Merokok Mati, Tidak Merokok Mati

Manusia adalah enigma yang tersaji dan tersimpan rapi dalam diri. Dan yang selalu membuat saya menikmati kehidupan yang bahagia sebagai manusia adalah sudut pandang manusia yang sungguh sederhana, namun kaya. Maka, saat menanyakan merokok mati dan tak merokok mati, saya dan kamu mungkin akan dipertemukan sejumlah pertanyaan unik. Dan yang tak lebih menariknya, menyaksikan kebebalan-kebebalan yang tersaji di dalamnya.

Untuk memperjelas, saya seorang yang tak merokok yang pernah merokok. Setidaknnya, saya pernah membenci rokok, pernah memujanya, dan kini saya, biasa saja terhadap barang ini. Kafir betul? Terserah, tapi yang jelas, saya memiliki sebab mengapa saya melakukannya.

Saya lahir dan dibesarkan di keluarga dimana (alm.) kakek saya adalah seorang perokok. Ia senang meyemburkan abunya di udara dan membuat saya – yang pada saat itu tak tahan dengan asap rokok – batuk-batuk. Saya jelas membencinya tiap kali ia merokok. Ucapan tulisan peringatan di badan bungkus rokok nyatanya tak menghentikan kakek saya untuk terus merokok kala itu. Ia lalu merokok dalam segala kegiatannya: saat ia tertawa dan mengenang masa muda dengan angkatan tua yang sebaya dengannya ataupun dengan saya, atau membaca buku, atau menikmati senja di usianya yang sudah tua. Hari-harinya ia hadapkan dengan rokok, dan karena rasa sayang bercampur ego sendiri, saya sangat ingin ia berhenti merokok.

Pengaruh-Rokok-Bagi-Kesuburan

Saya berpikir, apa gunanya seseorang untuk merokok kala itu. Saya berpikir seperti lingkungan masyarakat kita sendiri yang cenderung kepo dan memberikan perhatian yang tak perlu kepada suatu hal dan abai terhadap hal yang lebih penting. Saya benar-benar ingin ia berhenti merokok. Tapi apa yang ingin saya katakan kepadanya? Nyaris ia sempurna sebagai orang tua. Ia menggantikan peran ayah saya, untuk menjemput dan memberikan cintanya, saat ayah saya harus kerja di luar kota demi menafkahi saya dan ibu. Ia adalah seorang pemikir yang luar biasa dan menularkannya, mulai dari sepak bola hingga perkara wanita. Ia tak pernah sekalipun marah atas kenakalan saya meski ia sangat bisa marah. Ia sangat tenang, atau jikalau tidak, rokok akan menenangkannya. Ia senang sekali dengan Abu Nawas yang cerdik, dan senang menceritakan kisah-kisahnya sembari berharap mungkin saya akan secerdik dia. Ia tak pernah jadi beban, hingga akhir usia ia harus berhadapan dengan kanker paru-paru yang mengakhiri hidupnya.

Lalu, dengan orang yang seperti ini, bagaimana bisa saya tega mempersoalkan permasalahan, yang kemudian saya rasa, sepele sebenarnya? Merokok dan tak merokok adalah urusan perihal dirinya sendiri. Merokok bukan seperti makan, lari, atau aktivitas apapun yang dapat dilakukan secara tergesa-gesa. Merokok itu butuh ketenangan, setiap hisapannya harus dinikmati dengan refleksi diri atau segala pemikiran yang muncul saat menghisapnya. Lagipula, saya ingat, apakah perkataan kita yang tak mengenakkan tentang perokok juga tak lebih membunuh perokok dibandingkan asap yang mereka tebar di seluruh ruangan? Lidah tidak bertulang, dan lidah lebih tajam daripada pisau. Dan sayangnya, pisau tersebut kerapkali digunakan untuk hal yang tak perlu – untuk memaksa orang lain setuju atas apa yang ia yakini dan ia ingin jalani.

[]

Arif Utama, Penulis sepak bola di @Fandom_ID dan suka nongol di @ID_Voxpop . Sila dihubungi via twitter di @utamaarif

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s