Partai Kegmtzan Indonesia

Manusia kebanyakan di Indonesia memang sering menggemaskan, ya! Hari Jumat ini dilakukan demonstrasi yang menolak Perppu Ormas dan menolak kembali bangkitnya PKI. Kalau soal Perppu, okelah, mungkin keputusan dan dibuatnya Perppu itu memang kontroversial dan patut dipertanyakan, walau mungkin ada cara lebih baik untuk mempertanyakannya dan tentunya tidak akan dilakukan oleh kelompok yang sudah pasti alasan memrotesnya karena organisasi yang baru baru ini dilarang menggunakan Perppu tersebut. Tetapi sambil protes Perppu yang membubarkan organisasi yang mereka bersimpati, mereka juga memrotes kembalinya satu organisasi yang memang sudah sejak dulu dilarang.

Mereka menuntut minta maaf dari PKI, mungkin sudah lupa atas hukuman bagi orang-orang yang tertuduh terlibat di dalam organisasi PKI, bahkan stigma yang didapat oleh anak cucu mereka yang kemungkinan besar tidak tau apa-apa.

Mereka memrotes PKI tetapi juga mengatakan kalau pemerintah sudah dijual kepada korporasi yang dikuasai oleh satu persen orang kaya di dunia.

160603115330_demo_fpi_liberal_komunis_640x360_bbcindonesia_nocredit

foto: CNN

Mereka bawa spanduk yang bilang kalau PKI = Liberal, padahal kalau tidak liberal, mereka tidak akan bisa bawa spanduk tersebut.

Mereka protes kenapa cari uang sulit, bekerja memakan waktu solat mereka, tetapi menolak komunisme.

Mereka bilang PKI menolak hukum agama, padahal ada istilahnya religious communism, yang mana idola mereka para “pejuang” Islam di Timur Tengah yang mempraktikkannya. Mungkin sosialisme Islam sih, lebih tepatnya, but close enough.

komite-pemuda-islam-kpi-sulsel_20150817_195728

Mereka bilang liberal juga menolak hukum agama, padahal dengan menganut liberalisme justru mereka akan bebas melakukan praktik agama apa pun yang seperti apa pun, dan mendirikan organisasi yang bagaimana pun.

Mereka berdalih menolak PKI dengan dalih membela Pancasila, tetapi mereka berwacana ingin mengubah sila pertama Pancasila dengan bentuk yang lebih Islami.

Mereka mati-matian membela agamanya sampai memenjarakan seseorang yang menghinanya, tetapi kemudian menjamak solat karena mau meneruskan demonstrasi. Padahal dulu saya suka dimarahi papa saya kalau ketahuan menjamak solat padahal kita tidak pergi ke mana-mana dan bukan musafir, dan sebenarnya masih sempat solat kalau niat.

Nggemesin memang, tapi sayangnya sepertinya kita harus mendengarkan berisik soal komunisme ini sampai 2019, karena setelah narasi penista agama dan pemimpin non Islam, sepertinya ini yang jadi pilihan untuk pemilihan berikutnya.

Advertisements

We Are Not “Every Body”

Pengakuan: saya baru sembuh dari sakit. Atau sebenarnya ini belum sembuh total, tapi masih membaik? Entahlah. Tapi yang jelas, saya sudah merasa lebih baik dibanding dua minggu lalu. Sudah beraktifitas hampir seperti sedia kala, meskipun belum bisa berolahraga terlalu berat.

Sakit apa? Ini pengakuan lain: saya punya kadar asam urat yang terlalu tinggi dalam tubuh. Ketika kadar asam urat ini tidak bisa diuraikan, maka dia akan mengkristal di persendian. Kristal ini akan bersemayam dan bisa menggumpal di sana, sehingga persendian bisa membengkak. Persendian ini bisa di tangan, bisa di kaki. Pokoknya anggota tubuh kita yang mempunyai joint. Kalau saya, di pergelangan kaki.

Saat ada penggumpalan kristal di persendian, maka persendian tersebut tidak bisa digerakkan, karena rasanya sakit. Sakit sekali. Seakan kaki dihantam oleh paku dan martil perlahan-lahan dari dalam. Akhirnya, untuk sekedar menekuk kaki sulit. Apalagi digerakkan untuk berjalan.

Kristal hasil kelebihan asam urat ini memang bandel. Agak susah untuk diuraikan. Bukan tidak mungkin, hanya cukup susah saja. Asal tidak memasukkan bahan makanan yang mengandung protein tinggi ke dalam tubuh, karena tubuh justru memproduksi terlalu banyak protein yang tidak bisa terurai.

Pengkristalan asam urat ini bisa dikeluarkan lewat urin. Dan urin kita keluarkan saat kita buang air. Pendorong agar kita buang air adalah minum air putih. Alhasil, selama 2 minggu terakhir, saya minum air putih sebanyak 3 sampai 4 liter setiap hari, tanpa henti.

Terus terang saya sempat kesal, karena penyakit ini menyuruh kita untuk buang air sesering mungkin, sementara untuk berjalan kaki ke kamar mandi susahnya sudah luar biasa. Jarak dari kamar ke kamar mandi yang kurang dari 10 meter bisa saya tempuh dalam waktu 10 menit karena harus jalan sangat pelan, atau kalau bisa, “ngesot”.

Kekesalan ini sempat bertambah, saat saya sadar bahwa serangan ini datangnya berjarak 10 bulan dari serangan terakhir. Ya, dalam 5 tahun terakhir, saya menghitung setiap satu tahun sampai 1,5 tahun, serangan kelebihan kadar asam urat ini menyerang saya. Hanya saja, yang terakhir ini jaraknya makin pendek. Kalaupun ada “keuntungan” dari seringnya kena penyakit yang sama berkali-kali, kita sudah tahu what to do, what to take, what to act.

Saya tahu ketika serangan hampir mencapai puncaknya, tahu obat apa yang bisa menimbulkan alergi, dan tahu kira-kira apa yang akan terjadi dalam beberapa hari ke depan. Meskipun begitu, tetap saja saat puncak fase serangan ini menyerang tubuh, saya merasa kesakitan luar biasa. Sampai akhirnya cuma bisa menjerit dan menangis jam 2 pagi, sebelum pingsan 2 jam kemudian di perjalanan menuju rumah sakit.

Beruntung saya dikelilingi orang-orang baik. Teman-teman yang mau membantu dan datang menghibur.
Salah satu teman malah heran, “Bukannya belakangan ini elo malah hidup lebih sehat? Frekuensi lari makin rutin ‘kan? Dan elo juga gak makan yang aneh-aneh deh, setahu gue.”
Saya cukup menjawab dengan huruf besar semua, “ITULAH!”
Lalu setelah cukup tenang, saya tambahkan, “Gue juga heran. I thought I’ve done everything I could. Olahraga rutin, jaga makanan, cukup minum air putih, tapi kok ya masih kena serangan asam urat ini.”

Menanggapi pertanyaan tadi, saya hanya bisa berspekulasi. Mungkin ini karena makan nasi pecel setiap hari selama lebih dari seminggu bulan lalu. Mungkin karena kadang-kadang masih bandel makan cemilan ber-MSG, meskipun frekuensinya jarang sekali, dan selalu diimbangi minum air putih yang banyak sesudahnya. Mungkin ini akumulasi dari berbagai kebiasaan tidak sehat selama berbulan-bulan terakhir. Atau malah bertahun-tahun terakhir, yang dalam beberapa serangan terakhir, ternyata tidak terurai sepenuhnya.

Tetapi dari semua spekulasi tadi, akhirnya saya menarik kesimpulan yang mungkin terdengar “dangkal”, yaitu: semua orang lahir dan tumbuh dengan tubuh yang berbeda-beda. Everybody is born with different bodies from each other. No two bodies are ever the same. Everybody does not have every similar body. Everybody has their own very distinctive body.

Terkesan seperti pembenaran belaka? Bisa jadi.
Terdengar seperti lame excuse? Possibly.

Yang jelas, fakta bahwa tidak ada manusia yang terlahir dengan kondisi tubuh yang sama, akhirnya baru akhir-akhir ini saja saya sadari sebenar-benarnya, dan harus diterima sepenuhnya tanpa protes.

Menerima dengan lapang dada kalau ada teman yang masih merokok sekotak penuh setiap hari, minum teh manis setiap selesai makan, jarang berolahraga, tapi tidak pernah sakit. Mungkin waktu kecil sampai remaja dia sudah hidup sehat dan rajin olahraga, sehingga tubuhnya sudah kebal terhadap berbagai penyakit. Mungkin saja ‘kan? Mungkin juga saya yang telat, karena baru menyadari pentingnya berolahraga rutin setelah melewati pertengahan umur 20-an.

Kalau mendengar cerita, “eh, nenekku umur 95 tahun masih makan Chiki setiap hari, dan gak pernah sakit sama sekali tuh!”, maka saya berpikir positif saja. Mungkin dari kecil beliau sudah terbiasa dididik untuk tidak jajan sembarangan, banyak berolahraga, karena jaman dulu memang pilihan makanan ringan sangat terbatas, dan anak kecil lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah.

Kalau ada teman seusia yang dengan bebas makan apa saja, seperti kacang mente, emping melinjo, kepiting dan makan makanan yang jadi pantangan penderita penyakit seperti saya, dan makannya di depan saya, sabar saja. Anggap saja sebagai ujian kesabaran. Toh masih bisa makan makanan lain, seperti saat kami beramai-ramai ke restoran makanan laut, teman-teman saya makan kepiting, dan saya makan … Apple Pie.

Kalau ada teman yang masih suka makan junk food dan fast food, menghabiskan separuh hari dengan duduk di belakang meja, namun tidak ditemukan penyakit berbahaya di dalam tubuhnya, that’s a good news, bukan? Mungkin dia punya rutinitas lain yang cukup atau sangat sehat untuk menopang gaya hidup yang seperti itu, yang kita tidak tahu.

Ketahanan tubuh setiap orang berbeda-beda. Makanan yang sama akan diproses secara berbeda di setiap orang, karena kemampuan mencerna setiap tubuh juga berbeda-beda.
Itulah kenapa tidak ada produk perawatan muka yang bisa cocok digunakan untuk semua orang. Satu produk yang sama, bisa membuat kulit muka jadi cerah di satu orang, sementara di orang lain, malah jadi kusam.
Satu obat bisa menyembuhkan, sementara obat yang sama malah bisa menimbulkan reaksi alergi di orang lain.

Saat sakit dan saat sadar bahwa tubuh kita rentan terhadap penyakit, memang susah untuk tidak merasa iri kepada orang lain yang sedang sehat. Toh rasa iri tidak akan membuat kita sembuh. Yang harus kita lakukan adalah mendengar apa yang tubuh kita perlukan. Bukan nafsu.

