Fitting In.

I always feel like I do not fit where I am. It’s like a very loud noise at the back of my mind “You don’t belong!”

Physically, I was always- and still, out of place. My skin colour was never the majority of wherever I’ve been. It always seems to be the “wrong” one. Not white enough, not dark enough, not pale enough, not yellow enough, etc.

My attire and my general look have been described as not according to what my sex would traditionally wore. Hence, my sexuality has also been brought to question by some during the course of my life and became a topic of mockery for some poorly raised kids back in my school days.

My demeanour also does not conform with the unspoken social regulations on where I used to live. I was raised by parents who was conventional enough in my early years to belittle younger human being as “you know nothing” or “kids should let the adults do the talking” and my thoughts and opinion being dismissed accordingly. Lucky enough at some point of life, a foreigner that was our neighbour broke through my parents and took me seriously. 20 years older than me, he would stop whatever he was doing and listen to what I was saying, probing more questions, challenging me to elaborate further in a language that I was not familiar with in my formative years. He proceed with addressing what I said, responding accordingly and continues to discuss further despite my lack of eloquence then. For a good 3 years, I was taken seriously as a human being with thoughts, ideas and opinion that should be judged by its merit, not by the size of my body or the time that I have walked the earth. My parents digress and, to a certain extent, let me be who I am in the family.

While this helped a lot in my confidence when communicating, it does not proof to be a benefit in me conforming socially. My way of saying what I think, expressing my opinion, challenging misconception or misperception by older generations have been a constant problem even to this day. My way of communicating has been deemed “lack of respect” and deserves a slap or two to teach me a lesson that I was in the wrong. And I was told I deserve no apologies for the physical hurt I suffered from the stinging words that I uttered.


Now that I am my own person, living outside home, making my own living, I know better to adjust accordingly. When it comes to work and money making responsibility, I know that I have to conform to the rules and regulations and certain social arrangements accordingly and I do that consciously and willingly since I have bills to pay and a lifestyle to finance.

But my personal relationship is a different matter altogether. I am no longer required nor willing to endure my time outside working hours. Few years ago I made a decision to cut off relationships that I qualify as hard work and to tell you the truth, my quality of life skyrocketed in a nick of time. I no longer commit my time regularly to people that I do not enjoy being with. I choose to spend my time alone or making effort to nurture other relationships that I enjoy being part of.
People that I do not have to restrain myself from.
People that knows who I am actually and get along with, instead of expecting me to be someone else.
People that I would go leaps and bounds for to ensure that the relationship is good.

But even with that being said and done, I realised that the ghost of my past still haunts me. Those boxes that I thought I have left behind, still dictates my general conduct unconsciously these days.

Do I approach first? Do I buy him a drink? Do I let him buy me a drink? Is it okay to express how I feel? Is it too much if I initiate contact? Who pays first? Who asked for second date?

What if my way of doing things disgust him?

Oh fuck it. Let’s just get it over and done with.

Thankfully, this message was not only read but also replied eventually.

Advertisements

Nafsu

Salah satu tujuan kemoterapi pada para survivor leukemia adalah menghambat dan menghilangkan sel kanker yang berada di dalam tubuh. Salah satu efek samping yang sering diderita adalah nihilnya jumlah leukosit dalam darah sehingga jumlahnya yang tadinya meningkat drastis menjadi tiada. Hal ini tentunya berakibat menurunnya kekebalan tubuh dan mempermudah infeksi karena tak ada autoimun yang melindungi tubuh dari serangan kuman, virus, bakteri sebangsanya. Juga jumlah trombosit yang berangsur turun sehingga pengentalan darah sulit dikendalikan dan pada gilirannya tubuh mudah pendarahan.

Sebut saja namanya Dee. Rekan kerja saya ini beberapa bulan yang lalu didiagnosis memiliki gejala leukemia dalam jaringan tubuhnya. Hingga minggu kemarin, Dee telah menjalani dua kali kemoterapi. Rambutnya rontok. Bobot tubuhnya turun drastis. Dari 60 kg, saat ini bobotnya 39kg. Untungnya Dee orang yang ceria. Penuh semangat dan pandai menghibur diri.

Ketika bicara soal leukosit atau sel darah putih, entah kenapa saya justru teringat dengan bulan suci Ramadan. Saya beranggapan bahwa leukosit ini serupa hawa nafsu dalam diri setiap manusia. Selalu ada, dan perlu. Kehadiranya wajib. Tak mungkin dihilangkan karena justru akan membahayakan. Namun jika sulit dikendalikan, juga akan menenggelamkan manusia dari kesehatan jiwa.

Puasa bukanlah cara untuk menghilangkan nafsu. Melainkan belajar untuk mengendalikannya. Puasa menjadi semacam kemoterapi bagi jiwa-jiwa manusia untuk menekannya menjadi seminimal mungkin, pada waktu tertentu saja.

Bagaimana jika sel darah putih tak ada? Infeksi menjadi jadi. Tubuh menjadi rentan terhadap serangan. Sama halnya dengan nafsu. Jika tak ada nafsu, hidup pun tak bergairah. Nafsu makan. Nafsu syahwat. Nafsu melanggengkan kelangsungan hidup manusia. Ia menjadi bergairah. Memiliki gairah untuk melakukan sesuatu dan menjalani hidup dengan dinamis.

Memang sepertinya ada yang janggal dari fenomena darah ini. Juga janggal dengan fenomena nafsu ini. Manusia dilahirkan dengan membawa fitrah memiliki ini tanpa kecuali. Adanya nafsu seolah-olah bukan berarti hal buruk. Nafsu itu perlu. Kita hanya dapat mencintai apa yang sudah diakaruniakan olehNya. Belum tentu yang buruk adalah buruk dan yang terlihat baik adalah baik. Bahkan ketika hal itu dianggap sebagai celaka. Sebagai adzab dalam pengertian tasawuf.

Haidar Bagir, saat menerangkan tafsir Muhamad Asad menulis demikian:

Alasannya mudah diduga. Dalam surah yang sama, Allah menyebut bentuk-bentuk siksa neraka tertentu sebagai âlâ’ berarti karunia (QS Al-Rahmân [55]: 36-37). Bagaimana mungkin ‘adzâb diidentikkan dengan nikmat? Dalam hal ini, sifat eksklusif rasional tafsir Asad rupanya telah menghalanginya untuk melihat kemungkinan makna lain. Dalam hal ini menurut kacamata metode takwil tasawuf. Ya. Jika dilihat dari sudut pandang ini, persisnya dari sudut pandang “takwil kasih sayang” (hermeneutics of mercy) ala Ibn ‘Arabi, tak sulit untuk melihat sisi lain ‘adzâb sebagai nikmat yang lahir dari kasih sayang Allah. Bagaimana bisa?

Sebelum yang lain-lain, kata ‘adzâb berasal dari kata ‘a-dz-b, yang bisa membentuk kata ‘adzib, berarti “rasa manis yang menyegarkan”. Demikian pula kata nâr (neraka) memiliki akar kata yang sama dengan nûr (cahaya). Bedanya, nâr memiliki sifat panas-membakar. Tapi, sifat-dasarnya menerangi dan menunjukkan jalan yang benar.

Dengan kata lain, meski panas-membakar, siksa berfungsi untuk memberi petunjuk kepada orang-orang berdosa, untuk menyucikan mereka dari dosa-dosa mereka. Tujuannya tidak lain adalah untuk mempersiapkan mereka kembali kepada-Nya, masuk surga-Nya. Itu sebabnya, siksaan—sebagaimana diungkap dalam ayat-ayat Surah Al-Rahmân yang dikutip sebelumnya—layak disebut sebagai nikmat.

Di bulan suci yang penuh kasih sayang ini, adalah kesempatan kita untuk belajar menahan. Bukan belajar untuk menghilangkan.

