Yang Baru

JUJUR saja, saya masih lumayan samar soal arti kata hipster sampai saat ini. Istilah yang selalu digunakan dalam setiap suasana dan kesempatan selama setahun terakhir, terlebih di lingkungan pergaulan dan khalayak anak muda kota besar Indonesia yang cukup eksklusif. Sampai muncul kesan mblenek saking seringnya, juga upaya keras banyak orang agar mampu mencapai status tersebut.

Dari sejumlah asumsi pribadi, hipster sama dengan gaul dalam makna konotatif. Mereka yang tergolong dan dinilai pantas mendapat predikat hipster pasti identik dengan hal-hal kekinian. Dengan sejumlah preferensi (baca: gaya, mode, filosofi, prinsip, idealisme, You name it) yang tidak pasaran, mereka akrab dengan tren-tren terbaru, bisa bergaya maksimal atasnya, termasuk mampu memberdayakannya, minimal untuk tampil beda dan menarik perhatian sekitar. Mohon dikoreksi bila saya salah mengartikan.

A person who is unusually aware of and interested in new and unconventional patterns.” – kata kamus Merriam-Webster.

Akan tetapi, belum lagi redup popularitas status hipster, dan masih riuhnya upaya banyak orang muda di luar Jakarta, Bandung, Jogjakarta, dan Surabaya untuk bisa menjadi bagian di dalamnya, sudah muncul gelombang anak muda dengan pemikiran dan tindakan yang lebih baru, yang “bukan hipster, pun bukan konservatif.”

Dalam gelombang tersebut, ada beberapa semangat yang diteruskan dari cara pandang hipster pada umumnya (kreatif, cutting edge, avant-garde, melampaui apa yang sudah ada, dan sebagainya), dilengkapi sikap kritis demi mencapai keunggulan. Sederhananya, secara sosial ekonomi mampu bergaya dan mandiri. Apa-apa dibikin sendiri, apa-apa asyik sendiri. Ya kurang lebih begitulah.

Curiganya lagi, sudah ada banyak orang Indonesia yang berpikir dan bertindak ke arah tersebut. Salah satunya, “membeli adalah kalah” yang disampaikan di Linimasa beberapa pekan lalu, juga semangat belajar dan mengajari craftmanship di Indoestri yang–entah tepat atau keliru–menyampaikan pendidikan vokasional dalam balutan hipsterism, ABCD-School of Coffee dengan social cause­­-nya, dan masih banyak lagi.

So hereby, please embrace the new wave: Young Urban Creative. The Yuccies!

Hence the name, gelombang ini jelas diisi anak muda, yang merupakan kaum urban dan berpikiran modern, serta mutlak harus kreatif baik dalam konsep maupun hasil.

A Yuccies (?), perhaps.

Konon, salah satu tanda krusial seorang Yuccies adalah ndak mau disebut hipster. Sebab bagi mereka sebutan itu terlalu overrated alias lebay. Bahkan lebih ekstrem lagi, mereka menganggap semua-semuanya sudah hipster; sudah pasaran, berasa biasa dan cenderung kurang produktif. Sedangkan mbaca di Mashable (Google aja), dibilang bahwa para Yuccies juga memiliki opini khusus soal kreativitas dan duit. Bukan sekadar mengemukakan idealisme, tapi juga tidak berkeberatan dengan uang yang bakal dikeluarkan untuk itu. Bahkan bisa ambisius dan bertenaga menangani banyak hal kece sekaligus.

Kecuali kalau terlahir sebagai anak konglomerat atau ngepet, duit diperoleh dari pekerjaan. Bisa dalam bentuk gaji (bekerja pada orang lain), maupun omzet (pekerja mandiri alias entrepreneur). Nah, para Yuccies tergolong anak-anak muda yang setelah lulus ndak punya ketertarikan tinggi untuk berkarier di jalur konvensional, atau setidaknya jadi intern di perusahaan-perusahaan keren deh. Kalaupun mereka harus bekerja seperti pegawai kantor pada umumnya, isi kepala dan hati mereka terus bergejolak dengan segala sesuatu terkait entrepreneurship, bidang-bidang kreatif yang rela mereka jalani berlelah-lelah, kadang pakai duit sendiri, dan belum tentu kapan penerimaan baliknya diterima. Minimal pakpok lah, balik modal. Kasarnya, hal-hal yang bisa bikin orang tua mereka bertanya: “kamu dapat apa dari situ?

Mau contoh? Lihat saja startup-startup dalam jaringan yang digarap para anak muda (bukan selebritis). Dengan optimisme dan keberanian, mereka rela menyisihkan beberapa jam dari waktu istirahat untuk mengurusi startup berupa situs, aplikasi telepon pintar, dan sebagainya. Terlebih di kota-kota luar Jawa, termasuk di Samarinda. Mereka terinspirasi lewat Internet, salah satu corong informasi utama.

