Sehabis Main Catur

 

“Aku suka sama kamu.”

“Aku juga suka sama kamu.”

“Ih, aku serius!”

“Tapi, kamu kan cowok?”

“Ya, memangnya kenapa?”

“LGBT dong?”

“Cowok suka sama cowok itu G doang, Gay, masa diborong semua. Kenapa memangnya?”

“Aku gak bisa. Aku N.”

“N?”

“Normal.”

“Apa sih, yang nggak normal dari mencintai seseorang?”

“Cinta itu harus berpasangan. Cowok ya sama cewek. Gak bisa cowok dua-duanya, dong.”

“Kata siapa gak bisa?”

“Ya enggak bisa, lah. Cowok sama cowok bisa apa? Emangnya mau adu pedang?”

“Gak kreatif amat. Cowok kan juga punya lubang.”

“Tapi cowok dadanya datar, gak enak dipegang.”

“Oh, jadi ini masalahnya hanya di bentuk badan? Kamu gak bisa suka sama aku karena aku gak punya susu dan vagina?”

“Salah satunya, ya.”

“Kamu sepertinya masih belum bisa bedain cinta sama nafsu.”

“Haha. Memangnya ada yang bisa? Gak usah sok suci. Apa kamu bisa suka sama cowok yang ternyata gak bisa ereksi?”

“Apa aku pernah mengecek penismu bisa ereksi atau enggak? Nyatanya aku tetap suka.”

“Ngaku deh, kamu pernah kan membayangkan kita berdua bersama di kamar, saling melampiaskan hasrat seksual?”

“Ya pernahlah. Tapi isi pikiranku bukan hanya soal itu. Aku malah lebih suka membayangkan kita main catur di taman sambil menunggu matahari terbenam. Lagi pula jika kamu ternyata memang tak bisa ereksi, kamu tak usah khawatir, aku bisa urus diriku sendiri.”

“Enak saja! Aku masih sehat lahir batin. Masalahnya, aku cuma bisa sama perempuan bukan sama laki-laki kayak kamu.”

“Yakin? Kan belum pernah coba.”

“Memangnya kamu pernah coba sama perempuan?”

“Pernah.”

“Bohong.”

“Gak perlu tanya kalau gak akan percaya.”

“Terus rasanya gimana?”

“Kok nanya? Memangnya kamu gak tahu? Jangan-jangan kamu masih perjaka.”

“Ya enggak, lah. Tapi tadi kan kamu bilang kamu gay.”

“Aku sekarang gay, dulu enggak.”

“Memangnya yang seperti itu bisa berubah-ubah? Dulu normal sekarang gay, terus normal lagi?”

“Cowok suka sama cewek itu istilahnya heteroseksual, straight, bukan normal.”

“Tapi itu kenyataannya, yang normal itu ya cowok suka sama cewek, bukan LGBT.”

“Bukan normal, tapi dianggap normal. Sesuatu yang dianggap normal belum tentu betulan normal. Bagiku, hal seperti ini tak sepantasnya dilabeli dengan normal atau tidak normal, semuanya natural.”

“Ya sudah, terserah. Kamu belum jawab pertanyaanku.”

“Yang mana?”

“Orientasi seksual bisa diganti?”

“Aku percaya seksualitas itu cair.”

“Sejak kapan kamu berubah jadi gay?”

“Aku gak berubah jadi gay. Dulu juga aku gak pernah memutuskan untuk menjadi straight. Bedanya, dulu aku mencintai seorang perempuan. Perempuan itu pergi lalu aku ketemu kamu. Dan kemudian kamu membuat aku jatuh cinta. Maka sekarang aku mencintai kamu, yang kebetulan adalah seorang laki-laki.”

“Bilang saja ACDC.”

“Aku bukan colokan listrik. Mungkin orang akan menyebut aku B, biseksual. Tapi aku tak percaya bahwa cinta dan orientasi seksual perlu dilabeli atau dibatasi dengan kriteria. Aku jatuh cinta bukan pada penis atau vagina. Aku jatuh cinta pada sifat dan kualitas diri yang melampaui batas feminin-maskulin.”

“Ah, aku tak percaya. Memangnya kamu bakal masih suka sama aku kalau aku sekarang berubah jadi perempuan? Dua telur di selangkanganku akan hilang dan berganti menjadi dua buah gundukan di dada. Kumis dan jambangku akan hilang, dan sebagai gantinya rambutku akan tumbuh panjang. Suaraku yang agak parau ini akan terdengar halus dan cempreng. Tanganku yang kekar berbulu bakal jadi halus dan kecil. Mau?”

“Mungkin aku akan berhenti mencintaimu jika kamu kehilangan selera humor dan berubah menjadi orang menyebalkan. Jika dengan tubuh perempuanmu itu kamu masih bisa membuatku tersenyum, menemaniku main catur, dan selalu punya cara untuk menertawakan hidup, aku bakal tetap suka sama kamu.”

“Kamu gak tahu apa yang kamu omongin. Aku gak yakin kamu bisa betulan bersikap seperti itu.”

“Itulah susahnya berandai-andai, gak bisa dibuktikan. Aku lebih suka mengakui perasaanku saat ini. Aku suka kamu.”

“Aku sudah punya pacar.”

“Lalu?”

“Ya kita gak bisa pacaran.”

“Kalau kamu jomblo berarti kita bisa pacaran?”

“Bisa aja.”

“Memangnya kamu suka sama aku?”

“Ya, aku suka.”

“Sejak kapan?”

“Barusan.”

“Yakin? Aku masih belum berubah jadi perempuan, loh. Dadaku masih rata dan lubangku masih ada di belakang.”

“Memang belum. Tapi barusan kamu berhasil membuatku suka.”

“Sayangnya kamu sudah punya pacar.”

“Iya, dan aku yakin kamu tak suka lelaki tukang selingkuh.”

“Benar. Aku juga tak mau jadi simpanan atau perusak hubungan orang.”

“Lalu kenapa tadi kamu bilang suka aku?”

“Lah, memangnya kenapa? Aku kan cuma bilang. Tujuan aku bilang itu supaya kamu tahu aku suka, bukan supaya perasaanku dibalas.”

“Apa enaknya suka sama orang tapi gak bisa pacaran? Mending cari yang lain.”

“Aku gak pernah sengaja cari kamu cuma supaya aku bisa jatuh cinta lalu berharap perasaanku dibalas, terus kita pacaran dan hidup bahagia selamanya. Bukan begitu kejadiannya. Kita bertemu, kenalan, berinteraksi, kemudian aku suka. Dan rasa sukaku saat ini gak akan berubah, entah kamu suka aku juga atau enggak. Kamu pun gak perlu merasa dosa, toh wajib itu kan salat, bukan balas perasaan orang.”

“Emang kamu gak patah hati?”

“Kamu ngarep aku patah hati gara-gara kamu?”

“Sedikit.”

“Aku patah hati.”

“Ya sudah. Berhenti suka sama aku. Bergaul sama orang lain, siapa tahu kamu ketemu orang yang bisa bikin kamu suka, dia juga sama kamu, dan belum punya pacar. Supaya kamu bahagia.”

“Kata siapa sekarang aku gak bahagia?”

“Memangnya ada orang yang patah hati tapi bahagia?”

“Aku patah hati karena aku jatuh cinta. Dan mencintai seseorang itu rasanya menyenangkan sekali, sakit karena patah hati jadi gak terlalu signifikan.”

“Kamu lagi berusaha bikin aku suka sama kamu, ya? Omonganmu gombal semua.”

“Bukannya tadi memang sudah suka?”

“Iya, tapi tadi sukanya sedikit, sekarang jadi banyak.”

“Ya sudah, aku pulang dulu. Jangan sampai kamu pergi dari pacar kamu gara-gara aku.”

“Besok ke sini lagi? Kita main catur lagi.”

“Oke, besok jam berapa pacarmu pulang?”

“Aku akan mengantarnya pulang jam delapan malam. Sehabis itu, kita bisa main catur semalaman.”

“Oke.”

“Aku suka kamu.”

“Hei, kamu sudah punya pacar.”

“Saling suka gak perlu bikin kita terjebak dalam status pacaran, kan?”

“Tentu.”

[]

Penulis:

Yoga Palwaguna /

Twitter: @ypalwaguna

Yoga Palwaguna, seorang penyendiri yang telah lama jatuh cinta pada menulis dan membaca. Saat ini aktif di komunitas literasi Kawah.

SaveSave

Advertisements

Ku Tunggu Kau di Ranjang

“Mas cepat pulang, aku tunggu di ranjang yah” Pernah terima atau mengirim pesan instan seperti itu? Apa rasanya ketika membaca kalimat tersebut? Terpikir membeli pelumas di jalan pulang?

Lux bed

Tak ada tempat yang lebih membahagiakan selain kamar. Di ruangan tersebut lah justru banyak peristiwa bermulai. Denyut kehidupan yang terus berputar seakan menenggelamkan esensi dari akar kehidupan di sebilah ruang. Adalah ranjang yang kemudian menjadi alat atau barang utama penghuni kamar. Siapa yang tak kenal ranjang, ‘mahluk’ persegi yang menyimpan bertriliunan cerita.

Ngik nguk ngik nguk, begitu kiranya bunyi ranjang usang ketika digunakan. Kadang mengganggu, kandang juga menimbulkan sensasi tertentu untuk membangkitkan semangat. Di luar itu, secara definisi ranjang ialah suatu mebel atau tempat yang digunakan sebagai tempat tidur atau beristirahat. Benda ini juga bisa dijadikan status sosial bagi penggunanya bila dilihat dari sisi harga pembeliannya. Maka tak heran, perbedaan tingkatan pada hotel atau penginapan salah satunya dari jenis serta ukuran ranjang yang disediakan.

Ranjang juga menjadi indikator bagi para pencari cinta semalam untuk membelanjakan penghasilannya kepada hiburan erotis. Belanja besar bisa mendapatkan servis penjaja seks komersil ditambah treatment khusus, mainnya pun di ranjang king size. Belanja agak besar yah bisa jadi seperti sewa kamar hotel bintang tiga lah. Lalu yang anggaran ‘jajan’nya pas-pasan paling dapet di lokalisasi ilegal atau di balik semak belukar, tinggal modal lotion anti-nyamuk saja.

poor bed

Bicara perputaran uang, prostitusi memang sedikit banyaknya menjadi lahan yang menggiurkan. Havoscope, sebuah lembaga peneliti aktivitas pasar gelap merilis 12 negara yang paling banyak melakukan aktivitas tersebut. Indonesia termasuk di dalamnya (urutan 12), dengan pengeluaran kurang lebih Rp 30 triliun pertahun, wow! Angka yang cukup fantastis. Di urutan pertama diduduki oleh Tiongkok dengan pengeluaran sebesar Rp 982 triliun, disusul oleh Spanyol, Jepang, Jerman, AS, Korsel, India, Thailand, Filipina, Turki, Swiss, dan Indonesia. Untuk detail spending di tiap-tiap negara tersebut, Anda bisa mencarinya melalui Google.

