang sesuatu, lalu memberikan komentar tanpa diminta–atau malah oversimplifying atau disepelekan, dianggap tak perlu mendapatkan perhatian sampai sebegitunya.

Padahal saat berbicara tentang pelecehan seksual yang dialami oleh wanita, urusannya tak segampang memberi tanggapan:

Mestinya kamu lawan dong!

Kenapa kamu biarkan dia begitu?

Tidak. Tidak sesederhana itu.

… dan itu pun bukan kesalahan mereka sebagai wanita.

Demi menghindari kesalahan-kesalahan tersebut, tulisan di Linimasa hari ini dibuat oleh seorang wanita dan dititipkan kepada saya. Dia pernah merasakan dorongan kuat untuk memberontak dan melawan waktu dilecehkan beberapa tahun lalu, tetapi dia hanya bisa terdiam. Menyisakan trauma dan beban.

Tak menutup kemungkinan, secara tidak sadar saya pun pernah atau kerap melakukan pelecehan dengan beragam bentuknya. Berupa tindakan atau ucapan yang mustahil saya lakukan kepada sesama laki-laki.

Bukan perkara meminta para wanita untuk lebih berhati-hati, atau memberikan mereka bekal menghadapi semua situasi, melainkan upaya mendidik para remaja berpenis agar tak tumbuh menjadi pria-pria brengsek yang merendahkan wanita.


Suatu pagi semasa masih sekolah, saya lamban bersiap-siap. Biasanya Ayah akan mengantar saya ke sekolah sebelum Beliau berangkat ke kantor, biar sekalian saja. Tetapi pagi itu Ayah ada rapat. Beda 5 menit saja sudah bisa menjadi penentu terlambat atau tepat waktu untuk sampai ke lokasi rapat. Ayah berangkat duluan dan saya terpaksa berangkat sekolah dengan Angkot dari depan kompleks perumahan.

Berjalan tergopoh-gopoh, saya sudah kesal memikirkan konsekuensi yang harus saya hadapi di sekolah bila akhirnya terlambat. Pagi itu frekuensi Angkot juga tidak bersahabat. Sudah beberapa lama menunggu, masih tidak ada yang lewat juga.

Lalu sebuah Innova hijau muda melipir dan berhenti di depan saya. Kaca diturunkan, seorang pria bertampang usia 40-an di kursi pengemudi memanggil saya dengan gestur tangannya. Di pikiran saya saat itu, ini bisa saja salah satu teman atau kenalan orang tua saya yang kenal wajah saya, tetapi saya tidak terlalu kenal mereka–mungkin saya bisa menebeng sampai sekolah.

Setelah mendekat, ternyata si bapak ini sudah separuh melepas celananya, dan mengayun-ayunkan penisnya dengan gerakan memutar. Jelas, bukan sesuatu yang saya pikir akan saya lihat pada Selasa pagi itu, di pinggir jalan besar kawasan utara Jakarta.

Saya mematung. Otak saya menjerit “PERGI, CEPAT MENJAUH DARI MOBIL!” Tetapi butuh waktu beberapa detik sebelum kaki saya akhirnya bekerja sama hingga akhirnya saya menjauh. Tanpa saya duga, mulut saya pun turut bekerja sama. “Oh, cuma segitu doang? Heh.

Ada Angkot mendekat di belakang mobil itu dan saya buru-buru memanggilnya. Innova itu pun meluncur pergi. Saya berangkat ke sekolah. Sisa hari itu kabur di ingatan saya. Di kepala saya berkecamuk pertanyaan: “What just happened there?” Emosi marah, kesal, sedih dan bingung campur aduk serta perasaan tidak berdaya yang mendominasi saya hingga berhari-hari, bahkan berminggu-minggu setelah itu.

***

Belasan tahun kemudian, saya tengah bekerja dengan seorang kolega senior di kantor, Pak Bos dan seorang klien. Berdiri agak jauh dari klien, kolega saya mengelus pantat saya tanpa permisi dan tanpa aba-aba. Refleks, saya menepis tangan itu dan lagi-lagi saya terpaku. Tidak langsung berpindah dari sebelah si pelaku. 

Kolega senior ini  juga sangat dekat dengan pemilik perusahaan. Setelah klien berlalu dan saya tinggal berdua dengan Pak Bos, saya melaporkan kejadian tersebut kepada Pak Bos.

Responnya saat itu (kurang lebih jika diterjemahkan dari bahasa Inggris), “Ya, saya tidak membenarkan perbuatannya. Tetapi ingat, bahwa dia bukanlah predator seksual, dia hanya orang tua yang… ya… begitulah.” Kala itu, saya hanya mengiyakan dan meminta Pak Bos untuk bertindak jika kali lain si kolega ini merasa akrab dan menyentuh saya tanpa persetujuan di lingkup pekerjaan.

Butuh waktu yang cukup lama bagi saya untuk kemudian tersadar. “Sebentar. Kalau misalnya istri atau anak perempuan si Pak Bos yang mengalaminya, apakah Beliau akan menjawab seperti itu juga?” Setelah tersadar, saya menyesal sejadi-jadinya tidak berkata demikian kepada Pak Bos saat itu juga.

Apa gunanya menanggapi kejadian yang sudah berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun lewat?

Dan, pada kenyataannya, saya tidak berada di posisi yang menguntungkan dalam pekerjaan waktu itu. Apabila saya ngotot untuk melaporkan dan mempermasalahkan kejadian itu, bisa saja si pelaku hanya berkata bahwa kejadian itu tidak disengaja, atau saya membesar-besarkan masalah yang tidak ada buktinya, dan apa yang dia katakan akan lebih dipercayai daripada apa yang saya katakan. Lebih parahnya lagi, si pelaku adalah kesayangan pemilik perusahaan. Kemungkinan besar, kalau masalah ini naik hingga ke manajemen di atas Pak Bos, sayalah yang dipecat atau diminta mengundurkan diri, bukan dia. Karena posisi saya dibanding dia hanyalah butiran jasjus di perusahaan itu.

Walau pada akhirnya Pak Bos menegur si kolega senior secara halus separuh bercanda untuk berhenti menyentuh staf lain tanpa permisi dan tidak ada lagi kejadian serupa, setiap mengingat kejadian itu saya marah. Sedih. Tidak berdaya untuk melawan, tetapi bagaimana saya bisa melawan lebih lanjut tanpa membahayakan posisi saya di pekerjaan?

***

Beberapa hari yang lalu, saya sedang bekerja di sebuah perusahaan dan saya ditugaskan untuk mewakili kantor berhadapan dengan klien. Dari komputer kantor, saya menerima pesan dari salah satu klien bahwa ia meminta saya menunjukkan payudara serta memperbolehkan dia untuk memegangnya.

Saya terdiam sewaktu membaca pesan itu. Dan untuk beberapa saat, saya seperti tidak menyadari secara penuh apa yang telah terjadi. Saya mengalihkan perhatian dengan mengerjakan hal-hal lain. Kira-kira 15 menit kemudian, it hits me. Saya sudah dilecehkan. Saya ingin memaki. Mengasari. Marah. Tetapi posisi saya sebagai representatif kantor membuat saya ragu untuk melawan balik. Saya tidak tahu mau menjawab apa. Akhirnya, saya memutuskan untuk menghubungi atasan saya dan menceritakan apa yang telah terjadi.

