Lagi Lagi Plastik

Setelah masa mengumandangkan perang ke plastik kresek untuk wadah belanja berlalu, kini saatnya fokus berpindah ke sedotan plastik. Sungguh positif, karena banyak teman di sekitar saya yang jadi secara sadar menolak menggunakannya lagi, dan mulai membeli sedotan yang bisa digunakan ulang, baik terbuat dari bambu atau baja tahan karat. Mudah-mudahan tidak musiman seperti kebijakan tas kresek tidak gratis di supermarket ya. Tapi apakah itu saja sudah cukup? Ternyata belum, loh!

sliver-gold-rose-gold-colour-stainless-steel.png_220x220

Karena seluruh bagian dari frapuccino, atau iced coffee, atau es kopi mantunya tetangga pak Polisi itu ternyata bisa jadi membunuh lingkungan kita perlahan. Jadi, maksudnya kita enggak boleh tanda tangan  petisi online anti reklamasi sambil menyeruput Tuku, gitu?

WhatsApp Image 2018-06-22 at 4.22.30 PM

Ini dari Guardian.com

Tentu tak ada yang melarang. Tapi mungkin ada baiknya kita tau faktanya. Memang gambar dari the Guardian ini ada beberapa yang tidak relevan untuk Indonesia, tetapi banyak yang ya. Seperti jumlah cangkir kopi sekali buang yang memenuhi laut, mungkin kita belum sebanyak Amerika Serikat atau Inggris, tetapi mungkin bisa jadi tidak jauh, dengan sedang trennya es kopi susu dengan gula aren yang memang biasa dibeli oleh layanan ojol dan dikemas dalam gelas plastik. Menyedotnya dengan apa? Tentu sedotan plastik.

Gulanya mungkin tidak setinggi jika kita menyesap minuman dari Starbucks yang bisa diberikan karamel, lalu ditambah sirup lagi, tetapi jika dikonsumsi hampir setiap hari dan tidak diimbangi pola makan sehat tentu tidak akan membuat risiko diabetes, dan teman-temannya (seperti penyakit jantung dan ganggunan ginjal) menurun.

Susu dan produknya juga di Amerika bermasalah citranya karena diidentikkan dengan praktik pertanian yang tidak etis terhadap hewan (kurang paham dengan di sini ya, ingin deh riset sendiri), juga penemuan-penemuan terakhir yang menyebutkan bahwa susu sebenarnya tidak sehat seperti yang diklaim produsennya selama ini. Sementara untuk yang berlomba-lomba pindah ke susu almon juga semoga sadar kalau almon itu tidak tumbuh di Indonesia, dan menanamnya membutuhkan sumber daya air yang berlebihan, tidak jarang membuat lahan jadi kekeringan. Kedelai yang jadi bahan susu kedelai juga tidak bebas dosa, karena banyak penebangan liar terjadi demi penanamannya dan isu Monsanto, tentunya.

LALU KITA MINUM APA DONG?

Air sih, sebaiknya. Tapi tentu sebagai manusia normal kita perlu kafein di dalam darah ya. Karena itu coba biasakan bawa wadah sendiri lengkap dengan sedotannya, agar bebas rasa bersalah. Lebih baik juga kalau kita buat sendiri kopi, dan membeli kopinya dari orang yang kita paham membeli biji kopi dari petani lokal dengan harga adil.

stojo

Cangkir lipat dari stojo.co ini sungguh mudah dibawa, sekarang ada yang lengkap dengan sedotan pun! #bukaniklan

Maaf ya, kalau mengurangi kenikmatan menyeruput kopi dingin Anda, tetapi sebelum saya dituduh SJW, harap ingat kalau ini hanya saran.

 

Advertisements

Garmina O Garmina

Garmina, istri Bayu, masih bersikeras minta agar si Cempluk, anak bungsunya yang baru, untuk sekolah di taman bermain Fajar Ceria. Baginya soal prinsip yang tak tergantikan agar pendidikan anaknya diberikan yang terbaik. Banyak cara untuk yang terbaik. Bukan soal mahal apalagi gengsi. Tapi terbaik. Iya Cempluk bungsu yang baru. Sebelumnya dia ponakan. Sekarang, dengan janji cinta kasih yang senantiasa diberikan, Cempluk diasuh Garmina. Orang tua Cempluk setuju. Mereka tak lagi memikirkan uang popok dan susu.

Garmina pada dasarnya tak suka anak kecil. Tapi sekarang, kemana-mana dia membopong Cempluk. Coba cek instagram. Coba cek Path. Isinya wajah si bungsu. Garmina sekarang sayang anak.

Papah, Cempluk itu harus belajar di Fajar Ceria. Sekolahnya dengan kurikulum luar negeri. Harga enggak apa-apa mahal, tapi Cempluk akan mendapatkan pendidikan oke punya“, sembari menyisir rambutnya menjelang tidur.¬†“Sekarang memang bukan awal tahun ajaran, tapi Fajar Ceria menerima murid di tengah semester gini kok, Pah.

Pak Bayu mendengar dengan seksama penuturan istrinya. Fajar Ceria itu terkenal sekolah yang mahal. Teman kantornya pun mengeluh istrinya ingin memasukkan anaknya di sekolah yang sama dengan Garmina. Fajar Ceria. Mereka sama-sama mengecek biaya sekolah, uang bulanan dan uang gedung yang harus dibayarkan. Ckckck. Mereka berdecak kagum sekaligus lesu. Uang pangkal masuk Fajar Ceria seharga motor vespa. Amran menyerah. “Bayu, jika kamu masih nekat mau menyekolahkan anakmu disini, silakan. Saya lebih baik undur diri“. Padahal Amran adalah salah satu teman baiknya yang terlihat paling peduli soal pendidikan anak. Kenapa menyerah? “Mahalnya terlalu. Mungkin bagus dan kualitas gurunya mungkin juga nomor satu. Tapi itu semua hanya mungkin. Yang pasti cuma satu dari semua ini: Mahal.” Amran melempar handuk putih.

Bayu sejatinya setuju dengan Amran. Dari SD hingga sekolah tinggi dan mendapat gelar doktorandus, semuanya dihabiskan di sekolah negeri. Tidak jaminan sekolah murah itu jelek. Begitu juga sekolah mahal. Belum tentu bagus.

Bayu pusing. Apalagi Garmina mengancam tak akan melayaninya hingga berminggu-minggu hingga Bayu bilang “Yes“. Garmina merasa ini adalah soal prinsip. Bayu merasa kapalanya hanya berisi batu yang setiap waktu membesar dan semakin berat.

Bayu memandang wajah Cempluk. Bocah mungil ini bukan anak kandungnya. Tapi ia merasa berdosa jika anak ini tidak diurus sebagaimana mestinya. Bayu merasa tak cukup mampu mengasuh anak ini karena ia sibuk bekerja hingga malam. Garmina, sibuk bersama teman-temannya berbisnis online. Seharusnya Garmina bisa melakukannya di rumah. Tapi itu dulu, saat awal-awal berhenti bekerja dan memulai berjualan. Selanjutnya, entah untuk apa Garmina selalu kumpul dengan rekan-rekannya. Setiap hari. Dari Senin pagi. Hingga Jumat larut. Termasuk Julia, istri Amran. Dalam benak Bayu, setidaknya Garmina bergaul dengan istri Amran. Bukan dengan istri-istri yang lain yang tidak jelas ambisi dan keinginannya. Julia tentu saja tidak muluk-muluk hidupnya. Sama halnya dengan Amran. Semoga.

Bayu berpikir apa salahnya menyekolahkan Cempluk di Fajar Ceria. Sekolah yang letaknya di atas mal. Mungkin agar Garmina bisa menjenguk Cempluk setiap saat sembari berbisnis dengan rekan-rekannya. Ini pun semoga.

Malam itu Bayu mengurungkan niatnya tidur cepat. Garmina sudah terlelap di sampingnya. Bayu membuka laptop. Dibukanya situs sekolah Fajar Ceria. Lalu ia membuka situs bank langganannya. Dibuka rekening tabungannya. Dilihatnya deretan mutasi rekening. Dilihat sisa saldonya. Kepalanya tiba-tiba copot.

Ran. Amran, jika kamu tidak jadi menyekolahkan Minul di Fajar Ceria, bolehkah aku pinjam hingga tanggal gajian untuk uang pangkal?”. Itu adalah kalimat pertama Bayu ketika bertemu Amran di kantor. Mereka berdua duduk di dekat pos sekuriti, dimana Mas Eko berjualan nasi bungkus dan kopi. Keduanya sembari mengepulkan asap rokok.

Oh, kamu masih belum dapat jatah juga rupanya. Untuk apa kau terus-menerus menuruti permintaan istrimu. Sudah saatnya kamu jujur. Sekolah bagus tapi mahal, sama saja mengorbankan anggaran untuk keperluan lain yang lebih penting.

Tapi sekolah anak itu penting, Ran.”

Bukan juga pilih yang mahal kan. Termahal malah.”

Tapi setidaknya Bu Guru di sekolah Fajar Ceria semuanya lulusan sarjana, Ran. Mereka tidak pusing bayar uang kontrakan rumah petak. Mereka hidupnya lumayan. Pasti Cempluk dididik dengan cinta kasih. Bukan dengan batang lidi yang siap memukul kuku kotor dan PR yang lupa dikerjakan“.

Bukankah banyak sekolah lain yang lebih masuk akal?”

Tapi apapun sekolahnya tidak akan diterima Garmina, kecuali Fajar Ceria.

Saya sudah bilang Julia, jangan terbawa Garmina. Biarlah mereka memilih pendidikan buat anak-anaknya. Kita cari sekolah yang masih menyisakan dana untuk IKEA dan uang pulsa.”

Hahaha.

Hahaha.”

++

Akhirnya Amran membuktikan bahwa dirinya memang sahabat sejati Bayu. Sisa tabungannya dipinjamkan. Dengan tanpa banyak syarat.

