Pilih Sendiri Ritualmu

Sebagai seorang kepala dari sebuah keluarga kecil yang anggotanya hanya dua orang, terkadang saya merasa beruntung, tetapi ada kalanya saya merasa agak gundah. Beruntung kalau saya harus membuat keputusan yang sifatnya orangtua. Tidak harus terjadi diskusi alot antara papah dan mamah, atau perbedaan pendapat dan akhirnya salah satu harus mengalah; diskusi yang terjadi paling sering adalah antara saya dengan suara-suara di kepala sendiri. Beruntung juga kalau saya sedang jadi “bad cop”, anak saya tidak bisa lari ke “good cop” yang akan mengabulkan apa yang tidak diberikan oleh polwan galak, yaitu saya. Tapi saya galaknya biasanya tak lama, kok. Biasanya karena saya pun tak ada pilihan, beberapa jam kemudian kami sudah peluk-pelukan lagi.

Gundah tentunya banyak alasannya. Salah satunya adalah, saya sempat gelisah karena merasa kami tidak punya ritual. Saya ingat dulu ketika saya masih kecil, hampir selalu makan malam sekeluarga, walaupun saya hampir selalu membawa buku ke meja makan dan ibu saya hampir selalu memarahi saya karenanya. Apalagi ketika bulan Ramadan, lebih terasa rutin kami. Berbuka bersama, sambil ayah saya melagukan doa-doa khas, kemudian sembahyang magrib berjamaah, makan malam dan bersiap untuk tarawih di masjid kompleks. Kemudian di musim libur sekolah. Karena ayah saya bekerja di pedalaman, hampir selalu mendapatkan cuti cukup lama sehingga bisa mengajak kami – anak-anaknya – yang haus hiburan ke luar dari pedalaman tersebut dan melihat kerlap kerlipnya ibu kota. Terkadang juga ayah saya harus kembali lebih dahulu dari kami karena pekerjaannya, tetapi kami biasanya meneruskan dengan menginap di rumah nenek bersama Ibu.

Kenangan-kenangan ini (walaupun tak semuanya manis, tetapi tetap teringat terus) yang membuat saya bertanya-tanya; apa ya, nanti yang akan dikenang oleh anak semata wayang saya tentang waktu kami bersama? Makan malam di rumah, nyaris tak pernah sempat. Sembahyang bersama? Cukup dua kali satu tahun saja, atau ketika kami main di rumah ayah saya. Sering merasa bersalah, tetapi ya badan saya tak bisa dibelah. Tetapi kemudian ingat, saya masih suka membacakan buku yang dia suka sebelum tidur. Kalau lagi di mobil berdua dan mendengar lagu yang disuka, kami juga lalu bernyanyi keras-keras sambil bergaya sok asik. Di akhir pekan kalau sudah di tempat tidur tetapi belum terlalu mengantuk kami suka tertawa-tawa sambil menonton Adventure Time atau Friends. Mengenai liburan, sudah dua kali saya, anak saya, adik saya dan anaknya berlibur bersama, dan saya harap bisa jadi ritual kami berempat juga, karena menyenangkan sekali rasanya.

Mungkin ritual kami tidak agama-sentris dan tidak sesuai syariah. Tetapi paling tidak keluarga mini yang hanya berdua ini senang dan happy melakukannya. Jadi ya sudah, tampaknya itu dulu ritual kami. Kalau nanti saya bertambah tua dan anak saya bertambah besar, pasti akan berubah dan bertambah lagi. Atau Anda ada usul untuk ritual kami?

Advertisements

Buka, Sentuh, Tunggu, Bayar

Gampang ya?
Eits, belum tentu!
Semuanya tergantung pada kekuatan masing-masing.
Kalo punya situ ndak kuat ya ndak bisa buka. Apalagi sampai bisa nyentuh dan bayar.

Kita lagi ngomongin apa sih ini?
Nggak tahu kalau Anda lagi memikirkan apa, tapi yang jelas, saya lagi mau ngomongin online booking untuk ojek.

(Courtesy of ojekbalitours.com)

(Courtesy of ojekbalitours.com)

Kalau Anda sedang berada atau memang warga Jabodetabek, tentu sudah tidak asing lagi dengan kehadiran jasa ojek ini. Kita bisa memesan dengan mengunduh aplikasi pemesanan ojek lewat telepon selular kita.
Setahu saya, yang pertama hadir dan langsung populer adalah GoJek. Awalnya hanya untuk jasa kurir barang atau dokumen. Lalu berkembang menjadi jasa antar, dan pemesanan makanan.

Setelah beberapa lama, perusahaan GrabTaxi meluncurkan “second line” bernama GrabBike. Saat ini, armada sepeda motor GrabBike masih fokus pada jasa pengantaran penumpang saja. Tapi dengan demand terhadap jasa layanan angkutan motor yang terus berkembang, bukan tidak mungkin GrabBike pun akan menambah layanan seperti GoJek.

Kebetulan saja kedua brands ojek ini mempunyai warna yang sama, yaitu hijau. Maka kita pun sudah tak asing lagi melihat pengendara motor menggunakan jaket warna hijau, dan helm warna hijau di jalanan-jalanan ibukota dan sekitarnya. Kita pun sudah familiar di tempat-tempat makan populer melihat supir GoJek mengantri makanan pesanan yang segera diantarkan ke pelanggan. Itu kalau pelanggan berhasil booking jasa layanan GoJek lho ya.

Maklum. Mungkin saking populernya aplikasi ini, dalam beberapa minggu terakhir sering terdengar keluhan, termasuk dari saya sendiri, kalau susah sekali menemukan supir GoJek yang mau mengambil pesanan. Sementara itu, beberapa supir GoJek ada yang mengaku kalau pesanan tidak sampai ke gawai mereka. Baik GoJek maupun GrabBike sering overload kalau di waktu peak hours. Jadi buat mereka yang memesan jasa ojek kedua brands ini sering harus menunggu lebih lama lagi.

Nah, di sini menariknya.
Ada perubahan sikap dari konsumer pengguna transportasi umum yang tidak massal. Selama ini, kita terbiasa menghela taksi dengan melambaikan tangan ke taksi yang lewat. Kita langsung menghampiri tukang ojek di pangkalan, atau dihampiri. Jadi sebisa mungkin, prosesnya berlangsung cepat. In an instant, we get what we want.

(Courtesy of hp-yitno.blogspot.com)

(Courtesy of hp-yitno.blogspot.com)

Kalau pakai aplikasi?
Kita harus buka aplikasi. Loading. Menunggu sampai terhubung ke akun. Lalu kita arahkan peta sampai ke titik paling dekat dengan kaki kita. Kalau gak ketemu? Harus diketik. Lalu menentukan tujuan. Click. Masukkan kode promo, alias faktor utama kita rela melakukan proses-proses ini. Lalu click lagi. Kita menunggu sampai ada yang mau mengambil request kita. Harap-harap cemas kalau gak dapet. Begitu ada yang mengambil, apa kita lega? Belum. Kita hapalkan nomor polisi. Lalu kita tunggu, sampai akhirnya taksi atau ojek yang kita pesan benar-benar datang.

Lebih lama dari sekedar memanggil langsung di pinggir jalan, ya?

Makanya, saya sering tersenyum sendiri melihat orang-orang di pinggir jalan, terutama yang dekat pusat pertokoan, kantor, atau tempat umum lainnya, semua sibuk memegang ponsel masing-masing.
Ekspresinya sama, yaitu melihat ke gawai, melongok sesekali, berharap taksi atau ojek yang dipesan datang. Untuk pertama kali, kita dengan cermat melihat nomor polisi taksi, mobil dan sepeda motor dengan cermat. Kalau perlu sambil komat-kamit.

Ternyata yang namanya generasi millenials seperti kata Gandrasta, atau generasi yuccies kata Dragono, rela lho melakukan proses yang lebih lama ini. Siapa bilang mereka gak sabaran? Ini buktinya, pesan ojek sampai datang mungkin lebih lama dari actual traveling time. Yang penting kan digital, bro!

Tentu saja yang namanya human error akan sering terjadi. Apalagi tidak ada yang pernah pasti di jalanan ibu kota Indonesia ini. Ditambah pula miscommunication antara pengemudi dan penumpang sudah pasti terjadi.
Dan semua bentuk miskomunikasi ini, walaupun waktu terjadi tentunya sangat menyebalkan, kadang suka bikin kita ketawa sendiri.

Contohnya:
1. (dari teman perempuan)
“Keluar dari Lotte Avenue, gue berdiri nih Val, nunggu pesenan GrabBike. Terus dia sms, katanya “saya di seberang bu, di Ambas.” Ya udah, gue jalan ke sana. Pas sampe sana, tiba-tiba ada yang nyuitin gue! Berkali-kali! Kenceng banget! Pas gue noleh ke arah suara itu, dia dadah-dadah ke gue. Trus kok ya gue bales dadah balik ke dia ya? Asli, bodoh banget!”

