Mereka-reka Mimpi

Kita semua punya mimpi.
Atau paling tidak, kita semua pernah punya mimpi.

Mimpi yang tidak hanya sekedar hadir saat kita tidur terlelap. Mimpi di sini lebih berbentuk cita-cita, keinginan, asa, harapan, yang semuanya kita inginkan bisa terjadi secara nyata dalam hidup.

Kita sudah terbiasa punya mimpi sejak kita masih kecil.
Mimpi punya mainan yang paling canggih seperti yang kita lihat di televisi.
Mimpi punya kakak, adik, atau saudara yang bisa menemani kita bermain.

Lalu para tetua kita mulai menanamkan impian-impian mereka sehingga kita bisa menerimanya seolah-olah menjadi impian kita sendiri.

Mimpi masuk sekolah yang bagus, sekaligus mimpi bisa lulus dengan nilai sempurna.
Mimpi mendapatkan pekerjaan yang baik dan mapan.
Mimpi bisa bertemu jodoh dan menjalin hubungan penuh kemesraan tanpa kekhawatiran.
Mimpi bisa membina rumah tangga yang langgeng sampai akhir hayat.

Beragam cara dilakukan dalam mengejar mimpi, atau dalam melakukan usaha-usaha agar setiap mimpi bisa terwujud.
Berbeda orang, berbeda caranya. Berbeda mimpi, berbeda caranya.

Ada yang punya rencana cadangan di setiap mimpi yang dituju. Tujuannya, agar saat mimpi yang dicita-citakan tidak terwujud, masih ada rencana cadangan lain yang bisa diwujudkan.

Ada yang tidak punya rencana cadangan, karena tidak memungkinkan punya rencana cadangan lain untuk mimpi yang dikejar. Dengan prinsip “high risk means high return or high loss”, pemimpi dan pemilik impian seperti ini sadar bahwa saat impian tak terwujud, maka kehampaan yang akan menimpa.

Dan sesadar-sadarnya akan kemungkinan tersebut, toh rasa sakit masih menerpa dan begitu terasa.

(source: phomix.com)

Seorang teman, sebut saja namanya Bendy karena dia penggemar kelas kakap aktor Michael Fassbender, baru-baru ini cerita kepada saya tentang sebuah mimpinya yang kandas. Sebuah mimpi, yang menurut saya cukup besar, yang memang akan mengubah hidupnya. Tapi nyatanya, mimpi cuma sebatas mimpi.

Saya baru tahu kalau dia punya mimpi tersebut setelah dia cerita kepada saya cukup lama sesudah kenyataan pahit itu terjadi.

Saya bertanya, bagaimana dia menghadapi kegagalan mimpinya.

Dia cuma mengangkat bahunya. “Well, life goes on, right? I have to be fine. I was not.”

Maksudnya?

Dia menghela nafas. “Life does not wait for you. Your loss, your pain, your suffering. Life still keeps going on, it does not pause to function, to wait until you get better. So you pick up yourself, slowly. Then you catch up with the world, again.”

Saya tersenyum.

(source: stamhuis.nl)

Dia melanjutkan tanpa saya tanya lebih lanjut. “Sure, I was hurt. Disappointed. Devastated. I don’t have a back-up plan, because there is no back-up plan. It’s like, you are about to get married, then you don’t, because the one you are about to married to decides not to. And your back-up plan is, what, marry someone else you secretly keep as a back-up plan? No, right? You just do not become a married man, that’s all.”

Saya mengangguk pelan, masih dalam diam.

“You know what’s funny?”

Apa?

“When chasing your dream and making it happen, you are so busy chasing it with great details and meticulous plan, that you forget your surrounding. You forget your present reality, because you are filled, even obsessed, with your future plans. You start planning this and that, and you just forget tending your present need. Your mind, your energy, your concentration, everything you have, you just “throw” it all away to uncertain future. And when the uncertainty bursts out to failure, boom!”

(source: mindbodygreen.com)

Kepalan tangan kanannya menirukan gerakan bom yang meledak di udara, lalu pelan-pelan bergerak ke atas, sebelum jatuh perlahan ke meja tempat kami meletakkan gelas-gelas dan piring-piring kami.
Dia mengangguk sambil menerawang, sambil mengetukkan jari-jarinya.

“I was mad. So mad, you have no idea.”

Dalam hati saya ingin berkata kalau saya kira-kira tahu bagaimana kalau dia lagi ‘gila’, tapi saya diam saja.

“Then I realized something. I was angry, so angry, that I begin to think, that maybe the dream I wanted was not meant to happen. Because look at the way I behaved when I did not get it! I couldn’t begin to imagine if, while living the dream, I could get this mad because something does not work the way I plan. Will I be this mad? Will I endanger other people? No. I can’t afford that to happen.”

Saya mengangguk lagi.

“I have to accept the fact that maybe it was not meant to be. Call it the destiny, the fate, or what have you, but the one dream I chased so hard will never be mine. I’m sorry I talk to you in circles like this.”

Saya tersenyum. Saya bilang kalau saya cuma bisa mendengarkan.

“Thanks. That’s more than I can ask, really. Because it’s hard to accept failure. And before you console, comfort, or whatever, just bear with my insistence that not getting a dream come true is a failure in my life. So yeah. We’re not built to accept failure, to understand in others that failure often happens.”

Oke, saya tidak akan mempertanyakan. Tapi kalau boleh tahu, rencanamu apa sekarang?

“Frankly, I don’t know. Like I told you, I was busy planning the plans for the dream to happen, when it was supposed to happen, that I overlook the present time. Now, I guess I have to look for and build another dream. It’s a work in progress.”

Apanya yang work-in-progress?

“Life. Life is always a work-in-progress. Don’t you think?”

Kembali saya mengangguk pelan.

Dan mungkin sambil menuai mimpi yang lain, kita menjalani hidup.

Karena mimpi tak bisa hadir kalau kita tidak hidup.

(source: joelcornett.com)
Iklan

13 thoughts on “Mereka-reka Mimpi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s