Sama seperti yang rekan saya yakini. Dee menganggap leukemia yang ada dalam tubuhnya adalah cobaan semata. Menjadikan dirinya lebih mawas diri. Menjadikan dirinya lebih mendekatkan diri pada yang Maha Suci.

“Karena luka adalah tempat di mana Cahaya memasukimu”

     -Rumi-

Selamat menunaikan ibadah pengendalian hawa nafsu. Menundukkan diri kepada kepatuhan semata karena dan kepada-Nya.

salam anget,

roy

Menata Hunian

Memutuskan untuk tinggal di tempat sendiri sejak akhir tahun kemarin, ada perasaan excited sekaligus lega jadi satu.

Excited, karena akan memulai sesuatu yang baru, dan benar-benar dilakukan oleh diri sendiri. Mengisi ruangan-ruangan dengan sebagaimana mestinya meskipun hanya bisa satu demi satu, menatanya sedemikian rupa, dan memastikan agar semua terasa cukup nyaman dan menyenangkan.

Lega, karena sesuatu yang baru tadi dimulai dari ruangan-ruangan kosong. Tidak ada perabotan lama, tidak perlu ada pemilahan mana yang akan dipertahankan dan mesti dibuang. Ini berarti lebih hemat waktu, tenaga, dan pikiran. Walaupun konsekuensinya, ada kemungkinan besar untuk mengeluarkan lebih banyak uang jika ingin menambah ini dan itu.

Kemudian, cukup terkejut ketika pertama kali terpapar dengan teknik berbenah KonMari (akronim dari Marie Kondo, nama si empunya ilmu), yang booming dan termasyhur di dunia belakangan ini. Sebab alih-alih dianggap kemampuan berdasarkan pengalaman dan perspektif personal, aktivitas beberes di rumah ternyata punya “perguruannya” sendiri. Dikursuskan, dikonsultasikan, bahkan dikampanyekan sebagai gaya hidup kekinian. Lagi-lagi, sebagai seseorang yang baru pindah tempat tinggal dan mengurus sendiri, maka tidak ada salahnya untuk mencoba menjalankan beberapa kiat berbenah ala KonMari.

Marie Kondo. Foto: Daily Republic

Setelah selesai membaca bukunya, bisa disimpulkan bahwa Marie Kondo tidak kenal atau malah memerangi konsep “mubazir”. Kiat paling mendasar yang memenuhi hampir separuh bukunya adalah membuang barang. Namun, hal ini wajar. Lantaran kondisi yang dihadapi Marie Kondo adalah rumah dan apartemen yang sudah telanjur penuh, sudah ditinggali cukup lama, sehingga barang-barang yang ada di dalamnya pun sudah berlimpah ruah. Efeknya masuk akal. Banyak yang dibuang, ruangan pun menjadi lapang. Dibuang, bukan sekadar dipindahkan.

Dalam salah satu bagian di bukunya, Marie Kondo menyatakan bahwa teknik beberesnya sangat cocok bagi orang-orang yang tinggal di Jepang dan Amerika Serikat (serta di berbagai negara maju lainnya). Alasannya, warga kelas menengah dan ke atas di negara-negara tersebut memiliki kemampuan dan dorongan berbelanja yang cenderung tinggi, serta sangat mudah untuk menjadi penimbun barang. Masuk akal.

Apabila dirasa-rasa, tampaknya ada beberapa poin yang bisa ditambahkan sebelum kiat-kiat Marie Kondo dipraktikkan. Tentu saja berangkat dari perspektif seseorang yang baru akan mengisi dan menata huniannya.

  1. Beli Barang yang Benar-benar Dibutuhkan

Secara ekonomis, langkah ini diperlukan untuk menghemat pengeluaran. Berhitung dengan cermat untuk memaksimalkan anggaran, agar tidak terkesan percuma. Yang diperlukan adalah kecermatan, bukan sifat pelit berlebihan. Toh ini membeli, bukan meminta, mencuri, apalagi mengambil barang bekas.

Demi kerapian, langkah ini diperlukan untuk meminimalisasi potensi kesemrawutan yang bisa terjadi. Merencanakan penataan secara menyeluruh, membayangkan big picture-nya, agar efektif dan efisien. Agar ujung-ujungnya, merujuk pada kiat utama KonMari …

  1. Jika Tidak Punya Banyak Barang, Apa yang Mau Dibuang?

That’s it! Mengatasi problem kesumpekan bahkan jauh sebelum masalahnya muncul. Ya … meskipun fase ini juga tetap berpotensi memunculkan ketidaknyamanan, sesuai preferensi setiap individu sih. Ada yang betah-betah saja dengan ruangan lapang dan terlihat kosong, tetapi ada pula yang lebih suka keramaian harta benda. Sebagai pertanda kekayaan, kemakmuran, kesejahteraan, dan situasi serbaada. Padahal, punya duit banyak bukan berarti harus dibelanjakan semuanya, kan?

Bagi yang masih tinggal sendirian, setidaknya bisa bebas menentukan pilihan. Lain cerita apabila tinggal bareng pasangan dengan selera berbeda. Akan ada diskusi, negosiasi, dan kesepakatan mengenai hal ini. Kepemilikan barang tak lagi perseorangan, melainkan bersama. Asalkan keduanya bisa …

  1. Konsisten

Lebih kepada konsistensi untuk menjaga kerapian, dan memerhatikan sekeliling. Setuju banget dengan Marie Kondo; serapi apa pun rencana penataan dijalankan, tetap akan berantakan tanpa disiplin. Mending kalau masih tinggal sendiri, kesalahan maupun dampaknya berasal dan dirasakan oleh diri sendiri. Mengomel pun kepada diri sendiri. Setelah tinggal bersama, bakal muncul kesalahan dan aksi lempar-lemparan. Dampak dari ketidakrapian pun bisa dirasakan orang lain.

Hal ini sebenarnya tidak gawat-gawat amat. Bagi pasangan muda, atau pasangan yang terbiasa selalu mesra, urusan begini bisa tetap berujung manis dan bukan “perang dunia”, entah bagaimana pun caranya. Hanya saja, akan jauh lebih baik bila konsistensi untuk rapi bisa menjadi kebiasaan. Diturunkan, dan diajarkan kepada generasi penerus maupun sesama. Membangun dan berbagi kebaikan. Adab, begitu orang dulu menyebutnya.

Cobain, aja.

Photo by Bench Accounting

Doanya, mudah-mudahan bisa segera punya hunian pribadi, ya … dan buat yang sedang dalam proses, semoga selalu dilancarkan.

[]

Sebaiknya Bilang Apa Saat Berbela Sungkawa?

How do you say “sorry?” Maksudnya bukan sorry minta maaf, ya. Bukan juga nyanyi lagunya Justin Bieber, tetapi berduka sungkawa. Giving condolences or sympathy.

Kalau ada teman atau saudara yang tertimpa musibah—misalnya, meninggal atau sakit keras—biasanya kita mengucapkan “Turut berduka cita, ya” atau “Sabar, ya…” atau “Alhamdulillah, nyokap lo udah nggak merasakan sakit lagi…” atau “Gue juga dulu pernah ngalamin pas blablabla…”

But I always wonder, apakah yang bersangkutan bakal beneran lega dengan “bersabar” atan mendengarkan “nasihat” serta cerita pengalaman kita? Apakah kata-kata kita tersebut beneran bikin dia lega?

Seandainya orangtua saya, anak saya, atau diri saya sendiri sakit keras, saya rasanya nggak akan langsung adem kalau disuruh “bersabar”, apalagi disuruh mendengar pengalaman duka teman, terutama saat kesedihan saya masih di tahap-tahap awal. Niat mereka pasti baik, sih. Mungkin mereka ingin menunjukkan empati mereka, dan menyatakan bahwa mereka juga pernah mengalami kesedihan yang “sama”.

But, no. Every sadness is very different, dan kenapa pusat pembicaraan ini jadi berputar ke kamu, wahai kawan?

