Tooth Fairy

Kapan terakhir ke dokter gigi? Saya ternyata sudah lama sekali, lebih dari tiga tahun yang lalu, kalau tidak salah ingat.

Lalu tiba-tiba hari ini bikin janji untuk ke dokter gigi lagi. Asalnya hanya ingin membersihkan karang dan memutihkan gigi beberapa level agar senyum semakin cling. Eh kok ya, begitu dokter gigi mengintip ternyata ada bolong gigi yang harus ditambal dulu.

Begitu melihat dan mendengar mesin bor langsung teringat kenapa asalnya malas sekali ke dokter gigi. Saya itu dengar meja diseret atau kapur di papan tulis saja ngilu, apalagi mendengar mata bor beradu dengan gigi. Merinding sampai ke tulang rasanya. Belum lagi kalau terkena bagian yang memang ngilu. Nyawa seolah lompat dari kursi dokter gigi sementara badannya tidak bisa berbuat apa-apa, karena dipiting oleh dokter dan asistennya.

Ada rasa ketakberdayaan yang hqq ketika sedang berada di kursi itu. Bahwa peralatan dokter gigi tidak banyak berubah (hanya sekarang pakai colokan listrik saja) dari zaman abad pertengahan tentu tidak membantu rasa seperti menyerahkan diri kepada Ramsay Bolton untuk jadi mainannya.

Dari sekian banyak penemuan dan penemu yang membuat robot menyerupai anjing yang bisa naik tangga (not unlike those scary ones in Black Mirror), Dan virtual assistant yang sudah bisa mengobrol bak pacar (not unlike that in Her), mengapa teknologi perlindungan dan perawatan serta reparasi gigi masih tak banyak berubah?

Jika ada seorang penemu yang sedang mencari ide mungkin saya bisa bantu:

Ide 1: Pencegahan

Pelindung gigi transparan yang bisa digunakan sejak kita pertama kali makan. Bentuknya seperti deretan gigi transparan yang dipasang ketika akan makan terutama makanan yang berpotensi merusak enamel gigi seperti makanan manis, keras, dan lainnya. Dibuat beberapa kali dalam hidup sesuai dengan pertumbuhan rahang. Bisa terbuat dari bahan yang kuat namun ringan (vibranium?) Sehingga mudah dibawa, or better yet, bisa otomatis terbuka atau tertutup hanya dengan menekan tombol. Shield’s up!

Ide 2: Kosmetika

Untuk orang yang kurang beruntung lahir dengan warna gigi yang tidak terlalu putih, ada filter yang bisa mengatur saturasi, brightness, contrast, light, shadow Dan lainnya yang dipasang di gigi seperti stiker transparan, dan diatur sesuai selera. Tidak mengganggu makan dan bicara.

Ide 3: Perbaikan atau Reparasi

Untuk orang yang giginya tanggal. Bentuknya seperti biji bibit mikro yang kecil. Ditanam di bagian yang ompong dengan membuat insisi kecil dan ditutup kembali. Biji ini dapat diprogram untuk tumbuh menjadi gigi (dan akarnya) sesuai bentuk yang disetel sebelumnya. Akan ada penyesuaian kecil ketika membesar agar tumbuh pas dengan ruang yang ada di bagian yang ompong. Terlihat, terasa, dan bekerja seperti gigi asli.

Bagaimana? Sepertinya bisa diwujudkan enggak ya? Anda sendiri punya ide invention perawatan gigi?

Advertisements

Tentang Desain

Mengetik sambil menonton Royal Wedding (demi content), tetapi tidak ingin menulis soal itu. Karena di womantalk.com sudah membahas banyak sekali soal Meghan Markle dan Prince Harry, kalau ingin update lengkap ke sana saja ya (shameless plug)!

Tadinya ingin bahas sesuatu yang serius juga tapi kok akhir-akhir ini banyakan kejadian yang membuat depresi daripada membuat gembira. Baru tadi pagi saja terbangun lalu langsung ingin menangis mendengar (lagi-lagi) ada penembakan di SMA di Amerika Serikat. Melirik Twitter, perdebatan tetap sama, antara yang langsung menuntut adanya pengendalian senjata dan yang menentang, tentunya. Tidak terlalu jauh dengan perdebatan yang terjadi di sini kurang lebih seminggu yang lalu. Agak seram enggak sih, semakin lama negara kita semakin menjadi cerminan negara yang ‘ntu?

Anyway…

Saya yakin ini yang diajarkan di sekolah desain hari pertama, bahwa desain itu gunanya untuk memecahkan masalah. Tetapi tampaknya banyak yang lupa, atau enggak ngeh dengan hal ini, karena itu kalau mendengar kata ‘desain’ pasti sebagian dari kita berpikir soal sesuatu yang indah dan agak eksesif seperti fascinator yang dipakai oleh tamu royal wedding .

fascinatorscropped

Saya pun baru paham benar kalimat ini sejak diceritakan oleh kakek anak saya yang memang dosen desain di sebuah institut terkemuka.

Baru-baru diingatkan lagi oleh sebuah produk dari Jepang.

