Bisnis Sehat dengan Niat

blueberries cake chocolate chocolate cake
Photo by Abhinav Goswami on Pexels.com

Jadi ingat, waktu saya mulai coba coba makanan sehat, betapa perjuangan mencari makanan yang sesuai dengan diet saya, sampai selalu harus membuat sendiri dari awal. Bahkan bahan-bahannya saja cukup sulit dicari, kalaupun ada biasanya impor dan cukup mahal.

Sangat berbeda dari sekarang, bahkan tukang roti dan tukang kue pun menanggapi berbagai macam kebutuhan diet, dari yang rendah karbohidrat, rendah gula, paleo, vegan, apa saja ada. Walaupun kembali lagi saya buat disclaimer kalau istilah “ngemil sehat” itu agak slippery slope, karena semua yang dijual juga cenderung banyak pemrosesan dan kita lebih baik mengonsumsi makanan yang bentuk aslinya masih kelihatan. But we can’t be perfect forever.

Senangnya juga sekarang banyak pemasok keinginan ngemil kita dari keripik, kerupuk, cookies dan lainnya. Merek-merek yang lokal, dengan bahan yang didapatkan secara lokal dan pemrosesan yang lebih “sehat” dijual di toko-toko online yang mengibarkan bendera sehat. Dimulai dari Lemonilo, yang sayangnya sekarang seperti eksklusif menjual merek mereka sendiri (padahal belum banyak macamnya), Jagapati yang sepertinya jalan di tempat, dan mainan terbaru saya, sesa.id. Yang terakhir disebut ini cukup baik dalam membuat toko, informasi bahan-bahan makanan, nutrisi, hampir semua ada. Semoga bertahan terus dan jadi inspirasi untuk yang lain ya.

Lain sesa, lain juga lapak di Instagram. Banyak dari penjual kudapan seperti kue yang membuat klaim “sehat” dan “rendah kalori” atau malah gluten-free. Tapi alih alih memberikan informasi yang jelas ke kostumer atau calon kostumer di profil Instagram-nya, tiap post malah dihiasi kalimat-kalimat puitis, tidak ada sedikit pun keterangan. Ini benar terjadi, teman saya memesan buat saya dari tempat ini karena di profil Instagram ada disklaimer sehat dan gluten-free, ketika saya makan langsung curiga kalau rasanya terigu sekali. Ketika mengirimkan DM ke tempat jualnya ternyata dia mengaku kalau tidak semua produknya gluten-free dan yang dibeli teman saya bukan yang termasuk.

chocolate delicious dessert food
Photo by Sheena Wood on Pexels.com

Anggap saja ini imbauan untuk para lapak yang klaim menjual camilan sehat. Yang pertama tentunya, do your research! Tentang sainsnya sendiri, temuan apa yang baru ini terjadi tentang makanan dan kesehatan, lalu diet apa yang sedang populer dilakukan. Hal ini bisa mencegah pelabelan makanan sehat hanya karena “bahan yang digunakan premium (apa itu bahan premium? Bensin?)” atau “menggunakan gula asli bukan buatan (heyyy, buat yang diabetes malah mencari “gula buatan” kalau sedang ingin yang manis)” malah lebih parah lagi, klaim sehat hanya karena “halal”.

Yang kedua, be specific. Ketika sudah dilakukan riset, tentukan market kamu. Apakah untuk yang vegan dan vegetarian (biasanya juga karena ada sensitivitas dan alergi telur dan produk susu), atau yang sedang menjalankan diet rendah karbohidrat, rendah kalori, dan semuanya itu bisa juga dibuat versi paleo. Tetapi pelajari masing-masing diet dan apa bahan yang boleh dan tak boleh, dan pastikan ketika mencap produk “vegan”, tidak ada bahan non-vegan yang ada di dalamnya.

Berikutnya, cantumkan bahan-bahan yang kamu gunakan. Misalnya produknya diberi stempel “sugar-free“, kalau kebiasaan saya begitu mencicipinya akan langsung terasa apakah ini menggunakan pemanis tambahan atau manis asli dari buah (pisang, misalnya), dengan pencantuman bahan pengganti gula, sebagai konsumen akan lebih tenang mengonsumsinya. Contoh lain, kalau produk vegan yang ternyata menggunakan margarin, sebaiknya mencantumkan di keterangan produk, karena sudah cukup banyak orang yang tidak lagi mengonsumsi margarin.

Mungkin ini semua bisa disimpulkan dengan satu frasa; know your audience. Bukan hanya soal selera, tetapi juga kebutuhan diet mereka. Semoga sukses!

Leave a Reply