Menurut data pemerintah, ada sedikitnya 168 titik lokalisasi dengan komposisi para PSKnya berjumlah 56 ribu jiwa. Di luar dari lokalisasi, kemungkinan angkanya bisa mencapai 150 ribu jiwa. Dari angka tersebut, 30% nya melibatkan anak-anak di bawah umur. Tiap tahun angka tersebut bergerak naik, entah karena apa, yang pasti faktor UANG menjadi yang paling utama.

Ada seorang professor dari Universitas Birmingham yang menulis buku berjudul “Perbudakan Seks di Asia” yakni Lousie Brown. Menurutnya, ada tiga klasifikasi penjaja seks yang membentuk sebuah piramida, di antaranya;

  1. Kelompok wanita super cantik yang memilih profesi menjadi PSK dengan bayaran yang tentunya tinggi. Di sini tidak banyak yang menjadi pemain. Selain itu, kebanyakn dari pelanggannya pun kalangan berkelas.
  2. Kelompok PSK yang biasanya dikoordinir oleh mucikari. Mucikari lah yang juga berperan dalam memilih serta menentukan harga tiap PSK.
  3. Kelompok wanita yang sedang mengalami keterdesakan ekonomi cukup serius sehingga memilih jalan tersebut agar bisa keluar dengan segera. Di layer ini kemungkinan pelaku (PSK dan pelanggan) nya cukup banyak.

“Pelacuran itu buruk, dan harus dihentikan” Begitulah kebanyakan komentar orang lain, bahkan bila kita bertanya kepada para PSK terkait profesi mereka jawabannya pun sama. Meski semua setuju pelacuran itu buruk, tentunya semua orang punya solusi untuk menghentikannya. Nyatanya, di era media sosial ini justru prostitusi telah menemukan ‘rumah’ baru untuk menjadi lebih berkembang. Siapa yang salah? Apakah kita turut andil? Apakah kepekaan sosial kita telah tumpul?

Selayaknya industri, pelacuran menjadi cukup memiliki nilai ekonomi karena adanya perbandingan yang lurus antara permintaan dengan jasa servisnya. Di Indonesia sekarang cukup lumrah bila menyajikan sebuah pesta yang disertai wanita penghibur dalam melancarkan bisnis. Konsumerisme secara awam kita ketahui hanya berkutat pada produk. Namun, dengan fakta industri pelacuran hari ini, jelaslah bahwa konsumerisme juga terjadi pada pemenuhan hasrat biologis yang kebanyakan menempatkan perempuan sebagai ‘produk’ semata.

Jujur saja, penulis merasa jijik kepada diri sendiri karena secara tidak langsung masih memiliki pola pikir superioritas maskulin dibanding feminim. Tak jarang memosisikan biarkan perempuan lain itu jalang tapi tidak dengan pasangan kita sendiri yang harus baik!

[[]]

Penulis: @ayodiki

“Perkenalkan, Aku; Kresek!”

 

Perkenalkan, aku kresek. Di tempat lain, aku dipanggil Asoy. Aku berasal dari bangsa plastik-plastikan. Tidak berkumis tidak berbuah dada. Diciptakan untuk satu tujuan; mengabdi kepada sang pencipta; Manusia.

Aku kresek dewasa. Sebab memiliki “pengalaman hidup” mengabdi pada pencipta. Oleh karenanya, aku mengenal “pencipta”; mereka juga memiliki “Sang Pencipta” dan mereka juga diciptakan untuk tujuan “mengabdi pada Sang Penciptanya”

Kagum aku pada manusia; mereka itu mampu menghargai segala sesuatu. Mereka itu mampu mempelajari sesuatu. Mereka itu juga punya kemampuan luar biasa lainnya; membentuk sifat dan sikap dari prilaku mereka sehari-hari. Mereka tidak statis, tetapi dinamis. Kemampuan yang tidak mereka berikan padaku. Yang perlu di ingat bahwa aku juga tidak elastis.

Manusia juga mengenal dan memiliki konsep “moral”. Dengan moral ini, manusia mengetahui baik buruk yang kemudian tercermin ke dalam prilakunya itu. Semisal : Menghargai pengorbanan dan kebermanfaatan yang diterimanya. Maka manuia, mengenal kata “terimakasih” dan “balas budi.”


Masih pagi sekali. Aku masih lelap tidur tindih menindih dengan saudara sebangsa. Lelap di posisi kelima puluh. Artinya, di atas ada saudara yang menindih dan di bawah ada juga yang tertindih. Untungnya kami tidak berjenis kelamin dan tidak memiliki kelamin pula. Mari bantu kami bersyukur!

Ada sentuhan di kulit. Sedikit kasar dan geragas. Itu pertama kali manusia menyentuhku. Mungkin sedang terburu, atau kulit yang terlalu rapuh. Hingga aku merasa sebagian tubuh tercubit; remuk. Tentu saja kami juga bisa merasakan sakit (ini mungkin tidak diketahui manusia, karena mereka ternyata tidak maha mengetahui).

Di atas meja sedikit basah itu, aku melihat banyak sekali makhluk lain. Bangsa ikan-ikanan, begitu manusia menyebutnya. Bertumpuk tindih-menindih. Mungkin tindih-menindih adalah bagian dari proses kehidupan. Apakah manusia juga pernah saling tindih-menindih?

Ikan-ikan itu diam. Matanya melotot, ada bercak merah. Mulutnya menganga, tapi ikan (mungkin) tak mengenal bagaimana memproduksi bunyi. Beberapa ekor ikan berukuran besar dimasukkan ke dalamku. Tubuhku tertarik, berbunyi. Ada rasa linu ada nyeri setelahnya. Tangan manusia kembali menyentuh. Mengangkat. Gravitasi bikin ikan memberat. Kembali berbunyi tubuhku. Linu menjadi, nyeri menyeri.

Setengah jam berayun di tangan manusia lalu kembali di letak di atas meja. Nyeri sedikit mereda, linu sedikit jera. Di atas meja itu, aku melihat bulir-bulir putih. Bangsa beras-berasan, begitu manusia menyebutnya. Beras-berasan itu, bertumpuk-tumpuk, tindih menindih. Dimasukkan ke dalam plastik lainnya. Lalu, saudara sebangsaku itu, diikat kepalanya agar bulir-bulir beras tak tumpah. Ia pun dimasukkan ke dalamku. Aku bertubuh lebih luas darinya.

Kembali diangkat, bebanku makin berat. Tubuhku makin nyeri sejadi-jadinya. Gravitasi menarik tubuh kian jadi. Belum lagi ditambah ayunan tangan manusia, bikin mual.

Aku menyempatkan bincang dengan suadaraku itu, sekedar mengalih rasa sakit.

“Maaf saudaraku, aku yang membekap bulir-bulir beras ini, bikin bebanmu semakin berat saja!” Saudara sebangsaku setengah meringis berujar tulus.

“Tak mengapa saudaraku, untuk inilah kita diciptakan, inilah bentuk pengabdian itu. Bagaimana kepalamu yang dipuntir ikat?”

Saudaraku itu, menjawab dengan ringisan. Kami kemudian diam. Berkonsentrasi melawan rasa yang sakit.

Di meja lainnya, kembali aku berkenalan dengan makhluk baru; kangkung. Mereka punya kaki-kaki yang panjang. Ada yang sedikit tajam, hingga kulitku yang kian melar tertarik beban, terkoyaklah.

Kami tidak memiliki darah, tapi rasa sakit seperti tersayat, kami juga bisa rasakan. Beberapa lubang tumbuh di tubuh tipisku kemudian. Ikan-ikan itu memberi bau amis yang menyengat, cairan mereka membasahi tubuhku. Tak mengapa, inilah pengabdian pada sang pencipta itu.

Siksa dera lumayan panjang terasa, tetapi waktu pasti akan memperjalankan keadaan pada batas akhir. Sampailah aku di rumah manusia. Nyaman sekali rasanya, setelah diletakkan cukup lama di atas meja. Semakin nyaman ketika satu persatu, makhluk yang mesti kupikul sedari tadi, di keluarkan dari dalam tubuhku. Saudara sebangsaku merasakan hal yang sama tatkala puntiran di kepalanya di lerai sudah. Meskipun ia harus sedikit mengaduh, sebab salah satu telinganya koyak. Mungkin manusia itu tengah terburu-buru. Setelahnya, aku dan saudara sebangsaku itu, saling tatap saling diam saling bertanya; Apakah pengabdian itu selesai sudah?


Kami tidak tahu apakah yang kami jalani selanjutnya ialah bentuk pengabdian baru. Kami berpindah-pindah tempat. Awalnya, di tempat sempit. Manusia, sang pencipta itu, menyebutnya tong sampah.

Sebelum berumah di tong sampah, kami terlebih dahulu di “remuk”. Aku menemukan banyak saudara sebangsaku ditempat itu. Tak lama, seluruh kamipun dipindah ke tanah luas. Semakin banyak aku berjumpa dengan saudara sebangsaku disana. Kami bertanya-tanya, Apakah ini bentuk pengabdian selanjutnya, atau, beginikah bentuk rasa terimakasih dari manusia, sang pencipta yang mengenal moral itu?

Di suatu sore yang tak mungkin pernah kulupakan, ada manusia yang datang. Ia menyiramkan semacam cairan, lalu memantikkan nyala api. Hampir semua saudara sebangsaku kemudian terbakar dalam lolongan rasa sakit yang mengerikan. Tubuh mereka mengerut dimakan api, berubah jadi asap sedikit hitam. Aku gigil ketakutan. Sakit sekali membayangkan panasnya itu menyentuh kulit. Aku limbung, tatkala sepercik bara menyentuhku. Pada saat itu, aku berpikir, pastilah aku segera mati dalam kesakitan yang lebih mengerikan dari rasa sakit yang pernah ku kenal sebelumnya.

Kenyataan berkata lain. Aku mesti berterimakasih pada arwah-arwah saudara sebangsaku, semoga mereka tenang di alam sana. Sebab dengan tiba-tiba, asap yang mengepul itu, menerbangkanku. Kemudian angin menyambut lalu menghempasku pada aliran sungai yang tak jauh dari tempat pembantaian itu.

64677-590-367

Tubuhku gigil perih. Mengambang mengalir hingga sangkut di tunggul kayu, tubuhku koyak! Aku bertemu beberapa saudara sebangsaku yang juga sangkut disana. Tubuh mereka itu, tercabik sudah! Nyawa mereka itu, tinggal satu cabikan lagi saja! Aku mengumpat, mengutuk. Hendak kubendung aliran sungai, biar menguap ke dataran dan lalu menenggelamkan manusia.

