Jejak Digital: UAS Ada di Semua Agama

NIAT menulis tentang ini (di blog pribadi) berawal dari sebuah pertanyaan sederhana: “Buddha pernah bilang sesuatu, atau ngasitau gimana seharusnya seseorang berbicara waktu ceramah, gak sih?

Pertanyaan ini memang dilontarkan dan dibahas secara internal di antara sesama Buddhis lewat grup WA. Dipicu beredarnya video tanya jawab majelis kajian Ustaz Abdul Somad (diunggah ke Facebook 15 Agustus), hingga kemudian beliau resmi dilaporkan ke polisi 17 Agustus, kemarin.

Sejauh ini, ada banyak orang yang terganggu, tetapi tak sedikit pula yang malahan bertanya: “Di mana salahnya?” dengan sederet alasan dan apologia. Lengkap dengan tagar, menjadikannya semacam gelombang kekuatan yang barangkali sukar digegar.

But anyway, kalau ngobrolin ini lebih jauh, ada beberapa hal yang saya yakini berlaku secara universal.

  1. Setiap agama, sebagai sebuah institusi, pasti memiliki pakem atau tata cara dalam berbicara, baik sebagai aktivitas sosial biasa maupun ketika berkhotbah. Ada ketentuan-ketentuan yang harus dijalankan; harus dihormati; harus dihindari; dan yang dianjurkan.
  2. Setiap orang, terlebih pembicara publik berbalut label profesi apa pun, memiliki karakteristik dan gaya berkomunikasi masing-masing. Mereka pun umumnya mampu melakukan penyesuaian di berbagai lingkungan atau suasana. Bukan dengan mengganti isi pesan yang akan disampaikan, tetapi gaya penyampaiannya.
  3. Ada sebagian orang yang gemar sekali berkelakar, ada pula yang cenderung gemar berolok-olok. Bedanya, kelakar dapat disampaikan secara terbuka kepada khalayak heterogen, sedangkan olok-olok yang sedemikian sensitif seringkali dicetuskan dalam lingkungan tertutup kepada khalayak homogen. Walaupun pada dasarnya, olok-olok tetap tidak sepatutnya dikemukakan karena tidak berfaedah, bertujuan tiada lain daripada menghina, serta tidak berkontribusi apa-apa dalam narasi penjelasan yang tengah dibawakan.
  4. Di berbagai kasus, kelakar atau olok-olok digunakan untuk memantik tawa dalam sesi public speaking, menarik kembali perhatian penonton hingga akhir durasi. Hanya itu fungsinya, dengan keterhiburan yang timbul kemudian sebagai efek samping.
  5. Oleh sebab itu, tidak menutup kemungkinan figur pengkhotbah yang kerap memanfaatkan kelakar dan olok-olok bukan Ustaz Abdul Somad seorang. Bisa jadi ada di semua agama resmi Indonesia. Termasuk yang Buddhis.

Mari dilihat satu-satu.

Poin 1

Untuk agama yang lain, silakan cari sendiri. Sebagai seorang Buddhis, saya mencoba menukil salah satu bagian mikro terkait hal ini (Aṅguttara Nikāya, 5.159 Udāyī). Yaitu, setidaknya ada lima kualitas internal yang harus ditegakkan seseorang sebelum memaparkan Dhamma atau berkhotbah.

  • Menyampaikan khotbah secara bertingkat,
  • Menyampaikan khotbah berisi alasan-alasan (di balik penjelasan),
  • Menyampaikan khotbah yang simpatik,
  • Menyampaikan khotbah bukan demi materi (dan perolehan-perolehan lainnya),
  • Menyampaikan khotbah yang tidak membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Disimak sepintas, tidak ada yang terlampau spesifik dari hal-hal di atas. Seseorang pun tak perlu menjadi Buddhis supaya bisa menyadari bahwa lima kualitas internal tersebut memang sebaiknya diperhatikan sebelum menggegaskan sebuah pesan kepada orang banyak.

Penyampaian secara bertingkat berarti menyesuaikan bobot pesan dengan penerimanya. Jangan terlalu canggih, terlalu tinggi, terlalu sulit dijangkau tetapi tidak bisa dipahami orang lain. Saking kedengaran rumitnya, para hadirin hanya bisa manggut-manggut tanpa memahami sepenuhnya, atau bingung sekalian.

Jelaskan menggunakan alasan-alasan, agar yang disampaikan benar-benar bisa ditangkap, mengundang untuk dipikirkan lebih jauh, dan memahamkan.

Sikap dan penyampaian yang simpatik menyentuh sisi manusiawi dalam berceramah. Tujuannya pun untuk menanamkan pengertian, bukan untuk menghakimi atau malah mendorong banyak orang melakukan keburukan, apalagi memperluas ketidaksukaan. Juga bukan demi mengumpulkan donasi untuk pribadi, atau meningkatkan popularitas.

Terakhir, bijaklah dalam bersikap. Sampaikanlah sesuatu yang tidak membahayakan diri sendiri dan orang lain, bukan terkait hinaan atau cercaan, melainkan situasi yang tengah terjadi. Ini pun baru aspek sederhananya saja.

Mengingat hal-hal di atas bersifat universal dan tidak ekslusif milik Buddha dan umat Buddha semata, mari kita exercise sejenak. Merujuk pada video tanya jawab Ustaz Abdul Somad, hal-hal mana saja yang terpenuhi dan tidak?

Poin 2

Para pemuka agama sejatinya adalah public speaker, sekaligus marketer. Tatkala berceramah, tentu ada tujuan yang ingin dicapai. Kala menjelaskan sesuatu, atau menjawab pertanyaan-pertanyaan praktis (berkaitan dengan kehidupan keseharian) dari perorangan, idealnya ada berbagai aspek yang perlu dipertimbangkan. Jawaban bagi seseorang, belum tentu cocok disampaikan bagi orang lain. Asumsi yang dijatuhkan kepada kondisi seseorang, pastinya tidak patut ditimpakan kepada orang lain.

Belum lagi tidak ada yang bisa menjamin bahwa jawaban itu benar, ataukah hanya akal-akalan. Dalam bahasa Inggris disebut: “Think on your feet.” Berusaha merespons sesuatu secepatnya, sebisanya. Bisa tergesa-gesa, dan bisa gegabah.

Poin 3 & Poin 4

Banyak penyimak khotbah yang haus untuk dihibur. Ketika pengkhotbahnya lihai membuat tertawa, besar kemungkinan beliau akan terkenal setelahnya. Makin sering diundang, makin sering tampil, makin sering mendapatkan banyak hal.

Terkait itu, banyak juga narasi-narasi yang bisa bikin ketawa, termasuk olok-olok. Siapa pun yang terbiasa berpikir cepat, mampu melihat celah di balik sesuatu, pasti bisa berseloroh dengan lancarnya. Lihat saja para pelawak verbal yang terkenal di Indonesia dalam sepuluh tahun belakangan. Begitu cergasnya mereka melemparkan lelucon berupa olok-olok yang membuat para penontonnya–kadang-kadang termasuk kita–ngakak luar biasa.

Dalam konteks perbincangan bertema keagamaan, bahan olok-olokan tersebar di semua agama dalam berbagai aspeknya. Tampilan, nama, sebutan, bahasa, ritual, dan ragam-ragam lain. Sayangnya, kejadian itu seringkali diperparah oleh umat agama (yang diperolok) itu sendiri. Mereka menjadi reaktif, tak bisa tenang, padahal olok-olok yang dilontarkan pada hakikatnya hanyalah omong kosong, sesuatu yang mengada-ada alias dusta, dan mestinya cukup diperlakukan tak ubahnya seseorang yang ingin meludahi langit. Pasti meleset, dan bisa saja terkena wajah sendiri.

Jadi, kalau diolok-olok, senyumin aja; “balas” dengan sesuatu yang lebih elegan. Don’t get that low too. Khusus bagi para Buddhis, amatilah apa pun gejolak batin yang muncul begitu mengindra (melihat, mendengar, mengingat) sebuah olok-olok. Lebih penting untuk tetap “sadar”, ketimbang turut hanyut dalam dangkal pikir seperti itu. Toh, apa yang mereka katakan merupakan kekeliruan, bukti dari ketidaktahuan terhadap sesuatu.

Kombinasi dari kesoktahunan, dan hasrat untuk mengalahkan sesuatu. Sampai bisa tidak sadar, bahwa butir-butir penjelasan yang disampaikan invalid semua. Tidak bakal nyambung, dan tidak bakal kompatibel.

Ambillah contoh ini, deh.

Dia Tionghoa, kan?
  • Kira-kira, tahukah dia siapa nama tokoh yang gambarnya dia tampilkan? Kok dia sebut tuhan? Tuhan ajaran apa?
  • Kira-kira, tahukah dia bahwa Sun Wukong atau Kera Sakti hanyalah figur rekaan dalam sebuah kisah sastra? Mengapa menggunakan cerita fiksi dalam membahas kepercayaan lain?
  • Kira-kira, tahukah dia bahwa Buddha bukan tuhan?
  • Kira-kira, tahukah dia bahwa gambar-gambar patung Buddha yang dia tampilkan sebenarnya adalah figur berbeda?
  • Kira-kira, sadarkah dia bahwa upaya personifikasi tuhan dilakukan banyak orang dari berbagai agama?
  • Kira-kira, dia sebenarnya sungguh-sungguh paham dengan apa yang disampaikannya, atau tidak, sih? 😂
  • Kemudian, bagaimana dengan para penyimaknya di ruangan tersebut? Apakah cocoklogi tersebut memang semenghibur itu? Lagi-lagi, apakah ada jaminan bahwa mereka yang hadir di sana tidak akan mengutarakan pernyataan-pernyataan yang sama?

