Merokok Mati, Tidak Merokok Mati

Manusia adalah enigma yang tersaji dan tersimpan rapi dalam diri. Dan yang selalu membuat saya menikmati kehidupan yang bahagia sebagai manusia adalah sudut pandang manusia yang sungguh sederhana, namun kaya. Maka, saat menanyakan merokok mati dan tak merokok mati, saya dan kamu mungkin akan dipertemukan sejumlah pertanyaan unik. Dan yang tak lebih menariknya, menyaksikan kebebalan-kebebalan yang tersaji di dalamnya.

Untuk memperjelas, saya seorang yang tak merokok yang pernah merokok. Setidaknnya, saya pernah membenci rokok, pernah memujanya, dan kini saya, biasa saja terhadap barang ini. Kafir betul? Terserah, tapi yang jelas, saya memiliki sebab mengapa saya melakukannya.

Saya lahir dan dibesarkan di keluarga dimana (alm.) kakek saya adalah seorang perokok. Ia senang meyemburkan abunya di udara dan membuat saya – yang pada saat itu tak tahan dengan asap rokok – batuk-batuk. Saya jelas membencinya tiap kali ia merokok. Ucapan tulisan peringatan di badan bungkus rokok nyatanya tak menghentikan kakek saya untuk terus merokok kala itu. Ia lalu merokok dalam segala kegiatannya: saat ia tertawa dan mengenang masa muda dengan angkatan tua yang sebaya dengannya ataupun dengan saya, atau membaca buku, atau menikmati senja di usianya yang sudah tua. Hari-harinya ia hadapkan dengan rokok, dan karena rasa sayang bercampur ego sendiri, saya sangat ingin ia berhenti merokok.

Pengaruh-Rokok-Bagi-Kesuburan

Saya berpikir, apa gunanya seseorang untuk merokok kala itu. Saya berpikir seperti lingkungan masyarakat kita sendiri yang cenderung kepo dan memberikan perhatian yang tak perlu kepada suatu hal dan abai terhadap hal yang lebih penting. Saya benar-benar ingin ia berhenti merokok. Tapi apa yang ingin saya katakan kepadanya? Nyaris ia sempurna sebagai orang tua. Ia menggantikan peran ayah saya, untuk menjemput dan memberikan cintanya, saat ayah saya harus kerja di luar kota demi menafkahi saya dan ibu. Ia adalah seorang pemikir yang luar biasa dan menularkannya, mulai dari sepak bola hingga perkara wanita. Ia tak pernah sekalipun marah atas kenakalan saya meski ia sangat bisa marah. Ia sangat tenang, atau jikalau tidak, rokok akan menenangkannya. Ia senang sekali dengan Abu Nawas yang cerdik, dan senang menceritakan kisah-kisahnya sembari berharap mungkin saya akan secerdik dia. Ia tak pernah jadi beban, hingga akhir usia ia harus berhadapan dengan kanker paru-paru yang mengakhiri hidupnya.

Lalu, dengan orang yang seperti ini, bagaimana bisa saya tega mempersoalkan permasalahan, yang kemudian saya rasa, sepele sebenarnya? Merokok dan tak merokok adalah urusan perihal dirinya sendiri. Merokok bukan seperti makan, lari, atau aktivitas apapun yang dapat dilakukan secara tergesa-gesa. Merokok itu butuh ketenangan, setiap hisapannya harus dinikmati dengan refleksi diri atau segala pemikiran yang muncul saat menghisapnya. Lagipula, saya ingat, apakah perkataan kita yang tak mengenakkan tentang perokok juga tak lebih membunuh perokok dibandingkan asap yang mereka tebar di seluruh ruangan? Lidah tidak bertulang, dan lidah lebih tajam daripada pisau. Dan sayangnya, pisau tersebut kerapkali digunakan untuk hal yang tak perlu – untuk memaksa orang lain setuju atas apa yang ia yakini dan ia ingin jalani.

[]

Arif Utama, Penulis sepak bola di @Fandom_ID dan suka nongol di @ID_Voxpop . Sila dihubungi via twitter di @utamaarif

Advertisements

Mendengar Dengan Hati

Adakah yang suka dengan AC/DC di sini? Bukan Karjo lho. Ini band rock legendaris dari Australia. Mereka sudah ada sejak awal tahun 70an. Yang menjadi maskot dari band sekaligus pendiri adalah Angus Young. Gitaris ini memiliki ciri-ciri selalu memakai gitar Gibson dan memakai busana anak sekolah di luar negeri sana. Dia juga terkenal dengan duck-walknya. Gaya yang banyak menginsipirasi banyak gitaris sesudahnya. Sebut saja Eet Syahrani. Berita menyedihkan didapat ketika Brian Johnson, sang vokalis, tidak boleh manggung oleh dokter pribadinya karena pendengarannya terganggu. Jika dia keukeuh tetap manggung maka ia akan kehilangan pendengarannya secara permanen. Mereka mempunyai hutang belasan tur di belahan negara Eropa. Konsekuensinya? Mereka membatalkan sisa tur yang ada, atau mencari penyanyi pengganti. Mencari pengganti Brian Johnson adalah hal yang agak sulit ditiru. Mengingat jenis suaranya yang khas dan juga dia mempunyai persona yang tidak semua orang memilikinya.

acdc5

Berita ini sampai kepada Axl Rose, vokalis dari Guns N’ Roses, yang baru saja mengadakan reuni. Axl menawarkan dirinya untuk menjadi pengganti di sisa tur AC/DC. Axl mempunyai tipe suara yang agak mirip dengan Brian. Tapi Axl Rose adalah Axl Rose. Seorang frontman yang terkenal temperamental. Terkenal sebagai tukang ngaret. Biang kerok. Sangat moody.  Tapi AC/DC tidak banyak mempunyai pilihan. AC/DC menjadi menerima pinangan Axl Rose. Hasilnya maka fans AC/DC terbelah. Banyak yang mencibir keputusan ini. Ribuan tiket dikembalikan. Mereka menganggap Brian Johnson tidak tergantikan sebagai mana Angus Young yang juga tidak ada gantinya. Tapi the show must go on. Dan setelah saya lihat di beberapa footage di youtube pun suara Axl Rose tidak mengecewakan. Bahkan boleh dibilang bagus. Dia pun tidak banyak berulah.

acdc

Kabar ini juga ternyata sampai kepada Stephan Ambrose, seorang teknisi yang bergelut di bidang in-ear-monitor yang dikhususkan untuk mereka yang memiliki masalah dengan pendengaran. Stephan seorang penggemar berat AC/DC dan ia menginginkan agar Brian tetap di AC/DC dan tetap manggung seperti sedia kala. Alat sejenis earphone ini bisa membantu mereka yang pendengarannya terganggu. Bisa dibayangkan jika anda selama belasan tahun pendengarannya terganggu dan ternyata dengan memakai alat ini pendengaran anda menjadi normal lagi?

Atau coba bayangkan jika yang selama ini hilang lalu seketika kembali ke pangkuan.

Dress Code

Katanya, Dress Code pada undangan tujuannya supaya para tamu gampang menentukan busana apa yang mereka pakai. BOHONG!

Tujuan Dress Code lebih pada selera pengundang ketimbang tamunya. Dress Code sering bikin bingung daripada ndak ada Dress Code sama sekali. Percaya ndak percaya, sebenarnya ada harapan tertentu di balik saran Dress Code di undangan. Pengundang berharap seluruh tamunya berpenampilan setara. Enak dilihat. Bagus difoto. Juga ndak melanggar etika acara.

image

Dress Code muncul di mana-mana. Udah lumrah di undangan pernikahan sampai acara bisnis. Etikanya, tamu mesti memperlakukan Dress Code sebagai permintaan. Jadi, akan lebih baik kalau undangan itu berbunyi “kami mohon para tamu menggunakan busana bernuansa putih untuk mempercantik acara.” Sama seperti permintaan supaya ndak bawa hadiah, tapi uang.

Dress Code paling mudah adalah kode warna. Ndak terlalu merepotkan dan mudah diterjemahkan. Kecuali tamu punya masalah buta warna atau fobia dengan warna-warna tertentu. Dress Code juga punya jenjang formalitas. Secara berurutan:

BLACK TIE
Untuk laki-laki, kode busana ini jelas sekali: tuxedo. Titik. Untuk perempuan agak ngambang. Biar gampang, bayangkan pakaian yang bisa mendampingi formalitas tuxedo. Ya, siapkan gaun panjang atau formal black dress terbaik dengan perhiasan andalan.

BLACK TIE OPTIONAL
Di sini mulai bikin bingung. Laki-laki punya pilihan pakai tuxedo atau jas berwarna gelap dengan dasi. Untuk perempuan boleh pakai gaun panjang, gaun selutut atau cocktail dress yang lebih formal. Meskipun ndak ada hukumnya, diliatin orang kan ndak enak ya?