2. (kejadian kemarin, ketika saya mengarahkan lokasi ke supir taksi via telepon)
“Pak, saya di lobby samping. Bukan yang di lobby depan. Bapak tinggal jalan lurus sedikit dari …”
(tiba-tiba saya gak konsen karena di depan ada ibu-ibu dengan volume suara 7 kali lipat dari saya, berteriak di teleponnya)
“Hey! Kau ini di mana? Aku sudah berdiri lama sekali ini kau tak muncul-muncul! Kau ini supir ojek tak tahu jalan, tak bisa baca peta ya? Yang ke Tanah Abang! Tanah Abaaang! Dengar tak kau?”
(saya bengong sebentar, lalu melanjutkan pembicaraan ke supir yang juga belum datang)
“Pak, tadi dengar juga kan?”

3. (pesan makanan)
Saya ketik di kolom tambahan pemesanan makanan “sate satu porsi, nasi setengah” untuk memastikan pesanan.
Ketika pesanan datang dan saya buka, yang terjadi sebaliknya. Nasi satu porsi, sate setengah porsi.

Dan selebihnya, silakan lihat foto-foto di bawah, semuanya dari pengalaman saya sendiri.

Positive thinking saja. Mungkin semua tanda baca berupa tanda tanya dan titik di ponselnya sudah berubah menjadi tanda seru. Bisa aja 'kan? Iyain aja.

Positive thinking saja. Mungkin semua tanda baca berupa tanda tanya dan titik di ponselnya sudah berubah menjadi tanda seru. Bisa aja ‘kan? Iyain aja.

 

Mungkin ini EYD baru dari terjemahan bahasa Indonesia atas kata "lobby".

Mungkin ini EYD baru dari terjemahan bahasa Indonesia atas kata “lobby”.

 

Aku harus jawab apa, mas?

Aku harus jawab apa, mas?

 

#OjekRomantis

#OjekRomantis

 

Dapat dari akun Path teman. Selain penasaran siapa copywriternya, siapa ya modelnya?

Dapat dari akun Path teman. Selain penasaran siapa copywriternya, siapa ya modelnya?

Mungkin mau menambahkan? Atau sekalian mungkin GoJek dan GrabBike mau bikin kontes video pendek cerita pengalaman penumpang*?

Silakan. Dan silakan berbagi cerita pengalaman Anda di kolom komentar ya.

*Yes! Ajak Linimasa kalau nanti ada lomba ini beneran! You heard the idea here first.

Yang Baru

JUJUR saja, saya masih lumayan samar soal arti kata hipster sampai saat ini. Istilah yang selalu digunakan dalam setiap suasana dan kesempatan selama setahun terakhir, terlebih di lingkungan pergaulan dan khalayak anak muda kota besar Indonesia yang cukup eksklusif. Sampai muncul kesan mblenek saking seringnya, juga upaya keras banyak orang agar mampu mencapai status tersebut.

Dari sejumlah asumsi pribadi, hipster sama dengan gaul dalam makna konotatif. Mereka yang tergolong dan dinilai pantas mendapat predikat hipster pasti identik dengan hal-hal kekinian. Dengan sejumlah preferensi (baca: gaya, mode, filosofi, prinsip, idealisme, You name it) yang tidak pasaran, mereka akrab dengan tren-tren terbaru, bisa bergaya maksimal atasnya, termasuk mampu memberdayakannya, minimal untuk tampil beda dan menarik perhatian sekitar. Mohon dikoreksi bila saya salah mengartikan.

A person who is unusually aware of and interested in new and unconventional patterns.” – kata kamus Merriam-Webster.

Akan tetapi, belum lagi redup popularitas status hipster, dan masih riuhnya upaya banyak orang muda di luar Jakarta, Bandung, Jogjakarta, dan Surabaya untuk bisa menjadi bagian di dalamnya, sudah muncul gelombang anak muda dengan pemikiran dan tindakan yang lebih baru, yang “bukan hipster, pun bukan konservatif.”

Dalam gelombang tersebut, ada beberapa semangat yang diteruskan dari cara pandang hipster pada umumnya (kreatif, cutting edge, avant-garde, melampaui apa yang sudah ada, dan sebagainya), dilengkapi sikap kritis demi mencapai keunggulan. Sederhananya, secara sosial ekonomi mampu bergaya dan mandiri. Apa-apa dibikin sendiri, apa-apa asyik sendiri. Ya kurang lebih begitulah.

Curiganya lagi, sudah ada banyak orang Indonesia yang berpikir dan bertindak ke arah tersebut. Salah satunya, “membeli adalah kalah” yang disampaikan di Linimasa beberapa pekan lalu, juga semangat belajar dan mengajari craftmanship di Indoestri yang–entah tepat atau keliru–menyampaikan pendidikan vokasional dalam balutan hipsterism, ABCD-School of Coffee dengan social cause­­-nya, dan masih banyak lagi.

So hereby, please embrace the new wave: Young Urban Creative. The Yuccies!

Hence the name, gelombang ini jelas diisi anak muda, yang merupakan kaum urban dan berpikiran modern, serta mutlak harus kreatif baik dalam konsep maupun hasil.

A Yuccies (?), perhaps.

Konon, salah satu tanda krusial seorang Yuccies adalah ndak mau disebut hipster. Sebab bagi mereka sebutan itu terlalu overrated alias lebay. Bahkan lebih ekstrem lagi, mereka menganggap semua-semuanya sudah hipster; sudah pasaran, berasa biasa dan cenderung kurang produktif. Sedangkan mbaca di Mashable (Google aja), dibilang bahwa para Yuccies juga memiliki opini khusus soal kreativitas dan duit. Bukan sekadar mengemukakan idealisme, tapi juga tidak berkeberatan dengan uang yang bakal dikeluarkan untuk itu. Bahkan bisa ambisius dan bertenaga menangani banyak hal kece sekaligus.

Kecuali kalau terlahir sebagai anak konglomerat atau ngepet, duit diperoleh dari pekerjaan. Bisa dalam bentuk gaji (bekerja pada orang lain), maupun omzet (pekerja mandiri alias entrepreneur). Nah, para Yuccies tergolong anak-anak muda yang setelah lulus ndak punya ketertarikan tinggi untuk berkarier di jalur konvensional, atau setidaknya jadi intern di perusahaan-perusahaan keren deh. Kalaupun mereka harus bekerja seperti pegawai kantor pada umumnya, isi kepala dan hati mereka terus bergejolak dengan segala sesuatu terkait entrepreneurship, bidang-bidang kreatif yang rela mereka jalani berlelah-lelah, kadang pakai duit sendiri, dan belum tentu kapan penerimaan baliknya diterima. Minimal pakpok lah, balik modal. Kasarnya, hal-hal yang bisa bikin orang tua mereka bertanya: “kamu dapat apa dari situ?

Mau contoh? Lihat saja startup-startup dalam jaringan yang digarap para anak muda (bukan selebritis). Dengan optimisme dan keberanian, mereka rela menyisihkan beberapa jam dari waktu istirahat untuk mengurusi startup berupa situs, aplikasi telepon pintar, dan sebagainya. Terlebih di kota-kota luar Jawa, termasuk di Samarinda. Mereka terinspirasi lewat Internet, salah satu corong informasi utama.

Begitupun dengan komunitas sastra, musik genre Noise, yang patungan untuk melakukan kurasi isi, swasunting, swacetak/swabikin, swasebar/swajual. Termasuk para penulis di media alternatif online, yang kadar sarkasmenya dinilai menghibur sekaligus nggateli. Linimasa ini juga kali ya, gara-gara Internet butuh lebih banyak hati. Hahaha… 😀

Ketika para Yuccies merasa telah menemukan panggilan jiwa kreatifnya yang hakiki, mereka pun rela meninggalkan jabatan di kantor untuk–sebut saja–jadi barista; jadi punggawa festival-festival musik non-pasaran; jadi kelompok penyelenggara bazar-bazar produk kreatif lokal; jadi seniman kaligrafi, hand-lettering, mural painting; jadi trainer olahraga; jadi produsen kerajinan berbahan kulit; jadi perajin logam untuk aksesori fashion sampai ornamen interior; jadi ahli cetak timbul (letterpress); jadi fotografer spesifikasi tertentu dengan hashtag khusus di Instagram; jadi penjelajah dunia secara harfiah; dan masih banyak lagi. Intinya hanya satu: mereka dibayar atas kreasi mereka sendiri. Bekerja dengan perasaan lebih melegakan, sebab tidak digantung orang lain. Ini yang bikin para Yuccies punya tingkat kekerenan yang berbeda dari mere hipster, apalagi para hedonis–punya uang, beli semua yang ngetren biar merasa tidak ketinggalan zaman, terus beralih ke mainan baru lagi.

Hanya saja, dengan pola pemikiran dan tindakan seperti ini, impian para Yuccies bakal terdengar sangat abstrak, membuat mereka kerap sulit dipahami, walaupun mereka memang tidak butuh dipahami. Tak seperti orang-orang pada umumnya (terutama angkatan usia 50 tahunan ke atas), yang dengan mudah menerjemahkan impian hidup dengan kesuksesan, kemapanan, kesejahteraan, fase hidup yang sesuai kelaziman, dan aneka benda-benda material lainnya. Di zaman sekarang, Anda pasti setidaknya punya satu, dua, atau tiga teman yang begitu. Bisa jadi, mereka Yuccies, yang mungkin merasa tidak perlu menyebut diri sendiri sebagai kaum Young Urban Creative.