Oke, kalau kita lagi kena musibah, mungkin yang “seharusnya” kita lakukan memang bersabar dan berdoa—seperti kata berbagai ucapan belasungkawa dan nasihat yang kita terima. Namun pada praktiknya, kita nggak selalu bisa begitu. Kadang kita pengennya ngamuk, banting piring, nangis, teriak, dan jujur aja, merasa Tuhan nggak adil. Merasa cara kerja Tuhan terlalu misterius untuk dipahami. Kadang kita pengen bilang ke teman dan keluarga seisi chat group yang memberikan belasungkawa…

“Sabar, sabar… palelo sabar! Kayak paham aja lo! Dan lo yakin darimana, nyokap gue udah nggak merasa sakit lagi?!”

Normal dan manusiawi banget.

Tetapi saya pribadi juga nggak tahu, ekspresi simpati dan belasungkawa seperti apa yang tepat untuk disampaikan ke teman atau kerabat dekat, saat dia sedang mengalami kesedihan mendalam. Sehingga saya beneran selalu bertanya-tanya—how do you say “sorry”?


Post ini terinspirasi oleh beberapa teman dekat yang anggota keluarganya sedang sakit keras dan meninggal baru-baru ini. Juga oleh desainer kartu ucapan Emily McDowell, yang selalu membuat kartu ucapan simpati dengan kalimat-kalimat yang sangat jujur. There should be Indonesian versions of them.

[]

 

Penulis: LaiLa Achmad.

Tulisan serupa dimuat juga di blog pribadinya, letthebeastin.com

Rasa Bangga itu Pasti Tersirat

Ada cerita menarik dari seorang teman. Cerita lama, yang terjadi waktu dia berlibur hampir satu dekade yang lalu.

Waktu itu, dia mengambil cuti lama untuk pergi ke beberapa negara di Eropa. Cukup pantas rasanya dia melakukan perjalanan ini, setelah kerja beberapa tahun di sebuah perusahaan barang konsumsi. Dan dia terlihat sangat menyenangi pekerjaannya ini. At least, itu yang kami lihat dari luar. Buktinya, dia betah bertahun-tahun.

Ternyata, something happened di saat liburan itu. Something big, sampai dia memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya. Dan tak cuma keluar saja. Dia pun banting setir pindah ke industri yang berbeda sama sekali.

Kami memang jarang bertemu satu sama lain. Namun rasa penasaran membuat saya menyempatkan untuk mengajaknya ketemu dan ngobrol, setelah dia pindah ke kerjaan barunya selama beberapa waktu.

Saya tanya, apa yang sebenarnya terjadi di waktu liburannya.

western-emmet-500x500

“Liburan gue seru, mak. I mean, considering gue sebenarnya lebih sering ke pantai, berenang, sampai diving, ih ternyata gue bisa juga menikmati jalan-jalan ke bukit, gunung, walaupun dingin banget! Ya itung-itung suasana baru.”

“Nah, kan gue pindah-pindah negara tuh. Di salah satu negara, gue stayed agak lama, karena ada temen gue yang tinggal di situ. Terus di salah satu hari, gue diajak ngopi, ketemu ama temennya temen gue. Ngobrol nyante2 aja. Dia nanya, kerjaan gue apa di Jakarta. Ya biasa lah, bok, kalo kenalan, kan ya pasti ditanya, “What do you do for living?” gitu. Ya gue jawab aja, kerjaan gue apa. Udah berapa lama di kantor gue sekarang. Kerjaan itu ngapain aja.”

“Tapi anehnya nih ya, entah kenapa, semakin gue menerangkan kerjaan gue, kok gue semakin gak convincing menjelaskannya. Semacam kayak ada hesitancy gitu, kayak ragu-ragu. Padahal ya selama ini kalo ditanya orang tentang kerjaan, gue lempeng aja jawabnya. Ya gak sampe berbusa-busa ngomonginnya, tapi ya biasa aja responnya. Begitu ini, pas gue menerangkan in detail, kok rasanya malah I started doubting myself.”

“Terus gue cukup sering menghabiskan waktu sendirian di sana. Temen gue kan juga masih kerja ya sehari-hari. Gue mikir, apa ini karena gue lagi di luar negeri, di luar comfort zone, makanya gue bisa mikir yang aneh-aneh.”

Aneh-aneh?

“Ya maksud gue mikir lebih dalam lagi, apa iya selama ini gue bangga ama kerjaan gue. Padahal ya there is nothing wrong about the work that I do. Lha wong kerjaan halal juga. Marketing lho. Dan ya, don’t get me wrong ya, bok, tapi elo juga tau kan that I’m pretty good at what I do. Cuma kenapa masih ada feeling hesitant waktu gue harus menjelaskan ke orang kerjaan gue apa, itu yang bikin bingung.”

minecraft-steve-clipart-mc-man-minecraft-steve-by-00qieh-clipart

“Akhirnya gue bikin check list, kira-kira apa aja yang membuat gue punya keraguan ama kerjaan gue. Bener-bener check list asal aja, gue tulis mulai dari masa depan industri gue sekarang, sampe yang printilan macem suasana kantor, ama gimana rumah gue kalo pas gue tinggal pergi jauh.”

“Ternyata setelah berhari-hari mikir dan bikin check list, akhirnya ketahuan, kalo deep down, gue sebenarnya ragu, apakah kalau emang gue semakin maju dengan karir gue sekarang, gue bisa menghabiskan waktu lebih banyak ama keluarga gue. Anak gue kan sendirian ya, bok, terus ortu gue juga udah semakin tua. Dan kayaknya makin ke sini, kerjaan kok makin menyita waktu gue, meskipun ya I make a good living out of it.”

“Keliatannya simpel emang, kita kerja karena ya kita perlu uang untuk hidup. Tujuan kerja emang buat hidup kok, gue setuju itu. Cuma yang namanya bangga ama kerjaan itu, menurut gue ya, elo gak bisa bohong, gak bisa ditutup-tutupin. Kecuali emang elo aktor paling jago sedunia ya, hahahaha … But most of the time, you cannot fake it. You are either genuinely proud of what you do, or you’re not.

“Sebagian besar dari kita emang gak beruntung bisa ngerjain apa yang kita suka. Dan justru memang kita harus menyukai apa yang kita kerjakan, apapun itu, to survive. Tapi kalau emang ada kesempatan untuk mengerjakan apa yang elo suka, go for it. Selama elo bisa, selama elo gak ada tanggungan, kayak elo sendiri ‘kan ya, bok, so just go for it. Dan jangan kebanyakan hutang, kecuali hutang KPR ama modal usaha! Hehehe.”

(from jenningswire.com)

(from jenningswire.com)

Kami melanjutkan obrolan sampai sore tiba. Setelah itu, pertemuan kami sebatas memberi komentar di status media sosial masing-masing. Kami belum pernah bertemu lagi. Yang saya dengar, dia pun sudah berganti pekerjaan lagi dari pergantian saat kami berjumpa.

Namun saya masih terngiang pesannya, bahwa unless you’re really good at faking it, you cannot fake your pride of your job.

Are we?

Dor!

Berhubung saya masih sepertiga jet-lagged, jadi kali ini saya biarkan teman-teman saya yang bercerita ya.