CREATIVE BLACK TIE
Apa ini? Ini jenis Dress Code yang membolehkan tamunya berimajinasi. Tamu boleh lebih kreatif dengan padu-padan yang pas. Laki-laki bisa berkemeja gelap dengan dasi kupu-kupu merah, misalnya. Yang perempuan, bisa bermain dengan gaun yang lebih ornamental. Ya gitu deh.

COCKTAIL
Untuk laki-laki, gunakan stelan jas gelap dengan dasi. Untuk perempuan kali ini lebih jelas: cocktail dress.

FESTIVE
Mulai ngambang lagi. Ini semacam busana coctail dengan nuansa liburan. Lebih santai dari cocktail tapi masih formal di depan mata. Laki-laki bisa mengenakan stelan yang lebih terang. Perempuan bebas, sejauh ndak pakai bikini.

BUSINESS FORMAL
Dari sekian banyak Dress Code, business formal adalah yang paling mudah untuk kedua gender. Kenakan stelan kerja khas pengacara. Blazer, jas, dasi, dan kawan-kawannya.

BUSINESS CASUAL
Kali ini lebih kreatif dengan jenis bahan dan warna. Tetap kenakan blazer meski dipadankan dengan kaos bergaris. Siapa yang bilang boleh pakai jeans?!

SMART CASUAL
Jembatan antara santai dan bisnis. Sedikit si bawah business casual, tapi siatas casual. Bingung? Sama! Intinya boleh pakai jeans, tapi padankan dengan sesuatu yang lebih formal. Misal kemeja atau kaos dan blazer.

CASUAL
Silakan. Jeans, sneakers, kaos. Apapun yang nyaman dan sopan. Kecuali bertema pantai, jangan coba-coba pakai sandal.

Mari berterima kasih sama budaya Indonesia. Dari Black Tie sampai Festive bisa dilebur jadi: kemeja batik dan kebaya! Tinggal ikuti tema warna, kalau ada.

Dress Code secara informal juga muncul. Kadang ndak ada tulisannya sama sekali. Tapi bisa langsung diterjemahkan. Seperti undangan pemakaman, Hari Kartini, 17-an, haloween, pengajian, silaturahmi, dan orgy party. Tau kan apa yang harus dipakai?

Amba

Bhisma Amba

‘Kasihan ya Dewi Amba.’

Hujan terlihat rintik membasahi kaca jendela mobil, ketika dini hari itu saya dan Ibu berkendara pulang sedari jalan-jalan. Radio sayup-sayup menyenandungkan lagu yang saya lupa judulnya, walau ingat sedikit iramanya.

‘Jatuh cinta sama Bhisma, tapi malah nggak sengaja terbunuh.’ Lanjut Ibu. Saya menengok sedikit ke kursi penumpang, menangkap wajah Ibu yang sedang khusyuk memandangi layar telpon genggam. Parasnya yang letih namun cantik tersirami cahaya terang dari telpon yang sedang ia tatap, meyingkap satu sisi wajah beliau yang seperti termenung. Ia tampak sedang membaca sebuah artikel di telponnya, kegiatan yang baru ia sukai setelah beliau berkenalan dengan smart phone.

‘Lagi baca cerita tentang Dewi Amba ya?’ Tanya saya. Yang ditanya hanya mengangguk pelan.

‘Tapi kan abis itu dia lahir lagi jadi Srikandi. Bisa balas dendam ke Bhisma.’ Saya meneruskan sembari memandang keluar jendela, mengamati jalanan yang basah berkilat-kilat. Pikiran saya melayang jauh ke kisah Amba dan Bhisma yang pernah saya baca sedari kecil. Cukilan dari Mahabarata yang selalu membuat perasaan ini haru biru.

Bhisma Dewabrata, menyandang nama yang begitu mulia karena ia berjanji kepada ayahnya, Raja Sentanu, untuk hidup selibat dan takkan menikah seumur hidup, serta tak akan menuntut tahta di Hastinapura yang seharusnya menjadi haknya. Sumpah ini ia ucapkan atas dasar cintanya pada sang ayah yang ingin menikahi Dewi Setyawati, yang meminta Sentanu untuk menyerahkan tahta Hastinapura untuk dan hanya kepada anak mereka berdua.

Dewi Amba adalah rampasan perang yang dimenangkan oleh Bhisma. Namun ia tak ditakdirkan bersama Bhisma karena sumpah yang sudah diucapkan oleh Bhisma untuk tak beristri. Terombang-ambing antara statusnya sebagai wanita yang dimenangkan Bhisma di medan perang, dan penolakan mutlak yang diberikan oleh sang ksatria karena ia memilih hidup selibat, Amba malah jatuh hati.

Menyadari cintanya yang takkan terbalas, Amba memaksakan Bhisma untuk mengerti sudut pandangnya. Bahwa nasibnya sebagai wanita rampasan perang takkan jelas kecuali Bhisma bertanggung jawab dengan cara menyuntingnya. Lelah menolak dan memberitahu Amba bahwa itu tak mungkin, Bhisma mencoba menakuti Amba dengan menarik panah di tali busur, mengarahkan ujung panah ke dada sang dewi, dengan harapan Amba akan mundur teratur.

Tetapi Dewi Amba tak kenal takut. Ia malah maju dan semakin mendekat ke Bhisma, seolah menantang balik, yakin bahwa dengan segala gertakan apapun, Bhisma tetap takkan tega.

Namun Bhisma, yang merupakan ksatria terlatih dengan pengalaman paripurna, yang bisa mengalahkan ratusan perwira hanya dengan satu tarikan tali busur, pada sore itu tak sanggup menahan satu panah di jemarinya untuk tak melaju. Dengan tidak sengaja, anak panah terlepas dari jari jemari Bhisma dan menembus dada Amba yang hanya dilindungi kain tipis.

Amba ambruk. Hatinya hancur. Sebelum tubuhnya rebah ke tanah, ia ditahan oleh Bhisma yang masih setengah tak percaya. Sebelum jiwa Amba meninggalkan tubuhnya, ia bersumpah akan kembali untuk menuntut balas dan keadilan dari Bhisma, bahwa ia akan menitis menjadi seorang wanita yang akan mengambil nyawa Bhisma di peperangan terbesar dan terakhir yang akan Bhisma tarungi. Demikian Amba meninggal di pelukan pembunuhnya yang ia cintai.

‘Iya sih, lahir lagi jadi Srikandi, tapi kan pas jadi Amba kasihan. Udah rampasan perang, ga diinginkan sama Bhisma. Terus meninggal gak sengaja pas dia berusaha ngobrol baik-baik.’ Kata Ibu.

Pas jadi Amba kasihan. Kata tersebut terulang di kepala. Nasib manusia selalu sulit dipahami, terutama bagi mereka yang menjalaninya. Kisah sastra yang walau cukilan, bahkan sering terasa lebih menyedihkan dari kenyataan. Saya sering berdiskusi dengan Ibu, bahwa hidup yang kita jalani pada detik ini adalah bagian dari sebuah desain besar. Grand design. Kita juga akan selalu memetik karma dari perbuatan yang pernah atau akan kita buat sebelumnya.

death of bhisma

Tidak seperti dengan almarhum Bapak, saya jarang berdiskusi dengan Ibu. Pembicaraan dengan beliau selalu pragmatis. Namun semenjak Bapak meninggal, perlahan-lahan dinamika tersebut berubah. Mungkin ia rindu Bapak. Ibu mulai sering mengajak bicara tentang Tuhan, agama dan problematikanya yang tak kunjung selesai, tentang dualisme Semar yang menarik, atau seperti pada malam itu, tentang betapa kasihannya Dewi Amba.

Dalam pandangan saya ke kursi penumpang, saya perhatikan lengan kanan Ibu yang masih dibebat. Beberapa hari yang lalu ibu baru jatuh di kamar, menghempas lantai dingin dengan keras. Akibatnya, lengan atas beliau terpisah dari belikat, menyebabkan tak hanya rasa sakit yang amat sangat tetapi juga kekhawatiran dari seluruh keluarga.

Ibu saya bukan Dewi Amba. Ia tidak terlahir dari keluarga raja yang kemudian disayembarakan untuk kemudian dimenangkan oleh seorang ksatria. Setahu saya, kisah cintanya dengan pria yang kemudian dinikahinya, hampir selalu indah sampai akhirnya sang suami meninggalkannya ke alam lain beberapa tahun lalu.

Tetapi Ibu kerap merasa sedih. Ada beberapa hal yang menggelayuti pikirannya. Ia tidak mengutarakannya langsung, tetapi saya dapat merasakan warna suaranya yang kerap berbeda, tatapan matanya yang sering menerawang jauh di antara percakapan-percakapan, dan nada bicaranya yang kadang seperti tercekat.