Kalau soal penampilan, Yuccies tetap kekinian. Untuk cowok misalnya. Rambut pakai pomade, dengan potongan undercut atau pompadour yang berhasil menggeser gaya skinhead, setidaknya ada satu tato di tubuh baik yang terlihat maupun yang dapat disembunyikan di balik kemeja lengan panjang, berewok tapi terpangkas rapi (trimmed). Sedangkan pada cewek, mengikuti tren busana namun tetap lebih mengutamakan helai-helai dan potongan pakaian yang nyaman. Penuh percaya diri dengan apa pun penanda ukuran, dan selalu mengedepankan kenyamanan dalam penampilan baik dari pakaian, riasan, tato, sampai potongan maupun warna rambut.

Di sisi lain, para Yuccies adalah antitesis dari anggapan bahwa profesi harus sejalan dengan latar belakang. Dulu, kita kerap mendengar celetukan meledek soal pekerjaan yang melenceng dari jurusan kuliah.

Kuliahnya kehutanan kok kerja di bank?

Sarjana hukum kok kerjanya jadi Public Relations?

Lulusan teknik kok jadi marketing?”

…dan sejenisnya.

Para Yuccies justru masa bodoh. Mereka menantang ledekan-ledekan jadul itu dengan menunjukkan bahwa kreativitas dan aspirasi semua orang tidak terbatas pada bidang-bidang tertentu saja. Hal ini jelas tidak keliru, karena para Yuccies dan sebagian masyarakat kita banyak yang terfokus pada hasil. Justru menjadi nilai lebih, bila seseorang mampu berkarya luar biasa di luar bidang pendidikannya.

Kalau begini, boleh dibilang keberadaan Yuccies merupakan keniscayaan zaman. Fase yang memang harus muncul sebagai penanda masa. Saat para hipster muncul dengan jargon menolak arus utama (anti-mainstream), dan ketika semua orang adalah hipster maka hipsterism becomes mainstream, setiap Yuccies memiliki keunikannya masing-masing. Yuccies adalah dekonstruksi dari hipsterism, kali.

Entahlah habis Yuccies bakal muncul golongan apa lagi.

[]

Di Persimpangan Jalan

Saya itu punya kebiasaan kalo nonton film atau serial di akhir pekan itu suka secara tidak sadar selalu mempunyai tema yang sama atau setidaknya aktor yang sama dengan film yang berbeda. Itu sudah terjadi dari jaman rental VCD, ketika saya masih di SD. Entah ini hal yang biasa atau tidak. Eniwei.. ternyata akhir pekan kemaren setelah saya amati ternyata saya melihat beberapa film atau serial dengan tema LGBT. HAAAH!?

Mungkin ini terjadi karena beberapa minggu ke belakang dunia maya sempat didominasi oleh warna pelangi. Setidaknya itu yang saya perhatikan di Twitter dan Facebook. SCOTUS, Mahkamah Agung-nya Amerika Serikat meloloskan undang-undang yang melegalkan pernikahan dengan sesama jenis melalui dissenting opinion. Ini mungkin merupakan “kado terakhir” dari pemerintahan Obama yang sebentar lagi akan berakhir. Walaupun masih ada pertentangan di akar rumput. Padahal sebelumnya Republik Irlandia telah lebih dulu melegalkan undang-undang yang sama beberapa minggu sebelumnya. Bahkan keputusan diambil melalui referendum yang melibatkan warganya dan menang melalui popular votes. Negara pertama yang melakukannya.

Tapi memang beberapa tahun ke belakang memang marak film atau serial yang mengusung LGBT ya. Film yang saya liat itu diantaranya adalah I Love You Philip Morris yang dibintangi oleh Jim Carrey dan Ewan McGregor. Bagus. Diambil dari kisah nyata. Perpaduan Catch Me If You Can dengan Brokeback Mountain dan sedikit Behind The Candelabra.

woodr

Tapi saya lebih menyoroti ke dua serial yang sedang tayang. Yang pertama adalah True Detective musim kedua. Jika diamati secara seksama bisa dilihat bahwa keempat tokoh sentral di serial ini bermasalah semua. Nic Pizzolato sebagai kreator dari serial ini memang suka ekspos sisi gelap dari kehidupan. Paul Woodrugh, yang diperankan oleh Taylor Kitsch, adalah seorang polisi yang sedang mengalami krisis identitas, sebagai veteran Afganistan yang menjadi polisi dan sedang dilema mengenai orientasi seksualnya apakah dia seorang gay atau straight? Karena dia tidak begitu menikmati bersenggama dengan pacarnya yang notabene latina. Tapi dia masih dalam taraf denial untuk mengakui dirinya sebagai gay. Dia banyak menghabiskan waktunya menghabiskan waktu di jalan raya dengan sepeda motornya di malam hari dengan kecepatan tinggi sampai dia merasa lelah.

cait2

Satu lagi serial baru mengenai Caitlyn Jenner berjudul I Am Cait yang ternyata oke. Setidaknya di episode pertama. E! Channel sebagai TV yang menayangkan serial ini lebih menekankan pada sisi psikologis yang dialami oleh Caitlyn Jenner yang sebelumnya bernama Bruce Jenner. Bagaimana rasanya menjadi Caitlyn yang dulunya adalah seorang atlet olimpiade yang mendapatkan medali emas di cabang dekatlon tahun 1976. Dia juga seringkali muncul di serial Keeping Up With The Kardashians. Dia adalah mantan suami dari ibu dari Kim Kardashian. Intinya dia adalah orang yang terkenal. Bebannya untuk memutuskan menjadi transwoman seperti sekarang ini bukan perkara mudah. Bahkan dia sempat mempunyai suicidal thoughts mengenai orientasi seksualnya. Hal ini dia simpan selama puluhan tahun. Puluhan tahun! Beban psikologis hidupnya lebih berat dari Ellen Page, Ellen DeGeneres, Jodie Foster, Martina Navratilova. Atau bahkan Dorce Gamalama.

Ada benang merah yang bisa ditarik dari tontonan di atas. Yaitu kejujuran itu butuh keberanian yang luar biasa. Dalam segala hal sebetulnya. Banyak konsekuensi yang akan hinggap ketika kita jujur terhadap diri sendiri. Kehilangan teman misalnya. Mending teman sedikit tapi beneran teman atau banyak tapi banyak yang “sekedar teman”? Ada kelegaan yang tidak bisa dinilai harganya. Melepaskan beban yang begitu berat itu rasanya seperti kita akan camping sambil membawa ransel 25 liter dan kita sudah mencapai tujuan. Selanjutnya hanya tinggal medirikan tenda.

Lalu pertanyaan selanjutnya adalah sampai kapan kita menunggu para public figure di Indonesia yang sering tampil di layar kaca atau layar lebar itu come out dan menyatakan jatidiri sebenarnya? (Saya memang judgmental tapi percayalah gaydar saya sudah EDGE menuju 3G walaupun belum seperti teman-teman lain di linimasa yang sudah LTE). Apakah menunggu seperti Ganda.. eh Ian McKellen yang menyatakan dirinya gay di tahun 80an? Atau seperti Christopher Plummer di film Beginners?

IMG_20150728_121048

You decide.

Ah, Millennials

Selesai libur lebaran, aku menemukan muka-muka baru di kantor. Masih muda. Segar dan berpenampilan kasual. Satu diantara mereka bahkan punya Tatto di wajah. Mereka bawa laptop sendiri. Pakai headphone saat bekerja. Makan siang sendiri. Mejanya rapi. Ndak ada kertas atau alat tulis. Apalagi buku. Bagian personalia bilang, paling cuma dua minggu, liat aja.

Apakah ada yang terbiasa dengan penggolongan generasi? Atau teori gelombang perdadaban? Aku pikir dua faham itu masuk akal. Papaku lahir di generasi Baby Boomers. Beberapa tahun setelah Perang Dunia II. Secara umum, mereka kalangan penyusun ulang pranata sosial yang hancur karena kekacauan dunia. Mama lahir sebagai generasi Jones. Akhir dari masa Baby Boomers. Kakakku lahir di generasi X. Semua serba budaya Pop. Aku sendiri sebagai generasi MTV atau Generasi Y? Masih dalam perdebatan. Karena aku lebih suka Trace Urban dan Iyeth Bustami ketimbang MTV. Mari kita tengok Generasi Y (baca: Millennials).

image

Sumber: Google

Masih ada keragu-raguan kapan kiranya Millennials bermula dan berujung. Beberapa mengatakan kalau ia adalah anak-anak yang lahir tahun 1983-1997. Sebagian berargumen dari tahun 1982-1997. Di majalah Entertainment Weekly, Millennials didefinisikan sebagai siapapun yang saat ini berumur antara 20-38 tahun. Sedang BusinessWeek bilang mereka saat ini bisa saja dari kisaran umur 13 tahun. Apapun itu, kita semua mengenal mereka. Mereka adalah generasi paling digital di bumi.

Having been born plugged in–istilah ini satu dekade lalu sama-sekali ndak dikenal. Mereka tumbuh diantara komputer, internet, ponsel, tablet, dan music players. Mereka paham betul fungsi web, menjelajahi dunia maya, nonton web-TV, mendengarkan musik lewat web, dan bicara juga mengirim pesan lewat ponsel. Sering juga melakukan semua itu di waktu yang bersamaan. 