Nah, itu pula masalahnya. Ada penceramah, ada yang mendengar ceramah, ada yang dijadikan objek olok-olok dalam ceramah. Penceramah mengutarakan olok-olok yang merupakan ucapan minim faedah. Umat objek olok-olok dalam ceramah bisa memilih untuk tetap bersikap tenang, dan cukup membalas lewat senyuman. Dicueki. Sementara itu, jangan lupa ada yang mendengar ceramah dan mungkin ikut tertawa-tawa tentang olok-olok yang disampaikan. Manakala mereka menyerap informasi olok-olok tersebut begitu saja, siapa yang bisa menjamin mereka tidak akan meneruskan olok-olok tersebut di masyarakat, atau justru terang-terangan melontarkannya untuk menghina?

Poin 5

Di era jejak digital sekarang ini, tinggal cari atau tunggu saja unggahan video atau rekamannya. Tinggal perkara apa yang disampaikan, dan apes atau tidak apesnya saja.

Namun, satu hal yang perlu diperhatikan para pengkhotbah. Katakanlah, sepeninggalnya Anda nanti, dan yang tersisa hanyalah video-video ceramah, Anda ingin dikenal dan dikenang sebagai seseorang yang bagaimana?

Bhante Uttamo Mahathera
KH Quraish Shihab

[]

Anyway, Linimasa sebentar lagi ulang tahun! 🎉

Advertisements

Woles Itu Perlu

Saya kaget. Twit yang saya tulis hari Minggu malam lalu, ternyata ditwit ulang lebih dari 5 ribu kali! Pura-pura sok cool, ternyata dalam hati saya merasa norak-norak bergembira. (Untung level noraknya masih belum pakai pertanyaan “Mau mutualan?” Wait. Should I?)

Maklum, sebagai seseorang yang bukan “selebtwit” atau pesohor media sosial, yang cuatannya tidak pernah ditwit ulang sebanyak ini, saya kaget, lho. Kok bisa banyak yang sependapat, sih?

Padahal twit di atas ditulis saat saya belum selesai packing. Tipikal kebiasaan sebelum pergi, terutama pergi di luar urusan pekerjaan, mau packing mulainya setengah mati. Demikian pula nanti saat pulang liburan, pasti unpacking juga akan malas setengah hidup.

Parahnya lagi, kalau pergi seorang diri, untuk liburan pula, maka saya malas membuat itinerary atau rencana kegiatan. Mau melakukan apa atau pergi ke mana saja di hari apa.

Beda sekali kalau traveling untuk pekerjaan. Kalender penuh dengan jadwal meetings, janji makan siang atau makan malam, dan kegiatan-kegiatan lain. Kalau perlu kegiatan yang bersifat rehat di sela-sela pekerjaan harus dimasukkan juga di kalender. Supaya ada reminder kalau istirahat itu perlu.

Di tengah kegamangan itulah, twit di atas saya tulis. Sudah pasrah, kalau ada barang ketinggalan, tinggal beli. Untung perginya ke kota besar. Sudah pasrah, itinerary disesuaikan dengan mood berikut cuaca setiap harinya. Prinsip dasar bepergian: yang penting sudah ada tiket, sudah reservasi tempat penginapan, dan ada identitas diri.

Di sini saya mulai merasa, apa jangan-jangan sikap “woles” saya dalam menyiapkan segala sesuatunya ini, sebenarnya cuma rasa malas in disguise?

Mungkin karena terlalu santai, maka saya sempat diperingatkan secara halus oleh universe atau Yang Maha Kuasa.

Beberapa belas jam kemudian, saya mendarat di tempat tujuan. Saat diminta aplikasi visa, saya menyerahkan lembaran bukti aplikasi visa online. Semua data benar … kecuali tanggal lahir. Tanggal lahir saya, 11 April (11/04), tercetak di aplikasi visa 4 November (04/11). Petugas imigrasi menolak, dan meminta saya membuat aplikasi visa yang baru.

Memang pembuatan visa awal terbilang cepat. Cuma karena saya masih shocked, belum sempat memproses kejadian ini, saya cuma bisa bengong. Lalu petugas imigrasi tadi memanggil temannya, dan membawa saya ke kantor petugas imigrasi. Aplikasi visa saya tadi sedang diperiksa lagi, katanya. Saya disuruh menunggu di luar kantor tersebut.

Apa yang saya lakukan? Duduk, menunggu, dan melanjutkan main game. Ya, main game. Lalu bosan. Belum ada panggilan. Baca buku di Kindle. Cuma bisa baca 2 chapters. Pikiran mulai tidak bisa berkonsentrasi.

Berhubung masih bisa dapat akses wifi bandara, saya cuma memberikan update singkat keadaan saya ke grup WA yang anggotanya bisa dihitung sebelah tangan.

Saya bercanda, “Doakan nggak dideportasi, ya. Bingung juga kalau dideportasi, gue ngambil koper gue gimana ya.”

Meskipun setengah bercanda, diam-diam saya mulai menghitung uang yang ada. Kalau harus beli tiket pulang, berarti harus pakai kartu kredit. Mengingat-ingat lagi limit kartu kredit yang saya bawa. Oke, cukup. Ada sedikit rasa aman.

Lalu saya main game lagi. Hitung-hitung menenangkan diri.

Sampai akhirnya setelah 90 menit menunggu, saya dipanggil lagi. Bersama petugas yang lain, saya menuju ke ruangan lain. Petugas ini membuatkan saya aplikasi baru. Setelah cek ulang lagi, memastikan data saya benar semua, maka saya menyerahkan lagi paspor dan aplikasi visa yang baru. Kali ini lolos.

Saya ambil koper di tempat bagasi khusus karena sudah lewat dari putaran di conveyor belt, lalu membeli SIM card, kartu transportasi, dan di perjalanan menuju hotel, saya cuma memberikan update singkat di grup tadi, “On my way to hotel now.” Sambil main game.

Sampai di hotel, urusan check-in berjalan lancar. Sampai di kamar, merasa lapar sekali. Apalagi setelah kejadian tadi. Jadi saya putuskan mencari makanan apa saja di dekat hotel. Adanya franchise fast food yang bukan khas kota atau negara ini. Ya sudah, nggak masalah. Yang penting perut terisi. Tidak mahal pula. Lalu setelah melihat-lihat area sekeliling hotel, saya kembali ke kamar, dan tidur.

Bangun pagi, baru membuat rencana-rencana kecil untuk aktivitas beberapa hari ke depan. Tentu saja tidak semua rencana ini pasti terjadi. Kalau ada perubahan, just go along with it. Masih banyak aktivitas yang bisa dilakukan, dan tempat yang bisa dikunjungi. Kalaupun tidak banyak, paling nggak masih ada.

Saat fisik mulai lelah pun, bisa duduk dan minum sekedarnya. Sambil menulis di blog, seperti yang saya lakukan untuk anda baca kali ini.

Namanya juga hidup, kadang-kadang memang kita harus menerima apa adanya.

Ya udahlah.

Cheers!

Menjadi “Perfeksionis” Itu Melelahkan

APALAGI yang terjadi di luar kendali dalam kehidupan sehari-hari, dan terasa amat sukar untuk diatasi.

Misalnya seperti beberapa kejadian berikut ini.

Pernahkah kamu mengalami ini? Sebelum berangkat pergi, kamu mengunci pintu kamar kos, pintu rumah atau apartemen dengan secermat mungkin. Kamu sudah tahu bahwa kunci pintu tersebut bisa diputar searah jarum jam maksimal dua kali.

Ctak! Ctak!” Penguncinya sudah mentok, dan anak kunci sudah tidak bisa diputar lagi.

Namun, untuk lebih memastikan lagi, kamu mencoba menekan-putar anak kunci, seolah-olah ingin memastikan kunciannya sudah betul-betul rapat.

Sekali, mentok.
Dua kali, mentok.
Tiga kali, mentok.
Oke, ini pasti sudah terkunci.

Kamu pun mulai berjalan. Entah ke garasi, ke tempat parkir, ke muka gang, atau ke ambang pintu eskalator. Siap bepergian, menjalankan agenda dan rencana yang sudah disusun sebelumnya.

Anehnya, belum seberapa jauh, mendadak sebuah keraguan menyeruak dalam benakmu. Seakan-akan ada yang mempertanyakan:

Eh, itu pintu tadi sudah dikunci belum, sih?

Tanpa memiliki masalah dengan ingatan atau kesadaran saat melakukan sesuatu, pertanyaan ini terus mengusik pikiran. Membuat perasaan tidak nyaman.

Benar, enggak, sih, tadi sudah dikunci rapat?”

Sungguh beruntung mereka yang tidak pernah mengalami keadaan seperti ini. Ketenangan dan ketenteraman sebagai berkah. Mereka tahu apa yang telah mereka alami, apa yang telah mereka lakukan, dan yakin bahwa semuanya sudah berjalan seperti yang telah terjadi.

