Ah, Millennials

Selesai libur lebaran, aku menemukan muka-muka baru di kantor. Masih muda. Segar dan berpenampilan kasual. Satu diantara mereka bahkan punya Tatto di wajah. Mereka bawa laptop sendiri. Pakai headphone saat bekerja. Makan siang sendiri. Mejanya rapi. Ndak ada kertas atau alat tulis. Apalagi buku. Bagian personalia bilang, paling cuma dua minggu, liat aja.

Apakah ada yang terbiasa dengan penggolongan generasi? Atau teori gelombang perdadaban? Aku pikir dua faham itu masuk akal. Papaku lahir di generasi Baby Boomers. Beberapa tahun setelah Perang Dunia II. Secara umum, mereka kalangan penyusun ulang pranata sosial yang hancur karena kekacauan dunia. Mama lahir sebagai generasi Jones. Akhir dari masa Baby Boomers. Kakakku lahir di generasi X. Semua serba budaya Pop. Aku sendiri sebagai generasi MTV atau Generasi Y? Masih dalam perdebatan. Karena aku lebih suka Trace Urban dan Iyeth Bustami ketimbang MTV. Mari kita tengok Generasi Y (baca: Millennials).

image
Sumber: Google

Masih ada keragu-raguan kapan kiranya Millennials bermula dan berujung. Beberapa mengatakan kalau ia adalah anak-anak yang lahir tahun 1983-1997. Sebagian berargumen dari tahun 1982-1997. Di majalah Entertainment Weekly, Millennials didefinisikan sebagai siapapun yang saat ini berumur antara 20-38 tahun. Sedang BusinessWeek bilang mereka saat ini bisa saja dari kisaran umur 13 tahun. Apapun itu, kita semua mengenal mereka. Mereka adalah generasi paling digital di bumi.

Having been born plugged in–istilah ini satu dekade lalu sama-sekali ndak dikenal. Mereka tumbuh diantara komputer, internet, ponsel, tablet, dan music players. Mereka paham betul fungsi web, menjelajahi dunia maya, nonton web-TV, mendengarkan musik lewat web, dan bicara juga mengirim pesan lewat ponsel. Sering juga melakukan semua itu di waktu yang bersamaan. 

Meski kita bisa lihat kalau Millennials terobsesi dengan “Game of Thrones”, dan tayangan sejenisnya, mereka paling jarang nonton TV dibandingkan generasi lainnya. Millennials menghabiskan waktunya dengan menjelajah internet atau memakai produk teknologi dalam kesehariannya, meski TV tetap menyala di balik punggung mereka. Bagi mereka, TV hanyalah “background noise.”

Mereka ndak peduli dengan iklan. Mereka sangat peduli dengan apa yang kawan-kawannya pikirkan. Karena mereka begitu menyatu dengan media, baik itu online maupun offline. Millennials terimbas iklan dari semua sudut. Mereka muak. Waktu mereka harus membuat keputusan, Millennials mendengarkan apa yang didengungkan jejaring sosialnya, lewat percakapan antar teman atau rekomendasi di forum. Bukan iklan tradisional. “Ads that push a slogan, an image, and a feeling, the younger consumer is not going to go for,” kata James R. Palczynski, retail analyst Ladenburg Thalman & Co. Namun demikian, mereka merespon segala jenis humor, ironi, dan fakta mentah. Mereka kadang tampak tidak mempercayai iklan. Millennials hampir tidak punya brand loyalty. Mereka cepat berpindah pada trend berikutnya.

Kerja bukanlah segalanya. Mereka memang pergi bekerja, tapi harus yang menyenangkan. Bagi Millennials, pekerjaan bukanlah identitas. Itu hanya sebuah tempat. Mereka ndak bisa terima kenapa perusahaan ndak bisa mengakomodasi kebutuhan mereka dan menawarkan sedikit kemudahan seperti bekerja dari rumah, waktu yang fleksibel, budaya komunikasi lintas media, dan suasana kerja yang “fun.” Mereka juga ndak sembarangan ikut perintah atasan. Perintah itu harus dicerna dan masuk logika-nya. Kadang mereka disebut “Generation Why?” Mereka harus diberi alasan yang tepat kenapa sesuatu harus dikerjakan. Atasan tipe Baby Boomers bisa saja beranggapan kalau ini adalah tindakan makar, tapi sebenarnya mereka inilah bakat pemimpin paling fleksibel dan membawa perubahan. Millennials ndak mengenal kata “pengangguran.” Selalu ada yang bisa mereka kerjakan. Bisa mereka capai. Mereka bukan bekerja untuk uang. Dan uang bukanlah hal yang menentukan, tapi uang bisa jadi indikasi bagaimana perusahaan menghargai mereka. Bosses, your survival guide is here.

Mereka berjiwa sosial. Millennials peduli dengan dunia. Mereka memperhatikan perkembangan politik, ekonomi, dampak sosial, dan isu lingkungan. Mereka berfikir bahwa suara mereka sangat berarti. Mereka berteriak secara online. Mereka membaca berita, tapi bukan dalam bentuk cetak. Ini akan menyakiti industri surat kabar tradisional yang berharap terus bertahan.

Marketing harus berubah karena Millennials sangat paham media dan tau kalau sedang dimanfaatkan. Brand yang sukses di masa depan adalah yang membuka dialog dengan konsumennya, mengakui kesalahannya, dan menjadi lebih transparan. Social network jadi fitur. Customer service ndak cuma lewat telpon, ia juga tersedia lewat cara-cara non tradisional, bahkan live streaming. Sekarang, banyak perusahaan yang memanfaatkan Twitter dan facebook, tapi akan segera berubah lagi setelah Millennials merasa lelah dengan itu semua. Para produsen harus selalu awas dengan Millenials dan jangan terpaku pada satu format media saja. Oh, and you can stop calling everything “viral”—that’s lame.

