How Not To Be Your Parents

what-i-thought-parenting-meme

Dua bulan masuk SMP dan ikut ekstra kulikuler karate, minggu lalu anak saya minta izin untuk ikut ujian kenaikan level di luar kota, dan (kemungkinan) menginap. Jawaban saya: beri waktu ibu untuk berpikir (dalam hati: over my dead body!). Bukannya saya over-protective ya,  ketika SD anak saya beberapa kali pergi berkemah bersama grup kelasnya.

Sebagian dari Anda dibesarkan oleh orangtua yang sempurna, and I’m happy for you. Tetapi mungkin saja ada yang seperti saya, masa kanak-kanak dihabiskan dengan berpikir kalau orangtua adalah setengah dewa, suatu hari terbangun dan sadar kalau mereka hanya manusia biasa.

Bahkan ketika remaja, saya juga mengalami periode menyalahkan mereka atas semua isu yang saya miliki menjelang saya dewasa. Tetapi tentu ketika ditampar dengan kenyataan demi kenyataan baik getir maupun manis tentang tanggung jawab (sebagai orangtua ataupun orang biasa), mendadak luluh hati dan ingin sungkem kepada mereka yang menerima saya sebagai tanggung jawabnya dahulu, tak peduli betapa menyebalkan ketika melewati masa puber.

Ketika anak saya masih kecil, menjadi orangtua yang baik bukan tugas yang terlalu sulit, karena belum ada feedback yang kita dapat secara langsung. Anak tentu masih sangat tergantung kita, dan mereka selalu gembira ria melihat kita pulang ke rumah setelah seharian kerja atau kembali dari pergi ke minimart setengah jam saja. Mereka juga sangat murah hati memberikan pelukan dan ciuman kapan saja kita memintanya.

Tetapi begitu mereka beranjak remaja, hormon yang meledak-ledak dilengkapi dengan sikap sikap yang sering mengejutkan (kok dia jadi begitu ya? Perasaan dulu gue waktu ABG enggak gitu deh), kalau kita tidak sadar dan hati-hati, mudah sekali mengulangi apa yang dilakukan orangtua kita dulu; melarang, mengatakan tidak, dan tidak mau mendengarkan bantahan dan alasan apa pun. Beberapa tahun melakukan itu secara otomatis, suatu hari kita bangun dan terkejut; OH MY GOD, I’M MY FATHER!

Sepertinya ada baiknya kalau saya membuat peraturan untuk diri sendiri supaya tidak terjebak melakukan apa yang saya kurang setuju orangtua dulu saya lakukan.

  1. Jika harus melarang mereka pergi, saya akan menjelaskan alasannya. Papa saya dulu tidak pernah membolehkan saya pergi ke luar rumah setelah matahari terbenam. Kemping bersama Pramuka? Setelah saya SMP karena saya nekad kabur walau dilarang baru bisa ikut, dan siap menghadapi omelan dan bentakan ketika pulang. Jika saya tanya alasan larangannya, Papa saya tidak pernah menjawab, kalau pun menjawab, akan mengatakan,
    “Karena kamu anak perempuan.”
    Nice, pa. Not sexist at all.
  2. Jika melakukan hal reaktif dan berbuat tak adil ke anak, lalu menyadari kalau saya salah, saya akan minta maaf dengan secara verbal mengatakan saya salah, dan minta maaf. Bukan hanya pura-pura lupa dan menawarkan membeli makanan kesukaan anak.
  3. Saya harus meyakinkan anak kalau kegagalan itu biasa, semua orang pernah mengalaminya dan yang membuat seseorang sukses bukan karena kegagalan jarang atau tak pernah terjadi tetapi bagaimana kita bangkit dan belajar dari pengalaman itu. Tanpa terlalu memuji dia, tetapi juga tetap menghargai usahanya sesuai dengan persentase usaha dan potensi yang kita lihat. I know it sounds complicated, but if you’re a parent, you’d know what I mean.

Jadi bagaimana dengan perjalanan karate anak? Akhirnya saya tidak mengizinkan dia pergi kali ini, karena ini adalah hal rutin dan beberapa bulan ke depan akan ada lagi. Alasan saya; di sekolah yang baru ini saya belum kenal teman-teman dia, dan belum sempat bertemu dengan Senpai dan Sensei-nya, jadi saya merasa tidak nyaman membiarkan dia pergi, karena tidak ada yang bisa dititipkan. Untung dia mengerti alasan ini.

parenting-in-public-parenting-meme

Advertisements

Tak Esai Maka Tak Sayang

the-social-network-1200-1200-675-675-crop-000000

Aku kok merasa jleb baca tulisan Nauval soal mengisi waktu dengan menonton dan membaca ya. Karena pekerjaan yang tidak mengharuskan menonton film, jadi merupakan escape saja film buat saya. Tapi bukan berarti aku tidak cinta. Saking cintanya rasanya kurang kalau hanya menonton saja, sejak beberapa tahun yang lalu bertemu dengan sahabat dan rekan satu minat, dan mendapat kesempatan mengikuti pelatihan singkat menulis skenario dan mempelajari produksi sampai praktik segala! Sejak itu jika bertemu dengan sebuah film yang sangat mengesankan (mencetus kekaguman atau malah sebaliknya, membuat ingin segera film selesai dan segera keluar) (Tak lupa sedikit mengomel ke arah layar sedikit) ingin rasanya bertanya dan membedah apa yang membuat film begitu tak terlupakan? Apakah dari segi tulisan, editing, adegan, atau kombinasi semuanya?

