Harap Maklum dan Terima Kasih

BUAT kamu yang senang, terlalu sering, atau barangkali memang hobi mengeluhkan banyak hal dalam hidup, apa enggak berasa capek ya?

Pertanyaannya, apa sih yang memicu atau menyebabkanmu mengeluh, dan mengapa kamu harus mengeluhkan hal tersebut, apalagi kalau terlampau sering?
Apakah kehidupanmu memang sebegitu tidak nyaman?
Apakah sekadar refleks emosional dan memerlukan pelampiasan?
Apakah keluhan yang kamu utarakan tersebut bisa berdampak baik dan mengubah hasil dari keadaan sebelumnya?
Apakah dengan mengeluh membuatmu merasa sebagai orang penting?
Apakah kamu sedang memperjuangkan sesuatu dengan keluhan tersebut?

Normalnya, keluhan dilontarkan seseorang apabila ada sesuatu yang tidak berjalan sesuai keinginan, bisa juga setelah mendapatkan hasil yang meleset dari perkiraan. Pada intinya, keluhan muncul akibat hal-hal yang tidak menyenangkan. Karena kondisi yang demikian, maka akan menjadi sebuah diskusi panjang untuk menentukan hal-hal apa saja yang dianggap penting dan lazim dijadikan bahan keluhan dalam kehidupan seseorang, serta yang sebaliknya. Entah menyangkut persoalan personal ataukah profesional.

Misalnya, saat terjebak macet di Kuningan. Baik penumpang bus Transjakarta pasti mengeluh. Nah, terus mengeluhnya kepada siapa? Sementara pengendara mobil juga mengeluh dengan cara memencet klakson seakan tidak ada lagi hari esok. Efeknya apa? Diri sendiri tetap merasa kesal, dan orang lain pun bisa ikut-ikutan panas hati mendengarnya. Seheboh apa pun keluhan yang dicetuskan, tetap saja terjebak dalam kemacetan.

Kalau macetnya karena ini, terus mau mengeluh bagaimana dan ke siapa? Foto: Kompas

Berbeda kasusnya ketika kita mengeluhkan inkompetensi dalam hubungan kerja, bukan sekadar urusan siapa yang menggaji siapa, atau siapa atasannya siapa, melainkan apa solusinya untuk mengatasi hal yang dikeluhkan tersebut supaya damage dan post-event damage bisa dibuat seminimal mungkin. Urusan sanksi dan sebagainya, dijalankan belakangan, setelah perkaranya rampung atau tidak semendesak sebelumnya. Idealnya begitu.

Tak selamanya keluhan selalu bersifat negatif dan memunculkan situasi yang canggung bagi orang-orang yang terlibat di dalamnya. Keluhan yang tepat, baik dalam pesan yang disampaikan, tujuan dan cara menyampaikan, serta respons penerima, bisa menjadi semacam kritik membangun yang berdampak baik bagi semua pihak. Hanya saja sudah banyak yang telanjur mengidentikkan keluhan dengan kemarahan. Pokoknya mengeluh itu berarti marah. Sehingga pihak yang mengeluh lebih fokus ke meninggikan nada bicara, atau memojokkan pihak lain dengan kata-kata dan argumentasi tanpa memberi jeda untuk penjelasan, atau berteriak dan melotot dengan raut wajah mengerikan, serta sejenisnya.

Sedangkan pihak yang menerima keluhan pun lebih fokus untuk mempersiapkan tenaga dan perhatian untuk membendung serangan kemarahan yang datang. Alih-alih mencoba memahami pesan dalam keluhan yang disampaikan, mengambil posisi mempertahankan diri, defensif, supaya tidak bonyok.

Sikap marah dan defensif dari kedua pihak inilah yang menyebabkan proses komunikasi tidak berjalan maksimal. Yang konyolnya, seberapa sengit pun, tetap tak akan mengubah apa yang sedang/sudah terjadi.