Tangis saya pecah saat menceritakan insiden tersebut dengan klien. Saya bahkan sulit untuk menjelaskan dengan baik kejadian yang sebenarnya karena saya masih terguncang. Hati, pikiran saya tidak tenang. Saya merasa tidak aman. Kalut. Marah. Bingung.

*** 

Saya mengalami berbagai jenis pelecehan seksual dengan situasi yang berbeda-beda, belum termasuk insiden-insiden saat saya dilecehkan secara verbal atau catcalling. Tetapi insiden-insiden di atas ini adalah beberapa contoh saat saya, seorang perempuan yang dikenal asertif dan berani melawan, akhirnya tidak melakukan apa-apa saat dilecehkan. Sungguh, saya ingin bisa memukul, memaki, berkata-kata kasar dan membalas secara agresif jika waktu bisa diulang kembali. Tetapi kenyataannya, saya terpaku. Dan selewat kejadian-kejadian tersebut, saya sangat kecewa dengan betapa tidak berdayanya saya.

Baru-baru ini, saya memutuskan untuk berkonsultasi dengan psikolog. Salah satu tujuan yang ingin saya capai adalah saya ingin bisa lebih baik menghadapi trauma semacam ini. Entah itu berarti saya tidak lagi terdiam saat “diserang” seperti ini atau lebih cepat pulih dari trauma hingga tidak berlarut-larut mengalami kecemasan di hari-hari berikutnya.

Kami akhirnya berdiskusi mengenai kecenderungan pelecehan seksual tersebut. Walau dianggap sebagai tindak kriminal, sejatinya sangat sulit untuk mengharapkan sebuah tanggapan yang tegas terhadap pelaku pelecehan seksual. Semisal, saat sedang berjejal-jejal di kendaraan umum, bagian intim kita dipegang. Bisa saja, saat kita teriak dan menuduh, si pelaku hanya bilang “Oh, kan kesenggol, tidak sengaja,” atau malah sekalian menyangkal. Tidak ada bekas tangan dengan sidik jari yang menjadi bukti konkret saat kita melaporkan kejadian itu kepada pihak yang berwajib. Masa kita harus membawa-bawa kamera atau perekam suara agar saat terjadi kita bisa melaporkan ke pihak berwajib? Seperti yang terjadi di sini, pelecehan seksual dapat dilakukan demikian halus tersembunyi sehingga menyulitkan korban untuk melawan balik.

Atau, seperti salah satu insiden yang saya alami. Bagaimana saya bisa membela diri tanpa takut kehilangan pekerjaan, karena saya berurusan dengan kolega yang hierarkinya lebih tinggi dari saya? 

Diskusi kami berlanjut, saya membicarakan bagaimana saat dihadapkan dengan “serangan” seperti itu, saya merasa tidak berdaya. Tidak mampu melawan. Dan saya menyalahkan diri saya sendiri, mengapa saya begitu tidak mampu? Begitu lemah? Begitu tidak berdaya? Saya kecewa karena tidak berhasil merespon lebih baik, lebih agresif, lebih vokal untuk mempertahankan diri sendiri.

Psikolog saya berkata bahwa kenyataannya, respons manusia terhadap serangan terbagi menjadi 3 jenis, fight-flight-freeze (melawan-kabur-membeku/terpaku).

Fight, jika insting bawah sadar merasa diri mampu mengalahkan penyerang.

Flight, jika insting bawah sadar merasa tidak mampu melawan dan dapat melarikan diri dari situasi secara konkret.

Freeze, merupakan respons diri saat tidak bisa melawan tetapi juga tidak bisa melarikan diri dengan aman. Lumpuh. Dan freeze adalah respons paling umum bagi korban pelecehan.

***

Lalu bagaimana solusinya? 

Mengenai bagaimana agar tidak mengalami pelecehan seksual, jujur saja saya masih agak mampet. Tidak ada cara untuk menjamin bahwa setelah bangun pagi, kita tidak akan mengalami pelecehan hari itu. Tidak ada jaminan juga bahwa kita pasti akan mengalaminya minimal sehari sekali. Apakah upaya pencegahan itu ada? Tidak. Seringnya, tidak ada tanda-tanda juga bahwa kita akan dilecehkan.

Bagaimana dengan upaya mempertahankan diri? Mungkin bisa membantu. Tetapi menurut psikolog saya, hanya belajar bela diri saja belum tentu cukup. Menurut cerita yang Beliau sampaikan, tetap ada kasus seorang praktisi bela diri yang freeze saat diserang. Solusi yang sepertinya mempunyai potensi yang paling sukses adalah memiliki mindfulness. Katanya, dengan menguasai kesadaran seperti itu, kita akan bisa menanggapi serangan dengan lebih rasional. Entahlah. Saya juga masih akan mencoba. Digabung dengan seni bela diri juga sekalian, mungkin.

Konklusi sementara saya adalah kita tidak bisa bergantung bahwa orang lain akan menolong atau membantu kita saat “serangan” semacam ini terjadi. Sebisa mungkin, jangan lengah. Tetapi di sisi lain, kita juga tidak bisa terlalu siaga yang malah membuat kita selalu tidak aman, terlalu responsif, yang bisa menyebabkan kelelahan fisik dan batin.

Mengenai bagaimana untuk bisa pulih dengan trauma, psikolog menyarankan beberapa hal yang sesuai dengan kondisi saya.

Bercerita mengenai kejadian ini. Saya menyadari bahwa saya perlu bercerita kepada orang-orang yang mendengar, peduli, dan bersimpati. Bukan kepada orang yang menyalahkan secara langsung (“Ya elu sih pake baju kurang bahan”), maupun secara tersembunyi (“Ih kok lu diem aja sih? Kalo gue mah udah gue tendang kali ‘barangnya’ biar impoten sekalian.”)

Berbicara mengenai kejadian ini membantu saya untuk memberi konteks, dan juga membantu emosi saya untuk mengejar rasional dan logika saya, sehingga saya lebih tenang dan bisa merasa lebih seimbang.

Merawat diri. Cukup tidur, cukup hidrasi, dan makan enak adalah bentuk tindakan self-kindness yang bisa meningkatkan mood untuk merasa lebih baik. Juga, katakan hal-hal yang positif. Sebagai contoh, sang psikolog menyarankan saya untuk memaafkan diri saya sendiri karena tidak mampu merespons lebih. Bahwa, tidak apa-apa, it’s okay, saya berada dalam situasi genting yang tidak memungkinkan saya untuk merespons secara maksimal.

Bersosialisasi. Tidak melulu membicarakan apa yang telah terjadi, tetapi berada dengan orang lain membantu untuk saya kembali ke kehidupan normal. Bahwa sesungguhnya masih banyak hal lain di hidup ini yang bisa saya pikirkan dan lakukan. Bahwa walaupun insiden-insiden tersebut terjadi, saya mempunyai pilihan untuk tetap beraktivitas.

