Ke Pasar, Di Pasar

Salah satu kenangan masa kecil yang masih terpatri di ingatan saya adalah pergi ke pasar tradisional. Bersama ibu, saya pergi ke pasar tradisional di pagi hari untuk menemaninya berbelanja. Biasanya aktivitas ini kami lakukan di hari Minggu pagi atau hari libur, karena dari Senin sampai Sabtu saya pergi ke sekolah.

Tidak banyak yang saya lakukan, kecuali membawakan barang belanjaannya. Itu pun tidak terlalu banyak, karena waktu itu saya masih kecil. Padahal untuk ukuran anak di bawah 10 tahun, waktu itu berat badan saya di atas rata-rata. Toh tetap saja, karena masih dianggap anak kecil, jadi barang bawaannya tidak terlalu banyak.

Paling saya hanya mengamati ibu saya melakukan proses tawar menawar saat membeli bahan-bahan makanan atau kebutuhan pokok lainnya. Menawar tidak melulu membuat harga lebih murah. Bisa juga menawar artinya membayar dengan harga yang sama, lalu menambahkan kuantitas atau jenis bahan lain sebagai bonus.

Misalnya, ibu membeli bahan-bahan membuat sup ayam seharga lima ribu rupiah, lalu oleh penjual diberi tambahan kacang kedelai seperempat kilo. Meskipun kacang kedelai tersebut tidak masuk ke dalam bahan sup ayam, toh bisa digunakan untuk jenis makanan lainnya.
Demikian pula saat ibu memutuskan untuk membeli tahu dengan uang yang sama, bisa jadi irisan yang diberikan penjual lebih tebal dari biasanya. Tentu saja ini terjadi setelah proses tawar menawar.

IMG_0176

Sebagai imbalan atas menemani beliau, biasanya sebelum kami mengakhiri semua proses berbelanja ini, ibu akan mengajak saya ke toko kue di dalam pasar. Itu pun setelah diwanti-wanti oleh beliau, “Jangan ke toko yang di sebelah situ. Yang di sini saja. Rasanya sama saja, tapi harganya lebih murah. Yang di sana menang merek.”
Atau bisa juga setelah itu dia menyuruh saya membeli beberapa bungkus nasi pecel untuk dimakan bersama-sama di rumah. Meskipun beberapa kali saya memilih makan di tempat, karena sudah terlalu lapar.

Selain ke pasar yang menjual bahan masakan dan makanan, ibu saya juga pernah berdagang batik. Yang selalu saya ingat adalah betapa giatnya ibu saya menembus berbagai lorong Pasar Klewer di Solo yang gelap dan membingungkan, untuk sekedar mencari batik dengan kualitas terbaik dan harga yang murah. Kalau sudah begitu, ibu tidak mau ditemani. Baginya malah semakin repot mengurusi anak kecil yang mudah lapar karena kepanasan di dalam pasar.

Solusinya? Saya “dititipkan” di pedagang di pasar tersebut. Waktu itu ada salah satu tempat penjual majalah bekas di sebuah sudut di pasar ini. Letaknya di depan toko emas. Majalah yang dijual sangat banyak. Setiap ibu akan mulai menjalani aktifitasnya mencari batik, ibu selalu berkata, “Kamu di sini saja ya. Nanti dijemput satu jam lagi. Paling lama 1,5 jam.” Saya mengangguk. Waktu itu belum ada ponsel atau pager, sehingga kami saling percaya saja terhadap satu sama lain.

Lalu saya mulai membaca majalah-majalah yang ada. Kalau bosan, saya mengobrol dengan penjualnya. Kadang ikut merapikan dagangannya. Kalau dia perlu ke kamar kecil, saya ikut menjaga tempat jualan majalah itu. Setelah satu atau 1,5 jam, ibu akan menghampiri saya, lalu membayar majalah-majalah yang mau saya beli. Biasanya bapak penjual akan memberi bonus satu majalah tambahan.

IMG_8239

Pasar Klewer sudah berubah saat saya berkunjung ke sana tahun lalu. Tidak ada lagi tempat penjual majalah bekas. Demikian pula pasar tradisional di kota kelahiran saya. Bentuknya sudah lebih modern. Ibu masih pergi ke pasar, sementara saya hanya mengunjungi pasar tradisional kalau pergi ke luar kota yang, menurut saya, pasar tradisionalnya masih menarik untuk dikunjungi.

Yang membuat saya selalu kangen dan ingin pergi ke pasar adalah proses interaksi langsung antara sesama manusia. Secara langsung, ibu saya mengajari the art of persuasion saat melakukan tawar menawar. Mulai pura-pura pergi menjauh saat harga yang kita ajukan ditolak dulu, lalu mendekat lagi saat penjual setuju dengan harga yang kita mau, sampai mendapatkan lebih dari apa yang kita perlu. Pergi ke pasar juga melatih kita menganalisa manusia. Mana penjual yang jujur, mana penjual yang suka menipu. Mana pembeli yang mau membeli, mana pembeli yang sekedar melihat-lihat saja.

IMG_0174

Tentu saja sekarang kita sangat dimudahkan dengan bertransaksi tanpa harus bertemu muka. Lebih cepat, lebih praktis, lebih efisien. Hanya saja kita perlu ingat, bahwa selalu ada manusia lain di balik akun penjual di mana kita melakukan transaksi. Thus, we shall never forget that we need to communicate with them just like how we talk to fellow people.

Dan kalau di sekitar Anda ada pasar, pergilah ke sana. Mungkin kita sedang tidak perlu banyak barang saat pergi ke sana. Tapi, siapa bilang kalau pergi ke pasar hanya membeli barang saja?

Go, and experience the wonders.

Advertisements

Some People

Some people stay longer than expected.
They carve abundant of memories in us.
They hope that each one of them is taken as a token of remembrance.
The choice is for us to keep, or not.

Some people pass by quickly.
They bring out temporary joy without intention to stay.
Often surprisingly, we are left with no choice but to remember their fleeting presence.

Some people make repeated visits.
Obviously each and every single visit vary.
We welcome them at our own conscience.
Sometimes we give them warm embrace, sometimes we brush them off with cold shoulders.

Some people vanish completely from our life.
Yet, how they make us feel will never go away.

Some people are not meant to stay at all.
Yet, their brief time in our memory often goes a long way.

Some people forget us. Do we need to ask?
Some people remember us. Do we deserve it?

Some people do not come back.
Neither do we.
But the feeling stays.

Sometimes, some people come in our life for a very short time to make a memory that lasts a lifetime.

(Courtesy of ankushmodawal.blogspot.com)

(Courtesy of ankushmodawal.blogspot.com)

About Teddy

Melayangkan ingatan ke akhir abad ke 20 atau awal abad 21, saya kurang yakin. Dan karena saat itu belum ada social media, sepertinya sulit saya verifikasi. Suatu hari saya diminta untuk meliput satu pemutaran film oleh seorang sutradara muda. Judul filmnya Culik, dan tempatnya PPHUI. Filmnya gelap, secara harafiah maupun simbolik. Tetapi ada satu yang saya ingat jelas, walaupun ini sudah terjadi lebih dari sepuluh tahun yang lalu; kameranya bergerak terus. Sepanjang film. Saya juga ingat keluar dari ruangan teater merasa mabuk laut. Kemudian ada pula sesi tanya jawab dengan sang sutradara, Teddy Soeriaatmadja. Saya juga ingat kalau dari obrolan ini Teddy terkesan agak arogan, idealis dan tidak suka berkompromi. Kesimpulannya, impresi pertama saya kurang baik.

teddy-soeriaatmadja_photo

Teddy Soeriatmadja (Sumber: Jaff-Film Fest)

Maju beberapa tahun kemudian, sutradara muda berbakat ini mengeluarkan film-film seperti Banyu Biru, Ruang dan Badai Pasti Berlalu, yang dari membaca resensinya tidak membuat saya ingin menonton. Maafkan, kalau saya memang tipe penonton yang kurang nasionalis. Banyak sekali alasan saya untuk menghindari nonton film Indonesia, sementara alasan yang membuat saya jadi ingin menonton hanya sedikit sekali.

