Ke Mana Kami dan Kita?

Menjelang kampanye pemilihan Presiden kemaren, salah satu kampanyenya berteriak Jokowi adalah Kita. Dan setelah Jokowi terpilih sebagai Presiden, maka Jokowi pun disebut “Presiden Kita”. Pertanyaan yang mengiringinya adalah, “kita” yang mana? “Kita” siapa? Seluruh rakyat Indonesia? Tentu bukan. Tapi “kita” adalah pendukung yang memilih Jokowi saat PEMILU. Tapi bagi yang tidak memilih Jokowi, sampai akhir masa jabatannya nanti, tentu tidak ingin dianggap bagian dari “kita”. Pun menerima sangat mungkin setengah hati.

Bagitu pula dengan “kami”. Ketika seseorang menyebut dirinya sebagai “kami”, pertanyaan yang sama bisa diberlakukan. “Kami” yang mana? “Kami” siapa? Kami adalah sekumpulan “saya” yang berkumpul menjadi satu. Lebih tepatnya, “saya” yang mengikhlaskan dianggap bagian dari “kami”. Bisa karena memiliki semangat yang sama, cita-cita yang sama, tujuan yang sama.

Dalam pengantar promosi Pidato Kebudayaan Karlina Supelli berjudul Kebudayaan dan Kegagapan Kita disebut, di era teknologi informasi, manusia tergagap akan makna “kami”. Selain menyatukan individu menjadi populasi, juga memecah populasi menjadi individu. Secara bersamaan.

Ketika Madonna dan Michael Jackson menjadi Raja Pop membuat seluruh remaja dunia tergila-gila, bagaimana dengan eksistensi pencinta jazz, dangdut dan klasik? Hampir tidak ada corong bagi mereka. Pilihannya, ikut dalam arus. Atau diam-diam di kamar menikmatinya. Bukankah itu yang dilakukan Rangga di film Ada Apa dengan Cinta. Sebagai penikmat dan pembaca AKU saat teman-temannya yang lain mungkin sedang sibuk mengikuti lomba pemilihan cover boy.

Sekarang, setiap individu bisa mencari dan menemukan individu lain yang setipe. Dan ketika jumlahnya semakin banyak maka percaya diri perlahan meningkat. Maka semakin banyak terbentuk komunitas. Bisa dieratkan dengan hobi, kegiatan, cita-cita, ambisi apa pun. Dan mereka pun akan menyebut diri mereka “kami”. Dan ketika “kami” semakin besar dan membesar, akan bermunculan “saya” dari dalam yang merasa tidak lagi sejalan. Dan “saya” yang terpelanting tadi kemudian membentuk “kami” yang baru.

Kalau tidak salah, Alfin Toffler yang sudah memprediksi ini di tahun 1980. Beliau menggunakan analogi payung besar yang menaungi payung-payung kecil. Sampai payung kecil keluar dari payung besarnya dan mulai memayungi payung-payung kecil lainnya. Dan payung besar pun mulai kehilangan makna. Begitu terus menerus.

Kami dan Kita terus bergerak dan memiliki sifat sementara. Dan sekarang diperpendek usianya dengan kemajuan teknologi informasi. Memberikan rasa gamang ketika kata “kami” dan “kita” disebutkan. “Eh nanti dulu, emang saya bagian dari kalian? Kalau pun iya, mungkin tidak sepenuhnya. Saya tetap ingin menjadi saya. Saya tidak ingin sepenuhnya menjadi bagian dari kalian.”

Kebangkitan dan semakin menguatnya individu-individu ini adalah pisau bermata dua. Di satu ujungnya memberikan keragaman sehingga dunia semakin penuh warna. Bagi yang siap menerimanya. Dan di ujung yang lain perbedaan memberikan rasa tidak nyaman. Di sinilah kegagapan mulai terjadi. Yang tadinya berteriak lantang menyuarakan makna keragaman, mendadak menentang keragaman ketika perbedaan itu mengganggu atau mempertanyakan. Yang tadinya menganut paham kebebasan, mulai terbentur dengan kebebasan yang lain. Dan hasrat mempertahankan kebebasan masing-masing semakin besar, tanpa disadari menjadi belenggu baru.

Iklan, jargon, kampanye, seolah menggampangkan dengan menggunakan kata “kita” dengan mudahnya. Dengan harapan semua mengangguk terima saja menjadi bagiannya. Presiden Kita. Kopi Kita. Selera Kita. Dan semakin buram saat “kita” diganti dengan kata “Indonesia”. Demikian pula dengan “kami”. Suara kami. Pernyataan kami. Keinginan kami. Seolah mampu mewakili suara individu. Menghapus makna keragaman.

company_people

Posted in: @linimasa

2 thoughts on “Ke Mana Kami dan Kita? Leave a comment

Leave a Reply