Begitupun dengan komunitas sastra, musik genre Noise, yang patungan untuk melakukan kurasi isi, swasunting, swacetak/swabikin, swasebar/swajual. Termasuk para penulis di media alternatif online, yang kadar sarkasmenya dinilai menghibur sekaligus nggateli. Linimasa ini juga kali ya, gara-gara Internet butuh lebih banyak hati. Hahaha… 😀

Ketika para Yuccies merasa telah menemukan panggilan jiwa kreatifnya yang hakiki, mereka pun rela meninggalkan jabatan di kantor untuk–sebut saja–jadi barista; jadi punggawa festival-festival musik non-pasaran; jadi kelompok penyelenggara bazar-bazar produk kreatif lokal; jadi seniman kaligrafi, hand-lettering, mural painting; jadi trainer olahraga; jadi produsen kerajinan berbahan kulit; jadi perajin logam untuk aksesori fashion sampai ornamen interior; jadi ahli cetak timbul (letterpress); jadi fotografer spesifikasi tertentu dengan hashtag khusus di Instagram; jadi penjelajah dunia secara harfiah; dan masih banyak lagi. Intinya hanya satu: mereka dibayar atas kreasi mereka sendiri. Bekerja dengan perasaan lebih melegakan, sebab tidak digantung orang lain. Ini yang bikin para Yuccies punya tingkat kekerenan yang berbeda dari mere hipster, apalagi para hedonis–punya uang, beli semua yang ngetren biar merasa tidak ketinggalan zaman, terus beralih ke mainan baru lagi.

Hanya saja, dengan pola pemikiran dan tindakan seperti ini, impian para Yuccies bakal terdengar sangat abstrak, membuat mereka kerap sulit dipahami, walaupun mereka memang tidak butuh dipahami. Tak seperti orang-orang pada umumnya (terutama angkatan usia 50 tahunan ke atas), yang dengan mudah menerjemahkan impian hidup dengan kesuksesan, kemapanan, kesejahteraan, fase hidup yang sesuai kelaziman, dan aneka benda-benda material lainnya. Di zaman sekarang, Anda pasti setidaknya punya satu, dua, atau tiga teman yang begitu. Bisa jadi, mereka Yuccies, yang mungkin merasa tidak perlu menyebut diri sendiri sebagai kaum Young Urban Creative.

Kalau soal penampilan, Yuccies tetap kekinian. Untuk cowok misalnya. Rambut pakai pomade, dengan potongan undercut atau pompadour yang berhasil menggeser gaya skinhead, setidaknya ada satu tato di tubuh baik yang terlihat maupun yang dapat disembunyikan di balik kemeja lengan panjang, berewok tapi terpangkas rapi (trimmed). Sedangkan pada cewek, mengikuti tren busana namun tetap lebih mengutamakan helai-helai dan potongan pakaian yang nyaman. Penuh percaya diri dengan apa pun penanda ukuran, dan selalu mengedepankan kenyamanan dalam penampilan baik dari pakaian, riasan, tato, sampai potongan maupun warna rambut.

Di sisi lain, para Yuccies adalah antitesis dari anggapan bahwa profesi harus sejalan dengan latar belakang. Dulu, kita kerap mendengar celetukan meledek soal pekerjaan yang melenceng dari jurusan kuliah.

Kuliahnya kehutanan kok kerja di bank?

Sarjana hukum kok kerjanya jadi Public Relations?

Lulusan teknik kok jadi marketing?”

…dan sejenisnya.

Para Yuccies justru masa bodoh. Mereka menantang ledekan-ledekan jadul itu dengan menunjukkan bahwa kreativitas dan aspirasi semua orang tidak terbatas pada bidang-bidang tertentu saja. Hal ini jelas tidak keliru, karena para Yuccies dan sebagian masyarakat kita banyak yang terfokus pada hasil. Justru menjadi nilai lebih, bila seseorang mampu berkarya luar biasa di luar bidang pendidikannya.

Kalau begini, boleh dibilang keberadaan Yuccies merupakan keniscayaan zaman. Fase yang memang harus muncul sebagai penanda masa. Saat para hipster muncul dengan jargon menolak arus utama (anti-mainstream), dan ketika semua orang adalah hipster maka hipsterism becomes mainstream, setiap Yuccies memiliki keunikannya masing-masing. Yuccies adalah dekonstruksi dari hipsterism, kali.

Entahlah habis Yuccies bakal muncul golongan apa lagi.

[]

Iklan

17 thoughts on “Yang Baru

  1. Aku punya beberapa temen Yuccies yang sebenernya tidak lagi di kategori muda tapi juga bayaran atas “kharya”nya belum jelas. Tapi mereka keukeuh di bidangnya Dan ogah coba yang lain atau cari mata pencaharian yang paling tidak bisa mendukung gaya hidup nyaman. Aku sebut mereka Slackers.

    Disukai oleh 1 orang

  2. Aku cuma bingung: di era counterculture tahun 60an (dekade kelahiran hippies), kaum hispter itu rambutnya gondrong awut-awutan, baju flowery dan cenderung ‘nggembel’, kok hipster jakarta sekarang rambutnya klimis pake pomade dan justru lebih rapijali daripada orang-orang konservatif ya?

    Suka

  3. Umur satu generasi ternyata makin pendek, ya. Hipster berjaya kurang dari satu dekade, sekarang muncul Yuccies ini. Tiga tahun lagi pasti muncul anti-Yuccies. Mungkin disingkat “ayuk”.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s