Maju lagi beberapa tahun kemudian, saya ingat tiba-tiba Ibu saya mengajak menonton film Indonesia, Lovely Man. “Kata teman Mama bagus!” Baiklah, saya akhirnya juga mengajak anak saya yang ketika itu saya pikir belum mengerti topik yang terlalu njelimet, tetapi saya agak kasihan meninggalkannya di rumah. Kami menonton dengan perjanjian, kalau menurut saya adegannya kurang sesuai, saya akan menutup mata anak saya dan dia akan menyumbat telinganya sendiri. Begitu saya paham soal tema dari film ini, saya mengharapkan melodrama mendayu-dayu tentang kaum yang dimarginalkan, apalagi kurang beruntung dari sisi materi. Ternyata saya salah. Filmnya sederhana, tak ada pretensi apapun, hanya menceritakan saja. Tidak juga ada kesan menghakimi, semuanya diserahkan ke penonton dengan kepercayaan penuh, kalau penonton cukup bijaksana dan cerdas melakukannya. Saya cukup heran ketika melirik ke penonton cilik sebelah saya yang tekun menonton sama sekali tak terlihat gelisah. Hanya sesekali menggenggam tangan saya lebih erat ketika ada adegan yang menimbulkan rasa takutnya. Kemudian terjadi adegan puncak, film berakhir, dan teater menjadi terang. Saya dan anak berpandang-pandangan. Lalu kami menangis bersama sambil berpelukan. Cukup lama, sampai ibu saya mencolek sambil menunjuk ruangan yang sudah kosong, mengajak keluar.

lovely-man

Lovely Man (Sumber: Filelengkap.com)

Saat itu saya berniat mengubah pandangan saya terhadap Teddy Soeriatmadja, karena begitu senangnya hati, melihat film Indonesia yang begitu jujur dan tidak ada embel embel moral maupun kearifan lokal. Paling tidak bukan pada bentuk yang dianggap orang kebanyakan. Tetapi Lovely Man berhasil menyentuh dan membuat saya memikirkannya hingga berhari-hari kemudian. Juga tentunya merekomendasikan ke teman-teman yang belum menonton. Yang sayangnya banyak dari mereka belum juga menonton karena waktu tayang yang blink and you missed it itu.

Lalu tiba di tahun 2013. Saya diundang menjadi salah satu juri festival film yang basisnya social media. Tentunya saya hadir dengan senang hati, apapun demi bisa menonton film yang mungkin orang lain tak bisa tonton. Salah satu yang masuk nominasi kategori naskah asli (kategori di mana saya jadi salah satu juri) adalah satu lagi dari Teddy; Something in the Way. Untuk kepentingan penjurian, diadakan screening di sebuah institut perfilman. Yang ternyata penontonnya hanya satu; saya. Di ruangan yang gelap saya kembali terbawa perasaan, lalu gemas karena tidak ada teman untuk membahas. Nafasnya masih sama dengan Lovely Man, tetapi ada sesuatu di Something in the Way yang membuat penonton lebih merasa tidak nyaman. In a good way (mudah-mudahan Anda mengerti maksud saya).

reza-rahadian-dalam-film-something-in-the-way

Something in the Way (Sumber: Muvila.com)

Tahun kemarin, saya kembali menjadi juri di kompetisi yang sama. Dan diadakan pemutaran film yang masuk nominasi (walau bukan kategori saya), tetapi begitu diberitakan kalau akan ada screening film Teddy yang baru, About a Woman, tentunya saya segera tunjuk tangan. Saya kali ini bersiap mengajak teman agar ada teman membahas, but he bailed on me (melirik tajam ke seseorang). Ternyata tetap beruntung, karena saya jadi berkesempatan berkenalan dan mengobrol banyak tentang proses pembuatan film ini dengan pemeran utamanya; Ibu Tutie Kirana.

maxresdefault1

About a Woman

Tiba waktunya menonton filmnya. And Teddy did it again. Baru kali ini saya melihat film Indonesia yang menceritakan isu begitu delicate dengan cara yang begitu sensitif, tak setitik pun ada judgement, rasa lebih tinggi dari penontonnya maupun dikte muatan tertentu. Begitu jujur, bahkan kamera terasa jujur, begitu diam dan hanya mengamati. Tetapi juga begitu relatable, sehingga di klimaks film, hati seperti tercabik cabik tak menentu (drama) tanpa harus melodramatis, dan tanpa menggunakan lagu score yang mendayu-dayu. Yang agak menyebalkan buat saya, penonton yang cenderung tertawa di bagian-bagian film yang uncomfortable. Heran, kenapa knee-jerk reaction mereka jadi tertawa. Tetapi dalam hati saya berkesimpulan kalau, mungkin itu cara mereka menghadapi ketidaknyamanan. Intinya, setelah menonton, saya merasa tenggorokan saya tersumbat hingga berjam-jam. Ketika berjumpa lagi dengan Ibu Tutie, saya memeluknya sambil mengucapkan terimakasih, because she’s so beautiful and wonderful in the movie (sama sekali bukan ‘res). Kalau Teddy hadir, mungkin saya juga akan peluk (#eh #memanggatelaja).

Setelah melihat ketiga film ini, saya dengan yakin memasukkan nama Teddy Soeriaatmadja sebagai salah satu sutradara yang filmnya tak akan saya lewatkan. Sebaiknya Anda juga jangan melewatkan. Walau film ini tidak akan tayang reguler di bioskop kesayangan Anda, monggo, dicari di bioskop-bioskop kecil independent, atau festival lokal, atau malah buat festival sendiri dan memasukkan ketiga film ini jadi agenda. I believe more people should watch them.

SEKS

Tergantung. Mau dilihat dari mana? Sebagai prokreasi atau rekreasi?

Minggu sore kemarin, dalam pertemuan tak sengaja di sebuah kafe yang baru buka. Pembicaraan menghasilkan satu kesimpulan: “kawin bukan melulu soal seks, seks tidak cuma penetrasi dan ejakulasi, penetrasi dan ejakulasi pun belum tentu hanya untuk membuahi.” Jelas, kesimpulan ini bukan suatu pemikiran yang baru atau revolusioner. Apalagi setiap orang memiliki persepsi masing-masing terhadap urusan yang satu ini.

Sama seperti makhluk hidup lainnya, manusia melakukan hubungan seksual untuk berkembang biak, meneruskan jejak karbon di muka bumi ini. Namun kita patut bersyukur, menjadi makhluk dengan pikiran dan perasaan. Sehingga dianugerahi kemampuan untuk bikin hubungan seksual bukan sekadar persetubuhan. Lengkap pula dengan bentuk genitalia sedemikian rupa, yang mengharuskan terjadinya kontak fisik secara langsung. Membuat manusia mengenal kata “intim” dan “mesra”. Berbeda dengan ikan, misalnya. Ketika sang betina harus men-squirt sel telurnya ke lokasi tertentu, untuk kemudian dibuahi pejantan secara terpisah. Ibarat punya anak dari hasil masturbasi.

Dengan pikiran dan perasaan, hubungan seksual bisa menjadi lebih nikmat dan menyenangkan, bahkan mampu membuat para subjeknya mengalami ekstase dalam arti sebenarnya. Dengan pikiran dan perasaan pula, aktivitas yang sama dapat terasa begitu menyakitkan, melukai, dan meninggalkan trauma. Hanya saja, karakteristik kedua kutub ini begitu versatile, sangat rapuh, terlampau luwes. Dalam banyak kasus, banyak orang tak sadar bahwa kenikmatan seksual yang ia rasakan mengarah pada adiksi, membuatnya terikat pada delusi. Kehilangan common sense. Saking parahnya, juga melibatkan pemaksaan. Menjadikan hubungan seksual tak lebih dari sekadar aksi untuk bisa muncrat doang. Membuat coli pantas disebut kemandirian seksual. Toh, senikmat-nikmatnya hubungan seksual, apa mesti berujung pada ketergantungan?

Pikiran dipengaruhi banyak faktor, termasuk nilai-nilai etika, standar moral, kaidah kepatutan, pertimbangan pribadi, dan alasan-alasan lainnya. Contoh umumnya, keperawanan dan ikatan pernikahan. Tanpa bermaksud sexist atau mengkultuskan selaput dara, diasumsikan bahwa perempuan akan lebih rela bersanggama dengan pasangan resminya, ketimbang separuh hati menyerahkan diri kepada pacarnya dengan embel-embel “pembuktian cinta.” Selain itu, konon, hubungan seksual yang dilakukan tanpa perasaan bersalah, dan dijalani dengan optimal oleh kedua belah pihak, akan terasa lebih menyenangkan. Berkemungkinan besar pula bisa menghasilkan pembuahan yang lebih baik, memang sangat dinantikan.

Sebagai sumber kreativitas, pikiran mewujudkan hal-hal baru dalam urusan seksual. Bisa berupa inovasi, fantasi, atau sekadar variasi. Selama tidak menghilangkan kenyamanan (dengan batas nyaman yang berbeda-beda), pikiran akan bersifat permisif dan mudah mendapat persetujuan. Sesuatu yang awalnya dianggap aneh/salah, bisa diterima siapa saja menjadi sesuatu yang wajar/benar. Misalnya, hingga era 70-an, hubungan seksual hanya lazim dilakukan di atas ranjang. Seiring berjalannya waktu, sah-sah saja bila pasangan suami istri ingin saling melancarkan serangan di dapur, ruang tamu, atau bahkan balkon loteng. Maupun perubahan gaya, dari posisi pemula (man-on-top alias posisi Missionary) jadi gaya berdiri, dan sebagainya. Beragam perubahan ini menjanjikan sensasi atau pengalaman seksual berbeda. Disebarluaskan secara terbuka pula.