Meski kita bisa lihat kalau Millennials terobsesi dengan “Game of Thrones”, dan tayangan sejenisnya, mereka paling jarang nonton TV dibandingkan generasi lainnya. Millennials menghabiskan waktunya dengan menjelajah internet atau memakai produk teknologi dalam kesehariannya, meski TV tetap menyala di balik punggung mereka. Bagi mereka, TV hanyalah “background noise.”

Mereka ndak peduli dengan iklan. Mereka sangat peduli dengan apa yang kawan-kawannya pikirkan. Karena mereka begitu menyatu dengan media, baik itu online maupun offline. Millennials terimbas iklan dari semua sudut. Mereka muak. Waktu mereka harus membuat keputusan, Millennials mendengarkan apa yang didengungkan jejaring sosialnya, lewat percakapan antar teman atau rekomendasi di forum. Bukan iklan tradisional. “Ads that push a slogan, an image, and a feeling, the younger consumer is not going to go for,” kata James R. Palczynski, retail analyst Ladenburg Thalman & Co. Namun demikian, mereka merespon segala jenis humor, ironi, dan fakta mentah. Mereka kadang tampak tidak mempercayai iklan. Millennials hampir tidak punya brand loyalty. Mereka cepat berpindah pada trend berikutnya.

Kerja bukanlah segalanya. Mereka memang pergi bekerja, tapi harus yang menyenangkan. Bagi Millennials, pekerjaan bukanlah identitas. Itu hanya sebuah tempat. Mereka ndak bisa terima kenapa perusahaan ndak bisa mengakomodasi kebutuhan mereka dan menawarkan sedikit kemudahan seperti bekerja dari rumah, waktu yang fleksibel, budaya komunikasi lintas media, dan suasana kerja yang “fun.” Mereka juga ndak sembarangan ikut perintah atasan. Perintah itu harus dicerna dan masuk logika-nya. Kadang mereka disebut “Generation Why?” Mereka harus diberi alasan yang tepat kenapa sesuatu harus dikerjakan. Atasan tipe Baby Boomers bisa saja beranggapan kalau ini adalah tindakan makar, tapi sebenarnya mereka inilah bakat pemimpin paling fleksibel dan membawa perubahan. Millennials ndak mengenal kata “pengangguran.” Selalu ada yang bisa mereka kerjakan. Bisa mereka capai. Mereka bukan bekerja untuk uang. Dan uang bukanlah hal yang menentukan, tapi uang bisa jadi indikasi bagaimana perusahaan menghargai mereka. Bosses, your survival guide is here.

Mereka berjiwa sosial. Millennials peduli dengan dunia. Mereka memperhatikan perkembangan politik, ekonomi, dampak sosial, dan isu lingkungan. Mereka berfikir bahwa suara mereka sangat berarti. Mereka berteriak secara online. Mereka membaca berita, tapi bukan dalam bentuk cetak. Ini akan menyakiti industri surat kabar tradisional yang berharap terus bertahan.

Marketing harus berubah karena Millennials sangat paham media dan tau kalau sedang dimanfaatkan. Brand yang sukses di masa depan adalah yang membuka dialog dengan konsumennya, mengakui kesalahannya, dan menjadi lebih transparan. Social network jadi fitur. Customer service ndak cuma lewat telpon, ia juga tersedia lewat cara-cara non tradisional, bahkan live streaming. Sekarang, banyak perusahaan yang memanfaatkan Twitter dan facebook, tapi akan segera berubah lagi setelah Millennials merasa lelah dengan itu semua. Para produsen harus selalu awas dengan Millenials dan jangan terpaku pada satu format media saja. Oh, and you can stop calling everything “viral”—that’s lame.

Work tools harus bisa bekerja juga secara online. Di tempat kerjanya, Millenilas ndak cuma menginginkan, tapi juga mengharapkan perusahaannya menyediakan alat yang biasa mereka gunakan dalam kehidupan pribadinya. Di perusahaan yang cukup longgar, kalau pegawainya ndak dipersenjatai dengan perlengkapan yang mereka inginkan, mereka dapat menciptakannya sendiri.

Bacaan harus bisa lebih fokus dan singkat. Ndak ada lagi tulisan yang panjang dan membosankan. Millennials punya masa perhatian terhadap sesuatu di web lebih singkat dari lainnya. Mereka dengan cepat melompat dari satu topik ke topik lainnya. Mereka juga ndak baca semua tulisan ini… kepanjangan.

Millennials tergantung dengan ponselnya. Untuk bersosialisasi, bukan mencari info. Steve Ives, CEO Taptu, dalam tulisannya Making search social: Unleashing Search for the Mobile Generation, mengatakan “Millennials who sees the mobile as a social device first and an information device second, is not using today’s mobile search as much as expected. But they are using mobile phones as social life.”

Millenilas kini mendominasi kota-kota besar di dunia. Generasi anak-anak Baby Boomers, Generation Jones, dan beberapa anak Gen X. Mereka adalah generasi terbesar sejak Baby Boomers dan tiga kali jumlahnya dari Gen X. Sejalan dengan Boomers yang menjalani masa pensiun. Sekarang Millennials masuk ke lini-lini first jobber. Kita bisa lihat perubahan besar. Perubahan yang mengimbas banyak faktor. Dan menentukan peradaban secara keseluruhan.

Mengabaikan suara Millennilas dalam kegiatan industri dan budaya sangat berisiko. Utamanya, kalau industri itu ingin menemukan talenta muda. Sebuah perusahaan yang menjual barang dan jasa dan ingin mencapai pasar dari umur 13 sampai 40 tahun sebaiknya mendengarkan apa yang Millennials inginkan, bukan butuhkan.

Millenilas mampu mengubah konstelasi teknologi, ndak terkecuali peradaban dunia. Mereka mengadaptasi semua bentuk teknologi dengan membabi-buta. Mereka sadar bagaimana faktor sosial mampu mengubah, berdampak dan pemakaian internet sebagai alat menjadikannya awas dengan apa yang sedang terjadi.

Millennials juga ikut berpartisipasi dalam kampanye, protes, demonstrasi, dan pertemuan kelompok. Bagi mereka akan lebih mudah untuk memulai gerakan itu dengan facebook group, twitter post, blog, dan membiarkan masa ikut berpartisipasi. Grup ini juga ndak begitu saja diabaikan. Uang didonasikan tiap harinya, terjadi boikot ini-itu, dan berita menyebar dengan cepat. Aktualitas berita jadi singkat dengan penyebaran seperti wabah. Millennilas mengawinkan teknologi dan advokasi ke level yang betul-betul baru.

Millennilas jarang baca buku. Umm, sepertinya banyak orang ndak baca buku akhir-akhir ini. Mereka ndak selalu membutuhkan buku karena ada medium baru untuk berbagai informasi yang ada di buku. Dari sini, prilaku baca mereka berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya. Mereka membaca blog, atau gumaman kawannya di Twitter. Mereka menerima berita mobile dan mendownload eBook. Merekalah yang mendorong media untuk berkembang dan mengadaptasi aneka teknologi dalam implementasinya.

Millennials dipenuhi anak-anak manja dan pemalas. Ini adalah tuduhan bodoh. Mereka membutuhkan penghargaan atas apa yang mereka lakukan, sekecil apapun. Mereka melakukannya demi diri sendiri dengan cara mereka sendiri. Keterlibatan secara fisik jauh berkurang. Mereka senang memanjakan diri sendiri. Juga berbagi. Kalau mereka harus membantu sesamanya, mereka akan melakukan yang terbaik.

Sebagai contoh satu orang dalam jejaring Millennilas kehilanga keluarga, maka ia akan mempost hal ini dan meminta bantuan semua anggota jejaringnya untuk bertindak. Implikaisnya bukan pada hasil akhir apakah keluarganya itu ditemukan atau ndak, tapi dampak yang ditimbulkan. Semua orang jadi lebih terekspos akan berita ini, dan mengambil tindakan. Minimal memberitakannya di tempat lain dengan jejaring sosial yang lain. Penyebaran berita dan bahu-membahu ini menjalar seperti epidemi. Bahkan lebih cepat dari itu. Sudah banyak terbukti dan ndak bisa terbendung. Perhatian penuh tertuju pada si korban. Akhirnya perhatian besar dapat diraih dengan cepat. Ini penting, apalagi kalau kita berfikir skala industri.

Marian Salzman, Ad Agency Executive mengatakan: “Some of them are greatest generation. They’re more hardworking. They have these tools to get things done. They are enormously clever and resourceful. Some of the others are absolutely incorrigible.” 

Ke Mana Kami dan Kita?

Menjelang kampanye pemilihan Presiden kemaren, salah satu kampanyenya berteriak Jokowi adalah Kita. Dan setelah Jokowi terpilih sebagai Presiden, maka Jokowi pun disebut “Presiden Kita”. Pertanyaan yang mengiringinya adalah, “kita” yang mana? “Kita” siapa? Seluruh rakyat Indonesia? Tentu bukan. Tapi “kita” adalah pendukung yang memilih Jokowi saat PEMILU. Tapi bagi yang tidak memilih Jokowi, sampai akhir masa jabatannya nanti, tentu tidak ingin dianggap bagian dari “kita”. Pun menerima sangat mungkin setengah hati.

