Nafsu

Salah satu tujuan kemoterapi pada para survivor leukemia adalah menghambat dan menghilangkan sel kanker yang berada di dalam tubuh. Salah satu efek samping yang sering diderita adalah nihilnya jumlah leukosit dalam darah sehingga jumlahnya yang tadinya meningkat drastis menjadi tiada. Hal ini tentunya berakibat menurunnya kekebalan tubuh dan mempermudah infeksi karena tak ada autoimun yang melindungi tubuh dari serangan kuman, virus, bakteri sebangsanya. Juga jumlah trombosit yang berangsur turun sehingga pengentalan darah sulit dikendalikan dan pada gilirannya tubuh mudah pendarahan.

Sebut saja namanya Dee. Rekan kerja saya ini beberapa bulan yang lalu didiagnosis memiliki gejala leukemia dalam jaringan tubuhnya. Hingga minggu kemarin, Dee telah menjalani dua kali kemoterapi. Rambutnya rontok. Bobot tubuhnya turun drastis. Dari 60 kg, saat ini bobotnya 39kg. Untungnya Dee orang yang ceria. Penuh semangat dan pandai menghibur diri.

Ketika bicara soal leukosit atau sel darah putih, entah kenapa saya justru teringat dengan bulan suci Ramadan. Saya beranggapan bahwa leukosit ini serupa hawa nafsu dalam diri setiap manusia. Selalu ada, dan perlu. Kehadiranya wajib. Tak mungkin dihilangkan karena justru akan membahayakan. Namun jika sulit dikendalikan, juga akan menenggelamkan manusia dari kesehatan jiwa.

Puasa bukanlah cara untuk menghilangkan nafsu. Melainkan belajar untuk mengendalikannya. Puasa menjadi semacam kemoterapi bagi jiwa-jiwa manusia untuk menekannya menjadi seminimal mungkin, pada waktu tertentu saja.

Bagaimana jika sel darah putih tak ada? Infeksi menjadi jadi. Tubuh menjadi rentan terhadap serangan. Sama halnya dengan nafsu. Jika tak ada nafsu, hidup pun tak bergairah. Nafsu makan. Nafsu syahwat. Nafsu melanggengkan kelangsungan hidup manusia. Ia menjadi bergairah. Memiliki gairah untuk melakukan sesuatu dan menjalani hidup dengan dinamis.

Memang sepertinya ada yang janggal dari fenomena darah ini. Juga janggal dengan fenomena nafsu ini. Manusia dilahirkan dengan membawa fitrah memiliki ini tanpa kecuali. Adanya nafsu seolah-olah bukan berarti hal buruk. Nafsu itu perlu. Kita hanya dapat mencintai apa yang sudah diakaruniakan olehNya. Belum tentu yang buruk adalah buruk dan yang terlihat baik adalah baik. Bahkan ketika hal itu dianggap sebagai celaka. Sebagai adzab dalam pengertian tasawuf.

Haidar Bagir, saat menerangkan tafsir Muhamad Asad menulis demikian:

Alasannya mudah diduga. Dalam surah yang sama, Allah menyebut bentuk-bentuk siksa neraka tertentu sebagai âlâ’ berarti karunia (QS Al-Rahmân [55]: 36-37). Bagaimana mungkin ‘adzâb diidentikkan dengan nikmat? Dalam hal ini, sifat eksklusif rasional tafsir Asad rupanya telah menghalanginya untuk melihat kemungkinan makna lain. Dalam hal ini menurut kacamata metode takwil tasawuf. Ya. Jika dilihat dari sudut pandang ini, persisnya dari sudut pandang “takwil kasih sayang” (hermeneutics of mercy) ala Ibn ‘Arabi, tak sulit untuk melihat sisi lain ‘adzâb sebagai nikmat yang lahir dari kasih sayang Allah. Bagaimana bisa?

Sebelum yang lain-lain, kata ‘adzâb berasal dari kata ‘a-dz-b, yang bisa membentuk kata ‘adzib, berarti “rasa manis yang menyegarkan”. Demikian pula kata nâr (neraka) memiliki akar kata yang sama dengan nûr (cahaya). Bedanya, nâr memiliki sifat panas-membakar. Tapi, sifat-dasarnya menerangi dan menunjukkan jalan yang benar.

Dengan kata lain, meski panas-membakar, siksa berfungsi untuk memberi petunjuk kepada orang-orang berdosa, untuk menyucikan mereka dari dosa-dosa mereka. Tujuannya tidak lain adalah untuk mempersiapkan mereka kembali kepada-Nya, masuk surga-Nya. Itu sebabnya, siksaan—sebagaimana diungkap dalam ayat-ayat Surah Al-Rahmân yang dikutip sebelumnya—layak disebut sebagai nikmat.

Di bulan suci yang penuh kasih sayang ini, adalah kesempatan kita untuk belajar menahan. Bukan belajar untuk menghilangkan.

Sama seperti yang rekan saya yakini. Dee menganggap leukemia yang ada dalam tubuhnya adalah cobaan semata. Menjadikan dirinya lebih mawas diri. Menjadikan dirinya lebih mendekatkan diri pada yang Maha Suci.

“Karena luka adalah tempat di mana Cahaya memasukimu”

     -Rumi-

Selamat menunaikan ibadah pengendalian hawa nafsu. Menundukkan diri kepada kepatuhan semata karena dan kepada-Nya.

salam anget,

roy

Advertisements

One of Us: Filem Dokumenter Tentang Yahudi Ultra Ortodoks

Fanatisme ada dalam setiap hal. Bisa soal tim spekabola kesayangan, grup musik idola, dan paling sering dibicarakan saat ini adalah fanatisme dalam beragama. Filem One of Us, sebuah filem dokumenter, menggambarkan hal itu. Kali ini yang menjadi fokus adalah kaum Yahudi dengan salah satu aliran ultra ortodoknya yang dikenal dengan Hasidisme. Umatnya dinamakan dengan kaum Hasidic.

Lelakinya diwajibkan memelihara jambang hingga panjang mengular. Perempuan Hasidim yang telah menikah selalu mengenakan wig untuk menutupi rambut asli mereka. Hukumnya wajib. Sebagian masyarakat New York mengenalnya juga dengan sebutan Hasidim.

Apa yang disajikan dalam filem cukup menarik. Hasidim yang bermukim bukan di Tel Aviv, yerusalem atau Hebron. Justru Hasidim banyak yang bermukin di Amerika Serikat, tepatnya di kota New York bagian Brooklyn.

Pendahulu mereka awalnya berada di sekitar Azerbaijan, Ukraina, Lithuania dan Negeri Eropa Timur lainnya. Mereka merupakan korban yang selamat dari peristiwa Holocaust. Walaupun mereka lama menetap di Amerika, mereka mayoritas masih menggunakan Bahasa Yiddish.

Dalam cerita itu, salah satu tokoh yang diceritakan adalah dokumentasi kisah pilu hidup perempuan Yahudi Hasidim bernama Etty.

Etty, sejak usia 19 tahun telah dijodohkan untuk menikah dengan  cara kawin paksa dengan pria berusia 18 tahun. Etty bercerita sebelum menikah ia hanya bertemu dua kali dan dalam pertemuan yang masing-masing paling lama 30 menit, mereka hanya berdiam diri. Sebelum menikah, sehari sebelumnya dia memotong habis rambutnya yang hitam ikal lebat. Lalu dia dibelikan ibunya beberapa wig, yang warnanya serupa (hitam) dengan model yang juga sama.

Perempuan Hasidim sama halnya dengan kaum lelakinya memperoleh edukasi dari sekolah komunitas. Namun khusus perempuan, mereka tak perlu sekolah tinggi. Bekal terpenting adalah belajar menjadi Ibu yang baik. Memasak, mendidik anak, dan pekerjaan rumah tangga lainnya.

Di Brooklyn, Kaum Hasidim mudah ditemui. Menjelang subuh mereka biasanya membaca kitab di tepian East River hingga terbit matahari. Penduduk Hasidim di Brooklyn menurut sensus tahun 2016 lebih dari 600 ribu jiwa. Mereka bermukim di daerah Borough Park, Williamsburg,  Flatbush, yang penuh dengan Yeshiva, Sinagoga dan restoran Kosher. Mereka juga mendominasi daerah Kensington, Midwood, Canarsie, Sea Gate, and Crown Heights.

Etty, adalah penduduk daerah Kensington. Filem dibuka dengan adegan dimana Etty menelpon 911 karena pintu rumahnya digedor oleh suaminya. Polisi akhirnya mengusir suaminya. Kemudian terdengar gedoran lagi, kali ini dari keluarga suaminya. Etty meminta ketujuh anaknya diam di kamar mandi, karena hanya ruangan itulah yang tak berjendela. Etty takut. Etty kebingungan.

