Farewell, 2014

Tidak menyenangkan memang. Namun perkenankan saya–beserta rekan-rekan di Linimasa–membuka tulisan piket kali ini dengan berbelasungkawa. Pancaran cinta kasih dari kami untuk semua penumpang dan kru penerbangan AirAsia QZ8501. Dekap erat kami untuk seluruh keluarga dan kerabat. Juga hormat kami kepada segenap pihak yang terlibat dalam proses pencarian maupun pendampingan.

Karya Ko Glenn
Karya Ko Glenn

***

Hari terakhir di 2014.

Pergantian tahun sejatinya hanya perubahan angka. Sesuatu yang mekanis. Konsekuensi logis dari sebuah gerakan linier, terus maju, dan mustahil terulang. Sebuah realitas yang dingin.

Apapun yang terjadi, detik demi detik tetap menyusun menit, dan seterusnya. Akan tetapi, apa yang terjadi dalam setiap detik itu menjadi komponen penyusun kehidupan. Selalu menggubah keadaan hati dan pikiran, entah jadi simfoni ceria atau tragedi memilukan. Meninggalkan kesan. Asa yang menghangatkan.

Banyak kawan yang berharap 2014 segera berlalu. Tak sedikit pula yang susah lepas dari kenangan indah yang telah berlalu. Mereka punya alasan masing-masing, dan semuanya bebas dari vonis benar atau salah. Hanya ada dua kesamaan yang mereka–kita–miliki: sama-sama menafikan saat ini, dan ketidaktahuan akan masa depan.

Dari ketidaktahuan akan masa depan, kita seringkali tak berada di saat ini. Melewatkan momen kehidupan begitu saja. Gara-gara ketidaktahuan akan masa depan itu pula, muncul dua hal yang diakrabi manusia fana sepanjang hayatnya: harapan, dan kekhawatiran. Dua hal yang sama-sama digunakan untuk menghadapi ketidakpastian. Sementara prediksi, ramalan, perhitungan, maupun hasil studi-studi Semiotika tetap membutuhkan pembuktian, tanpa menyisakan jeda untuk koreksi maupun revisi. Layaknya berjudi dengan peluang 50:50. Tak ada yang bisa dijadikan pegangan.

Anda pasti sudah tahu, harapan itu positif, sedangkan kekhawatiran itu negatif. Harapan itu menguatkan, dan kekhawatiran itu melelahkan. Dengan harapan, mudah bagi kita untuk bangkit dan bersemangat kembali. Dengan kekhawatiran, seolah tidak ada waktu untuk berhenti gelisah. Selalu susah. Jadi, pilihannya kembali ke Anda, ingin menyongsong misteri masa depan dengan cara seperti apa. Tidak lupa pula, baik harapan maupun kekhawatiran itu “menular”. Memengaruhi udara di sekeliling.

Hanya saja, jangan sampai diperdaya diri sendiri. Menjalani kehidupan dengan penuh harapan memang baik adanya. Namun akan berbahaya bila tidak dibarengi kemampuan menerima segalanya. Lewat harapan, seseorang berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkannya. Iya kalau berhasil, siapkah bila gagal? Tidak ada yang bisa menjamin kebahagiaan. Namanya juga misteri masa depan, selalu penuh kejutan. Pada umumnya, orang-orang dengan overdosis harapan atau terlalu berharap, sulit menerima kenyataan.

Berharap dapat pacar;
Berharap jadi cantik/ganteng;
Berharap terkenal;
Berharap naik jabatan;
Berharap segera dinikahi;
Berharap cepat kaya;
Berharap dapat warisan;
dan sebagainya.

Di sisi lain, kekhawatiran memang merugikan. Itu kalau kebanyakan. Tatkala memiliki sedikit kekhawatiran, kita bakal ingat pentingnya sikap berhati-hati. Justru lebih baik ketimbang berlaku serampangan. Kehati-hatian yang kita miliki, ibarat jaring pengaman dalam sebuah pertunjukan trapeze. Memang tidak ada yang ingin celaka, namun setidaknya tetap sigap saat terpaksa harus menghadapinya.

Keputusan akhirnya, lagi-lagi kembali di tangan Anda.


