Manusia Adaptif

Lebih dari 10 tahun yang lalu, seorang praktisi periklanan senior berkata bahwa dunia iklan sedang memasuki masa terbenamnya. Lima tahun yang lalu, seseorang yang dianggap sebagai dewa pemasaran mengatakan bahwa TV akan segera usai masa hidupnya di dunia. Dan minggu lalu seseorang bertanya “bagaimana periklanan di masa depan” kepada saya. Yang tentunya saya jawab” kalau saya bisa menjawab pertanyaan ini, pastilah saya akan menjadi orang terkaya di dunia”.

Jelas, sampai sekarang biro iklan masih hidup dan bahkan banyak biro iklan kecil bermunculan. Dan TV tetap menjadi dan dianggap medium paling efektif untuk menyampaikan pesan ke seluruh Nusantara. “Ah, anak sekarang mah udah gak nonton TV walau punya TV, keleus…” Tidak juga, buktinya ketika iklan Marjan di bulan puasa nongol di TV, banyak yang menuliskannya di Path, Twitter dan FB. Artinya? Walau mereka aktif bermedia sosial, tapi mereka juga masih nonton TV.

Atau saat press-con sebuah acara yang murni dilakukan untuk media sosial, press dari mana kah yang datang? Tak hanya wartawan digital, tapi juga majalah, koran dan TV. Secara sederhana bisa ditarik kesimpulan bahwa media klasik tetap dinilai penting untuk menyebarluaskan berita.

Kecuali kita adalah selebrita yang sering nongol di media, saat ada kesempatan tampil di media klasik, bisa dipastikan kita akan mencari majalah, koran atau merekamnya dari TV untuk dijadikan dokumentasi pribadi. Sering pula kemudian dipost di media sosial. Dan tetap akan kita anggap sebagai prestasi. Ya tentunya kalau tampil karena berita positif, buka koruptor misalnya.

Karena pandangan tidak ada medium satu yang lebih penting atau lebih baik dari medium yang lain, membuat saya tidak menganggap penting buku atau seminar yang diawali dengan “the end of…”. Saya percaya manusia dilahirkan untuk beradaptasi. Perubahan-perubahan yang terjadi di sekitar dan manusia di dalamnya, akan membuat semua hal berubah tanpa kemudian mematikannya.

Sama ketika kerusuhan antara taksi Burung Biru dan taksi berbasis digital. Saat itu banyak yang bersumpah tidak akan lagi mau naik taksi Burung Biru. Selain karena dianggap tidak sesuai dengan etika juga tidak bisa beradaptasi dengan zaman. Buat seorang yang praktis seperti saya, semua tergantung kondisi. Apa pun model transportasi yang paling praktis dan memungkinkan pada saat itu, akan saya gunakan. Tak peduli konvensional atau pun digital.

Terbukti belakangan, mulai terdengar santer akan menurunnya pelayanan taksi berbasis digital itu. Mulai dari supirnya yang tak paham jalan, kurang ajar bahkan tindakan kriminal. Atau saat aplikasi sedang error membuat para pengguna geram. Yang paling sering tentunya di daerah-daerah blank spot. Mau nelpon aja susah apalagi menyalakan aplikasi transportasi itu.

Yang sering kita lupakan adalah, apa yang kita sebut unconventional saat ini, akan menjadi conventional di kemudian hari. Dan hal ini akan semakin cepat terjadi karena di dunia seolah berputar lebih cepat dipengaruhi oleh internet. Apa yang tadinya conventional, bisa jadi akan menjadi klasik. Tak seperti dugaan bahwa mereka akan mati dilindas waktu, tapi mereka akan berubah bentuk. Dan bukankah perubahan itu satu-satunya kepastian di bumi ini?

Menjadi manusia yang adaptif, tidaklah semudah yang kita kira. Terutamanya kalau sudah memiliki kenyamanan. Contohnya kenyamanan jabatan. Misalnya, jabatan Creative Director pada biro iklan conventional yang menolak untuk bermain-main dengan media sosial. Akan kesulitan untuk memahami nuansanya. Sementara penjelasan dengan lisan dan tulisan saja mengenai media sosial saja, tidak akan bisa menjelaskan dengan utuh.

Sebaliknya, Creative Director yang langsung terjun ke dunia digital, memiliki kekurangan yang menjadi keunggulan Creative Director konvensional, yaitu pemahaman akan manusia. Creative yang selamanya mengira dunia adalah apa yang terjadi pada timeline media sosial saja, menjadikan dunia tak lebih dari 4 sampai 11 inchi. Sehingga sering kita jumpai, kreasi yang seolah hanya hidup di dunianya sendiri. Dan kemudian kesulitan untuk mencari dan mendapatkan partisipasi. Apalah artinya sebuah ide tanpa kemudian bisa dihidupkan oleh manusia-manusia lain?

