About Teddy

Melayangkan ingatan ke akhir abad ke 20 atau awal abad 21, saya kurang yakin. Dan karena saat itu belum ada social media, sepertinya sulit saya verifikasi. Suatu hari saya diminta untuk meliput satu pemutaran film oleh seorang sutradara muda. Judul filmnya Culik, dan tempatnya PPHUI. Filmnya gelap, secara harafiah maupun simbolik. Tetapi ada satu yang saya ingat jelas, walaupun ini sudah terjadi lebih dari sepuluh tahun yang lalu; kameranya bergerak terus. Sepanjang film. Saya juga ingat keluar dari ruangan teater merasa mabuk laut. Kemudian ada pula sesi tanya jawab dengan sang sutradara, Teddy Soeriaatmadja. Saya juga ingat kalau dari obrolan ini Teddy terkesan agak arogan, idealis dan tidak suka berkompromi. Kesimpulannya, impresi pertama saya kurang baik.

teddy-soeriaatmadja_photo
Teddy Soeriatmadja (Sumber: Jaff-Film Fest)

Maju beberapa tahun kemudian, sutradara muda berbakat ini mengeluarkan film-film seperti Banyu Biru, Ruang dan Badai Pasti Berlalu, yang dari membaca resensinya tidak membuat saya ingin menonton. Maafkan, kalau saya memang tipe penonton yang kurang nasionalis. Banyak sekali alasan saya untuk menghindari nonton film Indonesia, sementara alasan yang membuat saya jadi ingin menonton hanya sedikit sekali.

Maju lagi beberapa tahun kemudian, saya ingat tiba-tiba Ibu saya mengajak menonton film Indonesia, Lovely Man. “Kata teman Mama bagus!” Baiklah, saya akhirnya juga mengajak anak saya yang ketika itu saya pikir belum mengerti topik yang terlalu njelimet, tetapi saya agak kasihan meninggalkannya di rumah. Kami menonton dengan perjanjian, kalau menurut saya adegannya kurang sesuai, saya akan menutup mata anak saya dan dia akan menyumbat telinganya sendiri. Begitu saya paham soal tema dari film ini, saya mengharapkan melodrama mendayu-dayu tentang kaum yang dimarginalkan, apalagi kurang beruntung dari sisi materi. Ternyata saya salah. Filmnya sederhana, tak ada pretensi apapun, hanya menceritakan saja. Tidak juga ada kesan menghakimi, semuanya diserahkan ke penonton dengan kepercayaan penuh, kalau penonton cukup bijaksana dan cerdas melakukannya. Saya cukup heran ketika melirik ke penonton cilik sebelah saya yang tekun menonton sama sekali tak terlihat gelisah. Hanya sesekali menggenggam tangan saya lebih erat ketika ada adegan yang menimbulkan rasa takutnya. Kemudian terjadi adegan puncak, film berakhir, dan teater menjadi terang. Saya dan anak berpandang-pandangan. Lalu kami menangis bersama sambil berpelukan. Cukup lama, sampai ibu saya mencolek sambil menunjuk ruangan yang sudah kosong, mengajak keluar.

lovely-man
Lovely Man (Sumber: Filelengkap.com)

Saat itu saya berniat mengubah pandangan saya terhadap Teddy Soeriatmadja, karena begitu senangnya hati, melihat film Indonesia yang begitu jujur dan tidak ada embel embel moral maupun kearifan lokal. Paling tidak bukan pada bentuk yang dianggap orang kebanyakan. Tetapi Lovely Man berhasil menyentuh dan membuat saya memikirkannya hingga berhari-hari kemudian. Juga tentunya merekomendasikan ke teman-teman yang belum menonton. Yang sayangnya banyak dari mereka belum juga menonton karena waktu tayang yang blink and you missed it itu.

Lalu tiba di tahun 2013. Saya diundang menjadi salah satu juri festival film yang basisnya social media. Tentunya saya hadir dengan senang hati, apapun demi bisa menonton film yang mungkin orang lain tak bisa tonton. Salah satu yang masuk nominasi kategori naskah asli (kategori di mana saya jadi salah satu juri) adalah satu lagi dari Teddy; Something in the Way. Untuk kepentingan penjurian, diadakan screening di sebuah institut perfilman. Yang ternyata penontonnya hanya satu; saya. Di ruangan yang gelap saya kembali terbawa perasaan, lalu gemas karena tidak ada teman untuk membahas. Nafasnya masih sama dengan Lovely Man, tetapi ada sesuatu di Something in the Way yang membuat penonton lebih merasa tidak nyaman. In a good way (mudah-mudahan Anda mengerti maksud saya).

reza-rahadian-dalam-film-something-in-the-way
Something in the Way (Sumber: Muvila.com)

Tahun kemarin, saya kembali menjadi juri di kompetisi yang sama. Dan diadakan pemutaran film yang masuk nominasi (walau bukan kategori saya), tetapi begitu diberitakan kalau akan ada screening film Teddy yang baru, About a Woman, tentunya saya segera tunjuk tangan. Saya kali ini bersiap mengajak teman agar ada teman membahas, but he bailed on me (melirik tajam ke seseorang). Ternyata tetap beruntung, karena saya jadi berkesempatan berkenalan dan mengobrol banyak tentang proses pembuatan film ini dengan pemeran utamanya; Ibu Tutie Kirana.

maxresdefault1
About a Woman

Tiba waktunya menonton filmnya. And Teddy did it again. Baru kali ini saya melihat film Indonesia yang menceritakan isu begitu delicate dengan cara yang begitu sensitif, tak setitik pun ada judgement, rasa lebih tinggi dari penontonnya maupun dikte muatan tertentu. Begitu jujur, bahkan kamera terasa jujur, begitu diam dan hanya mengamati. Tetapi juga begitu relatable, sehingga di klimaks film, hati seperti tercabik cabik tak menentu (drama) tanpa harus melodramatis, dan tanpa menggunakan lagu score yang mendayu-dayu. Yang agak menyebalkan buat saya, penonton yang cenderung tertawa di bagian-bagian film yang uncomfortable. Heran, kenapa knee-jerk reaction mereka jadi tertawa. Tetapi dalam hati saya berkesimpulan kalau, mungkin itu cara mereka menghadapi ketidaknyamanan. Intinya, setelah menonton, saya merasa tenggorokan saya tersumbat hingga berjam-jam. Ketika berjumpa lagi dengan Ibu Tutie, saya memeluknya sambil mengucapkan terimakasih, because she’s so beautiful and wonderful in the movie (sama sekali bukan ‘res). Kalau Teddy hadir, mungkin saya juga akan peluk (#eh #memanggatelaja).

Setelah melihat ketiga film ini, saya dengan yakin memasukkan nama Teddy Soeriaatmadja sebagai salah satu sutradara yang filmnya tak akan saya lewatkan. Sebaiknya Anda juga jangan melewatkan. Walau film ini tidak akan tayang reguler di bioskop kesayangan Anda, monggo, dicari di bioskop-bioskop kecil independent, atau festival lokal, atau malah buat festival sendiri dan memasukkan ketiga film ini jadi agenda. I believe more people should watch them.

Iklan

5 thoughts on “About Teddy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s