Lagi Lagi Plastik

Setelah masa mengumandangkan perang ke plastik kresek untuk wadah belanja berlalu, kini saatnya fokus berpindah ke sedotan plastik. Sungguh positif, karena banyak teman di sekitar saya yang jadi secara sadar menolak menggunakannya lagi, dan mulai membeli sedotan yang bisa digunakan ulang, baik terbuat dari bambu atau baja tahan karat. Mudah-mudahan tidak musiman seperti kebijakan tas kresek tidak gratis di supermarket ya. Tapi apakah itu saja sudah cukup? Ternyata belum, loh!

sliver-gold-rose-gold-colour-stainless-steel.png_220x220

Karena seluruh bagian dari frapuccino, atau iced coffee, atau es kopi mantunya tetangga pak Polisi itu ternyata bisa jadi membunuh lingkungan kita perlahan. Jadi, maksudnya kita enggak boleh tanda tangan  petisi online anti reklamasi sambil menyeruput Tuku, gitu?

WhatsApp Image 2018-06-22 at 4.22.30 PM

Ini dari Guardian.com

Tentu tak ada yang melarang. Tapi mungkin ada baiknya kita tau faktanya. Memang gambar dari the Guardian ini ada beberapa yang tidak relevan untuk Indonesia, tetapi banyak yang ya. Seperti jumlah cangkir kopi sekali buang yang memenuhi laut, mungkin kita belum sebanyak Amerika Serikat atau Inggris, tetapi mungkin bisa jadi tidak jauh, dengan sedang trennya es kopi susu dengan gula aren yang memang biasa dibeli oleh layanan ojol dan dikemas dalam gelas plastik. Menyedotnya dengan apa? Tentu sedotan plastik.

Gulanya mungkin tidak setinggi jika kita menyesap minuman dari Starbucks yang bisa diberikan karamel, lalu ditambah sirup lagi, tetapi jika dikonsumsi hampir setiap hari dan tidak diimbangi pola makan sehat tentu tidak akan membuat risiko diabetes, dan teman-temannya (seperti penyakit jantung dan ganggunan ginjal) menurun.

Susu dan produknya juga di Amerika bermasalah citranya karena diidentikkan dengan praktik pertanian yang tidak etis terhadap hewan (kurang paham dengan di sini ya, ingin deh riset sendiri), juga penemuan-penemuan terakhir yang menyebutkan bahwa susu sebenarnya tidak sehat seperti yang diklaim produsennya selama ini. Sementara untuk yang berlomba-lomba pindah ke susu almon juga semoga sadar kalau almon itu tidak tumbuh di Indonesia, dan menanamnya membutuhkan sumber daya air yang berlebihan, tidak jarang membuat lahan jadi kekeringan. Kedelai yang jadi bahan susu kedelai juga tidak bebas dosa, karena banyak penebangan liar terjadi demi penanamannya dan isu Monsanto, tentunya.

LALU KITA MINUM APA DONG?

Air sih, sebaiknya. Tapi tentu sebagai manusia normal kita perlu kafein di dalam darah ya. Karena itu coba biasakan bawa wadah sendiri lengkap dengan sedotannya, agar bebas rasa bersalah. Lebih baik juga kalau kita buat sendiri kopi, dan membeli kopinya dari orang yang kita paham membeli biji kopi dari petani lokal dengan harga adil.

stojo

Cangkir lipat dari stojo.co ini sungguh mudah dibawa, sekarang ada yang lengkap dengan sedotan pun! #bukaniklan

Maaf ya, kalau mengurangi kenikmatan menyeruput kopi dingin Anda, tetapi sebelum saya dituduh SJW, harap ingat kalau ini hanya saran.

 

Advertisements

Menata Hunian

Memutuskan untuk tinggal di tempat sendiri sejak akhir tahun kemarin, ada perasaan excited sekaligus lega jadi satu.

Excited, karena akan memulai sesuatu yang baru, dan benar-benar dilakukan oleh diri sendiri. Mengisi ruangan-ruangan dengan sebagaimana mestinya meskipun hanya bisa satu demi satu, menatanya sedemikian rupa, dan memastikan agar semua terasa cukup nyaman dan menyenangkan.

Lega, karena sesuatu yang baru tadi dimulai dari ruangan-ruangan kosong. Tidak ada perabotan lama, tidak perlu ada pemilahan mana yang akan dipertahankan dan mesti dibuang. Ini berarti lebih hemat waktu, tenaga, dan pikiran. Walaupun konsekuensinya, ada kemungkinan besar untuk mengeluarkan lebih banyak uang jika ingin menambah ini dan itu.

Kemudian, cukup terkejut ketika pertama kali terpapar dengan teknik berbenah KonMari (akronim dari Marie Kondo, nama si empunya ilmu), yang booming dan termasyhur di dunia belakangan ini. Sebab alih-alih dianggap kemampuan berdasarkan pengalaman dan perspektif personal, aktivitas beberes di rumah ternyata punya ‚Äúperguruannya‚ÄĚ sendiri. Dikursuskan, dikonsultasikan, bahkan dikampanyekan sebagai gaya hidup kekinian. Lagi-lagi, sebagai seseorang yang baru pindah tempat tinggal dan mengurus sendiri, maka tidak ada salahnya untuk mencoba menjalankan beberapa kiat berbenah ala KonMari.

Marie Kondo. Foto: Daily Republic

Setelah selesai membaca bukunya, bisa disimpulkan bahwa Marie Kondo tidak kenal atau malah memerangi konsep ‚Äúmubazir‚ÄĚ. Kiat paling mendasar yang memenuhi hampir separuh bukunya adalah membuang barang. Namun, hal ini wajar. Lantaran kondisi yang dihadapi Marie Kondo adalah rumah dan apartemen yang sudah telanjur penuh, sudah ditinggali cukup lama, sehingga barang-barang yang ada di dalamnya pun sudah berlimpah ruah. Efeknya masuk akal. Banyak yang dibuang, ruangan pun menjadi lapang. Dibuang, bukan sekadar dipindahkan.

Dalam salah satu bagian di bukunya, Marie Kondo menyatakan bahwa teknik beberesnya sangat cocok bagi orang-orang yang tinggal di Jepang dan Amerika Serikat (serta di berbagai negara maju lainnya). Alasannya, warga kelas menengah dan ke atas di negara-negara tersebut memiliki kemampuan dan dorongan berbelanja yang cenderung tinggi, serta sangat mudah untuk menjadi penimbun barang. Masuk akal.

Apabila dirasa-rasa, tampaknya ada beberapa poin yang bisa ditambahkan sebelum kiat-kiat Marie Kondo dipraktikkan. Tentu saja berangkat dari perspektif seseorang yang baru akan mengisi dan menata huniannya.

  1. Beli Barang yang Benar-benar Dibutuhkan

Secara ekonomis, langkah ini diperlukan untuk menghemat pengeluaran. Berhitung dengan cermat untuk memaksimalkan anggaran, agar tidak terkesan percuma. Yang diperlukan adalah kecermatan, bukan sifat pelit berlebihan. Toh ini membeli, bukan meminta, mencuri, apalagi mengambil barang bekas.

Demi kerapian, langkah ini diperlukan untuk meminimalisasi potensi kesemrawutan yang bisa terjadi. Merencanakan penataan secara menyeluruh, membayangkan big picture-nya, agar efektif dan efisien. Agar ujung-ujungnya, merujuk pada kiat utama KonMari …

  1. Jika Tidak Punya Banyak Barang, Apa yang Mau Dibuang?

That’s it! Mengatasi problem kesumpekan bahkan jauh sebelum masalahnya muncul. Ya … meskipun fase ini juga tetap berpotensi memunculkan ketidaknyamanan, sesuai preferensi setiap individu sih. Ada yang betah-betah saja dengan ruangan lapang dan terlihat kosong, tetapi ada pula yang lebih suka keramaian harta benda. Sebagai pertanda kekayaan, kemakmuran, kesejahteraan, dan situasi serbaada. Padahal, punya duit banyak bukan berarti harus dibelanjakan semuanya, kan?

Bagi yang masih tinggal sendirian, setidaknya bisa bebas menentukan pilihan. Lain cerita apabila tinggal bareng pasangan dengan selera berbeda. Akan ada diskusi, negosiasi, dan kesepakatan mengenai hal ini. Kepemilikan barang tak lagi perseorangan, melainkan bersama. Asalkan keduanya bisa …

  1. Konsisten

Lebih kepada konsistensi untuk menjaga kerapian, dan memerhatikan sekeliling. Setuju banget dengan Marie Kondo; serapi apa pun rencana penataan dijalankan, tetap akan berantakan tanpa disiplin. Mending kalau masih tinggal sendiri, kesalahan maupun dampaknya berasal dan dirasakan oleh diri sendiri. Mengomel pun kepada diri sendiri. Setelah tinggal bersama, bakal muncul kesalahan dan aksi lempar-lemparan. Dampak dari ketidakrapian pun bisa dirasakan orang lain.