***

Akhir kata, saya juga masih tidak punya solusi permanen dalam menghadapi pelecehan seksual secara spesifik. Saya sendiri masih dalam proses. Akan tetapi, jika kamu di luar sana mengalami hal yang sama, kamu tidak sendiri. Dan jika kamu mendengar orang lain mengalami pelecehan seksual, tolong jangan disepelekan. Paling tidak, jadilah seorang pendengar tanpa menilai atau memojokkan. 

Dan tolong, jangan lecehkan orang lain. Kalau melihat ada orang yang sepertinya melecehkan, lakukan sesuatu.

Tolong.

[]

Belajar Menjual Diri

TAHUN baru, pekerjaan baru di kantor yang baru, tentu dengan suasana dan nominal gaji yang baru pula. Itu yang biasanya berlaku di kota-kota besar. Terutama bagi mereka yang (merasa) memiliki keleluasaan untuk bekerja bukan demi penghasilan dan nafkah, sehingga bisa dengan mudahnya menolak sebuah tawaran pekerjaan dengan alasan: “Kantornya gak asyik, ah.” 

Banyak hal mengejutkan yang saya temui di tahun pertama merantau ke Jakarta. Durasi bekerja, salah satunya. Ketika banyak yang mengeluh susahnya mencari pekerjaan—entah apa pun alasan dan faktor penyebabnya, tetapi tak sedikit pula yang berhenti bekerja (kurang dari 18 bulan) dengan ringannya, untuk langsung aktif berkantor di tempat baru sekira dua bulan kemudian. Seseorang yang angka usianya belum 30 dan bekerja hampir sepuluh tahun di satu perusahaan tampaknya adalah sesuatu yang langka—atau, agak bodoh, menyia-nyiakan waktu dan kesempatan, barangkali.

Tidak ada yang salah dari keputusan tersebut. Setiap orang berhak untuk memilih pekerjaan; kantor yang ingin mereka datangi; dan bebas membuat pertimbangan atas setiap keputusan yang diambilnya. Lagipula, kalau ada tawaran pekerjaan serta tempat bekerja yang lebih baik dari segi kenyamanan, penghasilan, reputasi, sistem kerja, sistem pengembangan kemampuan personal, dan sebagainya, mengapa tidak? Bisa lebih maju, lebih ternama, dan lebih kaya. 

Baru di Jakarta pula saya menyadari bahwa mereka yang bekerja bisa terbagi dalam dua kategori: Bekerja karena pekerjaan itu sendiri, dan Bekerja demi taksiran nilai diri (valuation). 

Kelompok pertama, mereka yang bekerja karena pekerjaan itu sendiri, memiliki beragam alasan dan latar belakang. Termasuk;

  • Harus bekerja demi mendapatkan penghasilan,
  • Bekerja karena tuntutan orang tua atau keluarga,
  • Bekerja di perusahaan orang tua,
  • Bekerja karena menyenangi pekerjaan itu,
  • Bekerja karena sesuai dengan keahlian,
  • Tetap bekerja karena komitmen pada diri sendiri,
  • Tetap bekerja karena ingin menuntaskan atau mencapai sesuatu terkait pekerjaan tersebut (terfokus pada hasil pekerjaan, bukan siapa yang mengerjakannya),
  • Tetap bekerja karena telah menjadi zona nyaman atau malas untuk memulai lagi,
  • Bekerja karena pekerjaan itu terlalu spesifik bagi orang lain, atau
  • Bekerja karena tuntutan sosial, dan banyak lagi. 

Berbeda dengan kelompok kedua, yang bekerja sedemikian rupa untuk meningkatkan “banderol diri”. Caranya dengan terus menambah, melengkapi, dan mempercantik portofolio pekerjaan yang sudah maupun sedang berlangsung. Dengan atau tanpa penjelasan tentang eksekusi, apalagi capaian akhir dari pekerjaan tersebut. Secara garis besar, yang mereka lakukan adalah tentang memasarkan diri sendiri, sebagai seseorang yang berkeahlian dan mampu mengerjakan sesuatu/beberapa hal. Self-marketing and personal branding

Caricature for LinkedIn job titles meme
Source: Pinterest

Sekali lagi, tidak ada yang salah dengan self-marketingself-promotion, maupun personal branding. Wajar, lantaran setiap orang mengejar aktualisasi diri. Perasaan sebagai seseorang yang signifikan, yang patut dikejar karena kualitasnya, dan punya fungsi eksistensi khusus. Sebab, baik mereka di kelompok pertama atau pun kelompok kedua pasti harus berurusan dengan ekspektasi. Menghadapi ekspektasi atas diri sendiri, dan menghadapi ekspektasi orang lain/atasan/perusahaan terhadap diri sendiri.

Sementara itu, mengapa mereka berusaha meningkatkan taksiran nilai diri? Entah. Ego-feeding, mungkin? Karena merasa sedemikian berharganya dalam industri. Terutama yang punya segmentasi sempit. Misalnya seperti di era ekonomi digital sekarang ini, kebutuhan tenaga kerja di bidang teknologi informasi untuk Developer, Programmer, Project Manager, dan lain-lain sedang tinggi-tingginya. Setiap perusahaan, startup dan korporasi, seakan-akan berlomba-lomba mempekerjakannya. Sebagai konsekuensi, tentu ditawarkan penghasilan dan fasilitas yang menggoda. Yang bersangkutan pun bisa dengan santainya melakukan negosiasi demi mendapatkan hasil semaksimal mungkin. Jika penawaran dirasa kurang cocok, dia bisa menjawab “Ehm… saya coba pikir-pikir dulu, ya,” dengan penuh keyakinan dan percaya diri.

Ya! Kepercayaan diri. Ekspresi yang menunjukkan bahwa “Ini, lho. Aku.

Related image
Source: smokeylemon.com

Selebihnya, tak hanya ditawari pekerjaan di perusahaan baru nan bonafide, peningkatan taksiran nilai diri juga membuatnya berpeluang mendapatkan peningkatan status profesional. Berkedudukan sebagai supervisor di perusahaan sebelumnya, ditawari menjadi manajer di perusahaan baru. Berkedudukan sebagai General Manager (GM) di perusahaan saat ini, ditawari menjadi Vice President (VP) di perusahaan berikutnya. Bangga? Tentu saja.

Apabila penawaran diterima, tinggal dilihat saja pembuktiannya. Pakai ungkapan: “Sejago-jagonya seseorang memasarkan dirinya sendiri, pada akhirnya tetap tergantung penilaian orang lain juga.” 

Kemampuan memasarkan dan meningkatkan nilai diri, mestinya sepaket dengan kemampuan melindungi dan menjaga reputasi. Termasuk kemampuan bekerja sebaik mungkin. Toh, namanya juga pekerja, seseorang yang bekerja pada sang pemilik.

Jangan sampai terlampau terguncang, ketika dikomentari: “Oh, ternyata begitu doang.”

[] 

Diganggu Suara

SUARA berkecap (bukan kécap), yaitu ketika seseorang mengunyah makanan dengan antusias tanpa mengatupkan bibir, alias dengan mulut terbuka. Suara itu muncul ketika lidah–yang basah–terlepas dari langit-langit mulut. Terdengar berulang, dan tentu saja nyaring.