Etty merupakan salah satu perempuan Yahudi Hasidim yang memberanikan diri menggugat cerai suaminya. Proses masih berjalan. Intimidasi terus berhamburan mengarah padanya.

Keberanian untuk mengajukan cerai ini diawali dari derita yang dialaminya. Cercaan, pukulan, dan tekanan lainnya yang dia terima dari sang suami silih berganti setiap harinya. Di Usia 32 tahun Etty telah memiliki 7 anak. Jumlah yang lumrah di kalangan Hasidim.

Sebetulnya Etty tak sendiri. Ada dalam filem tersebut dua Yahudi lainnya (Ari dan Luzer) yang juga keluar dari kelompok Hasidim. Ari adalah anak muda yang berani mencukur habis jambangnya. Dia pernah dimasukkan ke pusat rehabilitasi obat-obatan terlarang karena depresi menjadi korban sodomi guru musim panasnya. Luzer, duda yang yang bercita-cita menjadi artis Holywood, dan sudah 7 tahun tak pernah berbicara dengan keluarganya karena dia menggugat cerai istrinya.

Etty, Ari dan Luzer adalah Yahudi murtad. Yahudi Infidel. Namun di kalangan mereka sering disebut kaum Footsteps, diambil dari organisasi kemanusiaan yang membantu kaum Hasidim yang tak bahagia menjalani kehidupan Hasidisme.

Dalam filem itu juga Etty dibantu oleh Footsteps. Semacam pertemuan berkala yang menjadi wadah untuk meneguhkan hati bahwa keluar dari Hasidisme bukan berarti meninggalkan Tuhan, melainkan memilih untuk beragama secara “wajar”.

Kaum Yahudi Hasidim memiliki musuh besar bernama internet. Semua anak mudanya dilarang membuka internet, apalagi berjam-jam membuka google atau wikipedia.  Ulama mereka melarang keras akses internet. Mereka memusuhi wifi. Mereka membenci. Begitu membenci sekularisme.

Ikatan kaum Hasidim begitu kuat. Kunci utamanya adalah hidup berserah diri dan beribadah. Kemudian mengulanginya setiap hari. Rutinitas dan repetisi adalah utama. Kaum Hasidim begitu fobia pada kehidupan “luar”. Beban emosi dan psikologis sebagai korban holocaust menjadikan mereka demikian. Dan emosi ini ditularkan kepada anak cucu mereka.

Etty dalam proses perceraian berjuang untuk hak asuh anaknya. Namun keluarga suaminya berjuang keras di muka pengadilan untuk menjadikan anak-anak mereka jatuh dalam pengasuhan suami. Komunitas Hasidim bahu membahu. Mereka saling menyumbangkan dana untuk membayar Pengacara mahal yang intinya dapat meyakinkan hakim bahwa Etty adalah Ibu gagal yang berbahaya bagi perkembangan jiwa anak-anaknya.

Etty disudutkan karena sering membawa anaknya ke pertemuan Footsteps tanpa mengenakan stocking panjang dan wig. Etty membawa pengaruh sangat buruk bagi kehidupan relijius anak-anaknya.

Di akhir cerita, Etty harus berhadapan dengan realita. Apa itu? Silakan tonton sendiri.

SaveSave

SaveSaveSaveSave

SaveSaveSaveSave

SaveSave

Merindukan Komik Dalam Koran

Aku kira, perubahan zaman akan membuat perubahan perilaku.Termasuk di dalamnya, cara kita mengonsumsi informasi di media saat ini.

Sejujurnya, aku rindu masa-masa saat zaman tak banjir informasi seperti sekarang. Aku kangen pagi-pagi ke teras rumah, membuka koran dan mencium bau koran. Lalu membaca apa yang terjadi hari itu sambil membawa roti atau nasi goreng dari dapur.

Juga, aku merindukan membaca komik dalam koran.

Aku rindu membaca Kompas untuk mencari komik Benny dan Mice. Sayangnya, terakhir aku ketahui, Benny tak bersama Mice lagi. Rasanya sayang betul mereka tak bersama lagi. Kedua orang itu adalah komikus dalam negeri pertama yang kukenal.

Bagaimana cara mereka menggunakan ilustrasi yang jenaka, dan sesuai dengan isu yang dibahas koran, membuatku sangat suka membaca Kompas.

1076-benny-mice-fanatik-partai.jpg

Selain Kompas, koran yang aku ketahui juga ada komiknya, adalah Bola. Beda dengan Kompas, komik Bola cenderung meminimalisir dialog. Aku pikir, Bola adalah tahilalats pada masanya. Ia akan memberikan komedi-komedi mind-blown dalam urusan khusus olahraga.

Gambar-Kartun-Lucu-Sepakbola-2

Ya, sisi baiknya, aku masih punya beberapa koleksi tentang edisi khusus dari dua komik ini. Ya, lumayanlah buat mengenang yang telah lalu dan cerita kepada anak cucuku nanti. Kalau mereka tanya apa enaknya baca koran, ya akan aku berikan koleksi-koleksiku itu.

Ibrahim: Keimanan Vs Usaha Bertahun-tahun

Jika seorang anak ditinggal orang tuanya, dunia mengenal istilah “yatim” atau “piatu”. Jika seorang istri ditinggal suaminya maka dunia mengenalnya dengan “janda”. Lantas apa yang dunia kenal dengan orang tua yang ditinggal anaknya?

Dunia tak sanggup untuk menyempatkan diri termenung dan bersepakat atas situasi ini.

Karena kesedihan yang ada dan muncul adalah kesedihan yang tak terbayangkan dan tak mau dibayangkan. Dunia hanya sepakat untuk tak menyentuh wilayah kesedihan ini.

Kesedihan yang lebih hakikat dari sekadar kesakitan. Perih yang ditimbulkan lebih “ngenes”.

Maka itulah yang sepatutnya kita rasakan manakala Ibrahim diminta untuk menyembelih anak kandungnya sendiri. Kematian yang dilakukan oleh kedua tangannya sendiri.

Kesedihan dan kesakitan yang kalah oleh bisikan iman. Ibrahim yang bertahun-tahun kesepian tak memiliki putra harus rela membunuh anaknya sendiri atas bisikan ilahiyah.

Gila! Jika itu terjadi saat ini, Ibrahim orang gila. Ibrahim Gila. Ibrahim orang gila.

Namun tidak demikian adanya. Iman kita saat ini membenarkan tindakannya. Hikayat berkata lain. Tuhan hanya menguji seberapa cinta Ibrahim padanya. Apakah penantian bapak berpuluh-puluh tahun dan lahirnya seorang anak bernama Ismail lebih bernilai dari cintanya pada sang pencipta. Ismail tergantikan dengan hewan ternak.

Tuhan memberikan pengganti atas pengorbanannya itu. Ismail terus hidup. Iman Ibrahim makin hidup, dan lahirlah rituan berkurban dengan hewan ternak terbaik.

Ego seorang bapak saat itu telah mati. Perih dan sedih yang sirna oleh betapa cintanya pada sebuah keyakinan.

Landasan sejarah ini hilang perlahan dan digantikan dengan anjuran berqurban karena hewan tersebut yang akan menolong kita di titian jembatan menuju jannah. Motif cari selamat dengan berkorban sesaat di dunia demi akhirat. Semakin mahal nilai kurban, maka semakin moncer kendaraan menuju surga. Kambing itu avanza. Berkurban sapi seperti naik alphard. Begitu kira-kira. menuju surga dengan sopir dan penyejuk udara.

Adalah hal yang begitu istimewa jika kemuliaan untuk mempertahankan keyakinan harus dihadapkan dengan usaha kita selama ini yang harus hilang sekejap mata. Berdoa dan berusaha mendapatkan putra bertahun-tahun harus dilawan dengan keyakinan sebagai makhluk. “Korbankan Ismail adalah tanda engkau lebih mencintaiku.”

Ibrahim bukan saja mencintaiNya. Ia telah membuktikan cintanya itu. Sama sekali tak peduli akan akal sehatnya. Bukan saja ego. Ia tak perlu kewarasan dalam berpikir untuk berkorban. Jika ia gunakan akal sehat, maka bisikan menyembelih anak adalah sebuah tindakan yang begitu bodoh sekaligus kejam.

Kita tak dapat membayangkan apa yang ada dalam benaknya ketika pisau telah terhunus. Kita tak dapat membayangkan apa yang dia rasakan ketika Ismail telah merebah di atas batu dengan leher yang siap sedia. Kita tak akan pernah sanggup membayangkan di level mana keimanan Ibrahim ketika tangannya siap mengiris leher Ismail sembari menatap kedua mata Ismail.