Karena penulis ada seorang skincare enthusiast, sempat mencoba berbagai bentuk pembersih untuk double cleansing, akhirnya hati tertambat ke bentuk cleansing balm sebagai pembersih pertama. Merk yang digunakan tentu dari Korea Selatan, yang cukup mudah ditemukan di mana-mana.

animated

Tetapi ada yang mengganggu dengan produk balm ini (saya sudah mencoba beberapa brand), yaitu mengambil produknya dari dalam potnya harus dengan spatula, karena sulit dicolek dengan jari, kalaupun bisa, kurang higienis ya. Nah, biasanya spatulanya itu diletakkan di bawah tutup, di atas lapisan plastik, yang sungguh tak praktis, sering jatuh, akhirnya spatulanya biasanya saya letakkan saja di atas tutup produk ini.

animated (1)

Tapi kan sekali lagi, kurang higienis ya, dan rentan terkena debu dan zat lainnya yang bertebaran di udara. Sementara untuk mencucinya setiap kali mau mengambil produk untuk membersihkan muka, kok pe-er banget rasanya.

animated (2)

Tapi tidak saya pikirkan itu terlalu banyak, sampai ketika saya sedang mengunjungi Jepang, dan di salah satu drug store (yang tidak pernah saya lewati tanpa menghampiri) ternyata ada cleansing balm walau dari merk yang belum terlalu populer. Begitu yang lama habis, saya bukalah cleansing balm Jepun itu, dan lihatlah spatulanya!

animated (3)

animated (4)

Awalnya, saya kira spatula itu dilem di bawah tutup, sehingga begitu sekali diambil tidak akan bisa diletakkan di tempat yang sama, ternyata, bagian bawah tutup wadah dan ukuran spatula dibuat kompatibel sehingga spatula akan pas terpasang di sana ketika tidak sedang digunakan, dan tidak akan jatuh walau wadah ditutup kembali!

Sungguh pemecahan sederhana namun jitu terhadap masalah yang mungkin tak pernah dipertimbangkan oleh orang lain (kecuali pengguna cleansing balm seperti sisterhood of double cleansing), dengan desain yang tidak berlebihan tetapi tepat guna, dan membuat terharu dan sebagai pengguna merasa dihargai masalahnya.

Apa itu kurang contoh desain sebagai jalan keluar dari masalah yang kita miliki? Menurut saya proses seperti ini adalah underrated. Semua orang berlomba terlihat keren, tetapi jarang ada yang bertanya “bagaimana menyelesaikan masalah dengan keren?” Walhasil, desain menjadi sesuatu yang berlebihan, tanpa esensi.

Apakah Anda ada contoh lain? Mungkin bisa dibagikan di komentar, saya ingin membacanya!

Terima Kasih Konmari

Beberapa hari yang lalu, entah mengapa saya rasanya sumpek sekali. Sampai larut pun, sulit tidur. Padahal lelah dan biasanya langsung pulas. Tiba-tiba yang muncul adalah rasa ingin beres-beres. Si eneng yang juga belum tidur di sebelah saya pun langsung dicolek.

“Neng, kayaknya kita harus beberes serius deh, terutama kamar ini. Kok, kayaknya barangnya sudah menumpuk ya.”
“Iya bu, terutama bagian situ, tidak menyenangkan dilihatnya,” katanya sambil menunjuk sudut kamar tempat tumpukan tiga kontainer, yang saya juga sudah lupa isinya apa.
“Oke, berarti kita buat rencana dulu ya, weekend ini kita laksanakan!”

Besoknya saya mendadak ingat kalau pernah meminjam buku Marie Kondo dari teman, langsung melihat ke rak dan ternyata masih ada dan memang belum dibaca. Langsung diselesaikan dan diresapi buku itu dan aliran Konmari dalam beberes.

Memang agak aneh kedengarannya; Marie menyarankan untuk memulai beberes dengan mengenyahkan barang yang tidak membuat kita gembira, dan hanya menyimpan yang membuat kita gembira. Kelilingi diri dengan benda-benda yang membuat Anda gembira. Sisanya, biarkan dia berlalu dari hidup, ucapkan terima kasih sudah bertemu dan kita gunakan dan enyahkan. Setelah jumlah barang berkurang, baru kita mulai menyusun, dan semua barang harus ada tempatnya. Baru kita bisa mendapatkan hidup yang nyaman, minimalis dan tidak perlu terlalu sering beberes karena barangnya toh tak banyak dan semua ada tempatnya. Entah mengapa saya bisa memahami sepenuh hati cara ini, dan tak sabar melaksanakannya. Saya baru menyadari kegelisahan ini salah satu alasannya adalah karena merasa dikelilingi oleh sampah yang tertimbun selama lebih dari sepuluh tahun berada di rumah ini.

Saya memang punya keturunan penimbun, karena ibu saya penimbun kelas berat yang nyaris tak pernah membuang barang. Walhasil, di kamar beliau sekarang, tak ada satu sentimeter persegi pun tempat untuk meletakkan barang seperti tas, atau sekadar jam tangan, karena semua permukaan sudah penuh sesak dengan tumpukan barang. Kecuali hobi Anda Jenga, agak riskan untuk menambah tinggi tumpukan itu. Lantai dua rumah, yang dahulu adalah kamar anak-anak (saya dan adik-adik), sekarang penuh juga dengan tumpukan barang yang tidak muat diletakkan di lantai bawah.

IMG_20180428_124553
Beberes baru dimulai.

Kemarin saya membeli tiga pak plastik sampah ukuran extra large, dan pagi ini saya mulai menyortir barang per kategori. Pakaian duluan. Buku dan kertas-kertas kedua. Lalu diikuti dengan pernak pernik perintilan dan barang kenang-kenangan. Begitu membongkar laci yang bertahun hanya saya buka, bersihkan, letakkan kembali isinya dan tutup, baru ketahuan kalau saya pun nyaris tak pernah membuang barang. Mulai dari foto mantan, surat cinta dari pacar terdahulu, undangan ke acara media, hingga name tag dari berbagai kepanitian sampai perjalanan. Pakaian juga, hampir semua kaus race pack maupun finisher masih saya simpan. Bahkan baju yang sudah ketinggalan zaman tidak saya singkirkan dengan alasan, siapa tahu musim lagi. Padahal tumpukannya juga sudah nun jauh di bawah. Setelah menyikat buku yang tidak membawa kegembiraan buat saya, atau saya tidak ada niat mengulang baca, rehat makan siang kesorean, lalu saya lanjut kembali sampai selesai.