Suara berserdawa. Setelah makan, gas terdorong keluar beserta aromanya. Dalam beberapa komunitas budaya, berserdawa adalah tanda kepuasan, kenikmatan dari bersantap, sekaligus ekspresi terima kasih kepada si pemberi makanan (karena sudah memberikan hidangan senikmat itu). Namun, ada sejumlah komunitas lain yang berpendapat sebaliknya. Begitu pula dengan suara menyeruput minuman.

Suara berdecak, tetapi bukan decak kagum, melainkan ekspresi rasa kesal. Kita pasti tahu bahwa seseorang sedang kesal, atau merasa tidak suka terhadap sesuatu jika dia berdecak. Tak hanya dari orang lain, kita sendiri pun bisa saja mengeluarkan suara tersebut tanpa sadar … dan membuat suasana jadi kurang nyaman.

Suara berdengus, yaitu ketika seseorang berusaha mengembuskan napas lewat hidung dengan keras dan kencang, seolah-olah ingin mengenyahkan sesuatu karena merasa gatal atau tidak nyaman. Bisa debu, rambut hidung rontok, upil, ingus, serangga, dan sebagainya.

Suara berludah dan mendahak. Tahu sendiri, kan, ya. Suara yang dihasilkan ketika seseorang berusaha mendorong sesuatu–lendir–dari area pangkal lidahnya. Tak ada yang salah dari aktivitas ini, selama tidak dilakukan secara terbuka di depan umum lengkap dengan hasil akhirnya.

Suara menyedot udara dari sela atau lubang gigi. Biasanya dilakukan setelah makan, ketika ada serat daging atau secuil sayuran kasar tersangkut di celah-celah gigi. Aktivitas ini dilakukan untuk mencopot potongan makanan tersebut dari posisi awalnya.

Suara mengembuskan napas lewat mulut untuk menyuruh diam, tidak berisik. Karena bertujuan untuk menghentikan kebisingan, suara “ssst…” tersebut justru terdengar lebih nyaring, dan justru menambah keributan. Makin keras embusan napasnya, makin kencang suaranya.

Bagi kita yang kerap terganggu dengan bunyi-bunyian tersebut, selalu timbul perasaan tidak nyaman yang sulit dijelaskan. Pokoknya tidak suka, saja. Apabila sudah tak tertahankan, kita pun bisa memberikan respons yang tak kalah negatifnya. Mulai dari ekspresi wajah, sekadar raut muka, sampai menegur yang bersangkutan.

Pertanyaan pertama: Mengapa kita terganggu?

Ada yang mengaitkannya dengan standar nilai dan kepatutan sosial, lantaran bunyi-bunyian tersebut dibuat dan didengar di ruang umum. Bagi pelaku, bunyi-bunyian tadi mungkin dianggap wajar karena begitulah kebiasaan yang terjadi di lingkungannya. Sebaliknya, bagi orang lain yang terpaksa harus mendengar, tindakan tersebut dinilai tidak sopan dan mengusik.

Sayangnya, penilaian yang demikian berpotensi menarik masalah lebih jauh; memunculkan ilusi derajat. Dalam lingkungan pergaulan modern masa kini, si pelaku bisa saja dianggap kampungan, tidak terdidik, berperilaku miring, berkelakuan jorok, beretiket rendah, dan menjadi cibiran lebih lanjut. Padahal, si pelaku mungkin tidak tahu bahwa kebiasaannya tersebut bukanlah sesuatu yang lazim bagi orang lain. Dia tak sepenuhnya salah dalam ketidaktahuannya tersebut.

Lalu, pertanyaan kedua: Bagaimana menyikapi perasaan terganggu itu?

Orang lain yang mengeluarkan suara, tetapi kita yang merasa terganggu dan merasa tidak nyaman. Wajar bila kita merasa sebagai korban, sebagai yang tertimpa dan berada di situasi tidak menyenangkan. Kita dibuat susah oleh suara, sementara si pemilik suara tersebut tetap bersikap biasa-biasa saja.

Apakah perasaan terganggu itu sedemikian penting untuk diperhatikan? Idealnya, akan lebih baik bila waktu, tenaga, dan perhatian yang kita miliki saat itu diarahkan kepada hal-hal produktif serta bermanfaat. Kalau tidak bisa, ya tidak apa-apa. Silakan beranjak, menyingkir dari situ. Sebab pada dasarnya kita tidak memiliki tanggung jawab moral untuk mendidik orang lain begitu saja. Lagipula, apa hak kita memberikan pengajaran kesopanan di depan umum?

Apakah sebaiknya kita lampiaskan dengan marah-marah, atau kita tinggalkan saja?

Kembali mengacu pada pandangan di atas, ada tenaga dan waktu yang kita curahkan saat marah-marah. Emosi dan suasana hati pun ikut berubah karenanya. Silakan ditanyakan kembali kepada diri sendiri, apakah hal itu berfaedah?

Meninggalkannya begitu saja merupakan salah satu respons yang alamiah. Sayangnya, hal ini tidak bisa dilakukan ketika Anda sama-sama terjebak dalam satu ruang dengan si pelaku. Beruntung ada earphone, yang bisa membantu kita terhindar dari bunyi-bunyian tersebut. Apabila tidak punya, ya, mohon maaf, saatnya kita mengamati batin kita sendiri.

Apakah kita mampu mengabaikannya? Pertanyaan ini relatif susah dijawab. Kemampuan mengabaikan sesuatu yang mengganggu memiliki beberapa dimensi. Termasuk aspek psikologis, dan kekuatan/kebebalan sendiri.

Dari perspektif psikologi, ketidaknyamanan itu disebut misophonia. Khususnya yang sudah mencapai kadar berat. Secara alamiah, orang-orang dengan misophonia akan mencari cara untuk terhindar dari gangguan bunyi tersebut. Ibarat berusaha melarikan diri, mereka akan merasa gelisah dan bisa saja memilih untuk keluar ruangan, mengenakan pengedap suara, atau mencari cara lain agar terpisahkan dari bunyi-bunyian tersebut berupa pengalihan. Termasuk dengan menutup telinga dan sambil bersenandung sendiri. Semua itu dilakukan sampai bunyi-bunyian berlalu.

Uniknya, para pemilik misophonia hanya terganggu apabila bunyi tersebut berasal dari orang lain. Dia tidak akan seterganggu itu jika bunyi yang sama berasal dari dirinya sendiri. Belum ada studi mendalam lebih lanjut tentang ini, dan misophonia baru dianggap sebagai bentuk sinestesia (tautan indra) antara suara serta perasaan. Kendati demikian, tercatat belum ada penyebab pasti dari munculnya kondisi misophonia tersebut.