Bagitu pula dengan “kami”. Ketika seseorang menyebut dirinya sebagai “kami”, pertanyaan yang sama bisa diberlakukan. “Kami” yang mana? “Kami” siapa? Kami adalah sekumpulan “saya” yang berkumpul menjadi satu. Lebih tepatnya, “saya” yang mengikhlaskan dianggap bagian dari “kami”. Bisa karena memiliki semangat yang sama, cita-cita yang sama, tujuan yang sama.

Dalam pengantar promosi Pidato Kebudayaan Karlina Supelli berjudul Kebudayaan dan Kegagapan Kita disebut, di era teknologi informasi, manusia tergagap akan makna “kami”. Selain menyatukan individu menjadi populasi, juga memecah populasi menjadi individu. Secara bersamaan.

Ketika Madonna dan Michael Jackson menjadi Raja Pop membuat seluruh remaja dunia tergila-gila, bagaimana dengan eksistensi pencinta jazz, dangdut dan klasik? Hampir tidak ada corong bagi mereka. Pilihannya, ikut dalam arus. Atau diam-diam di kamar menikmatinya. Bukankah itu yang dilakukan Rangga di film Ada Apa dengan Cinta. Sebagai penikmat dan pembaca AKU saat teman-temannya yang lain mungkin sedang sibuk mengikuti lomba pemilihan cover boy.

Sekarang, setiap individu bisa mencari dan menemukan individu lain yang setipe. Dan ketika jumlahnya semakin banyak maka percaya diri perlahan meningkat. Maka semakin banyak terbentuk komunitas. Bisa dieratkan dengan hobi, kegiatan, cita-cita, ambisi apa pun. Dan mereka pun akan menyebut diri mereka “kami”. Dan ketika “kami” semakin besar dan membesar, akan bermunculan “saya” dari dalam yang merasa tidak lagi sejalan. Dan “saya” yang terpelanting tadi kemudian membentuk “kami” yang baru.

Kalau tidak salah, Alfin Toffler yang sudah memprediksi ini di tahun 1980. Beliau menggunakan analogi payung besar yang menaungi payung-payung kecil. Sampai payung kecil keluar dari payung besarnya dan mulai memayungi payung-payung kecil lainnya. Dan payung besar pun mulai kehilangan makna. Begitu terus menerus.

Kami dan Kita terus bergerak dan memiliki sifat sementara. Dan sekarang diperpendek usianya dengan kemajuan teknologi informasi. Memberikan rasa gamang ketika kata “kami” dan “kita” disebutkan. “Eh nanti dulu, emang saya bagian dari kalian? Kalau pun iya, mungkin tidak sepenuhnya. Saya tetap ingin menjadi saya. Saya tidak ingin sepenuhnya menjadi bagian dari kalian.”

Kebangkitan dan semakin menguatnya individu-individu ini adalah pisau bermata dua. Di satu ujungnya memberikan keragaman sehingga dunia semakin penuh warna. Bagi yang siap menerimanya. Dan di ujung yang lain perbedaan memberikan rasa tidak nyaman. Di sinilah kegagapan mulai terjadi. Yang tadinya berteriak lantang menyuarakan makna keragaman, mendadak menentang keragaman ketika perbedaan itu mengganggu atau mempertanyakan. Yang tadinya menganut paham kebebasan, mulai terbentur dengan kebebasan yang lain. Dan hasrat mempertahankan kebebasan masing-masing semakin besar, tanpa disadari menjadi belenggu baru.

Iklan, jargon, kampanye, seolah menggampangkan dengan menggunakan kata “kita” dengan mudahnya. Dengan harapan semua mengangguk terima saja menjadi bagiannya. Presiden Kita. Kopi Kita. Selera Kita. Dan semakin buram saat “kita” diganti dengan kata “Indonesia”. Demikian pula dengan “kami”. Suara kami. Pernyataan kami. Keinginan kami. Seolah mampu mewakili suara individu. Menghapus makna keragaman.

company_people

Nina Simone, Ujang Codot dan Gadis dengan Codet di Punggungnya

IMG_9377

Ujang Codot namanya. Dia menyukai SBUX. Hampir setiap hari ia membeli secangkir kopi di kedai itu. Lalu ia menikmatinya dengan menyesap Marlboro warna merah. Kemudian, di sudut meja kedai, dia akan menulis tentang apa saja.

“Aku ini penyair yang mengubah bayangan zaman menjadi lukisan. Aku penerjemah realita ke dalam fantasi dan sebaliknya. Aku penyulap warna dan tesktur. Aku melihat masa lalu dan meramal masa depan. Aku mengendarai badai. Aku berjalan diatas rentangan tali akal-sehat. Aku hidup di batas dunia.’

~ Peter Dean ~

Ujang adalah penyair, tapi palsu. Pekerjaan aslinya adalah seorang sopir yang bukan sembarang sopir. Karena yang dilayaninya adalah anggota dewan. Ujang selalu tidur di apartemen mewah sekitar Pacific Place. Kalau ndak salah namanya Capital.

Majikannya, seorang Ibu muda aktivis partai berlambang Ka’bah yang menjadi cem-ceman Jendral Polisi mantan Kapolda Ibukota.

Apa lagu kesukaan Ujang. Ini dia. Dengarkan saja.

Karena Ujang menyukai Nina Simone. Penyanyi luar negeri, katanya pada suatu ketika pada Imah, pacarnya.

“Mah, kenapa di punggungmu ada parut luka?”

“Ini codet namanya, Jang.”

“Kenapa bisa ada codet, Mah?”

“Karena kamu Codot, Jang.”

“Kenapa aku kamu sebut codot?”

“Karena kamu begitu menyukai buah dada. Ahahahaha!”

“AHAHAHA!”

Lalu mereka berdua bercinta, di sofa. Pada lantai atas Capital seberang pusat belanja. Tentu saja, saat majikan mereka entah berada dimana.

“Kamu sayang aku, Codot?”

Sayang banget dong, Codet!”

“AHAHAHAHA!”

“AHAHAHAHA!”

Mereka tertawa, lalu kembali bercinta. Biasanya saat bercinta Ujang akan bernyanyi di atas Imah.

I wish I could share
All the love that’s in my heart
Remove every doubt
It keeps us apart
And I wish you could know
What it means to be me
Then you’d see and agree
Every man should be free

Imah selalu saja mengulangi pertanyaan yang sama.

“Apa itu Free?”

Ujang akan menjawab dengan jawaban yang juga selalu sama.

“It’s just a feeling. it’s just a feeling. it’s like, ” how do you tell somebody how it feels to be in love?”
How are you going to tell anybody who has not been in love, how it feels to be in love? You can’t do it to save your life. You can describe things but you can’t tell them. But you know it when it happens. That’s what I mean by “free”. I’ve had a couple of times on stage, when I really felt free, and that’s something else. That’s really something else. I’ll tell you what freedom is to me. No Fear. I mean really, No fear. If I could have that. Half of my life, no fear.” 

Sebetulnya Ujang curang. Karena kalimat itu sangat dia hapal luar kepala. Kalimat yang dia dengar dan saksikan dari Filem Nina Simone yang ditontonnya setiap malam. Karena hanya filem itulah DVD orisinil satu-satunya yang dia miliki.

“Panggung?” Imah bertanya.

“Bukan! On stage artinya punggung.”

“Punggung?”

Iya, punggung yang ini. Punggung dengan codet indah di atasnya.”

“AHAHAHAHA!” Imah tertawa

“IHIHIHIHIHI!” Ujang tertawa bangga.

Saat keduanya lelah, Ujang akan bercerita siapa itu Nina.

“Segalanya berubah setelah kejadian di Kota Birmingham negara Americola. Nina tak lagi bernyanyi dengan santai seperti di pantai. Selow seperti di Pulau.”

“Kapan itu Jang?”

“Tanggal 15 September 1963, Mah. kaum kulit hitam banyak yang mati terbunuh”.

“Apa hubungannya dengan Nina?”

“Karena Nina marah. Dia berteriak lantang dan dirinya tak lagi mampu mencapai oktaf yang selama ini dengan mudah ia gapai”.

“Kenapa Nina marah? Karena ia tak betah di rumah?”

Ujang mengangguk-angguk. “Iya, tapi bukan saja karena ia sedang depresi menghadai Andy, sang suami. Melainkan juga ia depresi melihat kulit hitam selalu dipecundangi”.

Ujang lalu menyetel sebuah lagu. Earphone miliknya disematkan pada telinga kiri. Untuk bagian yang kanan, ia pasang di telinga kanan Imah.

“Coba dengarkan…”

“Tahukah kamu Imah. Ada hal yang lebih penting dari sekadar memperjuangkan apa yang menjadi hak kita?”

“Apa itu Ujang?”

“Melepaskan apa yang telah menjadi hak kita..”

Pasrah?”

“Bukan. Melainkan berserah.”

“Wow, Ujang. Kamu islami sekali!”

“Kok Islami?”

“Iya, karena kamu berserah.”

AHAHAHAHA!” Ujang tertawa.

“IHIHIHIHIHIHI!” Giliran Imah tertawa bangga.

Lalu mereka melanjutkan bercinta di atas sofa. Diiringi lagu Puan Kelana dari Silampukau. Selama mungkin. Hingga majikan mereka tiba.

