Ibrahim: Keimanan Vs Usaha Bertahun-tahun

Jika seorang anak ditinggal orang tuanya, dunia mengenal istilah “yatim” atau “piatu”. Jika seorang istri ditinggal suaminya maka dunia mengenalnya dengan “janda”. Lantas apa yang dunia kenal dengan orang tua yang ditinggal anaknya?

Dunia tak sanggup untuk menyempatkan diri termenung dan bersepakat atas situasi ini.

Karena kesedihan yang ada dan muncul adalah kesedihan yang tak terbayangkan dan tak mau dibayangkan. Dunia hanya sepakat untuk tak menyentuh wilayah kesedihan ini.

Kesedihan yang lebih hakikat dari sekadar kesakitan. Perih yang ditimbulkan lebih “ngenes”.

Maka itulah yang sepatutnya kita rasakan manakala Ibrahim diminta untuk menyembelih anak kandungnya sendiri. Kematian yang dilakukan oleh kedua tangannya sendiri.

Kesedihan dan kesakitan yang kalah oleh bisikan iman. Ibrahim yang bertahun-tahun kesepian tak memiliki putra harus rela membunuh anaknya sendiri atas bisikan ilahiyah.

Gila! Jika itu terjadi saat ini, Ibrahim orang gila. Ibrahim Gila. Ibrahim orang gila.

Namun tidak demikian adanya. Iman kita saat ini membenarkan tindakannya. Hikayat berkata lain. Tuhan hanya menguji seberapa cinta Ibrahim padanya. Apakah penantian bapak berpuluh-puluh tahun dan lahirnya seorang anak bernama Ismail lebih bernilai dari cintanya pada sang pencipta. Ismail tergantikan dengan hewan ternak.

Tuhan memberikan pengganti atas pengorbanannya itu. Ismail terus hidup. Iman Ibrahim makin hidup, dan lahirlah rituan berkurban dengan hewan ternak terbaik.

Ego seorang bapak saat itu telah mati. Perih dan sedih yang sirna oleh betapa cintanya pada sebuah keyakinan.

Landasan sejarah ini hilang perlahan dan digantikan dengan anjuran berqurban karena hewan tersebut yang akan menolong kita di titian jembatan menuju jannah. Motif cari selamat dengan berkorban sesaat di dunia demi akhirat. Semakin mahal nilai kurban, maka semakin moncer kendaraan menuju surga. Kambing itu avanza. Berkurban sapi seperti naik alphard. Begitu kira-kira. menuju surga dengan sopir dan penyejuk udara.

Adalah hal yang begitu istimewa jika kemuliaan untuk mempertahankan keyakinan harus dihadapkan dengan usaha kita selama ini yang harus hilang sekejap mata. Berdoa dan berusaha mendapatkan putra bertahun-tahun harus dilawan dengan keyakinan sebagai makhluk. “Korbankan Ismail adalah tanda engkau lebih mencintaiku.”

Ibrahim bukan saja mencintaiNya. Ia telah membuktikan cintanya itu. Sama sekali tak peduli akan akal sehatnya. Bukan saja ego. Ia tak perlu kewarasan dalam berpikir untuk berkorban. Jika ia gunakan akal sehat, maka bisikan menyembelih anak adalah sebuah tindakan yang begitu bodoh sekaligus kejam.

Kita tak dapat membayangkan apa yang ada dalam benaknya ketika pisau telah terhunus. Kita tak dapat membayangkan apa yang dia rasakan ketika Ismail telah merebah di atas batu dengan leher yang siap sedia. Kita tak akan pernah sanggup membayangkan di level mana keimanan Ibrahim ketika tangannya siap mengiris leher Ismail sembari menatap kedua mata Ismail.

Dan kelegaan macam apa yang didapati oleh dirinya ketika suara itu berkata lain:

“Sesembahanmu telah KuTerima dan kugantikan dengan hewan ternak. Sembelihlah itu..”

farafra5

Hebatnya, proses ini bukan dengan gerakan ringkas, lekas dan membabi buta demi sebuah keimanan. Ibrahim dikisahkan begitu linglung. Ia tetap ragu. Apakah benar apa yang disuarakan kepadanya? Apakah ini jalan seorang pencinta tuhan?