Satu

Me: “Deg-degan gak waktu pacar nembak elo dulu?”
KL (teman, 33 tahun): “Deg-degan lah, gila!”
“Berapa lama dari deket sampe akhirnya berani ngomong?”
“Kayaknya 3 mingguan deh.”
“Lumayan lah ya. Ngomongnya gimana?”
“Kalo gak salah waktu itu dia ngajak makan. Makan malem kalo gak salah. Kita abis kelar nonton. Udah sering jalan bareng waktu itu. Kan beberapa kali ama elo juga.”
“He eh. Trus?”
“Ya udah. Dia ngajak makannya di food court aja, dong. Ya gak masalah sih kalo sekedar makan doang. Mana gue pesennya pake pete lagi kayak biasanya. Sumpah bukan model kencan yang gimana-gimana gitu. Asli. Abis udah nyaman banget. Eeeh kok dia ngomongnya udah mulai menjurus.”
“Hahahaha. Elo salting?”
“Ya salting gak salting. Gue makan aja sambil dengerin, sambil nanggepin. Tapi dalam hati, gue cuma “oh my God, oh my God, oh my God, please, please, please, jangan ditembak di tempat kayak gini, please, please, please …” Itu di food court di parkiran mall soalnya. Hahahaha.”
“Huahahaha. Toh akhirnya dia ngomong juga?”
“Ya iya lah. Ngajak jadian, trus ya ketawa bareng. Jadi ya kalo ditanya orang, gue jadian di mana, di food court parkiran mall. Udah gitu sekarang food courtnya udah gak ada, jadi gue gak bisa site visit kalo lagi mau nostalgia. Hahahaha!”

showimage-ashx

Dua

Me: “Deg-degan gak waktu elo nembak pacar dulu?”
ED (teman, 34 tahun): “Lumayan, tapi gak sampe bikin gelisah sih.”
“Kok bisa?”
“Abis deketinnya lama.”
“Berapa lama?”
“Ada lah 5 bulan.”
“Eh busyet. Betah amat, bro.”
“Ya abis. Dia gak agresif, gue juga gak agresif.”
“Waduh. Untung gak diambil orang lain.”
“Ya kali ah.”
“Akhirnya bisa ngomong, gimana ceritanya?”
“Ehehehehe. Jangan ketawa ya. Waktu itu malem-malem, kita keluar buat makan. Gue lagi pengen makan sate padang. Ya udah kita pergi. Makan aja biasa. Trus dia pengen kerja sebentar sambil buka laptop. Kita cari coffee shop yang masih buka.”
“Trus?”
“Gue nungguin aja dia kerja sambil baca-baca. Tiba-tiba dia bilang, “Kok aku ngerasa mual ya?” Lari dia ke toilet. Di sana muntah-muntah.”
“Waduh. Hamil?”
“Ama wewe gombel. Elo ini, ah!”
“Trus?”
“Gue panik. Gue gedor pintu toilet coffee shop. Dia buka, mukanya pucet banget. Badannya lemes. Gue bopong ke mobil, sambil minta tolong waiter beresin laptopnya. Gue rencananya mau bawa dia pulang, tapi di mobil dia malah makin pusing kesakitan. Kayaknya emang abis makan sate padang trus minum kopi itu gak recommended ya.”
“Penyesalan emang selalu datang belakangan. Kalo datang di awal namanya pendaftaran. Trus?”
“Heh! Trus ya gue bingung. Gue tanya aja ke dia, mau ke rumah sakit aja nggak. Dia cuma ngangguk, sambil berusaha tiduran. Gue langsung dong bawa ke UGD. Dan ternyata emang pencernaannya lagi bermasalah. Disuruh istirahat bentar, dikasih obat di sana. Adalah hampir sekitar 2 jam sebelum akhirnya gue anterin pulang.”
“Lho? Terus ngomongnya …?”
“Hehehehehe. Pas jalan pulang, gue becandain dia, karena dia udah berasa enakan ‘kan. Gue tanya dia, “Yang, kamu tau nggak bahasa Inggrisnya UGD?” Dia jawab, “Intensive Care Unit kan? ICU?” Trus ya gue berhentiin mobil sebentar di pinggir jalan. Gue cuma megang tangannya sambil bilang, “I see you, too.” Hiahahaha!”
“Sumpah, bro. Najis amit-amit!”
“Hahahahaha!”

50

Tiga

Me: “Deg-degan gak waktu pacar nembak elo dulu?”
FH (teman, 35 tahun): “Nah, itu dia. Gue bingung, dulu ada deklarasi jadian gak ya?”
“Deklarasi! Macem mau bikin negara aja. Kok bisa bingung?”
“Abis gak jelas, siapa yang nembak, siapa yang ditembak. Ya buat gue emang gak penting sih, cuma kalo ditanya gini, bingung juga jawabnya.”
“Hahahaha. Jadi tau-tau ngalir aja gitu?”
Not exactly like that. Kita udah deket aja, sering ngobrol. Kalo telponan suka lama banget. Dan itu masih bener-bener telpon ya, bukan chatting di Line atau WhatsApp, dan bukan pake voice call seperti Skype atau WA. Bener-bener ngobrol di telpon, berjam-jam, dan gak ngelakuin kerjaan lain.”
“Wow. Ngomong apa aja kalian?”
Anything under the sun. Bener-bener semua.”
“Berapa lama kalian seperti itu?”
Let’s see. Kenalan doang di Oktober, sepintas lalu. Trus mulai intens ngobrol sekitar akhir November. Dari akhir November itu lah, sampai awal tahun. Berarti sekitar sebulan ya?”
“Lumayan lama.”
Yes, but it doesn’t feel long. The more we talk to each other, about each other, the more we don’t know anything about each other. Dan itu membuat gue pengen lebih lama lagi ngobrol ama dia.”
“Dan akhirnya …?”
“Dan akhirnya, kayaknya abis tahun baru, kita ngobrol. Lupa siapa yang nelpon duluan, saking seringnya. As we started talking as usual, I started noticing something different. The vibe, the tone, it’s different. Gue melipir ke pojokan di luar rumah. Then we started talking about some distant future, plans. Lalu dia mulai ngasih hints about settling on someone. Entah dari mana, tiba-tiba gue bilang, “the answer is yes”.
“Eh, gimana?”
I said, “the answer is yes”. Dia diem. Dia bilang, “But I haven’t asked you any questions yet”, sambil ketawa. Dan sambil ketawa pun gue bilang, “the answer is yes. Yes to all of those things you said. To everything you said.” Dia masih ketawa. Hahahaha. Lucu kalo diinget.”
So in the end, you’re the one who proposed?
I don’t know. I don’t think so. Setelah kita berhenti ketawa, kita ngobrol lama lagi. Dia bilang, “Here’s to us.

That’s sweet.
Yes. The sweetest”.

Selamat.

SangaTips

Jika bising digital merambah hubungan personal dapat diartikan bahwa piranti elektronis dan segala fiturnya semakin melekat dalam kehidupan kita sehari-hari. Kisruh ini hadir setelah munculnya peraturan yang menyambung dunia maya dengan realita lewat UU ITE. Apa yang terjadi di layar hape dapat digubah menjadi laporan polisi. Lalu apa yang sebaiknya dilakukan oleh warga pengguna internet?

  1. Gunakan akun anonim, atau
  2. Posting seperlunya, karena
  3. Medsos bukan tempat sampah, dan ingat
  4. Hindari skrinkep postingan orang lain, serta
  5. Jangan telanjang depan kamera,
  6. Jika jurnalisme dibungkam, sastra bicara, karena
  7. Batasan privat dan publik sudah tak ada lagi
  8. Banyak hal menarik di bawah langit, misalnya
  9. Menatap binar mata lebih menarik dari sekadar menatap layar hape.

NEW FINAL WISE VISUAL-simplified

Akun anonim berguna untuk mencegah riya dan perbuatan yang dapat mengganggu kredibilitas kita. Kawan dan lawan batasannya setipis kondom. Begitu getas untuk berpikir jernih mana yang patut disuarakan. Ada baiknya lebih banyak mendengar dan membaca daripada bicara dan menulis hal-hal yang sensitif. Bukan bersembunyi dalam sebuah identitas. Melainkan akal sehat dan hati jernih tetap setia kepada tanpa pamrih.

Jika kita mengunggah sesuatu pastikan itu adalah hal yang perlu. Jangan pernah meremehkan satu karakter. “Kami” bisa jadi “kamu” hanya karena jempol terlalu tergesa-gesa menulis. Siap menjadi sial. Turut berduka dan bersuka. Nemenin dan nenenin. Konyol dan kontol. Karena akhir-akhir ini lebih banyak yang makan soang, makan bakso tahi. Juga Adzab subuh dan anjuran untuk perbanyak anal.