Saat kita lapar tengah malam, apa kita benar-benar lapar, atau sekedar ingin mengecap sensasi rasa manis sesaat? Tunggu sekitar 10-15 menit. Kalau masih lapar, coba atasi dengan minum air putih segelas. Biasanya rasa lapar akan perlahan menghilang. Kalau ternyata masih ada, maka coba gigit buah seperti apel atau pisang. Segigit saja. Lalu kunyah dan tunggu. Minum air putih. Mungkin bisa membantu sambil berpikir bahwa semakin banyak makan saat lewat tengah malam, semakin susah untuk mulai tidur lagi. Sementara tidur, well, it is probably the most affordable cure of many illnesses.

Untuk bisa dekat dan mendengarkan tubuh kita sendiri, perlu proses yang harus dijalani pelan-pelan. Untuk mengetahui makanan apa yang layak untuk tubuh kita, mau tidak mau kita harus mencobanya. Untuk dapat melakukan latihan fisik yang paling pas untuk kondisi tubuh kita, mau tidak mau kita harus mencoba berbagai jenis olahraga yang memungkinkan.

Karena kita tidak akan tahu sampai kapan kita bisa hidup.
Yang penting, we make our life worth living.
And that is by knowing our body wholeheartedly.

Always have a good life, everybody!

Bir Hitam dan Pandangan Sosial yang Bias

SAMPAI sehari sebelum pindah ke Jakarta, April tahun lalu, almamater lumayan sering mengundang saya mengisi kelas-kelas di kampus.

Bukan sebagai dosen tamu, sesi-sesi kala itu lebih berupa sharing. Berbagi informasi dan perspektif sebagai alumnus maupun praktisi pers mengenai topik-topik terkait mata kuliah. ~~~ Semoga pertemuan dan diskusi tersebut bermanfaat bagi para mahasiswa, meskipun tidak berpengaruh terhadap nilai. Semoga mereka semua sekarang juga sudah diwisuda. 😃

Dalam salah satu pertemuan, Bu Dosen meminta saya membahas pola hubungan antara pemerintah, masyarakat, dan pers dalam subjek “Komunikasi Pembangunan Sosial”.

Dari beberapa pengalaman sebelumnya, saat itu saya amat yakin bahwa rekan-rekan mahasiswa sudah cukup memahami dasar topik ini melalui buku-buku acuan perkuliahan. Pembahasan pun saya kerucutkan pada posisi masyarakat, yang menjadi pelaku (subjek) sekaligus sasaran (objek) pembangunan dengan segala tantangan sosial dan kerumitannya.

Di tengah-tengah sesi, saya lakukan ini…

View this post on Instagram

Is it #illegal, to drink this scrumptious #stout while giving a lecture about #stereotype and/or #social #stigma as one of the #huge obstacle in societal-development #communication? Don't worry, this wasn't meant to encourage them to drink low-density #alcohol, but as a #gimmick, an element of surprise, and to let them #express their responds on anyone who's drinking #beer. One main #question for You: what do You think about the relations between alcohol #beverages and, uhm, so-called #morality and decency? Anyway recently, alcohol is getting prohibited for retail purchasing in #Indonesia. Even for beer, light beer, and stout. The distribution range is getting minimized, only available in #hotel, granted #restaurants and #cafés, #pub and #nightclub, and even #prostitution #area. You won't find them in #7-11, #Lawson, #Circle-K or other convenience #stores across #Jakarta, #Surabaya, #Bandung, #Jogjakarta, etc anymore.

A post shared by @ dragonohalim on

Saya keluarkan sekaleng bir hitam yang sudah diminum beberapa jam sebelumnya, lalu menghabiskan sisanya di depan mereka. Nekat! 😅

Seperti yang sudah saya bayangkan, banyak mahasiswa yang kaget. Sebagian di antaranya menunjukkan ekspresi bingung, ada yang langsung berkasak-kusuk dengan teman di sebelahnya, ada segelintir yang tersenyum dan cengengesan, ada pula yang mengalihkan pandangannya dari saya dengan gestur tidak senang.

Sekadar catatan, kota Samarinda kurang lebih sama seperti Bogor atau Depok dalam hal pembatasan peredaran semua jenis minuman beralkohol. Termasuk bir, golongan yang paling ringan. Bukannya dihilangkan sama sekali, ada regulasi atau peraturan khusus tentang perizinan. Salah satu tujuannya tentu saja meminimalisasi dampak negatif akibat konsumsi yang tak bertanggung jawab.

Dari pemikiran demikian, muncul anggapan sempit bahwa minuman beralkohol adalah simbol keburukan. Begitu juga peminumnya, merupakan orang-orang tidak beres yang sebaiknya dihindari di masyarakat, atau harus dikembalikan ke jalan yang benar.

Berarti, termasuk saya.

Sangat wajar jika sesaat setelah saya meminum bir di depan mereka, banyak mahasiswa yang mengubah pandangannya terhadap saya. Dari yang awalnya punya respek, atau biasa-biasa saja, berganti menjadi risi, bahkan tidak suka.

Secara umum, semestinya tidak ada yang aneh dengan seseorang berusia balig yang meminum bir secara legal dan sadar. Di sisi lain, hal tersebut pun dilakukan dalam konteks ilustratif dan akademis, yakni menunjukkan satu contoh tantangan pembangunan masyarakat secara nyata: stereotip, dan respons sosial. Didasarkan pada Teori Communicative Action-nya Habermas.

Saya kembali meneruskan paparan dengan pernyataan berikut.

Apa pun yang muncul dalam pikiran teman-teman sekarang, semua adalah hak teman-teman sendiri. Termasuk untuk yang menganggap bahwa saya ngaco karena seorang peminum bir, dan ingin mengabaikan semua materi saya dari awal pertemuan tadi. Tetapi yang penting saat ini adalah bagaimana cara teman-teman ingin menyikapi atau memposisikan saya, yang merupakan peminum bir ini, dalam konteks pembangunan.

Apakah karena saya menyentuh bir, maka saya termasuk sampah masyarakat? Apakah saya harus dijauhkan atau disingkirkan dari proses pembangunan, ataukah tetap bisa dilibatkan secara aktif? Lalu, apakah karena saya meminum bir, teman-teman menganggap saya sama seperti pemabuk lain, yang biasanya melakukan kejahatan dan keonaran? Apabila dianggap sama, mengapa? Apabila dianggap berbeda, kenapa?

Mau seburuk apa pun keadaan seseorang dalam masyarakat, mereka tetap merupakan bagian dari masyarakat itu sendiri, kan? Bagian dari proses pembangunan.

Kalau ada yang merasa terganggu dan merasa sesi kelas ini tidak berguna karena diisi oleh saya, bisa keluar sekarang. Absennya enggak dihapus kok.

Tidak ada yang keluar ruangan. Somehow, ini melegakan. 😅 Sayangnya, tak ada satu pun mahasiswa yang memprotes, bertanya, atau memantik komentar pada saat itu. Segala respons yang bisa berkembang menjadi diskusi terbuka.

Saya pun melanjutkan penjabaran soal stereotip, dan respons sosial dari sudut pandang pemerintah serta pers. Hal ini menjadi sangat penting lantaran berpengaruh besar pada penyusunan dan pelaksanaan kebijakan, serta persepsi yang disebarluaskan oleh media.

Secara sederhana, ini tentang cara manusia melihat dan memperlakukan sesama manusia dalam segala perbedaannya. Selain peminum alkohol, bagaimana dengan…

  • Pelaku prostitusi (pekerja dan pengguna, pria maupun wanita) maupun penari striptis,
  • Para penyalahguna narkotika dan bahan sejenisnya,
  • Orang-orang bertato,
  • Para janda muda, perawan tua, bujang lapuk,
  • Orang-orang yang memutuskan tidak menikah dulu,
  • Para preman dengan/tanpa organisasi,
  • Para penjudi sabung ayam atau di pasar malam,
  • Para penderita HIV/AIDS,
  • Para keturunan narapidana dan tahanan politik,
  • Para mantan warga binaan atau narapidana,
  • Para homoseksual (pria maupun wanita),
  • Para waria (transgender) maupun transeksual,
  • Para pasangan pacaran yang tinggal serumah,
  • Para wanita yang hamil di luar nikah, korban perkosaan, dan anak-anaknya,
  • Orang-orang yang kembali ke Indonesia setelah bergabung ISIS,
  • Keluarga dan anak-anak koruptor,
  • Para pengemis-gelandangan-anak jalanan-anak punk, sampai…
  • Orang-orang murtad atau yang berpindah agama, dan
  • Orang-orang dari ras atau suku tertentu?

Hampir semua kelompok di atas selalu diburu aparat kepolisian dalam Operasi Pekat yang diadakan secara berkala. “Pekat” sendiri merupakan singkatan dari “Penyakit Masyarakat” untuk menunjukkan posisi mereka secara sosial, dan harus ditangani supaya tidak menyebar atau memberi dampak buruk lebih besar.

Tak ada yang salah dari logika tersebut. Namun yang terpenting adalah bagaimana konsep itu diterjemahkan menjadi sekumpulan tindakan, dan tetap memanusiakan manusia. Hal ini tentu saja bergantung pada kemajuan ilmu pengetahuan serta akal budi orang-orang yang terlibat di masanya.

Sebagai ilustrasi, para penyalahguna narkotika di Indonesia dipisahkan dan tak lagi diperlakukan seperti pelaku kejahatan lainnya sejak beberapa tahun terakhir. Mereka pun bisa mendapatkan rehabilitasi medis dan psikis, alih-alih dipenjara. Narkotika tetaplah benda terlarang, dan penyalahgunaannya adalah pelanggaran, tetapi tindakan yang diberikan sudah jauh berbeda dibanding puluhan tahun sebelumnya.

Ilustrasi yang lain, yaitu pengurusan akta kelahiran anak di luar nikah, yang kini “hanya” membutuhkan data dari ibunya dan surat keterangan dari bidan atau rumah sakit. Dengan demikian, sang anak akan tetap memperoleh kedudukan hukum yang kuat di masa depannya.

Inilah sebabnya betapa penting pemahaman sosial yang adil dan tidak bias bagi kepentingan bersama, baik dari pemerintah sebagai pemegang otoritas, masyarakat sebagai pelaku sekaligus sasaran pembangunan, dan pers sebagai penyampai kenyataan sekaligus pemantau pelaksanaan.

Silakan dibayangkan, bagaimana kondisi Indonesia apabila punya presiden seperti Duterte. Penembakan akan terjadi di mana-mana, orang tewas di tempat-tempat umum, dan ada beberapa media massa yang seakan merayakan “keberhasilan” pemerintah membunuh sekian orang dalam satu periode. Iya, dampak buruk narkotika memang sangat mengerikan, tetapi eksekusi mati di tempat juga tak kalah mengerikannya.

Korban tewas di Filipina. Foto: The New York Times

Beruntung presiden kita juga tidak kayak Trump, yang pernah berencana membangun tembok di sepanjang perbatasan negaranya dengan Meksiko.

Dalam konteks Sosiologi, penyakit sosial adalah tindakan yang menyimpang atau melanggar norma-norma yang berlaku. Jangan lupa, salah satu norma yang menjadi patokan adalah agama, dan agama bersifat mutlak benar, paling tinggi di antara norma-norma yang lain, serta tak terbantahkan.

Pelanggaran adalah kesalahan, dan kesalahan harus diganjar hukuman. Seberat-beratnya hukuman adalah kematian.