Sedangkan bagi yang akhirnya kalah dengan kekhawatiran dan keragu-raguan–seringnya terkombinasi dengan rasa takut–tersebut, bisa bela-belain untuk putar balik, kembali ke depan pintu yang sama, dan mengulang ritual penguncian pintu tersebut. Bahkan seringkali ditambah dengan beberapa gerakan lainnya, yang bisa menyisakan sensasi fisik, yang niat awalnya berfungsi sebagai penanda bahwa apa yang telah terjadi memang benar-benar terjadi, bukan mimpi, atau halusinasi. Jika pintu telah dikunci, maka telah dikuncilah pintu itu. Tak perlu takut mendapatkan gambaran fiksi.

Tak hanya itu, dalam beberapa kasus “ritual” tambahan tadi harus berjalan dengan “sempurna”. Gerakannya harus mulus, tanpa interupsi yang menyela. Contohnya, pada saat pintu diayunkan menutup, tetapi tiba-tiba sempat tersandung sandal yang kebetulan diletakkan di dekat pintu, maka pintu akan kembali diayun membuka, dan “prosesi” mengayun menutup diulang sekali lagi. Lalu, setelah bunyi “klik“, anak kunci kembali diputar dua kali, dan lagi-lagi, mencoba untuk diputar mentok sampai tiga kali. Bisa juga diakhiri dengan menjentikkan jari, layaknya sebuah sentuhan penutup.

Aduh. Capek.

Mengganggu, melelahkan, dan terkadang bikin frustasi. Mengapa harus seperfeksionis itu?

Dengan termakan umpan rasa takut tersebut, ada waktu, tenaga, perhatian yang terbuang percuma. Menyita beberapa belas menit, ketika seharusnya sudah berada di tengah-tengah jalan raya, malah dihabiskan untuk kembali ke tempat semula, sebelum perjalanan dimulakan.

Itu baru pintu depan. Bagian paling akhir yang disentuh sebelum bepergian. Perasaan ragu, khawatir, dan takut serupa juga bisa menimpa pada segala aspek di dalam rumah atau tempat kerja.

Jendela kamar, pintu balkon, steker lampu, kompor (untuk yang satu ini memang harus ekstra hati-hati, sih), bahkan sampai posisi bantal dan guling setelah ditinggal bangun.

(GIF: Petra Švajger)
Kurang lebih seperti ini, dengan tempo lebih lamban. Foto: Konbini

Pada contoh lainnya–dan saya alami sendiri–ialah ketika mengetik. Termasuk saat menulis buat Linimasa kali ini.

Manakala salah mengetik, apakah itu kurang huruf, posisi huruf terbalik, terpencet, kesalahan karena mengetik terlalu cepat, atau sekalian ingin membalik posisi kata dalam sebuah kalimat, seseorang normalnya akan mengarahkan tanda kursor berkedip-kedip ke bagian yang ingin diperbaiki. Sementara saya, menghapus (menekan tuts backspace) kata yang salah tersebut beserta satu kata sebelumnya. Alih-alih memperbaiki huruf yang salah, saya justru mengetik ulang dua kata tersebut. Berulang-ulang di bagian yang sama. Merasa kurang pas sedikit saja, langsung hapus dua kata atau lebih dan mengetiknya ulang, persis sama kata demi kata. Begitu terus sambil diulangi, dan diulangi, bunyi susunan kata-kata tersebut pun kehilangan makna dan strukturnya.

Tak percaya? Coba saja cari kalimat pendek, dan baca terus menerus. Bunyinya, meskipun hanya dalam hati, lama-kelamaan akan memudarkan makna. Menjadikan mereka tidak lagi relevan dalam konteks apa pun.

Iya, saya sangat paham bahwa tindakan itu cukup membuang-buang waktu, apalagi saat dikejar tenggat. Hanya saja, kebiasaan itu sulit hilang. Juga termasuk saat menulis ini.

Bukan baru sadar belakangan ini, tetapi sudah berlangsung lama, lebih dari enam atau tujuh tahun lalu, waktu masih berprofesi sebagai wartawan dan redaktur harian di Samarinda. Lantaran acap kali teramat mengganggu, beberapa cara telah dicoba secara sporadis.

Mulai dari mencoba fokus, menempatkan kegiatan mengetik secara sadar (mindful), tetapi malah tercerap mengamati gejolak batin yang timbul; mencoba mengetik lebih perlahan, tetapi ide dan gagasan malah buyar tak beraturan; mencoba mengabaikan kesalahan-kesalahan yang terjadi, dengan pertimbangan nantinya akan melewati proses penyuntingan, tetapi tak bertahan lama. Sikap yang (sok) perfeksionis ini membandel, bertahan sampai sekarang,

Momen-momen bisa mengetik dengan lancar, cepat, dan relatif tepat kian jarang terjadi. Biasanya, setelah berganti tekstur dan keempukan papan kibor; mendapati meja dan kursi dengan sudut yang terasa pas; atau ketika semangat dan inspirasi menulis sedang deras-derasnya.

Saya menyerah sajalah. Yang pasti masih banyak hal-hal penting lain, yang lebih patut diperhatikan dalam menjalani hidup saat ini. Segala ketidaknyamanan dalam berkegiatan tetap bercokol di sana, menjadi benalu tanpa keterangan dan penjelasan. Sampai tanpa sengaja terpapar dengan artikel ini.

Image result for OCD typing animated gif
OCD typing. Foto: articles.aplus.com

Setelah membacanya, saya berusaha tidak ingin gegabah menyebut kebiasaan tersebut adalah gejala Obsessive Compulsive Disorder (OCD) Perfectionism. Kendati, tanda-tandanya kok ada yang bersinggungan?

Sebelumnya, sepertinya ada perbedaan cukup besar antara bersikap perfeksionis dalam konteks aktivitas keseharian ini, dengan bersikap perfeksionis dalam upaya menghasilkan sesuatu.

Bersikap perfeksionis saat memastikan pintu sudah terkunci dengan serapat-rapatnya sebelum pergi, ialah isyarat kepada diri sendiri bahwa: “Semuanya sudah berjalan dengan lancar.” Sedikit atau sesepele apa pun gangguan yang muncul, bisa menjadi pengacau kondisi “lancar” tadi. Begitu pula saat mengetik, yang entah bagaimana, menandakan bahwa otak dan pikiran kita “tidak mau” mempercayai apa yang dilihat mata, dan terbaca dalam hati.

Mengutip artikel tadi.

Unhealthy perfectionism tends to be high if your OCD symptoms revolve around checking. Specifically, if you do not feel you have perfect certainty that you have locked the door or turned off the stove, you might return to check these items over and over again. Tied to this is the excessive fear of making a catastrophic mistake, such as leaving the door open all day or burning down the house by leaving the stove on. Ironically, checking over and over again reinforces the idea that you are not perfect or possibly even “losing your mind.” This can make you feel even worse and less self-confident which, of course, sets you up to do more checking.

Jika kamu juga mengalami situasi yang sama, dan sudah di tingkat mengganggu, satu-satunya cara terbaik adalah dengan memeriksakannya secara proper. Pencarian artikel sebanyak apa pun, baru sebatas memberi pengetahuan baru, atau bias informasi.

Apalagi sejauh ini, penyebab utamanya belum bisa dijelaskan. Pendapat yang disarikan dari riset-riset baru mengklasifikasi faktor pemengaruh OCD. Yakni:

  • faktor genetik,
  • faktor autoimun,
  • faktor hormonal,
  • faktor neurologis atau saraf,
  • faktor kognitif
  • faktor lingkungan dan perilaku

Kalau sudah begini, kembali teringat ungkapan “tak ada yang sempurna“, sebab seberat-beratnya upaya yang dilakukan demi mencapai kesempurnaan tersebut, tetap saja merupakan hal yang rentan. Dicolek sedikit, bubar jalan, mesti diulangi kembali. Padahal, kehidupan ini tidak selalu ringan, lancar, dan mudah untuk dijalani. Jangan menambahkan siksaan.

Semoga kamu tidak mengalaminya, ya.

… dan mudah-mudahan, bisa dipatahkan semudah penjelasan di video ini.

“Debunking the myths of OCD”

[]

Pilihan Pertama

Perbincangan ini terjadi kurang lebih hampir satu dekade yang lalu. Saat itu teman saya baru menyelesaikan studi tingkat pasca sarjana di luar negeri. Lalu dia kembali untuk mencari kerja. Di sela-sela rangkaian beberapa wawancara kerja, kami menyempatkan bertemu untuk makan siang. Sambil setengah berkeluh kesah, dia berkata sambil bercanda, “Gile, saingan gue mbak-mbak yang dateng interview pake belahan dada rendah! Gue sampe bilang ke bapak gue pas pulang ke rumah, “Tau gitu instead of bantu biaya hidup pas kuliah kemarin, uangnya buat boob jobs aja!””

Kami tertawa sampai tersedak. Mind you, teman ini saya cerdasnya luar biasa. Kuliah pasca sarjananya pun relatif gratis, karena dia mendapat beasiswa. Toh dia mendapat tamparan halus saat realita hidup berbicara: bahwa yang namanya penampilan fisik acap kali mendapat perhatian lebih.