Hal ini sebenarnya tidak gawat-gawat amat. Bagi pasangan muda, atau pasangan yang terbiasa selalu mesra, urusan begini bisa tetap berujung manis dan bukan ‚Äúperang dunia‚ÄĚ, entah bagaimana pun caranya. Hanya saja, akan jauh lebih baik bila konsistensi untuk rapi bisa menjadi kebiasaan. Diturunkan, dan diajarkan kepada generasi penerus maupun sesama. Membangun dan berbagi kebaikan. Adab, begitu orang dulu menyebutnya.

Cobain, aja.

Photo by Bench Accounting

Doanya, mudah-mudahan bisa segera punya hunian pribadi, ya … dan buat yang sedang dalam proses, semoga selalu dilancarkan.

[]

SangaTips

Jika bising digital merambah hubungan personal dapat diartikan bahwa piranti elektronis dan segala fiturnya semakin melekat dalam kehidupan kita sehari-hari. Kisruh ini hadir setelah munculnya peraturan yang menyambung dunia maya dengan realita lewat UU ITE. Apa yang terjadi di layar hape dapat digubah menjadi laporan polisi. Lalu apa yang sebaiknya dilakukan oleh warga pengguna internet?

  1. Gunakan akun anonim, atau
  2. Posting seperlunya, karena
  3. Medsos bukan tempat sampah, dan ingat
  4. Hindari skrinkep postingan orang lain, serta
  5. Jangan telanjang depan kamera,
  6. Jika jurnalisme dibungkam, sastra bicara, karena
  7. Batasan privat dan publik sudah tak ada lagi
  8. Banyak hal menarik di bawah langit, misalnya
  9. Menatap binar mata lebih menarik dari sekadar menatap layar hape.

NEW FINAL WISE VISUAL-simplified

Akun anonim berguna untuk mencegah riya dan perbuatan yang dapat mengganggu kredibilitas kita. Kawan dan lawan batasannya setipis kondom. Begitu getas untuk berpikir jernih mana yang patut disuarakan. Ada baiknya lebih banyak mendengar dan membaca daripada bicara dan menulis hal-hal yang sensitif. Bukan bersembunyi dalam sebuah identitas. Melainkan akal sehat dan hati jernih tetap setia kepada tanpa pamrih.

Jika kita mengunggah sesuatu pastikan itu adalah hal yang perlu. Jangan pernah meremehkan satu karakter. “Kami” bisa jadi “kamu” hanya karena jempol terlalu tergesa-gesa menulis. Siap menjadi sial. Turut berduka dan bersuka. Nemenin dan nenenin. Konyol dan kontol. Karena akhir-akhir ini lebih banyak yang makan soang, makan bakso tahi. Juga Adzab subuh dan anjuran untuk perbanyak anal.

Medsos itu penyebar informasi yang efisien. Satu kelahiran kalimat bisa berlari kemana saja. Garis finish-nya masih misteri. Bahkan tanpa ujung. Karena medsos itu bagai energi. Terus kekal dan hanya berubah format. Kita semakin rajin saja melahirkan zombie.

Juga ndak perlu iseng punya kegemaran skrinskep postingan teman, sahabat, pacar apalagi lawan. Yang saya tahu, saat ini Tuhan sedang menimbang-nimbang apakah skrinkep bagian dari dosa kecil. Karena selayaknya pencuri, mengambil sesuatu tanpa permisi.

Telanjang juga jangan menjadi hobi. Telanjang baik secara fisik maupun secara mental. Payudara dan arogansi itu seimbang di mata netizen. Baper, caper, dan laper itu semacam ngomel sembari ngemil sekaligus ngemol. Wajah dan tubuh kita adalah tiang bendera yang harus dijunjung tinggi ketika sedang ada yang berkibar. Selfi diperkenankan tapi jangan disebarkan terlalu dini, apalagi berkali-kali.

Pun jika tak tahan lagi ingin berkomentar negatif. Lakukan dengan kiasan dan penuh metafora. Karena apapun yang kita tulis, akan ditafsirkan secara bebas oleh pembaca. Semacam sperma yang lepas di mulut rahim. Entah bagian mana yang akan membuahi telor. Kita hanya mengeluarkan. Soal akibat, siapa sih yang dapat menentukan?

Ketika televisi hadir pertama kali, maka ia menjadi ancaman karena merangsek melewati pagar rumah dan dinding kamar. Apalagi gawai dan sambungan internet. Ia hadir di genggaman. Ketika kita menulis sesuatu berarti kita membiarkan ia menjelajah ruang dan waktu hingga sumsum tulang belakang.

Ada baiknya kita kembali seperti dulu. merayakan hadirnya matahari, hempasan angin, dan debu beterbangan. Karena di bawah langit adalah hiburan nyata yang patut dinikmati. Tak ada godaan eksistensi dan kemashuran disana. Justru kerdilnya kita di sebuah titik galaksi yang melayang-layang. Kita terbang naik kendaraan bernama bumi. Sudahkah anda berkeringat hari ini?

Karena yang terbaik adalah saling tatap dan bertukar udara. Ada hal yang tak ditemukan dari sebuah layar hape. Deru nafas. Aroma tubuh. Kerling mata yang menghujam ulu hati. Sentuhan jemari pada kulit. Apalagi pagutan mesra pada bibir.

salam anget,

GusRoy

Tanggal Tua

Kenapa ada istilah tanggal tua, dan kenapa tidak ada tahun tua. Jika hari punya istilah hari tua, itu malah bicara usia yang semakin bergulir menuju senja.

Tanggal tua dihadirkan untuk menunjukkan hari-hari kelabu tanpa bisa sesegar hari-hari sebelumnya. Perkaranya sederhana: tak ada banyak uang di celana.  Tanggal tua muncul karena kita dominan menjadi anggota fixed income society. Para manusia berpenghasilan tetap. Kebetulan saja jika kita mendapat upah bulanan. Jika mingguan, maka hari jumat sore tak seindah sekarang.

sminequality_scanlon_r2

Para bankir menagih hutang kita per bulan. Tagihan listrik juga. Tak mau ketinggalan SPP sekolah, kos-kosan, dan pulsa pascabayar. Maka tak aneh jika gaji bulanan kita layaknya menstruasi. Datang sebulan sekali dan selesai dalam tujuh hari.

Pagi tadi saya kembali dari Bandung menuju Jakarta. Seperti yang saya duga sebelumnya bahwa tanggal tua, seperti tanggal 22 hari ini, mobilitas warga sangat berkurang. Tak semacet biasanya. Pintu Tol Cikarang Utama maupun Pondok Gede lancar-lancar saja. Jalan protokol, yang biasanya dipadati warga ibukota belanja-belanji di mal, lengang.

Ketika tagihan KPR, kendaraan, telpon, kartu kredit, spp sekolah anak, uang bulanan buat pembantu, sopir, sekaligus keinginan menumpuk pundi-pundi harta kekayaan semakin membingungkan dan bikin pusing tujuh keliling, apakah memang sudah saatnya setiap karyawan yang digaji bulanan sudah mulai menyewa jasa penasehat keuangan? Sepertinya belum perlu. Karena jauh lebih penting meningkatkan kemampuan kita mendapatkan gaji lebih tinggi. Tentu saja pendapat ini berangsur-angsur akan saya ralat. Mengapa? Karena memang pada akhirnya gaya hidup kita sangat bergantung pada penghasilan kita. Gaji rendah, perilaku ndak beda sama anak mahasiswa yang ngekos. Gaji semakin banyak, gaya kita semakin ngebos. Celakanya, ketika tiba-tiba penghasilan kita menurun, eh perilaku bos ndak ikut berubah menjadi seperti anak kos.

This slideshow requires JavaScript.

Siksaan tanggal tua semakin parah dan pedih jika menjelang hari gajian duit di tabungan dan dompet sudah tak ada, lalu menggunakan cara cepat tapi sesat: gunakan kartu kredit. Padahal untuk makan dan keperluan lainnya syarat menggunakan kartu kredit hanya di merkan tertentu dan dengan minimal nominal transaksi . Hal ini sebetulnya justru langkah yang semakin boros. Apalagi jika ternyata pada saat akan mendapat tagihan kartu kredit hanya mampu membayar minimal kewajiban pembayaran sebesar 10% saja dari keseluruhan tagihan.