Sebenarnya, tidak ada yang perlu Anda iyakan dari beberapa paragraf di atas. Perkara setuju atau tidak, semua itu adalah hak para pembaca yang budiman sekalian. Lagipula, saya cuma manusia biasa; jago menasihati orang lain, tapi sulit menerima nasihat orang lain. Pun masih sering sukar menerima kenyataan, kerap khawatir berlebihan, bebal dan penakut. Salah satu bukti, entah sudah berapa puluh kali saya didorong untuk hijrah, tapi dengan jurus Seribu Kilah, pantat saya tetap menempel di sini, masih betah.

Layaknya orang normal pada umumnya, saya tetap punya harapan untuk menjadi seseorang yang lebih baik di 2015 mendatang–diupayakan mulai besok. Sebagiannya sudah saya tulis saat piket pekan lalu. Agak abstrak sih. Soalnya, saya tidak sreg dengan konsep menyusun list resolusi. Alih-alih tercapai, yang ada malahan menambah beban batin. Penginnya sih menjalani hidup yang mengalir saja, walaupun ndaktau muaranya ke mana.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, 2014 di mata saya sungguh berwarna. Cuma kadang-kadang warnanya ngejreng, ada kalanya gelap, lebih sering gurem. Kendatipun begitu, tetap banyak yang wajib disyukuri. Dompet tetap ada isinya, meski tak seberapa. Masih ada yang bersedia dikibuli, walau di seberang lautan sana. Punya teman-teman hebat, terlebih yang saban hari mengisi tulisan di sini.

Ya! Salah satu warna ngejreng yang sangat saya syukuri saat ini adalah kuning. Bukan Golkar yang pasti. Tapi kuning yang dipilih Mas Roy sebagai ciri khas background wadah tulisan rame-rame ini. Berasanya mirip pesta sunatan massal: selalu meriah.

Sedikit cerita ya. Kebagian jatah setiap Rabu, awalnya saya “bertugas” untuk menulis topik-topik yang berhubungan dengan agama, spiritualitas, dan berkutat di seputar itu. Sayangnya, saya bukan pakar ilmu komparasi agama yang telah diajarkan di perguruan tinggi bergengsi dalam dan luar negeri. Belum lagi sempat dikira ingin mempromosikan agama sendiri, mengembalikan kejayaan era Sriwijaya. Hahaha! Jadi tidak jarang melenceng, dengan sengaja. Untungnya ndak ada yang marah. Lagipula niatnya memang untuk saling berbagi, bukan menggurui, apalagi menghakimi. Makanya, seneng banget kalau ada yang meninggalkan komentar untuk berdiskusi, berinteraksi di sini. Manusiawi.

Seringkali juga malah bingung pengin nulis apa. Karena itu, yours truly ini juga menerima saran dan masukan topik dari para pembaca yang budiman sekalian. Kali-kali aja ada hal lucu buat didiskusikan. Kan, Internet butuh lebih banyak hati. Dengan media inilah kita ketawa-ketiwi bareng. Terima kasih.

Diberkatilah Mas Roy, Ko Glenn, Gandrasta, Kang Agun, Mas Nopal. Sebuah kehormatan bisa nyelip di antara mereka. Juga buat Fafa, yang entah karena angin apa nggandeng saya ikut nimbrung di Linimasa.

Doa dan harapan saya, semoga 2015 menjadi tahun kegemilangan bagi mereka, juga Anda, kita semua. Memberi kesempatan bagi kita untuk bermanfaat bagi sesama. Berlanjut sampai tahun-tahun berikutnya.

***

Hari terakhir di 2014. Rabu ini, buatlah ia jadi penuh arti. 🙂

Selamat menjalani tahun yang baru.

[]

Iklan

5 thoughts on “Farewell, 2014

  1. Much time,,, common people celebration, its not mine.

    Mungkin karna gasuka rame2 banget,
    Mungkin juga krn ga mampu sama2 banget.
    Yang pasti, (bersyukur) hidup di negara yang meng-agung-kan heterogenitas berbudaya, bikin jadi punya pilihan bahwa keyakinan yg saya pilih untuk menjadi tahun baru yg mumpuni adalah…. tanggal lahir saya.

    Nah,
    Ada satu bekel buat babah liong yg ngomongin hijrah tapi (beraninya) cumen liwat internet

    Bahwa ketakutan itu, (banyak kali)untuk dihadapi.
    Karena, setelah dihadapi, ketakutan itu tidak semenakutkan yang dibayangkan.

    Ya udah ya, gitu aja,
    Buat 19 feb mau nulis apa?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s