Semesta, Hindari Aku dari Kekeminteran

Pernah, enggak sih, baca tulisan sendiri beberapa tahun yang lalu, kemudian mengerenyit malu? Kok keminter sekali diriku dulu? Saya lumayan sering mengalaminya, terutama ketika masih baru mulai baca dan praktik soal olahraga dan makan sehat. Luar biasa sering menghakimi dan sotoy, walaupun untungnya jarang memaksakan pendapat dan kehendak ke orang lain.

Semakin lama menjalani hidup dengan lebih melek mengenai nutrisi dan mengamati reaksi badan, semakin paham kalau badan kita ini kurang kena dengan ilmu 2+2=4. Kita makan karbohidrat rendah bukan otomatis berat badan turun drastis. Olahraga tidak otomatis menjadikan usia kita lebih panjang dari orang lain. Jika pola makan satu baik untuk dia bukan berarti ketika dipraktikkan oleh kita akan sama suksesnya. Terutama setelah membaca cukup banyak panduan dan buku referensi nutrisi dan diet yang ditulis dan dibuat oleh pria, kini saya paham betul kalau badan laki laki dan perempuan itu berbeda, jadi tidak bisa tidak bisa diterapkan persis, hanya bisa jadi panduan umum.

Begitu gemarnya dengan functional medicine, ternyata di website Institute of Functional Medicine, mendapatkan dokter yang mempraktikkan hal ini di Indonesia, tapi sayangnya bukan di Jakarta, tetapi di Yogyakarta. Tetapi itu tidak menghentikan niat saya untuk menjadi pasien dr. Qorry, kami melakukan konsultasi dengan jarak jauh melalui aplikasi pesan atau video call. Prosesnya cukup panjang, saya harus mengisi banyak sekali formulir, mencatat data, pola makan, aktivitas dan masih banyak lagi. Kemudian cek darah dengan banyak poin yang diperiksa, sehingga darah yang harus diambil bisa satu tas jinjing. Alasan saya ingin memeriksakan diri, karena menstruasi saya tidak teratur, dan saya curiga kalau ini disebabkan karena saya dua kali mencoba diet rendah karbohidrat.

Ternyata cukup salah, tetapi ada benarnya.

Bukan rahasia lagi kalau dengan bertambahnya usia, metabolisme kita bertambah “malas”. Tetapi bertambah tua tidak harus bertambah penyakit, bertambah tua tidak harus tambah lemah. Asal memerhatikan hal mendasar ini, kita bisa maju untuk melakukan perbaikan kualitas hidup kita. Jangan jadikan goal kita tidak sakit ya, tetapi kualitas hidup yang baik sampai mati tua.

Terutama untuk perempuan, hormon penting.

Mudah sekali mengacaukan hormon (terutama perempuan), pola makan yang kurang baik, stres, kurang tidur, olahraga terlalu berat (in my case), tetapi sulit sekali mengembalikannya menjadi normal. Kita harus identifikasi masalah, dan membuat hipotesa penyebab masalah, melakukan perubahan, sambil mengamati hasil. Mana saya paham sebelumnya, kalau usaha saya jadi fit dengan CrossFit dan Bootcamp 2-3 kali seminggu ternyata tidak baik untuk hormon saya? Ketika dr. Qorry menganjurkan mengurangi porsi olahraga intensitas tinggi saya jadi seminggu sekali saja, menstruasi saya kembali menjadi normal.

Pelapis perut kita menentukan banyak penyakit.

Termasuk penyakit seperti alergi dan auto-imun. Saya mendengar beberapa orang meninggal usia muda karena masalah pencernaan. Tetapi hal ini jarang dibahas oleh otoritas kesehatan maupun media. Sesungguhnya di perut yang sehat itu ada lapisan seperti jelly yang akan melindungi dari kerusakan di dinding lambung/ usus. Bagaimana agar lapisan itu terjadi dan sehat? Cukup banyak PR-nya, dan memang melibatkan perubahan gaya hidup.

Mikrobioma adalah koentji.

Salah satu langkah pertama demi hidup yang berkualitas baik dan selaras adalah menjaga agar mikrobioma dalam tubuh kita kaya berbagai macam yang baik dan tidak dibom oleh berbagai obat kimia (saya pernah bahas sedikit di sini). Jika kita dulu sering dengar soal prebiotik dan probiotik di sini lah makanan jenis ini berperan. Coba riset mengenainya, karena Anda akan terkejut kalau ternyata prebiotik tidak hanya Yakult.

Jadi itu langkah pertama yang sedang saya usahakan. Mudah-mudahan dengan tercatat saya bisa merevisinya jika ada kesalahan dan memperbarui jika ada update.

Semoga kita selalu sehat dan bahagia!

pexels-photo-935869
Photo by rawpixel.com on Pexels.com
Advertisements

Sisi Sebelah Sono dari Takut

Apa yang membuatmu takut?

Kegelapan selamanya yang katanya akan dialami ketika mati? Atau bayangan bahwa semesta begitu luasnya dan manusia begitu tidak signifikannya, lebih kecil dari debu, sampai memikirkannya membuat napas sesak? Mungkin ada ketakutan yang lain, yang membuat film horor yang paling mengerikan sekalipun (untuk saya; Hereditary dan Ringu) jadi seperti kisah fabel untuk anak sebelum tidur?