Akan tetapi kita kerap siwer dan sukar memisahkan antara perilaku dan pelakunya. Kita juga sering rancu soal kesalahan. Ada kesalahan yang benar-benar salah, tapi ada pula kesalahan yang sebenarnya hanya gara-gara kita enggak suka/kita enggak paham/kita merasa asing/kita belum tahu/kita katrok dan kampungan. Macam kejadian pria yang bawa kampak dan gergaji di Pulogebang.

Disclaimer: This part contains major spoilers for “Kingsman: The Golden Circle”. Unless you’ve watched it, or deliberately chill about spoilers, stop here!

Hal ini digambarkan dengan cukup nyata dalam “Kingsman: The Golden Circle” yang mulai tayang minggu lalu, ketika Presiden Amerika Serikat (diperankan oleh Bruce Greenwood) memutuskan untuk tidak menuruti dan mengelabui Poppy Adams (diperankan oleh Julianne Moore) dan membiarkan para pengguna narkoba meninggal.

Dengan tindakannya itu, sang presiden berpikir dia telah menyelesaikan tiga masalah sekaligus:

  1. Negaranya bersih dari para penyalahguna narkotika (mati semua).
  2. Banyak orang yang sangat sadar akan bahaya penyalahgunaan narkotika.
  3. Produsen dan penyalur narkotika pun kehilangan konsumen, akhirnya bangkrut.

Tak bisa dibantah, ketiganya adalah cita-cita yang diidamkan semua kepala pemerintahan bagi negaranya.

Padahal tawaran yang diajukan Poppy Adams kepada Presiden Amerika Serikat dalam film itu, sedikit banyaknya tidak jauh berbeda dengan yang telah diterapkan di Portugal sejak 16 tahun lalu: dekriminalisasi penyalahguna dan legalisasi narkotika!

Sefiksi apa pun plot yang ditampilkan dalam film ini, pada kenyataannya tidak sedikit orang yang bisa berpikiran sama seperti sang presiden. Termasuk diri kita sendiri, bila masih beranggapan bahwa pelacur, pemakai narkotika dan substansi sejenis lainnya, para homoseksual, peminum alkohol, orang-orang bertato, dan sederet daftar di atas sebagai sampah masyarakat.

Poinnya adalah, mengatakan tidak bukan berarti iya, begitu juga sebaliknya, mengatakan iya belum tentu tidak. Hal ini yang kerap disalahpahami, dan langsung menghasikan stereotip.

Idealnya, setelah pemerintah dan pers sudah memiliki perspektif yang tepat mengenai kelompok-kelompok “Penyakit Masyarakat” tersebut, ada lebih banyak masyarakat yang memiliki kesadaran serupa.

Pasalnya, razia polisi dalam Operasi Pekat justru masih kalah ketat dan keras dibanding celaan maupun hinaan orang banyak. Mulut dan ucapan manusia memang jauh lebih kejam serta mengerikan. Apalagi kalau semua ngumpul jadi satu.

Pecah! Dalam makna sebenarnya.

[]

Kembalinya Makna

Model baru Kaia Gerber, putri dari mantan supermodel Cindy Crawford, menjadi salah satu icon dari peragaan busana dunia. Kaia menjadi model pembuka atau penutup yang merupakan posisi prestise yang selama ini salah satunya dipegang oleh model Instagram dan reality show Kendall Jenner. Uniknya Kaia memiliki gaya berjalan yang mengingatkan pecinta fashion pada cara berjalan para supermodel era 80’an. Era belum ada media sosial sehingga menjadi supermodel merupakan perjalanan terjal dan berliku. Tak bisa hanya bermodal wajah dan tubuh rupawan.

Alexander Wang RTW Spring 2018

Yang menjadikannya lebih menarik, adalah membaca kolom komentar di Youtube. Banyak yang memuji Kaia seraya mengungkapkan kerinduannya pada peragawati “beneran”. Mereka beranggapan Kendall bisa meraih posisi sebagai model papan atas tak lebih hanya karena popularitas di media sosial walau mereka tak bisa berjalan di catwalk dengan baik. Hanya modal tampang dan popularitas.

Hal ini pula yang ditangisi oleh banyak profesional di berbagai bidang. Fotografer misalnya. Merasa sulit untuk bertanding dengan para selebriti Instagram yang populer dadakan walau tanpa pemahaman fotografi yang sesuai rumus dan ilmu. Atau para penulis buku, yang kehilangan pegangan saat profesinya seperti dirampas oleh penulis buku yang laris karena kepopulerannya di media sosial. Traveller, yang sudah sekian tahun bersusah payah menjelajahi berbagai tempat di dunia, dipaksa bersanding dengan traveller baru yang lebih beken karena banyaknya followers di media sosial.

“Dilihat-lihat, bosen juga ya sama foto-foto travelling ini. Pemandangan cakep-cakep, kasih caption puitis, udah. Semuanya sekarang begitu” keluhan ini keluar dari traveller “baru” yang sedang ramai kerjaan untuk keliling Indonesia. Atau seorang pria berbadan indah dan kerap memposting foto telanjang dadanya, menemukan kesulitan untuk meraup followers. “Susah banget mau naikin followers, padahal segala jurus udah gue kerahkan bentar lagi bugil nih!” katanya sambil tertawa perih.

Tentu ini bukan tanpa alasan. Setelah mata disodorkan pada keindahan-keindahan visual yang melenakan, sekarang tiba lah era keseragaman. Semua tampak sama. Semua indah, semua keren. Manusia #kekinian pun beranjak mencari yang baru. Mungkinkah yang baru ini adalah kedalaman makna? Hanya waktu yang bisa menjawabnya.

Di aplikasi-aplikasi kencan untuk berbagai orientasi seksual pun belakangan mulai banyak status-status yang terang-terangan bilang “not for fun”. Setelah seks mudah didapatkan, cinta semakin sulit ditemukan. Begitu ungkapan salah satu profil. Mulai bermunculan status-status yang merindukan keintiman seperti “cuddling”, LTR Only dan tak lagi melulu mencari penetrasi. Manusia mungkin mulai merindukan kehangatan sesama manusia daripada sekedar ejakulasi.

“Good Body, Bad Sex” sebuah tuduhan yang lumayan keji untuk manusia kekinian. Semakin banyak yang memperhatikan keindahan tubuhnya dengan berolahraga dan diet. Tentunya selain urusan kepercayaan diri, juga untuk tampilan di media sosial yang lebih mumpuni. Di saat yang bersamaan, keinginan eksplorasi dan hasrat bersenggama semakin menurun. Ada banyak perkiraan penyebabnya, salah satunya karena terlalu sibuk mencari uang yang terasa semakin sulit didapat. Kemudian faktor agama yang semakin menguat. Mungkin juga karena berhubungan seks tidak instagrammable. Penyakit kelamin yang mengancam. Atau sekedar karena sudah terlalu lelah mencari eksistensi. Seperti apa sebenarnya, mari kita nantikan hasil penelitian di Universitas Google.

Mungkinkah Kaia menjadi simbol kembalinya era “beneran” yang selama ini dirindukan atau sekedar keanomalian? Kalau benar yang pertama, maka kita bisa berharap kembalinya buku-buku yang ditulis dengan baik kembali diminati daripada yang ditulis pesohor media sosial. Kita akan kembali menemukan foto-foto yang bercerita daripada sekedar indah dilihat. Lagu yang memiliki makna dalam dengan lirik yang enak dihayati daripada sekedar enak didengar. Dan profesi-profesi lain yang selama ini harus menepi untuk memberi jalan kepada yang mendapat pengakuan “instan”.

Sekolah menjahit yang tadinya mulai ditinggalkan karena lebih banyak yang ingin menjadi desainer pakaian saja, mulai ramai peminat. Para desainer mulai menemukan keterbatasan saat mendesain karena tidak memahami pola dan mesin jahit.

Seorang desainer muda yang baru-baru ini kembali mempelajari pola dan teknik menjahit, menemukan desain-desain barunya yang lebih baik dan dapat diterima pasar. “Kan tadinya main asal disain aja gitu, sekarang gue lebih ngerti biar baju gue lebih enak pas dipake mesti gimana gituuu” katanya sambil tersenyum bahagia. “Gue juga berubah sih kalo liat baju. Tadinya kan yang penting keren, lucu, udah. Sekarang gue mulai ngeliatin jaitannya, pilihan bahannya, jatuhnya di badan, gitu-gitu… Kalo liat ke belakang suka tengsin sendiri sih sama desain gue dulu” lanjutnya sambil tertawa lebar.

Kalau bandul sudah mulai bergerak ke arah ini, tak ada lain yang bisa kita kerjakan selain kembali ke meja kerja masing-masing. Kembali mencari ilmu untuk mendapatkan kedalaman. Yang selama ini menghabiskan waktu demi nampang di media sosial, harus mulai menyisihkan waktu untuk belajar sesuai dengan bidang yang diminati. Daripada sibuk memikirkan cuitan demi mengundang retweet, mungkin bisa mulai belajar menulis. Daripada mementingkan jumlah lope-lope di Instagram, mungkin bisa belajar jadi fotografer beneran. Kalau perlu belajar mencuci foto sendiri secara manual sehingga bisa paham sepenuhnya makna depth of field.

Atau kembali ke dapur dan mulai menghasilkan makanan-makanan yang mengguggah rasa. Tak melulu manis, gurih dan pedas. “Gila ya bo, minuman yang ngetrend sekarang pada manis-manis gilak!” kata seorang teman setelah mencicipi Mango Bomb setelah sebelumnya gandung Es Kopi Susu. “Tadinya yang pedes-pedes sampe gak berasa apa-apa selain pedes” lanjutnya mereferensikan saat di mana ramen pedas dan mie instant super pedas digandrungi.

Silakan hitung sendiri ada berapa kata mungkin di tulisan ini. Tulisan ini bukan kepastian atau rumus baku. Bukan pula cara penulisnya melindungi diri. Lebih tepat merupakan ajakan untuk sejenak melihat dari jauh dan meraba ke mana arah pergerakan. Gunanya untuk apa? Ya selain untuk bertahan juga supaya tetap eksis lah 🙂

 

#RekomendasiStreaming – In the End, The Struggle is Worth Taking

Hari ini, tulisan saya hadir lebih telat dari biasanya. Tentu saja ada alasan di balik keterlambatan ini.

Rencananya, saya mau menulis semalam, setelah pulang dari kegiatan seharian. Apa daya, rencana ini berubah total saat hujan lebat menghantam kota. Terjebak di dalam mal, saya bertemu Dragono. Dia mau menonton film di bioskop, saya mau belanja di supermarket. Selesai belanja, saya makan malam, hanya untuk mencari tempat duduk menunggu hujan reda. Sampai Dragono selesai menonton, hujan belum berhenti juga. Online transportation susah didapatkan. Mau tidak mau menunggu sampai hujan berhenti turun, baru naik kendaraan umum.