Di sisi lain, pendekatan berbeda akan diambil oleh para meditator–orang-orang yang berlatih meditasi. Alih-alih mengalihkan perhatian, atau berkeras hati menahan ketidaknyamanan yang timbul, mereka akan berusaha melalui dan mengamati bunyi-bunyian tersebut. Hanya mengamati, menonton perubahan batin. Tidak semudah kedengarannya, memang, sebab pengamatan dilakukan dengan apa adanya. Tanpa menganalisis, tanpa menilai, tanpa membubuhkan apa-apa. Konon, di level paling halus, sang meditator dapat menyadari kemunculan sesuatu yang asalnya terasa netral, hingga kemudian berangsur-angsur berkembang menjadi perasaan tidak nyaman tersebut. Lewat proses pemahaman yang tepat, batin mereka tak lagi mudah digoyahkan oleh perasaan tak nyaman dari bunyi-bunyian tersebut. Tidak reaktif, tidak meledak-ledak. Kemunculan sampai hilangnya respons batin tersebut terlihat dengan gamblang. Ibarat Neo dari “The Matrix” atau Flash yang mampu menghindari peluru dan membiarkannya lewat tanpa perlu melakukan apa-apa.

Apabila tak lagi terganggu dengan suara–asupan indra pendengaran–tersebut, hidup kita sedikit lebih tenteram. Bukan lantaran menghilangkan sumber suara, atau menghilangkan perasaan maupun kemampuan merasa, melainkan kokoh, tak tergoyahkan. Energi dan perhatian pun bisa dialihkan untuk hal-hal lain yang lebih penting.

[]

“10 Annoying Sounds People Need to Stop Making”
“Mipsohonia: Triggers & Management”

Pasal 5 RUU Musik Bukan Pasal Karet, Namun Pasal Kondom Karena Mencegah Lahirnya Kreativitas Bermusik Anak Bangsa

Apakah anda pernah membayangkan jika kata “musik” tidak pernah berdekatan dengan kata “seni”? Maka musik menjadi kering dan sunyi.

Lantas beberapa manusia yang dibekali amanah untuk memajukan dunia kebudayaan, kesenian, justru merusak kebahagiaan umat Indonesia dengan keisengannya melemparkan kerikil RUU permusikan dalam ketenangan danau nusantara. Menimbulkan riak-riak kecil. Tidak mengganggu kita, hanya bikin risih saja. Tidak menyakitkan, namun bikin mual. Tidak berdarah, hanya jadinya bikin muntah.

Jika Anda belum pernah membaca RUU ini, sebaiknya tidak perlu dibaca. Tak ada guna. Namun jika daripada waktunya untuk ghibah sana-sini, silakan bisa tengok berkas ini: RUU Musik

Bagaimana Cara Membedah RUU?

Sama seperti membedah masakan. Kita juga sebaiknya mengetahui bagaimana cara memasaknya, apa saja bahan-bahannya, dan berapa lama waktu yang dibutuhkan.

Tapi sebelum jauh kesana, yang sifatnya terlalu teknis, cobalah anda baca sedikit RUU ini yang begitu memilih diksi dengan saringan berupa “pengharaman kata SENI” di dalam draft RUU. Sebuah upaya kejahatan kemanusiaan paling serius ketika “musik” dipisahkan dari bundanya tercinta: Seni.

07_b

Bahkan dalam mitologi Hindu, Seorang Dewi bernama Saraswati, melindungi jiwa-jiwa manusia yang berkesenian. Senantiasa menumbuhkan harapan berkreativitas dan mengekspresikan diri hingga larut dalam karya.

Jiwa suatu undang-undang terletak dalam bagian konsiderans atau pertimbangan. Disanalah pijakan filosofis dari sebuah peraturan mulai dibangun.

bahwa musik sebagai bagian dari budaya berfungsi sebagai perekam nilai kehidupan dan jejak sejarah peradaban bangsa Indonesia serta menjadi aset penting dalam pemajuan kebudayaan perlu dipelihara, dilestarikan, dan dikembangkan;

bahwa saat ini masih terdapat permasalahan dalam permusikan yang terkait dengan penyelenggaraan, pelindungan, dan pendataan serta pengarsipan sehingga perlu dilakukan penataan yang komprehensif agar permusikan dapat berkembangsecara berkesinambungan dan memberikan manfaat bagi kemajuan bangsa;

bahwa peraturan perundang-undangan yang ada belum mampu memenuhi perkembangan hukum dan dinamika masyarakat sehingga diperlukan payung hukum yang dapat mewujudkan penyelenggaraan permusikan yang baik dan memberikan kepastian hukum;

bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu membentuk Undang-Undang tentang Permusikan;

Bayangkan betapa najisnya kata “Seni” dipergunakan dalam ketentuan ini. Bagi perancang undang-undang ini, Seni adalah kata yang sangat berbahaya. Karena disana terkandung makna tak tepermanai. Seni membebaskan ekspresi. Seni membebaskan diri dari belenggu kemunafikan. Seni membuat manusi tetap waras menjadi manusia.

Lihat saja paragraf awal sebagai batu pondasi ketentuan ini. Musik oleh si perancang, adalah alat perekam. Jika sekarang dapat dikatakan sebagai recorder yang aplikasinya ada di setiap gawai pintar. Musik juga sebatas aset. Musik adalah jejak.

Perancang justru tidak memiliki jiwa relijius. Musik adalah seni. Sebuah naluri manusia yang diteteskan dari sifat “Jamaliyah Tuhan”. Bahwa kodrat manusia adalah mencintai keindahan. Musik adalah cabang kesenian. Ia adalah bagian dari Keindahan. Jadi ia diciptakan bukan merekam manusia. Namun justru jauh lebih mulia dari itu:

Musik tidak dapat dikungkung semata-mata “Bangsa”. Dengan kalimat “jejak peradaban bangsa’, adalah pengkerdilan musik dari nilai universal dengan alat bonsai bernama chauvinistik.

Musik adalah ekspresi individu. Namun bisa jadi diminati dan dimainkan oleh sebuah kelompok dan komunitas. Bermusik dan berkesenian adalah tindakan manusia bukan sebagai warga negara suatu bangsa, bukan sebagai bagian dari suatu suku, melainkan dirinya yang mempersembahkan karya untuk kemanusiaan dirinya yang universal. Soal dimainkan dengan alat yang sifatnya lokal, seleranya lokal, itu adalah soal akar kemanusiaannya. Namun pohon musik mengarah pada langit luas kodrat manusia yang berekspresi.

Hal kedua yang perlu disikapi adalah pertanyaan besar bagi perancang undang-undang soal musik sebagai bagian peta lokal dari gambaran besar kemajuan industri kreatif. Justru DPR sebagai perancang melompat ke garis perlindungan, pendataan, tanpa bicara manfaat utama itu semua: Menjadi bagian dari sebuah wilayah profesi, wilayah industri, wilayah ladang rejeki.

Mengapa tidak sama sekali disinggung soal kejujuran kita bahwa kebermanfaatan  musik adalah sebagai ladang ekonomi juga. Bahwa musik adalah bagian dari cetak biru industri kreatif yang merupakan bagian dari hal utama yang dapat menjadi sumber penciptaan ekonomi baru bagi negeri ini. Jika saja itu tidak disinggung atau tidak dipikirkan, maka sudah ketahuan kemana larinya RUU ini.

Permusikan yang baik dan kepastian hukum. Itu kira-kira.

Sayangnya permusikan yang baik dalam RUU ini adalah sebatas musik yang sopan dan tidak menyinggung SARA, dan mengenai kepastian hukum adalah soal perlindungan industri rekaman komersil.

