Namanya Juga Hidup

(Senin, pukul 5:45 pagi)

Seperti biasa, Mat memulai harinya dengan ponsel. Saat alarm di ponselnya bunyi, dia bergegas mematikan. Setelah alarm mati, dia masih terbaring di atas kasur dengan mata terbuka. Setelah nyawa mulai terkumpul, dia meraih ponsel untuk membaca notifikasi yang masuk.

Email bisa menunggu. Celotehan obrolan di beberapa grup WhatsApp bisa dibaca nanti. Mat lebih tertarik membuka aplikasi media sosial.

Di Twitter, kicauan seputar politik masih mendominasi. Terlalu berat untuk diikuti dengan perut kosong.
Di Instagram, terlalu banyak hastag membuat mata Mat pusing.
Di Facebook, cukup tahu siapa yang berulang tahun. “Happy birthday ya!”, tulis Mat persis sama di halaman lima orang yang berbeda yang berulang tahun hari ini.
Lalu Mat membuka aplikasi Path.

Tidak ada notifikasi penting. Apalagi Mat juga jarang update di Path. Baginya, sehari sekali cukup. Kalau bisa, dua hari sekali. Selebihnya, dia cukup terhibur melihat apapun yang di-post teman-temannya. Cukup untuk membuat Mat bisa catch up dengan kehidupan mereka.

Sampailah Mat melihat sebuah foto. Seorang kawan lama sedang berpose dengan kendaraan barunya di hari Minggu pagi kemarin. Bukan kendaraan itu yang mencuri perhatian Mat. Tetapi sebuah tote bag berwarna kuning di lengan kawannya yang langsung membuat Mat terkesiap.

“Eh, tas kita sama persis! Gue punya tas persis seperti itu!”, ketik Mat di kolom comment di bawah foto.

Sesaat setelah menulis itu, Mat pun berpikir.

“Kok dia bisa punya tas itu ya? Emang dijual bebas? Itu kan tote bag yang cuma dijual waktu pameran seniman itu di Kanada beberapa tahun lalu.”

Ponsel pun pelan-pelan Mat letakkan di dagunya.

“Emang dia ke sana? Kan gue doang yang ke sana. Emang gue beliin dia?”

Tiba-tiba Mat bangun dan duduk di ujung kasur. Dia terdiam, bahkan menghentikan pemikirannya sendiri. Mat sadar akan sesuatu.

Dia ingat, dia membeli dua pasang tote bag yang sama. Sama warna, beda tulisan. Yang satu memang untuk Mat sendiri. Yang satu, dia berikan ke seseorang yang pernah dekat dengan Mat. Seseorang yang juga dekat dengan teman Mat yang mengunggah foto tersebut. Seseorang yang Mat putuskan untuk tidak pernah bersinggungan lagi saat hubungan mereka berakhir.

Sebuah foto yang membuat Mat sadar, bahwa seseorang ini pun memutuskan untuk menghilangkan jejak Mat dalam hidupnya dengan tidak menyimpan satu pun barang pemberian Mat. Fair enough. Mat pun melakukan hal yang sama, karena dia malah mengembalikan semua barang pemberian dari orang ini.

Mat tersenyum kecil mengingat kejadian ini. Ada sedikit rasa sedih yang terbersit. Tapi Mat memilih untuk mengangkat bahu, menghela nafas panjang, dan mandi.
Mat berharap, pancuran air hangat di pagi hari bisa menjadi modal menghadapi hari yang panjang nanti.

(Courtesy of indianexpress.com)
(Courtesy of indianexpress.com)

(Senin, pukul 8:45 malam)

Mat memutuskan untuk menyudahi olahraganya malam ini. Sembilan puluh menit di atas treadmill, lalu latihan perut lima kali dua puluh gerakan, diakhiri dengan latihan lengan sebanyak empat kali dua belas gerakan, sudah sangat membuat Mat berkucur keringat.

Selesai berbenah, Mat memasang earphone di telinga, sambil melangkahkan kaki ke supermarket terdekat. Tidak perlu dia tulis apa yang dia mau beli, karena cukup buah, yoghurt dan kudapan ringan untuk sarapan paginya besok.

Namun saat Mat hendak melangkah ke pintu masuk, matanya bertatapan dengan sepasang mata lain di sisi kasir sebelah pintu masuk.

“Hey”, ujar orang itu.

“Hai,” balas Mat. “Lama banget kita nggak ketemu.”

“Tadi saya latihan juga kok. Tapi kayanya kamu belum selesai.”

“Oh, pantes. Tumben belanja di sini. Bukannya lebih suka belanja di pasar?”

“Sekalian saja sebelum pulang. Cuma roti dan buah buat sarapan besok. Mau belanja juga?”

“Iya. Sama kayaknya belanjaan kita. Duluan ya.”

Dia mengangguk.

Ada alasan lain kenapa Mat buru-buru menghentikan percakapan itu.
Saat mereka berbicara, tanpa sengaja Mat melihat sepatu yang orang itu kenakan. Sebuah sepatu ringan yang pernah Mat berikan kepadanya sebelum libur Natal datang. Sebuah sepatu yang Mat beli dengan keragu-raguan, apakah akan pas ukurannya, atau apakah dia akan suka.

Maklum, waktu itu Mat masih malu-malu untuk bahkan bisa berbicara dengan orang ini. Perlu waktu berbulan-bulan sebelum Mat bisa berkenalan, dan perlu waktu berbulan-bulan sebelum Mat bisa mendapatkan nomer telponnya.

Meskipun tidak pernah ada apa-apa di antara mereka, tapi Mat selalu tersenyum saat mereka berolahraga bersama.

Seperti malam ini. Saat Mat akhirnya melihat dengan mata kepala sendiri, rasa penasaran yang pernah menghinggapi kepala Mat. Bahkan Mat pun lupa sebenarnya, sampai apa yang dilihat tadi membangkitkan kenangan beberapa bulan lalu.

Mat masih tersenyum di perjalanan pulang. Tidak perlu dia kirim pesan, “hey, it was nice to meet you!” kepada orang itu.

Mat cukup senang. Well, Mat sudah sangat senang.

A day that begins with a sigh and ends with a smile? That makes a beautiful day, indeed.

(Courtesy of dnaindia.com)
(Courtesy of dnaindia.com)
Iklan

18 thoughts on “Namanya Juga Hidup

  1. suka. masih di hari yang yang sama dengan perasaan yang beda, yah namanya juga idup ya. terima kasih sudah menulis, mas Nauval.

    Suka

  2. Seperti biasa, Mas Nauval, kamu pencerita yang baik dan tulisanmu selalu bisa membuatku tersentuh. kalau ga mau dibilang BaPer

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s