Seperti bayi baru yang sudah terbiasa dengan ruang terbatas di rahim ibu, ketika merasa ada di ruang terlalu terbuka seringnya merasa kurang aman, karena itu tak jarang mereka dibungkus dalam selimut atau dibedong sehingga bisa tidur dengan ayem.

Begitu juga manusia dewasa yang mungkin ketakutannya adalah jagat yang demikian luas, membuat bumi hanyalah salah satu planet dari entah berapa juta atau milyar makhluk surgawi yang ada. Dengan premis seperti itu sepertinya sulit mempertahankan pemikiran kalau kita makhluk yang paling sempurna dan segalanya diciptakan untuk kita. Apa ya, bedongnya kira kira jika ketakutannya itu? Mungkin mencari ideologi dan teori lama geosentris, kemudian menambah dengan apa yang dikira dibaca di kitab suci, dan jadilah kepercayaan bahwa bumi datar. Bahwa langit tidak bolong sampai lapisan ke tujuh, di jagat, jagat kedua, multi jagat dan lebih luas lagi, tapi ada lapisan firmamen yang melindungi kita. Lalu matahari dan bulan diciptakan hanya untuk kebutuhan manusia di bumi.

Sepertinya semua manusia, paling tidak satu waktu dalam hidupnya terpikir soal kematian dan takut karenanya. Memang lebih nyaman untuk berpikir bahwa kita akan bangun lagi di alam yang berbeda dan abadi, dan apa yang kita kerjakan di dunia berpengaruh dengan apa yang akan kita alami di alam tersebut. Kegelapan abadi tentu tak membuat nyaman. Tetapi mengingatkan diri dengan teori kekekalan energi, sehingga ruh manusia adalah energi yang tidak bisa dihilangkan hanya berubah bentuk, tentu lebih membuat nyaman menghadapi kematian.

Apa yang kita rela korbankan demi rasa nyaman? (Sementara nyaman adalah musuh dari … kemajuan? Sukses?)

Mungkin juga rasa takut tidak terlalu buruk, bukan untuk diubah jadi nyaman, tapi diterima saja. Lebih baik kalau jadi cinta. Karena dalam hidup kita hanya dua pilihan; untuk menjalaninya mengikuti rasa takut, atau rasa cinta.

everything-you-want-is-on-the-other-side-of-fear-24042728

Apa Yang Membuat Jatuh Cinta?

Ketika hati terasa kering kerontang demikian lama. Mencoba membukanya dengan harapan akan disirami, kenyatanya hanya lembap sedikit, lalu kering lagi. Bagus enggak tumbuh jamur.

Apa yang kira-kira bisa membuat jatuh cinta? Apakah itu tatapan mata ketika bicara, yang seolah hanya untuk aku? Apakah senyum dan tawa alami ketika bercerita? Atau ajakan tanpa paksa, atau meminta untuk mengantarkan pulang, hanya dengan kata sederhana; aku sengaja bawa dua helm, siapa tau kamu mau.

Mungkin bisa juga tatapannya yang selalu seperti air dingin di hati yang panas? Tanpa bibirnya harus berkata, tampak selalu senang melihatku. Atau tangannya yang memegang erat tanganku ketika aku memeluk pinggangnya di motor. Bisakah sebuah ciuman di bibir yang lembut lalu menggebu yang membuatnya terbayang sampai keesokan harinya?

Tetapi kenapa ketika dia mengatakan sayang, aku tidak bisa membalasnya? Kenapa kenapa dia sebut kata “pacar” aku hanya bisa membalas “hehehe”. Waktu dia mulai mengatakan, I love you kepadaku, hanya sanggup kubalas, awww thank you!

Padahal aku sudah janji kalau tidak lagi mencari kesamaan minat yang gimana banget. Aku juga sudah tidak menganggap terlalu penting kalau tidak lagi bertemu seseorang yang bisa mengobrol sampai berjam-jam mengenai hal yang kita sama sama suka. They are all nice to have, but not principal. Walaupun senang juga kalau bisa chat sampai larut malam karena seolah ribuan subyek yang ingin dibicarakan, tapi kurang waktu bersama.

Tapi jika semua itu memang tidak penting, kenapa belum juga aku jatuh cinta? Mungkin ini hanya perkara masa.

original

Tubir Netizen Sabtu

Hari baru, tubir baru. Untuk warga Twitter tentu sudah paham ini. Saya buka aplikasi ini di pagi hari dan menemukan bahan baru yang diributkan, yaitu cuitan di atas. Sebagai perempuan dan seseorang yang antusias soal transportasi publik, tentu saya paham sekali maksud Tahlia. Dia tampaknya ingin menekankan betapa ironisnya, di antara para laki laki, tetapi justru yang melakukan hal yang dianggap oleh masyarakat umum “laki laki” justru seorang waria; yaitu menawarkan tempat duduk ke dirinya, seorang perempuan.

Lalu muncullah tanggapan-tanggapan, dari mulai menyentil feminisme selektif, apa itu definisi “gentleman“, sampai yang memang tampaknya benar tersinggung oleh cuitan ini.