Ibu saya bukan Dewi Amba. Ia tidak pernah memaksakan apa yang bukan menjadi hak beliau. Ia menerima kami, anak-anaknya apa adanya dengan segala kelebihan dan kekurangan. Walau terkadang dalam penerimaan beliau, terselip kesedihan dan mungkin juga pengandaian akan keadaan yang berbeda.

‘Yang penting ketika ia jadi Srikandi, karmanya berhasil dibalaskan, bu.’

Hujan masih membasahi jendela mobil, rintiknya perlahan terlihat memercik pada jalanan yang berkilat-kilat. Radio masih menyenandungkan lagu sendu, yang tetapi kali ini terdengar lebih ceria. Ada sedikit harapan di antara saya dan Ibu. Mungkin di kehidupan kali ini ada beberapa hal yang tidak semerta-merta harus diselesaikan, ada beberapa hal yang hanya bisa kami usahakan tanpa tahu kepastiannya. Tetapi entah di kehidupan kami selanjutnya, mungkin Ibu saya bisa sepenuhnya berbahagia.

[]

 

 

Penulis:

Galih Sakti / @galihwismoyo (twitter dan instagram). Saat ini Galih sedang asik menggeluti bidang lukis dan ilustrasi, sambil mengajar di jurusan Film dan memproduksi film pendek.

 

KUKURUYUUUK (Bagian 2)

Sejujurnya saya bukan orang yang terlalu percaya pada pendidikan formal. Kepercayaan yang menguat seiring pertambahan usia. Kebanyakan yang menolong hidup saya selama ini adalah orang-orang yang saya temui dan kesalahan-kesalahan yang saya lakukan. Bukan yang diajarkan selama saya bersekolah. Ibu saya bersekolah lebih tinggi dari saya, lulusan luar negeri. Ayah saya pandai berbahasa Inggris lisan dan tulisan. Hasilnya? Tak lebih istimewa dari yang tak pernah bersekolah tinggi tapi rajin bekerja dan luwes pergaulan.

Sama dengan bisnis nasi ayam ini. Jangankan sekolah memasak, ikut kursus memasak pun saya belum pernah. Sampai sekarang. Ilmu yang saya terapkan di dapur selama ini saya peroleh dari Universitas AFC, Asian Food Channel. Dan dosen idola saya bernama Nigella Lawson. Ditambah ilmu dari orang-orang yang saya temui dan tak sengaja menyampaikan ilmunya. Tak sengaja? Begini ceritanya…

1. Minyak Bawang

Nasi Ayam Hainan yang sering kita makan kalau lagi ke Singapura, memang tidak menggunakan minyak bawang. Itu loh, minyak yang ada cacahan bawang putihnya yang garing. Saya suka sekali dan ingin bisa menambahkannya di nasi ayam saya. Selain menambah aroma, juga menambah tekstur di lidah.

Sayangnya, walau sudah berkali-kali mencoba membuatnya selalu gagal. Yang bawang putihnya keburu gosong, sampai aroma wangi yang tak keluar. Pun saat mencicipi di restoran, minyak bawang yang mereka sajikan aroma dan rasanya cenderung hambar. Sampai di suatu kesempatan, saya menghadiri acara makan-makan yang diselenggarakan oleh Maharasa Indonesia berjudul Artisanal Minangkabau Culinary Experience. Banyak hal baru yang saya pelajari. Terutamanya soal bahan dan proses memasak tradisional yang sebenarnya sederhana tapi khas.

Acara yang lumayan panjang itu memiliki waktu rehat. Di saat rehat itulah semua peserta mengambil kesempatan untuk berbincang dengan Chef Utama yang sebelumnya berkelana keliling Sumatera. Karena penuh orang, saya pun beranjak ke dapur saja. Mencuri-curi pandang persiapan yang mereka lakukan. Di luar dapur, ada seorang pria yang mengenakan seragam dapur sedang merokok. Tampilannya lusuh dan wajahnya tampak letih. Saya sengaja meminta rokoknya supaya bisa mulai berbincang. Untung dia murah hati memberikan rokoknya dan kemudian bercerita soal kesulitan memasak makanan Minang secara otentik di Jakarta. Salah satunya “di sana mereka pake minyak kelapa. Minyak kelapa itu kan punya tingkat panas yang rendah dan stabil… Jadi kalo kita goreng itu dia panasnya pelan…”

TRING! sejak saat itulah minyak bawang putih saya menggunakan minyak kelapa. Hasilnya? Bawang putih tak lagi gosong dan aroma yang sedap lebih tahan lama.

2015-08-07 08.39.16

2. Ayam Kampung 

Sepertinya, semua orang punya caranya sendiri untuk membuat Ayam Kampung menjadi empuk. Karakteristiknya yang tidak memiliki banyak lemak menjadi tantangannya. Butuh waktu lebih lama ketimbang memasak Ayam Negeri. Sementara menjaga agar rasa khas Ayam Kampung tak hilang akibat proses masak yang terlalu lama.

Dalam sebuah perjalanan ke Ubud, saya iseng masuk ke sebuah restoran kecil yang menyajikan masakan Thailand. Karena waktu itu baru pukul 5 sore, hanya ada dua meja yang terisi. Saya duduk di meja paling dekat dengan dapur. Sambil menunggu pesanan datang, saya lirak lirik ke seluruh sudut restoran. Sampai seorang pria seperti menangkap mata saya dan kemudian bertanya dengan bahasa Inggrisnya yang khas “you need anything?”

Rupanya dia lah pemilik sekaligus Chef di restoran mini itu. Tentunya saya gembira sekali bisa berbincang dengannya mengenai bisnis restoran di Ubud. Walau ada sedikit kendala bahasa tapi saya cukup menangkap soal kesulitan yang dihadapinya. Intinya, berbisnis makanan di Ubud tak seperti yang kita lihat sebagai pelancong. Salah satunya adalah, bahan baku. Dan Ayam yang tersedia di Bali juga menjadi salah satu tantangannya.

Tentu saja topik ayam ini menarik perhatian. Berceritalah dia soal teknik memasak orang Bali beserta kekurangan dan kelebihannya. Menurutnya, dengan cara masak yang sekarang, menghilangkan banyak rasa dan aroma Ayam, makanya dibutuhkan banyak bumbu dan sambal supaya Ayam menjadi nikmat. “Di kampung saya, ada cara mengukus ayam sehingga minyak dan kaldu yang keluar dari ayam tak lari ke mana-mana…” sambil terus melanjutkan tanpa tahu bahwa saya berdagang nasi ayam. Saya catat dalam hati baik baik.

Pulang dari restoran itu, saya berterima kasih banyak padanya dan syukur saya panjatkan pada Sang Hyang Widhi,

2015-07-14 03.06.19

3. Sambal dan Saos

Walau bukan pencinta makanan yang terlalu pedas, tapi saya sadar nasi ayam perlu sambal dan saos yang mumpuni. Tanpanya, nasi ayam akan terasa hambar dan membosankan. Selama ini saya belajar dari Youtube dan Google University tentang cara membuat sambal dan saos untuk nasi ayam. Walau saya sendiri sebenarnya kurang puas dan belum ada komplen dari pembeli, ya sudah bisnis berjalan terus. Walau hati saya bertekad untuk menemukan sambal dan saos yang pas.

Suatu hari, di dekat tempat tinggal saya baru dibuka restoran Vietnam. Dari luar tampilannya lumayan menarik membuat saya iseng masuk ke dalamnya. Namanya restoran baru, masih sepi melompong. Saya jadi satu-satunya tamu di situ. Di pojokan lain seorang perempuan cantik tampak tersenyum ke arah saya. Dia kemudian berdiri dan mendatangi untuk memperkenalkan dirinya sebagai pemilik dan Chef restoran tersebut. Kami pun berbincang hangat dan ditutup dengan janji saya untuk membawakannya Nasi Ayam.

Seminggu kemudian, seperti sedang ujian, saya membawa nasi ayam saya. Setelah mencicipi sedikit, wajahnya tampak menerawang jauh. Dan kemudian berkata “food like this, the sauce takes the lead…” kemudian dia beranjak ke dapur sambil membawa sambal dan saos saya. Balik-balik dia membawa dua mangkok kecil sambal kreasinya untuk saya cicipi. Baru sedikit saja saya mencoba, saya tak dapat menyembunyikan kekagumannya. Tak hanya pedas, tapi sambal ini ada rasa asin dan asam yang menyegarkan. “This is not authentic Vietnamese, there is a little Chinese influence on it. I don’t create a new sauce, but just adding a little more to what you already have. So you can offer something different. Fresh perspective?” katanya terbata-bata dengan aksen Vietnam sambil tertawa.