Beberapa tahun yang lalu @glennmars pernah mencanangkan sehari cukup goban alias Rp.50ribu saja. Artinya bahwa sejak kita bangun tidur sampai kembali tidur, baik untuk ongkos perjalanan dari tempat tinggal ke kantor, sarapan, makan siang, ngemil, rokok, menghabiskan tidak lebih dari Rp.50ribu. Saya belum tahu apakah saat ini dia masih menjalankan program ini. Atau malah, karena kondisi ekonomi yang serba ketat ini, sekarang @glennmars berhasil menghabiskan dana hanya setengahnya saja alias no ban go (Rp.25ribu). Mungkin justru inilah yang menyelamatkan kita dari jeratan tanggal tua. Disiplin diri mengeluarkan uang dan memberi hadiah kecil untuk kita sendiri sesekali waktu dan dengan alasan tertentu. Dan ternyata berhasil. Cicilan apartemen dia lebih cepat dari jadual semestinya. ūüôā

Beberapa teman saya di kantor masih membawa sarapan dari rumah dan sekaligus nasi kotak untuk makan siang. Walaupun diajak ke kantin tak menolak, tapi mereka cukup memesan minumnya saja. Pertemanan jalan terus dan kondisi keuangan tetap sehat.

Sebetulnya ada kunci hemat sejahtera lainnya. Soal transportasi. Kita sama-sama tahu sendiri bahwa ongkos perjalanan itu mengabiskan banyak biaya dan waktu. Mengapa tidak mencoba meninggalkan mobil pribadi dan mulai naik kendaraan umum? Atau akan jauh lebih hemat lagi jika berani mencoba untuk mengendarai sepeda kemanapun tujuan yang akan dituju. Selain hemat dan sehat, ternyata juga nikmat.

Jika pengetatan anggaran pribadi ini sukses, maka kita ndak bakalan lagi mengenal tanggal tua. Semua hari dilalui dengan sumringah. Ndak perlu berlebihan dalam berbelanja, tapi juga ndak perlu terlalu pelit pada diri sendiri.  Sebagian dari kita merayakan kesuksesan semacam ini dengan berlibur sejenak, dengan tiket promo tentu saja. ūüôā

 

Salam anget,

roy senduk.

Maya Nyata Ternyata Sama-sama Fana Karena Dia Adalah Uang

Masih saja banyak netizen maupun citizen yang menganggap sesuatu yang maya itu tak layak atau setidaknya tak sebanding dengan dunia nyata. Artis sinetron itu artis sungguhan, sedangkan seleb twitter atau instagram itu artis karbitan atau malah bukan artis dan sok iye aje. Kira-kira seperti itu. Bahwa apa yang terjadi di media sosial, apa yang disampaikan dalam vlog, blog, dan percakapan dunia maya, kadarnya tidak lebih dari percakapan di bangku taman, pojok kafe, atau arisan.

Coba deh kita pikir-pikir lagi.

Hal paling maya yang sampai saat ini menjadi hal paling penting bagi sebagian besar peradaban manusia apalagi di saat hari raya dan tanpa sadar kita mengamininya adalah “uang”.

Uang sejatinya ndak riil. Uang masa kini yang ndak jelas datangnya dari mana, kapan, kenapa bisa, dan bagaimana mendapatkannya untuk kemudian diternakkan.

Ketika kertas yang dikeluarkan bank sentral nilainya begitu luhur, sedangkan kertas bikinan pabrik kertas leces nilainya tak seberapa, menandakan bahwa tanpa sadar kita sama-sama mengamini bahwa kertas berwarna disertai angka tertentu itu bernilai. Bukan karena zat atau material yang terkandung, melainkan kesepakatan semua orang, walaupun nilai instrinsik uang kertas tak seberapa besar dibanding nilai tukarnya.

Vladimir Kush 1965 - Russian painter - The Surreal Landscapes - Tutt'Art@

Beda ketika uang masih dibuat dengan bonggolan emas, perak atau perunggu, yang bilamana diukur nilai emasnya tanpa perlu melihat angka yang tertera pada uang tersebut, memang bernilai. Jika koin pecahan emas ini bopeng dan angkanya luntur, dikumpulkan dan ditimbang pun masih laku dengan nilai yang nyaris setara dengan nilai tukar koin tersebut. Nilai intrinsik sama dengan nilai tukarnya. Klop!

Katakanlah, 1 dinar, seberat 10 gram emas, setara dengan 1 ekor kambing, maka pilihan transaksi dalam pasar adalah 1 kambing dapat dibeli dengan 1 dinar, atau 1 kambing dapat dibeli dengan 10 gram emas, atau 10 gram emas dapat dibeli dengan 1 dinar.  Kesetaraan. Bukan jender, tapi nilai uang dan barang.

Hingga awal abad 20, konsep ini masih berlaku. Setiap bank sentral suatu negara hendak mengeluarkan pecahan uang kertas maka mereka diwajibkan menyiapkan cadangan emas yang nilainya setara dengan jumlah uang yang akan dikeluarkan tersebut. Jadi uang adalah cerminan, atau fotokopian, atau salinan dari nilai emas yang ada dan tersimpan di bank sentral. Seolah-olah uang yang beredar di masyarakat adalah “surat utang” bank sentral kepada setiap pemegang uang bahwa para pemegang uang punya jatah emas yang disimpan oleh bank sentral dan sewaktu-waktu monggo aja kalau mau diambil.

Kecuali usai pertemuan Bretton Wood.

Secara historisis konteks ekonomi internasional, sebelum menggunakan sistem moneter Bretton Woods ini, basis pertukaran dunia menggunakan standar emas sebagai standar mata uangnya. Emas menjadi suatu alat tukar dalam perdagangan internasional. Negara-negara berlomba-lomba menyimpan kuantitas cadangan devisanya berupa emas di bank sentral mereka. Mata uang suatu Negara dikonversi dengan daya belinya terhadap emas. Pada masa itu perekonomian berjalan secara self-regulating dimana perekonomian secara natural bebas mengalir dalam bentuk uang dan investasi sesuai dengan azas Adam Smith laissez-faire yang menyerahkan perekonomian pada equilibrium pasar. Pada masa pre-Bretton Woods, selain emas, Negara-negara juga banyak mengkonversi mata uangnya dengan Poundsterling Inggris (yang sebenarnya adalah mata uang yang berbentuk perak) karena Inggris pada saat itu adalah Negara yang berkembang secara industrial (F, Deyanto).

Bentuk uang juga dapat berupa warkat atau sering disebut giral. Ada cek dan bilyet giro yang dapat dicairkan. Selembar kertas yang telah divalidasi dan nilainya dipersamakan dengan uang di dalam rekening seseorang. Warkat ini adalah cerminan rekening kita di bank. Jika rekening kosong, maka ada yang disebut “cek kosong”, cek dengan nilai tertentu yang tak dapat dicairkan karena rekening pemilik tak mencukupi nilai yang tertera.

Kemudian seiring perkembangan zaman, dunia maya memperkenalkan  uang digital, dengan masyarakat less-cash society, emoney maupun bitcoin.

Sejatinya ketika dunia maya memperkenalkan uang digital sejatinya uang sudah menjadi “maya-kuadrat” atau “mayaception”. Mengapa?

Uang justru kembali kepada khittahnya saat pertemuan Bretton Wood untuk menjadi maya dan tak nyata. Ia lepas dari alasan apapun untuk muncul. Saat ini bahkan fisik uang menjadi lenyap dan digantikan dengan bit-bit sinyal di atm, layar ponsel, maupun ebanking layar laptop dengan sedert angka-angka. uang tak membutuhkan fisik lagi sekarang. Cukup angka. Dan kita ternyata cukup puas dengan semua ini. Bank Sentral semakin senang. ndak perlu capek-capek cetak duit lagi.

Transfer uang bukan lagi masuk dalam amplop lalu dikirim oleh ponakan atau burung merpati yang diletakkan dalam lipatan surat cinta.

Pemalsu uang yang bingung ketika toko-toko ndak mau terima pembayaran cash melainkan via gesek atau transfer. Ada sisi positif juga sisi negatif. Seperti koin, selalu memiliki dua sisi (entahlah dengan bitcoin yang tak punya tampilan fisik). Perusahaan yang menerima pesanan cetak uang akan terancam bangkrut, karena menganggur ndak mencetak uang lagi. Atau setidaknya hanya mencetak uang ala kadarnya, misalnya untuk uang fisik baru dalam rangka hari raya untuk dijadikan angpau. Bahkan 5 tahun ke depan angpau akan lebih disukai jika berbentuk emoney atau flazz.

Sekarang mari kita ingat-ingat lagi, apakah kita benar-benar memiliki uang? Dan apakah uang itu riil?

Jika yang dimaksud adalah memiliki nilai-nilai angka rupiah tertentu? Iya. Kita dapat mengaksesnya via atm dan ponsel. Apakah kita memiliki fisik uang? Ndak mesti. Karena apa yang ada di dompet hanya ala kadarnya jika dibandingkan dalam rekening bank. Uang menjadi maya. Ia berkelindan dengan dunianya sendiri dalam alam digital. Semakin jarang ia menampakkan diri dalam bentuk lembaran uang kertas. Uang gentayangan dalam alam roh. Tanpa wujud namun selalu masuk dalam mimpi buruk dan mimpi indah setiap insan. Bahkan ada yang menjadi tujuan hidup untuk selalu bersamanya.

