Buka, Sentuh, Tunggu, Bayar

Gampang ya?
Eits, belum tentu!
Semuanya tergantung pada kekuatan masing-masing.
Kalo punya situ ndak kuat ya ndak bisa buka. Apalagi sampai bisa nyentuh dan bayar.

Kita lagi ngomongin apa sih ini?
Nggak tahu kalau Anda lagi memikirkan apa, tapi yang jelas, saya lagi mau ngomongin online booking untuk ojek.

(Courtesy of ojekbalitours.com)
(Courtesy of ojekbalitours.com)

Kalau Anda sedang berada atau memang warga Jabodetabek, tentu sudah tidak asing lagi dengan kehadiran jasa ojek ini. Kita bisa memesan dengan mengunduh aplikasi pemesanan ojek lewat telepon selular kita.
Setahu saya, yang pertama hadir dan langsung populer adalah GoJek. Awalnya hanya untuk jasa kurir barang atau dokumen. Lalu berkembang menjadi jasa antar, dan pemesanan makanan.

Setelah beberapa lama, perusahaan GrabTaxi meluncurkan “second line” bernama GrabBike. Saat ini, armada sepeda motor GrabBike masih fokus pada jasa pengantaran penumpang saja. Tapi dengan demand terhadap jasa layanan angkutan motor yang terus berkembang, bukan tidak mungkin GrabBike pun akan menambah layanan seperti GoJek.

Kebetulan saja kedua brands ojek ini mempunyai warna yang sama, yaitu hijau. Maka kita pun sudah tak asing lagi melihat pengendara motor menggunakan jaket warna hijau, dan helm warna hijau di jalanan-jalanan ibukota dan sekitarnya. Kita pun sudah familiar di tempat-tempat makan populer melihat supir GoJek mengantri makanan pesanan yang segera diantarkan ke pelanggan. Itu kalau pelanggan berhasil booking jasa layanan GoJek lho ya.

Maklum. Mungkin saking populernya aplikasi ini, dalam beberapa minggu terakhir sering terdengar keluhan, termasuk dari saya sendiri, kalau susah sekali menemukan supir GoJek yang mau mengambil pesanan. Sementara itu, beberapa supir GoJek ada yang mengaku kalau pesanan tidak sampai ke gawai mereka. Baik GoJek maupun GrabBike sering overload kalau di waktu peak hours. Jadi buat mereka yang memesan jasa ojek kedua brands ini sering harus menunggu lebih lama lagi.

Nah, di sini menariknya.
Ada perubahan sikap dari konsumer pengguna transportasi umum yang tidak massal. Selama ini, kita terbiasa menghela taksi dengan melambaikan tangan ke taksi yang lewat. Kita langsung menghampiri tukang ojek di pangkalan, atau dihampiri. Jadi sebisa mungkin, prosesnya berlangsung cepat. In an instant, we get what we want.

(Courtesy of hp-yitno.blogspot.com)
(Courtesy of hp-yitno.blogspot.com)

Kalau pakai aplikasi?
Kita harus buka aplikasi. Loading. Menunggu sampai terhubung ke akun. Lalu kita arahkan peta sampai ke titik paling dekat dengan kaki kita. Kalau gak ketemu? Harus diketik. Lalu menentukan tujuan. Click. Masukkan kode promo, alias faktor utama kita rela melakukan proses-proses ini. Lalu click lagi. Kita menunggu sampai ada yang mau mengambil request kita. Harap-harap cemas kalau gak dapet. Begitu ada yang mengambil, apa kita lega? Belum. Kita hapalkan nomor polisi. Lalu kita tunggu, sampai akhirnya taksi atau ojek yang kita pesan benar-benar datang.

Lebih lama dari sekedar memanggil langsung di pinggir jalan, ya?

Makanya, saya sering tersenyum sendiri melihat orang-orang di pinggir jalan, terutama yang dekat pusat pertokoan, kantor, atau tempat umum lainnya, semua sibuk memegang ponsel masing-masing.
Ekspresinya sama, yaitu melihat ke gawai, melongok sesekali, berharap taksi atau ojek yang dipesan datang. Untuk pertama kali, kita dengan cermat melihat nomor polisi taksi, mobil dan sepeda motor dengan cermat. Kalau perlu sambil komat-kamit.

Ternyata yang namanya generasi millenials seperti kata Gandrasta, atau generasi yuccies kata Dragono, rela lho melakukan proses yang lebih lama ini. Siapa bilang mereka gak sabaran? Ini buktinya, pesan ojek sampai datang mungkin lebih lama dari actual traveling time. Yang penting kan digital, bro!

