Apa Boleh Bikin?

Kemarin malam saya sedikit kesal karena setelah memperbaharui gim daring kesukaan saya, justru gim itu tak dapat digunakan karena menuntut kartu grafis yang memadai. Pembuat gim ingin memberikan pengalaman lebih menantang bagi pemain dengan gambar lebih indah dan suara lebih menggelegar. Tapi ternyata, laptop saya tak seindah yang diharapkan. Sekadar NVIDIA GeForce GT 750M 2048 MB tak dapat mengimbangi gim perang daring yang saya dan teman-teman biasanya mainkan. Baru mau mulai, yang terpampang di layar hanya gambar diam.

Setelah sekian jam diluncurkan, produsen permainan ini tersadar, kenapa banyak yang tak log in. Untungnya mereka sigap. Beberapa saat yang lalu mereka merilis piranti lunak yang intinya “compatibility fix” untuk dapat menurunkan kualitas gim mereka dengan tidak terlalu menuntut kartu grafis yang lebih keren dari kebanyakan laptop penggunanya.

Ini sebetulnya tulisan yang agak nyambung dengan tulisan kemarin yang disampaikan Lei, Pilih Sendiri Pengalamanmu.

Tapi saya lebih memilih atas pengalaman saya barusan sebagai sebuah gambaran bahwa ketika tuntutan zaman menginginkan banyak hal lebih baik, maka yang harus dilakukan oleh kita adalah meningkatkan kapasitas diri, kecuali ya itu tadi: rela tergilas roda zaman.

Untuk terus memberikan pengalaman menggiurkan dibutuhkan banyak piranti yang mumpuni. Jika kita ndak siap, pengalaman itu tak sempat dicicipi. Karena banyak kejadian, banyak tawaran, banyak keindahan, penuh dengan prasyarat diri. Bentuknya bisa macam-macam, baik syarat akademis, syarat kepemilikan dana, kemampuan berbahasa, dan lain-lain.

Hal ini juga dapat diterapkan dalam rangka hidup berdampingan.

Ilmu sosial jauh lebih dinamis dibandingkan sekadar strategi produsen, konsumen, bisnis dan bla-bla-bla dalam menuntut lebih dan meminta “updet-an” piranti lunak terbaru.

Ketika nilai-nilai dalam masyarakat berubah, maka perlu adanya langkah strategis dalam diri untuk meningkatkan kapasitas diri sehingga dapat melebihi nilai-nilai yang ada di masyarakat. Syukur-syukur melampaui apa yang diharapkan oleh pendamping kita, rekan, sahabat, dan warga sekitar. Uniknya, berbeda dengan dunia piranti dan gawai, soal kehidupan sehari-hari itu kita dan warga sama-sama dapat menjadi produsen dan bergantian menjadi konsumen. Silih berganti. Bahkan terkadang berbarengan dan saling mempengaruhi.

Sebaliknya, bisa jadi pengalaman kita begitu banyak. Atau kita telah memiliki banyak nilai-nilai yang melebihi warga sekitar, maka perlu ada kesadaran diri untuk “compatibility fix”. Kesenjangan alam pikir apalagi tindak dan laku dengan nilai-nilai yang ada, dapat menimbulkan “crash”.  Untungnya saat ini bukan lagi zaman Blackberry, karena biasanya kalau sudah begini langkah mudah yang dilakukan adalah “copot batre”.

Begitu pun saat berpasangan dengan kekasih kita. Perlu ada radar yang sangat sensitif untuk dapat memindai setiap waktu apakah ada hal-hal yang kita miliki atau pasangan miliki, kita pikirkan atau pasangan pikirkan jauh dari kesepahaman. Perlu ada software tambahan agar dapat selalu menyesuaikan. Piranti ini sudah dipasang sejak kita ngeceprot lahir jadi bayi, nama programnya: “sabar dan akal sehat”. Kesabaran yang masuk akal dan Logika yang disempurnakan dengan nilai kesabaran.

Orang lain, apalagi kekasih hati bukanlah gawai kita apalagi binatang peliharaan yang dilatih untuk semuanya dapat sesuai dengan kehendak kita. Perlu ada perimbangan. Jika ketidaksesuaian dipaksakan tanpa ada alat “compatibility fix” yang segera kita rilis agar kita “compatibility mode“, maka yang terjadi adalah “crash“.

Nilai-nilai ini akan jauh lebih berguna saat perbedaan generasi terjadi. Alam budaya anak masa kini dan banyaknya pengalaman generasi tua yang sering njomplang harus terselesaikan secara elegan dengan piranti lunak “sabar dan akal sehat”. Hubungan ayah dan anak. Ibu dan menantu, dapat terselesaikan dengan kesadaran diri bahwa masing-masing insan memiliki kapasitas diri yang berbeda.

relics_of_technology_reel_to_reel-copy11

Ada baiknya kita selalu menjadi aplikasi yang menjadi favorit banyak orang. Tampilan yang menawan, mudah dan ramah digunakan, dengan fitur yang sesuai dengan perkembangan zaman. Ndak semua hal harus sama kepada semua pihak. Sesekali kita juga perlu mengklik tanda bintang pada pola pikir, pola tindak dan pola ucap kita. Layaknya menyajikan sesuatu yang berbeda antara inner circle dan pada khalayak semuanya dalam aplikasi Path. Jika berkumpul dengan komunitas tertentu, maka sesuaikanlah. Layaknya menjadi pribadi yang selalu “ditap” dua kali dalam Instagram. Dan jangan pernah takut jika kita seringkali menjadi bahan nomention orang lain layaknya dalam Twitter.

Lakukan yang terbaik dan jika kemudian banyak pikiran berkelindan dan pendapat di lain pihak, itu bukan lagi urusan kita. Bisa jadi piranti lunak dan piranti keras kita ndak cocok karena jalan pikir mereka yang ternyata obsolete.

Apa boleh bikin?

Salam anget,

Roy

 

Posted in: @linimasa

2 thoughts on “Apa Boleh Bikin? Leave a comment

Tinggalkan Balasan