Dan kelegaan macam apa yang didapati oleh dirinya ketika suara itu berkata lain:

“Sesembahanmu telah KuTerima dan kugantikan dengan hewan ternak. Sembelihlah itu..”

farafra5

Hebatnya, proses ini bukan dengan gerakan ringkas, lekas dan membabi buta demi sebuah keimanan. Ibrahim dikisahkan begitu linglung. Ia tetap ragu. Apakah benar apa yang disuarakan kepadanya? Apakah ini jalan seorang pencinta tuhan?

Maka jika usai sholat id besok panitia korban dengan bangga membaca jumlah sapi dan kambing yang berhasil terkumpul dari warga, jangan bayangkan itu adalah sederetan avanza dan alphard menuju surga. Anggaplah itu, kita manusia biasa yang bercita-cita memiliki iman dan rasa cinta sebesar Ibrahim kepada tuhannya.

salam anget,

roy

 

 

 

Mental Agar Tidak Ment(h)al

Judul di atas harap dibaca dengan pelafalan yang berbeda.
Kata pertama, dibaca “méntal” yang berarti lawan kata fisik, lalu yang kedua dibaca “mên-thal” yang dalam bahasa Jawa artinya kalau jatuh. Kalau penggunaan simbol huruf “e” terbalik atau keliru, tolong diperbaiki ya. Dan kalau masih bingung, harap pegangan dulu sebelum cari tahu.

Soalnya masalah mental ini lumayan menarik perhatian saya dalam seminggu terakhir ini. Apalagi yang terkait dengan mentalitas. Dan perhatian ini mencuat dalam situasi yang sedikit di luar dugaan.

Sebagai penggemar tenis musiman, dengan kemampuan bermain yang tidak berkembang dari jaman SMP, saya menyempatkan diri menonton turnamen French Open dan Wimbledon setiap tahun di televisi. Apalagi Wimbledon. Seperti yang ada magis dari turnamen ini yang membuat kita tidak bisa berpaling. Entah itu lapangan rumputnya. Entah itu kostum berwarna putih yang sudah jadi kewajiban dipakai pemainnya. Entah itu tradisi yang menang dan yang kalah harus berjalan bersama keluar lapangan setelah pertandingan usai. Semuanya membuat setiap babak pertandingan Wimbledon selalu menarik untuk ditonton.

Namun, lagi-lagi karena bukan penggemar fanatik, acap kali saya melewatkan beberapa pertandingan. Biasanya karena belum sampai di rumah. Sering kali bisa menonton dari awal dimulainya babak pertandingan, karena kebetulan sudah ada di rumah. Seperti hari Senin malam lalu.

Saya baru pulang dari menonton film India terbaru di bioskop. Sampai rumah sudah hampir jam 12 malam. Seperti biasa, saya ganti baju dan celana pendek, minum air putih, gosok gigi, cuci muka, bersiap untuk tidur. Toh di saat yang bersamaan, tangan sebelah memencet tombol remote control untuk menyalakan televisi. Ada pertandingan babak 16 besar antara Rafael Nadal, yang baru saja menjuarai French Open bulan lalu, dan seorang petenis yang saya baru dengar namanya: Gilles Muller. Saat itu pertandingan sudah memasuki babak ketiga, dan Nadal kalah di dua set pertama. Saya langsung membatin, “Wah, apa-apaan ini?”

Alih-alih ke kamar, saya malah duduk di sofa di depan televisi. Kadang sambil tiduran. Mata saya tidak berhenti menatap layar televisi. Pertandingan berlangsung seru. Babak ketiga dimenangkan Nadal. Lanjut ke babak berikutnya. Babak keempat dimenangkan Nadal lagi. Mau tidak mau harus ada set ke-5 sebagai penentuan. Dan set ke-5, yang berjalan lebih dari 90 menit, akhirnya dimenangkan Gilles Muller, pemain dengan ranking 26, mengalahkan Nadal yang ranking 2. Total waktu keseluruhan game? Hampir 5 jam, alias 4 jam 48 menit!

Berarti selama 5 jam, mereka berdua berdiri, berlari, memukul dan mengejar bola di atas lapangan rumput dalam cuaca di puncak musim panas di London.
Mata saya nyaris tidak berkedip. Yang saya perhatikan terutama adalah Giles Muller.
Hampir tidak ada luapan ekspresi yang terlihat di raut wajahnya. Mukanya serius. Sesekali mengepalkan tangan dalam genggaman kecil saat pukulannya masuk. Ketika dia memenangkan pertandingan pun, hanya terlihat dia menghela nafas panjang, penuh kelegaan, sambil tersenyum lebar.

Lawan mainnya, Nadal, secara konsisten meluapkan emosinya sepanjang permainan. Nadal memang ekspresif. Mungkin itu juga yang membuat dia selama belasan tahun terakhir sebagai salah satu pemain tenis terbaik, sekaligus yang paling menarik dilihat aksinya di lapangan apapun. Nadal tidak segan-segan mengajak penonton menyuarakan semangat dan bertepuk tangan, terlebih saat dia melakukan aksinya.

Keduanya adalah pemain dengan gaya bermain yang berbeda, keduanya adalah manusia dengan kepribadian yang berbeda. Yang menyatukan mereka adalah mentalitas juara yang tinggi. Rafael Nadal mungkin tidak jadi pemenang. Gilles Muller pun tersungkur di babak berikutnya oleh Martin Cilic, mungkin karena kelelahan melawan Nadal. Namun pertandingan terpanjang (sejauh ini) di Wimbledon 2017 antara Muller dan Nadal menunjukkan bahwa akhirnya, mentalitas untuk bertarung dan bertahan dalam pertarunganlah yang membuat mereka tidak “menthal” dalam ingatan kita.

Meskipun dalam keadaan ngantuk kurang tidur setelah menonton pertandingan di atas, keesokan harinya saya bergegas untuk berolahraga. Sekedar lari di atas treadmill sambil menonton film yang sudah diunduh dari Netflix. Kadang saya pilih sekedarnya saja. Pilihan saya kali ini adalah film dokumenter berjudul An American in Madras.

Dari film ini, saya baru tahu kalau di awal abad 20, tepatnya di tahun 1930-an, seorang warga Amerika bernama Ellis R. Dungan pernah menjadi pionir dalam pembuatan film secara profesional di India bagian Selatan, khususnya untuk pembuatan film berbahasa Tamil. Rencana berkunjung untuk membantu temannya menjalankan studio film selama 5 minggu, berubah menjadi 15 tahun.

Dungan tidak bisa berbahasa Tamil atau bahasa-bahasa daerah lain di India. Dia hanya bisa mengerti dialog di film yang dia sutradarai. Namun dengan bantuan asisten-asistennya selama produksi, dia tetap menghasilkan film-film klasik yang termasuk dalam jajaran film terbaik di India pada masa tersebut. Dia tidak dipandang sebelah mata karena dia terlihat berbeda. Dia sudah dianggap menjadi bagian penting dalam sejarah budaya dan perfilman India dalam 100 tahun terakhir.

Saya tidak bisa membayangkan betapa sulitnya seseorang seperti Dungan yang bisa menerobos masuk ke dalam sebuah bagian kultur budaya dari masyarakat yang terkenal inklusif dan propektif seperti India. Film ini memang tidak menerangkan perjuangan awal Dungan untuk mendapat kepercayaan dari orang-orang di Tamil Nadu. Tanpa keluarga dan teman dari tanah kelahirannya, kita hanya bisa membayangkan Dungan dan usahanya sendirian dalam membangun reputasinya dari awal. Toh dia tidak patah arang. Bahkan dalam keadaan perang pun, dia masih bisa berkarya.

An American in Madras (source: nytimes.com)

Lagi-lagi masalah mentalitas. Sepanjang film saya hanya bisa berdecak kagum melihat apresiasi tulus dari para sejarawan dan ahli film terhadap legacy yang ditinggalkan Dungan. Yang ditinggalkan pun tidak merasa terintimidasi oleh fakta bahwa seorang pekerja film dari Amerika merombak sistem kerja perfilman di India Selatan sehingga menjadi apa yang mereka lakukan sekarang. Tentu saja, arsip-arsip berupa film, tulisan dan data-data yang masih mereka simpan rapi selama lebih dari 75 tahun membuktikan kecintaan mereka terhadap karya seni yang menjadi kebanggaan mereka.

Mentalitas untuk bertahan dalam pertarungan, mentalitas untuk bertahan hidup, mentalitas untuk terus melakukan apa yang kita cintai dalam hidup.