Uang bernilai karena sama-sama kita akui ia bernilai. Saat barang produksi langka bahkan tidak ada, termasuk makanan, minuman, dan kebutuhan pokok lainnya hilang dari pasaran, yang tersisa dari hidup kita adalah angka-angka dalam layar kaca ponsel kita, tanpa kita tahu bisa bermanfaat untuk apa. Uang kehilangan kesaktiannya. Ia tak mampu memiliki daya upaya membeli sesuatu. Nilainya menjadi anjlok dan semakin tak bernilai.

Contoh ekstrim lainnya, jika kita terdampar di pulau kecil sendirian, sinyal kencang dan bisa ebanking, tapi jauh dari mana-mana dan kita lapar. Go-food tak ada, nelayan yang mampir tak ada, maka kita hanya dapat menatap nanar layar ponsel kita. Angka-angka yang  tak bisa dimakan dan dijadikan tumpuan bertahan hidup. Kita mati kelaparan.

Uang tak dapat hidup sendirian. Ia harus berdampingan dengan “sesuatu lainnya” agar bernilai. Uang mustahil untuk hidup sendirian. Uang hanya terus menjadi bayang-bayang. Namun anehnya, kita sebagian menjadikannya sesembahan. Dan celakalah yang ternyata menuhankan uang. Karena tuhannya begitu getas, rapuh, dan tanpa ada daya upaya.

Jadi.. masih cinta mati sama Dia?

Salam anget,

LoiCayul

 

 

 

catatan:

Namun, tetap patut diakui, bahwa dunia fana sekaligus maya kekinian masih menomorsatukan uang dan terus berjaya. Karena semua orang masih sepakat sama-sama menjadi hal paling favorit setiap hari. Bisa nambah amalan atau nambah dosa. Bikin hepi atau bikin iri. Padahal ya gitu deh. Ndak nyata. Getas, Rapuh, seperti perasaan jomblo.

 

Rejeki

Karena kami ingin menghindari jenama: “Pekerja Teks Komersial”, maka dari itu linimasa hingga saat ini ¬†belum berpikiran untuk menjadikannya buku dan dijual dengan harga tertentu. Seperti apa yang sering dibilang Yajugaya, “Hati tak pernah mencari, ia jatuh sendiri.” Hal ini berlaku juga soal rejeki. Dia bisa muncul darimana saja. Bisa jadi para Penulis linimasa ndak mendapat rupiah dari tulisannya secara langsung, tapi yakin saja banyak hal menyenangkan yang dapat terjadi di kemudian hari.

Rejeki bagi sebagian adalah melulu uang. Apa iya? Apakah mendapat rejeki itu karena kita hoki?

Ketika kecil saya pernah diceritakan engkoh-engkoh cina, tetangga rumah kakek saya. Bahwa untuk menjadi hoki itu harus bangun lebih pagi, kerja lebih giat dan senantiasa berkenalan lalu bersahabat dengan orang yang tepat.  Ini soal hoki yang diusahakan dan nantinya akan berwujud materi. Ndak papa. Namanya juga engkoh-engkoh.

Lain lagi kawan saya pernah bilang suatu hari. Rejeki itu bentuknya bisa dalam wujud tubuh yang sehat. Juga dalam wujud air hujan. Saya menduga, masa kecilnya dihabiskan dengan ngojek payung.

Tapi bagi sebagian lain rejeki ndak penting. Mereka lebih memilih ndak kena musibah. Rejeki ndak usah dikejar. nanti malah ada apa-apa yang bikin mereka malah celaka. Semacam kesepakatan atau sejenis MoU dengan nasib, bahwa mereka ndak perlu  rejeki gede-gede yang biasanya sepaket dengan malapetaka. Kecil tapi ademayem.

Ketika peneliti Harvard menyimpulkan bahwa: “Good relationships keep us happier and healthier“, ¬†maka rejeki melimpah tak menjadi penting lagi. Maka pepatah Jawa yang disampaikan Umar Kayam menjadi sahih: “Mangan ora mangan kumpul“. Karena untuk menjadi arif selalu banyak cara. Boleh berbeda asal harmonis. Karena ndak mesti hitam dipertentangkan dengan putih.¬†Goenawan Muhammad bilang begini, “Hidup, seperti tersirat dalam tulisan Umar Kayam ini, tidak bisa dilihat secara ekstrem; banyak problem, tapi kita masih bisa selalu betah karena hidup tak pernah jadi proses yang soliter.”

Dalam diskusi saya dengan Glenn, muncul sebuah istilah jawa “Sak Madya“. Di tengah-tengah. Ndak berlebih, juga ndak kurang. Secukupnya. Termasuk soal ambisi. In between nrimo and ngoyo.

Lantas, apa arti rejeki bagi kamu Om Roy? Bagi saya, rejeki adalah segala hal yang membuat jiwa tenang dan hati yang berseri-seri.

Karena kaya bukan karena banyak membeli, tapi banyak memberi.

Selamat bermalam minggu.

Salam anget,

Roy

 

 

 

 

 

Mengenal Bebegig, Dunia Lain dan Uka-Uka Konsumtif Penuh Keriaan Syalalala

Kerana setan duit bermunculan saat dompet menebal. “Inget ndak, Say? Kamu kan dari kemaren dah ngincer sepatu ini. Ya mumpung lah. Ndak tau kan bulan depan uda disabet orang.”
Setan Duit ada dimana-mana. Mereka biasanya ngumpul di mal. Tapi sekarang mereka lebih demen nemplok di layar laptop, hape, dan pertemuan arisan.

Setan duit bisa muncul juga dalam bentuk setan kredit. Ho’oh. Mereka ada di kartu plastik bernama kertu kredit. Setan jenis ini gatel melulu bawaannya dan minta digesek selalu.

Kaki kita dua saja. Sepasang. Berapa banyak sepatu yang tertata di rak? Di kolong meja kubikel? Belum yang ketinggalan di rumah pacar. Juga di bagasi mobil dan di bawah setir.

Tanggal muda bagi pekerja pemula itu bagaikan surga ketigabelas. Darah deras mengalir. Ndak bisa diem lihat tas baru, gawai terkini, atau bunyi perut minta dimanjakan untuk diisi dengan sajian restoran yang menggiurkan dan tampilannya resik.

Setan perut namanya. Kerjaan utama, meneteskan air liur saat instagram dan path kawan kita menghadirkan tempat ngopi, ngumpul-ngumpul atau sajian istimewa lainnya.

Setan ini adalah setan jenis baru, varian terkini yang dilahirkan dari dunia konsumtif. Kan apa salahnya wong kita mampu. Kenapa ndak? Lagian teman-teman kita pun melakukan hal yang sama. Mencari keriaan dan tertawa bersama.

Ada satu lagi namanya Setan Lancong. Setan yang hinggap di promo tiket, voucher hotel dan ngadem di tepi pantai berpasir mutiara, di pucuk cemara pegunungan, dan di bagian pengurusan visa.

Setan-setan di atas didukung penuh dengan asisten setan yang bersembunyi bagai bug dan virus dalam berbagai aplikasi. Mereka mendekam diam-diam pada aplikasi go-food, bukalapak, traveloka, olx, lazada, m-tix, priceline, airbnb, dan amazon.

Lalu hati kecil kita lama-lama bicara. Sepertinya bukan kerjaan setan deh. Ini kan emang kemauan gue sendiri. Hidup kan kudu dinikmati. Kapan lagi? Duit-duit sendiri, ngapain pelit? Buat sendiri lagi. Hidup mah sekali aja. Makanya kudu dibuat seneng dan jangan nyesel.

Maka dari itu, sepertinya setan sendiri kalah jauh dari pola pikir dan cara bujuk anak zaman sekarang. Sering dapat kultwit, sharing akademi berbagi, apalagi kita orang kuliah sampe S3. Belanja mah belanja aja. Toh kita juga gampang dapetin duit lagi.

Kalau perlu kita malah yang bujuk setan biar kerjaannya ndak cuma menggoda kita. Tapi belajar untuk belanja, pesen tiket pesawat ke raja ampat. Biar cakrawala berpikir mereka agak maju, cukup wawasan, dan bisa pamer di media sosial.

Bukankah kita adalah generasi terkini, yang selalu diketahui oleh khalayak mengenai keberadaan kita berdasarkan apa yang sanggup kita beli. Siapa kita adalah apa yang kita konsumsi.

Aku pakai iphone, kamu hape cina. Ndak level. Kamu pakai avanza, aku pakai mini duonk. Sepakat ndak level? Kamu nongkrong di starbucks, aku mah St.Ali. Lebih kekinian lah! Jelas!

Lihat? Kita berbeda atas apa yang kita konsumsi. Jurang yang dipisahkan gaya hidup.