Berawal dari membaca esai dalam tulisan dari kritik film favorit Film Critic Hulk yang dalam tapi sayangnya tidak seproduktif itu dalam membuat post. Ternyata YouTube juga gudang essayist keren dalam bentuk video. Kalau Anda penasaran dan ingin juga tahu lebih banyak soal film sambil terhibur mungkin bisa cek daftar essayist yang menurut saya begitu keren sampai saya berlangganan dan hampir semua update baru mereka saya tonton – terutama kalau membahas film yang membuat saya terkesan.

  • Every Frame a Painting
    Kurang ingat apakah pertama kali menemukan ini karena rekomendasi teman atau tidak sengaja ketemu. Hal yang dibahas sangat mengagumkan, dari cara Steven Spielberg membuat one long shot dibandingkan pembuat film lain, sampai bagaimana Edgar Wright membuat visual comedy. Sayangnya sudah setahun kanal ini tidak lagi update. Tetapi tetap saja saya suka menonton kembali beberapa videonya. Terutama yang satu ini.
  • Nerdwriter1
    Sepertinya masih rekan dari pemilik kanal Every Frame a Painting, untungnya yang satu ini masih aktif membuat content baru, walaupun tidak seminggu sekali. Essayist ini tidak membatasi diri membahas film, tetapi referensinya sangat mengagumkan. Salah satunya adalah bagaimana dia membuat perandaian film The Passengers yang disusun ulang, dan jadinya sungguh jadi film berbeda dibandingkan film aslinya yang ketika menontonnya saya ingin marah.
  • The Closer Look
    Esainya lebih sering membahas soal menulis karakter, dan mengapa membuat karakter yang menarik untuk penonton lebih penting dibandingkan memimpikan adegan atau moment di sebuah film yang akan terlihat cool (HUH untuk Zack Snyder). Karena sudut pandang yang lebih kecil bukan berarti kalah penting, karena apalah kita ini kalau bukan seorang fan yang hanya ingin karakter yang bisa mewakili kita dalam petualangan yang tidak mungkin kita alami di kehidupan ini?
  • Lessons from Screenplay
    Seperti namanya, esai yang dibuat kanal ini banyak membedah pelajaran yang bisa diambil dari naskah-naskah film. And they are BRILLIANT! Dia juga banyak mengambil referensi dari buku Story oleh Robert McKee, dan memang sampai sekarang buku itu masih saja menjadi semacam kitab suci panduan hidup penulis naskah. Favorit saya ketika dia menganalisa bagaimana Coen Brothers bercerita tentang karakter bukan hanya dari apa yang mereka lakukan tapi bagaimana mereka melakukannya di No Country for Old Man dan membedah kolaborasi Alan Sorkin dan David Fincher di The Social Network yang sampai sekarang tetap membuat menganga dan ingin nonton lagi dan lagi (baik film maupun esai).

Maaf kalau post kali ini terlalu geeky for your taste, tapi siapa tau akhir pekan ini kurang tantangan atau agenda mungkin bisa iseng melihat video yang saya rekomendasi ini, siapa tahu seru.

#2019GantiBuah

Memang sepertinya sulit dan mahal ya, kalau ingin sehat di Indonesia. Mencari referensi artikel yang meyakinkan sumber penelitiannya saja jarang sekali. Sebagian besar malah merupakan saduran dari artikel media luar yang juga menggunakan referensi penelitian dari badan atau universitas luar negeri.

Maka dari itu, ketika bicara tentang rekomendasi makanan sehat, yang disebutkan kembali lagi adalah; kacang almond, ikan salmon, dan minyak zaitun. Jika membicarakan buah lagi-lagi yang disebut adalah buah beri, seperti blueberry, raspberry, blackberry. Mungkin yang menulis atau menyadur jarang piknik ke supermarket dan melihat berapa harga blueberry sekotak kecil. Mana yang masuk ke sini sudah mahal, tawar lagi rasanya. Tak rela mengeluarkan segitu banyak uang.

Seperti biasa, saya sedang di tengah membaca buku tentang makanan, kali ini oleh Dr. Mark Hyman, judulnya Food: WTH Should I Eat? Dr. Hyman ini penganut konsumsi makanan dalam bentuk aslinya, kurang lebih seperti Michael Pollan. Dia juga punya Podcast The Doctor’s Farmacy yang seru banget (tolong dikalibrasi standar seru saya ya).

Bab di buku ini dibagi per jenis makanan, dan ketika membahas buah, selain rekomendasi buah yang kadar gulanya minimal seperti (what else) berries, dia juga mengimbau untuk mencari buah-buah eksotis seperti snake fruit (salak kita tercinta), dan rambutan. Lalu kita yang memiliki buah musiman seperti ini masa cari blueberry?

Saya memang suka sekali buah lokal, dan terkadang sedih kalau beberapa jenis sudah sulit dicari. Dulu di Cirebon kalau mengunjungi (almarhum) nenek saya, kalau menemukan jamblang (atau duwet?) yang sepat masam itu girang sekali rasanya. Kalau jambu air sedang musim, saya bisa ngemil jambu seharian. Zaman dulu ke Bali rasanya kurang lengkap  kalau belum makan salak Bali paling tidak satu kilo. Ketika kami tinggal di Prabumulih, dua jam dari Palembang, senang rasanya ketika musim duku. Waktu di Sumatera Utara, giliran musim rambutan yang ditunggu.

Sampai sekarang juga gemar mencari buah di pinggir jalan, pasar atau tempat selain supermarket supaya banyak pilihan buah lokal. Walau terkadang dari kualitas sulit mendapat yang konsisten, tapi tak apalah.