IMG_20180428_192810
Sebelum break siang, 5 kantung plus 2 di belakang kamera

Hasilnya? Delapan kantung sampah penuh, plus beberapa kantung kecil untuk aksesori dan produk kecantikan. Benar saja, begitu selesai dan saya mandi karena hari ini begitu panas sehingga keringat mengucur deras, rasanya jauh lebih enteng. Beres-beres saya belum selesai, karena cita-cita ingin mengurangi lagi barang sampai ke tingkat minimal, dan mengetahui di mana batas saya hidup dengan sedikit saja barang. Saya juga ingin menata ulang kamar supaya lebih nyaman. Walau sekarang saja menurut saya sudah nyaman dan inginnya tidak keluar dari sana setiap akhir pekan.

Hidup Berkompartemen

Mungkin ini terjadi juga dengan Anda, mungkin juga tidak. Semakin tua memang teman lingkaran terdekat semakin sedikit. Tetapi teman lingkaran kedua dan ketiga semakin banyak. Mengaku introver, tetapi ternyata geng teman-teman semakin banyak. Lengkap dengan grup Whatsapp tentunya. Bertemunya sih, belum tentu setahun sekali untuk semua geng, tapi ada juga yang rutin seminggu sekali karena pertemanan juga terjadi karena kegiatan tertentu.

how-to-compartmentalize

Geng mantan teman kantor saja ada tiga. Kantor terlama ditinggal justru yang paling sering bertemu, karena sahabat saya juga ada di situ. Geng SMA, yang saya agak segan bertemu kalau reuni besar, tetapi untuk teman teman tertentu saya masih sayang. Geng kuliah ada dua, karena saya kuliahnya sempat di dua tempat. Dua-duanya jadi pembaca pasif (sering kali juga tidak dibaca pesan di grup tersebut, tapi karena bolak balik keluar dari grup diundang kembali, ya sudahlah, pasrah saja). Itu baru yang dari institusi ya. Kemudian ada geng yang suka mencicipi restoran atau masakan, dan teman-temannya bertemu di Twitter. Ada pula geng cacing buku alias bookworm yang saling rekomendasi bacaan asyik, tak jarang pula kami baca satu buku bersamaan, di grup ini pula ada beberapa anggotanya belum pernah saling bertemu IRL. Geng Linimasa tentunya, yang kadang sepi, kadang ramai, tetapi tetap penuh kasih sayang <3.

Geng olahraga yang paling aktif dan sering ketemu, karena memang olahraganya seminggu sekali. Salah satunya geng bootcamp yang sampai bercabang-cabang. Terus terang geng ini termasuk yang saya paling suka, karena entah mengapa anggotanya level kebocorannya dan selera humor receh yang levelnya sama. Karena itu kami ada cabang; yang ikut kelas yoga di tempat yang sama, yang suka cari keriaan (baca: alkohol), dan kalau kita memutuskan untuk beramai-ramai ikut race tertentu di luar kota (ini grupnya temporer, begitu race selesai, bubar pula grupnya). Ada satu lagi grup crossfit  yang jarang sekali disambangi di luar kegiatan olahraganya. Aku merasa tua di grup itu karena mereka begitu tak kenal lelah. Sementara aku hobinya tidur siang.

Lalu dari semua grup itu apakah ada yang pernah bercampur atau berkumpul bersama di luar satu atau dua orang irisan anggota? God forbid, no.

Menjadi tua juga berarti semakin mahir membuat kompartemen hidup. Semua teman dan geng ada tempatnya masing-masing. Saya tak terbayang kalau teman SMA saya bertemu dengan geng yang lain. Apalagi jika bertemu dengan yang outspoken soal ketidaksukaannya dengan organized religion. Kemudian sahabat saya sudah menyuarakan ketidaksukaannya terhadap salah satu anggota geng makan, dan kebetulan di geng makan juga termasuk yang sulit menerima orang baru. Geng Linimasa sih, seperti kelompok rahasia, yang kalau dilihat sekilas saja sangat misterius bagaimana orang-orang seperti itu bisa bertemu dan jadi berkumpul bersama. Sesama geng olahraga (bootcamp dan crossfit) saja tidak terbayang kalau berkumpul bersama. Yang satu tukang protes kalau diberi program berat (walau dilakukan juga), yang satu lagi malah protes kalau olahraganya kurang berat.

Tetapi alasan sebenarnya mereka jangan sampai bertemu adalah, supaya tidak ketahuan kalau aku aslinya sangatlah cupu.

Kisah Sial Urban

Memilih untuk commuting dengan transportasi publik memang tidak selalu indah ceritanya. Aspek menyenangkannya memang dari segi waktu tempuh dan makian yang bisa dihemat, ketimbang menggunakan kendaraan pribadi. Terutama untuk pekerja seperti saya yang tinggal di selatan Jakarta dan berkantor di bagian barat.

Efek baiknya juga, saya jadi lebih asertif dalam menegur orang yang mencoba berlaku tak sopan, antre sembarangan, dan yang mengambil sisi kanan eskalator tetapi tidak berjalan. Daripada ngomel dalam hati, kan?

Nyeri!

Tapi semakin sering mengalami, membuat saya semakin malas bersuara, seringnya ya sudahlah biarkan saja. Misalnya, ketika naik KRL dari stasiun tanahabang ke arah Depok atau Bogor, yang biasanya masih cenderung lengang. Semua penumpang seperti tersentil survival instinct dan berebut kursi yang masih kosong. Walaupun saya sudah berdiri di atas garis kuning – garis batas peron yang calon penumpang boleh berdiri – tetap saja begitu menjelang kereta berhenti selalu ada orang memaksa berdiri di depan saya, walau risikonya hidung tersenggol kereta.

Yang saya sering sebal juga dengan orang yang berkeras untuk berdiri di dekat pintu, padahal stasiun tujuan masih jauh, padahal di bagian dalam kereta masih lowong. Untuk melampiaskan biasanya ketika saya turun saya tak peduli untuk menabrak atau menginjak kaki sambil menegur sambil lalu: “Jangan berdiri di pintu, MAS!”

