KUKURUYUUUK (Bagian 2)

Sejujurnya saya bukan orang yang terlalu percaya pada pendidikan formal. Kepercayaan yang menguat seiring pertambahan usia. Kebanyakan yang menolong hidup saya selama ini adalah orang-orang yang saya temui dan kesalahan-kesalahan yang saya lakukan. Bukan yang diajarkan selama saya bersekolah. Ibu saya bersekolah lebih tinggi dari saya, lulusan luar negeri. Ayah saya pandai berbahasa Inggris lisan dan tulisan. Hasilnya? Tak lebih istimewa dari yang tak pernah bersekolah tinggi tapi rajin bekerja dan luwes pergaulan.

Sama dengan bisnis nasi ayam ini. Jangankan sekolah memasak, ikut kursus memasak pun saya belum pernah. Sampai sekarang. Ilmu yang saya terapkan di dapur selama ini saya peroleh dari Universitas AFC, Asian Food Channel. Dan dosen idola saya bernama Nigella Lawson. Ditambah ilmu dari orang-orang yang saya temui dan tak sengaja menyampaikan ilmunya. Tak sengaja? Begini ceritanya…

1. Minyak Bawang

Nasi Ayam Hainan yang sering kita makan kalau lagi ke Singapura, memang tidak menggunakan minyak bawang. Itu loh, minyak yang ada cacahan bawang putihnya yang garing. Saya suka sekali dan ingin bisa menambahkannya di nasi ayam saya. Selain menambah aroma, juga menambah tekstur di lidah.

Sayangnya, walau sudah berkali-kali mencoba membuatnya selalu gagal. Yang bawang putihnya keburu gosong, sampai aroma wangi yang tak keluar. Pun saat mencicipi di restoran, minyak bawang yang mereka sajikan aroma dan rasanya cenderung hambar. Sampai di suatu kesempatan, saya menghadiri acara makan-makan yang diselenggarakan oleh Maharasa Indonesia berjudul Artisanal Minangkabau Culinary Experience. Banyak hal baru yang saya pelajari. Terutamanya soal bahan dan proses memasak tradisional yang sebenarnya sederhana tapi khas.

Acara yang lumayan panjang itu memiliki waktu rehat. Di saat rehat itulah semua peserta mengambil kesempatan untuk berbincang dengan Chef Utama yang sebelumnya berkelana keliling Sumatera. Karena penuh orang, saya pun beranjak ke dapur saja. Mencuri-curi pandang persiapan yang mereka lakukan. Di luar dapur, ada seorang pria yang mengenakan seragam dapur sedang merokok. Tampilannya lusuh dan wajahnya tampak letih. Saya sengaja meminta rokoknya supaya bisa mulai berbincang. Untung dia murah hati memberikan rokoknya dan kemudian bercerita soal kesulitan memasak makanan Minang secara otentik di Jakarta. Salah satunya “di sana mereka pake minyak kelapa. Minyak kelapa itu kan punya tingkat panas yang rendah dan stabil… Jadi kalo kita goreng itu dia panasnya pelan…”

TRING! sejak saat itulah minyak bawang putih saya menggunakan minyak kelapa. Hasilnya? Bawang putih tak lagi gosong dan aroma yang sedap lebih tahan lama.

2015-08-07 08.39.16

2. Ayam Kampung 

Sepertinya, semua orang punya caranya sendiri untuk membuat Ayam Kampung menjadi empuk. Karakteristiknya yang tidak memiliki banyak lemak menjadi tantangannya. Butuh waktu lebih lama ketimbang memasak Ayam Negeri. Sementara menjaga agar rasa khas Ayam Kampung tak hilang akibat proses masak yang terlalu lama.

Dalam sebuah perjalanan ke Ubud, saya iseng masuk ke sebuah restoran kecil yang menyajikan masakan Thailand. Karena waktu itu baru pukul 5 sore, hanya ada dua meja yang terisi. Saya duduk di meja paling dekat dengan dapur. Sambil menunggu pesanan datang, saya lirak lirik ke seluruh sudut restoran. Sampai seorang pria seperti menangkap mata saya dan kemudian bertanya dengan bahasa Inggrisnya yang khas “you need anything?”