Bayu gembira. Walau agak berat ia masih ingin enak-enak dari Garmina. Bolehlah uang banyak terkuras habis, asalkan Garmina senang. Cempluk juga pastinya akan gembira belajar bersama anak-anak elit. Konon katanya banyak artis yang menyekolahkan anaknya di Fajar Ceria. Malam itu Bayu kembali menikmati Garmina. Bayu bangga masih mampu menyenangkan istrinya.

Beberapa hari kemudian, Garmina datang tergopoh-gopoh pada Bayu. Hari ini adalah Sabtu pagi. Seharusnya semua dilakukan dengan santai.

Papah, terima kasih sudah mendaftarkan Cempluk minggu kemaren. Mamah senang. Cita-cita Mamah terkabul.”

Gapapa Mamah. Papah senang kok mamah bercita-cita mulia. Sesuatu yang prinsip. Memberikan pendidikan terbaik bagi Cempluk.

Iya dong Pah. Tapi ini cita-cita mamah yang lain. Mamah sudah di-invite sama grup orang tua yang anaknya sekolah di Fajar Ceria. Mamah sekarang satu grup lho, Pah dengan Jeng Dian Sastro dan Jeng Nia Ramadhani”.

Maksud Mamah?“, Bayu penasaran.

Iya, biasanya Mamah cuma lihat mereka di insta-story sedang mengantar dan menunggu anak-anaknya sekolah. Sekarang, Mamah mengobrol sama Jeng Dian dan Jeng Nia sambil menunggu Cempluk selesai belajar.”

Tapi Mah…

Eh.. eh bentar Pah, Jeng Dian Japri…Whoaaaa!

 

-TAMAT-

Jakarta, 15 Des 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Partai Kegmtzan Indonesia

Manusia kebanyakan di Indonesia memang sering menggemaskan, ya! Hari Jumat ini dilakukan demonstrasi yang menolak Perppu Ormas dan menolak kembali bangkitnya PKI. Kalau soal Perppu, okelah, mungkin keputusan dan dibuatnya Perppu itu memang kontroversial dan patut dipertanyakan, walau mungkin ada cara lebih baik untuk mempertanyakannya dan tentunya tidak akan dilakukan oleh kelompok yang sudah pasti alasan memrotesnya karena organisasi yang baru baru ini dilarang menggunakan Perppu tersebut. Tetapi sambil protes Perppu yang membubarkan organisasi yang mereka bersimpati, mereka juga memrotes kembalinya satu organisasi yang memang sudah sejak dulu dilarang.

Mereka menuntut minta maaf dari PKI, mungkin sudah lupa atas hukuman bagi orang-orang yang tertuduh terlibat di dalam organisasi PKI, bahkan stigma yang didapat oleh anak cucu mereka yang kemungkinan besar tidak tau apa-apa.

Mereka memrotes PKI tetapi juga mengatakan kalau pemerintah sudah dijual kepada korporasi yang dikuasai oleh satu persen orang kaya di dunia.

160603115330_demo_fpi_liberal_komunis_640x360_bbcindonesia_nocredit

foto: CNN

Mereka bawa spanduk yang bilang kalau PKI = Liberal, padahal kalau tidak liberal, mereka tidak akan bisa bawa spanduk tersebut.

Mereka protes kenapa cari uang sulit, bekerja memakan waktu solat mereka, tetapi menolak komunisme.

Mereka bilang PKI menolak hukum agama, padahal ada istilahnya religious communism, yang mana idola mereka para ‚Äúpejuang‚ÄĚ Islam di Timur Tengah yang mempraktikkannya. Mungkin sosialisme Islam sih, lebih tepatnya, but close enough.

komite-pemuda-islam-kpi-sulsel_20150817_195728

Mereka bilang liberal juga menolak hukum agama, padahal dengan menganut liberalisme justru mereka akan bebas melakukan praktik agama apa pun yang seperti apa pun, dan mendirikan organisasi yang bagaimana pun.

Mereka berdalih menolak PKI dengan dalih membela Pancasila, tetapi mereka berwacana ingin mengubah sila pertama Pancasila dengan bentuk yang lebih Islami.

Mereka mati-matian membela agamanya sampai memenjarakan seseorang yang menghinanya, tetapi kemudian menjamak solat karena mau meneruskan demonstrasi. Padahal dulu saya suka dimarahi papa saya kalau ketahuan menjamak solat padahal kita tidak pergi ke mana-mana dan bukan musafir, dan sebenarnya masih sempat solat kalau niat.

Nggemesin memang, tapi sayangnya sepertinya kita harus mendengarkan berisik soal komunisme ini sampai 2019, karena setelah narasi penista agama dan pemimpin non Islam, sepertinya ini yang jadi pilihan untuk pemilihan berikutnya.

Aktivitas Hari Ini

Ancaman komunisme itu seperti hantu, tapi radikalisme justru telah nyata

Sepenggal kalimat itu terucap dari seseorang yang sedang berlari mengelilingi Monas pagi ini. Saya mendengarkan sembari mengimbangi kecepatannya dengan mengendarai sepeda. Sekujur tubuhnya berkeringat. Saya membatin, seharusnya mulutnya seharusnya jauh lebih basah kuyup.

“Entah siapa yang memulai dan siapa yang terus menggaungkan suara-suara ketakutan itu akhir-akhir ini. Monster yang terus diberi asupan gizi di benak beberapa pikiran warga. Otak menjadi arena pertarungan antara monster satu dan monster lainnya. Ada monster komunis, ada monster palu arit, ada monster LGBT, ada monster Pancasila, ada monster neolib, ada monster bid’ah, ada monster makar, ada monster tidak naik pangkat, ada monster diselingkuhi, ada monster dikhianati, ada monster ¬†mandul, ada monster membujang sepanjang hayat. Monster yang berkembang biak tergantung bagaimana kita mengambil sikap: membiarkan tumbuh kembang, diternakkan, atau dikebiri hingga hidup abadi tapi tak dapat beraksi”. Tetap. Saya mengangguk-angguk. Saya mendengar. Diam.

Kami sempat menduga imlek seharusnya hari ini. Rintik hujan belum juga berhenti.

“Sepertinya kerukunan itu semakin ¬†menjadi barang mahal di era digital”, teman saya berujar sembari mereguk segelas kopi. Saya justru heran kenapa setelah berlari pagi justru kopi jadi sajian akhir. “Dengan mudahnya jempol lebih gesit daripada lidah. Hape lebih cerewet dari sekelompok ibu-ibu yang mengelilingi gerobak sayur”. Sekarang teman saya mengunyah bakwan. Untuk penganan ini saya ikut bagian.

Sepanjang aktivitas olahraga pagi saya hanya mendengar. Sedikit mendengar, cukup mendengar dan amat sangat mendengar. Semua tergantung konsentrasi. Terkadang terpecah oleh lenggok kepangan mbakyu yang berlari santai, juga suara tentara yang berlari berkelompok seraya meneriakkan lagu-lagu perjuangan, juga milo dingin yang terus menerus ditawarkan penjual minuman cepat saji bersepeda.

Pria ini, yang baru saja berlari mengelilingi Monas tujuh kali, minum kopi dan melahap gorengan dan setia saya temani tak mengenakan arloji, hape, earphone, dan sepatu lari. Ia, berlari dengan seadanya. “Menurut Mas Roy, kita ini sedang apa? Berlari di roda hamster? Atau seperti kita berolahraga mengelilingi Monas, atau menuju garis finish idaman? Atau justru berjalan mundur sehingga seolah-olah kita berlari dan disalip mobil, disalip motor, disalip sepeda, disalip pejalan kaki, dan bahkan disalip tiang listrik?”.¬†Saya tetap dengan posisi semula. Mendengarkan. Bahkan atas sebuah pertanyaan.

Rinai hujan telah usai. Waktunya untuk membersihkan diri dan memulai aktivitas rutin: mencari nafkah. Dalam perjalanan menuju kantor saya berjalan mendahuluinya dengan sepeda.

“Jika ada monster korupsi, monster toleransi, dan monster pornografi diadu sekaligus, menurut Mas Roy, siapa yang menang?”, dia berteriak dari belakang. Saya mendengar. Saya¬†tak menjawab.

“Monster akal sehat pun juga ada”, lanjutnya. “Sayangnya dia telah lama tewas.”

Saya gatal dan tak tahan lagi. Saya putar balik. Sepeda saya arahkan ke Bapak ini. “Kenapa? Dikeroyok monster lainnya?”

Bapak itu tak menjawab dan hanya menggelengkan kepala.

“Dia mati bunuh diri”.

[]

 

Tukar Jadual dan Penjara yang Terbawa Kemanapun Kita Pergi

Ketika ada satu dan lain hal yang menjadikan kita berhalangan untuk hadir, maka kita membutuhkan orang lain.

Misalnya saja Lei yang tak kuat lagi menahan derita untuk meluangkan waktunya menulis di hari jumat, maka ia bertukar jadual dengan saya. Maka hari ini dan setiap jumat kedepan saya akan mengisi pagi Anda. Salam jumpa. ūüėČ

Ketika teman atau rekan sejawat menikah dan melangsungkan resepsi, dan karena kita bukan amoeba yang bisa membelah diri, maka teknologi bernama “titip amplop” adalah bentuk solusi paling ringkas.

Juga ketika rekan kerja pergi keluar kota karena cuti, bukan berbagi kata kunci komputer pangku, melainkan sebelum pamit ia memberikan beberapa berkas salinan lunaknya kepada kita dengan harapan jika saja bos meminta perkembangan pekerjaan maka kita dapat menggantikan perannya dalam penyelesaian tugas.

