Mencari Uang, Haramkah?

Dalam sejarahnya, bisnis pertama di dunia adalah menjual tubuh. Prostitusi. Seiring dengan kemajuan peradaban, maka jual beli pun berkembang menjadi barter. Jual beli menggunakan barang dengan barang atau jasa. Sebelum akhirnya menggunakan uang.

Bisnis sendiri, menurut wiki, didefinisikan sebagai “dalam ilmu ekonomibisnis adalah suatu organisasi yang menjual barang atau jasa kepada konsumen atau bisnis lainnya, untuk mendapatkan laba.” Sederhana kan? Jual barang atau jasa, dapat laba, maka jadilah bisnis. Pelakunya kemudian disebut pebisnis.

Sementara “entrepreneur” yang sampai saat ini belum ada bahasa Indonesia yang tepat, adalah proses untuk memulai bisnis. Entrepreneurship is the process of starting a business, typically a startup company, based around an innovative product, process or service. The term “entrepreneur” is often conflated with the term “small business.” While most entrepreneurial ventures start out as a small business, not all small businesses are entrepreneurial in the strict sense of the term. Menurut wiki.

5 tahun belakangan ini, semakin banyak yang bingung. Ada pebisnis yang disebut entrepreneur. Dan ada yang sebaliknya. Ada yang berpendapat, entrepreneur mesti memiliki bisnis yang bersifat kebaikan bagi lingkungan sekitar. Ada pula pengangguran terselubung yang kemudian menyebut dirinya entrepreneur, karena sifatnya yang seolah tidak perlu penjelasan lanjutan. Entrepreneur apa? Pokoknya suka suka hati lah.

Generasi Millenials, seperti yang pernah ditulis oleh Gandrasta, memiliki cara pandang sendiri dalam berbisnis. Seperti yang dilihat dari quote-quote pembicara yang berseliweran di media sosial dua hari belakangan bersamaan dengan penyelenggaraan Ideafest 2015 dan Popcon Asia 2015. Beberapa yang tertangkap di linimasa penulis:

  1. Bisnis harus memiliki PURPOSE.
  2. Bisnis harus memiliki TUJUAN SOSIAL.
  3. Bisnis harus memiliki MEMBERIKAN SOLUSI.
  4. Bisnis harus ENGAGING
  5. Bisnis harus SOFT SELLING
  6. Bisnis harus SESUAI PASSION
  7. Bisnis harus SESUAI HATI

Dan banyak lagi pesan-pesan lain dari pebisnis generasi Millenials ini. Para peserta yang kebanyakan dari generasi yang sama pun bisa dipastikan mengamini. Makanya kemudian diposting berjamaah di media sosial.

Namun beda lagi tanggapan dari generasi sebelumnya, Baby Boomers atau Gen X. Generasi yang diajarkan untuk memulai bisnis dari “mencari uang” dahulu. Mencari laba. Meraih untung. Hitung-hitungan yang jelas. Yang bagi generasi Millenials bisa jadi sangat membosankan dan kurang menggairahkan. Gak seru lah!

Tujuan berbisnis pun sekarang semakin bercabang. Ada yang berbisnis untuk mengisi waktu luang. Ada yang untuk eksistensi pergaulan. Ada yang karena tergugah jiwa sosialnya. Ada yang untuk memutar uang. Atau mencuci uang. Ada pula yang demi bisa menjadi pembicara di berbagai acara. Tak perlu kaget, ada yang berbisnis demi sering nongol di media masa. Dan di satu titik, memberikan kesan kalau bisnis bertujuan untuk mencari uang saja, itu haram hukumnya. Tidak trendy. Apalagi cool.

image

Dengan semakin beragam dan santernya para pebisnis muda ini, semakin banyak pula bisnis yang timbul tenggelam. Hari ini ada restoran di sana, lusa sudah ganti jadi toko piringan hitam, bulan depan jadi digital agency, tahun depan jadi cafe. Dan seterusnya. Ada yang menilai sebagai proses pencarian jati diri generasi Millenials. Dan banyak pula yang menilai sebagai buang-buang duit. Kemewahan yang hanya bisa dimiliki oleh generasi yang punya JPS, Jaringan Pengaman Sosial, di belakangnya. Rugi, tak masalah. Masih ada fasilitas dari orang tua. Ganti bisnis setiap saat, tak perlu tanggung jawab. Toh warisan belum habis. Ingin memperluas bisnis walau merugi, jadi keharusan. Karena dana yang tersedia harus dikucurkan.