Medsos itu penyebar informasi yang efisien. Satu kelahiran kalimat bisa berlari kemana saja. Garis finish-nya masih misteri. Bahkan tanpa ujung. Karena medsos itu bagai energi. Terus kekal dan hanya berubah format. Kita semakin rajin saja melahirkan zombie.

Juga ndak perlu iseng punya kegemaran skrinskep postingan teman, sahabat, pacar apalagi lawan. Yang saya tahu, saat ini Tuhan sedang menimbang-nimbang apakah skrinkep bagian dari dosa kecil. Karena selayaknya pencuri, mengambil sesuatu tanpa permisi.

Telanjang juga jangan menjadi hobi. Telanjang baik secara fisik maupun secara mental. Payudara dan arogansi itu seimbang di mata netizen. Baper, caper, dan laper itu semacam ngomel sembari ngemil sekaligus ngemol. Wajah dan tubuh kita adalah tiang bendera yang harus dijunjung tinggi ketika sedang ada yang berkibar. Selfi diperkenankan tapi jangan disebarkan terlalu dini, apalagi berkali-kali.

Pun jika tak tahan lagi ingin berkomentar negatif. Lakukan dengan kiasan dan penuh metafora. Karena apapun yang kita tulis, akan ditafsirkan secara bebas oleh pembaca. Semacam sperma yang lepas di mulut rahim. Entah bagian mana yang akan membuahi telor. Kita hanya mengeluarkan. Soal akibat, siapa sih yang dapat menentukan?

Ketika televisi hadir pertama kali, maka ia menjadi ancaman karena merangsek melewati pagar rumah dan dinding kamar. Apalagi gawai dan sambungan internet. Ia hadir di genggaman. Ketika kita menulis sesuatu berarti kita membiarkan ia menjelajah ruang dan waktu hingga sumsum tulang belakang.

Ada baiknya kita kembali seperti dulu. merayakan hadirnya matahari, hempasan angin, dan debu beterbangan. Karena di bawah langit adalah hiburan nyata yang patut dinikmati. Tak ada godaan eksistensi dan kemashuran disana. Justru kerdilnya kita di sebuah titik galaksi yang melayang-layang. Kita terbang naik kendaraan bernama bumi. Sudahkah anda berkeringat hari ini?

Karena yang terbaik adalah saling tatap dan bertukar udara. Ada hal yang tak ditemukan dari sebuah layar hape. Deru nafas. Aroma tubuh. Kerling mata yang menghujam ulu hati. Sentuhan jemari pada kulit. Apalagi pagutan mesra pada bibir.

salam anget,

GusRoy

La La Land Yang Begitu Personal (Sampai Membuat Diri Akhirnya Terakui)

Selayaknya ratusan, mungkin ribuan orang, yang kuat melek hari Sabtu lalu, saya bergegas menyaksikan film La La Land di bioskop terdekat. Pertunjukan midnight show, mulainya jam 12 malam kurang beberapa menit. Supaya tidak tertidur di dalam bioskop, saya minta Dragono menemani.

Ternyata banyak teman, kenalan dan relasi yang saya jumpai di bioskop tersebut. Semuanya sama-sama sudah tidak sabar menunggu film ini hadir di layar lebar. Semuanya sudah mengaku membekali diri dengan kopi sebelumnya, atau apapun yang bisa menahan kantuk.

Toh hampir semua bekal itu tidak berguna. Saat layar dibuka dengan tulisan dan logo Cinemascope yang mengawali film, sontak saya duduk tegap di kursi. Mata terpaku. Bibir mulai tersenyum.

Lalu kamera mulai bergerak menyusuri mobil-mobil yang berhenti di tengah kemacetan jalan bebas hambatan di Los Angeles. Hampir semua orang bersimbah keringat. Seorang perempuan membuka pintu mobil. Dia mulai bersenandung. Tiba-tiba semua orang mengikuti alunan nada yang didendangkan. Satu orang mulai menari. Diikuti yang lain. Dan adegan kemacetan tadi berubah menjadi adegan pembuka film yang menakjubkan, salah satu yang terbaik di film musikal abad ini sejak overture di Nine atau lagu “Good Morning, Baltimore” di Hairspray beberapa tahun silam.

Dan sepanjang 2 jam berikutnya, mata saya enggan beranjak sedetik pun dari layar bioskop. Melihat Emma Stone dan Ryan Gosling bertemu, bercinta, bernyanyi, berdansa, bertengkar, berpisah, berfantasi, semuanya tak luput membuat perasaan kita sebagai penonton ikut melambung tinggi. Kita benar-benar masuk ke dalam dunia fantasi yang diciptakan Damien Chazelle sebagai sutradara dengan penggarapan penuh detil teliti.

Di sini saya tidak akan mengulas film ini. Seperti biasa, saya ingin sekedar berbagi perasaan. Namun berbeda dengan sebelumnya, perasaan ini akan terdengar sangat personal.

Kenapa personal?
Karena saya memilih untuk tumbuh dengan film musikal.

Sepanjang film La La Land, tanpa harus mengurangi kenikmatan menonton, dan bahkan tanpa berpikir, tiba-tiba saja saya tersenyum riang, karena tahu dari film musikal apa saja saya pernah melihat adegan-adegan yang ada di film ini. Tanpa disengaja. Tanpa niat untuk berpikir. Ternyata sudah terpatri di memori.

landscape-1468420673-la-la-land-4

Damien Chazelle memang membuat La La Land sebagai homage atau penghormatan untuk film-film musikal di abad 20. Yang saya tidak menyangka, hanya dalam satu film, dia bisa melakukan tribute sekaligus untuk film-film musikal dari tahun 1930-an sampai 1970-an.

Kontrasnya warna yang didominasi warna pastel dan gerakan dinamisnya membuat saya menjerit, dalam hati, “Ini seperti film-filmnya Jacques Demy, yang The Umbrellas of Cherbourg dan The Young Girls of Rochefort!”

Lalu pertama kali Ryan dan Emma berdansa di pinggir jalan, gerakan mereka mengingatkan saya akan film-film hitam putih Fred Astaire dan Ginger Rogers, meskipun Ryan tidak mengenakan jas dan Emma tidak mengenakan gaun penuh hiasan. Toh kemiripannya tampak terasa secara kasat mata dan kasat memori.

Bagian John Legend mengingatkan sedikit era-era rock musical tahun 1970-an macam Tommy atau The Rose.

Langit biru dan lampu jalanan seolah diambil dari susuran jalan di film An American in Paris. Saya berharap Ryan Gosling bisa berdansa seperti Gene Kelly. Memang mustahil. Gene Kelly tetaplah the best dancing actor in the world who can exude elegance, grace and manliness at the same time.

Di bagian-bagian akhir film, saya seperti kelimpungan sendiri.
Nyaris terlewat, di adegan fantasi, ada adegan pertemuan di kafe dengan dominasi warna merah, yang membuat saya kembali menjerit dalam hati, “Ini persis waktu Gene Kelly dan Cyd Charrise di Singin’ in the Rain! Terus diulang lagi di The Band Wagon!”

Berlanjut adegan kecil saat Emma dan Ryan berjalan di antara potongan karton yang menjadi latar belakang mereka, saya pun tiba-tiba teringat, “Ini ada di A Star is Born yang Judy Garland! Ada juga di Funny Face-nya Audrey Hepburn!”

Lalu pertemuan Emma dan Ryan kembali, mengingatkan akan plot film Casablanca, dan tentu saja, The Umbrellas of Cherbourg lagi.

Begitu film selesai, lampu bioskop dinyalakan, saya tak kuasa untuk tepuk tangan. Tepuk tangan yang beberapa hari kemudian saya sadari, bahwa itu ditujukan untuk diri sendiri.