Kadang penasaran juga, kandungan nutrisi buah kita seperti apa sih? Informasi yang sering didapat hanya berbentuk khasiat buah tersebut, mencegah ini itu, tetapi informasi mengenai GI (Glycemic Index) dan GL (Glycemic Load) buah lokal Indonesia tak bisa ditemui. Karena buah biar bagaimana sebutannya kan nature’s candy. Mungkin ada baiknya kalau buah khas Indonesia masih banyak yang belum dimodifikasi, jadi kandungan gula dan rasa manisnya masih sama dengan yang nenek kita konsumsi jamdul.

Tapi jika tidak ada demand dari pasar, tentu bukan hanya tidak dilakukan penelitian dan pengukuran soal buah, jangan-jangan semua orang jadi malas menanamnya, sehingga punah. Mungkin ada baiknya kita tambahkan agenda tahun depan, kurangi cari mudah dengan apel fuji, anggur red globe atau jeruk ponkam, tapi kita ganti buah jadi lokal punya!

Apakah Guna Payudara?

you-know-youre-a-breastfeeding-mom-when-you-decide-what-to-wear-based-on-how-easily-accessible-you-breasts-will-be-1cd68

Kalau bukan dari Tweet di atas saya lumayan lupa kalau masih ada orang yang mempermasalahkan perempuan yang menyusui bayinya di tempat umum. Bukan karena saya tidak peduli, tapi karena sepuluh tahun lewat saya termasuk di antaranya. Bukan yang mempermasalahkan, tetapi yang menyusui di tempat umum (jika perlu).

Selama ini saya kira sebagian besar ibu sudah lebih baik nasib saya dulu. Yang untuk mencari atasan yang “breastfeeding friendly” saja sulit sekali. Sampai saya sempat ingin membuat lini pakaian khusus untuk itu.

Tetapi rupanya saya tidak begitu bakat bisnis dan memberikan brief ke tukang jahit, akhirnya tak terlaksana ide tersebut. Walhasil saya sering harus mengalah menggunakan dua lapis atasan, bagian dalamnya tanktop supaya kulit perut saya tidak seperti kulit bedug yang diangin-anginkan di siang hari bolong.

Kain penutup ibu menyusui? Dulu belum ada. Lagian jika saya coba menutup anak dulu, setelah dia lewat 7 bulan, dia belajar menyingkap apa pun yang membuat dia tidak bisa melihat dunia sekitarnya.

Tapi rupanya pilihan untuk produk semakin banyak untuk ibu menyusui. Tetapi sayangnya pilihan manusianya tetapi itu itu saja. Jika menilik thread di atas, cukup banyak yang mendukung ibu menyusui di mana saja, tetapi tidak sedikit pula yang merasa tak nyaman, bahkan terganggu dengan bayi menetek di sekitarnya.

Ada pula yang menyamakan proses ini dengan buang air besar di tempat umum (hello?). Mengutip salah satu jawaban di thread itu juga, if you feed someone with your shit, then you can compare those two processes. 

Sulit rasanya berempati dengan orang-orang yang menegur seorang perempuan karena hal ini. Paling tidak dengan hanya mengingat bahwa dia punya ibu, kemungkinan besar pernah disusui, bagaimana bayi jika lapar tidak bisa menunggu, betapa alaminya proses tersebut, dan itu adalah fungsi utama payudara sebelum dibuat seksual oleh PRIA, mereka harusnya belajar untuk menggigit lidahnya dan diam saja jika tak bisa menawarkan hal baik ke ibu tersebut. Bukan malah mengusulkan untuk mereka menyusui di WC (kecuali kalau mereka lapar membawa makanan ke WC dan makan di sana).

Saya berharap kalau ini eksklusif terjadi di Amerika Serikat, dan bukan di sini. Tetapi kembali lagi, saya tidak tahu keadaannya bagaimana sekarang. Sepuluh tahun yang lalu saya akan menyusui di mana saja anak minta. Mungkin tidak ada yang berani menegur karena muka judes saya. Atau ada yang memelototi atau melihat payudara sambil terangsang, but I didn’t care. I just want to feed my child. And she was hungry. Mungkin ada yang punya pengalaman dan ingin share keadaan di sini sekarang bagaimana? Saya ingin dengar!

Kesempatan Kedua

Ketika hal yang kita idamkan ternyata tidak didapat ketika pertama kali mencoba, apakah akan selalu ada kesempatan kedua?

Terkadang ada kekurangannya jadi ibu dari satu anak, jadi sungguh lugu dalam membuat game plan soal seleksi masuk sekolah. Karena ketidaktahuan (eufimisme dari kebodohan, dan tidak tahu bagaimana mengajukan pertanyaan yang benar), nyaris anak tak masuk sekolah negeri, hanya karena peraturan yang tidak familier.

Setelah tiga pilihan sekolah tidak masuk, saya mengira kesempatan sudah lewat, dan harus menunggu tahap berikutnya seperti mahasiswa. Ternyata masih ada kesempatan untuk merevisi pilihan sekolah, dan kami pun diberi kesempatan kedua.

Saya percaya kalau kesempatan kedua akan selalu datang, hanya saja kita mungkin perlu menunggu dan tidak selalu segera datang. Ketika datang kesempatan itu, apakah kita mau mengambilnya, atau jangan jangan kita sudah sibuk mengejar yang lain lagi?

Jika di kesempatan kedua we still messed up, do we deserve a third chance? Saya masih menunggunya.

Tapi jika kesempatan kedua datang di waktu yang tepat, dan kita ambil dengan niat untuk melakukan yang terbaik, walau jiwa sudah tidak selengkap kesempatan pertama, that’s the best thing that could happen to someone.

Congratulations, Roy Sayur.