Bagaimana jika penggagas iphone, desainer mini cooper, pemilik waralaba St. Ali malah hidupnya penuh dengan kalkulasi. Berangkat kerja naik kendaraan umum, dengan bekal yang dibawa dari rumah, membawa termos berisi teh hangat. Makan siang bersama kolega di kantin terdekat, dan mengenakan kemeja katun biasa.

Duit mereka diperlakukan istimewa. Disimpan rapi dan digemukkan agar beranak pinak. Lewat usaha lain. Diberikan kepada para manajer agar rela memberikan lebih banyak uang lagi untuk mereka.

Zaman sekarang adalah zaman kermasan bagi setan konsumtif. Karena setan konsumsi yang terdiri dari setan duit, setan lancong, setan kredit, sekarang sedang menikmati pasive income. Mereka sudah pada kuadran terakhir: menuai hasil tanpa mengeluarkan keringat.

Itu pun jika memang setan ada. Jika ternyata ndak, darimana dorongan konsumtif ini berasal?

Ada yang tau?

Pesan Liem Sioe Liong Tentang Path-casila

Sila Peltama:

Jangan pernah sklinkep.   

Apalagi yang lu gituin adalah akun-akun yang haus lope-lope, sok cali sensasi pembobol lahasia negala, atau genelasi jadul. Lu kagak pelu nyebal-nyebalin HOAX. Dalipada nyebalin hoax, mending jadi temen ahox.

 

Sila Kedua:

Jangan pelnah pamel tanpa sadal.

 

Sila Ketiga:

Jangan pernah ngiklanin kantor lama

Walaupun maksudnya baik. Celita bagus-bagusnya kantol atau tempat kelja lama,  Lu olang ntal dikila muna. Ngapain ngiklanin lowongan kelja kantol lama, padahal lu olang sendili malah pelgi.

Duit gajian kantol lama lu olang udah jadi makanan dan sekalang malah uda jadi tai. Jangan dong ah pamelin tai sendili dan bilang masih enak. Bukan dikila lu blom muv-on. Bukan! Tapi lu bakalan dikila so’ baeq.

 

Sila Keempat:

Jangan  ngomongin kantor sekarang mulu.

Ngomongin kantol soal jelek-jeleknya tuh ndak baeq. Banyak godaan untuk ngomongin ginian. Ndak mesti soal kebijakan tempat kelja, tapi juga ngomongin bos, temen sendili, bawahan, keluh kesah soal kondisi kelja. Lu kan lagi cali mamam disono, telus tempat mamam situ diludahin, telus dimamam lagi gitu.

Ya kali.

 

Sila Kelima:

Jangan pelnah belteman dengan bukan teman

Path itu kudunya buat hopeng lu aja. Kagak pellu lu temenan sama banyak olang. We kasih tau lagi: Boosss, path bukan kayak twittel Bos sampe pabanyak-banyak followel. Tapi path buat hubungan intim aje. Bahkan kalo ada temen lama tapi keljaannya ngutukin, cela, sok paling benel, undfliend ajalah. Atau yang suka gengges. Lu olang kagak usah lagu-lagu, apalagi malu. Dalipada nyusahin idup lu. Kan hidup benelan uda susah, masa dunia maya bikin susah lagi. Itu namanya lu olang “ogeb.”

Udah ah. Menurut we sih, lu olang lajin kelja aja kayak ponakan we, Ahok. Demen banget we liatnya.

Salam cuan.

Liem

 

Makanan dan Akal Sehat

Beberapa hari yang lalu saya makan di tengah-tengah restoran. Benar-benar di tengah. Karena posisi ini saya bisa melihat dengan jelas seluruh aktivitas restoran. Keluarga yang sibuk mencari tempat duduk yang dianggap paling nyaman, anak kecil yang berlarian kesana-kemari. Seorang nenek yang ternganga dengan daftar harga,  sekumpulan anak muda yang selfie, dan wajah-wajah cemas pelayan restoran.

Persis di meja saya masih tergeletak sepiring nasi dengan beberapa gumpalan tisu diatasnya. Juga tulang-belulang ayam. Sobekan saos kemasan. Di sebelahnya sepotong kue yang hampir masih utuh dan secangkir air.


Beberapa saat sebelumnya saya menyaksikan pelayan restoran yang terpaksa mengambil beberapa nampan piring kotor dengan banyak sisa makanan. Saya perhatikan, sisa makanan tersebut dibuang dalam tong khusus, dan kemudian piringnya diletakkan dalam rak  yang nantinya akan dibawa oleh petugas lain untuk dibersihkan.

Dalam laporan National Geographic pada edisi bulan apa (saya lupa), yang jelas tahun lalu, rumah tangga di Amerika rata-rata hanya memakan 60% makanan yang disajikan. Sisanya terbuang tak sempat termakan. Sajian steak rata-rata bersisa 20%. Penganan dari buah labu bahkan hanya dikonsumsi 30%. Acar, selada, dan makanan bermuatan sayur bersisa 40%. Dan berdasarkan perhitungan NG, sisa makanan rumah tangga Amerika sanggup memberi makan  beberapa juta keluarga negara dunia ketiga.

Di sisi lain, Jonathan Safran Foer dalam salah satu bukunya, Eating Animals, menulis bahwa pemanasan global jauh lebih disebabkan oleh industri makanan. Terutama peternakan. Dalam salah satu sub bab buku tersebut, Safran menceritakan satu-satunya peternak kalkun yang secara alami masih ada di Amerika. Kalkun yang masih bisa terbang dan hinggap di atas genting. Yang saat salju menumpuk di ladang masih dapat berlarian. Berlari kesana-kemari. Kalkun satu-satunya yang benar-benar diterbakkan di alam bebas. Tanpa kandang dan suntik hormon.

Menurut peternak itu, kalkun yang disantap di rumah tangga keluarga Amerika adalah kalkun yang bahkan berjalan pun tak kuasa. Setiap hari diberi makan dalam kandang dan disuntik dengan berbagai macam ramuan. Daging yang gemuk namun bukan daging yang berasal dari otot-otot kalkun yang kuat.

Begitupun dengan industri ayam pedaging. Bagaimana diceritakan, demi kebutuhan daging, ayam-ayam dipelihara tidak lebih dari 3 bulan. Ayam yang tidak pernah keluar kandang. Makan, makan dan makan. Lalu dipotong. Tentu saja gemuk dengan rangsangan hormon tertentu. Ayam pedaging tentu saja berbeda dengan ayam petelur. Dimana ayam petelur tak lagi membutuhkan ayam pejantan. Ayam betina yang dipaksa bertelur setiap hari. Dengan porsi makan yang dipaksakan. Sama-sama ayam, namun berbeda dosis suntikan. Ayam pedaging dan petelur.

Ada sesuatu yang jomplang disini. Di satu sisi, demi kebutuhan konsumen, industri peternakan menghalalkan segala cara demi quota kebutuhan daging.  Namun di sisi lain para anggota keluarga dengan seenaknya banyak menyisakan makan malam mereka.

Lihat saja di KFC, berapa banyak daging yang masih menempel dan berapa banyak sisa saos yang dihamburkan. Lihat saja di IKEA, berapa banyak butir bakso terbuang. Lihat saja kedai penjual burjo. Lihat di banyak warung mie ayam. Jangan lupa, coba ingat-ingat makan siang kita tadi barusan. Apakah semuanya tandas dihabiskan?

Pangan adalah salah satu kebutuhan primer. Menjadi sekunder ketika pangan menjadi sajian. Menjadi tersier ketika sajian itu sudah dianggap kemewahan. Makanan sebagai gaya hidup.

Sekarang, kenyang saja tidak cukup. Bahkan tidak perlu. Lidah pun dibuat bingung. Lebih manja dari anak bungsu. Makanan menjadi sebuah pencapaian. Wajar? Silakan Anda sendiri yang menilai.

Makanan dan sajian masakan adalah bagian dari olah budaya. Sebuah cara kita bertahan hidup. Lalu entah sejak kapan menjadi sebuah cara menampilkan citra diri.

Pernahkan Anda masak sendiri lalu menyantapnya sendiri? Bagaimana jika makanan itu tumbuh di pekarangan sendiri. Dipelihara sendiri. Terlalu berlebihan?

Baiklah.

Ada kalanya kita perlu kembali bertanya. Apakah sajian yang ada di hadapan kita tiba-tiba muncul dari langit. Apa saja yang dikorbankan dari sebuah sajian masakan.

Berapa tangan dan berapa ratus jam yang dibutuhkan oleh tangan terampil pemijat khusus sapi ketika seekor sapi wagyu yang disembelih, sehektar sawit yang dibakar untuk minyak goreng terbaik, puluhan pon rumput dan seratusan liter air untuk segelas susu murni.

Itu pun jika organik. Bagaimana dengan makanan hasil mutasi? Jika pun Anda tahu bagaimana prosesnya, bisa jadi apa yang akan kita makan langsung melenyapkan selera kita.