Dewasa ini, pemikiran timpang mengenai struktur sosial gender juga mengemuka. Bagi oknum sebagian pria, terlebih yang merasa ganteng, merasa punya bentuk bodi idaman, merasa keren atau tajir melintir, juga merasa punya titit dan kelihaian seksual yang patut didambakan, kemampuan menaklukkan hati–dan kelamin–perempuan dianggap pembuktian sebuah keniscayaan. Atau versi ironisnya, cuma doyan “nyicip”. Apabila berhasil, bangga dan diumbar ke teman-teman satu geng laiknya sebuah pencapaian. Ndak tau kalau di semesta gay, apakah dengan latar belakang sama (pembuktian kalau masih laku, doyan “nyicip”) atau ada alasan berbeda.

Dari pikiran juga, seseorang bisa mengendalikan diri. Ibarat kata walaupun titit ngaceng maksimal, tapi tetap enggak asal sodok sana tusuk sini. Para cewek pun bisa tegas mengatakan tidak. Dengan berpikir, masih sempat mempertimbangkan konsekuensi yang bisa dihasilkan. Sila dibayangkan dan dibandingkan. [Cowok] Setelah sempat berhubungan seksual dengan pacar, apakah sanggup merasakan dan melawan dramanya? Apakah merasa terikat? Bak simalakama, apabila kamu terikat, maka kamu akan terpaksa merasakan ketidaknyamanan. Tapi apabila kamu tidak terikat, kamu dianggap cowok bajingan. Cuma mau ngewe doang. [Cewek] Setelah sempat berhubungan seksual dengan pacar, dan ternyata dia suka selingkuh tapi enggak mau mengaku salah, siap untuk putus? Di satu sisi, pasti pengin putus. Di sisi lain, pasti berasa enggak rela. Serba salah, kan?

Selain itu, pikiran juga bisa membuat seseorang begitu anti dan tabu terhadap hal-hal seksual. Pemikiran tertentu membuat seseorang lebih suka bersetubuh dalam kegelapan, melakukannya dengan cepat dan terburu-buru, enggan berkomunikasi dengan pasangan meskipun kenyataannya selama ini selalu dibuat tak nyaman dan “ditinggal dalam kondisi kentang”, menghindari berfantasi dan variasi, memutuskan untuk frigid, atau sekalian menjadi seorang aseksual maupun selibat setelah mendapat panggilan spiritual.

Sedangkan perasaan cenderung dipengaruhi dua hal: rangsangan indra dan perasaan itu sendiri. Dan kinerja perasaan tak akan bisa lepas dari pikiran. Keduanya saling sinergi, bisa menguatkan, atau malah melemahkan. Sederhananya, apabila tubuh mendapatkan sentuhan lembut di titik yang tepat, pasti ada yang tegang, bisa sange. Tanpa memandang siapa yang memegang, dan apa orientasi seksual orang yang dipegang. Kecuali kalau pikiran mengintervensi dengan kerisauan, dan penyebab ketakutan. Yang ngaceng akan layu seketika, gelisahnya batal. Ya pada intinya, Anda paham maksud saya.

Lalu, bagaimana sebaiknya memandang seks?

Tergantung. Mau dilihat dari mana? Sebagai prokreasi atau rekreasi?” Mau dilihat sebagai aktivitas berkembang biak, atau sebagai kegiatan yang memberi kenikmatan. Sebab pada dasarnya, seks tak bisa dilepaskan dari tujuan awal pelaksanaannya. Apakah ingin menghasilkan keturunan? Apakah ingin merasakan keintiman bersama pasangan? Atau keduanya? Terserah Anda sih. Jika bingung, ikuti saja panduan agama masing-masing. Bila agnostik, pakemnya cuma satu: “jangan buat jahat,” termasuk kejahatan seksual.

Alamiahnya segala sesuatu yang duniawi, seks bisa dipandang dari dua sisi. Baik dan buruk. Selain sebagai hubungan suami istri demi mendapatkan keturunan, agama-agama perenial purba menganggap bahwa seks adalah salah satu jalan menuju kontak ketuhanan, sesuatu yang transendental.

Di timur Indonesia, ada istilah “Mati Kecil” selaras dengan yang ingin dicapai dari praktik Kama Sutra. Maupun lelaku Maithuna, hingga jauh ke Eropa sana dengan Hieros Gamos-nya. Tapi ya itu tadi, lantaran transenden (baca: sulit dipahami) dan versatile, kearifan-kearifan ini malah disejajarkan dengan tindakan zina belaka: seks karena nafsu. Seks pun dianggap sangat berbahaya, selain sebagai satu-satunya cara untuk mendapatkan keturunan. Sayangnya, demi menjauhkan diri dari “bahaya” tersebut, manusia dibuat membencinya dengan cara-cara yang misoginis. Seks dibuat sedemikian menjijikan, manusia dibuat sedemikian malu dengan tubuh serta ketelanjangannya sendiri (coba tonton “Carrie” keluaran 1976), dan kenikmatan seksual dibuat tak terjangkau bahkan menyakitkan. Sebut saja praktik menjahit labia pada anak-anak di Afrika, atau mutilasi berupa pemotongan klitoris, salah satu organ seksual penting perempuan. Merampas kemerdekaan seseorang atas tubuhnya sendiri.

Kendatipun demikian, bersikap imbang akan jauh lebih baik. Seks tak lebih dari aktivitas alami untuk memenuhi salah satu kebutuhan dasar manusia. Posisinya berada di bagian paling bawah Piramida Maslow, bersama makan, minum, dan tidur. Akan tetapi, bukan berarti pula seks dilakukan segampang mengambil gelas, menuang air, lalu minum, sebab bakal terasa biasa. Kehilangan kesakralannya, sekadar jadi ajang pelepas gairah semata. Apalagi kalau terlampau sering, bae-bae jenuh.

Itu sebabnya, kawin bukan melulu soal seks. Karena kalau demikian, berarti ikatan suci pernikahan tak lain hanya legitimasi untuk ngeseks. “Bayarannya” adalah maskawin dan kehidupan bersama sampai akhir hayat/hubungan. Selanjutnya, seks tidak cuma penetrasi dan ejakulasi. Karena hubungan seks bukan sekadar gerakan berulang-ulang yang melelahkan, melainkan aktivitas yang mengejawantahkan kasih sayang dan kenikmatan jasmani serta rohani. Terakhir, penetrasi dan ejakulasi pun belum tentu hanya untuk membuahi. Karena orgasme adalah hak asasi setiap orang, bukan hanya untuk cowok yang ejakulasi, melainkan juga kesempatan bagi cewek untuk kejet-kejet atas persetujuannya sendiri.

[]

Farewell, 2014

Tidak menyenangkan memang. Namun perkenankan saya–beserta rekan-rekan di Linimasa–membuka tulisan piket kali ini dengan berbelasungkawa. Pancaran cinta kasih dari kami untuk semua penumpang dan kru penerbangan AirAsia QZ8501. Dekap erat kami untuk seluruh keluarga dan kerabat. Juga hormat kami kepada segenap pihak yang terlibat dalam proses pencarian maupun pendampingan.

Karya Ko Glenn

Karya Ko Glenn

***

Hari terakhir di 2014.

Pergantian tahun sejatinya hanya perubahan angka. Sesuatu yang mekanis. Konsekuensi logis dari sebuah gerakan linier, terus maju, dan mustahil terulang. Sebuah realitas yang dingin.

Apapun yang terjadi, detik demi detik tetap menyusun menit, dan seterusnya. Akan tetapi, apa yang terjadi dalam setiap detik itu menjadi komponen penyusun kehidupan. Selalu menggubah keadaan hati dan pikiran, entah jadi simfoni ceria atau tragedi memilukan. Meninggalkan kesan. Asa yang menghangatkan.

Banyak kawan yang berharap 2014 segera berlalu. Tak sedikit pula yang susah lepas dari kenangan indah yang telah berlalu. Mereka punya alasan masing-masing, dan semuanya bebas dari vonis benar atau salah. Hanya ada dua kesamaan yang mereka–kita–miliki: sama-sama menafikan saat ini, dan ketidaktahuan akan masa depan.