Lagi Lagi Plastik

Setelah masa mengumandangkan perang ke plastik kresek untuk wadah belanja berlalu, kini saatnya fokus berpindah ke sedotan plastik. Sungguh positif, karena banyak teman di sekitar saya yang jadi secara sadar menolak menggunakannya lagi, dan mulai membeli sedotan yang bisa digunakan ulang, baik terbuat dari bambu atau baja tahan karat. Mudah-mudahan tidak musiman seperti kebijakan tas kresek tidak gratis di supermarket ya. Tapi apakah itu saja sudah cukup? Ternyata belum, loh!

sliver-gold-rose-gold-colour-stainless-steel.png_220x220

Karena seluruh bagian dari frapuccino, atau iced coffee, atau es kopi mantunya tetangga pak Polisi itu ternyata bisa jadi membunuh lingkungan kita perlahan. Jadi, maksudnya kita enggak boleh tanda tangan  petisi online anti reklamasi sambil menyeruput Tuku, gitu?

WhatsApp Image 2018-06-22 at 4.22.30 PM

Ini dari Guardian.com

Tentu tak ada yang melarang. Tapi mungkin ada baiknya kita tau faktanya. Memang gambar dari the Guardian ini ada beberapa yang tidak relevan untuk Indonesia, tetapi banyak yang ya. Seperti jumlah cangkir kopi sekali buang yang memenuhi laut, mungkin kita belum sebanyak Amerika Serikat atau Inggris, tetapi mungkin bisa jadi tidak jauh, dengan sedang trennya es kopi susu dengan gula aren yang memang biasa dibeli oleh layanan ojol dan dikemas dalam gelas plastik. Menyedotnya dengan apa? Tentu sedotan plastik.

Gulanya mungkin tidak setinggi jika kita menyesap minuman dari Starbucks yang bisa diberikan karamel, lalu ditambah sirup lagi, tetapi jika dikonsumsi hampir setiap hari dan tidak diimbangi pola makan sehat tentu tidak akan membuat risiko diabetes, dan teman-temannya (seperti penyakit jantung dan ganggunan ginjal) menurun.

Susu dan produknya juga di Amerika bermasalah citranya karena diidentikkan dengan praktik pertanian yang tidak etis terhadap hewan (kurang paham dengan di sini ya, ingin deh riset sendiri), juga penemuan-penemuan terakhir yang menyebutkan bahwa susu sebenarnya tidak sehat seperti yang diklaim produsennya selama ini. Sementara untuk yang berlomba-lomba pindah ke susu almon juga semoga sadar kalau almon itu tidak tumbuh di Indonesia, dan menanamnya membutuhkan sumber daya air yang berlebihan, tidak jarang membuat lahan jadi kekeringan. Kedelai yang jadi bahan susu kedelai juga tidak bebas dosa, karena banyak penebangan liar terjadi demi penanamannya dan isu Monsanto, tentunya.

LALU KITA MINUM APA DONG?

Air sih, sebaiknya. Tapi tentu sebagai manusia normal kita perlu kafein di dalam darah ya. Karena itu coba biasakan bawa wadah sendiri lengkap dengan sedotannya, agar bebas rasa bersalah. Lebih baik juga kalau kita buat sendiri kopi, dan membeli kopinya dari orang yang kita paham membeli biji kopi dari petani lokal dengan harga adil.

stojo

Cangkir lipat dari stojo.co ini sungguh mudah dibawa, sekarang ada yang lengkap dengan sedotan pun! #bukaniklan

Maaf ya, kalau mengurangi kenikmatan menyeruput kopi dingin Anda, tetapi sebelum saya dituduh SJW, harap ingat kalau ini hanya saran.

 

Tooth Fairy

Kapan terakhir ke dokter gigi? Saya ternyata sudah lama sekali, lebih dari tiga tahun yang lalu, kalau tidak salah ingat.

Lalu tiba-tiba hari ini bikin janji untuk ke dokter gigi lagi. Asalnya hanya ingin membersihkan karang dan memutihkan gigi beberapa level agar senyum semakin cling. Eh kok ya, begitu dokter gigi mengintip ternyata ada bolong gigi yang harus ditambal dulu.

Begitu melihat dan mendengar mesin bor langsung teringat kenapa asalnya malas sekali ke dokter gigi. Saya itu dengar meja diseret atau kapur di papan tulis saja ngilu, apalagi mendengar mata bor beradu dengan gigi. Merinding sampai ke tulang rasanya. Belum lagi kalau terkena bagian yang memang ngilu. Nyawa seolah lompat dari kursi dokter gigi sementara badannya tidak bisa berbuat apa-apa, karena dipiting oleh dokter dan asistennya.

Ada rasa ketakberdayaan yang hqq ketika sedang berada di kursi itu. Bahwa peralatan dokter gigi tidak banyak berubah (hanya sekarang pakai colokan listrik saja) dari zaman abad pertengahan tentu tidak membantu rasa seperti menyerahkan diri kepada Ramsay Bolton untuk jadi mainannya.

Dari sekian banyak penemuan dan penemu yang membuat robot menyerupai anjing yang bisa naik tangga (not unlike those scary ones in Black Mirror), Dan virtual assistant yang sudah bisa mengobrol bak pacar (not unlike that in Her), mengapa teknologi perlindungan dan perawatan serta reparasi gigi masih tak banyak berubah?