Dalam suara yang sekarat, saudara sebangsaku itu berkata “Tak baik mengumpat pencipta sendiri, mereka bukanlah Maha Pencipta, mereka itu sedang belajar mengenal moral, mereka itu sedang belajar mengenal bagaimana membiasakan diri untuk menghargai.” Aku terdiam dalam dengung deras air yang mulai meninggi, sambil menceritakan kisah ini.

[]\

penulis: Senjakalasaya // twitter: @senjakalasaya // profil

Masih tentang “kapan nikah” dan segala prahara cemilannya

Tak habis tanya, untuk menemukan jawab “kenapa” orang sering sekali melontarkan pertanyaan abadi nan jaya “Kapan Nikah?” Saya melihat kebiasaan ini adalah penanda sederhana; bahwa sebahagian manusia tanpa sadar sedang mempermainkan keyakinannya terhadap Tuhan. Di sisi lain, saya melihat fenomena pertanyaan “kapan Nikah” ini merupakan paradoks yang luar biasa kejamnya atas; manusia seolah percaya pada Tuhan tetapi diam-diam nan sublim manusia meragukan keberadaanNYA.

Pernah dengar pertanyaan kapan nikah? kapan punya anak? Pertanyaan ini mungkin ada yang menganggap sekedar basa-basi memula percakapan atau pelengkap saja. Tapi biasanya ia keluar secara refleks, dan yang refleks itu memuat kejujuran yang lebih tinggi ketimbang yang terencana.

Lantas pernah dengar; “Jodoh itu ditangan Tuhan”, “Anak itu karunia dari Tuhan” Maka mari kita coba komparasi antara pertanyaan dan pernyataan tersebut di atas, yang menurut saya bertolak belakang samasekali.

“Kapan Nikah? Kapan punya anak?”

Pertanyaan tersebut di atas, mencerminkan bahwa orang yang bertanya, dari alam bawah sadarnya, meyakini bahwa; Nikah (bertemu jodoh) dan punya anak adalah mutlak ketentuannya di tangan orang yang sedang ditanya nya. Sementara kalimat pernyataan :

“Jodoh di tangan Tuhan” dan “Anak itu karunia Tuhan”

Maka pernyataan tersebut di atas, mencerminkan bahwa orang yang mengeluarkan pernyataan itu, dari alam bawah sadarnya, meyakini bahwa bertemu jodoh kemudian menikah, dan soal “melahirkan anak” adalah sepenuhnya dan mutlak ketentuannya berada di dalam Kuasa Tuhan, sehingga manusia tidak ada kuasa atasnya.

Lantas, bila demikian, bila orang benar-benar meyakini adanya Tuhan dengan segala kuasaNYA itu, maka pertanyaan “kapan nikah“ dan atau “kapan punya anak itu”, tidak akan pernah ditanyakan seseorang kepada orang lain, melainkan ditanyakan kepada Tuhan, dalam doa misalnya, yang tak perlu di dengar oleh orang yang dimaksud.

Bila orang meyakini bahwa soal nikah dan atau punya anak itu mutlak di tangan manusia, maka ianya tak sepantasnya mengamini bahwa jodoh di tangan Tuhan dan anak adalah karunia dari Tuhan. Serta kalimat pernyataan ini tak seharusnya muncul.

Maka bila ditanya kapan nikah misalnya, kita mesti bertanya balik untuk mengklarifikasi pandangan si penanya, apakah ia golongan orang yang percaya bahwa jodoh itu di “tangan” Tuhan, atau ia pada golongan kedua; Ia percaya bahwa jodoh di tangan manusia.

Maka bila ia menjawab, bahwa ia percaya Jodoh di tangan Tuhan, maka sepantasnya kita mengingatkan dengan kalimat : “Tolong bantu saya, jumpailah Tuhan dan tanyakanlah langsung padaNYA, kapan ia mempertemukan saya dengan jodoh itu lalu dengan segala kuasaNYA menikahkan saya! Saya berdoa supaya kamu bersegera bertemu Tuhan secara langsung, kalau dikabulkan, saya berdoa malam ini saja kamu bertemu Tuhan.”

Bila orang yang bertanya mempercayai bahwa jodoh itu mutlak di tangan manusia, maka cukup ingatkan “Saya percaya jodoh di “tangan” Tuhan, kalau kamu nggak percaya tanyalah saya!”

Kemungkinan ngeyel, pastinya ada dari orang yang suka memerahkan muka orang lain dengan bertanya “kapan nikah?” maka boleh juga sampaikan, menikah itu bukan semudah “memilih menu jengkol rendang dari tumpukan daftar makanan yang ada di rumah makan Padang, yang pemiliknya jarang pulang bersebab tarif dasar listrik, air, dan segala harga barang suka melonjak ke atas kepala, sehingga orang tersebut terkuras selalu tabungannya, untuk membayar harga kebutuhan yang jarang sekali ia tahu apa penyebab naiknya, sementara pajak semakin tinggi saja, dan kasus korupsi nggak selesai-selesai, begitupun partai sepertinya tidak mampu menemukan orang jujur baik dan negarawan yang benar-benar mau membangun kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia, Hidup Pancasila, Merdeka!”

Mungkin ada yang berpandangan bahwa manusia wajib berupaya! Maka ini lebih berbahaya, sebab ianya menuduh orang yang ditanyanya itu, bermalas-malasan, tidak mau bergaul, tidak berupaya mencari, sekedar mengurung seluruh masa hidupnya di kamar mandi sambil gosok gigi saja pagi siang sore malam subuh hingga ketemu pagi lagi sampai tua sampai nanti mati, hidup gosok gigi! Maka orang itu perlu diingatkan bahwa menghakimi orang lain dalam pikiran adalah fitnah yang malu-malu, perlu disampaikan bahwa bukankah berburuk sangka itu tidak baik!

Atau yang paling sederhana, yang biasanya saya lakukan dan cukup efektif membungkam pertanyaan kawan-kawan saya, ialah dengan menunjukkan nomor rekening sambil mengingatkan “Nikah nggak bisa pakai daun dan orang belum bisa menguasai ilmu makan batu, sementara pesta sepertinya sudah menjadi syarat sah sebuah pernikahan.” Biasanya kalau “ditembak” uang begitu, kawan-kawan saya akan berujar “sabar-sabar ya”, see? betapa usilnya mereka itu, lempar ternak teriak maling.

Ada yang pernah nyeletuk, makanya cari yang keluarganya nggak minta syarat yang macem-macem, saya pernah menjawab dengan “Baiklah nikahkan kakakmu atau adikmu denganku!” malah dianya marah! see? betapa usilnya mereka itu, lempar jin baca ayat kursi sendiri!

Tapi begitupun, sikap yang paling baik adalah mengasihani yang bertanya, mungkin dia sedang lelah dengan hidupnya sehingga ia sedang mencari kawan lelah bersama dengan pertanyaan pemancing sehingga dapat membuka ruang curhat sendu-senduan, atau membuka peluang baginya untuk dapat menasehati dengan segala kebijaksanaan, sehingga ianya merasa di dengar, mungkin ia lelah mendengar sehingga begitu ingin di dengar segala petuahnya, sebab partai politik itu egois nggak mau mendengar rakyat jelata bin laden, maunya di dengar saja dan di puja saja. Maka memaklumi dan mengasihani itu perlu dilakukan, Oleh karenanya, ketika ada yang bertanya demikian cukup sodorkan sebotol Aqua (bukan iklan terselubung) sambil katakan: Kamu butuh Aqua! Sabar-sabar ya, dunia ini memang fana.

[]

Penulis:

Senjakalasaya // twitter: @senjakalasaya

profil

 

Spesial Karena …

 

Beberapa hari terakhir ramai dengan selebrasi #HarryPotter20, memperingati 20 tahun sejak diterbitkannya buku Harry Potter untuk pertama kali. Media sosial pun ramai dengan ekspresi para fans yang menuliskan pengalaman mereka dengan serial legendaris karya JK Rowling satu itu.

Niat saya awalnya hanya sekadar menikmati kisah-kisah lucu dari hasil scrolling ibu jari tersebut. Tetapi, ketika sebuah akun di Instagram mengunggah foto satu tangan tengah memegang buku Harry Potter dan menuliskan pengalamannya mendapatkan buku tersebut, saya pun ikut tergelitik menumpahkan kisah sendiri di kolom komentar:

“Pernah ada masa ketika Harry Potter rilis bertepatan dengan masa ujian sekolah. Saya dibolehin beli sama ortu, tapi…. disita dan ‘disembunyikan’ dulu sama ibu sampai masa ujian selesai. Tiap beliau lagi mandi atau keluar rumah, saya bergerilya mencari-cari di mana tempat persembunyiannya (tapi enggak berhasil hahaha) 😂 Kalau enggak salah, itu Harry Potter keempat.”

Keesokan harinya, akun yang sama kembali mengunggah foto satu-tangan-memegang-buku. Harry Potter kali ini absen, digantikan Supernova karya Dee Lestari. Saya lagi-lagi merasa punya kenangan yang sama erat dengan buku ini, dan merasa harus membagikannya di kolom komentar:

“Sekitar 2001 atau 2002, seseorang yang lebih senior memberikan buku ini pada saya. Waktu itu saya bahkan belum lulus SD 😂 Teman sekelas melihat saya membawa buku ini ke sekolah dan saya masih ingat keheranannya, ‘Kamu baca Supernova?’. Setelah itu, beberapa kali saya mencoba membacanya tetapi enggak connect. Mungkin karena belum dewasa 😋 Kemudian buku ini terlupakan di rak, sampai kira-kira saya SMA saya mencoba membacanya kembali. Astaga, luar biasa, bisa memahami buku yang dulu pernah kubaca tapi tak kumengerti (kira-kira begitu sensasinya hahaha). Ini… ini salah satu buku terbaik yang pernah orang lain berikan pada saya.”

Setelah dua hari turut menyumbangkan komentar, saya jadi ingat memori-memori sentimentil lainnya terkait buku. Terlarut dalam nostalgia, saya pun tersadar: jangan-jangan yang membuat sebuah buku spesial tidaklah hanya soal seberapa membekas isinya, atau seberapa drastis ia mengubah pemikiran kita, melainkan kenangan akan kapan dan bagaimana saya memilikinya.

Jujur, buku-buku koleksi saya di rumah masih belum banyak. Setidaknya, tidak seperti Karl Lagerfeld yang mengklaim menyimpan sampai 300.000 buku di rumahnya atau book-hoarders akut lainnya. Tapi, dari dulu, memang buku selalu menjadi bagian dari (dan pasti juga, membentuk) hidup saya.