Sampai rumah, saya cuma sempat berganti pakaian, membasuh muka dan gosok gigi, lalu menaruh barang belanjaan. Setelah itu, saya tidak ingat lagi, sampai alarm di ponsel membangunkan saya … untuk mematikan alarm tersebut dan tidur lagi. Sampai akhirnya sekarang, menuliskan deretan huruf dan kata yang Anda baca saat ini.

Apakah saya menyesal karena rencana awal tidak terlaksana? Tidak terlalu. We plan, the plan fails, life goes on.
Apakah saya lega? Surprisingly, yes. Karena setelah capek menunggu cuaca sampai jadi bersahabat buat pejalan kaki sampai larut malam, rasa lelah itu terbayarkan oleh tidur yang nyenyak tanpa gangguan.
So, in the end, everything is alright.

Dan dalam beberapa detik semalam, di tengah perjalanan pulang, kalimat di atas terbersit begitu saja di benak saya. Bahwa pada akhirnya, semua hal akan baik-baik saja, despite the struggle we have initially.

Saat kita sudah mencapai apa yang kita perjuangkan, atau sekedar mengakhiri perjuangan dengan beristirahat dengan tenang, maka kita akan melihat usaha tersebut dengan senyuman yang menyatakan, “it’s all worth taking.”

Semangat serupa saya temukan saat saya melihat judul-judul film dan karya berikut, yang bisa Anda tonton di kala liburan akhir pekan yang panjang ini:

Sky Ladder: Ther Art of Cai Guo-Qiang

Sky Ladder: The Art of Cai Guo-Qiang

Cai Guo-Qiang adalah seniman dan perupa terkemuka di dunia asal desa Quanzhou di provinsi Fujian di China. Karya-karyanya sudah menghiasi berbagai museum dan galeri kelas wahid di kota-kota besar dunia. Dia juga yang bertanggung jawab atas tampilan visual dan spesial efek di pembukaan dan penutupan Olimpiade Beijing tahun 2008.

Terkenal dengan karya-karya yang melibatkan bubuk mesiu (gunpowder), Cai Guo-Qiang melakukan proyek paling ambisius yang pernah dia kerjakan, yaitu Sky Ladder. Literally, ini adalah karya tangga langit, di mana dia membuat tangga sepanjang 500 meter ke atas, menuju langit, yang setiap bagian tangganya dihiasi dengan petasan dan bubuk mesiu.

Tentu saja tidak mudah membuat karya seambisius ini. Sebuah karya yang rupanya sudah tertanam dalam benak Cai Guo-Qiang hampir sepanjang masa dewasanya. Film ini memperlihatkan ketekunan dan ketelatenan seorang Cai Guo-Qiang yang, meskipun dengan reputasinya sebagai seniman papan atas, namun tetap rendah hati saat menemui kegagalan demi kegagalan.

Toh semangat beliau tidak pernah luntur. Apalagi proyek ini didedikasikan untuk neneknya yang berumur 100 tahun. Semakin ada dorongan besar untuk menyelesaikan adikarya ini.

Dan melihat ekspresi Cai Guo-Qiang di akhir film, it’s priceless. Semuanya menunjukkan kenapa film dokumenter ini layak ditonton dan diresapi.

Hasan Minhaj: Homecoming King

Saya cukup sering menonton stand up comedy shows di saluran streaming. Dari beberapa penampilan stand up comedians di Netflix, sampai saat ini masih Hasan Minhaj yang paling memikat. Padahal dia tergolong pemain baru di arena stand up comedy ini.

Kenapa Hasan Minhaj? Pertama karena tampilan visual panggungnya yang menarik. Tidak membosankan di mata, dan bergerak dinamis sesuai dengan konten yang dia bawakan.
Kedua, konten. There is a sense of earnestness, atau kemurnian cerita yang dia bawakan.

Mungkin karena dia membawakan cerita hidupnya. Tapi bukankah hampir semua komedian juga membawakan materi yang sama?
Hasan Minhaj mampu membuat kita terbahak-bahak dan terharu dalam satu show. Kemampuannya melihat kembali hidupnya dan menceritakannya dengan baik ke khalayak ramai dalam suasana yang feel-good membuat kita mau tidak mau menyimak setiap bagian ceritanya dengan baik.

He makes it look easy. Padahal kalau diperhatikan lagi, kehidupan yang dia ceritakan sebagai imigran asal India di Amerika Serikat tidaklah mudah.

Tetapi, selayaknya any true life survivors, Hasan Minhaj membuktikan bahwa segala perjuangan hidupnya sampai berdiri di atas panggung di hadapan ribuan penonton membuatnya layak berkata: “it’s all worth it”.

Selamat berlibur!

Harap Maklum dan Terima Kasih

BUAT kamu yang senang, terlalu sering, atau barangkali memang hobi mengeluhkan banyak hal dalam hidup, apa enggak berasa capek ya?

Pertanyaannya, apa sih yang memicu atau menyebabkanmu mengeluh, dan mengapa kamu harus mengeluhkan hal tersebut, apalagi kalau terlampau sering?
Apakah kehidupanmu memang sebegitu tidak nyaman?
Apakah sekadar refleks emosional dan memerlukan pelampiasan?
Apakah keluhan yang kamu utarakan tersebut bisa berdampak baik dan mengubah hasil dari keadaan sebelumnya?
Apakah dengan mengeluh membuatmu merasa sebagai orang penting?
Apakah kamu sedang memperjuangkan sesuatu dengan keluhan tersebut?

Normalnya, keluhan dilontarkan seseorang apabila ada sesuatu yang tidak berjalan sesuai keinginan, bisa juga setelah mendapatkan hasil yang meleset dari perkiraan. Pada intinya, keluhan muncul akibat hal-hal yang tidak menyenangkan. Karena kondisi yang demikian, maka akan menjadi sebuah diskusi panjang untuk menentukan hal-hal apa saja yang dianggap penting dan lazim dijadikan bahan keluhan dalam kehidupan seseorang, serta yang sebaliknya. Entah menyangkut persoalan personal ataukah profesional.

Misalnya, saat terjebak macet di Kuningan. Baik penumpang bus Transjakarta pasti mengeluh. Nah, terus mengeluhnya kepada siapa? Sementara pengendara mobil juga mengeluh dengan cara memencet klakson seakan tidak ada lagi hari esok. Efeknya apa? Diri sendiri tetap merasa kesal, dan orang lain pun bisa ikut-ikutan panas hati mendengarnya. Seheboh apa pun keluhan yang dicetuskan, tetap saja terjebak dalam kemacetan.

Kalau macetnya karena ini, terus mau mengeluh bagaimana dan ke siapa? Foto: Kompas

Berbeda kasusnya ketika kita mengeluhkan inkompetensi dalam hubungan kerja, bukan sekadar urusan siapa yang menggaji siapa, atau siapa atasannya siapa, melainkan apa solusinya untuk mengatasi hal yang dikeluhkan tersebut supaya damage dan post-event damage bisa dibuat seminimal mungkin. Urusan sanksi dan sebagainya, dijalankan belakangan, setelah perkaranya rampung atau tidak semendesak sebelumnya. Idealnya begitu.

Tak selamanya keluhan selalu bersifat negatif dan memunculkan situasi yang canggung bagi orang-orang yang terlibat di dalamnya. Keluhan yang tepat, baik dalam pesan yang disampaikan, tujuan dan cara menyampaikan, serta respons penerima, bisa menjadi semacam kritik membangun yang berdampak baik bagi semua pihak. Hanya saja sudah banyak yang telanjur mengidentikkan keluhan dengan kemarahan. Pokoknya mengeluh itu berarti marah. Sehingga pihak yang mengeluh lebih fokus ke meninggikan nada bicara, atau memojokkan pihak lain dengan kata-kata dan argumentasi tanpa memberi jeda untuk penjelasan, atau berteriak dan melotot dengan raut wajah mengerikan, serta sejenisnya.

Sedangkan pihak yang menerima keluhan pun lebih fokus untuk mempersiapkan tenaga dan perhatian untuk membendung serangan kemarahan yang datang. Alih-alih mencoba memahami pesan dalam keluhan yang disampaikan, mengambil posisi mempertahankan diri, defensif, supaya tidak bonyok.

Sikap marah dan defensif dari kedua pihak inilah yang menyebabkan proses komunikasi tidak berjalan maksimal. Yang konyolnya, seberapa sengit pun, tetap tak akan mengubah apa yang sedang/sudah terjadi.

Saking marahnya, kadang-kadang inti masalah yang dikeluhkan malah menjadi kabur, roaming ke mana-mana yang sebenarnya tidak ada sangkut paut dengan topik utama. Seperti yang terjadi ketika ada pasangan berpacaran yang berantem. Dari satu masalah sepele, merembet ke urusan lain yang sebenarnya enggak penting-penting amat dan telah dilupakan.

Selain amarah dan rasa kesal, keluhan juga bisa dibarengi perasaan-perasaan negatif sejenis lainnya, seperti kekecewaan, kebencian, keserakahan, kesombongan, maupun iri hati dan dengki. Bukannya memberikan manfaat, keluhan justru menjadikan kita individu yang lemah hati, serta merasa sok penting.

Merupakan hal yang alamiah apabila kita tidak bisa mengendalikan segalanya dalam hidup ini supaya berjalan sesuai keinginan, dan berujung pada hasil yang kita harapkan. Kalaupun ingin mengeluh, silakan diperjelas kepada siapa tujuannya. Mengeluh kepada seseorang yang telah melakukan kesalahan atau tidak profesional, mengeluh kepada diri sendiri, jangan malah mengeluh pada keadaan yang berarti tak jelas siapa sasarannya. Sebab energi, perhatian, dan waktu sangat mubazir untuk dihambur-hamburkan untuk sesuatu yang tidak jelas ujung pangkalnya.

Jangankan mengeluh, mendengar atau bergaul dengan orang-orang yang penuh keluhan saja bisa bikin melelahkan, kan?

Di sini, saya tidak akan bilang “jangan mengeluh” sebab itu mustahil. Manusia adalah makhluk dengan perasaan. Sangat lumrah untuk merasa tidak puas terhadap sesuatu dan mengeluhkannya, asal tak sampai di-abuse secara berlebihan. Saring terlebih dahulu, baru mengeluhlah kemudian. Yang membedakannya, sekali lagi, adalah bagaimana keluhan itu disampaikan.

Selain sikap bersyukur (yang sungguhan, bukan yang melibatkan kesombongan terselubung), kita juga memiliki kemampuan memberi toleransi atau pemakluman atas segala sesuatu.

Setiap orang memiliki batas maklumnya masing-masing, serta patokannya sungguh personal dan subjektif. Ada yang gampang merasa dibuat tidak nyaman, ada yang lebih bermental baja dan tidak cengeng menghadapi hal-hal tidak menyenangkan, ada juga yang tak acuh dan tidak peduli dengan apa yang terjadi sampai akhirnya berlalu.

Khusus mengenai ini, saya sangat bersyukur sempat dikenalkan istilah “tenggang rasa” dan “tepo seliro” saat bersekolah dulu. Sebab tak hanya mengingatkan saya pentingnya bersikap simpatik terhadap keadaan orang lain; melatih diri membayangkan jika tengah berada di posisi orang lain secara wajar supaya tidak dimanfaatkan untuk iba dan kasihan. Mencoba untuk lebih chill sebagai salah satu keterampilan hidup yang penting. Biar tidak menambah beban diri dalam menjalani hidup yang sudah cukup kompleks ini. Learning in progress. Masih belajar dan berlatih.