Risiko berdiri di pintu

Beberapa hari yang lalu, saya bisa keluar kantor agak sore, dan menanti di garis kuning seperti biasa. Seperti biasa pula seorang mas mas dengan santainya melangkah ke depan saya ketika kereta berhenti. Mungkin pikiran saya langsung sibuk kesal , tetapi tetap dengan asumsi kalau dia akan masuk ke bagian tengah kereta dan ikut rebutan duduk di kursi. Ternyata si mas malah berhenti di pintu dan berdiri di pinggirnya yang membuat saya limbung karena langkah saya ke depan terhalang jadi mengantisipasi dengan melangkah agak ke sisi, walhasil kaki saya meleset dari lantai kereta dan saya jatuh ke dalam kereta dengan posisi tertelungkup.

“Mas! Kalau masuk ya masuk, jangan berhenti di pintu gitu, bikin kagok aja!” Kontan omelan langsung keluar, sementara saya baru sadar, tentu dia tidak sadar dan tidak peduli apa yang terjadi di belakangnya. Saya pun berdiri dan langsung pasang posisi seperti biasa tanpa menunggu reaksi dari mas yang ditertawakan temannya. Mungkin juga temannya menertawakan saya, sih, tapi bodo amat.

Moral of the story (tetap harus ada ya): jangan pernah sok mengantisipasi arah gerakan orang di depan kalau tidak mau jatuh terjelungup.

Setebal Dompet

Wallet-and-Money-LQ-1000x550

Kalau kita sedang ada keinginan, apa yang sebaiknya dilakukan? Ingin rezeki lebih banyak, ingin jodoh, ingin punya pekerjaan yang lebih baik. Biasanya nasihat yang sering saya dengar adalah “berdoa”. Ya, tentu bagi mereka yang memeluk agama tertentu, berdoa memohon akan apa yang diinginkan hatinya mungkin akan menimbulkan ketetapan hati bahwa suatu hari keinginannya akan tercapai.

Tapi apakah berdoa dan beribadah yang seperti ditangkap dari bahasa yang dibaca terjemahannya pada kitab-kitab cukup? Lalu harta, tahta, dan wanita itu akan jatuh ke pangkuan kita willy nilly?

Mungkin saja kita juga percaya bahwa tuhan/ semesta bekerja dengan caranya sendiri, dan tak jarang misterius. Kita tak pernah bisa tau apa yang kita dapatkan dan bagaimana mendapatkannya. Mungkin kita bisa menetapkan hati akan “apa” yang kita inginkan atau butuhkan tapi “bagaimana”nya tetap di luar kekuasaan kita.

Bukan tidak mungkin “bagaimana” kita menerima apa yang kita doakan itu lewat manusia lain. Yang mungkin selama ini kita anggap kurang penting, karena menurut kitab dan para guru agama, beribadah lebih penting dari membina hubungan baik antara sesama manusia. Bukan manusia sekeyakinan, tetapi manusia. Titik.

Siapa tau apa yang kita inginkan seharusnya disalurkan oleh seseorang yang-karena beda keyakinan-kita duduk di sebelahnya saja di kendaraan umum ogah. Bukan tidak mungkin pekerjaan impian kita akan ditawarkan oleh seorang yang tadinya levelnya di bawah kita tetapi kita alpa untuk memperlakukan dia dengan baik karena kita sibuk menjilat atasan mengharapkan imbalan yang setimpal. Bisa jadi orang yang akan mengenalkan kita ke soulmate adalah teman yang kita tidak tolong dengan alasan tidak ada uang, padahal besoknya kita makan di restoran yang mewah dan disiarkan di media sosial. Orang mungkin tidak mengingat apa yang kita katakan pada mereka, tapi kabarnya mereka akan selalu ingat apakah kita membuat perasaan lebih baik atau lebih buruk.

Saya pernah mendengar seseorang mendefinisikan “abundance”. Saya saja yang sering mendengar dan menggunakannya sering mengasosiasikannya dengan sesuatu yang berkelebihan, menumpuk. Padahal, kata seseorang ini, kata “abundance” berarti, mendapatkan yang kita butuhkan, tepat di saat kita membutuhkannya. Menyenangkan ya? Seperti punya dompet dengan isi 100 ribu rupiah saja. Tetapi ketika diambil dan digunakan lembar uangnya, muncul lagi 100 ribu, dan begitu selanjutnya. Beli di mana ya dompet seperti ini?

Setajam Silet

Dari semua kata yang sedang naik daun akhir-akhir ini, mungkin ‘konspirasi’ terselip dalam daftarnya. Semua yang melakukan kesalahan terhadap seseorang, atau kaum tertentu lalu dituding merupakan bagian dari konspirasi. Ada seorang pemuka agama tertentu yang terjerat kasus hukum? Ini pasti konspirasi pemerintah yang ingin mencorengkan nama agama itu (padahal memang melanggar hukum, gimana dong?). Bumi dicurigai tidak bulat? Lalu dari mana asal pengetahuan umum bahwa planet kita ini dan semua planet di tata surya itu bulat, dong? Oh, berarti ini konspirasi negara barat supaya jualan satelitnya laku.

Keyakinan saya adalah, belum tentu yang dituduh berkonspirasi itu cukup pandai untuk melakukan konspirasi. Karena itu teori yang terlalu njelimet biasanya bisa disilet dengan philosophical razor seperti punya Hanlon atau Occam. Tetapi memang Hanlon’s Razor lebih silet terdengarnya. Tetapi saya memang lebih percaya; bahwa dari sebagian besar tuduhan kelicikan, biasanya yang terjadi di belakangnya adalah kebodohan. Saya masih skeptis terhadap kelicikan manusia kebanyakan, tetapi saya penganut kepercayaan mutlak bahwa manusia (termasuk yours truly) masih banyak yang bodoh. Pada dasarnya saya husnudzon. Bukan Fadli Zon.