Maka jika usai sholat id besok panitia korban dengan bangga membaca jumlah sapi dan kambing yang berhasil terkumpul dari warga, jangan bayangkan itu adalah sederetan avanza dan alphard menuju surga. Anggaplah itu, kita manusia biasa yang bercita-cita memiliki iman dan rasa cinta sebesar Ibrahim kepada tuhannya.

salam anget,

roy

 

 

 

Advertisements

Tentang Jilbab

Henrietta Edwards' 165th Birthday

Tadi pagi saya kaget melihat Google Doodle ini. Rupanya hari ini Henrietta Edwards berulang tahun yang ke-165. Beliau ini salah satu tokoh utama perjuangan hak-hak perempuan di Amerika Utara, khususnya Canada.


Ngomong-ngomong soal perempuan, saya jadi ingat, beberapa hari lalu saya menonton film asing yang premisnya begitu menarik dan menggelitik. Judulnya The Source (La Source Des Femmes).
Mengambil tempat di wilayah utara Afrika, ada sebuah desa kecil yang daerahnya begitu tandus dan berbatu-batu. Karena mereka masih hidup dalam budaya Muslim yang begitu kental, maka para perempuan di desa ini diwajibkan untuk mengurus rumah. Mulai dari memasak, mengurus anak, sampai ke mengambil air bersih yang jaraknya berkilo-kilo meter dari desa.

La-source-des-femmes-poster
Karena jalannya begitu terjal dan menanjak, tak jarang para perempuan ini jatuh hingga menyebabkan keguguran. Ke mana para pria desa ini? Ada, tapi setiap hari mereka hanya sibuk minum teh dan ngobrol-ngobrol. Dan akhirnya, karena muak melihat para pria yang begitu malas dan mengatasnamakan agama, para perempuan di desa ini pun punya ide brilian. Mereka sepakat untuk melakukan mogok massal. Mogok untuk bersetubuh dengan para suami, sampai mereka mau membantu para istri membangun saluran air ke desanya.

Tentu saja jalan untuk meyakinkan para suami ini tidak mudah. Ada satu adegan yang dialognya sangat membekas di kepala. Waktu itu ada seorang anak laki-laki yang begitu soleh, beliau memengaruhi pria-pria lain di desa itu agar semua perempuan mengenakan jilbab. Sang ibu yang sudah paruh baya pun sontak marah dan berkata kalau pada awalnya anjuran berjilbab itu untuk membedakan perempuan terhormat dan perempuan budak, tapi karena saat ini sudah tidak ada perbudakan, ya ngapain pake jilbab?

Argumen sang ibu ini benar. Mungkin ada yang belum tau, tapi budaya berjilbab untuk perempuan memang bukan budaya bawaan Islam.


Dulu, sekitar abad 13 BC, jilbab hanya boleh digunakan para perempuan ningrat di Assyiria. Perempuan kebanyakan dan para pekerja seks dilarang mengenakan jilbab. Begitu juga halnya di masa Mesopotamia, Iberian Peninsula, juga Yunani dan Romawi Kuno. Para perempuan di jaman itu digambarkan mengenakan pakaian serupa jilbab yang menutupi bagian kepala dan wajah. Pada waktu itu jilbab menunjukkan status dan strata sosial, gak semua orang bisa punya privilege untuk menutupi wajah dan kepalanya.

Digambar oleh: Malcolm Evans

Digambar oleh: Malcolm Evans

Menurut Leila Ahmed, seorang pakar Islam kontemporer dari Mesir, anjuran untuk berjilbab bagi perempuan Muslim justru datangnya bukan dari Muhammad SAW. Pada masa itu, jilbab sudah banyak digunakan oleh perempuan Palestina dan Syria. Kemudian karena mereka hidup berpindah-pindah dan berdagang, maka budaya mengenakan jilbab inipun semakin meluas.