Contoh lainnya jika kita tak sempat mengambil buku laporan pendidikan anak kita, maka istri dapat menggantikannya, walau idealnya bersama-sama. Juga soal lain seperti titip absen saat kita bolos kuliah. Titip absen saat sidang dewan perwakilan rakyat. Titip doa saat kita malas ke masjid dan gereja. Walau kalimat terakhir agak janggal karena soal doa adalah soal yang sangat intim dan privat dan sebetulnya tak perlu diwakili siapapun. ūüôā

Soal mewakili adalah soal amanah dan kepercayaan. Sebuah mata uang paling penting saat ini. Menjaga kepercayaan dan menunaikan tugas. Hal ini, menurut hemat saya, lebih penting dari menunaikan ibadah haji.

Banyak cerita sukses seseorang bukan karena ia bangsawan dan lahir dari orangtua kaya raya, tetapi karena ia pandai menjaga amanah. Karena ia disenangi orang berduit. Karena ia menjadi favorit atasan. Karena ia didukung rekan sejawat. Karena ia baik di mata semua orang. Dapat dipercaya. Menjadi idola tua muda kaya miskin dan orang-orang terdekatnya.

Dari kisah demokrasi, kita dapat berkesimpulan bahwa demokrasi adalah permainan politik dengan cara mengumpulkan amanah sebanyak-banyaknya. Secara logika seharusnya ini menjadi sebuah aturan main yang jelas dan tegas. Karena setiap nyawa memiliki hak untuk mengemukakan pendapat. Apapun latar belakang dan kondisinya.

Dalam alam demokrasi kita tidak sedang mencari orang yang pandai, ganteng, seagama, sesuku, apalagi sedarah. Kita sedang bermain amanah. Siapa yang layak paling dipercaya. Karena tuhan sudah memberikan sebuah mekanisme kepemimpinan di dunia dengan aturan manusia yang waras dan sehat akalnya.

Ndak mesti orang beriman itu pandai menjaga amanah. Ndak mesti. Tapi orang yang menjaga amanah sudah pasti adalah sosok yang meyakini pendiriannya untuk terus berkomitmen untuk dapat dipercaya orang banyak. Bukankah ini lebih luhur dari sekadar beriman?

Tapi ada satu hal dari memberikan amanah yang perlu didahulukan yaitu menjaga kesabaran atas kepercayaan yang telah kita berikan. Percuma saja jika amanah hanya sesaat dan kita sudah tak percaya lagi kepada orang yang sebelumnya kita percayai. Perlu ada mekanisme untuk menarik kepercayaan itu. Toh amanah diberikan bukan kepada sembarang orang, karena kita meyakini bahwa saat amanah diemban, maka sang penjaga amanah harus terus memperbaiki diri dan menambah kapasitasnya baik secara kompetensi maupun integritas.

Balik lagi soal tukar jadual. Juga soal titip amplop. Mereka ada karena kita memang memiliki kepentingan dan prioritas masing-masing. Jika Lei meminta hari Sabtu karena baginya akan ada cukup waktu luang untuk menulis di hari ia tak bekerja. Bagi saya, hari apapun sama saja. Kenapa saya sering titip amplop kepada teman yang akan menghadiri resepsi karena saya beranggapan ada resepsi lainnya yang jadualnya bersamaan dan lebih perlu dihadiri langsung. Bagi teman saya yang dititipi, dia akan hadir dimanapun ia diundang dan kebetulan tak ada jadual resepsi yang “bentrok”.

Dalam konteks yang lain, ini semacam memandang Ahok dari beberapa sisi. Ahok dipandang oleh orang jawa, ia etnis cina yang jadi gubernur dan was-was apakah akan mementingkan semua hak warganya tanpa kecuali. Jika dipandang orang islam, ia adalah orang kristen yang jadi gubernur dan bertanya-tanya apakah akan memberikan toleransi beragama secara wajar. Jika dilihat dari para pengusaha, ia adalah gubernur yang akan memastikan keberlangsungan usaha secara sehat atau tidak. Jika dilihat dari kacamata politikus, apakah Ahok dapat menjadi kuda hitam dan ancaman bagi perolehan suara kandidat lainnya. Bagi seorang ulama, apakah Ahok dapat mencederai keyakinannya.

Oleh karena itu, makna dari saling titip, tukar jadual dan saling percaya untuk memberikan amanah adalah bahwasanya setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda dan sangat subjektif. Adalah baik ketika perbedaan pemaknaan setiap peristiwa disikapi secara wajar. Bukan salah benar tapi saling pengertian. Bukan boleh atau tidak melainkan permakluman.

Sebuah hubungan yang sehat bagi dua pihak bukanlah hubungan yang saling memenjarakan. Apalagi jika penjara itu dibawa kemanapun kita berada. Penjara tak terlihat yang menjadikan kita membatasi diri dalam berinteraksi. Penjara yang membuat kita sulit bertemu dengan orang lain, memberikan sapaan, senyuman dan saling membuka pembicaraan.

Percaya saja. Jauh lebih baik kita saling bergantung dengan orang lain daripada kita berusaha mati-matian hidup mandiri dan mengasingkan diri. Pertama yang perlu kita coba adalah saling bergantung rasa percaya dan menitipkan rasa riang gembira pada hati orang lain di sekitar kita.

Salam hangat di hari jumat.

Roy

 

 

 

 

 

Kisah Seribu Kunang-kunang di Bloomington dan Orang-orang Manhattan

typinginlondon_photoutama

Entah seberapa lekat antara Yuwono Sudarsono dan Budi Darma bersahabat. Dalam cerpennya yang dibuat tahun 1976, Budi memberikan catatan bahwa cerpen tersebut untuk Yuwono Sudarsono“. Cerpen Lelaki Tua Tanpa Nama diselesaikan Budi di London pada tahun 1976. Bisa jadi saat itu Yuwono kebetulan sedang menjadi mahasiswa The London School of Economics¬†dan Budi menumpang menginap di rumahnya.

Umar Kayam menulis perihal Jane dan Marno pada tahun 1968. Kisah sejoli itu diberi judul Seribu Kunang-kunang di Manhattan. Pada tahun yang sama Horizon, majalah sastra terbaik (atau adanya cuma itu) waktu itu mengganjarnya sebagai cerpen terbaik.

Kisah Jane dan Marno adalah kisah anak manusia di belantara kota paling besar sedunia. Sepasang darling yang minumnya martini, gin, scotch, bourbon atau campuran vermouth. Juga pembicaraan soal Alaska, “musim summer” di Texas, Kansas dan Arkansas. Atau membicarakan Empire State Building dan New York Times. Juga pembicaraan ngelantur dua anak manusia ini soal Oklahoma City.

Lambat laun tulisan Umar “turun ke bumi”, dalam benak lelaki jawa yang tinggal di jawa. Artikel yang rutin dibuatnya di koran Kedaulatan Rakyat sejak tahun 1987. Kisahnya tentang warga masyarakat jawa melalui tokoh Mr. Rigen dan Pak Ageng juga Benny Prakosa.¬†Walau terkesan¬†berbeda, satu kota besar bernama Manhattan, kedua bernama Sleman atau Jogja atau Bantul, tapi yang disampaikan Umar adalah tetap soal hidup manusia dan alam lingkungannya. Tantangan atau pertarungan atau justru penyelarasan antara mikro dan makro kosmos. Sikap batin dan fenomena budaya. Menghirup dan meruap udara sekitar.

Pada saat menulis kisah Marno dan Jane dalam cerpen Seribu Kunang-kunang di Manhattan, Umar tidak sedang mengalami langsung alam barat, melainkan pemahamannya tentang barat berdasarkan ingatan pernah bersekolah disana. Umar bersekolah dan meraih gelar M.A pada tahun 1963 dari Universitas New York, dan meraih gelar  Ph.D dari Universitas Cornell dua tahun kemudian. Ketika menulis Seribu Kunang-kunang, dirinya sudah menjadi seorang Dirjen Radio, Televisi, dan Film Departemen Penerangan, yang ia jabat sejak 1966-1969 (dan jika benar ia ahir tahun 1932 maka ia menjabat Dirjen pada usia 34 tahun!).

Hal ini sedikit berbeda dengan Budi Darma. Orang-orang Bloomington, juga kumpulan cerpen, mulai ditulisnya ketika Budi sedang merampungkan kuliahnya di sana. Namun tetap saja, Budi tidak merampungkan satu cerpen pada tempat yang sama. Berdasarkan pengantar yang ditulisnya untuk Penerbit Noura Book (Mizan) di edisi terkini, cerpen yang dibuatnya ia tulis di beberapa belahan kota di Chicago, Aliquippa, kota kecil di negara bagian Pennsylvania, juga di London, Paris dan sebuah kota kecil di Belanda yang ia sendiri lupa namanya.

Persamaan dari Umar dan Budi adalah sama-sama mengaku bahwa cerpen mereka adalah fiksi berdasarkan fakta.

Jika fakta yang diperoleh adalah berdasarkan pengamatannya atas peristiwa yang dirasa, dialami, diresapi oleh penulis, maka karya yang dihasilkannya adalah sebuah fiksi yang mengendap dan “kaya”. ¬†Saripati dan buah kehidupan sehari-hari yang dijalani. Sebuah kisah perjalanan panjang yang ditulis ringkas¬†¬†agar enak dibaca dan sulit dilupakan.

Pertanyaannya adalah:

Apa yang bisa diharapkan dari penulis masa kini, yang lebih sibuk mengejar centang biru dan menenteng kamera untuk vlognya yang sungguh ala kadar? Juga pengalaman hidupnya yang sungguh kaya……… di sosial media.

Itu pun ternyata tak mengapa. Mereka pun sedang menikmati alam kekinian. Tantangan zamannya masing-masing. Toh, mereka penulis biasa saja dan tidak (sedang) membuat karya tulis bernama sastra.

 

salam anget,

loi cayul

 

 

Sebatang Kere

Maafkan saya. 

Selama bulan puasa saya sibuk menggunggah banyak sekali foto keceriaan buka bersama teman SMP, SMA, Kuliah (sebelum DO), Kuliah (hingga lulus,.. eh lolos), kantor tempat kerja pertama kali, kantor saat ini, keluarga besar dari ibu, keluarga besar dari bapak.