Tulisan Dragono soal kejamnya dunia terhadap orang jelek masih menjadi salah satu tulisan yang paling sering dibaca di Linimasa ini. (Padahal yang baca Linimasa konon terus menurun. Hihihi.) Tentu saja tulisan ini selalu relevan, karena begitu mudahnya kita terbuai rasa insecurity kita soal hal tampilan fisik ini. We are never good looking enough. We are never pretty enough. We are never ugly enough. We are never enough.

Banyak yang mengatakan bahwa ketika seseorang mempunyai wajah yang rupawan, maka paling tidak sepertiga atau separuh persoalan hidupnya teratasi. Mungkin saja. Tapi yang kita tidak pernah tahu adalah dua pertiga atau separuh lain dari persoalan hidupnya yang lain bisa jadi sangat besar buat dia, sehingga dia tidak bisa melihat sisi lain dari kehidupan yang dia jalani. Bisa saja ‘kan?

Tak bisa dipungkiri, wajah rupawan adalah sebuah privilege, terutama yang memang sudah diberkahi dengan kualitas ini dari lahir. Sementara yang lain berusaha mati-matian meraih ini. Kalau nggak, produk perawatan muka dan kosmetik tidak akan laku, dong?

1_1r41lfYuNwShN4fjqAeb5w

 

Meskipun begitu, ada satu hal selain tampilan yang menawan ini yang membuat kita terus diingat. Apalagi kalau bukan reputasi.

Reputasi ini bisa juga dibilang sebagai kemampuan kita yang membuat kita jadi pilihan utama saat dicari orang.

Misalnya begini. Waktu dulu di bangku SMA, saat ulangan atau tes bahasa Inggris, sontak teman-teman berebut duduk di bangku sebelah saya. Kenapa? Supaya bisa mencontek. Sementara saat ulangan atau tes pelajaran Biologi, giliran saya yang berebut supaya bisa duduk di sebelah teman saya yang memang jago pelajaran ini. Hehehe …

Ternyata kebiasaan ini pun terus bergulir sampai kita beranjak dewasa. Kalau tiba-tiba kita ditanya, “Eh punya rekomendasi atau kenalan teman yang jago desain gak?”, maka mau tidak mau pikiran dan pilihan kita akan melayang ke beberapa orang yang pernah kerja bersama kita. Kita puas akan hasil yang mereka kerjakan. Maka kita pun tak segan-segan merekomendasikan mereka ke orang-orang lain yang membutuhkan.

Demikian juga kalau saya perlu tanya, “Punya rekomendasi tukang kayu buat bikin dipan, nggak?” ke teman-teman saya, maka mereka pasti akan merekomendasikan tukang kayu yang pernah mereka pakai jasanya, dan hasilnya memuaskan.

Dan tentu saja, tidak ada satu pun dari rekomendasi-rekomendasi tersebut yang dimulai dengan pertanyaan, “Eh tampang orangnya gimana?” Kalau tampilan fisik menarik, itu hanya kebetulan semata. Namanya juga kebetulan, berarti tidak pernah jadi faktor utama dalam hal merekomendasikan seseorang untuk menyelesaikan pekerjaan. Malah faktor fisik ini bisa jadi bumerang, kalau hasilnya tidak bagus, maka akan tercuat pernyataan, “Cakep-cakep tapi gak bisa kerja.”

Tentu saja butuh waktu lama untuk menjadi top of the mind dalam hal yang kita kerjakan sekarang. Kuncinya ada di konsistensi. Selama kita konsisten melakukan pekerjaan kita, dan mengasah kemampuan diri, sambil terus mengembangkan jaringan, pelan-pelan rekomendasi akan mampir ke kita juga. It takes time, but we may as well take the bloody time.

Kenapa?

Beauty fades, but knowledge and skill do not.

 

 

5 Kemampuan Dasar Ketahanan Pangan Tanpa Listrik

Gelap. Sumber: Google

  1. Masak nasi tanpa Rice Cooker.
  2. Memilih jenis bahan makanan yang mudah rusak tanpa freezer.
  3. Memilih jenis masakan yang menggunakan sedikit air.
  4. Makan dalam gelap (khusus makan malam).
  5. Tetap bersabar dan hindari mengumpat setelah makan dalam gelap.

Membaca di Dalam Bus TransJakarta, dan Dua Orang Asing yang Saling Berbagi Cerita

HAMPIR pukul setengah sebelas, tadi malam, dan saya masih belum tahu ingin menulis apa untuk Linimasa. Namun, kesan yang tertinggal dari kejadian kemarin pagi tetap kuat terasa, karena merupakan sesuatu yang tidak pernah dialami sebelumnya.

Memanfaatkan waktu tempuh dalam perjalanan menuju kantor setiap pagi, saya terkadang membaca buku bila memungkinkan. Selama penumpang tidak terlalu berjejalan hingga berhimpit-himpitan, apalagi kalau sudah mengerti selanya, akan ada cukup ruang untuk mengangkat dan membaca buku di dalam bus TransJakarta, meski sambil berdiri dengan salah satu tangan memegang tali penyangga sekalipun. Ini sebabnya, saya lebih menyukai buku-buku edisi saku–sebenarnya hanya sedikit lebih kecil dibanding ukuran buku pada umumnya–yang lebih nyaman dibawa-bawa, serta cukup mudah saat membalik halaman-halamannya.

Kemarin, saya baru mulai membaca “1984” versi terjemahan bahasa Indonesia. Menaiki armada TransJakarta yang panjang dan terdiri dari tiga bagian, saya cukup nyaman berdiri dan bersandar di area sambungan yang mirip tarikan akordeon. Agak gelap, memang, tetapi setidaknya bisa memegang buku dengan kedua tangan.

Seperti biasanya, jumlah penumpang terus bertambah dari setiap halte, bikin makin sempit ditambah bau badan yang lumayan kencang. Lewat dari Halte Grogol 1, barulah situasi berangsur kondusif, dan saya bisa bergeser ke belakang bus mencari pegangan kosong serta meneruskan membaca.

“1984”

Melewati RS Sumber Waras, seorang penumpang yang duduk tak jauh dari posisi saya berdiri membuka maskernya lalu sekonyong-konyong berkata: “Baca ‘Nineteen Eighty-Four’ juga, ya?” sambil tersenyum dan menunjuk sampul depan buku di tangan saya. Sempat tidak menyadari ada yang mengajak bicara, saya copot salah satu earphone, buru-buru menjawab “iya”, dan langsung dia respons: “Bukunya itu bagus banget!” Ada buku Andrea Hirata bersampul hitam kuning yang ia pegang di atas pangkuannya; telunjuk kanannya terselip di halaman yang tampaknya tengah ia baca.

Perbincangan di antara kami, dua orang asing yang bahkan tidak menanyakan nama satu sama lainnya, terus berlanjut sekira 10 menit. Kurang lebih dari atas Flyover Roxy sampai akhirnya bus kami tiba di Halte Harmoni. Dia mengemukakan tentang betapa briliannya George Orwell, sang penulis, menggambarkan imajinasi mengenai masa depan manusia. Pendapat yang saya amini, lantaran Orwell sudah laiknya seorang futuris. Ia menggunakan cakupan perspektif dan wawasan seorang warga terpelajar London pasca Perang Dunia Kedua, tahun 1949, mencoba menerka apa yang akan terjadi 35 tahun ke depan lewat berbagai terpaan gejolak ekonomi politik pada manusia.

Pernyataan dan tanggapan terus bersambutan, dan begitu seterusnya. Dia menyarankan untuk lanjut membaca “Animal Farm”, novel legendaris lain yang berkutat pada sosialisme dan komunisme, yang kerap disandingkan dengan “1984”. Dia juga mengutarakan kekagumannya terhadap trivia mengenai Newspeak, salah satu objek minor cerita yang berkaitan dengan pola berbahasa dalam plotnya … serta masih banyak lainnya, sampai ia harus turun dan berganti bus, dan kita sama-sama mengakhiri obrolan dengan: “Nice talking to you…”

Dari sini, Jakarta ternyata tetap bisa menjadi kota yang membuat orang-orang asing, penghuninya, merasa baik-baik saja.

Satu hal yang menjadi penyesalan, saya lupa membuka masker di sepanjang pembicaraan.

Sungguh tidak sopan.

[]

Liburan Pun Perlu Disiplin

Saat ini, saya sedang dalam masa rehat, atau break sementara. Ada masa transisi antara periode proyek sebelumnya dan periode yang akan datang. Tahun lalu, alih-alih beristirahat, periode ini malah saya gunakan untuk traveling yang masih ada kaitannya dengan kerjaan. Alhasil, periode proyek yang baru saja berlalu kemarin terasa melelahkan saat dijalani. Rasa lelah ini bahkan masih terasa sampai proyek tersebut selesai. Oleh karena itu, maka saya memutuskan untuk take a break sebentar, sebelum project cycle berikutnya dimulai.

Apa yang dilakukan di masa rehat ini? Sebenarnya sesimpel tidak menyentuh hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan. Surat elektronik, update informasi di grup percakapan, atau dalam konteks profesi saya, tautan video preview yang perlu dilihat dan dianalisa. Semua hal ini sejatinya tidak perlu dilihat atau dibaca dulu.