Dan anjuran untuk mengenakan Jilbab untuk istri-istri Muhammad SAW (QS 33:33) pun jadi kewajiban moral karena kedudukan sosial mereka yang berbeda dari perempuan lainnya di masa itu. Para ahli sejarah berpendapat kalau, di era Muhammad, jilbab digunakan untuk membedakan perempuan Muslim dari perempuan Pagan dan budak.

Perlukah berjilbab? Jilbab yang benar itu bagaimana? Kenapa jilbab jadi sebuah keharusan padahal jaman perbudakan sudah gak ada lagi? Kalau urusannya sudah menyangkut fiqh dan yurisprudensi Islam, saya nyerah. Gak berani jawab. Saya cuma berani menjawab dari pendekatan sejarah dan budaya saja. Tapi, ada tulisan menarik tentang ini. Ditulis oleh KH. Husein Muhammad, seorang ulama yang juga feminis.

Tentu saja, kalau soal jilbab, jawaban setiap orang pasti berbeda.
Ada yang memutuskan untuk langsung berjilbab karena kewajiban, ada yang bilang mau menjilbabkan hatinya dulu. Ada yang hanya menutup kepala dan membiarkan leher terbuka (seperti yang dilakukan nenek saya dan nenek-nenek lainnya), ada jilboobs, ada juga yang berjilbab syar’i. Bebas. Pilihan masing-masing.
Tapi yang jadi masalah adalah ketika sekelompok perempuan yang sudah mengenakan jilbab sesuai syariat yang mereka percayai, malah merendahkan perempuan lain yang tidak seperti mereka. Atau sebaliknya. Ya ndak?

HOMOSEXUALIS[LA]M pt. 3

(sambungan dari Part 1 & Part 2)

Ruangan besar itu begitu lengang. Hanya ada dua kursi yang saling berhadapan dan dipisahkan sebuah meja. Lelaki itu bernama Amir. Di depannya duduk seorang panglima Taliban. Berjubah putih, sorban yang sewarna, dan janggut yang panjang melewati dagu. Mereka tidak saling berbicara. Di dekat pintu ada seorang penjaga yang berdiri tegap dengan senapan di punggungnya.

Tak berapa lama pintu pun dibuka. Suara musik serta-merta menghambur ruangan. Disusul derap-derap langkah. Seorang lelaki yang juga berjanggut, bersorban, dan bersenapan berjalan masuk. Ia menjinjing radio player usang. Di belakangnya terlihat seorang anak kecil. Sohrab namanya. Gemerincing gelang-gelang di kakinya melengkapi musik yang mengalun.

Sohrab memasuki ruangan sambil menari. Berjinjit lalu berputar. Begitu gemulai. Badannya berbalut kain sutera warna biru tua. Wajahnya yang halus dan matanya yang lebar dibingkai maskara dan celak warna hitam. Rautnya murung. Dua orang penjaga bersenapan tadi terus bertepuk tangan, seolah memaksa Sohrab untuk terus menari.

Amir mengalihkan pandangannya. Ia tidak tahan. Anak lelaki yang dipaksa menari ini keponakannya.

***

Cerita di atas adalah sepenggal adegan dari film The Kite Runner. Film adaptasi dari buku berjudul sama karangan Khaled Hosseini.


Bacha Bazi di awal tahun 1900an

Bacha Bazi di awal tahun 1900an

Bacha Bazi berasal dari bahasa Persia, Baacheh Baazi. Simpelnya, mereka adalah anak laki-laki penghibur. Ini merupakan tradisi Afghanistan yang sudah berumur ratusan tahun. Katanya, sih, adaptasi dari kebudayaan Persia Kuno dan Romawi.

Para lelaki Taliban mengambil anak-anak lelaki yatim piatu atau mereka yang dari keluarga tak mampu untuk didandani seperti perempuan. Mereka dijual bak budak. Dipaksa menari dan benyanyi di depan puluhan lelaki dengan iring-iringan musik. Untuk menghibur hati dan juga pemuas hasrat seksual.

Bacha merupakan symbol kekayaan dan kekuasaan laki-laki Taliban. Semakin manis rupa, semakin halus kulit, semakin lentik jemari ketika menari, maka semakin tinggi pula status sosial sang tuan.