Ada judul-judul tertentu di rak buku, yang akan selalu saya ingat bagaimana mendapatkannya: buku yang dibeli dalam perjalanan mudik ke kampung kakek-nenek, koleksi serial yang berhasil didapat setelah berkeliling kios loak, kamus hadiah dari guru les karena hasil ujian saya melebihi ekspektasinya, komik yang dipinjam tetangga begitu lama dan begitu dikembalikan isinya penuh coretan, novel yang saya pinjamkan ke gebetan begitu lama dan begitu dikembalikan dia (gebetan, bukan buku) sudah ada yang punya…

Hingga judul-judul tertentu yang menjadi penanda zaman: Wah, saya pertama kali baca serial ini di perpustakaan SD. Yang ini, dibaca sembunyi-sembunyi waktu SMP. Yang itu, teenlit yang hits banget waktu SMA, semua baca!

Ah, such a bittersweet nostalgia. Terima kasih kalian semua, untuk menjadi saksi bisu segelintir kenangan pahit-manisnya babakan hidup.

Untitled


Salah satu buku yang saya anggap paling spesial bagi saya bukan karena penulisnya terkenal atau karena ceritanya memukau nalar dan mengguncang iman… tetapi karena tulisan yang terdapat di halaman pertamanya:

“Selamat ulang tahun ke-9. Semoga panjang umur dan kelak menjadi orang yang bijak. Tetaplah membaca untuk menambah pengetahuan, tapi… jangan lupa belajarnya! Sayang selalu dari Papa, Mama, dan Adik.”

[]

Penulis: Mariska // @mvergina (Twitter dan Instagram). Tinggal di Tangerang, sehari-hari bergelut dengan kata-kata di salah satu harian di Jakarta.

 

Pagi, Renja!

Omelet, roti panggang dan irisan keju, sudah siaga di atas meja makan dalam piring keramik berwarna biru. Di ujung meja, di dalam sebuah mangkuk sup plastik; pupuk urea organik dicampur sedikit kompos dan setengah gelas air, tersaji sudah; bubur sehat, sarapan kegemaran Renja.

Renja duduk, membaca novel “cantik itu luka” berulang-ulang. Ia belum mau memulai sarapannya. Menunggu Yura, yang masih bercanda dengan air hangat di kamar mandi.

Ritual pagi, selalu diawali dengan Renja bangun lebih awal, memetik setangkai bunga kertas dari halaman rumah, lalu berkutat di dapur untuk menyiapkan variasi sarapan istrinya. Lantas Renja akan menata meja dengan hati-hati. Meletakkan vas bunga keramik lonjong bercorak merah jambu di tengah meja, lalu meninabobokkan setangkai bunga kertas di dalamnya. Hampir setahun sudah, Renja melakukan ritual itu setiap paginya. Persis di waktu yang sama, tidak lewat atau kurang sedetikpun.

Yura, keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk putih melilit tubuhnya. Kamar tidur itu tidak lebar. Dindingnya bercat hijau terang dengan gambar-gambar pohon bergaris tak rapi. Yura suka memandangi gambar yang dilukis Renja kurang lebih sebulan itu. Tak begitu banyak perkakas di dalam kamar, hanya ada meja rias kecil, lemari kecil dan tempat tidur dari kayu jati yang sedikit lebar, warisan keluarga Yura.

Di depan cermin, Yura mengenakan seragam kerja, memakai sedikit bedak, eye shadow tipis, dan lip gloss. Sekali saja dalam hidupnya Yura memakai lipstik; di resepsi pernikahannya dengan Renja. Yura menatap bayangan dirinya di dalam cermin, kemudian menjahit senyum dibibirnya. Dari matanya; ia masih melihat aura luka yang terus mengganggunya. Dari atas tempat tidurnya, seperti biasa, ia akan memunguti kuntum-kuntum kamboja sebelum beranjak ke dapur.
“25 helai Nja, 25 helai! Apa sakitmu memburuk?” Yura menatap tajam ke arah Renja. Matanya menyipit, mulut tertutup mengecil, tangannya bergetar; Yura tengah diamuk marah, resah sekaligus takut. Yura memperbesar aura luka di matanya pagi itu.

Renja menggeleng kaku. Bunyi derak halus selalunya akan terdengar tiap kali Renja menggerakkan tubuh. Renja meletakkan bukunya dengan sangat hati-hati sekali. Dengan perlahan dan gerak patah-patah, Ia memulai sarapannya.
Yura geram, ia menggebrak meja, lalu kembali mengatur nafasnya sambil mengeluarkan cermin dari tas Gucci biru aslinya. Memandangi wajahnya di dalam cermin. Kembali menjahit senyumnya yang berantakan.

“Tak mengapa Nja, Tak mengapa sayang. Kita akan baik-baik saja! Toh, sekarang hidupmu sudah milikku! Kita bisa saling berpelukan, saling menyetubuhi dan dan bisa saling bertemu setiap hari di rumah ini!

Yura diam sesaat, matanya seketika berubah menjadi belati yang diasah ribuan tahun. “Kau tidak akan bisa pulang lagi! Kau harus yakinkan itu pada dirimu sendiri! Ya, Kau harus! Dan harus, harus!” Yura menceracau pada dirinya sendiri. Renja diam.Tetapi pikirannya membuat ia mengangguk perlahan. “Krrrraaaakk”, Renja berderak.

“Aku pergi dulu! lakukanlah apa yang hendak kamu lakukan! Kau beruntung, aku memberimu kebebasan dan kepercayaan! bersyukurlah!”
Yura beranjak, membuka pagar halaman, menguncinya dengan rantai yang berlapis, kemudian memasukkan kembali kunci-kunci itu ke dalam tas. Sebatang pohon bunga kertas tumbuh subur di samping kanan rumah mereka. Yura menatap ke arah pintu rumah mereka; tidak ada tanda-tanda akan dibuka. Yura tersenyum, lalu membuang pandang ke arah kiri. Sebelum menghilang bersama taxi yang menelan tubuhnya.

Di dalam rumah, Renja mencuci perkakas dapur; lima piring pecah, dua kali lebih banyak dari hari sebelumnya. Setelahnya, Renja akan membuka jendela ruang tamu. Dari bingkai jendela itu, pohon bunga kertas tampak bergerak, di hidupkan angin “Pulangkanlah diriku padamu, pulangkah dirimu padaku” Kraaaakk. Renja berderak, tiga puluh kuntum kamboja, gugur dari kepalanya. Lalu Renja tenggelam dalam novel “cantik itu luka.” Bukan membacanya, lebih tepat bila dikatakan memandanginya tanpa kedip, sebab Renja sudah lupa caranya berkedip.

*
Hiruk pikuk perintah dan tumpukan memo, bikin Yura lupa rumah sepenuhnya. Disampingnya, lelaki paruh baya dengan kemeja putih liris bersetrika rapi dipadu padan dengan celana panjang hitam yang juga bersetrika rapi, tengah setia duduk menunggunya. Yura melirik lelaki itu sesekali, kemudian menunjukkan senyum yang telah dijahitnya sempurna semenjak rumah. Lelaki itu memandang Yura, mata mereka beradu temu, liur mereka tumpah.

“Kenapa kau mau menikahinya?”
Kenapa kau suka melumatku?
“Aku suka tubuhmu!”
Aku suka keliarannya!
“Dia sudah mati dalam hidupnya yang sekarang kan?”
Setidaknya aku menang dengan memilikinya, dia karibmu bukan?
“Tapi kelamin hanya mengenal birahi, bukan teman, begitukan?”
Yura kembali memasang senyum yang telah dijahitnya sempurna, lelaki itu kembali bergemuruh, liur mereka kembali tumpah.
“Apa dia pernah tau apa yang kita lakukan?”
Tentu saja, bahkan dari awalnya. Itu kenapa dia memutuskan pergi, menuju purnama yang menghidupkannya!
“Lantas bagaimana kau bisa memilikinya!”
Ia lupa, Ia terbang tanpa sayap. Oleh sebab itu ia jatuh. Lalu aku mengutipnya dan menanamnya di rumah!

*
Pagi tumbuh belum sempurna. Renja, dengan derak perlahannya, bangkit dari tempat tidur. Ribuan kuntum kamboja, gugur di atas seprai yang kusut marut. Yura melingkar, mendengkur halus seperti bayi jerapah. Senyum polos yang mekar di bibirnya tumbuh tanpa perlu di jahit. Renja mengulang paginya. Membuka pintu, lalu berdiri menatap bunga kertas yang tumbuh subur di halaman rumah.
Renja memetik setangkai, menciumnya perlahan-lahan dan dalam. Renja larut dalam damainya. Ia mendekap tangkai bunga kertas itu di dada kirinya. Renja diam tak bergeming.
“Pagi, Renja!”
Suara itu tak asing. Suara itu membangkitkan hidup Renja. Renja gemetar bukan kepalang. Lama sudah ia tidak mendengar bentuk suara yang begitu di rindunya itu. Renja menolehkan kepala dengan lentur tak kaku. Pun tak ada suara derak. Di ujung jalan, di luar pagar, ia melihat sosok yang begitu dikenalnya. Sosok yang menghidupkannya. Sosok yang diam-diam disebutnya purnama. Naina, Sosok itu tersenyum datar.

“Berhentilah berimajinasi dan berangan-angan, Renja. Kepemilikanmu atasku hanyalah imajinasi dan angan-anganmu sepihak, sedari dulu memang begitu. Maka berhentilah!”

Renja menatap sosok itu dengan penuh ketenangan, segala kerinduan yang dimilikinya lebur ke dalam tetesan bening yang mengalir keluar dari tengah mata kirinya. Pertama kalinya, Renja tersenyum.
“Pagi, Renja!” Sosok itu kemudian memudar bersama pagi yang telah tumbuh sempurna. Matahari melebur tubuhnya kedalam cahaya lembut, mengikisi kulit pohon kamboja yang tumbuh di tubuh Renja. Pagi itu, Renja kembali dilahirkan dirinya sendiri. Dengan ketenangan yang tetap, Renja menuju dapur rumahnya, meletakkan dengan lembut, setangkai bunga kertas di dalam vas bunga. Lalu menyiapkan sarapan pagi sebagai seorang manusia, untuk pertama kalinya.

<>

Penulis: Senjakalasaya

Tentang Perempuan

 

 

Tiga kisah lelaki yang sangat payah dalam relationship dengan perempuan.

 

[1]

“Jadi, gimana sih dia?” tanya pacar saya. Di mobil dalam perjalanan, ia ingin bertanya soal mantan saya, yang sempat menjadi alasan mengapa saya meninggalkan pacar saya. Sebelum pada akhirnya saya dan pacar saya jadian. Saya sendiri cukup bingung ketika tiba-tiba ia menanyakan soal mantan. Maksudku, apa yang ingin diceritakan dari mantan selain hal-hal yang sudah basi dan kadung tak menarik lagi? Lagipula, apa tidak awkward, baru berapa hari jadian sudah bicara soal mantan?

“Heh?”, kataku.

“Iyaaaa,” ia tersenyum. “Aku pengen tahu mantan kamu gimana dulu. Manatau aku lebih baik dari dia.”