Sepertinya setiap agama mengajarkan hal yang sama. Secukupnya. Perut yang diisi secara adil antara air, udara dan makanan. Kita hanya perlu makanan yang memang diperlukan dan menyehatkan. Namun tidak perlu berlebihan.

Karena bagaimanapun juga, perut kita bukan keranjang sampah. Apalagi keranjang nafsu.

 

Selamat berakhir pekan,

Roy

Tentang Keluarga yang Tak Selalu Harus Utuh

Saya jarang sekali menonton filem dan mengingatnya hingga beberapa waktu kemudian. Begitu juga saat membaca buku.  Apalagi membaca sebuah artikel yang setiap hari bermunculan di banyak format media. Ingatan saya payah.

Tapi belasan tahun lalu saya pernah menonton filem dan adegan-demi-adegan masih lamat-lamat saya ingat. Filem besutan Roberto Benigni. Judulnya Life is Beautiful. Ternyata, setelah saya cek, filem ini dibuat tahun 1997.

Apa yang menarik dari filem ini? Banyak. Ndak heran akhirnya filem ini mendapat beberapa penghargaan termasuk Piala Oskar.¬†Tema ceritanya pernah sedikit dibahas oleh Fa, dalam “Ayah, Ah ya…“.

Ada satu film bertema ayah yang begitu kuat diingatan saya. La Vita √® Bella (Life is Beautiful). Roberto Benigni memerankan serang pria bernama Guido Orefice. Seorang yahudi pemilik toko buku di salah satu kota di Italia. Waktu itu Perang Dunia II sedang panas-panasnya dan Nazi Jerman akhirnya menduduki Italia. Guido dan sang anak yang baru berumur lima tahun, Giosu√©, akhirnya harus ‚Äúdipindahkan‚ÄĚ ke kamp konsentrasi di luar kota. Untuk mengapus rasa takut Giosu√©, Guido berbohong dan berpura-pura kalau kejadian yang mereka alami ini adalah sebuah perlombaan. Orang pertama mengumpulkan 1000 poin akan dihadiahi sebuah tank baja. Tujuan utamanya, ya, tentu saja untuk melindungi Giosu√© sementara ia menunggu saat yang tepat untuk membebaskan keluarganya dari kamp konsentrasi. Ini salah satu film terbaik yang pernah saya tonton.
Guido dan seorang tentara Nazi. Salah satu scene di ‚ÄúLa Vita e Bella‚ÄĚ
Ada satu hal yang saya lihat dari Guido, ayah saya, dan mungkin ayah kalian. Mereka kadang terlalu hanyut di balik peran sebagai seorang ayah. Dan akhirnya kitapun kadang ikut alpa kalau mereka juga manusia. Dan ketika film berakhir, saya masih ingin mengenal lebih lanjut sosok Guido.

Justru yang menarik dari tulisan Fa adalah saat dia melanjutkan kalimat sebagai berikut:

Saya ingin mengenal ayah. Bukan sebagai ayah, tapi sebagai manusia. Saya ingin mengenal ayah seperti layaknya dua orang manusia yang mengenal satu sama lain, tanpa ada label anak-bapak. Apa yang ia pikirkan kalau ia tak harus memikirkan istri dan anak-anaknya? Apa sebenarnya yang ia inginkan? Atau, sesederhana, bahagiakah ayah selama ini?

Ada sesuatu pendekatan luar biasa dari Fa dalam menyikapi hubungan personal dengan Ayahnya. Ada hal yang perlu dia kupas tanpa menggunakan embel-embel status. Anak-Bapak. Lelaki-Perempuan. Fa ingin menyelami pikiran dan perasaan ayahnya.

“Bahagiakah ayah selama ini?”

david_beckham-20151130-editor-010

Dalam beberapa agama dan budaya, anak yang masih kecil (mumayiz) identik akan dekat dengan ibunya. Maka tak aneh jika bagi keluarga yang telah berpisah, anak umumnya tinggal dengan kasih sayang seorang ibu.  Tapi apakah dengan peran ibu dalam mengasuh anaknya, menjadikan kasih sayang seorang ayah kepada anaknya otomatis terhambat? Seharusnya sih ndak.

Ibu dan Ayah yang ndak rukun, seharusnya tidak menularkan ketidakrukunan ini kepada anak-anaknya. Biarlah mental dan jalan pikir anak tumbuh kembang tanpa disertai rasa benci dan egois dari orang tua yang berpisah.  Sedang tidak ada perebutan kekuasaan saat orang tua berpisah dan anak harus tinggal dengan salah satu orang tua. Ayah atau Ibu. Membesarkan anak tetap bersama-sama walaupun pada akhirnya kedekatan fisik mengharuskan anak memilih dengan siapa dia akan tinggal.

Perasaan sayang seorang kepada ibu kepada anaknya saat berstatus isteri, bisa jadi jauh lebih bertambah saat statusnya menjadi janda. Begitupun kasih sayang ayah kepada anaknya.

Dalam beberapa kesempatan, beberapa teman saya mengeluhkan bagaimana dirinya begitu kangen kepada anaknya. Namun karena dirinya telah berpisah dengan istrinya, maka rasa kangen itu dipendam sedemikian rupa bahkan terkadang menjelma menjadi air mata. Agak sulit memang membayangkan pria bertato burung hong, brewok lebat, rambut licin pomade menangis sesenggukan di hadapan kita saking kangennya dengan anak-anaknya.

“Dateng aja lah. Ajak main.”

“Setiap datang, anak-anak gw¬†senang. Tapi ibunya enggak.”

“Masalah? Kan yang penting ngajak main anaknya.”

“Tapi bakalan ibunya ngikut.”

“Masalah? Kan malah bagus kelihatan komplit.”

“Iya, tapi dalam perjalanan justru timbul konflik baru. Ndak boleh ini lah. Ndak bole itu lah. Pola asuh ibunya ketat banget. Kayak rok SPG rokok bro.”¬†

Jika diselami, teman saya ini sayang banget sama anaknya. Tapi ndak mau kelihatan ndak rukun sama istrinya di hadapan anaknya. Tapi daripada kelihatan ndak rukun lebih baik dia memendam perasaan kangen kepada anaknya. Kok bisa?

Lain halnya dengan teman saya yang lain. Dia memang mengasuh kedua anaknya sendirian. Hingga saat ini dia masih dinafkahi mantan suaminya. Termasuk seluruh biaya sekolah anak-anaknya.

“Sama kok, Mas. Bedanya aku ndak campur sama mantan suami. Bahkan terkadang masih sering nginep di rumah. Anak-anak seneng banget bapaknya datang.”¬†

“Ndak pengen kawin lagi mbak?”

“Belum dapet yang baik. Yang mau nerima kedua anak aku.”¬†

“Lah, anaknya kan memang¬†punya bapak kan?”

“Iya, tapi kalau tinggal serumah, kan belum tentu mau.”¬†

“Ya anak-anaknya titip aja ke mantan suami mbak.”

“Ndak terlalu ikhlas lah Mas. Apa iya dia beneran sayang. nanti malah ngedidiknya kacau. Aku aja pisah dulu karena¬†hidupya kacau.”

“Kok kacau bisa menafkahi?”

“Kacau dalam artian soal agama Mas. Kagak pernah sholat. Apalagi ngaji. ¬†Ah embohlah Mas. Dulu aja, jarang banget pulang ke rumah.”¬†

“Kamu ndak kasihan anak-anak kangen bapaknya?”

“Justru dibalik Mas, apa iya bapaknya ndak kasihan lihat anak-anaknya sering nanyain kemana Bapaknya. Ah embohlah Mas. Pucing Pala Rapunzel.”

Problematika hidup memang semakin rumit. Soal hubungan manusia. Soal bagaimana membina keluarga utuh, tetap merawatnya dan terus komplit hingga akhir hayat. Lantas bagaimana dengan keluarga yang dijalani secara terpisah. Tetap menjadi keluarga. Bedanya hanya status dari orang tua. Toh anak-anak yang ada dan muncul dari hubungan antara orang tua, adalah anak-anak yang harus tetap dijaga perasaannya.

Anak-anak yang tak perlu mengalami kekecewaan yang sama dengan ayah atau ibunya. Anak-anak yang akan terbang melesat ke angkasa dengan segenap jiwa raga. Meninggalkan kenangan kelam. Sejarah keluarga yang retak.

Agak repot memang jika yang terjadi jika anak-anak mengalami trauma. menyaksikan orang tua yang selalu bertengkar. Saling teriak. banting kaca, piring, tipi, atau benda apapun yang menimbulkan suara nyaring.

Dalam filem Life is Beautiful, seorang ayah berkorban menyelamatkan anaknya. Bukan saja soal nyawa. namun jauh lebih dari itu. Soal kejiwaannya. Seorang ayah yang berkorban nyawa demi anaknya untuk hidup tanpa rasa takut. Agar anaknya yakin, bahwa yang dihadapinya adalah permainan belaka.