Sepertinya memang penggunaan kata gentleman itu suka mengundang polemik. Seperti juga istilah lain berbahasa asing, gentleman sering digunakan untuk konteks yang kurang tepat. Jika saya masukkan ke Google Translate, hasilnya adalah: bangsawan, ningrat, orang kaya, orang yang berbudi bahasa halus, atau definisinya dalam bahasa Inggris pula: a chivalrous, courteous, or honourable man. Hampir semua menyangkut tata krama dan budi pekerti juga keturunan. Sementara tidak jarang saya baca digunakan seperti ini: “Kalau berani jangan keroyokan, tapi satu lawan satu dong, jadi laki harus gentleman“. Nah loh.

Jadi apakah moral dari ketubiran netizen hari ini? Tidak ada sih, karena besok pun akan diributkan lagi, hal yang sama atau hal lain. Tapi mumpung sedang dalam pembahasan, ada baiknya saya membuat saran:

  1. Tidak perlu menggunakan kata gentleman untuk menggambarkan tindakan yang sopan, empati dan apa pun itu dari laki laki. Langsung saja gunakan kata yang menggambarkan tindakannya. Manis, berani, sopan, baik hati, welas asih, ksatria, atau apa lah masih banyak lagi di bahasa Indonesia. Apalagi ketika gentleman dipotong jadi hanya “gentle”. Artinya sudah beda ya. Tolong.
  2. Berhenti menggunakan kata banci untuk konotasi negatif. Mungkin belum ada yang protes, karena itu saya mulai dengan mengatakan, SAYA PROTES! Juga tersinggung. Teman saya banyak yang homoseksual dan mereka pintar, berani, menyenangkan, baik hati, malah saya bisa bilang lebih dari teman saya laki laki yang hetero. Jadi kalau ada teman yang baik hati, manis dan pendengar yang baik akan saya puji, “kamu banci sekali, aku sayang kamu!”

1et21b

 

 

 

 

 

Ulang Tahun Istimewa

Alkisah, ada seorang mahasiswi yang lugu dan baru pacaran, belum pernah hari ulang tahunnya dirayakan begitu spesial oleh orang selain keluarganya. Mendekati hari istimewa itu, dia semakin berdebar dadanya; kira-kira apa ya, yang direncanakan oleh pacar baru (dan pertama) untuk merayakannya? Apakah dia akan diberi kejutan romantis seperti yang dilakukan di film-film? Atau pacarnya akan mengundang teman-teman dekatnya untuk merayakan bersama? Entahlah, yang jelas dia sudah sering melamun sambil senyum senyum sendiri.

Pagi pagi sekali di hari ulang tahunnya, pacarnya sudah muncul di tempat dia kos. Tentu yang diucapkan pertama kali adalah selamat ulang tahun, tetapi dia melihat bahwa mata pacarnya merah, dan bajunya lusuh tidak seperti baru keluar dari rumah pagi.

“I have bad news”
“OMG what”

Dengan tidak percaya dia mendengar pacarnya cerita. Kalau malam sebelumnya dia menyetir ke luar rumah jam 8 malam untuk membeli kado untuknya. Ketika dia menyetir dengan kecepatan sedang, ada anak yang mendadak menyeberang jalan dan dia tidak sempat mengerem, sehingga tersenggol mobilnya. Kemudian dia tadi malam membawa anak tersebut ke rumah sakit terdekat dan mengurus pemeriksaan anak tersebut semalaman.

“Maaf aku enggak sempat siapin apa-apa untuk ulang tahun kamu.”
“Enggak apa-apa, yang penting kamu aman. Anaknya gimana?”
“Masih observasi khawatir gegar otak. Selain itu enggak ada luka parah, hanya pusing katanya. Nanti kalau kamu selesai kuliah aku ajak ke rumah sakit ya.”

Dia mengiyakan, walau dalam hati dia 80 persen yakin ini hanya cerita yang dikarang pacarnya untuk membuat kejutan di hari ulang tahunnya.

Setelah selesai kuliah, pacarnya menjemputnya dan membawa ke rumah sakit. Dalam hati: OMG dia betulan mengajak aku ke rumah sakit. Masa dia niat banget atur ini sama pihak rumah sakit? Mereka jalan di koridor rumah sakit tua itu. Masuk ke sebuah kamar opname yang isinya lima ranjang. Salah satu ranjang itu ada seorang anak perempuan usia delapan tahun – kurang lebih – dan beberapa orang duduk di sekitarnya. Pacarnya pun memperkenalkan dia dengan orangtua si anak. Dia hanya bisa berpikir, bahwa sepertinya tidak bisa dipungkiri lagi memang terjadi kecelakaan, dan pacarnya tidak ada rencana buat memberikan dia kejutan sambil membuat skenario yang njelimet. Setelah itu semua terasa unreal.

Ketika sudah selesai urusan di rumah sakit, dia pun berkata ke pacarnya kalau dia ingin kembali ke kos. Pacarnya mengiyakan dan mengantarnya. Begitu sampai dia pun tak bisa menahan tangisnya. Air matanya pun mengucur. Dia meminta maaf sekaligus marah ke pacarnya. Maaf karena dia merasa egois, ada orang tertimpa kemalangan, tetapi dia malah merasa malang juga karena tidak bisa merayakan ulang tahun bersama pacarnya. Dia juga meminta maaf karena dia tetap menyalahkan pacarnya yang tidak berhati-hati menyetir mobilnya. Tetapi dia marah juga, karena PACARNYA BARU MENCARI KADO BUATNYA JAM 8 MALAM DI HARI SEBELUMNYA.