Pertanyaan berikutnya adalah, mungkinkah ini bisa dilakukan? Lagi-lagi dalam kasus saya, ternyata berat untuk melepas kebiasaan ini. Apalagi kalau kebiasaan tersebut sudah dilakukan selama berbulan-bulan sampai menjadi suatu kebiasaan. Tahu ‘kan sebuah perkataan yang bilang kalau ingin menjadikan sesuatu kegiatan sampai menjadi kebiasaan, kita perlu melakukannya secara rutin minimal selama 3 minggu? Apalagi kalau sudah berbulan-bulan, kebiasaan pun sudah menjadi gaya hidup.

WD44GF6EM5AEXLZPYBONLOW4LE
(source: washingtonpost.com)

 

Susah untuk tidak membaca, atau sekedar melihat, email yang ada kaitannya dengan pekerjaan, saat kita membuka email dari aplikasi traveling untuk mengganti kata kunci. Mau tidak mau mata kita sempat melirik chat baru dari grup kerjaan, padahal kita lagi janjian untuk ketemu teman-teman di grup lain. Godaan untuk nge-click video preview sungguh sangat besar saat mulai mati gaya, karena lagi malas menonton film dan serial di berbagai aplikasi lain.

Kalau sudah begitu, maka mau tidak mau, saya harus pasang target pribadi. Harus selesai baca 3 novel dalam sebulan ini. Novelnya pun sudah ditentukan sendiri yang mana saja, karena kalau tidak ditentukan, akan mudah tergoda atau terdistraksi dengan bacaan lain.

Saya harus menyelesaikan beberapa serial televisi, terutama yang sudah dinominasikan untuk Emmy Awards, sebelum penghargaan tersebut diberikan di bulan September.

Harus bepergian di luar kepentingan profesi atau pekerjaan, sesimpel pergi ke luar kota yang jaraknya 1-2 jam dari rumah.

Setelah menyusun semua rencana tersebut, baru kita sadar, kalau kita pun perlu punya disiplin tinggi dalam menentukan atau merancang liburan, dan juga di saat menjalani liburan tersebut.

Kenapa begitu?

Karena relaxed and chill saat liburan perlu disiapkan dan diatur sebelumnya.

Hidup: Koreksi Tiada Henti

DAN kalau tulisan-tulisan di Linimasa yang dulu-dulu kita remake lagi, setuju nggak?”

Itu kalimat penutup tulisan Mas Nauval, pekan lalu. Cukup menggoda untuk dilakukan, sih, tetapi saya ingin lebih melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Yaitu, paduan antara waktu yang bergulir, pandangan, dan penerimaan kita. Dalam konteks Linimasa–maupun tulisan-tulisan lain pada umumnya–yang terjadi bukanlah sekadar remake buah-buah pikiran, melainkan perubahan-perubahan yang saling berhubungan. Segalanya selalu direvisi, mengalami peningkatan dan perkembangan.

Remake tulisan bukan sekadar perkara menghangatkan sesuatu yang sama dari masa lalu, supaya tidak basi dan bisa dinikmati kembali oleh orang-orang yang berbeda. Pasalnya, sepanjang waktu yang berlalu sejak tulisan dan ide itu dituangkan pertama kali, pemikiran si penulis berubah, dipengaruhi kondisi sosial budaya di sekitarnya. Perikehidupan manusia dan masyarakat berubah cukup drastis.

Contohnya, dahulu para gadis dan wanita hanya bisa terdiam malu, menunggu untuk ditanya barulah bisa memberikan jawaban, itu pun secara terbatas, serta dianggap tak patut jika mengutarakan keinginan terlebih dahulu. Kini, semua perubahan yang terjadi terkait itu tak lagi dianggap keanehan semata, banyak yang bahkan membudayakannya, merayakannya. Maka segala ide dan tulisan berkenaan dengan hal tersebut, sudah semestinya ditinjau kembali. Mengalami proses sintesisnya lagi. Direvisi. Di-remake.

Remake tulisan pun bukan sekadar benar dan salah secara kaku; pemikiran yang sebelumnya salah, pemikiran yang sekarang benar, sehingga pemikiran yang sebelumnya harus dilupakan dan ditinggalkan sepenuhnya.

Rumus sederhananya, sebuah kesalahan barulah menjadi kesalahan ketika ada yang menyanggahnya, mengkritisinya atas dasar banyak hal. Dari sisi etika, manfaat, efektivitas dan efisiensi dalam kehidupan kita.

Maksudnya begini, kita akan sangat awam, abai, dan tidak tahu bahwa sesuatu itu keliru atau salah, sebelum ada argumentasi yang menunjukkannya demikian. Terutama terhadap aspek-aspek baru yang belum pernah terpikirkan dalam kurun puluhan tahun.

Contohnya, sampai lebih dari 20 tahun lalu, pendidikan formal di sekolah diarahkan untuk menghasilkan calon-calon tenaga kerja. “Bersekolah yang baik, cari kerja di tempat yang bagus, pastikan ada fasilitas pensiun, dan menualah dalam ketenteraman yang terjamin.” Itu sebabnya berbondong-bondong mencoba menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS, kini Aparatur Sipil Negara-ASN). Kemudian, sebuah pemikiran baru muncul yang mengedepankan pentingnya mengejar sang renjana, passion dalam berkarya. Ada yang awalnya menjadi seorang karyawan, cukup produktif dan berprestasi, lalu seakan-akan menemukan renjananya. Lewat pemikiran dan serangkaian pertimbangan, dia akhirnya memutuskan berhenti dari tempat kerja untuk berkonsentrasi pada usahanya. Dia mengambil langkah berani, melepaskan kenyamanan agar bisa berkembang lebih besar tanpa batasan. Namun, seiring berjalannya waktu, pasang surut dia alami. Ada masanya dia merasa tercekik, dan berandai-andai terhadap masa lalunya sebagai karyawan. Mungkin apabila masih bertahan, dia sudah menjadi seorang manajer, atau bahkan VP. Ada pelajaran baru tentang rencana, renjana, dan realita.

Dari ilustrasi di atas, ada proses koreksi internal di sana. Bukan semata-mata perkara ini benar, itu salah yang kaku. Lebih kepada pemahaman dan pengertian yang lebih luas. Mau jadi karyawan, pemberi pekerjaan, pekerja tunggal dan lepas, atau bahkan menjadi seseorang yang tidak ingin terikat dengan batasan-batasan berpenghasilan dan berpenghidupan, semuanya sah-sah saja. Kenyataan dan pengalaman hidup menjadi referensi dalam memilih langkah selanjutnya.

Selain tentang pekerjaan dan passion di atas, contoh-contoh lainnya bertebaran di sekeliling kita. Yang dahulu dianggap baik, ternyata belum tentu seterusnya baik di saat ini. Misalnya, dahulu: Menjadi religius itu dianggap baik; kini; Religiusitas cenderung konservatif dan membuta. Perspektif pembahasan tentang isu ini sudah melebar, aspek-aspeknya pun berjenjang lebih panjang. Tak bisa divonis semata-mata benar versus salah.

Ko Glenn pernah berbagi cerita, dan menuliskannya di Linimasa, beberapa tahun lalu. Salah satu hal yang dihindari lewat menulis di blog adalah konfrontasi dan klarifikasi. Rekam jejak digital yang bisa dibaca sewaktu-waktu membekukan pemikiran kita pada saat itu. Bisa saja saat ini, beberapa waktu selepasnya, kita sudah memiliki pandangan berbeda terhadap hal tersebut. Kita pun bisa dihadapkan pada pertanyaan: “Mengapa bisa berpikiran seperti itu?” Baik dari diri sendiri, maupun orang lain. Proses koreksi telah terjadi, kendati tak selalu dituangkan dalam tulisan kembali. Menghasilkan remake. Toh, keputusan untuk menulis revisinya atau tidak, sepenuhnya kembali kepada si pemilik pemikiran dan tulisan.

…dan demikian, kehidupan kita tak ubahnya sebuah rangkaian proses koreksi, revisi, termasuk remake tiada henti. Coba saja simak tulisan-tulisan sebelumnya di Linimasa. Hampir semuanya berkelanjutan, sebagai cerita, cerita yang melibatkan hati, pun sebagai topik-topik yang mencuat kembali.

[]

Ribut-Ribut Reboot Karena Remah-Remah Remake

Semalam saya menonton film The Lion King versi terbaru tahun 2019. Kekhawatiran saya setelah melihat trailernya beberapa bulan silam, ternyata terbukti. Terus terang, saya tidak terlalu menyukai versi baru film ini. Menurut saya, tidak menawarkan sesuatu yang baru. Bahkan setelah 30 menit pertama, dan setelah menyadari bahwa versi terbaru ini hampir shot-by-shot remake dari versi animasi tahun 1994, saya langsung berpikir, “Kenapa harus di-remake sih, kalau nggak ada sesuatu yang baru? Why can’t they just leave the animated version alone?”