2016-02-06 12.29.05


Demikianlah, saya tak bisa menyebut Nasi Ayam dagangan ini asli Indonesia. Ada Chinanya, ada Thailandnya, ada Vietnamnya, dan sepertinya masih akan ada lagi pengaruh-pengaruh lainnya di kemudian hari. Karena jujurnya, sampai saat ini saya masih belum puas dengan dagangan saya. Sepertinya masih bisa diperbaiki lagi. Kemungkinan besar, inilah yang membuat saya lebih semangat beranjak dari tempat tidur setiap paginya. Kukuruyuuuuk!

Apa Boleh Bikin?

Kemarin malam saya sedikit kesal karena setelah memperbaharui gim daring kesukaan saya, justru gim itu tak dapat digunakan karena menuntut kartu grafis yang memadai. Pembuat gim ingin memberikan pengalaman lebih menantang bagi pemain dengan gambar lebih indah dan suara lebih menggelegar. Tapi ternyata, laptop saya tak seindah yang diharapkan. Sekadar NVIDIA GeForce GT 750M 2048 MB tak dapat mengimbangi gim perang daring yang saya dan teman-teman biasanya mainkan. Baru mau mulai, yang terpampang di layar hanya gambar diam.

Setelah sekian jam diluncurkan, produsen permainan ini tersadar, kenapa banyak yang tak log in. Untungnya mereka sigap. Beberapa saat yang lalu mereka merilis piranti lunak yang intinya “compatibility fix” untuk dapat menurunkan kualitas gim mereka dengan tidak terlalu menuntut kartu grafis yang lebih keren dari kebanyakan laptop penggunanya.

Ini sebetulnya tulisan yang agak nyambung dengan tulisan kemarin yang disampaikan Lei, Pilih Sendiri Pengalamanmu.

Tapi saya lebih memilih atas pengalaman saya barusan sebagai sebuah gambaran bahwa ketika tuntutan zaman menginginkan banyak hal lebih baik, maka yang harus dilakukan oleh kita adalah meningkatkan kapasitas diri, kecuali ya itu tadi: rela tergilas roda zaman.

Untuk terus memberikan pengalaman menggiurkan dibutuhkan banyak piranti yang mumpuni. Jika kita ndak siap, pengalaman itu tak sempat dicicipi. Karena banyak kejadian, banyak tawaran, banyak keindahan, penuh dengan prasyarat diri. Bentuknya bisa macam-macam, baik syarat akademis, syarat kepemilikan dana, kemampuan berbahasa, dan lain-lain.

Hal ini juga dapat diterapkan dalam rangka hidup berdampingan.

Ilmu sosial jauh lebih dinamis dibandingkan sekadar strategi produsen, konsumen, bisnis dan bla-bla-bla dalam menuntut lebih dan meminta “updet-an” piranti lunak terbaru.

Ketika nilai-nilai dalam masyarakat berubah, maka perlu adanya langkah strategis dalam diri untuk meningkatkan kapasitas diri sehingga dapat melebihi nilai-nilai yang ada di masyarakat. Syukur-syukur melampaui apa yang diharapkan oleh pendamping kita, rekan, sahabat, dan warga sekitar. Uniknya, berbeda dengan dunia piranti dan gawai, soal kehidupan sehari-hari itu kita dan warga sama-sama dapat menjadi produsen dan bergantian menjadi konsumen. Silih berganti. Bahkan terkadang berbarengan dan saling mempengaruhi.

Sebaliknya, bisa jadi pengalaman kita begitu banyak. Atau kita telah memiliki banyak nilai-nilai yang melebihi warga sekitar, maka perlu ada kesadaran diri untuk “compatibility fix”. Kesenjangan alam pikir apalagi tindak dan laku dengan nilai-nilai yang ada, dapat menimbulkan “crash”.  Untungnya saat ini bukan lagi zaman Blackberry, karena biasanya kalau sudah begini langkah mudah yang dilakukan adalah “copot batre”.

Begitu pun saat berpasangan dengan kekasih kita. Perlu ada radar yang sangat sensitif untuk dapat memindai setiap waktu apakah ada hal-hal yang kita miliki atau pasangan miliki, kita pikirkan atau pasangan pikirkan jauh dari kesepahaman. Perlu ada software tambahan agar dapat selalu menyesuaikan. Piranti ini sudah dipasang sejak kita ngeceprot lahir jadi bayi, nama programnya: “sabar dan akal sehat”. Kesabaran yang masuk akal dan Logika yang disempurnakan dengan nilai kesabaran.

Orang lain, apalagi kekasih hati bukanlah gawai kita apalagi binatang peliharaan yang dilatih untuk semuanya dapat sesuai dengan kehendak kita. Perlu ada perimbangan. Jika ketidaksesuaian dipaksakan tanpa ada alat “compatibility fix” yang segera kita rilis agar kita “compatibility mode“, maka yang terjadi adalah “crash“.

Nilai-nilai ini akan jauh lebih berguna saat perbedaan generasi terjadi. Alam budaya anak masa kini dan banyaknya pengalaman generasi tua yang sering njomplang harus terselesaikan secara elegan dengan piranti lunak “sabar dan akal sehat”. Hubungan ayah dan anak. Ibu dan menantu, dapat terselesaikan dengan kesadaran diri bahwa masing-masing insan memiliki kapasitas diri yang berbeda.

relics_of_technology_reel_to_reel-copy11

Ada baiknya kita selalu menjadi aplikasi yang menjadi favorit banyak orang. Tampilan yang menawan, mudah dan ramah digunakan, dengan fitur yang sesuai dengan perkembangan zaman. Ndak semua hal harus sama kepada semua pihak. Sesekali kita juga perlu mengklik tanda bintang pada pola pikir, pola tindak dan pola ucap kita. Layaknya menyajikan sesuatu yang berbeda antara inner circle dan pada khalayak semuanya dalam aplikasi Path. Jika berkumpul dengan komunitas tertentu, maka sesuaikanlah. Layaknya menjadi pribadi yang selalu “ditap” dua kali dalam Instagram. Dan jangan pernah takut jika kita seringkali menjadi bahan nomention orang lain layaknya dalam Twitter.

Lakukan yang terbaik dan jika kemudian banyak pikiran berkelindan dan pendapat di lain pihak, itu bukan lagi urusan kita. Bisa jadi piranti lunak dan piranti keras kita ndak cocok karena jalan pikir mereka yang ternyata obsolete.

Apa boleh bikin?

Salam anget,

Roy

 

Pilih Sendiri Pengalamanmu

Sebagai anak baru di bidang digital, yang bisa dibilang tak tahu apapun, senang sekali rasanya dapat kesempatan untuk ikut konferensi yang relevan, membuka mata dan menambah ilmu. Ternyata banyak hal yang selama ini saya masih salah persepsi. Atau tidak punya persepsi sama sekali alias belum tahu.

tumblr_mh6lbh2rve1s478lso1_1280

Seperti user experience (UX) misalnya. Selama ini karena sering disandingkan dengan user interface (UI), saya mengira kalau bidang ini adalah murni pekerjaan seorang desainer. Dan tentunya desainer tersebut sudah dibekali dengan berbagai teori dan ilmu mengenai wireframe, navigasi, fungsi dan best practice yang tentunya berubah setiap ada tren baru. Ketika saya mendengarkan beberapa presentasi dan mengikuti beberapa workshop, ternyata UX itu jauh lebih luas daripada sekadar desain. Sebelumnya maaf kalau sudah banyak yang tahu, saya bukan bermaksud Columbusing, just want to share what I discovered hehe.

tumblr_mh3bwabhzz1s478lso1_1280

User experience adalah bagaimana dari awal produk Anda ditemukan oleh user, kemudian ketika dia masuk, menjelajah, apa yang ditangkap oleh semua indranya ketika menggunakan, apa yang dirasakannya, motivasi apa yang membuat dia melakukan aksi, dan aksi apa yang akan memberikan reaksi, dan apa yang akhirnya membuat pengguna ingin melakukan dan merasakan itu lagi dan lagi sampai akhirnya menjadi kebiasaan. Begitu ngeh dengan hal ini seperti ada lampu yang mendadak menyala di kepala saya. Saya sebenarnya sudah tahu soal ini semua, tetapi sebelumnya terlalu lugu saja bahwa menganggap teknologi juga harus seolah tak punya kepribadian. Ternyata saya salah besar. But now I know.