Satu hal penting lainnya, ada kalanya kita mengeluhkan orang lain, tetapi pasti ada saatnya pula kita dikeluhkan orang lain. Terserah mau sepercaya diri apa pun, mau sesombong apa pun, mau se-“banyak gaya” apa pun kita, momen itu tak akan terhindarkan. Ada keluhan yang benar-benar penting diperhatikan, juga ada keluhan yang remeh dan tidak lebih dari sekadar untuk mengganggu kita.

Oleh sebab itu, maklumin aja. Move on ke urusan lainnya.

 

 

 

 

 

 

 

[]

Muka Gepeng Kecoa Bunting

 

“Dasar monyet bau, kadal bintit, muka gepeng, kecoa bunting, babi ngepet, dinosaurus, brontosaurus, kirik!” Kasino – Dongkrak Antik (1982)

Kasino, Kapten Haddock juga Bellamy adalah tokoh yang dikenal rajin mengumpat.

Para bajingan dan fakyu fakyu yang sering mengumpat biasanya akan jauh lebih rileks dibandingkan sebagian orang yang melarang dirinya sendiri untuk mengumpat.

Mengumpat paling sederhana adalah menyebut binatang dengan intonasi penuh luapan emosi.

Anjing adalah binatang yang banyak dijadikan umpatan. Asu. Kirik. Anjing. Anjis. Anjay. Anjrit. Jrit. JING! Jynx.

Babi. Ibab. Monyet.  Tenyom. Codot. Tikus. Binatang lain yang juga sering menjadi umpatan.

Dancok (khas Jawa timuran). Matamu (Jogja). Pret. Prek. Adalah contoh mengumpat dengan kata-kata abstrak yang lebih mementingkan intonasi bunyi daripada maknanya. Saya yakin bahwa di setiap pelosok Nusantara memiliki umpatan khasnya masing-masing.

Atau anak-anak jebolan sekolah internasional (atau jebolan SD Inpress yang kebanyakan nonton filem laga), akan menyukai mengumpat dengan gaya bahasa asing: Damn. Shit. Fak.

Keluarga saya adalah keluarga yang mengharamkan mulut kita dipergunakan untuk mengumpat. Waktu masih TK saya pernah diceramahi oleh guru TK sebelum saya pulang karena sering mengumpat di sekolah juga di rumah. Harusnya saya langsung loncat saja ke mobil jemputan, tapi apa daya Bu Guru memanggil. Saya yakin bahwa Ibu saya sendiri yang membocorkan kelakuan saya di rumah kepada Bu Dewi, guru TK saya.

“Roy, jangan suka bilang ***** ya”, katanya saat saya salim padanya. Padahal dulu saya hanya ikut-ikutan teman sepermainan. Dan itu keren.

Umpatan bisa menjadi lucu jika itu dilafalkan dengan intonasi halus. Bahkan menjadi tanda keakraban sesama kawan sepermainan. Sama halnya teman karib yang rajin toyor-toyoran kepala. Saling misuh atau mengumpat yang menjadi penanda level keakraban suatu hubungan.

Tidak hanya kurang piknik, saya percaya sebagian dari kita juga kurang mengumpat. Maka, sebelum terlambat, mengumpatlah.

Asu!

(Oh iya, apa umpatan favorit kamu?)

 

Tebak-tebak Buah Manggis si Emmy Vol. 2

Selayaknya sekuel, maka tulisan ini adalah sekuel dari tulisan berjudul sama tahun lalu. Dan kalau memang Linimasa masih berjalan di masa depan, dengan saya masih menjadi salah satu penulisnya, maka bisa diharapkan tulisan ini masih akan ada, sampai perhelatan yang menjadi subyek tulisannya sudah tiada.

Bahkan tidak ada yang protes kalau acara penghargaan atau awards yang bergulir tiap tahun itu adalah sekuel on its own. Come to think of it, semua tradisi adalah sekuel. Ya ‘kan?

Malah kalau Emmy Awards ini, tidak seperti jenis penghargaan yang lain, punya kecenderungan untuk mengisi daftar nominasinya dengan “yang itu-itu saja”. Terutama untuk kategori serial televisi. Alasannya, kalau memang sebuah serial dengan mutu yang baik bisa mempertahankan kualitasnya setiap tahun, kenapa tidak dinominasikan lagi dan lagi? Makanya, serial “The Sopranos” dan “Mad Men” selalu dinominasikan setiap tahun mereka tayang di televisi. Yang sekarang, ada “Modern Family”, lalu juga “Veep”.

Memang contoh yang disebutkan itu adalah contoh-contoh serial televisi dengan kualitas penulisan cerita yang baik. Sangat baik, malah.
Namun ada juga tuduhan bahwa voters cenderung memilih nama atau program televisi yang sudah familiar di benak mereka. Atau yang pernah mereka dengar. Atau yang sudah pernah dinominasikan sebelumnya.

Tidak mudah memang menjangkau perhatian 22 ribu (!!!) anggota Academy of Television and Arts Sciences (ATAS) yang bertugas untuk menentukan nominasi dan pemenang Emmy Awards ini. Apalagi menurut catatan ATAS di rilis resmi mereka, tahun ini jumlah tayangan program yang didaftarkan untuk Emmy Awards naik 15% dari tahun sebelumnya. Daftar lengkap nominasi Primetime Emmy Awards tahun ini bisa dilihat di sini.

Ini menjadi tugas stasiun televisi, atau digital platform atau media apapun yang menayangkan program televisi untuk menggeber kampanye, promosi dan publisitas terhadap program unggulan mereka. Tidak cukup mengandalkan jumlah penonton selama satu musim program itu ditayangkan, atau ulasan dari kritikus. Selama masa kampanye, yang bisa dimulai 3-4 bulan sebelum nominasi diumumkan, maka publisis berlomba-lomba untuk menciptakan events atau gimmick yang bisa menarik perhatian para pemilih.

Yang sempat menarik perhatian saya adalah kampanye serial “The Handmaid’s Tale”, yang melibatkan sejumlah perempuan berjalan dengan kostum dari serial tersebut.

Women parading in The Handmaid’s Tale dress. (source: The Hollywood Reporter)

Atau Netflix, yang all-out dengan membuat lounge khusus yang disesuaikan dengan tema program televisi yang mereka unggulkan.

Netflix displaying Stranger Things installation for Emmy campaign. (source: The New York Times)

Tentu saja, iklan “For Your Consideration” yang bertebaran di billboard, media cetak, media online pun masih dilakukan.

Billboard campaign for Unbreakable Kimmy Schmidt (source: dailybillboardblog.com)

Semua ini dilakukan agar bisa meraih Emmy Awards, yang prosesnya diceritakan dengan ringkas di infografis yang bisa dilihat di sini.

Dan akhirnya, kita sebagai penonton televisi, yang sudah meluangkan waktu untuk menonton acara-acara ini, yang berarti mengundang masuk karakter-karakter asing ke ruang tamu kita selama bertahun-tahun untuk melihat cerita mereka, yang akan memutuskan mana program televisi yang “terbaik” versi kita sendiri.

Kalau versi saya yang paling personal?
Ini dia!

• Best Comedy Series: Master of None
• Best Lead Actor, Comedy Series: Donald Glover – Atlanta
• Best Lead Actress, Comedy Series: Julia Louis-Dreyfus – Veep
• Best Supporting Actor, Comedy Series: Alec Baldwin – Saturday Night Live
• Best Supporting Actress, Comedy Series: Kate McKinnon – Saturday Night Live

Alec Baldwin as Trump and Kate McKinnon as Clinton in Saturday Night Live (source: towleroad.com)

• Best Drama Series: (jagoan saya ada tiga, tapi berat harus milih salah satu, jadi …) Stranger Things
• Best Lead Actor, Drama Series: Sterling K. Brown – This is Us
• Best Lead Actress, Drama Series: Elisabeth Moss – The Handmaid’s Tale
• Best Supporting Actor, Drama Series: John Lithgow – The Crown
• Best Supporting Actress, Drama Series: Thandie Newton – Westworld

Thandie Newton in Westworld (source: Vox.com)

• Best Limited Series: The Night Of
• Best TV Movie: Black Mirror – San Junipero
• Best Lead Actor, Limited Series or TV Movie: Riz Ahmed – The Night Of
• Best Lead Actress, Limited Series or TV Movie: Nicole Kidman – Big Little Lies
• Best Supporting Actor, Limited Series or TV Movie: David Thewlis – Fargo
• Best Supporting Actress, Limited Series or TV Movie: Michelle Pfeiffer – The Wizard of Lies

Nicole Kidman in Big Little Lies (source: rolereboot.org)

Rencananya sih, Emmy Awards ini akan ditayangkan langsung di stasiun televisi kabel StarWorld pada hari Senin 18 September mulai jam 8 pagi.
Toh kalau tidak bisa menonton, bisa memantau informasi paling up-to-date lewat Twitter.

Dan ingat, jangan terlalu banyak menonton televisi ya! Jangan lupa olahraga.

😉

Dari Kolom Komentar

SALAH satu sumber kebahagiaan kami di Linimasa adalah komentar para pembaca.

Ucapan terima kasih atau apresiasi, cerita yang turut dibagi, pernyataan tidak setuju sampai luapan emosi, atau sekadar sapaan yang kemudian berubah menjadi percakapan. Semua itu menunjukkan perhatian, kedekatan, bahkan keakraban. Batas atau label penulis dan pembaca menjadi luntur. Aku dan kami berubah menjadi kita.

Itu sebabnya, kolom “Komentar Pembaca” di sisi kanan atas laman linimasa.com selalu menjadi hal kedua yang saya cek setelah judul tulisan terbaru di sebelahnya.

Dalam tulisan pekan lalu, ada satu komentar yang menarik perhatian saya.

Am I?” Demikian saya membatin setelah membaca pertanyaan di atas.

Sayang, keduanya merupakan sikap yang cenderung negatif bagi yang bersangkutan. Sehingga apabila memang demikian, saya harus segera mengikisnya. Meskipun bakal membutuhkan waktu sangat lama untuk dapat berubah sepenuhnya.

Apakah saya seorang overthinker? Mungkin saja… dan sejujurnya, menjadi seorang overthinker atau seseorang yang selalu berpikir berlebihan itu sangat melelahkan. Namun sebagai sebuah kebiasaan, sebuah program mental yang seakan berjalan otomatis setelah sekian lama, akan sangat susah mengubahnya.

Apa tanda-tandanya? Ehm… entahlah, apakah sejumlah hal berikut ini juga terjadi pada Anda atau tidak.