Beda cerita dengan generasi Millenials yang tidak memiliki JPS. Saat mereka memulai bisnis, bisa dipastikan punya satu tujuan: mempertahankan atau memperkaya hidup. Mereka butuh uang. Purpose bisnis mereka satu: LABA. Karena tanpa untung, maka bisnis harus ditutup demikian pula kehidupan mereka. Segala upaya akan dilakukan mempertahankan. Bahkan, mengurangi standar hidup. Bagi mereka hanya ada tiga mantra:

  1. Bisnis harus LABA
  2. Bisnis harus UNTUNG
  3. Bisnis harus CUAN

Bisnis yang dijalankan oleh generasi millenials non JPS ini pun biasanya jauh dari kesan inovasi. Sehingga kurang seksi untuk diliput media. Apalagi dibahas di event-event bergengsi. Apa menariknya bisnis menjual Sop Kaki Kambing, misalnya. Apa serunya dari mendengarkan pembicara pedagang baju kodian di Tanah Abang. Pembelajaran asik apa yang bisa didapatkan dari pemilik konveksi baju Muslim. Di mana letak menghiburnya dari pembicara yang pekerjaannya menjadi Penari Wayang Orang. Sepertinya belum ada panggung yang seksi untuk mereka. Pekerjaan mereka dinilai “biasa saja” kalau tidak mau disebut tidak seksi.

Boro-boro kepikiran soal Purpose, lebih baik memikirkan cashflow. Tujuan sosial ya membayar gaji karyawan. Apa itu soft selling tak paham yang penting bayar pajak dan iuran preman. Passion? Sudah lupa. Yang penting uang tersedia saat pinjaman Bank jatuh tempo. Sesuai hati? Periuk nasi dulu.

Padahal, kalau mau dikembalikan ke fitrah bisnis seperti ditulis di awal, kira-kira laba lebih besar dimiliki oleh pedagang Sop Kaki Kambing atau pedagang Burger Hitam yang sedang hits? Pemilik konveksi baju Muslim atau kaos disainer grafis? Warung kopi pinggir jalan atau Cafe?

HARAM

Seorang teman, baru saja memulai pekerjaannya sebagai Manager sebuah Coffee House yang tersebar di beberapa Mall di Jakarta. Malam itu, sedang makan di Warung Sop pinggir jalan di Kawasan Cikini. “Pusing nih gue, sebulan sewa tempatnya aja bisa seratus juta! Sehari penjualan gue kadang 2 juta. Berapa cangkir kopi mesti gue jual coba?” Saat sedang curhat, tetiba pemilik Warung Sop mendatangi mejanya untuk menanyakan kepuasan pembeli. Kesempatan ini digunakan untuk ngobrol-ngobrol. Sambil bercerita, pemilik Warung Sop dengan terbuka dan gamblangnya berkata “ya kalo ini masih kecil lah… sewa sebulan di sini tuh 3 jutaan. Kalo ngomong omzet ya, penghasilan kotor sehari yaaa bisa lah 5 sampai 8 juta sih… Tapi belum kayak warung bubur depan noh. Dia sehari bisa 15-an. Antri sampe pagi!”

Bagi mereka, mencari uang itu adalah tujuan. Yang haram adalah mencari uang haram.

Kedua tipe pelaku bisnis dari generasi yang sama ini sepertinya tidak akan pernah bisa disatukan. Akan ideal kalau masing-masing bisa saling belajar. Yang satu punya ide, yang satu punya laba. Yang satu punya idealisme, yang satu punya realitas. Yang satu punya mimpi, yang satu punya kenyataan. Yang pasti keduanya punya marketnya sendiri-sendiri.

Gelora dan pertumbuhan pebisnis muda dan inovatif ini, tentu bukan hanya memerlukan peresmian oleh pemerintah. Tapi juga pengarahan dan agenda yang terencana. Keragaman yang dilihat sebagai masalah atau kekayaan. Untuk baru bisa menjadi kekuatan yang terpadu. Bukan letupan-letupan kembang api malam Tahun Baru yang timbul dan hilang dimakan langit malam.

Eh udah Agustus 2015. Sebentar lagi 2016 tiba.

Posted in: @linimasa

7 thoughts on “Mencari Uang, Haramkah? Leave a comment

  1. Seperti itulah dinamika manusia
    Selalu ada yang baik gt juga ada yang buruk
    Temen” gw kuliah banyak yg udah mulai usaha, meskipun ngikutin tren tp gw tetep seneng liatnya
    Kalo gw liat itungannya lumayan masih sibuk sama usahanya sampe sekarang

    Gw sendiri kayaknya tipe gen x dan milenial yang nunggu “something big” yang inovatif tapi juga realistis
    Dimana “something big” yang gw tunggu ga dateng-dateng haha

Leave a Reply