Mengenal Bebegig, Dunia Lain dan Uka-Uka Konsumtif Penuh Keriaan Syalalala

Kerana setan duit bermunculan saat dompet menebal. “Inget ndak, Say? Kamu kan dari kemaren dah ngincer sepatu ini. Ya mumpung lah. Ndak tau kan bulan depan uda disabet orang.”
Setan Duit ada dimana-mana. Mereka biasanya ngumpul di mal. Tapi sekarang mereka lebih demen nemplok di layar laptop, hape, dan pertemuan arisan.

Setan duit bisa muncul juga dalam bentuk setan kredit. Ho’oh. Mereka ada di kartu plastik bernama kertu kredit. Setan jenis ini gatel melulu bawaannya dan minta digesek selalu.

Kaki kita dua saja. Sepasang. Berapa banyak sepatu yang tertata di rak? Di kolong meja kubikel? Belum yang ketinggalan di rumah pacar. Juga di bagasi mobil dan di bawah setir.

Tanggal muda bagi pekerja pemula itu bagaikan surga ketigabelas. Darah deras mengalir. Ndak bisa diem lihat tas baru, gawai terkini, atau bunyi perut minta dimanjakan untuk diisi dengan sajian restoran yang menggiurkan dan tampilannya resik.

Setan perut namanya. Kerjaan utama, meneteskan air liur saat instagram dan path kawan kita menghadirkan tempat ngopi, ngumpul-ngumpul atau sajian istimewa lainnya.

Setan ini adalah setan jenis baru, varian terkini yang dilahirkan dari dunia konsumtif. Kan apa salahnya wong kita mampu. Kenapa ndak? Lagian teman-teman kita pun melakukan hal yang sama. Mencari keriaan dan tertawa bersama.

Ada satu lagi namanya Setan Lancong. Setan yang hinggap di promo tiket, voucher hotel dan ngadem di tepi pantai berpasir mutiara, di pucuk cemara pegunungan, dan di bagian pengurusan visa.

Setan-setan di atas didukung penuh dengan asisten setan yang bersembunyi bagai bug dan virus dalam berbagai aplikasi. Mereka mendekam diam-diam pada aplikasi go-food, bukalapak, traveloka, olx, lazada, m-tix, priceline, airbnb, dan amazon.

Lalu hati kecil kita lama-lama bicara. Sepertinya bukan kerjaan setan deh. Ini kan emang kemauan gue sendiri. Hidup kan kudu dinikmati. Kapan lagi? Duit-duit sendiri, ngapain pelit? Buat sendiri lagi. Hidup mah sekali aja. Makanya kudu dibuat seneng dan jangan nyesel.

Maka dari itu, sepertinya setan sendiri kalah jauh dari pola pikir dan cara bujuk anak zaman sekarang. Sering dapat kultwit, sharing akademi berbagi, apalagi kita orang kuliah sampe S3. Belanja mah belanja aja. Toh kita juga gampang dapetin duit lagi.

Kalau perlu kita malah yang bujuk setan biar kerjaannya ndak cuma menggoda kita. Tapi belajar untuk belanja, pesen tiket pesawat ke raja ampat. Biar cakrawala berpikir mereka agak maju, cukup wawasan, dan bisa pamer di media sosial.

Bukankah kita adalah generasi terkini, yang selalu diketahui oleh khalayak mengenai keberadaan kita berdasarkan apa yang sanggup kita beli. Siapa kita adalah apa yang kita konsumsi.

Aku pakai iphone, kamu hape cina. Ndak level. Kamu pakai avanza, aku pakai mini duonk. Sepakat ndak level? Kamu nongkrong di starbucks, aku mah St.Ali. Lebih kekinian lah! Jelas!

Lihat? Kita berbeda atas apa yang kita konsumsi. Jurang yang dipisahkan gaya hidup.

Bagaimana jika penggagas iphone, desainer mini cooper, pemilik waralaba St. Ali malah hidupnya penuh dengan kalkulasi. Berangkat kerja naik kendaraan umum, dengan bekal yang dibawa dari rumah, membawa termos berisi teh hangat. Makan siang bersama kolega di kantin terdekat, dan mengenakan kemeja katun biasa.

Duit mereka diperlakukan istimewa. Disimpan rapi dan digemukkan agar beranak pinak. Lewat usaha lain. Diberikan kepada para manajer agar rela memberikan lebih banyak uang lagi untuk mereka.

Zaman sekarang adalah zaman kermasan bagi setan konsumtif. Karena setan konsumsi yang terdiri dari setan duit, setan lancong, setan kredit, sekarang sedang menikmati pasive income. Mereka sudah pada kuadran terakhir: menuai hasil tanpa mengeluarkan keringat.

Itu pun jika memang setan ada. Jika ternyata ndak, darimana dorongan konsumtif ini berasal?

Ada yang tau?

Iklan

7 thoughts on “Mengenal Bebegig, Dunia Lain dan Uka-Uka Konsumtif Penuh Keriaan Syalalala

  1. Emang masih ada setan di jaman sekarang? Manusia lebih menakutkan dan lebih gahar mengambil alih tugas setan. Konsumtif kan soal pilihan menjalani hidup, soal cicilan merasakan surga.
    Makanya ada akademi berbagi, biar (manusia) gak kesetanan lagi. Eh.

    rapel baca linimasa minggu subuh, ternyata banyak yg belum dibaca

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s