Rupanya dia lah pemilik sekaligus Chef di restoran mini itu. Tentunya saya gembira sekali bisa berbincang dengannya mengenai bisnis restoran di Ubud. Walau ada sedikit kendala bahasa tapi saya cukup menangkap soal kesulitan yang dihadapinya. Intinya, berbisnis makanan di Ubud tak seperti yang kita lihat sebagai pelancong. Salah satunya adalah, bahan baku. Dan Ayam yang tersedia di Bali juga menjadi salah satu tantangannya.

Tentu saja topik ayam ini menarik perhatian. Berceritalah dia soal teknik memasak orang Bali beserta kekurangan dan kelebihannya. Menurutnya, dengan cara masak yang sekarang, menghilangkan banyak rasa dan aroma Ayam, makanya dibutuhkan banyak bumbu dan sambal supaya Ayam menjadi nikmat. “Di kampung saya, ada cara mengukus ayam sehingga minyak dan kaldu yang keluar dari ayam tak lari ke mana-mana…” sambil terus melanjutkan tanpa tahu bahwa saya berdagang nasi ayam. Saya catat dalam hati baik baik.

Pulang dari restoran itu, saya berterima kasih banyak padanya dan syukur saya panjatkan pada Sang Hyang Widhi,

2015-07-14 03.06.19

3. Sambal dan Saos

Walau bukan pencinta makanan yang terlalu pedas, tapi saya sadar nasi ayam perlu sambal dan saos yang mumpuni. Tanpanya, nasi ayam akan terasa hambar dan membosankan. Selama ini saya belajar dari Youtube dan Google University tentang cara membuat sambal dan saos untuk nasi ayam. Walau saya sendiri sebenarnya kurang puas dan belum ada komplen dari pembeli, ya sudah bisnis berjalan terus. Walau hati saya bertekad untuk menemukan sambal dan saos yang pas.

Suatu hari, di dekat tempat tinggal saya baru dibuka restoran Vietnam. Dari luar tampilannya lumayan menarik membuat saya iseng masuk ke dalamnya. Namanya restoran baru, masih sepi melompong. Saya jadi satu-satunya tamu di situ. Di pojokan lain seorang perempuan cantik tampak tersenyum ke arah saya. Dia kemudian berdiri dan mendatangi untuk memperkenalkan dirinya sebagai pemilik dan Chef restoran tersebut. Kami pun berbincang hangat dan ditutup dengan janji saya untuk membawakannya Nasi Ayam.

Seminggu kemudian, seperti sedang ujian, saya membawa nasi ayam saya. Setelah mencicipi sedikit, wajahnya tampak menerawang jauh. Dan kemudian berkata “food like this, the sauce takes the lead…” kemudian dia beranjak ke dapur sambil membawa sambal dan saos saya. Balik-balik dia membawa dua mangkok kecil sambal kreasinya untuk saya cicipi. Baru sedikit saja saya mencoba, saya tak dapat menyembunyikan kekagumannya. Tak hanya pedas, tapi sambal ini ada rasa asin dan asam yang menyegarkan. “This is not authentic Vietnamese, there is a little Chinese influence on it. I don’t create a new sauce, but just adding a little more to what you already have. So you can offer something different. Fresh perspective?” katanya terbata-bata dengan aksen Vietnam sambil tertawa.

2016-02-06 12.29.05


Demikianlah, saya tak bisa menyebut Nasi Ayam dagangan ini asli Indonesia. Ada Chinanya, ada Thailandnya, ada Vietnamnya, dan sepertinya masih akan ada lagi pengaruh-pengaruh lainnya di kemudian hari. Karena jujurnya, sampai saat ini saya masih belum puas dengan dagangan saya. Sepertinya masih bisa diperbaiki lagi. Kemungkinan besar, inilah yang membuat saya lebih semangat beranjak dari tempat tidur setiap paginya. Kukuruyuuuuk!

Iklan

7 thoughts on “KUKURUYUUUK (Bagian 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s