Nina Simone, Ujang Codot dan Gadis dengan Codet di Punggungnya

IMG_9377

Ujang Codot namanya. Dia menyukai SBUX. Hampir setiap hari ia membeli secangkir kopi di kedai itu. Lalu ia menikmatinya dengan menyesap Marlboro warna merah. Kemudian, di sudut meja kedai, dia akan menulis tentang apa saja.

“Aku ini penyair yang mengubah bayangan zaman menjadi lukisan. Aku penerjemah realita ke dalam fantasi dan sebaliknya. Aku penyulap warna dan tesktur. Aku melihat masa lalu dan meramal masa depan. Aku mengendarai badai. Aku berjalan diatas rentangan tali akal-sehat. Aku hidup di batas dunia.’

~ Peter Dean ~

Ujang adalah penyair, tapi palsu. Pekerjaan aslinya adalah seorang sopir yang bukan sembarang sopir. Karena yang dilayaninya adalah anggota dewan. Ujang selalu tidur di apartemen mewah sekitar Pacific Place. Kalau ndak salah namanya Capital.

Majikannya, seorang Ibu muda aktivis partai berlambang Ka’bah yang menjadi cem-ceman Jendral Polisi mantan Kapolda Ibukota.

Apa lagu kesukaan Ujang. Ini dia. Dengarkan saja.

Karena Ujang menyukai Nina Simone. Penyanyi luar negeri, katanya pada suatu ketika pada Imah, pacarnya.

“Mah, kenapa di punggungmu ada parut luka?”

“Ini codet namanya, Jang.”

“Kenapa bisa ada codet, Mah?”

“Karena kamu Codot, Jang.”

“Kenapa aku kamu sebut codot?”

“Karena kamu begitu menyukai buah dada. Ahahahaha!”

“AHAHAHA!”

Lalu mereka berdua bercinta, di sofa. Pada lantai atas Capital seberang pusat belanja. Tentu saja, saat majikan mereka entah berada dimana.

“Kamu sayang aku, Codot?”

Sayang banget dong, Codet!”

“AHAHAHAHA!”

“AHAHAHAHA!”

Mereka tertawa, lalu kembali bercinta. Biasanya saat bercinta Ujang akan bernyanyi di atas Imah.

I wish I could share
All the love that’s in my heart
Remove every doubt
It keeps us apart
And I wish you could know
What it means to be me
Then you’d see and agree
Every man should be free

Imah selalu saja mengulangi pertanyaan yang sama.

“Apa itu Free?”

Ujang akan menjawab dengan jawaban yang juga selalu sama.

“It’s just a feeling. it’s just a feeling. it’s like, ” how do you tell somebody how it feels to be in love?”
How are you going to tell anybody who has not been in love, how it feels to be in love? You can’t do it to save your life. You can describe things but you can’t tell them. But you know it when it happens. That’s what I mean by “free”. I’ve had a couple of times on stage, when I really felt free, and that’s something else. That’s really something else. I’ll tell you what freedom is to me. No Fear. I mean really, No fear. If I could have that. Half of my life, no fear.” 

Sebetulnya Ujang curang. Karena kalimat itu sangat dia hapal luar kepala. Kalimat yang dia dengar dan saksikan dari Filem Nina Simone yang ditontonnya setiap malam. Karena hanya filem itulah DVD orisinil satu-satunya yang dia miliki.

“Panggung?” Imah bertanya.

“Bukan! On stage artinya punggung.”

“Punggung?”

Iya, punggung yang ini. Punggung dengan codet indah di atasnya.”

“AHAHAHAHA!” Imah tertawa

“IHIHIHIHIHI!” Ujang tertawa bangga.

Saat keduanya lelah, Ujang akan bercerita siapa itu Nina.

“Segalanya berubah setelah kejadian di Kota Birmingham negara Americola. Nina tak lagi bernyanyi dengan santai seperti di pantai. Selow seperti di Pulau.”

“Kapan itu Jang?”

“Tanggal 15 September 1963, Mah. kaum kulit hitam banyak yang mati terbunuh”.

“Apa hubungannya dengan Nina?”

“Karena Nina marah. Dia berteriak lantang dan dirinya tak lagi mampu mencapai oktaf yang selama ini dengan mudah ia gapai”.

“Kenapa Nina marah? Karena ia tak betah di rumah?”

Ujang mengangguk-angguk. “Iya, tapi bukan saja karena ia sedang depresi menghadai Andy, sang suami. Melainkan juga ia depresi melihat kulit hitam selalu dipecundangi”.

Ujang lalu menyetel sebuah lagu. Earphone miliknya disematkan pada telinga kiri. Untuk bagian yang kanan, ia pasang di telinga kanan Imah.

“Coba dengarkan…”

“Tahukah kamu Imah. Ada hal yang lebih penting dari sekadar memperjuangkan apa yang menjadi hak kita?”

“Apa itu Ujang?”

“Melepaskan apa yang telah menjadi hak kita..”

Pasrah?”

“Bukan. Melainkan berserah.”

“Wow, Ujang. Kamu islami sekali!”

“Kok Islami?”

“Iya, karena kamu berserah.”

AHAHAHAHA!” Ujang tertawa.

“IHIHIHIHIHIHI!” Giliran Imah tertawa bangga.

Lalu mereka melanjutkan bercinta di atas sofa. Diiringi lagu Puan Kelana dari Silampukau. Selama mungkin. Hingga majikan mereka tiba.

Jakarta, 25 Juli 2015. 08.07 WIB

Posted in: @linimasa

3 thoughts on “Nina Simone, Ujang Codot dan Gadis dengan Codet di Punggungnya Leave a comment

Leave a Reply