Tapi tentu ini tidak berlaku untuk teori konspirasi favorit saya tentang kudeta yang diredam dengan isu pemberontakan PKI (termasuk juga kata yang sedang naik daun). Yang disebut sebut sedang mengalami kebangkitan itu. Satu lagi teori yang saya ingin percaya dan dengan bersemangat mengikuti tulisan maupun film yang dibuat berdasarkannya; pendaratan Apollo 11 di bulan. Setelah membaca banyak sekali pembahasan teori dan spekulasi mesin roket, dikukuhkan oleh film Capricorn One. Berbeda dengan flat-earther yang bersikukuh kalau pendaratan ini bohong belaka, saya akan senang kalau ada yang bisa membuktikan saya salah.

Jadi silet yang mana yang kita pakai buat cukuran hari ini?

Conspiracy
Teori konspirasi yang menutup konspirasi sebenarnya adalah konspirasi!

Sepahit Empedu

Apakah organ tubuh Anda masih lengkap dan orisinil? Kalau ya, good for you, dan saya mendoakan supaya selalu terjaga sehat. Tepat sembilan tahun yang lalu, saya kehilangan empedu. Bukan karena salah meletakkan.

Sejak usia dewasa memang masalah kesehatan yang sering timbul adalah sakit di pencernaan. Terlambat makan, kembung, lalu migrain.Makan terlalu banyak atau kurang langsung mencetus rasa nyeri di lambung. Beberapa tahun sebelum kehilangan empedu itu, bertambah parah rasa sakit yang dialami. Sampai saya beberapa kali menyambangi UGD hanya untuk dikirim kembali pulang dengan diagnosa maag, dibekali dengan obat obatan dan nasehat supaya mengurangi kopi dan alkohol (walaupun saya berkeras jarang sekali minum). Sampai dalam 2 bulan terakhir sebelum itu, saya mengunjungi UGD dua kali karena sakit yang tak tertahankan, dengan dokter jaga yang sama, dan keduanya tidak pernah ada rekomendasi untuk pemeriksaan lanjutan, hanya sama saja, diberi obat dan disuruh pulang.

Sampai suatu malam saya baru menghadiri acara yang hidangannya steak yang lezat dan sedikit red wine. Begitu perjalanan pulang kontan terasa perut yang tak nyaman. Malam itu saya tidak bisa tidur dan memuntahkan semua yang saya makan hari itu. Sambil menatap langit langit kamar saya menyangka mungkin saya sudah mendekati akhir usia saya (mulai drama). Ketika sakit itu, saya baru menyadari kalau rasa sakit yang terasa lebih di bagian kanan atas abdomen, bukan di letak lambung sebelah kiri. Kemudian Papa saya yang penasaran akhirnya bertanya ke kakaknya yang dokter (alm), dan menyuruh saya memeriksa, air seni apakah warnanya kecokelatan. Dan memang benar saja. Katanya itu tanda gangguan liver, bukan lambung. Langsung malam malam saya ke UGD dan berjanji bertemu Papa di sana yang menuntut dokter untuk memeriksa darah dan air seni. Ternyata indikasi ada infeksi liver. Lanjutannya saya di USG dan ditemukan empedu saya penuh dengan batu, dan (untungnya, masih bisa untung loh) liver saya hanya radang karena empedu yang letaknya sebelahan radang juga.

gallbladder-function

Dari situ dimulai masa menginap saya di rumah sakit selama 10 hari. Pemeriksaan, menunggu jadwal operasi (padahal sebelum itu seumur hidup saya belum pernah dioperasi), keadaan setengah sadar karena infus obat anti sakit yang dahsyat (saya kurang lebih jadi paham rasanya kalau nge-bo’at), sampai akhirnya empedu yang kesimpulannya tidak bisa diselamatkan diangkat utuh dengan operasi laparoskopi yang ciamik. Dua hari setelah operasi, saya boleh pulang. Apa pelajaran yang bisa diambil dari pengalaman saya hampir satu dekade lalu ini?

  1. Dokter di Indonesia cenderung mendiagnosa sakit pencernaan jadi maag, karena itu jika sakit berkelanjutan, minta second opinion atau cari dokter/ rumah sakit yang mempraktikkan eliminasi dengan memeriksa sedetail-detailnya penyebab rasa sakit.

  2. Ternyata saya tidak suka ditunggui di rumah sakit, lebih suka sendiri karena saya bisa istirahat lebih baik tanpa ada beban harus entertaining the companion. Apalagi kalau teman yang enggak kenal-kenal amat menjenguk lalu menuduh bahwa penyakit saya karena saya sering mengonsumsi alkohol. Huh. Kenapa orang beranggapan saya suka minum ya? Mungkin personality saya saja yang seperti pemabuk. Tapi aslinya enggak.

  3. Sebab batu di empedu-kalau saya tanya Google, M.D.-masih belum konklusif. Tetapi kalau saya tilik dari fungsi empedu yang menghasilkan bile yang membantu mencerna lemak, mungkin karena pola makan kurang seimbang. Memang sebelum operasi itu saya sama sekali tidak suka makan yang berlemak dan diet cenderung carb and starch-heavy. Karena sirkulasi cairan di empedu yang kurang lancar, terjadilah endapan (mohon konfirmasi buat yang dokter di sini).

  4. Setelah operasi, pencernaan saya baik baik saja, apalagi setelah adaptasi makan sehat, tidak pernah ada keluhan lagi bahkan semacam masuk angin dan kembung (kecuali sedang makan ngacak).
  5. Apakah empedu memang pahit, tidak bisa saya konfirmasi karena-walau bebatuannya boleh dibawa pulang-saya tidak boleh menjilat empedunya.
Screen-shot-2014-03-13-at-5.25.40-PM
amit amit jabang bayik

Sebwah Pertanyaan Hqq

Memang rasanya menang jika berasumsi orang yang berseberangan pendapat dengan kita itu lebih bodoh. Rasanya ada superioritas ketika kita menggelengkan kepala membaca berita tentang “gebrakan” pengelola ibukota yang seolah tidak tidak saja. Tapi saya agak terperangah dengan paralel

cerita dari negeri seberang dengan negara tercinta ini. Dan saya jadi curiga kalau guru orang di belakang mereka sesungguhnya sama.