Dari ketidaktahuan akan masa depan, kita seringkali tak berada di saat ini. Melewatkan momen kehidupan begitu saja. Gara-gara ketidaktahuan akan masa depan itu pula, muncul dua hal yang diakrabi manusia fana sepanjang hayatnya: harapan, dan kekhawatiran. Dua hal yang sama-sama digunakan untuk menghadapi ketidakpastian. Sementara prediksi, ramalan, perhitungan, maupun hasil studi-studi Semiotika tetap membutuhkan pembuktian, tanpa menyisakan jeda untuk koreksi maupun revisi. Layaknya berjudi dengan peluang 50:50. Tak ada yang bisa dijadikan pegangan.

Anda pasti sudah tahu, harapan itu positif, sedangkan kekhawatiran itu negatif. Harapan itu menguatkan, dan kekhawatiran itu melelahkan. Dengan harapan, mudah bagi kita untuk bangkit dan bersemangat kembali. Dengan kekhawatiran, seolah tidak ada waktu untuk berhenti gelisah. Selalu susah. Jadi, pilihannya kembali ke Anda, ingin menyongsong misteri masa depan dengan cara seperti apa. Tidak lupa pula, baik harapan maupun kekhawatiran itu “menular”. Memengaruhi udara di sekeliling.

Hanya saja, jangan sampai diperdaya diri sendiri. Menjalani kehidupan dengan penuh harapan memang baik adanya. Namun akan berbahaya bila tidak dibarengi kemampuan menerima segalanya. Lewat harapan, seseorang berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkannya. Iya kalau berhasil, siapkah bila gagal? Tidak ada yang bisa menjamin kebahagiaan. Namanya juga misteri masa depan, selalu penuh kejutan. Pada umumnya, orang-orang dengan overdosis harapan atau terlalu berharap, sulit menerima kenyataan.

Berharap dapat pacar;
Berharap jadi cantik/ganteng;
Berharap terkenal;
Berharap naik jabatan;
Berharap segera dinikahi;
Berharap cepat kaya;
Berharap dapat warisan;
dan sebagainya.

Di sisi lain, kekhawatiran memang merugikan. Itu kalau kebanyakan. Tatkala memiliki sedikit kekhawatiran, kita bakal ingat pentingnya sikap berhati-hati. Justru lebih baik ketimbang berlaku serampangan. Kehati-hatian yang kita miliki, ibarat jaring pengaman dalam sebuah pertunjukan trapeze. Memang tidak ada yang ingin celaka, namun setidaknya tetap sigap saat terpaksa harus menghadapinya.

Keputusan akhirnya, lagi-lagi kembali di tangan Anda.


Sebenarnya, tidak ada yang perlu Anda iyakan dari beberapa paragraf di atas. Perkara setuju atau tidak, semua itu adalah hak para pembaca yang budiman sekalian. Lagipula, saya cuma manusia biasa; jago menasihati orang lain, tapi sulit menerima nasihat orang lain. Pun masih sering sukar menerima kenyataan, kerap khawatir berlebihan, bebal dan penakut. Salah satu bukti, entah sudah berapa puluh kali saya didorong untuk hijrah, tapi dengan jurus Seribu Kilah, pantat saya tetap menempel di sini, masih betah.

Layaknya orang normal pada umumnya, saya tetap punya harapan untuk menjadi seseorang yang lebih baik di 2015 mendatang–diupayakan mulai besok. Sebagiannya sudah saya tulis saat piket pekan lalu. Agak abstrak sih. Soalnya, saya tidak sreg dengan konsep menyusun list resolusi. Alih-alih tercapai, yang ada malahan menambah beban batin. Penginnya sih menjalani hidup yang mengalir saja, walaupun ndaktau muaranya ke mana.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, 2014 di mata saya sungguh berwarna. Cuma kadang-kadang warnanya ngejreng, ada kalanya gelap, lebih sering gurem. Kendatipun begitu, tetap banyak yang wajib disyukuri. Dompet tetap ada isinya, meski tak seberapa. Masih ada yang bersedia dikibuli, walau di seberang lautan sana. Punya teman-teman hebat, terlebih yang saban hari mengisi tulisan di sini.

Ya! Salah satu warna ngejreng yang sangat saya syukuri saat ini adalah kuning. Bukan Golkar yang pasti. Tapi kuning yang dipilih Mas Roy sebagai ciri khas background wadah tulisan rame-rame ini. Berasanya mirip pesta sunatan massal: selalu meriah.

Sedikit cerita ya. Kebagian jatah setiap Rabu, awalnya saya “bertugas” untuk menulis topik-topik yang berhubungan dengan agama, spiritualitas, dan berkutat di seputar itu. Sayangnya, saya bukan pakar ilmu komparasi agama yang telah diajarkan di perguruan tinggi bergengsi dalam dan luar negeri. Belum lagi sempat dikira ingin mempromosikan agama sendiri, mengembalikan kejayaan era Sriwijaya. Hahaha! Jadi tidak jarang melenceng, dengan sengaja. Untungnya ndak ada yang marah. Lagipula niatnya memang untuk saling berbagi, bukan menggurui, apalagi menghakimi. Makanya, seneng banget kalau ada yang meninggalkan komentar untuk berdiskusi, berinteraksi di sini. Manusiawi.

Seringkali juga malah bingung pengin nulis apa. Karena itu, yours truly ini juga menerima saran dan masukan topik dari para pembaca yang budiman sekalian. Kali-kali aja ada hal lucu buat didiskusikan. Kan, Internet butuh lebih banyak hati. Dengan media inilah kita ketawa-ketiwi bareng. Terima kasih.

Diberkatilah Mas Roy, Ko Glenn, Gandrasta, Kang Agun, Mas Nopal. Sebuah kehormatan bisa nyelip di antara mereka. Juga buat Fafa, yang entah karena angin apa nggandeng saya ikut nimbrung di Linimasa.

Doa dan harapan saya, semoga 2015 menjadi tahun kegemilangan bagi mereka, juga Anda, kita semua. Memberi kesempatan bagi kita untuk bermanfaat bagi sesama. Berlanjut sampai tahun-tahun berikutnya.

***

Hari terakhir di 2014. Rabu ini, buatlah ia jadi penuh arti. 🙂

Selamat menjalani tahun yang baru.

[]

Perlu Judul?

Bersikap kaku dan aneh, terlalu formal, ndak fun, cenderung menakutkan, susah didekati karena aura yang intimidatif, selalu bertentangan dengan pendapat orang lain, negatif, irit bicara, tapi kalau sekali bersuara langsung nyelekit cocok buat digampar, seringkali congkak, dan sebagainya, dan sebagainya. Demikianlah kata mereka. Tentang saya. Sejauh ini. Walaupun tidak semuanya. Diam-diam, ada yang mengangguk di kejauhan. Membenarkan.

Mungkin pendapat mereka benar adanya. Mungkin bisa juga seperti adagium “Tak Kenal Maka Tak Sayang, Sekali Sayang Tak Bakal Lekang”. Ndak ada yang tahu pasti. Tapi gara-gara itu semua, rasanya pengin banget jadi orang yang puitis dengan indera lebih sensitif terhadap hidup dan kehidupan di sekeliling. Juga romantis. Sedikit perubahan dari kondisi yang ada saat ini. Menjadi pribadi yang lebih lunak. Lagi-lagi, ada yang mengangguk di kejauhan. Mengiyakan. Meskipun kata Sang Tathagata, semua hanyalah jerat delusi semata.

Mohon maklum, Guru. Saya masih berusaha belajar membuka mata. Masih jauh tahapannya dari menutup mata, untuk mulai melihat dengan hati.


 

Puitis. Batin yang begitu mudah tergugah.

Ketika melihat sehelai daun–apa pun itu–rontok, jatuh perlahan dari tangkainya. Berpisah. Ia sempat berputar-putar indah di udara selama beberapa saat. Indah dalam ketidakberdayaannya. Kemudian mendarat di permukaan tanah dan pergi terseret angin. Dibawa entah ke mana.

Ketika melihat bulir-bulir air yang menempel di kaca jendela saat gerimis menjelang senja. Mati lampu saat itu. Titik demi titik. Beberapa di antaranya bertemu, menyatu, menjadi lebih besar. Cukup berat, hingga meluncur perlahan kemudian. Mengalir, berkumpul dengan sesamanya.

Ketika melihat sang kekasih. Tertidur pulas. Bibirnya terkatup rapat. Hangatnya masih berbekas. Damai, meski hanya berbungkus selimut bergambar beruang cokelat dari perut ke bawah. Lehernya sedikit berkeringat, gerah tampaknya. Akrab dengan aromanya. Dengkurnya halus, tapi terus ada. Seperti energi yang sengaja dipenjara, agar siap menggila saat kembali dilepaskan esok harinya.

