Pilih Sendiri Ritualmu

Sebagai seorang kepala dari sebuah keluarga kecil yang anggotanya hanya dua orang, terkadang saya merasa beruntung, tetapi ada kalanya saya merasa agak gundah. Beruntung kalau saya harus membuat keputusan yang sifatnya orangtua. Tidak harus terjadi diskusi alot antara papah dan mamah, atau perbedaan pendapat dan akhirnya salah satu harus mengalah; diskusi yang terjadi paling sering adalah antara saya dengan suara-suara di kepala sendiri. Beruntung juga kalau saya sedang jadi “bad cop”, anak saya tidak bisa lari ke “good cop” yang akan mengabulkan apa yang tidak diberikan oleh polwan galak, yaitu saya. Tapi saya galaknya biasanya tak lama, kok. Biasanya karena saya pun tak ada pilihan, beberapa jam kemudian kami sudah peluk-pelukan lagi.

Gundah tentunya banyak alasannya. Salah satunya adalah, saya sempat gelisah karena merasa kami tidak punya ritual. Saya ingat dulu ketika saya masih kecil, hampir selalu makan malam sekeluarga, walaupun saya hampir selalu membawa buku ke meja makan dan ibu saya hampir selalu memarahi saya karenanya. Apalagi ketika bulan Ramadan, lebih terasa rutin kami. Berbuka bersama, sambil ayah saya melagukan doa-doa khas, kemudian sembahyang magrib berjamaah, makan malam dan bersiap untuk tarawih di masjid kompleks. Kemudian di musim libur sekolah. Karena ayah saya bekerja di pedalaman, hampir selalu mendapatkan cuti cukup lama sehingga bisa mengajak kami – anak-anaknya – yang haus hiburan ke luar dari pedalaman tersebut dan melihat kerlap kerlipnya ibu kota. Terkadang juga ayah saya harus kembali lebih dahulu dari kami karena pekerjaannya, tetapi kami biasanya meneruskan dengan menginap di rumah nenek bersama Ibu.

Kenangan-kenangan ini (walaupun tak semuanya manis, tetapi tetap teringat terus) yang membuat saya bertanya-tanya; apa ya, nanti yang akan dikenang oleh anak semata wayang saya tentang waktu kami bersama? Makan malam di rumah, nyaris tak pernah sempat. Sembahyang bersama? Cukup dua kali satu tahun saja, atau ketika kami main di rumah ayah saya. Sering merasa bersalah, tetapi ya badan saya tak bisa dibelah. Tetapi kemudian ingat, saya masih suka membacakan buku yang dia suka sebelum tidur. Kalau lagi di mobil berdua dan mendengar lagu yang disuka, kami juga lalu bernyanyi keras-keras sambil bergaya sok asik. Di akhir pekan kalau sudah di tempat tidur tetapi belum terlalu mengantuk kami suka tertawa-tawa sambil menonton Adventure Time atau Friends. Mengenai liburan, sudah dua kali saya, anak saya, adik saya dan anaknya berlibur bersama, dan saya harap bisa jadi ritual kami berempat juga, karena menyenangkan sekali rasanya.

Mungkin ritual kami tidak agama-sentris dan tidak sesuai syariah. Tetapi paling tidak keluarga mini yang hanya berdua ini senang dan happy melakukannya. Jadi ya sudah, tampaknya itu dulu ritual kami. Kalau nanti saya bertambah tua dan anak saya bertambah besar, pasti akan berubah dan bertambah lagi. Atau Anda ada usul untuk ritual kami?

Iklan

10 thoughts on “Pilih Sendiri Ritualmu

  1. Persis, senasib dg saya. Boro-boro ritual, jadwal sering berubah2 negoisasi diantara urusan kerjaan, dan jadi orangtua. Ritual satu2nya sampai sekarang adl: jika di mobil/taksi kami bergenggaman tangan. Selalu.

    Disukai oleh 1 orang

  2. tidak ada tokoh bunda atau mama utk anak semata wayang itu dlm tulisan di atas. bagaimana jika utk memulai ritual utk kelg kecil ini ditambahkan sosok bunda atau mama atau ibu terlebih dahulu? 😊😊

    Suka

    1. sory. saya yg ga cermat baca cerita ini dan penulisnya .. mgkn harus menambahkan tokoh ayah atau papa dlm cerita ini utk memulai ritualnya..😊

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s