#2019GantiBuah

Memang sepertinya sulit dan mahal ya, kalau ingin sehat di Indonesia. Mencari referensi artikel yang meyakinkan sumber penelitiannya saja jarang sekali. Sebagian besar malah merupakan saduran dari artikel media luar yang juga menggunakan referensi penelitian dari badan atau universitas luar negeri.

Maka dari itu, ketika bicara tentang rekomendasi makanan sehat, yang disebutkan kembali lagi adalah; kacang almond, ikan salmon, dan minyak zaitun. Jika membicarakan buah lagi-lagi yang disebut adalah buah beri, seperti blueberry, raspberry, blackberry. Mungkin yang menulis atau menyadur jarang piknik ke supermarket dan melihat berapa harga blueberry sekotak kecil. Mana yang masuk ke sini sudah mahal, tawar lagi rasanya. Tak rela mengeluarkan segitu banyak uang.

Seperti biasa, saya sedang di tengah membaca buku tentang makanan, kali ini oleh Dr. Mark Hyman, judulnya Food: WTH Should I Eat? Dr. Hyman ini penganut konsumsi makanan dalam bentuk aslinya, kurang lebih seperti Michael Pollan. Dia juga punya Podcast The Doctor’s Farmacy yang seru banget (tolong dikalibrasi standar seru saya ya).

Bab di buku ini dibagi per jenis makanan, dan ketika membahas buah, selain rekomendasi buah yang kadar gulanya minimal seperti (what else) berries, dia juga mengimbau untuk mencari buah-buah eksotis seperti snake fruit (salak kita tercinta), dan rambutan. Lalu kita yang memiliki buah musiman seperti ini masa cari blueberry?

Saya memang suka sekali buah lokal, dan terkadang sedih kalau beberapa jenis sudah sulit dicari. Dulu di Cirebon kalau mengunjungi (almarhum) nenek saya, kalau menemukan jamblang (atau duwet?) yang sepat masam itu girang sekali rasanya. Kalau jambu air sedang musim, saya bisa ngemil jambu seharian. Zaman dulu ke Bali rasanya kurang lengkap  kalau belum makan salak Bali paling tidak satu kilo. Ketika kami tinggal di Prabumulih, dua jam dari Palembang, senang rasanya ketika musim duku. Waktu di Sumatera Utara, giliran musim rambutan yang ditunggu.

Sampai sekarang juga gemar mencari buah di pinggir jalan, pasar atau tempat selain supermarket supaya banyak pilihan buah lokal. Walau terkadang dari kualitas sulit mendapat yang konsisten, tapi tak apalah.

Kadang penasaran juga, kandungan nutrisi buah kita seperti apa sih? Informasi yang sering didapat hanya berbentuk khasiat buah tersebut, mencegah ini itu, tetapi informasi mengenai GI (Glycemic Index) dan GL (Glycemic Load) buah lokal Indonesia tak bisa ditemui. Karena buah biar bagaimana sebutannya kan nature’s candy. Mungkin ada baiknya kalau buah khas Indonesia masih banyak yang belum dimodifikasi, jadi kandungan gula dan rasa manisnya masih sama dengan yang nenek kita konsumsi jamdul.

Tapi jika tidak ada demand dari pasar, tentu bukan hanya tidak dilakukan penelitian dan pengukuran soal buah, jangan-jangan semua orang jadi malas menanamnya, sehingga punah. Mungkin ada baiknya kita tambahkan agenda tahun depan, kurangi cari mudah dengan apel fuji, anggur red globe atau jeruk ponkam, tapi kita ganti buah jadi lokal punya!

Advertisements

Leave a Reply