Tak perlu ada kegetiran dalam hidup. Jika bisa dihindari, mengapa harus dialami? Jika kita terlanjur merasakannya, apa iya harus diwariskan juga?

Selamat hari Sabtu. Salam hangat dari saya.

Roy

 

Definisi Sehatmu

Setelah sempat (walau sebentar sekali) merasa mengerti banyak soal makanan sehat dan nutrisi, kemudian saya membaca semakin banyak, sehingga rasa itu hilang. Benar sekali kata kata bahwa, semakin kita mencari tau, semakin paham juga kita kalau kita tidak pernah cukup tau. Malah saya jadi semakin mengerti kalau tubuh manusia itu nyaris tidak ada yang sama. Begitu juga pemahaman mereka tentang apa itu ‘makanan sehat’. Bahkan saya yakin jika saya menanyakan ke lima orang saja, apa menurut mereka yang termasuk clean eating, saya yakin saya akan mendapat jawaban yang berbeda. Yang saya sering dengar adalah; makanan yang direbus atau dikukus, tanpa garam apalagi santan, dan minus makanan yang mengandung kolesterol tinggi. Sementara makanan ‚Äėsehat‚Äô saya justru sebaliknya.

Karena tubuh manusia tidak ada yang sama, karena itu diet juga tidak bisa dipatok one size fits all. Satu pola makan yang baik untuk satu orang belum tentu memiliki efek yang sama ke orang lainnya. ‚ÄúDietku untukku, dietmu untukmu,‚ÄĚ kata Mas Edy trainer bootcamp kami¬†tersayang. Atau ‚Äúlakum dietkum, waliyadiet‚ÄĚ (lalu kesambar petir). Dari hobi membaca soal nutrisi dan kesinambungannya dengan kesehatan saya juga melihat kesamaan informasi, seperti; sebagian besar masalah kesehatan yang kita alami itu akibat peradangan, atau inflamasi. Peradangan adalah bagian dari sistem imun kita yang bereaksi terhadap cidera atau benda asing, tetapi peradangan yang berkepanjangan biasanya sangat berhubungan erat dengan apa yang kita konsumsi alias makanan. Sekali lagi, makanan apa yang buat kita bisa memperburuk peradangan, itu biasanya ada perbedaan antara satu manusia dan manusia lainnya. Tetapi, para dokter (paling tidak dari mereka yang bukunya saya baca) biasanya ada kecurigaan beralasan dengan kelompok makanan tertentu. Jadi jika kita merasakan rasa sakit yang tak kunjung hilang, migren kambuhan, asma yang sering kumat, sering masuk angin, cepat merasa lelah dan masalah pencernaan, mungkin tidak ada salahnya mencoba sesuatu, dan tidak hanya pasrah dan berpikir kalau penyakit itu memang sudah ditakdirkan menjadi bagian dari hidup Anda atau faktor ‚ÄėU‚Äô.

9d776ddd040c914e078be2ec8516af78

Kutipan dari buku It Starts with Food.

Memang dasarnya saya suka eksperimen, ketika saya membaca satu buku; It Starts with Food saya merasa langsung ingin membuktikan, apakah teori di buku tersebut benar mengenai jenis jenis makanan yang mendukung peradangan. Lalu saya membuat percobaan pada diri sendiri; selama 30 hari, mengenyahkan gula, grains (termasuk gandum, nasi, oat dan sebangsanya), produk susu, polong polongan (termasuk tahu dan tempe) dan melihat efeknya ke badan saya. Dua minggu pertama terasa sangat berat, apalagi sebelumnya saya pencinta roti manis. Saya baru tau kalau sugar withdrawal menyebabkan mimpi warna warni yang sangat jelas selama beberapa malam. Juga halusinasi seperti diikuti dengan aroma roti baru keluar dari oven ke mana pun saya pergi. Tetapi ketika semua itu lewat, saya pun melihat hal hal yang cukup menyenangkan. Migren yang biasanya saya alami paling tidak seminggu sekali, hilang. Masuk angin yang umumnya terjadi kalau saya terlambat makan, tidak lagi. Energi saya terasa seperti ketika usia 20an lagi. Olahraga yang tadinya seminggu sekali saja saya seperti ogah ogahan, ada keinginan untuk menambah frekuensi lagi dan lagi. Setelah 30 hari menjalani pola makan dengan protein, sayuran dan sedikit buah itu, kemudian saya pelan pelan mencoba jenis makanan yang tadinya dilarang, untuk mengetahui sebenarnya saya sensitif terhadap apa. Ternyata setiap kali saya mencicipi nasi, migren saya selalu kembali.

Fast forward hampir tiga tahun kemudian; hari ini. Saya bukan menyatakan bahwa saya the epitome of healthy lifestyle, tetapi bisa dikatakan saya merasa lebih baik sekarang dibandingkan hampir seluruh usia 30an. Tidak fanatik 100%, dan sudah mengalami evolusi beberapa kali, tetapi saya sebisa mungkin menjaga agar pola makan saya bersih dari gula, grains, dan makanan olahan terutama yang dalam kemasan. Kalau kita terkadang khawatir jika terkena kotoran di kulit kita, kenapa kita tidak khawatir dengan apa yang dimasukkan ke dalam tubuh kita alias makanan? Mungkin kalau memang ingin ada perubahan dalam hal kesehatan, bisa mencoba sesuatu yang baru. Apapun itu definisi clean eating menurut Anda

.00f339383e52d7e90b16a2ea3b9709bc

PATH. Aplikasi Pamer Anak, Tempat, Hidangan?

IMG_0323

Iseng saya menggambar ilustrasi di atas di sela kesibukan meeting yang tiada henti. Maksud hati ingin sama-sama mengasingkan diri, adakan rapat di sebuah tempat nun jauh dari kantor, tapi apa daya. Lokasi boleh jauh dari mana-mana, namun tingkat mengakses media sosial malah meningkat tajam.

Bukankah kita semua memang  begitu?

Bangun tidur, yang dicari pertama kali adalah hape. Dahulu ada masanya aplikasi pertama yang dibuka adalah sms. berharap ada balasan sms (sisa mengobrol semalam). Lalu ketika facebook menguasai dunia persilatan, apapun yang kita temui akan diposting dalam wall atau apalah namanya di akun kita. Kemudian disusul dengan twitter. Aplikasi burung biru dengan segala drama dan romantikanya. Lantas muncul instagram. Layar dipenuhi gambar ciamik dari segala penjuru dunia. Termasuk barisan ‘sista-sista penjual onlen’ yang bisa bikin ngakak sendirian gara-gara membaca komentar numpang iklan mereka, baik di akun¬†Maia maupun¬†Mulan Jameela.

Sekarang, sebgaian besar teman-teman saya lebih aktif di aplikasi Path. Dimana bahkan pertemanan yang terbatas saja masih disediakan fitur inner circle. Lebih karib dari sekadar teman. Fitur di balik layar yang memberikan kemudahan bagi kita manakala akan memuat gambar atau tulisan yang menurut kita hanya layak disampaikan kepada orang-orang yang kita percayai.

Path, menjadi salah satu aplikasi paling diminati saat ini. Bukan karena sebagian kecil sahamnya dimiliki keluarga Bakrie. Bukan.

Path menawarkan privasi. Walau sebenarnya privasi semu karena terbuka kemungkinan apa yang disampaikan dalam path diteruskan ke media sosial lain seperti twitter, facebook, instagram dan aplikasi komunikasi semacam whatsapp dan telegram.

Dan selama fitur screen capture ada, maka tak ada yang rahasia di dunia maya.

Ini yang sebetulnya harus sama-sama diperhatikan. Secara psikologis kita merasa nyaman dengan teman-teman kita. Merasa aman dengan orang-orang yang kita kenal baik saja. Maka isi dari Path sifatnya relatif lebih personal. Intim.

Tapi namanya juga orang timur. Terkadang kita gatal untuk juga menambah hubungan pertemanan dalam path kepada orang yang sama sekali belum kita kenal. Entah maksudnya apa. Bisa jadi akan terulang masa-masa keemasan #TwitterCrush, dan berharap terjadi #PathCrush.

Saya bertaruh dengan teman saya bahwa Path pada akhirnya akan juga ditinggalkan pelan-pelan. ketika semua penghuninya sudah merasa jemu. Path menjadi ajang Pamer Anak, Tempat, (dan) Hidangan. Silakan kamu skrol layar hape. Berapa proporsi gambar anak bayi baru duduk di korsi anak kecil di restoran dengan tangan belepotan, atau anak bayi yang dipaksa pakai pinsil alis oleh ibunya. Juga pamer tempat. Entah itu hotel tempat menginap yang dibiayai negara, kunjungan ke tempat wisata acara kantor. Atau juga lokasi dimana kita jarang sekali bisa hadir disana. Misalnya saja. @LP Cipinang. @Rumah Tahanan KPK. @Istana Negara @Hati_nya.