Sepertinya pernah cerita kalau–untuk mencegah waktu tersia–saya sering berlari sambil mendengarkan podcast. Pembelaan soal waktu tersia itu juga sia sia karena Candy Crush yang belum tega dibuang dari gawai sudah mencapai level 1000 lebih.

Anyway

Suatu hari mendengar cerita yang membahas soal mengapa Evangelist AS mendukung Trump? Padahal sosok POTUS sungguh jauh dari citra seseorang yang agamis atau konservatif.

Evangelist yang sekarang terlihat sangat konservatif, ternyata tidak selalu demikian. Mereka melarikan diri dari Inggris zaman dahulu karena religious tyrrany, dan justru banyak yang memiliki pandangan liberal.

Mungkin demikian juga nenek moyang saya ketika meninggalkan Hadramaut. Kalau bukan menghindari tiran agamis, atau tiran lainnya atau hanya ingin berdagang? Berdagang kok tidak pulang pulang.

Lalu mengapa mereka membela seorang tokoh yang (meminjam standar mereka) sebenarnya tidak terlihat terlalu relijius, bahkan tindak tanduknya banyak yang mencerminkan arogansi. Belum naik haji lagi (meminjam standar lagi)! Ada gosip Syiah pun (tapi so what gitu loh).

Kesamaannya adalah dilemparkannya hot button issues. Kalau di sana adalah soal pro life atau pro choice, ras dan imigrasi, di sini soal pemimpin beragama berbeda dengan mayoritas dan ras pendatang lawan ras “pribumi”. Seperti namanya isu isu ini membuat orang yang “terpencet” tombolnya jadi langsung panas; tak peduli pro atau kontra. Masalah karakter dan kinerja pengelola jadi kurang penting, selama mereka di pihak yang sama dengan kita (baik agama maupun sikap), tentu akan didukung.

Tetapi jika dulu kita takut religious tyrrany, sekarang apa yang ditakutkan? Tiran dari agama yang berbeda dari mayoritas? Atau khawatir rencana membangun tiran berikutnya terhalang? Atau pembangunan tiran ini hanya salah satu hot button issue yang dilemparkan? Lalu siapa komunis yang sering diributkan?

Entahlah aku bingung.

Darurat Kucing Liar

IMG_20180104_083123

Baru tadi kejadian, sudah siap pergi, sang anak memanggil panik karena ada darah dari kucing, katanya. Ternyata setelah diperiksa, ada darah di anusnya (maaf, TMI). Pergi ditunda, si kucing dibawa dulu ke langganan dekat rumah kami, Pondok Pengayom Satwa. Walaupun dekat rumah ada Rumah Sakit Hewan DAN Puskeswan (Pusat Kesehatan Hewan) tetapi kami lebih suka ke PPS karena dokternya yang begitu lembut memperlakukan kucing-kucing kami.

Setelah diperiksa, ternyata anus kucing hanya lecet, tetapi memang dia terdengar serak dan tidak selincah biasanya, terkena flu rupanya. Diberi resep untuk obat dan disuntik, kemudian kucing boleh pulang dengan pesan pesan harus dikandangi paling tidak tiga hari agar bisa observasi dan tidak kelayapan.

Ngomong-ngomong soal kucing, di sekitar rumah saya banyak sekali kucing liar. Yang saya bilang banyak, ketika saya jalan dari rumah ke gerbang kompleks mini saya, bisa saya lihat 9 sampai 11 kucing liar sedang beraktivitas. Ketika keluar dari kompleks lebih banyak lagi terlihat. Belum lagi anak-anak kucing yang terlihat fresh from the uterus, jalan masih doyong doyong tanpa ditemani ibunya juga berkeliaran. Padahal, seperti tadi saya sebutkan, di dekat rumah saya ada Rumah Sakit Hewan, Puskeswan, dan Pondok Pengayom Satwa. I’m sure they have their hands full, tapi apa mereka tidak punya program CSR untuk tindakan steril kucing sekitar  ya? Agak miris rasanya.

Dari teman  saya yang saya pergoki membawa-bawa makanan kering untuk kucing dan memberikan ke kucing liar yang ditemuinya terlihat lapar, saya lalu jadi aware kalau ada komunitas penyayang kucing, bahkan berbentuk NGO yang resmi. Teman saya itu bergabung ke Perkumpulan Kucing Domestik Indonesia. Kemudian dia juga menyebutkan Peduli Kucing dan Steril Yuk yang menyarankan pemilik kucing untuk segera mengebiri kucing yang dimiliki agar tidak beranak pinak. Sebagian dari organisasi ini juga menerima donasi untuk menolong kucing liar, memberi makan dan mensterilkannya.

Sungguh melegakan mengetahui bahwa ada yang peduli dan tidak menunggu organisasi besar memulai menolong kucing. Sekarang saya jadi tahu harus berbuat apa, daripada ngomel ngomel sendiri.

Cermin Hitam Akhir 2017

Screen_Shot_2017_12_05_at_5.24.39_PM.0
Episode pertama dari Black Mirror ternyata Star Trek-y!

Agak sulit melihat linimasa Instagram kalau akhir tahun begini ya. Bahkan anak saya yang sekali scroll saja sudah bisa berseru,

“Ibu, kok teman Instagram-nya semua sedang liburan?”
“Ya memang sedang masanya, neng.”