Dan walau banyak orang (termasuk saya) yang belum belum sudah terintimidasi dengan istilah yang terdengar high tech “UX”, sesungguhnya hal ini bisa diaplikasikan dengan penyesuaian minor di bidang mana saja. Transportasi? Restoran? Pertunjukan? Bahkan diri sendiri.

ceuin_xweaen-vm

Yang Anda butuhkan adalah cerita latar belakang dari “pengalaman” yang Anda ingin pengguna rasakan, dan meyakinkan kalau mereka adalah pusat dari cerita tersebut. Apakah ingin tampil dan berkesan sebagai yang maha tahu? Sahabat pendengar yang baik? Pengelola yang andal? Buat strategi di setiap langkah, beri pilihan yang cukup tanpa terlalu banyak hingga membingungkan, jangan lupa untuk membuat niat Anda sangat jelas dari awal, tetapi dengan cara yang baik tentunya. Tentunya seperti juga semua hal, produk yang ingin “dijual” (walaupun itu diri sendiri) punya pasar yang khas. Selalu beri pilihan untuk quit untuk menyeleksi pengguna yang bukan pasar Anda, tetapi buat pilihan untuk meneruskan pengalaman menjadi sesuatu yang sangat menggiurkan (tanpa harus mengiming-imingi keuntungan finansial, seharusnya hahaha). Tak lupa ada satu hal yang penting juga yaitu; be genuine and sincere. Karena entah bagaimana, sekarang orang sudah bisa mencium hal-hal yang sifatnya palsu atau pencitraan. Juga entah bagaimana biasanya akan tercermin di pengalaman pengguna Anda, apakah yang diberikan 100 persen atau hanya di permukaan saja.

tumblr_mibswl3zel1rel180o9_250

Mudah-mudahan kita menemukan pengguna setia yang menjadikan produk kita salah satu kebiasaannya. Baik itu berupa jutaan active user maupun satu active user untuk seumur hidup hingga kakek nenek dan ajal menjemput. (Ini sebenarnya ngomongin apa sih?)

Namanya Juga Hidup

(Senin, pukul 5:45 pagi)

Seperti biasa, Mat memulai harinya dengan ponsel. Saat alarm di ponselnya bunyi, dia bergegas mematikan. Setelah alarm mati, dia masih terbaring di atas kasur dengan mata terbuka. Setelah nyawa mulai terkumpul, dia meraih ponsel untuk membaca notifikasi yang masuk.

Email bisa menunggu. Celotehan obrolan di beberapa grup WhatsApp bisa dibaca nanti. Mat lebih tertarik membuka aplikasi media sosial.

Di Twitter, kicauan seputar politik masih mendominasi. Terlalu berat untuk diikuti dengan perut kosong.
Di Instagram, terlalu banyak hastag membuat mata Mat pusing.
Di Facebook, cukup tahu siapa yang berulang tahun. “Happy birthday ya!”, tulis Mat persis sama di halaman lima orang yang berbeda yang berulang tahun hari ini.
Lalu Mat membuka aplikasi Path.

Tidak ada notifikasi penting. Apalagi Mat juga jarang update di Path. Baginya, sehari sekali cukup. Kalau bisa, dua hari sekali. Selebihnya, dia cukup terhibur melihat apapun yang di-post teman-temannya. Cukup untuk membuat Mat bisa catch up dengan kehidupan mereka.

Sampailah Mat melihat sebuah foto. Seorang kawan lama sedang berpose dengan kendaraan barunya di hari Minggu pagi kemarin. Bukan kendaraan itu yang mencuri perhatian Mat. Tetapi sebuah tote bag berwarna kuning di lengan kawannya yang langsung membuat Mat terkesiap.

“Eh, tas kita sama persis! Gue punya tas persis seperti itu!”, ketik Mat di kolom comment di bawah foto.

Sesaat setelah menulis itu, Mat pun berpikir.

“Kok dia bisa punya tas itu ya? Emang dijual bebas? Itu kan tote bag yang cuma dijual waktu pameran seniman itu di Kanada beberapa tahun lalu.”

Ponsel pun pelan-pelan Mat letakkan di dagunya.

“Emang dia ke sana? Kan gue doang yang ke sana. Emang gue beliin dia?”

Tiba-tiba Mat bangun dan duduk di ujung kasur. Dia terdiam, bahkan menghentikan pemikirannya sendiri. Mat sadar akan sesuatu.

Dia ingat, dia membeli dua pasang tote bag yang sama. Sama warna, beda tulisan. Yang satu memang untuk Mat sendiri. Yang satu, dia berikan ke seseorang yang pernah dekat dengan Mat. Seseorang yang juga dekat dengan teman Mat yang mengunggah foto tersebut. Seseorang yang Mat putuskan untuk tidak pernah bersinggungan lagi saat hubungan mereka berakhir.

Sebuah foto yang membuat Mat sadar, bahwa seseorang ini pun memutuskan untuk menghilangkan jejak Mat dalam hidupnya dengan tidak menyimpan satu pun barang pemberian Mat. Fair enough. Mat pun melakukan hal yang sama, karena dia malah mengembalikan semua barang pemberian dari orang ini.

Mat tersenyum kecil mengingat kejadian ini. Ada sedikit rasa sedih yang terbersit. Tapi Mat memilih untuk mengangkat bahu, menghela nafas panjang, dan mandi.
Mat berharap, pancuran air hangat di pagi hari bisa menjadi modal menghadapi hari yang panjang nanti.

(Courtesy of indianexpress.com)

(Courtesy of indianexpress.com)

(Senin, pukul 8:45 malam)

Mat memutuskan untuk menyudahi olahraganya malam ini. Sembilan puluh menit di atas treadmill, lalu latihan perut lima kali dua puluh gerakan, diakhiri dengan latihan lengan sebanyak empat kali dua belas gerakan, sudah sangat membuat Mat berkucur keringat.

Selesai berbenah, Mat memasang earphone di telinga, sambil melangkahkan kaki ke supermarket terdekat. Tidak perlu dia tulis apa yang dia mau beli, karena cukup buah, yoghurt dan kudapan ringan untuk sarapan paginya besok.

Namun saat Mat hendak melangkah ke pintu masuk, matanya bertatapan dengan sepasang mata lain di sisi kasir sebelah pintu masuk.

“Hey”, ujar orang itu.

“Hai,” balas Mat. “Lama banget kita nggak ketemu.”

“Tadi saya latihan juga kok. Tapi kayanya kamu belum selesai.”

“Oh, pantes. Tumben belanja di sini. Bukannya lebih suka belanja di pasar?”

“Sekalian saja sebelum pulang. Cuma roti dan buah buat sarapan besok. Mau belanja juga?”

“Iya. Sama kayaknya belanjaan kita. Duluan ya.”

Dia mengangguk.

Ada alasan lain kenapa Mat buru-buru menghentikan percakapan itu.
Saat mereka berbicara, tanpa sengaja Mat melihat sepatu yang orang itu kenakan. Sebuah sepatu ringan yang pernah Mat berikan kepadanya sebelum libur Natal datang. Sebuah sepatu yang Mat beli dengan keragu-raguan, apakah akan pas ukurannya, atau apakah dia akan suka.

Maklum, waktu itu Mat masih malu-malu untuk bahkan bisa berbicara dengan orang ini. Perlu waktu berbulan-bulan sebelum Mat bisa berkenalan, dan perlu waktu berbulan-bulan sebelum Mat bisa mendapatkan nomer telponnya.

Meskipun tidak pernah ada apa-apa di antara mereka, tapi Mat selalu tersenyum saat mereka berolahraga bersama.

Seperti malam ini. Saat Mat akhirnya melihat dengan mata kepala sendiri, rasa penasaran yang pernah menghinggapi kepala Mat. Bahkan Mat pun lupa sebenarnya, sampai apa yang dilihat tadi membangkitkan kenangan beberapa bulan lalu.

Mat masih tersenyum di perjalanan pulang. Tidak perlu dia kirim pesan, “hey, it was nice to meet you!” kepada orang itu.

Mat cukup senang. Well, Mat sudah sangat senang.

A day that begins with a sigh and ends with a smile? That makes a beautiful day, indeed.

(Courtesy of dnaindia.com)

(Courtesy of dnaindia.com)

Penting dan Kurang Penting

DIPIKIR dulu sebelum bicara.

Petuah ini barangkali sudah disuarakan berjuta kali sampai sekarang, baik sebelum maupun sesudah sebuah kejadian. Meski begitu, tetap saja terasa cukup sulit untuk benar-benar dijalankan dengan penuh kesadaran. Kecuali oleh orang-orang yang dari sananya pendiam, cuek, atau mereka-mereka yang malah malas menggubris keadaan.

Sulit bukan berarti mustahil, karena hal ini seharusnya bisa dilatih sambil belajar seiring pertambahan usia. Ya setidaknya jangan sampai keceplosan. Mengucapkan sesuatu yang tanpa sadar bakal sangat disesali kemudian. Baru disadari belakangan. Syukur-syukur bila nantinya bisa jadi orang baik sekalian. Ketika tidak hanya belajar menahan ucapan, tetapi niat atau kehendak untuk berucap yang kurang mengenakkan tidak pernah singgah dalam pikiran.

