Tanggal Tua

Kenapa ada istilah tanggal tua, dan kenapa tidak ada tahun tua. Jika hari punya istilah hari tua, itu malah bicara usia yang semakin bergulir menuju senja.

Tanggal tua dihadirkan untuk menunjukkan hari-hari kelabu tanpa bisa sesegar hari-hari sebelumnya. Perkaranya sederhana: tak ada banyak uang di celana.  Tanggal tua muncul karena kita dominan menjadi anggota fixed income society. Para manusia berpenghasilan tetap. Kebetulan saja jika kita mendapat upah bulanan. Jika mingguan, maka hari jumat sore tak seindah sekarang.

sminequality_scanlon_r2

Para bankir menagih hutang kita per bulan. Tagihan listrik juga. Tak mau ketinggalan SPP sekolah, kos-kosan, dan pulsa pascabayar. Maka tak aneh jika gaji bulanan kita layaknya menstruasi. Datang sebulan sekali dan selesai dalam tujuh hari.

Pagi tadi saya kembali dari Bandung menuju Jakarta. Seperti yang saya duga sebelumnya bahwa tanggal tua, seperti tanggal 22 hari ini, mobilitas warga sangat berkurang. Tak semacet biasanya. Pintu Tol Cikarang Utama maupun Pondok Gede lancar-lancar saja. Jalan protokol, yang biasanya dipadati warga ibukota belanja-belanji di mal, lengang.

Ketika tagihan KPR, kendaraan, telpon, kartu kredit, spp sekolah anak, uang bulanan buat pembantu, sopir, sekaligus keinginan menumpuk pundi-pundi harta kekayaan semakin membingungkan dan bikin pusing tujuh keliling, apakah memang sudah saatnya setiap karyawan yang digaji bulanan sudah mulai menyewa jasa penasehat keuangan? Sepertinya belum perlu. Karena jauh lebih penting meningkatkan kemampuan kita mendapatkan gaji lebih tinggi. Tentu saja pendapat ini berangsur-angsur akan saya ralat. Mengapa? Karena memang pada akhirnya gaya hidup kita sangat bergantung pada penghasilan kita. Gaji rendah, perilaku ndak beda sama anak mahasiswa yang ngekos. Gaji semakin banyak, gaya kita semakin ngebos. Celakanya, ketika tiba-tiba penghasilan kita menurun, eh perilaku bos ndak ikut berubah menjadi seperti anak kos.

This slideshow requires JavaScript.

Siksaan tanggal tua semakin parah dan pedih jika menjelang hari gajian duit di tabungan dan dompet sudah tak ada, lalu menggunakan cara cepat tapi sesat: gunakan kartu kredit. Padahal untuk makan dan keperluan lainnya syarat menggunakan kartu kredit hanya di merkan tertentu dan dengan minimal nominal transaksi . Hal ini sebetulnya justru langkah yang semakin boros. Apalagi jika ternyata pada saat akan mendapat tagihan kartu kredit hanya mampu membayar minimal kewajiban pembayaran sebesar 10% saja dari keseluruhan tagihan.

Beberapa tahun yang lalu @glennmars pernah mencanangkan sehari cukup goban alias Rp.50ribu saja. Artinya bahwa sejak kita bangun tidur sampai kembali tidur, baik untuk ongkos perjalanan dari tempat tinggal ke kantor, sarapan, makan siang, ngemil, rokok, menghabiskan tidak lebih dari Rp.50ribu. Saya belum tahu apakah saat ini dia masih menjalankan program ini. Atau malah, karena kondisi ekonomi yang serba ketat ini, sekarang @glennmars berhasil menghabiskan dana hanya setengahnya saja alias no ban go (Rp.25ribu). Mungkin justru inilah yang menyelamatkan kita dari jeratan tanggal tua. Disiplin diri mengeluarkan uang dan memberi hadiah kecil untuk kita sendiri sesekali waktu dan dengan alasan tertentu. Dan ternyata berhasil. Cicilan apartemen dia lebih cepat dari jadual semestinya. 🙂

Beberapa teman saya di kantor masih membawa sarapan dari rumah dan sekaligus nasi kotak untuk makan siang. Walaupun diajak ke kantin tak menolak, tapi mereka cukup memesan minumnya saja. Pertemanan jalan terus dan kondisi keuangan tetap sehat.

Sebetulnya ada kunci hemat sejahtera lainnya. Soal transportasi. Kita sama-sama tahu sendiri bahwa ongkos perjalanan itu mengabiskan banyak biaya dan waktu. Mengapa tidak mencoba meninggalkan mobil pribadi dan mulai naik kendaraan umum? Atau akan jauh lebih hemat lagi jika berani mencoba untuk mengendarai sepeda kemanapun tujuan yang akan dituju. Selain hemat dan sehat, ternyata juga nikmat.

Jika pengetatan anggaran pribadi ini sukses, maka kita ndak bakalan lagi mengenal tanggal tua. Semua hari dilalui dengan sumringah. Ndak perlu berlebihan dalam berbelanja, tapi juga ndak perlu terlalu pelit pada diri sendiri.  Sebagian dari kita merayakan kesuksesan semacam ini dengan berlibur sejenak, dengan tiket promo tentu saja. 🙂

 

Salam anget,

roy senduk.

10 thoughts on “Tanggal Tua Leave a comment

  1. Management keuangan ini PR banget buat saya juga om. Dan mungkin juga buat cewe2 mainstream macam saya ini, gak tahan banget buat nguras dompet tiap kali liat yg ‘lucu-lucu’. Setelah berbagai pola managemant keuangan dicoba dan gagal. Sekarang prinsip saya cuman: bayarkan yg wajib (kosan, listrik, asuransi, zakat, nabung, cicilan). sisanya boleh diabisin. Hedon dihalalkan selama biaya operasionalnya ga ngutang, apalagi ngutang sama teman. :v
    Itu aja om.

  2. ‘Maka tak aneh jika gaji bulanan kita layaknya menstruasi. Datang sebulan sekali dan selesai dalam tujuh hari.’

    Harus beli pembalut keuangan donk om?

Leave a Reply