Jika ada seorang penemu yang sedang mencari ide mungkin saya bisa bantu:

Ide 1: Pencegahan

Pelindung gigi transparan yang bisa digunakan sejak kita pertama kali makan. Bentuknya seperti deretan gigi transparan yang dipasang ketika akan makan terutama makanan yang berpotensi merusak enamel gigi seperti makanan manis, keras, dan lainnya. Dibuat beberapa kali dalam hidup sesuai dengan pertumbuhan rahang. Bisa terbuat dari bahan yang kuat namun ringan (vibranium?) Sehingga mudah dibawa, or better yet, bisa otomatis terbuka atau tertutup hanya dengan menekan tombol. Shield’s up!

Ide 2: Kosmetika

Untuk orang yang kurang beruntung lahir dengan warna gigi yang tidak terlalu putih, ada filter yang bisa mengatur saturasi, brightness, contrast, light, shadow Dan lainnya yang dipasang di gigi seperti stiker transparan, dan diatur sesuai selera. Tidak mengganggu makan dan bicara.

Ide 3: Perbaikan atau Reparasi

Untuk orang yang giginya tanggal. Bentuknya seperti biji bibit mikro yang kecil. Ditanam di bagian yang ompong dengan membuat insisi kecil dan ditutup kembali. Biji ini dapat diprogram untuk tumbuh menjadi gigi (dan akarnya) sesuai bentuk yang disetel sebelumnya. Akan ada penyesuaian kecil ketika membesar agar tumbuh pas dengan ruang yang ada di bagian yang ompong. Terlihat, terasa, dan bekerja seperti gigi asli.

Bagaimana? Sepertinya bisa diwujudkan enggak ya? Anda sendiri punya ide invention perawatan gigi?

Tentang Desain

Mengetik sambil menonton Royal Wedding (demi content), tetapi tidak ingin menulis soal itu. Karena di womantalk.com sudah membahas banyak sekali soal Meghan Markle dan Prince Harry, kalau ingin update lengkap ke sana saja ya (shameless plug)!

Tadinya ingin bahas sesuatu yang serius juga tapi kok akhir-akhir ini banyakan kejadian yang membuat depresi daripada membuat gembira. Baru tadi pagi saja terbangun lalu langsung ingin menangis mendengar (lagi-lagi) ada penembakan di SMA di Amerika Serikat. Melirik Twitter, perdebatan tetap sama, antara yang langsung menuntut adanya pengendalian senjata dan yang menentang, tentunya. Tidak terlalu jauh dengan perdebatan yang terjadi di sini kurang lebih seminggu yang lalu. Agak seram enggak sih, semakin lama negara kita semakin menjadi cerminan negara yang ‘ntu?

Anyway…

Saya yakin ini yang diajarkan di sekolah desain hari pertama, bahwa desain itu gunanya untuk memecahkan masalah. Tetapi tampaknya banyak yang lupa, atau enggak ngeh dengan hal ini, karena itu kalau mendengar kata ‘desain’ pasti sebagian dari kita berpikir soal sesuatu yang indah dan agak eksesif seperti fascinator yang dipakai oleh tamu royal wedding .

fascinatorscropped

Saya pun baru paham benar kalimat ini sejak diceritakan oleh kakek anak saya yang memang dosen desain di sebuah institut terkemuka.

Baru-baru diingatkan lagi oleh sebuah produk dari Jepang.

Karena penulis ada seorang skincare enthusiast, sempat mencoba berbagai bentuk pembersih untuk double cleansing, akhirnya hati tertambat ke bentuk cleansing balm sebagai pembersih pertama. Merk yang digunakan tentu dari Korea Selatan, yang cukup mudah ditemukan di mana-mana.

animated

Tetapi ada yang mengganggu dengan produk balm ini (saya sudah mencoba beberapa brand), yaitu mengambil produknya dari dalam potnya harus dengan spatula, karena sulit dicolek dengan jari, kalaupun bisa, kurang higienis ya. Nah, biasanya spatulanya itu diletakkan di bawah tutup, di atas lapisan plastik, yang sungguh tak praktis, sering jatuh, akhirnya spatulanya biasanya saya letakkan saja di atas tutup produk ini.

animated (1)

Tapi kan sekali lagi, kurang higienis ya, dan rentan terkena debu dan zat lainnya yang bertebaran di udara. Sementara untuk mencucinya setiap kali mau mengambil produk untuk membersihkan muka, kok pe-er banget rasanya.

animated (2)

Tapi tidak saya pikirkan itu terlalu banyak, sampai ketika saya sedang mengunjungi Jepang, dan di salah satu drug store (yang tidak pernah saya lewati tanpa menghampiri) ternyata ada cleansing balm walau dari merk yang belum terlalu populer. Begitu yang lama habis, saya bukalah cleansing balm Jepun itu, dan lihatlah spatulanya!

animated (3)

animated (4)

Awalnya, saya kira spatula itu dilem di bawah tutup, sehingga begitu sekali diambil tidak akan bisa diletakkan di tempat yang sama, ternyata, bagian bawah tutup wadah dan ukuran spatula dibuat kompatibel sehingga spatula akan pas terpasang di sana ketika tidak sedang digunakan, dan tidak akan jatuh walau wadah ditutup kembali!

Sungguh pemecahan sederhana namun jitu terhadap masalah yang mungkin tak pernah dipertimbangkan oleh orang lain (kecuali pengguna cleansing balm seperti sisterhood of double cleansing), dengan desain yang tidak berlebihan tetapi tepat guna, dan membuat terharu dan sebagai pengguna merasa dihargai masalahnya.

Apa itu kurang contoh desain sebagai jalan keluar dari masalah yang kita miliki? Menurut saya proses seperti ini adalah underrated. Semua orang berlomba terlihat keren, tetapi jarang ada yang bertanya “bagaimana menyelesaikan masalah dengan keren?” Walhasil, desain menjadi sesuatu yang berlebihan, tanpa esensi.