Biasanya para “tuan” ini memiliki lebih dari satu Bacha dengan rentang umur yang bervariasi. Rata-rata usia 8-17 tahun. Dan sudah “aturan main”-nya ketika para Bacha ini beranjak dewasa, biasanya mereka juga membeli anak-anak lelaki untuk dijadikan Baacha Bazi. Begitu seterusnya. Kalau mereka coba kabur, anak-anak ini akan dipukuli bahkan tak jarang dibunuh.

Sangat ironis. Untuk negara yang sudah jelas-jelas menyandang cap ‘homophobic’ dan dengan tegas menjalankan memaksakan hukum Shariah, Bacha Bazi yang merupakan konsep jaman batu ini justru tumbuh begitu subur. Memang, pada praktiknya hal ini illegal. Tapi karena para tuan ini adalah orang-orang yang berkuasa, jadi kebiasaan ini tetap dijalankan.

Satu pasal di undang-undang Taliban bahkan menyatakan “Mujahiddin dilarang membawa anak laki-laki tanpa ‘facial hair’ ikut masuk ke dalam kamar-kamar pribadi mereka.”
Ironis, kan? Kelompok fundamentalis Islam garis keras bahkan merasa perlu secara spesifik mencantumkan ini ke dalam undang-undang mereka.

Sepertinya memang praktik ini sudah jadi rahasia umum dan diterima secara diam-diam, sekeras apaapun hukum syariah yang dijalankan. Sampai-sampai ada perumpamaan seperti ini: “Ketika seekor burung terbang melintasi Kandahar, ia hanya mengepakkan satu sayap. Satu untuk terbang, sedang yang satu lagi untuk menutupi bokongnya.”

(bersambung)

HOMOSEXUALIS[LA]M

Spanyol, 1485. Christopher Columbus belum punya niat untuk mencari “Dunia Baru” apalagi menginjakkan kaki di Amerika. Ia berhenti sejenak di tengah pelayarannya dan singgah di Granada. Kedatangannya disambut meriah ratu Isabella dan raja Ferdinand. Rupanya mereka sedang merayakan sebuah kemenangan. Kerajaan Katolik akhirnya bisa mengalahkan Moors, umat Islam dari Kekalifahan Umayyah, dan menguasai Spanyol.

Sejarah memang selalu dituliskan pemenang. Saat itu, bagi yang kalah, inilah akhir dari sebuah masa. Peradaban yang usianya lebih dari 700 tahun. Segala jejak tentang Islam dan Kekhalifahan Umayyah dihapus. Moors tak lebih dari bangsa barbar yang kasar dan tak beradab. Pembantaian di sana-sini. Lebih dari sejuta buku berbahasa Arab dibakar, tidak boleh ada sisa.

Namun, ada satu istana yang dibiarkan utuh. Letaknya di atas bukit yang tanahnya berwarna merah kehitaman. Ia dikelilingi pepohonan rindang. Kain-kain sutera aneka warna menyelimuti seluruh sisi istana. Melambai-lambai dengan lembut ketika ditiup angin sepoi. Dan, ketika ditingkahi matahari, bangunan ini berubah warna menjadi keemasan. Masyarakat sekitar menyebutnya “Yang Berwarna Merah” . Al Hambra.


Al Hakam II

Cordoba, 961. Al Hambra tak lebih dari sekadar benteng kecil. Tapi kota ini sudah dijejali perpustakaan. Jumlahnya 70. Semua orang kala itu lagi gandrung dengan ilmu pengetahuan yang dibawa Islam. Astronomi. Ekonomi. Kedokteran. Lupakan Alexandria, apalagi kerajaan-kerajaan lain di Eropa. Al-Andalus lah denyut dunia. Metropolitan.

Sang raja kala itu, Al Hakam II, punya lebih dari 400.000 koleksi buku dan dianggap sebagai pemimpin yang sangat cerdas. Tapi, raja terhebat sekalipun jadi tidak berguna kalau tidak bisa punya anak.