Maaf. Picisan. Akan tetapi sekiranya demikian. Membantu memaknai hidup dengan kesan berbeda. Rehat sejenak dari dunia yang tergesa-gesa.


Romantis. Hati yang lebih lembut.

Ketika bisa menjawab semua pertanyaan “buat apa?” dengan kalimat “demi cinta.

Tahi kerbau memang. Tak bisa bikin kenyang memang. Hanya saja, hampir seisi dunia masih terlampau mudah dibuat takluk olehnya, oleh sesuatu yang sampai saat ini belum saya anggap sebagai sebuah keniscayaan. Sesuatu yang berada di luar akal sehat. Sesuatu yang kerap kali mengganggu dan menyusahkan. Membuat kita makin hanyut dalam keadaan. Tapi tetap ada, dan terus kuat mencengkeram.

Kenyataannya, saya bukanlah kekasih. Masih sangat jauh dari kualitas itu. Mbuh, saya sendiri enggan, dilucuti dengan yang namanya cinta. Dibuat telanjang, bergumul, dan menjadi pecinta. Itulah sebabnya, dengan mudahnya saya bisa berbicara: “aku cinta kamu?

Lebih dari sekadar urusan raga. Cinta memang–yang selama ini saya yakini–jauh lebih tinggi. Nisbi dari berahi; menjadi bagian sekaligus terpisah jauh. Bikin mabuk. Saking mabuknya, sampai-sampai banyak yang bingung membedakan keduanya. Kabur. Samar. Harus ditampar. Begitu muntah, isinya mulai dari puja-puji sampai caci maki. Tergantung apa yang masuk sebelumnya.

Ndaktaulah bagaimana. Jangan tanya soal cinta sama saya.

 


Dari ihwal puitis sensitif dan romantis di atas, intinya cuma satu: saya pengin berubah. Angka tahun yang bikinan manusia aja berubah, masa’ saya yang manusianya ndak ikut berubah? Cita-citanya sih mulia, berubah menjadi persona yang lebih baik, akal budi, simpati dan perasaannya. Minimal berubah jadi baik bagi diri sendiri, syukur-syukur juga bisa dirasakan orang lain. Tapi lagi-lagi, ndaktahulah nanti bakal seperti apa. Biarlah saya berusaha semaksimal mungkin, sendiri. Kalau nanti perlu bantuan, paling juga nyari sendiri. Ya kan?

Juga ndak paham, mengapa mendadak bicara soal ini sekarang? Padahal ujung akhir tahun tepat jatuh di piket pekan depan. Tadinya malah pengin bicara soal film Bollywood teranyar yang masuk Indonesia: “PK”. Film yang ternyata jauh lebih transendental ketimbang ceramah-ceramah agama beberapa abad belakangan, dan/atau Mbak Fahira Idris, dan/atau FPI, dan/atau para pendeta yang berhasil mendirikan denominasi sendiri saking hebatnya berkhotbah, dan/atau para penyelenggara upacara pembakaran kertas nama demi “kavelingan” di surga dengan ajimat suku kata-suku kata tertentu, maupun kelompok-kelompok sayap kanan lain dari agama apa pun. Biar. Nanti saja dibahasnya. “Esok kan… masih ada…,” begitu katanya mendiang Utha Likumahuwa, kepada seorang nona manis. Lagipula toh di Linimasa sudah ada Mas Nauval, jawaranya urusan film.

Kembali soal harapan untuk berubah tadi. 2014 bakal berakhir sebentar lagi. Beberapa perubahan–atau upaya menujunya tengah saya usahakan. Orang-orang idealis lebih suka menyebutnya sebagai resolusi. Barangkali Anda juga punya resolusi masing-masing. Baik yang moril maupun materiil. Asal jangan ill-will. Soal kesan dan kenangan, mungkin bakal saya tulis pekan depan. Yang pasti, saya ingin membuka tirai beledu baru panggung 2015 dengan sejumlah kebaikan. Meninggalkan keburukan-keburukan yang merugikan orang lain. Mudah-mudahan bisa jadi kenyataan. Toh kebaikan itu universal. Baik ya baik, apapun perbedaannya. Buruk ya buruk, apapun alasannya.

Selamat Natal. Selamat berlibur. Tuhan, memberkati kita.

[]

Blup… Blup… Blup…

Mau tau caranya?

Baskom, kamu isi air penuh-penuh. Kamu masukin kepalamu.”

“Trus, kamu teriak kuat-kuat. Sekencang-kencangnya. Sampe capek. Sering-sering aja begitu.

***

Di rumah, mahasiswa semester V itu pun mempersiapkan baskom penuh air. Sejenak, mendadak ia teringat masa kanak-kanaknya. Selalu kungkum air hangat ketika mandi, dan menghabiskan lebih dari 60 menit bermain air sampai kulit jemarinya kisut semua. Kehidupan terasa lebih hangat dan menyenangkan, ringan, tanpa beban.

***

Kian petang. Ia mulai menjalani petunjuk yang disampaikan beberapa jam sebelumnya itu. Bersimpuh menghadap baskom hitam yang bau plastik. Ndak pakai gerakan dramatis apa-apa, ia masukkan kepalanya ke air sedalam cuping telinga setelah menarik napas panjang.

HAAAAARGH…!” Ia mulai berteriak dalam air. Senyaring-nyaringnya. Sekuat tenaga. Sampai terasa panas batang tenggorokannya. Tindakan itu ia ulangi sampai empat atau lima sesi, masing-masing berlangsung kurang dari lima menit. Di sesi pertama, teriakan itu menggema dalam rongga kepalanya. Ia mendadak menghentikan latihannya. Takut-takut teriakannya terdengar seisi rumah. Bisa bikin kaget dan panik, pikirnya. Baru pada sesi kedua, ia sadar bahwa teriakannya hanya nyaring dalam bola kepala saja. Partikel air hanya menyisakan bunyi lirih, beserta letusan gelembung udara. “Blup… Blup… Blup…Ndak signifikan.

***

Kurang lebih lah.

Demikianlah “jurus” yang dibagikan seorang (almarhum) penyiar radio asal pulau Jawa–ninetyniners Bandung, begitu katanya–kepada penyiar magang, si mahasiswa. Berkaitan dengan pita suara, dan warna vokal untuk dipakai mengudara.


Era media sosial, sekarang. Ketika semua orang bebas berbicara, dan meninggalkannya di linimasa sendiri-sendiri untuk dibaca manusia lainnya, lalu berharap mendapat ratusan respons biar berasa populer. Ketika makin banyak “lulusan Twitter/Facebook/Instagram Institute”, ketimbang para ahli benaran. Ketika kata eksis mendadak punya makna sosial berbeda, dan seolah hanya bisa tercapai dengan bertindak ceriwis terhadap hampir semua hal. Mulai foto makanan sampai UMK. Dari kegalauan delusif sampai debat enggak penting tentang apa saja mengenai presiden ketujuh republik ini.

Khusus untuk contoh terakhir di atas, sumpah ya, melelahkan dan bikin muak saking seringnya. Tidak mustahil, Anda yang sedang baca tulisan ini sekarang, juga kerap menyimak bahkan tercemplung dalam perdebatan itu. Rata-rata dipicu posting-an di halaman depan Facebook. Bisa berupa status panjang lebar, juga berupa foto sharing-an dengan caption yang berparagraf-paragraf, atau tautan artikel tendensius dari situs-situs berkedok portal berita maupun blog yang Anda tahu sendirilah nama serta rupanya.

Mereka, yang terlibat dalam perdebatan berwujud puluhan hingga ratusan komentar, terlihat mengerahkan semua daya upaya untuk berargumentasi; berusaha menunjukkan bahwa hanya dia dan pemikirannya sajalah yang paling benar. Sedangkan partisipan lainnya tersesat, keliru, dungu, fanatik, pantas untuk dicemooh dan ditertawakan. Tanpa sadar, mereka seperti berteriak di dalam sebaskom air. Merasa nyaring dan menggemparkan, padahal kenyataannya hanya berupa bunyi mirip kentut setengah jadi.

Tidak ada yang luput dari kekonyolan ihwal perdebatan itu. Merasa terpanggil untuk menyampaikan pembelaan dan pernyataan penguat, padahal hanya dalam beberapa menit kemudian status pemicu perdebatan bergeser ke bawah, terganti dengan posting-an yang lain. Lalu, para pendebat dari kedua sisi pun tetap tak tergoyahkan. Teguh dalam hematnya masing-masing dengan cara yang boros tenaga. Tidak ada yang berpindah.

Ndak ketemu.

