Amba

Bhisma Amba

‘Kasihan ya Dewi Amba.’

Hujan terlihat rintik membasahi kaca jendela mobil, ketika dini hari itu saya dan Ibu berkendara pulang sedari jalan-jalan. Radio sayup-sayup menyenandungkan lagu yang saya lupa judulnya, walau ingat sedikit iramanya.

‘Jatuh cinta sama Bhisma, tapi malah nggak sengaja terbunuh.’ Lanjut Ibu. Saya menengok sedikit ke kursi penumpang, menangkap wajah Ibu yang sedang khusyuk memandangi layar telpon genggam. Parasnya yang letih namun cantik tersirami cahaya terang dari telpon yang sedang ia tatap, meyingkap satu sisi wajah beliau yang seperti termenung. Ia tampak sedang membaca sebuah artikel di telponnya, kegiatan yang baru ia sukai setelah beliau berkenalan dengan smart phone.

‘Lagi baca cerita tentang Dewi Amba ya?’ Tanya saya. Yang ditanya hanya mengangguk pelan.

‘Tapi kan abis itu dia lahir lagi jadi Srikandi. Bisa balas dendam ke Bhisma.’ Saya meneruskan sembari memandang keluar jendela, mengamati jalanan yang basah berkilat-kilat. Pikiran saya melayang jauh ke kisah Amba dan Bhisma yang pernah saya baca sedari kecil. Cukilan dari Mahabarata yang selalu membuat perasaan ini haru biru.

Bhisma Dewabrata, menyandang nama yang begitu mulia karena ia berjanji kepada ayahnya, Raja Sentanu, untuk hidup selibat dan takkan menikah seumur hidup, serta tak akan menuntut tahta di Hastinapura yang seharusnya menjadi haknya. Sumpah ini ia ucapkan atas dasar cintanya pada sang ayah yang ingin menikahi Dewi Setyawati, yang meminta Sentanu untuk menyerahkan tahta Hastinapura untuk dan hanya kepada anak mereka berdua.

Dewi Amba adalah rampasan perang yang dimenangkan oleh Bhisma. Namun ia tak ditakdirkan bersama Bhisma karena sumpah yang sudah diucapkan oleh Bhisma untuk tak beristri. Terombang-ambing antara statusnya sebagai wanita yang dimenangkan Bhisma di medan perang, dan penolakan mutlak yang diberikan oleh sang ksatria karena ia memilih hidup selibat, Amba malah jatuh hati.

Menyadari cintanya yang takkan terbalas, Amba memaksakan Bhisma untuk mengerti sudut pandangnya. Bahwa nasibnya sebagai wanita rampasan perang takkan jelas kecuali Bhisma bertanggung jawab dengan cara menyuntingnya. Lelah menolak dan memberitahu Amba bahwa itu tak mungkin, Bhisma mencoba menakuti Amba dengan menarik panah di tali busur, mengarahkan ujung panah ke dada sang dewi, dengan harapan Amba akan mundur teratur.

Tetapi Dewi Amba tak kenal takut. Ia malah maju dan semakin mendekat ke Bhisma, seolah menantang balik, yakin bahwa dengan segala gertakan apapun, Bhisma tetap takkan tega.

Namun Bhisma, yang merupakan ksatria terlatih dengan pengalaman paripurna, yang bisa mengalahkan ratusan perwira hanya dengan satu tarikan tali busur, pada sore itu tak sanggup menahan satu panah di jemarinya untuk tak melaju. Dengan tidak sengaja, anak panah terlepas dari jari jemari Bhisma dan menembus dada Amba yang hanya dilindungi kain tipis.

Amba ambruk. Hatinya hancur. Sebelum tubuhnya rebah ke tanah, ia ditahan oleh Bhisma yang masih setengah tak percaya. Sebelum jiwa Amba meninggalkan tubuhnya, ia bersumpah akan kembali untuk menuntut balas dan keadilan dari Bhisma, bahwa ia akan menitis menjadi seorang wanita yang akan mengambil nyawa Bhisma di peperangan terbesar dan terakhir yang akan Bhisma tarungi. Demikian Amba meninggal di pelukan pembunuhnya yang ia cintai.