Saking nggak konsennya menonton film itu, saya lantas berpikir dan menghitung. Tahun 1994 itu terjadi 25 tahun lalu. Orang-orang seusia saya yang pernah menonton versi animasi film ini di bioskop pada saat itu, yang notabene berada di usia sekolah, kebanyakan sekarang sudah berkeluarga. Kebanyakan mempunyai anak atau keponakan yang sekarang sedang berada di formative years, atau usia perkembangan. Setelah menyadari hal itu, maka lantas saya berpikir, mungkinkah sebuah karya seni dibuat ulang setelah melampaui batas waktu tertentu, dalam hal ini dua dekade?

Biasanya kita asumsikan satu dekade sama dengan satu generasi. Dua dekade berarti dua generasi. Dalam kurun waktu ini, seseorang sudah bisa tumbuh dari duduk di bangku sekolah, lalu bekerja, dan berkeluarga, lantas mempunyai keturunan. Mungkin saja dia punya keinginan untuk membagi apa yang dia pernah nikmati waktu kecil, lalu meneruskan ke keturunannya, dalam hal ini anak, atau keponakan, atau murid, atau siapapun yang berada di dua generasi di bawahnya.

077524500_1542947121-simba_1
The Lion King (2019) (sumber: liputan6.com)

 

Hal ini benar-benar ditangkap Disney, yang belakangan sibuk melihat katalog film animasi dari beberapa dekade lampau untuk dibuat ulang dalam bentuk live action film. Tahun ini sendiri saja ada Aladdin selain The Lion King. Dua tahun lalu ada Beauty and the Beast. Tahun depan ada Mulan. Tahun depan juga ada The Little Mermaid.

Sah-sah saja. Apalagi memang tidak ada lagi orisinalitas di dunia ini. Sebuah cerita atau karya seni hanya bisa bertahan hidup dari generasi ke generasi apabila ia direka ulang dalam bentuk yang berbeda. Cerita Aladdin adalah bagian dari hikayat 1.001 cerita malam. Cerita The Lion King terinspirasi dari “Hamlet” karya William Shakespeare. Demikian pula dengan berbagai katalog film Disney lainnya, yang bersumber dari dongeng-dongeng dunia yang sudah dipermak dan diubah sedemikian rupa agar bisa dinikmati anak-anak. Mau tidak mau juga, reka ulang sebuah karya seni juga mengikuti perkembangan jaman. Makanya, ada lagu “Speechless” di Aladdin, atau porsi peran karakter Nala diperbesar di versi The Lion King terbaru kali ini.

Hanya saja, mungkin yang masih perlu diikutkan dalam setiap reka ulang karya seni adalah emosi dan jiwa yang menghidupkan sebuah karya. Persoalan yang tidak mudah, sangat tricky, mengingat penilaian hal ini sangat subyektif. Apalagi beda generasi, tentu saja beda jenis persepsi, karena waktu dan lingkungan yang mempengaruhi persepsi ini sudah berubah dan berkembang.

Kalau sudah begitu, saya cuma bisa berharap, semoga generasi baru yang menikmati tontonan reka ulang dan reka buat ini, memang benar-benar menikmati film-film tersebut. Dan bisa menginspirasi mereka untuk membuat apresiasi, lewat vlog atau lewat karya lain, yang sama baiknya, atau malah lebih baik.

Dan kalau tulisan-tulisan di Linimasa yang dulu-dulu kita remake lagi, setuju nggak?

“Cowok itu, enggak mesti ganteng…”

“COWOK itu, enggak mesti ganteng. Enggak peduli umurnya sudah 30 tahun, kek, 40 tahun, kek, pasti tetap gampang kalau mau kawin (menikah). Yang penting mapan, duitnya ada, cukup buat ngapa-ngapain.”

Sepupu, wanita, ngomong begitu, kalau tidak salah ingat, sembari mematah buku-buku kaki kepiting masak saus Padang berukuran sedang untuk kemudian diisap daging yang ada di dalam rongga kakinya. Beberapa tahun lalu. Jauh sebelum saya pindah kota.

Ini tipikal pembicaraan yang mengumandang di atas meja makan setelah sesi makan malam bersama kerabat dan famili tanpa merayakan, atau memperingati sesuatu secara spesifik. Yang dibincangkan pun tidak jauh-jauh dari urusan manusia. Termasuk pekerjaan, hubungan berpacaran, pernikahan, suasana rumah tangga, hubungan orang tua dan anak, masa depan anak, kekayaan dan capaian-capaian sosial … orang lain, intrik-intrik internal, serta masih banyak lagi lainnya.

Saya berasumsi, barangkali sebagian orang di ruang makan waktu itu setuju dengan pernyataan tersebut. Tidak ada respons atau tanggapan khusus yang dilontarkan. Tidak ada sanggahan, tidak pula penolakan. Hanya kelihatan dua tante yang, entah, agak manggut-manggut sambil mengupas dan makan buah, mungkin relevan bagi mereka. Sementara saya sendiri, berdiri di salah satu sisi sambil memegang gelas berisi soda, terlampau kenyang untuk terlalu peduli dan menggubris percakapan lebih jauh. Hanya berceletuk sekenanya.

Bertahun-tahun sudah lewat, dan seringkali tercetus pertanyaan internal tentang (1) apakah para wanita memang serentan (vulnerable) itu? Terus-menerus diidentikkan dengan keterbatasan sosial, keterbatasan fisiologis, dan keterbatasan emosional.

Tentang keterbatasan sosial, meliputi;

– Apakah hanya wanita yang dituntut untuk selalu concerned atau “bersiaga” dengan penampilannya, tampilan fisiknya, atau riasannya di hampir sepanjang waktu, terlepas dari preferensinya? Sebelum menikah, setelah menikah, setelah punya anak, atau pun setelah menjadi ibu rumah tangga.

Berkebalikan dengan itu, apakah satu-satunya hal yang harus diprioritaskan para pria ialah cari uang, cari uang, cari uang, dan jadi kaya, supaya–setidaknya–bisa menikahi tanpa kesulitan, serta menjamin kehidupan yang stabil di masa depan?

– Apakah hanya wanita yang bisa “dinikahi”, mengambil posisi pasif sebagai pemberi jawaban? Tak bisakah wanita yang “menikahi”, menjadi yang mengajukan keinginan?

– Bagaimana seharusnya sikap dan posisi para wanita terhadap “kepatuhan”, “ketaatan”, dan “pelayanan” terutama dalam hubungan, atau pernikahan?

– Bagaimana seharusnya sikap dan posisi para wanita terhadap tuntutan sosial agar menikah dalam kondisi-kondisi tertentu (seperti menikah sebelum dianggap tua; menikah dengan seseorang yang socially acceptable; kemudian bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik tanpa menghabiskan waktu di luar rumah jauh dari anak; berkeinginan dan mampu memiliki anak; memberikan asi; dan seterusnya).

Tentang keterbatasan fisiologis, misalnya;

– Terlepas dari kondisi alamiah yang memang demikian adanya, mengapa para wanita harus terus terpapar dengan narasi “masa kedaluwarsa”? Apakah dalam pernikahan, semua wanita harus hamil dan memiliki anak? Intinya, kalau sudah “kedaluwarsa”, so what?

– Lagi, terlepas dari preferensinya, bagaimana seharusnya seorang wanita memandang dan memperlakukan tubuhnya, katakanlah setelah melahirkan? Dalam hal ini, tubuhnya tidak sekadar tampilan fisik, melainkan juga situasi hormonal, dan hal-hal terkait.

Tentang keterbatasan emosional, seperti halnya perkara-perkara berikut;

– Adakah atau bagaimanakah batas wajar bagi seorang wanita mengekspresikan perasaannya; menyimpan dan mengelola perasaannya, katakanlah, demi standar kepatutan? Lebih jauh lagi, apakah batas wajar tersebut diperlukan?

– Kemudian, apabila batas wajar tersebut tidak diperlukan, bagaimana seharusnya para wanita menyikapi tindakan dan luapan emosi yang meledak-ledak? Meluap begitu saja, dan menuntut untuk diiyakan.

– Apakah tepat bila wanita selalu diidentikkan dengan “makan hati”, “sabar menerima”, dan “menjalani tanpa menuntut apa-apa”?

– Bagaimana dengan dikotomi pria lebih kuat dari wanita, maupun sebaliknya? Lebih kuat menahan perasaan, contohnya.

(2) Apakah semestinya para wanita harus dipersepsikan bergantung kepada pria? Dalam banyak hal, mulai dari “ditembak” sebagai pacar; dilamar sebagai calon istri; semata-mata menjadi pengikut suami, bukan rekan bicara apalagi berdiskusi.

Mengapa persepsi ini dilestarikan? Diajarkan dan ditanamkan sejak usia dini, tidak hanya kepada bocah-bocah wanita, tetapi juga pria. Yang akhirnya terbawa sampai dewasa, menghasilkan wanita-wanita submissive dan pria-pria arogan atas kepriaannya.

Saking lestarinya pula, sampai menghasilkan wanita-wanita yang desperate ingin segera dinikahi seiring bertambahnya usia, dan pria-pria yang menganggap wajar jika istri memiliki kedudukan lebih rendah daripada suami. Sebab, toh, yang mereka butuhkan (untuk menikah) hanyalah punya uang dan kebugaran seksual.

Menjadi semacam rumus sederhana, wanita yang ngebet menikah + pria dengan toxic masculinity yang kadangkala ditambah dengan kedunguan = terjadilah pernikahan yang begitulah. Pada akhirnya cuma menghasilkan situasi “ditinggalkan”, dan/atau “tak berani meninggalkan.”