Seperti dua lingkaran dalam Diagram Venn. Terpisah sangat jauh, saking berbedanya, sampai-sampai ndak layak lagi disebut sebuah Diagram Venn. Setiap lingkaran mewakili/diisi orang-orang berpikiran homogen. Pendapat setiap orang dari lingkaran yang sama, diiyakan, diapresiasi, dan dipuji. Semua instrumen yang digunakan untuk memperkuat gagasan pun dianggap sebagai objek yang paling tepat, dan mewakili realitas. Sementara pendapat setiap orang dari lingkaran di seberang, ditolak, direndahkan, dan dihina. Itu pun kalau terdengar/sudi didengarkan dengan jelas oleh penghuni lingkaran satunya. Semua instrumen yang digunakan orang di lingkaran seberang pun dianggap sebagai objek abal-abal, hasil kamuflase, mengada-ada, dan kebohongan. Lagipula, tidak ada yang bersedia untuk ke luar dari lingkaran masing-masing. Nyaman secara khayali.

 

Mana yg benar?

Mungkin salah satu di antaranya.

Mungkin keduanya.

Atau mungkin tidak ada sama sekali.

 

Bukan perkara lingkaran mana yang benar dan salah, melainkan gaung semu yang hanya menggema dalam ruang terbatas; lingkaran homogenitas. Senyaring apapun dukungan atas sebuah pemikiran, atau sekeras apapun penolakan atas pemikiran yang berlawanan, hanya riuh rendah dalam lingkaran. Ndak peduli, mungkin juga ndak sadar kalau ternyata masih ada ruang tanpa batas di luarnya.

Walhasil, perdebatan nihil hasil. Membuang waktu, menyita perhatian dan konsentrasi, sok dramatis, tidak produktif, tanpa faedah yang berarti. Paling banter ya melatih kemampuan mengetik dengan cepat, meskipun kadang tidak tepat, banyak typo-nya.

Ehm, walau bagaimanapun, ialah hak setiap orang untuk ngapain aja, terlebih di dunia maya. Selama tidak ad hominem alias penghinaan yang bisa dituntut sebagai delik aduan, ya terserah Anda saja. Satu hal yang pasti: itu ngganggu. 🙂


Anyway, rupanya “jurus” teriak dalam air tidak mempan memodifikasi pita di tabung tenggorokan. Sampai saat ini, suara saya masih cempreng. Berasanya sih bikin ilfil. Tidak terdengar dalam, teduh, dan menenangkan seperti kebanyakan suara cowok yang sudah rampung pubertasnya. Malah ketambahan sengau, mirip orang yang baru kelar selesma.

[]

Sedikit tentang Perempuan

Perlu waktu sembilan tahun, sampai Church of England bersedia memperkenankan perempuan untuk jadi uskup.

Dimulai pada 2005. Kritik atas terbatasnya gerak kaum perempuan dalam tubuh gereja Anglikan khas Inggris itu dikemukakan. Muaranya, voting sinode menyetujui amendemen peraturan tersebut Senin kemarin, beberapa jam sebelum pengumuman kenaikan harga BBM di sini.

Gebrakan besar–cuma bagi warga Inggris–ini belum menjamin akan ada uskup perempuan dalam waktu dekat. Bukan mustahil, gelombang penolakan terus mengalir, syarat prosedural tambahan dapat diberlakukan. Membebani langkah para perempuan yang terpanggil untuk menjadi uskup, dalam organisasi gereja yang dianggap bidah oleh gereja Katolik Roma itu.

***

Amina Wadud dan makmumnya.

Dukungan maupun hujat tak putus-putusnya dilontarkan kepada Amina Wadud.

Perempuan 62 tahun itu menimbulkan kontroversi global, setelah bertindak sebagai imam Salat Jumat di Manhattan, juga pada 2005. Salat Jumat yang diikuti seratus orang (60 perempuan, 40 laki-laki) tersebut tanpa pemisahan saf, muazinnya juga seorang perempuan.

Salat dilangsungkan di Synod House, sebuah bagian dari katedral. Pasalnya, tiga masjid setempat menolak Amina Wadud dan makmumnya. Lalu, satu tempat netral yang sejatinya adalah pusat aktivitas religius-pluralistis India mendapat ancaman bom gara-gara bersedia menerima Amina Wadud. Synod House dipilih, karena Amina Wadud ingin menunaikan salatnya di tempat yang tersucikan secara spiritual.

***

Ndak perlu nunggu 21 April, Mother’s Day, atau peringatan-peringatan sejenis untuk nulis soal perempuan, atau membicarakan topik yang pakai embel-embel kata “emansipasi” di depannya. Toh, meskipun diskursus atau pembicaraan mengenai kesetaraan antara laki-laki dan perempuan selalu digencarkan pada momen-momen tertentu setiap tahun, tetap belum bisa mengubah realitas di beberapa bidang yang terjadi hingga saat ini.

Dua contoh di atas, misalnya. Sebagai peristiwa yang tergolong terlalu sensitif untuk dibicarakan di warung kopi sambil mengudap pisang goreng, tapi terlalu penting untuk dilewatkan sebagai momen pergolakan keperempuanan, urusan uskup gereja Anglikan maupun Amina Wadud tentu tidak bakal dicueki dan menguap begitu saja. Hanya saja sedinamis apapun pembahasannya, pasti buntu begitu berhantaman dengan pernyataan: “Mau punya uskup perempuan? Sudah sesat makin sesat!”, atau “Sampai kapan pun, perempuan tidak boleh jadi imam. Melanggar fikih!” Menegaskan bahwa kitab suci–agama-agama Samawi, khususnya–sudah mencantumkan ketentuan baku bagi posisi perempuan dalam urusan agama. Saklek. Ada perempuan yang menerima kenyataan ini dengan pasrah, tapi tak sedikit pula yang merasakan protes dalam hati.

Agak berbeda dengan pandangan agama-agama non-Samawi. Perdebatan tentang keperempuanan dan institusi agama bisa terkesan tarik ulur. Salah satunya, upaya membangkitkan kembali tradisi Bhikkhuni Buddhisme Theravada, yang telah punah sejak beberapa abad lalu dan dinilai mustahil untuk diselenggarakan lagi sampai saat ini. Mustahil, bukan lantaran tidak boleh, melainkan perangkatnya sudah tidak ada. Itu sebabnya, perempuan Buddhis Theravada zaman sekarang paling mentok hanya bisa ditahbiskan menjadi Atthasilani (seperti yang bisa ditemukan di STAB-STAB). Atthasilani kurang lebih sejajar dengan Samanera, calon Bhikkhu, plus beberapa aturan tambahan demi muruah kaum hawa. Sementara dalam Buddhisme Mahayana, keberadaan Biksuni masih ada, termasuk di Indonesia.

Terlepas dari itu, perempuan tetap memiliki kedudukan yang setara dengan laki-laki dalam hal prestasi spiritual. Perempuan juga bisa mencapai kebuddhaan sebagai Arahat, sebagai orang yang diajari. Sedangkan perempuan Buddhis yang umat awam dapat dilatih dan diangkat menjadi Pandita; berhak berceramah, berhak memimpin Puja Bhakti, berhak mengesahkan pernikahan, berhak menjadi kepala vihara.

Obrolan di atas baru pada ranah agama. Lumayan susah diotak-atik. Belum lagi pada ranah-ranah yang lain.

***

Sampai saat ini, sebagian besar manusia dengan selangkangan berbatang, masih kerap memperlakukan perempuan dengan tindakan dan perspektif yang tidak patut. Tak jarang berlaku secara komunal, menjadi budaya dalam lingkup bermasyarakat. Walaupun belum tak semuanya dikategorikan sebagai kejahatan.

Buktinya, seperti tulisan Gandrasta dua pekan lalu. Ketika perempuan seakan-akan boleh distempel dengan label “Penjahat Sosial”, jika masih lajang di usia 30 tahun ke atas. Dengan label tersebut, mereka digunjingkan, dicibir, diejek, didesak, orangtua mereka juga ikut-ikutan dibuat gusar, dan dikelilingi dengan ketidaknyamanan. Pertanyaannya, siapa yang memperbolehkan tindakan cap-mengecap itu? Sudah idealkah kehidupan rumah tangga si pengecap? Sebegitu kurang kerjaankah si pengecap, sampai ngepoin kehidupan pribadi orang lain?

Isu lainnya, terkait keharusan bagi para calon Polwan untuk menjalani pemeriksaan keperawanan, sebagai bagian dari tes kesehatan. Oke, pemeriksaan keperawanan memang disebut bukan sebagai penentu kelulusan, tapi kita tetap berhak mempertanyakan alasannya. Sebegitu pentingkah motifnya? Apakah tindakan ini masih didasarkan pada pandangan konservatif yang menganggap bahwa selaput dara adalah bukti kesucian? Sehingga tidak utuhnya selaput dara menandakan bahwa si empunya adalah perempuan hina? Terus, kalau dianggap hina, boleh makin dihina-hina harga dirinya, begitu? Kalau iya, duh, masih punya empati enggak ya?