Entah kapan saya mulai suka menonton film musikal. Padahal waktu kecil, akses untuk menonton film ini susah sekali. Saya tidak lahir dan besar di kota yang akses hiburan filmnya lengkap. Kalaupun ada, sewa kaset Betamax lebih sering digunakan untuk menonton film Indonesia tahun 1970-an, film silat Hong Kong, atau James Bond.

Lalu saat VCD mulai marak, pelan-pelan saya mulai tertarik dengan film-film lama. Lama-lama, mulai mencari film musikal. Tak terasa saya lebih sering menonton film musikal dibanding yang lain. Semakin tak terbendung waktu akses film secara legal saya dapatkan waktu pindah ke negara lain selama beberapa waktu.

Sengaja saya pilih mata kuliah tentang film, walaupun itu bukan jurusan saya. Sengaja saya pilih membuat paper tentang analisa film musikal buatan tahun 1960-an. Padahal itu cuma alasan saja supaya bisa menghabiskan akhir pekan di perpustakaan. Sampai akhirnya analisa saya mengerucut pada West Side Story, My Fair Lady, dan Funny Girl.

Setelah selesai kuliah, di masa-masa belum mendapatkan pekerjaan, saya membagi waktu dengan cara: pagi adalah waktu mengirimkan lamaran kerja, siang pergi keluar kalau ada interview, kalau tidak ada, ke perpustakaan kota meminjam DVD film-film lama (sebagian besar musikal tahun 1930-an sampai 1950-an), kebanyakan musikal, lalu malam menonton film-film tersebut di rumah.

Ketika akhirnya bekerja, waktu mulai berkurang. Substitusinya? Membeli DVD dan blu-ray, atau mengunduh film-film lama, lalu ditonton kalau ada waktu. Meskipun frekuensinya jauh berkurang. Meskipun semakin banyak distraksi baru yang tak pernah ada atau terpikirkan sebelumnya.

Toh semuanya muncul kembali saat menyaksikan La La Land akhir minggu lalu. Film itu semacam memberikan justifikasi, bahwa pilihan yang saya buat untuk menonton dan menyukai film-film musikal lama, finally it pays off.

Selama dua puluh tahunan baru mulai menyukai genre ini membuat saya kadang merasa left out. Tidak banyak teman yang mempunyai kesamaan yang mirip. Pilihan yang aneh, itu komentar yang beberapa kali saya dengar.

Tapi paling tidak, di saat end credit La La Land selesai, saya tidak merasa sendiri.

Saat kita menonton film, yang kita rasakan dari film itu adalah pengalaman kita sendiri. Meskipun kita menontonnya beramai-ramai atau berdua. Filmgoing is always a subjective experience. Kadang kita tidak enak kalau kita suka sama yang kita tonton, sementara teman menonton kita tidak suka. Atau sebaliknya. But in the end, you cannot cheat yourself of what you like the most.

Dan di saat itulah, di saat kita akhirnya menemukan jawaban kenapa kita menyukai apa yang kita sukai selama ini, apalagi lewat sebuah film dan sebuah pengalaman menonton yang menyenangkan, that’s when you find the magic in movies.

Thank you, La La Land.
You make your audience really Someone in the Crowd in City of Stars.

Satu Lagi

Mau curhat.

Emang selama ini enggak?

Pokoknya dengerin dulu.

Oke.

Banyakan bahasa Inggris-nya.

Sok atuh.

Go ahead dong ah.

Brisik.

Yeee.

Buruan.

Akhir-akhir ini sering muncul pertanyaan di kepala gue, whether I am relevant or not.

Maksudnya?

Hmmm … Gimana ya. Kurang lebih seperti ini. You know how the world has been lately, kan? How the world has been acting up crazy, to say the least. How we move towards conservatism and even extremism very fast.

Iya. Lalu?

Lalu ya, you know me. I am passionate about things that people hardly talk about these days. I love talking and writing about films in my own style. I love listening to music from the bygone era. I crave on articles about contemporary art. I love photography. I love books, fiction especially.
But whenever I look around, people seem to forget and steer themselves away from all of these. Suddenly people become political experts overnight. Sharing sensation, churning out opinion.

Dan gue baca lho.

twinkle-lights-for-new-years-eve

Ha? Dibaca semua?

Ya gak semua, tapi sebagian besar.

Yang bener?

Iya.

Gak elo unshare?

Enggak. Gue pengen tahu aja cara berpikir mereka, cara mereka menyampaikan pendapat. ‘Kan bisa keliatan dari cara mereka menulis, lalu membagi tulisan yang mereka ambil. Because we are all different from one another. Kalau gue cuma mau lihat yang sesuai sama minat gue, ntar dibilangnya living in a bubble lagi.

Tapi elo gak stress sendiri?

Ya emang sih, I risk my sanity kadang-kadang bacain status-status yang ‘kenceng’ di socmed gue. Hahaha.
Dan gak cuma sanity gue, tapi melihat orang-orang berlomba-lomba menyuarakan opini mereka soal agama dan politik yang panjang-panjang, membuat gue jadi mempertanyakan diri sendiri. Apa gue yang bodoh ya karena tidak paham dengan apa yang mereka tulis? And then you start second guessing yourself. If I could not participate in such conversation, am I starting to become irrelevant? Since I don’t know what or how to form an opinion about politics and religion and other so-called important matters deemed necessary untuk keberlangsungan hajat hidup masyarakat, whatever that is, do I matter?

482083nhixftp3b1

Whoa! Nyante, mas bro. Chill, dude. Dari kecil suka dangdut. Barusan nanya apa elo barusan?

Errr … Do I matter?

Of course, lah! I matter, you matter, we all matter. Gila kali elo. We matter because we come from our mother.

Timpuk ya!

Nyeahahaha. Ya masak elo ikut ngomong agama dan politik segala? Emang semua orang gak punya kapasitas masing-masing untuk hidup, apa? Dan buat hidup sendiri, emang semua orang harus ngelakuin sesuatu yang sama, apa? Kalo pake logika kayak gitu, ya semua orang jadi robot dong. Cara berpikirnya dibikin sama. Cara ngomongnya kudu sama. Sampe cara makan dan jenis kerjaannya pun sama. I don’t want to live in that world.

Tapi elo tahu kan kalo we are shifting towards that possibility?

Eittsss … Not we. But some. Kalo kita sih, justru harus avoid the possibility.

rt-12-31-12

How?

By keep on living as you are. Keep reading books. If you like to dance, keep on dancing. Keep listening to good music. Keep writing. Keep watching good films. Keep appreciating arts and photography. Form an appreciative write up everytime you encounter these. Nobody has the right to tell you how to live your life. Nobody. Ih ternyata gue lancar juga ya ngomong bahasa Inggris. Bisa sepik-sepik abis ini.

Amit-amit.

Tapi bener kan apa yang gue bilang?

That sounds dreamy. Idyllic. Utopian. Far away.

Nah, makanya itu tugas kita supaya gak bikin hal-hal itu jadi dreamy, idyllic, dan sebagainya.

Like, how?

Jadiin kebiasaan. You keep doing what you do. You keep sharing what you’ve shared. You keep performing good deeds until it becomes good habit. It’s hard, but do not let the anger in social media ruins you. Read it, look at it, and remember to take a deep breath after you read such before you act. Sumpah asli ngomong terus-terusan nanggepin elo bikin gue jadi motivator karbitan abis ini.

Hihihi. Banyak tuh orang-orang yang lagi perlu dimotivasi. Elo jadi terkenal ntar.

Ogah. Cukup dikenal aja, gak sampe terkenal.

img_8547_2

Whatever.

Jadi udah curhatannya?

Kesimpulannya gimana?

Yeee … Dari tadi gak nyimak.

Susah konsen. I keep thinking of how crazy the past year is. Was.

Tapi elo dan gue akhirnya survive kan?