Maka kemudian mulailah aku menghela nafas. Aku ceritakan tentang mantanku dari hal-hal yang baik. Karena apa? Karena aku memang begitu. Aku mudah mengingat kebaikan orang dan dengan mudahnya melupakan keburukan orang. Lalu, baru dua-tiga kalimat keluar dari mulutku untuk mendeskripsikan kebaikan mantanku, pacarku menangis.

Katanya, dengan tangisan yang terisak-isak, “kamu kok, ceritain ini sama aku? Maksudnya apa sih?”

Aku hanya bisa memasang ekspresi kikuk selama dalam perjalanan.

 

[2]

“Jadi apa sih sebenarnya ingin kamu?” Saya kaget, berusaha menerka-nerka apa yang perempuan di depan saya ini sedang persoalkan. “Dulu kita dekat, tapi sekarang aku benci dengan kamu!” Ia teman saya, yang sialnya, jatuh cinta dengan saya.

Lalu saya coba ajak bicara untuk mengetahui sebabnya kenapa orang ini. Kemudian diketahui bahwa ia jatuh cinta setelah saya ajak nonton satu kali. Iya, satu kali. Tapi setelah nonton saya dan dia makan. Jalan mengelilingi kota. Saya tidak merasakan apa-apa. Sementara dia, malah sebaliknya.

Di situasi seperti ini, tentu situasi jadi tidak enak. Perempuan ini teman saya, dan bagaimanapun juga saya tidak mau kehilangan seorang teman. Saya mencoba menyanjungnya agar situasi tidak runyam. Serta menyalahkan terus diri saya sampai ia muak melihat saya menyalahkan diri saya. Situasi membaik. Hingga pada akhirnya ia menanyakan lagi soal perasaan saya kepadanya.

“Tapi, dulu kamu cinta kan sama aku?” katanya. Ia sedang harap-harap cemas, mungkin.

“Ya,” jawabku untuk menjaga perasaannya. Sungguh seumur-umur berapa kali ditolak perempuan, baru kali ini saya nolak. Rasanya, tidak enak rupanya. Tidak semaskulin seperti dalam bayangan saya.

 

[3]

Ada fase di mana saya sangat depresi. Lalu saya mencari pelarian dalam banyak hal. Di fase di mana saya setengah putus asa dengan hidup saya, ada seorang yang baru saya kenal mengajak saya jalan. Ia perempuan, tentu saja, dan ia teman dari teman saya. Wajahnya manis, jika mengacu pada komposisi hidung kecil, senyum tipis dan matanya yang tidak sipit namun juga tidak belo ditopang oleh tengkorak kepalanya yang bulat. Serta, ia sangat pintar. Saya suka bicara dengan orang pintar, terutama perempuan. Untungnya, ia mengajak saya jalan ke salah satu Café yang cukup populer di kota saya.

Maka bicaralah kami ngalor ngidul. Mulai ngomongin masa depan negara. Bicara kehidupan kuliah. Masa depan satu sama lain. Serta pada akhirnya bicara soal diri sendiri. Saat sedang bicara tentang diri, saya kemudian mendadak ingin menceritakan fase depresi saya. Tak ada niatan untuk meng-impress perempuan itu, tentu saja. Saya tidak suka dikasihani dan itu murni ketidaksengajaan.

IMG_1869

Setelah cerita habis, perempuan ini memberikan nasihat-nasihat kepada saya. Tidak saya dengar lagipula. Karena setelah saya cerita, baru saya sadar saya sedang menceritakan apa yang tidak harusnya diceritakan oleh orang yang baru saya kenal. Agar ia lupa, saya kemudian bercerita tentang hal-hal konyol. Seperti guyonan receh yang bisa saya temukan di Twitter.

Lalu saya mengantarnya pulang. Ia berikan senyuman kepada saya. Saya balas. Teman saya, yang saya rasa mendengarkan curhatnya, kemudian bilang bahwa saya bodoh. Dan ia benar. Setelah cerita itu, beberapa hari kemudian perempuan ini jadi rajin ngirim pesan ke saya. Menanyakan kabar atau sekedar ingin mengajak jalan. Atau tengah malam menelpon saya untuk sekedar cerita tentang kehidupannya.

Saya kebingungan dan memikirkan cara bagaimana keluar dari jebakan seperti ini. Kata teman saya, “jangan digubris, nanti dia mundur sendiri, kok.” Saya ikuti sarannya sehingga sekarang, dia jadi diem-dieman dengan saya. Saya biarkan saja sebagai pengigat untuk jangan curhat ke sembarang orang.

 

 

[]

Penulis: @utamaarif

9 Alasan Lo Gak Bahagia

Alasan-alasan berikut gue ambil dari websitenya entrepreneur.com dengan judul aslinya “10 Reasons You’re Still Not Happy” yang menurut gue cukup seru buat dibagi. Senang atau bahagia emang ada ukurannya, tergantung dari orang-orang yang mendefinisikannya. Cuma, mestinya ada beberapa hal sebagai landasan seseorang itu bahagia atau enggak meskipun bisa jadi cukup atau ‘biasa aja’.

Beberapa hari lalu sedikitnya gue baca empat status temen di medsos yang ngomongin tentang kebahagiaan. Yang pertama bilang kalo bahagia itu ya udah sukses naek jabatan. Yang kedua bilang kalo bahagia itu dapet THR lancar. Yang ketiga bilang bahagia itu kalo dia solat di mesjid. Yang terakhir bilang kalo bahagia itu kalo liat orang tua bahagia. Ada juga yang bilang bahagia itu ngeliat Ahok dipenjara hehe.
Hampir semua standar kebahagiaan di atas terbuka untuk didiskusikan. Tapi balik lagi, setiap orang berhak punya standar untuk rasa bahagianya masing-masing, dan gue mencoba menghormati untuk tidak larut mempertanyakan bahkan menyalahkan ukuran-ukuran mereka.

Terlepas dari standarisasi untuk kebahagiaan, website entrepreneur.com membuat ulasan yang menarik yang menjelaskan kenapa kita sampe gak atau belum bahagia. Beberapa di antaranya menurut gue cukup masuk akal dan sangat universal sehingga kemungkinan besar setiap orang memang ngalamin hal tersebut. Gak semua dari 10 hal tersebut gue catut di tulisan ini karena keterbatasan interpretasi. Adapun hal-hal tersebut ialah;

  1. Gak cukup kontrol.

Kita bakal ngerasa bahagia ketika hidup kita sesuai dengan kendali kita sendiri. Karena itulah, baik anak-anak maupun orang dewasa sering berusaha keras untuk mandiri, jadi mereka merasa hidup mereka sesuai dengan keinginan mereka. Bila hidup kita kerasa gak terkendali, (percayalah) ketidakbahagiaan sudah dekat.

Trus gimana caranya untuk bisa kontrol lebih? Kita bisa mulai dengan memetakan apa yang bisa kendalikan dan mana yang belum namun bisa diupayakan dengan sedikit usaha. Singkatnya, menurut gue sih semakin kita mandiri, maka akan semakin bahagianya kita. Yang masih nganggur, mungkin ini saatnya lo makin giat nyari kerja atau usaha.

  1. Gak ngerasa bersyukur atas apa yang dimiliki.

Banyak ketidakbahagiaan asalnya dari ngebandingin hidup kita dengan orang lain yang malah bikin kita minder. Bila kita udah ngerasa minder, justru hal itu yang bikin kita sulit untuk merasa bersyukur. Salah satu cara terbaik untuk mengatasi perasaan ini adalah membuat daftar semua yang kita miliki yang patut untuk syukuri.

Menurut gue sih ini standar banget. Lagian udah banyak juga motivator yang ngomongin ini. Tapi kayak yang gue bilang sebelumnya, hal ini cukup umum sehingga mungkin aja kita suka lupa untuk mensyukuri apa yang udah didapet. Misalnya, kita baru beli hape merk lokal yang memori internalnya 16GB dari yang sebelumnya cuma 4GB. Pas di kantor, ternyata temen satu level kerjaan baru ganti hape juga, iphone 7 pula. Seketika, kita refleks bertanya; “Dia aja yang gajinya sama kayak gue bisa beli iphone 7, lha gue cuma hape merk lokal.” #MenolakLupa

  1. Jarang nyicipin hal-hal baru.

Memiliki pengalaman baru, mencoba hal baru dan pergi ke tempat baru semua punya peran buat kebahagiaan kita. Otak kita butuh banget yang namanya variasi; Rangsangan baru dan seru. Kalo hidup lo kemudian terjebak pada hal yang biasa dan jadi kebiasaan, bakal sulit rasanya untuk kemudian jadi bahagia.

Cara simple untuk melakukan sesuatu yang baru atau bervariasi salah satunya ialah pergi ke tempat aktivitas dengan rute atau angkutan yang berbeda. Lalu kemudian membuat variasi menu sarapan yang beda-beda. Bisa juga sesekali lo pergi ke tempat-tempat yang berbau alam di akhir pekan sebagai variasi dari rutinitas harian yang selalu ngeliat beton, kecuali lo kerja di kebon lah yaw.

  1. Gak cukup untuk diharapkan.

Awalnya agak bingung juga buat hal yang satu ini, mungkin gue coba tafsirin sendiri deh. Apa sih yang lo rasain kalo di tempat kerja atau rumah, lo adalah orang terakhir yang dimintain bantuan? Kalo gue sih bakal ngerasa useless. Soalnya, ketika orang lain percaya dan sering ngandelin kita, artinya keberadaan kita udah bermanfaat dan dianggap . Nah ketika banyak orang yang gak percaya dan ngandelin kita, justru bisa bikin kita gak berharga dan gak bahagia. Kira-kira gitu gak sih? Iya-in aja lah.

  1. Jarang Piknik.

Tau gak sih lo kalo ada beberapa penelitian yang nemuin kalo ngabisin waktu di alam terbuka bisa bikin kita ngerasa lebih bahagia secara dramatis? Gue sih ngerasa begitu. Sehari-hari yang gue liat cuma beton ama beton dan begitu pergi piknik ke alam bebas, seketika berasa adem.

Sebenernya gak usah jauh-jauh pergi ke daerah berhutan sih. Lo cukup cari taman-taman deket rumah atau tempat kerja, trus nongki-nongki deh di situ dan coba rasain sensasinya (asal jangan nongkrong pas siang bolong boss, gerah juga keles).

  1. Ngerasa terlalu stres.

Nyebelin banget sih kalo kita stres, tapi sayangnya stres ialah bagian dari kehidupan manusia yang ada di planet ini. Jangankan manusia, hewan ama tumbuhan aja bisa stres kok. Ada banyak cara buat ngilangin stres, tapi sebelum itu kita perlu tulis satu-satu tentang apa aja yang bisa dan selalu bikin kita stres. Abis dibikin list, baru deh kita pikirin satu-satu solusi ngilanginnya mulai dari yang paling gampang. “Sial! Gampang banget nih artikel ngemengin beginian, gak tau apa gue lagi puyeng banget gini. “ <- Salah satu yang harus diilangin kalo lo pengen keluar dari situasi stres hehehe.