Kalau sudah telanjur, biasanya respons lanjutan terbagi jadi tiga. Ada yang langsung merasa bersalah dan berusaha meminta maaf dengan sepenuh hati, ada yang memilih bersikap masa bodoh dan bersiap untuk apa yang akan terjadi kemudian, namun ada pula yang justru makin kencang menjaga gengsi dan harga diri. Biar salah, yang penting nyaring, supaya bisa meredam atau mengalahkan yang lain.

Bisa dibayangkan, akan ada berapa banyak konflik, drama, pertikaian, kesalahpahaman, kegagalan kemarahan, kebencian, dendam, kekeliruan, iri hati, kekecewaan, patah semangat, penganiayaan, pembunuhan, dan segudang hal-hal buruk lain yang bisa dicegah kemunculannya apabila nasihat “dipikir dulu sebelum bicara” sungguh-sungguh dilaksanakan. Sayangnya, jarak antara dada ke mulut lebih dekat dibanding dada ke kepala. Jadi, belum sempat dipikirkan baik buruknya, luapan perasaan sudah terlebih dahulu terkeluar menjadi kata-kata. Dan kembali lagi, penyesalan selalu muncul belakangan. Seolah-olah mengejek sambil mengatakan: “gua bilang juga apa…”

Saat ini, situasinya sudah berkembang cukup jauh. Kita tengah hidup dalam masa ketika semua kanal untuk menyampaikan pendapat pribadi terbuka sangat lebar. Sehingga nasihat “dipikir dulu sebelum bicara” lebih cocok apabila dimodifikasi menjadi “dipikir dulu sebelum berkomentar”. Tidak hanya dengan lisan, melainkan tulisan dan produk-produk visual lainnya yang bisa diabadikan dengan mudah lewat kecanggihan teknologi bernama cuplik layar alias screen capture. Salah satu momok terbesar dalam ranah media sosial.

13239871_10153661393038004_3371746089244817353_n

Salah satu meme terkampret yang beredar belakangan ini. Setelah bikin ini, apakah si pembuat merasa sudah cukup hebat? Diambil dari Facebook.

Apa yang harus dilakukan untuk menghindari ini?

Bisa dimulai dari pemahaman-pemahaman dasar yang sederhana, kendati pada kenyataannya agak susah untuk dipraktikkan.

  • Tidak semua hal perlu ditanggapi

Silakan dipikir, dipertimbangkan, dan tanyakan kepada diri sendiri: “mengapa aku harus ikut mengomentari ini?” Apakah membuahkan alasan yang cukup kuat untuk dituruti?

  • Tidak semua hal penting untuk ditanggapi

Silakan dipikir, dipertimbangkan, dan tanyakan kepada diri sendiri: “apa pentingnya aku harus ikut mengomentari ini?” Apakah memang sepenting itu?

  • Tidak semua hal bermanfaat untuk ditanggapi

Silakan dipikir, dipertimbangkan, dan tanyakan kepada diri sendiri: “apa manfaatnya aku harus ikut mengomentari ini?” Adakah manfaat yang akan dicapai?

  • Tanggapan kita belum tentu tepat

Silakan dipikir, dipertimbangkan, dan tanyakan kepada diri sendiri: “apakah pendapat dan tanggapanku sudah tepat?” Yakin sudah benar-benar tepat?

Penting atau kurang penting? Terserah Anda saja, yang penting (semestinya) sudah dipikirkan matang-matang.

[]

Robohnya Mesjid Kami (2)

(untuk yang belum membaca bagian satu silakan klik di sini)

Aden Deni memang orang yang ceplas ceplos. Ngomong suka seenaknya. Tidak pernah liat lawan bicara. Tapi dibalik celotehannya banyak terkandung makna. Banyak pesan moral yang bisa diambil dari dia sebenarnya. Tapi banyak orang tak suka. Banyak omong. Pernah dia bilang kalo alkohol itu halal yang penting akibatnya dia bilang. Bukan alkoholnya. Selama itu membawa manfaat kenapa dibilang haram. Al-Quran dan hadits itu hanya panduan. Tidak harus ditelan mentah-mentah. Kalo tidak percaya baca saja sejarah. Jangan percaya begitu saja apa yang ustadz di TV dia bilang. Coba baca buku sejarah kejayaan Islam dia bilang. Para ilmuwannya tukang minum wine dia bilang. Aljabar sudah jago matematika ratusan tahun sebelum Einstein menemukan teori relativitas. Ibnu Sina sudah jadi dokter jauh sebelum Isaac Newton menemukan teori Gravitasi. Jalaludin Rumi sudah menjadi penyair jauh sebelum Shakespeare membuat Hamlet. Islam jaya selama ratusan tahun. Banyak penemuan penting dihasilkan. Jauh sebelum jaman Rennaisance di benua Eropa. Sebelum Copernicus tahu bahwa bumi itu bulat dan mengelilingi matahari dia bilang. Sebelum Leonardo DaVinci bikin lukisan Monalisa dia bilang. Kata “alkohol” pun orang Islam yang menemukannya.

Dia bilang kemarin pas katanya aku orang yang belum tentu masuk surga. “Padahal aku penjaga masjid ini. Aku yg pukul bedug. Aku yg mengumandangkan adzan. Aku yg menjadi imam. Sudah puluhan tahun!”

“Dia bilang gitu, Bah?”

Suatu hari nanti, dia bilang, di akhirat, akan berkumpul semua umat manusia dengan berbagai golongan dan suku untuk dihisab. Mereka akan dinilai oleh Tuhan dengan bantuan para malaikat, kemana mereka akan berujung. Surga atau neraka. Banyak yang tersenyum puas banyak juga yang merasa cemas. Haji Syarif adalah salah satu yang paling rileks. Karena dia merasa sudah menunaikan semua yang diperintahkan-Nya. Dan tibalah giliran Haji Syarif. Tuhan pun bertanya.

“Jelaskan dirimu.”

“Namaku Syarif, Tuhanku. Sudah naik haji tiga kali. Rajin tahajud, Tuhanku.”

“Aku tak peduli kamu sudah naik haji berapa kali. Tak penting buatku jidatmu menghitam. Apalagi?”

“Aku bekerja di MUI, Tuhanku. Sudah khatam Qur’an belasan kali. Bisa baca tulisan Arab gundul juga.”

“Ridwan, bawa masuk dia ke neraka.”

Malaikat Ridwan pun menyeretnya ke neraka. Haji Syarif kaget tak kepalang. Dia tak habis pikir. Apa dosa dia. Tapi ternyata dia tidak sendiri. Ada banyak juga Haji-Haji dan Hajjah-Hajjah lainnya yang perlahan terbakar api neraka. Bahkan ada teman dekatnya. Haji Syarif mendekati mereka. “Lho kalian ada di sini juga? Apa kalian tidak heran kenapa kita masuk neraka? Kita semua menjalankan perintahNya. Aku pergi ke Mekkah berkali-kali. Dan kamu juga Norman. Aku ingat kau selalu kurban sapi. Kau bahkan banyak memberangkatkan sanak saudaramu naik haji tanpa menunggu bertaun-taun. Kau tidak bertanya apa yang salah?” Norman pun tertegun lalu berkata, “Iya juga ya. Saya taat beribadat. Selalu menyebut namaNya. Lalu apa yang harus kita lakukan?” Haji Syarif pun berujar, “Mari kita protes ke Tuhan. Apa sebetulnya kesalahan kita.” “Setuju!” Ternyata banyak juga yang merasa tidak bersalah. Mereka pun lalu bergerombol mendatangi Tuhan untuk bertanya apa sebetulnya dosa mereka.

“Ada apa?”

“Tuhanku yang mulia. Kami ingin bertanya apa sebetulnya kesalahan kami. Kami sudah menjalankan semua perintahMu dan menjauhi laranganMu. Kenapa kami masuk ke neraka?” Haji Syarif bertanya yang diamini oleh rombongan lainnya.

“Kalian dari Indonesia?”

“Betul sekali, Tuhanku.” Serempak mereka menjawab

“Mayoritas muslim?”

“Tentu, Tuhanku. Negara kami penduduk muslimnya terbanyak di seluruh dunia.”

“Betul. Banyak yang dari Aceh juga. Cuma di Aceh yang menetapkan hukum Islam. Kami tunaikan semua yang ada di Qur’an dan hadits. Kami rajam mereka yang zinah. Kami cambuk mereka yang melanggar aturan.”

“Korupsi juga negerimu?”

“B-b-betul. Tapi semua negara juga begitu.”