Satu istana bingung. Bagaimana caranya, supaya, Hakam yang sudah berumur 46 tahun ini punya keturunan. Perempuan-perempuan dari segala daerah pun didatangkan. Tidak ada satupun yang dilirik. Sia-sia. Hakam seorang homoseks.

Entah siapa yang punya ide jenius ini. Seorang budak Kristen dari Basque (sekarang wilayah Perancis) diangkat sebagai selir. Sobeyah namanya. Rambut Sobeyah dipotong pendek. Ia lalu didandani seperti anak laki-laki. Sobeyah sekarang bernama Jafar. Jafar “dicomblangin” sama Hakam.

Hasilnya?

Tidak lama kemudian lahirlah seorang anak laki-laki yang akan jadi penerus kekhalifahan Umayyah. Hisham namanya. Senanglah hati Hakam. Tapi, Hakam bukan satu-satunya homoseks Umayyah. Abdul Rahman III, sang ayah, juga senang punya selir laki-laki.


Cordoba, 926. Anak lelaki itu bernama Pelagius. Umurnya tidak lebih dari 14 tahun. Kulitnya putih dan garis-garis wajahnya begitu halus. Ia dikhianati pamannya, Hermoygius, yang maunya cari selamat sendiri. Pelagius dijadikan sandera dan budak sementara sang paman melarikan diri. Pada suatu hari, Pelagius diberi dua pilihan: masuk Islam atau mati. Daripada masuk Islam Pelagius lebih baik mati. Akhirnya ia pun dieksekusi.

Dan sekarang, setiap 26 Juni, selalu diperingati sebagai harinya Santo Pelagius. Ada beberapa literatur sejarah yang mengatakan hal ini adalah propaganda Katolik untuk menyebarkan kebencian terhadap Islam. Merujuk versi Katolik, Abdul Rahman III adalah seorang homoseks yang ingin menjadikan Pelagius sebagai “harem”. Dan memang, waktu itu, homoseksualitas jadi senjata ampuh agar orang bisa membenci Islam. Terutama setelah direbutnya Al-Andalus.


Berbicara tentang hubungan sesama jenis dari sudut pandang agama memang susah. Yahudi, Kristen, dan Islam semua sepakat kalau hubungan sesama jenis itu dilarang. Selalu merujuk kepada satu cerita: Kaum-kaum Nabi Luth (Sodom & Gomorah). Padahal adegan pembabtisan Yesus yang digambarkan dengan detil pun tak luput dari homoerotika.

Saya masih tetap dengan pendapat kalau “homoseksualitas” memang sebenarnya adalah temuan baru. Pada saat itu, tidak ada beda antara mereka yang straight atau yang cong.

Dan, kalau berbicara fiqh Islam, tidak ada garis jelas yang membahas soal homoseksualitas. Tidak ada yang bisa dengan pasti menjawab sejauh apa hubungan yang dilarang, atau apa hukuman yang akan diberikan.

Dari 114 surat di dalam Al Quran, hanya satu yang rasanya pas dijadikan landasan hukum tentang hubungan sesama jenis. Ironisnya, aturan tentang hubungan beda jenis justru lebih tegas dan banyak!

 “Jika dua orang melakukan perbuatan yang salah di antara kalian maka hukumlah mereka. Tapi, jika mereka mengakui kesalahan dan memperbaiki diri, maka biarkanlah mereka. Sesungguhnya Allah maha menerima taubat dan maha penyayang.” (Al Quran 4:16)

Kalau begitu, bisakah dibilang kalau umat Islam sekarang berhutang budi pada para homoseks jaman Umayyah?

(bersambung)

Dari Shalimar Sampai Kim Il Sung

Berhubung si Nauval jaringan internetnya lagi bermasalah, (saat ini yang bersangkutan lagi marah-marah sama mas-mas customer service salah satu provider Internet) hari ini saya yang ambil alih jadwal piket. Tulisan Nauval akan diunggah esok pagi.

Mari kita rehat sejenak dari kegilaan dan rasa kesal atas putusan sidang DPR semalam.