5b486fc220e3a823008b464a-750-562Memang kenyataan tidak pernah sebaik ekspektasi ya.

Anakku Mendadak Sudah Besar

Suatu malam Minggu di jalur WhatsApp:

“Neng, how are you?”

Pesan itu lalu dibalas dengan gambar ini.

Jadi anak perempuan pertama kalinya pergi bersama teman-teman nonton pensi. Ibu disco nap di rumah tanpa rencana disko nanti malam.

Jadi ingat beberapa kali ketika di bayi sering digotong ke perhelatan musik indie di Bandung. Begitu juga ketika sedang hamil besar, bukannya anteng di rumah, malah ke beberapa acara musik (yang di Bandung memang sering terjadi sih, ketika zaman itu).

Sorean sedikit dia kembali mengirim pesan menawar jam pulang. Dia ingin menonton sampai selesai, yaitu jam 11 katanya. Tapi tentu saya tak bolehkan. Akhirnya negosiasi sampai jam yang disetujui bersama.

Ingat juga kalau dulu Papa saya mewajibkan semua anaknya di rumah sebelum matahari terbenam. Sampai kami kuliah pun. Walhasil saya sering pergi sembunyi sembunyi. Sebagai orangtua, cita cita saya ingin anak bisa jujur sampai kapan pun dan saya juga bisa menerima kejujurannya dengan legowo. Jadi mungkin lebih permisif dari Papa dulu enggak apa apa ya? Atau jangan jangan salah?

Bismilah saja, lah.

Konspirasi Bakteri

Baru baru ini ada video yang terlihat di Twitter yang menarik perhatian; mantis yang ternyata sudah mati dan digerakkan oleh parasit, yang ketika sudah cukup dewasa dan sudah bisa berpisah dengan tuan rumahnya akan membawa mantis tersebut ke dalam air. Kalau belum lihat mungkin bisa cek ini:

Jadi teringat kalau manusia pun sebenarnya di dalam tubuhnya ada jutaan makhluk hidup lainnya? Belum tentu berarti parasit, justru bakteri, yang hidup di dalam tubuh, di permukaan kulit, dan yang paling penting di dalam sistem pencernaan kita penting dalam menjaga keseimbangan dan kesehatan. Kalau terganggu keseimbangan jumlah dan komposisi bakteri di pencernaan kita, efeknya tidak hanya gangguan perut, tapi juga stres, depresi atau sulit berpikir, masalah kulit, sampai penyakit autoimun. Mungkin sulit dipercaya, tapi kalau mau cari banyak sekali referensinya.

1i9a85

Bahwa semua proses alami yang dialami manusia itu mendukung agar tubuh kita menjadi ladang tumbuh subur bakteri yang baik untuk kesehatan, sementara proses buatan manusia akan mengganggunya. Contohnya proses melahirkan secara alami ternyata salah satu yang dibutuhkan adalah transfer bakteri ke kulit bayi dan jalan pernapasannya, sehingga ketika kelahiran terjadi lewat operasi, proses tersebut terlewatkan. Begitu juga dengan proses menyusui dengan ASI, memperkaya pencernaan bayi dengan bakteri.

Konsumsi antibiotik akan mengganggu keseimbangan bakteri. Enggak hanya antibiotik sih, hampir semua obat-obatan juga. Padahal kalau organ di tubuh adalah bagian yang memiliki otonomi, atau bisa dikendalikan masing-masing, gubernur daerah itu (MUNGKIN LOH) adalah bakteri.

Jadi ya, teman-teman, jagad raya ini diatur dengan keseimbangan, dan semua organisme yang di dalamnya terlibat dalam keseimbangan itu. Kecuali manusia. Dibilang makhluk paling sempurna, karena kita punya kesadaran. Tetapi dengan kesadaran itu muncul ego yang justru malah membuat kita menolak untuk menjaga keseimbangan di jagad ini, tapi malah mengobrak abriknya. Karena itu sering dieluelukan bahwa kita harus ‘kosong’ untuk merasakan isi dari sumber cahaya. Dengan kosong kita akan bergerak sesuai dengan jagat, dan kembali terlibat dalam keseimbangan. Percayalah dengan gubernur kita, bakteri. Bahwa mereka adalah wakil dari jagad di dalam kita.

 

We Need Painkillers

me-why-am-l-always-cold-googles-web-md-youre-6996128
Sekarang saya punya kanal podcast kesayangan untuk didengar sambil lari lari ganteng; Doctor’s Farmacy. Dokter Hyman baru memulai podcast ini awal tahun 2018 dan dengan rutin setiap seminggu sekali menyajikan tamu yang kadang menarik kadang kurang, tetapi sekalinya menarik sering saya dengar lebih dari satu kali.