Maafkan saya.

Selama bulan puasa, setiap hari, saya rajin mengunggah di path, twitter, facebook, zomato, foto berbuka yang jarang saya lahap saat hari biasa. Sederetan sajian berbuka yang manis dan lucu, juga enak diajak ngobrol dan ndak baperan. Melimpahnya sajian istimewa makanan cepat saji, kolak, manisan, korma ajwa, sayur lodeh, paru goreng, pho, pizza, pasta, nasi ayam jagoan, dendeng batokok, gajeboh, ayam likku, barongko, lotek, semur jengkol, hingga indomie. Baik saya unggah usai berbuka maupun di siang bolong. 

Maafkan saya.

Lewat whatssapp grup senantiasa menampilkan ayat-ayat suci alquran, petuah orang bijak, kutipan ustad pengusaha, motivator botak dan zuper, juga kalimat berbau surga yang mudah dan keren ditampilkan tapi susah dijalankan. 

Juga maafkan saya.

Memamerkan tiket kereta api, voucher hotel dan rute serta foto-foto selama perjalanan mudik. Termasuk warung, penginapan, toilet pom bensin, toilet hotel, wajah pemudik, peta perjalanan, dan banyak bukti yang menunjukkan saya sedang pulang.

Oh iya.

Maafkan saya.

Selama di kampung halaman saya menampilkan foto halaman rumah saya yang wah, wajah keluarga besar saya yang asik, juga kegiatan takbiran yang takzim, acara sungkeman penuh syahdu. Banjir cucuran air mata. Pakaian seragam keluarga kami yang tiada duanya, interior rumah yang menarik, dan terutama tumpukan angpau kami yang berebut dibagikan kepada ponakan, tetangga dan keluarga jauh. 

Maafkan saya jika semua ini disampaikan kepada Anda tanpa pernah bertanya. Anda (terpaksa me) lihat dan ternyata dengan ikhlas disematkan tanda lope-lope, like, retuit, maupun komentar pujian. 


Saya ndak terlalu pusing dengan makna puasa. Saya ndak perlu mikir untuk mengambil hikmah apa itu lapar dan dahaga, apalagi menahan nafsu syahwat. Saya menjalani ritual bulan puasa sama dengan yang lain. Sahur, berbuka, ibadah, mudik, membagikan THR, membayar zakat, dan sholat ied di tanah lapang, lalu sungkem dan menangis. 

Uang bisa dicari lagi. Membeli baju baru, sepatu keren, kaftan menjurai, parfum impor, dan hape teranyar adalah bagian dari kemeriahan saya dalam menjalankan perayaan agama. Tak perlu banyak ngirit jika ada alasan tepat bahwa hari kemenangan harus dirayakan dengan penuh suka cita. 

Jika ternyata di antara pembaca ada yang lebaran dengan sahur seadanya, menjalankan siang hari penuh aktivitas, berbuka di rumah, kamar kos, pantry kantor dengan menu ala kadarnya, tanpa pernah di-tag akun teman, maka itu di luar kendali saya. 

Apalagi jika ada pembaca yang budiman kehabisan tiket, THR yang tak penuh dibayarkan, tak sempat mudik, bahkan malam takbiran sendirian, itu semata-mata adalah kebetulan. 

Tapi percayalah.

Lebaran bukan hanya milik mereka yang dilimpahkan kesenangan dan keceriaan bersama sanak famili. 


Lebaran juga milik orang-orang yang terlupakan. Malam lebaran sebatang kara. 

Orang-orang yang tak sanggup untuk pulang. Tak kuasa untuk berbagi keceriaan. Mereka (atau kita) yang memilih untuk memaknai lebaran dengan cara yang beda. Karena pilihan maupun keadaan. Tak apa. Selama duit THR ndak habis buat beli arloji kemahalan. 

Jika terlanjur, maka Anda adalah sebatang kere. 

Selamat menikmati suasana liburan dan lebaran. Iya kamu. Kamu kamu kamu dan kamu. 

Salam anget dari saya,

Oy Ayul

Cuplik Sana Sini

Saya bisa menikmati musik Jazz atau komposisi Mozart atau Beethoven, tetapi apabila saya mendengarnya saya tidak pernah merasa melihat diri saya sendiri dan berada di rumah sendiri. Saya bisa berjingkrak-jingkrak mendengarkan musik rock atau reggae, tetapi tetap merasa tidak di rumah sendiri. Ini berlainan dengan apabila saya mendengar lagu keroncong, gending-gending Jawa dan Madura, degung dan kecapi Sunda, atau gamelan Bali. Di sana saya merasa di rumah dan melihat diri sendiri. Suatu jenis musik bisa dikatakan sebagai hasil kebudayaan bangsa, apabila ia lahir dan tumbuh, serta dicipta oleh seniman yang hidup di negeri tempat bangsa itu besar dan tumbuh. Unsur-unsurnya mungkin dipengaruhi oleh kebudayaan lain di luarnya, tetapi ia bukan hasil tiruan dan jiplakan, bukan karena di-xerox. Tumbuhnya pula bukan disebabkan oleh adanya industri hiburan, melainkan disebabkan oleh kreativitas dan keperluan masyarakat pendukungnya itu sendiri –Abdul Hadi WM, Islam, Tradisi Estetika dan Sastranya di Indonesia 2006

Kira-kira dua kilogram lebih dua ons tahi sabar mengantri saat saya menulis ini. Mereka kena PHP karena saya ndak lantas segera ke kakus.  Jadual hari sabtu saya untuk menulis hampir terancam tak dipergunakan. Saya ketiduran. Semalam saya rapat hingga dini hari. Menghasilkan risalah dini hari. Lalu tiba-tiba terbangun karena ngidam nonton The Revenant. Tapi saya urungkan niat. Saya belum bayar tagihan macam-macam. Saya harus giat bekerja. Termasuk menulis. Termasuk menyapa Anda.

“Hai…”

Perlu sebuah ide besar untuk menulis di linimasa. Ide kecil ndak bakalan diterima. Mengapa? Karena ini adalah blog terbaik yang pernah dan masih dan akan dimiliki bangsa manusia. Saya sangat meyakini soal ini.
Bagi masyarakat Indonesia, filsafat bukan sekadar pengetahuan rasional, tetapi harus dibuktikan dapat dipraktikkan dalam hidup sehari-hari. Filsafat sebagai wacana kurang dilakukan, tetapi filsafat sebagai ‘pegangan hidup’ sejak dulu dipraktikkan. Inilah sebabnya, untuk mengetahui ‘filsafat’ orang Indonesia, kita perlu membacanya dalam berkas-berkas hasil tindakannya. Filsafat masyarakat Indonesia adalah praktik hidupnya sehari-hari. Filsafat Indonesia tidak berwujud diskusi-diskusi verbal yang abstrak rasional seperti biasa kita baca dalam sejarah Barat (Eropa-Amerika)–Jakob Sumardjo, Mencari Sukma Indonesia 2003.
Filsafat itu apa? Saya tahunya jalan Sabang banyak orang jualan dan tukang parkir yang semuanya warga Madura. Diskusi verbal itu apa? Saya tahunya bahwa twitter dipenuhi “Noam Chomsky- wannabe“.
True terror is to wake up one morning and discover that your high school class is running the country.  kata, Kurt Vonnegut lagi. Bagi warga sini, berarti itu kesempatan untuk melakukan reuni. Kali aja dapat sekerat roti. Teman sekolah sedang berkuasa. Saatnya kita boleh ikutan juga.
‚ÄúKejahatan adalah nafsu yang terdidik. Kepandaian, seringkali, adalah kelicikan yang menyamar. Adapun kebodohan, acapkali, adalah kebaikan yang bernasib buruk. Kelalaian adalah itikad baik yang terlalu polos. Dan kelemahan adalah kemuliaan hati yang berlebihan.‚ÄĚ ‚Äē Emha Ainun Nadjib, OPLeS: Opini Plesetan.
Semalam saya bermimpi negeri ini ndak pakai parpol segala. Tahi kucing dengan partai penguasa, tahi kucing dengan Pemilu, tahi kucing dengan demokrasi. Terlalu banyak benalu yang kita pelihara dengan penuh sukacita. Itu mimpi saya semalam. Eh tadi pagi.  Saya lihat banyak gedung runtuh kena ketapel para penjual asongan. Dan entah kenapa  saya ingat Romo.
Negeri ini sungguh-sungguh membutuhkan pemberani-pemberani yang gila, asal cerdas. Bukan yang tahu adat, yang berkepribadian pribumi, yang suka harmoni, yang saleh alim, yang nurut model kuli dan babu.‚ÄĚ
‚Äē Y.B. Mangunwijaya, Burung-Burung Rantau
Juga ingat yang ini.
‚ÄúTanah air ada disana, dimana ada cinta dan kedekatan hati, dimana tidak ada manusia menginjak manusia lain.‚ÄĚ
‚Äē Y.B. Mangunwijaya, Burung-Burung Manyar

 

Sebagian kecil dari kita memang dilahirkan untuk menjadi serius. Amat sangat serius sekali.  Juga lebay, seperti kalimat tepat sebelum ini.  Sebagian dari kita dilahirkan untuk berkata-kata dengan suara serak, melebihi seraknya Karni Ilyas. Menjadi orang sok tahu, melebihi sok tahunya Benhan. Menjadi oportunis hoki, melebihi oportunis hokinya golongan tua semacam Ndorokakung. Sebagian lagi jauh lebih terkenal dari seorang Aulia Masna. Atau lebih garing dari lawakannya Raditya Dika. Lebih cina dari Ernest Prakasa. Lebih bawel dari cerewetnya Joko Anwar.

Menjadi manusia sosial media, adalah menjadi seolah-olah menjadi warga biasa yang kemampuan analisisnya melebihi google. Petualangannya keliling dunia melebihi Ngabdul.

