Disfruto

Sepertinya sederhana dan mudah, tapi nyatanya begitu sulit. Teorinya gampang, tapi prakteknya astagpilulo. Memperlakukan orang lain dengan baik, tanpa kecuali. Saya sendiri masih jauh dari harapan dalam soal ini.

Kita bisa jatuh cinta dengan cara orang lain bersikap terhadap kita. Seolah-olah kita hanya satu-satunya manusia yang tersisa di muka bumi.

Sekarang mari kita ingat-ingat kembali, kapan terakhir kita merasa diperlakukan istimewa? Saat naik uber dan disapa sopir dengan sumringah? Saat dilayani membeli kopi di St. Ali? Saat pramugari tersenyum seraya menyodorkan permen fox aneka rasa? Saat atasan memuji? Saat anak memeluk kita sebelum tidur? Atau saat pasangan kita berada dipelukan sembari goyang?

Lalu apa balasan kita?

Sebatas ucapan terima kasih atau lebih? Apakah saat menutup pintu kita sudah ucapkan terima kasih kepada pak sopir? Apakah kita sudi memberi tips yang diletakkan di toples depan kasir atau barista? Apakah kita anggukkan kepala sembari tersenyum kepada pramugari jelita nan baik hati? Membalas pujian atasan dengan bekerja lebih semangat dan hasil nyata? Mendongeng kisah si kancil hingga anak terlelap? Memijat pasangan ketika badan pegal padahal kita sendiri merasa tulang kita terlepas dari engselnya satu sama lain?

Ini agak mudah jika sepenggal skenario hidup memberikan kita rasa manis. Membalasnya, tak perlu mikir seharusnya.

Bagaimana jika ternyata saat naik taksi blue bird malah mas sopir ndak tau jalan dan ketiaknya bau maling? bagaimana jika pesanan picolo namun yang diberikan malah kapucino? Bagaimana jika tiba-tiba ada tas kresek berisi makanan jatuh dari atas kabin saat ditata pramugari? Bagaimana jika kita disentil atasan di hadapan kolega saat rapat resmi? Bagaimana jika anak kita protes karena kita tak menghadiahkan perhatian yang cukup padanya? Bagaimana sikapa kita saat butuh memeluk ternyata pasangan kita sibuk dengan gawai dan teman-teman whatsapp grup-nya?

Ketika positif ditanggapi positif mudah, apakah kita juga perlu mengalah ketika hal negatif menimpa kita? Wajar jika kita marah. Itu hak kita. Menyuarakan apa yang ada di hati. Apa yang terlintas di pikiran. Bukankah unek-unek seharusnya dikeluarkan daripada berubah wujud menjadi batu empedu?

Tapi apa iya kita seperti itu terus menerus? Saya terkadang menyesal telah memarahi tukang parkir karena mereka lebih mirip ninja. Datang tiba-tiba saat kita telah susah payah maju mundur maju mundur tanpa bantuannya dan akan meninggalkan arena. Saya sering bertanya-tanya mengapa saya tega mengatakan pada mas taksi agar sebaiknya jadi penjual pulsa saja daripada banyak bertanya mau lewat mana. Saya juga seringkali menyesal ketika anak-anak minta jalan-jalan ke taman dekat rumah tapi saya delegasikan kepada mbak-mbak yang memang bertugas mengasuh dan menyuapi mereka saat jam makan tiba.

Pernahkah kita jatuh cinta pada sebuah sikap? Ketika saat mereka ditekan dan kita marahi atau setidaknya tidak diperlakukan dengan baik namun tetap tersenyum? Mereka berani mengorbankan perasaan tercabik-cabik dan tetap memberikan tatapan mata melayani dan sabar. Bisa jadi karena memang tugasnya. Tapi lebih pasti, mereka menampilkan usaha keras bahwa “Bapak berharga di mata kami. Atas kekesalan Bapak, saya tetap akan melayani Bapak”.

Saya ndak tau bagaimana kehidupan pribadi mereka. Apakah CS yang selalu menerima keluhan pelanggan kehidupannya normal dengan banyak tawa? Apakah pelayan restoran selalu mudah membayar kontrakan rumah? Apakah pramugari tersebut ndak pusing saat kontrak kerja tak boleh menikah dihadapkan dengan desakan calon mertua untuk meresmikan hubungan dengan anak mereka?

Wajah adalah kaca display. Senyuman adalah etalase. Binar mata adalah tampilan eksterior. Bisa jadi apa yang ditampilkan berbeda dengan isi. Tapi setidaknya menghargai tampilan luar adalah cara mudah menjalani hari-hari ketika kesulitan menimpa.

Ndak adil rasanya jika kita meluapkan emosi semata-mata hanya karena kita kecewa. Alasannya dua. Pertama, bisa jadi mereka ndak sengaja. Kedua, jika pun sengaja, ada kesempatan kita untuk berbuat mulia: menahan emosi dan menjaga perasaan mereka.

Menjadi bangsawan bukan karena darah biru kita. Bangsawan di era digital adalah soal sikap kita. Bangsawan bukan karena garis keturunan namun menjaga martabat dengan berlaku sopan tanpa kecuali.

Ada yang bilang bahwa yang paling berpotensi menyakiti kita adalah orang yang kita sayangi. Mengapa?

Karena kita menaruh harapan lebih di pundak mereka. Berharap mereka membalas perhatian kita. Berharap mereka melakukan apa yang kita inginkan. Berharap membalas mencintai. Berharap selalu ada saat kita mau. Karena kita telah melakukan semua itu. Seolah-olah kita melakukan sesuatu yang harus mendapatkan hasilnya. Sesuatu yang transaksional. Bertukar aksi.

Bagaimana dengan pilihan untuk tanpa pamrih saja? Susah. Begitu susah! Berbuat sesuatu karena memang kita menyukai melakukan itu.

Dalam banyak hal kita menyerah dengan kondisi kita adalah manusia biasa. Bukankah manusiawi. Berlindung di balik kemanusiawian kita sejatinya kita bisa lebih mulia. Bukankah muka berjerawat adalah hal manusiawi, tapi mengapa kita berusaha memiliki wajah mulus?

Sabtu pagi baru dijelang. Banyak waktu luang untuk melakukan segala hal. Semuanya adalah pilihan. Kita dianggap baik atau kita berpikir kita baik. Ndak perlu bertanya pada orang lain apakah kita baik.

Perlakukan saja orang lain, seperti kita ingin diperlakukan. Memang klasik. Tapi ternyata sulit.

Salam anget,

Roy
+bonus: suara merdu sahabat saya, Gandrasta.

Iklan

7 thoughts on “Disfruto

  1. om, makasih ya..membuka mataku lebarrrrrr, selebar jalan tol..apa ada lagi yang lebih lebar? ah sudahlah
    akhir-akhir ini kepikiran bgt spt apa yg om tulis..susah bgt sih bersikap tanpa pamrih, ekspektasi yang ketinggian sm orang terdekat, malah membuat jatuh sedalam-dalamnya pas engga kesampean..
    eh maaf jadi curcol..
    šŸ˜›

    Suka

  2. om Roy, mau nanya, yang bagian ini, “Alasannya dua. Bisa jadi mereka ndak sengaja. Kedua, jika pun tak sengaja,…” yang kedua ini maksudnya “jika pun sengaja” kah? Atau emang sengaja begini? šŸ˜€

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s