Mark Hyman dan teman-temannya ini adalah pengikut functional medicine yang memang sebagai sekumpulan yang memiliki profesi dokter dianggap pembelot, karena mereka menolak memberikan obat dari pharmaceutical ke pasien mereka. Menurut dr. Hyman, dokter seharusnya mengobati manusia, bukan mengobati penyakit. Kemudian penyakit itu juga umumnya tidak bisa diobati dan dilihat satu per satu secara terpisah, tetapi harus dipandang secara komprehensif dan diketahui sejatinya penyebabnya apa dan diperbaiki dari situ. Jadi intinya tidak seperti dunia kedokteran sekarang yang, contohnya jika Anda memiliki kolesterol tinggi, akan ada obatnya untuk itu, lalu tambahannya jika tekanan darah Anda tinggi juga ada obatnya dan seterusnya. Tetapi tidak dirunut kenapa pasien bisa memiliki keluhan seperti ini dan coba diperbaiki dari sumbernya. Menurut mereka juga kalau makanan itu jika dikonsumsi yang benar justu bisa jadi obat. Thus the channel name; “farm”acy not “pharmacy”. Permainan kata yang cukup pandai, bukan? Bukan? FINE.

Anyway.

Enggak pengin cerita soal ini intinya, tapi tentang salah satu kenyataan yang saya dengar dari satu episode dr. Hyman dengan dokter Aseem Malhotra yang satu aliran dengannya. Satu kalimat yang membuat saya manggut-manggut dan lalu agak menyambungkan dengan keadaan yang ada sekarang, di sekitar saya, mungkin juga di sekitar Anda, di sini dan mungkin di mana-mana.

Dr. Malhotra mengatakan kalau di dunia kedokteran, yang mereka butuhkan adalah “more humility and less hubris” alias lebih banyak kerendahan hati dan lebih sedikit keangkuhan. Beliau juga bercerita kalau salah satu dokter kenamaan yang jadi pengajar ketika dia masih menjadi mahasiswa kedokteran mengatakan bahwa, separuh ilmu yang mereka dapatkan di sekolah kedokteran ini akan menjadi salah dan atau ketinggalan zaman lima tahun ke depan, tetapi tidak ada yang pernah tahu setengah yang mana.

Karena itu sesungguhnya mengherankan kalau ada dokter yang dengan angkuhnya menganggap kedokteran itu ilmu pasti yang haram dipertanyakan, apalagi dibantah. Mungkin itu sebabnya banyak teman-teman kita yang memilih konsultasi ke Google MD daripada langsung ke dokter agar kurang lebih bisa mendiagnosa diri sendiri sebelum seolah terpaksa menerima mentah-mentah diagnosa dokter di rumah sakit dan terpaksa menebus resep yang tidak selalu kita ketahui juga obatnya apa.

Baru beberapa minggu lalu terjadi, seorang dokter membalut luka saya yang diakibatkan kecelakaan olahraga sambil bercerita dia baru pulang kerja sukarela dari Lombok merawat cedera korban gempa, kemudian memberikan saya resep painkiller (yang tadinya saya pikir setara Ponstan) tapi ternyata membuat saya setengah hari tak bisa bangun di kondisi bangun dan tidur (alias fly hampir seharian). Whyyyy yang luka hanya tulang kering saya, doook!

Sementara itu, di kutub ujung sana ada orang yang sampai kurang gizi karena setelah membaca referensi sana sini, menyimpulkan sendiri bahwa hampir semua makanan tak layak konsumsi dan atau akan menyebabkan penyakit, seperti yang diceritakan dr. Tan Shot Yen di sini. Mungkin jika semua dokter seperti Mark Hyman atau paling tidak banyak dari dokter seperti beliau, sebagai pasien kita akan semakin pandai dan tidak segan meminta rekomendasi, juga dr. Tan akan menjadi tidak terlalu grumpy? (Just kidding, dok!)

Anyway.

Kalau dilihat di bidang motivational speaker ya, seperti juga kasusnya di bidang kedokteran, dibutuhkan juga lebih banyak kerendahan hati dan lebih sedikit keangkuhan. Contohnya ketika diminta berbicara di sebuah forum kecil atau besar mungkin lebih banyak introspeksi dan mengakui kalau sepertinya semua orang akan bisa belajar dari semua orang, dan ilmu pembicara belum tentu lebih banyak dari audience, dan harus lebih banyak kerendahan hati untuk tidak membicarakan keberhasilan yang terjadinya sudah berpuluh tahun yang lalu dan belum ada contoh skenario terbaik yang terjadi lebih dekat dari 5 tahun yang lalu. Siapa sih yang jadi contoh itu? Enggak ada orangnya kok, hanya contoh karakter fiksi he he he.

How Not To Be Your Parents

what-i-thought-parenting-meme

Dua bulan masuk SMP dan ikut ekstra kulikuler karate, minggu lalu anak saya minta izin untuk ikut ujian kenaikan level di luar kota, dan (kemungkinan) menginap. Jawaban saya: beri waktu ibu untuk berpikir (dalam hati: over my dead body!). Bukannya saya over-protective ya,  ketika SD anak saya beberapa kali pergi berkemah bersama grup kelasnya.

Sebagian dari Anda dibesarkan oleh orangtua yang sempurna, and I’m happy for you. Tetapi mungkin saja ada yang seperti saya, masa kanak-kanak dihabiskan dengan berpikir kalau orangtua adalah setengah dewa, suatu hari terbangun dan sadar kalau mereka hanya manusia biasa.