Jakarta, 25 Juli 2015. 08.07 WIB

Sulitnya Perpisahan

Saya yakin kalau cukup banyak dari Anda yang menyukai perhelatan sedang maupun besar. Mengembangkan jejaring, berkenalan dengan orang-orang di industri yang sama, yang siapa tahu bisa membantu atau sebaliknya, Anda bisa membantu mereka melancarkan dan mengejawantahkan ide-ide yang selama ini ada di dalam kepala saja. Saya pun demikian. Tetapi ketika melakukannya saya sadar kalau ini adalah bagian dari pekerjaan, dan sedapat mungkin saya tidak menghabiskan waktu berlama-lama di acara tersebut. Bukan karena saya memiliki hal yang lebih penting untuk dilakukan (kecuali tidur adalah hal lebih penting), tapi karena saya merasa lelah sekali jika harus bersosialisasi dalam periode yang panjang.

Karena itu saya merasa Irish Exit seperti diciptakan untuk orang-orang seperti saya. Sebenarnya bahkan sebelum mengetahui soal istilah ini, saya cukup sering melakukannya. Irish exit menurut Urban Dictionary (salah satu definisinya) adalah meninggalkan satu acara tanpa pamit dengan yang hadir di acara tersebut.

Anda pasti familier dengan skenario ini; setelah menghabiskan waktu di satu acara, Anda berpikir ingin pamit. Karena ada beberapa kelompok di acara tersebut, Anda pun bergabung dengan kelompok terbesar, kemudian karena mereka sedang berada di tengah pembicaraan seru, Anda menunggu sampai mereka paling tidak menyelesaikan pembicaraan tersebut, lalu memotong dengan mengatakan keinginan untuk pamit. Tentunya akan ditanggapi, dengan pernyataan dan pertanyaan yang mungkin akan membuka percakapan baru yang walaupun Anda berusaha menyelesaikan secepat mungkin, tetapi demi kesopanan masih Anda tanggapi dengan cukup. Ulangi proses ini untuk beberapa kelompok lain. Kemudian tiba-tiba ada rekan yang menanyakan tujuan dan menyatakan kalau ingin ikut kendaraan Anda sampai ke tempat tertentu. Tak mungkin Anda menolak. Jadi Anda harus menunggu yang bersangkutan untuk mengambil barang dan pamitan juga dengan beberapa orang di acara ini. Disadari atau tidak, waktu setengah hingga satu jam sudah berlalu dari awal ketika Anda berniat pamit.

Jika membaca situasi di atas membuat merinding, mungkin irish exit bisa dipertimbangkan. Tentunya kalau dalam situasi profesional, sulit untuk dilaksanakan secara murni, jadi harus dibuat beberapa penyesuaian, seperti:

  • Sebelum merencakan exit, yakinkan Anda sudah menemui orang-orang yang penting untuk ditemui, membicarakan apa yang harus dibicarakan, dan memperkenalkan diri ke orang-orang yang Anda ingin kenal.
  • Selalu (selalu!) pamit kepada tuan rumah atau yang punya acara. Mungkin Anda tidak ingin menghabiskan waktu berlama-lama, tetapi pergi tanpa pamit ke yang punya acara kurang sopan. Anda akan ditanya mengapa harus meninggalkan acara, karena itu membawa ke poin ketiga;
  • Siapkan alasan yang meyakinkan dan tidak bisa ditolak. Saya ingin memberikan usul, tetapi segan untuk membocorkan rahasia di sini, jadi silakan dipikirkan sendiri, saya yakin Anda lebih kreatif.
  • Selain dari tuan rumah, jika ada atasan Anda yang hadir di acara tersebut, pamitlah kepada beliau. Jika Anda khawatir tertahan, tunggu ketika dia tampak sibuk dengan orang lain, kemudian Anda pamit dengan terburu-buru.
  • Keluar melalui pintu selain pintu masuk (jika ada), karena selain menghindari bertemu dengan orang yang akan menyapa atau melemparkan pertanyaan lagi, ternyata salah satu definisi irish exit adalah kebiasaan orang Amerika Serikat keturunan Irlandia yang pergi lewat pintu samping untuk menghindari mengucapkan selamat tinggal dengan basa basi yang tak berujung.
  • Jika harus keluar melalui pintu utama, hindari kontak mata.
  • Relakan doorprize atau malah goodie bag yang biasanya baru diberikan di penghujung acara.

Demikian sedikit tip dari saya, semoga berguna. Saya doakan usaha kabur Anda lancar dan sukses.tumblr_inline_mpw82snZ0X1qz4rgp

Hidup Kita Adalah Smartphone (?)

Tadinya, hari ini sudah ada ide tulisan lain yang akan saya tuangkan di sini. Namun kenyataan berkata lain.

Sebenarnya sudah sekitar dua bulan ini, mobilitas saya sedikit terhambat. Penghambat itu adalah telpon selular (ponsel), yang notabene harusnya membantu mobilitas. iPhone 5 yang sudah saya gunakan selama 2 tahun dan 8 bulan, sering mendadak mati karena daya baterenya habis. Mau tidak mau, setiap keluar rumah, saya harus membawa tidak hanya satu, tapi bisa dua sampai tiga powerbank, di samping charger utama si telepon. Kadang piranti ponsel tidak mau membaca kabel charger baik dari yang utama maupun yang tambahan. Kalau tidak bawa satu pun dari mereka, pasti resah sepanjang jalan. Di setiap kesempatan, pasti saya charge telepon ini. Begitu sampai ruang meeting, saya langsung cari outlet charger di pojokan. Begitu film utama diputar di bioskop, saya langsung aktifkan Airplane mode, dan charge ponsel dengan menggunakan salah satu powerbank. Begitu masuk pesawat, ponsel mati dalam keadaan di-charge.

Sering banget nge-charge, mas? Iya. Guilty as charged.

Tak tahan lagi dengan keadaan ini, akhirnya saya putuskan membawa ponsel saya satu-satunya ke tukang servis. Ya, sudah sekitar 4 tahun terakhir, saya hanya punya satu ponsel.
Setelah menunggu beberapa menit, pemilik reparasi berkata, “Kemampuan daya mesin iPhone milik mas sudah turun sekali. Sudah jauh di bawah 50%. Kalau diganti batere baru, paling dia akan bertahan hanya sampai 3 bulan ke depan. Ini mesin utamanya yang rusak, sehingga dia menggerogoti batere. Saran saya, mas segera jual iPhone ini, lalu beli ponsel lain yang baru.”

Saya terdiam. Seolah-olah pemilik reparasi tadi berkata, “iPhone milik mas terkena penyakit mematikan. Dia sudah tidak bisa berfungsi lagi. Sudah jauh di bawah 50%. Kalaupun harus dibantu life support, umurnya tidak akan lama. Paling dia akan bertahan hanya sampai 3 bulan ke depan. Penyakitnya sudah menjalar ke seluruh tubuh. Saran saya, biarkan dia menghabiskan sisa harinya dengan bahagia.”

Kalaupun dia bisa bicara, mungkin iPhone saya tidak bahagia. Betapa tidak? Seumur hidupnya dia habiskan melayani pemiliknya tanpa istirahat. Bangun tidur, notifikasi chats dan emails bermunculan. Sambil sarapan, baca berita. Berangkat kerja, dengerin lagu. Istirahat siang, update media sosial. Malam hari, streaming video. Sebelum tidur, update media sosial. Repeat.

Makanya, sesaat sebelum berkonsultasi dengan teman-teman Linimasa tentang ponsel baru, sempat terlintas di pikiran, “Bagaimana kalau mengganti ponsel rusak ini bukan dengan smartphone, tapi dengan ponsel biasa saja? Yang cuma bisa buat sms dan telpon?”

(Courtesy of themuseatdreyfoos.com)

(Courtesy of themuseatdreyfoos.com)

Mungkin sama ya rasanya seperti tidak punya ponsel sama sekali.

Lalu sepanjang perjalanan pulang, saya coba menimbang-nimbang lagi ide ini. Setelah itu saya coba perinci kegiatan penggunaan aplikasi di smartphone yang paling sering selama ini, dan apa dampaknya kalau hanya pakai ponsel biasa:

1. Push email
Tidak ada smartphone? Masih bisa dilakukan di laptop.
2. Browsing
Bisa pakai laptop.
3. Menelpon
Lha tujuannya diciptakan ponsel pertama kali apa?
4. Instagram
Oke, ini cukup menantang. Saya suka memotret, tidak suka dipotret, dan suka melihat jepretan foto para fotografer yang saya ikuti di IG. Versi desktop IG hanya bisa melihat, tapi kita tidak bisa mengunggah. Baiklah. Kita anggap saja galeri museum kalau begitu.
5. Streaming (Youtube, Soundcloud, Apple Music, dll.)
Bisa pakai laptop.
6. GPS (Google Map, Waze, Apple Maps, dll.)
Ini juga menantang. Saya termasuk pengguna aktif dan akut Google Map untuk mengarahkan jalan. Baiklah. Kalau begitu lupakan GPS yang Global Positioning System. Mari kita galakkan lagi GPS yang singkatan dari Guidance by People’s Suggestion, alias tanya ke orang.
7. Transport order (GoJek, GrabTaxi, Uber, dll.)
Waduh. Berat ya. Tapi baiklah, mari kita asah lagi kemampuan tawar menawar dengan para ojek preman.
8. Social media (Twitter, Facebook, Path, dll.)
Kebetulan bukan selebritis media sosial, atau buzzer, yang terikat kontrak harus mempromosikan produk tertentu. Mungkin akan kangen dengan Path yang lebih terbuka. Tapi kalau kangen dengan teman di Path, bisa kirim email.
9. Dating sites
Percuma, gak pernah laku.
10. Chats, terutama WhatsApp
Oke. Ini yang paling berat di antara semua. Mau tidak mau, kita sudah sangat dimanjakan dengan kehadiran aplikasi yang bisa mempersatukan lintas sistem operasi ponsel yang berbeda-beda ini. Semua pengguna ponsel apapun bisa berkomunikasi lewat WhatsApp. Paling tidak setiap orang dari kita punya minimal 4-5 WhatsApp groups. Mulai dari kerjaan sampai urusan keluarga dibicarakan di WhatsApp. Mungkin sekarang beberapa orang terpaksa terbiasa harus mengirimkan SMS ke saya. Tentu saja mereka akan menggerutu, “Kenapa sih harus pake SMS? Kan bayar. Pake WhatsApp dong biar gratis!”

