Sebatang Kere

Maafkan saya. 

Selama bulan puasa saya sibuk menggunggah banyak sekali foto keceriaan buka bersama teman SMP, SMA, Kuliah (sebelum DO), Kuliah (hingga lulus,.. eh lolos), kantor tempat kerja pertama kali, kantor saat ini, keluarga besar dari ibu, keluarga besar dari bapak.

Maafkan saya.

Selama bulan puasa, setiap hari, saya rajin mengunggah di path, twitter, facebook, zomato, foto berbuka yang jarang saya lahap saat hari biasa. Sederetan sajian berbuka yang manis dan lucu, juga enak diajak ngobrol dan ndak baperan. Melimpahnya sajian istimewa makanan cepat saji, kolak, manisan, korma ajwa, sayur lodeh, paru goreng, pho, pizza, pasta, nasi ayam jagoan, dendeng batokok, gajeboh, ayam likku, barongko, lotek, semur jengkol, hingga indomie. Baik saya unggah usai berbuka maupun di siang bolong. 

Maafkan saya.

Lewat whatssapp grup senantiasa menampilkan ayat-ayat suci alquran, petuah orang bijak, kutipan ustad pengusaha, motivator botak dan zuper, juga kalimat berbau surga yang mudah dan keren ditampilkan tapi susah dijalankan. 

Juga maafkan saya.

Memamerkan tiket kereta api, voucher hotel dan rute serta foto-foto selama perjalanan mudik. Termasuk warung, penginapan, toilet pom bensin, toilet hotel, wajah pemudik, peta perjalanan, dan banyak bukti yang menunjukkan saya sedang pulang.

Oh iya.

Maafkan saya.

Selama di kampung halaman saya menampilkan foto halaman rumah saya yang wah, wajah keluarga besar saya yang asik, juga kegiatan takbiran yang takzim, acara sungkeman penuh syahdu. Banjir cucuran air mata. Pakaian seragam keluarga kami yang tiada duanya, interior rumah yang menarik, dan terutama tumpukan angpau kami yang berebut dibagikan kepada ponakan, tetangga dan keluarga jauh. 

Maafkan saya jika semua ini disampaikan kepada Anda tanpa pernah bertanya. Anda (terpaksa me) lihat dan ternyata dengan ikhlas disematkan tanda lope-lope, like, retuit, maupun komentar pujian. 


Saya ndak terlalu pusing dengan makna puasa. Saya ndak perlu mikir untuk mengambil hikmah apa itu lapar dan dahaga, apalagi menahan nafsu syahwat. Saya menjalani ritual bulan puasa sama dengan yang lain. Sahur, berbuka, ibadah, mudik, membagikan THR, membayar zakat, dan sholat ied di tanah lapang, lalu sungkem dan menangis. 

Uang bisa dicari lagi. Membeli baju baru, sepatu keren, kaftan menjurai, parfum impor, dan hape teranyar adalah bagian dari kemeriahan saya dalam menjalankan perayaan agama. Tak perlu banyak ngirit jika ada alasan tepat bahwa hari kemenangan harus dirayakan dengan penuh suka cita. 

Jika ternyata di antara pembaca ada yang lebaran dengan sahur seadanya, menjalankan siang hari penuh aktivitas, berbuka di rumah, kamar kos, pantry kantor dengan menu ala kadarnya, tanpa pernah di-tag akun teman, maka itu di luar kendali saya. 

Apalagi jika ada pembaca yang budiman kehabisan tiket, THR yang tak penuh dibayarkan, tak sempat mudik, bahkan malam takbiran sendirian, itu semata-mata adalah kebetulan. 

Tapi percayalah.

Lebaran bukan hanya milik mereka yang dilimpahkan kesenangan dan keceriaan bersama sanak famili. 


Lebaran juga milik orang-orang yang terlupakan. Malam lebaran sebatang kara. 

Orang-orang yang tak sanggup untuk pulang. Tak kuasa untuk berbagi keceriaan. Mereka (atau kita) yang memilih untuk memaknai lebaran dengan cara yang beda. Karena pilihan maupun keadaan. Tak apa. Selama duit THR ndak habis buat beli arloji kemahalan. 

Jika terlanjur, maka Anda adalah sebatang kere. 

Selamat menikmati suasana liburan dan lebaran. Iya kamu. Kamu kamu kamu dan kamu. 

Salam anget dari saya,

Oy Ayul

8 thoughts on “Sebatang Kere Leave a comment

  1. Lebaran yang mestinya puncak dari perayaan kesederhanaan selama berpuasa malah jd pemujaan thdp kefanaan. Dan habis lebaran status pathnya ganti Mas: “Capek, duit habis, tagihan kartu kredit menumpuk. Ngoffee dulu lah.” Sambil posting foto selfie di kafe. Ya sallam.

Leave a Reply