Padahal dalam pertimbangannya, RUU ini tidak secara tegas diatur soal musik sebagai budaya yang muncul dari paguyuban dan produksi musik yang muncul dari sebuah patembayan. Bagian mana musik tang ting tung semacam gamelan bermusik tradisional, dan mana genjrang genjreng musik sebagai produk komersil yang dijual di itunes.

Pada saat mengetik RUU ini, para wakil kita di DPR mungkin hanya ketitipan draft dan bukan murni buah pikir mereka. Mereka tidak tahu bagaimana besarnya industri musik Korea. Bagaimana laba itunes bisa diraup.

Siapa pengusul RUU ini

RUU ini hanya sebatas RUU sebagai pekerjaan rumah yang selesai-tidak selesai dikumpulkan demi janji kepada industri rekaman dan distribusi besar.

DPR terlalu banyak janji sehingga jelang ganti anggota Komisi di tahun 2019 lekas-lekas bikin RUU ini bagi para penyokongnya di dunia industri. “Kami sudah buat lho ya?”. Demikian kira-kira.

Dengan penggunaan Pasal 20, 21 dan pasal 32  ayat (1) UUD 1945, maka diketahui pasti bahwa pembuat rancangan ini adalah DPR. Pasal 20 bicara usulan DPR. Pasal 21 bicara hak DPR mengusulkan Undang-undang, dan Pasal 32 ayat (1) bicara soal Negara memajukan budaya nasional.

Poin Cacat

Beberapa poin cacat yang ada dalam RUU ini adalah:

Pasal 5. Ini adalah Pasal Kondom

Tinggal pilih saja merupakan titipan siapa: Penguasa, Polisi, atau Politisi yang cari muka. Keuntungan Pasal 5 adalah bagi penguasa bisa mencokok lagu lagu kontroversial. Bagi polisi, ini mesin ATM baru. Dengan pasal ini mereka bisa proses hukum siapapun dengan dugaan melanggar pasal 5.

Pasal 5

Dalam melakukan Proses Kreasi, setiap orang dilarang:

a. mendorong khalayak umum melakukan kekerasan dan perjudian serta penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya;

b. memuat konten pornografi, kekerasan seksual, dan eksploitasi anak;

c. memprovokasi terjadinya pertentangan antarkelompok, antarsuku, antarras, dan/atau antargolongan;

d. menistakan, melecehkan, dan/atau menodai nilai agama;

e. mendorong khalayak umum melakukan tindakan melawan hukum;

f. membawa pengaruh negatif budaya asing; dan/atau

g. merendahkan harkat dan martabat manusia.

Nafas dari pasal ini adalah nafas kekuasaan. UU permusikan tidak sedang bicara sebagai alat rekam peradaban bangsa seperti yang ia sendiri cita-citakan atau sebagai arsip. Ini adalah pasal utama yang dikedepankan sebagai alat negara mengontrol jiwa berkesenian.

Parahnya adalah gandengan dari Pasal 5 adalah Pasal 50 yang bicara sanksi pidananya.

Pasal 50

Setiap orang yang dengan sengaja melakukan Proses Kreasi yang mengandung unsur:

a. mendorong khalayak umum melakukan kekerasan dan perjudian sertapenyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya;

b. memuat konten pornografi, kekerasan seksual, dan eksploitasi anak;

c. memprovokasi terjadinya pertentangan antarkelompok, antarsuku, antarras, dan/atau antargolongan;

d. menistakan, melecehkan, dan/atau menodai nilai agama;

e. mendorong khalayak umum melakukan tindakan melawan hukum;

f. membawa pengaruh negatif budaya asing; dan/atau

g. merendahkan harkat dan martabat manusia, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 dipidana dengan pidana penjara paling lama … tahun atau pidana denda paling banyak …

Jika saja penguasa dan pemilik kepentingan atas RUU ini agak pandai, maka biarkan musik diberlakukan minimal seperti dunia perfileman. Perluas saja lembaga sensor filem menjadi sensor filem dan musik. Jika ada hal yang berkaitan dengan isu-isu tertentu, silakan sensor, namun bukan bermain di wilayah pidana.

Ini adalah pilihan terburuk. Sensor adalah kuno. Namun jauh lebih kuno jika musik menjadikan seseorang bisa dipidana. Inilah alasa utama betapa najisnya “kata seni” muncul di RUU ini. Karena jika ada kata seni, maka kebebasan berekspresi yang dikandungnya mencegah pihak berwenang melakukan tindakan-tindakan hukum yang telah dipesankan oleh entah siapa.

Sebagian pemusik bicara soal pasal karet. Bagi saya, pasal ini adalah pasal kondom, Mencegah lahirnya kreativitas dunia bermusik. Semua warga jika bercinta harus pakai kondom. Lambat laun maka negeri ini akan hilang dari muka bumi karena kehabisan warga negara.

Matre

Perlu juga disikapi sifat matre pembuat undang-undang ini dengan lahirnya Pasal 12.

Pasal 12

(1) Pelaku usaha yang melakukan Distribusi wajib memiliki izin usaha sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

(2) Selain memiliki izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pelaku usaha yang melakukan Distribusi wajib memperhatikan etika ekonomi dan bisnis.

Pertanyaannya simpel: Bagaimana dengan kelompok musik indie, yang menjual kasetnya dan CD-nya atau apapun format medianya, melalui jalur indie juga, dari tangan ke tangan, dari individu ke individu, dan dari hati ke hati.

Tidak semua orang bermusik ingin pakai izin sana sini. Mereka hanya ingin banyak pendengar. Bukan ingin banyak laba. Izin usaha semacam apa yang diperlukan? Ini jauh lebih karet. karena memberikan keleluasaan tak terbatas apa saja izin usaha yang nantinya akan dirancang.

Bukan rahasia lagi jika ada izin berarti ada “cost”.

Cost berarti pitih, duit, money, uang. Apakah industri musik juga berfungsi sebagai alat pemasukan negara non pajak? Seharusnya tidak, karena dalam RUU musik sama sekali tidak disinggung soal peta industri kreatif. Jika tidak, maka izin ini seharusnya ditegaskan bagi sebuah indutri musik komersial.

Pasal 31 Yang Kontraproduktif

Akibat Pasal 20 dan 21 yang bilang bahwa:

Pasal 20

(1) Penyelenggaraan Musik harus didukung oleh Pelaku Musik yang memiliki kompetensi di bidang Musik.

(2) Dukungan Pelaku Musik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan mewujudkan sumber daya manusia yang profesional dan kompeten di bidang Musik.

Pasal 21

Kompetensi di bidang Musik diperoleh melalui jalur pendidikan atau secara autodidak.

 

Maka tentu ada uji kompetensi. Sejak kapan skill seni, selera seni, dapat ditakar dalam sebuah parameter bernama kompetensi? Gilalundro. Norma yang sungguh gondrong ikan!

Pasal 31

(1) Kompetensi yang diperoleh secara autodidak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 dilakukan dengan cara belajar secara mandiri.

(2) Pelaku Musik yang memperoleh kompetensi secara autodidak dapat dihargai setara dengan hasil jalur pendidikan formal setelah melalui uji kesetaraan yang memenuhi standar nasional pendidikan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah.