Apakah Anda ada contoh lain? Mungkin bisa dibagikan di komentar, saya ingin membacanya!

Terima Kasih Konmari

Beberapa hari yang lalu, entah mengapa saya rasanya sumpek sekali. Sampai larut pun, sulit tidur. Padahal lelah dan biasanya langsung pulas. Tiba-tiba yang muncul adalah rasa ingin beres-beres. Si eneng yang juga belum tidur di sebelah saya pun langsung dicolek.

“Neng, kayaknya kita harus beberes serius deh, terutama kamar ini. Kok, kayaknya barangnya sudah menumpuk ya.”
“Iya bu, terutama bagian situ, tidak menyenangkan dilihatnya,” katanya sambil menunjuk sudut kamar tempat tumpukan tiga kontainer, yang saya juga sudah lupa isinya apa.
“Oke, berarti kita buat rencana dulu ya, weekend ini kita laksanakan!”

Besoknya saya mendadak ingat kalau pernah meminjam buku Marie Kondo dari teman, langsung melihat ke rak dan ternyata masih ada dan memang belum dibaca. Langsung diselesaikan dan diresapi buku itu dan aliran Konmari dalam beberes.

Memang agak aneh kedengarannya; Marie menyarankan untuk memulai beberes dengan mengenyahkan barang yang tidak membuat kita gembira, dan hanya menyimpan yang membuat kita gembira. Kelilingi diri dengan benda-benda yang membuat Anda gembira. Sisanya, biarkan dia berlalu dari hidup, ucapkan terima kasih sudah bertemu dan kita gunakan dan enyahkan. Setelah jumlah barang berkurang, baru kita mulai menyusun, dan semua barang harus ada tempatnya. Baru kita bisa mendapatkan hidup yang nyaman, minimalis dan tidak perlu terlalu sering beberes karena barangnya toh tak banyak dan semua ada tempatnya. Entah mengapa saya bisa memahami sepenuh hati cara ini, dan tak sabar melaksanakannya. Saya baru menyadari kegelisahan ini salah satu alasannya adalah karena merasa dikelilingi oleh sampah yang tertimbun selama lebih dari sepuluh tahun berada di rumah ini.

Saya memang punya keturunan penimbun, karena ibu saya penimbun kelas berat yang nyaris tak pernah membuang barang. Walhasil, di kamar beliau sekarang, tak ada satu sentimeter persegi pun tempat untuk meletakkan barang seperti tas, atau sekadar jam tangan, karena semua permukaan sudah penuh sesak dengan tumpukan barang. Kecuali hobi Anda Jenga, agak riskan untuk menambah tinggi tumpukan itu. Lantai dua rumah, yang dahulu adalah kamar anak-anak (saya dan adik-adik), sekarang penuh juga dengan tumpukan barang yang tidak muat diletakkan di lantai bawah.

IMG_20180428_124553

Beberes baru dimulai.

Kemarin saya membeli tiga pak plastik sampah ukuran extra large, dan pagi ini saya mulai menyortir barang per kategori. Pakaian duluan. Buku dan kertas-kertas kedua. Lalu diikuti dengan pernak pernik perintilan dan barang kenang-kenangan. Begitu membongkar laci yang bertahun hanya saya buka, bersihkan, letakkan kembali isinya dan tutup, baru ketahuan kalau saya pun nyaris tak pernah membuang barang. Mulai dari foto mantan, surat cinta dari pacar terdahulu, undangan ke acara media, hingga name tag dari berbagai kepanitian sampai perjalanan. Pakaian juga, hampir semua kaus race pack maupun finisher masih saya simpan. Bahkan baju yang sudah ketinggalan zaman tidak saya singkirkan dengan alasan, siapa tahu musim lagi. Padahal tumpukannya juga sudah nun jauh di bawah. Setelah menyikat buku yang tidak membawa kegembiraan buat saya, atau saya tidak ada niat mengulang baca, rehat makan siang kesorean, lalu saya lanjut kembali sampai selesai.

IMG_20180428_192810

Sebelum break siang, 5 kantung plus 2 di belakang kamera

Hasilnya? Delapan kantung sampah penuh, plus beberapa kantung kecil untuk aksesori dan produk kecantikan. Benar saja, begitu selesai dan saya mandi karena hari ini begitu panas sehingga keringat mengucur deras, rasanya jauh lebih enteng. Beres-beres saya belum selesai, karena cita-cita ingin mengurangi lagi barang sampai ke tingkat minimal, dan mengetahui di mana batas saya hidup dengan sedikit saja barang. Saya juga ingin menata ulang kamar supaya lebih nyaman. Walau sekarang saja menurut saya sudah nyaman dan inginnya tidak keluar dari sana setiap akhir pekan.

Hidup Berkompartemen

Mungkin ini terjadi juga dengan Anda, mungkin juga tidak. Semakin tua memang teman lingkaran terdekat semakin sedikit. Tetapi teman lingkaran kedua dan ketiga semakin banyak. Mengaku introver, tetapi ternyata geng teman-teman semakin banyak. Lengkap dengan grup Whatsapp tentunya. Bertemunya sih, belum tentu setahun sekali untuk semua geng, tapi ada juga yang rutin seminggu sekali karena pertemanan juga terjadi karena kegiatan tertentu.

how-to-compartmentalize

Geng mantan teman kantor saja ada tiga. Kantor terlama ditinggal justru yang paling sering bertemu, karena sahabat saya juga ada di situ. Geng SMA, yang saya agak segan bertemu kalau reuni besar, tetapi untuk teman teman tertentu saya masih sayang. Geng kuliah ada dua, karena saya kuliahnya sempat di dua tempat. Dua-duanya jadi pembaca pasif (sering kali juga tidak dibaca pesan di grup tersebut, tapi karena bolak balik keluar dari grup diundang kembali, ya sudahlah, pasrah saja). Itu baru yang dari institusi ya. Kemudian ada geng yang suka mencicipi restoran atau masakan, dan teman-temannya bertemu di Twitter. Ada pula geng cacing buku alias bookworm yang saling rekomendasi bacaan asyik, tak jarang pula kami baca satu buku bersamaan, di grup ini pula ada beberapa anggotanya belum pernah saling bertemu IRL. Geng Linimasa tentunya, yang kadang sepi, kadang ramai, tetapi tetap penuh kasih sayang <3.