    • Khawatir
      Kekhawatiran ini bukan sesuatu yang kosong, melainkan khawatir bakal menghadapi sesuatu yang tidak mengenakkan di masa mendatang. Sebagai respons atas kekhawatiran itu, pikiran pun mulai bekerja mempersiapkan segala skenario yang mungkin terjadi, sepaket dengan cara-cara menghadapinya. Termasuk khawatir mengulang kesalahan yang sama di masa depan, jadinya ekstra berhati-hati. Ini capek banget.
    • Ragu
      Sikap ini berkaitan erat dengan kekhawatiran. Lantaran khawatir, lalu kebanyakan mikir, akhirnya bertemu banyak alternatif, ujung-ujungnya ragu. Lantaran ragu, lalu kebanyakan mikir, akhirnya tidak melakukan apa-apa. Waktu dan tenaga terbuang sia-sia. Masih mending kalau kekhawatiran dan keraguannya hanya untuk kehidupan pribadi, tetapi kalau juga terbawa dalam profesi dan pekerjaan, sudah tidak profesional namanya. Ada pihak yang dirugikan selain diri sendiri.
    • Baper (Duh!)
      Ini bahaya banget sih! Ketika semuanya dimasukkan ke dalam hati secara diam-diam oleh pikiran bawah sadar kita. Kita tidak bisa menyadari hal ini, selain dengan ditunjukkan orang lain. Itu pun kalau kita mau terima. Agak kontradiktif dengan apa yang kita percayai dan kita anggap sedang terjadi saat ini.

Komposisi ketiganya itu bikin stres dan susah tidur. Percayalah!

Mengapa saya menjadi seorang overthinker? Pasti selalu ada sebab dari sebuah akibat. Saya pun belum tahu pasti apa yang menyebabkannya.

Saya bisa hanyut dan tenggelam dalam sebuah pemikiran dengan mudahnya, terlebih untuk hal-hal yang dianggap penting dan berdampak besar dalam kehidupan saya, keluarga, maupun orang-orang tertentu. Hanyut dan tenggelam di sini berarti benar-benar terpisah dari apa pun, memikirkan semuanya dari A sampai seisi Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dari 1 sampai tak terhingga. Walaupun tentu saja hal yang tengah dipikirkan kala itu belum kejadian sama sekali. Hahahaha! Goblok sekali! 🤣

Terlepas dari itu semua, ada satu hal yang sangat saya pegang teguh, bahwa hidup ini tidak cuma  tentang saya. Selalu ada orang lain dengan beragam kondisinya. Pemikiran ini yang seringkali berujung pada pertanyaan:

“Bagaimana jika apa yang kulakukan ini merugikan atau menyusahkan orang lain?” Ini juga termasuk kekhawatiran, lho

To be fair, siapa sih yang mau dibikin susah? Ketika saya tidak suka dibuat susah, apakah adil bagi saya untuk menyusahkan orang lain? Terutama untuk hal-hal yang sekiranya bisa saya kerjakan, tangani, atau hadapi sendiri… and to be honest, setiap orang pasti punya batas kekuatannya masing-masing. Saat beban sudah sedemikian beratnya, pada akhirnya pasti akan minta bantuan juga. Hanya saja, ada yang benar-benar kesusahan sehingga perlu bantuan, tak sedikit pula yang barangkali cuma kaget dan panik, atau malas repot saja.

Nah, demi mengantisipasi hal-hal seperti inilah seseorang bisa menjadi begitu overthinking. Dari yang niat awalnya adalah memikirkan sesuatu secara menyeluruh supaya tidak kaget dan siap, malah berujung pada berpikir yang tidak-tidak.

Tidak ada yang mau jadi seorang overthinker secara sengaja kok, tetapi kejeblos saja. Lalu keterusan.

Sementara itu, akan sangat bodoh bagi saya yang sudah bisa mengidentifikasi dan menulis beberapa hal di atas tentang diri sendiri, namun tidak berusaha untuk menanganinya.

Ada beberapa hal yang tengah saya “latih” sampai sekarang. Misalnya belajar bersikap lebih nekat, mencoba lebih spontan, putuskan dulu pikir belakangan, dan sejenisnya. Saking bersemangatnya, hal ini yang saya tulis dalam profil singkat sebagai kontributor lepas salah satu majalah nasional beberapa waktu lalu, kendati membuat saya terlihat agak vulnerable. 😅

Belum berjalan lancar memang, karena akan selalu ada perang internal antara kubu overthinking dan kubu pemberontak dalam pikiran. Lelahnya dobel, dan makin bikin sadar bahwa ada banyak hal yang mustahil dikontrol. Bikin makin penasaran dengan orang-orang yang hidupnya terlihat effortlessly lancar jaya, dan bisa dengan mudahnya ngapain aja.

Tuh, kan… overthinking lagi. Mesti chill sedikit nih. 😂

Kepindahan ke Jakarta hampir dua tahun lalu adalah salah satunya. Sudah kepengin dari lama, dan setelah ditimbang-timbang kurang lebih selama setahun, akhirnya terjadi juga.

Apakah ada yang disesali? Untungnya TIDAK ADA! Jangan sampai ada. Ya kalaupun ada, bring it on aja, deh!

Keputusan penting ini pasti akan disusul dengan keputusan-keputusan besar lainnya. Namanya juga hidup, pasti selalu bergerak lurus ke depan. Mustahil bisa dibiarkan stagnan begitu saja.

Apakah saya seorang deep loner? Masak sih? Apa kelihatannya seperti itu?

Saat mengetik ini, ada pesan WA yang masuk dari seorang teman. Kebetulan, atau memang betulan? Lagi-lagi, entahlah.

A loner? Basically, aren’t we all? 🙂

[]

Yang Nulis Gak Punya Otak!

“Disrespect invites disrespect. Violence incites violence…” kata Meryl Streep saat menerima penghargaan Cecil B. DeMille, Golden Globes 2017.

Kekhawatiran terbesar Meryl adalah saat para penguasa mempertontonkan kesewenangannya dan menggunakan kekuasaannya untuk merendahkan, mempermalukan, menghina dan mentertawakan orang lain, maka semua akan melakukannya. Tentunya Meryl merujuk pada perilaku Presiden Amerika saat ini. Banyak yang berpendapat kekhawatiran Meryl bagai emak-emak merepet yang tak menerima kekalahannya. Bisa jadi. Tapi mari kita lihat sekitar kita saat ini.

Sekitar kita yang jauh dari negara adi daya itu. Sekitar kita yang selalu ada dalam genggaman kita. Sekitar kita yang teknologinya selalu update, tapi sayang otak dan perilaku penggunanya semakin terbelakang. Manusia-manusia kekinian yang dipenuhi oleh berita-berita rupanya mulai kehilangan filter dan pegangan tentang apa yang patut untuk dibagikan.

Seorang bintang yang baru melangsungkan pernikahan mendapat pelecehan di media sosial. Lalu apa yang dilakukan oleh para pelaku media sosial yang terhormat? Dengan riang gembira tertawa ikut merepost. Hasrat untuk menjadi pusat perhatian karena postingannya, menutupi selera humor yang rendah dan kepekaan yang menguap. Mari kita sama-sama ikut mentertawakan. Termasuk perempuan yang seringkali lebih jahat dan suka menghakimi sesama perempuan.

Ibu Negara yang mendapatkan perlakuan kurang ajar di media sosial, Instagram, mendapat sambutan dengan banyaknya postingan ulang. Bisa dibuka makian, atau ajakan untuk menghajar, atau doa-doa agar pelaku mendapat ganjaran dunia akhirat. Mungkin inilah yang kita sebut serigala berbulu domba 2.0

Sebuah survey tak resmi menyatakan Warganet Indonesia masih doyan hoax. Berita-berita hoax, mendapat ladang subur untuk tumbuh dan berkembang di tengah manusia-manusia yang suka asal posting tanpa berpikir akibatnya. Padahal sudah terbukti merugikan.

Salah satu contohnya, saat Pandji Pragiwaksono menulis pendapatnya tentang calon unggulannya di Pilkada, tentunya banyak mendapat banyak dukungan dan banyak tentangan. Yang mendukung, tentunya akan merepost. Yang tidak mendukung? Merepost juga. Bahkan lintas media sosial dan group chat. “Wat de fak Pandji?!” Begitu kurang lebih pembukaannya di Path. Teman-temannya tentu bertanya “ada apa sih?”, dilanjutkan dengan “nih baca sendiri, dasar Pandji guoblok!”

Di pikiran sehatnya tentulah semua orang akan setuju dengannya dan ikut mengumpat. Yang tak sampai di pikirannya, bahwa sesungguhnya dia telah menjadi kepanjangan dan pion-pion penulis yang dibencinya itu. Lebih panjang lagi, kemudian menjadi diskusi dan gosip mengenai Pandji. Hasilnya, tulisan Pandji semakin banyak yang membaca, dan Pandji semakin tenar.

Sandiaga Uno, saat itu sedang melakukan atraksi bangau di sebuah kampung. Berita ramai meliputnya dengan foto dari berbagai sudut. Silakan pingsan karena ternyata banyak yang memposting foto dan berita itu juga adalah Ahokers. Tujuannya hendak mentertawakan dan menghina tentunya. Yang sebenarnya sedang terjadi adalah, Ahokers sedang membantu mempromosikan Sandiaga Uno yang merupakan lawan bebuyutan. Bahkan di kolom komentar ada yang menuliskan “oh gitu mukanya sandy, baru liat nih”. Wow! Promosi gratis.

Ah sudahlah, jangan lagi kita membuka luka lama. Mari bahas yang #kekinian, Saracen. Yang disinyalir sebagai sindikat penyebar kebencian, sumber hoax yang membangkitkan perselisihan agama dan ras. Tak ingin membahas kebenarannya, tapi mari kita pikir bersama, apa yang sangat amat dibutuhkan oleh pembuat hoax? Ladang yang membesarkannya, yang akan membuat pembacanya beranak pinak. Apalah artinya berita hoax tanpa pembaca, kan?

“Hoax nih!” Kata seseorang saat memposting berita yang dianggapnya hoax. Apa yang terjadi selanjutnya bisa ditebak, semakin banyak yang membaca beritanya. Pembuat hoax tentu berpesta pora melihat ketololan kita beraksi. Sudah tau hoax, kenapa disebarkan? Sudah tau tak benar, kenapa ingin semua orang tau? Mengapa kita tidak memilih untuk menjadi penyebar hanya kebenaran dan kebaikan? Takut kurang populer dan sensasional?

Sebuah postingan keburukan yang pura-puranya dibungkus dengan kebaikan saat direpost, jatuhnya sama saja. Malah banyak penulis-penulis headline handal yang berhasil membuat orang lain membaca. “Bego kok dipelihara?” “Yang nulis gak punya otak!” “Sakit jiwa!” adalah “umpan headline” yang diberikan saat tulisan-tulisan yang tak disetujuinya direpost. Namanya orang kita, paling gampang terbakar, pasti akan segera membacanya juga. Lebih parah lagi, keburu komentar bahkan sebelum membaca. Luar biasa!

Kurang lebih dua tahun lagi, bangsa kita akan PEMILU. Sebelum keriuhan terjadi, ada baiknya kita berlatih. Menjadi lebih kritis saat membaca dan membagikan berita atau apa pun kontennya. Lebih memikirkan akibat yang lebih luas dari kelakuan jempol kita. Lagian, apa sih yang didapat dari memposting berita-berita atau apa pun yang berisikan keburukan? Apakah cara ini dikira bisa meraih simpati, dukungan dan lope-lope?