Bahkan ketika remaja, saya juga mengalami periode menyalahkan mereka atas semua isu yang saya miliki menjelang saya dewasa. Tetapi tentu ketika ditampar dengan kenyataan demi kenyataan baik getir maupun manis tentang tanggung jawab (sebagai orangtua ataupun orang biasa), mendadak luluh hati dan ingin sungkem kepada mereka yang menerima saya sebagai tanggung jawabnya dahulu, tak peduli betapa menyebalkan ketika melewati masa puber.

Ketika anak saya masih kecil, menjadi orangtua yang baik bukan tugas yang terlalu sulit, karena belum ada feedback yang kita dapat secara langsung. Anak tentu masih sangat tergantung kita, dan mereka selalu gembira ria melihat kita pulang ke rumah setelah seharian kerja atau kembali dari pergi ke minimart setengah jam saja. Mereka juga sangat murah hati memberikan pelukan dan ciuman kapan saja kita memintanya.

Tetapi begitu mereka beranjak remaja, hormon yang meledak-ledak dilengkapi dengan sikap sikap yang sering mengejutkan (kok dia jadi begitu ya? Perasaan dulu gue waktu ABG enggak gitu deh), kalau kita tidak sadar dan hati-hati, mudah sekali mengulangi apa yang dilakukan orangtua kita dulu; melarang, mengatakan tidak, dan tidak mau mendengarkan bantahan dan alasan apa pun. Beberapa tahun melakukan itu secara otomatis, suatu hari kita bangun dan terkejut; OH MY GOD, I’M MY FATHER!

Sepertinya ada baiknya kalau saya membuat peraturan untuk diri sendiri supaya tidak terjebak melakukan apa yang saya kurang setuju orangtua dulu saya lakukan.

  1. Jika harus melarang mereka pergi, saya akan menjelaskan alasannya. Papa saya dulu tidak pernah membolehkan saya pergi ke luar rumah setelah matahari terbenam. Kemping bersama Pramuka? Setelah saya SMP karena saya nekad kabur walau dilarang baru bisa ikut, dan siap menghadapi omelan dan bentakan ketika pulang. Jika saya tanya alasan larangannya, Papa saya tidak pernah menjawab, kalau pun menjawab, akan mengatakan,
    “Karena kamu anak perempuan.”
    Nice, pa. Not sexist at all.
  2. Jika melakukan hal reaktif dan berbuat tak adil ke anak, lalu menyadari kalau saya salah, saya akan minta maaf dengan secara verbal mengatakan saya salah, dan minta maaf. Bukan hanya pura-pura lupa dan menawarkan membeli makanan kesukaan anak.
  3. Saya harus meyakinkan anak kalau kegagalan itu biasa, semua orang pernah mengalaminya dan yang membuat seseorang sukses bukan karena kegagalan jarang atau tak pernah terjadi tetapi bagaimana kita bangkit dan belajar dari pengalaman itu. Tanpa terlalu memuji dia, tetapi juga tetap menghargai usahanya sesuai dengan persentase usaha dan potensi yang kita lihat. I know it sounds complicated, but if you’re a parent, you’d know what I mean.

Jadi bagaimana dengan perjalanan karate anak? Akhirnya saya tidak mengizinkan dia pergi kali ini, karena ini adalah hal rutin dan beberapa bulan ke depan akan ada lagi. Alasan saya; di sekolah yang baru ini saya belum kenal teman-teman dia, dan belum sempat bertemu dengan Senpai dan Sensei-nya, jadi saya merasa tidak nyaman membiarkan dia pergi, karena tidak ada yang bisa dititipkan. Untung dia mengerti alasan ini.

parenting-in-public-parenting-meme

Tak Esai Maka Tak Sayang

the-social-network-1200-1200-675-675-crop-000000

Aku kok merasa jleb baca tulisan Nauval soal mengisi waktu dengan menonton dan membaca ya. Karena pekerjaan yang tidak mengharuskan menonton film, jadi merupakan escape saja film buat saya. Tapi bukan berarti aku tidak cinta. Saking cintanya rasanya kurang kalau hanya menonton saja, sejak beberapa tahun yang lalu bertemu dengan sahabat dan rekan satu minat, dan mendapat kesempatan mengikuti pelatihan singkat menulis skenario dan mempelajari produksi sampai praktik segala! Sejak itu jika bertemu dengan sebuah film yang sangat mengesankan (mencetus kekaguman atau malah sebaliknya, membuat ingin segera film selesai dan segera keluar) (Tak lupa sedikit mengomel ke arah layar sedikit) ingin rasanya bertanya dan membedah apa yang membuat film begitu tak terlupakan? Apakah dari segi tulisan, editing, adegan, atau kombinasi semuanya?

Berawal dari membaca esai dalam tulisan dari kritik film favorit Film Critic Hulk yang dalam tapi sayangnya tidak seproduktif itu dalam membuat post. Ternyata YouTube juga gudang essayist keren dalam bentuk video. Kalau Anda penasaran dan ingin juga tahu lebih banyak soal film sambil terhibur mungkin bisa cek daftar essayist yang menurut saya begitu keren sampai saya berlangganan dan hampir semua update baru mereka saya tonton – terutama kalau membahas film yang membuat saya terkesan.