Tentu saja yang namanya human error akan sering terjadi. Apalagi tidak ada yang pernah pasti di jalanan ibu kota Indonesia ini. Ditambah pula miscommunication antara pengemudi dan penumpang sudah pasti terjadi.
Dan semua bentuk miskomunikasi ini, walaupun waktu terjadi tentunya sangat menyebalkan, kadang suka bikin kita ketawa sendiri.

Contohnya:
1. (dari teman perempuan)
“Keluar dari Lotte Avenue, gue berdiri nih Val, nunggu pesenan GrabBike. Terus dia sms, katanya “saya di seberang bu, di Ambas.” Ya udah, gue jalan ke sana. Pas sampe sana, tiba-tiba ada yang nyuitin gue! Berkali-kali! Kenceng banget! Pas gue noleh ke arah suara itu, dia dadah-dadah ke gue. Trus kok ya gue bales dadah balik ke dia ya? Asli, bodoh banget!”

2. (kejadian kemarin, ketika saya mengarahkan lokasi ke supir taksi via telepon)
“Pak, saya di lobby samping. Bukan yang di lobby depan. Bapak tinggal jalan lurus sedikit dari …”
(tiba-tiba saya gak konsen karena di depan ada ibu-ibu dengan volume suara 7 kali lipat dari saya, berteriak di teleponnya)
“Hey! Kau ini di mana? Aku sudah berdiri lama sekali ini kau tak muncul-muncul! Kau ini supir ojek tak tahu jalan, tak bisa baca peta ya? Yang ke Tanah Abang! Tanah Abaaang! Dengar tak kau?”
(saya bengong sebentar, lalu melanjutkan pembicaraan ke supir yang juga belum datang)
“Pak, tadi dengar juga kan?”

3. (pesan makanan)
Saya ketik di kolom tambahan pemesanan makanan “sate satu porsi, nasi setengah” untuk memastikan pesanan.
Ketika pesanan datang dan saya buka, yang terjadi sebaliknya. Nasi satu porsi, sate setengah porsi.

Dan selebihnya, silakan lihat foto-foto di bawah, semuanya dari pengalaman saya sendiri.

Positive thinking saja. Mungkin semua tanda baca berupa tanda tanya dan titik di ponselnya sudah berubah menjadi tanda seru. Bisa aja 'kan? Iyain aja.
Positive thinking saja. Mungkin semua tanda baca berupa tanda tanya dan titik di ponselnya sudah berubah menjadi tanda seru. Bisa aja ‘kan? Iyain aja.

 

Mungkin ini EYD baru dari terjemahan bahasa Indonesia atas kata "lobby".
Mungkin ini EYD baru dari terjemahan bahasa Indonesia atas kata “lobby”.

 

Aku harus jawab apa, mas?
Aku harus jawab apa, mas?

 

#OjekRomantis
#OjekRomantis

 

Dapat dari akun Path teman. Selain penasaran siapa copywriternya, siapa ya modelnya?
Dapat dari akun Path teman. Selain penasaran siapa copywriternya, siapa ya modelnya?

Mungkin mau menambahkan? Atau sekalian mungkin GoJek dan GrabBike mau bikin kontes video pendek cerita pengalaman penumpang*?

Silakan. Dan silakan berbagi cerita pengalaman Anda di kolom komentar ya.

*Yes! Ajak Linimasa kalau nanti ada lomba ini beneran! You heard the idea here first.

19 thoughts on “Buka, Sentuh, Tunggu, Bayar Leave a comment

  1. Buat saya yg bukan orang Jakarta dan ngga hafal jalanan Jakarta, Gojek dan GrabBike emang membantu banget sih. Apalagi kalo pas perlu ke Jakarta dan buru-buru ke tempat janjian. Semacet apa juga yah #namanyajugaojek yakan. Haha. Dan tarifnya ngga se-‘nyekek’ taksi kalo buat mahasiswa kaya saya :’)

  2. pokoknya, kalo belom instal gojek. buruan instal, trus masukin kode 535657450 biar dapat 50rb gratis.

    #numpangpromo #jomblotaktahumalu #semuaudahdijelasindiatas

  3. app nya bakal kasih notif sama ojek terdekat. kalau mereka nolak, baru ke ojek yang agak jauh, dan begitu seterusnya.
    yap betul, janjian sama ojeknya juga possible. abangnya bakal nolak kalau bukan dari kita, dan kita pun bertugas cancel kalau itu bukan dia. sempet kejadian juga beberapa kali sama aku.