 

Semua orang, hidup atau mati, murni kebetulan,

kata seorang pria suatu ketika sebelum ia mati pada 11 April 2007. Pria yang kebetulan bernama Kurt Vonnegut.

 

Tapi sudahlah.¬†Telah tumbuhlah benih-benih pengakuan, bahwa yang benar-benar penting dalam sejarah justru adalah hidup sehari-hari, yang normal yang biasa, dan bukan pertama-tama kehidupan serba luar biasa dari kaum ekstravagan serba mewah tapi kosong konsumtif. Dengan kata lain, kita mulai belajar, bahwa tokoh sejarah dan pahlawan sejati harus kita temukan kembali di antara kaum rakyat biasa yang sehari-hari, yang barangkali kecil dalam harta maupun kuasa, namun besar dalam kesetiaannya demi kehidupan.¬†[Impian dari Yogyakarta, hlm. 38]‚ÄĚ‚Äē Y.B. Mangunwijaya

Maka saya ndak bakalan kagum sama Jokowi. Apalagi Ahok. Apalagi Ridwan Kamil. Apalagi para menteri titipan para penyokong parpol dan sejumlah sosok boneka politik yang diongkosi tengkulak.
IMG_3063
Saya akan mulai ngefan sama tukang parkir yang tiba-tiba muncul entah dari mana. Saya akan coba mengakrabi para polisi yang doyan menilang. Saya akan coba follow banyak akun penulis yang bikin buku sampah tak berisi. Saya akan belajar gertak orang batak. Tipu melayu. Lagak orang padang dan bualan warga Aceh. Saya juga akan belajar mengagumi halus hipokrit budaya jawa. Boleh tekor asal kesohor anak sunda. Dan kemalasan warga betawi asli.
Akhir kata,
Saatnya saya mengakhiri antrian mengular sebagaimana  tertuang pada alinea kedua.
Salam anget,
Roy.

About Teddy

Melayangkan ingatan ke akhir abad ke 20 atau awal abad 21, saya kurang yakin. Dan karena saat itu belum ada social media, sepertinya sulit saya verifikasi. Suatu hari saya diminta untuk meliput satu pemutaran film oleh seorang sutradara muda. Judul filmnya Culik, dan tempatnya PPHUI. Filmnya gelap, secara harafiah maupun simbolik. Tetapi ada satu yang saya ingat jelas, walaupun ini sudah terjadi lebih dari sepuluh tahun yang lalu; kameranya bergerak terus. Sepanjang film. Saya juga ingat keluar dari ruangan teater merasa mabuk laut. Kemudian ada pula sesi tanya jawab dengan sang sutradara, Teddy Soeriaatmadja. Saya juga ingat kalau dari obrolan ini Teddy terkesan agak arogan, idealis dan tidak suka berkompromi. Kesimpulannya, impresi pertama saya kurang baik.

teddy-soeriaatmadja_photo

Teddy Soeriatmadja (Sumber: Jaff-Film Fest)

Maju beberapa tahun kemudian, sutradara muda berbakat ini mengeluarkan film-film seperti Banyu Biru, Ruang dan Badai Pasti Berlalu, yang dari membaca resensinya tidak membuat saya ingin menonton. Maafkan, kalau saya memang tipe penonton yang kurang nasionalis. Banyak sekali alasan saya untuk menghindari nonton film Indonesia, sementara alasan yang membuat saya jadi ingin menonton hanya sedikit sekali.

Maju lagi beberapa tahun kemudian, saya ingat tiba-tiba Ibu saya mengajak menonton film Indonesia, Lovely Man. ‚ÄúKata teman Mama bagus!‚ÄĚ Baiklah, saya akhirnya juga mengajak anak saya yang ketika itu saya pikir belum mengerti topik yang terlalu njelimet, tetapi saya agak kasihan meninggalkannya di rumah. Kami menonton dengan perjanjian, kalau menurut saya adegannya kurang sesuai, saya akan menutup mata anak saya dan dia akan menyumbat telinganya sendiri. Begitu saya paham soal tema dari film ini, saya mengharapkan melodrama mendayu-dayu tentang kaum yang dimarginalkan, apalagi kurang beruntung dari sisi materi. Ternyata saya salah. Filmnya sederhana, tak ada pretensi apapun, hanya menceritakan saja. Tidak juga ada kesan menghakimi, semuanya diserahkan ke penonton dengan kepercayaan penuh, kalau penonton cukup bijaksana dan cerdas melakukannya. Saya cukup heran ketika melirik ke penonton cilik sebelah saya yang tekun menonton sama sekali tak terlihat gelisah. Hanya sesekali menggenggam tangan saya lebih erat ketika ada adegan yang menimbulkan rasa takutnya. Kemudian terjadi adegan puncak, film berakhir, dan teater menjadi terang. Saya dan anak berpandang-pandangan. Lalu kami menangis bersama sambil berpelukan. Cukup lama, sampai ibu saya mencolek sambil menunjuk ruangan yang sudah kosong, mengajak keluar.

lovely-man

Lovely Man (Sumber: Filelengkap.com)

Saat itu saya berniat mengubah pandangan saya terhadap Teddy Soeriatmadja, karena begitu senangnya hati, melihat film Indonesia yang begitu jujur dan tidak ada embel embel moral maupun kearifan lokal. Paling tidak bukan pada bentuk yang dianggap orang kebanyakan. Tetapi Lovely Man berhasil menyentuh dan membuat saya memikirkannya hingga berhari-hari kemudian. Juga tentunya merekomendasikan ke teman-teman yang belum menonton. Yang sayangnya banyak dari mereka belum juga menonton karena waktu tayang yang blink and you missed it itu.

Lalu tiba di tahun 2013. Saya diundang menjadi salah satu juri festival film yang basisnya social media. Tentunya saya hadir dengan senang hati, apapun demi bisa menonton film yang mungkin orang lain tak bisa tonton. Salah satu yang masuk nominasi kategori naskah asli (kategori di mana saya jadi salah satu juri) adalah satu lagi dari Teddy; Something in the Way. Untuk kepentingan penjurian, diadakan screening di sebuah institut perfilman. Yang ternyata penontonnya hanya satu; saya. Di ruangan yang gelap saya kembali terbawa perasaan, lalu gemas karena tidak ada teman untuk membahas. Nafasnya masih sama dengan Lovely Man, tetapi ada sesuatu di Something in the Way yang membuat penonton lebih merasa tidak nyaman. In a good way (mudah-mudahan Anda mengerti maksud saya).

reza-rahadian-dalam-film-something-in-the-way

Something in the Way (Sumber: Muvila.com)

Tahun kemarin, saya kembali menjadi juri di kompetisi yang sama. Dan diadakan pemutaran film yang masuk nominasi (walau bukan kategori saya), tetapi begitu diberitakan kalau akan ada screening film Teddy yang baru, About a Woman, tentunya saya segera tunjuk tangan. Saya kali ini bersiap mengajak teman agar ada teman membahas, but he bailed on me (melirik tajam ke seseorang). Ternyata tetap beruntung, karena saya jadi berkesempatan berkenalan dan mengobrol banyak tentang proses pembuatan film ini dengan pemeran utamanya; Ibu Tutie Kirana.

maxresdefault1

About a Woman

Tiba waktunya menonton filmnya. And Teddy did it again. Baru kali ini saya melihat film Indonesia yang menceritakan isu begitu delicate dengan cara yang begitu sensitif, tak setitik pun ada judgement, rasa lebih tinggi dari penontonnya maupun dikte muatan tertentu. Begitu jujur, bahkan kamera terasa jujur, begitu diam dan hanya mengamati. Tetapi juga begitu relatable, sehingga di klimaks film, hati seperti tercabik cabik tak menentu (drama) tanpa harus melodramatis, dan tanpa menggunakan lagu score yang mendayu-dayu. Yang agak menyebalkan buat saya, penonton yang cenderung tertawa di bagian-bagian film yang uncomfortable. Heran, kenapa knee-jerk reaction mereka jadi tertawa. Tetapi dalam hati saya berkesimpulan kalau, mungkin itu cara mereka menghadapi ketidaknyamanan. Intinya, setelah menonton, saya merasa tenggorokan saya tersumbat hingga berjam-jam. Ketika berjumpa lagi dengan Ibu Tutie, saya memeluknya sambil mengucapkan terimakasih, because she‚Äôs so beautiful and wonderful in the movie (sama sekali bukan ‚Äėres). Kalau Teddy hadir, mungkin saya juga akan peluk (#eh #memanggatelaja).

Setelah melihat ketiga film ini, saya dengan yakin memasukkan nama Teddy Soeriaatmadja sebagai salah satu sutradara yang filmnya tak akan saya lewatkan. Sebaiknya Anda juga jangan melewatkan. Walau film ini tidak akan tayang reguler di bioskop kesayangan Anda, monggo, dicari di bioskop-bioskop kecil independent, atau festival lokal, atau malah buat festival sendiri dan memasukkan ketiga film ini jadi agenda. I believe more people should watch them.

Tentang Keluarga yang Tak Selalu Harus Utuh

Saya jarang sekali menonton filem dan mengingatnya hingga beberapa waktu kemudian. Begitu juga saat membaca buku.  Apalagi membaca sebuah artikel yang setiap hari bermunculan di banyak format media. Ingatan saya payah.

Tapi belasan tahun lalu saya pernah menonton filem dan adegan-demi-adegan masih lamat-lamat saya ingat. Filem besutan Roberto Benigni. Judulnya Life is Beautiful. Ternyata, setelah saya cek, filem ini dibuat tahun 1997.

Apa yang menarik dari filem ini? Banyak. Ndak heran akhirnya filem ini mendapat beberapa penghargaan termasuk Piala Oskar.¬†Tema ceritanya pernah sedikit dibahas oleh Fa, dalam “Ayah, Ah ya…“.

