We Are Not “Every Body”

Pengakuan: saya baru sembuh dari sakit. Atau sebenarnya ini belum sembuh total, tapi masih membaik? Entahlah. Tapi yang jelas, saya sudah merasa lebih baik dibanding dua minggu lalu. Sudah beraktifitas hampir seperti sedia kala, meskipun belum bisa berolahraga terlalu berat.

Sakit apa? Ini pengakuan lain: saya punya kadar asam urat yang terlalu tinggi dalam tubuh. Ketika kadar asam urat ini tidak bisa diuraikan, maka dia akan mengkristal di persendian. Kristal ini akan bersemayam dan bisa menggumpal di sana, sehingga persendian bisa membengkak. Persendian ini bisa di tangan, bisa di kaki. Pokoknya anggota tubuh kita yang mempunyai joint. Kalau saya, di pergelangan kaki.

Saat ada penggumpalan kristal di persendian, maka persendian tersebut tidak bisa digerakkan, karena rasanya sakit. Sakit sekali. Seakan kaki dihantam oleh paku dan martil perlahan-lahan dari dalam. Akhirnya, untuk sekedar menekuk kaki sulit. Apalagi digerakkan untuk berjalan.

Kristal hasil kelebihan asam urat ini memang bandel. Agak susah untuk diuraikan. Bukan tidak mungkin, hanya cukup susah saja. Asal tidak memasukkan bahan makanan yang mengandung protein tinggi ke dalam tubuh, karena tubuh justru memproduksi terlalu banyak protein yang tidak bisa terurai.

Pengkristalan asam urat ini bisa dikeluarkan lewat urin. Dan urin kita keluarkan saat kita buang air. Pendorong agar kita buang air adalah minum air putih. Alhasil, selama 2 minggu terakhir, saya minum air putih sebanyak 3 sampai 4 liter setiap hari, tanpa henti.

Terus terang saya sempat kesal, karena penyakit ini menyuruh kita untuk buang air sesering mungkin, sementara untuk berjalan kaki ke kamar mandi susahnya sudah luar biasa. Jarak dari kamar ke kamar mandi yang kurang dari 10 meter bisa saya tempuh dalam waktu 10 menit karena harus jalan sangat pelan, atau kalau bisa, “ngesot”.

Kekesalan ini sempat bertambah, saat saya sadar bahwa serangan ini datangnya berjarak 10 bulan dari serangan terakhir. Ya, dalam 5 tahun terakhir, saya menghitung setiap satu tahun sampai 1,5 tahun, serangan kelebihan kadar asam urat ini menyerang saya. Hanya saja, yang terakhir ini jaraknya makin pendek. Kalaupun ada “keuntungan” dari seringnya kena penyakit yang sama berkali-kali, kita sudah tahu what to do, what to take, what to act.

Saya tahu ketika serangan hampir mencapai puncaknya, tahu obat apa yang bisa menimbulkan alergi, dan tahu kira-kira apa yang akan terjadi dalam beberapa hari ke depan. Meskipun begitu, tetap saja saat puncak fase serangan ini menyerang tubuh, saya merasa kesakitan luar biasa. Sampai akhirnya cuma bisa menjerit dan menangis jam 2 pagi, sebelum pingsan 2 jam kemudian di perjalanan menuju rumah sakit.

Beruntung saya dikelilingi orang-orang baik. Teman-teman yang mau membantu dan datang menghibur.
Salah satu teman malah heran, “Bukannya belakangan ini elo malah hidup lebih sehat? Frekuensi lari makin rutin ‘kan? Dan elo juga gak makan yang aneh-aneh deh, setahu gue.”
Saya cukup menjawab dengan huruf besar semua, “ITULAH!”
Lalu setelah cukup tenang, saya tambahkan, “Gue juga heran. I thought I’ve done everything I could. Olahraga rutin, jaga makanan, cukup minum air putih, tapi kok ya masih kena serangan asam urat ini.”

Menanggapi pertanyaan tadi, saya hanya bisa berspekulasi. Mungkin ini karena makan nasi pecel setiap hari selama lebih dari seminggu bulan lalu. Mungkin karena kadang-kadang masih bandel makan cemilan ber-MSG, meskipun frekuensinya jarang sekali, dan selalu diimbangi minum air putih yang banyak sesudahnya. Mungkin ini akumulasi dari berbagai kebiasaan tidak sehat selama berbulan-bulan terakhir. Atau malah bertahun-tahun terakhir, yang dalam beberapa serangan terakhir, ternyata tidak terurai sepenuhnya.

Tetapi dari semua spekulasi tadi, akhirnya saya menarik kesimpulan yang mungkin terdengar “dangkal”, yaitu: semua orang lahir dan tumbuh dengan tubuh yang berbeda-beda. Everybody is born with different bodies from each other. No two bodies are ever the same. Everybody does not have every similar body. Everybody has their own very distinctive body.

Terkesan seperti pembenaran belaka? Bisa jadi.
Terdengar seperti lame excuse? Possibly.

Yang jelas, fakta bahwa tidak ada manusia yang terlahir dengan kondisi tubuh yang sama, akhirnya baru akhir-akhir ini saja saya sadari sebenar-benarnya, dan harus diterima sepenuhnya tanpa protes.