Siang itu, 12 April 1967, seorang pria peranakan bernama Oei Hong Kian kedatangan tamu. Namanya Djamin. Ia membawa pesan juga bingkisan dari sang atasan. Dibukalah bingkisan itu. Ada satu set pena Mont Blanc, sehelai dasi sutera dengan inisial ‘S’, sehelai foto yang bertuliskan “Untuk dr. Oei Hong Kian” dibubuhi tanda tangan sang empunya foto, juga tak ketinggalan sebotol besar parfum Shalimar.

Iya, si pengirim adalah Soekarno. Dan Oei Hong Kian adalah dokter gigi yang kemudian menjadi salah satu sahabat terdekatnya ketika statusnya berubah dari presiden RI jadi ‘tahanan rumah’. Dan Shalimar (bukan Jane, red.) adalah parfum yang paling sering ia pakai. Siapa yang sangka kalau Shalimar adalah parfum favorit Soekarno? Di kepala saya, Soekarno itu bersinonim wewangian yang beraroma tembakau, kulit, dan bahkan Oud (kayu gaharu). Keras. Tegas. Manis. Seperti Tom Ford ‘Tobacco Oud’, bukannya Shalimar.

Soekarno bersama Jackie O, Liz taylor, dan Marilyn Monroe. (nyomot dari Agan Harahap)

Soekarno bersama Jackie O, Liz taylor, dan Marilyn Monroe. (gambar bole nyomot dari Agan Harahap)

Shalimar keluaran Guerlain ini ibarat dewi dari seluruh parfum bergenre oriental. Hangat karena rempah dan manis wangi vanilla. Ia diciptakan tahun 1921. Kemudian dirilis kembali tahun 1925 di sebuah eksibisi seni sebagai penghiburan untuk rakyat di kala ‘The Great Depression’. Waktu itu Jacques Guerlain lagi gandrung-gandrungnya dengan Methoxy-3-Hydroxy-Benzaldehyde, hasil sintetis dari pengkristalan sari vanilla. Vanilin; sebuah aphrodisiac baru. Aha!Aphrodisiac. Seketika semuanya jadi lebih masuk akal. Jaman itu, perempuan mana, sih, yang tidak tergila-gila. Pada keduanya, Soekarno & Shalimar. Soekarno memang pecinta segala yang indah dan wangi; perempuan, parfum, bahkan bunga.

Syahdan, salah satu teori tentang G30S/PKI yang terjadi tahun 1965 disebabkan oleh ketakutan Amerika Serikat dan para sekutu atas kedekatan politik Soekarno dengan lawan mereka; Rusia dan Cina. Tapi ternyata tak hanya itu, Soekarno, pada saat itu juga membina hubungan yang sangat baik dengan Korea Utara dan presidennya kala itu, Kim Il Sung. Bahkan ketika ia mengunjungi Pyongyang, Kim Il Sung menginstruksikan agar Soekarno diberi sambutan yang luar biasa. Hasilnya? Ada pawai juga konfigurasi dari ratusan orang yang membentuk tulisan “Hidup Presiden Soekarno!”.

Sambutan meriah atas Soekarno di Pyongyang

Sambutan meriah atas Soekarno di Pyongyang

Di lain kesempatan, pada 13 April 1965, Soekarno juga menyambut baik kunjungan diplomatik Kim Il Sung ke Indonesia. Ketika itu Kim Il Sung sedang berulang tahun, dan sebagai hadiah, diajaklah beliau mengunjungi Kebun Raya Bogor. Ketika mereka melintasi taman anggrek, Kim Il Sung terpesona pada satu anggrek hibrida yang berwarna ungu asal Sulawesi Selatan. Mengetahui sang tamu begitu menyukai bunga itu, Soekarno langsung memberikan sekuntum anggrek sebagai hadiah ulang tahun sekaligus sebagai tanda persahabatan. Pada awalnya Kim Il Sung menolak, tapi Soekarno bersikeras, dan tak hanya itu, ia juga menamakan anggrek itu ‘Kimilsungia’. Akronim dari “Kim Il Sung dan Indonesia”. Dan sejak saat itulah, Kimilsungia menjadi salah satu simbol Negara Korea Utara yang selalu diasosiasikan dengan Kim Il Sung.