‘Iya sih, lahir lagi jadi Srikandi, tapi kan pas jadi Amba kasihan. Udah rampasan perang, ga diinginkan sama Bhisma. Terus meninggal gak sengaja pas dia berusaha ngobrol baik-baik.’ Kata Ibu.

Pas jadi Amba kasihan. Kata tersebut terulang di kepala. Nasib manusia selalu sulit dipahami, terutama bagi mereka yang menjalaninya. Kisah sastra yang walau cukilan, bahkan sering terasa lebih menyedihkan dari kenyataan. Saya sering berdiskusi dengan Ibu, bahwa hidup yang kita jalani pada detik ini adalah bagian dari sebuah desain besar. Grand design. Kita juga akan selalu memetik karma dari perbuatan yang pernah atau akan kita buat sebelumnya.

death of bhisma

Tidak seperti dengan almarhum Bapak, saya jarang berdiskusi dengan Ibu. Pembicaraan dengan beliau selalu pragmatis. Namun semenjak Bapak meninggal, perlahan-lahan dinamika tersebut berubah. Mungkin ia rindu Bapak. Ibu mulai sering mengajak bicara tentang Tuhan, agama dan problematikanya yang tak kunjung selesai, tentang dualisme Semar yang menarik, atau seperti pada malam itu, tentang betapa kasihannya Dewi Amba.

Dalam pandangan saya ke kursi penumpang, saya perhatikan lengan kanan Ibu yang masih dibebat. Beberapa hari yang lalu ibu baru jatuh di kamar, menghempas lantai dingin dengan keras. Akibatnya, lengan atas beliau terpisah dari belikat, menyebabkan tak hanya rasa sakit yang amat sangat tetapi juga kekhawatiran dari seluruh keluarga.

Ibu saya bukan Dewi Amba. Ia tidak terlahir dari keluarga raja yang kemudian disayembarakan untuk kemudian dimenangkan oleh seorang ksatria. Setahu saya, kisah cintanya dengan pria yang kemudian dinikahinya, hampir selalu indah sampai akhirnya sang suami meninggalkannya ke alam lain beberapa tahun lalu.

Tetapi Ibu kerap merasa sedih. Ada beberapa hal yang menggelayuti pikirannya. Ia tidak mengutarakannya langsung, tetapi saya dapat merasakan warna suaranya yang kerap berbeda, tatapan matanya yang sering menerawang jauh di antara percakapan-percakapan, dan nada bicaranya yang kadang seperti tercekat.

Ibu saya bukan Dewi Amba. Ia tidak pernah memaksakan apa yang bukan menjadi hak beliau. Ia menerima kami, anak-anaknya apa adanya dengan segala kelebihan dan kekurangan. Walau terkadang dalam penerimaan beliau, terselip kesedihan dan mungkin juga pengandaian akan keadaan yang berbeda.

‘Yang penting ketika ia jadi Srikandi, karmanya berhasil dibalaskan, bu.’

Hujan masih membasahi jendela mobil, rintiknya perlahan terlihat memercik pada jalanan yang berkilat-kilat. Radio masih menyenandungkan lagu sendu, yang tetapi kali ini terdengar lebih ceria. Ada sedikit harapan di antara saya dan Ibu. Mungkin di kehidupan kali ini ada beberapa hal yang tidak semerta-merta harus diselesaikan, ada beberapa hal yang hanya bisa kami usahakan tanpa tahu kepastiannya. Tetapi entah di kehidupan kami selanjutnya, mungkin Ibu saya bisa sepenuhnya berbahagia.

[]

 

 

Penulis:

Galih Sakti / @galihwismoyo (twitter dan instagram). Saat ini Galih sedang asik menggeluti bidang lukis dan ilustrasi, sambil mengajar di jurusan Film dan memproduksi film pendek.

 

Iklan

2 thoughts on “Amba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s