  1. Jarang berpikir optimis.

Emang susah banget kalo kita konsisten ngadepin sesuatunya. Sebagai contoh, ada temen gue yang resign dari tempat kerjanya. Menurut gue sih gajinya terbilang pas-pasan tapi institusi tempat dia kerja cukup established dalam jangka waktu lama. Dengan kata lain, akan sulit terjadi PHK di tempat dia bekerja. Tapi, karena ingin dapetin lebih, dia akhirnya resign dan ikut saran temennya untuk nyobain maen forex trading.

Suatu hari, terjadi fluktuasi di pasar valas yang imbasnya banyak trader yang loss termasuk temen gue ini. Seketika motivasinya ancur, gak mungkin dia balik lagi ke tempat kerja juga gak mungkin untuk nerusin trading karena modalnya abis. Pada situasi begini sebenernya ujian untuk konsisten berlangsung. Saran gue sih terusin aja tapi pake modal yang paling kecil. Emang gak akan balik cepet, tapi at least masih ada harapan buat lanjutin. Dan keterpurukan yang terjadi sebelumnya, biasanya selalu bawa berkah di kemudian hari (dan dalam bentuk yang berbeda).

  1. Males Belajar.

Ada anak SD udah bisa bikin website. Coba lo tanya ke diri sendiri, waktu seusia mereka, lo udah bisa apa? Palingan bisanya maen karet atau layangan. Kemajuan informasi dan teknologi gak bisa ditahan-tahan sayyy. Semuanya berlomba menjadi yang terdepan di bidang itu. Anak kuliahan sekarang aja bikin skripsinya nongkrongin gugel bukannya tatap muka ama dosen pembimbing. Jadi, gak ada lagi alesan kalo belajar itu susah, yang susah itu yang kita sendiri yang bebal gak mau belajar. Kita bakal ngerasa bahagia ketika abis tau sesuatu hal yang baru. Biasanya, kita mengadvokasi atau nyeritain ulang sesuatu yang menurut kita bermanfaat bagi orang lain, di situ kita juga ngerasa bahagia. So, untuk lebih bahagia, mulai dari sekarang bongkar-bongkar lagi buku yang belom sempet ke baca. Lalu saring informasi dari sumber-sumber yang makin hari makin gak bertanggungjawab, ambil yang betul-betul kita perlukan dan bermanfaat.

  1. Gak punya tujuan.

Emang sih gak ada salahnya kalo kita punya pemikiran hidup mah ngalir aja. Tapi gak salah juga kan kalo kita punya tujuan? Apakah memiliki tujuan itu mesti di luar arus? Gak mesti kan? Bisa jadi kita memang mengalir ngikutin arus tapi sekaligus tau kita harus siap-siap begitu akan sampai pada tujuan kita.

Tetapin dulu tujuannya baru setelah itu kita pikirin hal-hal yang bisa mempercepat untuk nyampe ke tujuan kita.

Itulah beberapa hal yang bisa bikin lo gak bahagia. Memang setiap orang punya cara tersendiri untuk ngadepin hidup dengan segala dinamikanya. Satu hal yang pasti sulit di jawab; “Apakah ada orang yang tak ingin bahagia?”

Penulis: @ayodiki

Panik Virus

Membuat virus siber kemudian mendulang uang darinya, merupakan metode yang baru. Pada 2016 lalu, peretas yang menyebarkan Ransomware berhasil menodong dan mengumpulkan sebanyak 10 trilyun rupiah dari para korbannya yang kebanyakan lembaga publik dan sektor bisnis.

Anda dapat mencari sendiri informasi mengenai Ransomware yang kini sedang naik daun dan telah disebar ke seluruh dunia oleh para kriminal siber. Secara sederhana, cara kerja ‘hantu’ digital tersebut ialah menyusup kepada perangkat gawai yang tampak normal lalu kemudian ‘menyandera’ data-data yang ada di dalamnya. Data-data tersebut bisa kembali bila Anda membayar tebusan kepada si peretas. Tentu saja bagi kita yang tak sempat melakukan back up akan sangat tersiksa. Apalagi bagi lembaga publik yang pada dasarnya adalah pelayanan, seperti rumahsakit. Di Jakarta saja, sudah ada dua rumahsakit yang terjangkit Ransomware sehingga operasional harian seperti data pasien, jadwal operasi, dan lainnya menjadi kacau. Hingga awal kuartal II 2017 ini sudah ada 79 negara yang terkena Ransomware.

Kembali ke belakang, tahun 1949, John von Newman sebagai salah seorang pencipta komputer membuat virus dan kemudian diabadikan menjadi virus pertama di dunia. Lalu di AT&T Bell Laboratory, salah satu laboratorium terbesar di dunia, para peneliti di sana membuat permainan yang dinamakan Core War. Sadar bahwa program permainan itu berbahaya, mereka kemudian memusnahkan Core War setiap kali sehabis memainkannya. Persoalannya, tidak semua ahli siber itu bertanggungjawab, sehingga virus-virus itu diciptakan kembali dan disebarkan untuk tujuan tertentu.

Determinisme Teknologi

Yang paling mendukung penyebaran dari malware-malware adalah jaringan (internet) yang mana merupakan hasil dari perkembangan teknologi. Perubahan yang terjadi dalam perkembangan teknologi sejak zaman dahulu hingga sekarang memberikan pengaruh besar terhadap masyarakat. Hubungan teknologi dengan masyarakat juga menentukan perkembangan dan perubahan sosial serta nilai-nilai budaya. Dalam teori Determinisme Teknologi, kunci untuk mengendalikan masyarakat ialah dengan menguasai teknologi dan inovasinya.

Teori ini dicetuskan oleh Thornstein Veblen pada tahun 1920 dengan maksud bahwa setiap generasi manusia akan memiliki penemu-penemunya sendiri yang kemudian menghasilkan karya teknologi yang menjadi landasan perkembangan manusia. Hal ini memperjelas bahwa teknologi dan masyarakat memang telah memiliki hubungan yang erat sejak lama.

Determinasi Teknologi memiliki tiga bentuk dalam perkembangannya, di mana bentuk yang ketiga yang mungkin sedang terjadi saat ini yaitu bentuk konsekuensi yang tidak disengaja. Bentuk ini melihat kemungkinan yang muncul dari perkembangan teknologi seperti polusi, transformasi masyarakat yang radikal seperti maraknya penyebaran informasi palsu (hoax), serta gaya hidup yang berubah menjadi lebih konsumtif sehingga menghabiskan sumber daya alam dengan cepat dalam pemenuhannya.

Kabut Peradaban

Pada dasarnya, manusia ialah mahluk sosial (bergantung). Kita akan senantiasa bertahan hidup dengan berkoloni. Faktanya, bumi kini dihuni oleh lebih dari 6 milyar manusia yang terkoneksi satu sama lain dengan cepat. Arus informasi tersalurkan tanpa hambatan waktu dengan adanya jaringan dari teknologi komunikasi dan informasi. Ramainya Ransomware telah menandakan bahwa kita sudah cukup jauh bergantung kepada teknologi. Tidak sedikit aktivitas yang lumpuh total karena terserang malware tersebut. Tapi apakah kita sebegitunya bergantung terhadap teknologi? Atau adakah hal lain yang sesungguhnya lebih dibutuhkan manusia selain dari teknologi?

Dalam konsep Kabut Peradaban, manusia kini semakin tidak sadar akan kebergantungannya terhadap alam. Zaman dulu manusia memenuhi rasa laparnya dengan berburu dan mengolah makanannya secara langsung. Kini kita bisa lebih leluasa untuk memilih bahan makanan di etalase supermarket tanpa perlu bercocok tanam. Atau bahkan, kita bisa memesan makanan siap saji dengan sangat mudah langsung ke depan rumah hanya menggunakan layanan ojek antar. Kita semakin jauh dari alam akibat kemajuan peradaban yang kita buat sendiri. Ya! Tanpa alam kita tidak akan bisa bertahan hidup, bahkan dengan kemajuan teknologi sepesat apapun. Seperti terkena serangan virus atau malware, menjaga kelangsungan alam juga memiliki serangkaian upaya penanggulangannya. Berikut adalah tips dari saya bagi kita yang ingin turut merawat alam dari hal yang paling sederhana;

  1. Mengurangi (Reduce). Bijaklah dalam mengonsumsi sesuatu. Pastikan Anda membelinya karena kebutuhan. Coba jawab ini; Berapa banyak pakaian yang teronggok tak terpakai di dalam lemari Anda?
  2. Memakai ulang (Reuse). Anda bisa menggunakan barang pribadi hingga betul-betul tak bisa dipergunakan lagi. Misalnya, apakah Anda perlu mengganti smartphone hanya karena ingin berkamera lebih bagus? Bukankah esensi smartphone adalah untuk berkomunikasi? Anda juga bisa mempertimbangkan untuk membeli barang bekas yang masih layak atau hasil refurbish yang kini sudah marak dijual.
  3. Mendaur ulang (Recycle). Bila memiliki barang tak terpakai, jangan langsung dibuang, tapi bisa juga dimanfaatkan kembali atau disalurkan kepada penerima yang masih memerlukannya. Hal ini guna memperpanjang usia pakai sebuah barang.

Saat fenomena Ransomware ini meledak, hampir semua orang termasuk di Indonesia panik seakan hal buruk sedang terjadi. Tapi untuk fenomena Indonesia yang setiap tahunnya kehilangan 684.000 hektar hutan, kita tidak menjadikan itu sebagai hal krusial. Padahal, unsur utama manusia dalam bertahan hidup adalah oksigen, yang mana penghasil oksigen utama ialah pohon.

[]

Penulis: @ayodiki

 

 

Sebelum Pedih Ini Pergi

Kamu mengatakan kalau kamu tidak bisa meninggalkan kesenanganmu karena sudah menjadi bagian dari dirimu. Dan aku tidak bisa menerima kesenanganmu itu. Aku mencoba bertahan bersamamu dengan ditemani oleh kesenanganmu yang tidak bisa kamu lepaskan. Hatiku memberontak karena aku tidak bisa menerima kesenanganmu. Untuk itu aku memutuskan mungkin lebih baik untuk menyudahi kebersamaan kita. Aku tahu kamu selalu menolak saat aku mengajukan keputusanku. Tetapi akhirnya kamu menyetujuinya. Mungkin karena kamu sudah lelah dengan permohonanku.

Memang terasa berat melewati hari-hari ini seorang diri tanpa dirimu yang selalu ada untukku. Kamu berjanji kita akan tetap saling menghubungi karena kamu tidak pernah ingin berpisah. Aku tahu kita masing-masing masih memiliki rasa yang sama. Dan kita berdua sama-sama belum mampu untuk hidup sendiri-sendiri. Aku masih ingat percakapan kita lewat pesan setelah beberapa bulan perpisahan kita.

