Rasa Bangga itu Pasti Tersirat

Ada cerita menarik dari seorang teman. Cerita lama, yang terjadi waktu dia berlibur hampir satu dekade yang lalu.

Waktu itu, dia mengambil cuti lama untuk pergi ke beberapa negara di Eropa. Cukup pantas rasanya dia melakukan perjalanan ini, setelah kerja beberapa tahun di sebuah perusahaan barang konsumsi. Dan dia terlihat sangat menyenangi pekerjaannya ini. At least, itu yang kami lihat dari luar. Buktinya, dia betah bertahun-tahun.

Ternyata, something happened di saat liburan itu. Something big, sampai dia memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya. Dan tak cuma keluar saja. Dia pun banting setir pindah ke industri yang berbeda sama sekali.

Kami memang jarang bertemu satu sama lain. Namun rasa penasaran membuat saya menyempatkan untuk mengajaknya ketemu dan ngobrol, setelah dia pindah ke kerjaan barunya selama beberapa waktu.

Saya tanya, apa yang sebenarnya terjadi di waktu liburannya.

western-emmet-500x500

“Liburan gue seru, mak. I mean, considering gue sebenarnya lebih sering ke pantai, berenang, sampai diving, ih ternyata gue bisa juga menikmati jalan-jalan ke bukit, gunung, walaupun dingin banget! Ya itung-itung suasana baru.”

“Nah, kan gue pindah-pindah negara tuh. Di salah satu negara, gue stayed agak lama, karena ada temen gue yang tinggal di situ. Terus di salah satu hari, gue diajak ngopi, ketemu ama temennya temen gue. Ngobrol nyante2 aja. Dia nanya, kerjaan gue apa di Jakarta. Ya biasa lah, bok, kalo kenalan, kan ya pasti ditanya, “What do you do for living?” gitu. Ya gue jawab aja, kerjaan gue apa. Udah berapa lama di kantor gue sekarang. Kerjaan itu ngapain aja.”

“Tapi anehnya nih ya, entah kenapa, semakin gue menerangkan kerjaan gue, kok gue semakin gak convincing menjelaskannya. Semacam kayak ada hesitancy gitu, kayak ragu-ragu. Padahal ya selama ini kalo ditanya orang tentang kerjaan, gue lempeng aja jawabnya. Ya gak sampe berbusa-busa ngomonginnya, tapi ya biasa aja responnya. Begitu ini, pas gue menerangkan in detail, kok rasanya malah I started doubting myself.”

“Terus gue cukup sering menghabiskan waktu sendirian di sana. Temen gue kan juga masih kerja ya sehari-hari. Gue mikir, apa ini karena gue lagi di luar negeri, di luar comfort zone, makanya gue bisa mikir yang aneh-aneh.”

Aneh-aneh?

“Ya maksud gue mikir lebih dalam lagi, apa iya selama ini gue bangga ama kerjaan gue. Padahal ya there is nothing wrong about the work that I do. Lha wong kerjaan halal juga. Marketing lho. Dan ya, don’t get me wrong ya, bok, tapi elo juga tau kan that I’m pretty good at what I do. Cuma kenapa masih ada feeling hesitant waktu gue harus menjelaskan ke orang kerjaan gue apa, itu yang bikin bingung.”

minecraft-steve-clipart-mc-man-minecraft-steve-by-00qieh-clipart

“Akhirnya gue bikin check list, kira-kira apa aja yang membuat gue punya keraguan ama kerjaan gue. Bener-bener check list asal aja, gue tulis mulai dari masa depan industri gue sekarang, sampe yang printilan macem suasana kantor, ama gimana rumah gue kalo pas gue tinggal pergi jauh.”

“Ternyata setelah berhari-hari mikir dan bikin check list, akhirnya ketahuan, kalo deep down, gue sebenarnya ragu, apakah kalau emang gue semakin maju dengan karir gue sekarang, gue bisa menghabiskan waktu lebih banyak ama keluarga gue. Anak gue kan sendirian ya, bok, terus ortu gue juga udah semakin tua. Dan kayaknya makin ke sini, kerjaan kok makin menyita waktu gue, meskipun ya I make a good living out of it.”

“Keliatannya simpel emang, kita kerja karena ya kita perlu uang untuk hidup. Tujuan kerja emang buat hidup kok, gue setuju itu. Cuma yang namanya bangga ama kerjaan itu, menurut gue ya, elo gak bisa bohong, gak bisa ditutup-tutupin. Kecuali emang elo aktor paling jago sedunia ya, hahahaha … But most of the time, you cannot fake it. You are either genuinely proud of what you do, or you’re not.

“Sebagian besar dari kita emang gak beruntung bisa ngerjain apa yang kita suka. Dan justru memang kita harus menyukai apa yang kita kerjakan, apapun itu, to survive. Tapi kalau emang ada kesempatan untuk mengerjakan apa yang elo suka, go for it. Selama elo bisa, selama elo gak ada tanggungan, kayak elo sendiri ‘kan ya, bok, so just go for it. Dan jangan kebanyakan hutang, kecuali hutang KPR ama modal usaha! Hehehe.”

(from jenningswire.com)
(from jenningswire.com)

Kami melanjutkan obrolan sampai sore tiba. Setelah itu, pertemuan kami sebatas memberi komentar di status media sosial masing-masing. Kami belum pernah bertemu lagi. Yang saya dengar, dia pun sudah berganti pekerjaan lagi dari pergantian saat kami berjumpa.

Namun saya masih terngiang pesannya, bahwa unless you’re really good at faking it, you cannot fake your pride of your job.

Are we?

Iklan

19 Comments

  1. Jadi inget tahun 2015. Mungkin sama kayak temenmu ini. Perjalanan memberi ruang bagi diri untuk berpikir, menimbang, dan memilih.

    Here I am. Hasil liburan akhir September 2015.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s