Hingga saat ini, setiap bulan April di Korea Utara selalu digelar Festival Bunga Kimilsungia. Tapi kita tentu tidak perlu jauh-jauh ke Pyongyang untuk bisa melihat Kimilsungia. Cukup pergi ke Kebun Raya Bogor. Lumayan, lah, bisa lihat yang cantik-cantik daripada kelamaan mantengin tv nonton sidang DPR. Mungkin ini bisa jadi penghiburan saat situasi politik yang makin ndak nggenah ini. (Eh..Apa perlu dibikin tamasya bersama LINIMASMAS? Yuk! :p)

Senyap yang Gaduh

Malam itu di Toronto. Ruangan terisi penuh. Film sudah diputar separuh jalan. Ada mereka yang berdecak geram kemudian mengumpat, ada pula mereka yang menyembunyikan wajah di balik jari-jari karena ngeri, juga mereka yang diam-diam mengusap airmata. Lelaki itu duduk di baris paling tengah, menyaksikan dengan saksama adegan demi adegan yang ditayangkan. Ia menyilangkan kedua lengannya. Badannya sedikit maju, hampir menyentuh barisan kursi di hadapan. Sesekali ia terlihat menutup mata agak lama dan menarik napas panjang. Terdengar berat.

Namanya Adi. Adi Rukun, katanya. Empat puluh enam umurnya. Sudah lebih dari delapan kali ia menyaksikan film ini, tapi setiap kali rasanya selalu sama. Selalu ada luapan emosi yang sulit terbendung. Bagaimana tidak, ialah sang tokoh utama. Film ini berporos padanya, pada keluarganya, juga pada jutaan orang lain yang kehilangan anggota keluarga karena pembantaian 1965.

Di saat-saat awal proses shooting film Jagal (The Act of Killing), Joshua Oppenheimer tahu kalau dia akan membuat satu film lain yang tak kalah penting. Dan, di tahun 2012, setelah Jagal selesai disunting namun belum dirilis, mulailah Senyap (The Look of Silence) difilmkan. Keputusan ini diambil Joshua karena ia merasa keselamatannya di Indonesia tidak lagi terjamin setelah rilisnya Jagal.

The Look of Silence (Senyap)

Senyap (The Look of Silence)

Senyap membawa kita kembali ke tahun 1965 di Pelintahan, Sumatera Utara. Mengisahkan tentang nasib nahas Ramli. Ketua Buruh Tani Indonesia (BTI), yang tewas dibantai oleh Komando Aksi. Berbeda dengan pembantaian-pembantaian lain di era itu, cerita getir tentang Ramli, yang kala itu berusia 23 tahun, memiliki saksi-saksi dan bukti. Ada saksi yang melihat bagaimana sadisnya ia disiksa, ada pelaku yang sukarela membukukan bagaimana ia membunuh Ramli dan orang-orang lain di desa itu.

Sepeninggalnya, keluarga Ramli dipaksa hidup di bawah ketakutan dan trauma. Mereka harus terus menanggung cap buruk sebagai ‘keluarga PKI’. Bahkan anak perempuannya dijadikan bahan olok-olok di sekolah, yang ironisnya, oleh guru-gurunya sendiri. Sementara itu para pelaku bebas berkeliaran dan justru dielu-elukan sebagai pahlawan. Pelaku-pelaku ini dengan begitu bangga menceritakan dengan detil bagaimana sadisnya mereka membunuh Ramli.

Adi adalah sang adik. Lahir tiga tahun setelah meninggalnya Ramli. Menurut Rohani, ibunya, Adi jawaban Tuhan atas doa-doanya yang meminta mendiang Ramli bisa kembali. Ada keingin tahuan untuk mencari sumber rasa takut. Juga ada keberanian yang begitu besar di dalam diri Adi untuk membantu keluarganya pulih dari trauma. Meretas senyap. Maka dimulailah perjalanan Adi, yang memiliki usaha optik keliling, mewawancarai mereka yang terlibat dalam pembantaian Ramli.