Tetapi memang sudah beberapa tahun ini kami selalu punya jadwal yang agak berbeda. Liburan bukan di akhir tahun tapi awal tahun. Walaupun tidak pergi ke mana-mana selalu punya escape, kok. Apalagi kalau bukan film.

Dari dulu memang film itu pelarian tercinta. Bukan ingin kabur dari kenyataan yang buruk, kenyataan tidak buruk kok. Tetapi salah satu alasan kenapa saya suka sekali film genre fantastik, terutama science fiction, adalah; kita diperkenalkan dengan jagad baru, dengan peraturan yang spesifik dan bisa kita lihat begitu cerita berjalan. Semakin bagus film, semakin peraturan itu tersembunyi di plot maupun visual, bukan diceritakan dalam dialog (biasanya). Suka atau tidak sukanya kita dengan satu film biasanya ada hubungannya dengan kita bisa merasa tersentuh atau tidak dengan peraturannya.

Seperti serial Black Mirror, misalnya. Bukan seperti kebanyakan orang yang mulai nonton di season 3 dengan San Junipero, sejak season pertama saya sudah diperkenalkan dengan serial ini. Entah karena tidak sengaja membaca di salah satu resensi atau oleh seseorang, lupa. Maaf ya sedikit kebanggaan hipster. Hari ini saya hampir menyelesaikan semua episode season terbaru, season 4. Karena setiap episode berbeda jagad, dan berbeda peraturan saya suka sekali menyimaknya.

metal-head
Black Mirror isn’t always easy to watch but the majority of the episodes are awesome!

Star Trek juga. Kenapa jadi kecintaan, karena peraturan di jagad Star Trek yang semua orang setara, tak ada lagi sistem pertukaran dengan uang, dan kita bisa bepergian ke luar angkasa dengan (cukup) leluasa itu menjadi mimpi saya sejak kecil. Sementara kurang suka Star Wars karena peraturan bahwa seseorang lahir dengan istimewa atau biasa saja. You either have it or you don’t. Kalau punya keistimewaan lantas ingin menguasai yang lain. Kurang doyan dengan dunia seperti itu.

Kembali lagi ke dunia yang ini, apakah sudah suka dengan semua peraturannya atau masih banyak yang kurang sreg (karena itu tetap ingin escape?)? Kalau memang ada yang dirasa kurang, apakah kita bisa melakukan sesuatu untuk mengubahnya? Paling tidak dimulai dari kita sendiri? Kalau tidak bisa dilakukan apa apa apakah kita cukup legowo untuk menerimanya? Apa perlu buat resolusi tahun baru agar lebih legowo?

Selamat menyambut 2018!

Terusik Agnostik

Maaf ya, kalau terganggu dengan judul-judul yang sok berima. Tapi niatku baik kok.

Jadi istilah-istilah dan jargon-jargon korporat kekinian memang sering mengganggu, ya. Apalagi kalau jadi tren dan sering sekali disebutkan di konferensi-konferensi besar. Seolah presentasi atau pidato belum sahih jika belum dibumbui oleh jargon ini.

Tadi malam saya menonton film Gifted – yang saya akui hanya ingin saya tonton karena ada Chris Evans di situ. Karena tipe filmnya sungguh bukan yang biasa saya tonton. Ceritanya tentang anak yang jenius matematika, diurus oleh om-nya yaitu Chris Evans. Ada adegan di mana si anak bertanya.

“Is there a god?”

“I don’t know,” dijawab oleh si om.

“Just tell me.”

“I would if I could. But I don’t know. Neither does anybody else.

“Roberta knows”

“No. Roberta has faith. And it’s a great thing to have. But faith is about what you think, feel; not what you know.”

Buat saya ini percakapan yang indah sekali untuk menggambarkan arti agnostik. Sering disalahartikan sebagai seorang yang tidak bisa memutuskan di mana dia berpijak, atau seorang yang mau cari selamat saja, sesungguhnya tidak demikian. Jika seorang ateis mengatakan dengan tegas, bahwa tuhan itu tidak ada, seorang agnostik mengatakan dengan tegas, dia tidak tau, dan sepertinya tidak akan tau, bahwa tuhan itu ada. Berasal dari kata dalam bahasa Yunani kuno, a yang berarti tanpa dan gnosis yang berarti pengetahuan atau knowledge. Agnostik sendiri terucap pertama kali oleh Thomas Henry Huxley tahun 1869.

atheist-vs-agnostic-vs-theist-vs-gnostic_fb_1911467

Anggap saja jika ateis tidak percaya adanya tuhan. Titik. Sementara pendekatan seorang agnostik lebih ilmiah. Hipotesa dia adalah tuhan itu tidak ada, karena tidak adanya bukti empirik bahwa tuhan itu ada. Dan tidak tau caranya bagaimana untuk membuktikan ada atau tidak adanya tuhan. Saya suka definisi Urban Dictionary mengenai agnostik;

A person who is sensible enough to admit that they have no fucking clue what is going on in the universe.

Diberi contoh penggunaan pula:

Theist: “God exists.” *prays*
Atheist: “God does not exist.” *sips grande cappuccino*
Agnostic: “We can’t know.” *continues living*

Lalu apa hubungannya dengan jargon korporat? Setahun belakangan ini saya mendengar sering digunakannya istilah media agnostic. Tentu setiap orang menggunakannya saya mangap-mingkem ingin protes tapi tidak tau ke siapa. Jadi istilah yang digunakan itu menggambarkan sebuah media, atau agensi yang tidak memiliki preferensi utama dalam mendistribusikan kontennya. Rupanya yang protes bukan hanya saya, banyak yang menganggap agensi atau media yang mempraktikkan this-so-called media agnosticism sebenarnya tidak tau mereka maunya apa dan berusaha menjustifikasinya dengan istilah ini.