Ada satu film bertema ayah yang begitu kuat diingatan saya. La Vita √® Bella (Life is Beautiful). Roberto Benigni memerankan serang pria bernama Guido Orefice. Seorang yahudi pemilik toko buku di salah satu kota di Italia. Waktu itu Perang Dunia II sedang panas-panasnya dan Nazi Jerman akhirnya menduduki Italia. Guido dan sang anak yang baru berumur lima tahun, Giosu√©, akhirnya harus ‚Äúdipindahkan‚ÄĚ ke kamp konsentrasi di luar kota. Untuk mengapus rasa takut Giosu√©, Guido berbohong dan berpura-pura kalau kejadian yang mereka alami ini adalah sebuah perlombaan. Orang pertama mengumpulkan 1000 poin akan dihadiahi sebuah tank baja. Tujuan utamanya, ya, tentu saja untuk melindungi Giosu√© sementara ia menunggu saat yang tepat untuk membebaskan keluarganya dari kamp konsentrasi. Ini salah satu film terbaik yang pernah saya tonton.
Guido dan seorang tentara Nazi. Salah satu scene di ‚ÄúLa Vita e Bella‚ÄĚ
Ada satu hal yang saya lihat dari Guido, ayah saya, dan mungkin ayah kalian. Mereka kadang terlalu hanyut di balik peran sebagai seorang ayah. Dan akhirnya kitapun kadang ikut alpa kalau mereka juga manusia. Dan ketika film berakhir, saya masih ingin mengenal lebih lanjut sosok Guido.

Justru yang menarik dari tulisan Fa adalah saat dia melanjutkan kalimat sebagai berikut:

Saya ingin mengenal ayah. Bukan sebagai ayah, tapi sebagai manusia. Saya ingin mengenal ayah seperti layaknya dua orang manusia yang mengenal satu sama lain, tanpa ada label anak-bapak. Apa yang ia pikirkan kalau ia tak harus memikirkan istri dan anak-anaknya? Apa sebenarnya yang ia inginkan? Atau, sesederhana, bahagiakah ayah selama ini?

Ada sesuatu pendekatan luar biasa dari Fa dalam menyikapi hubungan personal dengan Ayahnya. Ada hal yang perlu dia kupas tanpa menggunakan embel-embel status. Anak-Bapak. Lelaki-Perempuan. Fa ingin menyelami pikiran dan perasaan ayahnya.

“Bahagiakah ayah selama ini?”

david_beckham-20151130-editor-010

Dalam beberapa agama dan budaya, anak yang masih kecil (mumayiz) identik akan dekat dengan ibunya. Maka tak aneh jika bagi keluarga yang telah berpisah, anak umumnya tinggal dengan kasih sayang seorang ibu.  Tapi apakah dengan peran ibu dalam mengasuh anaknya, menjadikan kasih sayang seorang ayah kepada anaknya otomatis terhambat? Seharusnya sih ndak.

Ibu dan Ayah yang ndak rukun, seharusnya tidak menularkan ketidakrukunan ini kepada anak-anaknya. Biarlah mental dan jalan pikir anak tumbuh kembang tanpa disertai rasa benci dan egois dari orang tua yang berpisah.  Sedang tidak ada perebutan kekuasaan saat orang tua berpisah dan anak harus tinggal dengan salah satu orang tua. Ayah atau Ibu. Membesarkan anak tetap bersama-sama walaupun pada akhirnya kedekatan fisik mengharuskan anak memilih dengan siapa dia akan tinggal.

Perasaan sayang seorang kepada ibu kepada anaknya saat berstatus isteri, bisa jadi jauh lebih bertambah saat statusnya menjadi janda. Begitupun kasih sayang ayah kepada anaknya.

Dalam beberapa kesempatan, beberapa teman saya mengeluhkan bagaimana dirinya begitu kangen kepada anaknya. Namun karena dirinya telah berpisah dengan istrinya, maka rasa kangen itu dipendam sedemikian rupa bahkan terkadang menjelma menjadi air mata. Agak sulit memang membayangkan pria bertato burung hong, brewok lebat, rambut licin pomade menangis sesenggukan di hadapan kita saking kangennya dengan anak-anaknya.

“Dateng aja lah. Ajak main.”

“Setiap datang, anak-anak gw¬†senang. Tapi ibunya enggak.”

“Masalah? Kan yang penting ngajak main anaknya.”

“Tapi bakalan ibunya ngikut.”

“Masalah? Kan malah bagus kelihatan komplit.”

“Iya, tapi dalam perjalanan justru timbul konflik baru. Ndak boleh ini lah. Ndak bole itu lah. Pola asuh ibunya ketat banget. Kayak rok SPG rokok bro.”¬†

Jika diselami, teman saya ini sayang banget sama anaknya. Tapi ndak mau kelihatan ndak rukun sama istrinya di hadapan anaknya. Tapi daripada kelihatan ndak rukun lebih baik dia memendam perasaan kangen kepada anaknya. Kok bisa?

Lain halnya dengan teman saya yang lain. Dia memang mengasuh kedua anaknya sendirian. Hingga saat ini dia masih dinafkahi mantan suaminya. Termasuk seluruh biaya sekolah anak-anaknya.

“Sama kok, Mas. Bedanya aku ndak campur sama mantan suami. Bahkan terkadang masih sering nginep di rumah. Anak-anak seneng banget bapaknya datang.”¬†

“Ndak pengen kawin lagi mbak?”

“Belum dapet yang baik. Yang mau nerima kedua anak aku.”¬†

“Lah, anaknya kan memang¬†punya bapak kan?”

“Iya, tapi kalau tinggal serumah, kan belum tentu mau.”¬†

“Ya anak-anaknya titip aja ke mantan suami mbak.”

“Ndak terlalu ikhlas lah Mas. Apa iya dia beneran sayang. nanti malah ngedidiknya kacau. Aku aja pisah dulu karena¬†hidupya kacau.”

“Kok kacau bisa menafkahi?”

“Kacau dalam artian soal agama Mas. Kagak pernah sholat. Apalagi ngaji. ¬†Ah embohlah Mas. Dulu aja, jarang banget pulang ke rumah.”¬†

“Kamu ndak kasihan anak-anak kangen bapaknya?”

“Justru dibalik Mas, apa iya bapaknya ndak kasihan lihat anak-anaknya sering nanyain kemana Bapaknya. Ah embohlah Mas. Pucing Pala Rapunzel.”

Problematika hidup memang semakin rumit. Soal hubungan manusia. Soal bagaimana membina keluarga utuh, tetap merawatnya dan terus komplit hingga akhir hayat. Lantas bagaimana dengan keluarga yang dijalani secara terpisah. Tetap menjadi keluarga. Bedanya hanya status dari orang tua. Toh anak-anak yang ada dan muncul dari hubungan antara orang tua, adalah anak-anak yang harus tetap dijaga perasaannya.

Anak-anak yang tak perlu mengalami kekecewaan yang sama dengan ayah atau ibunya. Anak-anak yang akan terbang melesat ke angkasa dengan segenap jiwa raga. Meninggalkan kenangan kelam. Sejarah keluarga yang retak.

Agak repot memang jika yang terjadi jika anak-anak mengalami trauma. menyaksikan orang tua yang selalu bertengkar. Saling teriak. banting kaca, piring, tipi, atau benda apapun yang menimbulkan suara nyaring.

Dalam filem Life is Beautiful, seorang ayah berkorban menyelamatkan anaknya. Bukan saja soal nyawa. namun jauh lebih dari itu. Soal kejiwaannya. Seorang ayah yang berkorban nyawa demi anaknya untuk hidup tanpa rasa takut. Agar anaknya yakin, bahwa yang dihadapinya adalah permainan belaka.

Tak perlu ada kegetiran dalam hidup. Jika bisa dihindari, mengapa harus dialami? Jika kita terlanjur merasakannya, apa iya harus diwariskan juga?

Selamat hari Sabtu. Salam hangat dari saya.

Roy

 

Tuan Uang, Bukan? Tunggu Sebentar, Saya Sedang ke ATM. *)

Who are we? We find that we live on an insignificant planet of a humdrum star lost in a galaxy tucked away in some forgotten corner of a universe in which there are far more galaxies than people.

Carl Sagan

Jika rentang waktu jangka pendek yang dikejar, maka NASA, sebuah lembaga riset antariksa milik Amerika adalah lembaga yang sangat boros dan patut dipersalahkan sebagai salah satu sumber defisit anggaran negara tersebut.  Apakah ini semata-mata soal uang? Soal perhitungan untung rugi?

Dan prasangka ini justru dialami oleh IPTN / Dirgantara Indonesia. Sebuah industri pesawat terbang dari negara berkembang yang akhirnya layu sebelum berlayar menjelajah angkasa raya. Dianggap sebagai proyek menara gading bagi sebagian pengambil putusan negeri ini pasca Krismon 1997.

Tapi langkah kecil mereka akan dilihat di kemudian hari.

Manusia dan pemikiran  semacam ini masih banyak. Manusia yang berdiri di ruang sempit. Dalam hening. Berkutat dengan gelas kimia. Berkutat di depan layar komputer. Sebagian dengan mesin tik. Sebagian di tengah hutan. Sebagian menyelam ke dasar samudra.

Apa yang diperoleh sains dengan teori dan eksperimennya, adalah himpunan dari pengetahuan tentang hal-hal yang relatif benar, yang ditapis dan dipisahkan dari pengetahuan tentang yang mutlak salah. Itu sebabnya Stephen Hawking misalnya menganjurkan agar seluruh ilmuwan mengumumkan seluruh kesalahan yang mereka tangani, bukan hanya kebenaran yang mereka temui. Kesalahan yang diumumkan membantu ilmuwan lain bertanya jawab secara lebih efisien dan lebih cerdas dengan kenyataan semesta‚ÄĒkenyataan besar yang jawabannya mungkin tak mudah dibuka dan tampak tak peduli pada kesulitan manusia, namun sungguh tak pernah berdusta.