Ada metafora yang begitu cantik di sini. Pekerjaan Adi sebagai optician dan pelaku yang ingin dibuatkan kacamata. Seolah menunjukkan bagaimana rasanya melihat kehidupan dari sisi korban dan mencari jawaban langsung dari mata sang pembunuh. Senyap tak ubahnya sebuah sajak, begitu getir tapi juga mengalir dengan indah. Berbeda dengan Jagal, yang ketika selesai ditonton membuat marah dan geram, Senyap dengan ending yang sengaja dibiarkan terbuka justru mengajak kita untuk merenung. Tentang merelakan, tentang memaafkan, tentang melawan rasa takut.

Senyap juga mengajak kita melihat bagaimana sedihnya mereka yang kehilangan. Ibu Rohani yang menyumpahi anak-cucu para pelaku, agar mereka hidup menderita, menyadarkan kita kalau beliau juga manusia. Beliau hanya seorang ibu yang terus berduka karena sang anak dibantai dan tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkannya. Mengharapkan agar keluarga korban bisa memaafkan pelaku lalu mereka hidup berdampingan rasanya hanya ada di cerita dongeng. Dan sejujurnya, suatu hal yang sangat egois. Semena-mena.

Film telah usai dan lampu pun pelan-pelan dinyalakan. Satu-persatu penonton berdiri sambil menyeka air di sudut mata mereka. Riuh tepuk tangan mengiringi Adi yang berjalan ke atas panggung. Tiga kali standing ovation diberikan penonton sebagai penghormatan untuk Adi dan Joshua. Saya pun bisa merasakan ikatan emosional yang begitu kuat ketika Joshua mendekap erat Adi. Mata mereka berembun. Bagaimana tidak, selama proses pembuatan film ini, Adi selalu dilibatkan. Dan baginya juga keluarga, kedatangan Joshua bagai hujan panjang yang menghapus kemarau, orang yang telah lama ditunggu-tunggu. Membantu menyuarakan isi hati mereka ketika mereka sama sekali tidak bisa bersuara dihimpit rasa takut.

Mereka yang menonton Senyap malam itu mengantri untuk bisa menyalami Adi. Menyampaikan satu-dua kata bagaimana beraninya ia, juga turut mendoakan keselamatan keluarganya. Adi haru. Ia merasa keluarganya begitu dihargai sebagai manusia, sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ironis memang, di Indonesia sendiri rasanya masih banyak yang tidak peduli akan nasib para korban pembantaian ini. Seolah semua sepakat bilang “Masa lalu, ya, masalah lo!” PKI masih jadi topik yang enggan untuk dibicarakan. Bahkan, kita masih terus saja memusingkan apakah Jagal dan Senyap ini “Film Indonesia” atau “Film tentang Indonesia”. Sepertinya kebutaan dan kebodohan massal yang sukarela.

Saya harus mengutip William Faulkner, “The past is never dead, it’s not even past.” Kenyataan bahwa Adi dan keluarganya harus pindah ribuan kilometer, bahwa seluruh kru Indonesia yang terlibat proses produksi harus berlindung di balik anonimitas, bahwa Joshua merasa ia tidak lagi aman kalau kembali ke Indonesia, merupakan bukti kalau pembantaian 1965 belumlah bisa dibilang “masa lalu”. Kita masih di masa lalu. Mereka yang tersakiti harus bungkam karena tak bisa bersuara. Dan mereka yang bisa bersuara lebih memilih untuk jadi bisu. Maka senyaplah semua.

Mas Adi, Josh, Signe.

Mas Adi, Josh, Signe.

Saya, Mas Adi, dan Josh.

Saya, Mas Adi, dan Josh.

:: A Homage for Joshua Oppenheimer ::
Ditulis untuk Josh, Signe, Anonymous, & Mas Adi. Terima kasih. Terima kasih. Segala doa-doa baik untuk kalian. Parting is such a sweet sorrow, kata Shakespeare. Semoga nanti saya punya kesempatan untuk bertemu dengan kalian lagi.
Love, F.