We do. Hmmm. Yeah. F***, we do survive this year!

Cheers to 2017, bro? Sis? Manggil elo gimana, sih?

Cheers to 2017, best friend!

Ada 11 Hal Yang Bisa Membuat Bahagia

Beberapa hari yang lalu, saya menulis sebuah post singkat di akun salah satu media sosial pribadi. Kurang lebih maksud tulisan saya itu begini:

“Ternyata semakin berumur, level kebahagiaan gue gampang diraih. Atau justru makin rendah? It does not take much to make me happy. Barusan gak ngantri pas beli pecel di tempat yang biasanya ngantrinya lama aja, bisa tiba-tiba seneng banget.”

It seems trivial. Tapi namanya rasa bahagia, ternyata tidak ada bisa yang tahu datangnya kapan. Dan entah ada angin dari mana, tau-tau ada perasaan senang.

Lalu saya mengingat lagi hal-hal kecil yang terjadi selama sepekan terakhir. Dari tulisan minggu lalu, sampai ke tulisan minggu ini. Ternyata banyak hal-hal kecil yang membuat saya senang saat semuanya terjadi.

(Courtesy of frequencyriser.com)

(Courtesy of frequencyriser.com)

Mungkin bukan sesuatu seperti ‘you walk to stop and smell the roses‘, karena bagaimanapun juga, susah juga jalan di Jakarta dan membaui bunga mawar di pinggir jalan, yang hampir tidak pernah ada. Tetapi mengambil perumpamaan yang sama, ada cukup banyak kejadian sederhana yang, paling tidak, menghadirkan senyum sejenak:

  1. Tidak perlu antri makanan sama sekali, padahal biasanya bisa antri 20 menit-an.
  2. Dapat supir Uber atau Grab yang tahu jalan, sehingga saya bisa sempat tidur sejenak di perjalanan.

  3. Menonton bioskop dalam keadaan tenang, karena di sekeliling tidak ada penonton yang berisik dan menyalakan gadget sepanjang film.

  4. Punya waktu untuk berolahraga yang cukup.

  5. Karena sudah berolahraga, tidur bisa kembali normal ke 7-8 jam di malam hari.

  6. Karena tidur cukup, maka sudah beberapa minggu ini tidak sakit, di saat cuaca tidak menentu.

  7. Menyelesaikan membaca buku.

  8. Bertemu langsung dengan kawan, dan tertawa bersama.

  9. Berhasil membuat playlist lagu-lagu yang menemani tidur.

  10. Tagihan telpon berkurang sampai 65%.

  11. Menemukan tontonan-tontonan televisi/streaming baru yang menyenangkan.

Tentu saja, ada saatnya nanti semua hal di atas ini berbalik 180 derajat, sehingga yang ada saya menyumpah serapahi hari-hari saya.
Jangan khawatir. Semuanya pernah terjadi. Tapi yang jelas, tulisan ini bisa saya baca lagi nantinya, sebagai pengingat bahwa saya pernah mendapati hal-hal kecil yang, tanpa bisa dijelaskan lebih panjang lagi, bisa membuat saya bahagia.

Sometimes it doesn’t take much to make us feel inexplicably happy.

But if you have to list those down, what’s yours?

(Courtesy of fractalpanda.com)

(Courtesy of fractalpanda.com)

Tantang(an) Lajang!

Kalau ada satu makanan yang sangat saya suka, namun tidak bisa sering dibeli, adalah martabak manis. Ya, martabak manis. Sebagian dari kita menyebut makanan ini dengan nama “terang bulan”.

(Sumber: ngegas.com)

(Sumber: ngegas.com)

Apakah ada alasan kesehatan tertentu, sehingga saya tidak bisa sering mengkonsumsi makanan ini? Alhamdulillah, sejauh ini tidak ada. Meskipun begitu, jujur saya akui, sering kali saya bergidik melihat takaran gula pasir dan mentega yang dituangkan dalam satu adonan martabak. Hiii, serem! Lebih baik memang tidak melihat proses membuatnya secara langsung.

Lalu, apa yang membuat martabak manis ini jarang dibeli?
Tak lain dan tak bukan adalah karena ukurannya.
Sungguh sangat tidak manusiawi untuk para lajang yang tinggal sendiri.

(Sumber: sarihusada.co.id)

(Sumber: sarihusada.co.id)

Beneran, lho!

Ukuran normal martabak manis paling kecil itu sudah cukup besar buat saya. Malah terlalu besar. Meskipun sudah dipotong kecil-kecil supaya bisa muat di dalam kotak bungkusan makanan, tetap saja jumlah potongannya banyak sekali. Sementara buat saya, cukup 2-3 potongan martabak manis sudah membuat cukup eneg.

Memang bisa saya masukkan ke kulkas, lalu dimakan keesokan harinya. Ada kesenangan tersendiri menghangatkan martabak dingin di atas wajan panas. Bunyi “kretek-kretek” dari bunga es yang ada di atas martabak itu, menyenangkan untuk didengar dan dilihat.
Tapi tetap saja, cuma 2 potong yang saya sanggup makan sambil menemani kopi di pagi hari. Sisanya? Terpaksa bertemu tong sampah. Selalu sayang rasanya membuang makanan.

(Sumber: bogasari.com)

(Sumber: bogasari.com)

Intinya, martabak manis adalah salah satu makanan yang sangat tidak single-and-living-alone friendly.

Selain makan martabak manis, ada satu kegiatan lain yang susah dilakukan oleh para lajang yang tinggal sendirian.
Kegiatan yang cukup vital untuk kesehatan, yaitu menggaruk punggung sendiri.

Susah ‘kan?
Memang sih, saya jarang mendapati rasa gatal di punggung. Cuma kadang-kadang keinginan untuk menggaruk punggung itu pasti ada. Kalau sudah begitu, kesusahan sendiri setengah mati. Paling banter cuma menggosokkan punggung di sofa.

Dan sampai sekarang, belum ada keinginan untuk membeli alat penggaruk punggung yang biasanya terbuat dari kayu itu. Soalnya kemunculan rasa gatal ini lebih jarang dari rasa lapar menahan beli martabak manis malam-malam.

Kalau sudah begitu, saya cuma bisa tersenyum kecut. Untungnya, kejadian-kejadian ini sudah terbiasa terjadi. Dan memang masih terjadi.
Apalagi di tengah begitu banyak tawaran-tawaran materi untuk yang berpasangan.

“Mau beli tiket satu lagi? Untuk film ini, buy 1 get 1 free, mas.” / “Oh nggak usah, mbak. Satu aja.”
“Ini sudah satu paket dagingnya, mas. Kalau mau beli satuan, lebih mahal, lho.” / “Gak papa, pak. Masaknya buat satu orang aja.”
“Meja untuk berapa orang, pak?” / “Satu saja, mbak.” / “Di bar atau dekat dapur atau dekat tong sampah, boleh?” / “Terserah!” (Lho kok galak?)

Memilih untuk hidup dan menjadi lajang memang harus kuat. Kuat secara ekonomi karena membayar konsumsi barang untuk diri sendiri. Kuat secara fisik, karena jatah makan banyak orang pun dimakan sendiri. Kuat secara mental, karena it’s not easy to go through your loneliness alone.
Kalau lagi nggak kuat, just smile. In any circumstances.

Termasuk senyum sendiri saat saya menonton film The Happy Ending (1969) beberapa minggu yang lalu, dan menemukan salah satu karakternya berbicara seperti ini:

Flo: Daddy, what’s marriage?

Sam: Business. BIG business. The U.S. economy depends on marriage.

Mary Wilson: Not U.S. Steel?