Bisa jadi dalam hidupnya mereka tak menemukan sesuatu. Mereka mencoba banyak cara untuk satu hal. Mencipta. Melakukan cara baru. Mencari jalan paling mutakhir agar kualitas hidup menjadi lebih baik. Pun jika dalam hidupnya selalu gagal, tapi bisa jadi kegagalannya adalah jalan bagi peneliti dan generasi penerus berikutnya menjadi lebih mudah untuk membuat lompatan ilmu. (Nirwan A. Arsuka).

Ini juga yang dinarasikan dengan baik oleh Peter Thiel, salah satu mafia PayPal, investor pertama facebook dan pendiri Palantir, sebuah perusahaan periset big data yang mendapat gelontoran dana Amerika dan disinyalir membantu pemerintah AS untuk mencari  Osama Bin Laden. Peter Thiel menceritakan soal pentingnya lompatan bagi para Penemu lewat bukunya “Zero to One”.

Walau pada akhirnya langkah dari “tiada-menjadi-ada” ini yang diistilahkan “dari-nol-menjadi-satu” olehnya dikawinkan demi kepentingan ekonomi, yaitu teori kompetisi baik pasar sempurna atau monopoli, namun yang menarik dari uraian dalam bukunya adalah soal daya upaya untuk mencipta.

Peter Thiel tidak bicara rentang waktu, bagaimana ilmu dapat diketemukan secara beramai-ramai walau beda waktu. Saling menyumbangkan teori dan praktek secara turun-temurun. Melampaui jurang zaman. Dan pada akhirnya mendekatkan diri manusia kepada alam semesta.  Peter lebih menekankan nilai sebuah “temuan baru-menjauhkan-dari-kompetisi-lalu-bisa-monopoli”.

Namun pada pokoknya, ada sifat ilahiah yang ditiru anak manusia. Mencipta sesuatu. Apakah akan menjadi ilmu. Apakah dalam konsep Islam ini yang dinamakan kebaikan Jariyah?

Pelan-pelan saya belajar. Di dalam tubuh saya, di antara sel-selnya yang renik terdapat materi yang sama dengan yang terdapat di ruang-ruang senyap antar bintang. Saya adalah alam. Tubuh saya patuh kepada hukum gravitasi sama seperti benda-benda langit. Tubuh saya akan hancur terurai menjadi tanah dan debu. Suatu hari tubuh saya akan kembali ke alam. Namun, saya juga belajar mengatasi hukum-hukum alam yang deterministik sekaligus memanfaatkannya, dimulai dengan belajar berenang lalu naik pesawat terbang. (“Kebudayaan dan Kegagapan Kita” – Karlina Supelli, Pidato Kebudayaan tahun 2013).

Apakah soal mencipta adalah melulu dilakukan oleh para ilmuwan. Pelaku dunia sains? Seharusnya sih ndak mesti.

Walaupun Carl Sagan menulis novel tentang dunia astronomi yang digelutinya, namun dari novelnya kita bisa memahami, walau sebuah tulisan bisa jadi justru mengilhami ilmuwan untuk mencipta dan menekuni tentang suatu hal. Pemikiran futuristik yang dituangkan dalam tulisan bisa jadi mempengaruhi percepatan kemajuan ilmu dan teknologi. Memberikan inspirasi. Hal ini dapat kita temui dari banyak karangan fiksi ilmiah Jules Verne. Kisah-kisah petualangan dengan banyak piranti dan perabot yang melampaui zamannya.

This slideshow requires JavaScript.

Di luar itu penulis sendiri sebetulnya memiliki tugas yang sama dengan para saintis. Penulis sama dengan para pelaku kebudayaan lainnya.

Keselarasan ilmu. Seiring sejalan. Beriringan menuju altar kemajuan peradaban umat manusia.

Dalam Pidato kebudayaan Karlina mengingatkan perlunya keseimbangan dunia sains dan humaniora.

Dari salah satu sisi jurang itulah terdengar sindiran penyair William Blake kepada Newton sang begawan fisika jauh di seberang,

‚ÄúMay God us keep/From Single vision and Newton‚Äôs sleep!‚ÄĚ

Blake menganggap Newton telah memicu cara pandang materialistik yang menciutkan dunia ke visi tunggal. Sungguh berbahaya jurang itu, kata Snow di bagian akhir kuliahnya. Ilmu dan teknologi akan melesat tanpa dibarengi dengan perkembangan kebudayaan dan moral yang memadai, padahal keduanya merupakan landasan material bagi hidup kita. Snow menutup kuliahnya dengan sebuah himbauan,

“Demi kehidupan intelektual … demi masyarakat Barat yang hidup kaya raya namun rapuh di tengah-tengah kemiskinan dunia, demi kaum miskin yang tidak perlu hidup miskin seandainya dunia cukup cerdas … Menjembatani dua budaya itu adalah sebuah keharusan, baik dalam arti intelektual maupun praktis. Ketika keduanya terpisah, masyarakat tidak lagi dapat berpikir dengan bijak.”

Dari sinilah amanat lain itu harus dipikul. Moral dan budaya yang dibangun dari sebuah keadaan tak kasat mata. Tidak berbau. Tidak berwarna. Dilakukan oleh budayawan. Dilakukan oleh Penyanyi. Dilakukan oleh Penari. Dilakukan oleh Artis jalanan. Dilakukan juga secara intelek oleh sastrawan. Misalnya bagi penulis, maka tugas kepengarangan itu muncul.

Namun bukan berarti mengarang pun harus dengan tujuan utama yaitu menjaga moral masyarakat dimana dirinya hinggap. Bukan.  Buatlah sebebas mungkin. Bahkan setelah teks lahir pun bukan lagi milik pengarangnya. Dia lepas. Seperti anak yang telah dilahirkan. Pemahaman konteks atas teks bahkan bukan monopoli penulisnya. Dia bebas mengekspresikan dirinya sendiri. Teks yang bermolek-molek di pikiran pembaca.

Apalagi soal moral. Pengarang tidak pernah mendapat disposisi dari siapapun juga untuk menitip pesan kebaikan moral dalam tulisannya.

Dan bahkan jikapun ada hal-hal berbau “chicken soup“, atau moralizing-wasaizing, tetap bukan semata-mata tugas pengarang untuk menjaga sesuatu hal luhur dipertahankan dalam masyarakat. Karena mengarang sebatas menyajikan. Tak ada paksaan untuk menyantapnya. Keinginan untuk membaca, keinginan untuk santap siang lahir dari masing-masing calon pembaca (atau calon bukan pembaca).

“Berterimakasihlah pada segala yang memberi kehidupan” – (Bumi Manusia, Pram)

Berterima kasih kepada Minke dan Bumi Manusia atau berterima kasih pada Pramoedya Ananta Toer?  Berterima kasih kepada penambang tembaga, pencipta dioda, transistor, kepada Alexander Graham Bell, atau pendiri Nokia?

Berterima kasihlah kepada diri sendiri. Karena dengan terus berkehendak hidup maju dan mulia, adalah langkah awal kita menikmati hidup dan saling tolong-menolong sesama manusia. Lalu kita dapat melakukan banyak hal dengan ketulusan niat dan senyum hingga akhir hayat.

Lalu  “keberadaan” kita akan melampaui tahun, abad dan zaman.

 

Akhir kata, selamat hari Sabtu. Selamat menikmati tanggal muda.

Roy.

 

 

 

 

*) dari puisi Sapardi Djoko Damono. teks aslinya:

TUAN

Tuan Tuhan, bukan? Tunggu sebentar, saya sedang keluar.

PATH. Aplikasi Pamer Anak, Tempat, Hidangan?

IMG_0323

Iseng saya menggambar ilustrasi di atas di sela kesibukan meeting yang tiada henti. Maksud hati ingin sama-sama mengasingkan diri, adakan rapat di sebuah tempat nun jauh dari kantor, tapi apa daya. Lokasi boleh jauh dari mana-mana, namun tingkat mengakses media sosial malah meningkat tajam.

Bukankah kita semua memang  begitu?

Bangun tidur, yang dicari pertama kali adalah hape. Dahulu ada masanya aplikasi pertama yang dibuka adalah sms. berharap ada balasan sms (sisa mengobrol semalam). Lalu ketika facebook menguasai dunia persilatan, apapun yang kita temui akan diposting dalam wall atau apalah namanya di akun kita. Kemudian disusul dengan twitter. Aplikasi burung biru dengan segala drama dan romantikanya. Lantas muncul instagram. Layar dipenuhi gambar ciamik dari segala penjuru dunia. Termasuk barisan ‘sista-sista penjual onlen’ yang bisa bikin ngakak sendirian gara-gara membaca komentar numpang iklan mereka, baik di akun¬†Maia maupun¬†Mulan Jameela.

Sekarang, sebgaian besar teman-teman saya lebih aktif di aplikasi Path. Dimana bahkan pertemanan yang terbatas saja masih disediakan fitur inner circle. Lebih karib dari sekadar teman. Fitur di balik layar yang memberikan kemudahan bagi kita manakala akan memuat gambar atau tulisan yang menurut kita hanya layak disampaikan kepada orang-orang yang kita percayai.

Path, menjadi salah satu aplikasi paling diminati saat ini. Bukan karena sebagian kecil sahamnya dimiliki keluarga Bakrie. Bukan.

Path menawarkan privasi. Walau sebenarnya privasi semu karena terbuka kemungkinan apa yang disampaikan dalam path diteruskan ke media sosial lain seperti twitter, facebook, instagram dan aplikasi komunikasi semacam whatsapp dan telegram.

Dan selama fitur screen capture ada, maka tak ada yang rahasia di dunia maya.

Ini yang sebetulnya harus sama-sama diperhatikan. Secara psikologis kita merasa nyaman dengan teman-teman kita. Merasa aman dengan orang-orang yang kita kenal baik saja. Maka isi dari Path sifatnya relatif lebih personal. Intim.

