Nafsu

Salah satu tujuan kemoterapi pada para survivor leukemia adalah menghambat dan menghilangkan sel kanker yang berada di dalam tubuh. Salah satu efek samping yang sering diderita adalah nihilnya jumlah leukosit dalam darah sehingga jumlahnya yang tadinya meningkat drastis menjadi tiada. Hal ini tentunya berakibat menurunnya kekebalan tubuh dan mempermudah infeksi karena tak ada autoimun yang melindungi tubuh dari serangan kuman, virus, bakteri sebangsanya. Juga jumlah trombosit yang berangsur turun sehingga pengentalan darah sulit dikendalikan dan pada gilirannya tubuh mudah pendarahan.

Sebut saja namanya Dee. Rekan kerja saya ini beberapa bulan yang lalu didiagnosis memiliki gejala leukemia dalam jaringan tubuhnya. Hingga minggu kemarin, Dee telah menjalani dua kali kemoterapi. Rambutnya rontok. Bobot tubuhnya turun drastis. Dari 60 kg, saat ini bobotnya 39kg. Untungnya Dee orang yang ceria. Penuh semangat dan pandai menghibur diri.

Ketika bicara soal leukosit atau sel darah putih, entah kenapa saya justru teringat dengan bulan suci Ramadan. Saya beranggapan bahwa leukosit ini serupa hawa nafsu dalam diri setiap manusia. Selalu ada, dan perlu. Kehadiranya wajib. Tak mungkin dihilangkan karena justru akan membahayakan. Namun jika sulit dikendalikan, juga akan menenggelamkan manusia dari kesehatan jiwa.

Puasa bukanlah cara untuk menghilangkan nafsu. Melainkan belajar untuk mengendalikannya. Puasa menjadi semacam kemoterapi bagi jiwa-jiwa manusia untuk menekannya menjadi seminimal mungkin, pada waktu tertentu saja.

Bagaimana jika sel darah putih tak ada? Infeksi menjadi jadi. Tubuh menjadi rentan terhadap serangan. Sama halnya dengan nafsu. Jika tak ada nafsu, hidup pun tak bergairah. Nafsu makan. Nafsu syahwat. Nafsu melanggengkan kelangsungan hidup manusia. Ia menjadi bergairah. Memiliki gairah untuk melakukan sesuatu dan menjalani hidup dengan dinamis.

Memang sepertinya ada yang janggal dari fenomena darah ini. Juga janggal dengan fenomena nafsu ini. Manusia dilahirkan dengan membawa fitrah memiliki ini tanpa kecuali. Adanya nafsu seolah-olah bukan berarti hal buruk. Nafsu itu perlu. Kita hanya dapat mencintai apa yang sudah diakaruniakan olehNya. Belum tentu yang buruk adalah buruk dan yang terlihat baik adalah baik. Bahkan ketika hal itu dianggap sebagai celaka. Sebagai adzab dalam pengertian tasawuf.

Haidar Bagir, saat menerangkan tafsir Muhamad Asad menulis demikian:

Alasannya mudah diduga. Dalam surah yang sama, Allah menyebut bentuk-bentuk siksa neraka tertentu sebagai âlâ’ berarti karunia (QS Al-Rahmân [55]: 36-37). Bagaimana mungkin ‘adzâb diidentikkan dengan nikmat? Dalam hal ini, sifat eksklusif rasional tafsir Asad rupanya telah menghalanginya untuk melihat kemungkinan makna lain. Dalam hal ini menurut kacamata metode takwil tasawuf. Ya. Jika dilihat dari sudut pandang ini, persisnya dari sudut pandang “takwil kasih sayang” (hermeneutics of mercy) ala Ibn ‘Arabi, tak sulit untuk melihat sisi lain ‘adzâb sebagai nikmat yang lahir dari kasih sayang Allah. Bagaimana bisa?

Sebelum yang lain-lain, kata ‘adzâb berasal dari kata ‘a-dz-b, yang bisa membentuk kata ‘adzib, berarti “rasa manis yang menyegarkan”. Demikian pula kata nâr (neraka) memiliki akar kata yang sama dengan nûr (cahaya). Bedanya, nâr memiliki sifat panas-membakar. Tapi, sifat-dasarnya menerangi dan menunjukkan jalan yang benar.

Dengan kata lain, meski panas-membakar, siksa berfungsi untuk memberi petunjuk kepada orang-orang berdosa, untuk menyucikan mereka dari dosa-dosa mereka. Tujuannya tidak lain adalah untuk mempersiapkan mereka kembali kepada-Nya, masuk surga-Nya. Itu sebabnya, siksaan—sebagaimana diungkap dalam ayat-ayat Surah Al-Rahmân yang dikutip sebelumnya—layak disebut sebagai nikmat.

Di bulan suci yang penuh kasih sayang ini, adalah kesempatan kita untuk belajar menahan. Bukan belajar untuk menghilangkan.

Sama seperti yang rekan saya yakini. Dee menganggap leukemia yang ada dalam tubuhnya adalah cobaan semata. Menjadikan dirinya lebih mawas diri. Menjadikan dirinya lebih mendekatkan diri pada yang Maha Suci.

“Karena luka adalah tempat di mana Cahaya memasukimu”

     -Rumi-

Selamat menunaikan ibadah pengendalian hawa nafsu. Menundukkan diri kepada kepatuhan semata karena dan kepada-Nya.

salam anget,

roy

Advertisements

Leave a Reply