Anna Wintour, salah seorang tokoh yang selama ini saya perhatikan sekilas lalu, menjadi menarik untuk diperhatikan sepak terjangnya dengan dunia publikasi yang berubah. Di bawah atap Conde Nast, Wintour melakukan perubahan. Seperti yang disampaikannya di Oxford. Dia tak hanya menyampaikan pandangannya tentang media sosial, tapi juga kesalahan yang dilakukan Conde Nast dalam menyikapi perubahan. Ini penting, karena tidaklah mudah untuk seorang dengan profil tinggi mengakui kesalahan di depan khalayak akademis.

Yang juga menarik saya untuk melihat bagaimana Nigella Lawson seorang juru masak yang selama ini mengusung kenikmatan masakan tanpa mempedulikan soal kesehatan, bisa beradaptasi di tengah dunia yang semakin peduli soal hidup dan makan sehat.

Dari semua buku resep Nigella yang sudah saya baca-baca, bisa dibilang buku terakhirnya Simply Nigella adalah yang paling “sehat”. Sehat dalam pengertian “less carbs, less sugar dan less grains”, tiga bahan yang sering dianggap sebagai sumber penyakit. Banyak resep-resep berorientasi masakan Asia dengan proses makan yang lebih singkat, menjadi sumber inspirasinya kali ini.

81qiT7aEYlLDi kata pengantarnya, Nigella menyampaikan pandangannya mengenai “makan sehat” yang sedang mewabah di seluruh dunia “The Clean-Eating brigade seems an embodiment of all my fears. Food is not dirty, the pleasures of the flesh are essential to life and, however we eat, we are not guaranteed immortality or immunity from loss. We cannot control life by controlling what we eat. But how we cook and, indeed, how we eat does give us – as much as anything can – mastery over ourselves”.

Menjadi manusia yang adaptif, baik pada kemajuan atau yang sudah berlalu, sering dituduh sebagai manusia yang plin-plan. Nor here nor there. Tapi bukankah seperti itulah manusia modern? Yang menjalani hidup #kekinian dengan terus berjuang mempertahankan nilai-nilai tradisi? Tarik ulur yang terus menerus dilakukan sehingga banyak yang sering membenturkan kepalanya sendiri ke tembok. Duh, kasian…

Di Indonesia sendiri, saya belum beruntung untuk bertemu dan berbincang jauh dengan tokoh yang saya anggap cukup adaptif untuk dijadikan contoh di tulisan ini. Pilihannya kalo gak conventional banget atau digital banget. Hitam atau putih. Kanan atau kiri. Hidup atau mati. Surga atau neraka. Di banyak orang bahkan aliran garis keras.

Keadaan semakin bertambah parah karena himbauan untuk beradaptasi seperti hanya ditujukan untuk generasi sebelum digital. Mereka dianggap tua, kuno, usang, sebentar lagi mati. Padahal himbauan yang sama adalah, dan terutamanya lebih penting untuk generasi digital. Generasi digital yang ngotot atau dalam keseharian sering kita sebut “kentjeng” perlahan di depan mata kita mulai tampak berguguran. Tanpa pemahaman akan manusia, percayalah, mau digital mau conventional, sebaiknya disimpan saja dalam laci. Eh, memory bank. Sebelum semakin banyak uang terbuang.

IMG_3876

 


 

Selamat menyambut hari Senin!

 

 

 

Iklan

12 thoughts on “Manusia Adaptif

  1. Adaptif untuk tak tergilas roda zaman itu susah Glenn. Terkadang arah kemajuan juga trend sesa(a)t. Pas mau ikutan, eh yang diikuti ndak kuat-kuat amat pondasinya. Apalagi jika pencapaian era sebelumnya dianggap sudah sukses banget, kita bakalan gengsi untuk “melacurkan diri” mengikuti trend.

    Dari sisi perusahaan, menurutku korporasi kudu berani memiliki divisi khusus, jika memang pangsa pasarnya adalah masyarakat umum – masal, yang isinya adalah para observer maupun native (dibaca: anak muda) yang mengalami sendiri zaman kekinian dan esok.

    Cuma adaptif disini sebetulnya terhadap apanya sih Glenn? Karya-nya? Media penyampaiannya, atau bahkan Pola Pikirnya? Menurut aku sih paling enak ya adaptif dengan berpikiran terbuka untuk banyak menerima ide baru, gaya baru, fenomena kekinian dan tetap mengendapkannya dan menyelaraskan dengan pribadi kita.

    Gitu.
    dan berpikiran terbuka sejatinya adalah peninggalan purba manusia modern.

    ehe hehe hehe.

    Suka

    1. tergantung yang baca aja, adaptifnya mau yang mana.

      kalau dalam kasus kamu, emang kamu susah, roy… apa salahnya dengan yang sasaat atau pun sesat? karena gak kuat pondasinya maka tak boleh diikuti? yang suka gengsi itu bukan “kita”, mungkin kamu aja kali…

      auk ah elap

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s