Tapi namanya juga orang timur. Terkadang kita gatal untuk juga menambah hubungan pertemanan dalam path kepada orang yang sama sekali belum kita kenal. Entah maksudnya apa. Bisa jadi akan terulang masa-masa keemasan #TwitterCrush, dan berharap terjadi #PathCrush.

Saya bertaruh dengan teman saya bahwa Path pada akhirnya akan juga ditinggalkan pelan-pelan. ketika semua penghuninya sudah merasa jemu. Path menjadi ajang Pamer Anak, Tempat, (dan) Hidangan. Silakan kamu skrol layar hape. Berapa proporsi gambar anak bayi baru duduk di korsi anak kecil di restoran dengan tangan belepotan, atau anak bayi yang dipaksa pakai pinsil alis oleh ibunya. Juga pamer tempat. Entah itu hotel tempat menginap yang dibiayai negara, kunjungan ke tempat wisata acara kantor. Atau juga lokasi dimana kita jarang sekali bisa hadir disana. Misalnya saja. @LP Cipinang. @Rumah Tahanan KPK. @Istana Negara @Hati_nya.

Bagaimana dengan hidangan? Wah ini juaranya. Biasanya sepaket dengan tempat restorannya. Walau terkadang isinya hanya semangkok bakso. Segelas bir.

Ada juga yang menganggap huruf h pada Path adalah Harta. Hahahaha. Bisa jadi.

Karena Path, berapa kali kamu kecewa karena tak juga disetujui permohonan pertemanan? Karena path berapa dari kita yang akhirnya putus hubungan? Tapi saya yakin akan jauh lebih banyak yang lebih ikrip dan bahagia gemah ripah loh jinawi dengan berbagi keceriaan lewat postingan melalui Path.

Terlepas dari itu semua, pada akhirnya kita akan menemui hal baru. Path akan sepi. Akan muncul aplikasi lain yang jauh lebih intim, lebih bisa pamer, dan seakan-akan lebih akrab. Banyak cara orang ingin menghibur diri. Diciptakan, dikenalkan, dirayakan, lantas menyurut. Lalu mati.

Misalnya saja aplikasi yang dapat mengirim aroma dan bebauan. Saya yakin #petrichor, #bau_abab, #kentut_mantan_Vs_kentut_ayang bakalan jadi trend. Atau aplikasi yang dapat memindai secara otomatis retina mata dan mimik muka lawan bicara kita sehingga dapat dipastikan antara apa yang diketik dan suasana batin sesungguhnya sesuai atau tidak.

Dunia yang kita huni adalah dunia yang memiliki kecendrungan selalu berlawanan dalam segala hal. Ada siang ada malam. Ada terang ada gelap. Path, memiliki keduanya. Ada yang membuat intim dan personal tanpa banyak orang tahu, namun sekaligus memperluas cara dan gaya dalam memamerkan diri.

Begitulah kira-kira. Apakah  setuju? Apa arti Path bagi kamu?

 

Sorry Dorry Morry Kita Ndak Level

Generasi tengah Indonesia. Sebagian menyebutnya kelas menengah. Para pemilik harta benda secukupnya. Ndak kurang, juga ndak berlebih. Kelas menengah mengakui berlebih dibandingkan yang benar-benar kelas atas. Ndak papa. Menengah itu bisa seperti sekolah. Kelas menengah pertama atau kelas menengah atas. Namanya juga tengah.

Generasi tengah adalah bagian kecil dari munculnya fenomena kekinian yang melanda hampir seluruh masyarakat dunia.

Ketika perjuangan antar kelas dikumandangkan oleh para pemikir jaman dahulu, kita masih berkutat dengan banyak pilinan yang belum  teranyam menjadi nusantara. Ada pilinan agama, pilinan bahasa, pilihan suku, pilinan bangsawan, pilinan petani, pilinan pedagang dan pilinan lain yang terpisahkan karena perbedaan identitas tersebut.

Kelompok kedaerahan apakah sudah usang? belum tentu. Selama kekerabatan dan memiliki senasib sepenanggungan asal sesama daerah masih ada dalam sikap batin kita, maka kedaerahan masih dipedomani oleh kita. Juga sentimen agama.

Pemikiran purba itu mulai bergeser dengan konsep cara pandang terkait perjuangan antar kelas. Anak jaman sekarang menyebutnya social climber. Dari kere, biasa, agak mampu, mampu, kaya, kaya norak, kaya kalem, dan creme de la creme satu persen. Kelas menengah dan atau generasi tengah berada di antara kolom agak mampu  dan mampu.

5a9b4dd2261f4c39a2c56d1fbf2e3210

Apa ciri-ciri generasi tengah ini? saya ndak tahu. Apa ciri-ciri penampilan, gaya bicara, cara pandang, mimpi, masalah dan hal lainnya? Saya ndak tahu. Yang saya rasakan adalah bahwa pengkotak-kotakan hidup jaman sekarang memang nyata-nyata berdasarkan faktor ekonomi. Dan secara tidak sadar kita mengakui, memedomani dan menghayati secara senyap.

Kita ndak protes ketika dalam satu pesawat dengan teman kita ternyata beda letak korsi. Dia di deretan Bisnis sedangkan kita ekomnomi. Sejak awal kita sadar bahwa kita mampunya itu. Jika teman kita itu ternyata teman sekampung dan teman satu kos, maka sejatinya cara hidupnya, cara pandangnya tentang kehidupan, cara berpikir tentang suatu hal akan berbeda jauh dengan kita. Catat! Walau satu kampung, satu kos bahkan satu kampus, akan jauh berbeda.

Mengapa?

Jawabannya satu: Beda status sosial yang dipisahkan oleh faktor ekonomi.

Jika perjalanan pesawat tersebut adalah perjalanan dari Jakarta menuju Makassar, maka banyak hal bisa terjadi yang makin memperlebar jurang kelas.

Ketika di kelas bisnis, si teman kita akan bertemu dengan teman satu bangku  yang juga mampu membeli tiket bisnis. Terjadilah dialog yang nyambung dari skala ekonomi. Mereka akan saling bercerita tentang asal sekolah, tempat tinggal, dan kampung halaman, serta hal lain yang menarik minat mereka. Dengan lancar dapat diduga mereka akan membicarakan soal antrian yang mengular di H&M Balmain. Bicara fitur apa yang membedakan iPhone6 dan 6s. Berbincang tentang affogato fondue paling enak di daerah Jakarta Selatan. Khusyuk bicara perbedaan layanan kamar Mulia Nusa Dua dengan Hotel Mulia Jakarta. Mengapa Restoran ScallyWags Gili Trawangan lebih ramai dibandingkan yang di Gili Air. Berdebat soal mengapa Komaneka Tanggayudha sarapannya lebih enak daripada Komaneka Monkey Forest.

Sedangkan kita, di bangku ekonomi, akan bicara soal-soal yang memang dialami dan telah dirasakan oleh kita. Misalnya teman bangku kelas ekonomi kita orang Ubud. Dia tidak mungkin membicarakan soal sarapan Komaneka Tanggayudha, karena walaupun letaknya di kampungnya, dia belum pernah sekalipun duduk di lobby atau berdiri di depan resepsionisnya. Atau jika teman sederet kursi kita asli dari Lombok. Dia malah tidak pernah tahu bedanya Gili Trawangan dan Gili Air, karena sepanjang hidupnya dia masih mentok jalan-jalan ke Senggigi. Ya. Faktor ekonomi. Atau teman sederet pesawat kita  anak kampung  Kemang Bangka. Walaupun disana, dia ndak bakalan tahu apa menu yang ada di kafe-kafe Kemang, judul buku di deretan awal rak Reading Room, dan mengapa Eastern Promise akhir-akhir ini menyetel lagu London dari Benjamin Clementine.

Pengguna bangku ekonomi dalam pesawat akan lebih banyak bicara mengapa asap di Sumatra membungbung tinggi, mengapa sepatu nike makin mahal saja. Mengapa detik dan mojok.co sekarang lebih banyak bicara hal-hal konyol. Mengapa artis A memilih B, dan bukannya C.

Itulah bedanya kita dengan mereka. Itulah bedanya memiliki uang sejuta dan satu milyar.

Anak kaya Jakarta akan lebih tahu bedanya dan mengapa penyu di Pulau Ora mengapa lebih gemuk-gemuk, dibandingkan di daerah Maratua, dibandingkan dengan penduduk  Pulau Ora atau Maratua itu sendiri. Anak kaya Medan akan lebih nyambung bicara dengan anak kelas tengah nyaris kaya dari Bandung saat bicara betapa dinginnya AC Premiere studio XXI di Mal Pondok Indah dibandingkan si Fulan yang setiap harinya jualan case hape di kios lantai dasar Pondok Indah Mal.

Penyapu lantai mal Plaza Indonesia tidak mungkin berbagi cerita tentang secangkir kopi Iced Shaken Double Shot dari Starbucks yang  dia pel lantainya sebelum jam tujuh pagi.  Si V anak juragan tembakau Temanggung akan paham benar bedanya Wahana Dufan dan Trans Studio Bandung, dibandingkan si Z yang tinggal di kampung sebelah Ancol atau si Y yang seumur hidup tinggal di Jalan Gatot Subroto Bandung, persis belakang Trans Studio Bandung.

Perbedaan pengalaman seiring waktu akan membedakan pola pikir, pola tindak dan tujuan hidup. Pemisahan ini akan terus melebar. Lalu akhirnya tak saling kenal.

Benar apa yang dikatakan teman saya, Glenn Marsalim:

Seburuk-buruknya kedekatan, lebih bernilai dari seindah-indahnya keasingan.

Dalam konteks ini, walaupun banyak hal secara fisik dekat dengan kita, namun sejatinya asing karena kita tak pernah benar-benar bersentuhan langsung dengan hal-hal di sekitar kita.

Dan faktor pemisahnya itu adalah  isi dompet.