Kemudian, masih ihwal selaput dara juga, para laki-laki kerap merendahkan perempuan. Memang terdengar remeh, dan seringkali dianggap sebagai kelakar ringan, bikin ketawa. Namun ungkapan “buka segel” saat malam pertama seolah menempatkan seorang perempuan, sang istri, laiknya barang yang baru dibeli di swalayan. Lembar etiketnya mencantumkan amaran: “jangan diterima apabila segel rusak/terbuka.” Kalau begini, apa bedanya antara pernikahan dan jual beli, dengan maskawin sebagai banderolnya? Sayang, belum ditemukan metode untuk mengenali titit perjaka dan titit berpengalaman, yang pemiliknya seringkali dijadikan mentor rekan-rekannya.

Sama halnya dengan kekeliruan sosial yang terus dipertahankan sampai sekarang. Yaitu anggapan yang mengatakan “cowok nggodain cewek = wajar, cewek nggodain cowok = genit,” atau “cowok nembak cewek = wajar, cewek nembak cowok = agresif.” Bagaimanapun, perempuan dan laki-laki sama-sama memiliki hati, pikiran, dan mulut. Kalaupun ada perempuan yang malu-malu, ada pula laki-laki yang terlalu dungu menangkap kode-kode umpan lambung di udara. Artinya, sama-sama memerlukan komunikasi, bukan gengsi. Kalau belum yakin cinta/ndak cinta, ya jangan seperti Rangga yang nggantungin Cinta sampai 12 tahun lamanya. Bikin puisi jago, giliran harus ngomong malah plonga-plongo. Untung masih ketolong cakep (#eh).

Satu lagi topik pembahasan yang tak kunjung kelar sampai sekarang. Jangankan perempuan, semua orang sepatutnya berbusana dengan sopan. Akan tetapi, apabila ada perempuan yang merasa nyaman dengan mengenakan rok mini atau pakaian seksi tanpa motif macam-macam (masih debatable), tidak serta merta bisa dijadikan pembenaran untuk melakukan perkosaan, bukan? Memang ada istilah “namanya kucing disodori ikan”. Masalahnya, apakah kecerdasan semua laki-laki di Indonesia ini setara dengan kucing tadi? Ndak punya kekuatan untuk mengendalikan diri dari gejala fisiknya sendiri? Lucu, alih-alih menyalahkan pemerkosa, eh malah sang korban yang digelari gatel. Mau bagaimanapun, dalam sebuah aktivitas seksual yang dipaksa, perempuan lah korbannya. Perempuan yang diperkosa lalu kesenengan itu cuma ada dalam skenario film bokep. Dusta semua.

Menelus ke bidang lainnya, sampai kapan kecantikan dan lekuk tubuh perempuan dijadikan alat utama untuk mempromosikan dagangan? Jangankan yang jualan bra dan celana dalam berenda, lah wong iklan permainan online juga menampilkan perempuan dengan eksploitasi berlebihan di area belahan payudara. Ya bedanya samar sih, antara orang yang niatnya cari penghasilan, dengan pablik fijyer yang haus pujian dielu-elukan berbodi seksi.

Foto: Pinterest

Foto: Pinterest

Pun para bos. Memang berhak mengatur urusan personalia di perusahaannya dengan sesuka hati. Tapi, bakal ketahuan jelas bos itu adalah orang macam apa, bilamana lebih memilih pelamar yang modalnya hanya tubuh semlohai menggemaskan, ketimbang yang benar-benar kompeten dan sesuai kebutuhan perusahaan. Tindakan itu namanya apa, kalau bukan mengkondisikan perendahan perempuan? Bisa jadi para perempuan pun berlomba-lomba menampilkan keseksian, yang seringkali artifisial, dipaksakan, buatan, menghilangkan kecantikan alamiahnya.


Masih banyak sih, tapi mari kita akhiri saja sampai di sini.

Perempuan dengan segala kompleksitas, misteri, dan keindahannya. Bahan perbincangan dan sumber inspirasi yang tak ada habis-habisnya. Makhluk yang kerap mendapat perlakuan merendahkan, karena saking tinggi kedudukan asalinya.

[]

Santai Saja

Pertamax, Gan!

Bukan untuk membantu pemerintah mempromosikan bahan bakar nonsubsidi, ungkapan itu populer di semesta maya Nusantara sejak beberapa tahun terakhir sebagai ekspresi kebanggaan. Bangga, lantaran “berhasil” menjadi pemberi komentar pertama pada sebuah topik, mendahului ratusan atau ribuan respons lain. Walaupun sejatinya, “komentar” yang ditulis itu tidak menyampaikan apa-apa.

Memang, manusia adalah makhluk yang kompetitif. Punya kecenderungan untuk ingin selalu menjadi yang pertama. Sifat tersebut bahkan ditunjukkan secara alamiah sebelum terjadinya pembuahan, saat jutaan sel sperma mesti bersaing dulu-duluan berkontak dengan satu sel ovum. Sampai akhirnya menjadi bakal si jabang bayi.

Masih tentang keterciptaan serta keberlangsungan spesies kita, dan objek di selangkangan. Ada dugaan ilmiah bahwa manusia memiliki pelir berbentuk unik juga gara-gara alasan serupa. Jangan dikira adanya celah sambungan antara kepala dan batang cuma untuk mempermudah genggaman. Terdapat fungsi kompetitif dan praktis di balik kehadirannya. Agar menjadi pejantan pertama, yang jutaan sel spermanya bisa benar-benar bergerak efektif menuju calon pasangan.

Ketiga contoh di atas menggambarkan betapa pentingnya pencapaian manusia sebagai “yang pertama” terhadap keberadaan fisik, dan keberadaan sosialnya.

Faktanya, banyak orang di sekitar kita, karena gengsi dan didorong oleh ilusi harga diri, berusaha setengah mati untuk jadi “yang pertama” demi eksistensi. Kelihatannya sih gembira, entah apa yang mereka rasakan sebenarnya.

Misalnya, ada yang mbelani terbang ke luar negeri, untuk beli dan jadi pemilik iPhone 6 pertama di kotanya. Barangkali dia memang fanboy sejati, sehingga sudah tak sabar ingin menikmati semua fitur terbaru dari telepon genggam superpintar seharga satu unit motor bebek itu. Lain ceritanya kalau dia hanya pengin pamer kemampuan membeli, tapi ndak paham cara pakainya. Kasihan.

Ada yang girang luar biasa, jadi orang pertama yang berhasil membeli koleksi terbaru kaftan mahalan (apalah namanya itu) setelah fotonya diunggah ke Instagram. Barangkali dia memang perempuan dengan selera berbusana yang mumpuni, sehingga giat berburu kaftan berkualitas tinggi. Lain ceritanya kalau dia hanya ingin ikut-ikutan tren, supaya ikut terlihat happening saat sedang arisan bersama teman-teman. Norak.

Ada yang berusaha tetap bersikap rendah hati, setelah namanya dicatat besar-besar sebagai donatur pertama dalam acara malam amal prestisius di grand ballroom hotel berbintang. Sebuah acara mewah berkelas yang dihadiri para konglomerat, selebritis, dan pejabat tinggi. Barangkali dia memang orang kaya yang punya jiwa sosial tinggi, ingin membagi sedikit hartanya untuk membantu panti asuhan, dan sebagainya. Lain ceritanya kalau ternyata dia hanya berharap mendulang reputasi, pengakuan, dan predikat terpuji di mata orang lain. Pencitraan.

Pernah berhubungan dengan orang-orang seperti itu? Apakah Anda terusik? Apabila iya, mungkin Anda iri. Kalau tidak iri, barangkali Anda cuma kurang kerjaan, sampai bisa memerhatikan orang lain dengan porsi yang agak berlebihan. Soalnya, bagaimanapun juga, semua tindakan mereka itu tidak ada sangkut pautnya dengan Anda. Mereka berangkat ke luar negeri, membeli barang-barang supermahal, dan berdonasi dengan uang, tenaga, dan waktu mereka sendiri. Dan Anda bisa dengan mudahnya mlengos begitu saja sambil berseru “bodo amat, bukan urusan gue inih!

Toh kalaupun mereka melakukan semua itu untuk tujuan yang kurang tepat, ada risiko dan konsekuensi yang bakal mereka hadapi sendiri. Jangan lupa, semua orang dibekali kemampuan untuk belajar dari pengalaman.

Kucingnya orang.

Kucingnya orang.

