Ibrahim: Keimanan Vs Usaha Bertahun-tahun

Jika seorang anak ditinggal orang tuanya, dunia mengenal istilah “yatim” atau “piatu”. Jika seorang istri ditinggal suaminya maka dunia mengenalnya dengan “janda”. Lantas apa yang dunia kenal dengan orang tua yang ditinggal anaknya?

Dunia tak sanggup untuk menyempatkan diri termenung dan bersepakat atas situasi ini.

Karena kesedihan yang ada dan muncul adalah kesedihan yang tak terbayangkan dan tak mau dibayangkan. Dunia hanya sepakat untuk tak menyentuh wilayah kesedihan ini.

Kesedihan yang lebih hakikat dari sekadar kesakitan. Perih yang ditimbulkan lebih “ngenes”.

Maka itulah yang sepatutnya kita rasakan manakala Ibrahim diminta untuk menyembelih anak kandungnya sendiri. Kematian yang dilakukan oleh kedua tangannya sendiri.

Kesedihan dan kesakitan yang kalah oleh bisikan iman. Ibrahim yang bertahun-tahun kesepian tak memiliki putra harus rela membunuh anaknya sendiri atas bisikan ilahiyah.

Gila! Jika itu terjadi saat ini, Ibrahim orang gila. Ibrahim Gila. Ibrahim orang gila.

Namun tidak demikian adanya. Iman kita saat ini membenarkan tindakannya. Hikayat berkata lain. Tuhan hanya menguji seberapa cinta Ibrahim padanya. Apakah penantian bapak berpuluh-puluh tahun dan lahirnya seorang anak bernama Ismail lebih bernilai dari cintanya pada sang pencipta. Ismail tergantikan dengan hewan ternak.

Tuhan memberikan pengganti atas pengorbanannya itu. Ismail terus hidup. Iman Ibrahim makin hidup, dan lahirlah rituan berkurban dengan hewan ternak terbaik.

Ego seorang bapak saat itu telah mati. Perih dan sedih yang sirna oleh betapa cintanya pada sebuah keyakinan.

Landasan sejarah ini hilang perlahan dan digantikan dengan anjuran berqurban karena hewan tersebut yang akan menolong kita di titian jembatan menuju jannah. Motif cari selamat dengan berkorban sesaat di dunia demi akhirat. Semakin mahal nilai kurban, maka semakin moncer kendaraan menuju surga. Kambing itu avanza. Berkurban sapi seperti naik alphard. Begitu kira-kira. menuju surga dengan sopir dan penyejuk udara.

Adalah hal yang begitu istimewa jika kemuliaan untuk mempertahankan keyakinan harus dihadapkan dengan usaha kita selama ini yang harus hilang sekejap mata. Berdoa dan berusaha mendapatkan putra bertahun-tahun harus dilawan dengan keyakinan sebagai makhluk. “Korbankan Ismail adalah tanda engkau lebih mencintaiku.”

Ibrahim bukan saja mencintaiNya. Ia telah membuktikan cintanya itu. Sama sekali tak peduli akan akal sehatnya. Bukan saja ego. Ia tak perlu kewarasan dalam berpikir untuk berkorban. Jika ia gunakan akal sehat, maka bisikan menyembelih anak adalah sebuah tindakan yang begitu bodoh sekaligus kejam.

Kita tak dapat membayangkan apa yang ada dalam benaknya ketika pisau telah terhunus. Kita tak dapat membayangkan apa yang dia rasakan ketika Ismail telah merebah di atas batu dengan leher yang siap sedia. Kita tak akan pernah sanggup membayangkan di level mana keimanan Ibrahim ketika tangannya siap mengiris leher Ismail sembari menatap kedua mata Ismail.

Dan kelegaan macam apa yang didapati oleh dirinya ketika suara itu berkata lain:

“Sesembahanmu telah KuTerima dan kugantikan dengan hewan ternak. Sembelihlah itu..”

farafra5

Hebatnya, proses ini bukan dengan gerakan ringkas, lekas dan membabi buta demi sebuah keimanan. Ibrahim dikisahkan begitu linglung. Ia tetap ragu. Apakah benar apa yang disuarakan kepadanya? Apakah ini jalan seorang pencinta tuhan?

Maka jika usai sholat id besok panitia korban dengan bangga membaca jumlah sapi dan kambing yang berhasil terkumpul dari warga, jangan bayangkan itu adalah sederetan avanza dan alphard menuju surga. Anggaplah itu, kita manusia biasa yang bercita-cita memiliki iman dan rasa cinta sebesar Ibrahim kepada tuhannya.

salam anget,

roy

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s