Geng olahraga yang paling aktif dan sering ketemu, karena memang olahraganya seminggu sekali. Salah satunya geng bootcamp yang sampai bercabang-cabang. Terus terang geng ini termasuk yang saya paling suka, karena entah mengapa anggotanya level kebocorannya dan selera humor receh yang levelnya sama. Karena itu kami ada cabang; yang ikut kelas yoga di tempat yang sama, yang suka cari keriaan (baca: alkohol), dan kalau kita memutuskan untuk beramai-ramai ikut race tertentu di luar kota (ini grupnya temporer, begitu race selesai, bubar pula grupnya). Ada satu lagi grup crossfit  yang jarang sekali disambangi di luar kegiatan olahraganya. Aku merasa tua di grup itu karena mereka begitu tak kenal lelah. Sementara aku hobinya tidur siang.

Lalu dari semua grup itu apakah ada yang pernah bercampur atau berkumpul bersama di luar satu atau dua orang irisan anggota? God forbid, no.

Menjadi tua juga berarti semakin mahir membuat kompartemen hidup. Semua teman dan geng ada tempatnya masing-masing. Saya tak terbayang kalau teman SMA saya bertemu dengan geng yang lain. Apalagi jika bertemu dengan yang outspoken soal ketidaksukaannya dengan organized religion. Kemudian sahabat saya sudah menyuarakan ketidaksukaannya terhadap salah satu anggota geng makan, dan kebetulan di geng makan juga termasuk yang sulit menerima orang baru. Geng Linimasa sih, seperti kelompok rahasia, yang kalau dilihat sekilas saja sangat misterius bagaimana orang-orang seperti itu bisa bertemu dan jadi berkumpul bersama. Sesama geng olahraga (bootcamp dan crossfit) saja tidak terbayang kalau berkumpul bersama. Yang satu tukang protes kalau diberi program berat (walau dilakukan juga), yang satu lagi malah protes kalau olahraganya kurang berat.

Tetapi alasan sebenarnya mereka jangan sampai bertemu adalah, supaya tidak ketahuan kalau aku aslinya sangatlah cupu.

Kisah Sial Urban

Memilih untuk commuting dengan transportasi publik memang tidak selalu indah ceritanya. Aspek menyenangkannya memang dari segi waktu tempuh dan makian yang bisa dihemat, ketimbang menggunakan kendaraan pribadi. Terutama untuk pekerja seperti saya yang tinggal di selatan Jakarta dan berkantor di bagian barat.

Efek baiknya juga, saya jadi lebih asertif dalam menegur orang yang mencoba berlaku tak sopan, antre sembarangan, dan yang mengambil sisi kanan eskalator tetapi tidak berjalan. Daripada ngomel dalam hati, kan?

Nyeri!

Tapi semakin sering mengalami, membuat saya semakin malas bersuara, seringnya ya sudahlah biarkan saja. Misalnya, ketika naik KRL dari stasiun tanahabang ke arah Depok atau Bogor, yang biasanya masih cenderung lengang. Semua penumpang seperti tersentil survival instinct dan berebut kursi yang masih kosong. Walaupun saya sudah berdiri di atas garis kuning – garis batas peron yang calon penumpang boleh berdiri – tetap saja begitu menjelang kereta berhenti selalu ada orang memaksa berdiri di depan saya, walau risikonya hidung tersenggol kereta.

Yang saya sering sebal juga dengan orang yang berkeras untuk berdiri di dekat pintu, padahal stasiun tujuan masih jauh, padahal di bagian dalam kereta masih lowong. Untuk melampiaskan biasanya ketika saya turun saya tak peduli untuk menabrak atau menginjak kaki sambil menegur sambil lalu: “Jangan berdiri di pintu, MAS!”

Risiko berdiri di pintu

Beberapa hari yang lalu, saya bisa keluar kantor agak sore, dan menanti di garis kuning seperti biasa. Seperti biasa pula seorang mas mas dengan santainya melangkah ke depan saya ketika kereta berhenti. Mungkin pikiran saya langsung sibuk kesal , tetapi tetap dengan asumsi kalau dia akan masuk ke bagian tengah kereta dan ikut rebutan duduk di kursi. Ternyata si mas malah berhenti di pintu dan berdiri di pinggirnya yang membuat saya limbung karena langkah saya ke depan terhalang jadi mengantisipasi dengan melangkah agak ke sisi, walhasil kaki saya meleset dari lantai kereta dan saya jatuh ke dalam kereta dengan posisi tertelungkup.

“Mas! Kalau masuk ya masuk, jangan berhenti di pintu gitu, bikin kagok aja!” Kontan omelan langsung keluar, sementara saya baru sadar, tentu dia tidak sadar dan tidak peduli apa yang terjadi di belakangnya. Saya pun berdiri dan langsung pasang posisi seperti biasa tanpa menunggu reaksi dari mas yang ditertawakan temannya. Mungkin juga temannya menertawakan saya, sih, tapi bodo amat.