Tidak mudah memang untuk mempunyai mentalitas seperti ini. Ada saat-saat di mana kita sudah merasa memiliki sikap seperti ini, namun ada beberapa kejadian dalam hidup yang membuat kita tergelincir lagi.
But what counts is the time when we get up, not when we fall.

Dan untuk memiliki mentalitas juara, mau tidak mau kita pun harus memiliki mental yang sehat.

Saya jadi ingat sebuah dialog kecil dalam film Dear Zindagi yang saya tonton tahun lalu. Film ini dibintangi oleh Shah Rukh Khan sebagai psikiater yang mempunyai pasien seorang juru kamera yang dimainkan dengan cantik oleh Alia Bhatt.

Dialog kecil ini bukan diucapkan oleh Shah Rukh. Dialog ini terjadi di bagian awal film, saat Alia sedang istirahat dari syuting video klip yang dia kerjakan, lalu bertemu dengan rekan kerjanya yang sedang merokok. Mereka bercerita banyak hal, termasuk tentang kebutuhan untuk punya psikiater. Alia yang masih skeptis, bertanya kenapa temannya perlu terapi. Kurang lebih dialognya seperti ini:

“Do you go to therapy, so you can tell others you’re gay?”
(smile) “I go to therapy so I can tell myself I am gay.”

Because it takes a winning mental health to have a winner mentality.

Alia Bhatt in Dear Zindagi (source: thequint.com)

Mereka-reka Mimpi

Kita semua punya mimpi.
Atau paling tidak, kita semua pernah punya mimpi.

Mimpi yang tidak hanya sekedar hadir saat kita tidur terlelap. Mimpi di sini lebih berbentuk cita-cita, keinginan, asa, harapan, yang semuanya kita inginkan bisa terjadi secara nyata dalam hidup.

Kita sudah terbiasa punya mimpi sejak kita masih kecil.
Mimpi punya mainan yang paling canggih seperti yang kita lihat di televisi.
Mimpi punya kakak, adik, atau saudara yang bisa menemani kita bermain.

Lalu para tetua kita mulai menanamkan impian-impian mereka sehingga kita bisa menerimanya seolah-olah menjadi impian kita sendiri.

Mimpi masuk sekolah yang bagus, sekaligus mimpi bisa lulus dengan nilai sempurna.
Mimpi mendapatkan pekerjaan yang baik dan mapan.
Mimpi bisa bertemu jodoh dan menjalin hubungan penuh kemesraan tanpa kekhawatiran.
Mimpi bisa membina rumah tangga yang langgeng sampai akhir hayat.

Beragam cara dilakukan dalam mengejar mimpi, atau dalam melakukan usaha-usaha agar setiap mimpi bisa terwujud.
Berbeda orang, berbeda caranya. Berbeda mimpi, berbeda caranya.

Ada yang punya rencana cadangan di setiap mimpi yang dituju. Tujuannya, agar saat mimpi yang dicita-citakan tidak terwujud, masih ada rencana cadangan lain yang bisa diwujudkan.

Ada yang tidak punya rencana cadangan, karena tidak memungkinkan punya rencana cadangan lain untuk mimpi yang dikejar. Dengan prinsip “high risk means high return or high loss”, pemimpi dan pemilik impian seperti ini sadar bahwa saat impian tak terwujud, maka kehampaan yang akan menimpa.

Dan sesadar-sadarnya akan kemungkinan tersebut, toh rasa sakit masih menerpa dan begitu terasa.

(source: phomix.com)

Seorang teman, sebut saja namanya Bendy karena dia penggemar kelas kakap aktor Michael Fassbender, baru-baru ini cerita kepada saya tentang sebuah mimpinya yang kandas. Sebuah mimpi, yang menurut saya cukup besar, yang memang akan mengubah hidupnya. Tapi nyatanya, mimpi cuma sebatas mimpi.

Saya baru tahu kalau dia punya mimpi tersebut setelah dia cerita kepada saya cukup lama sesudah kenyataan pahit itu terjadi.

Saya bertanya, bagaimana dia menghadapi kegagalan mimpinya.

Dia cuma mengangkat bahunya. “Well, life goes on, right? I have to be fine. I was not.”

Maksudnya?

Dia menghela nafas. “Life does not wait for you. Your loss, your pain, your suffering. Life still keeps going on, it does not pause to function, to wait until you get better. So you pick up yourself, slowly. Then you catch up with the world, again.”

Saya tersenyum.

(source: stamhuis.nl)

Dia melanjutkan tanpa saya tanya lebih lanjut. “Sure, I was hurt. Disappointed. Devastated. I don’t have a back-up plan, because there is no back-up plan. It’s like, you are about to get married, then you don’t, because the one you are about to married to decides not to. And your back-up plan is, what, marry someone else you secretly keep as a back-up plan? No, right? You just do not become a married man, that’s all.”

Saya mengangguk pelan, masih dalam diam.

“You know what’s funny?”

Apa?

“When chasing your dream and making it happen, you are so busy chasing it with great details and meticulous plan, that you forget your surrounding. You forget your present reality, because you are filled, even obsessed, with your future plans. You start planning this and that, and you just forget tending your present need. Your mind, your energy, your concentration, everything you have, you just “throw” it all away to uncertain future. And when the uncertainty bursts out to failure, boom!”

(source: mindbodygreen.com)

Kepalan tangan kanannya menirukan gerakan bom yang meledak di udara, lalu pelan-pelan bergerak ke atas, sebelum jatuh perlahan ke meja tempat kami meletakkan gelas-gelas dan piring-piring kami.
Dia mengangguk sambil menerawang, sambil mengetukkan jari-jarinya.

“I was mad. So mad, you have no idea.”

Dalam hati saya ingin berkata kalau saya kira-kira tahu bagaimana kalau dia lagi ‘gila’, tapi saya diam saja.

“Then I realized something. I was angry, so angry, that I begin to think, that maybe the dream I wanted was not meant to happen. Because look at the way I behaved when I did not get it! I couldn’t begin to imagine if, while living the dream, I could get this mad because something does not work the way I plan. Will I be this mad? Will I endanger other people? No. I can’t afford that to happen.”

Saya mengangguk lagi.

“I have to accept the fact that maybe it was not meant to be. Call it the destiny, the fate, or what have you, but the one dream I chased so hard will never be mine. I’m sorry I talk to you in circles like this.”

Saya tersenyum. Saya bilang kalau saya cuma bisa mendengarkan.

“Thanks. That’s more than I can ask, really. Because it’s hard to accept failure. And before you console, comfort, or whatever, just bear with my insistence that not getting a dream come true is a failure in my life. So yeah. We’re not built to accept failure, to understand in others that failure often happens.”

Oke, saya tidak akan mempertanyakan. Tapi kalau boleh tahu, rencanamu apa sekarang?

“Frankly, I don’t know. Like I told you, I was busy planning the plans for the dream to happen, when it was supposed to happen, that I overlook the present time. Now, I guess I have to look for and build another dream. It’s a work in progress.”

Apanya yang work-in-progress?

“Life. Life is always a work-in-progress. Don’t you think?”

Kembali saya mengangguk pelan.

Dan mungkin sambil menuai mimpi yang lain, kita menjalani hidup.

Karena mimpi tak bisa hadir kalau kita tidak hidup.

(source: joelcornett.com)

Semata

Hai.”

Hai.”

POV – 1

Of all the coffee shops in town, why here?
Wait.
Of all the towns and cities in the country and the world, why here?

“Apa kabar?”

“Baik. Apa kabar?”

“Baik juga.”

Awkward silence. Something we, no, I used to avoid. It always signals something wrong. But it was then. This is now. Quick, brain! Think of something!

“Eh, iya. Maaf lahir batin, ya.”

“Oh, iya. Maaf lahir batin juga.”

“Kapan sampai?”

“Kemarin. Erm, udah lama mudik?”

That brief pause when you don’t know what to address me? Really? I thought we’re past this.

“Dua hari sebelum Lebaran sudah di sini. Kok tumben ke sini?”

“Mau lanjut road trip besok pagi, hiking, terus keliling-keliling. Jadi mampir dulu.”

“Oh ya? Wah, keren. Iya sih, harus berangkat pagi-pagi banget kalau mau dapet pemandangan bagus. Sendiri?”

Somehow I have a feeling I will regret asking that question.

“Enggak, sih. Erm, berdua. Dia juga Lebaran di sini.”

There you go.

“Oh, oke.”

Wait, what? Why am I just okay? Where’s the flaming rage? Where’s the emotional outburst? I’m supposed to break all the tables in this cafe into pieces, but why do I remain calm? What is happening? Who takes over my body?