Smartphone-nya yang nggak gratis.

13

Apakah kira-kira rencana ini berhasil?

Entahlah. Kita lihat saja apa yang terjadi di tulisan minggu depan.

Dalam angan-angan saya, kalau tidak ada smartphone, mungkin akan terjadi seperti ini:
1. Bisa pergi ke mana saja tanpa perlu membawa charger, powerbank dan sejenisnya. Ponsel biasa cukup di-charge sekali sehari, bisa tahan sampai 2 hari.
2. Lebih fokus pada pekerjaan, dan semua aspek kehidupan.
3. Hidup tenang tanpa gangguan dan hasrat untuk memberikan update kehidupan kita ke “teman-teman” atau “pengikut”. Kalau di iklan, bayangan saya ini adalah orang berbaju putih di taman yang berlarian ke sana kemari dengan tangan terbuka sambil tertawa lebar.
4. Banyak membaca buku, menghabiskan waktu dengan orang-orang tercinta, dan bercengkerama.
5. Lalu perlahan-lahan ketika semua poin di atas sudah dijalani, akhirnya bosan.
6. Mulai stress karena ketinggalan trend terbaru.
7. Akhirnya beli smartphone lagi.
8. Lupakanlah semua poin-poin sebelum poin di atas.

This is our life.

Blog-Entry-162-Image

Stop

Kembali terduduk di depan laptop dengan kebingungan yang nyaris sama setiap pekannya: “mau nulis apa?

Untung saja Linimasa bebas dari aturan kaku. Termasuk mengenai kategori-kategori topik yang awalnya menjadi jatah para pengasuh setiap hari. Sebab amsiong-nya, saya kebagian topik soal agama dan spiritualitas. BLAH! Ulama bukan, nyembah galon akwa iya. Ya ndak cocok bicara yang religius-religius.

Pembicaraan soal agama itu jelas melelahkan. Apalagi jika dilakukan oleh orang-orang dengan profesi yang enggak ada sangkut pautnya terhadap institusi agama. Bukan cuma bikin capek badan lewat tenaga yang dikerahkan, juga bikin letih pikiran saking beratnya bobot omongan (atau malah sengaja diberat-beratkan).

Buang-buang waktu? Ndak usah ditanya.

Apa faedahnya? Entahlah. Barangkali memperbesar ego.

Terkadang malah absurd, mirip percakapan antara bocah-bocah SD di waktu istirahat sekolah. “Tuhanku lebih hebat dari tuhanmu,” dan komentar sejenis yang terdengar songong eksklusif. Kayak sudah pernah ketemu tuhan masing-masing aja.

Lah kepiye jal, hal-hal yang umumnya hanya bisa dirasakan, dipahami, dan disadari lewat laku tafakur, mindfulness activity, perenungan, serta pengalaman transendental personal, malah dipakai untuk menghambur ludah, menghasilkan busa putih di pojok bibir.

Itu baru perbincangan, belum lagi kalau berubah jadi perdebatan mencari benar-salah menang-kalah. Padahal patokan argumentasinya sama-sama berupa hasil kodifikasi, ditambah buah pikiran orang lain yang belum tentu tanpa cela. Sedangkan yang bisa bikin hati adem, kebanyakan berupa siraman rohani, ndak perlu disampaikan dengan berapi-api.

Pastinya, agama dan tuhan tidak akan pernah bisa dicampuradukkan. Tuhan tidak memerlukan agama, sementara agama tanpa tuhan berarti apa dong?

Meskipun begitu, tetap ada saja orang yang macam kecanduan berbincang soal agama. Dijabanin terus menerus dan cenderung bawa-bawa urusan emosional. Tampaknya banyak yang lupa, bahwa ajaran agama itu sejatinya untuk dijalankan sebaik-baiknya, bukan cuma dibicarakan sekeras-kerasnya. Karena lebih baik hening tapi bijaksana, ketimbang berisik tapi kopong.

Bila demikian, apa yang mesti dilakukan?

Just be good. Sesederhana itu.

Toh, kalau saya tidak keliru, nilai inti universal dari semua agama adalah mengarahkan para pemeluknya untuk bisa menjadi manusia yang baik di mata tuhan maupun sesama.

Ndatau lagi sudah, kalau dengan hanya menjadi orang baik saja dianggap tidak cukup, betapa demanding-nya mereka yang merasa lebih paham agama, merasa kenal tuhan lebih dekat, merasa punya privilege khusus, merasa yakin banget kalau kelakuannya selama ini sudah benar-benar baik.

Di sisi lain, tuhan itu kan misterius, mustahil untuk dipahami dengan akal pikiran manusia biasa. Jadi, agak konyol bila ada yang mengklaim sangat paham kehendak tuhan, kemudian mempergunakan klaimnya tersebut untuk mengintimidasi orang lain. Lengkap dengan semangat untuk mengalahkan. Sampai berpindah keyakinan bila perlu. Belum tentu tuhan suka umatnya begitu.

Kesimpulannya, mending ngomongin yang lain aja yuk.

Yakinlah, maka engkau akan terselamatkan. Ajaklah sebanyak-banyaknya orang untuk merasakan kebahagiaan yang sama, maka engkau akan mendapat tempat istimewa di sisi-Nya.

O, sungguh mulia. Saya sudah berusaha sekuat tenaga. Saya persembahkan jiwa raga ini demi kemuliaan-Nya. Lalu, kapankah ganjaran itu bisa saya nikmati?

Nanti. Setelah kamu mati. Sabar aja. Ada waktunya kok.

[]

Redefinisi Rekreasi

Ada yang identik dengan Lebaran selain ketupat atau opor, yaitu libur panjang. Biasanya bisa mencapai tiga hari atau lebih. Untuk tahun ini menurut kalender ada enam hari tanggal merah. Belum ditambah mereka yang memutuskan untuk mengambil cuti tambahan. Enak ya bisa liburan dan rekreasi. Sejenak melupakan pekerjaan dan rutinitas sambil menghabiskan waktu bersama keluarga. Tetapi ketika semua orang melakukannya maka apa yang terjadi? Penumpukan sejumlah orang di sejumlah tempat untuk melakukan hal yang sama. Imbasnya? Macet.

Kebon Binatang Ragunan menurut berita yang saya liat di TV pengunjung pada masa liburan lebaran bisa mencapai ratusan ribu per hari. Demikian juga dengan Kebon Binatang di Bandung. Efeknya? Untuk kota kecil seperti Bandung maka macet di satu titik bisa merembet ke mana-mana. Kalo tidak percaya tanya saja mereka yang sedang atau pernah berlibur di kota Bandung. Bandung Utara? Jangan tanya. Durasi lamanya mencapai tujuan bisa menyamai Bandung – Pangandaran di waktu normal.

Lalu Pangandaran bagaimana? Orang Ciamis pun mengalami kesulitan untuk mencapai pantai yang sebetulnya dekat dari kotanya. Cirebon? Menurut laporan dari Kak Leila dan Mas Roy sama saja. Macet. Kalo kota seperti Cirebon macet lalu bagaimana dengan tempat liburan favorit seperti Kuta? Tidak usah ditanya ya. Kalo Puncak atau Bogor? Teman saya menghabiskan 14 jam untuk mencapai Taman Safari. SUBHANALOVE!

Tentunya di media sosial pun banyak bertebaran posting dari teman-teman yang terjebak macet di perjalanan menuju tempat wisata. Atau hanya untuk sekedar mencari tempat makan. Saya pribadi sangat menghindari hal seperti ini. Karena saya mempunyai kecenderungan Bruce Banner Syndrome. Kalo kena macet yang melebihi ambang normal saya bisa berubah menjadi Hulk. Mending kalo celana yang saya pake nilon. Bisa melar. Kalo celana katun? Entar saya telanjang dong pas udah normal lagi. Malu kan. Ih.

rekreasi/re·kre·a·si/ /rékréasi/ n penyegaran kembali badan dan pikiran; sesuatu yg menggembirakan hati dan menyegarkan spt hiburan, piknik: kita memerlukan — setelah lelah bekerja;

Tentunya ada dari mereka yang tetap menikmati karena kapan lagi bisa liburan bersama keluarga. Ya macet kan wajar. Tapi tidak sedikit juga yang merasa kesal dan jengkel. Padahal ini terjadi setiap tahun. Yang artinya bisa diprediksi. Lalu ketika kita berekreasi tapi tetap terjebak kemacetan dan merasa kesal. Bukankah makna dari rekreasi menjadi samar? Kita kan liburan biar tidak penat. Biar pikiran menjadi segar kembali ketika kembali bekerja.

traffic jam

Mari kita definisikan kembali makna dari rekreasi.