Work tools harus bisa bekerja juga secara online. Di tempat kerjanya, Millenilas ndak cuma menginginkan, tapi juga mengharapkan perusahaannya menyediakan alat yang biasa mereka gunakan dalam kehidupan pribadinya. Di perusahaan yang cukup longgar, kalau pegawainya ndak dipersenjatai dengan perlengkapan yang mereka inginkan, mereka dapat menciptakannya sendiri.

Bacaan harus bisa lebih fokus dan singkat. Ndak ada lagi tulisan yang panjang dan membosankan. Millennials punya masa perhatian terhadap sesuatu di web lebih singkat dari lainnya. Mereka dengan cepat melompat dari satu topik ke topik lainnya. Mereka juga ndak baca semua tulisan ini… kepanjangan.

Millennials tergantung dengan ponselnya. Untuk bersosialisasi, bukan mencari info. Steve Ives, CEO Taptu, dalam tulisannya Making search social: Unleashing Search for the Mobile Generation, mengatakan “Millennials who sees the mobile as a social device first and an information device second, is not using today’s mobile search as much as expected. But they are using mobile phones as social life.”

Millenilas kini mendominasi kota-kota besar di dunia. Generasi anak-anak Baby Boomers, Generation Jones, dan beberapa anak Gen X. Mereka adalah generasi terbesar sejak Baby Boomers dan tiga kali jumlahnya dari Gen X. Sejalan dengan Boomers yang menjalani masa pensiun. Sekarang Millennials masuk ke lini-lini first jobber. Kita bisa lihat perubahan besar. Perubahan yang mengimbas banyak faktor. Dan menentukan peradaban secara keseluruhan.

Mengabaikan suara Millennilas dalam kegiatan industri dan budaya sangat berisiko. Utamanya, kalau industri itu ingin menemukan talenta muda. Sebuah perusahaan yang menjual barang dan jasa dan ingin mencapai pasar dari umur 13 sampai 40 tahun sebaiknya mendengarkan apa yang Millennials inginkan, bukan butuhkan.

Millenilas mampu mengubah konstelasi teknologi, ndak terkecuali peradaban dunia. Mereka mengadaptasi semua bentuk teknologi dengan membabi-buta. Mereka sadar bagaimana faktor sosial mampu mengubah, berdampak dan pemakaian internet sebagai alat menjadikannya awas dengan apa yang sedang terjadi.

Millennials juga ikut berpartisipasi dalam kampanye, protes, demonstrasi, dan pertemuan kelompok. Bagi mereka akan lebih mudah untuk memulai gerakan itu dengan facebook group, twitter post, blog, dan membiarkan masa ikut berpartisipasi. Grup ini juga ndak begitu saja diabaikan. Uang didonasikan tiap harinya, terjadi boikot ini-itu, dan berita menyebar dengan cepat. Aktualitas berita jadi singkat dengan penyebaran seperti wabah. Millennilas mengawinkan teknologi dan advokasi ke level yang betul-betul baru.

Millennilas jarang baca buku. Umm, sepertinya banyak orang ndak baca buku akhir-akhir ini. Mereka ndak selalu membutuhkan buku karena ada medium baru untuk berbagai informasi yang ada di buku. Dari sini, prilaku baca mereka berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya. Mereka membaca blog, atau gumaman kawannya di Twitter. Mereka menerima berita mobile dan mendownload eBook. Merekalah yang mendorong media untuk berkembang dan mengadaptasi aneka teknologi dalam implementasinya.

Millennials dipenuhi anak-anak manja dan pemalas. Ini adalah tuduhan bodoh. Mereka membutuhkan penghargaan atas apa yang mereka lakukan, sekecil apapun. Mereka melakukannya demi diri sendiri dengan cara mereka sendiri. Keterlibatan secara fisik jauh berkurang. Mereka senang memanjakan diri sendiri. Juga berbagi. Kalau mereka harus membantu sesamanya, mereka akan melakukan yang terbaik.

Sebagai contoh satu orang dalam jejaring Millennilas kehilanga keluarga, maka ia akan mempost hal ini dan meminta bantuan semua anggota jejaringnya untuk bertindak. Implikaisnya bukan pada hasil akhir apakah keluarganya itu ditemukan atau ndak, tapi dampak yang ditimbulkan. Semua orang jadi lebih terekspos akan berita ini, dan mengambil tindakan. Minimal memberitakannya di tempat lain dengan jejaring sosial yang lain. Penyebaran berita dan bahu-membahu ini menjalar seperti epidemi. Bahkan lebih cepat dari itu. Sudah banyak terbukti dan ndak bisa terbendung. Perhatian penuh tertuju pada si korban. Akhirnya perhatian besar dapat diraih dengan cepat. Ini penting, apalagi kalau kita berfikir skala industri.

Marian Salzman, Ad Agency Executive mengatakan: “Some of them are greatest generation. They’re more hardworking. They have these tools to get things done. They are enormously clever and resourceful. Some of the others are absolutely incorrigible.” 

Iklan

13 thoughts on “Ah, Millennials

  1. Gw setuju banget sama “generation Why” yg mungkin bagi sebagian boss dari generasi Baby Bommers bisa dianggap “Makar” hahaha. Ini bener banget

    Suka

  2. Hai, Mas Gandrasta,

    Aku bagian dari Generasi Y yang ndak suka Game of Thrones tapi masih kekeuh kalau baca novel harus yang fisik. #YaTerus. BTW, terima kasih sudah nulis blogpost ini 😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s