“Jadi ya nyusul. Mumpung masih ada liburan.”

Alright, say no more, maybe?

Enjoy the holiday kalo gitu.”

Thanks.”

“Kayaknya gue duluan ya.”

“Buru-buru banget.”

Wait, what is that supposed to mean?

“Ini juga duduk cuma buat nungguin makanan dibungkus, sekalian beli beans buat persediaan di rumah.”

“Oh, oke.”

“Duluan ya. Salam buat …”

Dang! The name! The name! What’s the name? Stupid brain, what’s the name?

“Hehehe, oke, nanti disalamin.”

Major crisis averted! Phew!

“Hehehe. Sorry. Oke, thanks ya. Duluan. Bye! Nice to see you again.”

Why am I being miss, I mean, mister congeniality here?

Bye. Nice to see you juga.”

I feel nothing. At last.

POV – 2

Uh oh. This is what I dreaded the most. This is what I’m so very afraid of.
Now it’s happening.
S**t.

“Apa kabar?”

“Baik. Apa kabar?”

“Baik juga.”

Okay. This is awkward. The other party stays silent. What should I do?

“Eh, iya. Maaf lahir batin, ya.”

Finally.

“Oh, iya. Maaf lahir batin juga.”

“Kapan sampai?”

No, no. Don’t start asking these questions.

“Kemarin. Erm, udah lama mudik?”

“Dua hari sebelum Lebaran sudah di sini. Kok tumben ke sini?”

You have anticipated and prepared this kind of questions, dear self. Time to open the file. Come on, say the lies, I mean, the prepared answers.

“Mau lanjut road trip besok pagi, hiking, terus keliling-keliling. Jadi mampir dulu.”

Nice. Very smooth. Good start.

“Oh ya? Wah, keren. Iya sih, harus berangkat pagi-pagi banget kalau mau dapet pemandangan bagus. Sendiri?”

Yeah, you’re not a good liar. You don’t prepare this far. You dumb self!

“Enggak, sih. Erm, berdua. Dia juga Lebaran di sini.”

“Oh, oke.”

Wait, what? Did I hear that right? “Oh, okay”? “Oh, okay”? Seriously? How can you be this cordial and fine? You’re supposed to break all the tables in this cafe into pieces, but why do you remain calm? What is happening? Who are you, really? Are you over me already?

“Jadi ya nyusul. Mumpung masih ada liburan.”

See how your calm response making me saying stupid things like that.

Enjoy the holiday kalo gitu.”

Thanks.”

“Kayaknya gue duluan ya.”

“Buru-buru banget.”

No, no, no. I did not just blurt that out. No, no, no. Where did that come from?

“Ini juga duduk cuma buat nungguin makanan dibungkus, sekalian beli beans buat persediaan di rumah.”

Thank you for your smile that saved the awkwardness. Thank you. I’m sorry I can’t say it out loud.

“Oh, oke.”

“Duluan ya. Salam buat …”

Uh oh. Now you’re being awkward. Ha! Gotcha!

“Hehehe, oke, nanti disalamin.”

“Hehehe. Sorry. Oke, thanks ya. Duluan. Bye! Nice to see you again.”

Bye. Nice to see you juga.”

I will remember this. Of all the places in the world, I’m glad to see you here.

Rasa Bangga itu Pasti Tersirat

Ada cerita menarik dari seorang teman. Cerita lama, yang terjadi waktu dia berlibur hampir satu dekade yang lalu.

Waktu itu, dia mengambil cuti lama untuk pergi ke beberapa negara di Eropa. Cukup pantas rasanya dia melakukan perjalanan ini, setelah kerja beberapa tahun di sebuah perusahaan barang konsumsi. Dan dia terlihat sangat menyenangi pekerjaannya ini. At least, itu yang kami lihat dari luar. Buktinya, dia betah bertahun-tahun.

Ternyata, something happened di saat liburan itu. Something big, sampai dia memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya. Dan tak cuma keluar saja. Dia pun banting setir pindah ke industri yang berbeda sama sekali.

Kami memang jarang bertemu satu sama lain. Namun rasa penasaran membuat saya menyempatkan untuk mengajaknya ketemu dan ngobrol, setelah dia pindah ke kerjaan barunya selama beberapa waktu.

Saya tanya, apa yang sebenarnya terjadi di waktu liburannya.

western-emmet-500x500

“Liburan gue seru, mak. I mean, considering gue sebenarnya lebih sering ke pantai, berenang, sampai diving, ih ternyata gue bisa juga menikmati jalan-jalan ke bukit, gunung, walaupun dingin banget! Ya itung-itung suasana baru.”

“Nah, kan gue pindah-pindah negara tuh. Di salah satu negara, gue stayed agak lama, karena ada temen gue yang tinggal di situ. Terus di salah satu hari, gue diajak ngopi, ketemu ama temennya temen gue. Ngobrol nyante2 aja. Dia nanya, kerjaan gue apa di Jakarta. Ya biasa lah, bok, kalo kenalan, kan ya pasti ditanya, “What do you do for living?” gitu. Ya gue jawab aja, kerjaan gue apa. Udah berapa lama di kantor gue sekarang. Kerjaan itu ngapain aja.”

“Tapi anehnya nih ya, entah kenapa, semakin gue menerangkan kerjaan gue, kok gue semakin gak convincing menjelaskannya. Semacam kayak ada hesitancy gitu, kayak ragu-ragu. Padahal ya selama ini kalo ditanya orang tentang kerjaan, gue lempeng aja jawabnya. Ya gak sampe berbusa-busa ngomonginnya, tapi ya biasa aja responnya. Begitu ini, pas gue menerangkan in detail, kok rasanya malah I started doubting myself.”

“Terus gue cukup sering menghabiskan waktu sendirian di sana. Temen gue kan juga masih kerja ya sehari-hari. Gue mikir, apa ini karena gue lagi di luar negeri, di luar comfort zone, makanya gue bisa mikir yang aneh-aneh.”

Aneh-aneh?

“Ya maksud gue mikir lebih dalam lagi, apa iya selama ini gue bangga ama kerjaan gue. Padahal ya there is nothing wrong about the work that I do. Lha wong kerjaan halal juga. Marketing lho. Dan ya, don’t get me wrong ya, bok, tapi elo juga tau kan that I’m pretty good at what I do. Cuma kenapa masih ada feeling hesitant waktu gue harus menjelaskan ke orang kerjaan gue apa, itu yang bikin bingung.”

minecraft-steve-clipart-mc-man-minecraft-steve-by-00qieh-clipart

“Akhirnya gue bikin check list, kira-kira apa aja yang membuat gue punya keraguan ama kerjaan gue. Bener-bener check list asal aja, gue tulis mulai dari masa depan industri gue sekarang, sampe yang printilan macem suasana kantor, ama gimana rumah gue kalo pas gue tinggal pergi jauh.”

“Ternyata setelah berhari-hari mikir dan bikin check list, akhirnya ketahuan, kalo deep down, gue sebenarnya ragu, apakah kalau emang gue semakin maju dengan karir gue sekarang, gue bisa menghabiskan waktu lebih banyak ama keluarga gue. Anak gue kan sendirian ya, bok, terus ortu gue juga udah semakin tua. Dan kayaknya makin ke sini, kerjaan kok makin menyita waktu gue, meskipun ya I make a good living out of it.”

“Keliatannya simpel emang, kita kerja karena ya kita perlu uang untuk hidup. Tujuan kerja emang buat hidup kok, gue setuju itu. Cuma yang namanya bangga ama kerjaan itu, menurut gue ya, elo gak bisa bohong, gak bisa ditutup-tutupin. Kecuali emang elo aktor paling jago sedunia ya, hahahaha … But most of the time, you cannot fake it. You are either genuinely proud of what you do, or you’re not.

“Sebagian besar dari kita emang gak beruntung bisa ngerjain apa yang kita suka. Dan justru memang kita harus menyukai apa yang kita kerjakan, apapun itu, to survive. Tapi kalau emang ada kesempatan untuk mengerjakan apa yang elo suka, go for it. Selama elo bisa, selama elo gak ada tanggungan, kayak elo sendiri ‘kan ya, bok, so just go for it. Dan jangan kebanyakan hutang, kecuali hutang KPR ama modal usaha! Hehehe.”

(from jenningswire.com)

(from jenningswire.com)

Kami melanjutkan obrolan sampai sore tiba. Setelah itu, pertemuan kami sebatas memberi komentar di status media sosial masing-masing. Kami belum pernah bertemu lagi. Yang saya dengar, dia pun sudah berganti pekerjaan lagi dari pergantian saat kami berjumpa.

