Tak Esai Maka Tak Sayang

the-social-network-1200-1200-675-675-crop-000000

Aku kok merasa jleb baca tulisan Nauval soal mengisi waktu dengan menonton dan membaca ya. Karena pekerjaan yang tidak mengharuskan menonton film, jadi merupakan escape saja film buat saya. Tapi bukan berarti aku tidak cinta. Saking cintanya rasanya kurang kalau hanya menonton saja, sejak beberapa tahun yang lalu bertemu dengan sahabat dan rekan satu minat, dan mendapat kesempatan mengikuti pelatihan singkat menulis skenario dan mempelajari produksi sampai praktik segala! Sejak itu jika bertemu dengan sebuah film yang sangat mengesankan (mencetus kekaguman atau malah sebaliknya, membuat ingin segera film selesai dan segera keluar) (Tak lupa sedikit mengomel ke arah layar sedikit) ingin rasanya bertanya dan membedah apa yang membuat film begitu tak terlupakan? Apakah dari segi tulisan, editing, adegan, atau kombinasi semuanya?

Berawal dari membaca esai dalam tulisan dari kritik film favorit Film Critic Hulk yang dalam tapi sayangnya tidak seproduktif itu dalam membuat post. Ternyata YouTube juga gudang essayist keren dalam bentuk video. Kalau Anda penasaran dan ingin juga tahu lebih banyak soal film sambil terhibur mungkin bisa cek daftar essayist yang menurut saya begitu keren sampai saya berlangganan dan hampir semua update baru mereka saya tonton – terutama kalau membahas film yang membuat saya terkesan.

  • Every Frame a Painting
    Kurang ingat apakah pertama kali menemukan ini karena rekomendasi teman atau tidak sengaja ketemu. Hal yang dibahas sangat mengagumkan, dari cara Steven Spielberg membuat one long shot dibandingkan pembuat film lain, sampai bagaimana Edgar Wright membuat visual comedy. Sayangnya sudah setahun kanal ini tidak lagi update. Tetapi tetap saja saya suka menonton kembali beberapa videonya. Terutama yang satu ini.
  • Nerdwriter1
    Sepertinya masih rekan dari pemilik kanal Every Frame a Painting, untungnya yang satu ini masih aktif membuat content baru, walaupun tidak seminggu sekali. Essayist ini tidak membatasi diri membahas film, tetapi referensinya sangat mengagumkan. Salah satunya adalah bagaimana dia membuat perandaian film The Passengers yang disusun ulang, dan jadinya sungguh jadi film berbeda dibandingkan film aslinya yang ketika menontonnya saya ingin marah.
  • The Closer Look
    Esainya lebih sering membahas soal menulis karakter, dan mengapa membuat karakter yang menarik untuk penonton lebih penting dibandingkan memimpikan adegan atau moment di sebuah film yang akan terlihat cool (HUH untuk Zack Snyder). Karena sudut pandang yang lebih kecil bukan berarti kalah penting, karena apalah kita ini kalau bukan seorang fan yang hanya ingin karakter yang bisa mewakili kita dalam petualangan yang tidak mungkin kita alami di kehidupan ini?
  • Lessons from Screenplay
    Seperti namanya, esai yang dibuat kanal ini banyak membedah pelajaran yang bisa diambil dari naskah-naskah film. And they are BRILLIANT! Dia juga banyak mengambil referensi dari buku Story oleh Robert McKee, dan memang sampai sekarang buku itu masih saja menjadi semacam kitab suci panduan hidup penulis naskah. Favorit saya ketika dia menganalisa bagaimana Coen Brothers bercerita tentang karakter bukan hanya dari apa yang mereka lakukan tapi bagaimana mereka melakukannya di No Country for Old Man dan membedah kolaborasi Alan Sorkin dan David Fincher di The Social Network yang sampai sekarang tetap membuat menganga dan ingin nonton lagi dan lagi (baik film maupun esai).

Maaf kalau post kali ini terlalu geeky for your taste, tapi siapa tau akhir pekan ini kurang tantangan atau agenda mungkin bisa iseng melihat video yang saya rekomendasi ini, siapa tahu seru.

Advertisements

Leave a Reply