M7: I Survived

18 Juli 2015. Lewat pesan WhatsApp.

Haryo: “Selamat Hari Raya Idul Fitri 1436H. Mohon maaf lahir dan Bathin. Semoga di hari yg Fitri ini, membawa perdamaian dan berkat bagi kita semua.
Donnie: “Sama-sama ya.

Waktu ndak mampu melarutkan kegilaan ini. Donnie terpancing oleh pesan sederhana yang disampaikan secara massal.

Haryo: “glad you’re doing well.
Donnie: “apa kabar M7?
Haryo: “great. I survived. Lagi pake Ambre Sultan nih.

image

Donnie berburu membongkar isi tasnya. Membuka tutup Ambre Sultan dan menyemprotkannya ke telapak tangan. Haryo ndak pernah jauh dari resin langka. Kali ini ambergris dan nilam. Donnie tersenyum.

Dua jam kemudian. Lewat pesan WhatsApp.

Haryo: “Donnie. I love you.
Donnie: “kita udah bermaafan lho tadi.
Haryo: “aku pengen kamu tau aja.
Donnie: “I know.
Haryo: “aku udah cerai.
Donnie: “aku juga tau. Kamu bahagia?
Haryo: “kamu mau aku bahagia?
Donnie: “Selalu.

Lima jam kemudian. Lewat pesan WhatsApp.

Haryo: “Donnie. I choose you. Aku sudah berkorban.
Donnie: “You survived. Kamu mau jatuh korban lagi?

Surat Terbuka untuk Pembuat Film Indonesia

Dengan hormat,

Sejak media sosial berkembang, terutama Twitter, sebagai penonton film kami senang sekali karena sekarang kami bisa berinteraksi dengan para pembuat film Indonesia. Mulai dari sutradara, bintang film sampai pencipta musik idola kami. Tak hanya bisa bertanya, kami pun bisa memberikan pujian. Jika dan hanya jika, karyanya berkenan di hati kami. Mendapat satu tweet saja jawaban dari orang yang kami kagumi, rasanya dunia sesaat berhenti berputar.

Kami juga memahami, banyak atau lebih banyak film Indonesia yang gagal di pasaran. Jumlah penonton yang sedikit menyebabkan pendeknya masa tayang. Kadang, sebagai penonton kami bahkan belum sempat berkunjung ke bioskop. Maklum, kami masih mesti bekerja mencari nafkah. Kami tak bisa menonton film setiap hari. Seminggu sekali pun sudah bagus.

Dan saat kami bisa ke bioskop, kami pun harus memilih. Kalau jomblo tentunya lebih mudah. Tapi kalau sudah berkeluarga, ada kompromi yang harus kami lakukan. Anak-anak kami lebih suka menonton film-film yang akrab di pergaulan mereka. Dan memang kebanyakan bukan film Indonesia. Anak kami yang sudah remaja, bisa menonton sendiri bersama teman-temannya. Kadang mereka nonton film Indonesia, kadang film dari luar. Tergantung film mana yang sedang menjadi perbincangan diantara mereka. Sementara buat para orang tua, bisa meluangkan waktu sejam setengah sampai dua jam duduk diam menonton, itu sudah merupakan kemewahan di akhir pekan.

Melalui media sosial pula kami sering membaca, bahwa film Indonesia tidak berkembang karena kami sebagai penonton, kurang atau bahkan tidak menghargai film “karya anak bangsa”. Bahkan banyak yang menuduh selera kami buruk. Tidak mengerti mana film yang baik. Tidak memahami teknik dan bahasa film. Dan kami dianggap sebagai “penonton sinetron” saja. Kami diam saja mendengar tuduhan ini. Walau dalam hati kami bertanya “apa salah kami?”

Salahkah kami jika kami hanya memilih film yang ingin kami tonton? Sejujurnya kami tak peduli apakah itu film Indonesia atau film dari luar. Selama kami bisa menikmati dan merasa terhibur, kami pun bisa keluar dari bioskop dengan bahagia. Kami masih di tahap hanya bisa memilih satu film setiap pekan. Itu pun tak selalu bisa. Kadang kami tetap harus bekerja di akhir pekan.

Bukan tak pernah kami menonton film Indonesia. Bahkan lumayan sering. Terutamanya film-film yang bisa membuat kami senang setelah menontonnya. Kami tak terlalu suka diajak untuk berpikir terlalu dalam. Di kantor dan di rumah tangga sudah banyak yang harus kami pikirkan. Menonton film adalah kegiatan untuk menyegarkan kami.

Membawa kami sekejap keluar dari rutinitas. Melanglang buana melepas beban hidup sehari-hari. Berkhayal untuk menjadi yang kami tak mampu dapatkan di kehidupan nyata. Tak jarang, mencari inspirasi dan jawaban akan pertanyaan dan misteri kehidupan yang kami hadapi sehari-hari. Seperti, kapan kami bisa punya mobil sendiri sehingga tak perlu bergelayutan lagi di bis yang sesak dan panas. Bagaimana caranya kami bisa mendapatkan kekayaan lebih dengan kerja lebih sedikit. Cinta pertama yang harus kandas karena beda agama. Jawaban akan dilema bekerja sesuai gaji atau sesuai passion. Yang terakhir ya soal bagaimana kami bisa tetap merayakan Lebaran dengan sedikit kemewahan. Filosofis sekali bukan?

Lebih seringnya kami menemukan film-film Indonesia yang kurang menghibur. Seperti sulitnya membuat Rendang. Yang bagi kami, tinggal beli saja di Restoran Padang yang tersebar di seluruh penjuru kota. Atau film Indonesia yang membuat kami jadi merasa lebih miskin sesudah menontonnya. Karena kopi sachetan yang selama ini kami sukai, ternyata menurut film itu bukan kopi yang sesungguhnya. Atau saat menonton film silat Indonesia, kami merasa kurang banyak melihat adegan silatnya. Kami berharap lebih banyak menonton adegan pertarungan yang seru yang membuat jantung kami berdebar. Ketimbang melihat keindahan pemandangan.

Pssst… ada juga diantara kami yang tau kalau film mengenai perjalanan Ayah dan Anak laki-lakinya yang sedang tayang sekarang mirip dengan film Le Grand Voyage yang terkenal itu. Kami mungkin suka menontonnya, tapi bukan berarti kami menghargainya.

Percayalah, kami tetap ingin menonton film Indonesia. Tapi tentunya film Indonesia yang memang dibikin untuk membahagiakan dan memuaskan kami. Bukan hanya karena film Anda adalah film Indonesia (dan kalau kami tidak menontonnya kami langsung dicap tidak menghargai karya anak bangsa). Mungkin kami belum sepandai pembuat filmnya. Tapi uang dan waktu yang diluangkan untuk menonton film Anda, adalah uang dan waktu milik kami. Karenanya, jangan dikte apalagi menghakimi pilihan kami.

Kami paham betapa sulitnya membuat sebuah film. Tapi di saat yang bersamaan, kami juga tidak bisa peduli mengenai hal itu. Mencari uang dan meluangkan waktu untuk menonton film Indonesia juga tak kalah sulitnya. Bahkan mungkin lebih sulit.

Surat ini kami sampaikan, bukan sekedar melontarkan uneg-uneg, tapi anggaplah sebagai tali silaturahim yang hendak kami jalin. Antara kami sebagai penonton film dan Anda sebagai pembuat film. Sama-sama ngerti’in, sama-sama nau’in. Kami akan menghargai kreasi Anda sebesar penghargaan Anda akan keinginan kami. Sebesar rasa ingin tahu Anda akan kehidupan kami. Berbicaralah dengan bahasa yang kami pahami. Hadirkan kami saat Anda sedang berkreasi. Perlakukan kami sebagai teman Anda. Teman yang saling menghargai. Teman yang saling memahami. Sekalinya kami merasa dihargai, maka kesetiaan kami pasti jadi milik Anda.

Semoga ke depannya, kami dan selera kami tak lagi disalahkan kalau kami memutuskan untuk tidak menonton film Anda. Bisa jadi karena tidak sempat, bisa jadi karena ada film lain tayang yang lebih menarik atau bisa jadi karena memang film Anda kurang sesuai dengan selera kami.

Dalam suasana Lebaran ini, kami pun ingin meminta maaf. Kalau selama ini kami sering melontarkan tweet-tweet yang bernada marah dan kesal setelah menonton film Anda. Sebenarnya lebih karena kami tidak paham, bagaimana cara yang kondusif dan konstruktif (ca’elaaaah…) untuk menyampaikannya.

Akhir kata, selamat berkarya.

Salam Kreatif! *sambil mengepalkan tangan membentuk huruf K*

aurora1952