(3) Apakah menjadi sebuah pandangan yang bias, atau justru merupakan pendapat yang sexist ketika pernyataan di atas justru dilontarkan oleh sesama wanita?

Demi menghindarkan saya agar tak tergelincir melakukan mansplaining, hampir semua pertanyaan di atas hanya berhak dijawab oleh para wanita, dan/atau oleh sejumlah pria yang dinilai layak berbicara mengenai ini, serta dipersilakan untuk menjawabnya.

Oke, pertanyaan terakhir. Kalau kamu seorang wanita, apakah kamu setuju dengan pernyataan pertama di atas tadi?

Be my guest…

[]

Selamat Ulang Tahun ke-10, Film-Film dari 2009!

Kalau harus menyebut “tahun terbaik” untuk menilai kualitas film-film yang dirilis di tahun tertentu, sebagian besar penggemar film pasti menyebut tahun 1939 dan 1999. Di tahun yang disebut pertama, jajaran film klasik tumplek blek dirilis di tahun itu, mulai dari Gone with the Wind, The Wizard of Oz, Stagecoach, sampai Mr. Smith Goes to Washington. Sementara di tahun yang disebut kedua, film dengan visual efek yang mencengangkan macam The Matrix dirilis berbarengan dengan horor laris The Sixth Sense, lalu ada juga komedi nakal American Pie yang juga dirilis di tahun yang sama dengan komedi romantis Notting Hill atau drama serius American Beauty.

Lalu bagaimana dengan tahun-tahun lain yang juga berakhiran angka 9, seperti tahun 2009 yang baru saja lewat 10 tahun yang lalu?

Saya sendiri setuju kalau ada yang bilang bahwa tahun 2009 bukanlah one of the great years in movies. Tapi bukan berarti tidak ada film-film yang berkesan. Apalagi menonton film urusannya sangat personal, bukan?

Tahun 2009 sendiri adalah tahun di mana saya banyak mengalami titik balik, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam urusan pekerjaan. Mau tidak mau, hal-hal seperti ini mempengaruhi pilihan tontonan, dan pengalaman menontonnya.

Looking back, cukup banyak juga film yang saya tonton di tahun 2009 ini. Dan setelah mengingat-ingat lagi, apa saja film-film dari tahun 2009 yang berkesan buat saya, inilah dia:

• Film-film yang juga saya suka: The Boat that Rocked, An Education, Moon, The White Ribbon, The Secret in Their Eyes, A Single Man

[sepuluh] Bangkok Traffic (Love) Story

 

Pertama kali menonton film ini di bioskop (yang dulu bernama) blitz di Grand Indonesia, pemutaran terhenti di tengah-tengah karena … mati lampu! Terpaksa pemutaran dihentikan sama sekali, padahal film sudah berjalan hampir separuh durasi. Petugas memberikan kupon voucher gratis untuk menonton film yang sama di hari lain. Saya pun menonton lagi di hari lain tersebut, mengulang dari awal, dan tetap tersenyum dari awal sampai akhir melihat cerita dari karakter Mei Li yang mengharap perhatian dari Long, pria yang ditaksirnya, sampai-sampai merubah pekerjaan supaya bisa pas waktunya.

[sembilan] I Am Love

 

Film yang membuat saya menganga, takjub akan penampilan Tilda Swinton dengan kemampuan berbahasa Rusia yang luar biasa. Ada salah satu adegan sangat kecil yang mencuri perhatian. Saat di pesta di rumahnya, karakter yang dimainkan Tilda, yang tidak bisa berbahasa Inggris, duduk dan menunduk sambil mengaduk cangkir tehnya. Dia hanya mendengarkan orang-orang di sekelilingnya berbahasa Inggris. Saat dia dipanggil, dia mengangkat mukanya sedikit, dan matanya menyorotkan ekspresi ketidaktahuan atas apa yang mereka bicarakan, karena bahasanya terdengar asing. A very small moment, tapi sungguh brilian dieksekusi oleh Tilda Swinton, yang memberikan gambaran lengkap tentang karakter yang dia mainkan hanya dengan gerak tubuh yang minimal.

[delapan] King

 

Beberapa kali di tulisan di Linimasa ini saya pernah menyatakan kalau film-film bertema ayah dan anak adalah salah satu Kryptonite pribadi. Hampir selalu ‘lemah’ kalau disodori film-film semacam ini. Tak terkecuali film ini. Film yang bercerita tentang cita-cita seorang anak desa yang ingin menjadi pemain bulu tangkis, yang mendapat tentangan dari ayahnya. Penampilan komedian almarhum Mamiek Prakosa sebagai sang ayah masih sangat membekas di ingatan, karena gambaran karakter yang dimainkan benar-benar mencerminkan sosok seorang ayah pada umumnya: keras karena tempaan hidup, namun penuh kasih sayang yang kadang sulit dicerna. Film ini mungkin akan jadi film yang selamanya underrated.

[tujuh] Inglourious Basterds

 

Mulai dari adegan apple pie di restoran, sampai ke penembakan di bioskop yang sangat bombastis, film karya Quentin Tarantino ini bisa dibilang sebagai salah satu yang paling enjoyable di antara semua filmnya. Dan mungkin film ini juga menginspirasi banyak akun media sosial yang membuat sejarah jadi menyenangkan lewat parodi fakta dan kejadian yang sesungguhnya. Nevertheless, film ini, for the lack of better word, memang sangat menyenangkan untuk ditonton berulang kali, sampai sekarang.

[enam] Up

 

Mari kita akui bahwa yang membuat film Up ini sangat berkesan adalah montage selama 7 menit yang menggambarkan kehidupan perkawinan karakter Carl dan istrinya, sampai akhir hayat sang istri. Adegan tanpa kata tersebut sangat indah, bahkan bisa dibilang saking indahnya, hampir keseluruhan film bertumpu pada adegan tersebut. Guliran adegan petualangan yang terjadi setelahnya, meskipun digarap dengan sangat baik, meninggalkan impresi yang tak terlalu mendalam apabila dibandingkan dengan montage di awal film. Jadi apakah mungkin adegan selama 7 menit di awal film bisa uplift the whole film? In this case, yes.

[lima] Mother

 

Sebelum film Parasite dirilis, saya selalu bilang bahwa karya terbaik Bong Joon-ho adalah film ini. Siapa sangka film tentang kegigihan seorang ibu membela putranya ini bisa menjadi film yang tegas, tangguh, sekaligus lembut? Kalau tak percaya, lihat saja adegan terakhirnya, yang pernah saya bahas sebagai salah satu adegan penutup dalam film yang meninggalkan kesan yang sangat mendalam seusai kita menontonnya.

[empat] A Prophet

 

Filmnya memang ‘keras’, karena bertutur tentang kehidupan seorang narapidana dan penjara yang dihuninya. Dan memang sutradara Jacques Audiard memilih untuk memperlihatkan betapa kompleksnya kehidupan di penjara yang bisa mengubah karakter seorang yang tadinya lugu menjadi keji. Kita tidak bisa berpaling sedikit pun dari setiap adegan di film ini, yang sangat menuntut perhatian sekaligus empati kita. Film yang membuat a star is born moment untuk aktor Tahar Rahim, dan sejak dari film ini, setiap film yang dibintangi Tahar Rahim selalu membuat saya menyempatkan diri untuk menontonnya.

[tiga] 3 Idiots

 

Tiba-tiba banyak teman dan kenalan saya yang tadinya tidak mau atau jarang menonton film Hindi atau film India in general, mendadak menonton film ini. Film ini sempat bertahan lama di bioskop, karena word of mouth yang disebarkan sangat positif. Tentu saja rekomendasi film ini karena isu pendidikan yang jadi fokus utama ceritanya. Sampai sekarang pun, film ini dijadikan rujukan untuk memotivasi pendidikan alternatif yang bisa diterapkan untuk menggali potensi non-akademis setiap anak di usia pendidikan dasar. Film yang membuat Aamir Khan menjadi spokesperson untuk urusan pendidikan dan kemanusiaan.

[dua] Up in the Air

 

Pertama kali saya menonton film ini di bioskop tengah malam. Namun setiap dialog di film membuat saya tidak mengantuk. Bahkan semakin tertohok. Meskipun frekuensi terbang saya jauh di bawah karakter Ryan Bingham yang diperankan George Clooney, namun siapapun pasti akan relate dengan perasaan akan perlunya someone to come home to, something to look forward to dalam hidup. Film yang sepertinya akan terasa timeless, dan terbukti paling tidak di sepuluh tahun pertama.

[satu] 500 Days of Summer

 

“Summer, kamu jahat!” Demikian reaksi saya selama bertahun-tahun. Setiap kali ada pertanyaan, “Siapa tokoh paling jahat di film?”, tanpa tedeng aling-aling saya menjawab, “Summer!” Perlu waktu bertahun-tahun, dan ratusan kali menonton ulang, sampai akhirnya saya sadar, dan disadarkan oleh pernyataan Joseph Gordon-Levitt, bahwa Summer hanya melakukan apa yang layaknya dilakukan orang kebanyakan, yaitu mengeksplorasi perasaan sebelum melabuhkan pilihan. The other party saja yang baper kebablasan. Demikian pula dengan saya, yang sialnya selalu ada di posisi Tom, dan tidak pernah di posisi Summer.