Menerima dengan lapang dada kalau ada teman yang masih merokok sekotak penuh setiap hari, minum teh manis setiap selesai makan, jarang berolahraga, tapi tidak pernah sakit. Mungkin waktu kecil sampai remaja dia sudah hidup sehat dan rajin olahraga, sehingga tubuhnya sudah kebal terhadap berbagai penyakit. Mungkin saja ‘kan? Mungkin juga saya yang telat, karena baru menyadari pentingnya berolahraga rutin setelah melewati pertengahan umur 20-an.

Kalau mendengar cerita, “eh, nenekku umur 95 tahun masih makan Chiki setiap hari, dan gak pernah sakit sama sekali tuh!”, maka saya berpikir positif saja. Mungkin dari kecil beliau sudah terbiasa dididik untuk tidak jajan sembarangan, banyak berolahraga, karena jaman dulu memang pilihan makanan ringan sangat terbatas, dan anak kecil lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah.

Kalau ada teman seusia yang dengan bebas makan apa saja, seperti kacang mente, emping melinjo, kepiting dan makan makanan yang jadi pantangan penderita penyakit seperti saya, dan makannya di depan saya, sabar saja. Anggap saja sebagai ujian kesabaran. Toh masih bisa makan makanan lain, seperti saat kami beramai-ramai ke restoran makanan laut, teman-teman saya makan kepiting, dan saya makan … Apple Pie.

Kalau ada teman yang masih suka makan junk food dan fast food, menghabiskan separuh hari dengan duduk di belakang meja, namun tidak ditemukan penyakit berbahaya di dalam tubuhnya, that’s a good news, bukan? Mungkin dia punya rutinitas lain yang cukup atau sangat sehat untuk menopang gaya hidup yang seperti itu, yang kita tidak tahu.

Ketahanan tubuh setiap orang berbeda-beda. Makanan yang sama akan diproses secara berbeda di setiap orang, karena kemampuan mencerna setiap tubuh juga berbeda-beda.
Itulah kenapa tidak ada produk perawatan muka yang bisa cocok digunakan untuk semua orang. Satu produk yang sama, bisa membuat kulit muka jadi cerah di satu orang, sementara di orang lain, malah jadi kusam.
Satu obat bisa menyembuhkan, sementara obat yang sama malah bisa menimbulkan reaksi alergi di orang lain.

Saat sakit dan saat sadar bahwa tubuh kita rentan terhadap penyakit, memang susah untuk tidak merasa iri kepada orang lain yang sedang sehat. Toh rasa iri tidak akan membuat kita sembuh. Yang harus kita lakukan adalah mendengar apa yang tubuh kita perlukan. Bukan nafsu.

Saat kita lapar tengah malam, apa kita benar-benar lapar, atau sekedar ingin mengecap sensasi rasa manis sesaat? Tunggu sekitar 10-15 menit. Kalau masih lapar, coba atasi dengan minum air putih segelas. Biasanya rasa lapar akan perlahan menghilang. Kalau ternyata masih ada, maka coba gigit buah seperti apel atau pisang. Segigit saja. Lalu kunyah dan tunggu. Minum air putih. Mungkin bisa membantu sambil berpikir bahwa semakin banyak makan saat lewat tengah malam, semakin susah untuk mulai tidur lagi. Sementara tidur, well, it is probably the most affordable cure of many illnesses.

Untuk bisa dekat dan mendengarkan tubuh kita sendiri, perlu proses yang harus dijalani pelan-pelan. Untuk mengetahui makanan apa yang layak untuk tubuh kita, mau tidak mau kita harus mencobanya. Untuk dapat melakukan latihan fisik yang paling pas untuk kondisi tubuh kita, mau tidak mau kita harus mencoba berbagai jenis olahraga yang memungkinkan.

Karena kita tidak akan tahu sampai kapan kita bisa hidup.
Yang penting, we make our life worth living.
And that is by knowing our body wholeheartedly.

Always have a good life, everybody!

Advertisements

8 thoughts on “We Are Not “Every Body”

  1. Katanya sih, semua penyakit sumbernya dr pikiran. Mungkin masnya kurang enjoy sm gaya hidup sehat yg dijalanin. Kurang happy gitu.. Jd marah bgt waktu udah cape2 berusaha untuk hidup sehat tapi ternyata masi kena sakit juga. Gue percaya gaya hidup sehat emang penting, tapi kewarasan jiwa lebih penting buat gue. Tapi itu buat gue sih gatau dah orang lain. kan, we’re not everybody :p

    Anyway. Get well soon mas naufal!

  2. ati ati ke ginjal mas.. asam urat tinggi biasanya di ikuti dengan batu ginjal apabila ditambah dengan konsumsi air minum yang rendah.

    btw salam dari alopurinol

  3. Kadang menurutku hidup ya begitu sih, pinter-pinternya nyari pembenaran yang bisa membesarkan hati sendiri saat melihat “kok dia begitu padahal begini” atau “kok dia bisa dapat segitu padahal usaha yang kita keluarkan sama.”

    Semoga lekas pulih mas Nauval.

    • Pembenaran itu akhirnya jadi self-defense mechanism kita ya. Jadi tameng untuk melindungi diri. Padahal ya kadang2 kita sekedar cari alasan aja, hahaha.
      Terima kasih buat doanya.

Leave a Reply