Moral of the story (tetap harus ada ya): jangan pernah sok mengantisipasi arah gerakan orang di depan kalau tidak mau jatuh terjelungup.

Setebal Dompet

Wallet-and-Money-LQ-1000x550

Kalau kita sedang ada keinginan, apa yang sebaiknya dilakukan? Ingin rezeki lebih banyak, ingin jodoh, ingin punya pekerjaan yang lebih baik. Biasanya nasihat yang sering saya dengar adalah “berdoa”. Ya, tentu bagi mereka yang memeluk agama tertentu, berdoa memohon akan apa yang diinginkan hatinya mungkin akan menimbulkan ketetapan hati bahwa suatu hari keinginannya akan tercapai.

Tapi apakah berdoa dan beribadah yang seperti ditangkap dari bahasa yang dibaca terjemahannya pada kitab-kitab cukup? Lalu harta, tahta, dan wanita itu akan jatuh ke pangkuan kita willy nilly?

Mungkin saja kita juga percaya bahwa tuhan/ semesta bekerja dengan caranya sendiri, dan tak jarang misterius. Kita tak pernah bisa tau apa yang kita dapatkan dan bagaimana mendapatkannya. Mungkin kita bisa menetapkan hati akan “apa” yang kita inginkan atau butuhkan tapi “bagaimana”nya tetap di luar kekuasaan kita.

Bukan tidak mungkin “bagaimana” kita menerima apa yang kita doakan itu lewat manusia lain. Yang mungkin selama ini kita anggap kurang penting, karena menurut kitab dan para guru agama, beribadah lebih penting dari membina hubungan baik antara sesama manusia. Bukan manusia sekeyakinan, tetapi manusia. Titik.

Siapa tau apa yang kita inginkan seharusnya disalurkan oleh seseorang yang-karena beda keyakinan-kita duduk di sebelahnya saja di kendaraan umum ogah. Bukan tidak mungkin pekerjaan impian kita akan ditawarkan oleh seorang yang tadinya levelnya di bawah kita tetapi kita alpa untuk memperlakukan dia dengan baik karena kita sibuk menjilat atasan mengharapkan imbalan yang setimpal. Bisa jadi orang yang akan mengenalkan kita ke soulmate adalah teman yang kita tidak tolong dengan alasan tidak ada uang, padahal besoknya kita makan di restoran yang mewah dan disiarkan di media sosial. Orang mungkin tidak mengingat apa yang kita katakan pada mereka, tapi kabarnya mereka akan selalu ingat apakah kita membuat perasaan lebih baik atau lebih buruk.

Saya pernah mendengar seseorang mendefinisikan “abundance”. Saya saja yang sering mendengar dan menggunakannya sering mengasosiasikannya dengan sesuatu yang berkelebihan, menumpuk. Padahal, kata seseorang ini, kata “abundance” berarti, mendapatkan yang kita butuhkan, tepat di saat kita membutuhkannya. Menyenangkan ya? Seperti punya dompet dengan isi 100 ribu rupiah saja. Tetapi ketika diambil dan digunakan lembar uangnya, muncul lagi 100 ribu, dan begitu selanjutnya. Beli di mana ya dompet seperti ini?

Setajam Silet

Dari semua kata yang sedang naik daun akhir-akhir ini, mungkin ‘konspirasi’ terselip dalam daftarnya. Semua yang melakukan kesalahan terhadap seseorang, atau kaum tertentu lalu dituding merupakan bagian dari konspirasi. Ada seorang pemuka agama tertentu yang terjerat kasus hukum? Ini pasti konspirasi pemerintah yang ingin mencorengkan nama agama itu (padahal memang melanggar hukum, gimana dong?). Bumi dicurigai tidak bulat? Lalu dari mana asal pengetahuan umum bahwa planet kita ini dan semua planet di tata surya itu bulat, dong? Oh, berarti ini konspirasi negara barat supaya jualan satelitnya laku.

Keyakinan saya adalah, belum tentu yang dituduh berkonspirasi itu cukup pandai untuk melakukan konspirasi. Karena itu teori yang terlalu njelimet biasanya bisa disilet dengan philosophical razor seperti punya Hanlon atau Occam. Tetapi memang Hanlon’s Razor lebih silet terdengarnya. Tetapi saya memang lebih percaya; bahwa dari sebagian besar tuduhan kelicikan, biasanya yang terjadi di belakangnya adalah kebodohan. Saya masih skeptis terhadap kelicikan manusia kebanyakan, tetapi saya penganut kepercayaan mutlak bahwa manusia (termasuk yours truly) masih banyak yang bodoh. Pada dasarnya saya husnudzon. Bukan Fadli Zon.

Tapi tentu ini tidak berlaku untuk teori konspirasi favorit saya tentang kudeta yang diredam dengan isu pemberontakan PKI (termasuk juga kata yang sedang naik daun). Yang disebut sebut sedang mengalami kebangkitan itu. Satu lagi teori yang saya ingin percaya dan dengan bersemangat mengikuti tulisan maupun film yang dibuat berdasarkannya; pendaratan Apollo 11 di bulan. Setelah membaca banyak sekali pembahasan teori dan spekulasi mesin roket, dikukuhkan oleh film Capricorn One. Berbeda dengan flat-earther yang bersikukuh kalau pendaratan ini bohong belaka, saya akan senang kalau ada yang bisa membuktikan saya salah.

Jadi silet yang mana yang kita pakai buat cukuran hari ini?

Conspiracy

Teori konspirasi yang menutup konspirasi sebenarnya adalah konspirasi!