Jika mereka terkesan berupaya setengah mati untuk menjadi “yang pertama”, biarlah itu menjadi urusan mereka saja. Kita tidak perlu ikut-ikutan ribet sok menasihati, sok cemburu, atau sok benar menyikapi tindakan mereka. Cukuplah bersikap cuek, dan kembali fokus pada apa yang sedang/harus kita lakukan. Masih banyak yang lebih penting untuk diselesaikan, ketimbang mengurusi orang lain.

Hal yang lebih penting tadi, termasuk menjaga diri kita agar jangan sampai–secara sadar atau tidak–ikut setengah mati ingin jadi “yang pertama” hanya gara-gara gengsi dan latah budaya.

Memutuskan nonton film tertentu biar terkesan update, padahal waktu nonton bosannya ndak karu-karuan. Tapi kemudian sok yakin menjelaskan nilai moral, sinematografi, serta interpretasi pribadi. Nekat pesan espresso saat mengunjungi kafe baru, lalu menyumpah dalam hati “sudah isinya sedikit, mahal, pahit lagi!” Tapi kemudian memproklamasikan diri sebagai pecinta kopi asli, bukan produk pasaran. Minta diundang ke pagelaran busana haute couture. Padahal boro-boro jadi buyer, isi kepala saja blank sepanjang acara. Datang ke pameran seni, hanya untuk foto selfie di depan karya-karya yang ada, meski ndak paham dengan apa yang dipamerkan. Tapi kemudian mengaku hipster, sebagai generasi dengan hobi baru yang belum lazim selama ini. Serta masih banyak bentuk-bentuk kelatahan yang melelahkan lainnya.

Lagipula, nyari apa sih dengan menjadi “yang pertama”? Kenapa ndak sekalian aja ngejar jadi “yang pertama” menghadap ke yang mahakuasa? Biar snobbish-nya lebih istimewa.

[]

Berani?

Apa artinya bertindak baik kepada diri sendiri, tanpa bertindak baik kepada orang lain. Lalu, akan sangat naif dan bodoh bila bertindak baik kepada orang lain, tetapi tidak diimbangi dengan bertindak baik kepada diri sendiri.

Mau yang mana? Kalau kata guru BP dan PPKn sih harus dijalankan dua-duanya.

Bisa? Barangkali. Entahlah.


Apakah saya orang baik? Mungkin, bagi beberapa orang. Tidak sedikit pula yang beranggapan sebaliknya.

Penilaian kedua dihasilkan dari beragam penyebab dan alasan. Toh, saya memang bukan manusia bebas cela. Sebab bahkan pada kenyataannya, saya masih bisa menyakiti hati orang yang mencintai saya. Telanjur menyakiti, walaupun niatnya bukan menjahati.

Sejauh ini, saya merasa wajar-wajar saja ketika dicap sebagai orang yang tidak baik. Soalnya, saya belum tidak mampu sesuci Gandhi, nabi, atau siapapun figur yang dikultuskan hingga kini. Sebuah realitas, tidak ada orang yang tingkah lakunya sempurna. Bukan lantaran pikiran, perbuatan, dan ucapan yang jahat, melainkan karena pandangan dan penerimaan yang tak sepakat.

Selajur dengan itu, monggo dilihat latar belakangnya. Apakah tindakan yang dilakukan memang bertujuan untuk membuat orang lain sakit hati, ataukah hanya kepengin jujur dan enggak sudi membohongi diri sendiri?

Tidak berbohong. Itu perbuatan baik. Bersikap jujur. Itu juga perbuatan baik. Tapi keduanya kerap bermuara pada ujung yang terpisah jauh.

Kejujuran sejatinya sering terasa pahit dan menyakitkan. Memerlukan kesiapan dan keberanian untuk disampaikan. Namun bagaimanapun juga, kejujuran adalah kejujuran; menyingkap kebenaran. Sehingga, silakan dipilih. Mau bertindak baik dengan jujur, atau bersikap baik dengan menghindarkan orang lain dari perasaan sakit hati.

Jika mengambil pilihan kedua atas nama kehidupan sosial, rasa sungkan dan kasih sayang, memang tidak perlu melakukan tindakan buruk dengan berdusta. Cukup bungkam saja. Menjawab pertanyaan dengan diam, ataupun dengan senyuman. Meskipun demikian, tetap ada risikonya. Mulut yang terkatup rapat malah menimbulkan prasangka dan salah paham. Lebih runyam dampaknya apabila dibiarkan. Lagi-lagi, pada akhirnya masalah membutuhkan penjelasan.

Mungkin Anda pernah mengalami kondisi serupa, tapi dengan hasil akhir yang tak sama. Wajar saja, setiap orang yang menghadapinya berhak mengambil keputusan lewat pertimbangan berbeda-beda. Dalam perkara ini, orang lain hanya muncul dan memberikan suara. Itu saja peran mereka. Karena selain tuhan, setiap orang adalah pemilik, penanggung jawab, dan penentu arah kehidupannya masing-masing.


Jadi, setelah siap menerima kejujuran orang lain, sudah berani jujur pada diri sendiri?

[]

My Best Friend’s Wedding

Judul tulisan ini memang mirip dengan film komedi romantis yang dibintangi Julia Roberts dan Cameron Diaz di tahun 1997. Judul yang generik sebenarnya, karena kalimat itu bisa saja mengacu pada keadaan yang sebenarnya, yaitu pernikahan sahabat kita. Dan memang hal itulah yang berkecamuk di pikiran saya dalam beberapa hari ini, yang sempat membuyarkan segala konsentrasi dalam pekerjaan, maupun keharusan menulis di linimasa ini.

Teman saya, Agee, akan menikah besok.
Tidak ada kata “akhirnya” di kalimat itu, meskipun keputusan menikah dicapai setelah mereka pacaran selama 9,5 tahun.
Sembilan setengah tahun. Angka yang saya ucapkan berulang-ulang dalam hati with a great disbelief. Apalagi karena saya harus membuat pidato singkat kepada mereka di acara sakral tersebut.

Mungkin berita ini terkesan sepele. Pernikahan, batal menikah, perceraian, batal bercerai, semuanya menjadi santapan kita sehari-hari. Saya pun sebenarnya ingin memilih sikap tak acuh seperti itu, kalau saja tidak ingat bahwa selama hampir satu dekade itu, saya selalu berada di sisi calon mempelai perempuan ini dengan segala “drama” yang ada.

Misalnya, melihat dia menangis nonton Star Wars Episode III di bioskop, sementara penonton lain tegang melihat Ewan McGregor dan Hayden Christensen adu pedang, karena dia beradu mulut dengan pacarnya sebelum film mulai di lobi bioskop.
Terisak-isak di tengah Shrek 3 karena terima SMS “it’s over!”, tapi jauh sebelum sekuel film itu dibuat, eh sudah jadian lagi.

Sempat saya bilang, “Kalau saja kamu dan pacarmu adalah film, ini mungkin lebih buruk dari film A Lot Like Love itu.”
Dia hanya terkekeh, dan bilang, “It’s different, babe. My life, this real life, is very much boring. I stick to one man for the past decade, because I want to spend my life with him. That’s all I know. I don’t quit. I make it work.

Mungkin dalam konteks film komedi romantis, karakter ini bisa kita temui di karakter Jules dalam My Best Friend’s Wedding, atau seperti peran Jennifer Aniston dalam The Object of My Affection (dan sebenarnya, hampir semua peran Jennifer Aniston di film-film lainnya).
Bedanya, karakter di film, apalagi rom-com, hanya mengalami temporary blindness alias “keblaen” dengan karakter lain hanya selama 2 jam, tapi dalam kehidupan nyata, perseverance and persistence can last a lifetime.

Dan dua sifat itulah yang akhirnya membedakan apa yang kita lihat di layar, dan apa yang kita jalani sehari-hari.
Sementara saya menjadi penonton pasif setia film-film di atas yang dengan niat mengumpulkan alamat tautan, kutipan dialog dan lagu soundtrack satu per satu untuk tulisan ini dan playlist di iPod, Agee dan orang-orang lain memilih menjadi sutradara untuk kehidupan mereka. Paling tidak, menulis skenario yang menjadi panduan sampai ke ending.

Cerita real life ini akan jauh berbeda dari reel life yang kita lihat di layar besar atau kecil.
Tidak ada musik latar yang mengiringi mereka ciuman sambil terburu-buru menghabiskan sarapan di pagi hari. Tidak ada editor yang tiba-tiba memotong adegan pertengkaran di malam hari. Tidak ada penata rias yang membuat orang tetap terlihat cantik dan ganteng tanpa bekas iler saat bangun tidur.

Tetapi bagi Agee, dan siapapun yang akan bersumpah untuk saling setia sehidup semati di hari ini, akhir pekan ini dan waktu-waktu yang akan datang, who cares?

After all, a lifetime begins when two people say “I do”.

A template for romantic comedy poster.

A template for romantic comedy poster.