V(Vendy): Sedang ngapain, El?

E(Ella): Sedang tiduran dengerin lagu. Besok kamu ada acara? Ketemuan yuk!

V: Boleh. Ketemuan dimana?

E: Di cafe biasa aja, gimana?

V: Ok. Jam 12 siang ya.

E: Dy, Apakah mungkin untuk kita kembali bersama lagi?

V: Dari awal memang bukan aku yang memutuskan.

E: Masalahnya akankah kamu melepaskan kesenanganmu?

V: Kalau kamu sudah bisa berdamai dengan kesenanganku kita bisa kembali seperti dulu

E: Jangan membahasnya dulu deh. Masih sedih dengan perpisahan kita

Hati ini belum rela untuk melepasmu. Banyak saat dimana aku memegang handphoneku. Aku sampai pada contact number dengan abjad V dan berhenti. Ingin kumeneleponmu, ingin kukirim pesan singkat. Ingin sekali mendengar suaramu atau sekadar bertegur sapa dan bercanda lewat sms. Tetapi hatiku ragu apakah kamu mengharapkannya ataukah kamu akan terganggu jika namaku muncul di layer ponselmu. Saat ku sendiri dengan ponsel ditangan. Selalu dan tetap jari ini mencari-cari namamu.

IMG_2492

E: Dy, minggu ini aku lagi senggang. Kita bisa ketemuan ga?

V: El, kita tidak bisa ketemuan seperti biasa lagi. aku sudah mulai dekat dengan seorang cewek. Kamu sudah mulai membuka diri ga? Atau sudah dekat dengan seseorang?

E: ooohh. Aku masih sendiri.

V: El, coba buka diri. Maafkan aku karena kita tidak bisa ketemu seperti biasa lagi.

E: Thanks, dy! Semoga bahagia.

Tahukah kamu aku meneteskan air mata ketika mengetik kata ‘semoga bahagia’? hati ini perih membayangkan kita tidak akan bertemu lagi. Perpisahan ini semakin terasa nyata. Kamu sudah ada yang punya dan aku akan tetap dengan diriku sendiri. Air mata ini tidak m

au berhenti. Aku teringat dengan salah satu sms dari kamu setelah salah satu pertemuan kita setahun setelah perpisahan kita.

V: kalau kamu menangis seperti hari ini lebih baik kita tidak bertemu lagi. aku juga sedih mengetahui aku yang menyebabkan kamu menangis.

E: Menyakitkan saat aku dan kamu bersama tetapi tidak ada kata ’kita’.

Aku pernah mengatakan menyakitkan saat aku dan kamu bersama dan tidak ada kata ”kita”. Saat kita memiliki rasa yang sama tetapi tidak bisa menyatu. Sekarang kusadari lebih indah perih saat kita bersama dibandingkan perih ini, perih saat aku dengan diriku sendiri dan kamu hanya ada untuk dia. Menyakitkan saat aku tau kamu tidak akan ada lagi untukku. Menyakitkan saat aku sadar kita tidak akan lagi duduk bersama, hanya aku dan kamu.

Dulu setiap kamu menatapku matamu langsung bersinar dan wajahmu cerah tapi sekarang semua emosi itu milik dia. Ku lihat kamu bersama dia. Salah satu tanganmu menggenggam erat tangannya dan satunya lagi sedang memeluknya mesra. Wajahmu tertawa saat kamu berbisik padanya. Kalian berbagi canda dan terus menelusuri jalan di depan tanpa pernah menoleh ke belakang. Apakah kamu pernah merindukanku lagi atau pernahkah namaku terlintas di hatimu? Adakah kenangan tentangku yang tersisa di hatimu?

Aku merindukan semua tentangmu. Wajahmu, tawamu, suara serakmu, pelukan hangatmu, tatapanmu, dan semua hal yang berkaitan denganmu. Aku merindukanmu. Terutama saat-saat kita duduk berdua di bawah tebaran bintang, kamu selalu tersenyum tatkala aku bercerita tentang mimpi-mimpiku. Kamu selalu mengatakan, ”Apakah itu tidak terlalu banyak?” sambil menyindirku. Tetapi kamu selalu setia mendengarku menguraikan mimpiku yang banyak itu dan aku tahu kamu senang mendengarnya. Sekarang semua mimpi itu tergeletak. Karena tanpamu mimpi-mimpiku tak memiliki hasrat untuk mengejar kenyataan.

Setelah bertahun-tahun kulalui tanpa dirimu hanya dengan kenangan kita bersama, aku sudah terbiasa tanpamu. Waktu memang mampu mengikis pedih. Tetapi waktu tidak mampu menjawab kapan aku mencapai garis finish kepedihan ini.

Aku baik-baik saja ditemani oleh kenangan kita bersama yang dulu. Saat diri ini merasa sepi kadang aku isi dengan membolak-balik kenangan tentangmu dari buku harianku. Dan di saat itu aku sering mengandaikan hal-hal yang aku impikan untuk kita lakukan bersama. Tetapi waktu memutus impianku. Kita tidak lagi bersama. Aku dan kamu tidak lagi mampu mewujudkan impian itu. Banyak ’seandainya’ yang hadir di benakku saat kenangan tentangmu melintas dipikiranku. Seandainya kamu masih di sini, di sampingku.

Seandainya aku tidak pernah memutuskan hubungan kita.

Aku memandangi layar ponsel di hadapanku dan hati ini berkeping-keping. Tetesan air jatuh menyentuh layar. Tak kusadari air mataku masih ada untukmu, setelah ratusan malam ku lewati dengan ditemani air mata ini. Ku usap wajahku mencoba untuk berpaling ke arah lain selain layar dalam genggamanku untuk mengusir pedih ini. Layar ini menampilkan wajahmu yang sedang tersenyum bahagia bersama dengan dia menggunakan busana pengantin. Kamu terlihat sangat bahagia bersamanya. Kamu baik-baik saja tanpaku sementara aku tidak tahu berapa lamakah aku mampu bertahan bersama perih yang menyelimuti hatiku ini. Sendainya aku tidak pernah memutuskan untuk berpisah apakah wajah yang bersanding bersamamu adalah wajahku?

Aku terbiasa tanpamu tidak berarti hati ini telah melupakanmu.

Aku ingin tidur dan tidak ingin terbangun sebelum pedih ini pergi.

[]

Penulis: Tanto Harina. // Sudah setahun berkelana di negeri Kanguru mengikuti program working holiday, hidup nomaden dan bertemu teman-teman dari berbagai negara yang mengajarkan banyak hal tentang kehidupan.

Instagram: tantoharina.

blog: tantoharina.blogspot.com

Pagar Tak Suka Makan

Satu peribahasa yang sering kita dengar adalah ‘pagar makan tanaman’. Mungkin juga banyak dari kita yang pernah mengalaminya sendiri. Entah ‘ditikung’ oleh sahabat sendiri, ditipu oleh saudara sendiri, hingga dikhianati oleh pasangan sendiri.

Seseorang yang mengambil milik orang lain yang dikenal dengan baik dan mempunyai nilai berharga bagi pemiliknya. Itulah penjelasan dari peribahasa di paragraf pembuka. Berkaca pada pengalaman, saya pun pernah mengalami hal yang kurang enak berkaitan dengan peribahasa tersebut. Suatu ketika saat masih SMA, saya ngegebet seorang dara jelita. Kami beda angkatan, kebetulan saya adalah adik kelasnya. Saya sering memerhatikan wajahnya yang cantik juga lekuk tubuhnya. Dia juga terlihat baik dan cerdas karena merupakan penghuni kelas IPA unggulan. Jarang saya jumpai anak IPA yang berdandan seperti dia, gaul dan anggun. Tanpa ragu saya cari informasi untuk sekadar mendapatkan nomor telepon rumahnya, maklum kala itu belum musim pacaran via texting.

Karena keterbatasan uang jajan sehingga tak memungkinkan menelpon dia setiap hari untuk pdkt. Dia berkode area 0251, sedangkan saya 021 –hanya orang kurang waras yang pilih bersekolah beda kota- dan sekolah kami berkode 0251. Upaya saya tak susut karena hal itu, buat apa saya punya sahabat bila tak bisa merepotkannya? Dengan adegan ala rapat mafia, kami mulai bersiasat yang hasilnya; Dalam beberapa hari, dia bisa berpura-pura menjadi saya karena kebetulan si sahabat berkode area yang sama dengan si dara jelita.

Satu minggu berlalu, hampir setiap pagi sebelum masuk kelas, saya dan sahabat duduk bersama untuk share topik pembicaraan di antara mereka melalui jaringan telepon. Maksudnya, agar saya bisa ngobrol ‘nyambung’ sama si dara sewaktu istirahat nanti. Makanan kesukaan, binatang peliharaan, jenis musik yang didengar dan lain sebagainya adalah topik ‘standar’ yang biasanya diperbincangkan.

Tiga minggu benih cinta semakin berbunga. Menurut sahabat, si dara sudah kasih sinyal kalau dia juga tertarik sama saya. Sungguh, alangkah bahagianya perasaan saya, ternyata strategi kami (saya dan sahabat) cukup efektif dalam rangka pdkt yang efisien. Tak terbayang bila dalam waktu dekat saya bisa membelai wajahnya yang halus serta menggenggam tangannya yang berjari lentik sembari bercakap sesuatu yang membuat kita bahagia sebagai sepasang kekasih dimabuk asmara.

Cerita berikutnya bisa memberikan sebuah pelajaran bahwa waspada itu perlu. Saya terlanjur percaya terhadap si sahabat. Di awal bulan, dia memutuskan pindah bangku –asalnya satu bangku dengan saya-. Andai saat itu saya cekatan, mungkin saya bisa antisipasi bahwa itu merupakan sinyal yang buruk. Benar saja, beberapa hari berikutnya si dara jelita tak mau menoleh sedikitpun pada wajah saya. Ini sangat aneh dan membuat saya bertanya-tanya; “Kok bisa secepat itu dia berubah? Ada apa gerangan?” Ditambah sahabat saya juga sudah jarang mau diajak ngobrol. “Gue capek, lo aja yang deketin sendiri” Kalimat terakhirnya sebelum pindah bangku.

Ada informasi bahwa ternyata mereka telah lama ‘jadian’. Jadi, selama ini saya dibodohi? Tapi mengapa? Saya amat sangat percaya terhadap si sahabat, lagian si dara jelita juga tidak masuk ke dalam radar si sahabat sebagai gadis incaran, bahkan jauh dari mungkin. Hanya tak habis pikir, cerita-cerita bak di sinetron itu menimpa saya, dan saya korbannya, sial! Sejak saat itu hubungan saya dan sahabat tak lagi akur. Dia pun tak pernah meminta maaf, mungkin karena sedang dimabuk asmara, dunia seakan milik berdua. Tapi sekali lagi, saya tak menyangka plot cerita itu mampir di hidup saya.