Lalu bagaimana kalau mau memberitahukan sebuah berita hoax ? Darah dibalas darah, harga diri dibalas harga diri, tulisan dibalas tulisan. Sampaikan pemikiran Anda. Mengapa berita itu hoax. Mengapa orang itu sinting? Mengapa tak masuk akal? Mengapa datanya salah. Tuliskan yang Anda ketahui. Data apa yang Anda miliki? Di mana Anda mengetahuinya? Dan semua hal yang mendukung apa yang Anda ketahui. Masa’ tulisan dibalas dengan cuitan umpatan di Twitter dan Facebook? Entah dari mana rumusnya.

Berat? Memang. Tapi itu satu-satunya cara.

Kalau berani mengatakan penulisnya gak punya otak, artinya mengakui punya otak. Sampaikanlah sejelas-jelasnya.

Mengatakan seseorang sakit jiwa, artinya mengakui diri lebih waras. Tuliskanlah sejernih-jernihnya.

Tak setuju dengan pendapat yang bodoh, artinya mengakui diri pintar. Utarakanlah secerdas-cerdasnya.

Masalahnya sekarang kalau ditanya alasan tidak setujunya, banyak yang cuma menjawab dengan “ya gila aja”, “kan katanya…”, “yang gue denger sih…” “kata orang-orang” dan penyanggahan tak valid lainna yang didasari asumsi dan besar kemungkinan hoax juga. Sama aja dong, Nyong! Belum lagi kalau dilengkapi dengan tuduhan tak beralasan seperti penulisnya dibayar, penulisnya goblok, penulisnya antek komunis :)))

Saat kita menjadi lebih kritis dan berhati-hati dalam menyerap berita, otomatis kita akan lebih berhati-hati saat membagikannya. Di saat itu pula, kita akan menemukan tidak ada kebenaran dan kesalahan seutuhnya. Kebenaran yang satu akan berbentrokan dengan kebenaran yang lain. Kebenaran hakiki cuma satu: Gandrasta Bangko itu Miss Universe.

Observasi Random

Kebiasaan lama, kebiasaan baru. Kebiasaan lama yang dilupakan, kebiasaan baru yang tadinya terasa asing, tetapi kemudian terasa biasa sehingga tak lagi diperhatikan. Tetapi terkadang hal-hal yang menurut kita menarik tetap bisa menghasilkan pemikiran yang dihampiri beberapa kali.

Saya kira saya bagikan saja beberapa hasil observasi yang akhir akhir ini sering mampir ke otak.

  1. Seringnya jika ada  yang memiliki opini yang tidak pro hijab, yang pertama dan komentar keras adalah pria, tentu dengan latar belakang, “menutup aurat kan wajib, sudah ada di Al Quran” dan alasan agar perempuan selalu aman dan dihormati. 
    Untitled-2

    Kalau enggak pake #simple atau ada kata “paham??” dengan tanda tanya lebih dari satu (tanda enggak nyante)

     

     

  2. Tetapi ini juga pria. 

    Untitled-1

    Sumber: Magdalene.cc

  3. Orang kebanyakan itu, kalau di tempat yang harusnya sabar menanti atau antre (contohnya keluar atau masuk kereta atau bis) selalu ingin buru-buru dan kalah bisa saling mendorong. Tetapi di tempat yang leluasa (di lorong stasiun) di mana mereka bisa jalan lebih cepat kalau memang terburu-buru, malah berjalan pelan, dan tidak jarang pindah jalur seenaknya, atau beriringan hingga beberapa orang, membuat orang yang berjalan cepat sulit melewati.
    9bfa3d084c7ed699ad5246169be0932c-school-hall-road-rage
  4. OMG, agak malu mengakui, tetapi akhir akhir ini rutin menonton Riverdale karena terpincut dengan Jughead (yang sejak baca komiknya juga saya sudah suka) yang dikarang oleh Cole Sprouse, agak terobsesi sampai follow Twitternya, dan dia lucu pula jadi semakin suka, sampai cemburu kalau ada adegan ciuman antara Jughead dan Betty. 

    c5ihm4txeaewb-h

    Isn’t he dreamy?

  5. Lalu ditampar oleh kenyataan bahwa Cole Sprouse adalah Ben Geller, anaknya Ross Geller di Friends. 

    cole-sprouse-friends-rachel

    Vvhyyyyy

  6. Kemarin baru dengar teman baru mengatakan bahwa dia suka film “yang ada twist-nya”. Wait, but it puzzled me. Maksudnya, ketika kita menonton film dan tahu bahwa di situ ada twist, dan kita jadi menonton dengan mengantisipasi ada twist, apakah itu tidak merusak kesenangan atau kenikmatan menonton? Apalagi ternyata twistnya tidak sesuai pengharapan. Film yang bagus bisa berkesan jelek. Saya malah pernah agak ngambek ke sahabat karena dia keceplosan mengatakan satu film yang saya belum tonton memiliki twist-ending. Menurut saya itu spoiler. Menurut Anda bagaimana?07869dcc136bcb9f1ee65ef96ccff094-funny-funny-funny-funny-stuff

Konsistensi (Yang Bukan Sekedar Eksistensi)

Beberapa waktu lalu, seorang teman tiba-tiba mengirimkan pesan lewat WhatsApp tanpa ba-bi-bu sebelumnya. Dia berkata dan bertanya, “Hebat ya, kalian di Linimasa bisa konsisten ngeblog terus setiap hari. Kok bisa?”

Berhubung yang bertanya adalah salah satu teman dekat, maka saya cuma menjawab: “Thanks, tapi ade ape gak ada ujan gak ada angin tau2 ngomong gini?”

Dia jawab, “Gaaak. Gue mau mulai ngeblog lagi. Tapi udah lama absen. Jadi sekarang bingung mau nulis apa.”

Lalu saya points out beberapa hal yang bisa dia tulis, terutama terkait aktivitasnya sehari-hari di lingkungan kerjanya. Dan juga beberapa projects yang akan dia luncurkan beberapa bulan ke depan.

Dia bilang, “Hehehe. Tapi lagi gak mood nulis seperti itu. Pengen yang lain. Kalian kok bisa konsisten gitu sih?”

Saya terdiam dulu sejenak. Lalu menjawab, “Ya gak setiap hari juga. Udah sering banget bolongnya. Dan sejujurnya sih, seringnya malah bingung mau nulis apa. Kadang malah, pokoknya nulis aja dulu. Yang penting ada terus. Yang penting gak kosong. Jangan sampai berhenti nulis terlalu lama, nanti malah susah kalau mau mulai lagi. Lagian, kalau kosong kelamaan kan gak enak juga.”

Lalu dia jawab “Iya sih”, sebelum kami beralih ke topik pembicaraan yang lain.

Saya lupa sumbernya apa dan dari mana persisnya, tapi dulu saya pernah membaca dan mendengar sebuah kutipan bernada sinis, sekaligus lucu. Kutipan in datangnya dari seorang aktor, yang sedang membahas betapa remeh-temehnya film awards atau penghargaan untuk insan perfilman baik di level dunia maupun lokal.
Kurang lebih kutipannya seperti ini:

“Hell, they even give you an award if you’re a whore and stay being a whore for years without a break!”

Terdengar kejam, memang. Tapi sekaligus menggelitik. Dan sedikit banyak ada benarnya juga.

Bukankah memang banyak penghargaan, terutama dalam atau terkait dengan bidang seni, diberikan karena sang pelaku bisa bertahan hidup dan berkarya selama puluhan tahun? Tidak ada yang salah memang. Sama sekali. Toh memang kesetiaan perlu dihargai.
Dan kalaupun sang tokoh sudah tidak berkarya namun masih hidup dan masih diperbincangkan karya-karya lamanya, maka ada lifetime achievement award yang menanti.

Kenapa semua ini ada?
Karena memang susah sekali untuk bertahan dan berkarya secara konsisten terus menerus, tanpa henti.

Apalagi di masa sekarang, di mana konsentrasi acapkali terganggu oleh distraksi. Apapun itu bentuknya, apapun itu sumbernya. Akhirnya, tidak bisa fokus dalam mengasah talenta yang dimiliki. Tidak bisa telaten menekuni apa yang sudah diniatkan untuk dikerjakan secara rutin.

Sudah terlalu banyak contoh yang ada di sekitar kita yang menunjukkan bahwa mempertahankan rutinitas berkarya itu tidak mudah. Banyak potensi yang baru muncul, lalu tenggelam begitu saja.
Apa kabar Dijah Yellow?
Apa kabar duo Keong Racun?

Akhirnya banyak yang memilih bidang lain untuk terus hidup. Tentu saja ini tidak salah, karena bagaimanapun, bertahan di satu profesi bukanlah mutlak keharusan.

Namun bagi mereka yang ingin terus bertahan, maka konsistensi tidak lagi sekedar berkata “Here I am”, karena semua orang mengatakan hal yang sama. Konsistensi berkarya berarti menyerap perubahan di sekitar, lalu mencoba mengaplikasikannya dalam karya. Dalam kata lain, berani gagal.

Salah satu dosen saya waktu kuliah pernah menantang kami. Dia bertanya, “What can you say when I mention the name Andrew Lloyd Webber?”
Kami langsung menyebut beberapa nama karya pertunjukannya yang terkenal, seperti “Cats”, “Phantom of the Opera”, “Jesus Christ Superstar”, dan beberapa lainnya.
Dosen kami mengangguk, lalu melanjutkan, “Of course. Those are his blockbusters. But what if I mentioned shows like “The Likes of Us”? “Jeeves”? “Tell Me on a Sunday”? These are his lesser known works. Why lesser known? Because they are failures. Critically, and commercially. But did he stop? No. Did he continue making new ones? Yes. Otherwise you won’t be able to mention those shows you all just mentioned.”

Berani berkarya berarti berani gagal mencoba. Di depan umum. Dengan resiko dicemooh habis-habisan, dikatai habis-habisan.

Namun itulah resiko yang harus ditempuh seorang pekerja seni. Apakah Madonna bisa bertahan selama hampir 40 tahun di dunia musik kalau, taruhlah sampai pertengahan 90-an, dia masih menjual seks sebagai komoditi utama? Tentu tidak. Eksploitasi seks menjadi komoditas utamanya cukup sampai di awal 90-an, lalu pada pertengahan 90-an banting setir menjadi wanita anggun dengan musik balada a la Evita Peron. Tak berapa lama kemudian, di akhir 90-an ganti lagi menjadi hippie Hindu, sampai akhirnya kita lose tracks dengan segala perubahan image yang dia ambil.

Madonna, obviously.

Apakah semuanya berhasil? Tentu tidak. Apakah dia berhenti? Tentu tidak.