 

Selain pasal kondom dan soal matrealistis industri musik yang akan dibangun, maka ada baiknya RUU ini yang merancangnya ngobrol dengan Menteri Tenaga Kerja dan Bekraf dan Diknas:

“Mengapa RUU ini bicara juga soal uji kompetensi?”

Padahal sejak awal RUU ini tidak secara tegas bicara soal musik bagian dari seni maupun musik bagian dari industri kreatif. Awalnya RUU ini bicara musik sebagai alat rekam. Butuh jejak yang ditatausahakan. Namun dalam perjalanan pasalnya justru mengarah pada tindakan pengungkungan konten musik dengan Pasal kondom, dan kewajiban izin usaha layaknya sebuah industri besar. Ada kebancian yang dibangun dengan malu-malu. Sejatinya RUU ini RUU apa.

Mereka lupa bahwa musik adalah seni. Seni dalam jiwa manusia juga terdapat bagian “bakat”, walau tidak sepenuhnya. Ada sebagian manusia yang tidak perlu diujikan kompetensinya, tapi telah dianugerahi sebuah kemampuan luar biasa mencipta atau memainkannya.

RUU ini tidak kenal istilah bakat. 🙂

Pasal kondom titipan penegak hukumkah?

Pasal matre titipan industri besarkah?

Lalu ada uji kompetensi dan asosiasi musik. Ujikompetensi dilakukan oleh LEM BA GA YANG DI TUN JUK PE ME RIN TAH…

hadirin tepuk tangan.

Apakah hendak membuat kolam jabatan baru untuk sebuah industri yang seharusnya justru diperkuat soal penegakan HAKI, integritas penegak hukum dalam pengentasan pembajakan, serta soal kejelasan prosedur mengadakan pertunjukan langsung agar masyarakat negeri ini tidak hampa hanya disuguhi pembodohan intelektual semata.

Maka, jika anda masih ingin membuat RUU musik, maka buatlah saja yang baru. Yang memuliakan musik seperti seni-seni lainnya.

Ini bukan titipan siapa-siapa. Ini hanya titipan ilahi.

Dan dengarkanlah lagu ini.

 

Salam anget,

Roy

Apa Kabar, New Year’s Resolution?

Tulisan ini saya buat dan diunggah pada hari terakhir bulan Januari. Tepat sebulan setelah malam perayaan tahun baru, jadi rasanya pantas kalau bertanya, “Apa kabar dengan new year’s resolutions kita?”

Saya sendiri bukan termasuk orang yang rajin membuat new year’s resolutions dan semacamnya. Rencana kerja dan rencana lain, memang saya buat, tapi bukan termasuk dalam kerangka new year’s resolutions dengan janji bahwa pada tahun ini, saya akan dan harus melakukan A, B, C dan sebagainya. Entah kenapa, konsep new year’s resolutions tidak pernah mengusik rasa penasaran saya untuk membuatnya.

Di sisi lain, saya melihat ada beberapa teman yang benar-benar menaruh perhatian besar pada new year’s resolutions ini. Mereka seperti pledge themselves atau berjanji pada diri mereka sendiri untuk benar-benar melakukan apa yang mereka sudah rencanakan. Kalau sudah begitu, maka new year’s resolutions bisa menjadi penyemangat tersendiri, memberikan motivasi, karena sense of completion terhadap apa yang sudah kita rencanakan itu sungguh sangat memuaskan rasanya.

Nah, kembali ke pertanyaan saya di atas, bagaimana new year’s resolutions kita di akhir bulan pertama di tahun yang baru?

Kalau masih on track, bagus. Semoga bisa terus dilanjutkan sampai akhir tahun. Masih ada 11 bulan lagi ke depan. Semoga stamina untuk melakukan apa yang direncanakan, bisa jadi kenyataan.

Kalau sudah berubah, bagus. And that is okay. Super okay. Apapun dan bagaimanapun rencana kita yang mungkin sudah kita buat sedetil dan serapi mungkin, selalu saja ada faktor eksternal berupa kejutan dalam hidup yang tidak kita duga. Kalau sudah begitu, mau tidak mau kita harus beradaptasi. Perubahan itu wajar terjadi. Kalau tidak berubah, malah kita yang nanti ketinggalan.

Buat saya sendiri, bulan Januari ini sangat mengejutkan. Sampai sekarang masih recovering dari kejadian naas di awal tahun, yang pernah saya tulis di Linimasa beberapa minggu lalu. Satu kejadian yang sontak mengubah cara saya memandang hidup, mengamati orang lain, dan menerima apa yang bisa saya kontrol, dan apa yang tidak bisa saya kontrol. Dan yang pasti, melanjutkan hidup.

Karena itulah intinya kita menyikapi apapun yang kita rencanakan dan sedang kita hadapi sehari-hari, yaitu untuk tetap hidup dan membuatnya selalu lebih baik.

Semoga sisa 11 bulan di tahun 2019 ini membuat kita lebih produktif dan menikmati hidup.

1483735567

Shio di 2019 (4)

SHIO adalah soal keteraturan. Selalu ada pola yang tersedia untuk dicermati, dan dibaca secara garis besarnya. Deviasi atau penyimpangan-penyimpangan, bahkan perbedaan yang timbul pun biasannya tetap berkaitan dengan catatan utama. Kadarnya saja yang berbeda. Kecuali jika terjadi perubahan seketika, baik yang dapat dianggap sebagai anomali, atau–dalam bahasa sehari-hari–takdir.

Seperti horoskop ala barat, urutan shio tidak akan pernah berubah. Juga sama-sama berjumlah 12. Bedanya, horoskop barat didasarkan pada rasi bintang dan posisinya di langit, sehingga perubahan selalu terjadi dalam rentang per bulan. Itu sebabnya Ophiuchus bisa hadir menjadi zodiak ke-13, meskipun tampaknya tidak dipakai juga.

Lambang binatang dalam shio memang berjumlah 12. Perubahannya berlangsung setiap tahun, mengikuti penanggalan Imlek. Sederhananya, antara para pemilik shio tikus pasti memiliki selisih usia sejauh 12 tahun. Namun, satu siklus shio sebenarnya berlangsung lebih lama dari itu. Yakni per 60 tahun, lantaran memiliki unsur berbeda-beda. Sebagai contoh, Imlek tahun 2019 bershio babi tanah, maka shio babi tanah baru akan terjadi kembali pada Imlek tahun 2079! Situasi kehidupan tentu sangat berbeda, begitu juga kecenderungan-kecenderungan peruntungan yang bakal terjadi. Katakanlah, teknologi kesehatan kian maju, kesejahteraan global kian meningkat, dan sebagainya. Ramalan pun tak akan pernah sama. Sekali lagi, yang ada hanyalah kecenderungan-kecenderungan.

Hari ini, mari kita tak usah berberat-berat pemikiran membahas tinjauan filosofis dan sosiokultural atas shio. Pasalnya, masih banyak yang bahkan salah mengira shionya sendiri. Sekali lagi, kuncinya adalah pergantian tahun Imlek. Biasanya berlangsung di akhir Januari hingga pertengahan Februari. Jadi, perhatikan tanggal lahir. Apabila ragu, gunakan saja penyesuai penanggalan, alias konverter.