  • Every Frame a Painting
    Kurang ingat apakah pertama kali menemukan ini karena rekomendasi teman atau tidak sengaja ketemu. Hal yang dibahas sangat mengagumkan, dari cara Steven Spielberg membuat one long shot dibandingkan pembuat film lain, sampai bagaimana Edgar Wright membuat visual comedy. Sayangnya sudah setahun kanal ini tidak lagi update. Tetapi tetap saja saya suka menonton kembali beberapa videonya. Terutama yang satu ini.
  • Nerdwriter1
    Sepertinya masih rekan dari pemilik kanal Every Frame a Painting, untungnya yang satu ini masih aktif membuat content baru, walaupun tidak seminggu sekali. Essayist ini tidak membatasi diri membahas film, tetapi referensinya sangat mengagumkan. Salah satunya adalah bagaimana dia membuat perandaian film The Passengers yang disusun ulang, dan jadinya sungguh jadi film berbeda dibandingkan film aslinya yang ketika menontonnya saya ingin marah.
  • The Closer Look
    Esainya lebih sering membahas soal menulis karakter, dan mengapa membuat karakter yang menarik untuk penonton lebih penting dibandingkan memimpikan adegan atau moment di sebuah film yang akan terlihat cool (HUH untuk Zack Snyder). Karena sudut pandang yang lebih kecil bukan berarti kalah penting, karena apalah kita ini kalau bukan seorang fan yang hanya ingin karakter yang bisa mewakili kita dalam petualangan yang tidak mungkin kita alami di kehidupan ini?
  • Lessons from Screenplay
    Seperti namanya, esai yang dibuat kanal ini banyak membedah pelajaran yang bisa diambil dari naskah-naskah film. And they are BRILLIANT! Dia juga banyak mengambil referensi dari buku Story oleh Robert McKee, dan memang sampai sekarang buku itu masih saja menjadi semacam kitab suci panduan hidup penulis naskah. Favorit saya ketika dia menganalisa bagaimana Coen Brothers bercerita tentang karakter bukan hanya dari apa yang mereka lakukan tapi bagaimana mereka melakukannya di No Country for Old Man dan membedah kolaborasi Alan Sorkin dan David Fincher di The Social Network yang sampai sekarang tetap membuat menganga dan ingin nonton lagi dan lagi (baik film maupun esai).

Maaf kalau post kali ini terlalu geeky for your taste, tapi siapa tau akhir pekan ini kurang tantangan atau agenda mungkin bisa iseng melihat video yang saya rekomendasi ini, siapa tahu seru.

#2019GantiBuah

Memang sepertinya sulit dan mahal ya, kalau ingin sehat di Indonesia. Mencari referensi artikel yang meyakinkan sumber penelitiannya saja jarang sekali. Sebagian besar malah merupakan saduran dari artikel media luar yang juga menggunakan referensi penelitian dari badan atau universitas luar negeri.

Maka dari itu, ketika bicara tentang rekomendasi makanan sehat, yang disebutkan kembali lagi adalah; kacang almond, ikan salmon, dan minyak zaitun. Jika membicarakan buah lagi-lagi yang disebut adalah buah beri, seperti blueberry, raspberry, blackberry. Mungkin yang menulis atau menyadur jarang piknik ke supermarket dan melihat berapa harga blueberry sekotak kecil. Mana yang masuk ke sini sudah mahal, tawar lagi rasanya. Tak rela mengeluarkan segitu banyak uang.

Seperti biasa, saya sedang di tengah membaca buku tentang makanan, kali ini oleh Dr. Mark Hyman, judulnya Food: WTH Should I Eat? Dr. Hyman ini penganut konsumsi makanan dalam bentuk aslinya, kurang lebih seperti Michael Pollan. Dia juga punya Podcast The Doctor’s Farmacy yang seru banget (tolong dikalibrasi standar seru saya ya).

Bab di buku ini dibagi per jenis makanan, dan ketika membahas buah, selain rekomendasi buah yang kadar gulanya minimal seperti (what else) berries, dia juga mengimbau untuk mencari buah-buah eksotis seperti snake fruit (salak kita tercinta), dan rambutan. Lalu kita yang memiliki buah musiman seperti ini masa cari blueberry?

Saya memang suka sekali buah lokal, dan terkadang sedih kalau beberapa jenis sudah sulit dicari. Dulu di Cirebon kalau mengunjungi (almarhum) nenek saya, kalau menemukan jamblang (atau duwet?) yang sepat masam itu girang sekali rasanya. Kalau jambu air sedang musim, saya bisa ngemil jambu seharian. Zaman dulu ke Bali rasanya kurang lengkap  kalau belum makan salak Bali paling tidak satu kilo. Ketika kami tinggal di Prabumulih, dua jam dari Palembang, senang rasanya ketika musim duku. Waktu di Sumatera Utara, giliran musim rambutan yang ditunggu.

Sampai sekarang juga gemar mencari buah di pinggir jalan, pasar atau tempat selain supermarket supaya banyak pilihan buah lokal. Walau terkadang dari kualitas sulit mendapat yang konsisten, tapi tak apalah.

Kadang penasaran juga, kandungan nutrisi buah kita seperti apa sih? Informasi yang sering didapat hanya berbentuk khasiat buah tersebut, mencegah ini itu, tetapi informasi mengenai GI (Glycemic Index) dan GL (Glycemic Load) buah lokal Indonesia tak bisa ditemui. Karena buah biar bagaimana sebutannya kan nature’s candy. Mungkin ada baiknya kalau buah khas Indonesia masih banyak yang belum dimodifikasi, jadi kandungan gula dan rasa manisnya masih sama dengan yang nenek kita konsumsi jamdul.