Saking marahnya, kadang-kadang inti masalah yang dikeluhkan malah menjadi kabur, roaming ke mana-mana yang sebenarnya tidak ada sangkut paut dengan topik utama. Seperti yang terjadi ketika ada pasangan berpacaran yang berantem. Dari satu masalah sepele, merembet ke urusan lain yang sebenarnya enggak penting-penting amat dan telah dilupakan.

Selain amarah dan rasa kesal, keluhan juga bisa dibarengi perasaan-perasaan negatif sejenis lainnya, seperti kekecewaan, kebencian, keserakahan, kesombongan, maupun iri hati dan dengki. Bukannya memberikan manfaat, keluhan justru menjadikan kita individu yang lemah hati, serta merasa sok penting.

Merupakan hal yang alamiah apabila kita tidak bisa mengendalikan segalanya dalam hidup ini supaya berjalan sesuai keinginan, dan berujung pada hasil yang kita harapkan. Kalaupun ingin mengeluh, silakan diperjelas kepada siapa tujuannya. Mengeluh kepada seseorang yang telah melakukan kesalahan atau tidak profesional, mengeluh kepada diri sendiri, jangan malah mengeluh pada keadaan yang berarti tak jelas siapa sasarannya. Sebab energi, perhatian, dan waktu sangat mubazir untuk dihambur-hamburkan untuk sesuatu yang tidak jelas ujung pangkalnya.

Jangankan mengeluh, mendengar atau bergaul dengan orang-orang yang penuh keluhan saja bisa bikin melelahkan, kan?

Di sini, saya tidak akan bilang “jangan mengeluh” sebab itu mustahil. Manusia adalah makhluk dengan perasaan. Sangat lumrah untuk merasa tidak puas terhadap sesuatu dan mengeluhkannya, asal tak sampai di-abuse secara berlebihan. Saring terlebih dahulu, baru mengeluhlah kemudian. Yang membedakannya, sekali lagi, adalah bagaimana keluhan itu disampaikan.

Selain sikap bersyukur (yang sungguhan, bukan yang melibatkan kesombongan terselubung), kita juga memiliki kemampuan memberi toleransi atau pemakluman atas segala sesuatu.

Setiap orang memiliki batas maklumnya masing-masing, serta patokannya sungguh personal dan subjektif. Ada yang gampang merasa dibuat tidak nyaman, ada yang lebih bermental baja dan tidak cengeng menghadapi hal-hal tidak menyenangkan, ada juga yang tak acuh dan tidak peduli dengan apa yang terjadi sampai akhirnya berlalu.

Khusus mengenai ini, saya sangat bersyukur sempat dikenalkan istilah “tenggang rasa” dan “tepo seliro” saat bersekolah dulu. Sebab tak hanya mengingatkan saya pentingnya bersikap simpatik terhadap keadaan orang lain; melatih diri membayangkan jika tengah berada di posisi orang lain secara wajar supaya tidak dimanfaatkan untuk iba dan kasihan. Mencoba untuk lebih chill sebagai salah satu keterampilan hidup yang penting. Biar tidak menambah beban diri dalam menjalani hidup yang sudah cukup kompleks ini. Learning in progress. Masih belajar dan berlatih.

Satu hal penting lainnya, ada kalanya kita mengeluhkan orang lain, tetapi pasti ada saatnya pula kita dikeluhkan orang lain. Terserah mau sepercaya diri apa pun, mau sesombong apa pun, mau se-“banyak gaya” apa pun kita, momen itu tak akan terhindarkan. Ada keluhan yang benar-benar penting diperhatikan, juga ada keluhan yang remeh dan tidak lebih dari sekadar untuk mengganggu kita.

Oleh sebab itu, maklumin aja. Move on ke urusan lainnya.

 

 

 

 

 

 

 

[]

Posted in: @linimasa

4 thoughts on “Harap Maklum dan Terima Kasih Leave a comment

Tinggalkan Balasan