Ada pula yang seperti saya, sebal dengan cocoklogi yang dilakukan ketika menilik etimologi dari kata agnostik. Apakah orang-orang yang mengaku media agnostic ini tidak tau dan tidak mengakui adanya media? Entahlah. Tapi yang jelas, sebisa mungkin jangan disebarkan dan ditiru ya. Sumpah, istilahnya ganggu.

 

Conspiracy Against the Human Race

main-qimg-ad12aac612bf533790b6eb9481334534-c

Masa undangan pernikahan setiap akhir pekan untuk saya sudah lewat. Kecuali beberapa dari kolega dan sahabat yang lebih muda, saya sekarang jarang sekali harus dandan beberapa jam untuk mengantre dan salaman kurang lebih setengah jam, berkeliling buffet yang sebagian besar sudah habis 15 menit, kemudian menyerah dan berjalan pulang. Tetapi yang sampai sekarang (terutama sekarang) tidak pernah ketinggalan, saya dan Dini – partner in crime sekaligus kolega – selalu mengingatkan para calon mempelai untuk menunda memiliki anak. Sambil bercanda tentunya. Tapi kami serius. Sudah diduga banyak dari mereka tidak menganggap kami serius dan beranak anyway. Saya baru bekerja kurang dari dua tahun di tempat yang sekarang ini, dan semasa saya di sini, sudah mengalami (soon to be) 4 ibu baru dan kurang lebih 3 atau 4 bapak baru. Padahal kantor saya ukurannya termasuk mini. Kurang dari 100 orang.

Tapi anak muda tak apalah berprokreasi, memang itu waktu mereka. Yang kadang membuat berang adalah beberapa teman angkatan saya masih suka berandai-andai ingin punya bayi, dan beberapa dari mereka malah jadi beneran. Memang hak orang sih, dan saya tidak akan menghakimi kalau ini adalah anak pertama atau kedua mereka. Tetapi kalau anak sudah dua, tiga, bahkan empat dan ingin menambah lagi di usia lebih dari 40an hanya dengan alasan belum punya anak laki-laki? I will most definitely judge you.

“Loh, memang kenapa kan duit duit mereka nanti yang bayarin, bukan minta duit elu, lei!”

Bukan masalah uang sih. Bukan itu saja. Tetapi apa bertanggung jawab untuk memiliki keturunan lebih dari jumlah orang tuanya, di populasi dunia yang lebih dari 7 milyar ini? Apakah menurut kita bumi sanggup menampung pertumbuhan populasi sampai tak terhingga? Menurut worldpopulationhistory.org, dengan jejak ekologis yang kita miliki sekarang, seharusnya butuh satu setengah bumi untuk menampung populasi sekarang, dan jika tren pertumbuhan penduduk seperti sekarang terus bertahan di tahun 2050 kita akan membutuhkan 3 bumi untuk menampung manusia yang ada ketika itu.

Lalu kalau tidak beranak pinak apa dong, yang kita bisa lakukan? Menurut ahli biologi matematika Joel Cohen di bukunya How Many People Can the Earth Support? solusi yang ada sekarang bisa diklasifikasikan menjadi tiga paradigma. Yang mencari “kue yang lebih besar” (teknologi), yang melakukan advokasi “sendok lebih sedikit” (mengurangi lajunya pertumbuhan penduduk), dan yang berusaha memperbaiki pengambilan keputusan dengan “perilaku yang lebih baik”. Per satuannya penting, kata Joel Cohen, tetapi tidak bisa berdiri sendiri tanpa yang lainnya dan penting dilakukan secara bersamaan untuk menghadapi bumi yang sebentar lagi akan tambah “senggol bacok” ini.

Karena itu kampanye saya dan Dini seperti divalidasi, dan sudah benar arahnya. Sayang jalan menuju masyarakat yang tercerahkan dengan hal ini sangat panjang dan berliku. Karena semakin hari saya lihat, semakin kuat pengaruh agama yang menyebutkan bahwa kontrasepsi itu dosa dan mengingkari nikmat sang pencipta (paradigma kedua ditolak). Sayangnya lagi, mereka yang giat beranak pinak ini juga banyak irisan dengan yang menolak vaksin karena teori konspirasinya, sampai akhirnya penyakit yang sudah dua atau tiga generasi hilang pun jadi timbul kembali karena gagal dicapainya persentase minimum penduduk yang terimunisasi (paradigma ketiga tampak jauh dari kenyataan). Yang anaknya banyak dan berada di tingkat ekonomi yang sebenarnya kurang memadai untuk memberikan sarana untuk anaknya tumbuh kembang dan memiliki pendidikan optimal, besar kemungkinan menghasilkan generasi muda dengan pendidikan minimum dan kerja hanya di level kerah biru. Menurunkan kemungkinan mencetak generasi muda yang akan melakukan inovasi di bidang teknologi demi umat manusia (paradigma pertama, sulit terjadi).

Proyeksi seperti ini membuat saya sedikit bersyukur saya sudah cukup berumur dan kemungkinan besar sudah lepas dengan badan fisik di tahun 2050.

Kalau menggunakan kontrasepsi itu dosa, jika mau dipikirkan lebih panjang lagi, lebih dosa mana dari menyianyiakan sebuah kehidupan yang kita lahirkan? Lebih dosa mana dari merusak planet yang kita dapatkan dengan keadaan baik? Jika kita bilang, kalau “umat” kita tidak beranak pinak, nanti “umat” yang sono beranak pinak dan mereka akan jadi mayoritas dan menguasai dunia, bagaimana nasib anak cucu kita? Newsflash, cintaku, anak cucu kita belum tentu berpikir sama persis seperti kita, suka apa yang kita suka, mau apa yang kita mau. Jika kita bekali dengan ilmu dan survival guide yang baik, mereka juga akan baik-baik saja. Yang penting adalah meninggalkan mereka dengan sumberdaya yang masih mencukupi, paling tidak bisa diperbaharui, bukan dengan pikiran-pikiran cupet dan tertutup dan penuh curiga.