“Banyak anak putus sekolah?”

“Iya Tuhanku. Biaya sekolah di negeri kami mahal, Tuhanku. Dari TK hingga Universitas.”

“Kalian memang rajin menyembahku. Kalian rajin shalat. Puasa. Zakat. Naik haji. Tapi itu tidak penting buatku. Kalian melakukannya karena kalian takut masuk neraka. Tapi kalian menelantarkan apa yang ada di sekitarmu. Kalian egois. Kalian hanya memikirkan diri sendiri. Kalian hanya memikirkan bagaimana cara memperkaya diri sendiri. Kalian semua hanya ingin cari aman. Kalian tamak. Yang kalian pikirkan hanyalah kekuasaan. Kalian makan uang rakyat. Semua ibadahmu tidak ada artinya bagiku. Kalian bodoh. Membaca tapi tidak mengerti. Buku kalian bakar. Buku kalian larang. Kalian baca Qur’an kan? Ayat pertama itu Iqro. Baca. Pahami. Beda sedikit kalian adu jotos. Demi sesuap nasi kalian menjadi orang lain. Mau diadu domba. Mau jadi budak demi dengan bawa agama. Kalian lawan hati nurani. Departemen Agama kalian korupsi. Dana Abadi Umat yang triliunan kalian pake buat apa? Tempat ibadah banyak yang tidak layak. Banyak sekolah yang tidak layak. Banyak anak putus sekolah. Banyak anak yang malnutrisi. Banyak orang tak punya rumah. Padahal negara kalian kaya. Anggaran pendidikan berapa persen dari APBN? 20? Berapa persen yang kalian selewengkan? Olah raga kalian pun tidak berprestasi. Padahal punya potensi. Sudah masuk lagi sana.”


“Aden Deni cerita begitu, Bah?” Abah hanya terdiam dan terisak. Kelopak matanya mulai basah oleh linangan air mata yg mengalir. Sebagian menetes mengenai rambutku yang sudah terpotong di lantai. Aku diam.


mesjid2

Pagi itu aku sedang memanaskan motorku. Hendak berangkat ke pasar. Pak RT menegur dari luar pagar. “Kamu sudah tahu Si Abah?” Aku menoleh, “Kenapa si Abah, Kang? Kenapa?” Aku mulai khawatir. “Tadi subuh ditemukan mati gantung diri dengan tali tambang jemuran di kamarnya.” Aden Deni bangsat!! Ujarku dalam hati. Geram.


Jam empat subuh. Aden Deni sudah bangun. Biasa dia lakukan setiap hari. Ritual untuk melaksanakan shalat shubuh di masjid. Selepas mengambil air wudlu dia pun mengenakan kopiah dan pergi ke mesjid. Berjalan kaki. Tapi dia tidak mendengar suara adzan. Aden Deni teruskan berjalan menuju mesjid. Sesampainya di sana. Tidak ada suara adzan. Si Abah kemana. Aden Deni bertanya-tanya. Dia pun cari Abah ke kamarnya di sebelah masjid. Pintunya sedikit terbuka. Terlihat ada kursi yang terbalik dan badan yang menggantung dan kaki yang tidak menapak ke lantai. Aden Deni berlari dan memeluk badan Abah sambil berusaha memutuskan tali tambang yang mengikat lehernya dengan pisau cukur yang dia temukan di atas meja. Tapi terlambat. Mukanya sudah membiru. Tragis. Aden Deni tendang kursi sekuat tenaganya hingga kaki kursi tersebut patah menghantam tembok. Aden Deni kalut. Terduduk dia di lantai sambil melihat sekujur badan Abah yang sudah tidak bergerak. Pisau cukur itu masih dalam genggamannya. Tatapan Aden Deni kosong. Dia pun berdiri keluar kamar meninggalkan Abah. Dia berjalan gontai menuju rumahnya. Lunglai. Masuk ke kamar. Dia kunci kamar. Masih berdiri, dia sayat nadi di tangan kirinya. Lalu dia sayat lehernya perlahan. Darah mengucur deras dari leher dan tangannya. Aden Deni tersungkur. Ambruk. Darah tidak berhenti mengucur.

 

(cerpen ini adalah hasil jiplakan dari cerpen berjudul Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis)

Anakku Keracunan

image

Anakku keracunan
Menggelepar tak berdaya
Takut Stalin bangkit lagi
Melarang orang ke mushola

Anakku keracunan
Menelan marabahaya
Takut ethanol merusak otak
Memperkosa Yuyun kawan sebaya

Anakku keracunan
Matanya melotot
Takut sesama pria berciuman
Bikin tsunami, longsor dan epidemi

Anakku keracunan
Sulit bernapas
Takut orang Cina berkuasa
Melaknat Jakarta dan seluruh isinya

Racun jahanam
Ditelan mentah-mentah
Diajarkan di sekolah
Dihembuskan tiap Jum’at
Racun hijau berkedok surga dan dendam tuhan

Anakku keracunan
Mukanya pucat kebiruan
Lupa cinta dan kasih sayang

Kasmaran 2.0

Satu selfie-mu di Instagram, membawaku pelesir ke taman khayalan di mana aku bisa memilikimu.

Satu lope-lope darimu di Path, untuk beberapa detik duniaku tersenyum dan hatiku bersyukur.

Satu like darimu di Facebook, membuat semua temanku yang lain adalah kenihilan.

Satu RT darimu di Twitter, bisa langsung membuatku merasa pendampingmu.

Menggenggam ponsel pintar setiap saat, adalah harapanku untuk menggenggammu suatu saat.

Seadainya saja aku tak punya rasa malu, pasti sudah kusampaikan langsung di timelinemu.

Seandainya saja aku tak takut ditolak, pasti sudah kuutarakan via Direct Message tentang hasratku.

Seandainya saja aku percaya diri, mungkin sudah kupinta kau setting private semua akun media sosialmu.

Lalu mengapa tak juga kulabrak saja diriku sendiri dan melakukan segalanya?

Mengapa tak kututup rasa malu ini dan mengutarakan segalanya?

Mengapa tak kutumbuhkan percaya diriku agar dirimu jadi milikku?

Ada sesuatu di setiap postingan selfiemu yang seolah menyampaikan tak ada tempat lagi untuk aku.

Pandangan dan pendapatmu di Facebook yang seolah mengatakan kau tak membutuhkan siapa-siapa.

Apalagi ternyata lope-lope darimu di Path, tak eksklusif alias dibagi rata.

Kadang aku ingin mengenalmu lebih jauh.

Tapi suara batinku mengkhawatirkan akankah rasa ini hilang kalau aku mengenalmu lebih jauh?

Mungkinkah semua tentangmu di benakku adalah rekaan aku saja?

Dan kenyataannya berbeda 178 derajat?

Lalu jangan-jangan aku bukan jatuh cinta padamu.

Jangan-jangan aku jatuh cinta pada bayangan tentangmu yang kubuat sendiri.

Selalu ada pertanyaan di hati,

apakah kamu mengecek linimasa media sosialku sesering aku mengecek linimasa media sosialmu?

Ini penting, karena kalau tidak seimbang, tandanya aku bertepuk sebelah tangan.

Aku begini bukan tanpa alasan!

Terakhir kau posting sedang makan pizza, tepat 4 hari setelah aku posting ingin makan pizza.

Waktu kau selfie mengenakan baju merah, persis 75 jam setelah aku posting selfie mengenakan baju merah juga.

Dan saat kamu berlari, trackmu membentuk lingkaran yang merupakan inisial namaku O.

Kalau kau memang tak ada perasaan apa-apa padaku, mengapa kau lakukan ini semua?

Kalau memang tak kau sengaja, bukan kah itu berarti alam semesta yang mengatur ini semua?

Alam semesta, kekuatan besar yang ikut mengatur linimasa Path, Intagram, Facebook dan Snapchat dan yang terakhir Steller.

Sebenarnya aku tinggal menunggu saja, kapan kau sadari tanda-tanda dari alam semesta yang disampaikan via media sosial.

Yang pasti untuk saat ini, setiap postinganmu adalah titah yang tak hanya kucatat tapi juga kuresapi.

Ingat waktu kamu memposting “makan siang di mana ya enaknya? bingung!”

Berhasil membuatku menganalisa dan mengkhayatinya selama 4 hari.

Mengapa kau bingung soal makan siang? Apakah artinya kau membutuhkan seseorang pendamping yang bisa memberikan panduan hidup? Semacam panutan? Ah aku ingin dan bisa sangat melakukan itu semua. Akan kutuntun kau ke jalan kebenaran yang membahagiakan.

Lalu soal makan siang, mengapa bukan makan pagi atau makan malam? Apakah karena siang kamu sendirian? Atau merasa kehilangan arah di siang hari? Haruskah kudatangi dirimu siang hari? Mungkinkah kamu penggemar kencan siang? Sex After Lunch? Owh wow! Terlalu seksi bahkan untuk aku bayangkan.

