Kisah Seribu Kunang-kunang di Bloomington dan Orang-orang Manhattan

typinginlondon_photoutama

Entah seberapa lekat antara Yuwono Sudarsono dan Budi Darma bersahabat. Dalam cerpennya yang dibuat tahun 1976, Budi memberikan catatan bahwa cerpen tersebut untuk Yuwono Sudarsono“. Cerpen Lelaki Tua Tanpa Nama diselesaikan Budi di London pada tahun 1976. Bisa jadi saat itu Yuwono kebetulan sedang menjadi mahasiswa The London School of Economics dan Budi menumpang menginap di rumahnya.

Umar Kayam menulis perihal Jane dan Marno pada tahun 1968. Kisah sejoli itu diberi judul Seribu Kunang-kunang di Manhattan. Pada tahun yang sama Horizon, majalah sastra terbaik (atau adanya cuma itu) waktu itu mengganjarnya sebagai cerpen terbaik.

Kisah Jane dan Marno adalah kisah anak manusia di belantara kota paling besar sedunia. Sepasang darling yang minumnya martini, gin, scotch, bourbon atau campuran vermouth. Juga pembicaraan soal Alaska, “musim summer” di Texas, Kansas dan Arkansas. Atau membicarakan Empire State Building dan New York Times. Juga pembicaraan ngelantur dua anak manusia ini soal Oklahoma City.

Lambat laun tulisan Umar “turun ke bumi”, dalam benak lelaki jawa yang tinggal di jawa. Artikel yang rutin dibuatnya di koran Kedaulatan Rakyat sejak tahun 1987. Kisahnya tentang warga masyarakat jawa melalui tokoh Mr. Rigen dan Pak Ageng juga Benny Prakosa. Walau terkesan berbeda, satu kota besar bernama Manhattan, kedua bernama Sleman atau Jogja atau Bantul, tapi yang disampaikan Umar adalah tetap soal hidup manusia dan alam lingkungannya. Tantangan atau pertarungan atau justru penyelarasan antara mikro dan makro kosmos. Sikap batin dan fenomena budaya. Menghirup dan meruap udara sekitar.

Pada saat menulis kisah Marno dan Jane dalam cerpen Seribu Kunang-kunang di Manhattan, Umar tidak sedang mengalami langsung alam barat, melainkan pemahamannya tentang barat berdasarkan ingatan pernah bersekolah disana. Umar bersekolah dan meraih gelar M.A pada tahun 1963 dari Universitas New York, dan meraih gelar  Ph.D dari Universitas Cornell dua tahun kemudian. Ketika menulis Seribu Kunang-kunang, dirinya sudah menjadi seorang Dirjen Radio, Televisi, dan Film Departemen Penerangan, yang ia jabat sejak 1966-1969 (dan jika benar ia ahir tahun 1932 maka ia menjabat Dirjen pada usia 34 tahun!).

Hal ini sedikit berbeda dengan Budi Darma. Orang-orang Bloomington, juga kumpulan cerpen, mulai ditulisnya ketika Budi sedang merampungkan kuliahnya di sana. Namun tetap saja, Budi tidak merampungkan satu cerpen pada tempat yang sama. Berdasarkan pengantar yang ditulisnya untuk Penerbit Noura Book (Mizan) di edisi terkini, cerpen yang dibuatnya ia tulis di beberapa belahan kota di Chicago, Aliquippa, kota kecil di negara bagian Pennsylvania, juga di London, Paris dan sebuah kota kecil di Belanda yang ia sendiri lupa namanya.

Persamaan dari Umar dan Budi adalah sama-sama mengaku bahwa cerpen mereka adalah fiksi berdasarkan fakta.

Jika fakta yang diperoleh adalah berdasarkan pengamatannya atas peristiwa yang dirasa, dialami, diresapi oleh penulis, maka karya yang dihasilkannya adalah sebuah fiksi yang mengendap dan “kaya”.  Saripati dan buah kehidupan sehari-hari yang dijalani. Sebuah kisah perjalanan panjang yang ditulis ringkas  agar enak dibaca dan sulit dilupakan.

Pertanyaannya adalah:

Apa yang bisa diharapkan dari penulis masa kini, yang lebih sibuk mengejar centang biru dan menenteng kamera untuk vlognya yang sungguh ala kadar? Juga pengalaman hidupnya yang sungguh kaya……… di sosial media.

Itu pun ternyata tak mengapa. Mereka pun sedang menikmati alam kekinian. Tantangan zamannya masing-masing. Toh, mereka penulis biasa saja dan tidak (sedang) membuat karya tulis bernama sastra.

 

salam anget,

loi cayul

 

 

4 thoughts on “Kisah Seribu Kunang-kunang di Bloomington dan Orang-orang Manhattan Leave a comment

Leave a Reply