Namun saya masih terngiang pesannya, bahwa unless you’re really good at faking it, you cannot fake your pride of your job.

Are we?

Dor!

Berhubung saya masih sepertiga jet-lagged, jadi kali ini saya biarkan teman-teman saya yang bercerita ya.

Satu

Me: “Deg-degan gak waktu pacar nembak elo dulu?”
KL (teman, 33 tahun): “Deg-degan lah, gila!”
“Berapa lama dari deket sampe akhirnya berani ngomong?”
“Kayaknya 3 mingguan deh.”
“Lumayan lah ya. Ngomongnya gimana?”
“Kalo gak salah waktu itu dia ngajak makan. Makan malem kalo gak salah. Kita abis kelar nonton. Udah sering jalan bareng waktu itu. Kan beberapa kali ama elo juga.”
“He eh. Trus?”
“Ya udah. Dia ngajak makannya di food court aja, dong. Ya gak masalah sih kalo sekedar makan doang. Mana gue pesennya pake pete lagi kayak biasanya. Sumpah bukan model kencan yang gimana-gimana gitu. Asli. Abis udah nyaman banget. Eeeh kok dia ngomongnya udah mulai menjurus.”
“Hahahaha. Elo salting?”
“Ya salting gak salting. Gue makan aja sambil dengerin, sambil nanggepin. Tapi dalam hati, gue cuma “oh my God, oh my God, oh my God, please, please, please, jangan ditembak di tempat kayak gini, please, please, please …” Itu di food court di parkiran mall soalnya. Hahahaha.”
“Huahahaha. Toh akhirnya dia ngomong juga?”
“Ya iya lah. Ngajak jadian, trus ya ketawa bareng. Jadi ya kalo ditanya orang, gue jadian di mana, di food court parkiran mall. Udah gitu sekarang food courtnya udah gak ada, jadi gue gak bisa site visit kalo lagi mau nostalgia. Hahahaha!”

showimage-ashx

Dua

Me: “Deg-degan gak waktu elo nembak pacar dulu?”
ED (teman, 34 tahun): “Lumayan, tapi gak sampe bikin gelisah sih.”
“Kok bisa?”
“Abis deketinnya lama.”
“Berapa lama?”
“Ada lah 5 bulan.”
“Eh busyet. Betah amat, bro.”
“Ya abis. Dia gak agresif, gue juga gak agresif.”
“Waduh. Untung gak diambil orang lain.”
“Ya kali ah.”
“Akhirnya bisa ngomong, gimana ceritanya?”
“Ehehehehe. Jangan ketawa ya. Waktu itu malem-malem, kita keluar buat makan. Gue lagi pengen makan sate padang. Ya udah kita pergi. Makan aja biasa. Trus dia pengen kerja sebentar sambil buka laptop. Kita cari coffee shop yang masih buka.”
“Trus?”
“Gue nungguin aja dia kerja sambil baca-baca. Tiba-tiba dia bilang, “Kok aku ngerasa mual ya?” Lari dia ke toilet. Di sana muntah-muntah.”
“Waduh. Hamil?”
“Ama wewe gombel. Elo ini, ah!”
“Trus?”
“Gue panik. Gue gedor pintu toilet coffee shop. Dia buka, mukanya pucet banget. Badannya lemes. Gue bopong ke mobil, sambil minta tolong waiter beresin laptopnya. Gue rencananya mau bawa dia pulang, tapi di mobil dia malah makin pusing kesakitan. Kayaknya emang abis makan sate padang trus minum kopi itu gak recommended ya.”
“Penyesalan emang selalu datang belakangan. Kalo datang di awal namanya pendaftaran. Trus?”
“Heh! Trus ya gue bingung. Gue tanya aja ke dia, mau ke rumah sakit aja nggak. Dia cuma ngangguk, sambil berusaha tiduran. Gue langsung dong bawa ke UGD. Dan ternyata emang pencernaannya lagi bermasalah. Disuruh istirahat bentar, dikasih obat di sana. Adalah hampir sekitar 2 jam sebelum akhirnya gue anterin pulang.”
“Lho? Terus ngomongnya …?”
“Hehehehehe. Pas jalan pulang, gue becandain dia, karena dia udah berasa enakan ‘kan. Gue tanya dia, “Yang, kamu tau nggak bahasa Inggrisnya UGD?” Dia jawab, “Intensive Care Unit kan? ICU?” Trus ya gue berhentiin mobil sebentar di pinggir jalan. Gue cuma megang tangannya sambil bilang, “I see you, too.” Hiahahaha!”
“Sumpah, bro. Najis amit-amit!”
“Hahahahaha!”

50

Tiga

Me: “Deg-degan gak waktu pacar nembak elo dulu?”
FH (teman, 35 tahun): “Nah, itu dia. Gue bingung, dulu ada deklarasi jadian gak ya?”
“Deklarasi! Macem mau bikin negara aja. Kok bisa bingung?”
“Abis gak jelas, siapa yang nembak, siapa yang ditembak. Ya buat gue emang gak penting sih, cuma kalo ditanya gini, bingung juga jawabnya.”
“Hahahaha. Jadi tau-tau ngalir aja gitu?”
Not exactly like that. Kita udah deket aja, sering ngobrol. Kalo telponan suka lama banget. Dan itu masih bener-bener telpon ya, bukan chatting di Line atau WhatsApp, dan bukan pake voice call seperti Skype atau WA. Bener-bener ngobrol di telpon, berjam-jam, dan gak ngelakuin kerjaan lain.”
“Wow. Ngomong apa aja kalian?”
Anything under the sun. Bener-bener semua.”
“Berapa lama kalian seperti itu?”
Let’s see. Kenalan doang di Oktober, sepintas lalu. Trus mulai intens ngobrol sekitar akhir November. Dari akhir November itu lah, sampai awal tahun. Berarti sekitar sebulan ya?”
“Lumayan lama.”
Yes, but it doesn’t feel long. The more we talk to each other, about each other, the more we don’t know anything about each other. Dan itu membuat gue pengen lebih lama lagi ngobrol ama dia.”
“Dan akhirnya …?”
“Dan akhirnya, kayaknya abis tahun baru, kita ngobrol. Lupa siapa yang nelpon duluan, saking seringnya. As we started talking as usual, I started noticing something different. The vibe, the tone, it’s different. Gue melipir ke pojokan di luar rumah. Then we started talking about some distant future, plans. Lalu dia mulai ngasih hints about settling on someone. Entah dari mana, tiba-tiba gue bilang, “the answer is yes”.
“Eh, gimana?”
I said, “the answer is yes”. Dia diem. Dia bilang, “But I haven’t asked you any questions yet”, sambil ketawa. Dan sambil ketawa pun gue bilang, “the answer is yes. Yes to all of those things you said. To everything you said.” Dia masih ketawa. Hahahaha. Lucu kalo diinget.”
So in the end, you’re the one who proposed?
I don’t know. I don’t think so. Setelah kita berhenti ketawa, kita ngobrol lama lagi. Dia bilang, “Here’s to us.

That’s sweet.
Yes. The sweetest”.

Selamat.

Satu Lagi

Mau curhat.

Emang selama ini enggak?

Pokoknya dengerin dulu.

Oke.

Banyakan bahasa Inggris-nya.

Sok atuh.

Go ahead dong ah.

Brisik.

Yeee.

Buruan.

Akhir-akhir ini sering muncul pertanyaan di kepala gue, whether I am relevant or not.

Maksudnya?

Hmmm … Gimana ya. Kurang lebih seperti ini. You know how the world has been lately, kan? How the world has been acting up crazy, to say the least. How we move towards conservatism and even extremism very fast.

Iya. Lalu?

Lalu ya, you know me. I am passionate about things that people hardly talk about these days. I love talking and writing about films in my own style. I love listening to music from the bygone era. I crave on articles about contemporary art. I love photography. I love books, fiction especially.
But whenever I look around, people seem to forget and steer themselves away from all of these. Suddenly people become political experts overnight. Sharing sensation, churning out opinion.

Dan gue baca lho.

twinkle-lights-for-new-years-eve

Ha? Dibaca semua?

Ya gak semua, tapi sebagian besar.

Yang bener?

Iya.

Gak elo unshare?

Enggak. Gue pengen tahu aja cara berpikir mereka, cara mereka menyampaikan pendapat. ‘Kan bisa keliatan dari cara mereka menulis, lalu membagi tulisan yang mereka ambil. Because we are all different from one another. Kalau gue cuma mau lihat yang sesuai sama minat gue, ntar dibilangnya living in a bubble lagi.

Tapi elo gak stress sendiri?