Sam: Marriage. Once, people saved up to get married. Now, there’s credit. Credit means buying. That means stores, shipping, buildings, factories. Marriage means sex. Beauty. Luxury. Diamonds. Furs. Perfumes. Cars. Gifts for her. Gifts for him. Gifts for them. Marriage means a home. That means painters, plumbers, carpenters, furniture, rugs, curtains, linens, silver, dishes, electric washers, driers, mixers, fixers, stoves, clocks, radios, T.V.’s – thirty billion dollars every year, just to get married… If marriage is made in heaven, a broken marriage is financial blasphemy. Bachelors, divorcees, widows are unprofitable… and that makes them Un-American.

Ah, senyumin aja.
Malah kita masih perlu banyak bantuan orang lain, justru karena kita sendiri, bukan?

😉

Daaagh, nek!

Daaagh, nek!

Baru Tahu Rasanya Sekarang …

Akhir pekan lalu, seorang teman lama mengajak saya pergi keluar untuk curhat. Kebetulan sudah lama kami tak berjumpa. Setelah disepakati waktu dan tempatnya, kami bertemu di sebuah kedai kopi di sore hari.

Meskipun cuma berdua, pembicaraan kami riuh rendah. Banyak hal yang membuat kami tertawa saat catching up dengan update seputar kehidupan pribadi masing-masing. Sampai saatnya kami mengobrol seputar kehidupan percintaan masing-masing.

“Elo lagi seeing anyone?”

“Gak ada.”

“Yang bener?”

“Iya. Udah lama nggak ada.”

“Kenapa?”

“Ya nggak kenapa-kenapa. Emang gak ada.”

Okay.”

“Elo sendiri?”

“Baru kelar.”

“Oh. Baru putus?”

Well, if you say so.”

Sorry to hear that.”

“Gak usah. Gak ada yang perlu dibikin sorry. Malah justru gue lega.”

“Eh, gimana, gimana? Was it a bad relationship?”

It was hardly a relationship, bok. He loves me, but I realize I don’t love him.”

“Oalah …”

“Tapi itu yang bikin gue kaget sama diri sendiri. Remember my big break-up the last time?”

“Yaolo, masih mau dibahas nih? Masih belum move on?”

“Yeee … Kagak. Bukan gitu. Inget kan, how messy it was, the big break-up, dan gue terus mempertanyakan, kenapa, why he dumped me all of a sudden. Lalu gue sadar, he was unsure of his feeling. Maybe he never loved me in the first place, but he felt he is stuck with me. He did not know what to do, then suddenly it was an outburst, at never the right time, that he wanted to get out of it. It being whatever happened between me and him. He just needed to get out of it, because that’s what he needed the most. Gue tahu rasanya, kenapa? Karena sekarang gue ada di posisi dia. Or, not now, but the last one. I was him, for a while. And once I realize, I had to get out. Now I know how it feels.

(Courtesy of parents.com)

(Courtesy of parents.com)

Saya mengangguk sambil terdiam. Cangkir kopi yang sudah mulai dingin tetap saya hirup perlahan-lahan.

Saya pernah membaca, lupa dari mana sumbernya, bahwa tantangan terbesar waktu kita beranjak dewasa adalah jujur pada diri sendiri. Jujur dengan apa yang kita mau, dan apa yang kita tidak mau. Berat untuk jujur ini biasanya kita ganti dengan bentuk lain.

Tapi bukan ini yang ingin saya bicarakan kali ini.

Saya bertanya ke teman saya.

So, how do you feel now?

“Biasa aja. Ya kalau dibilang lega, ya lega, tapi gak sampe lega macem pose orang lari-lari di taman terus tangannya membentang kayak sayap burung gitu, ya enggak lah.”

“Hahaha …”

“Tapi ya jadi gak ada beban. I don’t need to force myself saying “I love you, too”, while I don’t.

That’s good to know.

But isn’t it funny, that it takes another relationship, or “relationship”, to finally realize and understand your previous relationship? Inget nggak, dulu elo terus bilang ke gue kalo “give it time …””

“… time to heal, iya gue inget.”

“Ya ternyata, the time is now. Or so I think. Lucu aja sih. It’s funny how time works. It’s funny how it takes a new connection to realize what’s wrong with your previous one. Or ones.

Saya tersenyum. Kopi sudah mulai habis. Senja sudah turun, malam mulai datang. Kedai kopi semakin ramai. Kami masih belum beranjak.
Kami masih duduk. Berbicara apa saja yang bisa dibicarakan. Tanpa ada agenda, tanpa ada rencana.

Seperti kami tidak pernah bisa berencana, pada siapa kami akan jatuh cinta.

We cannot choose who we fall in love with.
But we can always choose how to deal with it.

(Courtesy of twobruteyogis.wordpress.com)

(Courtesy of twobruteyogis.wordpress.com)

Peluru

gambar-tahapan-perkembangan-janin

 

“Kalau dilahirkan kembali, kamu mau jadi siapa?”

“Kecoa!”

“Kenapa kecoa?”

“Kalau kamu?”

“Eh, bentar, jawab pertanyaanku dulu. Kenapa kecoa?”

“Hmm kenapa ya… Oh gini, karena kecoa ada-“

Jawaban dia sudah ndak aku perhatikan lagi. Aku ingat kamu. Tomi baik. Pintar. Selalu ada saat aku butuh teman ngobrol. Ndak pelit. Tapi aku terlalu sayang kamu.

“… Jadi kamu mau jadi apa, Fan? Wey, Fan? FAAAAAN?”

“Peluru. Aku mau jadi peluru. Sekali berlari. Lalu mati bersama.”

Entah mengapa tiba-tiba aku menjawab peluru. Aku sedang ingat kamu. Aku ingin loncat dari kantin ini. Sekuat tenaga. Loncat  setinggi mungkin. Melewati pohon. Terus menuju langit. Melewati sekawanan burung. Terus menuju angkasa. Patokannya cukup satu. Kalau sudah lihat awan di bawahku, aku akan membalikkan badan dan berharap pada gravitasi.

Wajah di depanku tertawa dan sibuk mengepulkan asap. Tapi aku ingat kamu. Sering mengepulkan asap juga. Namun jarang sekali melihat kamu tertawa.

“Eh bentar, aku mau cari colokan dulu Fan. Bentar-bentar.”

Aku mengangguk. Tapi ingat kamu. Aku membayangkan meluncur deras dari langit. Dengan nafas memburu. Mencari kamu dalam hitungan detik. Mencari ubun-ubun kamu. Melihat hitam rambut dan lekuk tubuh yang semuanya telah kupetakan.

Mataku terasa pedih. Kupejamkan mata. Sudah tak penting lagi titik koordinat mana aku mesti mendarat. Aku bagai rudal yang mencari titik panas pesawat musuh. Aku bagai peluru yang telah melesat menuju sasaran. Aku meluncur deras. Kupercayakan seluruhnya pada bumi untuk menarikku menuju kamu.

Aku mencoba berhitung. Berapa lama lagi aku menghantam kamu. Semenit lagikah? Atau kurang dari 20 detik? 10 detik? 9.. 8.. 7.. 6.. 5-

BUK!

Kepalaku pecah menabrak dadamu. Kamu terpental bersamaku. Menabrak tembok. Menghancurkan meja-meja dan perabotan di atasnya. Eh Bukan!

Aku menabrak kamu di ruang perpustakaan yang sunyi di malam hari. Dengan sinar lampu temaram di atas buku. Aku menabrak kamu dari belakang dan kamu terjerembab menabrak meja, setumpuk buku, hingga jatuh tersungkur di antara lorong almari. Tabrakannya tidak terlalu parah. Kepalaku tidak jadi pecah. Kamu tidak jadi mati.

Eh ralat lagi. Aku jatuh saja dan masih bisa memelukmu. Dari belakang. Di perpustakaan. Kubuka kacamatamu. Kucium bau rambut kamu. Kulonggarkan kerah baju dan kuciumi leher kamu hingga puas.

Lalu menuju telinga dan berkata:

Aku aborsi dua bulan lalu. Kamu tak perlu lari.

 

 

 

 

 

Jakarta, 1 Oktober 2016