 

Gebukin aja yuk, udeh kurang ajar temen lo itu” Beberapa teman tongkrongan sedikit menyemangati. Bahkan beberapa teman wanita juga turut prihatin. ”Kalo gue jadi ceweknya, gue gak akan terima tuh si tongkol bapuk” Ucap salah satu dari mereka. “Anjrit, kisah cinta SMA kok bisa serumit ini ya?” Tanya saya dalam hati. Bukannya masa itu adalah cinta-cintaan semi-serius? Atau yang sering disebut ‘cinta monyet’. Walau tak lama sejak kejadian itu, akhirnya salah satu dari teman wanita itu jadi pacar saya.

“Bagai melompati pagar tiga hasta, akan dilompati rendah, dilangkahi tinggi” Itulah peribahasa lain yang berkaitan dengan pagar. Penjelasan singkatnya ialah serba singkat atau tanggung. Ya, mungkin adanya pagar makan tanaman karena kita sendiri yang bertindak tanggung. Kalau mau berusaha, pasti ada jalan, cuma perlu dipastikan lagi dengan siapa Anda akan melangkah.

Apakah Anda pernah punya pengalaman serupa? Menjadi saya, sahabat, atau si dara jelita? Yuk share di kolom komentar dan sertakan akun IG atau twitter kalian. Cerita terunik bakal saya kasih bingkisan dari @baGoesID secara cuma-cuma!

 

[]

Penulis: @ayodiki

 

Kejutkan Dirimu

 

 

1.

Saya masih ingat bagaimana ayah saya mengajari saya berenang. Saya tak henti-hentinya teriak kala ayah saya melepas tangannya yang ia gunakan untuk menahan dada saya agar tidak tenggelam. Tinggi kolam itu 1.5 meter, dan untuk ukuran anak usia 8 tahun, masih sangat tinggi. Namun ayah memiliki caranya untuk meyakinkan saya.

Kata ayah saya, “Tenang… Tenang… Makin kamu panik, kamu bakal beneran tenggelam.” Tentu saja, menurut ayah saya, saya sudah siap waktu itu. Saya sudah belajar mengambang dan mengayuhkan kaki dengan benar sesuai kaidah berenang gaya bebas sepengetahuan beliau.

150402161501_1_900x600

Tentu saja pada akhirnya saya menenggak terlalu banyak air kaporit di hari pertama saya betulan berenang. Kaki saya menghentakkan air sehingga saya persis seperti kapal di ombak yang ganas alih-alih seperti orang yang berenang. Saya berusaha menguasai rasa takut saya. Entah kenapa, rasa ingin saya bisa mendadak menguasai saya. Teknik berenang saya saat itu sangat payah, tentu saja. Saya menghabiskan banyak energi. Akan tetapi, saya sampai ke ujung. Dan ayah saya memandang saya dengan bangga.

 

2.

Saya masih ingat hubungan saya dengan pacar pertama saya, terutama, bagian di mana kita pertama kali jadian. Saya laki-laki biasa – remaja dengan pengalaman minim terhadap perempuan. Sementara dia? Saya rasa, dia sangat populer dan tentu saja sangat manis. Saya terus mengutuki diri saya bahwa saya tidak populer dan not good enough for her. Sehingga pada akhirnya, mulut saya bisa mendadak kelu saat bertemu dengannya. Saya tidak berani untuk mengajaknya jalan. Bahkan, untuk mengatakan hai saja saya perlu berlatih di depan cermin selama beberapa hari.

Tentu menyebalkan di situasi macam ini. Lama kelamaan, imajinasi saya jadi nambah aneh. Awalnya pengen kenalan, lama-lama jadi ingin jadian hingga kencan. Saya terus memimpikannya dan memikirkannya, entah berapa kali, hingga ibu saya tahu namanya juga. Saya jadi cemburu saat dia dekat dengan laki-laki lain meski saya bukan siapa-siapanya. Saya sempat hampir berkelahi dengan salah satu orang yang mendekatinya dan menjadi pacarnya.

Lalu pada akhirnya, karena saya tidak tahan, mulai berpikir bahwa saya harus bicara dengannya. Saya lakukan, dan butuh berkali-kali agar saya percaya diri dan pada akhirnya kita jadian. Rupanya, saya pantas untuk dia, dan saya sangat kaget bagaimana sesungguhnya saya adalah pacar yang baik selama ini.

 

3.

Saya masih ingat pertama kali naik rollercoaster. Saya fobia ketinggian – sebagai gambaran, kaki saya sudah lemas saat di lantai paling atas Senayan City di mana lantainya kaca. Tapi situasi kemudian memaksa saya harus naik rollercoaster. Waktu itu, saya pergi dengan teman-teman saya. Karena ogah dianggap cemen, saya kemudian naik rollercoaster dengan keadaan tangan yang sangat dingin.

Saat rollercoaster meluncur, saya teriak sangat keras seperti perempuan yang histeris dalam konser. Tapi setelah melewatinya, saya kemudian tersenyum dengan senang. Saya bangga dengan diri saya. Jelas fobia saya tidak hilang dengan seketika. Saya masih memiliki fobia tersebut. Tapi sama seperti hal-hal yang saya takuti dalam hidup, terkadang, saya terlalu meremehkan diri saya. Saya hanya perlu memberanikan diri saya, dan membuktikan bahwa diri saya salah. Surprise yourself.

 

 

penulis: @UtamaArif

Lari 100

Sekian lama gak ke Car Free Day (CFD) Jakarta, gue akhirnya berkesempatan keliling sekitaran Bunderan HI buat cuci mata para ‘mamah muda’ ber-legging macan. Macem-macem bentuk bokong tersaji untuk dipandang. Jangan harap ada iman di situ, karena sebaiknya kalian jernihkan pikiran masing-masing.

Dalam tradisi pernikahan adat Sunda –mungkin juga ada kesamaan dengan adat lain- terdapat ritual pecah kendi. Di mana pada prosesinya adalah pengantin cewek pegang bagian kepala kendi, dan yang cowok pegang bagian bawah atau bokong kendi. Filosofi yang terkandung di dalem prosesi itu menandakan bahwa tabiat wanita yang menyukai ‘kepala’ dan pria yang menyukai bokong. Inilah kenapa kalo di CFD, yang laki doyan liat pantat, yang cewek doyan liat muka ganteng, ngaku lo pada! Hehe. Budaya sebetulnya udah jauh-jauh hari ngejelasin hal alamiah hasrat biologis manusia yang kemudian ‘diresmikan’ oleh teori-teori akademisnya kemudian hari. Biar bagaimana pun, CFD selalu menawarkan banyak harapan, harapan penikmat kuliner, harapan pemburu barang murah, harapan si tukang ‘jajan mata’ kayak gue dengan satu hal yang pasti; harus lawan jenis.

Satu jam berlalu, masih antusias. 30 menit berikutnya gue mulai bosen, selain matahari udah nyengat banget, perut yang sejak subuh tadi belum diisi udah nyala mulu alarmnya. Solusinya tak lain adalah melipir ke jalan Sumenep, di situ ada beberapa gerobak jajanan khas makanan untuk sarapan. Ada ketoprak, lontong kari, bubur ayam, dan…. Aha! Mie ayam! Dari kemaren malem emang ngidam mulu ama makanan yang satu ini. Tanpa pikir panjang atau takut sakit perut, gue memutuskan untuk pesen semangkok mie ayam lengkap dengan baksonya.

Sembari nyuapin mie ke dalem mulut, dalem hati gue penasaran ama sejarahnya makanan rakyat ini. Katanya sih mie ayam itu asalnya dari daerah Tiongkok bagian selatan terutama daerah-daerah pelabuhan kayak Guangdong dan Fujian yang kemudian dibawa ke Indonesia di taun 1897an. Ada filosofi unik dari budaya peranakan tionghoa yakni kalo kerja abis-abisan harus diganti ama makan enak dan hidup nyaman. Dari situ lah muncul banyak makanan enak karena termotivasi ama filosofi tadi. Hmm… Gue sempet mikir sesaat ama filosofi ini karena definisi makan enak ternyata bisa murah! Yaiyalah, harga termahal semangkok mie ayam paling banter 50 rebu, sedangkan di CFD gue bisa dapetin seharga ceban, itu juga kalo ama minum palingan 15 rebu.

Sebetulnya mie ayam yang hari ini kita nikmatin adalah hasil dari akulturasi dengan beberapa makanan lokal seperti caudo atau soto dan masakan arab. Makanya, gue lebih pede nyebut mie ayam adalah makanan Indonesia ketimbang Tiongkok, karena nyatanya kita harus ngeliat makanan ini secara holistik atau menyeluruh, bukan cuma bahan dasarnya doang (mie basah). Mie ayam dan nasi padang jenis makanan lokal yang jaringannya cukup kuat di seantero Nusantara. Lo mau pegi ke Medan, Minahasa, atau Merauke sekalipun pasti gampang nyari dua gerai makanan itu. Bakso ama warteg juga punya jaringan yang sama, ditambah pecel lele dan soto lamongan menambah deretan makanan lokal yang me-nasional. Favorit lo yang mana? Gue sih baso tahu hehe.

Sambil nikmatin suapan terakhir dari mie ayam tadi, selintas gue langsung mikirin menu buat makan siang. Kayaknya nasi rendang sambel ijo pake daun singkong cocok nih ama cerahnya Jakarta. Buat gue, rejeki yang paling hakiki adalah kesempatan buat nikmatin setiap suap makanan dan setiap teguk setiap minuman. Mungkin banyak dari kita yang gak ngehargain lagi waktu makan, termasuk gue. Bahkan saat makan pun masih sibuk megang gawai, mulutnya mangap tapi pikiran ada di tempat laen. Ibaratnya, makan cuma nuntasin rasa laper doang, tanpa ada penghayatan setiap tokoh yang terlibat dari awal sampe makanan itu disajiin di depan kita. Gue angkat gelas buat semuanya yang berjasa!

Perut udah keisi, saatnya lanjutin cuci mata di sisa waktu CFD. Sambil dengerin lagu Lari 100 dari The Sastro, gue coba ngalihin perhatian dari bokong ber-legging ke rasa manisnya bubur kacang. Agak-agak nyesel juga sih tadi sarapan gak nemu menu itu. Mungkin bisa gue jadiin agenda sarapan buat besok karena bubur kacang itu kaya akan vitamin A, C, B1, asam folat, riboflamin B6, thiamin, niasin sama panthothenat. Lagu berikutnya setelah Lari 100 adalah Undone dari Seaside, sama kayak gue yang harus nunggu besok buat nikmatin bubur kacang, at least selain ber-legging, banyak juga nih yang pake celana pendek nyeplak sebagai pelipur lara. Oya Selamat Hari Pendidikan Nasional. Tapi sori kalo tulisan ini gak edukatif hehe.

 

[]

Penulis: @ayodiki // Kontributor Linimasa