Ya emang sih, I risk my sanity kadang-kadang bacain status-status yang ‘kenceng’ di socmed gue. Hahaha.
Dan gak cuma sanity gue, tapi melihat orang-orang berlomba-lomba menyuarakan opini mereka soal agama dan politik yang panjang-panjang, membuat gue jadi mempertanyakan diri sendiri. Apa gue yang bodoh ya karena tidak paham dengan apa yang mereka tulis? And then you start second guessing yourself. If I could not participate in such conversation, am I starting to become irrelevant? Since I don’t know what or how to form an opinion about politics and religion and other so-called important matters deemed necessary untuk keberlangsungan hajat hidup masyarakat, whatever that is, do I matter?

482083nhixftp3b1

Whoa! Nyante, mas bro. Chill, dude. Dari kecil suka dangdut. Barusan nanya apa elo barusan?

Errr … Do I matter?

Of course, lah! I matter, you matter, we all matter. Gila kali elo. We matter because we come from our mother.

Timpuk ya!

Nyeahahaha. Ya masak elo ikut ngomong agama dan politik segala? Emang semua orang gak punya kapasitas masing-masing untuk hidup, apa? Dan buat hidup sendiri, emang semua orang harus ngelakuin sesuatu yang sama, apa? Kalo pake logika kayak gitu, ya semua orang jadi robot dong. Cara berpikirnya dibikin sama. Cara ngomongnya kudu sama. Sampe cara makan dan jenis kerjaannya pun sama. I don’t want to live in that world.

Tapi elo tahu kan kalo we are shifting towards that possibility?

Eittsss … Not we. But some. Kalo kita sih, justru harus avoid the possibility.

rt-12-31-12

How?

By keep on living as you are. Keep reading books. If you like to dance, keep on dancing. Keep listening to good music. Keep writing. Keep watching good films. Keep appreciating arts and photography. Form an appreciative write up everytime you encounter these. Nobody has the right to tell you how to live your life. Nobody. Ih ternyata gue lancar juga ya ngomong bahasa Inggris. Bisa sepik-sepik abis ini.

Amit-amit.

Tapi bener kan apa yang gue bilang?

That sounds dreamy. Idyllic. Utopian. Far away.

Nah, makanya itu tugas kita supaya gak bikin hal-hal itu jadi dreamy, idyllic, dan sebagainya.

Like, how?

Jadiin kebiasaan. You keep doing what you do. You keep sharing what you’ve shared. You keep performing good deeds until it becomes good habit. It’s hard, but do not let the anger in social media ruins you. Read it, look at it, and remember to take a deep breath after you read such before you act. Sumpah asli ngomong terus-terusan nanggepin elo bikin gue jadi motivator karbitan abis ini.

Hihihi. Banyak tuh orang-orang yang lagi perlu dimotivasi. Elo jadi terkenal ntar.

Ogah. Cukup dikenal aja, gak sampe terkenal.

img_8547_2

Whatever.

Jadi udah curhatannya?

Kesimpulannya gimana?

Yeee … Dari tadi gak nyimak.

Susah konsen. I keep thinking of how crazy the past year is. Was.

Tapi elo dan gue akhirnya survive kan?

We do. Hmmm. Yeah. F***, we do survive this year!

Cheers to 2017, bro? Sis? Manggil elo gimana, sih?

Cheers to 2017, best friend!

Tukar Jadual dan Penjara yang Terbawa Kemanapun Kita Pergi

Ketika ada satu dan lain hal yang menjadikan kita berhalangan untuk hadir, maka kita membutuhkan orang lain.

Misalnya saja Lei yang tak kuat lagi menahan derita untuk meluangkan waktunya menulis di hari jumat, maka ia bertukar jadual dengan saya. Maka hari ini dan setiap jumat kedepan saya akan mengisi pagi Anda. Salam jumpa. 😉

Ketika teman atau rekan sejawat menikah dan melangsungkan resepsi, dan karena kita bukan amoeba yang bisa membelah diri, maka teknologi bernama “titip amplop” adalah bentuk solusi paling ringkas.

Juga ketika rekan kerja pergi keluar kota karena cuti, bukan berbagi kata kunci komputer pangku, melainkan sebelum pamit ia memberikan beberapa berkas salinan lunaknya kepada kita dengan harapan jika saja bos meminta perkembangan pekerjaan maka kita dapat menggantikan perannya dalam penyelesaian tugas.

Contoh lainnya jika kita tak sempat mengambil buku laporan pendidikan anak kita, maka istri dapat menggantikannya, walau idealnya bersama-sama. Juga soal lain seperti titip absen saat kita bolos kuliah. Titip absen saat sidang dewan perwakilan rakyat. Titip doa saat kita malas ke masjid dan gereja. Walau kalimat terakhir agak janggal karena soal doa adalah soal yang sangat intim dan privat dan sebetulnya tak perlu diwakili siapapun. 🙂

Soal mewakili adalah soal amanah dan kepercayaan. Sebuah mata uang paling penting saat ini. Menjaga kepercayaan dan menunaikan tugas. Hal ini, menurut hemat saya, lebih penting dari menunaikan ibadah haji.

Banyak cerita sukses seseorang bukan karena ia bangsawan dan lahir dari orangtua kaya raya, tetapi karena ia pandai menjaga amanah. Karena ia disenangi orang berduit. Karena ia menjadi favorit atasan. Karena ia didukung rekan sejawat. Karena ia baik di mata semua orang. Dapat dipercaya. Menjadi idola tua muda kaya miskin dan orang-orang terdekatnya.

Dari kisah demokrasi, kita dapat berkesimpulan bahwa demokrasi adalah permainan politik dengan cara mengumpulkan amanah sebanyak-banyaknya. Secara logika seharusnya ini menjadi sebuah aturan main yang jelas dan tegas. Karena setiap nyawa memiliki hak untuk mengemukakan pendapat. Apapun latar belakang dan kondisinya.

Dalam alam demokrasi kita tidak sedang mencari orang yang pandai, ganteng, seagama, sesuku, apalagi sedarah. Kita sedang bermain amanah. Siapa yang layak paling dipercaya. Karena tuhan sudah memberikan sebuah mekanisme kepemimpinan di dunia dengan aturan manusia yang waras dan sehat akalnya.

Ndak mesti orang beriman itu pandai menjaga amanah. Ndak mesti. Tapi orang yang menjaga amanah sudah pasti adalah sosok yang meyakini pendiriannya untuk terus berkomitmen untuk dapat dipercaya orang banyak. Bukankah ini lebih luhur dari sekadar beriman?

Tapi ada satu hal dari memberikan amanah yang perlu didahulukan yaitu menjaga kesabaran atas kepercayaan yang telah kita berikan. Percuma saja jika amanah hanya sesaat dan kita sudah tak percaya lagi kepada orang yang sebelumnya kita percayai. Perlu ada mekanisme untuk menarik kepercayaan itu. Toh amanah diberikan bukan kepada sembarang orang, karena kita meyakini bahwa saat amanah diemban, maka sang penjaga amanah harus terus memperbaiki diri dan menambah kapasitasnya baik secara kompetensi maupun integritas.

Balik lagi soal tukar jadual. Juga soal titip amplop. Mereka ada karena kita memang memiliki kepentingan dan prioritas masing-masing. Jika Lei meminta hari Sabtu karena baginya akan ada cukup waktu luang untuk menulis di hari ia tak bekerja. Bagi saya, hari apapun sama saja. Kenapa saya sering titip amplop kepada teman yang akan menghadiri resepsi karena saya beranggapan ada resepsi lainnya yang jadualnya bersamaan dan lebih perlu dihadiri langsung. Bagi teman saya yang dititipi, dia akan hadir dimanapun ia diundang dan kebetulan tak ada jadual resepsi yang “bentrok”.

Dalam konteks yang lain, ini semacam memandang Ahok dari beberapa sisi. Ahok dipandang oleh orang jawa, ia etnis cina yang jadi gubernur dan was-was apakah akan mementingkan semua hak warganya tanpa kecuali. Jika dipandang orang islam, ia adalah orang kristen yang jadi gubernur dan bertanya-tanya apakah akan memberikan toleransi beragama secara wajar. Jika dilihat dari para pengusaha, ia adalah gubernur yang akan memastikan keberlangsungan usaha secara sehat atau tidak. Jika dilihat dari kacamata politikus, apakah Ahok dapat menjadi kuda hitam dan ancaman bagi perolehan suara kandidat lainnya. Bagi seorang ulama, apakah Ahok dapat mencederai keyakinannya.

Oleh karena itu, makna dari saling titip, tukar jadual dan saling percaya untuk memberikan amanah adalah bahwasanya setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda dan sangat subjektif. Adalah baik ketika perbedaan pemaknaan setiap peristiwa disikapi secara wajar. Bukan salah benar tapi saling pengertian. Bukan boleh atau tidak melainkan permakluman.