Konsistensi berkarya di satu bidang tidak berarti terus menampilkan karya yang sama setiap saat. Kita bukan Adele, karena cukup hanya ada satu Adele saja di muka bumi ini. Siapakah kita? Jangan khawatir. Kita sama-sama cari, selama kita tidak pernah berhenti mengeksplorasi apa yang bisa kita lakukan, dan menampilkannya di depan umum.
Tidak ada tanggapan? Jangan khawatir. Terus berbuat, terus berkarya.

Ingat film Julie and Julia beberapa tahun silam? Film ini berkisah tentang blogger Julie Powell, yang setelah peristiwa 9/11 merasa kehilangan semangat hidup. Lalu dia menemukan buku masakan karya juru masak legendaris Julia Child. Lalu Julie memutuskan untuk memasak setiap resep yang ada di buku Julia Child selama setahun. Berarti 524 resep dalam 365 hari. Tanpa henti. Dan menuangkan pengalamannya di blog.

Amy Adams as Julie Powell in Julie & Julia.

Siapa yang membaca blognya di hari-hari pertama? Tidak ada. Di minggu berikutnya? Hanya ibunya. Lalu kapan mulai ada komentar di blognya? Setelah lewat dari satu bulan. Berarti setelah Julie memasak lebih dari 30 resep, dan menuliskannya satu per satu di blog.

Sampai akhirnya blog ini menjadi buku, dibuat jadi film, dan mendapat nominasi Oscar untuk Meryl Streep.

Still, the journey to Oscar begins with one food, one blog post, and zero comment.

Konsistensi selalu dimulari nol, bukan dari satu. Toh yang penting: kita mulai, dan kita tidak berhenti.

Saya lagi suka mengikuti vlog Arun Maini di Youtube. Dia menggunakan username “Mrwhosetheboss”. Awalnya karena saya perlu mencari panduan ulasan smartphone. Iseng-iseng klik di salah satu video. Lalu saat video dimulai, saya kaget. Astaga, suaranya! Sangat merdu. Intonasi dan lafal pengucapannya sangat jernih dan jelas.

Semakin terkejut saat saya tahu bahwa dia adalah pemuda berusia 21 tahun di Nottingham, Inggris. Baru mulai mencoba bikin video dan bergabung di Youtube tahun 2011, karena dia suka mengutak-atik ponsel. Lalu sering dimintai tolong oleh anggota keluarganya mengenai gawai dan piranti elektronika lainnya.

Akhirnya dia iseng membuat beberapa video tentang ponsel yang dia pakai. Lalu dia ketagihan. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk mengunggah atau upload video apapun setiap hari. Ya, setiap hari! Tanpa henti.

Mulai dari review, gaming, aplikasi, dan beberapa video tentang dirinya sendiri. Blak-blakan dia mengakui kalau akunnya pernah diretas (hacked), sedih saat mendapat hujatan di komentar sampai akhirnya merasa biasa saja, dan having fun saat orang-orang menanyakan kehidupan pribadinya.

Sampai akhirnya dia menjadi salah satu pengulas gawai terkemuka di dunia, dengan lebih dari 650 ribu subscribers, dan total views video sudah lebih dari 130 juta sampai tulisan ini dibuat. Angka yang fantastis dalam kancah ulasan gawai.

Konsistensi memang selalu menjadi kunci. Karena tanpa konsistensi, eksistensi diri kita akan habis terkikis, sampai tidak teringat lagi.

Jangan Paksa Aku Jadi Dermawan

MEKKAH saja banjir, apalagi Balikpapan.

Kalimat ini dilontarkan Abdulloh, Ketua DPRD Kota Balikpapan pekan lalu.

Sekilas, tak ada yang salah dari pernyataan tersebut. Namun kemudian menjadi terdengar keliru dan tidak simpatik karena disampaikannya ketika kota di Kalimantan Timur yang pernah meraih predikat “The World’s Most Lovable City” dari WWF, dan “Indonesian Most Livable City” itu tengah dilanda banjir parah.

Banjir Balikpapan! Foto: Kaltim Tribun News

Keliru, sebab terdapat logical fallacy di dalamnya. Mengapa Abdulloh menjadikan Mekkah sebagai pembanding, dan mengesankan bahwa apa yang bisa terjadi di sana wajar pula terjadi di kota lain meskipun berada di benua, memiliki zona iklim, maupun lingkungan geografis yang tak sama?

Konteksnya tentu berbeda antara menempatkan Mekkah sebagai kota suci bagi umat muslim, dan sebagai salah satu kota besar dunia seperti yang lain. Oleh karena itu, walaupun sama-sama diterjang luapan air, penyebab serta penanganan banjir di Mekkah dan Balikpapan pasti tidak sama. Termasuk bentuk-bentuk tanggapan dan komentar warga setempat.

Tidak simpatik, sebab pernyataan tersebut dikeluarkan Abdulloh yang merupakan seorang pejabat negara/pimpinan para anggota legislatif/wakil rakyat kota Balikpapan mengenai prioritas antara anggaran penanganan banjir dan anggaran pembangunan gedung baru DPRD, kala banjir masih menggenangi beberapa kawasan di kota tersebut.

Sisi “positifnya”, setidaknya Abdulloh mengatakan pendapatnya secara jujur. Bukan malah bermanis bibir demi para warga Balikpapan yang jadi korban banjir, dan justru malah mengejar hal berbeda di belakang publik.

Di waktu yang hampir bersamaan, sebagian wilayah di negara bagian Texas, Amerika Serikat juga diporak-porandakan Badai Harvey, lalu dilumpuhkan oleh banjir besar yang lebih parah daripada di Balikpapan. Air belum lagi surut, muncul lagi masalah sosial baru di sana. Ketika seorang pemimpin gereja besar dan terkemuka, dituding kurang punya empati lantaran tidak tanggap membuka areal megachurch-nya menjadi tempat pengungsian para korban. Terlebih para lansia, wanita, dan anak-anak.

Mendapat tudingan sedemikian keras dan kontradiktif dengan reputasinya selama ini, Joel Osteen, sang pimpinan gereja langsung gelagapan memberi tanggapan.

Ada dua alasan yang disampaikannya. Pertama, ia menyebut gereja berkapasitas 16.500 orang itu juga rentan terancam dampak banjir, meskipun berada di kawasan yang relatif kering. Semestinya, tentu ada penjelasan teknis yang menyertai alasan tersebut.

Alasan kedua, dan yang kedengaran konyol hingga membangkitkan kekesalan masyarakat adalah, ia mengaku pihaknya tidak pernah diminta atau bahkan dikabari agar segera membuka pintu menampung para korban banjir. Pembelaan ini jelas tidak berarti sama sekali, sebab ada banyak tempat umum lain seperti rumah-rumah ibadah termasuk masjid yang langsung responsif menyediakan tempat berteduh sementara tanpa diminta oleh siapa pun.

Dari dua ilustrasi di atas, jangankan berbicara untuk lingkup sekota Balikpapan atau korban banjir Badai Harvey di Texas, keengganan untuk memberi dan berbagi juga terjadi di lingkup personal, antara kita dan orang atau makhluk lain. Hanya saja, kerap disalahpahami dan malah diperparah dengan stigma.

Selalu ada alasan dan latar belakang yang mendorong tindakan atau perbuatan seseorang. Selalu ada yang ingin dicapai, dirasakan, maupun diperoleh dari tindakan atau perbuatan tersebut. Alasan dan latar belakang itu yang berubah menjadi kehendak, membuat seseorang mau melakukannya atau tidak.

Di tingkat paling mendasar, seseorang bertindak atau berbuat sesuatu untuk memenuhi kebutuhannya, dan karena itu lazimnya setiap orang cenderung melakukan hal-hal yang akan menyenangkan dirinya saja.

Begitu pula saat memberi dan berbagi. Sejak kecil kita sudah diajari, bahkan didoktrin tentang pentingnya bersikap murah hati, menjadi dermawan, berbagi dan membantu sesama. Beragam dalil pun ditanamkan. Mulai dari budi pekerti dan penjelasan-penjelasan mengenai tata krama berkehidupan sosial (“membantu, siapa tahu nanti perlu bantuan”, “jangan pelit”, nama baik), sampai menggunakan perspektif agama (“tuhan memerintahkan umatnya untuk membantu sesama”, bernilai ibadah dan konsep pahala-dosa-surga-neraka, kekuatan doa orang-orang yang dalam kesusahan). Semuanya bermuara pada anggapan bahwa mereka yang memberi dan berbagi adalah orang-orang baik. Sebaliknya, orang yang tidak mau memberi dan berbagi adalah orang-orang tercela.

Foto: Acehinfo

Semua pengajaran itu yang terbawa sampai dewasa. Sehingga ada yang mau memberi dan berbagi untuk tujuan tertentu. Ada yang merasa senang saat melakukannya—entah apa pun bentuk perasaan senang tersebut (merasa sudah menimbun pahala; merasa sudah melakukan sesuatu yang sangat penting bagi orang lain; mendapatan popularitas dan kemasyhuran; dan sebagainya), ada yang melakukannya dengan pamrih, ada yang melakukannya karena merasa iba dan kasihan, tetapi ada juga yang melakukannya benar-benar demi membantu sang penerima lantaran menganggap tindakan itulah yang sepatutnya dilakukan.

Sementara seseorang tidak akan mau memberi dan berbagi apabila: (1) tak terasa menyenangkan baginya, atau (2) tak bermanfaat apa-apa bagi diri dan kehidupannya.

Misalnya, kenapa kita jauh lebih mudah memberikan tip di kedai kopi, atau meninggalkan uang kembalian setelah bersantap di restoran, dibanding memberikan receh kepada pengamen? Ya sesederhana kita memang tidak mau saja.

Di kafe dan restoran, kita merasa puas atas sajian dan pelayanannya. Kita memberi karena senang. Sedangkan kepada pengamen, kita seringkali merasa terganggu dan memberikan receh agar mereka lekas beranjak. Kecuali jika nyanyiannya bagus.

Egois? Tentu saja! Selama masih ada “aku”, setiap orang pasti egois dengan kadar yang berbeda-beda. Mulai dari yang paling kasar dan vulgar, sampai yang paling halus. Toh ketika seseorang berbuat baik dan mengharapkan pahala, ia jelas-jelas menginginkan kebaikan bagi dirinya. Bukankah itu juga termasuk EGOis?

Lalu, di manakah keikhlasan berada? Tampaknya mustahil ada pada kita, tatkala masih terbelit dengan alasan dan latar belakang, kehendak, dan niat dalam melakukan sesuatu.

Kalau mau memberi, ya beri saja. Sesudah itu lupakan.

Bisa?

Pada akhirnya, peduli setan dengan niat dan alasan yang mendorong seseorang untuk memberi dan berbagi. Sebab yang terpenting, orang-orang yang kesusahan sudah mendapatkan bantuan yang dibutuhkan. Perut yang lapar menjadi kenyang, kulit tubuh tak lagi menggigil kedinginan, pikiran yang tadinya kalut dan putus asa pun akhirnya kembali dipenuhi harapan… dan bantuan yang telah diberikan, setidaknya masih bisa diumumkan dan dikenang. Sampai dibuatkan monumen peringatan.

Terus, kenapa kok tidak membahas Rohingya dan rencana aksi pengepungan Borobudur?

Males…

[]