Toh saya tetap membiarkan idiom “Summer jahat!” berkecamuk di pikiran saya, karena isn’t it awesome that such a cute character can be villainous unintentionally?

Dan apa film-film favorit anda dari tahun 2009?

“Berisik!”

NUN, empat biksu sedang berlatih bersama. Mereka berikhtiar menjalani meditasi dalam bisu atau tanpa bicara selama dua minggu.

Malam hari pertama tiba. Mereka melanjutkan meditasi, berusaha berkonsentrasi dan mawas diri dalam posisi bersila dengan diterangi cahaya lilin.

Semilir angin malam berembus. Tidak terlalu kencang, tetapi cukup kuat untuk membuat api padam. Hingga beberapa waktu kemudian, api lilin mati dan ruangan pun menjadi gelap gulita.

Related image
Foto: Buddha Eye Temple

Salah satu biksu sontak berucap: Yah… lilinnya mati.
Ditanggapi biksu kedua: Bukankah kita tak boleh berbicara, ya?
Biksu ketiga kemudian bergumam: Kalian berisik!
Terakhir, biksu keempat berbicara dengan nada bangga: Aha! Hanya saya yang tidak berbicara.


Bisakah kita melihat diri kita sendiri dalam salah satu kisah Koan* di atas? Apakah kita menjadi biksu pertama, kedua, ketiga, atau yang keempat dalam kehidupan sehari-hari?

Biksu pertama adalah orang-orang yang sekadar mengekspresikan perasaan terhadap sesuatu. Seringkali memberikan respons secara spontan, refleks, reaktif, bahkan eksplosif tanpa sempat dipertimbangkan matang-matang.

Biksu kedua adalah orang-orang yang terpancing memberikan respons terhadap tindakan biksu pertama, atau orang lain. Mengingatkan saya dengan tren gerakan “Sekadar Mengingatkan 🙏🏽” yang marak di media sosial akhir-akhir ini. Dengan mampu mengingatkan orang lain, mereka cenderung merasa sudah benar. Baik secara konten, yakni tentang hal yang mereka ingatkan, juga secara konteks, mengenai tindakan mereka yang mengingatkan orang lain.

Biksu ketiga adalah orang-orang yang merasa terganggu dengan kebisingan tersebut. Mereka tengah berupaya mencapai sesuatu, tetapi dalam prosesnya malah terpapar dan turut terusik dengan pertentangan yang berlangsung. Mereka pun cenderung merasa benar, lantaran melihat dua pihak yang lain telah berlaku salah. Tanpa sadar, mereka turut melakukan kesalahan.

Sementara biksu keempat adalah orang-orang yang merasa lebih unggul, merasa memiliki posisi argumentatif yang lebih baik dibanding kelompok-kelompok lainnya dengan berbagai alasan. Beberapa di antaranya seperti merasa lebih pandai, lebih bijaksana, lebih cerdas, lebih berilmu; lebih tangguh dan lebih tahan banting; lebih berkelas dan lebih sophisticated; termasuk juga merasa lebih religius dan saleh; lebih alim dan lebih rajin beribadah; lebih paham tentang peraturan-peraturan tata cara keagamaan, serta sebagainya.

Ilusi ego.

Bagi kita yang terbiasa melihat segalanya secara biner, hanya mengenal benar dan salah secara absolut, keempat biksu tadi gagal dalam ikhtiarnya. Mereka melakukan kesalahan, melanggar ketentuan yang telah digariskan atau disepakati akibat dorongan emosional dan ketidaktahuan mereka sendiri.

Biksu pertama melakukan kesalahan karena hanyut dalam gelombang perasaan. Sensasinya serupa dengan keceplosan, berceletuk, menyumpah, dan sejenisnya. Ada banyak orang yang masih bisa memakluminya sebagai ketidaksengajaan, tetapi ada juga banyak orang lain yang langsung terpancing atau tersulut menanggapinya (biksu kedua, biksu ketiga, dan biksu keempat).

Entah benar atau salah, demikianlah yang kerap terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Semua orang–termasuk diri kita sendiri–ikut berkoar-koar senyaring mungkin terhadap banyak hal, seakan-akan koar yang kita teriakkan ialah pembeda keadaan, sekaligus penyelamat orang lain. Sekali lagi tanpa menyadari bahwa justru akan menjadi sama saja dengan yang lainnya.


Kisah Koan di atas biasanya hanya diakhiri dengan celetukan biksu keempat, tanpa ada kelanjutannya. Mereka berempat sedang berlatih meditasi, dan sudah gagal di malam pertama atas kesalahan yang amat dangkal, amat sepele.

Padahal, mereka masih memiliki 13 malam berikutnya untuk terus belajar mengawasi batin dan diri sendiri, agar mampu hening, dan bertindak tanpa gejolak.

Begitulah. Pengertian tumbuh seiring berjalannya waktu dan sebanyak-banyaknya pengalaman.

https://scontent-atl3-1.cdninstagram.com/vp/7b855938b51b72d9d31e4369e8a585de/5D83CDF9/t51.2885-15/e35/59796849_298219671087879_3317711070926421868_n.jpg?_nc_ht=scontent-atl3-1.cdninstagram.com
Foto: Deskgram

[]

*Koan: Kisah ilustratif dan anekdotal untuk pemahaman praktik Zen, sebagiannya tercatat berupa peristiwa yang terjadi/dialami oleh para guru dan sesepuh, dan sebagiannya lagi bersifat teka-teki absurd.

Jejak Yang Kita Tinggal

Paruh kedua tahun ini dibuka dengan beberapa berita duka yang mengena buat saya. Ada beberapa orang yang pergi meninggalkan dunia dengan cepat, terasa tiba-tiba tanpa ada pertanda sebelumnya. Hampir semuanya meninggalkan impresi yang mendalam, yang juga berarti meninggalkan rasa sedih karena kehilangan.

Semakin sedih saat ada seorang teman yang mengatakan bahwa di paruh pertama tahun ini, ada beberapa teman atau kenalan in common kami yang juga telah berpulang. Setiap berita duka datang menghampiri, kadang tanpa sadar kita menghitung atau mengingat-ingat lagi, siapa saja orang-orang terdekat kita yang sudah tiada dan masih ada.

Yang juga kita sering lakukan tanpa kita sadari adalah memikirkan bagaimana orang memandang kita setelah kita tiada.

Beberapa hari lalu, tepat sehari setelah kepergian seorang rekan kami, saya bertemu untuk meeting proyek pekerjaan. Di sela-sela meeting, kami berbagi kenangan terhadap almarhum. Mulai dari kenangan mengerjakan proyek bersama, makan bersama, sampai “kongkalikong” dalam menyusun aturan.

Kami juga sama-sama membaca ucapan berita duka di media sosial, di mana cukup banyak teman-teman kami yang lain berbagi kenangan bersama almarhum yang sudah dibangun selama bertahun-tahun. Kami tertawa, lalu sama-sama mengucap “aaawww …”, lalu tersenyum, berusaha menutup kesedihan yang melanda.

Rekan kami memang dikenal sebagai sosok yang bisa merangkul banyak orang, dan dekat dengan banyak orang dari berbagai kalangan. Tak heran kalau kenangan yang muncul pun yang baik-baik.

 

Footprints1

Namun tak urung seorang rekan bertanya di meeting kami, “Kalau misalnya ada orang jahat yang meninggal, yang semasa hidupnya banyak berbuat salah sama orang lain, I wonder apakah orang tersebut akan sama diomongin seperti kita sekarang ngomongin mas X dengan segala kebaikannya ya?”

Kami terdiam. Seorang teman lain menjawab, “Mungkin. Tapi kayaknya gak langsung diomongin di saat hari wafatnya dia. Energi buat berduka sudah cukup berat, nggak sempet mikirin yang lain-lain.”

Teman lain menimpali, “Dan bisa jadi orang itu gak berbuat baik ke orang lain, tapi he’s an angel to some others. Entah ke keluarganya, ke beberapa temannya, we’ll never know.”

Kami menggangguk dan terdiam lagi. Lalu ada yang bertanya, “Penasaran aja. Have you been wondering, what legacy will we leave behind when we depart?”

Kembali kami terdiam. Setelah lama, saya berkata, “If you ask me, jawabannya nggak tahu, dan terus terang, nggak mau tahu. Karena ya by then, gue udah mati, gue gak bisa lihat ama denger apa yang orang katakan tentang gue. Cuma yang gue tahu, pas masih hidup gini, sebisa mungkin gue gak bikin sakit hati orang. Itu aja, sih. Gak mungkin nyenengin semua orang, emang, but at least, gak bikin orang sepet sama gue. I guess that’s all?

Saya melihat teman-teman saya mengangguk. Teman saya lantas berkata, “Ya living the life lah. We honour orang-orang yang udah ninggalin kita ya dengan hidup. We work, we live, we love, we do what we are best at doing. Life goes on.

Dan dengan pernyataan itu, kami melanjutkan sisa aktivitas masing-masing, karena matahari baru saja terbenam. Sambil masing-masing mungkin berpikir, bahwa legacy kita dimulai dari saat kita menyadari bahwa kita punya kehidupan yang harus kita jalani.