Sebuah hubungan yang sehat bagi dua pihak bukanlah hubungan yang saling memenjarakan. Apalagi jika penjara itu dibawa kemanapun kita berada. Penjara tak terlihat yang menjadikan kita membatasi diri dalam berinteraksi. Penjara yang membuat kita sulit bertemu dengan orang lain, memberikan sapaan, senyuman dan saling membuka pembicaraan.

Percaya saja. Jauh lebih baik kita saling bergantung dengan orang lain daripada kita berusaha mati-matian hidup mandiri dan mengasingkan diri. Pertama yang perlu kita coba adalah saling bergantung rasa percaya dan menitipkan rasa riang gembira pada hati orang lain di sekitar kita.

Salam hangat di hari jumat.

Roy

 

 

 

 

 

Kaka

Media massa seharusnya tak berpihak pada rezim, partai, atau kepentingan manapun. Birokrasi juga. Ia mesin bagi sebuah kendaraan. Siapapun sopirnya sekarang ia harus terus bergerak. Non partisan, tapi manut pada majikan.


Beberapa tahun lalu atau mungkin belasan tahun lalu, ketika anak pertama saya masih kecil, dan saat ibunya pergi kuliah, saya memandikan anak saya di sore hari. Mungkin usia Kaka saat itu masih dua tahun. Salah satu hal yang tidak bisa saya lakukan dengan cakap adalah menyeka basah tubuhnya dengan handuk. Mengapa? Karena ternyata saya sendiri pun hingga saat ini ndak bisa handukan dengan baik dan benar. Masih saja ada bulir air yang menempel. Entah di bagian belakang paha, punggung atau betis. Karena dalam pikiran saya, toh nantinya akan mengering sendiri.

Setelah mandi, saya akan mengambil handy cam dan mengabadikan momen berdua ini. Saat itu kami belum sanggup menyewa jasa pembantu. Kami hanya bertiga. Saya akan mendokumentasikan caranya meminta susu, lalu menerima botol, dan menyedotnya hingga tandas. Saya ingat betul saya seringkali kehabisan susu kaleng karena tingkat komsumsi Kaka begitu mumpuni. Satu kaleng 400gr hanya beberapa hari saja. Hasilnya, usia 3 tahun anak saya bobotnya 25 kg. Obesitas? Bisa jadi. Giginya juga keropos karena kandungan gula yang dikandung susu kalengan ini. Saat itu justru saya bangga memiliki anak gembrot. Padahal dalam hati kecil saya, anak ini memang terlalu berlebihan bobot tubuhnya.

 

Kegiatan berdua ini dilalui hingga beberapa tahun. Terkadang saya iseng mengenakan pakaian yang bukan milik Kaka. Saya berikan kaos milik saya. Kaka secara seketika berubah menjadi si Unyil. Bayi dengan baju kegedean. Mirip orang-orangan sawah. Saya tertawa. Dia tidak. Saya senang. Dia biasa-biasa saja. Atau mungkin juga senang tapi tidak tahu cara mengungkapkannya. Bisa jadi, bagi dirinya saya sudah kenakan baju dan dia tak kedinginan sudah cukup. “Terima kasih Ayah”, mungkin itu yang akan diucapkannya. “Sama-sama Kak”, balas saya dalam hati.

Salah satu hal yang menyenangkan lainnya adalah Kaka menyukai kegiatan membaca. Jadi usai mandi dan bersih-bersih, sisiran dan kenakan minyak telon serta bedakkan, saya akan ambil majalah atau koran atau buku atau komik atau apapun yang sekiranya bisa dikunyah sore itu. Saya akan berikan dia buku dan saya baca koran. Kami sama-sama membaca. Bedanya ia masih menerka-nerka. Saya diam-diam memperhatian dia yang sedang memperhatikan saya apa yang harus dilakukan dengan benda seperti buku dan majalah di hadapannya itu. Ternyata ia menyimaknya dengan seksama. Melihat gambar dan akan menowel atau memanggil saya jika ada bagian dari halaman yang menarik.

“Uyungggg…”, sembari menunjuk gambar sekawanan burung dara di plaza sebuah kota eropa. “Alon!” saat melihat balon. “Jah, lapah, limau, mamam”, saat melihat padang savana afrika. Kegiatan yang tak terlupakan. Bahkan saat itu dia sudah dapat memegang koran dengan baik. Dua tangan yang memegang dia sisi lembar koran. Saya tertawa jika menyksikan pose ini. Seorang anak kecil yang seolah-olah sedang takzim membaca peritiwa dunia.

Hasilnya cukup lumayan. JIka di akhir pekan kami sempat jalan-jalan, Kaka akan banyak menyeret ayahnya untuk ke Periplus. Atau Gramedia. Koleksi bukunya hampir mengalahkan koleksi ayahnya. Semua buku dilahapnya dengan sempurna.

Zaman berkembang, selain melahap buku, sekarang ia malah lebih rajin melahap pulsa dan quota.

Media massa seharusnya tak berpihak pada rezim, partai, atau kepentingan manapun. Birokrasi juga. Ia mesin bagi sebuah kendaraan. Siapapun sopirnya sekarang ia harus terus bergerak. Non partisan, tapi manut pada majikan.

Kalimat pembuka sekaligus penutup  di atas adalah kalimat yang pernah saya baca entah judulnya apa, kapan dan dimana, tapi yang saya ingat adalah saya membacanya bersama Kaka, pada suatu sore yang manja.

 

salam anget,

Roy Handukan

 

Ada 11 Hal Yang Bisa Membuat Bahagia

Beberapa hari yang lalu, saya menulis sebuah post singkat di akun salah satu media sosial pribadi. Kurang lebih maksud tulisan saya itu begini:

“Ternyata semakin berumur, level kebahagiaan gue gampang diraih. Atau justru makin rendah? It does not take much to make me happy. Barusan gak ngantri pas beli pecel di tempat yang biasanya ngantrinya lama aja, bisa tiba-tiba seneng banget.”

It seems trivial. Tapi namanya rasa bahagia, ternyata tidak ada bisa yang tahu datangnya kapan. Dan entah ada angin dari mana, tau-tau ada perasaan senang.

Lalu saya mengingat lagi hal-hal kecil yang terjadi selama sepekan terakhir. Dari tulisan minggu lalu, sampai ke tulisan minggu ini. Ternyata banyak hal-hal kecil yang membuat saya senang saat semuanya terjadi.

(Courtesy of frequencyriser.com)

(Courtesy of frequencyriser.com)

Mungkin bukan sesuatu seperti ‘you walk to stop and smell the roses‘, karena bagaimanapun juga, susah juga jalan di Jakarta dan membaui bunga mawar di pinggir jalan, yang hampir tidak pernah ada. Tetapi mengambil perumpamaan yang sama, ada cukup banyak kejadian sederhana yang, paling tidak, menghadirkan senyum sejenak:

  1. Tidak perlu antri makanan sama sekali, padahal biasanya bisa antri 20 menit-an.
  2. Dapat supir Uber atau Grab yang tahu jalan, sehingga saya bisa sempat tidur sejenak di perjalanan.

  3. Menonton bioskop dalam keadaan tenang, karena di sekeliling tidak ada penonton yang berisik dan menyalakan gadget sepanjang film.

  4. Punya waktu untuk berolahraga yang cukup.

  5. Karena sudah berolahraga, tidur bisa kembali normal ke 7-8 jam di malam hari.

  6. Karena tidur cukup, maka sudah beberapa minggu ini tidak sakit, di saat cuaca tidak menentu.

  7. Menyelesaikan membaca buku.

  8. Bertemu langsung dengan kawan, dan tertawa bersama.

  9. Berhasil membuat playlist lagu-lagu yang menemani tidur.

  10. Tagihan telpon berkurang sampai 65%.

  11. Menemukan tontonan-tontonan televisi/streaming baru yang menyenangkan.

Tentu saja, ada saatnya nanti semua hal di atas ini berbalik 180 derajat, sehingga yang ada saya menyumpah serapahi hari-hari saya.
Jangan khawatir. Semuanya pernah terjadi. Tapi yang jelas, tulisan ini bisa saya baca lagi nantinya, sebagai pengingat bahwa saya pernah mendapati hal-hal kecil yang, tanpa bisa dijelaskan lebih panjang lagi, bisa membuat saya bahagia.

Sometimes it doesn’t take much to make us feel inexplicably happy.

But if you have to list those down, what’s yours?

(Courtesy of fractalpanda.com)

(Courtesy of fractalpanda.com)