Bagaimana dengan hidangan? Wah ini juaranya. Biasanya sepaket dengan tempat restorannya. Walau terkadang isinya hanya semangkok bakso. Segelas bir.

Ada juga yang menganggap huruf h pada Path adalah Harta. Hahahaha. Bisa jadi.

Karena Path, berapa kali kamu kecewa karena tak juga disetujui permohonan pertemanan? Karena path berapa dari kita yang akhirnya putus hubungan? Tapi saya yakin akan jauh lebih banyak yang lebih ikrip dan bahagia gemah ripah loh jinawi dengan berbagi keceriaan lewat postingan melalui Path.

Terlepas dari itu semua, pada akhirnya kita akan menemui hal baru. Path akan sepi. Akan muncul aplikasi lain yang jauh lebih intim, lebih bisa pamer, dan seakan-akan lebih akrab. Banyak cara orang ingin menghibur diri. Diciptakan, dikenalkan, dirayakan, lantas menyurut. Lalu mati.

Misalnya saja aplikasi yang dapat mengirim aroma dan bebauan. Saya yakin #petrichor, #bau_abab, #kentut_mantan_Vs_kentut_ayang bakalan jadi trend. Atau aplikasi yang dapat memindai secara otomatis retina mata dan mimik muka lawan bicara kita sehingga dapat dipastikan antara apa yang diketik dan suasana batin sesungguhnya sesuai atau tidak.

Dunia yang kita huni adalah dunia yang memiliki kecendrungan selalu berlawanan dalam segala hal. Ada siang ada malam. Ada terang ada gelap. Path, memiliki keduanya. Ada yang membuat intim dan personal tanpa banyak orang tahu, namun sekaligus memperluas cara dan gaya dalam memamerkan diri.

Begitulah kira-kira. Apakah  setuju? Apa arti Path bagi kamu?

 

Sorry Dorry Morry Kita Ndak Level

Generasi tengah Indonesia. Sebagian menyebutnya kelas menengah. Para pemilik harta benda secukupnya. Ndak kurang, juga ndak berlebih. Kelas menengah mengakui berlebih dibandingkan yang benar-benar kelas atas. Ndak papa. Menengah itu bisa seperti sekolah. Kelas menengah pertama atau kelas menengah atas. Namanya juga tengah.

Generasi tengah adalah bagian kecil dari munculnya fenomena kekinian yang melanda hampir seluruh masyarakat dunia.

Ketika perjuangan antar kelas dikumandangkan oleh para pemikir jaman dahulu, kita masih berkutat dengan banyak pilinan yang belum  teranyam menjadi nusantara. Ada pilinan agama, pilinan bahasa, pilihan suku, pilinan bangsawan, pilinan petani, pilinan pedagang dan pilinan lain yang terpisahkan karena perbedaan identitas tersebut.

Kelompok kedaerahan apakah sudah usang? belum tentu. Selama kekerabatan dan memiliki senasib sepenanggungan asal sesama daerah masih ada dalam sikap batin kita, maka kedaerahan masih dipedomani oleh kita. Juga sentimen agama.

Pemikiran purba itu mulai bergeser dengan konsep cara pandang terkait perjuangan antar kelas. Anak jaman sekarang menyebutnya social climber. Dari kere, biasa, agak mampu, mampu, kaya, kaya norak, kaya kalem, dan creme de la creme satu persen. Kelas menengah dan atau generasi tengah berada di antara kolom agak mampu  dan mampu.

5a9b4dd2261f4c39a2c56d1fbf2e3210

Apa ciri-ciri generasi tengah ini? saya ndak tahu. Apa ciri-ciri penampilan, gaya bicara, cara pandang, mimpi, masalah dan hal lainnya? Saya ndak tahu. Yang saya rasakan adalah bahwa pengkotak-kotakan hidup jaman sekarang memang nyata-nyata berdasarkan faktor ekonomi. Dan secara tidak sadar kita mengakui, memedomani dan menghayati secara senyap.

Kita ndak protes ketika dalam satu pesawat dengan teman kita ternyata beda letak korsi. Dia di deretan Bisnis sedangkan kita ekomnomi. Sejak awal kita sadar bahwa kita mampunya itu. Jika teman kita itu ternyata teman sekampung dan teman satu kos, maka sejatinya cara hidupnya, cara pandangnya tentang kehidupan, cara berpikir tentang suatu hal akan berbeda jauh dengan kita. Catat! Walau satu kampung, satu kos bahkan satu kampus, akan jauh berbeda.

Mengapa?

Jawabannya satu: Beda status sosial yang dipisahkan oleh faktor ekonomi.

Jika perjalanan pesawat tersebut adalah perjalanan dari Jakarta menuju Makassar, maka banyak hal bisa terjadi yang makin memperlebar jurang kelas.

Ketika di kelas bisnis, si teman kita akan bertemu dengan teman satu bangku  yang juga mampu membeli tiket bisnis. Terjadilah dialog yang nyambung dari skala ekonomi. Mereka akan saling bercerita tentang asal sekolah, tempat tinggal, dan kampung halaman, serta hal lain yang menarik minat mereka. Dengan lancar dapat diduga mereka akan membicarakan soal antrian yang mengular di H&M Balmain. Bicara fitur apa yang membedakan iPhone6 dan 6s. Berbincang tentang affogato fondue paling enak di daerah Jakarta Selatan. Khusyuk bicara perbedaan layanan kamar Mulia Nusa Dua dengan Hotel Mulia Jakarta. Mengapa Restoran ScallyWags Gili Trawangan lebih ramai dibandingkan yang di Gili Air. Berdebat soal mengapa Komaneka Tanggayudha sarapannya lebih enak daripada Komaneka Monkey Forest.

Sedangkan kita, di bangku ekonomi, akan bicara soal-soal yang memang dialami dan telah dirasakan oleh kita. Misalnya teman bangku kelas ekonomi kita orang Ubud. Dia tidak mungkin membicarakan soal sarapan Komaneka Tanggayudha, karena walaupun letaknya di kampungnya, dia belum pernah sekalipun duduk di lobby atau berdiri di depan resepsionisnya. Atau jika teman sederet kursi kita asli dari Lombok. Dia malah tidak pernah tahu bedanya Gili Trawangan dan Gili Air, karena sepanjang hidupnya dia masih mentok jalan-jalan ke Senggigi. Ya. Faktor ekonomi. Atau teman sederet pesawat kita  anak kampung  Kemang Bangka. Walaupun disana, dia ndak bakalan tahu apa menu yang ada di kafe-kafe Kemang, judul buku di deretan awal rak Reading Room, dan mengapa Eastern Promise akhir-akhir ini menyetel lagu London dari Benjamin Clementine.

Pengguna bangku ekonomi dalam pesawat akan lebih banyak bicara mengapa asap di Sumatra membungbung tinggi, mengapa sepatu nike makin mahal saja. Mengapa detik dan mojok.co sekarang lebih banyak bicara hal-hal konyol. Mengapa artis A memilih B, dan bukannya C.

Itulah bedanya kita dengan mereka. Itulah bedanya memiliki uang sejuta dan satu milyar.

Anak kaya Jakarta akan lebih tahu bedanya dan mengapa penyu di Pulau Ora mengapa lebih gemuk-gemuk, dibandingkan di daerah Maratua, dibandingkan dengan penduduk  Pulau Ora atau Maratua itu sendiri. Anak kaya Medan akan lebih nyambung bicara dengan anak kelas tengah nyaris kaya dari Bandung saat bicara betapa dinginnya AC Premiere studio XXI di Mal Pondok Indah dibandingkan si Fulan yang setiap harinya jualan case hape di kios lantai dasar Pondok Indah Mal.

Penyapu lantai mal Plaza Indonesia tidak mungkin berbagi cerita tentang secangkir kopi Iced Shaken Double Shot dari Starbucks yang  dia pel lantainya sebelum jam tujuh pagi.  Si V anak juragan tembakau Temanggung akan paham benar bedanya Wahana Dufan dan Trans Studio Bandung, dibandingkan si Z yang tinggal di kampung sebelah Ancol atau si Y yang seumur hidup tinggal di Jalan Gatot Subroto Bandung, persis belakang Trans Studio Bandung.

Perbedaan pengalaman seiring waktu akan membedakan pola pikir, pola tindak dan tujuan hidup. Pemisahan ini akan terus melebar. Lalu akhirnya tak saling kenal.

Benar apa yang dikatakan teman saya, Glenn Marsalim:

Seburuk-buruknya kedekatan, lebih bernilai dari seindah-indahnya keasingan.

Dalam konteks ini, walaupun banyak hal secara fisik dekat dengan kita, namun sejatinya asing karena kita tak pernah benar-benar bersentuhan langsung dengan hal-hal di sekitar kita.

Dan faktor pemisahnya itu adalah  isi dompet.