  4. Gojek ini andalan banget sejak jaman pesennya mesti telpon, kalau ojek langganan nggak ada ya larinya langsung gojek. Sekarang makin andalan karena gampang pake apps. Triknya, aku sih pesen beberapa puluh menit sebelum jam diperlukan. Misal pengen jalan jam 9 pagi, dari jam 8.15 udah pesen gojek, mandi ganti baju siap-siap, kelar itu biasanya pas udah dapet gojek dan dateng, di antaranya udah ada komunikasi panduan arah.
    Kalau mesen makanan, dua jam sebelum laper udah pesen, menghindari ntar kemrungsung pas laper dan makanan belum dateng. Kalo makanan gini, seringnya malah lebih cepet dateng dari perkiraan.
    Sejauh ini sih, normal dan dapet gojek yg selalu aman-aman aja. Semoga lantjar djaja terus!
    Paling melesetnya kalo udah nyiapin 30 menit waktu tunggu, ternyata udah dateng di menit ke-10, sementara alis baru kegambar sebelah, ya terpaksa diana diminta nunggu sebentar ye, ntar kite tambah aja ongkos tunggu.

    1. Hmmm. Toleransinya cukup lama ya, 45 menit. Tapi entah kenapa, akhir-akhir ini appsnya sering otomatis membatalkan pesanan setelah 30 menit. Jadi kalau sampai 29 menit gak ada driver yang mengambil pesanan, pas menit ke-30 langsung “sorry, cannot find driver”.

      1. Iya, soalnya aku kan tinggal di hutan nggak ada ojek mangkal (ada yg mangkal di jalan raya 1.5 km dari rumah) atau taksi lewat, semuanya mesti dipanggil, jadi ya dijalanin aja deh 45 menit ini… makanya dipake mandi, dandan, baca2 linimasa ciee dulu…
        Rasanya tiap 10 menit deh langsung batal, nah… jadi, abis mandi 10 menit, refresh kalo belum dapet… 10 menit berikutnya abis dandan refresh lagi kalo belum dapet… tapi kalau udah dapet ya udah bisa sambil sms ngasih tau arah. Kalau di menit 30 belum dapet juga, ya baru deh mikir yang lain.

    2. hahaha,, akupun begitu. jadi disambi, efektif efisien.
      kalau dpt yg agak kurang sabar, doi suka posesif telpon2 ngabarin udah nyampe 🙁

  5. soal tanda baca, memang di kalangan sopir dan tukang ojek tanda seru itu kaya siap laksanakan komandan kalau tanda tanya itu bukan nanya tapi dibacanya agak medok dikit . hehe itu hasil riset kecil2an gw sih

  6. Pagi-pagi udah ngakak aja, karena ini keseharian saya banget.
    Di waktu peak hours memang sulit sekali dapet gojek ataupun grabbike.
    Hasil interogasi abang grabbike dua hari lalu, ternyata mereka ini lebih memilih untuk ngambil orderan yg deket.
    Contohnya gini: kalau dari kantor saya yg deket dengan stasiun, mereka akan ambil orderan penumpang yg ke stasiun dulu, jadi bisa berkali-kali.
    Jadinya kalau tujuan yg agak jauh, kayak dari kantor saya (Sudirman) ke daerah tempat tinggal saya (Slipi) bakal dicuekin ahahaha.
    Karena kan jadi hanya 1x antar saja.
    Ujung-ujungnya pakai ojek yg ada di sekitar kantor, harus rela bayar 2x lipat pffftt

    1. Ya ampun, kasihan sekali abang grabbike dua hari lalu. Udah nganter kamu, eh malah abis itu diinterogasi segala. #krik Masih penasaran sih sebenarnya cara kerja aplikasi itu di antara para pengemudi. Pernah ditawarin ama GoJek yang lewat di jalan, “mas, order sekarang aja, nanti bisa dapet bookingnya sama saya”. Lah, emang bisa ya?

      1. Ahahaha samaaa
        Pernah ditawarin kayak gitu juga tapi sama abang GrabTaxi.
        Nanti kalau yg nyautin bukan si abang ini katanya “kan bisa di-cancel Mba, Mba cari sampe ketemu saya aja” #kokkayakjodoh #okaylupakan
        Mungkin sebelumnya mereka pernah melakukan itu sama penumpang lain ya Val dan berhasil, makanya menawarkan seperti itu.

        Tadi malam juga iseng interogasi abang grabbike lain.
        Ternyata oh ternyata rekor pendapatan mereka sebulan itu sampai 30juta uwooo

        1. Kamu hobi interogasi ya ternyata. Hahaha.
          Wow. Pendapatan bersih bisa 30 juta rupiah per bulan? Hebat! Abis itu kumpulin modal, trus tinggal bikin aplikasi baru buat nyaingin GoJek atau GrabBike deh. :))

          1. Iya, terus saya sama abang gojek atau grabbike 30 juta itu kerjasama bikin saingan.
            Three is better than two
            #apasih

            Pagi Val !
            Selamat beraktivitas !
            #telatbanget

Leave a Reply