Tapi jika tidak ada demand dari pasar, tentu bukan hanya tidak dilakukan penelitian dan pengukuran soal buah, jangan-jangan semua orang jadi malas menanamnya, sehingga punah. Mungkin ada baiknya kita tambahkan agenda tahun depan, kurangi cari mudah dengan apel fuji, anggur red globe atau jeruk ponkam, tapi kita ganti buah jadi lokal punya!

Apakah Guna Payudara?

you-know-youre-a-breastfeeding-mom-when-you-decide-what-to-wear-based-on-how-easily-accessible-you-breasts-will-be-1cd68

Kalau bukan dari Tweet di atas saya lumayan lupa kalau masih ada orang yang mempermasalahkan perempuan yang menyusui bayinya di tempat umum. Bukan karena saya tidak peduli, tapi karena sepuluh tahun lewat saya termasuk di antaranya. Bukan yang mempermasalahkan, tetapi yang menyusui di tempat umum (jika perlu).

Selama ini saya kira sebagian besar ibu sudah lebih baik nasib saya dulu. Yang untuk mencari atasan yang “breastfeeding friendly” saja sulit sekali. Sampai saya sempat ingin membuat lini pakaian khusus untuk itu.

Tetapi rupanya saya tidak begitu bakat bisnis dan memberikan brief ke tukang jahit, akhirnya tak terlaksana ide tersebut. Walhasil saya sering harus mengalah menggunakan dua lapis atasan, bagian dalamnya tanktop supaya kulit perut saya tidak seperti kulit bedug yang diangin-anginkan di siang hari bolong.

Kain penutup ibu menyusui? Dulu belum ada. Lagian jika saya coba menutup anak dulu, setelah dia lewat 7 bulan, dia belajar menyingkap apa pun yang membuat dia tidak bisa melihat dunia sekitarnya.

Tapi rupanya pilihan untuk produk semakin banyak untuk ibu menyusui. Tetapi sayangnya pilihan manusianya tetapi itu itu saja. Jika menilik thread di atas, cukup banyak yang mendukung ibu menyusui di mana saja, tetapi tidak sedikit pula yang merasa tak nyaman, bahkan terganggu dengan bayi menetek di sekitarnya.

Ada pula yang menyamakan proses ini dengan buang air besar di tempat umum (hello?). Mengutip salah satu jawaban di thread itu juga, if you feed someone with your shit, then you can compare those two processes. 

Sulit rasanya berempati dengan orang-orang yang menegur seorang perempuan karena hal ini. Paling tidak dengan hanya mengingat bahwa dia punya ibu, kemungkinan besar pernah disusui, bagaimana bayi jika lapar tidak bisa menunggu, betapa alaminya proses tersebut, dan itu adalah fungsi utama payudara sebelum dibuat seksual oleh PRIA, mereka harusnya belajar untuk menggigit lidahnya dan diam saja jika tak bisa menawarkan hal baik ke ibu tersebut. Bukan malah mengusulkan untuk mereka menyusui di WC (kecuali kalau mereka lapar membawa makanan ke WC dan makan di sana).

Saya berharap kalau ini eksklusif terjadi di Amerika Serikat, dan bukan di sini. Tetapi kembali lagi, saya tidak tahu keadaannya bagaimana sekarang. Sepuluh tahun yang lalu saya akan menyusui di mana saja anak minta. Mungkin tidak ada yang berani menegur karena muka judes saya. Atau ada yang memelototi atau melihat payudara sambil terangsang, but I didn’t care. I just want to feed my child. And she was hungry. Mungkin ada yang punya pengalaman dan ingin share keadaan di sini sekarang bagaimana? Saya ingin dengar!

Kesempatan Kedua

Ketika hal yang kita idamkan ternyata tidak didapat ketika pertama kali mencoba, apakah akan selalu ada kesempatan kedua?

Terkadang ada kekurangannya jadi ibu dari satu anak, jadi sungguh lugu dalam membuat game plan soal seleksi masuk sekolah. Karena ketidaktahuan (eufimisme dari kebodohan, dan tidak tahu bagaimana mengajukan pertanyaan yang benar), nyaris anak tak masuk sekolah negeri, hanya karena peraturan yang tidak familier.

Setelah tiga pilihan sekolah tidak masuk, saya mengira kesempatan sudah lewat, dan harus menunggu tahap berikutnya seperti mahasiswa. Ternyata masih ada kesempatan untuk merevisi pilihan sekolah, dan kami pun diberi kesempatan kedua.

Saya percaya kalau kesempatan kedua akan selalu datang, hanya saja kita mungkin perlu menunggu dan tidak selalu segera datang. Ketika datang kesempatan itu, apakah kita mau mengambilnya, atau jangan jangan kita sudah sibuk mengejar yang lain lagi?

Jika di kesempatan kedua we still messed up, do we deserve a third chance? Saya masih menunggunya.

Tapi jika kesempatan kedua datang di waktu yang tepat, dan kita ambil dengan niat untuk melakukan yang terbaik, walau jiwa sudah tidak selengkap kesempatan pertama, that’s the best thing that could happen to someone.

Congratulations, Roy Sayur.