Berikut sedikit bocorannya, silakan ditambah/dikurang 12 tahun.

Tikus1984, 1996, 2008…
Kerbau/sapi1985, 1997, 2009…
Macan1986, 1998, 2010…
Kelinci1987, 1999, 2011…
Naga1988, 2000, 2012…
Ular1989, 2001, 2013…
Kuda1990, 2002, 2014…
Kambing1991, 2003, 2015…
Monyet1992, 2004, 2016…
Ayam1993, 2005, 2017…
Anjing1994, 2006, 2018…
Babi1995, 2007, 2019…

Begitu seterusnya.


Ayam

Lingkungan sekeliling berpengaruh besar bagi peruntungan para pemilik shio ayam kali ini. Dikhawatirkan, situasi saat ini tidak ideal untuk segala aspek. Ingin maju, terhalang-halangan keadaan. Ingin bertahan, malah diusik. Pokoknya tidak menyenangkan, deh. Untungnya, faktor ini tidak sampai menyebabkan kerugian yang signifikan, tetapi efeknya, rezeki terasa semakin sukar dicari. Sabar, ya…

Suasana di tempat kerja bisa menjadi agak parah, sih. Karena terlalu sering “ditusuk dari belakang” oleh rekan sekantor, akhirnya berdampak buruk para reputasi profesional. Kita dianggap tidak kompeten oleh atasan, kita merasa tidak nyaman bekerja di sana, dan bisa berpikir untuk berhenti atau pindah tempat tanpa pemikiran dan persiapan yang matang. Salah satu langkah yang disarankan tetaplah bekerja dalam ketenangan, cermat mengamati, dan disikapi dengan sebaik mungkin. Karena kegelisahan bisa membuat terasa tak tentu arah. Ambillah sejenak waktu untuk melihat diri sendiri dengan jernih, jangan langsung menarik diri. Pada akhirnya, bagaimanapun juga, berpindah tempat kerja atau memulai bisnis baru akan kurang tepat tahun ini. Terutama jika pendorongnya adalah perasaan kurang nyaman di pekerjaan sebelumnya.

Bagi para cowok bershio ayam, ada kecenderungan bertemu dengan cewek maupun calon pasangan yang keras kepala dan kuat kemauan. Ini berpotensi jadi masalah. Sebab sedikit banyaknya, calon pasangan yang bisa menunjukkan kemandirian, atau sikap tidak bergantung pada pasangan, bisa menimbulkan rasa terusik. Ada ego yang terusik. Di sisi lain, teman dan keluarga dapat membayang-bayangi hubungan yang terjalin. Sementara bagi yang telah berpasangan, potensi berselisih agak meningkat di tahun ini. Sayangnya, bagi para cewek bershio monyet, barangkali belum akan berkesempatan ketemu partner kencan dalam sementara waktu.

Amit-amit jangan sampai terjadi, sih, cuma di tahun ini akan lebih banyak peluang sakit gigi, selain sakit hati. Begitu pula dengan peluang digigit binatang, mudah-mudahan hanya kelas serangga dan yang lebih kecil. Guncangan-guncangan yang diharapkan hanya berdampak kecil.

Anjing

Bisnis para anjing akan stabil di tahun ini. Akan tetapi, jangan memulai sesuatu yang baru dulu. Kecuali jika tujuannya untuk belajar, atau untuk waktu yang singkat. Kalau panjang-panjang, takutnya bisa berakhir kegagalan, dan menyebabkan beban tambahan yang mestinya bisa dihindari. Belum lagi peluang dikhianti partner sendiri, nyesek banget, kan? Paling parah bisa menyebabkan kebangkrutan yang sama sekali tidak bisa diprediksi.

Banyak hal yang sebenarnya bisa selesai dengan lancar, tetapi masalah-masalah sampingan tetap tak bisa dihindari. Kalau sudah begini, selalu diingat kalau backup plan bisa sangat diperlukan, dan menghindari efek gempuran.

Asmara para anjing rada suram, sih, tapi tetap dengan harapan baik bahwa semua itu tak akan terjadi, ya. Soalnya ada potensi berpisah, dan peruntungan asmara lanjutan yang tidak terlampau baik sesudahnya. Masuk ke tahap mencari-cari lagi. Melelahkan, memang. Bisa saja menemukan, dan mencoba kencan dengan orang dari lingkungan kantor atau tempat kerja. Hanya saja, kalau sudah ada rasa, jangan buru-buru. Amati kecocokannya, lalu biar dibangun pelan-pelan. Supaya mengurangi efek buruknya. Seperti, tidak akan ada terobosan asmara di kemudian hari.

Soal kesehatan, setidaknya lebih baik dari tahun sebelumnya. Tetap dengan perhatian pada kaki, tangan, dan organ gerak. Hindari cedera-cedera yang sebenarnya ringan, tetapi mengganggu aktivitas keseharian.

Babi

Para pemilik shio babi di tahun ini ibarat memasuki ruang penyimpanan emas, baru ruangannya sih. Semacam brankas gede, begitu. Tandanya, ada banyak pintu untuk mendapatkan peningkatan rezeki. Selain dari bisnis dan usaha, juga dari investasi, atau objek spekulasi. Khusus yang investasi dan spekulasi, naik turunnya relatif besar. Bisa-bisa lumayan mengejutkan. Di sisi lain, siapkan anggaran untuk kesehatan. Kayaknya ada peluang untuk tambahan pengeluaran terkait itu.

Kinerja perusahaan memang akan maju, dan boleh banget melakukan pembesaran dan pengembangan, atau menjajaki bidang baru. Terlepas dari itu, dinamika dalam karier dan pekerjaan akan relatif ekstrem. Bahkan bisa berbuntut masalah terhadap kolega dan partner.

Untuk urusan asmara pun juga naik turun. Bagi para cowok, urusan romantisme akan datar-datar saja, sedangkan bagi cewek akan sebaliknya. Dalam hal hubungan, masalah justru muncul dari komunikasi. Baik kepada pasangan, maupun kepada keluarga. Bisa sampai menimbulkan perselisihan. Di sisi lain, karena perubahan pola pergaulan atau kesibukan, teman-teman aktif di tahun ini tidak sebanyak tahun lalu. Ada yang muncul dan aktif ngumpul, ada yang tenggelam dan malah ngilang. Ya, dinikmati saja.

Akan cenderung banyak mengalami sakit, “untungnya” yang berskala kecil. Termasuk sembelit. Kemudian waspadai luka yang bisa dihasilkan dari logam. Khusus wanita, mudah-mudahan dijauhkan dari gangguan khusus kewanitaan.

Semoga semua hal-hal positif menjadi kenyataan.

恭喜發財, 豬事勝意!

Selamat Imlek! Semoga menjadi tahun yang penuh keberhasilan, kemudahan, kebugaran, dan kebahagiaan.

[]

Shio di 2019 (1): Tikus, Kerbau/Sapi, Macan.
Shio di 2019 (2): Kelinci, Naga, Ular.
Shio di 2019 (3): Kuda, Kambing, Monyet.