Lalu bingung. Mengapa kau ingin orang tau kau sedang bingung? Apakah ini ekspresi manjamu seperti anak masa kini “atuna inun”? Aku sangat ingin memanjakanmu. Percayalah, aku bisa membuatmu jadi orang paling dimanja di dunia.

Dari check-in mu kupelajari dan kutelusuri, Blok M Plaza adalah tempat favoritmu untuk membeli baju kerja. Tapi kalau nongkrong kamu lebih suka di Pacific Place atau Plaza Senayan. Gym di Lotte Avenue. Kau tidak beribadah. Karena Jumat siang, kau makan siang santai bersama teman kantor. Minggu kau lebih sering menghabiskan waktumu melakukan perjalanan kuliner ke Kota.

Sebenarnya aku ingin bilang ke kamu, warna biru membuat kulitmu lebih kusam. Tapi aku tak tega melakukannya karena warna biru mengingatkanmu pada pantai. Tempat berlibur favorit yang kau lakukan setahun 4 kali. Kau sangat ingin sekali ke Pulau Tambelan. Ini aku ketahui saat kau posting foto Pantai Pandawa liburan kemarin.

Aku pun kurang suka dengan sepatumu. Bisa lebih up to date sebenarnya. Tapi kuingat lagi kau pernah posting kalau membeli tas lebih prioritas ketimbang sepatu bagimu. Mengatur uang telah kau serahkan sepenuhnya kepada seorang Financial Planner terkenal di Twitter. Kau dan dia berjanji untuk rutin bertemu setiap dua bulan untuk memantau hasil investasimu.

Maklum, saat ini kau sedang berencana membeli satu unit apartemen. Lokasinya sudah kau seleksi, Kalau gak di Gatot Subroto, Kemang, atau Karet Belakang. Ada beberapa unit yang sudah kau taksir. Saat kau posting di Instagram apartemen idolamu. Ada satu unit yang kau kurang suka tapi memiliki view yang bagus. Aku tau dilemamu ini dari postinganmu di Path.

Demikianlah, kau mengisi setiap hariku. Walau kita belum pernah bertemu. Apalagi berbincang akrab. Aku yakin, Alam Semesta yang telah mendekatkanmu padaku. Semoga alam semesta pula yang mendekatkanku padamu.

Amin.

shutterstock_143530636

 

Dia

Padahal wajahnya biasa saja dan menjadi cantik di saat-saat tertentu. Misalnya saat tak mengenakan baju. Sisanya ia tertutup rapat. Seperti sidang kabinet. Eh itu rapat tertutup ding. Tapi iya. Sungguh wajahnya biasa, dengan beberapa bentol jerawat di atas dahi dan pipi sebelah kiri. Saat tersenyum juga ndak cakep-cakep amat. Daya dongkrak senyumnya hanya sepuluh persen saat wajahnya diam tanpa ekspresi. Rambutnya kemerahan. Tidak diombre. Hanya highlight seadanya. Entah mengapa ada yang istimewa dari dirinya. Postur tubuhnya agak gempal. Ndak semampai seperti putri-putrian yang dilombakan. Pinggulnya besar. Perutnya ada kerut dan payudaranya tak sekencang bunyi peluit pak pulisi saat menilang. Namun, aksinya seperti Dian: “Jangan kasih kendor!”. Bagian kakinya tak seindah warna aselinya. Ada banyak selulit. Juga betis penuh bekas luka bakar knalpot.

Saat diam, seringkali terlihat sedang menggaruk kepala, lalu jemarinya didekatkan ke lobang hidung. Membaui keringat kulit kepala bercampur ketombe. Juga seringkali mengupil tanpa sebab. Tak ada hasil. Hanya memasukkan jentik lalu menari-nari. Dia tidak jaim. Namun terkadang tak tau tempat. Saat makan pun terkadang terdengar gemretak gigi bertemu sendok. Saat mengunyah juga seringkali mengecap. Parahnya, dia sering ndak bawa dompet. Sebuah lupa yang disengaja.

Saat mengobrol, kita akan tahu dirinya cadel. Juga bibir yang dower. Tidak bisa diajak bicara politik apalagi sisa pertandingan sepakbola. Yang ada adalah soal gosip dan gosip.

“Eh ada yang bilang nicsap itu gay, benar ya?”.  

“Bener gak sih Ahok itu cina?”.  

“Katanya trend suku bunga bank sentral di dunia sekarang itu negatif ya?”

“Uni eropa bikin persyaratan apa ya untuk bantuan kepada Yunani?”

Iya. Dua pertanyaan terakhir hanya angan-angan saja. Dia jarang bicara masa depan. Apalagi bertukar ide brilian. Yang ada, soal kekinian dunia artis dan filem yang tayang minggu ini. Lima kata yang sering diucapkan: Sephora, Path, Pinsil alis, Uno stacko, dan Snapchat.

Bagaimana dengan aroma tubuhnya? Jika jarak dua meter, kamu akan membaui dirinya seperti berada di toko Ramayana sabtu sore di pinggiran Bekasi. Ada semriwing bau molto dan seprei kos-kosan. Jika jaraknya dilekatkan lagi hingga setengah meter, kamu seperti berada dalam kerja intensif bersama kuli proyek MRT. Bukan asam, tapi bau yang begitu legend. Serupa bau keringat lelaki pekerja di bawah terik matahari.   Aroma yang enak darinya adalah saat berpagutan. Nafasnya memburu. Keluar masuk aroma susu.

Jika ditanya mau makan malam dimana? Terserah. Jika ditanya kenapa nasinya ndak dihabiskan, jawabannya klasik: diet. Dia lupa, pecel lele dan paha ayam goreng dengan sambal super pedas, dua tempe garit, satu tusuk ati ampela sudah bersemayam di lambungnya barusan. Dan tentu saja, dia selalu ndak bawa dompet! Sebuah lupa yang disengaja.

Katanya: “Namanya juga diet, ngapain bawa dompet?“.

Epic, bukan?

Jangan tanya soal masa kuliah. IP-nya adalah nol koma diatas bilangan phi. Ndak pernah merasa lulus. “Aku kuliah itu untung, karena akhirnya bisa lolos“. Jarang ke toko buku. Jikapun perlu, sekadar membeli kertas file warna-warni untuk dikoleksi. Artis luar negeri adalah wilayahnya. Setiap judul drama korea saja tapi dan sederetan artis oplas tanpa komedo namun penuh filler botoks. Jangan tanyakan filem Holywood, apalagi filem festival. Juga haram hukumnya main tebak lagu dengannya. pasti sakit hati. Semua lagu itu dianggapnya ciptaan Calvin Harris.

Namun,

Setiap wa dirinya, selalu sigap dibalasnya. Ndak pakai lama. Apapun postingan path, selalu dilope-lope tanpa kecuali. Siang menjelang, nanti ada barisan line yang berbunyi: “Makan siang apa hari ini? sudah jam setengah dua belas”. Jika minta dijemput, selalu diakhiri: “Kalau masih ada kerjaan atau mau kumpul sama temen dulu,  kasih tau aja, nanti aku nguber atau ngojek. Gpp“. Juga tak pernah protes jika sebatang dua batang rokok menjadi abu saat bersamanya. Mau ngicipin pete yang dipesan. Menyeka keringat di dahi seusai makan. Tersenyum saat mendengar bualan khas lelaki. Mendengar dengan mata berbinar saat bualan itu menjadi-jadi. Seolah-olah semuanya benar. Seolah-olah pria di hadapannya adalah seorang bapak yang sedang mendongeng si kancil kepada anak gadisnya. Ada raut wajah yang membuat segalanya lebih tentram.

Tak sungkan menemani sarapan warteg. Juga tak canggung saat menikmati Paulaner Brauhaus. Tak peduli Velvet, Premier atau apa adanya, selama berdampingan berdua menonton layar lebar. Tak peduli judul asal ada subtitle.

Dia lebih banyak tertawa tanpa sebab. Tak pernah protes jika dibilang gendut. Menyukai Outback, namun tak menolak diajak Abuba. Memesan teh tawar dan tak keberatan jika lelakinya memilih Heineken. Menyukai Sushi, baik Tei maupun Pudjiastuti. Mau berkeliling mal tanpa membeli. Juga mau berkeliling mal dengan banyak tas belanjaan tanpa menyuruh ikut menentengnya. Mau gunakan sepatu hak tinggi, juga mau kenakan celemek saat membuat aglio olio di sabtu pagi.

Dia, yang wajahnya biasa saja dan menjadi cantik hanya di saat-saat tertentu.

 

salam anget,

Roy