Blup… Blup… Blup…

Mau tau caranya?

Baskom, kamu isi air penuh-penuh. Kamu masukin kepalamu.”

“Trus, kamu teriak kuat-kuat. Sekencang-kencangnya. Sampe capek. Sering-sering aja begitu.

***

Di rumah, mahasiswa semester V itu pun mempersiapkan baskom penuh air. Sejenak, mendadak ia teringat masa kanak-kanaknya. Selalu kungkum air hangat ketika mandi, dan menghabiskan lebih dari 60 menit bermain air sampai kulit jemarinya kisut semua. Kehidupan terasa lebih hangat dan menyenangkan, ringan, tanpa beban.

***

Kian petang. Ia mulai menjalani petunjuk yang disampaikan beberapa jam sebelumnya itu. Bersimpuh menghadap baskom hitam yang bau plastik. Ndak pakai gerakan dramatis apa-apa, ia masukkan kepalanya ke air sedalam cuping telinga setelah menarik napas panjang.

HAAAAARGH…!” Ia mulai berteriak dalam air. Senyaring-nyaringnya. Sekuat tenaga. Sampai terasa panas batang tenggorokannya. Tindakan itu ia ulangi sampai empat atau lima sesi, masing-masing berlangsung kurang dari lima menit. Di sesi pertama, teriakan itu menggema dalam rongga kepalanya. Ia mendadak menghentikan latihannya. Takut-takut teriakannya terdengar seisi rumah. Bisa bikin kaget dan panik, pikirnya. Baru pada sesi kedua, ia sadar bahwa teriakannya hanya nyaring dalam bola kepala saja. Partikel air hanya menyisakan bunyi lirih, beserta letusan gelembung udara. “Blup… Blup… Blup…Ndak signifikan.

***

Kurang lebih lah.

Demikianlah “jurus” yang dibagikan seorang (almarhum) penyiar radio asal pulau Jawa–ninetyniners Bandung, begitu katanya–kepada penyiar magang, si mahasiswa. Berkaitan dengan pita suara, dan warna vokal untuk dipakai mengudara.


Era media sosial, sekarang. Ketika semua orang bebas berbicara, dan meninggalkannya di linimasa sendiri-sendiri untuk dibaca manusia lainnya, lalu berharap mendapat ratusan respons biar berasa populer. Ketika makin banyak “lulusan Twitter/Facebook/Instagram Institute”, ketimbang para ahli benaran. Ketika kata eksis mendadak punya makna sosial berbeda, dan seolah hanya bisa tercapai dengan bertindak ceriwis terhadap hampir semua hal. Mulai foto makanan sampai UMK. Dari kegalauan delusif sampai debat enggak penting tentang apa saja mengenai presiden ketujuh republik ini.

Khusus untuk contoh terakhir di atas, sumpah ya, melelahkan dan bikin muak saking seringnya. Tidak mustahil, Anda yang sedang baca tulisan ini sekarang, juga kerap menyimak bahkan tercemplung dalam perdebatan itu. Rata-rata dipicu posting-an di halaman depan Facebook. Bisa berupa status panjang lebar, juga berupa foto sharing-an dengan caption yang berparagraf-paragraf, atau tautan artikel tendensius dari situs-situs berkedok portal berita maupun blog yang Anda tahu sendirilah nama serta rupanya.

Mereka, yang terlibat dalam perdebatan berwujud puluhan hingga ratusan komentar, terlihat mengerahkan semua daya upaya untuk berargumentasi; berusaha menunjukkan bahwa hanya dia dan pemikirannya sajalah yang paling benar. Sedangkan partisipan lainnya tersesat, keliru, dungu, fanatik, pantas untuk dicemooh dan ditertawakan. Tanpa sadar, mereka seperti berteriak di dalam sebaskom air. Merasa nyaring dan menggemparkan, padahal kenyataannya hanya berupa bunyi mirip kentut setengah jadi.

Tidak ada yang luput dari kekonyolan ihwal perdebatan itu. Merasa terpanggil untuk menyampaikan pembelaan dan pernyataan penguat, padahal hanya dalam beberapa menit kemudian status pemicu perdebatan bergeser ke bawah, terganti dengan posting-an yang lain. Lalu, para pendebat dari kedua sisi pun tetap tak tergoyahkan. Teguh dalam hematnya masing-masing dengan cara yang boros tenaga. Tidak ada yang berpindah.

Ndak ketemu.

Seperti dua lingkaran dalam Diagram Venn. Terpisah sangat jauh, saking berbedanya, sampai-sampai ndak layak lagi disebut sebuah Diagram Venn. Setiap lingkaran mewakili/diisi orang-orang berpikiran homogen. Pendapat setiap orang dari lingkaran yang sama, diiyakan, diapresiasi, dan dipuji. Semua instrumen yang digunakan untuk memperkuat gagasan pun dianggap sebagai objek yang paling tepat, dan mewakili realitas. Sementara pendapat setiap orang dari lingkaran di seberang, ditolak, direndahkan, dan dihina. Itu pun kalau terdengar/sudi didengarkan dengan jelas oleh penghuni lingkaran satunya. Semua instrumen yang digunakan orang di lingkaran seberang pun dianggap sebagai objek abal-abal, hasil kamuflase, mengada-ada, dan kebohongan. Lagipula, tidak ada yang bersedia untuk ke luar dari lingkaran masing-masing. Nyaman secara khayali.

 

Mana yg benar?

Mungkin salah satu di antaranya.

Mungkin keduanya.

Atau mungkin tidak ada sama sekali.

 

Bukan perkara lingkaran mana yang benar dan salah, melainkan gaung semu yang hanya menggema dalam ruang terbatas; lingkaran homogenitas. Senyaring apapun dukungan atas sebuah pemikiran, atau sekeras apapun penolakan atas pemikiran yang berlawanan, hanya riuh rendah dalam lingkaran. Ndak peduli, mungkin juga ndak sadar kalau ternyata masih ada ruang tanpa batas di luarnya.

Walhasil, perdebatan nihil hasil. Membuang waktu, menyita perhatian dan konsentrasi, sok dramatis, tidak produktif, tanpa faedah yang berarti. Paling banter ya melatih kemampuan mengetik dengan cepat, meskipun kadang tidak tepat, banyak typo-nya.

Ehm, walau bagaimanapun, ialah hak setiap orang untuk ngapain aja, terlebih di dunia maya. Selama tidak ad hominem alias penghinaan yang bisa dituntut sebagai delik aduan, ya terserah Anda saja. Satu hal yang pasti: itu ngganggu. 🙂


Anyway, rupanya “jurus” teriak dalam air tidak mempan memodifikasi pita di tabung tenggorokan. Sampai saat ini, suara saya masih cempreng. Berasanya sih bikin ilfil. Tidak terdengar dalam, teduh, dan menenangkan seperti kebanyakan suara cowok yang sudah rampung pubertasnya. Malah ketambahan sengau, mirip orang yang baru kelar selesma.

[]

Leave a Reply